Of Lunch Break Conversation, You, and Me

of-lunch

Author Catstelltales Casts Im Yoona [SNSD], Luhan [Singer, actor] Genre Friendship, slice of life, slightly romance Rating PG-17

© 2016 Catstelltales

“Kudengar jawara Nona Berbakat Universitas itu mencampakkanmu.”

“Kudengar jawara Nona Berbakat Universitas itu mencampakkanmu.”

Luhan tidak bisa tidur semalaman, dan sapaan penuh cemooh dari rekan sesama guru musiknya di sekolah ini adalah hal terakhir yang ia inginkan—kalau bisa tidak usah sama sekali. Kafetaria itu sudah penuh dengan murid sekolah menengah tempat Luhan dan Yoona mengajar, dan Luhan akan sangat bersyukur jika tidak ada satu pun dari murid-murid yang mendengar ucapan Yoona padanya barusan.

Bagaimanapun, Luhan mendesis sebal. “Terima kasih sudah mengonfirmasi, Im! Aku tidak butuh simpatimu.”

Yoona tertawa seraya meletakkan nampan berisi makan siangnya di meja yang sama. Gadis itu menjepit kimbapnya dan memasukkannya dalam mulut sebelum mengunyahnya dengan nikmat. Lantas ia menunjuk Luhan dengan sumpitnya.

“Biar kutebak, kau pasti menghabiskan akhir pekan dengan memainkan lagu-lagu sedih di atas tuts pianomu. Aduh, Luhan, kau cinta sekali padanya atau bagaimana?” Yoona menyuap kimbap kedua ke mulutnya. Ia termasuk salah satu dari kaum Hawa yang beruntung karena bisa makan banyak tanpa takut gemuk, dan ia sangat bahagia akan hal itu.

Luhan baru akan membuka mulutnya untuk mengusir Yoona dari sana, ketika gadis itu mendahuluinya, “Memangnya sudah berapa lama kalian pacaran? Oh! Satu bulan, ya! Sungguh waktu yang sangat lama.” gadis itu melontarkan sebuah sarkasme.

Luhan menegakkan punggungnya, lantas memangkas jaraknya dengan Yoona. “Sikapmu bisa dikurang-kurangi, tidak?”

Kunyahan kimbap ketiga, dan Yoona kian bertingkah. “Aku belum selesai.”

“Kalau begitu selesaikan.”

“Nanti, aku makan dulu.”

Luhan bersedekap, lalu berlagak menyesap jus jeruknya demi membunuh waktu. Dwimaniknya diam-diam memerhatikan Yoona. Ia mengenal Im Yoona lebih lama dari yang semua orang duga. Mereka menimba ilmu di sekolah musik yang sama, sama-sama terpilih dalam kelompok orkestra dan sudah mendapatkan jam terbang sendiri, sebelum keduanya lantas sama-sama mendaftar sebagai guru musik di SMA Dominique Preparation, sebuah sekolah swasta di jantung kota Seoul.

Yoona memiliki kepribadian yang disukai semua orang—biarpun kalau Luhan boleh jujur, gadis itu agak menyebalkan dan kata agak bisa berganti dengan sangat apabila ia menemukan sesuatu yang layak untuk dicibir.

“Berapa lama waktu pacaranmu yang paling singkat?” Luhan kembali membuka percakapan karena Yoona tak kunjung melanjutkan acara Mari Menggoda Luhan-nya.

Yoona menerawang dengan mata terpicing, tampak berpikir. “Dua bulan.”

“Bohong,” Luhan mendengus tak percaya. “Kau hanya ingin lebih baik dariku.”

Bola mata Yoona merotasi, “Sungguh. Dua bulan karena ia tidak memberi kabar dan tahu-tahu saja minta putus. Secara teknis, ia yang memutuskanku. Tapi secara mental, aku sudah memutuskannya lebih dulu. Ha!” Yoona mengangguk-angguk penuh kemenangan, seakan ia pantas dapat piagam untuk itu. “Yang penting, setelah putus aku tidak memainkan atau mendengarkan lagu-lagu sendu agar terlihat lebih menderita daripada yang seharusnya.”

“Siapa bilang aku menderita?” Luhan protes, tapi tidak bisa menutupi kenyataan bahwa yang terjadi adalah yang sebaliknya. “Dan sekadar klarifikasi saja, aku tidak mendengarkan lagu-lagu sendu seperti yang kaukhayalkan.”

“Iya, deh.” Yoona mengangkat kedua tangannya, menyerah. Namun, sejurus kemudian, senyuman penuh maksud kembali terulas di wajahnya.

“Jadi kau sekarang sedang sendirian, kan?”

