Soul – Empat

soul

Soul | Hanabi

Im Yoona | Do Kyungsoo

Chapter | Mystery – Romance | PG-13

.

.

.

Banyak kasus tentang permusuhan di dunia ini. Contohnya : a) Temanmu menceritakan kejelekanmu di belakangmu, b) Temanmu memakimu di depanmu. Tapi, aku mengalami keduanya. Ini serius! Di cefeterania sekolah, aku mengalami kedua hal itu di depan mataku.

Jika kau berpikir teman sekelasmu sudah langsung berstatus menjadi temanmu. Kau harus membuang pikiran itu jauh-jauh. Aku serius, loh! Teman tidak seperti sahabat, teman dengan mudahnya menusukmu dari belakang. Tapi, teman sekelas? Lebih parah dari itu.

Chou Tzuyu, cewek cantik yang sekelas denganku–di kelas asliku–menceritakan keburukanku di depan teman-temannya–yang sama-sama memakai bedak setebal 5 cm. Menceritakan aku, Im Yoona! Astaga! Seumur hidupku inilah pengalaman terburuk. Kemudian menceritakan kronologi hari di mana Yuri bunuh diri–yang dia sangka adalah aku. Dia bilang bertapa tololnya aku meloncat dari atap gedung B. Hey, itu bukan aku, itu Yuri.

Aku tidak menutupi fakta mungkin selama ini dia tidak menyukaiku–oke, aku mengaku, aku tidak sadar, walau mungkin sebelumnya dia pernah menunjukkan terang-terangan rasa tidak sukanya padaku.

Dan yang membuat genggaman tanganku pada nampan cafeterania sekolah yang berisikan pasta dengan keju yang meleleh di atasnya–adalah a) Dia berpikir, dia menceritakan aku di belakangku, b) Jelas-jelas Tzuyu melihatku yang berdiri tak jauh darinya dan dengan beraninya dia masih meneruskan ceritanya–oke, dia pikir aku adalah Yuri. Tapi, apa dia juga tidak berpikir mendengar seseorang menceritakan saudara kandungmu sendiri, juga bisa membuat hatimu panas? c) Dia menjelek-jelekkan orang yang sedang koma–Im Yuri–memakai namaku.

Aku bisa merasakan suasana cafeterania yang agak tegang. Banyak pasang mata yang menatapku dan Tzuyu bersama teman-temannya secara bergantian. Nampaknya mereka ingin mengetahui apa yang akan kulakukan untuk membela saudara kembarku–padahal aku membela diriku sendiri. Kuputuskan, dengan senyum merekah kuhampiri mereka. Awalnya Taeyeon menarik tanganku, mencegahku. Tapi, hey, apa rasanya ada seseorang yang menghinamu dan kau tidak bisa berteriak memaki, karena mereka berpikir kau adalah orang lain? Tidak enak! Sungguh!

Aku tidak tahu apa yang akan Yuri lakukan, jika ada orang lain yang menghinaku. Tzuyu bukan hanya menghinaku, dia juga menghina saudara kembarku, dan menertawai orang yang sedang koma. Kuputuskan untuk melakukan ini padanya. Kutumpahkan isi nampan cafeterania-ku ke atas kepalanya. Rambutnya yang berwarna coklat bergelombang–kuyakini sangat halus, karena dia selalu berbicara tentang perawatan rambut–kini menjadi lengket, berminyak, dan bau keju basi. Oke, tidak basi. Untungnya aku meminta ekstra keju.

Dia bangkit sambil memperhatikan rambutnya–yang seperti kejatuhan muntah kucing–dengan mulut menganga. Mulutnya membentuk huruf O yang cukup lebar, kentara sekali dia sangat shock dengan tindakanku ini. Tzuyu terlihat seperti petugas tambang yang mulutnya dipenuhi laba-laba dan laba-laba itu sedang merayap keluar dari mulutnya. Dan aku bisa langsung mendengar suara ricuh setelah kujatuhkan nampan cafeterania sekolah ke lantai–menimbulkan suara klontang-klontang.

Tzuyu menatapku garang dan kubalas dengan plototan pedas. Dia membela diri : “Aku tidak menghinamu!” Tzuyu mengatakan kalimat itu dengan suara melengking hampir menjerit. Nampaknya dia ingin terlihat seperti korban.

“Aku tahu,” kataku santai selagi melipat tangan di depan dada, kuteruskan ucapanku. “Mangkanya, aku akan mematahkan satu jarimu sepulang sekolah nanti, bukan semuanya.”

Wajah cantiknya terlihat terkejut. Aku tidak main-main loh, kalau sampai dia membalas ucapanku–setelah aku mengancamnya–aku benar-benar akan mematahkan salah satu jari tangannya. Tzuyu mendengus, aku tahu dia takut. Tapi, kuyakini, harga dirinya masih setebal makeup yang dia pakai.

