Between Two Hearts (1)

62c3a6cf4571484d113593d0dab420b7_meitu_1

Fanfiction by Zee

 Genre

Romance | Angst | Family | Marriage–Life

 Rating

PG 17

 Length

Chaptered

Main Casts

Im Yoona || Choi Siwon || Lee Hyemi

Supporting Casts

Xi Luhan || Kang Minkyung || Choi Sulli || Lee Donghae || Han Jaehee

Happy reading || Hope you like it

_

_

_

Prolog

Langit sore itu sudah tampak berubah warna. Biru cerah yang awalnya mendominasi digantikan dengan warna kuning kemerah-merahan. Angin laut bertiup kencang menembus kulit permukaan, diiringi dengan tarian ombak yang menggelegar menyapa pantai.

Terlihat wanita cantik itu masih tenggelam dalam lamunannya. Bola matanya menerawang jauh menembus awan—terlalu jauh sampai ia sendiri tidak mampu untuk meraihnya. Hari sudah mulai gelap dan pantai sudah mulai sepi. Tapi ia masih betah menyendiri. Dibiarkannya percikan air laut membasahi setengah dari gaun putih berbahan sutra itu. Tak peduli dengan suhu dingin yang terasa menerjam ke dalam tulang rusuknya. Ia hanya bisa membiarkan. Sedingin apapun ia tahan asal itu bisa membuatnya merasa lebih baik.

Tapi tidak. Sekuat apapun ia berusaha rasa sakitnya masih tetap sama. Ia sudah mencoba melupakannya, tapi kenyataan pahit itu takkan pernah bisa dilupakan seumur hidupnya.

Bagaimana jika ia sudah terlalu lelah?

Bagaimana jika ia tidak sanggup lagi menahan sakitnya?

Entah sampai kapan akan berakhir ia tak tahu. Ia hanya berusaha tegar. Berharap hari esok kan jauh lebih baik untuk hidupnya yang terlalu menyedihkan. Selama ini di dalam hidupnya—di dalam perjalannya—tidak pernah ada yang namanya kebahagiaan sama sekali, hanya ada masalah yang datang bertubi-tubi.

Wanita itu menarik napas untuk yang kesekian kalinya. Tatapannya masih tertuju pada laut Jerman itu, meski hati dan pikirannya lebih tertarik pada satu hal yang selama ini mengganjal dalam hidupnya.

 Between Two Hearts (Chapter 1)

“A-apa? Kau bilang apa? Hye.. Hyemi tidak bisa mengandung lagi?”

Sepasang suami istri itu hanya bisa diam ketika pertanyaan sang ayah keluar dari mulut lelaki paruh baya itu. Mereka tak tahu harus menjawab apa, karena begitulah kenyataannya. Menantu dari keluarga Choi yang terhormat itu, telah diponis oleh dokter pribadi mereka, jika ia tidak akan pernah bisa hamil lagi paska keguguran yang dialaminya sekitar 1 bulan yang lalu.

“Ayo jawab aku, Siwon, Hyemi! Kenapa kalian hanya diam saja!” Tuan Choi mendesak saat hanya tatapan nanar yang terlihat dari anak dan menantunya itu.

“Maafkan aku, Abeoji. Aku tidak bisa menjaga Hyemi dengan baik.” Akhirnya hanya ungkapan penyesalan itu yang terdengar dari mulut Choi Siwon—selaku putra mahkota di keluarga bangsawan tersebut. Ia benar-benar tak tahu harus mengatakan apa.

“A-apa? Ja.. jadi..,” Tuan Choi tertawa getir. “Kau bercanda, Siwon. Kau pasti sedang bercanda. Bagaimana mungkin hanya karena keguguran kecil itu istrimu tidak bisa hamil lagi? Kalian pasti salah! Dokter itu pasti sudah salah memprediksi!” Tuan Choi tetap tidak bisa mempercayai kenyataan yang diterimanya. Ini mustahi. Bagaimana mungkin hanya karena itu? Hanya karena sebuah kecelakaan kecil itu?

Tidak.. Ini tidak mungkin terjadi.

Sorot matanya menajam ketika kembali beradu tatap dengan sepasang suami istri itu. “Periksa lagi, Siwon! Katakan pada Dokter Kim untuk memeriksa Hyemi lagi! Jika perlu datangkan dokter handal dari luar negeri untuk memeriksa keadaan istrimu yang sebenarnya! Kita tidak bisa menerima ini!”

Tuan Choi benar-benar tidak bisa menerima begitu saja. Rahangnya sampai mengeras saking marahnya mendengar berita mengejutkan itu di malam ini.

Suamiku, tenanglah.. Hyemi pasti akan baik-baik saja.” Ny.Choi berusaha menenangkan suaminya, kemudian menatap Siwon dan Hyemi bergantian. “Kalian—apa kalian benar-benar sudah memastikan kebenarannya? Apa Dokter Kim tidak salah periksa?” tanyanya. Wanita 48 tahun yang masih tampak awet muda itu juga tidak bisa mempercayai kenyataan ini. Terlalu sulit untuknya menerima, sementara ia sudah berkhayal akan menimang cucu dari jauh-jauh hari.

“Maafkan kami, Eomeoni. Tapi inilah hasil USG yang diserahkan Dokter Kim tadi siang.” Siwon menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat ke tangan ibunya. “Hyemi tidak bisa hamil lagi karena terjadi komplikasi pada rahimnya. Keguguran satu bulan yang lalu mengakibatkan pelemahan yang terlalu fatal. Karenanya, sangat sulit untuk Hyemi bisa mengandung lagi. Jika dipaksakan—” Siwon menahan napas dalam-dalam, terlalu sulit untuk menyelesaikan kalimatnya, “ Jika dipaksakan, maka nyawa Hyemi yang menjadi taruhannya.”

