Behind The Curtain

btc

a romance fiction by Leona
hurt/comfort; Rated 17

Bolehkah aku sedikit mengeraskan hati dan bersikap egois untuk mempertahankanmu sesaat, walaupun pada akhirnya kisah kita akan tetap menjadi satu kisah sempurna tanpa nyata?

=

Jika harus diutarakan, mungkin tak ada kata yang pantas untuk gadis beriris coklat kelam yang tetap setia berdiri dibawah pohon oak diantara deras air langit penghujung musim gugur selain, bodohatau bahkan tak tahu diri. Tangannya mengerat dalam dekapan dengan bibir pucat dan nafas tersendat diantara gemeletuk giginya yang menggigil, kalau saja ia menginginkan mungkin kini bukan hanya rintik hujan yang mengalir diantara garis wajahnya melainkan setetes air penuh luka kasat mata yang berasal dari ujung matanya namun salahkan harga dirinya yang setinggi langit hingga ia mampu mengurung niatan pasrah itu dalam-dalam dan menyembunyikannya dalam gelap sudut hatinya.

Gadis itu berusaha meraih ponsel dibalik celah jeans miliknya, genap empat jam ia menunggu namun tak ada satu pesan atau panggilan pun yang tertinggal dalam daftar di layar ponselnya. Untuk kali ini saja ia menyerah, namun setelah malam puas akan waktunya dan pagi menjelang, ia bersumpah akan menambah satu lapis ketidak-tahu-diriannya dan mengebalkan kembali perasaannya akan kesakitan yang sudah terlampau sering menghampirinya.

–behind the curtain

Si iris coklat kelam melangkah cepat diantara lorong kelam dengan ujung gelap bercabang, rambutnya terurai diantara gerakan tubuhnya yang tak teratur, matanya bergerak gelisah mencoba mencari titik fokus sedangkan telinganya serasa menajam menangkap derap langkah yang semakin lama semakin kuat mendekat. Tangannya tak ingin tertinggal, ia mengeratkan jari-jemari lentiknya pada Revolvel caliber 9 mm dengan peluru penuh yang berada dibalik mantel tebalnya. Darahnya berdesir kuat serasa adrenalin merangsek masuk pada setiap sel dalam tubuhnya sehingga membuat jantungnya memompa berkali lipat lebih cepat.

Matanya melebar sempurna ketika sebuah ledakan diikuti teriakan seseorang bergema, kepalanya beralih pada sisi kanan tepat saat dirinya berdiri diantara persimpangan lorong kemudian kembali beralih pada sisi belakangnya dimana beberapa orang berseragam polisi lengkap mengikuti langkahnya.

MOVE!!

Tangannya bergerak melintang sejajar dengan pandangannya, berusaha mengarahkan bibir revolver miliknya tepat pada lelaki berkemeja putih yang tengah menyeringai mengerikan, jarinya menarik pelatuk dalam satu tekanan penuh sebelum akhirnya dua ledakan kembali bergema. Sama sekali tak terasa, tubuhnya lumpuh seketika dan pandangannya kabur tak berfokus.

“Komandan!!”

Ia pikir inilah hari terakhirnya.

 “AND CUT!” dalam hitungan sepersekian detik, beberapa lampu sorot terang mendominasi lorong gelap diantara beberapa mata lensa yang setia membidik gambar, riuh tepuk tangan beberapa staff terdengar saling bersahut. “Ya Tuhan, kau benar-benar hebat nona Lim” teriak salah seorang pria paruh baya berpakaian kasual lengkap ditengah kumpulan beberapa staff dengan sebuah papan nama bertuliskan ‘Director’ yang melingkar di sepanjang lehernya.

Gadis beriris coklat yang disebut nona Lim tadi berdiri, menghiraukan beberapa bercak noda kemerahan yang tersebar diatas tubuhnya kemudian membungkukkan tubuhnya berulangkali dengan sebuah senyum yang mengembang diatas bibirnya. “Terima kasih atas kerjasamanya” ucapnya. Ini adalah proyek film pertama miliknya, tak heran bila ia begitu berterimakasih pada para staff yang berkerjasama dengannya selama tiga bulan penuh.

