Irresistible (Chapt. V)

I R R E S I S T I B L E

by
Clora Darlene

Main Casts
Im YoonA | Oh Sehun

Supporting Casts
You’ll find out while you reading this.

Length | Rating | Genre
Chaptered | PG-13 | Romance, Marriage Life

[ I | II | III | IV ]

poster by; berserkheal @ArtFantasy

Untuk pertama kalinya, Sehun dan Yoona berada di ruang makan mereka untuk menyantap sarapan bersama. Momen ini rasanya hanya akan terjadi selama satu millennium sekali. Tapi, Sehun tidak beranjak dari kursinya saat Yoona ikut bergabung dengannya dan menyapanya. Walau mereka terpisahkan jarak yang cukup jauh. Sehun duduk di ujung salah satu meja makannya, dan Yoona berada di ujung satunya lagi.

Mereka tidak berbicara. Bahkan nafas keduanya diatur dengan baik agar tidak menimbulkan suara di tengah keheningan pagi.

“Aku berencana makan siang dengan ayahku hari ini.” Yoona akhirnya membuka suaranya, memberitahu salah satu rencananya hari ini kepada Sehun.

Sounds good.” Timpal Sehun pelan, tidak menaruh perhatian lebih pada ucapan Yoona. Ia masih menunduk menyantap sarapannya di saat ia tidak lagi ingin memakannya.

“Kau ingin ikut? Ayahku mungkin ingin bertemu denganmu.”

Sehun tampak terdiam sejenak. Ia menimbang-nimbang ucapan Yoona. Sehun tahu benar ayah Yoona seperti apa—penuh dengan kasih sayang, dermawan, rendah hati, dan beliau memperlakukan Sehun seperti anak laki-lakinya sendiri. Jadi, ada sedikit rasa tidak enak yang dirasakan oleh Sehun untuk menolak ajakan Yoona di saat ayahnya ikut terlibat kali ini. “Baiklah. Aku akan menjemputmu nanti. Apa kau akan pergi bekerja?” Well, ia dan Yoona berarti harus kembali berperan sebagai sepasang suami-istri yang bahagia, bukan? Apalagi, kali ini mereka akan berhadapan dengan Ayah Yoona.

“Tidak. Aku akan diam di rumah. Dokter Kim menyuruhku untuk beristirahat hari ini.” Beritahu Yoona lalu diikuti anggukan Sehun.

Sehun segera membersihkan sekitaran bibirnya dengan serbet putih, lalu akhirnya bangkit. “Baiklah. Aku akan pergi.”

“Hati-hati.”

Ucapan Yoona barusan berhasil membuat Sehun ragu untuk melangkah. Ada rasa aneh yang tiba-tiba menjalar di dalam dirinya—mendamba. Rasa yang selalu Sehun coba untuk matikan selama tujuh tahun ini, tetapi setiap ia ditanya apakah perasaan itu masih ada, Sehun tidak memiliki jawaban yang sesungguhnya. Ia akhirnya segera menuju garasi mobil dan pergi.

Sehun memakirkan mobilnya di Park Hyatt Seoul. Ia harus menunggu jam menunjukkan pukul sembilan pagi, karena The Lounge mulai beroperasi mulai dari jam itu. Sehun membuka pintu mobilnya dengan sekali sentakan, dan segera masuk ke dalam gedung hotel megah tersebut. Ia menaiki elevator yang sama seperti pada malam itu.

Ting!

Tidak lama untuk pintu besi tersebut terbuka, dan Sehun langsung menuju The Lounge. Ia memiliki satu pertanyaan—yang mungkin akan terdiri dari beberapa anak pertanyaan—dan hanya chef restaurant tersebut yang memiliki jawabannya.

“Selamat pagi dan selamat datang di The Lounge. Ada yang bisa kami bantu, Tuan?” Seorang pelayan perempuan menghampirinya.

“Apa aku bisa bertemu dengan chef di sini?” Tanya Sehun balik.

Pelayan perempuan itu tampak sedikit terkejut dan matanya mendadak penuh tanda tanya. “Ya. Anda bisa tunggu sebentar.” Pelayan itu membungkuk lalu setengah berlari dan akhirnya hilang di balik sebuah pintu.

Sehun memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dan membalikkan badannya. Ia berdiri di pinggir jendela dan memandang hamparan Kota Seoul dari lantai dua puluh empat Park Hyatt Seoul. Udara hari ini cukup dingin, dan ditambah oleh air conditioner yang berada di ruangan The Lounge cukup berhasil menusuk kulit porselen Sehun dari balik balutan kemeja serta jasnya.

Sehun kembali mengingat alasannya datang kemari. Alasannya adalah Yoona. Dan tujuannya adalah membuktikan tebakannya.

