Soul – Dua

soul

Soul | Hanabi

Im Yoona | Do Kyungsoo

Chapter | Mystery – Romance | PG-13

.

.

.

Tanganku terasa dingin menyentuh kaca besar yang memisahkan antara diriku dan Yuri yang terbaring koma di seberang sana. Tubuhnya terlihat seperti boneka manekin–yang hanya diam terbaring–terterpa cahaya matahari yang merembes dari tirai jendela. Mengkilat dan kaku.

Dadanya naik turun, teratur dengan bantuan alat pernapasan. Ruangan itu terlihat agak menyeramkan dengan hanya dirinya di dalam sana. Yuri baru saja melewati masa kritisnya dan Dokter berkata lebih baik dia istirahat dulu. Jadi, aku dan keluargaku berdiri memandanginya dari sisi seberang lain.

Eomma tak henti-hentinya menangisi Yuri–yang dia pikir adalah aku–meraung-raung memanggil namaku sambil memeluk seragamku–yang kotor dengan bercak darah Yuri–erat. Aku tidak tega melihatnya, kenyataan bahwa aku tidak begitu menyukai Yuri–tidak membuat rasa sedihku tertahankan. Aku tidak sejahat itu, tentu saja, aku juga merasa sangat kehilangannya.

Apa yang ada dipikirannya hingga dia melakukan semua ini? Bunuh diri, maksudku. Kenapa dia melakukan itu? Aku tidak mengerti. Kalau memang dia merasa stress atau tertekan, kupikir seharusnya aku yang dari dulu bunuh diri. Tapi, aku tidak mungkin menyia-nyiakan hidupku begitu saja.

Hidupku memang menyedihkan. Mempunyai saudara kembar sehebat Im Yuri adalah mimpi buruk. Tapi, aku tidak setolol itu hingga mempertaruhkan nyawaku, hanya karena iri dengan kehebatan Yuri. Yuri pasti punya alasannya sendiri, alasan yang tidak bisa dia jelaskan kepadaku atau orang lain. Tapi, sekali lagi, kenapa? Kenapa dia bunuh diri menggunakan identitasku? Dia ingin aku menggantikan tempatnya? Dia ingin mati dan membuatku menjadi dirinya?

Kalau dipikir-pikir lagi, sebelum Yuri bunuh diri, dia sempat bertemu dengan seorang cowok yang menyukaiku. Seseorang yang menyukaiku! Apa dia yang membunuh Yuri? Ah, tidak. Jelas-jelas Yuri meloncat sendiri dan sepengelihatanku, tidak ada orang yang berdiri di belakangnya–yang menyebabkan dia terjatuh. Didorong, misalnya. Karena jelas sekali Yuri meloncat sendiri, dengan keinginannya sendiri.

Apa cowok itu ada hubungannya dengan kasus Yuri? Dia adalah alasan Yuri bunuh diri? Dia alasan Yuri meloncat kemarin? Atau sebenarnya, kasus ini tidak sesederhana yang aku pikirkan. Yuri bukan bunuh diri, tapi dipaksa bunuh diri. Yeah, itu mungkin saja! Tapi, siapa?

.

.

.

Pada akhirnya, kuputuskan untuk mencari tahu, siapa cowok sialan yang mencoba menyebabkan saudara kembarku bunuh diri? Oke, aku seharusnya tidak berpikiran buruk dulu. Toh, ada dua kemungkinan disini, a) Yuri memang sengaja ingin bunuh diri menggunakan identitasku dan b) Cowok–yang katanya menyukaiku–bisa saja mengambil bagian besar dalam kasus ini, alias penyebab Yuri bunuh diri.

Kalau kemungkinan kedua adalah penyebab sebenarnya. Yang jelas saja, cowok itu salah orang. Karena Im Yoona yang dia kira sedang berbaring koma di ranjang rumah sakit–yang sesungguhnya sekarang sedang memutar otak sambil minum jus jeruk langsung dari kardusnya–adalah Im Yuri. Dan kalau memang cowok itu mempunyai niat jahat terhadapku, tentu saja, aku tidak bisa langsung mengatakan kepada semua orang bahwa sesungguhnya aku adalah Im Yoona–orang yang seharusnya terbaring di ranjang rumah sakit.

Aku juga tidak setolol itu ngomong : Hey, aku Im Yoona. Sebenarnya cewek yang terbaring di rumah sakit adalah kembaranku, Im Yuri. Oh yeah, ternyata kau menyatakan perasaanmu kepada orang yang salah. Bisa kau ulangi?

Intinya, cowok itu mengincarku. Mengincar Im Yoona yang asli dan untuk sementara waktu aku harus bersembunyi, sampai aku menemukan cowok sialan itu. Atau kalau memang khayalanku ini terlalu tinggi–sebenarnya memang Yuri ingin bunuh diri dan tidak dipaksa siapapun–aku harus berpura-pura menjadi dirinya sampai Yuri bangun dari koma. Tentu saja, aku menuntut penjelasan.