Selagi Tzuyu berbalik dengan wajah kesal menjauhiku, kutatap punggungnya dengan ekspresi kemenangan bercampur rasa kesal. Pokonya aku menampilkan ekspresi sesombong mungkin pada punggungnya yang membungkuk juga kotor dengan keju. Kulihat juga masih banyak pasta yang menyangkut di ujung-ujung rambut ikalnya. Dan di detik itu juga, sorakkan terdengar di sepanjang gedung cafeterania. Mereka baru saja menemukan pahlawan.

Oke Im Yuri, kau berhutang banyak kalimat terima kasih padaku!

.

.

.

Eomma, kenapa Eomma ada di luar?” Tanyaku ketika melihat Eomma berdiri di lorong koridor rumah sakit–tepat di depan pintu kamar inap Yuri–sambil menatap lurus ujung ke koridor di seberang sana.

Eomma menoleh sambil tersenyum. “Ah, Yuri. Kau sudah datang,” Eomma mengambil alih kantung belanja berisikan makanan yang Eomma pesan sebelum aku datang ke rumah sakit. “Eomma tidak tahu kalau Yoona memiliki teman setampan dia.”

“Teman?” Eomma mengangguk sambil tersenyum. Tampan? Cowok?

Tiba-tiba perutku serasa diaduk-aduk. Aku tidak punya teman cowok. Oke, teman sekelas yang berjenis kelamin laki-laki, aku punya. Tapi, aku tidak pernah berpikir ada cowok–kerajinan–yang menjengukku kalau aku sedang sakit, meskipun yang sekarang sakit adalah Yuri–sang dewi sekolah. Tapi kan, tidak ada yang tahu.

Otakku berputar mengingat ucapan Taeyeon yang mengatakan ada cowok yang menyukaiku. Yeah, info itu dia dapat dari Yuri, bisa saja Yuri berbohong waktu mengatakannya. Tapi, sekarang cowok itu datang–cowok yang kuperkirakan menyukaiku, karena cowok lain mungkin akan berpikir dua kali untuk menjengukku dan cowok itu mungkin juga telah menyebabkan Yuri bunuh diri.

“Oh, dia juga membawakan bunga kesukaan Yoona, baby breath.”

Tubuhku langsung lemas. Baby breath, itu bunga kesukaanku. Cowok itu benar-benar datang! Dia datang dan menjenguk Yuri–yang dia sangka adalah aku! Dengan santainya cowok brengsek itu datang sambil membawakan Yuri bunga kesukaanku. Dan cowok itu menyukaiku, karena kalau dia tidak menyukaiku dia tidak akan membawakan Yuri bunga.

Jadi benar, Yuri tidak berbohong pada Taeyeon. Cowok itu benar-benar ada, cowok yang menyukaiku. Dan mungkin penyebab Yuri bunuh diri. Pada siang itu Yuri berniat menemuinya di atap gedung B dan cowok itu kunci dari kasus Yuri.

Kuraih ponselku yang bergetar dalam saku blazer. “Yoboseyo.”

“Yoong, aku sudah berbicara dengan Jongin tadi. Saat aku bilang ponsel itu adalah milik Yuri. Dia bilang data ponsel itu bisa kau lihat besok. Kurasa dia akan begadang semalaman.”

“Benar, kah? Syukurlah. Tapi, aku sudah tahu dugaan yang mana yang benar. Jangan suruh Jongin begadang hanya untuk ponsel itu. Lama juga tidak apa-apa.”

“Ada apa denganmu, Yoong? Kau terdengar lesuh. Dugaan apa maksudmu?”

“Dia datang.”

“Dia? Dia siapa?” Tanya Taeyeon bingung.

“Cowok yang menyukaiku dan mungkin cowok yang menyebabkan Yuri bunuh diri. Dia datang tadi, menjenguk Yuri.”

.

.

.

Akulah sang drama queen yang selalu merasa menjadi orang paling menyedihkan di dunia ini. Aku selalu menyalahkan Yuri atas segala kekesalanku. Aku merasa Yuri mengambil semuanya, semua yang seharusnya menjadi milikku. Tapi, itu tidak benar, aku sangat tahu hal itu. Yuri tidak pernah mengambil apapun milikku, tidak pernah. Namun, aku masih tetap menyalahkannya. Hm… iri, aku iri dengannya. Dan rasa iri itulah yang menyebabkanku menjadi orang yang lebih menyedihkan dari yang kubayangkan.

Kupikir, aku mengenal Yuri, sebaik aku menganl diriku sendiri. Yuri sang perfect queen yang selama ini kukenal, bukanlah Yuri yang selama ini orang lain kenal. Bahkan dia tidak memiliki teman, tidak sepertiku yang memiliki Taeyeon. Kim Taeyeon yang selalu ada untukku. Yuri memang memiliki segalanya : ketenaran, wajah cantik, dan cowok-cowok yang mengejar-ngejarnya. Akan tetapi, dia tidak memiliki siapa-siapa, orang yang menjadi tempat curhatnya, misalnya, atau orang yang menjadikan tempat bergantung. Meskipun begitu, Yuri selalu bersikap semua baik-baik saja, dan dengan tololnya aku masih menyalahkannya.

