[Ficlet] My Feeling

image

My Feeling
Written by Yuna21

Mataku menatap jauh diujung sana seorang pemuda yang lebih tua beberapa tahun dariku. Punggungnya berjalan semakin menjauh di tengah rintikan hujan yang kian lama kian membesar. Tanganku menggenggam erat payung dalam genggamanku. Rasa bersalah kian lama kian membuat sesak yang terasa nyata di dadaku.

“OPPA!!”panggilku. Langkahnya terhenti. Namun tubuhnya tak berbalik sedikitpun ke arahku. Aku tau kini pria itu sedang menyimpan amarah terhadapku.

Hening beberapa detik. Tak ada yang berkutik. Hingga pria itu kembali menggerakan kakinya. Air mataku mengepul menyadari ia benar – benar sudah tak peduli lagi denganku. “OPPA!!”teriakku lagi dengan sekuat tenaga sambil menahan tangisku.

Pria itu menghentikan langkahnya lagi. Kali ini ia mulai membalikan badannya. Matanya menatapku dingin, tanpa ekspresi dan aku yakin dia sedang mencoba meredam amarahnya. “Apa lagi? Apa kau belum puas mengganggu hidup kakakmu Yoona?”tanyanya getir.

“Oppa…”gumamku.
“Aku hanya ingin satu hal apa kau tidak bisa memenuhinya? Apa itu sulit bagimu?” Donghae menghela napasnya. “Berhentilah mengganggu hidupku lagi.”ujarnya.

Ucapannya terus terngiang di telinga Yoona membuat jantungnya berhenti berdetak mendengar penuturan yang menancapkan duri di hatinya. “Kenapa oppa mengatakan hal itu? A-aku hanya khawatir padamu, apa aku salah?”tanya Yoona bergetar.

“Khawatir? Ya mungkin kau khawatir padaku, tapi aku tidak memerlukan rasa khawatirmu!”
“Oppa-”
“Berhentilah berbicara!”bentaknya.
“Aku-aku…”
“YOONA!!!!”teriaknya memotong kalimat Yoona dengan segala luapan emosinya.

Yoona meneteskan air matanya menatapnya dengan rasa sakit yang sangat mendalam. “Aku tau oppa merasa risih karena kehadiranku yang selalu merepotkanmu, tapi apa salah jika aku ingin-”

“Aku membencimu! Kau tau, selama ini aku membencimu sangat membencimu. Karena kau, kau sudah merenggut Eomma dariku! Lalu Appa, bahkan yang dia pikirkan hanya dirimu!”ungkapnya. Yoona terdiam seketika begitu mendengar ucapan Donghae. Kenyataan pahit yang harus diterimanya. Ya memang ibunya meninggal disaat melahirkannya ke dunia ini, tapi hingga detik ini ia tidak pernah berpikir jika Donghae-kakaknya sendiri-membencinya karena hal itu.

“Oppa… mi-mianhae…”gumam Yoona lemah. Ia menatap mata Donghae penuh rasa bersalahnya. “Apa gunanya meminta maaf? Apa itu bisa mengembalikan semuanya, huh?!” Jeda. “Jika kau tidak mau menyingkir, aku yang akan menyingkir.”
“Oppa…”panggil Yoona berusaha untuk menenangkan pria ini. Donghae mengangakat sebelah tangannya sambil menahan seaaknya. “Berhentilah memanggilku, kumohon biarkan aku pergi Yoona…”tuturnya melemah.

Yoona menatap pria itu sendu. Ia masih tidak bergerak dari tempatnya. Matanya menatap pria itu. Punggung Donghae terus berjalan menjauh. Mungkin ini pilihan terbaik untuk Donghae. Selama ini Yoona tidak tau apa yang dirasakan pria itu. Ia tau Donghae selama ini begitu mencintai ibunya karena dialah satu – satunya orang yang peduli padanya.

Donghae melangkah keluar dari kamarnya. Matanya menoleh ke arah pintu kamar sebelah yang ikut terbuka kala itu. Menampakan seorang gadis yang baru saja keluar dari kamarnya. Dengan cepat pria ini bergerak turun mendahului tangga. Tak ia dengar panggilan Yoona yang berisik dan selalu mencegahnya seperti pagi – pagi sebelumnya.

“Appa aku berangkat!”seruan itu membuat Donghae menoleh. Diperhatikannya Yoona yang sedikit berbeda pagi itu. Terlihat lemas dan ya, lagi  – lagi tidak seperti biasanya. Ia tidak menyentuh sarapannya sedikitpun. “Yoona, habiskan dulu sarapanmu.”tegur Tuan Lee.

