One Day In My Life With You

CYMERA_20160423_134921

One Day In My Life With You

Written by IsaacJ

Poster by IsaacJ

Cast: Yoona| Ben Whishaw

Support cast: cari sendiri.

Genre: Drama-Romance.

Rated: 13+

 

Siang hari, di dalam perjalanan kereta Eurail yang panjang, menelusuri eropa. Di dalam sejumlah penumpang melakukan aktivitasnya masing-masing. Ada yang tidur, membaca, dan memandang keluar jendela, melihat pemandangan pegunungan eropa. Beberapa berdiri dan duduk di antara deretan tempat duduk.

Sofie, wanita muda di usia pertengahan dua puluhan, sedang asik membaca Georges Bataill, story of the eye. Dengan menarik, dia menurunkannya. Tanpa make up, rambut hitam panjang yang digerai,mengenakan vintage dress, dan sepatu flat. Dia lanjutkan membaca, sambil mengambil sebuah coklat.

Tengah duduk empat jajaran di belakangnya dan di sisi lain di antara deretan tempat duduk. Johny, seorang pria muda dua puluhan akhir. Sedang membaca memoar Klaus Kinski, All i need is love. Casual, tampan tapi sedikit acak-acakan. Dia memakai jeans dan T-shirt. Tiba-tiba sepasang suami istri kisaran empat puluhan tahun, duduk bersebelahan tepat di belakang Sofie. Keduanya mulai saling berteriak satu sama lain dalam bahasa Jerman. Si istri mengayunkan sebuah pukulan ke arah koran si suami yang menutupinya dari belakang.

“Bisakah kau taruh koran sialan itu dan mulai dengarkan aku?” Kata si istri.

“Bisakah tunggu tiga menit lagi? Bisakah kau diam dan tutup mulutmu? Kata si suami ketus.

“Kau yang diam! Beraninya kau menyuruhku tutup mulut! Itu hal yang menyebalkan yang sama yang selalu berulang-ulang! Aku heran…” si istri tak kalah ketus.

“Aku bilang diam! Aku turunkan koranku dan memintamu untuk diam.” Kata si suami.

Tiba-tiba Sofie berdiri, mengambil tasnya dan melihat ke tempat lain. Sebuah jajaran tempat di belakang dia menemukan sebuah tempat duduk di seberang di antara jajaran tempat duduk dari johny. Sebelum duduk keduanya saling kontak mata singkat, dan menganggukkan kepala mereka dan tersenyum kaku. Sofie hanya duduk dan kembali pada bukunya.

Si istri berdiri dan berjalan menelusuri gang di antara jejeran tempat duduk. Johny dan sofie mengikutinya dengan mata mereka, dan dia menghentikan mereka. Keduanya saling menatap satu sama lain. Wajah Johny berubah kikuk “uh-oh”

“Apakah kau mengerti apa yang mereka perdebatkan? Apakah kau bisa berbahasa inggris?” Tanya Johny.

“Ya, tapi tidak. Aku tidak tahu. Bahasa jermanku tidak bagus. Pernahkah kau mendengar bahwa menjadi pasangan yang sudah tua akan kehilangan perhatian mereka untuk saling mendengarkan satu sama lain?” Kata Sofie.

“Benarkah? ” kata Johny heran.

“Khususnya pria akan kehilangan perhatian mereka untuk mendengar suara keras dan perempuan akan kehilangan pendengaran pada suara rendah. Aku rasa mereka cepat menyelesaikan satu sama lain atau apalah.” Jelas Sofie.

“Pasti seleksi alamlah yang menjadikan pasangan untuk hidup bersama dan tidak saling membunuh, kurasa.” Kata Johny.

Sebuah momen canggung di mana mereka tidak tahu haruskah mereka melanjutkan pembicaraan atau tidak. Sofie mengambil bukunya lagi. Tapi Johny tetap melihat padanya.

“Apa yang sedang kau baca?” Tanya Johny lanjut.

Sofie memperlihatkan sampul bukunya, jadi Johny bisa melihat judulnya.

“Bagaimana denganmu?” Tanya Sofie.

Johny juga memperlihatkan sampul bukunya.

“Bukankah,di kereta ini banyak orang aneh? Minggu terakhir dari perjalananku ke italia. Aku sedang duduk dan berbicara dengan empat orang di dalam Lounge car dan kemudian keluar, ada tiga dari mereka membunuh seseorang.” Kata Sofie.

“Tak mungkin.” Kata Johny.

“Benar, seorang veteran perang, yang satu pernah membunuh pacarnya, dan yang satunya karena kecelakaan mobil.” Terang Sofie.

“Jadi, hanya kau orang yang tidak membunuh pacarnya.” Kata Johny bingung.

“Tidak, aku salah satu dari mereka. Pilihlah salah satu yang kau pikirkan?” Kata Sofie.

Sofie tersenyum, dan Johny mulai memahami.

“Aku mengerti maksudmu. Jika aku bertemu beberapa orang aneh, di mana orang inggris ini duduk berseberangan dariku. Di lain hari orang tersebut beranjak dari tempat duduknya, lalu berteriak tentang bagaimana seharusnya kita bergabung bersama dan menghentikan kereta. Dia berkata, “hai semua, sekarang kita bisa menghentikan teknologi, semua bersama-sama …” kata Johny.

“Terus, apa yang terjadi?” Tanya Sofie penasaran.

“Dan kau tahu, aku dan beberapa penumpang mencobanya. Tapi, kami tidak bisa menghentikan teknologi.” Kata Johny.

Si istri yang menelusuri kereta tiba-tiba kembali, dan pembicaraan terhenti di antara keduanya.

“Aku kepikiran ke Lounge car,  kau mau ikut?” Lanjut Johny.

“Boleh juga.” Jawab Sofie.

Mereka beranjak dari tempat duduk mereka dan berjalan ke arah pintu Lounge car. Johny membuka pintu dan pintu terbuka. Dia mengulurkan tangannya kepada Sofie.

“Ah, aku Johny. Sebenarnya John, tapi sepanjang hidupku orang-orang memanggilku Johny.” Kata Johny.

“Jadi namamu Johny John?” Kata Sofie bingung.

“Tidak, hanya Johny.” Jelas Johny.

“Sofie.” Kata Sofie.

Mereka masuk ke Lounge car. Sofie masuk terlebih dahulu kemudian disusul Johny di belakangnya.

Di dalam Lounge car mereka duduk, makan snack dan minum.

“Bagaimana kau bisa berbahasa inggris dengan baik?” Tanya Johny.

“Aku ingin sekolah di Los Angeles musim panas ini, dan aku akan beberapa waktu di London. Terus, bagaimana kau bisa berbahasa inggris dengan baik?” Kata Sofie.

“Aku orang Amerika.” Jawab Johny.

“Aku tahu, aku hanya bercanda. Aku tahu kau orang Amerika dan tentu kau tidak berbicara bahasa lain.” Kata Sofie.

“Yeah, aku si bodoh, orang Amerika yang vulgar yang tidak punya budaya. Tapi aku belajar. Aku ingin kau tahu, aku pernah belajar bahasa perancis empat tahun. Aku berusaha. Ketika aku di Paris, aku berdiri di metro. Lalu aku bertanya pada seorang wanita “un billet , s’il vous plait.” Kata Johny.

“Un billet, s’il vous plait.” Kemudian aku berdiri menuju jendela loket. Aku melihat ke seorang wanita dan aku tak tahu harus berkata apa lagi “uh, uh aku butuh tiket Subway.” Dan tidak ada lagi bahasa perancis untukku.” Lanjut Johny, ” jadi, kemana kau menuju? ” tanya Johny buru-buru.

“Kembali ke paris, kelasku mulai minggu depan.” Jawab Sofie.

“Di mana sekolahmu?” Tanya Johny.

“La Sorbonne, kau tahu?” Kata Sofie.

“Tentu, tapi kenapa kau di Italia?” Tanya Johny lagi.

“Ya, aku mengunjungi nenek angkatku.” Jawab Sofie.

“Bagaimana dia? ” tanya Johny.

“Dia baik, bagaimana denganmu-kemana kau akan pergi? ” tanya Sofie.

“Vienna.” Jawab Johny.

“Di mana itu? ” tanya Sofie.

“Aku tidak tahu, aku terbang dari sana besok pagi.” Jawab Johny.

“Kau sedang liburan?” Tanya Sofie penasaran.

“Aku tidak tahu apa yang sedang aku lakukan, aku hanya melakukan perjalanan dua atau tiga minggu.” Jelas Johny.

“Apa kau mengunjungi teman, atau hanya berjalan menurut kemauanmu?” Tanya Sofie.

“Aku mengunjungi seorang temanku di Madrid untuk beberapa hal. Tapi sebenarnya aku hanya…(sambil berpikir )…aku dapat tempat duduk di Eurail dan kau tahu, tertarik untuk melakukan perjalanan? Kau akan mendapatkan ini semua pada waktu kau mengarah ke tempat tujuanmu. Kau lihat ke sekelilingmu, tak pernah yakin, apa yang kau harapkan. Kau berhenti di tempat dan berharap sesuatu hal yang lebih baik.” Jelas Johny.

“Seperti bersiap ke sebuah pesta, pergi ke sana, dan tertidur. Itu kenapa ketika aku berpergian aku pikir aku terdesak oleh diriku sendiri. Tidak mengharapkan apapun, darimana atau dari siapapun. Dan kemudian apapun yang terjadi adalah kejutan. Sangat tidak masuk akal bisa menjadi subjek menarik tanpa akhir, bukankah begitu?” Kata Sofie.

“Itulah kenapa aku senang bepergian. Kau bisa duduk, berbincang dengan seseorang yang menarik, melihat sesuatu yang indah, membaca buku yang bagus, dan itu cukup untuk mengisi sebuah hari yang baik. Kau lakukan itu di rumah dan orang-orang akan berpikiran kau seorang pemalas.” Kata Johny.

