Two Moons [Chapter 1]

twomoons2

Two Moons by. morschek96

Sci Fi – Fantasy – Romance || General

Im Yoona , Oh Sehun (EXO), Jeong Taek Woon (Leo VIXX)

Others.

"A place that cannot be touched, a place we cannot be together."

 “The mind can forget but not the heart.”

PREVIOUS : [prolog]

***

Hidup terus berjalan untuk Yoona, dan musim dingin berlalu, es mencair ketika dia berpikir tentang bagaimana bisa ia masih merasa sedih meskipun mengetahui fakta bahwa dia masih hidup dengan normal. Musim semi mulai tiba dengan bunga-bunga bermekaran seperti senyumnya, sesegera berganti musim panas dan terik cuaca membuat hidup Yoona lebih menarik, seperti air matanya yang jatuh setiap kali dia melihat kata-kata yang ditulis di dinding kamarnya.


Sudah satu tahun sekarang, tapi dia masih merasakan sakit yang sama dan kesedihan saat
dia pertama kali membaca tulisan di dinding tersebut. Jejak kebingungan, ketidaknyamanan dan kesedihan yang selalu terlihat di wajahnya. Setiap kali dia menatap tulisan itu semakin dia meraasa tersakiti, namun dia semakin ingin tahu lebih banyak tentang masa lalunya. Yoona sempurna, hidup sebagai manusia normal tanpa jejak menjadi calon the 7th Demon, tanpa jejak meningalkan Sehun dan setan lainnya yang pernah ia temui, dan pula tanpa dia mengetahui bagaimana rasanya bahagia dan jatuh cinta.

Sejak hari itu ketika ia pertama kali melihat sayap hitam dicat pada dinding dan kata-kata yang ditulis untuk itu, dia tidak kuasa untuk selalu menatapnya dan bertanya-tanya …

Siapa Sehun? Apakah dia benar-benar ada? Siapa dia untuk Yoona?

Yoona selalu mencoba untuk mengingat, mencoba menemukan sesuatu yang hilang, dan ingatan yang memudar saat mereka semua bersama-sama untuk menemukan petunjuk, tapi dia masih tidak bisa mengingatnya, dan bahkan sosok Sehun ini, dia bahkan tidak ingat. Bagaimana ia berharap, misteri ini dapat perlahan-lahan terselesaikan. Ini lebih buruk dari sebelumnya ketika dia tidak tahu tentang orang tuanya sama sekali, berpikir sepanjang hari tentang hal itu,
merasa seperti ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya yang dia perlu tahu.

Yoona duduk di sofa dan menatap layar TV ketika telepon berdering.
Melirik di mana telepon itu berdering, dia meraih itu dan menatap
di telepon, membiarkannya berdering beberapa kali kemudian menjawabnya.

“Uhm, Hi, Yoona? Apakah kau free hari ini? Aku hanya ingin tahu apakah aku bisa mengajakmu keluar malam ini … mungkin kencan makan malam?” Leo bertanya melalui telepon, di seberang sana lelaki itu terus bermain dengan jari-jarinya karena gugup.

Sama seperti bagaimana Yoona terus menjawab misteri tentang lukisan itu
bertahun-tahun, Leo terus mencoba, mencoba berbagai cara dan membuat Yoona menyukainya,
mencintainya, membuat dia tersenyum dan jika mungkin, untuk menikahinya. Dia berjanji
pasa diri sendiri, dia tidak akan melepaskan Yoona.

Sudah begitu lama hingga sekarang Yoona menyadari perlakuan Leo. Leo terus memintanya
keluar tapi dia selalu mengatakan tidak. Yoona masih diam untuk sementara waktu kemudian akhirnya menjawab, “Tentu.”

Leo menunduk ke bawah, menggosok tengkuknya, “B-benar ?! Maksudku…
Aku akan … menjemputmu.” Tepat ketika ia menutup telepon, ia tersenyum begitu lebar dan melompat girang.

