Soul – Tiga

soul

Soul | Hanabi

Im Yoona | Do Kyungsoo

Chapter | Mystery – Romance | PG-13

.

.

.

Seingatku, ini seingatku loh–walaupun ingatan waktu kecil, tapi kurasa memang benar adanya. Kegiatan yang dilakukan diklub teater, well tentu saja berakting. Okelah, itu pikiran orang awam dan aku orang awam, jadi tidak salah jika aku berpikir demikian. Tetapi yang terlihat di depanku adalah kegiatan mengecat. Oh bukan, tentu saja bukan mengecat tembok, maksudku mengecat property yang akan digunakan pada latar belakang panggung.

Contohnya, bulan sabit–yang nantinya akan tergantung di atas panggung–sekarang masih dicat menggunakan cat minyak berwarna kuning. Dan kalau kalian perhatikan lebih teliti, cat kuning untuk matahari dan cat kuning untuk bulan, jelas berbeda, walau hampir sama jika masih berada di dalam kaleng. Kuning untuk matahari terlihat cerah dan kuning untuk bulan agak sedikit gelap, seperti emas pucat atau apalah itu warnanya. Begitu pula dengan warna lainnya.

Tetapi, tidak semua anggota klub teater sedang mengecat property, ada yang membereskan kostum, ada pula yang mengatur pencahayaan, dan tak luput dari para aktor dan akrtis  yang berdiri di sudut kiri bawah panggung. Tanpa berpikir panjang aku mendatangi mereka–akrtis dan aktor Hanyoung High School.

Tersenyum kecil sambil menyapa senior-senior yang rasanya tidak pernah kutemui selama bersekolah di sini, semuanya terlihat asing. Bukannya mereka penyusup atau apalah itu, maksudku, aku tidak mengenali mereka–yang seharusnya orang-orang paling populer di sekolah–karena yeah, aku bukan tipe cewek yang perduli dengan orang-orang yang tidak berinteraksi denganku. Bahasa kasarnya kuper (kurang pergaulan, terhadap orang-orang dan lingkungan di sekitarku).

Oke, jangan berpikir aku sombong karena alasanku itu. Gini ya, menurutku tidak penting mengetahui, mengenal, atau sok tahu tentang kehidupan orang lain, karena aku tidak yakin mereka ingin tahu tentang kehidupanku. Mengerti, kan? Itu cuma buang-buang waktu. Kalau aku mengenal mereka, apa mereka mengenalku?

Mereka semua mengalihkan pandangan dari naskah tipis–yang direkatkan dengan streples diujung atas bagian kiri–ke arahku. Salah satu dari mereka, tepatnya seorang senior cewek–berwajah menyebalkan–melayangkan pandangan tak suka padaku. Oh benar, dia tidak menyukai Yuri dan sekarang dia juga tidak menyukaiku.

Dia memuntir-muntir bibirnya–yang kayaknya gatal itu–baru melontarkan kalimat bertanya dengan nada sinis : “Apa yang kau lakukan di sini?”

Alisku terangkat. “Kenapa? Memangnya aku tidak boleh datang ke sini?”

“Pura-pura bodoh?” Tanyanya sambil tersenyum mengejek. Mengundang banyak pasang mata menuju ke arahnya, seseorang di sampinya menyenggol lengannya pelan, tapi tidak digubris olehnya. “Kau sudah keluar. Kau sudah keluar dari klub teater. Jadi, apa yang kau lakukan di sini?”

“Eh?” ujarku sedikit kencang. “Jadi, Yuri sudah–“ aku cepat-cepat menggeleng. Yuri sudah keluar dari klub teater? Astaga! Aku baru tahu!

Yuri sudah keluar dari klub teater dan aku baru tahu sekarang. Oke, yang jadi pertanyaan saat ini adalah kapan dia keluar? Dan well, kenapa dia tidak bilang padaku? Oke, itu tidak penting. Kurasa, Yuri juga tidak merasa wajib memberi tahu padaku tentang fakta dia keluar dari klub teater. Jadi, selama ini kembaranku telah berbohong, kepadaku, Eomma, dan Appa. Kemana dia selama ini kalau pulang telat dan mengatakan sedang ikut klub teater?