“Aku suka pikiran semacam itu, tapi itu seperti penulis Amerika favoritku. Dia mengambarkan semua hal yang tidak akan diselesaikan dalam hidup dan kau tidak bisa berhenti membaca. Hidup yang membosankan.” Kata Sofie.

“Kau belajar apa?” Tanya Johny.

“Literatur, tapi aku belum menentukan apa yang ingin aku lakukan.” Jawab Sofie.

“Kau ingin menulis? ” kata Johny.

“Ya, tapi … (berpikir sejenak) …aku terobsesi ini beberapa tahun yang lalu. Membuat sebuah bentuk ekspresi yang baru. Tentu saja, itu abstrak. Tapi berpikir semua bentuk seni sama, khususnya menghapus kata. Mereka terlihat bingung dan kotor, dan mereka hanya akan digunakan untuk para iblis. Kadang-kadang, kau tahu. Bahasa sangat terbatas,seperti jika kau berpikir tentang itu.” Kata Sofie.

Sofie menggerakkan tangannya dan memutarnya.

“Ini adalah pengalaman mental individu dan persepsi dan…( dia menggerakkan ke dua tangannya dan membentuk sebuah lingkaran kecil)…ini adalah seberapa banyak bahasa bisa cukup berekspresi, kita hanya tidak punya kata-kata untuk begitu banyak impresi yang kita punya.” Kata Sofie menjelaskan.

Sofie meletakkan tangannya dan menggerakkannya membentuk lingkaran yang lebih besar.

“Banyak hidup kita, tidak pernah tersambung untuk mengekspresikan ke orang-orang.” Lanjut Sofie.

Mereka duduk di sana untuk momen yang panjang. Menanti kata-kata yang tepat untuk disampaikan. Tiba-tiba Johny tersenyum dan mulai bercanda.

“Aku pikir …hanya itu yang bisa berkomunikasi dengan baik denganmu.” Kata Johny.

Mereka berdua tertawa.

“Benar, pikir. Dasarnya aku setuju denganmu. Dan mungkin itu adalah wajah menyedihkan dari kehidupan. Tapi, itu tidak terlalu membingungkanku. Kupikir itu kekurangan komunikasi frustasi wanita daripada pria.” Lanjut Johny.

“Ya, karena pria konten sempurna yang duduk di depan TV sepanjang hari, minum bir, dan menonton siaran olah raga.” Kata Sofie.

“Ya, itu benar. Tapi kau pernah melakukannya? Aku pernah melakukannya suatu kali dengan seorang temanku. Minum beberapa bir, makan chips, dan menonton pertandingan. Itu adalah pertama kalinya aku mencoba bersenang-senang. Di beberapa level itu seperti menusuk kepalamu ke dalam pasir. Tapi pada yang lain, aku pikir harus direncanakan persiapan.” Kata Johny.

“Aku sebenarnya setuju denganmu. Seperti, olah raga. Suatu kali ketika pria mencoba objek bodoh …aku bercanda. Kau tidak menceritakanku apa yang kau lakukan. Apa kau masih sekolah?” Kata Sofie.

“Aku tidak pernah lulus dari perguruan tinggi.” Jawab Johny.

“Apakah kau bekerja?” Tanya Sofie, rasa keingintahuannya terusik lagi.

“Aku punya sebuah pekerjaan bodoh seperti yang lainnya.” Jawab Johny.

“Membosankan? Kau tidak bahagia?” Kata Sofie.

“Tidak, itu hanya pekerjaan sampingan. Aku tidak terlalu baik melakukannya.” Jawab Johny.

“Pekerjaan apa itu? ” tanya Sofie, lagi.

“Aku menulis untuk sebuah koran. The fort worth star – telegram. Dan terlalu banyak melakukan hal kreatif di sana. Jadi tak apa.” Jelas Johny.

“Jadi kau menulis?” Tanya Sofie.

“Ya, semacam itulah.” Kata Johny.

“Jadi perjalanan ini akan jadi hal yang baik bagimu?” Tanya Sofie.

“Ya, maksudku. Di satu level itu menyebalkan. Tapi, duduk di kereta dan mulai melihat keluar jendela untuk beberapa hari, sebenarnya jadi hal yang luar biasa.” Kata Johny.

“Apa maksudmu?” Tanya Sofie bingung.

“Aku tidak punya ide, mungkin aku tidak pernah mau mencoba hal lain. Bisakah aku memberi tahumu tentang sesuatu hal?” Kata Johny.

“Ya.” Kata Sofie.

“Beberapa temanku di sini adalah produser TV kabel, kau tahu. Orang yang bisa memproduksi sebuah program, dan mereka mempertontonkannya. Aku benar-benar cemburu dengan itu. Aku membayangkan sebuah acara. Aku ingin membuatnya akhir tahun, dua puluh empat jam setiap hari. Aku ingin 365 perbedaan produksi video perjalanan dunia. Untuk yang lainnya membuat dua puluh empat jam dokumentasi kehidupan nyata mereka. Dari mereka bangun, mandi, minum kopi, dan membaca koran dua puluh menit, lalu perjalanan panjang untuk bekerja.” Jelas Johny.

“Maksudmu semua hal membosankan yang setiap orang lakukan setiap hari?” Kata Sofie.

“Yang ingin aku katakan adalah puisi hari demi hari.” Kata Johny.

“Maksudku, kenapa anjingmu begitu hebat. Hanya tiduran di bawah sinar matahari? Dan seorang pria mengambil uang dari ATM?” Kata Johny.

“Terus, kau bisa tayangkan di TV di setiap waktu seharian dan melihat orang lain lakukan di waktu yang bersamaan?” Kata Sofie.

“Betul, seperti kehidupan paralel.” Kata Johny.

“Keren, aku pernah tinggal di sebuah apartemen besar bersama temanku. Dan kami bisa melihat sepuluh apartemen lain. Dari jendela. Aku bisa mematikan lampu, duduk di jendela, dan melihat mereka duduk di atas sebuah sofa dan tidak melakukan apa-apa. Itu sangat menarik.” Kata Sofie tertarik.

“Itu triknya, hidup bukan hanya tentang drama. Yang kita lakukan semua sama-sama bualan. Seperti pergi ke beberapa pasar di Arabia adalah sama seperti pergi ke Kmart di Miami. Setiap orang punya kehidupan yang menarik dan ada dari mereka tidak punya. Maksudku, kita semua perpakaian, punya anak, dapat lisensi mengemudi, terhanyut dalam hiburan, terhanyut dalam sex, rutinitas, mabuk, beli hadiah untuk seseorang yang tidak sangat kau sukai, kau merasa bersalah tidak menyukai mereka, terus kau simpan terlalu banyak uang.” Terang Johny.

“Itu seperti National Geographic.” Kata Sofie.

“Tepat sekali.” Kata Johny.

“Aku mengerti, dua puluh empat jam membosankan. Dan tiga menit adegan sex di mana dia tertidur setelahnya.” Kata Sofie.

“Tepat, dan itu seharusnya jadi episode yang menarik. Mungkin kau dan teman-temanmu bisa lakukan suatu episode dari Paris. Kunci untuk membuat pekerjaan itu akan di pasarkan. Ambil rekaman dari kota ke kota. Tapi, itu akan di mainkan tersambung dua puluh empat jam untuk setiap tahun di chanel seluruh dunia.” Kata Johny.

Pelayan akhirnya datang dan memberikan mereka menu.

Akhir siang menjelang sore di dalam Lounge car. Beberapa waktu telah berlalu, mereka telah memilki piring kotor di depan mereka. Tampaknya mereka merasa lebih nyaman satu sama lain. Sedikit lebih intim.

“Orangtuaku tidak pernah membicarakan aku jatuh cinta atau menikah atau memiliki anak. Bahkan sebagai gadis kecil, mereka ingin aku berpikir tentang karir di masa depan sebagai penyiar TV, atau dokter gigi, atau semacamnya.” Kata Sofie.

“Penyiar wanita…” kata John, tersenyum.

“Ya, aku katakan pada ayahku, aku ingin jadi penulis dan dia berkata wartawan. Aku ingin jadi pelindung kucing liar, dia berkata dokter hewan. Aku ingin jadi aktris, dia berkata penyiar TV.” Kata Sofie.

“Orang tua hanya ingin kau punya karir bagus, sehingga mereka bisa menceritakan kepada teman-teman mereka sesuatu yang menarik.” Kata Johny. (Dia menambahkan)

“Dulu aku punya detektor omong kosong yang cukup baik ketika masih kecil. Aku selalu tahu ketika mereka berbohong kepadaku. Pada saat aku SMA, aku matikan itu. Dan mulai mendengarkan orang apa yang harus aku lakukan dengan hidupku. Dan kemudian secara sistematis melakukan kebalikannya. Mereka tidak benar-benar serius tentang hal itu. Semua terdengar seperti ambisi khas mereka.” Kata Johny.

“Sehingga biasa-biasa saja kau mempunyai orangtua yang tidak pernah bertentangan dengan apapun yang kau ingin lakukan dan pada dasarnya bagus dan mendukung. Jadi sulit untuk mengeluh.bahkan ketika mereka salah. Inilah agresif pasif, aku tak tahan dengan omong kosong ini.” Kata Sofie.

Johny menuangkan air sedikit dan memasukan beberapa es.

“Ya, tapi meskipun banyak omong kosong. Aku masih ingat ketika anak-anak. Ibuku menjelaskan kematian kepadaku, dan menceritakan tentang nenekku yang hidup di Florida telah meninggal. Seluruh keluarga mengunjunginya. Usiaku sekitar tiga setengah tahun. Lagi pula aku sedang bermain di halaman belakang. Dan kakakku mengajariku bagaimana membuat pelangi buatan dengan menyemprotkan selang taman ke arah matahari,.dan melihat pelangi. Aku menyemprotkan dan melalui kabut aku bisa melihat nenek buyutku berdiri di sana, hanya tersenyum menatapku. Aku sedang di posisi memegang selang dalam waktu yang lama, dan menatapnya. Akhirnya aku memanggil ibuku, dan ibuku datang.” Kata Johny. Dia melanjutkan.

