Be With You [Chapter 3] – morschek96

be-with-you

morschek96 presents Be With You

Romance, Life, Little Bit Sad || General / Teen

Im Yoona, Lu Han

Cho Kyuhyun, Oh Sehun, Jung Sena (OC), and Others

Cr. Poster by Kryzelnut  @CafePoster

Previous : [1][2]

 

***

 

Pagi, hal pertama yang ia lakukan ketika membuka mata adalah mengecek tanggal. Benar, ini hari minggu. Berjalan terseok keluar kamar dengan muka bantal dan mata yang belum sepenuhnya terbuka.

Juga dengan baju milik Luhan yang terlihat kekecilan di tubuh semampainya. Lamat-lamat Sehun membatin, yang menjadi hyungnya disini itu Luhan atau dirinya? Sedangkan Yoona yang sedang memasak dari arah dapur pun tersenyum kearah lelaki itu.

“Sedang memasak apa noona?” Sehun membuka lemari es lalu meminum air dingin dari dalam botol hingga tanggal.

“Soup ayam. Hanya ada ini, aku belum belanja sejak empat hari yang lalu.” Yoona membuka tutup pan tersebut lalu terlihat asap yang mengepul keluar. Ia berjalan membawa nasi menuju meja makan, sedangkan Sehun mengekor dibelakang.

“Mandilah dulu, lalu makan ini. Setelah kau selesai semua ini pasti sudah siap.”

Sehun mengangguk lalu berjalan menuju kamar mandi. Setelah beberapa menit membersihkan diri dan berganti pakaian ia pun kembali menemui Yoona.

“Aku diberi Luhan hyung uang kemarin, apa kau mau memakainya untuk belanja?”

“Ah, tidak perlu Hun-ah.” Yoona melemparkan tangannya ke udara seolah dengan jelas menolak.

“Ini juga sebagai balas budiku noona.” Sehun menatap lurus kearah Yoona.

“Sudah kubilang tidak perlu, kau libur kan hari ini? Bagaimana kalau nanti siang temani noonamu ini berbelanja ke supermarket.”

Sehun membelakkan matanya. Apa? Seumur-umur ia tidak pernah berbelanja keperluan dapur. “Apa? Eungg— aku ini idaman gadis-gadis di sekolah noona. Apa jadinya kalau mereka tahu aku berbelanja? Itu kan pekerjaan anak perempuan.”

Yoona menatapnya jengah. “Hei, berbelanja sebentar tidak akan membuatmu berganti kelamin.” Ia memakan kasar potongan ayam pada soupnya, sedangkan Sehun diam-diam terkekeh setelah mendengar pernyataan Yoona.

“Baiklah baiklah.. Eumm, noona yang tadi malam itu siapa?” layaknya orang yang baru mengenal, Oh Sehun juga penasaran tentang kehidupan Yoona yang lebih dalam.

“Dia mantan kekasihku.” Ujar Yoona pelan.

“Lalu yang ia beri kepada noona itu undangan apa?” Damn Oh Sehun! Geram Yoona dalam hati. Namun sebisa mungkin ia menjawab yang sebenarnya.

“Itu undangan pertunangannya.”

Sehun berjengit dengan menaikkan sebelah alisnya. “Jadi, apa noona akan datang?” tanya Sehun berhati hati.

“Tentu saja tidak.” Jawab Yoona cepat. “Lagipula undangannya sudah kurobek dan— kubuang. Aku tidak akan diizinkan masuk tanpa undangan.” Sudah ia putuskan, untuk membuang jauh-jauh Cho Kyuhyun dari kehidupannya. Hidup terus berjalan dan semuanya akan dengan perlahan berubah seiring berkembangnya waktu. Dan Yoona yakin suatu hari nanti akan menemukan lelaki lain yang lebih baik.

Sehun mengangguk paham lalu melanjutkan memakan sarapannya.

Ketika beberapa menit berlalu, Yoona berdiri melangkah ke dapur untuk mencuci semua peralatan makannya. Bau khas lemon memenuhi ruangan kecil tersebut ketika ia menekan bagian atas botol sabun berwarna hijau.