Aku tahu, betapa cintanya dia dengan akting. Dan betapa hebatnya dia berakting. Orang seperti Im Yuri–yang sudah jatuh cinta pada sesuatu–tidak dengan mudah melepasnya. Yuri pasti punya alasannya sendiri, mengapa dia keluar dari klub teater? Seperti, mengapa dia bunuh diri menggunakan identitasku?

Waktu senior cewek itu menyeringai dan kembali bertanya dengan nada sinis tentang asalanku berada di sini–seseorang menjawab dengan nada santai dan ramah di belakangku. “Dia datang untuk menemuiku,” Tangannya terulur meraih pergelangan tanganku. “Bukankah begitu, Im Yuri?”

Byun Baekhyun–cowok yang kelebihan gen keren–menarikku keluar dari ruangan–yang juga berfungsi sebagai aula sekolah–bahkan sebelum aku bisa mengeluarkan desisan untuk menjawab pertanyaan senior cewek yang punya tampang menyebalkan tadi. Derap langkahnya berhenti ketika kami telah berada di lorong koridor gedung B. Kalau kalian mau tahu, gedung B berfungsi untuk ruang praktek, seperti lab komputer dan kimia. Aula sekolah yang berada di lantai satu–terkadang juga dipakai untuk kegiatan klub teater, dan puluhan ruangan untuk klub-klub lainnya.

Pada jam sekolah, gedung B sangat sepi seperti gedung kosong. Yeah, karena seluruh ruang kelas dan ruang guru berada di gedung A. Tetapi pada jam pulang sekolah, gedung ini serasa hidup. Jadi, ketika kami keluar dari aula sekolah–yang berhadapan dengan gedung olahraga yang dipisahkan oleh jalanan batu–bisa kalian bayangkan ada berapa banyak pasang mata yang memandang kami?

Tatapan mereka seperti paparazi yang menyorot kamera berlensa tajam. Sang dewi dan dewa Hanyoung High School berdiri berhadapan sambil berpegangan tangan. Aku menyentakkan tanganku dan bisa kulihat tatapan bersalah di wajahnya. Nampaknya cowok itu baru sadar kalau dia memegang tanganku terlalu lama. Fakta bahwa Byun Baekhyun kelebihan gen keren hingga banyak cewek rela mengantre di belakangnya, tidak menutupi rasa risihku ketika dia menggenggam tanganku.

Well, suasana agak sedikit tegang setelah aku menghentakkan tangannya tadi. Tetapi Baekhyun–yang kayaknya dari kecil juga kelebihan gen baik–tersenyum ramah dan bertanya pertanyaan yang sama yang ditanyakan oleh senior cewek tadi : alasanku berada di sini. Tentu saja dengan suara yang bersahabat.

“Hm…” Tidak dipungkiri, jika sekali kau berbohong, makan akan banyak kehobongan lainnya yang meloncat dari bibirmu. “Aku lupa kalau aku sudah keluar dari klub teater.”

Alis tebalnya tertaut, sempat menarik perhatianku sebelum dia terkekeh dan berkata : “Kau aneh. Well, akhirnya kau datang ke sini setelah dua minggu keluar dari klub dan alasanmu terdengar sangat aneh. Aku tahu kau berbohong.”

Aku mengangkat bahu. “Yeah.” Suaraku terdengar agak sedikit ganjil saat berkata  yeah, seperti aku sudah tahu kalau Baekhyun tidak menerima alasanku.

“Jadi,” Ucapannya terdengar seperti sedang menebak bukan bertanya. “Kau mau kembali bergabung ke klub?”

“Eh? Apa?”

“Bergabung ke klub teater lagi.” Jelasnya.

“Tidak,” Kataku cepat dan rasanya terlalu cepat sampai alis Baekhyun kembali bertaut. Aku memang sedikit merasa sedih mengetahui Yuri keluar dari klub teater, tapi itu artinya tugasku untuk berpura-pura menjadi dirinya sedikit berkurang. Dan cowok itu menyuruhku kembali lagi ke sana? Oh tidak, terima kasih. “Kau tahu, kembaranku, Im Yoona. Dia sedang koma, jadi kupikir aku tidak ingin membuang waktuku untuk melakukan kegiatan lain. Maksudku, aku harus menjaganya.”