Tebakannya sederhana—Luhan yang menaruh Eszipiclone ke dalam makanan Yoona saat mereka tengah makan malam di sini. Laki-laki China itu pasti tahu bahwa Yoona alergi pada obat-obatan semacam itu. Ayolah, Xi Luhan juga berperan lama dalam masa lalu Yoona layaknya Sehun. Mendadak rahang Sehun bergerak kesal. Ia tidak suka jika otaknya mulai memutar kembali masa-masa di mana Sehun mendeklarasikan dirinya sebagai ‘Oh Sehun versi paling bahagia dalam hidupnya hingga saat ini’.

“Tuan?”

Sehun langsung berbalik saat seseorang berbicara kepadanya. Sebuah senyuman terukir kecil di wajahnya. “Chef? Oh Sehun imnida.” Sehun menyodorkan tangannya dan disambut oleh sosok laki-laki yang mengenakan chef coat putih dengan celana berwarna abu-abu tanpa apron.

“Do Kyungsoo imnida. Ada yang bisa kubantu?”

Sehun membasahi bibirnya, namun tetap memasang senyum terbaiknya. “Aku datang kemari untuk menanyakan beberapa pertanyaan yang mungkin hanya kau yang tahu jawabannya. Aku sangat memohon bantuanmu.”

Kening Kyungsoo mengerut mendengar ucapan Sehun. “Tentang apa?”

“Apa seseorang pernah menyuruhmu untuk memasukkan obat atau apapun ke dalam makanan seorang pelanggan dua malam lalu?” Tanya Sehun to the point. Kyungsoo tidak langsung menjawabnya. Bolamata Kyungsoo tampak begerak gelisah. “Aku bukan polisi, sungguh. Jadinya, kau tidak perlu takut.”

Sehun dapat melihat Kyungsoo bernafas lega setelah ia mengatakan bahwa ia bukan polisi. Akhirnya, Kyungsoo membuka suaranya. “Ya. Seseorang menyuruhku untuk memasukkan sebuah serbuk ke dalam Haemul Gui yang merupakan salah satu pesanan mereka. Awalnya aku menolaknya, tapi mereka memperlihatkan resep dokter dan membuatku yakin. Apa yang kulakukan salah?”

Sehun tertawa kecil lalu menggeleng. Tentu saja, kau hampir membunuh istriku dan aku bisa memasukkanmu ke dalam penjara sekarang. “Tidak. Aku malah sungguh berterimakasih. Aku seharusnya mengingatkan chef di sini untuk memasukkan obat tersebut ke dalam makan malam adikku, tapi aku lupa. Jika aku boleh tahu, temanku yang mana yang menyuruhmu untuk memasukkan obat tersebut? Kau tahu, aku berhutang terimakasih kepadanya, dan kepada kau juga.”

Kyungsoo terdiam lagi. Ia mengingat-ingat tampang seseorang yang menyuruhnya untuk memasukkan obat tersebut. “Dia mengenakan baju serba hitam, dan membawa senjata api. Saat itu restaurant kami dipenuhi oleh orang-orang yang membawa senjata api, dan The Lounge disewa full oleh seorang laki-laki. Apa adikmu adalah yang laki-laki?”

“Yang perempuan,” Sehun membenarkan. “Apa mereka berbahasa Korea?”

Kyungsoo menggeleng. “Orang itu memang menyuruhku dengan Bahasa Korea, tapi dia memiliki aksen China.”

Kini giliran Sehun yang terdiam. Ada amarah yang berkecamuk di dalam dirinya. Ia memaksakan sebuah senyuman untuk mengakhiri percakapannya dengan Kyungsoo hari ini. “Terimakasih Chef atas informasinya.”

Sehun kembali ke kantornya untuk menunggu jam menunjukkan waktu makan siang. Ia juga harus berdikusi dengan asisten serta beberapa karyawannya dari Divisi Keuangan mengenai pemeriksaan keuangan perusahaan yang akan dilakukan oleh Dewan Komisaris.

Meeting dengan CRTC akan dilaksanakan pekan ini, boss.” Beritahu Tiffany sebelum perempuan itu hendak keluar dari ruangan Sehun.

“Baiklah.” Sehun mengangguk singkat lalu membiarkan asistennya tersebut keluar. Tiffany adalah tipikal perempuan yang sangat cerewet dan Sehun bosan melihat perempuan itu mengenakan pakaian berwarna pink setiap harinya. Sebagai asistennya, Tiffany tidak akan membiarkannya melupakan meeting-nya atau urusan perusahaan. Perempuan itu sebagai alarm-nya, dan walaupun sangat mengganggu, Sehun mengakui bahwa itu membantunya untuk fokus dengan pekerjaannya.

Tok tok.

“Apa aku boleh masuk?”

“Masuklah, Kai.”

Kai mendorong gagang pintunya lalu masuk ke dalam ruangan Sehun. Sehun bersandar pada kursi kulitnya dan memandang Kai dengan mata sayu. “Ada apa?” Tanya Kai.