 

.
Apakah ini ingin Sehun? Untuk melihatnya dengan orang lain yang bisa
melindunginya? Orang lain yang bisa mencintainya? Orang lain yang dapat membuatnya tersenyum? Tapi … mana senyum yang ia ingin lihat dari Yoona? Tidak ada …

Sambil mencari pakaian untuk dipakai, ada sesuatu yang menarik perhatiannya. Yoona
mendorong beberapa pakaiannya yang digantung dan meraih sebuah kancing
kemeja berwarna putih. Dia tidak ingat membawa seorang pria di dalam apartemennya. Dia
tidak ingat dia meminjam sesuatu seperti jenis kain ini dari
seseorang . Yoona menggeser tangannya ke bawah, memperhatikan lengan kemeja polos tersebut kemudian mencapai akhir lengan, pergelangan tangan dan melihat cat hitam di atasnya.
Yoona mengingat sesuatu. Matanya turun kemudian dia perlahan-lahan berbalik, melirik
sayap hitam yang dicat didinding kamarnya. “Sehun..?” Yoona menarik kemeja itu keluar dari lemari kemudian memperhatikan pakaian itu seksama. Rasanya sangat aneh baginya bahwa dadanya terasa memanas saat melihat itu.

Dia tersenyum lembut pada Yoona saat bersandar lemari, matanya
yang begitu lembut dan penuh kerinduan, tapi gadis itu tidak bisa melihatnya. Dia menelan ludahnya kelu. Dia ingin memeluknya begitu erat, ia ingin menciumnya begitu dalam, tapi dia
tidak bisa untuk saat ini. Dia menunggu saat yang tepat. Seperti sebelumnya, dia hanya akan
memperhatikan Yoona dari jauh.

Yoona meletakkannya kembali ke dalam lemari, kebingungan, kemudian menutup lemari, desahan kecil keluar dari bibirnya. Dia berdiri di depan cermin dan menatap
rambutnya, dia berdiri tegak dan mendengar ketukan pintu. Yoona
mengambil dompetnya dan berjalan menuju pintu dan melihat di sebuah layar intercorm, oh tidak. Leo

‘Dia’ untuk sekali lagi berdiri di hadapan Yoona, memakai pakaian hitam
dan tatapannya terlihat begitu kosong tapi matanya tertuju pada Yoona. Matanya berwisata di setiap bagian dari wajah Yoona, dia ingin menangkup pipinya. ‘Tidak, jangan pergi dengan lelaki itu.’

Namun ia menyadari bahwa Yoona sama sekali tidak dapat mendengarnya
Tak lama kemudian Yoona mendengar ketukan lagi. Berpikir dia akan mengintip kecil, kemudian membuka kembali pintunya, “Leo?” Yoona tersenyum kecil, namun tak lama kemudian senyum itu hilang tergantikan wajah kaget. Seseorang berbaju hitam barusaja menghilang di tikungan lorong dengan aura menyeramkan.

“Hei …” dia menarik napas dengan senyum cerah terpampang diwajahnya. Dia menyerahkan buket bunga kamelia tapi Yoona melihat sekeliling
dengan wajah kebingungan, “Apakah ada sesuatu yang salah?” Leo bertanya, sedikit sakit hati karena Yoona tidak melihat dirinya dan bahkan bunga nya.

“Apakah kau melihat–” Yoona menggeleng kemudian mengambil bunga dari Leo
setelah menyadari itu. “Terima kasih, Leo.” Sambil mendesah pelan, dia melihat sekeliling
sekali lagi kemudian kembali menatap Leo.

Melihat ekspresi Yoona yang bermasalah, Leo membungkuk, tinggi badannya membuat beda yang signifikan dan menatap ke mata Yoona. “Maukah kau tersenyum untukku, Yoong?”

Menurunkan kepalanya ke bawah, hatinya berdetak kencang ketika Leo memanggilnya seperti
itu, bukan karena hatinya bergetar tapi karena rasanya seperti dia
ingat seseorang memanggilnya seperti itu, bagaimana seseorang dari masa lalunya adalah satu-satunya orang yang memanggilnya seperti itu. Yoona mengangkat dagu hingga menatapnya. “Apakah kau di sini untuk
mengajakku makan malam atau untuk melihatku tersenyum? ”

“Aku ingin keduanya.”

 

“Sebelum aku berubah pikiran …” Dia menyerah dan tersenyum sedikit kemudian dia mulai
berjalan. Leo tersenyum dan mengikutinya di belakang.

Begitu mereka pergi, dia memperhatikan mereka pergi dengan ekspresi kecewa.

