Revenge (Chapter 4)

yoona

Revenge

 

Chapter 4

 

By : Park Hee Young

PG-15

Romance, Angst, Tragedy

Main Cast : Im Yoon Ah, Lee Jongsuk, Cho Kyuhyun

Support Cast : Choi Siwon, Choi Sooyoung, Tiffany Hwang, Lee Jonghyun, Choi Minho

Keep your friend close, and your enemies closer

 

Yoona

           

            Semakin hari pekerjaanku semakin banyak saja. Belum lagi ulang tahun perusahaan yang sudah di depan mata. Ini adalah kali pertamanya aku menghadiri acara ulang tahun Kangsan Group semenjak bertahun-tahun yang lalu, kira-kira 4 tahun yang lalu. Ketika keluargaku masih lengkap dan semua terasa baik-baik saja.

Namun jelas sekarang berbeda.

Aku berdiri memandangi pantulan diriku sendiri pada cermin. Jika dilihat dari luar, aku terlihat baik-baik saja. Kesibukanku belakangan ini membuatku menjadi perlahan melupakan semua lukaku. Kini aku sudah lebih merelekan kepergian kedua orang tuaku. Namun jika dilihat lagi dari dalam, hatiku terasa kosong dan hampa. Jujur, aku merasa lelah harus selalu tersenyum palsu seperti itu. Dan malam ini, bibirku harus siap-siap menampakkan senyum palsu yang membuatku begitu muak. Karena aku harus kembali menjadi Yoona yang dulu, yang selalu ramah dan ceria.

“Nona, gaunnya sudah siap.”ujar Sooyoung eonni sambil membawakan gaun pilihanku. Berbeda bukan? Dulu Sooyoung eonni yang selalu memilihkannya untukku, namun kini aku memilih segala sesuatu sendiri, termasuk gaun berwarna hitam yang panjangnya menyentuh lantai.

“Gomawo, eonni.”balasku.

“Apakah kau butuh bantuan?”

Aku menggelengkan kepalaku. “Aku bisa sendiri, eonni.”

“Baiklah kalau begitu, aku akan ke bawah menyuruh Jonghyun menyiapkan mobil. Di luar ada Jongsuk. Jika ada apa-apa, teriakkan saja namanya.”

“Ne, gomawo eonni.”

 

Begitu banyak yang berubah dariku. Kini, aku pun sudah bisa merias wajahku sendiri. Semenjak aku masuk ke perusahaan, Sooyoung eonni mengajariku bagaimana caranya merias diri. Karena aku yang selalu pergi keluar kota dan eonni yang tak selalu bisa ikut. Sooyoung eonni selalu menekankan agar aku selalu cantik kapanpun maka dari itu dia bersi keras mengajariku berdandan hingga aku bisa merias diri seperti ini.

Selain itu, kini aku sudah terbiasa dengan high heels. Setiap hari aku ke kantor menggunakan high heels hingga akhirnya aku mulai terbiasa. Meskipun tetap saja, sepatu itu menyakiti kakiku. Jika kakiku terasa pegal dan sakit, maka Jongsuk akan menyiapkan air hangat untuk kakiku berendam.

Perlahan, aku mulai kembali menjadi Yoona yang dulu. Aku mulai membuka diri terhadap dunia luar. Ku harap, eomma dan appa bangga padaku.

 

“Kau begitu cantik malam ini, Na-ya.”puji Tiffany eonni ketika berpapasan denganku di ruang tamu.

“Gomawo, bahkan eonni sendiri lebih cantik dariku.”

“Kalian berdua begitu hebat, aku yakin mendiang eomonim dan abeonim begitu bangga terhadap kalian.”

Aku tersenyum lalu mengangguk.

“Aku mencari istri tercintaku kemana-mana ternyata dia ada disini bersama dengan adikku yang tak kalah cantiknya malam ini.”ungkap Siwon oppa yang begitu saja ada di hadapan kami. “Tolong bantu aku, chagi.”

Tiffany eonni pun tersenyum lalu membantu Siwon oppa memasangkan dasi kupu-kupunya itu. Keduanya begitu serasi dan siapapun yang melihat keduanya pasti akan merasa iri. Begitu juga denganku. Oppa begitu beruntung. Secara kebetulan dijodohkan dengan yeoja yang ia cintai. Apakah aku bisa mencintai Kyuhyun oppa seperti Siwon oppa mencintai Tiffany eonni?

“Ya! Jangan bermesraan di depanku. Aish, membuatku iri saja.”protesku.

“Makanya segeralah menikah sebelum rambutmu memutih dan wajahmu mengkerut.”balas oppa meledekku.

“Oppa…”rengekku.

“Sudah-sudah, kau ini masih saja hobi mengerjai adikmu.”lerai Tiffany eonni.

 

“Kau sudah siap kan? Kau tak perlu khawatir, ini akan mudah dan semuanya akan baik-baik saja.”ujar oppa yang bisa  membaca kecemasanku.

Aku mengangguk. “Ne, aku akan baik-baik saja selagi ada oppa.”

“Kalau begitu sampai jumpa.”

 

Aku tersenyum kemudian mendekat ke arah mobilku. Oppa dan Tiifany eonni berangkat terlebih dahulu. Tak lama dari itu, Jonghyun membuka pintu mobil dan mempersilahkan aku masuk.

Jelas aku khawatir. Selain daripada acara ulang tahun Kangsan Group, malam ini pun menjadi peresmian aku dan oppa yang menjabat menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di Kangsan Group. Entah apa yang akan orang-orang itu lakukan. Menggagalkan acara, atau apa. Karena aku ingat, terakhir kali aku menghadiri acara ini, ada kejadian aneh dan janggal dimataku. Yang sampai hari ini aku tak tau kejadian apa itu. Perasaanku menjadi tak enak. Harabeoji telah sepakat dengan Tuan Cho untuk menandatangani perjanjian kerja sama antara Kangsan Group dan CJ Group. Dua perusahaan besar yang begitu berpengaruh di Korea bahkan dunia. Jika sudah begitu maka malam ini seluruh dunia akan tau jika aku dan Kyuhyun oppa akan segera bertunangan.

 

“Nona, ini naskah pidatomu nanti. Presdir memintaku membuatkan sepatah kata untuk anda ketika peresmian jabatan anda nanti. Meskipun aku tau, nona tak akan membutuhkan ini.”ujar Jongsuk sembari memberikanku secarik kertas yang berisi tulisan pidato yang ditulis untuknya.

Aku membaca sepintas isi dari pidato itu dan sungguh mencengangkan. Isinya begitu bagus, sudah kuduga.

“Gomawo, tapi kau benar aku tak membutuhkannya. Tapi tak apa, jika aku kehilangan kata-kata, naskah buatanmu ini akan sangat membantu.”jawabku sambil tersenyum.

“Nona, berarti malam ini anda dan tuan Kyuhyun akan segera bertunangan? Benarkah begitu?”tanya Jonghyun.

“Ani, hanya mengumumkan bahwa kami akan segera bertunangan.”jawabku sambil menghela nafas berat.

“Oh ya nona, nanti akan ada konferensi pers singkat terkait pertunangan anda.”tambah Jongsuk lagi.

“Aigoo, nona anda harus berhati dalam menjawab pertanyaan para wartawan itu, pertanyaan mereka selalu menjebak.”susul Jonghyun.

“Ya! Kau fokus saja menyetir!”pekik Sooyoung sambil menggelengkan kepalanya.

“Jadi aku harus bersandiwara lagi?”

“Nona, wartawan pasti akan bertanya dan berspekulasi bahwa pertunangan anda dengan tuan Cho murni karena kepentingan bisnis. Aku, presdir dan tuan Cho sudah sepakat jika nanti wartawan bertanya seperti itu nona harus membantah. Nona bilang saja kalian sudah dekat sejak 4 tahun yang lalu dan kalian sudah jauh saling mengenal lalu siap untuk ke tahap selanjutnya. Terakhir ciptakan lah atmosfir bahwa kalian saling mencintai.”jelas Jongsuk dengan mantap. Namun tidak seperti biasanya, namja itu berbicara tanpa memandang ke arahku. Apa yang ia sembunyikan?

“Arraseo.”balasku lemas.

