Be With You [Chapter 1] – morschek96

be-with-you

morschek96 presents Be With You

Romance, Life, Little Bit Sad || General / Teen

Im Yoona, Lu Han

Cho Kyuhyun, Oh Sehun, Jung Sena (OC), and Others

Cr. Poster by Kryzelnut  @CafePoster

***

Menuruni sebuah tangga lebar, dengan anak tangga yang telah terpoles oleh ribuan kaki sebelumnya. Ia kemudian mengangkat roknya hingga dapat berjalan lebih cepat, kakinya meluncur diatas lantai. Yoona merasa bahwa tubuhnya sendiri sangat ringan, seperti melayang.

Cahaya bulan bersinar melalui jendela patri berukuran besar, memancarkan bayangan, pola berwarna-warni di atas lantai. Lilin-lilin berkelap-kelip diatas altar, dan dihadapannya kini terpasang tinggi sebuah salib berukuran besar. Sambil berlutut ia membuat tanda salib di dadanya, kemudian berjalan maju.

Jari-jarinya menggenggam erat butir-butir halus rosario miliknya, pada saat itu pula lonceng gereja mulai berdentang dan ia sudah siap untuk berdoa kepada Tuhan.

Malam ini adalah malam natal, malam natal pertama bagi Yoona untuk hidup sendiri tanpa keluarga yang menemani. Tepat sudah satu bulan ayah dan ibunya telah pergi meninggalkan Yonna untuk selama-lamanya. Setelah beberapa saat khusyuk dengan pekerjaannya, ia kembali berjalan keluar. Sepatu bootsnya berbenturan langsung dengan jalanan aspal yang sebagian besar telah tertutup salju putih.

Ia memasuki sebuah apartment sederhana di kawasan Myeongdeong, memutar knop pintu lalu memasuki ruangannya yang terletak di lantai 7 apartment itu. Namun pandangannya menangkap sesuatu, smartphone yang ia letakkan di nakas terlihat menyala. Pertanda barusaja adanya panggilan masuk, atau pesan masuk, atau chat masuk.

From : 086234900

“Atas pemberitahuan dari pesan singkat ini, saya selaku Manager De’ Ola Caffe telah menerima anda sebagai karyawan di Caffe kami. Anda bisa mulai bekerja pada tanggal 2 Januari 2015. Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi ke nomor ini 086234900”

 

Yoona bernapas lega, akhirnya ia bisa mendapat pekerjaan untuk paling tidak membiayai makan dan sewa apartmentnya. Mengingat Yoona menerima beasiswa untuk kuliah, jadi ia tak terlalu memikirkan hal itu. Sebelum kedua orang tuanya meninggal, kehidupan Yoona tidaklah sesulit ini. Ayahnya bekerja di sebuah perusahaan swasta dan ibunya yang bekerja paruh waktu di panti asuhan. Namun setelah keduanya telah tiada karena kecelakaan sebulan lalu, ia harus bangkit, kehidupan masih terus berjalan. Dan ia yakin setelah lulus kuliah nanti ia akan mendapatkan pekerjaan yang lebih layak dan akan lebih memperbaiki perekonomiannya.

Tak begitu lama, benda persegi panjang itu kembali menyala, nyatanya ada satu lagi pesan yang masuk.

From : Cho Kyu

“Aku bisa menjelaskan semuanya, kau tahu kalau selama ini Sena lah yang terus mengikutiku.”

Yoona menarik napas panjang lalu menghembuskannya kasar. Memang benar, Sena yang terus mengikutinya, tapi lelaki itu malah tetap membiarkan. Ia sudah lelah bersama lelaki itu, butuh berapa lama lagi ia harus terus bersabar dan mengalah? Jika pada akhirnya memang dirinya yang harus kalah. Cho Kyuhyun akan bertunangan dengan Jung Sena. Kekasihnya akan bertunangan dengan gadis pilihan orangtuanya. Bukankah itu adalah alasan yang cukup kuat untuk membuatnya pergi.

.

.

***

Yoona sendiri telah menduduki bangku kuliah semester 8. Kurang dari enam bulan lagi baginya untuk lulus dan mencari pekerjaan. Ia termasuk mahasiswa yang pintar, malah biaya kuliahnya ia dapatkan secara gratis alias menerima beasiswa.

Tabungannya kian menipis, namun kebutuhan hidupnya seolah tak pernah habis, yah begitulah memang hukum ekonomi. Uang di dompetnya hanya tersisa beberapa ribu won, namun bahan makanan di rumahnya hampir habis. Di dalam lemari es pun yang ada hanya air dan telur.