Baik Tuan dan Ny. Choi sangat terkejut ketika melihat hasil USG dan mendengar penjelasan Siwon. Di sana jelas diperlihatkan seperti apa kondisi rahim Hyemi saat ini. Persis seperti yang diungkapkan oleh putra mereka

Jadi—menantu mereka benar-benar tidak bisa hamil lagi? Keturunan darah biru dari keluarga Choi dan keluarga Lee akan berhenti sampai di sini? Sementara sebuah proyek besar telah dibangun oleh kedua belah keluarga untuk diwariskan kepada keturunan Siwon dan Hyemi kelak.

Tapi kini—apa semua itu hanya akan sia-sia saja?

“Tenanglah, Abeoji, Eomeoni. Kita masih bisa mengadopsi seorang anak dari panti asuhan. Ada begitu banyak jalan untuk keluar dari masalah ini.” Siwon mencoba menenangkan kedua orang tuanya, berharap ucapannya dapat mencairkan suasana.

Ia akui, tidak satu pun dari mereka yang tidak terluka dengan berita ini. Terlebih dirinya yang sudah menantikan kehadiran buah hatinya sejak lama harus kehilangan begitu saja. Ditambah lagi dengan keadaan istrinya yang sangat mengecewakan tentunya. Tidak bisa mengandung anaknya lagi, tidak bisa menjadi seorang ibu lagi, tentu Hyemi sangat terpukul karena kenyataan pahit hal ini.

Namun ia bisa apa? Takdir telah menentukan segalanya.

//

“Kau baik-baik saja, sayang?” Siwon bertanya pada istrinya yang tampak termenung di atas ranjang. Air mata wanita itu mengalir deras membasahi wajah cantiknya. Pandangannya kosong. Terlalu kecewa menerima kenyataan.

Siwon mendesah pelan, merasa iba melihat keadaan istrinya yang mengenaskan. Ia mendekat kearah wanita yang dicintainya itu, menggenggam jemarinya erat-erat. “Semuanya akan baik-baik saja. Percayalah, semuanya akan baik-baik saja..” kata Siwon menenangkan.

Bukanya tenang, Hyemi malah menatap tajam pria itu. Bagaimana mungkin semuanya baik-baik saja di saat ia tidak bisa menjadi wanita yang sempurna? Bagaimana mungkin semuanya baik-baik saja di saat ia telah gagal menjadi seorang ibu? Siwon terlalu menganggap sepele masalah ini.

“Dengar, ada atau tidaknya seorang anak di sisi kita, aku tetaplah seorang Choi Siwon yang mencintai Lee Hyemi sepenuh hatinya. Tidak ada yang berubah, sayang. Kau tetaplah wanita yang paling sempurna di mataku,” kata Siwon lembut sambil menyentuh tengkuk istrinya, menghapus jejak air mata yang menutupi wajah ceria itu.

“Tapi aku gagal, Oppa.. Aku gagal membahagiakanmu.. Aku telah gagal..” lirih Hyemi mulai terisak lagi.

“Husttt..” Siwon menutup mulut wanita itu dengan telunjuknya. “Kau tidak pernah gagal, sayang. Kau selalu berhasil membuatku bahagia. Justru aku yang gagal karena tidak bisa menjagamu. Karena aku terlalu lengah, akhirnya kita kehilangan dia. Jika memang harus ada yang disalahkan, maka akulah orang nya. Bukan kau, sayang..”

Hyemi tersenyum miris mendengar ungkapan suaminya. Ia tidak tahu apa harus bahagia atau terluka lagi karena semangat tulus Siwon. Pria ini begitu mencintainya. Tapi ia tidak bisa berikan apa pun bahkan seorang anak yang sudah seharusnya mengelilingi hari-hari mereka. Jika begini, apa masih pantas ia menerima cinta Siwon?

“Tidurlah, hmm. Kau pasti lelah karena belum sempat beristirahat seharian ini. Aku akan mandi dulu, setelah itu aku akan menemanimu,” ucap Siwon kemudian.

Hyemi mengangguk pelan. Siwon tersenyum tipis melihatnya. Ia mengacak gemas rambut wanita yang dicintainya itu sebelum beranjak ke kamar mandi. Tapi tiba-tiba terdangar deringan ponselnya di atas meja. Segera saja ia raih benda berwarna hitam itu dan mengakatnya.

“Halo!”

“Oppa! Apa kau di rumah?”

“Mm. Kenapa?”

“Ah, bagus sekali. Kalau begitu katakan pada Eomma dan Appa aku tidak bisa pulang malam ini.”

“Apa?”

“Aku harus menginap di rumah temanku karena ada tugas kuliah. Aku tidak berani menelpon mereka langsung. Karena itu tolong sampaikan pada mereka, oke?”

Yak, Choi Sulli! Memangnya kau akan ke mana makanya tidak bisa pulang, huh? Kau pikir baik anak perempuan keluyuran seperti itu?!”

“Ishh.. Sudah aku bilang aku menginap di rumah temanku. Kenapa Oppa tuli sekali? Sudah ah, pokonya katakan saja begitu! Bye!”

YakYakYakAishh, anak ini!” Siwon mendengus sebal saat panggilan itu terputus begitu saja. Tidak memberi kesempatan untuknya ceramah lebih jauh lagi. Adik satu-satunya itu memang susah sekali diperingatkan. Mengerjakan tugas kuliah? Huh, sejak kapan seorang Choi Sulli menjadi begitu rajin?

Pria tampan itu kembali menggerutu sebal saat menatap layar ponselnya, membuat sang istri yang tengah berbaring tersenyum tipis melihat tingkahnya. Siwon ikut tersenyum. Syukurlah, sepertinya Hyemi sudah jauh lebih tenang.

.

.

.

Yak! Sampai kapan kau akan mengikutiku, huh? Kau tahu sudah jam berapa sekarang? Harusnya kau pulang dan belajar saja di rumahmu! Bukannya mengganggu orang lain seperti ini!”

Gadis cantik terus itu berteriak sebal saat mengetahui seseorang masih mengikutinya dari belakang. Helaan napasnya berhembus beberapa kali, menjelaskan seberapa kesalnya ia karena terus diikuti seperti ini. Ia menatap geram seseorang yang ia sebut sebagai pengekornya itu, memberikan tatapan tertajam yang ia punya. Namun hanya dibalas cengiran aneh yang semakin membuatnya berang.