Aku meletakkan kardus jus jeruk–yang isinya tinggal setengah–ke dalam kulkas. Berlari kecil menaiki anak tangga menuju kamar Im Yuri. Aku harus mencari bukti. Bukti kalau memang Yuri ingin mati dengan identitasku atau Yuri bunuh diri dipaksa cowok yang katanya menyukaiku atau keduanya.

Kamar Yuri begitu rapi, didominasi warna pink baby dan tosca–yang kalau dipikir-pikir lagi adalah kombinasi warna yang aneh–lengkap dengan ranjang beratap renda. Sedangkan kamarku? Agak terlihat gelap karena aku mengecatnya dengan warna blue dongker dan tentu saja tidak ada ranjang berenda, hanya ranjang biasa.

Kalau di film-film, tipe cewek kayak Yuri sangat gemar menulis diary atau semacamnya. Jadi aku mulai mengobok-obok laci lemari mejanya dan hebatnya aku tidak menemukan apapun. Oh benar! Hey, Im Yoona, ini bukan film dan berhenti berpikiran dangkat seperti itu!

Aku menarik kursi kayu bercat putih dari kolong meja belajar dan duduk di sana. Menyalakan tombol power pada CPU di bawah meja, menunggu sampai layar monitor menyala dengan sempurna. Ternyata Im Yuri adalah tipe cewek yang ingin punya ruang untuk dirinya sendiri, dia mengunci komputernya dengan kata sandi. Aku memasukkan tanggal lahir kami, tanggal pernikahan Eomma dan Appa, tanggal ketika dia mendapatkan juara lomba akting, dan tidak ada satupun yang berhasil membuka kuncinya.

Sialnya lagi, Im Yuri juga tidak menulis password komputernya pada notebook atau memo atau apapun lah. Dengan kesal aku mematikan kembali komputernya. Setidaknya ada kemungkinan yang cukup besar untuk Yuri menulis sesuatu di dalam komputernya. Misalnya, alasan dia bunuh diri.

Setelah berpikir seharian penuh, aku belum bisa menentukan siapa–yang mungkin saja, cowok yang menyukaiku. Kan sudah kubilang, kenyataan pahitnya adalah seumur hidupku, kurasa tidak ada cowok yang berniat apalagi sampai menyukaiku. Karena semua cowok yang ku kenal malah kecantol dengan pesona Yuri. Aku tidak tahu siapa dia, tapi bukan berarti aku tidak mengenalnya. Bisa saja cowok itu sekarang berkeliaran disekitarku seolah tidak terjadi apapun.

Kata Taeyeon ada cowok yang suka padaku. Seharusnya sebelum cowok itu menyatakan perasaannya padaku, dia wajibnya menelponku atau setidaknya mengirimiku pesan. Bertingkah seolah-seolah : Ini loh aku, cowok tampan yang menyukaimu.

Tapi, tidak ada sama sekali. Boro-boro dapat telpon atau pesan dari cowok, dari Taeyeon saja jarang. Itu artinya! Aku berlari menuju kamarku yang berseberangan dengan kamar Yuri. Membuka lemari kayu selebar-lebarnya dan merogoh kantung blazer seragam sekolah dan menatap ponsel Yuri. Cowok itu juga salah, dia menelpon dan mengirim pesan ke Yuri yang dia sangka adalah aku. Itulah alasan mengapa Yuri ingin bertukar tempat denganku, dia ingin bertemu dengan cowok yang selama ini salah mengira dia adalah aku.

Ah, rumit sekali!

Sayangnya, aku sekarang aku belum bisa tahu siapa cowok itu. Karena ponsel Yuri rusak. Kemarin ponselnya ikut terlempar ketika dia meloncat. Tentu saja ponselnya langsung hancur, Yuri meloncat dari lantai empat gedung B dan Dokter bilang ini adalah keajaiban, karena Yuri masih bisa bertahan, walaupun sekarang dia koma.

Suara ponselku yang bergetar di atas meja belajar, membuatku sedikit terkejut. Keningku berkerut, nama Taeyeon yang tertampang-pang dilayar.

“Halo, Taeng. Ada apa?”

“Im Yuri, aku menelponmu tapi kenapa kau tidak mengangkatnya? Dan jangan panggil aku Taeng, kau bukan Yoona.”

Aku mendesah pelan. “Ini aku, Im Yoona dan ponsel Yuri rusak.”

“Apa maksudmu? Aku sedang bersedih karena sahabatku bunuh diri dan kau malah bercanda dengan mengatakan kalau kau adalah Yoona. Yang benar saja!”

“Aku serius, Taeng. Ini aku, Yoona.”