“Aniyo, aku sudah terlambat. Aku bisa makan di sekolah.”jawabnya melengos pergi.

Semakin hari perubahan Yoona semakin terlihat. Sudah beberapa minggu ini Yoona selalu menghindarinya. Ia tidak lagi mengganggu di rumah ataupun sekolah. Dia tidak lagi mengusik kehidupan Donghae. Tidak lagi membuntutinya kemana – mana. Tidak lagi mengganggu teman – temannya untuk mengawasi tingkah laku Donghae diluar sana. Donghae harusnya merasa senang, tapi kenapa ia merasa perasaannya mengatakan hal yang lain.

Donghae berdiri di depan kamar Yoona. Sedari pagi Yoona tak kunjung keluar kamarnya. Padahal hari ini hari libur dan biasanya dia akan selalu membuat hal – hal berisik di rumah ini.

Berjam – jam ia menunggu. Pintu kamarnya tak juga terbuka. Donghae mengangkat tangannya hendak mengetuk pintu namun ia mengurungkan niatnya. Ia kembali menunggu. Berdiri di sini, tak peduli dengan kakinya yang terasa mulai pegal. Sebersit ingatan terlintas di kepalanya. Ia meningingat Yoona juga pernah melakukan hal yang sama menunggunya bahkan hingga pagi hari di depan gedung tempat Donghae bersenang – senang dengan kawannya.

Krek! Perlahan pintunya terbuka, menampakan orang yang ditunggunya kini muncul di depan wajahnya. Yoona merasa sedikit terkejut dengan kehadiran Donghae disana. “Oh…”gumamnya pelan.

Keduanya sama – sama terdiam. Tidak ada yang ingin memulainya lebih dulu. Hening yang terasa begitu canggung. “A-ada apa?”tanya Yoona yang memecahkan keheningan. Gadis ini mengangkat wajahnya ragu – ragu. Tangannya meremas ujung roknya.

Donghae terdiam sejenak. Tadi ia sudah menyiapkan pidatonya untuk dikatakan pada gadis ini tapi sekarang semuanya buyar. “Oppa?”panggil Yoona yang menyadarkan dirinya.

“Eum, oh… tidak ada.”jawab Donghae cepat. Yoona hanya menganggukan kepalanya. Gadis ini kemudian melenggang, berjalan meninggalkannya disini. Donghae menghembuskan napasnya. Matanya mengikuti arah Yoona yang sedang menuruni tangga. Dia benar – benar berubah. Tidak lagi seperti Yoonanya yang dulu yang selalu mengusik kehidupannya. Yang selalu membuat emosinya naik dan memberi warna sendiri dalam hidupnya.

Yoona menghentikan langkahnya begitu ia tiba di lantai dasar. Badannya berbalik menatap ke lantai dua. Jujur ia tidak bisa melakukan hal ini, tapi ini harus. Karena inilah yang diinginkan Donghae. Bukannya Yoona ingin membalas, tapi ia ingin memenuhi permintaan Donghae.

Pukul dua belas malam. Yoona melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah yang selalu nampak sepi baginya. Semakin sepi dan seperti tak bernyawa karena orang – orang di dalamnya terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri.

Tek! Lampunya menyala. Matanya mendapati Donghae yang berdiri di tengah ruangan. Melipat kedua tangannya di depan dada. Menatapnya dengan sorot mata tajam. “Dari mana kau? Kenapa baru pulang?”tanya Donghae.

“Pergi. Oppa sering pulang malam bahkan seharian tidak pulang. Apa aku tidak boleh? Aku sudah besar.”jawabnya dingin dan menusuk. Donghae menatapmya yang melengos menaiki tangga menuju kamarnya. Tak perlu lagi waktu untuk menunggu, dengan segera Donghae menyusulnya. Menahan tangannya.

“Aku khawatir padamu,” Yoona membalikan badannya. Menatap lengannya yang berada dalam cengkraman Donghae kemudian beralih menatap mata pria ini.

“Kau bilang apa? Khawatir? Huh,”dengus Yoona. Nada bicaranya terdengar sedikit kasar dan tidak sopan. Tidak seperti Yoona yang biasanya.

“Kenapa kau berubah?”
“Aku tidak berubah. Aku memang seperti ini. Mungkin kau yang berubah.” Perlahan Yoona melepaskan cengkraman Donghae di lengannya. “Aku ingin istirahat.”ujarnya. Tangannya membuka pintunya. Memasuki kamarnya dengan cepat. “Yoong! Yoona!”panggil Donghae. Apa yang ia dapatkan? Hanya suara dentuman pintu yang begitu keras.