Sedangkan Sehun berjalan menuju balcon, angin pagi Seoul berhembus, sekali lagi mengguncang rantai-rantai pohon yang berada di bagian taman belakang apartment. Melalui pagar pembatas balcon, ia melihat beberapa anak kecil sedang bermain saat seorang biarawati tua memasuki sebuah gereja yang tak jauh dari tempat bangunan apartmen berdiri.

 

.

.

***

 

Sehun mendorong keranjang yang telah berisi daging, nugget, mie ramen, dan minyak goreng, sedangkan Yoona berada didepannya tengah memilih-milih roti tawar. Mereka berjalan kembali menuju tempat Susu dan minuman, terlihat Sehun yang melihat deretan susu sapi tersebut layaknya sedang memandang surga.

“Noona, beli susu yang banyak eoh..”

“Ini satu saja, yang paling besar.” Yoona tak menggubris lalu memasukkan susu plain tersebut kedalam keranjang dorong. Juga terlihat Sehun yang dengan segera menekuk wajahnya, jika saja gadis-gadis penggemarnya tahu bahwa Oh Sehun masih rajin meminum susu layaknya bayi, entah apa yang akan mereka katakan.

“Noona aku ingin cokelat.” Satu lagi kemanjaan Sehun.

“Ya, ambillah. Kalau sudah temui aku dibagian sayur ne?” setelah mendengar ucapan Yoona, dengan langkah cepat Sehun segera melangkah ke rak bagian cokelat. Kini giliran Yoona yang mendorong keranjang tersebut menuju bagian sayuran.

Yoona pun sedikit menjengit, lantaran harga paprika yang naik drastic dari beberapa hari yang lalu ia berbelanja disini. Tak hanya paprika, nyatanya kentang dan broccoli yang hendak ia beli pun juga naik harganya. Namun tak ada pilihan lain, daripada ia tidak makan.

Setelah memilah-milah dan menimbang sayurannya, terlihat Sehun yang dengan semangat antusias berjalan kearahnya. “Ini noona.” Ujar lelaki itu sambil meletakkan seluruh cokelatnya kedalam keranjang. Tapi— apa tidak salah? Kenapa banyak sekali? Kalau dihitung nyaris satu lusin jumlahnya.

“Hei, mau kau apakan cokelat sebanyak ini? Mau kau jual lagi?” Tanya Yoona bersungut-sungut.

“Tentu saja akan ku makan sendiri.” Ujar Sehun cuek lalu ia mendahului untuk berjalan ke meja kasir. Sedangkan Yoona dengan pelan menggelengkan kepalanya akibat ulah Sehun.

***

Mereka berjalan beriringan sambil masing-masing membawa keresek belanjaan. Memang karena letak supermarketnya yang tak terlalu jauh dari apartment Yoona, maka mereka memutuskan untuk berjalan kaki saja.

Melewati gang sepi ini lagi, Yoona teringat ketika terakhir kali ia berjalan sendirian malam-malam ditempat ini. Empat preman berbadan besarlah yang ia dapatkan. Dan— layaknya déjà vu, apakah ini kebetulan atau sudah takdir? Yoona kembali bertemu dengan preman-preman yang kemarin, mereka menatap tajam ke arah Yoona.

Sehun menghentikan berjalan ketika menyadari bahwa Yoona tertinggal beberapa langkah darinya. Ia menoleh kebelakang dan mendapati tatapan tak mengenakkan dari Yoona.

“Noona, apa yang kau lakukan?” Tanya Sehun, dan Yoona yang tetap menatap lurus kedepan. Dengan penasaran, Sehun pun juga ikut menatap ke arah pandang Yoona. Disana dapat ia lihat ada empat preman berbadan besar tengah berjalan kearah mereka.

“Hei noona, kita bertemu lagi.” Ujar satu dari mereka yang paling pendek. “Kau mengingat kami kan?”

“Aku jadi semakin menginginkanmu, melihat kemarin ada pemuda yang lebih memilih menyelamatkanmu dan meninggalkan gadis yang satu lagi untuk kami.”

“Noona, mereka bicara apa?” ujar Sehun berbisik pada Yoona.

“K-ku jelaskan nanti” jawab Yoona tak kalah pelan.