“Aku tidak bisa belajar sendiri, Eonni. Karena itu aku minta supaya kau mengajariku,” kata orang di hadapannya.

Im Yoona—-gadis yang dikenal dingin dan tertutup itu kembali membuang napas entah yang keberapa kalinya. Ia berkacak pinggang, menatap sebal lawan bicaranya. “Hei, sudah berapa kali kukatakan padamu, eoh? Aku tidak punya waktu untuk mengajarimu! Aku sibuk, kau tahu?!” omelnya.

“Aku akan membayarmu, Eonni! Berapa pun itu. Tapi kumohon izinkan aku belajar denganmu. Tidakkah kau tahu betapa aku mengagumimu? Kau mahasiswa terpintar di kampus, dan aku ingin seperti kau juga! Aku mohon, Eonni.. beri aku kesempatan, hmm..”

Choi Sulli mulai beraegeyo-ria, agar gadis yang terkenal pintar namun jutek mau mengajarinya. Sungguh demi apapun ia ingin sekali diajarkan oleh gadis ini. Kenapa? Karena ia mengidolakannya. Gadis ini punya satu sisi yang membuat seorang Choi Sulli ingin mengenalnya lebih jauh lagi.

“Aku mohon, Eonni..” desisnya lagi.

“Aku tidak bisa.” Gadis itu tetap pada pendiriannya.

Eonni…”

“Pulanglah, orang tuamu mungkin akan mencarimu.” Yoona mengakhiri ucapannya, lalu berjalan kembali menuju pagar rumahnya yang sudah terlihat.

Belum jauh ia melangkah, tiba-tiba ia mendengar suara tangis seseorang di belakang. Yoona menoleh kembali. Didapatinya Sulli tengah sesegukan dengan posisi terduduk di aspal.

Yoona mengerang. Astaga! Kenapa lagi dengan gadis ini?

Dengan berat hati Yoona berjalan mendekati gadis cantik itu, mengulurkan tangannya, meminta Sulli untuk bangun.

“Tidak mau! Aku tidak akan bangun sebelum Eonni bersedia mengajariku!” bantah Sulli sambil menepis tangan Yoona.

“Oh, Tuhan.” Untuk kesekiankalinya Yoona mengeluh. Ada begitu banyak pekerjaan yang menunggunya. Tapi kenapa ia malah membuang-buang waktu dengan melayani rengekan gadis cengeng dan manja seperti Sulli?

“Aku mohon, Eonni. Bantu aku kali ini saja. Aku berjanji tidak akan merepotkanmu,” pinta Sulli sambil meraih kembali tangan Yoona. Berharap sunbae di kampusnya itu mau memberinya kesempatan kali ini.

Yoona menghela napas pasrah, mulai luluh dengan tatapan memohon Sulli. “Arraseo. Bangunlah. Aku akan mengajarimu.”

Jeongmal?”

//

“Wahh.. jadi seperti ini bentuk rumahmu, Eonni?”

“Kenapa? Kau terkejut melihat rumahku yang jauh lebih kecil dari kamar mandimu?” sindir Yoona sambil berjalan ke dapur. Ia membuka kulkas, mengambil air mineral dan meneguknya.

Sulli mendelik keheranan. Dia tidak berpikiran seperti itu walaupun yang dikatakan Yoona memang benar. Justru ia merasa kagum melihat rumah sekecil ini bisa ditata rapi oleh pemiliknya. Bahkan kamarnya yang jauh lebih besar pun tidak akan serapi ini jika tidak dibersihkan oleh pembantu.

Kenapa Sunbae yang satu ini begitu sensitif?

“Yoona-ya… Kau sudah pulang?”

Seorang wanita paruh baya keluar dari dalam kamar saat mendengar suara keributan di ruang tengah. Yoona terkejut melihat ibunya yang belum tidur ternyata. Gadis itu melirik arlojinya. Sudah pukul 10 lewat. Seharusnya ibu sudah terlelap.

“Kenapa Eomma belum tidur? Apa ada yang sakit?” tanya Yoona lembut. Ia mendekat ke arah ibunya, membantu wanita itu duduk di kursi kayu yang biasa ditempatinya.

Eomma baik-baik saja, hanya saja belum mengantuk,” jawab wanita itu, lalu pandangannya beralih pada Sulli yang berdiri tepat di hadapannya. “Kau membawa teman baru, Yoong-ah? Eomma belum pernah melihatnya?” tanyanya sambil memerhatikan baik-baik paras cantik Sulli.

“Dia bukan temanku. Hanya hoobae di kampus,” jawab Yoona cuek.

Sulli cemberut mendengar jawaban Yoona, sementara ibu Yoona tampak tersenyum kecil. Namun setelahnya Sulli juga ikut tersenyum saat menatap wanita paruh baya itu.

Annyeonghaseyo, eommonim.. Choi Sulli Imnida,” Sulli menyapa ramah sambil menunduk antusias. “Aku adalah juniornya Yoona Eonni, sekaligus penggemarnya,” kata Sulli dengan bangga.

Wanita itu mengangguk seraya terkekeh pelan melihat tingkah menggemaskan dari teman baru putrinya itu.

Ya, teman baru. Karena setahunya Yoona hanya punya dua teman yaitu, Xi Luhan dan Kang Minkyung. Yoona tidak begitu tertarik dengan yang namanya pergaulan. Karena gadis itu terlalu sibuk menghabiskan waktunya untuk belajar dan bekerja. Tidak ada hal lain yang menarik perhatian Yoona selain menghasilkan uang sebanyak-banyaknya. Bukan karena gadis itu gila uang, melainkan ia butuh uang untuk pengobatan sang ibu yang sakit-sakitan.

Bagaimana tidak? Setiap penyakit ibunya kumat atau melakukan kontrol tiap minggunya, Yoona harus mengeluarkan jutaan won dalam sekejap mata. Karena itulah ia sibuk bekerja dan memperbanyak tabungannya, agar pengobatan ibunya berjalan lancar tanpa kendala.