“Aku yang harusnya bertanya seperti itu. Ada apa kau kemari?”

“Aku merindukanmu.” Jawab Kai tak acuh lalu duduk di sofa ruang kerja Sehun.

Sehun mengerang pelan mendengar jawaban kepala pengawalnya itu. “Jangan pernah mengatakan hal itu lagi, atau aku akan membunuhmu.”

“Ayolah, aku telah menjadi kepala pengawalmu semenjak kau kembali dari Chicago, dan aku tidak boleh merindukanmu?” Goda Kai.

“Diam, Kai.” Perintah Sehun geram.

Kai menahan tawanya. “Aku hanya ingin bertanya kepadamu, apa kau jadi pergi makan siang dengan Yoona serta ayahnya. Itu saja.”

Sehun mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Kai. “Tentu saja. Bukankah menantu yang baik tidak pernah mengecewakan ayah mertuanya?”

Iris Kai berputar seakan-akan ia tidak setuju dengan ucapan Sehun atau hanya menganggap itu hanya sebagai omong kosong. “Jika Ayah Yoona tahu apa yang telah kaulakukan kepada anaknya, aku yakin kau sudah mati sejak dulu.”

“Katakan itu kepada Yoona, karena dia-lah yang menyelingkuhiku.” Elak Sehun.

Yoona tidak ada di rumah ibunya, dan Ibu Yoona mengatakan bahwa anak perempuannya itu pergi untuk bekerja kelompok di rumah seorang temannya.

Sehun lalu mencoba menghubungi Yoona, tetapi perempuan itu tidak mengangkat telfonnya. Beberapa kali, dan perempuan itu masih tidak menjawab telfon Sehun. Akhirnya Sehun menghubungi beberapa teman Yoona yang cukup ia kenal dekat, dan mereka mengatakan bahwa tidak ada tugas kelompok apapun.

Im Yoona berbohong kepada ibunya.

Lagi, Sehun menghubungi sahabat terdekat Yoona—Kwon Yuri. Perempuan berkulit tan itu mengatakan bahwa Yoona berada di sebuah klub malam yang sering dikunjunginya di tengah Chicago. Sehun tahu klub malam tersebut, karena Yoona pernah beberapa kali mengajaknya ke sana.

Sehun tidak biasa meminum minuman beralkohol, tapi Yoona menyukainya.

Sehun masih mencoba menghubungi Yoona sembari ia masuk ke dalam klub, tetapi yang terjadi malah ia tidak dapat mendengar nada sambung akibat teredam oleh suara dentuman musik DJ yang sangat keras dan memekakkan telinga.

Sehun mengenakan jaket klub basket universitasnya dan ia tampak konyol masuk ke dalam klub malam dengan menggunakan jaket tersebut. Iris pure hazel-nya masih mencari-cari sosok kekasihnya di antara kerumunan orang di dance floor. Butuh waktu cukup lama hingga iris pure hazel-nya menemukan perempuan itu tengah menari bersama seorang laki-laki yang sangat ia kenal.

Xi Luhan.

Sehun ingin beranjak dari tempatnya berdiri untuk menarik perempuan itu, tapi Yoona mendadak melingkarkan kedua tangannya pada leher Luhan lalu mencium bibir laki-laki itu.

Dan, Oh Sehun membeku di tempatnya berdiri.

“Sudah waktunya makan siang. Kau harus menjemput Yoona.” Beritahu Kai berhasil membangunkan Sehun dari lamunannya.

Sehun mengerjapkan matanya beberapa kali. “Ya, aku tahu.” Timpal Sehun pelan, nyaris seperti berbisik.

Yoona mengenakan slashed dress putih milik Alexander Wang dengan scoop neck dan short sleeves. Ia meraih mini bag hitam Yves Saint Laurent miliknya lalu berjalan menuju lemari kayu besar yang berada di sisi ruangan. Ia segera membuka pintu lemarinya, dan ada sebuah brankas berwarna hitam yang berukuran tidak terlalu besar di dalamnya.

Sejenak Yoona memasukkan kode brankasnya lalu akhirnya pintu besi tersebut terbuka. Tidak banyak isinya. Hanya ada sebuah map serta sebuah kotak perhiasan berwarna hitam dengan ukiran emas. Yoona meraih kotak tersebut kemudian dibukanya.

Cincin pernikahannya.

Ide Yoona untuk membeli brankas ini sebenarnya untuk menyimpan berbagai dokumen penting miliknya—bahkan kontrak kerjanya dengan CRTC tidak disimpan di dalam sana olehnya—atau beberapa perhiasan mahal serta uang dengan jumlah cukup banyak. Tetapi, ia berakhir dengan menyimpan surat pernikahan serta cincin pernikahannya dengan Sehun.

Karena ia tersadar bahwa dua hal itu adalah hal terpenting dalam hidupnya dan ia tidak mau kehilangan lagi.