“Tsk, Yoona Lim. Aku tak menyangka kau benar-benar luar biasa, apa kau yakin ini adalah proyek akting perdanamu?” tanya pria paruh baya berstatus sutradara itu, kalimatnya penuh dengan rasa bangga sekaligus tak menyangka dengan kemampuan gadis manis berambut ikal dihadapannya, pasalnya selama ini Yoona memulai karirnya dalam dunia modeling dan sama sekali tak menunjukan ketertarikan pada dunia acting namun entah bagaimana sekitar empat bulan yang lalu gadis itu begitu antusias ketika salah satu staff produksi menawari sebuah peran dalam film  ini.

“Tentu saja tuan, dan ini semua tak terlepas dari dukunganmu dan para staff yang selalu membimbingku selama ini. Terima kasih” balasnya.

“Senang sekali mendengar hal itu, aku harap kita bisa berkerjasama kembali dalam beberapa proyek kedepannya”

“Tentu saja. Itu semua merupakan sebuah kehormatan bagi saya” ungkap Yoona.

.

“Aku kira, kau tak akan menghadiri pengambilan gambar hari ini? perlu kau tahu aku sudah mempersiapkan beberapa alasan untuk menutupi ketidak-hadiranmu” Yoona mengeratkan kelopak mata dan meletakan sebuah kapas yang dibasahi cairan penghapus make-up tepat diatasnya. Sudut bibirnya terangkat mendengar kalimat singkat penuh sakartis yang berasal dari manajer pribadinya—Rachel. “Mengingat begitu berantakannya keadaanmu semalam—mabuk berat.” tuntas Rachel.

“Oh, terima kasih atas perhatianmu”

Rachel hanya mendengus perlahan terlalu tahu sifat Yoona yang tak pernah ambil pusing akan suatu hal, gadis itu lebih berpikir terbuka akan hal apapun dan tak pernah sedikit pun mempersalahkan apa yang telah terjadi, yang gadis itu yakini jika hidup adalah sebuah kertas polos, sekali tergores tinta maka tak akan ada cara untuk membuatnya utuh kembali. Kecuali, membuang kertas tersebut dan menggantinya dengan kertas yang baru. Sederhana.

Tak jarang Rachel atau bahkan banyak wanita yang begitu iri pada Yoona dengan wajah cantik, pemikiran terbuka, pribadi menyenangkan, tubuh menawan, karier menjanjikan dan dukungan latar belakang keluarga mapan. Semuanya sempurna seakan menjadikannya seorang putri dongeng dalam kehidupan nyata.

“Tidak masalah, nikmati liburanmu beberapa hari kedepan karena manajemen kembali menandatangani kontrak eksklusif untukmu sebagai ikon salah satu perusahaan” Rachel menaikan alisnya antusias, “dan aku yakin kau benar-benar menyukainya” tuntasnya.

Merasa tak mengerti dengan ucapan Rachel, Yoona memutar kursi hingga berhadapan langsung dengan gadis keturunan Prancis itu, “Benarkah?” tanyanya.

“Tentu saja.”

Yoona tersenyum tipis, merasa yakin akan ucapan pasti Rachel, “Terdengar menyenangkan.”

“Yup, ini adalah Two Times Inc.”

Tanpa suara. Yoona berbalik—memejamkan matanya sesaat, memutar ingatan kembali atas kebodohannya yang membiarkan salah satu lelaki adidaya dalam perusahaan itu bermain dengan perasaannya.

=

a/n: ff yang sempet terbengkalai karena waktu yang tidak memungkinkan. Mencoba ditulis kembali…semoga lancar. Tidak usah terlalu berharap atau menuntut…nikmati saja setiap bagian yang bakal sy update nantinya di sela waktu luang bebas dari kerjaan🙂
Saya minta pendapatnya buat hero-nya, dua cowok dibawah ini…

18 thoughts on “Behind The Curtain

  1. Aku suka dua2 nya keren semuanya.
    Penasaran siapa namja yg nyakitin perasaan yoona.
    Chapter selanjutnya panjangin banyAK yach thor.

  2. Aahh pendek amat ceritanya kayanya baru baca tau tau dah tbc…
    Kira2 siapa ya yg ngelukain perasaan yoona..aq sih berharap ini ff yoona jcw castnya..hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s