“Pasti kau sangat memuaskan, iya kan? Sampai-sampai lelaki kemarin lebih memilihmu.” Seorang lelaki yang tinggi dan memakai setelan serba hitam lebih mendekat ke Yoona, dan membuat Sehun harus menyingkirkan tangan lelaki itu.

“Ya! Apa-apaan kalian?!” ujar Sehun tak terima, juga terdengar nada suaranya yang meninggi.

“Wah, apa kau ini pacarnya? Noona, ternyata kau banyak dekat dengan lelaki ya.. jadi apa salahnya menemani kami sebentar iya kan—

 

#BUAKK!!

 

Satu hantaman keras dari Sehun untuk lelaki yang memakai topi. Ia tak akan pernah suka melihat seorang gadis baik yang diperlakukan layaknya jalang seperti tadi. Dan Yoona noonanya bukan seperti apa yang dikatakan preman tersebut.

Tak terima, ketiga teman dari lelaki tadi pun juga hendak membalas Sehun namun Sehun segera menghindar dan langsung menghadiahkan pukulan di punggungnya ketika lelaki itu lengah. Yoona yang memang merasa takut akan perkelahian pun akhirnya berjalan menjauh dengan kantung-kantung belanjaannya. Ia bersembunyi dibalik tiang lampu jalan.

Dengan keroyokan, salah satu dari mereka yang berada dibelakang pun mendorong Sehun hingga terjatuh di aspal, namun sesegera mungkin Sehun bangkit berdiri. Amarah telah memuncak diubun-ubun Sehun. Sepertinya ia akan mendapat satu lagi permainan setelah ia melawan Yongguk dan kawan-kawannya beberapa hari lalu. Diam-diam Sehun menyeringai tipis, oh— perkelahian adalah hidupnya.

Satu per satu preman-preman tersebut tumbang akibat ulah Sehun. Mereka segera lari terbirt ketika Sehun hendak saja melayangkan tendangannya ke perut lelaki yang paling pendek tersebut.

Dan setelah melihat keadaan yang telah aman, Yoona dengan cepat menghampiri Sehun. “Kau tidak apa-apa? Oh— lihatlah wajahmu lebam dan sikumu berdarah.. apa lagi yang sakit? Waahh bibirmu juga bengkak.” Ujar Yoona sambil memandang khawatir Sehun.

“Tidak apa-apa noona.” Dengan wajah yang lecet dan berdarah, Sehun masih menunjukkan senyumnya pada Yoona. Diam-diam Yoona sedikit menyesal akan itu, Sehun jadi begini karenanya.

***

Mereka sudah berada didalam aparment milik Yoona. Sesekali Sehun merintih lantaran perih yang diakibatkan oleh obat dan kain kasa yang membalut lukanya.

“Apa kau baik-baik saja? Sebentar lagi aku akan berangkat kerja, apa perlu aku minta libur dulu?” ujar Yoona sambil membalutkan kain kasa dan plester pada siku Sehun.

“Tidak perlu, ini hanya luka kecil noona. Apa kau tidak ingat dihari pertama kita bertemu? Keadaanku juga seperti ini.”

“Tapi ini beda.” Yoona menjawab cepat. “Kali ini kau terluka karena menolongku.”

“Memangnya yang dikatakan preman-preman tadi itu apa maksudnya noona?”

Yoona berpikir, sedikit mengingat kejadian beberapa hari yang lalu dimana ia dikejar preman-preman sialan itu dan secara terang-terangan meminta tolong kepada Luhan yang sedang ‘bermain’ dengan seorang gadis di taman. Dengan berhati-hati Yoona menceritakan semuanya kepada Sehun, dan seperti dugaannya, Sehun tak kuasa menahan tawa ketika mendengar semua penjelasannya.

“Hahaha.. Luhan hyung parah sekali..”

Juga terlihat wajah Yoona yang kian merona, ia sungguh bingung waktu itu. Dan tak sempat berpikir panjang, jika dipikir lagi tindakannya kemarin memang bodoh.

“Haishh.. sudah kau istirahat dulu. Aku akan bersiap ke tempat kerja. Aku sudah hampir terlambat.”

.

.