“Orangtuaku memberi pengertian kepadaku. Bagaimana orang yang telah meninggal, kau tidak akan pernah melihat mereka lagi. Tapi, aku tahu apa yang kulihat. Meskipun aku belum pernah lagi melihat sesuatu yang seperti itu lagi, sejak itu. Aku tidak terlalu takut.” Kata Johny.

“Itu bagus, kau memikirkan kematian. Aku pikir aku takut mati dua puluh empat jam sehari. Itulah sebabnya aku naik kereta, sedangkan aku bisa ke Paris menggunakan pesawat. Aku hanya takut terbang, meskipun secara statistik mengatakan itu lebih aman. Itu tidak dapat membantuku, ketika aku duduk di pesawat, aku membayangkan ledakan, lalu aku jatuh melalui awan. Aku sangat takut, beberapa detik sadar sebelum akhirnya meninggal. Maksudku, ketika kau tahu pasti kau akan mati, lalu tak dapat mengantisipasi hal yang terburuk.” Kata Sofie.

Terlihat dari luar jendela, kereta masuk menuju Vienna.

“Sudah sampai Vienna, kau turun di sini?” Tanya Sofie.

“Aku berharap, aku bertemu denganmu sebelumnya. Aku sangat senang ngobrol dengamu.” Kata Johny.

“Aku juga senang mengobrol denganmu.” Balas Sofie.

“Aku belum berbicara dengan siapapun selama berminggu-minggu.” Kata Johny.

Menjelang sore, di stasiun kereta. Kereta datang dan akhirnya berhenti. Pintu-pintu terbuka dan kemudian orang-orang turun dan naik.

Di dalam Lounge car, dengan senyum tipis, Johny melihat dalam-dalam pada Sofie.

“Aku sadar aku punya pikiran gila. Jika aku tidak tanyakan ini, itu akan menjadi sesuatu hal yang akan terus menghantuiku selamanya.” Kata Johny.

“Apa?” Tanya Sofie penasaran.

Johny hanya memandangnya sedikit nervous dan tidak bisa mengatakannya. Sofie benar-benar penasaran dan ingin tahu, pada apa yang Johny ingin lakukan.

“Apa?” Tanya Sofie, lanjut.

“Aku ingin tetap mengobrol denganmu. Maksudku, aku tak ada ide apa situasimu, tapi aku merasa ada semacam … kesambungan.” Kata Johny.

“Ya, aku juga.” Kata Sofie.

“Terus, bagaimana dengan ini. Ok, baiklah …aku ingin kau pergi denganku di Vienna. Kita bisa berkeliling kota.” Kata Johny.

Sofie tersenyum pada pikirannya. Tapi, tidak terlalu yakin.

“Jadi apa yang harus kita lakukan?” Tanya Sofie.

“Aku tidak tahu, yang aku tahu adalah aku harus naik pesawat Austria Airlines pada pukul setengah sepuluh besok pagi. Dan aku tidak bisa pesan sebuah hotel dan kita mungkin bisa hanya berjalan-jalan sepanjang malam. Jika aku berubah jadi seorang psycho, kau bisa memukulku kapanpun dan naik kereta selanjutnya, ok?” Kata Johny.

Sofie masih berpikir tapi tidak merespon pikirannya sendiri.

“Pikir seperti ini, loncat ke sepuluh, dua puluh tahun. Pernikahanmu tidak ada energi lagi. Kau mulai menyalahkan suamimu. Kau berpikir semua pria yang kau temui semuanya sama tidak ada bedanya. Jika kau memilih salah satu dari mereka. Terus, aku salah satu dari mereka. Kau bisa mempertimbangkan perjalanan ini. Untuk melihat apa yang hilang. Dengar, ini sungguh sebuah oleh-oleh yang besar untuk berdua, kau dan suamimu di masa depan. Ini adalah kesempatan untuk melihat betapa kau tidak akan kehilangan apapun. Aku hanya bosan dan terpuruk sebagai dia, tak tertolong lagi.” Jelas Johny.

Sofie tersenyum sedikit. Merenungkan situasinya. Dan kemudian mengambilnya.

“Aku tidak yakin jika aku dapatkan semua kisahnya, tapi aku akan ambil tasku.” Kata Sofie.

Menjelang sore, di stasiun kereta. Johny turun dari kereta dengan tas di tangannya dan mulai berjalan. Tidak sepenuhnya yakin Sofie tepat di belakang kanannya. Sofie sedikit ragu dan berhenti di lantai atas. Setelah  berani melirik punggung belakang Johny, Sofie terlihat mulai merasa nyaman.

Menjelang petang, di stasiun kereta. Di dalam sibuknya lobi stasiun kereta, mereka berhenti berganti mesin dan menukarkan mata uang.

Masih di stasiun kereta, Johny selesai meletakkan barang bawaanya di dalam sebuah loker. Sofie membuka sebuah loker dan meletakkan tas miliknya di dalam loker.

“Kau tahu, apa yang membuatku berpikir apa?” Kata Sofie.

“Apa?” Tanya Johny.

“Semua orang mengira kau berani memotong, mungkin membuat kontak mata, dan jalan dengan.” Kata Sofie.

“Ya, kita lakukan saja. Sekarang ini seperti …” kata Johny. Terputus.

“Terserah apa yang terjadi, kita sudah bertemu.” Kata Sofie

Johny hanya tersenyum dan menawarkan tangan terbukanya. Sofie memberikan tangannya pada tangan Johny dan pelan-pelan menggengam dan sebuah tarikan kecil terhadap keduanya.

“Inilah yang kita lakukan.” Kata Johny.

Di jembatan. Berjalan menelusuri dalam diam, dan tenang. Mereka berdua mengamati di sekeliling mereka dan akhirnya saling memandang satu sama lain. Benar-benar merealisasikan apa yang mereka lakukan untuk satu sama lain di beberapa jalan yang aneh. Di mana ada kesunyian yang canggung.

“Ini benar-benar perasaan yang aneh. Ketika kita ngobrol di kereta. Itu kita di tengah keramaian di sini di mana banyak orang di sekitar kita. Sekarang kita benar-benar berjalan mengelilingi Vienna, ini seperti kita hanya sendiri.” Kata Sofie.

“Aku tahu, perasaan sedikit canggung. Aku tak yakin apa yang harus. Kita lakukan.” Kata Johny.

Dia meletakkan tangan Sofie ke atas pundaknya dan memandanginya.

“Tapi ini tak apa, pikir, benarkan?” Kata Johny sambil memandang Sofie.

“Ya, ini hebat. Ayo pergi ke suatu tempat. Lihat di buku kecilmu.” Kata Sofie.

Johny menarik sebuah map kecil dan mulai melihat-lihatnya.

“Bagus, baiklah. Kita di Vienna dan kita pergi ke tempat-tempat.” Kata Johny.

Kemudian lewat dua orang lokal, Alex dan Sebastian. Berjalan melewati mereka. Johny menghentikan mereka.

“Permisi, sprechen sie english?” Tanya Johny.

“Ya, tentu.” Kata Alex.

“Bisakah kau yang ganti berbicara bahasa Jerman?” Kata Sebastian.

“Apa?” Tanya Johny bingung.

“Cuman bercanda.” Kata Sebastian.

Sebastian memandang Alex, saling pandang.

“Kami hanya ke Vienna dan kami mencari sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan…” kata Johny.

“Apakah di sini ada beberapa museum yang bisa kami kunjungi atau selainnya?” Tanya Sofie.

“Museum tidak terlalu menyenangkan hari ini.” Kata Sebastian.

Alex melihat jam tangannya.

“Dan museum sudah tutup sekarang, ngomong-ngomong. Berapa lama kalian akan di sini? Tanya Alex.

“Hanya malam ini.” Jawab Johny.

“Kenapa kalian datang ke Vienna? Apa yang kalian harapkan?” Tanya Sebastian.

“Kami sedang bulan madu …” jawab Sofie.

“Ya, dia sedang hamil. Jadi kami memutuskan menikah.” Kata Johny berbohong.

“Aku tidak percaya pada kalian. Kalian tidak pandai berbohong.” Kata Sebastian.

Sofie dan Johny tertawa melihat Alex dan Sebastian berbicara dalam bahasa Jerman di antara diri mereka.

“Apa kau punya undangan?” Tanya Sebastian.

“Ya, aku akan beri mereka satu.” Jawab Alex.

Alex merogoh sakunya dan memberikan sebuah undangan kepada mereka.

“Ini adalah sebuah pertunjukan yang kami berdua mainkan, kami senang kalian mau datang.” Kata Sebastian.

“Apakah kalian aktor?” Tanya Sofie.

“Bukan aktor profesional, hanya pekerjaan paruh waktu untuk kesenangan saja.” Jawab Sebastian.

“Itu sebuah pertunjukan tentang seekor sapi, dan seorang indian yang mencarinya. Juga ada politisi, orang mexico, orang Rusia …” terang Alex.

“Kalian punya sapi betulan di atas panggung?” Tanya Johny.

“Bukan sapi betulan, itu hanya aktor yang memakai kostum sapi.” Jelas Sebastian.

“Dan dia sapinya.” Kata Alex menujuk ke arah Sebastian.

“Ya, aku sapinya. Tapi itu seekor sapi yang aneh.” Kata Sebastian.

“Aktingnya sedikit kaku…akting seperti seekor anjing. Jika seseorang melempar stick, dia mengambilnya. Dia juga merokok, dengan kukunya.” Kata Sebastian.

Dia menunjukan bagaimana seorang merokok dengan kukunya..Alex akhirnya menaruh undangan.

