Revenge (Chapter 3)

Revenge

Revenge 

Chapter 3 

By : Park Hee Young

PG-15

Romance, Angst, Tragedy

Main Cast : Im Yoon Ah, Lee Jongsuk, Cho Kyuhyun

Support Cast : Choi Siwon, Choi Sooyoung, Tiffany Hwang, Lee Jonghyun, Choi Minho

Keep your friend close, and your enemies closer

Author POV

 

“Eomma…appa….”panggil Yoona pelan.

Mendengar suara Yoona, dengan gesit Sooyoung mendekat pada Yoona. Namun, kedua mata Yoona masih terpejam, hanya saja Yoona terlihat gusar dan gelisah. Yeoja itu kini sedang mengigau.

“Jebbal, jangan tinggalkan aku sendiri.”ucap Yoona cemas.

“Nona…nona bangun.”ujar Sooyoung pelan.

Perlahan Yoona membuka matanya. Seluruh pandangannya mengedar pada seluruh sudut ruangan disekelilingnya. Mencoba menerka-nerka dimana dirinya sekarang dan apa yang telah terjadi hingga akhirnya dia bisa terbaring disini.

Kemudian Yoona baru sadar ini adalah kamarnya, tempat tidurnya. Lalu Yoona mencoba mengingat dan menerawang apa yang terjadi. Hingga akhirnya dia sadar, dirinya pingsan saat pemakaman kedua orang tuanya.

Mengingat kematian kedua orang tuanya membuat Yoona merasa terluka. Merasa dirinya tak ada alasan lagi untuk hidup.

Yeoja itu kini hanya diam. Tatapannya kosong benar-benar seperti raga yang tak berjiwa. Ingin menangis pun rasanya dia sudah merasa lelah. Ingin menjerit suaranya itu tak bisa keluar. Ingin memberontak namun Yoona tak memiliki tenaga untuk melakukan itu. dirinya merasa lemah, lemas dan tak berdaya.

“Nona, silahkan diminum.” Sooyoung membawakan segelas air untuk Yoona dan meminta Yoona meminum air putih itu.

Yoona diam. Tak memberikan respon apa-apa pada Sooyoung. Membuat Sooyoung semakin khawatir dan tak kuasa melihat nona-nya yang menderita seperti ini.

“Nona…”panggil Sooyoung lagi. “Aku akan mengambilkan makanan untuk nona. Sejak kemarin malam nona belum makan. Nona bisa sakit jika seperti ini terus.”

“Tinggalkan aku sendiri.”ungkap yeoja itu yang akhirnya bersuara.

“Tapi nona…”

 

Belum juga Sooyoung menyelesaikan kalimatnya, Siwon masuk begitu saja ke kamar Yoona.

Ketika Siwon datang, Sooyoung seketika membungkukkan badannya memberikan hormat pada Siwon.

“Kau bisa meninggalkan ruangan ini dan menyiapkan makanan untuk Yoona, Sooyoung-ssi.”perintah Siwon.

“Ne, isanim.”balas Sooyoung. Yeoja itu membungkukkan badannya lalu pergi mengikuti perintah Siwon.

 

Siwon benar-benar terpukul melihat keadaan adiknya itu. Mata Yoona begitu sembab dan bengkak, tatapannya seolah kabur entah kemana, tak ada semangat hidup dan rasanya kini sudah tak ada lagi Yoona yang ceria, tak ada lagi senyum yang selalu membuat orang-orang disekitar Yoona menjadi ikut tersenyum. Senyumnya yang hangat bak mentari itu kini meredup.

“Na-ya, oppa tau kau gadis yang kuat. Yoona yang oppa kenal adalah Yoona yang begitu ceria dan penuh semangat. Seberat apapun cobaan yang kau hadapi, tegarlah. Jangan biarkan duka dan luka selalu menyelimutimu. Kembalilah menjadi Yoona yang oppa kenal, demi eomma dan appa. Apa jadinya jika mereka melihatmu seperti ini? Mereka tak akan tenang di alam sana.”jelas Siwon seraya mengelus lembut kepala Yoona.

“Arraseo. Oppa tak perlu mengkhawatirkan aku.”jawab Yoona seadanya.

“Yoona-ya, percayalah. Eomma dan appa tak pernah pergi, mereka selalu ada di hati kita.”

Yoona hanya mengangguk sambil tersenyum pasi. Keputusan Siwon untuk meminta Yoona menghadiri rapat pemegang saham besok menjadi goyah. Siwon menjadi tak yakin dengan keputusannya. Melihat kondisi Yoona yang seperti ini, rasanya adiknya itu belum siap untuk masuk ke dunia perang yang sesungguhnya.

“Lalu bagaimana dengan perusahaan, oppa?”tanya Yoona tiba-tiba seolah adiknya itu bisa membaca pikiran Siwon.

“Besok akan diadakan rapat pemegang saham, oppa sangat berharap kau bisa menemani oppa. Tapi, jika kau merasa belum siap dan ingin beristirahat, oppa tak akan memaksa.”jawab Siwon.

“Ne, aku akan hadir besok.”

Siwon begitu terkejut mendengar jawaban adiknya. Selama ini Yoona tak terlalu berambisi untuk bekerja di perusahaan dan mendapatkan posisi yang tinggi di perusahaan milik keluarganya itu. Yoona bahkan seperti tak tertarik menjalankan perusahaan. Dulu, dia selalu memilih ingin memiliki butik dengan jerih payahnya sendiri, bukan dari bantuan keluarganya.

Namun kini, Yoona bersedia hadir di rapat pemegang saham. Ini kali pertama baginya untuk masuk ke dalam rapat seperti itu.

Yoona menjadi ingat, dulu dia lah yang selalu masuk mengganggu ayahnya yang sedang rapat. Dia yang selalu meminta ayahnya untuk cepat-cepat menyelesaikan rapat yang tak ada habisnya itu dan pergi bermain bersamanya.

Sikap Yoona yang manja itu memang sudah tak asing lagi di seluruh karyawan bahkan para pemegang saham Kangsan Group. Tak heran jika Yoona sering datang dan merajuk pada ayahnya itu.

“Kau mau membantu oppa, kan? Menjalankan perusahaan besar seperti ini rasanya oppa juga tak sanggup. Aku membutuhkanmu, Na-ya. Bantulah agar oppa terus kuat dan kita lewati ini bersama-sama. Arraseo?”