Yoona memakai cincin tersebut di jari manisnya dan menutup kembali pintu brankas serta pintu lemarinya. Sedetik kemudian, ia mendengar suara Sehun.

Laki-laki itu pasti sudah datang.

Sehun segera mengganti bajunya. Ia mengganti formal outfit-nya menjadi knitwear berwarna abu yang ditutupi dengan coat berwarna hitam, serta celana hitam. Ia menarik sebuah laci dari nakas yang berada di dekat ranjang tidurnya dan meraih sebuah kotak hitam beludru berukiran emas.

Ia memandangi sejenak cincin silver tersebut.

Cincin ini sangat indah, bagaimana bisa berakhir di pasangan yang bahkan tidak mengakui pernikahannya? Pikirnya.

Sedetik kemudian, Sehun memakai cincin tersebut di jari manisnya lalu keluar dari kamar. Yoona sudah menunggunya, rupanya. Perempuan itu mengenakan mini dress berwarna putih polos dengan membawa mini bag hitam.

“Kau sudah siap?” Tanya Yoona.

“Ya.” Jawab Sehun singkat.

Sehun langsung masuk ke dalam mobil tanpa berpikiran untuk membukakan Yoona pintu mobil. Ia mengenakan kacamata hitamnya lalu menginjak pedal saat Yoona sudah duduk di sebelahnya. Sangat jarang untuk Yoona dan Sehun duduk berdampingan seperti ini, kecuali jika ada sebuah acara besar dan mereka berdua dituntut untuk berakting sempurna sebagai pasangan suami-istri. Tak ada perbincangan hingga setengah perjalanan, lalu Sehun akhirnya membuka suaranya. “Bagaimana kondisi jantung ayahmu?”

“Membaik. Itu yang dokter katakan,” Jawab Yoona seadanya. “Waeyo?”

“Akan sangat lucu jika aku bertemu dengan ayahmu nanti dan tidak mengetahui kondisinya.” Formalitas. Pikir Sehun. Hal itu harus dilakukannya, bukan? Tidak mungkin ia bersikap acuh kepada Yoona, apalagi kepada mertuanya.

Lalu, kembali hening.

Tidak ada yang memulai pembicaraan lagi hingga mobil Sehun terparkir di dalam garasi rumah Ayah Yoona. Sehun belum mematikan mesin mobil, tetapi Yoona langsung melompat keluar mobil, dan berteriak. “Dad!” Suara perempuan itu melengking dan Sehun terdiam sejenak. Tidak, bukan karena terpukau, tapi lebih ke menakutkan.

Sehun mematikan mesin mobilnya lalu mengganti sepatunya dengan slipper berwarna ungu tua yang berada di rak sepatu dekat pintu masuk.

Annyeonghaseyo, Aboji.” Sehun membungkukkan badannya rendah.

“Sehun-ah.” Dari pada membalas sapaan Sehun, pria itu lebih memilih untuk memeluk Sehun hangat dan mengelus pelan punggung suami dari anak sematawayangnya tersebut.

Untuk sejenak, Sehun membeku di dalam pelukan Ayah Yoona, dan Sehun berharap Ayah Yoona tidak merasakan dirinya yang mendadak menegang. Sehun tersenyum kecil lalu membalas pelukan ayah dari istrinya tersebut. “Bagaimana kabar Aboji? Kudengar kondisi jantung Aboji sudah membaik.”

Ayah Yoona melepaskan pelukannya. “Seperti itulah.”

“Senang mendengarnya, Aboji.” Sehun tetap tersenyum dan mengikuti Yoona serta Ayah Yoona menuju ruang makan. Sudah lama sekali semenjak Sehun tidak pernah menyambangi Ayah Yoona. Well, Sehun memang membenci Im Yoona, tapi tidak kepada ayahnya. Ayah Yoona adalah orang yang sangat baik, dan jika ingin membandingkan Ayah Sehun dan Ayah Yoona, mereka berbanding terbalik.

Ayah Sehun mulai mendidiknya dengan keras sepeninggal ibunya, terutama paksaan untuk menikahi Yoona semakin membuat pandangan Sehun berubah kepada ayahnya. Tapi, ayahnya tetap menjadi ayahnya, bukan? Mereka berbagi darah yang sama dan Sehun tidak bisa mengelak dari fakta tersebut.

“Bagaimana kabar ayahmu, Sehun-ah?” Tanya Ayah Yoona.

“Baik, Aboji. Beberapa hari lalu aku menyempatkan diri untuk mendatanginya, dan Yoona juga membawakan Pie Apel untuknya.” Jawab Sehun. Ia dapat melihat dari ekor matanya bahwa Yoona tengah memandangnya dengan raut wajah terkejut, namun Sehun menolak untuk menolehkan wajahnya.

“Baguslah. Sudah lama aku tidak bertemu dengannya.” Timpal Ayah Yoona lalu terkekeh pelan.