Jujur saja, sang ibu merasa bersalah sekaligus kasihan melihat putrinya yang banyak menderita karena dirinya. Tak jarang ia berpura-pura kuat dan mengatakan baik-baik saja ketika di depan Yoona. Hanya untuk membuat putrinya tidak terlalu khawatir dan tidak terlalu sibuk bekerja. Gadis itu, harus memikirkan masa depannya juga.

Sesaat terjadi keheningan di rumah kecil itu, sebelum akhirnya dering ponsel Yoona mengakhiri segalanya.

“Ya, Luhan?” sahut Yoona begitu ponsel sudah di daun telinganya.

Begitu mendengar nama Luhan, mata Sulli langsung berbinar. Ia tersenyum sumringah. Yoona hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah gadis itu.

“Yoongie-ah, kau dimana sekarang?”

Suara dari seberang telepon mengalihkan pandangan Yoona dari Sulli. “Di rumah. Baru pulang bekerja. Kenapa?”

“Kalau begitu jangan kemana-mana. Aku akan kesana sekarang, ada hal penting yang ingin kukatakan padamu.”

“Oh ya? soal apa?” Yoona mengerutkan dahinya bingung.

“Nanti kujelaskan.”

“Oh. Baiklah.

Begitu Yoona mengakhiri panggilannya, Sulli langsung mendekat ke arahnya.

Eonni, Luhan-Oppa yang menelepon ‘kan? Dia akan kemari?”

“Ya, tapi bukan untuk bermain-main. Jadi kuharap kau jangan mengganggunya, Choi Sulli. Karena kalau tidak, kita batal belajar bersama!” ancam Yoona, kemudian berlalu ke kamarnya.

Sulli mendengus sambil mempoutkan bibirnya sebal. Namun tak lama setelahnya ia kembali tersenyum, lalu berbincang-bincang lagi dengan ibu Yoona.

//

“Apa? Kau bilang apa? Minkyung dipaksa menikah?”

Yoona bertanya lagi meski pernyataan Xi Luhan—sahabatnya—sudah jelas terdengar beberapa detik yang lalu. Dan Yoona hanya bisa menghela napas pasrah ketika Luhan mengangguk dengan pasti.

“Ya. Orang tuanya yang memaksa,” kata pria itu.

“Aku tidak mengerti, kenapa orang tuanya bisa setega itu? Padahal ‘kan Minkyung—” Yoona menutup mulutnya ketika teringat pesan Minkyung padanya beberapa bulan yang lalu. Saat pertama kali ia mengetahui jika gadis cantik itu menyukai sahabat mereka, Xi Luhan. Minkyung dengan sangat meminta padanya agar tidak memberitahu Luhan soal ini. Karena gadis itu mengetahui jika Luhan menyukai seseorang yang Yoona sendiri tidak tahu siapa gerangan. Minkyung tidak memberitahunya.

“Padahal apa, Yoong?” tanya Luhan ketika Yoona tak kunjung melanjutkan ucapannya dan malah melamun.

Yoona menatap Luhan ragu. “Tidak. Lupakan saja,” gumamnya. “Ah, tapi Lu, dengan siapa Minkyung akan dijodohkan? Dia belum pernah memberitahuku soal ini,” tanya Yoona kemudian.

“Dengan anak pengusaha dari Club-L. Kau pasti pernah mendengarnya, ‘kan?”

Club-L?

Ya. Yoona pernah mendengarnya. Salah satu perusahaan tersukses di Korea selatan yang juga bekerja sama dengan perusahaan tempat ayahnya Luhan bekerja.

“Ya, aku pernah dengar. Tapi kenapa Minkyung bisa dijodohkan dengan putra mereka?” tanya Yoona tampak kebingungan. “Setahuku Minkyung tidak pernah dekat atau berhubungan dengan anak pemilik perusahaan mana pun.”

“Ceritanya panjang. Yang jelas, Minkyung tidak ingin dijodohkan dengan siapapun, karena dia…”

“Karena dia apa?” tanya Yoona tak sabaran. Apa Luhan sudah mengetahui jika Minkyung menyukainya?

“Karena dia…”

“Karena dia menyukaimu ‘kan?” potong Yoona lagi. Ia yakin Minkyung sudah memberitahu Luhan soal ini.

“Apa? Jadi kau sudah tahu?” tanya Luhan keheranan.

“Ya. Minkyung yang memberitahuku. Kau juga menyukai seseorang katanya, benarkah itu? Siapa dia?”

Luhan terdiam. Ia memang menyukai seseorang dan itu adalah Yoona. Dan sebenarnya, tujuan awalnya menemui gadis ini adalah untuk itu. Untuk mengatakan perasaanya. Karena Minkyung juga ternyata menyukainya. Minkyung juga tahu jika dirinya menyukai Im Yoona. Karena itu Minkyung minta supaya Luhan menanyakannya pada Yoona. Apa gadis itu menyukainya juga? Jika tidak, maka Luhan diminta untuk memikirkan baik-baik perasaan Minkyung. Karena kalau tidak, Luhan tidak akan punya kesempatan lagi setelah ini.

Tapi melihat reaksi Yoona, sepertinya dia tidak memiliki perasaan apa-apa pada Luhan. Ia malah terlihat khawatir karena perjodohan Kang Minkyung. Luhan mengurungkan niatnya. Ia tidak mau persahabatan mereka hancur karena terjebak cinta segi tiga seperti ini. Dan ia juga belum siap kalau kenyataannya Yoona memang tidak memiliki perasaan apa pun padanya dan malah menolak cintanya yang terpendam selama ini. Luhan tidak sanggup kehilangan Yoona dan Minkyung sekaligus.

//

Luhan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi setelah pulang dari rumah Yoona beberapa menit yang lalu. Pria itu mendapat panggilan dari ayahnya, jika presdir tempat sang ayah bekerja sedang terkena serangan jantung, dan sekarang dalam perjalanan menuju rumah sakit. Luhan sangat khawatir tentu saja. Semenjak ia masih belum lahir, keluarganya sudah mengabdi pada keluarga pemilik perusaahan tersukses di korea tersebut.