Yoona kemudian mengangguk sambil tersenyum. Apa yang dikatakan oppa-nya itu adalah benar. Jika dia terus terlarut dalam kesedihan seperti ini, hanya akan menyakiti diri sendiri dan membuat eomma dan appa-nya ikut sedih. Yoona sangat mengenal oppa-nya, seberat apapun masalah yang dihadapi, seperih apapun luka yang dia alami, Siwon tak pernah menunjukkannya pada Yoona. Namun, gadis itu bisa merasakannya. Beban  yang dipikul Siwon tentu lebih berat darinya. Siwon yang notabennya adalah anak laki-laki tertua, tentu memiliki tanggung jawab terhadap masa depan keluarga Choi dan Kangsan Group ke depannya.

Yoona akan mencoba untuk tegar, meskipun itu tak mudah. Karena duka yang dialaminya begitu dalam. Tak semudah membalikkan telapak tangan untuk melupakan semuanya dan kembali menjadi Yoona yang sesungguhnya.

“Gomawo.”ungkap Siwon. “Sekarang kau harus makan. Wajahmu sudah pucat seperti itu. kau akan jatuh sakit jika tak makan.”

Yoona kembali mengangguk dan mencba untuk tersenyum pada oppa-nya agar ia tak lagi khawatir pada Yoona. Setelah mengelus kepala adiknya itu, Siwon keluar dari kamar Yoona. Disusul dengan Sooyoung yang masuk ke dalam kamarnya membawakan makanan. Entahlah, melihat makanan kesukannya sekalipun nafsu makan Yoona sama sekali tak ada.

Meskipun ia merasa lapar, ia merasa tak berselera.

“Tinggalkan saja makanannya di meja, eonni. Nanti akan ku makan. Kau bisa keluar dan beristirahat.”perintah Yoona.

“Tapi nona..”

“Jebbal..aku hanya ingin sendiri.”rintih Yoona.

 

Sejujuranya Sooyoung tak ingin meninggalkan Yoona sendiri. Gadis itu sedang rapuh. Duduk merenung seperti itu sendirian hanya akan membuatnya semakin terluka. Sooyoung ingin menemani Yoona dan meringankan sedikit bebannya. Namun sepertinya keputusan Yoona sudah bulat.

“Apa yang terjadi?”tanya Jongsuk tiba-tiba dan sukses membuat Sooyoung kaget. Namja itu berdiri begitu saja di dekat pintu kamar Yoona.

“Nona ingin sendirian. Aku sudah meningalkan makanan di meja. Semoga saja nona bisa makan sekarang. Wajahnya begitu pucat.”jelas Sooyoung.

“Kau juga terlihat lelah. Kau begitu kurang tidur belakangan ini. Lebih baik kau istirahat, biar aku yang menjaga Yoona.”pinta Jongsuk.

“Gwenchana..”

“Sooyoung-ah, istirahatlah.”pintah Jongsuk lagi.

Sooyoung pun merasa luluh oleh bujukan Jongsuk. Dengan ragu, Sooyoung meninggalkan Jongsuk sendiri berjaga di depan kamar Yoona. Entahlah, dia selalu merasa berat hati membiarkan Jongsuk menjaga Yoona seorang diri seperti itu. Sooyoung selalu takut keduanya melewati batas. Batas yang sama sekali tak boleh mereka lewati satu inci pun. Bagaimanapun juga, dia bisa merasakan ada sesuatu yang janggal diantara keduanya, terutama Jongsuk.

Ia tau, Jongsuk menyimpan rasa pada nona besar Choi itu. Dan itu tak boleh terjadi. Yoona pun tak boleh jatuh hati pada Jongsuk. Sooyoung yakin, Jongsuk tau resiko apa yang harus dia ambil jika berani menyimpan rasa untuk Yoona. Namun ia tetap merasa tak tenang, ia takut kehancuran akan menimpa keduanya. Karena dua insan itu tak mungkin dapat bersatu.

Selang beberapa menit setelah Sooyoung pergi, Yoona memutuskan untuk keluar menghirup udara segar. Bagaimanapun, dia tak merasa siap untuk menghadiri rapat pemegang saham esok hari. Dan betapa terkejutnya ketika Yoona melihat Jongsuk yang tengah berdiri di depan pintu kamarnya. Begitupula Jongsuk, namja yang hampir tertidur itu langsung terbangun ketika mendengar suara pintu kamar Yoona yang tebuka dan melihat sosok Yoona di hadapannya.

 

“Sepertinya kau kelelahan. Istirahatlah aku baik-baik saja.”ungkap Yoona kemudian pergi meninggalkan Jongsuk. Jelas sekali Yoona melihat namja itu terlihat kelelahan dan mengantuk.

“Gwenchana. Nona mau pergi kemana malam-malam begini?”tanya Jongsuk.

“Aku hanya ingin menghirup udara segar dan menenangkan diri.”jawab Yoona sambil mencoba untuk tersenyum.

“Ijinkan aku menemani anda, nona.”pinta Jongsuk. “Ketika sedang bersedih seperti ini, nona tak boleh sendirian. Setidaknya, ijinkan aku untuk sedikit menghibur nona.”

Yoona pun mengangguk. Keduanya memutuskan untuk duduk di taman dan menikmati angin malam yang begitu menyejukkan namun terasa menusuk.

Jongsuk mencoba berbagai usaha untuk menghibur Yoona. Segala lelucon pun telah ia lontarkan. Yoona tertawa, tapi tetap saja tawanya itu semakin memperlihatkan kesedihan yang dia alami .

“Nona, aku ingin bercerita sesuatu. Kehilangan seseorang yang kita cintai memang begitu menyakitkan. Saking menyakitkannya sampai kita merasa bahwa hidup pun tak ada gunanya lagi. Hingga kita merasa bahwa lebih baik kita mati. Tapi nona harus tau, hidup tak berhenti sampai disini. Nona harus bangkit, seperih apapun luka yang nona alami, percayalah seiring berjalannya waktu luka itu akan mengering. Namun, jika nona terus bersedih seperti ini, nona sama saja menyakiti diri nona sendiri, luka itu pun tak akan kunjung mengering.”ungkap Jongsuk.

“Aku selalu berusaha untuk baik-baik saja, Jongsuk-ssi.”jawab Yoona dengan tatapan nanarnya. Yoona benar-benar ingin keluar dari kesedihan ini. Ia juga ingin kembali ceria seperti dulu dan menjalani hidup dengan ringannya.

“Aku sangat mengerti bagaimana perasaan nona, ketika eomma meninggal aku pun menangis dan berteriak memanggil eomma. Namun sekencang apapun aku berteriak memanggil namanya, eooma tak juga kembali. Lalu aku sadar, menangisi dan bersedih seperti itu tak akan bisa merubah takdir. Yang harus ku lakukan adalah terus menjalani hidupku, menggapai cita-citaku, membantu abeoji, dan membuat eommaku bangga.”jelas Jongsuk.