Aku lelah harus merasa tegar setiap saat. Ditambah lagi aku kini harus berpura-pura mencintai Kyu oppa. Ya Tuhan, begitu menyedihkannya hidupku.

Sooyoung eonni mengelus pundakku sambil tersenyum,  berusaha untuk menenangkanku. Dia sangat tau, bahwa aku merasa terbebani dan lelah dengan semua ini.

 

Kami pun sudah sampai. Jonghyun membukakan pintu mobil untukku. Dengan anggun dan mantap aku turun dari mobil lalu berjalan dengan penuh wibawa. Kilatan flash kamera menyambut kedatanganku. Para wartawan bahkan memanggil manggil namaku lalu mulai bertanya banyak hal. Namun daguku tetap terangkat dan tetap berjalan dengan mantap tanpa memperdulikan wartawan dan juru kamera itu.

“Nona Choi, selamat.”sapa Presiden Nam.

“Kamsahamnida.”balasku sambil tersenyum.

“Selamat nona, ani Choi Bujangnim. Anda terlihat sangat cantik malam ini.”sambung Direktur Park.

“Ne, kamsahamnida.”

 

Aku pun kembali berjalan berniat untuk menyapa kakakku. Namun tiba-tiba langkahku terhenti ketika Presiden Go dan Presiden Jang datang menghampiriku.

“Tak kusangka hari ini tiba juga, nona. Aku masih tak menyangka Nona Choi yang dulu selalu bergelayut manja pada mendiang Presdir Choi Tae Seok kini menjabat sebagai wakil presdir Kangsan Group dengan secepat ini.”ucap Presdir Go.

“Aku pun tak menyangka. Kita memang tidak boleh meremehkan orang-orang disekitar kita bukankah begitu? Siapa yang sangka gadis manja sepertiku bisa menjadi atasan mereka yang lebih tua dan berpengalaman.”balasku sambil tersenyum menantang.

Keduanya pun terdiam oleh ucapanku. Bisa ku lihat Presiden Go mengepalkan tangannya dengan kuat, menyimpan amarahnya lalu dia tersenyum terpaksa padaku.

“Selamat Choi Bujangnim.”ucap Presiden Jang yang sama terlihat kesalnya.

“Kamsahamnida. Aku permisi, masih banyak tamu undangan yang harus ku sapa.”balasku lalu pergi begitu saja dari hadapan dua presdir yang selalu cari gara-gara denganku.

 

“Kita lihat, sampai kapan gadis itu bisa bertahan.”

 

“Oppa.”sapaku pelan ketika aku sudah berada di dekatnya.

“Na-ya, sapa lah Paman Cho kau masih ingat bukan?”ujar Siwon oppa.

“Apa kabar, paman. Tentu aku masih ingat.”sapaku sambil membungkukkan badan lalu tersenyum pada namja yang sebaya dengan mendiang ayahku. Dia adalah Paman Cho, Cho Jae Min.. Beliau ini adalah sahabat mendiang ayahku. Pemilik CJ Group dan sekaligus ayah dari Cho Kyuhyun

“Aigoo, uri Yoona. Kau sangat cantik malam ini. Waktu begitu berjalan dengan cepat, dulu paman masih ingat ketika kau masih kecil memohon-mohon untuk dibelikan es krim.”

“Waktu begitu berjalan dengan cepat tapi paman tak sedikit pun berubah.”balasku sambil tersenyum.

“Kecuali rambutku yang sudah mulai memutih.”sambung Paman Cho sambil tertawa aku dan oppa pun ikut tertawa.

Saat itu, Kyuhyun oppa datang menghampiri kami dan dia tersenyum padaku. Aku pun membalas senyumnya lalu kembali fokus pada Paman Cho.

“Abeoji aku mencarimu sedari tadi ternyata ada disini.”sapa Kyuhyun pada ayahnya itu.

“Oh, kau sudah tiba rupanya.”balas Paman Cho sambil menepuk pundak putranya lalu kembali fokus lagi padaku dan Siwon oppa.  “Percayalah, Min Jung dan Seung Jae begitu bangga terhadap putra dan putrinya.”

“Terima kasih paman.”ucap Siwon oppa.

“Aku sangat tak sabar menunggu kau menjadi menantuku, Na-ya.”

Ucapan Paman Cho tadi sontak membuatku terdiam sesaat. Sampai-sampai Siwon oppa memegang lenganku pelan seolah memintaku merespon perkataan Paman Cho

“Iya, paman.”kataku sambil tersenyum, mencoba untuk tersenyum tepatnya.

“Abeoji..”panggil Kyuhyun yang merasa tak nyaman mendengar ucapan ayahnya.

“Wae? Kalian memang akan segera bertunangan kan? Sebenarnya abeoji lebih setuju kalian langsung menikah saja. Tapi ya demi menghindari spekulasi pers dan masyarakat mau bagaimana lagi?”lanjut Paman Cho. “Lihatlah, kalian berdua begitu serasi. Siwon-ah, kajja Paman kenalkan dengan petinggi-petinggi perusahaan paman yang akan bekerja sama dengan Kangsan.”

“Baik paman.”

 

Paman Cho dan Siwon oppa akhirnya meninggalkanku dan Kyuhyun. Semacam kesengajaan yang dilakukan oleh Paman Cho agar putranya ini bisa berduaan denganku. Entahlah aku malah semakin canggung.

“Maafkan ayahku, beliau memang begitu orangnya. Terkadang perkataanya tak pernah disaring.”

“Tidak apa-apa, oppa.”balasku sambil tersenyum.

“Kau terlihat cantik malam ini.”puji Kyuhyun oppa.

Aku pun tersenyum. “Jadi, kemarin kemarin aku tak cantik?”

Kyuhyun oppa pun terlihat kelabakan mendengar perkataanku. “Ani, bukan seperti itu maksudku. Kau selalu terlihat cantik Yoona, kapanpun dan dimanapun.”koreksinya.

 

“Nona anda harus segera bersiap-siap acaranya akan dimulai.”ungkap Sooyoung yang tiba-tiba ada diantara aku dan Kyu oppa.

“Ah ne, aku tinggal sebentar oppa.”

 

Acara pun dimulai. Kakek membuka acara ini memberikan sepatah dua patah kata. Disana kakek juga membahas mengenai mendiang ayah dan ibuku. Betapa kakek merindukan sosok keduanya dan betapa bangganya ia terhadap putranya karena berkat kerja keras putranya, Kangsan Group masih dapat berdiri kokoh dan tetap menjadi perusahaan yang begitu berpengaruh. Bisa kulihat raut wajah kakek begitu sedih, kakek pasti sedang menahan tangis. Aku tau, meskipun kakek orangnya keras namun tetap saja, beliau mempunyai hati dan cinta. Kedua hal itu yang hanya bisa meluluhkan sifat keras kepala kakek.

“Mengingat usiaku yang semakin menua, ketika putraku tiada, aku tak bisa kembali lagi ke perusahaan menjalankan tugasku sebagai Presdir. Masa-masaku sudah habis. Ketika Kangsan Group berada di titik kritis, berada di masa-masa yang sulit, kedua cucuku yang hebat ini mampu membalikkan keadaan dan membuat Kangsan Group kembali berjaya dan bangkit dari keterpurukannya. Di usia mereka yang masih sangat muda, mereka sudah mampu memimpin perusahaan besar. Maka dari itu, sembari memperingati ulang tahun Kangsan Group yang ke 54 tahun, aku akan meresmikan posisi untuk kedua cucuku. Choi Siwon sebagai presiden direktur Kangsan Group, dan Choi Yoona sebagai wakil presider direktur Kangsan Group.”

Aku dan oppa pun berjalan menuju panggung. Para tamu yang hadir memberikan tepuk tangan yang luar biasa meriah. Begitu pula dengan berbagai kameramen dari berbagai media masa berlomba-lomba mengabadikan momen ini.

Sesampainya di depan panggung, aku dan oppa membungkukkan badanku memberikan penghormatan.

“Sungguh kehormatan yang luar biasa bisa berada disini dan mengemban tugas yang begitu berat. Aku dan Yoona akan berusaha semaksimal mungkin untuk meneruskan perjuangan ayah dan kakekku. Mari kita bangun Kangsan Group bersama.”ujar Siwon oppa yang memberikan sedikit pidatonya lalu disambut dengan tepuk tangan.