Aku selalu berpikir, ini semua karena Yuri. Karena Yuri cantik, karena Yuri hebat, karena Yuri memiliki segalanya yang tidak kupunya, aku menyalahkannya atas semua kekurangan didiriku. Memiliki saudara kembar yang hebat, cantik, dan memiliki segalanya, membuatku telihat lemah, tolol, dan menyedihkan. Ingat! Aku hanyalah cewek bayangan. Aku selalu menyalahkan Yuri dan menganggap dirinya jahat, tetapi, disini akulah yang paling jahat.

Yuri selalu ada untukku, seperti lalat yang berterbangan di sekitar makanan. Yuri selalu mengorbankan segalanya untukku, hanya saja aku tidak mau mengakuinya. Di dalam benakku, semua yang Yuri korbankan untukku adalah harga yang harus dia bayar. Aku egois, pengecut, pecundang sejati, dan aku baru sadar aku telah memaksa Yuri mengorbankan hal yang seharusnya tidak dia korbankan. Nyawanya!

Aku mengeyahkan helaiyan rambut yang bergerak-gerak liar di depan mataku dengan tangan bergetar. Kini aku memegang ponselku yang sudah kuisikan memory card yang berisikan data ponsel Yuri. Aku menggigil kedinginan, bukan karena angin yang bertiup di pertengahan musim semi. Tapi karena, semua kata yang terketik caps lock di ponselku, yang menyebabkanku seperti ini.

Yuri tidak berbohong pada Taeyeon. Ada cowok yang menyukaiku dan cowok itu salah mengirim pesannya yang seharusnya dia tujukan untukku malah nyasar ke Yuri–sama kasusnya seperti surat Chanyeol. Tapi, tentu saja berbeda, karena cowok yang menyukaiku bukan hanya mengirim pesan, dia menerorku, meneror Yuri tepatnya.

Cowok itu menyampahi ponsel Yuri dengan pesan-pesan dan juga panggilan telpon tak terjawab. Aku tahu, Yuri pasti ketakutan setengah mati. Sudah tahu dia diteror tapi, kenapa dia tidak memberitahuku? Dan peneroran itu sudah terjadi selama tiga minggu sebelum Yuri bunuh diri, artinya empat minggu yang lalu. Dia tetap diam dan berpura-pura menjadi Im Yoona. Beberapa kali Yuri membalas pesan cowok itu : ‘Tolong jangan ganggu aku.’ Dan karena cowok itu tidak menyebutkan namanya, aku tidak tahu siapa dia. Sampai satu pesan yang Yuri kirimkan membuatku berhenti bernapas : ‘Ayo kita bertemu besok, di gedung B.’  Pesan itu dikirim satu hari sebelum Yuri bunuh diri.

Alasan mengapa Yuri memaksaku untuk bertukar tempat adalah dia ingin bertemu dengan cowok brengsek yang selama ini menganggap dirinya menerorku. Dugaan sementaraku, Yuri bunuh diri untuk melindungiku. Yuri mengorbankan nyawanya untukku. Dia ingin cowok itu berpikir yang mati adalah aku, dengan begitu, otomatis cowok itu akan berhenti menganggu Im Yoona yang asli. Seharusnya Yuri tidak melakukan itu, seharusnya Yuri tidak perlu mengorbankan nyawanya untukku, seharusnya Yuri menceritakan semuanya padaku dan kami sama-sama mencari solusinya.

Kenapa dia begitu tolol? Dan, mengapa aku masih tetap menganggapnya tolol setelah dia menyelamatkan nyawaku?

“Kita harus lapor polisi. Dia sudah meneror Yuri.”

“Aku tahu,” kataku lemah. Kumasukkan ponselku ke dalam saku. “Tapi, kita tidak bisa melakukan itu.”

“Kenapa?”

“Karena kita tidak tahu siapa cowok itu sebenarnya,” Kupandangi Taeyeon dengan serius. “Yuri sampai bunuh diri dengan berpura-pura menjadi diriku, pastilah dia sangat takut dengan cowok itu. Kita harus mencari siapa cowok itu sebenarnya.”

Suara botol kaleng yang tertendang membuat Taeyeon tersentak dan aku kontan berdiri. Ada orang lain disini! Atap gedung B di pisahkan oleh toren air besar yang dipergunakan untuk menampung air untuk keadaan darurat.

Nugu-ya?” Tanyaku dengan suara sedikit bergetar sambil berjalan mendekat. Sebuah kaki yang berbalut sepatu adidas berwarna putih hampir membuatku terlonjak kaget. Oh sial, ada orang lain di sini dan kuyakini dia pasti mendengar semua ucapanku barusan. “Siapa di sana?”

Orang itu–atau tepatnya cowok itu, yeah, karena dia memakai celana dan siapa sih cewek yang mempunyai telapak kaki sepanjang itu?–berdiri dengan gerakkan cepat, awalnya dia masih memunggungiku. Tapi, ketika dia berbalik, aku bersumpah aku memekik saking kagetnya. “Kyungsoo!”

 

To Be Continued

One thought on “Soul – Empat

  1. Apa mungkin kyungso suka sma yoona, siapakah cowo misterius yg neror yuri..makin penasaran sama kelanjutannya..ditunggu chap selanjutnya thor..semangat 😄😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s