Irresistible (Chapt. I)

I R R E S I S T I B L E

by
Clora Darlene

Main Casts
Im YoonA | Oh Sehun

Supporting Casts
You’ll find out while you reading this.

Length | Rating | Genre
Chaptered | PG-13 | Romance, Marriage Life

poster by; berserkheal @ArtFantasy

Ini menyedihkan.

Ia terduduk di balik kemudi. Di sebelahnya ada seorang perempuan duduk dengan mengenakan kacamata hitam. Tubuh langsingnya dibalut dengan dress biru langit dengan motif garis-garis putih. Perempuan itu memandang luas keluar jendela mobil.

“Pemandangannya sangat indah,” Gumam perempuan tersebut. “Bukankah begitu, Sehun­­-ah?”

Laki-laki yang dipanggil Sehun itu hanya terdiam. Garis rahangnya menegas. Matanya berapi-api di balik kacamata hitam yang juga ia kenakan.

Perempuan itu hanya melemparkan sebuah pertanyaan kepadanya, namun emosi Sehun dengan mudahnya tersulut. Seperti ada dorongan besar untuk marah.

Ia tidak suka mendengar suara perempuan itu.

Ia tidak suka perempuan itu duduk di sebelahnya saat ini.

Ia tidak suka melihat perempuan itu.

Ia tidak suka perempuan itu telah menjadi istrinya.

Ia tidak suka fakta bahwa mereka berdua saat ini tengah dalam perjalanan untuk bulan madu.

Ia membencinya. Dengan segenap hatinya.

“Sehun-ah, kau mendengarku—“

“Berhentilah berbicara. Aku sedang menyetir.” Potong Sehun tajam.

Perempuan itu tersenyum kecil. “Baiklah.”

            Ini lebih buruk dari mimpi buruk.

Sehun terjebak di President Suite Room yang hanya memiliki satu ranjang King Size. Dan hanya memiliki satu kamar mandi. Oh, astaga! Untuk apa membuat kamar seluas ini jika hanya untuk satu ranjang dan satu kamar mandi!

Hati Sehun terasa panas dengan berbagai sumpah serapah yang dilontarkan pada pihak hotel. Saat ia check-in, ia bahkan beradu mulut dengan sang resepsionis. Ia sangat ingat bahwa ia telah memesan dua kamar yang berbeda, namun resepsionis bodoh tersebut menyebutkan ia hanya memesan satu kamar. Dan, sekarang, kau akan mengajukan satu pertanyaan—mengapa Sehun tidak memesan satu kamar lagi saja?

Full-booked.

Jangan mimpi bahwa ia akan berbagi ranjang dengan perempuan itu—tidak akan pernah.

“Woah. Pantainya sangat indah,” Gumam perempuan tersebut, mendelik ke balik pintu kaca yang dapat digeser dan langsung menuju balkon kamar hotel. Tetapi, perempuan itu hanya berdiri di balik pintu kaca, tidak menggeser pintu tersebut dan masih terpukau pada pemandangan di depannya. “Sehun-ah, apa kau tidak ingin pergi ke pantai?”

Perempuan itu menolehkan kepalanya untuk menatap Sehun, namun laki-laki itu sibuk dengan ponselnya. “Sehun-ah?” Panggilnya lagi, dan Sehun langsung berlari kecil keluar dari kamar.

Perempuan itu kembali memandang pantai tersebut, kemudian menghela nafas pelan.

            “Aku menyukainya!” Perempuan itu berteriak lantang—senang.

            “Benarkah?” Seulas senyum terukir di wajah tampannya.

            “Tentu saja!” Perempuan itu berputar-putar di tempatnya berdiri dan membuat roknya mengembang. Ia bahkan tidak mengenakan alas kaki—benar-benar ingin menyatu dengan pasir pantai.

            “Aku takut jika kau akan lebih menyukai pantai ketimbang diriku.” Gumam laki-laki itu.

            Perempuan itu berhenti dan memandang laki-laki jangkung itu. Bahunya lebar—tempat ternyaman yang pernah ditemukan oleh perempuan itu untuk bersandar—dan garis rahangnya tergambar tegas—mengagumkan—dan jangan lupakan bolamata hangat itu—pure hazel yang indah.

            “Apa yang kaukatakan?” Tanya perempuan itu lalu melangkahkan kakinya, mendekati laki-laki tersebut dan berdiri di hadapannya.