“Menjadi seorang wakil presiden direktur sebuah perusahaan besar diusiaku yang masih sangat muda merupakan kebanggaan yang luar biasa. Seperti yang dikatakan oleh kakakku, kami berdua akan berusaha sekuat tenaga untuk memajukan Kangsan Group dan mensejahterakan seluruh bagian Kangsan Group. Mohon bantuannya, karena diusia kami yang terlampau muda, kami kurang memiliki banyak pengalaman jika dibandingkan dengan kalian semua. Terima Kasih.”ucapku yang sama-sama disambut dengan tepuk tangan yang meriah.

“Mulai detik ini, keduanya sudah resmi menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di Kangsan Group.”

Seluruh tamu yang hadir pun serempak memberikan hormatnya kepada kami berdua dengan membungkukkan badan mereka. Seperti memberi hormat kepada raja dan ratu saja. Saat penghormatan itu, suasana begitu hening. Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan. Dan seluruh perhatianpun terpusat pada suara tepuk tangan itu.

 

“Selamat, selamat kepada kedua keponakanku yang begitu ku sayangi.”ucap seorang namja sambil bertepuk tangan.

Melihat sosoknya kulihat semua orang tercengang bukan main, dan kurasa kakek lah yang paling terkejut. Mungkin hanya aku saja disini yang tak terkejut sama sekali, aku malah kebingungan.

Aku pun menatap pria yang sedang berjalan menuju panggung. Aku seperti pernah melihat tapi dimana?

Aku mencoba mengorek-ngorek kembali ingatanku dan akhirnya aku ingat. Pria ini, pria ini yang melukai wajahku saat ulang tahun perusahaan 4 tahun yang lalu. Ya, aku ingat pria ini orangnya.

Tadi dia bilang apa? keponakan?

 

“Tae Hyun-ah.”panggil kakek pelan.

“Abeoji, apa kabar?”sapa pria yang terlihat lebih tua beberapa tahun dibanding mendiang ayahku. Tadi dia bilang apa? abeoji? Keponakan? Apa mungkin, dia kakak dari ayahku? Ada apa ini sebenarnya?

“Yoona-ya, sudah lama tak berjumpa.”sapanya sambil mendekat ke arahku. Entah mengapa aku merasa ketakutan. Terakhir kali saat pria ini mendekatiku, dia melukai wajahku dengan pecahan gelas. Namun aku mencoba untuk tenang.

“Apa yang kau lakukan disini?”tanya kakek dengan pelan.

“Aku hanya ingin memberi selamat kepada kedua keponakanku dan berkunjung sebentar.”jawabnya dengan santai.

“Pergi, sebelum ku suruh keamanan menarikmu.”usir kakek mencoba untuk tenang.

“Lihatlah, Yoona-ku kini sudah dewasa..”ucapnya yang kini berusaha untuk menyentuh rambutku namun dengan cekatan Jongsuk menangkis lengannya lalu berada di depanku, menjadi tameng. Jonghyun pun sudah berada di dekat Jongsuk.

“Cih, apa salah seorang paman mengelus kepala keponakannya?”

“Usir dia!”pinta kakek.

 

Keamanan pun datang mencoba menyeret pria yang mengaku sebagai pamanku itu. Jongsuk pun hendak membawaku pergi namun aku menangkis tangannya. Aku tak mau lagi menjadi satu-satunya yang tak tau tentang hal ini. Aku harus tau apa yang terjadi sebenarnya.

“Abeoji, dengan mudahnya kau memberikan cucumu yang masih ingusan itu posisi tertinggi di Kangsan Group. Lalu bagaimana dengan putra sulungmu ini???”ucapnya yang terlihat sangat kesal. Dia terus berusaha melepaskan tangan-tangan pihak keamanan yang berusaha menyeretnya.

“Jika kau tidak bisa memberi posisi itu padaku, berikan pada putraku, yang sama-sama cucumu. Dia juga memiliki hak yang sama seperti Yoona dan Siwon.”

Astaga, apalagi ini??? Aku semakin tak mengerti. Aku memiliki sepupu?? Setauku hanya aku dan Siwon oppa yang kini menjadi pewaris sah Kangsan Group.

“Selama hidupnya dia tak pernah merasakan kemewahan seperti yang kalian berdua rasakan.”ucapnya padaku dan Siwon oppa. “Kalian bahkan dengan seenaknya menyuruh dia layaknya seorang budak. Aku sebagai ayah tak tahan lagi melihatnya. Meskipun dia selalu memintaku untuk tetap diam dan membiarkan identitasnya yang sebenarnya tidak pernah terungkap.”

“Apa maksudmu?”tanya nenek.

“Abeoji, orang yang selalu kau suruh-suruh ini adalah cucumu. Minho adalah pewaris Kangsan Group yang sah. Sama layaknya Yoona dan Siwon.”

Kakek pun tertegun . kemudian dia memegang dadanya dan terlihat kesakitan. bisa ku pastikan penyakit jantung kakek kumat.

“Harabeoji? Harabeoji, gwenchana?”ucapku dan Siwon oppa panik.

Tak lama kemudian kakek pingsan. Keadaan pun menjadi semakin kacau. Aku dan oppa segera membawa kakek ke rumah sakit. Acara pun terhenti begitu saja. Sedangkan paman itu, dia malah tersenyum menyaksikan semua ini.

 

Nenek tak bisa untuk tak cemas. Semenjak tadi ia mondar-mandir tak bisa diam. Air matanya pun sedikit demi sedikit menetes. Siwon oppa dan Tiffany eonni berusaha menenangkan nenek. Sedangkan aku, aku hanya duduk dan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi disini.

Namja yang bernama Tae Hyun itu mengaku sebagai pamanku, kakak dari ayahku. Lalu, Donghae oppa yang selama ini ku kenal sebagai asisten Siwon oppa ternyata adalah anak dari pamanku. Ini semua tak masuk akal.

“Gwenchana?”tanya Jongsuk sambil memberikan coklat hangat untukku.

“Jongsuk-ah, apa yang sebenarnya terjadi?”tanyaku.

“Nona tak perlu memikirkan hal ini.”

“Apa lagi yang mereka semua sembunyikan dariku? Apa ini ada hubungannya dengan mengirimku sekolah ke luar negeri bertahun-tahun yang lalu?”

Jongsuk tercengang mendengar pertanyaanku. Tak ada jawaban apapun dari Jongsuk. Keheningan menyelimuti kami saat-saat itu. Aku tau, ada sesuatu yang janggal dengan semua ini. Dan aku semakin yakin semua orang menyembunyikan banyak hal dariku. Bahkan kedua orang tuaku pun meninggalkan setumpuk rahasia padaku.

Suasana hening itu sirna ketika aku mulai mendengar hentakan kaki yang membuat suana menjadi gaduh seketika. Suara itu berasal dari hentakan kaki Minho oppa.

“Apakah itu benar? Apakah yang dikatakan pamanku itu benar??!!!”bentak Siwon oppa yang tak percaya. Aku langsung beranjak dari tempat dudukku mendengar suara Siwon oppa yang nadanya sudah meninggi. “Jawab aku Minho-ya!!!”bentak Siwon oppa yang kini menarik kerah kemeja Minho oppa.

“Yeobo!”ujar Fanny eonni yang terkejut melihat tingkah suaminya.

“Jawab aku, Minho-ya Siapa kau sebenarnya? Bagaimana bisa kau menipu kami seperti ini?”tanya Siwon oppa yang terlihat frustasi. Frustasi? Seharusnya akulah yang paling frustasi disini.

“Oppa, aku lah yang merasa paling tertipu disini. Kalian sudah menyembunyikan begitu banyak hal padaku, bukan? Sampai detik ini aku baru tau, bahwa aku memiliki seorang paman dan ternyata, sepupuku sendiri selalu ada disekelilingku, tanpa aku sadari. Apa lagi yang kalian sembunyikan?”tanyaku.

“Yoona-ya..”balas Siwon oppa yang kehabisan kata-kata.

Aku menggelengkan kepalaku,memperlihatkan begitu dalamnya rasa kecewa ku pada semua orang yang begitu ku sayangi. Aku pun pergi meninggalkan mereka semua. Hatiku begitu sakit entah mengapa. Aku merasa seperti orang yang paling bodoh di dunia ini.