***

 

Seperti hari-hari biasanya Yoona memasuki ruangan khusus pegawai lalu memakai apron dan ikat kepalanya. Sepertinya ia memang sedikit terlambat, karena hanya ada ia seorang diri di ruangan tersebut. Hyomin dan yang lain pasti sudah berada di depan, batinnya.

Ia berjalan ke depan dan menemukan Hyomin sedang duduk didepan meja kasir sambil merapikan buku menu. “Hei, kenapa kau telat? Tumben sekali.”

“Aku ada urusan dulu tadi.” Ujarnya singkat. Saat ini keadaan Café bisa dibilang cukup sepi. Dimana hanya ada seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk berkutat dengan laptop dan terdapat satu cangkir cappuccino disebelah kirinya.

“Luhan sanjangnim juga belum datang, kenapa bisa sama denganmu?”

“Hei, bisa saja dia sekarang sedang sibuk, jadi harus terlambat datang kesini. Dan bisa juga kalau malah hari ini ia tak berkunjung.” Memang, mungkin saja.

Tepat setelah itu terdapat segerombolan anak remaja yang memasuki Café. Akhirnya. Dengan semangat, Hyomin segera berdiri dan berjalan menuju meja remaja tadi sambil membawa beberapa buku menu. “Aku saja yang mencatat pesanan mereka.” Ujar Hyomin.

***

“Salju kembali turun.” Ucap Hyomin pelan ketika ia melihat kearah jendela yang menampakkan beberapa butir salju yang turun dari langit.

“Iya, kuharap anak manja itu bisa mengurus dirinya sendiri disaat seperti ini.” Yoona menimpali.

“Siapa maksudmu?”

“Sehun, dia masih di apartmentku. Dan— dia tadi berkelahi karena menolongku, kurasa juga tangan dan kakinya sedikit terluka. Jadi aku sangat berharap ia bisa mengurus dirinya selagi aku belum pulang.” Ujar Yoona menjelaskan. Mereka berdua menoleh kearah pintu masuk ketika mendengar decitan pintu dan laintai marmer, juga lonceng kecil yang berada diatasnya. Ternyata Luhan.

Yoona tak melepaskan sedetikpun pandangannya ketika Luhan berjalan lurus kearahnya juga Hyomin. “Ku dengar Sehun ada masalah lagi.”

Kalimat tersebut secara spontan menyadarkan Yoona, “N-ne sanjangnim.. tapi dia tak bermaksud melakukannya. D-dia menolongku.” Shit! Keadaan ini membuat Yoona gelagapan. “Lengan dan kakinya sedikit terluka, tapi tidak parah.” Sambungnya kembali.

Luhan mengangguk. “Dia memberitahuku soal itu.. Aku ingin bertemu dengannya, tunggu aku sebelum pulang.” Ujar Luhan lalu berjalan menuju ruangan pribadinya.

 

Satu detik.. dua detik.. tiga detik..

 

“MWO?? Sanjangnim ingin ke apartmentku???”

.

 

.

Luhan dan Yoona sudah berada didalam mobil Masserati milik Luhan. Entah mengapa suasana menjadi sedikit canggung. Dua-duanya tak ada yang memulai pembicaraan, hingga Yoona mulai membuka suara. “Sanjangnim janga—

“Jangan panggil seperti itu. Ini bukan di Café dan juga bukan waktumu bekerja. Panggil saja Luhan, atau— oppa.” Semenjak memulai kalimatnya, Luhan tak sedikitpun melihat kearah Yoona. Ia tetap memandang lurus kedepan sambil menyetir. Entah apa yang sedang dipikirkannya.

Udara yang masih terasa dingin walaupun penghangat telah dinyalakan didalam mobil tersebut. Juga wiper yang bergerak kekanan dan kiri membersihkan dari butiran salju yang turun mengenai kaca mobil. Yoona sedikit terbelak akan penuturan Luhan barusan. “Oppa?” ulangnya tak yakin.

Luhan mengangguk, juga terlihat seringai tipis yang hanya dapat ia lihat dan ia sadari seorang diri. Setelah beberapa lama, kemudian mereka telah berada didepan Apartment Yoona tinggal.