“Alamat yang ada di undangan. Itu ada di distrik ke dua …” kata Alex.

“Dekat Prater…”kata Sebastian

“Ya, tempat di mana kincir ria.” Kata Alex.

“Kincir ria setiap orang tahu…” kata Sebastian.

” mungkin kalian bisa pergi ke Prater sebelum pertunjukan.” Kata Alex.

“Lalu apa nama pertunjuknya?” Tanya Johny.

“Bawakan Kami Tanduk Sapi Wilmington.” Kata Alex dan Sebastian bersamaan.

“Kedengarannya hebat.” Kata Johny.

“Keren.” Kata Sofie.

Sebastian menaruh jarinya sebagai penunjuk dengan memimpin. Mereka mulai berjalan.

“Aku si sapi. ..dan kalian akan ke sana? ” tanya Sebastian.

“Kami akan mencobanya.” Kata Johny.

Sore hari. Di antara dua museum. Mereka duduk di atas sebuah bangku dekat sebuah patung. Melihat bangunan bersejarah.

“Lihat ini-ini indah. Maksudku, bisakah kau bayangkan seorang arsitek amerika berkata, “hey, Bob, aku dapat ide. Kenapa kita tidak meletakkan patung malaikat besar di atas gedung agar orang-orang bisa melihat sesuatu yang terlihat indah.” Mungkin semacam itu, tapi sebelum terlalu panjang jadinya “maaf, Hank, bos bilang tidak apa-apa di atas malaikat raksasa. Dia berpikir lebih panjang segaris sebuah ruang bendera.” Kata Johny.

“Orang Amerika selalu berpikir Eropa adalah sempurna. Tapi, banyak keindahan dan sejarah bisa jadi terlalu menekan. Itu menurunkan sendiri ke ketiadaan. Hanya mengingatkanmu semua waktu kau hanya sebuah noda kecil di dalam sebuah sejarah yang panjang. Di mana di Amerika kau berpikir kau bisa membuat sejarah. Itulah kenapa aku menyukai los Angeles karena sangat…” kata Sofie.

“Jelek? ” celetuk Johny.

“Bukan, yang mau aku katakan “natural” seperti melihat pada sebuah kanvas kosong.” (Lanjut)

“Kupikir, orang-orang pergi ke tempat seperti Venice di mana mereka berbulan madu agar memastikan mereka tidak bertengkar untuk dua minggu pertama dari pernikahan mereka, karena mereka akan sibuk memperhatikan sekeliling pada hal-hal yang indah. Itulah kenapa orang-orang menyebutnya tempat romantis – suatu tempat di mana kecantikan bercampur dengan insting kasarmu. Tempat bulan madu yang bagus harusnya seperti suatu tempat di New Jersey.” Kata Sofie.

Sore hari. Di stasiun Tram, keduanya menuruni eskalator dan menaiki Tram.

Di dalam Tram, mereka duduk dan memperhatikan semuanya.

Di toko kaset, mereka masuk ke sebuah toko kaset tua dan mulai menjelajah.

“Ah, di bilik sana ada tempat untuk mendengarkan?” Kata Johny seraya menujuk ke arah bilik dari toko kaset.

“Ya, kurasa.” Kata Sofie.

Mereka melihat-lihat album-album. Sofie akhirnya menemukan sebuah album dan memberikannya kepada Johny.

“Sudahkah kau dengar penyanyi ini?” Tanya Sofie.

“Belum.” Jawab Johny sambil membaca sampul album.

“Aku pikir dia cewek Amerika. Aku punya teman di LA yang memberi tahuku tentang dia. Aku belum pernah menemukan karya-karyanya. Kupikir ini semacam musik folksy, berlirik.” Kata Sofie.

Johny bergerak menuju bilik dari toko kaset.

“Mari kita dengarkan.” Ajak Johny.

“Ayo coba.” Kata Sofie setuju.

Mereka berjalan menuju bilik dan masuk. Sofie mengambil keluar album dan meletakkannya di tempat kaset. Musik dimulai, mereka berdua berdiri menghadap dinding di bilik belakang dan menghayati lagunya.

Lagu.

There’s a wind that blows in from the north

And it says that loving takes its course

Come here, come here

No, i’m not impossible to touch

I have never wanted you so much

Come here, come here. ..

Mereka saling melirik sedikit satu sama lain tapi tak seperti biasanya ketika memandang orang lain. Lagu tersebut membuat keduanya sedikit canggung jadi malu tentang hubungan yang tak jelas mereka.

Sore hari. Mereka menaiki subway yang menerobos terowongn menuju sinar matahari sore.

Kemudian mereka berjalan menuruni lantai sempit di kuburan yang tak dikenal. Seekor kelinci berlari melewati mereka.

“Aku mengunjungi kuburan saat remaja. Itu meninggalkan pengalaman yang mendalam bagiku dari pada mengunjungi sebuah museum.” Kata Sofie.

“Sempit.” Kata Johny.

Di bagian dalam, mereka berkeliling melihat-lihat pada banyaknya salib yang sama mirip.

“Ya, di situ ada pria tua kurus berbicara pada kami. Hampir setiap orang di kubur di sini dimandikan di pinggiran sungai Danube.” Kata Sofie.

“Berapa umur semua ini?” Tanya Johny.

“Mungkin kisaran awal-awal abad, bisa jadi. Itu dinamakan kuburan tanpa nama karena mereka tidak tahu siapa orang yang dikubur.” Kata Sofie.

“Kenapa di sini banyak tubuh yang di mandikan di pinggiran sungai Danube?” Tanya Johny.

“Kupikir beberapa kejadian dari kecelakaan di atas perahu dan semisalnya. Tapi, kebanyakan mereka terjun ke sungai.” (Sofie menambahkan)

“Aku suka ide orang-orang yang tidak dikenal. Hilang ditelan bumi. Ketika aku masih kecil aku berpikir jika tidak ada keluarga atau teman yang tahu kau mati, seperti tidak benar-benar mati. Orang bisa mencari kebaikan atau keburukan darimu.” Kata Sofie.

Sofie berhenti di sebuah kuburan.

“Oh, ini dia. Ini salah satu yang paling aku ingat. Dia masih tiga belas tahun ketika dia meninggal. Itu sesuatu yang berarti bagiku karena umurku juga sama ketika aku melihat ini. Sekarang aku sepuluh tahun lebih tua dan dia masih …tiga belas, kurasa.” Kata Sofie.

Di stasiun tram, menjelang petang. Mereka menunggang dalam tram pada petang.

Matahari terbenam, mereka di dalam wahana kincir ria besar yang sudah tua di taman hiburan Prater. Mereka di dalam tempat box yang luas untuk mereka dan berjalan berkeliling di dalamnya. Melihat pada bermacam-macam pemandangan dari berbagai tempat.

“Ketika aku berada di atas orang-orang seperti ini, kupikir seperti mengendalikan seluruh manusia dengan tubuh ini. Dan seluruh sel di tubuh kita. Luar biasa, ya kan?” Kata Sofie.

“Ya…” ujar Johny. ( menambahkan )

“Aku ingin ganti topik beberapa detik. Ini harus jadi momen yang penting. Aku tak tahu jika kau keberatan, tapi hanya kita berdua di tempat ini. Matahari mulai terbenam … (dia menambahkan lagi) sebelum malam berakhir, untuk mengenangnya bisakah kita berciuman?” Tanya Johny sambil memandang Sofie.

“Mungkin.” Jawab Sofie singkat.

“Mungkin?” Kata Johny bingung.

“Bisa saja.” Kata Sofie.

“Bisa saja. Aku berencana kita lompat di waktu untuk momen ketika kita secara alami melakukannya-bisa jadi sepasang kekasih sejam dari sekarang setelah banyaknya kecanggungan dan membawa momen tersebut di sini dan sekarang. Itu akan jadi sesuatu yang hebat untuk dikenang, tidak hanya ciuman pertama kita, tapi matahari terbenam yang indah, kincir ria, Vienna…” kata Sofie. Sofie berjalan ke arah Johny dan meletakkan lengannya di sekitar leher Johny.

“Berapa banyak waktu kau ingin aku lakukan sesuatu, kau mulai bicarakan tentang perjalanan?” Kata Sofie.

“Baiklah, kupikir kita harus berciuman sekarang.” Kata Johny.

Dan mereka mulai berciuman sementara kincir ria tetap berputar.

Berjalan menyusuri jalanan panjang di taman hiburan pada malam hari. Mereka tengah mengobrol sesuatu yang menarik.

“Tapi, tak berpikir di generasi apa kau dilahirkan. Lihat orangtuaku. Mereka itu. Pemuda pemarah mungkin enam puluh delapan orang mendemo pemerintahan. Latar belakang mereka dari keluarga konservatif. Aku lahir tidak lama setelahnya dan ayahku ingin menjadi arsitek yang sukses dan kami mulai berkeliling ke banyak negara dan aku tumbuh besar dengan segala kebebasan yang mereka perjuangkan. Dan belum bagiku. Itu bentuk perlawanan yang lain. Kami masih punya perjanjian dengan semua bualan yang sama. Tapi kau tidak bisa benar-benar tahu siapa yang jadi musuhmu.” Kata Sofie.

“Aku tidak mengerti jika bisa jadi musuh. Orangtua siapapun mereka menyebalkan. Meninggalkan mereka atau memukulnya dan pikir mereka salah bahan. Bocah kaya, orangtuanya beri dia begitu banyak, bocah miskin tidak cukup. Kau butuh banyak perhatian atau tidak. Orangtuaku mereka hanya dua orang yang tidak saling menyukai satu sama lain lalu menikah dan punya anak. Dan mereka mencoba menjadi baik kepadaku.” Kata Johny.

“Apakah orangtuamu bercerai?” Tanya Sofie.