Aku termenung di taman rumah sakit. Berkali-kali aku mencoba mencerna setiap fakta yang baru ku temukan. Pertanyaan demi pertanyaan begitu menyelimutiku. Membuat kepalaku rasanya ingin meledak.

“Yoona-ya, gwenchana?”

Ketika itu tiba-tiba aku merasa seseorang menyentuh pundakku lalu menanyakan bagaimana keadaanku. Namja itu adalah Kyuhyun oppa. Kemudian dia duduk di sebelahku dan menyentuh kepalaku agar dapat bersandar di bahunya.

“Semua akan baik-baik saja. Apapun yang mereka rahasiakan darimu, yakinlah bahwa mereka selalu ingin yang terbaik untukmu. Seburuk apapun itu, percayalah bahwa mereka benar-benar menyayangimu dan melakukan semua ini untuk melindungimu.”

Perkataan Kyuhyun oppa membuat hati dan pikiranku terbuka. Aku sangat yakin, mereka melakukan ini memang karena menyayangiku, teramat menyayangiku. Tapi, aku bukan lagi anak remaja bodoh yang tak tau apa-apa. Aku bukanlah lagi nona manja yang harus selalu mereka lindungi. Aku perlu mengetahui kebenaran yang ada agar aku bisa melindungi diriku sendiri.

“Mianhae..”ujarku yang masih bersandar di pundak Kyuhyun oppa.

“Untuk?”tanyanya lagi.

“Karena kejutan yang diberikan oleh pamanku, acaranya menjadi kacau. Seharusnya kakek mengumumkan berita pertunangan kita tapi kakek malah tak sadarkan diri sekarang. Sampaikan permohonan maafku untuk Paman Cho.”terangku.

“Na-ya, aku tau kau belum sepenuh hati menerimaku. Tapi aku akan terus menunggu, menunggumu untuk datang padaku. Kau tak perlu khawatir, aku sudah ahli dalam menunggu.”

“Oppa…”kataku yang tak mampu berkata apa-apa. Aku menatapnya lekat-lekat untuk memastikan apakah namja disebelahku ini sedang main-main atau tidak. Tapi, aku tak menemukan itu dalam matanya. Kedua matanya menatapku dengan begitu mantapnya.

Namja itu pun tersenyum menatapku lalu menarikku ke dalam pelukannya. “Aku mencintaimu, Choi Yoona.”ungkapnya dengan tulus.

Entah mengapa, mendengar kata-kata manis itu darinya malah membuatku tak enak hati. Malah semakin membuatku merasa bersalah. Merasa bersalah karena aku tak bisa mencintai namja yang begitu tulus mencintaiku ini.

 

***

Author POV

 

Seminggu berlalu semenjak kejadian itu, akhirnya Seung Jae baru diperbolehkan untuk pulang ke rumah. Kondisinya sekarang sudah mulai membaik. Semenjak kejadian itu, begitu banyak wartawan yang memenuhi kantor maupun kediaman Choi. Berita mengenai kejadian itu pun menjadi berita hangat dimana-mana. Tentu saja hal itu berdampak pada Kangsan Group. Posisinya kembali menurun setelah dengan susah payah Yoona dan Siwon berusaha untuk menstabilkan perusahaan.

Hari ini seluruh bagian keluarga Choi berkumpul untuk membicarakan hal ini. Termasuk Minho. Sebelumnya Seung Jae melakukan tes DNA untuk membuktikan apakah benar Minho adalah cucunya. Meskipun memang tak dapat dipungkiri, ada kemiripan diantara Minho dengannya. Tentu saja Seung Jae belum 100% percaya dengan hasil tes DNA itu karena Tae Hyun memanipulasinya. Dia percaya pada Minho namun tidak pada anaknya sendiri.

Mereka berdua berbicara empat mata. Disana, Minho menceritakan tentang mendiang ibunya dan menunjukkan hadiah yang pernah diberikan oleh Seung Jae pada mendiang ibunya, Go Hye Jin, Seung Jae memang tak bisa melupakan sosoknya. Yeoja cerdik yang dulu menjadi salah satu orang kepercayaannya. Dia tak bisa melupakan dosa yang telah dia perbuat kepada Hye Jin. Hingga akhirnya Seung Jae memutuskan untuk menebus sedikit dosanya pada Hye Jin dengan mengakui keberadaan Minho sebagai cucunya.

 

“Kita adakan konferensi pers hari ini juga.”

“Heojangnim, aku tak meminta untuk diakui menjadi cucumu. Maafkan sikap abeoji.”balas Minho.

“Kau adalah cucuku.”balas Seung Jae tegas.  “Dan mulai sekarang kau adalah bagian dari keluarga Choi.”

“Sekretaris Lee, siapkan konferensi pers untuk hari dan pastikan media-media datang.”perintah Seung Jae.

“Ne, Heojangnim.”

 

Konferensi pers pun diadakan hari itu juga. Para awak media sudah berkumpul untuk mendengarkan pernyataan langsung dari Choi Seung Jae. Konferensi pers diadakan di kantor Kangsan Group. Kehadiran Choi Seung Jae dan Minho langsung disambut oleh para reporter yang sudah menunggu di ruangan konferensi pers.

Siwon dan Yoona enggan untuk ikut hadir menghadiri acara tersebut. Siwon masih belum bisa menerima bahwa orang yang selama ini sangat ia percaya telah tega membohonginya. Sedangkan Yoona, ia juga sedang merasa tak berselera untuk disorot kamera.

Yoona dan Siwon sama-sama melihat konferensi pers itu lewat televisi di kamarnya masing-masing. Yoona pun masih kecewa dengan keluarganya sendiri, terutama oppa-nya. Bagaimana bisa mereka selalu membodohi Yoona seperti ini?

“Selamat siang. Terima kasih para rekan media sudah menyempatkan hadir pada acara konferensi pers ini. Pada kesempatan ini saya ingin mengklarifikasi tentang banyaknya rumor yang beredar tentang kejadian yang cukup mengejutkan pada saat ulang tahun Kangsan Group sekitar seminggu yang lalu.”ungkap Seung Jae.

Para awak media sibuk meliput kejadian itu dan mencatat seluruh perkataan Seung Jae dengan laptop mereka.

“Maaf saya baru bisa hadir memberikan pernyataan resmi seperti ini. Karena seperti yang kalian tau, saya sempat di rawat di rumah sakit. Banyak yang bertanya apakah betul lelaki yang berdiri disamping saya adalah cucu saya? Benar. Choi Minho merupakan cucu saya. Dia adalah anak satu-satunya dari putra sulung saya, Choi Tae Hyun.”jelasnya.

“Apakah Choi Minho merupakan anak dari Choi Tae Hyun dan Go Hye Jin?”tanya salah satu reporter.

“Bagaimana bisa selama ini anda tidak mengenali cucu anda sendiri? Bukankah Choi Minho sudah bekerja sejak lama untuk keluarga anda dan bekerja di perusahaan Kangsan Group?”

“Mengapa Choi Tae Hyun menyembunyikan anaknya dan baru membongkar identitasnya tepat saat anda meresmikan posisi Choi Siwon dan Choi Yoona? Apakah ini menjadi salah satu taktik agar Choi Tae Hyun dapat kembali ke Kangsan merebut posisinya kembali?”

“Tuan Choi Minho, apakah anda sebelumnya sudah mengetahui bahwa anda adalah cucu dari Choi Seung Jae?”

“Tuan Choi Seung Jae, ketika anda sudah mengetahui bahwa Choi Minho adalah cucu anda, apakah anda sudah mempersiapkan posisinya di Kangsan Group?”

“Itu saja yang dapat saya sampaikan hari ini, terima kasih atas kerja samanya.”

“Tuan Choi tolong jawab pertanyaan kami.”

 

Seung Jae dan Minho membungkukkan badannya dan menutup acara konferensi pers yang singkat itu tanpa menjawab pertanyaan apapun dari para reporter.

 

***

Yoona POV

 

“Nona, sudah waktunya sarapan. Semuanya sudah menunggu nona.”ucap Sooyoung sambil mengetuk pintu kamarku.