“Sehun ada didalam kamarnya.” Yoona menunjuk sebuah pintu kayu yang berhadapan dengan ruang makan. Dan dengan cepat Luhan memasuki ruangan itu.

 

Yoona merasa lelah, dan ia merasakan di semua ototnya saat ia duduk diatas ranjang sembari mendengarkan saluran radio musik favoritenya. Membersihkan diri sebentar lalu beristirahat.

Sedangkan Luhan yang memasuki kamar Sehun langsung disambut bahagia oleh sang empunya. “Luhan hyuuung~” ujar Sehun yang duduk bersandar kepala tempat tidurnya.

Luhan berjalan mendekat dan menemukan lengan Sehun yang terbalut kain kasa, dan wajah yang lebam. Ia menatap sendu lelaki yang telah ia anggap adik sendiri itu. “Apa kau merasa baikan?” Luhan duduk di tepi tempat tidur.

“Ya, aku skhudah baikkant.” Ucapan Sehun memang terdengar aneh karena ia sedang memasukkan roti kedalam mulutnya sampai penuh. Luhan menggeleng pelan lalu menatap nakas sebelah tempat tidurnya terdapat banyak sekali makanan. Mulai dari buah apel, roti yang seperti dimakan Sehun hingga— secangkir teh. Jujur saja ia sedikit kedinginan, dan meminum teh hangat mungin bisa membantu.

“Ahh kebetulan.. ambilkan aku teh itu.” Luhan menunjuk cangkir teh tersebut dengan dagunya. Namun Sehun segera menggeleng.

“Ini milikku. Buat saja sendiri.”

Luhan memberikan deathglarenya namun Sehun seolah tak peduli. Teh ini ia buat dengan tangan sendiri eoh. “Kalau tidak, suruh saja Yoona noona. Pasti dia sedang dikamarnya, kalau tidak di sofa depan televisie.” Sambung Sehun kembali.

Tak butuh waktu lama Luhan segera keluar dari kamar Sehun untuk mencari Yoona. Ternyata benar, Yoona sedang duduk memandang TV dengan memakan snack. Sedikit terkejut lantaran secara tiba-tiba Luhan sudah berada disebelahnya dengan tatapan ‘menggoda’.

“Hei, aku hanya ingin minta tolong untuk dibuatkan teh.” Oh, yeah yang benar saja Luhan. Mendekati seorang wanita karena urusan dapur, sangat gentleman.

Yoona sedikit mengerjapkan matanya lalu dengan pelan berdiri dan melangkah ke dapur. “Aku mengerti.” Ucapnya pelan.

“Ini bukan masalah menjadi seorang wanita, tapi kau melakukannya lebih baik dibanding aku..” Ujar Luhan sambil menaikkan volume suaranya.

“It’s okay sanjangnim..” Yoona menimpali dari arah dapur.

“Bukankah sudah kubilang jangan memanggilku begitu..” tak ada jawaban dari Yoona. Sedangkan di dalam kamar diam-diam Sehun yang mendengarkan percakapan keduanya pun tersenyum geli.

 

“Luhan hyung memang parah.” Cemohnya sekali lagi.

 

“Aku dengaaarrrr…” sahut Luhan dari luar.

Sehun malah tertawa semakin lebar. Tak jarang ia tersedak makanannya dan bertepuk tangan sendiri, juga merasa perutnya yang kaku akibat terlalu benyak tertawa. Namun dengan cepat ia menghentikan tawanya ketika pintu kamar tersebut terbuka dan Luhan memasuki kamar Sehun.

Sehun pura-pura tidak melihat lalu dengan sengaja ia menekan remote TV, mencari tayangan apa saja asalkan tidak bertemu pandang dengan Luhan. Ia tetap focus ke acara TV tersebut hingga menyadari sesuatu. Sepertinya ia kenal lelaki yang berada didalam berita tersebut.

“Sepertinya aku pernah bertemu dengan lelaki itu.” Ujar Sehun pelan. Luhan yang akhirnya penasaran pun ikut andil menyimak laporan berita tersebut.

Sebuah berita mengejutkan datang dari pewaris SJ Corp, yaitu Cho Kyuhyun putera dari Cho Jisub

Tak lama kemudian Yoona telah tiba di kamar Sehun dengan secangkir teh, ia juga menatap lurus ke layar televisie tersebut.