Hanshim Group

Siapa yang tidak tahu dengan nama perusahaan yang bekerja di berbagai bidang bisnis itu? Termasuk perusahaan no 2 terkaya di Korea Selatan, no 10 di Asia, dan no 57 di seluruh penjuru dunia. Tentu semua tahu bagaimana seluk-beluk dibangunnya Hanshim sampai bisa sesukses sekarang.

Hanshim juga bisa melahirkan 2 perusahaan besar lainnya. Siapa lagi kalau bukan Choi Corp. dan Club-L. Hanshim adalah leluhur dari kedua perusahaan besar tersebut—yang sebagaimana, berkat jasa Hanshim-lah Choi Corp. dan Club-L hingga bisa sesukses sekarang. Dan keberuntungan ayahnya—Xi Wang-Lei—bisa masuk sebagai salah satu orang kepercayaan CEO dari Hanshim Group—Presdir Han Hyunjoo.

Luhan berlari cepat setelah sampai di rumah sakit. Pria itu segera menuju salah satu ruang VIV yang terdapat di rumah sakit itu, sebagaimana yang telah diberitahukan oleh ayahnya. Tak butuh waktu lama untuk Luham menemukan di mana ruangannya. Dilihatnya sudah banyak yang berkumpul di depan ruangan tersebut, termasuk ayahnya. Tidak ada wartawan, karena memang berita ini tidak diizinkan diliput secara publik.

“Bàba!” panggil Luhan seraya mendekat ke arah ayahnya. “Bagaimana keadaan Harabeoji? Apa dia baik-baik saja?” tanyanya dengan gurat kekhawatiran. Bagaimanapun ia telah menganggap atasan ayahnya itu sebagai kakek sendiri.

“Belum stabil. Presdir sudah sadarkan diri, namun keadaannya masih belum bisa dikatakan baik. Sekarang Direktur Han sedang bicara dengannya di dalam,” jawab Xi Wang-Lei ayahnya.

“Astaga.” Luhan melenguh pasrah.

Sejujurnya bukan kali ini saja pemilik Hanshim itu mengalami serangan jantung yang tiba-tiba. Sudah beberapa kali jantungnya kumat, namun Tuhan masih memberinya kesempatan. Mungkin hal itu terjadi karena faktor usia lanjut. Umur 70 tahun tidak bisa dikatakan muda lagi bukan? Dan sepertinya Tuan Han memang harus berhenti campur tangan dalam urusan perusahaan, mengingat kesehatanya semakin menurun akhir-akhir ini.

Terlihat dari dalam ruangan, orang yang dimaksudkan itu pun sedang berbicara serius, meski keadaan Tuan Han benar-benar masih lemas.

“Bagaimana, Joonhae-ah? Apa kau sudah menemukan khabar tentang keberadaan Hyesung?” Tanya tuan Han dengan suara lemah dan bergetar. Namun pria itu masih tetap ngotot ingin bicara dengan anak angkatnya itu.

“Masih belum, Abeoji. Kami sedang mengusahakannya, tapi Hyesung memang belum ditemukan juga,” jelas Joonhae seadanya.

Tuan Han menghela napas berat sambil menutup matanya rapat-rapat, menandakan jika ia sudah terlalu lelah menunggu kedatangan putri semata wayangnya itu

Han Hyesung adalah anak satu-satunya Presdir Han yang kabur dari rumah sekitar 23 tahun yang lalu. Sementara Han Joonhae adalah anak dari kakaknya yang kemudian diangkat menjadi anak asuhnya.

Awalnya Tuan Han sangat murka dan tidak berniat mencari keberadaan putrinya lagi. Tapi selama 10 tahun terakhir, ia tidak pernah berhenti mencarinya. Ia kerahkan seluruh orang-orang kepercayaannya untuk mencari wanita yang kira-kira sekarang berumur 45 tahun itu. Tapi tetap saja Hyesung begitu pintar menyembunyikan diri. Hingga sampai saat ini, keberadaan wanita itu tidak diketahui oleh siapapun.

Tuan Han Hyunjoo hanya bisa berharap, semoga Tuhan memberinya kesempatan untuk meminta maaf pada putrinya sebelum ia menutup mata.

.

.

.

Hari itu Yoona tampak termenung di salah satu Cofee shop tempatnya bekerja. Pengunjungnya jauh lebih sepi dari hari biasanya, jadi gadis itu bisa lebih santai beristirahat di salah satu bangku pelanggan.

Yoona teringat kembali dengan perkataan dokter yang menangani ibunya beberapa hari yang lalu. Dokter itu bilang, cepat atau lambat ibunya harus segera dioperasi. Karena kanker yang menggerogoti tubuh ibunya semakin merambah kemana-mana. Kemoterapi tidak berguna lagi dilakuka karena tubuh ibunya terus mengalami penolakan. Jika dipaksakan tentu akan sangat berbahaya, mengingat kemoterapi mengandung zat-zat kimia.

Yoona mendesah pasrah. Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukan. Tabungannya sudah mulai menipis, sedangkan biaya untuk operasi tidaklah sedikit. Ia tidak enak lagi karena selalu melibatkan Luhan dan Minkyung dalam segala masalahnya. Kedua sahabatnya itu sudah terlalu sering membantunya. Dan sampai saat ini, ia belum bisa membalas dengan apa pun.

“Sedang memikirkan apa, Nona Im?”

Lamunan Yoona buyar ketika seseorang sudah duduk di depannya. Yoona terkejut karena sudah beberapa hari ini ia tak bertemu dengan gadis di hadapannya.

“Minkyung-ah!”

Annyeong, teman terbaiknya Kang Minkyung?” sapanya dengan senyuman lebar, namun jelas terasa hambar.