Yoona begitu tertegun melihat Jongsuk. Dia  memperhatikan Jongsuk yang matanya terlihat berkaca-kaca. Namja itu seolah kembali ke masa lalu dan mengingat betapa pedihnya sakit yang ia rasakan pada saat itu, hingga ia tak menyadari matanya kini berkaca-kaca.

“Jongsuk-ssi…”ucap Yoona yang tak mampu berkata apa-apa dan kini Yoona kembali terisak. Dia tak kuat lagi membendung semuanya, ia ingin menangis sekali lagi, mengeluarkan seluruh rasa sakit yang ada dalam hatinya hingga dirinya merasa lega.

Jongsuk pun meminjamkan bahunya untuk Yoona bersandar. Yoona bersandar pada Jongsuk dan terisak disana.

“Menangislah, berjanjilah ini tangisanmu yang terakhir, nona.”balas Jongsuk

Sejujurnya Yoona sendiri tak mengerti, mengapa dia selalu merasa nyaman jika berada di dekat Jongsuk. Seolah hanya Jongsuk lah yang paling mengerti dirinya.

 

Setelah selesai menghadap Siwon, Minho yang melewati taman menuju dapur melihat pemandangan itu. Dirinya begitu terkejut melihat nona besar Choi itu menangis di pundak Jongsuk yang notabennya adalah pengawalnya sendiri.

“Apa mungkin keduanya memiliki hubungan spesial? Kelihatannya keduanya begitu dekat.”ungkap Minho yang bermonolog berbicara pada dirinya sendiri. Dia tak bisa membayangkan apa yang terjadi jika keduanya memang memiliki hubungan spesial. Terutama, jika heojangnim tahu, entah apa yang terjadi nantinya.

 

***

Yoona memandangi pantulan dirinya pada cermin. Perlahan yeoja cantik itu memoles wajahnya dengan bedak dan sentuhan make up lainnya. Dadanya tiba-tiba bergetar lebih kencang. Dia mengingat semua isi laporan yang telah ia baca semalam untuk dibahas di rapat pemegang saham nanti.

Kau pasti bisa, Choi Yoona.

 

“Apakah anda sudah siap, nona?”tanya Jonghyun pada Yoona. Namun, Nona besar Choi itu hanya terdiam.

Jonghyun pun membuka pintu mobil dan mempersilahkan Yoona untuk masuk, dan lagi-lagi Yoona hanya terdiam.

“Nona…”panggilnya lagi.

“Ah? Ne..”balas Yoona yang akhirnya tersadar lalu masuk ke dalam mobil.

 

Tak lama kemudian, Jongsuk dan Sooyoung masuk ke dalam mobil. Sepanjang perjalanan, Jongsuk diam-diam memperhatikan Yoona. Dia sangat yakin Yoona takut dan merasa tak mampu melakukan ini. Bagaimanapun juga, ini kali pertamanya Yoona menangani urusan perusahaan. Terutama rapat pemegang saham.

Jongsuk benar-benar khawatir terhadap Yoona. Yeoja itu, apakah dia akan tetap aman? Di luar sana, ia yakin banyak yang mengincar Yoona dan tak tanggung-tanggung untuk mencelakainya.

“Nona, kau pasti bisa. Aku yakin dengan kemampuanmu nona bisa membuat para pemegang saham dan petinggi perusahaan itu tercengang.”ujar Sooyoung mencairkan suasana.

“Nona, jika mereka bicara yang macam-macam kau tak perlu masukkan ke dalam hati. Orang tua seperti mereka memang menyebalkan dan selalu berbicara seenaknya.”tambah Jonghyun.

“Ya Lee Jonghyun!”pekik Sooyoung.

Yoona pun dibuat tertawa oleh ucapan Jonghyun. Tanpa diberi tau pun sebenarnya Yoona sudah tau. Bahwa beberapa pemegang saham dan petinggi perusahaan itu begitu meremehkan dirinya dan oppa-nya.

“Sudah sampai nona!”ungkap Jonghyun kembali dan tak memperdulikan ucapan Sooyoung.

Diantara mereka bertiga, Jonghyun lah yang paling ceria dan dia lebih mirip dengan perempuan karena dia selalu menggosip dan bicara seenaknya. Maka dengan Jonghyun lah Yoona selalu bergossip bersama.

Jonghyun pun membuka pintu mobil dan mempersilahkan Yoona keluar. Yoona berjalan dengan anggun dan wibawa terpancar pada dirinya. Diikuti dengan Jongsuk, Jonghyun dan Sooyoung dibelakangnya.

Para karyawan Kangsan Group sudah siap berbaris, berjejer memberikan hormat dan memberikan penyambutan mereka untuk Yoona, salah satu ahli waris dari Kangsan Group. Tidak ada yang menyangka bahwa nona muda yang terkenal dengan sikap manja dan cerianya itu kini melangkah ke perusahaan dengan elegan dan wibawa. Hari ini, Yoona akan membuktikan pada mereka yang telah meremahkannya selama ini.

“Ingat nona, ketika nona melangkahkan kaki nona ke dalam perusahan, tatapan nona harus lurus dan hilangkan seluruh rasa takut nona. Jangan sesekali melihat ke bawah apalagi menunduk. Mereka akan semakin meremehkan anda, nona. Aku tau, ini begitu menegangkan bagi nona, yakinlah nona bisa melakukannya. Nona tak perlu takut, aku akan selalu disamping anda, nona.”

Tepat di depan ruang rapat pemegangam saham, Yoona merasa gugup. Kadang ia berpikir apakah dia bisa melakukan ini? Lalu ia teringat dengan perkataan Jongsuk semalam padanya. Begitu ajaibnya, rasa gugup Yoona hilang seketika.

Jongsuk memberi aba-aba pada Yoona, apakah dia sudah siap atau belum. Yoona mengangkat sedikit tangannya menandakan bahwa dirinya belum siap. Yoona mematung mendengarkan percakapan di dalam ruangan tersebut.

Choi Siwon sedang didamprat oleh orang-orang di dalam sana.

“Bagaimana ini? Semenjak mendiang Presdir Choi Tae Seok meninggal, harga saham-saham perusahaan kita menjadi turun drastis. Bahkan para investor luar negeri pun menjadi ragu untuk menanamkan sahamnya di perusahaan ini. Belum lagi pada perusahaan tekstil para buruh menuntut kenaikan gaji.”