Luhan baru hendak memprotes bahwa Yoona sungguh tidak peka pada penderitaan teman sejawatnya, ketika Yoona buru-buru menimpali. “Begini, Luhan. Bukannya aku memanfaatkan kisah sedihmu ini untuk keuntungan pribadi, tapi ada temanku yang membicarakanmu. Sepertinya dia berminat. Yeah, dia memang cuma bilang kau imut, sih. Tapi bukankah itu awal yang bagus?”

Luhan mengerang frustasi. Jika manusia bisa dijadikan alat tukar, ia akan menggadaikan Yoona dengan sebuah grand piano baru merek Yamaha. Gadis di hadapannya ini sungguh tidak berperikepatah-hatian. Ingin rasanya Luhan bangkit dan mencoret-coret wajah Yoona dengan spidol.

“Tidak mau, ya?” tanya Yoona.

“T-I-D-A-K. Apa sih yang ada di dalam pikiranmu?”

Yoona menarik napas. Kini air mukanya berubah menjadi lebih serius. “Aku hanya ingin melihatmu bahagia, Lu. Tidakkah harga dirimu sedikit menyadari sesuatu? Bahwa semua gadis tampaknya menikmati sekali saat-saat mereka bisa menyakiti hatimu?”

Luhan membuka mulutnya untuk menjawab, tapi tidak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Mungkin Yoona benar. Mungkin Luhan-lah yang terlalu bodoh. Mungkin Luhan-lah yang secara tak sengaja memberikan mereka kesempatan untuk datang kemudian melukainya. Mungkin inilah satu-satunya kebodohan tiada tara yang dimiliki Luhan.

Pemuda itu kembali menyandarkan punggungnya ke bangku kafetaria. Jemarinya mengitari bibir gelas jus jeruk yang kini hanya menyisakan ampas.

“Yeah, jadi apakah kau bisa menjamin bahwa dengan memperkenalkanku pada temanmu, maka aku tidak akan patah hati lagi?”

Yoona kembali tersenyum. “Kalaupun masih patah hati, kau kan sudah kebal.”

Kali ini, mau tidak mau Luhan tertawa lepas. Ia mencomot salah satu kimbap dari piring Yoona dan menikmati hasil rampasan perang.

Bel berdering, tanda jam istirahat sudah selesai. Para murid yang berbondong-bondong keluar kelas dan memberikan bungkukan serta anggukan sebagai salam pada kedua guru musik mereka yang masih sibuk membicarakan soal pengobatan patah hati. Bangkit dari bangkunya lebih dulu dari Luhan, Yoona baru hendak melambaikan tangan. Ia harus mengajar murid-murid kelas 2B setelah ini di ruang musik. Baru beberapa langkah ia ambil, Luhan—yang belum juga beranjak dari bangku—memanggil namanya kembali.

“Ada satu yang mengganjal di benakku,” ujar pemuda itu. Alis Yoona terangkat, menagih pertanyaan. Luhan mengganti posisinya dengan bertopang dagu.

“Mengapa kau mencalonkan orang lain untuk kencan denganku?”

“Seingatku tadi sudah kujelaskan bahwa ….”

“Maksudku,” potong Luhan langsung. “Mengapa bukan kau saja yang kencan denganku?”

Yoona terbahak, lantas air mukanya berubah menjadi lebih serius. “Tidak semudah itu.”

“Mengapa tidak? Kau bisa-bisa saja bergonta-ganti pacar?”

Pertanyaan Luhan hanya dijawab dengan senyuman penuh arti dari lawan bicaranya. Yoona menyibak rambutnya dengan anggun—suatu gerakan yang membuat murid laki-laki di sekolah itu tergila-gila padanya. “Yeah,” ujar Yoona. “Tapi jika kau denganku, kau jadi tidak bisa gonta-ganti pacar lagi, kan?”

Yoona melenggang pergi, meninggalkan Luhan yang masih mengerutkan dahinya, mencerna setiap kata yang gadis itu lontarkan. Lantas, ketika rasa penasarannya tidak mencapai titik temu, Luhan bangkit dari kursi dan memanggil Yoona.

“Oi, Im Yoona! Apa maksudmu dengan tidak bisa? Tentu saja aku bisa! Eh? Itu kan, maksudmu? Oi, Im Yoona!”

Tapi Yoona tidak menoleh lagi, tampaknya ia menginginkan Luhan menarik kesimpulan sendiri dari pembicaraan terakhir mereka tadi.

FIN.

Authornotes:

Halo, Catstelltales di sini. Saya author baru. Mohon bantuannya.

 

6 thoughts on “Of Lunch Break Conversation, You, and Me

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s