Baiklah, ia memutuskan untuk belanja nanti malam. Siang ini hanya ia habiskan untuk mengerjakan tugas dari dosen tua nan cerewet yang kedisiplinannya selalu terjaga dari waktu ke waktu. Tak ingin mendapat masalah apa lagi ini adalah tahun terakhirnya di universitas.

“Yoon..” Sebuah suara menginterupsi.

Yoona mendongakkan pandangannya, lalu melengos pelan dan kembali pada tugas-tugas di mejanya. “Wae?” jawabnya malas.

“Kau sudah makan siang?”

“Hm.”

“Apakah aku mengganggumu?”

“Ani.”

“…”

“…”

“Yoon..”

“Wae?”

“… Kau tahu aku tidak ingin putus denganmu.”

Yoona meletakkan pensil yang semula ia pegang, lalu menghadap lurus kearah Kyuhyun. “Dan kau tahu itu tidak akan mungkin terjadi.”

Kyuhyun menarik napas berat, lalu kembali melanjutkan. “Aku akan membujuk eomma sekali lagi Yoon, kita tidak perlu sampai seperti ini.”

“Kumohon Kyu, jangan membicarakan masalah ini lagi.” Ucapnya cepat lalu membereskan buku-buku dan peralatannya yang lain kedalam tas. Ia melenggang pergi secepat mungkin dari tempat tersebut.

.

.

***

Yoona mengambil keranjang berwarna merah lalu berjalan melewati lorong-lorong supermarket dimana ia sedang berbelanja keperluannya. Mulai dari daging, ramen, sayur, susu, dan yang tak ia lupakan adalah, sekotak green tea. Green tea dapat menyegarkan pikirannya ketika ia sedang kalut pada masalah-masalah duniawi.

Berjalan satu lorong lagi untuk mengambil susu yang biasa ia beli, dan semuanya selesai. Ia kembali lagi, memutar arah ke meja kasir. Belanjaannya sangat banyak, hampir sekantung keresek besar penuh. Yoona berjalan keluar, lalu disambut dengan angin malam kota Seoul yang dingin, karena memang sedang dalam musim salju.

Masuk ke jalanan yang lumayan sepi, sedikit membuat bulu kuduknya meremang. Namun seolah tak peduli, ia tetap berjalan. Jika harus berputar arah pun sudah tanggung, apartmentnya hanya kurang beberapa meter lagi. Namun, ia melihat sesuatu. Sekelompok orang yang berjalan berlawanan arah darinya, mereka berjalan mendekat kearah Yoona.

Ketakutan secara tiba-tiba hinggap dibenaknya. Apa yang akan mereka lakukan?

“Apa ada yang bisa ku bantu noona?” salah satu dari mereka membuka suara, orang yang paling gemuk diantara keempat orang itu.

“Jangan menggangguku.” Ucap Yoona sok kuat. Padahal ia sudah mati-matian untuk tidak menangis saat ini.

“Hei noona, kau ini galak sekali.” Seseorang yang tinggi dengan memakai jacket kulit menimpali.

“A-aku tidak punya uang.. biarkan aku lewat.”

“Siapa bilang kami ingin uangmu, hm?”

Yoona sedikit berpikir, apakah yang mereka inginkan sebenarnya? Yoona menangkap senyum mesum dari salah satu preman itu. Tidak salah lagi, mereka menginginkan— tubuhnya.

Tanpa basa-basi lagi Yoona segera berbalik dan berlari pergi, namun preman-preman itu juga tak tinggal diam. Mereka segera mengejar Yoona yang telah berlari terlebih dulu. Barang-barang belanjaannya juga sedikit banyak merepotkannya untuk lebih cepat berlari.

Yoona menoreh ke belakang. Dan sialnya preman-preman itu masih setia berlari mengejarnya. Memasuki kawasan taman yang sepi, Yoona melihat dua orang sedang— memangut bibir. Namun pikirannya kalut, napasnya juga terasa semakin pendek. Yoona berdiri didepan kedua orang itu, sambil menstabilkan napasnya.

“Agasshi.. hhh kumohon,, tolonglah aku, aku dikejar preman.. ku mohon, sudah dulu berciumannya..”