Leo segera berjalan ke mobil dan membuka pintu penumpang untuk Yoona.
Yoona mendesah diam-diam dan mengenakan sabuk pengaman , Leo di sisi lain
meliriknya khawatir. Leo memperketat cengkeramannya pada kemudi
sebelum memakai sabuk pengaman, ia menyalakan musik manis di
radio dan meletakkan tangannya di atas tangan Yoona. “Yoona …”

Yoona menatap tangannya kemudian menatap mata Leo, ia memiringkan kepala ke samping. “Apa?”

“Tolong … biarkan aku membuatmu tersenyum.”

Yoona menganggukkan kepalanya tapi dia tidak mau Leo terlalu berharap. Dia belum siap untuk memberikan hatinya untuk orang lain. Dia
tidak tahu apakah dia siap untuk mencintai seseorang lagi. Setiap kali dia berpikir
tentang cinta, dia merasa kosong, dia merasa sangat sedih tanpa alasan tertentu.

..

..

..

 

Leo dan Yoona makan seperti kencan makan malam biasa, dan Leo adalah satu-satunya yang
bicara banyak. Dia selalu mencoba yang terbaik untuk melihat senyum kecil di wajah Yoona,
tapi tidak peduli seberapa keras ia mencoba untuk mendapatkan Yoona, rasanya seperti gadis itu akan menemukan orang lain yang dapat membuatnya tersenyum. “Aku akan pergi ke
toilet dulu, tunggu aku ya?” Yoona mengangguk kemudian Leo berdiri. Yoona bersandar ke kursinya kemudian menatap makanannya ketika seorang pelayan perlahan berjalan mendekatinya.

“Permisi, nona Im Yoona?”

“Iya ?”

Pelayan menempatkan mawar merah di atas meja di samping tangan Yoona. “Seseorang ingin memberikan ini untuk Anda.”

“Siapa?” Dia berkedip sekali kemudian menatap mawar tapi pelayan hanya
tersenyum saat Yoona melihat catatan kecil yang menempel pada batang dari
mawar tersebut kemudian membacanya.

Mungkinkah saya dapat melihat senyum manis Anda? Saya berharap untuk melihatnya sekali lagi.’


Yoona melihat sekeliling sambil memegang bunga mawar dan matanya mendarat di
seseorang yang tampaknya juga menangkap perhatiannya. Seorang pria duduk di dekat
kaca jendela, melihat keluar sambil memperhatikan lampu-lampu kota. Dia
mengenakan kemeja polos lengan panjang hitam, dan mengenakan celana denim hitam juga. Dia menyentuh liontin di lehernya kemudian menciumnya. Dia berhenti lalu perlahan-lahan mengedarkan pandangannya untuk melihat Yoona, ketika Leo akhirnya datang dan yoona tengah memperhatikan note dan bunga tersebut ,”Oh, siapa yang … memberi itu untukmu?”

“A-aku, tidak tahu …” ia menatap Leo kemudian tersenyum, menempatkannya kembali di atas meja. Leo merasa terluka, tapi berpikir bahwa ia telah melihat Yoona tersenyum, tapi bukan karena dirinya.

Jika kau mencintai seseorang, kau akan selalu ingin dia tersenyum sepanjang waktu bahkan jika kau tidak tahu alasan untuk itu.

Mereka memutuskan untuk pergi dan mencari tempat dimana mereka dapat melihat keindahan kota dan lampu-lampu. “Benar-benar indah di sini, kan? Lihatlah bahwa … ketika kau
melihat kota dari sini, sepertinya semua orang tidur dan
tidak ada yang terjadi, kan? Melihat dari sini.” Leo menutup matanya
dan menghirup napas dalam-dalam, perlahan-lahan menghembuskan napasnya.

“Kau benar.”

Leo menoleh dan menatap kecantikannya ketika telepon di sakunya berdering kemudian
meraih benda tipis itu dan melihat siapa yang memanggilnya. “Oh maaf, aku
harus menjawab ini.” Dia pamit dan berjalan kembali ke dalam mobil karena
suara angin dan mobil di jalanan dapat terdengar.