Beberapa hari ini aku memang mengurung diri di kamar. Aku sedang tak berselera untuk berkumpul dengan mereka semua yang mengaku sebagai keluargaku. Keluarga macam apa ini? Keluarga ini terlalu banyak menyimpan rahasia dan aku muak dengan semuanya.

“Aku tidak merasa lapar. Katakan pada mereka untuk makan malam tanpaku. Bukankah mereka sudah terbiasa menganggapku tidak ada?”sindirku.

Ku dengar seseorang membuka pintu kamarku. Aku rasa Sooyoung tak mungkin berani masuk tanpa ijin dariku. Lalu siapa dia?

“Yoona-ya..”panggilnya dan ternyata orang itu adalah nenekku.

“Halmoni.”

“Aku tau kau pasti sangat membenci kami semua. Nenek juga tak tau harus memulai dari mana. Kami tak bermaksud menyembunyikan ini darimu. Hanya saja, hal ini begitu menyakitkan bagi kakekmu. Bagaimana tidak? Dia harus kehilangan salah satu anaknya. Yoona-ya, kakekmu mungkin terlihat kuat tapi dia pun manusia biasa. Dia selalu merasa sedih dan selalu menyimpan rasa sedihnya itu sendiri. Maka kami semua memutuskan untuk tidak pernah membahas soal Tae Hyun. Karena itu hanya akan membuat luka kakekku semakin melebar. Ketika kau sudah cukup dewasa, dan mengerti barulah kami akan menceritakan semuanya. Tapi ternyata kau tau lebih awal. Kau berhak untuk marah Yoona-ya, tapi ketahuilah kami melakukan itu karena kami menyayangimu.”jelas nenek.

Aku hanya diam. Aku juga lelah marah seperti ini. Tapi entahlah, semuanya terlalu mengejutkan bagiku.

“Jangan  buat kakekmu semakin sedih. Kau tau sendiri kan, kakekmu begitu menyayangimu dan jika dia melihatmu begini, dia pasti terluka.”

Aku pun menyerah dan mengangguk. Aku mencoba mengerti keadaan keluargaku yang begitu rumit ini. Apa yang dikatakan nenek memang masuk akal. Bagaimana bisa seorang anak kecil mengerti semual hal ini? Mereka hanya menunggu waktu yang tepat untuk menceritakan semuanya padaku. Aku hanya bisa menunggu dan percaya pada mereka semua.

“Hari ini akan diadakan rapat pemegang saham untuk menentukan posisi Minho di perusahaan. Kalian berdua harus hadir dalam rapat itu.”ucap kakek di sela-sela sarapan.

“Ne.”jawabku dan Siwon oppa bersamaan.

 

Setelah selesai sarapan, aku segera bergegas pergi ke kantor untuk menghadiri rapat pemegang saham. Karena bagaimanapun juga Minho oppa memiliki hak untuk menduduki jabatan di perusahaan ini, sama sepertiku dan Siwon oppa. Aku sempat menguping pembicaraan kakek dengan sekretaris Lee semalam. Aku mendengar bahwa dalam rapat itu, kemungkinan posisiku akan tergeser. Meskipun aku telah membuktikan kemampuanku, tapi jika dibandingkan dengan Minho oppa tentu aku kalah. Kalah di pengalaman dan pendidikan. Aku yang pada kenyataannya belum lulus kuliah dan pengalamanku masih sangat sedikit dalam menjalankan perusahaan.

Jujur saja, aku sedikit bernafas lega mendengarnya. Aku sebenarnya memang tak pernah tertarik untuk menjalankan perusahaan. Tapi, setelah mencoba belakangan ini ternyata tak ada salahnya. Meskipun waktu tidurku harus benar-benar terkuras, tapi cukup menyenangkan.

Dalam rapat itu semua pemegang saham hadir. Mereka sempat berdebat mengenai masalah ini. Sebagian dari mereka menyarankan agar Minho oppa ditempatkan sebagai General Manager. Ada juga yang menyarankan Minho oppa naik menjadi wakil presdir dan aku yang menjadi direktur manajemen strategis. Bahkan ada yang menyarankan agar Minho oppa naik menjadi Presiden Direktur. Namun setelah perdebatan yang panjang, akhirnya Minho oppa menduduki posisi General Manager.

 

“Chukkae, oppa.”ungkapku.

Minho oppa mengajakku makan siang dan mentraktirku. Sayangnya Siwon oppa menolak untuk ikut karena dia bilang masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan. Padahal aku tau Siwon oppa masih canggung berada di dekat Minho oppa dan kecewa karena merasa terbohongi.

“Ne, gomawo Yoona-ya.”balas Minho oppa yang masih terlihat canggung berada di dekatku dan Siwon oppa.

Ketika pesanan kami datang, Minho oppa langsung mengambil steak milikku dan memotongnya untukku.

“Aku tau mungkin ini sedikit berlebihan tapi aku hanya ingin kalian menerimaku. Aku ingin kau menganggapku sebagai kakakmu juga.”

Aku pun tersenyum. “Tentu, sebelum aku tau oppa adalah sepupuku, aku sudah menganggap oppa sebagai kakakku juga.”

“Gomawo.”

“Aku yang harusnya berterimakasih padamu, oppa.”

“Untuk apa? Untuk steak ini? Untuk menganggapku sebagai kakakmu?”tanya Minho oppa yang kebingungan.

“Karena insiden itu, setidaknya berita tentang pertunanganku belum secara resmi diumumkan. Kau tau sendiri kan, aku belum siap.”jawabku sambil tersenyum.

“Kyuhyun adalah namja yang baik. Kau tak perlu ragu terhadapnya.”balas Minho oppa.

“Entahlah, dalam bayanganku pernikahan adalah ikatan suci antara dua orang yang saling mencintai. Lalu apakah bisa aku menikah dengan orang yang sama sekali tak aku cintai?”

“Apakah kau sudah mencintai namja lain?”tanya Minho oppa yang sukses membuatku tersedak.

Minho oppa yang terlihat panik langsung membantuku mengambilkan minuman dan menyuruhku untuk minum dengan perlahan.

“Jinja? Kau sudah mencintai namja lain? Nugu?”tanyanya dengan penuh rasa penasaran.

“Aku sendiri belum yakin dengan perasaanku oppa, tapi aku rasa aku tak mungkin mendapatkannya.”

“Yoona-ya, jika memang kalian saling mencintai, tak ada yang bisa menghalangi cinta suci kalian. Kejarlah, karena semua orang berhak untuk mencintai dan dicintai. Semua orang berhak untuk bahagia karena cinta. Yakinkan perasaanmu, apakah benar kau memang mencintai Jongsuk. Jika kau tak ingin memperjuangkannya, coba lah belajar mencintai Kyuhyun.”

Aku lagi-lagi tersentak dengan perkataan Minho oppa. Terutama ketika dia menyebutkan nama Jongsuk. Bagaimana dia tau kalau orang yang ku maksud adalah Jongsuk?

“Oppa..”kataku yang benar-benar kehabisan kata-kata.

“Apa aku salah? Mian, aku begitu lancang. Aku hanya melihat bahwa kalian saling menyukai. Terutama Jongsuk, dia begitu tulus dan siap mempertaruhkan nyawanya demi menjagamu.

***

Perkataan Minho oppa beberapa hari yang lalu masih saja terngiang ditelingaku. Apa memang sebenarnya aku mencintai Jongsuk? Dan karenanya lah selama ini aku tak pernah bisa membuka hatiku untuk Kyuhyun oppa? Namun jika aku benar-benar mencintainya, apa yang harus ku lakukan? Apa aku harus memperjuangkannya? Aku rasa semua ini tak mungkin. Aku sudah dijodohkan dengan namja lain. Bagaimana reaksi kakek jika mengetahui hal ini? Aku benar-benar tak bisa membayangkannya,

Tapi, aku juga ingin bahagia dengan mendapatkan cintaku. Ya Tuhan, semakin hari perasaan ini semakin menyiksaku.

“Nona apakah anda baik-baik saja? Nona?”panggil Jongsuk berulang kali.

“Ne?”kataku yang baru tersadar dari segala lamunanku.

“Apakah nona baik-baik saja?”ulangnya.

“Aku baik-baik saja.”jawabku yang mencoba untuk baik-baik saja.