            “Aku takut jika kau akan lebih menyukai pantai ketimbang diriku,” Ulang laki-laki itu lagi. “Seperti kau melupakanku saat memakan Sushi.”

            Perempuan itu tertawa mendengar kalimat terakhir yang diucapkan laki-laki yang berdiri di hadapannya—oh, astaga, ia bahkan hanya setinggi dagu laki-laki itu—dan menepuk pipi laki-laki itu pelan.

            “Maka, dari itu, kau harus menjadi lebih menarik dari pantai, bahkan Sushi.”

           

Laki-laki itu terkesiap dari tidurnya. Keringat membanjiri tubuhnya, meluncur dari pelipis hingga jatuh di collarbone-nya. Nafasnya memburu dan ia mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Ia pasti sudah mulai gila.

Sehun memutuskan untuk turun dari ranjangnya, melangkahkan kakinya menembus kegelapan kamarnya dan menggeser pintu kaca tersebut. Berdiri di tengah balkon dan menghirup udara pantai tengah malam seperti ini terasa tidak buruk—well, at least, ia hanya akan masuk angin.

Pandangannya menerawang ke arah pantai yang terlihat terang. Di atas sana ada Bulan Purnama yang tergantung indah dan suara ombak menabrak karang. Tangannya mencengkram pinggiran balkon. Buku tangannya memutih dan nadi birunya tampak.

“Sialan.” Umpatnya pelan.

Pandangannya lalu beralih ke sebuah gedung yang cukup besar di seberang sana. Ada beberapa ruangan yang masih menyalakan lampunya—mungkin penghuninya juga tidak bisa tidur sepertinya, atau lebih parah lagi, terbangun karena mimpi yang mengerikan.

Siang tadi Sehun akhirnya memutuskan untuk mencari hotel lain dan—beruntungnya—ia menemukan salah satunya. Ia tidak tahu harus melakukan apa. Tidak ada niatan untuk datang ke tempat ini—Pulau Jeju—terutama untuk tujuan bulan madu.

Bulan madu yang terkutuk.

            Perempuan itu berdiri di ambang pintu. Pintu kacanya ia buka untuk membiarkan angin malam menerpa wajahnya. Ia tidak berani melangkah lebih jauh lagi, cukup berdiri di ambang pintu sini saja untuk menikmati pantai yang memantulkan sinar Bulan Purnama dan suara ombak yang menyejukkan hatinya. Ia takut akan ketinggian.

Ia menarik nafas panjang, menghirup udara pantai yang menjadi kesukaannya lalu menghelanya. Ia tidak bisa terlelap dalam tidurnya. Sudah berpuluh kali ia berguling di atas ranjang nyamannya, namun hasilnya nihil. Jadi, ia menyerah.

Iris madunya memandang sebuah bangunan di seberang sana yang tampaknya juga sebuah hotel. Ada beberapa ruangan yang masih menyalakan lampunya, sama seperti ruangannya.

Apa laki-laki itu sudah tidur?

Satu pertanyaan itu terlintas cepat di otaknya.

Mungkin sudah.

Jawab benaknya.

Kau tidak ingin memastikannya?

Lagi, sebuah pertanyaan menggoda itu terbesit.

Tidak. Dia tidak akan mengangkat telfon dariku. Dia sangat membenciku.

Ia menghela nafas. Ya, benar. Laki-laki itu membencinya. Dan laki-laki itu—Oh Sehun—dengan terang-terangan menunjukkannya.

            Pagi ini, Sehun sudah berada di hotel dimana perempuan itu menginap. Well, ya. Hotel sebelumnya.

Ia melangkah menuju resepsionis dan hendak menitipkan sesuatu, hingga seorang laki-laki menyapanya dan berdiri berdampingan dengannya.

“Oh Sehun?”

Siapapun, tolong, singkirkan laki-laki ini sebelum Sehun melayangkan tonjokannya.

“Xi Luhan.” Gumam Sehun. Suaranya terdengar lebih dalam dan serius. Garis rahangnya menegas dan iris pure hazel-nya tampak menggelap saat memandang laki-laki di hadapannya.

“Sebuah kebetulan bertemu denganmu di sini. Aku tidak menyangkanya.” Xi Luhan tersenyum ramah.