Ayahnya pernah bercerita, di dalam perusahaannya itu terdapat dua kubu. Kubu yang mendukung ayahnya, dan kubu yang tidak mendukung ayahnya. Kubu itu mendukung orang lain yang Yoona sendiri tak tau siapa orang itu. Ayahnya tak memberitau Yoona soal itu. maka dapat dipastikan orang yang kini sedang memojokkan oppa-nya itu adalah kubu yang tak mendukung ayahnya.

“Sekarang keadaan perusahaan tidak stabil Direktur Kim, tapi perlahan aku yakin semua akan kembali seperti semula.”ungkap Siwon yang berusaha untuk tenang.

“Maaf jika kami lancang, tapi kami membutuhkan orang yang berpengalaman, yang sama hebatnya seperti ayahmu.”

Yoona menyerngitkan dahinya. Apa mungkin orang itu adalah orang yang selama ini mereka dukung selain ayahnya?

“Presiden Jang! Choi Siwon adalah ahli waris yang sah dan dialah yang berhak memimpin perusahaan.”

 

“Nona..”panggil Jongsuk yang heran melihat Yoona terdiam mendengarkan percakapan di dalam sana.

“Tunggu sebentar, Jongsuk-ssi.”balas Yoona.

 

“Aku tak bisa membiarkan masa depan Kangsan Group harus hancur hanya karena dipimpin oleh orang yang tak berkompeten.”

“Aku dan adikku, Yoona akan bersikeras untuk memimpin dan memajukan perusahaan ini.”jawab Siwon lagi.

“Yang diucapkan Choi Isanim benar, Nona Yoona akan masuk ke perusahaan dan menjadi wakil presiden direktur. Membantu Tuan Siwon yang akan menjabat menjadi Presiden Direktur.”jelas Presiden Nam.

“Cih! Yang benar saja? Sekarang kau ingin melibatkan adikmu yang tak tau apa-apa dan tak bisa apa-apa itu?”

 

Mendengar namanya disebut dan dirinya direndahkan seperti itu membuat Yoona geram hingga tak disadari, yeoja itu mengepal tangannya dengan keras.

“Nona..”panggil Jongsuk memastikan agar emosi Yoona bisa tetap stabil.

“Aku akan masuk sekarang.”balas Yoona dengan datar.

 

Jongsuk mengangguk lalu melaksanakan perintah Yoona. Pintu pun ia buka dan Yoona melangkahkan kakinya dengan perlahan namun mantap ke dalam ruangan yang berisi pemegang-pemegang saham dan petinggi-petinggi perusahaan, termasuk oppa-nya. Para pemegang saham dan petinggi perusahaan itu kini beranjak dari tempat duduknya dan membungkukkan badannya memberikan hormat pada Yoona. Beberapa diantara mereka pun tak bisa menyembunyikan rasa kagetnya akan kehadiran salah satu pewaris Kangsan Group.

Yoona membungkukkan badannya memberi hormat kepada seluruh isi ruangan tersebut.

“Maaf jika aku terlambat. Perkenalkan, Choi Yoona mungkin kalian sudah mengenalku sebagai gadis manja anak kesayangan mendiang Presdir Choi Tae Seok bukan?”ungkap Yoona dengan tenangnya.

“Duduklah.”ungkap Siwon lalu Yoona pun duduk disebelah Siwon.

“Aku begitu terkejut mendengar pembicaraan kalian tadi. Dan sejujurnya aku merasa diinjak-injak. Aku tau, kalian semua sudah kompeten berpuluh-puluh tahun menjalankan perusahaan ini. Sedangkan oppa hanya baru beberapa taun dan aku benar-benar baru masuk ke dalam perusahaan ini. Aku tak menyalahkan jika kalian semua meremehkan kami, apalagi aku. Anak manja sepertiku mana mungkin bisa menjalankan perusahaan besar seperti ini. Begitu bukan?”

“Bukan begitu, nona.”ungkap Presiden Go, Presiden di perusahaan Farmasi Kangsan Group.

“Lalu apa, Presiden Go?”tanya Yoona yang terlihat menantang. Presiden Go kini terdiam, tak dapat berkutik.

“Aku tak pernah menyalahkan jika kalian meremehkanku. Meremehkan kami. Aku tak perduli jika kalian tidak menghargai kami. Tapi tolong, hargai ayah kami. Hargai mendiang Presdir Choi yang sudah membangun perusahaan ini dengan jerih payahnya. Hargai beliau yang sudah membuat kalian bisa duduk nyaman di perusahaan besar seperti ini. Ingat, jangan pernah lupa apa yang sudah ayahku lakukan untuk kalian semua. Ayahku mempercayakan aku dan oppa-ku untuk menjalankan perusahaan ini. Jika kalian menghargai ayahku, maka hargailah keputusannya. Jika kalian tidak lagi menghargai ayahku, mungkin kalian sudah tidak pantas berada di ruangan ini lagi. Masih banyak orang yang mengincar posisi ini Menjabat sebagai petinggi Kangsan Group.”ucap Yoona yang sukses membuat semua orang yang berada di perusahaan ini tercengang.

“Yoona-ya..”ungkap Siwon tak percaya.

“Jangan pernah menjadi kacang yang lupa akan kulitnya. Jangan hanya karena mendiang ayahku sudah pergi kalian bisa seenaknya menginjak-injak kami dan menjalankan perusahaan sesuka hati kalian. Jangan pikir selama ini aku hanya duduk manis, aku tau apa yang kalian lalukan dan sembunyikan selama ini. Jangan paksa aku dan oppa-ku untuk membongkar semuanya.”lanjut Yoona yang beranjak dari tempat duduknya lalu berjalan ke dekat pintu. “Jika kalian tak suka dengan kami, tak ingin kami berdua yang memimpin, silahkan keluar dari ruangan ini dan buatlah perusahaan kalian sendiri.”sambung Yoona yang telah membukakan pintu.

Para pemegang saham dan petinggi perusahaan tercengang oleh perkataan Yoona. Anak manja yang mereka kira itu ternyata begitu angkuh dan lebih berani dibanding Siwon.

 

“Bagaimana?”tanya Yoona lagi.

“Maafkan atas kelancangan kami, nona. Maksudku wakil presiden direktur. Maafkan atas kelancangan kami.”ungkap Presiden Go yang kini beranjak dari tempat duduknya lalu membungkuk meminta maaf pada Yoona disusul dengan beberapa petinggi perusahaan lainnya.