Makan siang mereka dipenuhi dengan tawa dan canda. Beberapa kali Yoona mengungkit cerita masa kecilnya yang berhasil membuat Sehun juga ikut menyunggingkan senyuman atau Ayah Yoona yang bercerita tentang masa mudanya. Tidak, Yoona tidak menceritakan bahwa ia hampir mati kemarin karena obat tidur, atau cerita tersebut bisa berimbas serangan jantung pada ayahnya.

Jika aku memiliki anak, cerita apa yang akan kuberitahu padanya? Perempuan yang sangat kucintai menyelingkuhiku? Atau pernikahan paksaan dengan perempuan yang telah menyelingkuhiku? Pertanyaan tersebut dengan cepat melintas di otak Sehun dan membuat Sehun sedikit terkejut dengan isi pikirannya sendiri.

Ia pasti sudah gila jika berpikiran seperti itu.

Yoona dan Sehun kembali berhasil memerankan pasangan suami-istri paling sempurna abad ini dan Ayah Yoona senang melihatnya.

Yoona tengah membereskan beberapa piring di atas meja makan saat ayahnya memanggil Sehun untuk mengajaknya bergabung dengannya di ruang baca di lantai dua rumahnya. Laki-laki itu melompati beberapa anak tangga dan menyusul ayahnya hingga hilang di balik sebuah pintu cokelat tua.

“Aku akan menyiapkan teh,” Beritahu Yoona pada seorang pelayan di rumahnya. Ia meninggalkan piring-piring tersebut pada pelayannya, dan beranjak ke sisi dapur untuk menyiapkan dua cangkir teh hangat dengan perasan lemon serta makanan ringan rendah kalori. Yoona melangkah menaiki anak tangga dengan sangat hati-hati selagi kedua tangannya membawa sebuah nampan.  Ia memindahkan nampan tersebut ke tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengetuk pintu lalu membukanya. Ayahnya dan Sehun tengah duduk di kursi kayu yang berada di tengah-tengah ruangan yang dinding-dindingnya dipenuhi oleh buku-buku dan keduanya menoleh saat Yoona datang. “Hey, maaf mengganggu. Aku hanya membawa camilan.” Beritahu Yoona.

Yoona masuk ke dalam ruangan tersebut dan akhirnya menaruh nampan tersebut di atas meja di hadapan Sehun serta ayahnya. “Thanks, hon.” Yoona menyadari bahwa Sehun berbicara kepadanya.

“Aku ada di kamarku jika kau mencariku.” Beritahu Yoona pelan lalu segera keluar.

Yoona berpindah dari ruang baca ayahnya, menuju kamarnya yang penuh dengan dekorasi berwarna biru cerah. Oh, astaga, sudah berapa lama ia tidak tidur di kamarnya ini?

Yoona menjatuhkan dirinya ke atas ranjang dan memandang langit-langit kamarnya.

Ia merindukan kamar ini. Ia merindukan rumahnya. Tetapi, kenapa ia selalu merasa pulang saat dirinya bersama Sehun?

Sehun mengetuk pintu kamar Yoona berencana untuk mengajak perempuan itu pulang karena jam hampir menunjukkan pukul tujuh malam. Tapi, tidak ada balasan. Sehun mendorong gagang pintu kamar Yoona dan ternyata pintu tersebut tidak dikunci.

Sehun menemukan Yoona yang tengah tertidur dengan mendengkur halus di atas kasurnya.

Sebenarnya ia tidak tega untuk membangunkan perempuan itu, terutama Dokter Kim menyarankan Yoona untuk istirahat, tetapi mereka harus pulang, bukan?

Sehun melangkahkan kakinya mendekat dan akhirnya berdiri di pinggir ranjang. Ia ingin membangunkan perempuan itu, tetapi matanya tidak sengaja menangkap sebuah buku seperti agenda berwarna pink di atas nakas di antara beberapa buku lainnya yang diberdirikan.

Kening Sehun mengerut. Ia merasa pernah melihat buku tersebut. Tidak ingin menerka-nerka, ia meraih buku tersebut dan duduk di pinggir ranjang Yoona, membelakangi Yoona yang tengah mendekur halus sementara tangannya membalik buku tersebut. Mengurungkan niat untuk membangunkan Yoona.

Milik Im Yoona! Jangan berani-berani menyentuhnya!

Sehun menahan tawanya. Oh, astaga, tentu saja Sehun pernah melihat buku ini. Ini adalah diary milik Yoona saat SMA dan bahkan Sehun tidak diizinkan mengetahui isinya. Kau tahu, tipikal gadis SMA yang masih suka menulis diary—gadis itu adalah Im Yoona.

Sehun tidak berpikir panjang lagi untuk membuka buku tersebut dan mendapatkan biodata Yoona di halaman pertama. Tipikal diary perempuan selalu dibuka dengan biodata mereka. Sehun membalikkan kertas selanjutnya.