“Jika nona merasa tak enak badan, aku akan putar balik dan kembali ke rumah agar nona bisa istirahat.”

“Gwenchana. Masalah ini harus segera diselesaikan, bukan?”

 

Aku dan Jongsuk pergi ke salah satu pabrik Kangsan Group. Ada masalah yang cukup fatal disana. Para buruh mogok bekerja karena adanya pemangkasan buruh. Pemangkasan buruh ini disebabkan karena merosotnya keuntungan yang diperoleh dari pabrik tersebut.  Jika terjadi mogok terus menerus, tentunya Kangsan akan semakin mengalami kerugian.

Pada awalnya, Minho oppa lah yang akan datang bernegosiasi dengan para buruh dan mencoba menyelesaikan permasalahannya. Namun, pagi tadi Minho oppa mendadak memintaku menggantikannya karena dia ada urusan yang tidak dapat ditinggal. Ada pertemuan dengan calon investor tentang proyek baru kami. Hingga pada akhirnya, aku dan Jongsuk lah yang menyelesaikan masalah ini.

“Nona, kita sudah sampai.”

Jongsuk menghentikan mobilnya. Di depan pabrik sudah banyak buruh yang berkumpul dan menyuarakan protesnya. Jongsuk membuka pintu mobilku dan berjalan di depanku.

Aku berjalan dengan penuh wibawa dan membungkukkan badanku ketika sudah ada di depan mereka semua. Namun ketika aku selesai membungkukkan badanku, aku malah mendapatkan beberapa lemparan telur.

Tanpa banyak bicara, Jongsuk memutar badannya dan menjadikan badannya sebagai tameng pelindungku.

Pada saat itu, jantungku terasa berhenti begitu saja.

“Kami tak perlu tau siapa anda!”

“Kembalikan pekerjaan kami!! Kami hanya rakyat kecil!”

“Bagaimana kami bisa menghidupi keluarga kami?!!”

“Jangan lakukan pemecatan terhadap kami!!!”

“Jika begini terus kami memilih untuk mogok bekerja!!!”

“Nona anda baik-baik saja?”tanyanya dengan khawatir.

Aku hanya mengangguk mengisyaratkan bahwa aku baik-baik saja. Aku meminta Jongsuk untuk kembali pada posisinya semula.

“Annyeonghaseo, Choi Yoona imnida. Saya datang untuk bernegosiasi dengan anda sekalian. Jadi tolong, saya datang secara baik-baik dan saya harap anda juga dapat memperlakukan saya dengan baik.”

“Omong kosong! Bagaimana Kangsan Group mengirim seorang yang amatir seperti anda, Nona Yoona?”

Mendengar itu Jongsuk terlihat begitu geram. Aku pun sama dengannya, aku paling tak suka apabila diremehkan seperti ini.

“Agar negosiasi berjalan dengan baik, saya meminta perwakilan dari kalian untuk bernegosiasi dengan saya.”pintaku.

 

Aku, Jongsuk dan ketua buruh melakukan negosiasi. Aku mempersilahkan tuan Nam untuk memaparkan segala keluh kesahnya. Setelah itu, aku memaparkan bagaimana kondisi Kangsan dan pabrik ini sebenarnya. Hingga akhirnya aku menemukan adanya kesalah pahaman antara pihak buruh dengan kami. Pengawas di pabrik ini tidak transparan dengan para buruh. Sehingga mereka tak tau alasan sebenarnya mengapa akan ada rencana pemutusan kerja beberapa buruh.

“Tuan Nam, kami tidak akan melakukan pemecatan tanpa sebab. Jika memang kalian sangat membutuhkan pekerjaan ini maka lakukanlah yang terbaik untuk Kangsan Group. Kerahkan lah semua yang kalian semua miliki. Jika keuntungan yang dihasilkan pabrik ini terus meningkat, maka kami tidak akan melakukan pemecatan. Bahkan kami akan memberikan bonus untuk kalian semua.”jelasku.

“Choi Bujangnim. Apakah anda berjanji tidak akan memecat kami?”

“Tentu saja. Asalkan kalian bekerja dengan keras dan menghasilkan keuntungan yang besar.”

“Apa jaminannya agar kami semua percaya dengan perkataan anda?”

“Saya sendiri yang akan menjadi jaminannya.”jawabku dengan tegas.

 

Perjalanan hari ini begitu melelahkan. Setelah masalah di pabrik selesai, aku dan Jongsuk memutuskan untuk kembali ke Seoul. Lagipula hari sudah mulai malam dan perjalanan kami masih panjang. Namun sayangnya, tiba-tiba ada sesuatu yang aneh dengan mobil ini. Hingga akhrinya mobil kami berhenti.

“Apa yang terjadi?”tanyaku panik.

“Aku akan mengeceknya. Tunggu sebentar nona.”

Jongsuk turun dari mobil dan memeriksanya. Karena penasaran aku pun ikut turun. “Bagaimana?”tanyaku.

“Sepertinya ada yang sengaja merusak mobil ini, nona.”jawab Jongsuk.

“Mwo?!!!”balasku yang tak percaya. “Apa mungkin salah satu buruh pabrik yang melakukannya?”

“Entahlah nona.”balas Jongsuk yang masih mengutak-atik mobil berusaha untuk memperbaikinya.

“Omo, ottokhae!!!!”kataku yang semakin panik.

“Aku tak bisa memperbaikinya nona.”ucap Jongsuk. Ia pun mengeluarkan ponselnya untuk meminta bantuan. Namun sayang disini tidak ada sinyal. “Nona, apakah di ponsel anda sinyalnya bagus?”

Aku pun mengeluarkan ponselku dan ternyata sama-sama tidak ada sinyal. Hanya ada sedikit sinyal namun rasanya percuma. Baterai ponselku sudah habis. “Ponselku mati. Bagaimana dengan ponselmu?”

“Ponselku juga sebentar lagi mati, nona.”jawab Jongsuk dengan menyesal.

“Lalu apa yang akan kita lakukan???!!!”tanyaku panik. Masalahnya tempat ini seperti hutan. Aku tidak dapat menemukan rumah atau apapun disekitar sini. Kami juga tidak mungkin kembali ke pabrik karena jaraknya sudah lumayan jauh.

Sialnya, selain panik aku harus menanggung malu karena perutku berulang kali berbunyi. Awalnya aku tak nafsu makan dalam kondisi seperti ini. Tapi Jongsuk terus memaksa karena dia begitu mengkhawatirkan kesehatanku.

“Aku rasa di dekat sini kita dapat membeli makanan. Nona harus makan agar tidak sakit.”

Aku..merasa sangat senang dapat diperhatikannya seperti ini. Dia melakukan ini karena ini sudah menjadi tugasnya, bukan berarti dia melakukan ini karena dia mencintaiku. Tapi, entah kenapa aku berharap dia melakukan ni karena dia..mencintaiku.

“Anda ingin menunggu di dalam mobil atau ikut keluar bersamaku? Jika anda lelah, anda bisa tidur di mobil selagi aku membeli makanan.”tanya Jongsuk.

“Baiklah aku akan ikut turun.”balasku.

Daripada aku menunggu disini dan merasa bosan setengah mati. Aku lebih baik berjalan berdua dengannya. Meskipun entah dimana tempat makan itu, tak masalah bagiku. Mungkin Tuhan ingin aku menghabiskan waktu berdua dengan Jongsuk, sebelum nantinya aku benar-benar tak lagi bisa.

Jongsuk mengangguk lalu membukakan pintu mobilku.

 

“Nona, beritahu aku jika anda merasa lelah.”ujar Jongsuk sambil menatapku dengan khawatir. Sudah sekitar 10 menit kami berjalan, dan kami belum menemukan satu toko pun.

Aku hanya mengangguk sambil tersenyum. Aku tak merasa kelelahan, aku benar-benar menikmatinya. Berjalan bersamanya seperti ini, membuatku senang.

Kami berhenti disebuah mini market. Jongsuk yang melihatku mulai kelelahan menghentikan langkahnya dan masuk ke mini market.

“Ya Lee Jongsuk!”pekikku. “Apa yang akan kita makan disini? Perutku tidak akan merasa kenyang jika hanya makan cemilan.”protesku dengan sedikit manja.

