Meeting (Chapter 1)

Meeting

PicsArt_04-10-05.33.41[1]

Chapter 1

Written by PinnochioTall

Poster by me

Main Casts : [EXO] Park Chanyeol | [SNSD] Im Yoona 

Support Casts : Temukan Dalam Cerita

Genre : Romance-Drama | Length : Chapter 1&2  | Rated : Teen

Disclaimer : kebanyakan terinspirasi diberbagai anime shoujo dan Drakor. Cast punya ortu-nya dan allah SWT! Recommended: dengarkan lagu chen ft. punch – evertime.

 

“Apa perlu duduk diam dan merasakan segala hal yang menyakitkan didalam hidup ini. Perlukan merenungi segala hal yang disesali? Dimana keadilan berada? Haruskah aku menemukannya disurga?”

                Dua kaki yang menimbang-nimbang duduk menatap dedaunan diatas pohon. Matanya penuh pertanyaan raut wajahnya tampak begitu sedih bercampur kekhawatiran. Aku duduk disebelahnya penuh dengan keingintahuan. Apa yang ia lakukan disini? Mengapa ia terlihat seperti putus asa, dan lain sebagainya. Tapi semua pertanyaan itu tidak bisa ku lontarkan karena aku sama sekali tidak mengenalnya. Apa ada orang yang tidak mengenal seseorang tiba-tiba menceritakan kisah hidupnya pada seseorang itu? Aku pikir itu hanya ada di anime shoujo. Anime penuh kisah romance khayalan para gadis remaja.

                Aku megikuti gerakan kaki nya tanpa kusadari, ia melihatku menyadari bahwa diriku mengikutinya. Tapi ia tidak berkata-kata hanya menghentikan gerakan kakinya dan duduk diam sambil menunduk. Kukira diriku sudah membuat kesalahan.

“mm maaf aku tidak-..” ia menatapku dengan tatapan tidak suka.

Oh tidak, aku sudah dianggap sebagai laki-laki aneh, mungkin.

“apa kau orangnya?! Orang yang membuat hidupku seperti ini?!” dia berdiri tepat didepanku sambil menarik kerahku. Tentu saja aku kaget.

“m m maaf, apa maksudmu, aku h hanya,,”

“aoouh,,” tiba-tiba ia melepaskan genggamannya dikerahku sambil memegangi kepalanya ia kembali duduk.

“maafkan aku, aku tadi hanya merasa frustasi. Dan tidak tau harus pada siapa aku lampiaskan.” Lanjutnya.

“APA DIA TIDAK APA-APA? TAPI TUNGGU, DIA MENJADIKANKU SEBAGAI PELAMPIASAN? DASAR GADIS INI”

“apa yang terjadi pada dirimu? Bila kau tidak ingin mengatakannya tidak apa, aku tidak memaksa”

“aku-, merasa hidupku sangat berat, awalnya segalanya terasa biasa-biasa saja. Aku tidak pernah tau hal sejauh ini bisa terjadi padaku. Aku tak tau kejadian seperti ini bisa juga terjadi padaku. Aku hanya mengira semua ini hanya akan terjadi di drama-drama saja. Tapi saat semuanya terjadi terlalu cepat hingga membuatku hampir ingin mengakhiri hidup ini. Aku tidak tau pada siapa ini harus disalahkan. Tapi kini aku tak apa. Aku merasa lega setelah melihatmu. Mungkin bukan aku saja yang mengalami semua ini.” Ia tersenyum padaku. Hingga membuat jantungku mau pecah rasanya.

“tapi tunggu, apa dia menganggap diriku juga memiiki masalah seperti dirinya? Gadis ini memang berfikir sesuka hatinya.”

“ooh, itu hanyalah bagian hidup yang harus kau lalui. Memang benar semua orang memiliki masalahnya masing-masing. Dan apabila seseorang itu berhasil melewatinya ia akan masuk ke level berikutnya. Level dimana tingkat kesulitannya lebih rumit dan tidak bisa dipecahkan. Kau hanya perlu terus berdoa dan berusaha memampumu. Maka yang mahakuasa akan mendorongmu keluar dari level itu dan masuk ke level berikutnya hingga kau mendapatkan gelar tak terkalahkan suatu hari nanti. Dan kau tidak akan menjadi sombong Karena kau belajar dari pengalaman yang menyakitkan saat berjuang menuju level itu.” Tiba-tiba aku tersadar, barusan aku memberinya nasihat. Padahal aku tidak mengenalnya. Apa aku terlihat seperti seseorang yang sok? Matilah aku.