Yoona mendengus, lalu buru-buru bangkit memeluk Minkyung. “Dasar gadis nakal. Ke mana saja kau, huh? Aku mengkhawatirkanmu, tahu! Kau bahkan tidak pergi ke kampus!” omel Yoona

Minkyung tersenyum lagi, kemudian melepaskan pelukannya. “Maafkan aku, Yoong. Aku tidak memberimu khabar samasekali. Appa mengurungku di dalam kamar. Dia tidak mengizinkanku pergi ke mana-mana. Ini saja aku bisa keluar karena berjanji hanya ingin bertemu denganmu sebentar. Lihatlah, dia bahkan mengawasiku dengan pria-pria berubuh tegap itu,” jelasnya sambil menunjuk 2 orang bodyguard di dekat mobilnya.

“Jadi kau benar-benar dipaksa menikah?” tanya Yoona masih tak habis pikir sekaligus kasihan melihat temannya.

“Mm. Appa tidak mau mendengar penolakan macam apa pun dariku, Yoong-ah,” desis Minkyung.

“Astaga!” Yoona melenguh tak percaya. “Kenapa? Kenapa orang tuamu ngotot sekali? Luhan tak memberi tahu dengan jelas padaku. Sekarang katakan semuanya, Minkyung. Siapa tahu aku bisa membantumu. Kumohon katakan padaku,” desak Yoona.

Minkyung tersenyum getir, lalu mulai menarik napasnya dalam-dalam. “Kau tahu Lee Donghae?”

“Ya. Putra satu-satunya dari Club-L.”

“Dengan dialah aku akan dijodohkan. Perusahaan Appa mengalami kerugian besar sehingga akan terancam bangkrut. Appa tidak punya solusi yang bagus untuk menangani masalah ini.” Minkyung menahan napasnya sejenak, menatap Yoona yang masih setia menjadi pendengar. “Appa sudah mencari bantuan ke mana-mana, tapi tetap tidak ada jalan. Lalu tiba-tiba putra dari Club-L menawarkan diri membantu Appa. Dengan syarat, aku harus menikah dengannya. Aku tidak tahu apa motifnya melakukan itu, tapi aku dengar, Lee Donghae sudah menyukaiku sejak lama. Aku jelas heran, karena kau tahu aku tidak mengenalnya kan Yoong?”

“Ya.”

“Karena itu Appa langsung menerimanya tanpa berpikir lebih dulu. Appa bahkan sudah mengatakan ya pada Lee Donghae sebelum aku tahu masalah yang sebenarnya. Sekarang aku harus bagaimana, Yoona? Aku tidak menyukai Lee Donghae, tapi di satu sisi aku juga memikirkan nasib keluargaku.”

Yoona terhenyak. Tidak mengira jika masalahnya bisa sepelik ini. Ia ingin sekali membantu Minkyung. Tapi ia bisa apa? Ia tidak bisa melakukan apapun karena ini masalah keluarga sahabatnya. Ia tidak mungkin ikut campur bukan? Tapi Minkyung? Bagaimana dengan nasip sahabatnya itu jika harus menikah tanpa cinta seperti ini?

Yoona menatap Minkyung sedih yang tampak sebisa mungkin menahan air matanya. Yoona merasa menjadi sahabat yang paling buruk karena tidak bisa berbuat apa pun selain menyeka air mata Minkyung yang akhirnya keluar. Minkyung selalu ada di saat ia kesusahan, bahkan tak jarang Minkyung membantunya melewati masalah-masalahnya. Tapi dirinya? Yoona merasa bersalah karena tidak bisa melakukan apa pun untuk membantu sahabatnya.

“Maafkan aku, Kyung-ah. Aku tidak bisa berbuat apa pun untukmu. Aku sungguh minta maaf..” Yoona terisak sambil memeluk erat tubuh ringkih Minkyung.

“Kenapa harus minta maaf? Ini bukan salahmu, Yoona. Bahkan tidak ada hubungannya denganmu. Hanya saja, aku butuh kau untuk membagi segala masalahku. Aku tidak bisa melewatinya seorang diri, Yoong-ah. Aku benar-benar butuh teman.”

“Kapan pun, Minkyung. Kapan pun kau butuh teman kau bisa datang padaku. Mungkin aku tidak bisa membantu, tapi setidaknya aku bisa menghapus air matamu.”

Minkyung mengeratkan pelukannya. “Gomawo, Yoongie-ah… Jeongmal gomawo sudah menjadi teman terbaikku selama ini. Aku bahagia karena masih memilikimu.”

.

.

.

“Sedang masak apa, sayang?”

Hyemi terkesiap ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Wanita itu tersenyum manis lantaran sudah mengetahui siapa pelakunya.

“Tidak biasanya Oppa pulang cepat?” tanyan Hyemi tanpa mengalihkan acara masak-masaknya.

Siwon tak menjawab dan malah asyik bergerilya di leher jenjang wanita itu. Hyemi berdecak, kemudian berbalik menghadap suaminya yang memasang tampang sebal. Hyemi tersenyum geli melihat reaksi pria itu.

“Oh, ayolah… Oppa bukan anak kecil lagi.”

“Aku merindukanmu dan kau malah mengabaikanku?” rajuk Siwon

“Tapi aku sedang masak, sayang,” ucap Hyemi sambil melingkarkan tanganya di leher pria itu.

Melihat perlakuan istrinya, Siwon jadi tersenyum menggoda. “Eh hmm… Jadi sekarang kau yang menginginkanku?”

Mwo?” Hyemi tersadar, lalu segera melepaskan pelukannya. Tapi giliran Siwon yang meraih pinggang wanita itu.

Yak!”

Wae?”

Aissh.. aku sedang memasak tahu!” seru Hyemi salah tingkah. Ia melepaskan diri dari Siwon, lalu kembali melanjutkan kegiatannya.

“Mau kuajak ke suatu tempat?” tanya Siwon seraya berlalu menuju sofa. Mereka memang sedang berada di apartemen sekarang.

“Ke mana?”

“Kau akan tahu nanti. Bersiaplah.”

“Hei, aku sedang memasak dan Oppa menyuruhku bersiap?”

“Kita makan di rumah saja,” bantah Siwon.