 

Diary kali ini dimulai di hari pertamaku menjadi anak SMA. Menyenangkan.

 

Aku mendapatkan teman-teman yang sangat baik, dan mereka mengatakan bahwa aku memiliki kulit yang bagus serta wajah yang sangat cantik.

 

Sehun menahan tawanya dengan telapak tangannya. Well, ini sebenarnya sangat memalukan, tapi Sehun harus mengakui bahwa Im Yoona adalah perempuan tercantik di sekolahnya saat itu.

 

Aku tidak suka dengan para seniorku yang suka menunjukku atau bersiul saat aku lewat di depan mereka. Hey, aku bukan anjing! Jadi jangan bersiul kepadaku!

 

Sehun harus mengakui hal ini lagi—hampir seluruh laki-laki di sekolahnya saat itu mengincar Im Yoona. Dan, tebak, siapa yang berhasil memenangkan hati perempuan itu? Tidak lain dan tidak bukan adalah Oh Sehun. Mengingat fakta tersebut, kupu-kupu di perutnya langsung berterbangan dan membuatnya merasa geli.

 

Aku membenci para senior perempuanku. Mereka membullyku dengan kejam, karena alasan konyol—aku merebut kekasih mereka. Oh, astaga! Bahkan kekasih mereka bukanlah tipeku!

 

Tidak, Sehun tidak tertawa membaca yang satu ini. Ada perasaan kasihan yang mendadak menyelimutinya saat mengingat Yoona dibully oleh para senior perempuannya. Kasus pembullyan tersebut bahkan sampai masuk ke ruang kepala sekolah, dan menjadi sebuah berita besar kala itu.

 

Mom mengunjungiku di Seoul dan mengatakan bahwa dia ingin melihatku dengan seragam SMA secara langsung. Mom terlihat sangat bersemangat.

 

Beberapa temanku akhirnya tahu bahwa aku adalah anak broken home.

 

Apa ada yang salah menjadi anak broken home?

 

Aku ingin meninju muka mereka yang mengejekku karena orangtuaku bercerai!

 

Keahlianku hanya memasak, dan itupun masih sangat di bawah rata-rata. Aku ingin masuk ke sekolah memasak, tapi ayahku menyuruhku untuk melanjutkan bisnis. Sucks.

 

Aku bosan dengan makanan kafetaria, tapi aku harus pergi ke sana untuk melihatnya!

 

Alis Sehun mendadak bertautan. Oh, tunggu. Apa kali ini akan ada pemeran laki-laki lainnya yang ternyata Yoona sukai selama SMA?

 

Aku membawa bekal dan tidak dapat pergi ke kafetaria untuk melihatnya. Jika saja bibi kafetaria memasak makanan lain, aku pasti tidak akan bosan seperti ini dan bisa melihatnya!

 

Fuck every girl who talked about his handsomeness! He’s mine, don’t you see that, bitches?

 

Aku menonton pertandingan basket perdananya hari ini, tetapi sangat disayangkan dia kalah. Tetap semangat, Oh Sehun!❤

 

Sehun tidak dapat menyembunyikan senyumnya yang berkembang begitu besar setelah membaca nama terakhir yang dituliskan Yoona dengan sebuah hati kecil di sebelahnya. Kau tahu, bahkan saat pertandingannya di SMA, Sehun belum berkenalan dengan Yoona. Sehun ingat itu. Mengetahui bahwa perempuan itu tergila-gila lebih dulu kepadanya membuatnya ingin tertawa.

 

Aku sengaja menabraknya di koridor sekolah. Sangat klasik? Tapi, dia membantuku membawakan bukuku dan mengantarku ke kelas! Aku tidak bisa berhenti tersenyum dan memikirkannya selama pelajaran berlangsung. Aku suka matanya!

 

Sehun menggigit bibirnya, tidak membiarkan tawanya pecah begitu saja. Matanya berlinang air mata karena kegelian yang terus menjalar di seluruh tubuhnya. Pertemuannya dengan Yoona memang sangat klasik—mengutip kata Yoona—yaitu dengan tabrakan. Ia memang membantu Yoona membawakan bukunya karena Sehun merasa tidak enak setelah ia pikir ialah yang menabrak perempuan itu—tetapi, ternyata Yoona-lah yang sengaja menabraknya—dan mengantarnya hingga kelasnya karena kelas mereka tidak terlalu jauh.

 

Aku mulai membenci teman kelasku yang mengatakan Oh Sehun sangat menawan setelah dia mengantarku ke kelas. Mereka tidak bisa menutup mulut mereka.

 

Apa aku harus bergabung dengan tim basket perempuan agar bisa berlatih basket bersamanya? Oh, tidak. Aku sangat buruk dalam olahraga, dan aku akan mempermalukan diriku sendiri di depan Oh Sehun karena tidak memiliki skill bermain basket. Aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mendribble bola!