“Aku menyangkanya. Tentu saja kau akan mengikuti perempuanmu itu hingga ke ujung dunia,” Sehun memasukkan tangannya ke dalam saku celana hitamnya. “Tapi, sayang sekali. Dia berbulan madu bersamaku. Aku permisi dulu.” Tak perlu berpikir panjang lagi, Sehun langsung melangkahkan kakinya pergi.

Tangannya terasa gatal untuk tidak mencekik laki-laki itu.

Kendalikan dirimu, Sehun. Kau tidak punya urusan apapun dengannya. Sadarlah. Perempuan itu tidak berarti untukmu.

Sehun menggesekkan electronic card-nya pada gagang pintu lalu membuka pintu tersebut.

“Oh, astaga! Kau mengagetkanku!” Teriak perempuan itu histeris. Tampaknya perempuan itu baru saja berganti baju.

Sebenarnya Sehun tidak ingin bertemu dengan perempuan ini lagi. Ia ingin langsung kembali ke Seoul dan mencari kesibukan apapun. Tidak ingin terperangkap di pulau ini cukup lama. Sehun mengeluarkan sesuatu dari saku celananya lalu melemparkannya ke atas ranjang perempuan itu. Sesuatu yang hendak ia titipkan di resepsionis, namun Xi Luhan merubah pikirannya.

“Untukmu.” Ucapnya.

Kening perempuan itu mengerut setelah memandangi kartu emas di atas ranjangnya. “Credit card? Untuk apa?”

“Bayaranmu selama menjadi istriku.”

Perempuan itu memandang Sehun tidak percaya. Ia mendengus kasar. “Kau pikir aku adalah perempuan murahan?” Suaranya meningkat satu oktaf.

“Kau selalu menjadi perempuan murahan, Im Yoona-ssi. Kuharap ini adalah pertemuan terakhir kita.” Tanpa basa-basi lebih panjang lagi, Sehun keluar. Dan kembali ke Seoul. Meninggalkan istrinya sendirian di Pulau Jeju.

            “Kau meninggalkannya?! Kenapa kau memperlakukannya seperti itu, Sehun-ah?!” Ayahnya mengamuk di kantor kerjanya. Ini bukan kali pertama ayahnya mengamuk seperti ini—katakan saja, ini sudah yang kesekian kalinya.

            Yang benar saja.

Another bad day.

“Yoona adalah istrimu!”

“Aku tidak pernah setuju dengan ide appa yang menjodohkanku dengannya. Bahkan setelah aku dan dia sah menjadi pasangan suami-istri, aku bahkan masih tidak setuju. Tidak akan pernah setuju.” Tegas Sehun.

“Apa kurangnya Yoona? Dia pintar. Dia sangat cantik. Latar belakang keluarganya tidak perlu kau ragukan.” Jelas ayahnya.

Appa tidak menjodohkanku dengannya karena dia pintar atau karena dia sangat cantik. Tapi, appa menjodohkanku dengannya agar perusahaan appa ini dapat bergabung dengan perusahaan keluarga Yoona.”

Anak dan ayah itu saling beradu pandang. Tidak ada yang ingin mengalah.

Appa melakukan itu demi dirimu. Kau telah menjadi CEO di perusahaan ini dan appa membantu memuluskan jalanmu ke depannya.”

“Aku bisa membesarkan perusahaan ini tanpa bantuan keluarga Yoona sedikipun, appa!” Teriak Sehun. “Appa tidak perlu menjodohkanku dengannya! Aku bisa melakukannya! Sudah kukatakan pada appa, tapi appa tidak pernah mendengarku!” Sehun kehilangan kendari atas dirinya. Ia memukul mejanya dan membiarkan tangannya kesakitan.

“Apa ini karena Yoona adalah mantan kekasihmu?”

Sehun meringis mendengar pertanyaan ayahnya. “Aku bahkan tidak sudi menganggapnya seperti itu.”

Ayahnya berdiri, merapihkan mantelnya dan berdehem. “Perilakukan Yoona dengan baik, Sehun-ah. Appa mengandalkanmu.”

            Setelah menjalani hari yang panjang, Sehun akhirnya kembali ke rumah. Setidaknya, ia dapat merebahkan badannya yang lelah ini di ranjangnya yang nyaman, atau mandi dengan menggunakan air panas, atau berendam.