“Jadi Oppa tidak mau memakan masakanku?”

“Ayolah, sayang, aku hanya punya waktu hari ini.”

“Haha ya, ya aku hanya bercanda. Ya sudah, Oppa mandi dulu sana! Aku akan menyusul setelah sup ini benar-benar matang,” perintah Hyemi

Siwon beranjak. Bukannya langsung menuju kamar malah berjalan ke arah istrinya.

“Apa lagi?” Hyemi tampak kebingungan.

Pria itu memasang tampak imut, lalu menunjuk sudut bibirnya.

Hyemi terkekeh. Mereka bukanlah pasangan yang berumur 17 tahunan lagi. Kenapa suaminya jadi beringkah kekanak-kanakan begini? Tapi kemudian ia mengalah dan mengecup bibir Siwon singkat. “Mandilah. Oppa bau sekali,” candanya.

“Siap, Ny.Choi!” seru Siwon tegas sambil memberi hormat. Hyemi terkekeh lagi.

//

Sepasang suami istri itu berjalan menuju sebuah tempat yang penuh dengan anak-anak. Panti asuhan. Siwon memang sengaja mengajak istrinya ke tempat itu. Karena ia pikir, hanya dengan cara inilah mereka bisa memperoleh keturunan.

Oppa…” Hyemi menatap suaminya dalam. Entah ia merasa terharu atau bagaimana, yang jelas Hyemi merasa sangat bahagia melihat sekumpulan anak-anak yang sedang bermain dan bersenda gurau itu.

“Ayo kita masuk,” kata Siwon sambil menggandeng tangan istrinya.

Baru ketika mereka akan memasuki gedung, seorang perempuan berjalan terburu-buru sampai menabrak Hyemi. Wanita itu hampir terjatuh kalau saja tidak ada Siwon di sampingnya.

“Sialan,” umpat Siwon, lalu mengikuti langkah orang tak bertanggung jawab itu sebelum sempat ditahan oleh Hyemi.

Wanita itu hanya mengehela napas berat, sudah tahu apa yang akan dilakukan suaminya.

“Hei, Nona!” Siwon meraih tangan orang itu dengan kasar. Sedangkan si empu tangan hanya menatapnya kebingungan.

“Ya? Ada apa?”

“Kau menabrak istriku sembarangan dan kau pergi begitu saja?”

Oppa, sudahlah! Aku rasa dia juga tidak sengaja,” Hyemi berusaha menenangkan suaminya.

Kini pandangan gadis itu beralih ke arah Hyemi. “Oh, maaf  kalau begitu. Aku tak menyadarinya tadi. Sekali lagi maaf, aku benar-benar terburu-buru.” Usai berkata demikian, gadis itu langsung berlalu pergi.

Siwon mendengus remeh. “Dasar gadis tak berpendidikan. Apa dia tidak pernah diajari sopan-santun oleh orang tuanya?”

“Sudahlah, Oppa, kita diperhatikan semua orang. Ayo kita masuk saja.”

Mau tak mau akhirnya Siwon ikut masuk karena sudah ditarik paksa oleh Hyemi.

.

.

.

“Apa, Dokter? Harus segera dioperasi dalam waktu 4 hari ke depan?”

“Ya, kita tidak punya banyak waktu lagi, Yoona. Operasi pengangkatan sel kanker harus segera dilakukan. Karena kalau kita menunda-nunda lagi, nyawa ibumu tidak bisa tertolong.”

“Tapi, Dokter, Apa tidak ada cara yang lain lagi? Operasi itu terlalu mahal, saya bahkan tidak sanggup membayar setengahnya.”

“Tidak ada, Yoona. Kita sudah melakukan kemoterapi, tapi sejauh ini tubuh ibumu terus mengalami penolakan. Kita tidak punya cara lain selain operasi. Karena itu usahakanlah, jangan sampai terlambat. Aku tidak bisa menjamin keselamatan ibumu.”

Yoona mendesah frustasi. Habis sudah. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara mendapatkan uang sebanyak 20 juta won dalam waktu 4 hari. Belum lagi dengan biaya perawatannya. Hutangnya saja sudah menumpuk di mana-mana, mau dipinjam pada siapa lagi?

Luhan? Tidak. Pria itu sudah terlalu sering membantunya. Uang 20 juta won tidaklah sedikit. Bagaimana mungkin ia bisa meminjam pada Luhan lagi? Lalu Minkyung? Ia benar-benar tidak enak pada gadis itu. Apa lagi ditengah masalah yang sedang menimpanya.

“Ya, Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang?”

Yoona menatap sedih tubuh ibunya yang terbaring lemah di atas ranjang. Pasti ibunya merasa menderita sekali dengan penyakit mematikan ini. Kalau saja bisa, ingin ia menggantikan posisi ibunya. Ingin sekali ia berbagi rasa sakit yang diderita ibunya. Tapi tidak. Tuhan berkehendak lain. Tuhan lebih memilih ibunya menjadi korban kanker ganas ini.

Yoona terduduk lesu. Pandanganya tak luput dari wajah ibunya yang pucat pasi. Tubuh yang dulu begitu sehat kini berubah menjadi sangat kurus. Rambut ibunya yang dulu sangat lebat sekarang hanya tinggal beberapa helai yang bahkan bisa di hitung. Yoona menarik nafas dalam-dalam. Diraihnya tangan sang ibu dengan hati bergemuruh. Mata indah itu masih terpejam di alam bawah sadarnya.

Yah, keadaan ibunya belum stabil sama sekali.

“Aku akan mendapatkannya, Eomma. Bagaimanapun caranya aku akan dapatkan uang itu.” Yoona meneguk salivanya dengan susah payah, berusaha meyakini ucapannya sendiri.

Eomma tidak perlu khawatir, yang perlu Eomma lakukan adalah… menjadi lebih kuat.” Sebisa Yoona berusaha untuk tidak terisak, namun air matanya keluar tak tertahan. Gadis itu langsung bersikukuh memeluk tubuh sang ibu yang tidak sadarkan diri.