 

Yoona memang sangat buruk dalam olahraga apapun selama SMA—kecuali lari mengelilingi lapangan. Tapi, mendapatkan info dari Kai, perempuan ini sekarang bahkan sudah pro dalam horse riding, Golf, Yoga, renang, dan beberapa hal lainnya. Waktu mengubah Im Yoona.

 

Apa dia gay?! Oh, astaga. Dia bahkan tidak melirikku setelah berbagai usahaku mendekatinya! Apa dia tidak punya hati?! Teman-temanku mengatakan bahwa aku adalah siswi tercantik di sekolah, tetapi kenapa dia tidak melihatku?! Apa aku kurang cantik?

 

Aku benci Oh Sehun karena dia tidak menyukaiku balik!

 

Aku hanya bercanda. Aku masih menyukainya. Dia sangat menawan, dan aku menyukai segalanya tentang dirinya, bukan hanya matanya lagi yang terang saat ia berbicara, atau ulasan senyum yang berhasil membuatku selalu jatuh cinta kepadanya. Segalanya. Tentang. Dia. Aku menyukainya.

 

Sehun terdiam.

Jika saja perempuan itu tahu bahwa Oh Sehun jatuh cinta pada pandangan pertama saat perempuan itu menabraknya. Hanya saja ia adalah tipikal pemalu, dan tidak bisa mengatakan segalanya begitu saja.

Akhirnya Sehun menutup buku tersebut. Sudah cukup, pikirnya. Waktunya pulang kini.

Sehun bangkit dari duduknya lalu mengguncangkan badan Yoona. “Hey, bangunlah. Kita harus pulang.”

Selama perjalanan pulang, Yoona sibuk dengan ponselnya dan menelfon beberapa orang kantornya untuk menyiapkan hal-hal yang diperlukan untuk meeting dengan CRTC pekan ini. Meeting kali ini akan diadakan di gedung perusahaan Yoona, wajar jika perempuan itu harus menyiapkan segalanya dengan sempurna.

“Kau hanya perlu menyuruh sekretarismu untuk menyiapkan berkas-berkasnya.” Beritahu Sehun lalu masuk ke dalam rumahnya.

“Tidak semudah itu,” Timpal Yoona yang masih sibuk dengan ponselnya. “Kita akan menandatangani kontrak baru.”

“Apa?” Raut wajah Sehun tampak terkejut. Oh, Tunggu. Tidak ada satupun orang yang memberitahu hal ini kepadanya.

Yoona akhirnya melepaskan pandangannya dari layar ponselnya dan memandang Sehun, lalu mengangguk. “Ya, kita akan menandatangani kontrak baru. Kontrak yang lama akan direvisi. Kontrak baru ini akan bernilai empat ratus miliar Won. Makan malam di The Lounge itu sebenarnya untuk membicarakan hal ini, tapi kau tiba-tiba datang dan mengubah topik pembicaraan. Kita akan memperbanyak keuntungan yang kita dapat dari pasar.”

“Siapa ‘kita’ yang kaumaksud?” Tanya Sehun seraya melangkahkan kakinya mendekati Yoona, berdiri dekat di hadapan perempuan itu. Yoona terlihat pendek dan mungil jika disandingkan dengan Sehun yang berbadang tinggi tegap serta memiliki broad shoulder.

“Aku, kau, dan Luhan, tentu saja. Siapa lagi?” Tanya balik Yoona.

“Aku tidak pernah ikut dalam pengambilan keputusan untuk merevisi kontrak tersebut.” Elak Sehun.

“Aku mewakili perusahaanku sekaligus perusahaanmu.” Jawab Yoona.

“Perusahaanku tidak bisa diwakilkan oleh siapapun, termasuk dirimu,” Bantah Sehun. Sorot pure hazel-nya mendadak menajam dan menusuk iris madu Yoona. “Aku tidak akan menandatangani kontrak apapun. Kita akan tetap menjalankan kontrak yang lama sesuai ketentuan yang berlaku.”

Yoona memandang Sehun tidak percaya. Laki-laki itu sangat egois dan keras kepala. “Ini demi perusahaan kita, mengapa kau masih berpikiran sempit? Kontrak ini bisa membesarkan nama perusahaan kita, Sehun.”

“Dan juga CRTC.” Sehun menambahkan dengan tidak sabar.

Yoona menghela nafas dan akhirnya mengalihkan pandangannya. “Kontrak ini akan tetap direvisi.”

“Aku tidak akan menandatanginya. Itu adalah keputusan final-ku.”

“Oh, astaga! Ini bahkan demi perusahaanmu juga, Sehun! Apa kau tidak sadar?!” Yoona tidak tahan lagi untuk membendung amarahnya yang sudah meluap.

“Ini bukan demi perusahaan kita. Ini demi CRTC.”

Yoona mendengus kasar. “Ini tidak ada hubungannya dengan CRTC.”