Dikabarkan bahwa petang sore ini, tuan muda Cho telah berusaha kabur dari acara pertunangannya dengan puteri dari Jung Yunho, yaitu Jung Sena. Ia ditemukan oleh pihak security sedang berusaha memanjat pagar untuk bisa kabur dari acaranya tersebut.

Tak ada pembelaan dari tuan muda Cho sendiri, namun meski begitu, pertunangan tetap dilanjutkan dan selesai pada pukul 9 malam tadi—“

Terkejut, adalah yang Yoona rasakan untuk yang pertama kali. Ada apa dengan Kyuhyun? Kabur?

“Noona, bukankah itu lelaki yang memberimu undangan kemarin?” Yoona mengangguk menangggapi pertanyaan Sehun.

Sekian laporan dari kami. Saya Yoon Mirae pamit dari Yupiter Hotel.

Yoona meletakkan cangkir yang ia pegang diatas nakas lalu berjalan keluar menuju kamarnya. Ada apa sebenarnya dengan Kyuhyun? Apa yang dipikirkan lelaki itu sampai bisa bertindak sebodoh tadi, Yoona membatin dalam hati.

 

“Tadi paman Zhaoyi juga kesana untuk mewakili perusahaan kami.” Luhan membuka suara. “Apa hubungan anak Cho Jisub itu dengan Yoona?” SJ Corp dan perusahaan milik Baba Luhan memanglah rekan bisnis, jadi secara tak langsung ia juga pernah mendengar tentang Cho Kyuhyun.

“Itu adalah mantan kekasih Yoona noona. Mereka putus karena anak tuan Cho dijodohkan dengan perempuan lain hyung.”

 

-FLASHBACK-

Kyuhyun menatap nanar pantulan dirinya pada sebuah cermin berukuran besar yang terletak di ruangan itu. Kurang dari 15 menit lagi ia akan dengan sah menjadi tunangan dari seorang Jung Sena, anak dari rekan bisnis keluarganya.

Namun apa yang bisa dikata karena ia tidak mencintai gadis itu, belum. Jika appa dan eommanya mau menunggu untuk lebih lama, mungkin ia tidak akan merasa setertekan ini. Ia belum genap dua minggu mengenal gadis itu, dan yang terpenting— ia juga harus meninggalkan Yoona.

Tiga tahun bukanlah waktu yang singkat untuk mencintai seseorang. Dan tiga tahun sudah hubungannya dengan Yoona berjalan lancar hingga pertunangan konyol ini terjadi. Ia tak bisa seperti ini. Ia masih mencintai Yoona, dan itu jujur.

Setidaknya masih ada waktu, dengan pakaian tuxedo dan tatanan rambut rapi, ia berusaha untuk keluar dari jendela. Untungnya terdapat sebuah pohon mangga, ia bisa memanjatnya turun kebawah.

Satu lagi pertanyaan menyambut benak, bagaimana ia bisa keluar dari kawasan hotel selebar dan sebesar ini?

Kyuhyun berjalan mengendap menuju taman belakang yang sepi tamu. Berniat untuk memanjat pagar besi yang telah karatan tersebut. Namun masih setengah tinggi dari gerbang tersebut, beberapa security telah menggagalkan niatnya. Ia dibawa ke kantor security terdekat dan langsung dibawa menuju ballroom dimana pesta pertunangannya digelar.

Ia menatap takut-takut ayahnya yang sedari tadi tak menunjukkan senyum. Rasanya ia telah bertindak terlalu jauh. Dan ia harus siap menanggung apapun konsekuensinya setelah ini.

Sena menatapnya dengan pandangan berbinar ketika Kyuhyun memakaikan cincin pertunangan mereka di jari manis gadis tersebut. Lalu giliran ia yang memakaikan cincin di jari Kyuhyun. Diam-diam Kyuhyun membatin dalam hati, ini baru permulaan. Dan segalanya telah kacau, maafkan aku Yoona.

-FLASHBACK END-

 

“Hyung ini sudah malam, apa kau tidak pulang?”

“Kau mengusirku?” Tanya Luhan sinis.