“Baiklah tak perlu dipermasalahkan lagi. Sekarang mari kita bangun Kangsan Group kembali dan memajukan Kangsan Group bersama-sama. Mohon bantuannya.”balas Yoona yang kembali ke tempat duduknya.

 

***

Yoona menghempaskan tubuhnya yang terasa berat itu ke kursi kerjanya. Yoona kemudian memijat pelipisnya, kepalanya terasa begitu berat dan sakit. Dia mengingat-ngingat kembali apa yang telah iya lakukan di rapat tadi. Dia benar-benar tak percaya, apa yang merasuki dirinya hingga dia berani berbicara seperti itu.

Yoona membuka laporan-laporan itu satu persatu. Mencoba mempelajari perkembangan sektor-sektor perusahaan Kangsan Group. Yoona sedang mencari jalan keluar untuk membuat harga saham menjadi naik kembali. Tiba-tiba, Yoona teringat ucapan appa-nya saat Yoona masuk ke ruang kerja appa-nya beberapa tahun yang lalu. Tae Seok berpesan pada putri satu-satunya itu untuk tetap berhati-hati dan menyuruhnya untuk tak pernah percaya pada siapapun.

Baru sehari masuk ke dalam perusahaan Yoona mulai mengerti setiap ucapan mendiang appa-nya. Dari rapat tadi pun sudah jelas, banyak orang yang sedang bersiap-siap untuk menusuknya dari belakang. Menusuk oppa-nya lalu mengusir mereka dari perusahaan. Sampai saat ini, Yoona masih bingung siapa saja orang-orang yang berpihak pada ayahnya? Orang-orang yang berpihak pada Siwon dan dirinya?

 

“Nona…”panggil seseorang yang Yoona yakini pemilik suara itu adalah Jongsuk. “Jongsuk imnida. Bolehkah saya masuk?”

“Ne, silahkan.”balas Yoona yang masih memijat pelipisnya.

“Gwenchana?”tanya Jongsuk yang terlihat khawatir melihat Yoona. Yeoja itu mencoba berusaha untuk kuat namun ia tau, Yoona masih sangat terluka.

Yoona hanya mengangguk lalu memijat kembali pelipisnya. “Bagaimana penampilanku tadi?”tanya Yoona.

“Aku sangat terkesan.”puji Jongsuk.

“Apakah mereka semakin ingin membunuhku?”

“Maksud nona?”tanya Jongsuk yang pura-pura tidak tau. Jelas Jongsuk tau apa yang dimaksud Yoona. Tindakannya yang cukup berani dan gegabah itu mungkin saja memacu mereka untuk menghancurkan Yoona secepatnya.

“Ani, lupakan saja.”balas Yoona lalu kembali membaca laporan-laporan yang memuakkan itu. Lulus kuliah pun belum, dirinya harus dipaksa memperlajari laporan semacam ini dan diminta untuk memberikan solusi secepatnya. Rasanya kepala Yoona akan meledak.

“Jongsuk-ssi, apakah aku bisa mempercayaimu?”tanya Yoona begitu saja. Dia kembali teringat akan perkataan ayahnya.

“Jangan percaya pada siapapun nona, termasuk padaku. Meskipun aku tak akan mengkhianati anda, jangan pernah mempercayaiku. Tak ada yang bisa anda percaya di dunia ini nona, sekalipun orang terdekat anda. Mereka bisa menyakiti anda kapan saja. Inilah dunia yang sesungguhnya, nona.”jelas Jongsuk.

Yoona hanya mengangguk sambil tersenyum. Tetap saja, entah mengapa Yoona ingin Jongsuk lah satu-satunya orang yang dapat ia percaya.

“Aigoo mengapa semuanya terasa berat bagiku?”ungkap Yoona sambil mengibas-ngibaskan matanya yang sudah siap mengeluarkan air mata itu.

“Uljima, jangan menangis, kau kuat nona.”

“Boleh aku meminjam pundakmu?”

“Tentu. Kapanpun kau membutuhkannya, aku akan selalu ada…umm maksudku pundakku.”balas Jongsuk sambil terkekeh.

Yoona menyenderkan dirinya di pundak Jongsuk lalu menangis meluapkan seluruh emosi dan kepedihan yang ia rasakan. Berada di dekat Jongsuk membuat dirinya nyaman. Jongsuk mengelus kepala Yoona perlahan, mencoba membuat nona-nya itu kembali nyaman.

“Jika nona sudah merasa nyaman, aku akan membantu nona membaca laporan-laporan itu.”

 

Yoona sudah mengira Jongsuk adalah namja yang pintar dan cemerlang. Namun ia tak menyangka Jongsuk sepintar ini. Dia paham tentang seluruh istilah bisnis dan seluk beluk bisnis. Dia pun  handal dalam membaca laporan keuangan dan menganalisis laporan keuangan. Yoona sendiri hanya bisa geleng-geleng kepala dan memuji kehebatan Jongsuk. Hingga ia bertanya-tanya, bagaimana bisa ada orang sesempurna Jongsuk?

Kini Yoona tak perlu khawatir. Kesulitan apapun akan teratasi asal Jongsuk ada disampingnya.

 

“Sudah jam makan siang. Nona ingin ku belikan apa?”tanya Jongsuk.

“Hmmm…jajangmyeon? Entah mengapa aku merindukan makanan itu. dan tiba-tiba makanan itu yang terlintas di kepalaku.”jawab Yoona.

“Baiklah kalau begitu aku akan membelikannya untuk nona.”

Jongsuk pun beranjak dari tempat duduknya lalu membungkukkan badannya sebelum ia pergi.

“Jaman kan sudah canggih, Jongsuk-ssi. Kau tak perlu membeli ke tokonya langsung, sekarang kan sudah ada jasa delivery? Kau tinggal memesan lewat telepon lalu ajari aku lagi.”ucap Yoona yang menghentikan langkah Jongsuk.

Jongsuk mengangguk lalu mengikuti perintah Yoona. Jongsuk kembali mengajari Yoona perlahan mengenai tumpukan laporan yang ada dihadapan Yoona. Namun, tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu ruangan kerja Yoona.

“Silahkan masuk.”ucap Yoona mempersilahkan orang yang mengetuk pintu ruangannya itu masuk. Yoona mengira orang itu adalah Jonghyun atau Sooyoung, atau Siwon. Namun nampaknya dia salah.

“Apakah aku menganggu, wakil presdir?”tanyanya dan Yoona begitu terkejut melihat Kyuhyun berdiri dihadapannya. Seketika Jongsuk menjauh dari Yoona karena Kyuhyun mulai menatapnya dengan tajam.