                Hening, tak ada jawaban darinya. Aku pun tidak berani menatap wajahnya. Apa yang harusku lakukan? Dengan keberanian seadanya kulihat dirinya tengah tertunduk sambil meremas ujung roknya. Tiba-tiba setitik air jatuh dari wajahnya. Oh tidak! Ia menangis. Apa yang harus ku lakukan?

“hiks..hiks..” kini isakan tangisnya terdengar.

                Berlahan aku memeluknya, memberi kekuatan agar tetap kuat. Entah mengapa aku sangat mengerti perasaan gadis ini. Aku tidak terlalu mengerti masalah apa yang ia hadapi. Namun aku tau dia pasti sangat sedih hingga ia tidak sanggup menanggungnya lagi.

“aku akan selalu ada untukmu. Kalau ada masalah kau bisa ceritakan padaku semuanya kapan pun kau mau.” Ucapku tanpa menyadari hubunganku dengannya hanya sekedar kenal ditempat duduk ini saja. Baru beberapa menit yang lalu aku berbincang dengannya. namanya saja aku tidak tahu. Ia berhenti menangis, sambil mengusap hidungnya ia mentapku, tatapan yang sangat membuatku penasaran.

“apa kau sudah baikan?” ia mengaguk dan tersenyum.

“DEG” apa wajahku kini memerah?

“namaku Im Yoona, nama kamu?” ia menjulurkan tangannya.

“Park Chanyeol.” Aku menyambut tangannya dengan senyuman.

“mungkin anime shoujo juga ada didunia nyata”

Setelah pertemuan menyentuh dan termasuk “aneh” itu aku selalu bertemu dengannya sebelum berangkat dan sepulang sekolah. Bertemu ditempat pertama kali kami bertemu. Memang sedikit dramatis. Namun aku menikmatinya.

                Jujur saja, lebih dari dua bulan aku diledek oleh teman-temanku akan kelakuan anehku yang selalu menolak apabila diajak bermain sepulang sekolah, atau diajak bolos. Tentu saja aku tidak ingin membuat Yoona semakin sedih. Ia memiliki banyak masalah dalam hidupnya dan aku memberinya nasihat namun aku sendiri terlihat lebih membutuhkan nasihat daripada dirinya. Apa aku sedang memberi lelucon pada yoona?

                Duduk ditempat kami pertama kali bertemu mengingatkanku saat itu. Alasanku berada disana karena aku sedang menghindari teman-temanku yang selalu mengajakku untuk bolos. Aku lelah berlaku seperti anak nakal. Karena sebenarnya aku sendiri tidak menyukai hal itu. Hanya saja aku takut di deskriminasikan hingga aku berani berbuat. Haha aku memang terlihat seperti pecundang.

                Tapi kini aku sadar, aku harus menjadi diriku sendiri. Aku harus terlihat seperti laki-laki yang bisa diandalkan bagi Yoona. Walau hubunganku dengannya hanya sekedar teman. Aku yakin aku akan bisa melampaui itu.

“hai, apa kau lama menungguku?” sedikit berlari menuju Yoona yang duduk menatapku dari kejauhan.

“tidak kok” senyuman hangat yoona memperbaiki moody ku.

“apa hari ini menyenangkan, Yoona?”

“ya, akan selalu menyenangkan setelah mengenalmu Chanyeol.” Ia tersenyum lagi.

                Senyuman dibibirnya membuat dua lesung pipi tersebut terlihat. Aku menyentuh lesung pipi kanan Yoona tanpa sadar.

“APA YANG AKU LAKUKAN, BODOH!”

               Aku tersentak kaget hingga mau mati rasanya, buru-buru aku ingin minta maaf namun saat tanpa sengaja ku melihat matanya yang berbinar menatapku membuatku ingin melakukan sesuatu. Ia masih menatapku dengan tatapan hangat itu. Aku terus memajukan wajahku padanya. Naluriku menyuruhku melakukan itu.

                Bibirku menyentuh bibirnya. Ia menutup matanya, begitu juga denganku. Kami diam untuk beberapa detik. Berlahan aku membuka mataku, memegang rahang kirinya dan mengenggam tangan kanannya. Masih dengan menatap kedua retina indah matanya.      