Si lelaki dari pasangan itu melihatnya, lalu menangkap pemandangan dimana memang benar ada beberapa preman yang sedang berlari kearah mereka. Dengan cepat ia menarik Yoona untuk mengikutinya ke tempat dimana ia memakirkan motornya, lalu menaiki motor tersebut dengan Yoona yang berada di belakang.

“Heii.. kembalikan gadis itu.. gadis itu milik kami..” Salah satu preman itu berteriak kearah Yoona dan si lelaki.

“Ku bawa gadis ini.. ambil saja yang satu lagi..” teriak lelaki itu sembari menancap gas motornya.

Sedangkan para preman-preman itu manatap lapar seorang gadis yang telah ditinggalkan sendiri di tempat itu. Gadis yang baru saja— you know what I mean dengan si lelaki tadi.

.

.

Yoona masih menstabilkan napas juga pikirannya. Entah mendapat dorongan dari mana ia bisa langsung meminta tolong kepada lelaki yang sedang memboncengnya sekarang. Padahal ia sama sekali tidak mengenal lelaki ini.

“Rumahmu ada dimana?” si lelaki bertanya. Namun suaranya teredam oleh angin yang berhembus lumayan kencang pada malam itu, yang malah terdengar sebagai sebuah bisikan.

“Di apartment sekitar sini. Lurus saja, sampai lampu merah lalu belok ke kiri.” Suara lelaki itu terdengar sangat lembut di telinga Yoona. Tapi— tidak tidak, mereka tidak saling kenal. Bagaimana kalau lelaki ini sebenarnya bukan orang baik? Mengingat kelakuannya dengan gadis tadi, lalu dengan seenaknya sendiri meninggalkan gadis tadi dengan preman-preman yang haus akan napsu.

Yoona membungkuk kepada si lelaki itu, lalu berujar pelan. “Gomawo..”

“Ini tidak gratis.”

Yoona menekuk wajahnya, apalagi sekarang? “Tapi aku tidak punya uang sekarang agasshi.”

“Siapa bilang aku ingin uangmu? Kau harus membantuku juga lain kali.”

Bernapas lega, lalu membungkuk sekali lagi. “N-ne, gomawo.”

Wajah lelaki itu malah terlihat cantik dimatanya. Dimana lagi ia bisa melihat seorang lelaki dengan mata indah dan rahang tirus yang menjadi idaman wajah setiap perempuan. Eung— apa yang barusaja Yoona pikirkan? Tidak, tidak. Mereka baru saja bertemu dan tidak mungkin kalau Yoona sudah berpikiran yang macam-macam tentangnya.

.

.

***

Yoona memasuki ruang pegawai. Disinilah dia, tempat kerjanya yang baru. Memakai celemek dan ikat kepala lalu berjalan keluar guna mencatat berbagai pesanan makanan dari tamu-tamunya hari ini. Hari ini adalah hari pertama pembukaan Caffe, jadi tak heran kalau pembelinya banyak sekali. Mereka ingin mencicipi makanan di Caffe baru yang terletak di kawasan Myeongdeong itu.

“Spaggethy Carbonara dua dan Fruit Punch dua noona.” Yoona mencatat semua pesanan yang diucapkan pelanggan itu padanya. Lalu berjalan menuju kitchen untuk memberikannya kepada si Cheff.

“Hei Yoon.”

“N-ne, ada apa Min-ah?” Yoona menoleh kepada teman kerjanya yang bernama Hwang Hyomin, si gadis dengan mata bulat dan rambut sebahu.

“Apakah kau sudah bertemu dengan si pemilik Caffe ini? Kudengar ia sangat kaya, orang tuanya memiliki perusahaan terbesar ke-10 di China dan ini adalah Caffe milik anak mereka yang baru lulus kuliah tahun kemarin.”

“…” Yoona hanya diam lalu mengerjapkan matanya pelan, bingung harus bereaksi seperti apa.

“Dan ku dengar dari si manager, pemilik Caffe ini adalah pria yang sangat tampan~” Terlihat Hyomin yang sedang tersenyum-senyum sendiri bagaikan orang bodoh. “Ta tapi… kudengar dia juga galak, dan playboy.” Sambungnya dengan mengecilkan suara pada kata ‘playboy’.

“Sudahlahh.. lelaki yang seperti itu memang sangat banyak di muka bumi ini Min-ah.” Ucap Yoona lalu mengibaskan tangan di udara.

“Tapi apa kau tidak penasaran bagaimana wajah si pemilik Caffe ini?”