Donghae menghembuskan napasnya frustasi. Semua ini salahnya. Ia yang memulai semuanya dan sekarang ia harus menyelesaikan semuanya. Ia tidak bsa jika harus hidup seperti ini. Ya, mungkin dulu ia merasa risih dan membenci Yoona tapi ia sadar betapa ia menyayangi gadis itu sesungguhnya. Benar kata orang. Disaat orang peduli kita sering mengabaikannya tapi disaat mereka pergi kita baru merasa kehilangan.

Tangannya dengan cepat membuka pintu di hadapannya. Masuk tanpa permisi. Matanya mendapati Yoona yang terduduk di atas kasurnya. Mengalihkan tatapannya. Tak ingin melihat wajahnya sedikitpun. Donghae berjalan mendekat. Mengambil tempat di hadapannya.

“Aku ingin istirahat, pintu keluar ada disana.”usirnya halus. Donghae menatap gadis ini lekat. “Aku tidak ingin keluar. Jika kau mau istirahat, istirahatlah.”jawabnya.

Yoona mulai memutar kepalanya. Menatap Donghae menusuk. “Apa lagi yang ingin kau katakan?”tanyanya sinis. Donghae mencoba meraih tangannya namun Yoona dengan cepat menariknya. “Aku sudah melakukan hal yang kau minta.”lanjutnya.

“Mianhae…”
“Bukankah kau bilang maaf tidak akan pernah mengembalikan segalanya, oppa?”tanya Yoona getir. “Kau membenciku bukan? Kenapa sekarang kau datang padaku?”tanyanya lagi. Air matanya sudah mengepul. Sedikit lagi akan menetes. Donghae sadar dengan dirinya yang telah salah selama ini.

“Kau bisa keluar sekarang…”tutur Yoona. Tangannya terangkat mengarahkan pada pintu kamarnya di sana. Donghae menggenggam tangan itu. Menurunkannya. Ia mengerti apa yang dirasakan Yoona, pastilah sakit. Ia merasa begitu bodoh dan tak pantas dikatakan sebagai seorang kakak. Donghae mendekapnya yang mulai meneteskan air mata. “Aku tau kata – kataku sangat kasar padamu… mianhae Yoong… aku sadar, mungkin aku mengatakan aku benci padamu tapi sejujurnya jauh di dalam lubuk hatiku aku sangat menyayangimu.”

Telinganya bisa mendengar isakan Yoona yang begitu dekat dengannya. “Selama ini aku selalu memarahimu, mengacuhkanmu bahkan tidak mengakui bahwa kau adikku. Aku memang bukan kakak yang baik untukmu. Mianhae… Jeongmal mianhae…”

Donghae mengeratkan pelukannya. Selama ini ia sudah bertindak bodoh. Seharusnya ia tidak membenci Yoona seharusnya ia menyayangi Yoona karena biar bagaimanapun Yoona adalah adiknya. Berkat yang diberikan Tuhan sebagai pengganti ibunya yang harus ia lindungi.

“Apa kau mau memaafkan oppamu yang bodoh ini?”tanya Donghae lemah. Yoona terdiam. Menelungkupkan wajahnya. Ia tidak bisa membohongi dirinya. Ia sangat menyangi Donghae. Mencintainya sepenuh raganya. “Tentu, aku menyangimu oppa… aku tidak pernah menyimpan rasa benci padamu.”

Donghae menatap Yoona kedua mata rusa gadis ini yang sangat mirip dengan milik ibunya. Tangannya menghapus air mata di pipi Yoona. “Oppa berjanjilah, oppa tidak akan lagi menyuruhku pergi dari hidupmu.”

Donghae menangkup kedua pipi gadis ini. “Aku berjanji. Aku mencintaimu…”ucapnya. Dikecupnya kening Yoona lembut. Gadis ini kemudian memeluknya erat. “Nado…”

-The End-

Ini secercah ff oneshoot pendek😄 omg author lagi ngestuck dan well udah lama juga nggak update ff ini lebih banyak fokus update ke blog. Maafkan atas ff gaje ini hanya untuk menyalurkan ide dan sedikit perasaan author *lagibapersamasomeone* nah oke deh jangan lupa di like dan dikasi kritik saran. Btw yang mau baca ff yang lain bisa liat di page library disini atau kunjungin blog aku aja… haha oke deh see next time guys!!

7 thoughts on “[Ficlet] My Feeling

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s