“Tentu saja ada! Partner-mu adalah CRTC! Kau akan mendukung rencana bodoh ini untuk memperbesar harga kontrak menjadi empat ratus miliar dengan penalty 1.2 Triliun Won?! Apa kau gila?!” Kini giliran Sehun yang membentak keras. Suaranya terdengar lebih kasar, lebih seram, dan lebih mencengkram ketimbang suara Yoona.

Permainan mereka kotor dan berbahaya. Pimpinan mereka hampir saja membunuhmu.

“Aku menyetujuinya karena itu akan menambah keuntungan kita di pasar, Sehun!”

“Keuntungan apa? Keuntungan bagi CRTC? Kau sungguh berniat membuat Luhan-mu semakin kaya raya. Pertama, kau menyuruhku untuk menandatangani kontrak tiga ratus miliar Won dengan CRTC, dan sekarang kau menyuruhku untuk menandatangani kontrak revisi.”

“Kau keluar dari topik yang kita bicarakan.” Sergah Yoona cepat.

“Apa Luhan berjanji akan memberikan sebagian hartanya kepadamu jika kau berhasil membuatnya semakin kaya raya, Im Yoona-ssi?” Pertanyaan tersebut keluar dari mulut Sehun seperti bisa ular. Pertanyaan Sehun tidak kunjung dijawab oleh Yoona, membuat Sehun kembali membuka mulutnya. “Wajar jika saat itu kau berselingkuh dengannya.”

“Memang benar aku berselingkuh dengannya! Aku menyelingkuhimu, dan itu memang benar. Aku memilih Luhan ketimbang dirimu, dan itu memang benar. Kau ingin aku merasa tersudut setiap kali kau mengungkit kejadian itu? Kau salah besar, Sehun. Itu tidak berefek apapun kepadaku.” Rentetan kata-kata itu entah bagaimana bisa berhasil menghujam jantung Sehun. Kejadian tersebut sudah berlangsung sangat lama, tetapi Sehun masih dapat merasakan pengkhianatan yang dilakukan oleh Yoona kepadanya.

Sehun tersadar bahwa tidak seharusnya ia menyelamatkan perempuan itu. Ya, seharusnya ia tidak melakukan hal itu.

“Bagus jika kau mengakuinya.”

“Ya, karena aku tidak seperti dirimu yang berselingkuh lebih dulu dengan Son Naeun.” Kalimat tersebut keluar dari mulut Yoona begitu tajam dengan tatapan menusuk iris pure hazel Sehun.

Sehun terdiam mendengar ucapan Yoona. Matanya membulat dan nafasnya tertahan di dada.

Waeyo, Sehun-ssi? Kau pikir aku tidak tahu tentang perselingkuhanmu dengan Son Naeun—adik tingkat kesayanganmu di Chicago itu?” Yoona tertawa hambar. “Kau pikir aku bodoh? Kau salah besar. Aku tahu segalanya, Sehun. Everything about you and her.”

Sehun masih belum bisa bereaksi apapun. Ia hanya berdiri di sana, membeku, dengan Yoona yang terus menghujamnya dengan masa lalu kelam mereka. Alasan-alasan mengapa hubungan mereka tidak berhasil kala dulu.

“Kenapa kau diam saja?” Tanya Yoona lagi. “Kau tidak menyangka bahwa aku mengetahuinya? Poor our little Sehunnie. Kau pasti terkejut karena istrimu ini ternyata mengetahui perselingkuhanmu sejak lama, itu mengapa dia juga berselingkuh dengan sahabat terbaikmu untuk membalas dendamnya.”

“Ingatlah, Sehun-ssi. Kau yang memulai perang ini, bukan aku.” Yoona meninggalkan Sehun begitu saja. Sehun masih berdiri membeku tidak dapat bergerak bahkan setelah Yoona meninggalkannya masuk ke dalam kamar.

Yoona menamparnya dengan sangat keras kali ini.

to be continued.

Author’s Note:
Hai! Semoga kalian tetep suka ya🙂 Tapi kayanya di Chapter kali ini alurnya terlalu cepet. Don’t forget to comment guys❤

12 thoughts on “Irresistible (Chapt. V)

  1. Ooo… Jadi Sehun yg selingkuh duluan? Trus dia bersikap seolah-olah dia yg paling tersakiti. Jahat banget sih.
    But, aku berharap, setelah ini sehun mau sadar dan coba untuk perbaiki hubungan mereka. Next ya.

  2. Jadi sehun selingkuh duluan. Kayaknya ada kesalah pahaman atau emang kenyataan ya saling selingkuh gitu. Harusnya sehun baca diary yoona sampai selsesai pasti disitu juga ada alesan kenapa yoona selingkuh sama luhan. Uuuuu😂 keep writing~

  3. Pingback: Irresistible (Chapt. VI) – Im Yoona Fiction

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s