“Ya, pada akhirnya. Mereka seharusnya berpisah lebih cepat. Tapi mereka berhenti bersama untuk siapa yang lebih baik membawa kakak perempuanku dan aku. Syukurlah.” Jawab Johny sambil melanjutkan lagi.

“Ibuku pernah memberitahuku, ketika mereka bertengkar hebat. Ayahku benar-benar mengalah ketika dia mengetahui ibuku sedang mengandungku-itulah aku jadi kesalahan terbesar. Lihat ke masa lalu, aku pikir sudah jalannya begitu. Aku tidak terlalu berarti dan punya orang yang melahirkanku bisa mengontrol situasi, aku mungkin tidak akan hidup.” Kata Johny.

“Menyedihkan sekali.” Kata Sofie.

“Kurasa akhirnya aku menemukan sebuah kenyamanan. Seperti hidupku melakukan kemauanku atau yang lain.” Kata Johny.

“Orangtuaku masih bersama-sama dan kurasa mereka bahagia. Tapi kurasa ada masalah kesehatan yang bisa mengganggu orangtuamu dan sesuatu yang datang sebelumnya. Di kasus lain, lebih sekedar gangguan, perasaan kita menemukan sebuah jalan baru untuk berdamai dengan cinta, seks, sosial, semuanya. Seharusnya kita selalu menemukan kembali dan membuatnya milik kita.” Kata Sofie.

Mereka berjalan dalam kesunyian, hanya saling melirik untuk beberapa waktu. Sepasang couple berjalan, tapi keduanya benar-benar terhanyut dalam dunia mereka.

Mereka melihat ke arah seorang pasangan lebih tua mengendarai mobil-mobilan bumper.

Malam hari, di kafe Kleines. Mereka duduk di bangku yang jarang pengunjung di luar kafe. Johny melihat ke sekitarnya dan tiba-tiba mencium bibir Sofie dan Sofie terbelalak.

“Aku ingin menciummu lagi.” Kata Johny.

Sofie tersenyum kecil dan mendekatkan bahunya ketika seorang penjual mawar tiba-tiba menghentikan mereka. Dia wanita gipsi tua yang memegang buket mawar, dan menawarkannya pada Johny.

“Kau mau beli setangkai mawar untuk gadis tersebut?” Tawar si penjual mawar dalam bahasa Jerman.

Johny tersenyum dan merogoh sakunya.

“Tentu, berapa schiling?” Tanya Johny.

“Dua puluh.” Jawab penjual mawar.

Johny memberikannya koin dan di penjual mawar memberikanya mawar, si penjual mawar tiba-tiba mengarahkan perhatiannya pada Sofie. Dia menggengam tangan Sofie dan mulai memandang telapak tangan Sofie.

“Kau ingin membaca telapak tanganmu?” Tanya si penjual mawar.

“Boleh.” Jawab Sofie.

Sofie melihat ke Johny, yang memutar matanya, merasa sedikit terganggu. Sofie memandang tajam padanya seakan berkata” aku ingin melakukannya, jangan ganggu”.

“Hmmm. Kau sedang di dalam perjalanan dan kau berada di tempat aneh ini. Kau seorang petualang. ..pencari. ..dan bertualang dalam pikiranmu.” Kata si penjual mawar.

SOfie tertarik dan sesekali mengangguk.

“kau tertarik pada kekuatan perempuan. Di dalam kekuatan dan daya cipta perempuan. Kau sedang menjadi perempuan ini.”(dia menambahkan)

“kau butuh menemukan dirimu ke kehidupan yang janggal. Hanya jika kau menemukan kedamaian dengan dirimu sendiri, kau akan menemukan hubungan sebenarnya dengan orang lain.” kata si penjual mawar.

Si penjual mawar melihat ke arah Johny dan memberikan isyarat padanya.

“Ini sesuatu yang aneh untukmu, kan?” Tanya penjual mawar.

“Ya, kurasa begitu.” Jawab Sofie.

Si penjual mawar meraih tangan Johny dengan paksa, membuat Johny merasa kikuk. Dia memeriksa tangan Johny dengan seksama, membalikannya, memeriksa jempolnya, dan melepaskannya kembali.

“Kau akan baik-baik saja.” Kata si penjual mawar pada Sofie. Dia menambahkan.

“Dia sedang belajar. Ok?” Kata si penjual mawar.

“Terima kasih. Itu tadi bagus.” Kata Sofie. Sambil tersenyum.

Sofie memberi beberapa koin pada wanita tersebut. Sambil beranjak, wanita tua itu menambahkan sedikit.

“Kalian berdua adalah bintang-bintang, jangan lupa. Ketika bintang-bintang meledak jutaan tahun yang lalu, mereka membentuk semua hal di dunia ini. Bulan, pepohonan, semuanya yang kita tahu adalah bintang jatuh. Jadi, jangan lupa. Kalian adalah bintang jatuh.” Kata si penjual mawar.

Mereka beranjak pergi, dan Sofie masih memikirkan pengalaman tadi tapi Johny terlihat terganggu sedikit. Johny mencoba membangun obrolan, tampak berusaha meraih perhatian Sofie.

“Itu tadi menyenangkan, kita adalah bintang jatuh dan semuanya, dan kau akan jadi perempuan hebat tersebut. Tapi, aku harap kau tidak terlalu memikirkannya. Bedakan antara membaca horoscopmu di beberapa koran.” Kata Johny.

“Dia tahu aku sedang dalam perjalanan dan kita tidak saling kenal dan aku akan jadi wanita hebat.” Kata Sofie.

“Dan apa itu tadi ” aku sedang belajar” omong kosong? Tadi itu merendahkanku-dia bahkan tidak meramalku, dan bahkan aku membeli mawar jelek darinya.” Kata Johny . Memulai obrolan.

“Hanya sekali aku ingin lihat wanita tua menghasilkan uang, dan hanya mendengarkan dia mengatakan hal-hal hebat, menceritakan keberuntungan.” Kata Johny.

“Besok dan selanjutnya dari hari-harimu akan jadi menyenangkan seperti hari ini, kau akan punya semangat baru, perjalanan, atau pikiran. Ketika kau meninggal kau akan melupakannya. Tolong dua schiling.” Seperti itu tadi.” Kata Johny dengan mata yang bersemangat.

Sofie menggodanya.

“Tadi sangat lucu bagaimana dia hampir tidak memperhatikanmu. Aku suka apa yang di katakan.” Kata Sofie menggoda.

“Tentu kau suka. Kau berikan uangmu, kau dapat dengar sesuatu yang membuatmu senang.” Kata Johny. Dia menambahkan.

“Hei, mungkin di sini ada beberapa toko lowak di Vienna di mana kau bisa beli pemukul rusak.” Kata Johny.

Sofie terus tertawa padanya.

Jalanan malam hari. Mereka berjalan-jalan, Sofie memperhatikan sebuah poster undangan pameran lukisan.

“Ya ampun, belum mulai sampai minggu depan-kita akan melewatkannya.” Kata Sofie.

Dia menunjuk salah satu lukisan di poster tersebut.

“Aku pernah lihat ini sekali di museum beberapa tahun lalu. Aku lihat-lihat-pasti ada sekitar lima puluh lima menitan.” Kata Sofie.

“Keren.” Ujar Johny.

“Aku suka cara orang melihat kebuyaran menjadi gambar. Seperti lingkungan yang lebih kuat dari manusia. Figur manusianya selalu terlihat fana.” Kata Sofie.

Mereka berjalan menuruni jalanan, mereka melangkah masuk ke sebuah katedral megah, St. Stephen. Mereka mengecek kalau-kalau pintu buka. Ternyata buka, dan mereka masuk ke dalam.

Mereka masuk menemukan semua bangku kosong dengan seratus lilin masih menyala. Di dalam latar kita mendengar suara organ dimainkan.

“Buruk sekali, siang tadi kita seharusnya bisa melihat kaca gelas jendela yang lebih bagus.” Kata Johny.

“Aku pernah mengunjungi gereja tua seperti ini sekali bersama nenek angkatku di Italia beberapa hari yang lalu. Walau aku menolak sesuatu yang terlalu relijius. Orang-orang itu tak tahu kemari atau gelisah, bersalah-atau datang untuk mencari jawaban. Itu membuatku kagum bagaimana sebuah tempat bisa membaur dengan begitu banyak kesedihan dan kebahagiaan, dari sekian banyak generasi.” Kata Sofie.

“Kelihatannya kau dekat dengan nenek angkatmu.” Kata Johny.

“Ya, kupikir begitu. Kurasa karena aku selalu berpikir kalau aku wanita tua, lemah, hampir mati, dan pikiran terakhirnya adalah mengenang masa mudanya dan kehidupannya. Seperti hidupnya hanya mengenang saja atau semacamnya.” Kata Sofie.

“Memperihatinkan. Aku selalu berpikir seperti saat aku masih umur tiga belas tahun bocah yang tidak tahu bagaimana jadi dewasa. Seperti menganggap hidup sebuah kehidupan, mencatat yang akan dilakukan.” Kata Johny.

“Lucu, saat di atas kincir ria tadi terasa wanita yang sangat tua berciuman dengan bocah laki-laki.” Kata Sofie membayangkan.

“Buang jauh-jauh pikiran itu.(beralih ke topik baru) apa kau tahu sesuatu tentang Quaker?” Tanya Johny.

“Tidak, tidak terlalu.” Jawab Sofie.

“Sangat keren. Aku pernah menghadiri pernikahan Quaker satu kali, dan kau tahu apa yang mereka lakukan?” Kata Johny.

Sofie menggelengkan kepalanya.

“Pasangan pengantin berlutut ke bawah di tengah gereja di depan para hadirin. Dan mereka mulai saling memandang satu sama lain, tak ada satupun yang berbicara kecuali Tuhan yang menggerakkan mereka untuk mengatakan sesuatu. Tidak ada pemberkatan, pengkutbahan, atau lainnya. Dan setelah beberapa jam saling memandang, mereka menikah.” Jelas Johny.