Sambil menunggu, Yoona berjalan sedikit lebih dekat sampai dia mencapai tepi
bangunan dan perlahan-lahan memegang pagar. Dia tidak tahu, bahwa ini adalah
bangunan dimana ia melompat sebelumnya -ketika ia memutuskan untuk menyelesaikan hidupnya yang dulu-. Itu ketika pertama kali dia melihat Sehun, tapi dia tidak ingat apa-apa. Nanun entah mengapa rasanya aneh, hatinya bisa merasakan sesuatu. Sepertinya dia telah melekat dengan tempat ini dan bangunan ini adalah tempat yang mengesankan baginya.

Yoona menunduk dan membiarkan angin bertiup, membuat rambutnya terbang ke satu sisi.
Yoona menyelipkan rambutnya ke belakang telinga dan memandang ke depan lagi. Beberapa
bangunan tampak begitu kecil dari sana, lampu mobil juga.

“Lampu kota … mereka terlihat seperti kunang-kunang.” Pandangannya
terpesona oleh keindahan malam itu. “Fireflies …” gumamnya
sebelum kepalanya berbalik dan melihat pemandangan yang membuatnya membeku.

Seseorang duduk di ujung bangunan. Seorang pria … seorang pria dengan
sayap hitam dan debu bercahaya merah yang di ada sekelilingnya. Yoona melihatnya masih
dalam ketakutan. Apakah aku bermimpi? Apa ini terjadi padaku? Dia tahu dia
pasti takut dan harus melarikan diri, tapi rasanya seperti
slow motion, lelaki itu berjalan ke arahnya … ingin melihat seperti apa wajahnya, hatinya perlahan-lahan ditarik ke arahnya … dia benar-benar penasaran.

Ketika ‘dia perlahan-lahan semakin mendekat, ‘dia tiba-tiba berhenti saat pintu mobil
dibuka dan Leo keluar, berjalan menuju Yoona dan memasukkan telepon kembali ke dalam sakunya. “Oh, apa yang salah? Apa yang kau lihat?” Ia mengintip dan mengikuti kemana Yoona lihat namun Leo tak melihat apa-apa di sana. “Apa kau baik baik saja?”

Yoona menelan ludah lalu menganggukkan kepalanya. “Y-Ya … aku. Mari kita pulang? Aku
pikir aku harus tidur lebih awal hari ini. ”

“Apakah kau sakit?” Leo langsung memeluk Yoona dan kemudian dia
mendengar seseorang berbisik di telinganya.

“Itu gadisku yang kau pegang.!

Mata Leo membulat terkejut, merinding ke bawah tulang belakang sesegera setelah ia
mendengar suara tersebut. Itu terdengar jelas dan seolah-olah seseorang berada di sana, berdiri di sampingnya. Leo dengan cepat melihat sekeliling dan menelan ludah keras. Dia tidak ingin
menakut-nakuti Yoona dan memutuskan untuk hanya terus berjalan keluar dari
rooftop.

 

Sudah larut, waktu t berlalu dengan begitu cepat. Leo berdiri di belakang Yoona
dan mengacak-acak rambutnya. “Aku akan menemuimu lagi segera, hmm?” Dia berbalik
tapi Yoona meraih bagian belakang mantelnya untuk menghentikan Leo pergi. Hatinya
mulai bergemuruh dengan sangat cepat. Apakah ini saat yang telah ia tunggu selama ini? Apakah ini waktu Yoona akhirnya akan menerima cintanya?

“Leo … aku … aku minta maaf. Aku sudah mengatakan sebelumnya, bahwa aku tidak berpikir untuk dapat kembali jatuh cinta. Aku tidak ingin kau terus berharap atau membuatmu
menunggu begitu lama … Mari kita menjadi teman, Leo. Jangan buang waktu lebih lama lagi , karen aku tidak bisa denganmu.”
Kata-kata Yoona tampak seperti pisau menusuk dadanya. Itu menyakitkan tapi Leo
tidak bisa menangis di depan gadis. Leo melambaikan pergelangan tangannya dan menempatkan mereka kembali kesisinya. “Aku akan menunggu.” Dia mengatakannya dengan lembut lalu berjalan pergi.

Yoona mendesah dan menyaksikan mobilnya pergi di depan matanya sendiri.

Baginya, itu seperti malam yang melelahkan, ia melompat ke tempat tidur dan menatap
langit-langit sebelum memutar kepalanya ke dinding dan menatap sayap hitam yang dicat di dinding.