Baekhyun mengangguk setelah aku menjelaskan serentetan alasanku. Tapi itu benar, aku memang harus menjaga Yuri di rumah sakit, secara bergantian dengan Eomma. “Bagaimana keadaannya? Im Yoona.”

“Belum menunjukkan tanda-tanda akan sadar. Tapi, dia baik-baik saja, kurasa.”

“Baguslah kalau begitu.” Katanya. Wajahnya agak sedikit lega.

Aku tahu Byun Baekhyun baik. Tapi kurasa, dia bukanlah tipe cowok yang mengkhawatirkan cewek sepertiku, seperti Im Yoona. Dan hal itu menyadarkanku untuk tidak terlalu berharap.

.

.

.

 “Well,” Kata Kyungsoo. “Apa yang kau lakukan di klub teater?” Akhirnya dia bertanya–setelah mengeluarkan sepedanya dari area parkir beberapa menit selagi melihatku keluar dari aula bersama Baekhyun–dengan mata memincing.

“Tidak ada.” Kataku cepat.

“Begitu, kah? Kupikir kau ingin kembali ke klub teater,” Ucapnya selagi menaiki sepeda ke atas trotoar dan berjalan di sampingku.

Dan aku langsung menoleh secepat yang aku bisa setelah mendengar ucapannya. Apa katanya barusan? Jadi, dia tahu kalau Yuri sudah keluar dari klub teater? “Semua orang terkejut ketika kau keluar dari klub. Kau tahu? Penggemarmu sangat banyak.” Tambah Kyungsoo dengan nada sedikit geli diakhir kalimatnya.

“Aku tahu.” Hanya itu jawabanku. Lalu kami kembali membisu.

Tunggu dulu. Dengan santainya aku berbicara dengannya seolah tidak pernah terjadi apapun. Oke, aku harusnya curiga. Bisa saja, Kyungsoo ternyata adalah cowok yang menyebabkan Yuri bunuh diri, walau aku tidak begitu yakin dengan hipotesisku. Kurasa aku harus berhati-hati dengannya. Hm, tidak. Dengan semua cowok mulai saat ini, termasuk si cowok kelebihan gen keren, Byun Baekhyun.

Kulirik Kyungsoo yang masih santai berjalan di sampingku. “Jangan ikuti aku.” Meskipun tidak berniat buruk dengan mengatakan itu, tapi bisa kudengar nada sinis dalam kalimatku.

Kyungsoo tidak menoleh. “Aku memang ingin berjalan ke sana.”

Aku ini cewek tujuh belas tahun yang tidak pernah pacaran. Mungkin mengatakan penyebabnya karena kehadiran Im Yuri–yang menutupi diriku dengan kehebatannya–agak sedikit berlebihan. Mungkin sebenarnya, aku memang tidak menarik dan mungkin belum ada cowok yang kecantol sama pesonaku.

Satu-satunya cowok yang kecantol sama pesonaku adalah anak tetangga yang pindah di dekat rumahku satu tahun yang lalu–Xi Luhan namanya. Satu-satunya cowok yang memberikanku cokelat pada hari valentine. Satu-satunya cowok yang menganggapku cantik. Dan cowok itu berumur tujuh tahun. Oh yeah, Xi Luhan adalah bocah berumur tujuh tahun yang menyukaiku. Oke jangan katakan, aku tahu, aku menyedihkan!

Selain Appa dan Luhan. Aku tidak pernah di dekati cowok lain. Ini serius loh! Jadi, ketika Do Kyungsoo berjalan di sampingku saat ini dengan santainya seolah kami berteman–mungkin ada yang berpikir kami berpacaran–aku jadi sedikit gelisah. Sial! Aku memang tidak pernah dekat dengan cowok! Jadi, jangan menganggap itu lucu!

Apa dia mengkhawatirkan ku? Kalau tidak, mengapa dia berjalan di sampingku? Oke, ini jalanan umum. Tapi, kenapa dia tidak naik sepedanya? Dia malah menuntun sepedanya dan berjalan beriringan denganku? Dia menyukaiku? Tidak, dia menyukai Im Yuri!