Alih-alih menjawab, Jongsuk mal

ah tersenyum melihat tingkahku dan terus berjalan seolah mencari sesuatu. Aku pun membuntutinya dengan menampar pipiku pelan agar tidak melayang melihat senyum Jongsuk yang begitu mempesona.

Jongsuk pun berhenti dan memilih-milih mie instan. “Mie instan??”tanyaku. Seumur-umur aku belum pernah makan mie instan seperti ini. Eomma akan memarahiku kalau tau aku memakan makanan sepert ini.

“Aku tak memiliki pilihan lain. Daripada nona harus sakit karena kelaparan, apa salahnya mencoba mie instan sekali dalam seumur hidupmu? Mie instan tidak seburuk itu nona. Aku yakin nyonya akan mengerti.”jelas Jongsuk.

Aku hanya diam dan melihat Jongsuk memilihkan mie instan untukku. Tanpa harus bertanya, dia benar-benar tau apa yang aku sukai dan apa yang tidak aku sukai. Kecuali satu hal. Dia tak pernah tau bahwa aku menyukainya. Ya, sedikit-sedikit aku mulai yakin bahwa aku memang menyukai namja yang ada dihadapanku ini. Namja yang sedang membuatkan mie instan untukku.

“Silahkan nona.”

Jongsuk memberikan mie instan itu padaku dan mempersilahkanku makan. Ini pertama kalinya aku ke minimarket dan aku baru tau di minimarket kita bisa menyeduh dan makan mie seperti ini.

Ku lihat Jongsuk makan begitu lahapnya. Namun kegiatannya itu terhenti ketika dia mengetahui aku sedang memperhatikannya. Dia mungkin menyadari bahwa aku sedikit ragu untuk mencoba mie instan ini.

Jongsuk pun tiba-tiba menyuapi mie instan itu padaku sambil tersenyum. Lagi-lagi, aku dibuat terdiam olehnya. Aku merasa membeku dan tak dapat melakukan apapun.

“Bagaimana?”

“Daebak!! Ini enak sekali!!!”kataku yang tak percaya. Aku tak berbohong. Memang rasa mie instan ini begitu enak. Aku merasa menyesal telah menghabiskan hidupku dan baru mencoba mie instan seperti ini. Eomma, maafkan putrimu yang nakal ini.

 

“Ya! Kau ini jorok sekali!”pekikku ketika melihat ada sisa mie instan di dekat pipi Jongsuk.

“Ada apa nona?”tanyanya heran.

“Itu, ada mie di dekat pipimu.”kataku sambil menertawakannya. Apalagi melihat Jongsuk yang terus mencari-cari dimana serpihan mie itu.

Entah apa yang mendorongku, aku mengambil serpihan itu dari pipinya. Ketika itu, mata kami saling bertemu. Waktu pun seolah terhenti. Dan ku harap, waktu itu terus terhenti.

 

Author POV

 

“Nona, sepertinya kita dapat kembali ke Seoul besok pagi. Hari sudah mulai malam dan kita tak bisa melanjutkan perjalanan. Ponsel kita sama-sama mati. Kita tak bisa meminta bantuan siapapun. Lebih baik kita menitipkan ponsel kita disini untuk di charge, lalu besok kita ambil dan kita bisa menghubungi Jonghyun atau yang lainnya.”jelas Jongsuk.

Yoona  hanya mengangguk pasrah. Memang tak ada yang dapat mereka lakukan lagi. Nyatanya, Yoona benar-benar tak merasa keberatan dengan saran Jongsuk.

“Jongsuk-ssi, apa mereka tak akan khawatir apabila baru mendapat kabar dari kita besok pagi?”tanya Yoona.

“Tentu saja mereka khawatir.”balas Jongsuk.

Kemudian Jongsuk meminjam ponsel pemilik minimarket dan mencoba menghubungi Jonghyun. Namun tak ada satupun yang menjawab. Jongsuk mencoba menghubungi Siwon namun tetap sama saja. Jongsuk pun mencoba menghubungi Sooyoung dan Jongsuk merasa lega ketika  Sooyoung menjawab telfon darinya. Jongsuk pun menjelaskan kejadian yang terjadi dan meyakinkan Sooyoung agar tidak khawatir. Sooyoung tentu khawatir. Sangat khawatir. Dia sebenarnya percaya pada Jongsuk. Sooyoung yakin Jongsuk dapat melindungi Yoona dan mereka berdua akan baik-baik saja. Namun yang ia khawatirkan adalah mereka menghabiskan waktu berdua di tempat antah berantah. Sooyoung takut keduanya melewati batas yang sama sekali tak boleh mereka lewati.

“Aku akan beritau seisi rumah. Kami akan menyusul kesana sekarang juga.”ungkap Sooyoung panik.

“Aku dan nona sepakat untuk melanjutkan perjalanan esok hari. Nona benar-benar terlihat kelelahan.”

“YA! LEE JONGSUK!!!”pekik Sooyoung.

“Kau tak perlu khawatir. Aku tak akan pernah melewati jembatan itu.” jawab Jongsuk sembari meyakinkan dirinya sendiri.  “Ponsel kami berdua mati. Besok aku akan menghubungi noona.”

Ya!!! Jongsuk-ah!! Lee Jongsuk!!!”

 

Setelah puas makan dan membeli beberapa cemilan, keduanya menintipkan ponsel  kepada penjaga minimarket dan meminta tolong untuk mengisi baterai ponsel mereka yang sama-sama mati. Yoona dan Jongsuk pun  memutuskan untuk kembali ke mobil karena tidak ada penginapan disini.

Di tengah perjalanan Yoona menghentikan langkahnya karena dia begitu kelelahan dan kakinya terasa sakit. Yoona melepas sepatunya dan benar saja, kakinya sudah terluka akibat lecet. Tanpa berkata apapun, Jongsuk melepas sepatu Yoona lalu meminta Yoona untuk naik ke punggungnya. Yoona yang awalnya ragu pun pada akhirnya tak dapat menolak Jongsuk.

“Mian, sejak dulu aku selalu merepotkanmu.”ungkap Yoona yang merasa bersalah.

“Anda tak perlu meminta maaf, nona. Ini sudah menjadi tugasku.”balas Jongsuk.

Perkataan Jongsuk membuat hati Yoona sedikit terasa sakit. Dugaan Yoona semakin terbukti, Jongsuk melakukan semua ini karena ini sudah menjadi tugasnya. Bukan karena hal lain.

“Jongsuk-ssi, mengapa kau menerima tawaran ayahku untuk menjadi pengawal dan asistenku seperti ini?”

Pertanyaan Yoona membuatnya kembali ke masa lalu. Tepat saat dia datang ke kediaman Choi untuk pertama kalinya. Saat itu, Seung Jae mengajak keluarga Jongsuk untuk makan malam bersama. Sekretaris Lee yang merupakan orang kepercayaan mendiang Tae Seok adalah ayah dari Jongsuk. Jongsuk masih ingat pertama kali ia berkenalan dengan Yoona. Gadis manja yang ceria. Itulah kesan pertama yang Jongsuk dapat dari Yoona saat itu.

Yoona mungkin menganggap pertemuan itu adalah pertemuan pertamanya dengan Jongsuk. Namun, sebenarnya itu bukanlah yang pertama. Pertemuan itu merupakan pertemuan kedua mereka. Masih sangat jelas diingatan Jongsuk, mereka pertama kali bertemu disebuah taman. Saat itu, Yoona yang masih berusia 6 tahun menangis karena dikerjai oleh teman-temannya. Jongsuk muncul dan mencoba menenangkan Yoona. Dia merasa, bahwa dia harus melindungi Yoona. Sejak saat itu, Jongsuk berjanji pada Yoona untuk selalu melindunginya dan memastikan bahwa gadis itu akan baik-baik saja.

Setelah makan malam itu selesai, Tae Seok mendiskusikan tentang posisi Jongsuk dengan Sekretaris Lee di Kangsan kelak. Tae Seok sudah dapat merasakan bahwa Jongsuk memiliki bakat dan potensi seperti ayahnya. Hingga akhirnya dia meminta Jongsuk untuk menjadi pengawal Yoona sambil ia menempuh pendidikannya dan kelak dia dapat membantu Yoona di Kangsan.