Ya, terdengar sangat menggiurkan.

“Kau sudah pulang?” Sehun terkesiap mendengar suara perempuan yang sudah tak asing untuknya.

Seharusnya, Sehun-lah yang bertanya seperti itu kepada Yoona. Apa perempuan itu sudah pulang? Ya, perempuan itu tiba-tiba muncul di hadapannya sekarang. Seperti, hantu, kau tahu. Tapi, ia enggan menanyakannya.

“Aku tahu kau lelah,” Yoona memulai pembicaraan. “Tapi, kita mendapat undangan dari China Real Technology Corporation. Mereka sedang mengadakan acara di Seoul malam ini.”

“Maksudmu, kau ingin bertemu dengan Luhanmu malam ini?” Sehun melonggarkan dasinya dan menggeleng pelan. Sehun tahu Yoona akan menutup mulutnya, tidak membalas ucapannya, maka ia memutuskan untuk pergi ke kamarnya.

“Ini tentang perusahaan kita,” Balas Yoona, membuat langkah Sehun terhenti. “Kita masih bisa membicarakan mengenai kontrak yang diajukan oleh mereka, Sehun-ah. Kau tahu, harga kontrak itu tidaklah sedikit.”

Sehun membalikkan badannya. Iris pure hazel-nya memandang iris madu yang berjarak beberapa meter darinya. “Alasanmu bagus.”

“Aku tidak beralasan, Sehun-ah.”

“Untuk perusahaan kita? Yang kauinginkan pasti bertemu dengan Luhan, mengingat Luhan adalah CEO CRTC. Apa pertemuanmu dengannya di Pulau Jeju kemarin tidak cukup?”

“Bersiaplah—“

“Aku bertanya-tanya, apa Luhan menemanimu tidur saat aku pindah hotel?”

“Sehun—“

“Kau pasti sangat senang sekaligus berterimakasih kepadaku karena aku pergi dan dapat membiarkan Luhan tidur denganmu,” Sehun mendengus pelan. “Aku akan bersiap-siap. Berterimakasihlah kepadaku kali ini, karena memberikanmu kesempatan—lagi—untuk bertemu dengan Luhan.”

            Sehun tersenyum ramah seraya beberapa orang yang mengenalnya memanggil namanya dan menyapa. Terkadang Sehun terlibat dalam obrolan mengenai perkembangan teknologi dan menyampaikan pemikirannya. Dan, ia disanjung sebagai CEO muda yang jenius. Tak sedikit juga yang memuji kecantikan perempuan yang menggandeng lengan Sehun—Im Yoona.

“Sehun benar-benar beruntung mendapatkanmu, Yoona-ya.” Seorang pakar teknologi—Lee Soo Man—melontarkan pujiannya untuk Yoona.

Yoona tersenyum kecil. “Aku yang beruntung mendapatkannya, ahjussi.”

“Tapi, aku tidak pernah mendengar berita tentang kalian berdua ternyata berkencan.” Gumam Lee Soo Man.

Ahjussi tahu bahwa Sehun benci sekali reporter dan acara gossip.” Yoona membenarkan. Well, apa yang Yoona katakan sebenarnya benar. Sehun benci reporter yang mengejarnya hanya untuk berita penghibur di majalah  atau acara siaran gossip. Ia bukan selebriti. Ia hanya seorang pengusaha.

“Mereka sudah lama berkencan, Lee ahjussi. Semenjak sepuluh tahun lalu. Hari-hari mereka dipenuhi tawa dan derai air mata. Aku saksi masa lalu mereka berdua.” Beritahu seseorang yang memutuskan ikut ke dalam pembicaraan Sehun, Yoona, dan Lee Soo Man—Xi Luhan.

To be continued.

22 thoughts on “Irresistible (Chapt. I)

  1. sehun mantannya yoona? apa jngn2 yoona prnh ngecewain sehun dan ngelibatin luhan ya? ah tggu lanjutannya aja deh. kesian yoona dicuekin gitu sm sehun. lanjut authornim!^^fighting!

  2. Pingback: Irresistible (Chapt. II) – Im Yoona Fiction

  3. Pingback: Irresistible (Chapt. III) – Im Yoona Fiction

  4. Pingback: Irresistible (Chapt. IV)

  5. Pingback: Irresistible (Chapt. V)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s