“Berjanjilah untuk selalu ada di sampingku, Eomma.. hanya berada di sampingku.. Aku tidak punya siapa pun selain dirimu. Aku mohon.. Aku benar-benar membutuhkanmu… karena itu bertahanlah demi aku, Eomma.. Demi anakmu.. Kumohon..”

.

.

.

Malam itu seluruh anggota keluraga Choi sedang berkumpul bersama di ruang keluarga. Termasuk Siwon dan Hyemi. Mereka memutuskan untuk menginap di rumah malam ini.

“Bagaimana perkembangan kesehatanmu, Hyemi-ah? Apa Dokter Kim memberitahu kabar baik?” tanya Tuan Choi memulai percakapan. Ia memilih bertanya langsung pada menantunya itu.

“Kata Dokter Kim, kesehatanku semakin membaik, Abeonim. Hanya saja..” Hyemi tak bisa lagi melanjutkan ucapannya, merasa sakit ketika ia harus mengungkit lagi ketidaksempurnaannya. Wanita itu meremas kuat tangan Siwon yang duduk diam di sampingnya.

Mengetahui jika istrinya sedang gugup, Siwon langsung menenangkan Hyemi dengan mengelus lembut tangan wanita itu. Mengisaratkan jika semuanya akan baik-baik saja. Sementara Hyemi hanya bisa tertunduk setelah beradu tatapan dengan Siwon.

“Kami memutuskan untuk mengadopsi anak, Abeoji,” kata Siwon membuka suara, membuat semua anggota keluarga berubah kaget, terkecuali Hyemi. Termasuk Sulli yang sedang asyik dengan ponselnya.

“Aku dan Hyemi sudah membicarakan masalah ini baik-baik. Tadi siang kami pergi ke sebuah panti asuhan, dan memutusakan un—”

“Siapa bilang kau boleh mengadopsi anak?” Tuan Choi memotong tiba-tiba. Kini semua mata beralih pada pria berumur 50 tahun itu.

“Kenapa tidak? Kita tidak punya—”

“Ada. Kita masih punya cara yang lain, Siwon.” Lagi-lagi Tuan Choi memotong ucapan putranya.

Siwon bingung. Memangnya cara apa lagi yang bisa mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah ini? Jangan bilang ayahnya akan memaksa Hyemi untuk tetap hamil meski pun akan membahayakan nyawa istrinya?

Tidak. Jika itu yang diinginkan oleh ayahnya, sampai kapan pun Siwon tidak akan menyetujuinya.

Abeoji akan tetap memaksakan Hyemi hamil?” tanya Siwon menyelidik. Tapi sang ayah menggeleng pasti, membuat yang lain bertambah semakin bingung.

“Kau pikir aku tega membahayakan nyawa menantuku?” katanya.

“Lantas?”

“Kita akan cari wanita lain untuk mengandung anak kalian.”

“Apa?!”

Siwon sangat terkejut, begitu pun dengan Hyemi. Apa maksud ayahnya ingin menikahkan Siwon dengan wanita lain? Tidak. Lebih baik Siwon mati daripada harus menduakan Hyemi.

“Jangan berpikiran yang tidak-tidak dulu, Choi Siwon,” Tuan Choi berusaha memadamkan kobaran api yang mulai menguasai putranya.

“Maksudku adalah, kita akan menyewa rahim seorang wanita normal dan sehat untuk mengandung benih kalian. Kau tidak perlu menikah atau melakukan hubungan intim dengan wanita manapun selain Hyemi. Dan juga, garis keturunan darah biru Choi Corp. dan Club-L akan tetap berjalan, karena yang dikandungnya itu adalah anak kalian. Tepatnya, wanita ini hanya membantu mengandung dan melahirkan,” jelas Tuan Choi.

“Astaga! Apa Abeoji sudah gila?!” bentak Siwon marah.

Itu adalah cara paling menjijikkan yang dilarang agama maupun negara. Bagaimana bisa ayahnya berpikiran seperti itu hanya untuk mempertahankan egonya tentang garis keturunan darah biru keluarga mereka?

Tidak. Sampai kapan pun Siwon tidak akan pernah melakukan ide gila ini hanya untuk memperoleh keturunan. Tidak akan pernah.

TBC

Ini FF udah lama sih sebenernya, tapi emang belum pernah aku sambung. Dan sekarang aku sedang berusaha melanjutkan lagi. Maaf kalo FF nya terlampau gaje dan lebih mirip sinetron dalam negeri hehe..

Ya udah deh.. semoga ada yg suka dan mau nunggu kelanjutannya ya😀 Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca😉

Pai pai!❤

24 thoughts on “Between Two Hearts (1)

  1. Ahiiiyy akhirnya nemu ff yg kek gini lagi. Stelah sekian lama d php sama ff tetangga sebelah yg ga dilanjut”😄

    Kyaknya yoona ya yg bkal jdi cewe yg minjemin rahimya? Soalnya kan dia lg btuh duit.
    Hhm.. Siapin hati ajalaa buat baca ff ini, kyaknya bkal menguras emosi 😅
    Dilanjut ya, authornim 😊

  2. Apa mungkin Hankyung itu ibu Yoona yg sdng dicari Han Hyunjoo.Klo nnt yg disewa rahimnya adlh Yoona sungguh kasihan.Apa Siwon nntinya akn mmperlakukan Yoona dgn baik..

  3. Kenapa yoona harus jadi yg tertindas dsni sih terus gmna yoona nantinya kalo bner” anaknya d ambil begitu saja siwon kan punya yoona bukan milik yg lain

  4. Wah…seru bgt bacanya,,,,,tp mulai khawatir dg yoona pasti dis yg akan djdikan ibu dr anak siwon,kasian bgt ya….ap yg dicari oleh leluhur orkay itu ibunya yoona?lanjut!!!!!!

  5. Aku pnh baca ini d web sblh,tp blm ada kelanjutannya,smga dsini bs d lnjut ya.. gag mslh si walpon pairingnya beda yg pnting di lanjut,,,d tunggu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s