Tanpa berpikir panjang, Jongsuk menerima tawaran itu. Selama belasan tahun, Jongsuk tak pernah bisa melupakan Yoona. Dia benar-benar bersyukur ketika Tuhan mempertemukannya dengan Yoona untuk kedua kalinya. Dia dapat memenuhi janjinya dengan Yoona. Dan janji itu akan terus dia tepati sampai ia kehilangan nyawanya.

Jadi, jika ada yang bertanya mengapa Jongsuk menerima tawaran Seung Jae, tentu alasannya karena Yoona. Karena ia ingin selalu bersama Yoona dan melindunginya.

“Mengapa kau diam?”tanya Yoona lagi.

“Aku menerima tawaran mendiang Presdir karena aku ingin menepati janjiku. Aku benar-benar menyukai pekerjaan ini. Mendiang Presdir begitu baik terhadapku dan beliau begitu memperhatikan tentang pendidikanku. Dan dengan menerima tawaran ini, aku sedikit bisa melupakan tentang mendiang ibuku. Aku tak lagi sedih ketika memikirkannya.”jelas Jongsuk sambil tersenyum mengingat ketika pertama kali dia menjadi pengawal Yoona.

“Gomawo, aku tau, aku akan menghadapi rintangan yang semakin besar nantinya. Berjanjilah padaku untuk terus ada disisiku seperti ini.”

“Tentu nona, aku berjanji.”jawab Jongsuk dengan mantap. Tanpa perlu diminta, Jongsuk tak akan pernah meninggalkan Yoona begitu saja.

Keduanya pun sama-sama terdiam dan sibuk dengan lamunan mereka masing-masing. Yoona menyuruh Jongsuk berhenti ketika Yoona tertegun dengan pemandangan yang sedang dilihatnya. Bukit bintang. Itulah julukan yang terbesit dalam benak Yoona. Dari bukit ini mereka dapat melihat city lights yang begitu indah. Sebelum kembali ke mobil Yoona memohon agar berhenti di bukit itu sebentar. Ia begitu terpesona dengan pemandangan ini.

“Omo, indah sekali bukan?”puji Yoona dengan mata yang berbinar-binar. “Perasaanku menjadi begitu tenang dan beban yang ku pikul menjadi terasa lebih ringan.”

“Ne, ini sangat indah sekali nona.”balas Jongsuk yang memfokuskan pandangannya pada Yoona. Yeoja yang paling indah di matanya.

“Jongsuk-ssi, mulai sekarang jika kita sedang berdua jangan panggil aku nona. Cukup panggil namaku saja.”pinta Yoona.

“Tapi nona..”

“Ini perintah. Kau berani menentang perintahku? Lagipula usia kita sama kan?”

“Baiklah, non..”ucapan Jongsuk terhenti ketika Yoona memelototinya. “:Baik, Yoona-ssi.”

“Nah, begitu lebih baik. Kita jadi terlihat lebih akrab.”balas Yoona sambil tersenyum. Setidaknya, dengan begini ia merasa tak ada perbedaan status dan derajat diantara dirinya dengan Jongsuk. Yoona benar-benar merasa tidak nyaman dengan perbedaan itu. Perbedaan itulah yang membuat kemungkinan cintanya terbalas semakin kecil.

“Perasaanku menjadi begitu tenang dan beban yang ku pikul menjadi terasa lebih ringan.”tambah Yoona.

Yoona benar-benar merasa tenang saat ini. Dia pun merasa bahagia dapat menghabiskan waktu dengan Jongsuk seperti ini. Ia semakin yakin dengan perasaannya terhadap Jongsuk. Bagaimana tidak?  Jantungnya semakin berdebar tak karuan dan ia tak dapat menyembunyikan senyumnya. Meskipun ia tau, rasanya tak mungkin bagi mereka untuk bersatu, namun ia memilih untuk menikmati perasaan ini. Hanya dengan seperti ini, Yoona sudah merasa cukup bahagia. Dia ingin menikmati saat-saat seperti ini selagi ia bisa. Karena cepat atau lambat, dia akan menjadi milik orang lain dan namja itu bukan Jongsuk.

 

***

 

 

“Apakah Yoona sudah pulang?”tanya Siwon ketika baru saja sampai ke kediaman Choi.

“Saya belum melihat nona, tuan.”balas Nyonya Jung kepala pelayan di kediaman Choi.

“Sajangnim, mobil yang dikendarai Jongsuk tiba-tiba rusak. Mereka berdua terjebak dan kemungkinan nona baru bisa kembali ke Seoul besok pagi. Saya dan Jonghyun berencana akan menyusul nona sekarang.”jelas Sooyoung.

“Mwo??!!”Siwon kaget bukan main. Dia begitu khawatir dengan adik satu-satunya itu. “Mereka ada dimana sekarang?”

“Saya tidak tau, sajangnim. Jongsuk belum sempat memberitahu kami. Ponsel nona dan Jongsuk sama-sama mati. Saya sudah mencoba menghubungi ke nomer yang Jongsuk gunakan tapi tidak ada yang menjawab.”

“Lalu bagaimana kalian akan menyusul mereka? Kalian kan tidak tau dimana letak pabriknya.”tanya Tiffany yang ikut cemas.

“Ada apa ini?”tanya Minho yang kebingungan ketika dia sampai rumah semua orang berkumpul dan terlihat panik.

“Mobil mereka rusak dan mereka belum bisa kembali ke Seoul.”jawab Siwon cemas.

“Ya Tuhan. Tapi ini sudah larut malam. Jalur kesana cukup berbahaya di malam hari. Aku sarankan besok  pagi saja jika ingin menyusul Yoona. Kalian tak perlu khawatir Jongsuk akan menjaga Yoona dan aku yakin mereka pasti baik-baik saja.”bujuk Minho.

Siwon pun tersadar Yoona disana tak sendirian. Apa yang dikatakan Minho ada benarnya. Tak memungkinkan untuk menyusul Yoona. Dia pun tau jalan menuju pabrik sedikit rusak dan berbahaya di malam hari.

“Yeobo, tenanglah. Apa yang dikatakan Minho ada benarnya. Sekarang lebih baik kau istirahat.”ungkap Tiffany.

 

***

“Kerja bagus. Tutup mulutmu jangan sampai ada yang tau tentang hal ini. Kau bisa cek rekeningmu. Uangnya sudah ku kirim.”

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku hanya mengikuti apa yang aboeji katakan. Bukankah cinta dapat menghancurkan segalanya? Dan orang akan tersiksa bahkan bisa gila karena cinta. Kita bisa memanfaatkan cinta yang tulus itu untuk menghancurkan mereka semua.”

“Maksudmu?”

“Aku sedikit bermain-main dengan mobil yang digunakan Yoona. Aku memberikan kesempatan kepada mereka berdua yang sedang dimabuk cinta. Yoona sedikit ragu dengan perasaannya dan aku hanya membantu untuk meyakinkan perasaannya itu.”

 

TBC

 

Halo para readerssssss. Gimana nih kelanjutannya? Hehehe. Maaf lama banget kelanjutannyaaa. Semoga para readers suka sama ceritaku yang gak jelas ini hehe. Maklum masih amatir hehehe. Maaf juga kalau ada typo terus ada bahasa korea yang salah. Aku juga masih bingung nih ada dua alternatif ending gitu, Yoona-Kyuhyun atau Yoona-Jongsuk. Aku pengen minta pendapat readers niih. Jangan lupa RCL yaaaa. Komen yang positif dan kritik yang membangun dari kalian sangat berarti buat aku. Semakin banyak komennya semakin bikin aku semangat nulis dan nyelesein chapter selanjutnya lhoo. Thankssss

 

16 thoughts on “Revenge (Chapter 4)

  1. yaampun udah lama banget ff ini dan akhirnya update jugaa!
    semoga aja minho baik gak kaya appanya hu~

    maunya jongsuk yoona hihi kali2 gituu jarang banvet mereka. terus sekarang2 feelnya kyuna hilang entah kemana nih😦

    btw next chap aku tunggu^^

  2. Lebih suka psngan yoona ma joongsuk ktimbng dg kyuhyun kurng dpet feelnya..
    Kirain minho baik trnyta sma ja kaya ayahnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s