“Oppa?!”kata Yoona yang terkejut.

“Ku dengar ini adalah hari pertamamu masuk kerja. Jadi aku memutuskan untuk mengunjungimu dan mengajakmu makan siang.”jelas Kyuhyun.

“Ne, tapi oppa aku…”balas Yoona terbata-bata. Dia merasa tak enak. Disatu sisi dia telah memesan makanan dengan Jongsuk dan disatu sisi dia tak bisa menolak ajakan calon tunangannya itu.

“Kajja, aku yang traktir.”tarik Kyuhyun.

 

Mau tak mau Yoona mengikuti ajakan Kyuhyun itu. dia menatap Jongsuk tak enak namun namja itu malah tersenyum. Dia mengerti. Dia bukan siapa-siapa sedangkan Kyuhyun adalah calon tunangan Yoona. Mana mungkin Yoona memilihnya daripada Kyuhyun.

“Kau tak perlu khawatir, Yoona akan selalu aman bersamaku. Dan kurasa aku tak perlu meminta ijin padamu untuk membawanya bukan?”bisik Kyuhyun yang membuat Jongsuk geram.

 

“Ya! Kau mendapat jajangmyeon dari mana?”tanya Jonghyun ketika melihat Jongsuk membawa dua mangkok jajangmyeon.

“Untuk kalian.”jawabnya datar.

“Apa yang terjadi?”tanya Sooyoung.

“Tidak ada.”jawab Jongsuk lagi dengan datarnya. Sooyoung yang mengerti hanya mengangguk. Sedangkan Jonghyun langsung menyantap jajangmyeon itu dengan lahap. Nafsu makan Jongsuk rasanya hilang begitu saja. Sooyoung yakin, jika Jongsuk seperti ini, sudah dipastikan ada sangkut pautnya dengan Yoona. Saat masuk ke kantor Sooyoung melihat Yoona pergi dengan Kyuhyun. Sudah bisa dipastikan, perasaan Jongsuk pada Yoona sudah semakin mendalam.

“Kau harus bisa mengendalikan perasaanmu, Jongsuk-ah.”bisik Sooyoung.

 

***

“Bagaimana hari pertamamu di kantor?”tanya Kyuhyun di sela-sela makan siang keduanya.

“Hmm melelahkan. Masih banyak hal yang belum ku ketahui.”jawab Yoona.

“Kau bisa bertanya padaku .”

“Kau kan sibuk oppa, aku tak tega mengganggumu.”balas Yoona sambil terkekeh. “Bagaimana mungkin aku mengganggu waktu berharga seorang Cho Kyuhyun yang super sibuk itu?”

Kyuhyun lalu membersihkan noda yang ada di ujung bibir Yoona lalu tersenyum. “Kau ini pengecualian, Yoona-ya. Untukmu, aku bersedia meluangkan seluruh waktuku.”ungkapnya membuat Yoona terpaku.

Setelah kejadian itu Yoona menjadi diam. Entah kenapa dirinya merasa tak nyaman dan tak enak hati jika diperlakukan seperti itu oleh Kyuhyun. Dirinya malah teringat pada Jongsuk. Dan merasa tak enak padanya. Padahal siapa Jongsuk? Mengapa Yoona harus merasa demikian?

“Ini pasti berat bagimu juga Siwon hyung.”

“Ne, semenjak kematian eomma dan appa rasanya aku memikul beban yang begitu besar dikedua pundakku. Apalagi Siwon oppa, sebagai satu-satunya anak lelaki dan anak tertua Siwon oppa memikul beban yang lebih berat jika dibandingkan denganku.”jelas Yoona yang berusaha untuk tegar.

“Aku mengenal Siwon hyung sejak lama. Dia memang orang yang kuat, Na-ya. Tapi dibalik itu hatinya begitu hancur dan rapuh. Hyung selalu ingin terlihat tegar dan kuat, terutama di depan adik yang paling dia sayangi. Hyung tak ingin memperlihatkan kesedihannya didepanmu. Dia ingin kau ikut tegar bersamanya.”jelas Kyuhyun yang lagi-lagi seolah menampar Yoona agar tak pernah terpuruk lagi apapun yang terjadi.

“Aku akan berusaha oppa, dengan masuk ke perusahaan aku pasti akan lebih sibuk. Ku harap, kesibukanku nanti bisa membuatku melupakan segala luka yang ku rasakan.”balas Yoona lalu meneguk minuman yang telah ia pesan perlahan.

Kyuhyun tersenyum kemudian meraih kedua tangan Yoona lalu menggenggamnya. “Kau tak sendiri, Na-ya. Masih banyak orang yang menyayangimu. Ada aku disini, yang akan selalu menemanimu dikala senang maupun sedih. Ada aku tempatmu untuk bersandar dikala kau merasa lelah.”ungkap Kyuhyun dengan sungguh-sungguh.

Yoona mengangguk sambil tersenyum. “Gomawo, oppa.”

Makan siang itu pun akhirnya berlalu. Kyuhyun mengantar Yoona kembali ke kantor. Di depan ruangannya sudah berdiri Jongsuk, Jonghyun dan Sooyoung. Melihat Yoona datang bersama Kyuhyun ketiganya membungkukkan badannya.

“Yoona-ya, oppa akan kembali ke kantor. Jaga dirimu baik-baik.”ucap Kyuhyun.

Yoona hanya tersenyum sambil mengangguk. Jonghyun pun membuka pintu ruangan kerja Yoona. Ketika Yoona hendak melangkahkan kakinya, Kyuhyun memegang tangan Yoona lalu menariknya pelan hingga jarak diantara keduanya menjadi dekat. Kyuhyun pun mengecup kening Yoona begitu saja. Yoona kembali membeku atas apa yang telah Kyuhyun lakukan. Yoona ingin sekali  menolak, namun sayangnya ia harus terbiasa. Cepat atau lambat Kyuhyun akan menjadi tunangannya bahkan menjadi suaminya.

Tanpa disadari, Jongsuk meremas bagian celananya. Dia mencoba untuk tetap bersikap biasa tapi ia tak bisa. Harus ia akui, menahan amarah mungkin mudah namun menahan rasa cemburu, tak semudah itu.

“Tolong jaga Yoona-ku selagi aku tak ada didekatnya.”tambah Kyuhyun kemudian mengelus kepala Yoona dengan lembutnya.

“Baik, tuan.”jawab ketiganya namun hanya Jongsuk lah yang merasa tak ikhlas.