Ketika Yoona merasa lelah, dia akan selalu pergi dan beristirahat di tempat tidur. Dan
setiap kali dia menatap dinding dia akan menangis lagi namun dia bahkan tidak tahu alasannya mengapa, tapi di sisi lain, dia bisa merasakan kehangatan, menatap lagi lukisan itu dalam dan dia tahu bagaimana Yoona mencintai kehangatan yang ia ciptakan.

Setiap kali Yoona membaca tulisan tersebut, ia terus mengulangi namanya. “Oh …
Sehun? ” Yoona bergumam pelan.

‘Iya?’

Matanya melebar ketika ia mendengar suara seorang pria.

Suara merdu membuatnya bangun untuk duduk dan dengan cepat melihat sekeliling, tapi ketika dia mendengar suaranya, rasanya seperti Yoona pernah mendengar suara tersebut selama bertahun-tahun. Terasa familiar.
“Apakah di TV?” Yoona mengintip pintu dan melihat layar benda persegi panjang itu. Tidak, bukan TV. Yoona menatap sayap hitam yang dicat di dinding lagi. “Siapa dirimu… rasanya seperti kau sangat penting bagiku.” Gumamnya sebelum
mengangkat bahu dan memutuskan untuk tidur. Yoona lelah, meringkuk di tempat tidurnya dan perlahan-lahan menutup mata dan melayang ke alam mimpi.

Sementara dia tidur nyenyak, debu bercahaya merah mulai beredar. Bersinar merah, menari-nari di tubuh tidurnya. Mendadak malam menjadi gelap dan bulan menjadi lebih terang. Sesosok pria
dengan sayap hitam menatap Yoona, menatap penuh cinta padanya. ‘Kau masih tetap terlihat indah Yoona.’

Dengan lembut meraup Yoona kedalam pelukannya dan menariknya begitu dekat denganya. Alisnya sedikit berkerut, merasakan tubuh yang lebih mungil terusik, dan menempatkan ciuman lama di pipi gadisnya. Hai, aku di sini … untuk mencintaimu selamanya.

.

.

-TBC-

Chapter 1 is up!

Annyeong morschek96 is back! Kritik dan saran jusseyoo~

Oh iya FF ini hanya berupa dua bagian alias TWOSHOT, jadi chapter depan adalah chapter akhir.^^ maklum author lagi banyak kerjaan jadi gk bisa nulis FF panjang2 heheh.

Kalau ada yg masih bingung, tadi ada beberapa kata ‘dia’ yang aku tulis miring seperti itu, dan kalimat pernyataan juga aku tulis miring (italic) itu menunjukan bahwa ‘dia’ itu Sehun. Dan beberapa kalimat langsung yang ku tulis miring juga, itu adalah ucapan Sehun.

Semoga para readers sekalian gak pada bingung yaa.. ada pertanyaan? Leave comment, dan sesegera mungkin akan ku balas.

Kunjungi juga Instagram : luhanie_shop

Dan dapatkan kpop stuff favorite kamu. Ada hoodie, t-shirt, jacket, semua fandom. Bisa reqst warna dan nama. Juga berbagai skincare perawatan tubuh biar gak kalah sama eonni-eonni korea.^^

 

Regard.

-morschek96

https://morschek96.wordpress.com

29 thoughts on “Two Moons [Chapter 1]

  1. Waaaaaaw, penasaran bnget sama ceritanya
    Kok bisa si ya mereka seperti ituu, asal asulnya membuat penasraaan
    Semoga mereka bersama hihihihi

  2. wah keren..knp yoona sehun bisa berpisah??leo ksian cintanya ditolak….hem q pkr bkl banyak chapternya tp gak pa2 deh hehe…q tunggu next chapternya ya

  3. Next thor ceritanya bikin penasan🙂

    Oh iya apa author ini pernah buat ff *berbau yadong* Sehun-Yura (Girls Day) ??

  4. jadi sehun itu demon?
    yoona dlu itu bunuh diri atau gmna sih, dia bereinkarnasi jadi manusia gitu?
    aq harap sehun dan yoona bisa bersatu🙂
    please bikin yoonhun bahagia🙂

  5. Waah gk nyangka klw jenis genre sci-fi bisa menarik jg, krrn baru chap 1..jd msh loading dulu ni otak biar ngerti. Daebak sagon….

  6. Pingback: Two Moons [Chapter 2/END] – Im Yoona Fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s