Do Kyungsoo sangat tampan. Oh benar, dia tampan dan aku baru sadar hal itu. Ujung rambutnya mencuat keluar dari balik kerah seragam. Headset yang tergantung di lehernya berwarna kelabu. Dia mengingatkanku dengan Kang Woo di drama It’s Okay, That’s Love. Tapi tentu saja, Kang Woo tidak memakai sepatu Adidas seperti yang Kyungsoo pakai saat ini. Yeah, Kang Woo kan hanya khayalan dari sang peran utama yang ternyata sakit jiwa.

Waktu Kyungsoo menoleh ke arahku–saat aku masih memperhatikan rambut-rambut halus yang mencuat dari kerah segaramnya–rasanya aku seperti seorang penjahat telah tertangkap basah melakukan pelecehan seksual. Pipiku memanas ketika Kyungsoo dengan kontan menyentuh tengkuknya. “Kenapa?” Cowok itu bertanya seolah aku melihat serangga besar di kerah baju belakangnya.

“Tidak,” Aku menggeleng kencang layaknya kepala boneka yang diputar-putar anak kecil berumur tiga tahun. “Ah, busku sudah datang.” Aku sebenarnya tidak yakin apakah itu bus yang biasa ku naiki. Pokoknya aku ingin cepat-cepat menghilang dari pandangannya.

 Oke, aku benar-benar seperti pelaku pelecehan seksual yang tertangkap basah. Langsung saja aku masuk ke dalam bus tanpa menoleh lagi ke arah Kyungsoo yang mungkin sekarang sedang menatapku bingung. Aku mengambil alih kursi di dekat jendela dan bisa kulihat Kyungsoo sudah berada di halte bersama sepedanya dan tersenyum ke arahku. Sebelum akhirnya dia pergi setelah bus yang ku naiki berjalan. Dia menungguku! Dia menungguku sampai busnya berjalan! Dan Kyungsoo tersenyum! Dan hal itu membuat pipiku memanas.

.

.

.

“Kau tidak menyukai dia, kan? Do Kyungsoo, maksudku.” Tanyaku pada Yuri. Kalian menganggapku aneh? Oke, anggap saja begitu. Aku tidak perduli. Setelah insiden tadi–di dekat halte–tiba-tiba saja aku jadi tidak bisa berhenti memikirkan cowok itu. Aneh memang, aku tidak bilang kalau aku menyukainya. Hanya saja, dia mulai mencuri perhatianku.

Pertama kali bertemu dengannya, dia agak menyebalkan. Dia terlihat sok menjadi pelawak, leluconnya sama sekali tidak lucu. Malah membuatku kesal. Tapi ketika dia mengatakan kalau aku bukan Im Yuri–meskipun cowok itu hanya menebak asal-asalan–aku sadar, tiba-tiba dia mulai mengambil sedikit tempat di otakku. Maksudku setelah kejadian bunuh dirinya Yuri dan juga ucapannya yang mengatakan ada cowok yang menyukaiku. Tentu saja, aku mencurigainya.

Tapi, setelah kupikir-pikir. Aku tidak mengenal Do Kyungsoo sama sekali. Buta tentangnya seperti aku buta diperintahkan membaca paragraf menggunakan bahasa Prancis. Jadi, dia tidak mungkin cowok yang menyukaiku. Walaupun aku tidak mencoretnya dari daftar cowok mencurigakan.

Tentu saja, Yuri hanya diam. Dia kan sedang koma. “Dia terlihat seperti menyukaiku,” Aku tahu! Aku tahu! Itu tidak benar. Hanya berjalan di sampingmu dan mengatakan cowok itu menyukaimu. Aku pasti gila! Oke, tuntut saja aku kalau begitu. “Kuharap kau tidak menyukainya. Karena dia bisa saja salah satu dari cowok yang menyebabkanmu bunuh diri.”

Aku mendesah pelan. Menumpuhkan kedua sikuku di atas ranjang rumah sakit, kemudian meletakkan daguku di antara kedua telapak tangan. Sebanyak apapun aku berbicara dengannya, dia hanya diam saja. Kata Dokter, orang yang sedang koma harus sering-sering di ajak bicara. Tapi, aku paling benci bicara dengan seseorang, namun orang itu hanya diam saja. Walau Yuri sedang koma, itu juga menyebalkan.