 

***

Yoona

 

Ketika bumi sudah tak kuat menanggung beban yang dipikulnya, maka turunlah hujan. Lalu, jika anak manusia sudah tak kuat menanggung beban yang dipikulnya, apakah dia bisa terus menangis? Meneteskan air mata layaknya langit yang meneteskan air mata ke bumi? Mungkin tidak untuk kami. Tidak untuk keluarga Choi, termasuk kakakku dan aku. Kini aku mulai mengerti, kami tak bisa begitu saja menunjukkan kesedihan dan rasa lelah yang kami rasakan. Kami tak bisa begitu saja menangis di depan banyak orang. Kami harus selalu kuat dan tegar apapun yang terjadi. Karena menjadi seorang keluarga Choi tak boleh menunjukkan kelemahannya di hadapan orang lain.

Semakin aku dewasa, semakin aku mengerti betapa gelapnya kehidupan seorang chaebol seperti kami.

Aku menyenderkan kepalaku pada kaca mobil yang terasa begitu dingin. Hujan sedang mengguyur kota Seoul saat ini. Aku menyukai hujan. Ketika hujan, aku merasakan bumi ikut bersedih bersamaku. Aku memiliki teman untuk berbagi kesedihan. Ketika hujan turun dengan deras, aku bisa menangis dalam diam. Tak ada satupun yang akan mendengar suara tangisanku.

“Nona, kita langsung pulang atau ada tempat yang ingin nona kunjungi?”tanya Jongsuk.

“Langsung pulang saja, aku sangat lelah.”jawabku yang masih bersandar pada kaca mobil.

Aku bisa merasakan Jongsuk mengamatiku sesekali dari kaca spion. Namun aku mengabaikannya. Bukan hal yang baru Jongsuk mengamatiku seperti itu. Tanpa harus mengatakan apapun, Jongsuk selalu tau dan mengerti apa yang ku rasakan. Setidaknya, tidak dengan apa yang ku rasakan terhadap namja itu. Ku harap ia tak pernah tau.

“Jongsuk-ah, tolong bangunkan aku jika sudah sampai rumah. Aku ingin tidur rasanya begitu melelahkan sekali hari ini.”pintaku.

“Baik nona.”

Aku memejamkan mataku, berpura-pura untuk tidur tepatnya. Di mobil ini hanya ada aku dan Jongsuk. Kami berdua baru saja meeting dengan partner bisnis dari Jerman dan betapa leganya aku ketika akhirnya salah satu perusahaan besar di Jerman itu setuju bekerja sama dengan Kangsan.

Sudah 3 bulan aku bekerja di Kangsan Group. Begitu melelahkan. 3 bulan terakhir ini pola tidurku menjadi berantakan. Aku harus belajar lebih dalam lagi tentang bisnis, mempelajari lagi tentang perusahaan yang sedang ku jalankan, dan menghadiri rapat dimana-mana yang begitu menyita waktu. Belum lagi dengan rapat pemegang saham dan petinggi perusahaan yang selalu menguras emosiku.

Namun, semuanya terasa mudah dengan bantuan orang-orang disekitarku. Siwon oppa yang selalu membimbingku, yang selalu belajar bersamaku, yang selalu bekerja sama denganku. Minho oppa asisten Siwon oppa yang hebat itu ternyata memiliki kemampuan dan potensi yang begitu besar dia juga selalu membantu aku dan oppa selama ini. Sooyoung eonni, meskipun dia tak begitu mengerti tentang bisnis, tapi dia tetap menjadi kakak bagiku, yang selalu siap mendengar segala keluhanku setiap harinya. Jonghyun, namja itu tak pernah berhenti membuatku tertawa. Disaat aku sedang stress dengan urusan kantor Jonghyun selalu sukses membuatku tertawa dan stressku berkurang. Kyuhyun oppa yang sibuk itu, dia selalu menyediakan waktu nya untukku. Dia kadang memberikan kejutan-kejutan manis untukku. Mengajakku jalan-jalan, makan malam dengan suasana romantis, memberikan bunga, dan dia juga membantuku dalam hal pekerjaan. Lalu, Jongsuk. Diantara semua yang sudah kusebutkan tadi, Jongsuk lah yang mencakup semuanya.

Semenjak aku masuk ke perusahaan, Jongsuk kini menjadi tangan kanannku. Maka, sangat wajar jika 24 jam yang aku miliki dalam sehari, hampir semuanya ku habiskan dengan Jongsuk. Maka tak heran pula jika kami semakin dekat. Dan sialnya, rasa aneh ini semakin muncul.

 

“Nona, sudah sampai.”ucap Jongsuk. Seperti yang sudah aku perintahkan, Jongsuk membangunkanku ketika kami sudah sampai di rumah.

Aku membuka mataku perlahan dan ternyata kami sudah sampai rumah. Jonghyun lalu membuka pintu mobil dan mempersilahkanku untuk masuk. Sooyoung eonni sudah berdiri di dekat pintu utama untuk menyambutku. Eonni membungkukkan badannya lalu berjalan dibelakangku, disusul Jonghyun dan Jongsuk.

Seluruh pelayan dan pengawal di rumah ini berdiri berbaris membungkuk memberikan hormat padaku.

“Kau sudah pulang, Na-ya?”sapa Tiffany eonni.

“Ne, aku baru saja sampai.”

“Kalau begitu kau segera mandi dan kita makan malam bersama. Sebentar lagi makan malam akan segera dimulai. “

“Ne, eonni.”

 

Makan malam itu pun di mulai. Makan malam yang paling kaku yang selalu ku lakukan setiap malamnya, kecuali ketika aku ada proyek sampai larut malam, dan ketika Kyuhyun oppa mengajakku makan malam.

Beginilah makan malam di kediaman keluarga Choi. Kami semua duduk menikmati makan malam dan masalah perusahaan selalu dibahas. Meskipun halmoni tak suka tapi harabeoji selalu ingin membahas perkembangan perusahaan.

Jika aku memilih, aku lebih suka makan malam di kantor sambil menyelesaikan pekerjaanku. Jongsuk akan memesankan makanan untuk kami dan kami makan bersama tanpa ada sedikitpun beban seperti yang kurasakan kini.

Meninggalnya kedua orang tuaku begitu mengubah banyak hal. Dulu aku masih sangat ingat bagaimana hangatnya keluarga ini. Aku masih ingat appa selalu mengajakku bercanda meskipun aku tau ia lelah karena urusan perusahaan.

“Bagaimana persiapan ulang tahun perusahaan?”tanya harabeoji disela-sela suasana makan malam yang hening itu.