“Itu bagus sekali, aku suka itu.” Kata Sofie.

Keduanya saling memandang untuk momen yang panjang. Johny tiba-tiba berpikir sesuatu dan tersenyum.

“Gosh, ini semacam cerita mengerikan, tapi mungkin ini tempat yang pas untuk menceritakannya. Pernah aku berkendara berkeliling dengan teman baikku yang orang Atheis tulen, dan kami berhenti di mana ada laki-laki tuna wisma memegang papan bertuliskan butuh pekerjaan atau suatu hal. Temanku memberikan uang seratus dollar yang akan diberikan padanya dan bertanya, “apakah kau percaya Tuhan?” Pria itu melihatnya, melihat pada uangnya, dan menjawab, “ya, aku percaya.” Temanku bilang, “jawaban salah.” Dan pulang.” Kata Johny.

“Maksudnya.” Kata Sofie bingung.

Hujan turun, mereka berlari berteduh, menemukan tempat di bawah payung besar di bagian luar kafe. Menunggu hujan reda.

Beberapa lama kemudian keduanya berjalan menyusuri jalanan.

“Apa yang akan kau lakukan di Paris jika kau tidak turun dari kereta?” Tanya Johny.

“Tidak, belum tahu. Terus apa yang akan kau lakukan?” Kata Sofie balik bertanya.

“Tak tahu – menunggu pesawat, membaca majalah lawas, menangis pada kopiku karena kau tak jadi turun dari kereta bersamaku.” Jawab Johny.

“Ahh. ..” ucap Sofie.

Lalu dia memberikan ciuman kecil pada Johny.

“Sebenarnya, aku mungkin akan turun dari kereta di Salzburg dengan seseorang.” Kata Sofie.

“Ya, ya. Aku kan hanya orang Amerika hiasan kanvas kosongmu.” Kata Johny.

“Tidak, aku akan buat waktu terindah.” Kata Sofie.

“Benarkah? Aku juga.” Kata Johny.

Seorang pria, penyair tuna wisma, mendekati mereka berdua.

“Aku ingin bertanya kepada kalian sesuatu.” Kata si penyair tuna wisma dalam bahasa Jerman.

“Uh, baiklah, tapi dia tidak mengerti bahasa Jerman.” Kata Sofie.

“Ok, aku akan buat sebuah deal dengan kalian. Daripada hanya minta uang, aku akan meminta kalian sebuah kata. Terus aku akan menulis puisi dengan kata tersebut. Aku akan menulisnya dalam bahasa inggris jika kalian suka, jika kalian mau menambahkan sesuatu dari perjalanan hidup kalian, kalian bisa bayar aku terserah kalian.” Jelas si penyair tuna wisma.

“Ok, deal.” Kata Sofie dan Johny.

“Pilih sebuah kata.” Pinta si penyair tuna wisma.

“Uhh …” ucap Johny lalu melihat ke Sofie.”kata apa?” Tanya Johny.

“Milk shake.” Kata Sofie.

Johny membulatkan matanya pada Sofie.

“Aku mau bilang “ayam jago berdiri.” Tapi sempurna, milk shake.” Kata Johny.

Si penyair tuna wisma mulai menulis.

“Aku suka apa yang dia katakan tentang menambahkan sesuatu dari hidupmu.” Kata Sofie.

“Aku tahu. Hei, di mana kita harus menepi di sini?” Tanya Johny. Sambil mencari tempat.

“Bukan, bukan. ..” sergah Sofie.

“Ya, kurasa di sini saja.” Kata Johny.

“Sejak di sini, kenapa kita tidak berselisih hal? Hal baik bisa menimbulkan perselisihan.” Kata Sofie.

“Kurasa begitu. Kupikir aku harus menerima fakta kehidupan adalah mengira jadi sulit, dan jadi berharap, terus aku tak boleh terbuai tentangnya. Aku hanya ingin bahagia ketika sesuatu yang menyenangkan terjadi.” Kata Johny.

“Kupikir itulah kenapa aku masih sekolah. Untuk gampang meraih sesuatu.” Kata Sofie.

“Dan kita semua sedang berkompetisi.” Johny berpikir, “maksudku, aku bisa melakukan hal yang sangat mustahil-menembak atau memanah -dan aku merasa lebih. Aku ingin menang, aku ingin melakukan yang terbaik yang aku bisa, dan melebihi kemampuanku. Aku bisa dengar setiap pelatih atau guru atau bos bicara. “Johny, kau tidak cukup keras berusaha! Taruh otakmu dari bokongmu! Semangat! ” terang Johny.

“Itulah mengapa kau mengajakku turun dari kereta? Berkompetisi?” Tanya Sofie.

“Maksudmu apa?” Tanya Johny bingung.

“Agar tak didahului oleh laki-laki di belakangmu mengajakku? Kau sedang berkompetisi denganya, kan?” Kata Sofie.

“Laki-laki apa?” Tanya Johny makin tak mengerti.

“Yang tampan, besar, kuat, seperti pria italia di belakangmu yang tersenyum padaku sepanjang waktu.” Jelas Sofie.

“Kelihatannya dia lebih tampan dariku.” Kata Johny.

Si penyair tuna wisma kembali dengan sebuah lembaran kertas kecil.

“C’est la vie.” Kata Sofie kepada Johny.

“Aku sudah membuat puisimu.” Kata si penyair tuna wisma.

“Maukah kau membacakannya pada kami?” Pinta Sofie.

“Tentu.” Kata si penyair tuna wisma lalu membacakannya.

“Melamun khayalan

Bulu mata yang panjang

Oh sayang dengan wajah cantikmu

Jatuh air mataku ke dalam gelas anggurku

Memandang kedua mata bening pada wajahmu

Lihat maksudmu padaku

Kue manis dan milk shake

Aku menghayal bidadari

Aku sebuah parade fantasi

Aku ingin kau tahu apa yang aku pikir

Jangan kau menduga lagi

Kau tidak tahu aku berasal

Kita tidak tahu kemana kita akan menuju

Menetap dalam kehidupan.

Seperti dahan di sebuah sungai

Mengalir ke hilir

Tertangkap arus

Aku akan menjagamu kau akan menjagaku

Bagaimana itu terjadi

Tahukah kau diriku

Tahukah kau diriku sekarang

Mereka berdua terdiam.

“Wow. ..” ucap Sofie.

Mereka memberikan beberapa uang padanya.

“Terima kasih, bung. Semoga beruntung.” Kata Johny.

“Itu indah sekali, ya kan?” Kata Sofie.

“Ya, tadi itu indah sekali. Kau tahu, dia tidak sekedar menulis puisinya.. .aku tidak bilang di tidak menulis puisi. Dia hanya menulisnya malam ini. Dia hanya mengisinya dengan milk shake.” Kata Johny.

“Apa maksudmu?” Tanya Sofie.

“Tak ada. Tadi itu puisi yang bagus.” Kata Johny.

Mereka berjalan lagi.

Di jalanan, malam hari. Mereka melanjutkan perjalanan panjang.

Kemudian mereka berjalan menuju tempat penjual hot dog vienna dan memesan minuman. Mereka memperhatikan beberapa karakter yang menarik yang bergantungan di sekitar, termasuk pria di pojok belakang.

Lalu mereka masuk ke sebuah kafe tua yang menarik. Sofie pergi ke kamar kecil sementara Johny menunggu. Berpisah darinya untuk pertama kalinya, dia berdiri sedikit canggung, mengamati poster-poster di dalam kafe. Sofie akhirnya kembali dan mereka keluar dari kafe tersebut.

Kemudian mereka berjalan di depan sebuah club yang terdengar musik dari dalamnya.

“Kau mau masuk ke dalam?” Tawar Johny.

“Ya, tapi di sini bayar, kan?” Tanya Sofie.

“Murah kok.aku yang bayar.” Kata Johny.

“Jangan khawatir. Aku punya uang, kok.” Kata Sofie tak enak.

Di dalam club Arena (nama klubnya). Seorang penyanyi dengan gitarnya menyelesaikan sebuah lagu aneh tapi lucu di atas panggung. Dia selesai dan pergi.

“Hei, um, lihat. Kurasa Liz mau menunjukan film terakhirnya dan mau ngomong beberapa sambutan.” Kata si penyanyi dalam bahasa Jerman.

Sebuah proyektor terlihat terpasang menggantung di belakang tembok panggung. Si pembuat film, Liz, mengambil secuil kertas di tangannya dan memberi arahan agar film segera dimulai. Ruangan digelapkan dan film dimulai. Pertama hitam dan putih dan terlihat judul dalam bahasa Jerman, SEBUAH KEGADUHAN DAN SEBUAH KESUNYIAN. Film menampilkan gambar lembut (1985-1994), menampilkan band-band, bencana alam, menayangkan gambar-gambar. Beberapa melihat ke kamera, beberapa tidak. Film tersebut menimbulkan sebuah melankolis dan romantika kesunyian. Dia berbicara dalam bahasa Jerman. Sampai pesan di film jadi sebuah penutup: UNTUK MEMULAI LAGI DARI AWAL.

Mereka berjalan-jalan lagi, menyusuri jalanan vienna di malam hari. Keduanya jadi lebih dekat dengan cepat.

Di dalam sebuah kafe, setelah rentetan meja orang-orang dan mendengar sedikit percakapan, Johny dan Sofie duduk berhadapan,membicarakan sesuatu.

“Ok, sekarang aku mau menelpon sahabatku di Paris. Drrr! Drrr! Ring! Ring! Angkat.” Kata Sofie sambil mengangkat tangannya membuatnya seolah-olah sedang menelpon.

“Apa?” Johny bingung.

“Angkat telponnya.” Kata Sofie masih sambil melakukan hal sama.

“Oh, baik. Halo?” Kata Johny mengerti sambil meniru apa yang Sofie lakukan.