“Yoong? Tunggu,” ada jeda beberapa detik sebelum Taeyeon menyerocos dengan nada gembira. “Oh, astaga! Kau sudah bangun dari koma? Sungguh! Hey, kenapa cepat sekali? Kupikir kau akan koma satu atau dua bulan, seperti di dalam film.”

“Yang koma bukan aku tapi Yuri, kemarin kami bertukar tempat.”

“Tunggu. Kau ngomong apa, sih? Maksudmu yang koma adalah Im Yuri dan yang bunuh diri adalah Im Yuri?”

“Yeah, kau benar.” Kataku sabar.

“Tapi, aku masih belum percaya. Okey, jawab ini. Apa yang kusukai?”

“Byun Baekhyun.”

“Oh, astaga! Kau benar-benar Im Yoona. Jadi, dari kemarin aku buang-buang waktu untuk menangisi Yuri. Tapi hey, kenapa kalian bertukar tempat?”

“Akan kujelaskan besok dan aku butuh bantuanmu. Kita bertemu di atap sekolah gedung B besok pada jam makan siang. Dan kau harus ingat ini, aku adalah Im Yuri. Aku sedang berpura-pura menjadi Im Yuri.”

.

.

.

“Aku percaya kalau kau adalah Yoona. Yeah, karena kau tahu, aku menyukai Byun Baekhyun. Sementara aku tidak pernah bilang ke siapapun selain Yoona, jadi, aku percaya kalau kau adalah Im Yoona. Dan kupikir Yoona tidak setega itu menceritakan orang yang kusukai kepada Yuri. Jadi, kau pasti Yoona.”

Sebenarnya aku tidak ingin menyakiti perasaan Taeyeon. Begini, fakta kalau Kim Taeyeon menyukai Byun Baekhyun bukanlah rahasia umum lagi. Semua orang pasti akan sadar dengan kenyataan itu, oh yeah, kalian harus lihat tatapan memuja yang selalu Taeyeon layangkan untuk Baekhyun, jika cowok itu berada di dekatnya.

Byun Baehyun–cowok yang ditaksir Taeyeon, sejak hari pertama masuk sekolah semester tahun ini–adalah teman sekelasku. Dia tampan dan baik pula. Dan yang membuat banyak cewek-cewek mengejarnya–seperti anjing melihat tulang–adalah dia salah satu aktor sekolah. Maksudku, anggota klub teater–sama seperti Yuri. Kalau Im Yuri dewinya, maka Byun Baekhyun dewanya.

Kalau si Taeng tidak menyukai Baekhyun. Bertaruh 100%, aku pasti akan kecantol dengan pesonanya. Tapi, selama masih ada Im Yuri, kurasa mustahil. Oh yeah, dan jangan lupakan fakta bahwa, Byun Baekhyun dan Park Chanyeol–si tiang listerik yang pernah mengataiku kumal seperti belum mandi–bersahabat.

Aku menghenyakkan bokongku pada kursi kayu yang menempel di tembok dekat pintu masuk atap gedung B, sambil berguam. “Lagi pula, Yuri juga tidak perduli jika aku menceritakan tentang kau yang menyukai Baekhyun.”

“Kau benar juga,” Taeyeon membuka sandwich ayam dan mengigitnya. “Jadi, kenapa kalian bertukar tempat?” Tanyanya dengan mulut penuh makanan.

Kusenderkan punggungku ke tembok. “Aku tidak tahu,” Lalu membuka air mineral dalam kemasan yang kubeli di kantin beberapa menit yang lalu. “Kupikir, dia ingin menemui cowok yang menyukaiku.”

“Apa maksudmu? Yuri menyukai cowok yang menyukaimu?”

“Aku juga tidak tahu, mungkin saja Yuri menyukai cowok yang menyukaiku. Aku sangat terkejut waktu kau bilang ada cowok yang menyukaiku, karena selama ini aku tidak mendapatkan telpon atau pesan, artinya, cowok itu salah menelpon dan mengirim pesan–yang harusnya untukku, malah nyasar ke Yuri. Kurasa Yuri ingin bertukar tempat denganku karena dia ingin bertemu dengan cowok yang menyukaiku dan agar tidak ketahuan dia memakai identitasku. Tapi, yang aku pusingkan adalah kenapa dia bunuh diri? Kurasa, cowok yang menyukaiku itu ada hubungannya dengan kasus Yuri. Penyebab dia bunuh diri,”

Aku meneguk cepat air mineral sampai tinggal setengah–lelah menyerocos terus. “Tunggu Taeng, dari mana kau tahu ada cowok yang menyukaiku? Karena cowok itu tidak berkomunikasi denganku dan aku juga belum tahu apakah dia memang berkomunikasi dengan Yuri.”