Aku harus bergantian menjaga Yuri. Meskipun waktuku yang paling singkat. Pokoknya aku hanya memberikan waktu kepada Eomma untuk mandi dan berganti pakaian bersih. Dan istirahat. Mungkin hanya sekitar tiga jam sebelum perawat yang Appa pekerjakan menjaga Yuri sampai besok pagi.

Yuri harus segera sadar dan menceritakan semuanya kepada kami. Aku tidak menganggapnya menyusahkan–yeah, sedikit. Aku merasa sedih melihat Eomma yang terus menangisi Yuri–yang dia sangka adalah aku–sambil memanggil-manggil namaku. Aku menjadi merasa palsu. Sebenarnya siapa aku? Im Yoona atau Im Yuri? Aku menganggap diriku Im Yoona, tapi semua orang memanggilku Yuri–coret Kim Taeyeon dari daftar.

Aku meraih ponsel di dalam saku blazer. Mungkin Taeyeon bisa membuat rasa bosanku berkurang. Tidak apalah menganggu acara menontonnya. Aku sudah pernah cerita belum, temanku hanya Kim Taeyeon dan hanya Taeyeon yang bisa kuhubungi. Aku tidak punya kontak teman sekelasku. Alasannya adalah karena Taeyeon ketua kelas. Jadi kupikir, kalau aku butuh kontak teman sekelas, maka aku akan menghubungi Taeyeon. Tapi, sebelum aku mengusap layar ponselku, Taeyeon sudah menelpon duluan.

“Halo, Taeng. Wae?”

“Oh, Yoong,” Balas Taeyeon setelah beberapa detik dia diam. “Aku sudah bertanya pada Jongin. Data yang ada di ponsel Yuri bisa dipulihkan. Tapi, membutuhkan waktu.”

“Benar, kah? Syukurlah kalau begitu. Berapa lama?”

“Beberapa hari,” Taeyeon terdiam lalu berteriak kecil ‘hah!’ dan aku juga bisa mendengar suara jeritan di seberang sana. “Bisa juga lebih lama. Kau tahu? Keadaan ponsel itu parah.”

“Kau sedang menonton?” Tanyaku tidak memperdulikan ucapannya tadi.

“Iya, bagaimana kau bisa tahu?”

“Suranya terdengar sampai di sini.”

“Oh begitu,” Taeyeon kembali terdiam cukup lama. Sepertinya adegan di film horor itu sedang seru-serunya. “Oh, jangan tutup telponnya dulu.”

“Baiklah.”

 “Kau tahu tadi aku dan beberapa anak dari kelas kita menjenguk Yuri. Yeah, semua orang menganggap dia itu kau.”

Aku mengangguk dan sadar kalau Taeyeon tidak bisa melihat. “Aku tahu, Eomma memberitahuku tadi,” Kulirik parsel buah di atas nakas di samping ranjang Yuri. “Memangnya kenapa?”

Awalnya semua ingin ikut, tapi Baekhyun melarangnya. Dia bilang kalau Yuri bisa terganggu kalau kami semua datang menjenguknya,” Aku mengangguk lagi. Kupikir Baekhyun benar. “Sebenarnya apa hubungan kalian? Kenapa dia begitu perhatian padamu?”

“Apa? Siapa?”

“Byun Baekhyun sangat memperhatikan Yuri yang dia kira adalah kau.”

“Yang benar saja!” Kataku lalu tertawa kecil. “Kau tahu, dia itu baik. Si Baekhyun, maksudku. Jadi, kurasa tuduhanmu tentang hubunganku dengan dia tidak berdasar.”

Tiba-tiba saja senyum merekah di wajahku. Aku jadi berkhayal, bagaimana ya rasanya jika Byun Baekhyun dan Do Kyungsoo memperebutkanku? Rasanya pasti menyenangkan.

 

To Be Continued

 

Di update lebih cepat karena minggu ini aku sibuk. Nggak yakin bisa nulis, jadi aku update sekalian.

2 thoughts on “Soul – Tiga

  1. Kapan yuri bakalan sadar dr koma nya..kasian yoona harus pura2 jd yuri dan semua orang menganggap yoona itu yuri..semangat thor di tunggu next chapter nya 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s