“Allo, vani. C’est Sofie. Comment ca va?” Kata Sofie dalam bahasa perancis.

“Bien, et toi?” Kata Johny.

“Oh, tu sais ce qui n’est arrive…” kata Sofie lalu terpotong.

“Ok, mungkin seharusnya kita melakukannya dalam bahasa inggris.” Kata Johny.

“Vanessa, aku minta maaf aku tak bisa makan siang denganmu. Tapi, aku bertemu seorang pria di kereta dan pergi dengannya di Vienna. Kami masih di sini.” Ucap Sofie.

“Apa kau gila?” Kata Johny.

“Mungkin.” Jawab Sofie.

“Apa dia orang Austria? Dia tinggal di sana?” Tanya Johny.

“Tidak, dia hanya berhenti di sini. Dia orang Amerika. Dia mau pulang besok pagi.” Jawab Sofie.

“Terus, kenapa kau turun dari kereta bersamanya? ” tanya Johny.

“Dia meyakinkanku, tapi kurasa aku siap hanya setelah mengobrol denganya. Dia sangat manis.” Kata Sofie lalu melanjutkan lagi.

“Kami di dalam Lounge car dan dia mulai bicara tentangnya sebagai anak laki-laki yang melihat hantu neneknya. Kurasa saat itulah aku punya perasaan terhadapnya-pada bocah laki-laki ini, penuh impian.” Kata Sofie.

“Hmmm…” gumam Johny, tersenyum.

“Dan dia sangat cute. Dia punya mata biru yang sangat indah, bibir pink yang indah, dan rambut yang berminyak. Dia tinggi dan sedikit kikuk. Aku suka pandangan matanya ketika aku melihatnya. Dan dia mencium seperti anak kecil. Imut sekali.” Kata Sofie.

“Apa? ” kata Johny.

“Ya, kami berciuman. Manis sekali. Semakin malam aku mulai menyukainya lagi dan lagi. Tapi aku takut dia takut padaku. Aku beritahu dia ceritaku tentang wanita yang membunuh mantan pacarnya. Dia pasti berpikir aku ini manipulatif, extrim, wanita yang berbahaya. Aku harap dia tidak berpikir demikian tentangku karena-kau tahu aku kan-aku adalah orang yang paling hangat. Aku marah hanya untuk melindungi diriku. Hanya kepada orang yang benar-benar menyakitiku.” Kata Sofie.

“Aku yakin dia tidak takut padamu. Aku yakin dia tergila-gila padamu.” Kata Johny.

“Ok, sekarang giliranmu. Hubungi temanmu.” Kata Sofie.

Johny mengangkat telpon ke telinganya (pura-pura menjadikan tangannya sebagai telepon).

“Brrriing. Aku biasanya pakai mesin penjawab.” Kata Johny.

“Hei, dude, what’s up?” Kata Sofie.

“Hei, jesse, kau disitu.” Kata Johny.

“Kau balik? Bagaimana Madrid?” Tanya Sofie.

“Baik, semuanya benar-benar menyebalkan. Aku kembali sedikit lebih cepat. Semua kebodohanku, proyek romantis.ugh. sebenarnya aku di Madrid hanya beberapa hari. Aku ingin mengelilingi Eropa seperti orang idiot. Aku dapat tiket pesawat di vienna, aku harus kembali, tapi aku tidak bisa. Aku harus menunggu. Aku ingin lari, tapi tidak ke rumah. Aku tidak mau bertemu orang-orang yang mengenalku. Aku tidak mau bicara. Aku ingin jadi hantu, benar-benar tidak dikenal.” Kata Johny.

“Apa kau baik-baik saja?” Tanya Sofie.

“Ya, hanya itu. Aku terpesona. Aku kembali jadi pribadiku lagi. Aku akan ceritakan padamu kenapa. Di malam terakhirku di Eropa dan aku bertemu seorang yang sangat spesial. Kau tahu bagaimana mereka membicarakan satu sama lain kami malaikat dan iblis? Dia malaikat Botticelli sesungguhnya, menungguku di gerbang kembali ke kehidupan.” Kata Johny.

“Wow…bagaimana kau bertemu dengannya?” Tanya Sofie.

“Di kereta, sebenarnya aku sudah lihat dia beberapa jam sebelum sepasang suami istri ribut. Aku menemukan tempat, tak jauh dari seberang dia duduk dan dia tidak memperhatikanku. Lalu kemudian ada pasangan gila bertengkar, dan dia pindah ke belakang dan duduk berseberangan denganku. Kami mulai mengobrol. Aku tak berpikir dia menyukaiku pada awalnya. Dia sangat pintar dan baik dan cantik-aku merasa minder. Kurasa semua yang aku katakan adalah bodoh.” Kata Johny.

“Oh, man, tak usah khawatir. Aku yakin dia tidak menilaimu demikian. Dan omong-omong, dia memilih duduk di sebelahmu. Kita laki-laki bodoh. Kita tak pernah mengerti wanita. Mereka pura-pura kuat, sedikit yang aku tahu tentang mereka.” Kata Sofie (pura-pura jadi Jesse).

Di luar gedung Albertina, malam hari. Sofie dan Johny duduk di atas undakan sebuah patung dan memperhatikan seluruh aktifitas di sekeliling mereka. Terlihat seorang pria berjalan membawa sebuah tas.

“Lihat pria itu? Kita tidak akan melihatnya lagi. Itulah suatu moment persilangan hidup kita.” Kata Johny.

Pria tersebut tiba-tiba berbalik dan berjalan kembali ke jalan yang lain.

“Aku ingin tahu sesuatu seperti itu. Seperti, sesuatu tas yang dia bawa. Aku ingin tahu apa di dalamnya. Jika kau pikir yang dia bawa adalah sebuah bom untuk meledakannya di Opera karena dia tereliminasi dari audisi peran Don Juan, terus ekspresi seriusnya jadi marah, wajah ganas.” Kata Sofie sambil menambahkan.

“Tapi jika kau bayangkan tasnya ada sebuah hadiah untuk adiknya, istri yang sekarat, kemudian di menjadi malang, orang yang mendapat simpati kau ingin memberinya sebuah pelukan.” Kata Sofie.

“Hmmm.” Gumam Johny.

Sofie menunjuk seorang wanita muda pelajar seni.

“Dia berpikir tentang sebuah TV show yang dia lihat kemarin, dan berpikir semua temannya mengelabuinya, dia sedang berpikir untuk menyerah pada pekerjaan dengan gaji rendahnya dan menyerah pada sebuah kesempatan.” Kata Sofie.

Seorang pria kutu buku berjalan.

“Pria itu ke sini.. .ditolak oleh lembaga sains. Sebenarnya digagalkan tes kepribadiannya-mereka tidak mau menerimanya.” Kata Johny.

Masih di luar gedung Albertina, malam hari. Mereka duduk, melihat-lihat area Opera house.

“Aku merasa seperti ini adalah dunia mimpi yang kita berjalan bergelombang.” Kata Johny.

“Ini sangat aneh. Seperti waktu kita bersama hanya kita-kreasi milik kita. Seperti, aku dalam mimpimu dan kau dalam mimpiku.” Kata Sofie.

“Ya, apa yang kita lakukan sepanjang malam tidak jelas apa yang sedang terjadi.” Kata Johny.

“Mungkin itulah kenapa terasa seperti di dunia lain. Tapi kemudian, pagi menjelang dan kita kembali kepada kereta labu.” Kata Sofie.

“Ahh. Aku tidak mau membicarakan pagi hari.” Kata Johny.

“Tapi pada poinnya kurasa kau mengira untuk membuat sepatu kaca dan melihat siapa yang pas.” Kata Sofie mengumpamaknnya dengan kisah cinderella.

Mereka berdua tertawa.

Sofie dan Johny berjalan menyusuri jalanan yang ramai dekat beberapa klub malam. Mereka melewati sebuah keramaian yang mengelilingi seorang penari wanita, dan terdengar suara ritmik. Duduk di sekeliling seorang pria yang sedang memainkan akapela dengan ritme yang cepat. Sofie mengapit lengan Johny dengan sebuah pandangan kegembiraan dan buru-buru terhadap kerumunan, mencari tempat bagus untuk melihat ke tengah penari. Penari menampilkan tarian yang luar biasa agar mendapatkan reaksi yang positif dari kerumunan penonton. Akhirnya Sofie memperhatikan sepasang memainkan tamborin duduk di pinggir jalan dekat sepatu penari. Lalu dia dan Johny meneruskan jalan sedang kerumunan penonton mulai membubarkan diri.

Mereka memasuki sebuah klub dansa kecil, hampir terpencil, tempat disco dimana pasangan berdansa dan beberapa yang  lain duduk di sekitar. Mereka berpisah dan Johny menghampiri Bertender dan mulai berbicara dengannya, membujuknya. Sofie pergi mencari meja kosong dan mengambil dua gelas. Di seberang ruangan, Johny sedikit mendesak, Bartender yang paling tua, akhirnya luluh dan memberikannya sebotol wine. Johny kembali ke Sofie.

Beberapa saat kemudian, mereka duduk di area terpencil dari taman, menuangkan ke gelas dari botol wine mereka.

“Acapkali dalam hidupku aku dengan orang dan berbagi momen indah seperti traveling atau lembur semalaman dan nonton matahari terbit, dan aku tahu itu sebuah momen yang spesial, tapi beberapa selalu salah. Aku tahu apa yang aku pikirkan-sebenarnya apa yang paling penting untukku-mereka tidak akan mengerti. Tapi aku bahagia bersamamu. Kau mungkin tidak tahu kenapa malam seperti ini jadi sangat penting bagi hidupku sekarang, tapi itu. Kurasa ini sebuah pagi yang indah.” Kata Sofie.

“Ini sebuah pagi yang indah. Apa kau pikir kita akan punya pagi hari seperti ini lagi?” Tanya Johny.