“Tidak, tapi lihat saja sudah jam 11 malam lebih.” Sehun menunjuk jam dinding yang terdapat diruangan tersebut.

“Benar juga.”

“Aah, hyung menginap saja disini. Kau tidur bersamaku hyung.”

“Hei, mana bisa seperti itu?”

“Tentu saja bisa hyung.. aku akan bilang ke Yoona noona kalau kau akan tidur disini malam ini. Ayolah hyung, kita tidak pernah lagi tidur bersama sejak kau masuk SMP.” Rengek Sehun yang ternyata rindu tidur bersama Luhan.

“Baiklah.” Kalau boleh jujur, Luhan sekarang sudah mengantuk. Dan mengemudi dengan keadaan seperti itu sangatlah berbahaya.

Sehun keluar menuju kamar Yoona. Dan Luhan telah membaringkan badannya ditempat tidur. Setelah beberapa saat, Sehun kembali dengan senyum lebar. Sepertinya ia berhasil membujuk Yoona agar hyungnya dapat tidur di apartmentnya malam ini.

“Aku merindukanmu hyung~” tak dapat disangkal, Luhan sangat geli dengan kelakuan Sehun saat ini.

Luhan menggeleng pelan. “Dewasalah.” Sindirnya pada Sehun. Namun Sehun tetap memandang lekat wajah hyungnya dengan posisi sangat dekat.

“Hyung, aku boleh memelukmu?”

“Kau mau kutendang??!”

“ahaha kau galak sekali hyung.”

“…”

“Hyung aku hanya bercanda.”

“…”

“Hyung, kurasa aku menyukai Yoona noona.”

 

Kini tak tinggal diam, Luhan segera menatap tajam Sehun. “Kau terlalu kecil untuknya.”

“Apakah kau cemburu hyung?”

“Tidak.”

“Yang benar?”

“Tidak.”

“Masa??”

“Tidurlah.”

Namun Sehun tak kunjung menutup mata, ia tetap memandang polos kearah Luhan. Sedangkan Luhan telah menutup matanya rapat-rapat. Dengan perlahan Sehun menekan jari telunjuknya ke pipi Luhan, melakukannya berulang ulang hingga Luhan menangkap tangan Sehun lalu menggigitnya.

Disusul dengan ledakan tawa Sehun. Ia tak menyangka Luhan akan menggigit jarinya. Buas sekali. Tapi salahkan Sehun yang tidak bisa diam dari tadi. Hmm.. Luhan rasa ini akan menjadi malam yang panjang dengan meladeni si cadel ini.

 

.

.

-TBC-

PENTING!!!

Hay, aku balik lagi. yg pertama aku mau jawab ada beberapa reader yg tanya “FF ini udah pernah di post di blog sebelah ya?”

aku jawab ya dear.. iya.

“tapi kenapa gk dilanjutin disana?/”

karena aku udah keluar dari sana alias sudah tidak menjabat sebagai author disana lagi. jadi mohon pengertiannya, kalau sudah pernah baca ya mohon sabar ditunggu utk chapter-chapter yg blm kalian baca. karena disini aku update dari awal lagi. gitu ya dear^^

Sekian dulu, ini hanya sekedar pemberitahuan kok. See you~

Wanna be my friend? Twitter : @lovanita_ ,Instagram : lovanita

Personal blog : https://morschek96.wordpress.com

17 thoughts on “Be With You [Chapter 3] – morschek96

  1. Owww pntes gax di lnjut lgi di situ…
    tapi gax pa pa yg pnting di sini ada low dari awal..
    luhan ma sehun lucu.. udah ngku aja low cmburu lulu

  2. Wkwk ngakak baca scene hunhan,btw kalau sehun juga suka sama yoona gimana tuh? Jadi cinta segi tiga dong/? Ga sabar nunggu lanjutan nya,fighting thor

  3. maaf ya athornim baru bisa comment sekarang soalnya baru nemuin ff kamu.tpi aku jga udah comment chap 1 sma 2 dlam waktu yang bersamaan.dan ff kamu ini keren banget seru next chapter jgn lma lma ya

  4. Pingback: Be With You [Chapter 4] – morschek96 – Im Yoona Fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s