“maukah kau menjadi pacarku?”

Hanya dengan senyuman indah dan anggukan kepalanya membuatku kini berada di kayangan. Apa aku sudah mati? Tidak. Aku tidak boleh mati. Aku baru saja naik level dan menemukan kehidupanku untuk pertama kalinya aku memiliki tujuan dihidupku.

                Pagi ini jadwal wajib yang harus ku lakukan adalah menemui Yoona ditempat biasa. Hanya sekedar menyapa. Aku tahu ini terlihat berlebihan. Bisa saja aku memberinya sebuah pesan singkat atau menelefonnya. Namun itu tidak akan aku lakukan. Karena aku ingin melakukan segala hal yang ingin ia lakukan.

“pagi putri Im Yoona” lelucon pagi ini berhasilku lontarkan.

“apaan sih” ucapnya sambil menyenggolku, Kami tertawa bersama.

                Sekolah kami memang berbeda. Dan berlainan arah. Maka dari itu aku ingin selalu menemuinya apabila ada kesempatan. Mungkin ini yang namanya LDR. Saat ini aku belum berani untuk mengenggam tanganya saat kami jalan berdua. Namun kami selalu tertawa, bagiku itu sudah cukup. Suatu saat kami pasti akan melakukan itu. Itu semua akan berjalan dengan sendirinya.

“sampai jumpa nanti sore ditempat seperti biasa, Chanyeol!” ia melambai padaku dengan senyuman yang sangat aku kagumi itu. Tentu saja aku membalasnya dengan senyuman yang tak kalah menawan darinya.

                Seperti biasa setibanya aku disekolah aku langsung meletakan tasku diatas meja dan menjadikannya sebagai bantal tidurku. Tiba-tiba wajah Yoona terbayang olehku.

“apa yang ku lakukan?! Aku harus belajar dan membahagiakan Yoona dimasa depan!” dengan mantap aku mengangkat kepalaku , mengambil buku pelajaran dan mulai belajar seperti siswa lainnya. Perubahanku tidak terhenti disana saja. Aku mengikuti les tambahan dimalam hari dan bertekad mendapatkan ranking agar Yoona bisa membanggakan ku pada teman-temannya.

                Perubahan sikapku yang drastis membuat teman-temanku tidak suka, suatu hari saat aku hendak menemui Yoona seseorang memukulku dari belakang dan menghajarku habis-habisan, yoona melihat diriku yang pecundang ini tak bisa melawan. Sungguh aku merasa malu pada diriku sendiri. Aku harap Yoona tidak pernah menyaksikan ini. Ia berlari kearahku, menyuruh mereka yang memukuliku berhenti dan pergi dari sini. Ia menangis. Oh tidak aku membuatnya menangis. Padahal alasanku berubah demi Yoona, agar dirinya tidak lagi bersedih. Tapi aku terlalu naif. Aku harus lebih kuat dari yang sekarang.

“apa kau tidak apa-apa?” Yoona membersihkan luka diwajahku.

“aouch, sakit.” Rintihku.

“maaf-maaf. Kenapa mereka memukulimu?”

“entahlah, mungkin mereka iri melihatku bersama gadis cantik dari sekolah yang terkenal.” Candaku agar tidak membuat Yoona semakin sedih.

“jadi kau dipukuli karenaku?”

“MAMPUS! AKU BILANG APA BARUSAN?!”

“t t tidak, maksudku..-“

“pfft.. hahahhaa” tiba-tiba Yoona tertawa lepas. Senyumannya berubah menjadi tawa. Betapa manisnya dirinya. Andai ia menyadari hal itu.

“hey, apa kau tau, dirimu itu akan sangat manis apabila tersenyum dan tertawa.”

Tawanya lenyap dan berganti dengan wajah meronanya. Oh tuhan apa kau tengah mengujiku dengan cara seperti ini? Terimakasih tuhan.

To be continued_part1

15 thoughts on “Meeting (Chapter 1)

    • Terimakasih udah membaca “Meeting” chater 1 nya GEEDIAZ98. iya kesel sama yang mukulin chanyeol, laki kita enak aja dipikulin 😂 tetap stay ya sama ”Meeting” dichapter 2-nya. Cuma tinggal nunggu di post aja sama IYAF 😊

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s