“Bagaimana dengan hubungan kita?” Tanya Sofie.

“Ya, aku tahu. Aku juga punya perasaan sama berharap seseorang tidak ada di sana, tapi kurasa itu diriku aku seperti mendapatkan dari asalnya.” Kata Johny.

Sofie memandang padanya.

“Aku belum pernah kemana-mana aku belum pernah. Aku belum pernah punya ciuman ketika tidak ada yang mencium. Aku belum pernah nonton bioskop ketika aku tidak jadi penonton atau pergi main bowling ketika aku membuat lelucon bodoh.” Kata Johny.

Sofie tersenyum, tidak terlalu serius memperhatikannya.

“Tidak, terlalu, kupikir itulah kenapa banyak orang membenci diri mereka sendiri. Maksudku jika kita menikah, setelah beberapa tahun, kau akan sangat membenci alasanku, aku minum terlalu banyak ketika aku gelisah, lalu aku menceritakan beberapa hal konyol, ide intelektual untuk setiap pasangan pergi makan malam. Tapi kau tahu, aku siap mendengar semua cerita bodohku, tentu saja aku sakit diriku sendiri. Tapi waktu kita di sini benar-benar waktu. Bersama denganmu membuatku merasa seperti seseorang yang lain. Hanya kehilangan dirimu sendiri seperti ini dengan drugs, atau alkohol, dansa…seperti itu.” Kata Johny.

“Bercinta. ..” kata Sofie.

Dia melihat pada Sofie, tersenyum , sedikit kaget.

“Ya, bercinta.” Kata Johny.

“Kau tahu apa yang aku inginkan?” Tanya Sofie.

“Apa?” Tanya Johny ingin tahu.

“Mencium.” Jawab Sofie.

“Aku bisa melakukannya.” Kata Johny.

Dia mendekat ke Sofie dan menciumnya, dan mencoba sedikit lebih dalam.

“Aku harus bilang sesuatu yang bodoh.” Kata Sofie.

“Tentu.” Kata Johny.

“Benar-benar bodoh.” Kata Sofie.

“Ok.” Kata Johny.

“Kurasa kita tidak harus tidur bersama. Aku ingin, tapi sejak kita tidak akan bertemu lagi, itu membuatku merasa buruk. Aku ingin merindukanmu. Aku tahu itu tidak dewasa. ..mungkin itu hanya pikiran seorang perempuan. ..aku tidak bisa mencegahnya.” Kata Sofie.

“Ok, kita akan bertemu lagi.” Kata Johny.

“Tidak, aku tidak mau merusak hubungan kita hanya kau bisa mencegah.” Kata Sofie.

“Aku tidak mau hanya mencegah. Aku ingin bercinta denganmu. Di mana kita akan mati bersama di pagi hari, benarkan? Kupikir kita seharusnya.” Kata Johny.

“Tidak. Terus ini seperti fantasi beberapa pria-bertemu seorang gadis di kereta, bercinta dengannya, tidak pernah bertemu lagi, dan punya cerita yang hebat untuk diceritakan. Aku tidak mau siang hari kita jadi seperti itu.” Kata Sofie.

“Ok, jangan bercinta.” Kata Johny.

“Kau tidak mau bertemu denganku lagi? ” tanya Sofie.

“Tentu saja aku mau. Maksudku, bercinta, jika aku memintanya sekarang untuk menikahimu atau tidak bertemu lagi denganmu, aku ingin menikahimu. Maksudku, mungkin itu sebuah bualan romantis. Tapi orang akan menikah pada akhirnya. Kupikir kita punya kesempatan yang bagus seperti lainnya. Kau ingin tidur denganku?” Kata Johny.

“Jadi, sebenarnya aku sudah menentukan ingin tidur dengamu ketika turun dari kereta bersamamu. Sekarang semenjak kita ngobrol banyak aku tak tahu lagi. Kenapa kita membuat semuanya jadi begitu rumit?” Kata Sofie.

“Aku tidak tahu.” Kata Johny.

Mereka mulai melihat sinar pertama keluar di langit.

Di jalanan di pagi hari. Mereka berjalan pelan, canggung, masing-masing berada di dalam dunia kecil mereka.

“Hal pertama apa yang akan kau lakukan ketika kau tiba di Paris?” Tanya Johny.

“Menhubungi orangtuaku. Bagaimana denganmu?” Tanya Sofie balik.

“Aku akan ajak pergi anjingku. Dia dengan temanku.” Jawab Johny.

“Ahh. Aku suka anjing.” Kata Sofie.

“Oh, sial-kita kembali ke dunia nyata.” Kata Johny.

“Ini mengerikan. Aku tidak bisa berdiri.” Kata Sofie.

Untuk beberapa momen terakhir, terdengar suara harpsichord dari kejauhan.

“Kau dengar itu?” Tanya Johny.

“Ya. ..apa itu.. .harpsichord?” Kata Sofie.

“Ayo lihat dari arah mana suara tersebut datang.” Ajak Johny.

Mereka berjalan ke arah suara. Mereka semakin dekat, musik semakin jelas terdengar. Akhirnya mereka ke tempat asal suara. Sebuah jalan kecil-jendela atas mereka melihat seorang pria di sebuah ruang basement memainkan harpsichordnya. Ruang pemain harpsichord di dekorasi dalam gaya tahun tujuh puluhan sampai delapan puluhan dengan lantai kayu, perabotan tua, dan lukisan-lukisan. Bersama dengan keindahan dan musik yang intens, itu adalah pemandangan bukan main-sebuah potret kehidupan. Mereka saling pandang sekilas tapi tidak mengatakan sesuatu. Sofie dan Johny keduanya mulai merasa canggung pada apa yg mereka intip sampai akhirnya musik berhenti, dan mereka berjalan dalam diam. Johny mengandeng tangan Sofie.

“Bisakah kau berdansa harpsichord?” Tanya Johny tiba-tiba.

“Aku tidak tahh. Mungkin.” Jawab Sofie.

Mereka berdansa sedikit di pinggir jalan.

Di luar stasiun kereta, di pagi hari. Sofie mengambil kembali tasnya dari loker penitipan, dan mereka berjalan menuju kereta. Mereka tak berani memandang, terlalu malu, namun akhirnya mereka saling memandang wajah satu sama lain.

“Kau tahu bus apa yang akan kau naiki ke bandara?” Tanya Sofie memastikan.

“Ya, tak usah khawatir.” Jawab Johny.

“Kurasa inilah saatnya, kan? ” kata Sofie agak sedih.

“Yup. Aku. ..tahu kau tahu.” Kata Johny.

“Aku tahu. Aku juga. Kau bohong padaku, kau tahu.” Kata Sofie

“Apa maksudmu?” Tanya Johny bingung.

“Kau bilang padaku waktu itu kita bersama suatu hari membuatku bahagia dengan suamiku di masa depan, tapi sekarang, tapi sekarang aku akan lebih kagum.” Kata Sofie.

“Berbahagialah, ok? Kerja keras dan bersenang-senanglah dengan apapun yang kau lakukan.” Kata Sofie.

“Aku akan lakukan. Dan semoga berhasil dengan sekolahmu dan semuanya. Aku benci ini.” Kata Johny.

“Aku tahu. Kupikir kereta akan berangkat.” Kata Sofie.

Mereka saling pandang, Johny meraih tangan Sofie dan memeluknya erat. Mereka tersenyum, dan berpelukan lagi beberapa saat. Dan Sofie berbalik dan berjalan menaiki tangga kereta. Berbalik, dan melihat kembali ke Johny, dia masih berdiri melihatnya. Johny memberinya tanda untuk tunggu beberapa detik.

“Hei, semua yang kita katakan adalah omong kosong. Semuanya bodoh-aku tidak mau melakukannya.” Kata Johny.

Sofie tertawa.

“Dan aku tidak bohong padamu. Aku akan jaga itu.” Kata Johny.

“Ya?” Kata Sofie.

“Aku akan menemuimu.” Kata Johny.

Sofie hampir tertawa.

“Tidak. Kau akan membuatku gila. Kau tidak bisa bahasa perancis. Nanti akulah yang akan mengurusmu. Itu bisa jadi sebuah kesalahan besar. Tapi mungkin kita akan bertemu lima tahun lagi.” Kata Sofie.

“Ya, kurasa begitu? Lima tahun?” Kata Johny.

“Tidak, tidak. Lima tahun terlalu lama. Itu bisa seperti percobaan sosiologi. Bagaimana dengan satu tahun?” Kata Sofie.

“Ya, satu tahun. Satu tahun? Bagaimana enam bulan? Tawar Johny.

“Tapi itu akan jadi kaku.” Protes Sofie.

“Ok, kita akan bertemu di sini dan kemudian pergi ke beberapa tempat lain.” Kata Johny.

“Ok, tapi itu enam bulan dari sekarang atau tadi malam?” Tanya Sofie.

“Tadi malam. Ok. Enam bulan dari tadi malam. Enam belas April, jam enam sore. Itu kereta yang kau naiki tapi aku terbang. Tapi, hei,aku akan di sini.” Kata Johny.

“Bagus, dan kita tidak akan menulis atau telepon ataublainnya,kan?” Tanya Sofie.

“Benar, tapi enam bulan.” Kata Johny.

Mereka tertawa masing-masing dan saling memberi ciuman singkat sebelum berpisah.

“Selamat tinggal.” Ucap Sofie.

“Bye.” Balas Johny.

Mereka berpisah dan Sofie menghilang ke dalam kereta.

Pagi hari. Sofie menempatkan dirinya di sebuah bangku di dalam kereta. Johny mengambil barang-barangnya lagi dari loker penitipan dan mulai berjalan. Kereta berjalan pelan memasuki stasiun, Johny menaiki bus yang akan membawanya ke bandara. Sofie duduk dan membaca dalam kereta. Dia melihat bukunya dan melihat ke luar jendela pada pemandangan yang berjalan.

The end.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s