“Aku mengetahuinya dari Yuri,” Taeyeon meneguk minumannya sampai habis. “Astaga Yoong, Yuri memang berniat bunuh diri. Waktu jam makan siang, aku mengajaknya ke kantin, tapi dia bilang dia harus menemui seseorang yang menyukainya di atap gedung B. Aku senang, kau tahu, setelah sekian lama, ada juga cowok yang menyukaimu. Maksudku, kau mengertikan, selama ada Yuri, semua cowok akan berpaling darimu.”

“Maksudmu, Yuri memang berbohong dengan mengatakan kalau ada cowok yang menyukaiku, agar kau tidak mengikutinya. Dengan begitu dia bisa dengan mudah datang ke atap gedung B dan bunuh diri.” Jelasku lebih rinci.

Taeyeon mengangguk antusias sampai poni depannya ikut bergoyang. “Tapi,” Aku menyingkirkan rambut yang tertiup angin masuk ke mulutku. “Kenapa dia harus bunuh diri menggunakan identitasku? Maksudku, kalau dia memang ingin bunuh diri, kenapa tidak dengan identitasnya saja? Seolah dia ingin mengakhiri hidupnya, tapi dia tidak ingin hidupnya berakhir sampai disitu saja, jadi dia menarikku untuk meneruskan hidupnya.”

Taeyeon geleng-geleng kepala. “Ck, ck, ck, licik sekali dia.”

“Tapi, itu belum pasti. Kita belum punya bukti yang akurat untuk membuktikan bahwa Im Yuri memang ingin bunuh diri menggunakan identitasku,” Aku mengeluarkan ponsel Yuri dari saku sebelah kiri blazer seragam Yuri yang masih kupinjam. “Kurasa semuanya akan jelas dengan ini.” Lalu mengacungkannya di depan hidung Taeyeon.

“Kau pungut dari mana barang rongsokan itu?”

Aku menampilkan wajah malas. “Ini ponsel Yuri, Taeng.”

“Oh,” Kemudian wajah Taeyeon yang tadinya terlihat bingung sekarang berubah serius kembali. “Tapi, ponsel itu hancur dan kurasa tidak bisa diperbaiki lagi.”

Aku juga setuju dengan ucapan Taeyeon. Ponsel Yuri hampir tidak berbentuk lagi. Layar kacanya sudah rontok dan oh yeah, tidak perlu dijelaskan karena tidak terlalu penting. “Tapi, kita masih bisa memulihkan datanya. Memindahkan datanya ke ponselku.”

“Aku tidak yakin, tapi itu patut dicoba. Kurasa Jongin bisa.”

“Apa? Kim Jongin? Sepupumu?”

“Iya, memangnya siapa lagi?”

“Tapi dia kan–” Aku mencoba mencari kalimat yang tepat dengan tangan bergerak liar diudara. “–brandal.”

“Kau benar.”

“–dan playboy, dan juga menyukai Yuri.” Tambahku.

“Yang itu juga benar. Tapi, fakta bahwa dia jauh lebih jenius dari padamu, itu yang penting.”

“Oke,” Pasrahku sambil mengangkat bahu lalu menyerahkan ponsel Yuri ke tangan Taeyeon. “Aku mengandalkanmu dan juga Jongin.”

“Serahkan padaku,” ujarnya berbangga diri. Kemudian menyelipkan ponsel Yuri ke saku blazer. “Oh, aku baru saja men-download film horor. Kau mau nonton bersamaku sepulang sekolah nanti?”

Dengan berat hati aku menggeleng. “Kau lupa? Aku Im Yuri dan sudah sepantasnya aku mengikuti aktifitas Yuri.”

“Memangnya apa yang Yuri lakukan setelah pulang sekolah di hari rabu sore yang indah?”

“Klub teater,” aku mendesah. “Aku harus menghadiri klub teater sepulang sekolah nanti.”

 

To Be Continued

Yang nggak begitu ngerti sama percakapan Yoona dan Taeyeon, oke aku bakal jelasin. Yoona mikir ada dua kemungkinan yang terjadi a) Yuri sengaja bunuh diri menggunakan identitas Yoona dan b) Yuri dipaksa bunuh oleh cowok yang menyukai Yoona. Tapi, Taeyeon bilang Yuri bohong. Dan kemungkinan ke tiga, c) Yuri memang sengaja bunuh diri menggunakan identitas Yoona dan juga berbohong kalau sebenarnya nggak ada cowok yang menyukai Yoona. Karena kalau Yuri nggak berbohong, Taeyeon bakal mengagalkan rencananya untuk bunuh diri.

Kenapa Taeyeon mikir kalau Yuri bohong? Karena Taeyeon mendengar ada cowok yang menyukai Yoona lewat Yuri.

Jadi, menurut kalian kemungkinan mana yang paling benar?

Well, kan genre-nya mystery, reader-nya juga harus cari kebenarannya dong? Wkwk…

5 thoughts on “Soul – Dua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s