Yoona kembali focus kepada Hyomin. “Sedikit.” Ucapnya singkat lalu berjalan menuju kitchen, ia rasa pesanan pelanggannya tadi sudah jadi. Dan kelakuannya malah membuat Hyomin mendengus di tempat.

Yoona mengantarkan pesanan ke meja pelanggannya, lalu kembali ke tempat kasir dimana Hyomin masih terduduk disana.

“Tapi ku dengar si pemilik Caffe ini akan berkunjung kesini.”

“Benarkah?” Hyomin memekik kegirangan.

“Begitu yang ku dengar dari Changmin sunbae.” Ujar Yoona seraya memasukkan tissue-tissue itu kedalam kotaknya.

“Kapan?” Tanya Hyomin sekali lagi.

“10 menit lagi.” Sebuah suara berat seorang lelaki menimpali, Yoona dan Hyomin menghadap ke belakang, nyatanya Changmin si supervisor Caffe ini. “Pastikan semuanya bersih dan rapi, kalian pasti tidak ingin langsung dipecat di hari pertama bekerja kan?”

Yoona mengangguk lalu memasukkan kembali tissue-tissue itu kedalam kotak kosong yang lain. Sedangkan Hyomin menata gelas-gelas champagne diatas nakas.

Tak lama kemudian pintu depan Caffe itu terbuka dan terlihat seorang lelaki masuk kedalamnya. Memakai setelan kantor yang rapi dan mewah, dengan rambut yang acak-acakan namun malah kerkesan manly.

Changmin membungkuk lalu menjabat tangan bosnya itu, tak tertinggal Hyomin yang kini terbelak dengan pandangan kasmaran. Namun Yoona malah malihat dengan pandangan tak percaya, matanya telah terbelak sempurna, lalu mengerjapkannya beberapa kali. Namun pemandangan ini nyata, bukankah itu adalah lelaki yang menolongnya tadi malam?

“Bagaimana hari pembukaannya hyung?” lelaki itu membuka suara, menyadarkan dua wanita yang terbengong di meja kasir.

“Baik, hari pertama sudah banyak pelanggan yang datang. Bisa kupastikan bisnismu ini akan menjajikan.” Changmin menjawab senang sembari merangkul si pemilik Caffe. “Ah, ini adalah Yoona dan Hyomin. Mereka waiters untuk sift sore sampai malam, dan sisanya yang lain sudah bekerja di sift pagi tadi.”

“Annyeong, Hyomin imnida.”

“Annyeong, Yoona imnida.” Keduanya membungkuk sopan kearah bos mereka. Namun keadaan canggung malah diperlihatkan oleh Yoona. Dan malah membuat bos mereka penasaran akan dirinya, setelah Yoona menaikkan kepalanya, pandangan mereka pun bertemu.

Namun si lelaki tidak mengucapkan satu kata pun pada Yoona, dan Yoona bernapas lega akan itu. Sepertinya lelaki itu tidak ingat akan dirinya dan kejadian tadi malam, dimana Yoona secara tidak sengaja mengganggu kegiatannya dengan perempuan lain.

“Saya Luhan, pemilik Caffe ini. Teruskan saja pekerjaan kalian.” Ucapnya singkat lalu berjalan mengikuti Changmin untuk melihat-lihat keadaan kitchen.

Setelah dirasa cukup jauh, Yoona bisa bernapas lega. Ia kembali duduk dan melanjutkan pekerjaannya. Dan, disinilah semuanya akan dimulai…

.

.

-TBC-

Hai.. Haii.. morschek96 balik lagi.. jujur ini adalah FF dengan maincast Yoona pertama yang saya buat, jadi maklum kalau feelnya belum dapet banget. Dan gak usah basa-basi lagi deh, kirim tanggapan kalian di kolom comment. Biar saya bisa memutuskan FF ini mau LANJUT atau STOP.

Kalau stop, saya akan mengganti dengan FF yang lain. (tapi mungkin cuma oneshot atau ficlet)

Kunjungi juga WP pribadi author https://morschek96.wordpress.com

Contact, Twitter : @lovanita_ || Instagram : lovanita

20 thoughts on “Be With You [Chapter 1] – morschek96

  1. Pingback: Be With You [Chapter 2] – Im Yoona Fiction

  2. Seru nih,ff nya di lanjutin ya author-nim aku suka liat ff nya. Oh iya salam kenal aku readers baru di sini dan ketemu ff seru kaya gini hehe fighting author-nim 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s