“Persiapaannya sudah hampir selesai, harabeoji. Bukankah begitu, Na-ya?”ucap Siwon oppa.

“Ne, masalah tempat dan makanan sudah siap. Tinggal urusan dekorasi ruangan dan banyak wartawan yang ingin hadir namun aku tetap membatasi wartawan yang hadir karena aku takut acaranya menjadi tidak kondusif.”jawabku.

Harabeoji mengangguk. “Di acara ulang tahun perusahaan nanti, harabeoji ingin menambahkan konten acara.”

“Konten acara apa, haraeboji?”tanya Tiffany eonni.

“Peresmian Siwon dan Yoona sebagai pemegang teratas perusahaan. Agar seluruh dunia tau kalian lah yang kini menjalankan Kangsan Group.”

“Tapi harabeoji, apakah itu tidak terlalu berlebihan?”tanyaku. Mengingat tanpa harus peresmian seperti itu, rapat pemegang saham dan petinggi perusahaan kami berdua sudah sah menduduki jabatan kami.

“Tidak, Na-ya. Dan satu lagi..harabeoji ingin mengumumkan pertunangan kau dan Kyuhyun.”lanjut harabeoji

Seketika aku menyimpan sendok dan garpuku lalu menatap harabeoji dengan tatapan heran dan penuh tanya. Mengumumkan pertunangan katanya? Apalagi ini? Kepalaku sudah pusing dengan urusan perusahaan. Dan sekarang kepalaku bisa meledak jika harus membahas pertunangan ini.

“Harabeoji…”ungkapku yang tak percaya.

“Dulu kau pernah menolak membicarakan ini dan kau bilang setelah kau lulus kuliah kau akan memikirkannya. Sekarang kau sudah sibuk di perusahaan dan harabeoji kira ini adalah waktu yang tepat untuk membahasnya, Na-ya.”

“Aku belum siap.”

“Na-ya, kau tak akan bertunangan saat ulang tahun perusahaan nanti. Harabeoji hanya ingin mengumumkan bahwa kau ini memiliki hubungan spesial dengan Kyuhyun dan kalian akan segera bertunangan. Ya seperti pers conference, mengingat banyak yang bertanya tentang hubungan kalian termasuk media-media. Harabeoji dengar, Presiden Seo saingan perusahaan kita melirik Kyuhyun sebagai menantu untuk putrinya, Seohyun. Kau mau kehilangan Kyuhyun?”jelas harabeoji.

“Jika Kyuhyun mencintai Seohyun ya sudah biarkan saja mereka.”jawabku enteng. Ketika aku hendak memasukkan makanan ke dalam mulut, harabeoji menggebrak meja makan dan membuat kami semua terkejut.

“Kau tak boleh melepaskan Kyuhyun. Ingat itu Yoona.”bentak harabeoji dan membuatku ikut emosi.

“Permisi aku merasa sudah kenyang aku pamit ke kamarku, aku lelah.”kataku yang berdiri kemudian memberi hormat pada kakek dan nenekku lalu meninggalkan makananku yang masih bersisa.

“Yoona-ya!”panggil Siwon oppa namun aku tak berbalik. Aku tetap berjalan menuju kamarku.

 

Aku benar-benar tak mengerti dengan mereka semua. Ini adalah hidupku. Aku seharusnya bisa bebas menentukan pilihan hidupku termasuk siapa yang akan menjadi suamiku nantinya. Karena pernikahan itu bukanlah main-main. Aku tau keluarga chaebol seperti kami selalu dijodohkan dengan yang sepadan dan seringnya pernikahan demi kepentingan bisnis. Tapi entah mengapa, aku sulit menerima kenyataan itu. sebaik apapun Kyuhyun oppa padaku, rasanya ia tak bisa menyentuh hatiku.

“Na-ya, bolehkan halmoni masuk?”ujar halmoni yang mengetuk pintu kamarku.

“Ne.”kataku yang sedang merebahkan tubuhku di tempat tidur.

“Na-ya, mau kah kau mendengarkan nenekmu ini?”

Aku pun mengangguk. “Na-ya, mau tak mau, suka tak suka, orang-orang seperti kita memang begini garis hidupnya. Terkadang kita tak bisa memilih dan menentukan. Kita hanya bisa menerima. Halmoni pun pernah mengalami apa yang sedang kau alami sekarang. Kadang kita harus mengorbankan perasaan kita demi orang banyak, Na-ya. Dulu, appa-mu memilih Kyuhyun bukan tanpa alasan. Appa-mu sangat tau, Kyuhyun itu adalah namja yang pantas untukmu dan dia bisa menyelamatkan perusahaan kita. Dia bisa membantumu memperbesar Kangsan Group.”jelas halmoni sambil mengelus rambutku.

“Tapi aku tak mencintainya, aku belum mencintainya.”bantahku.

“Belajarlah, belajarlah sedikit-sedikit membuka hatimu untuknya. Percayalah, apa yang kami lakukan ini untuk kebaikanmu juga. Meskipun memang benar, perjodohanmu ini ada sangkut pautnya dengan kepentingan bisnis.”

“Bagaimana jika aku mencintai namja lain? Apa yang harus ku lakukan?”

“Memangnya siapa namja yang kau cintai?”tanya halmoni padaku. Akupun kebingungan harus menjawab apa.

“hmmm perumpamaannya, halmoni.”

“Jangan sampai kau mencintai namja lain selain Kyuhyun. Halmoni tak ingin kau merasakan sakit hati karena hal ini. Karena kau tak boleh mencintai namja lain selain Kyuhyun dan kau tak boleh menikah dengan namja lain selain Kyuhyun. Arraseo?”

 

Aku mengangguk seolah aku mengerti. Padalah hatiku tak menerimanya. Aku bahkan tak boleh mencintai orang lain selain Kyuhyun. Apakah ini hidupku? Atau hidup mereka? Sampai cinta pun tak boleh ku berikan pada siapapun  begitu saja.

 

***

“Apa yang harus kita lakukan sekarang? Kita sudah berdiam diri selama 3 bulan ini membiarkan bocah ingusan itu menginjak-injak harga diri kita.”

“Tenanglah, jangan terlalu terburu-buru. Kita harus lihat sampai dimana mereka bisa bertahan di dunia yang begitu keras dan menakutkan ini. Tak kusangka keponakanku begitu menakutkan seperti itu. Sepertinya kucing kecil manja itu sudah berubah menjadi singa yang ganas dan menakutkan.”

“Lalu sampai kapan kita membiarkan Siwon menduduki jabatannya sebagai Presdir dan Yoona sebagai wakil presdir? Sampai kita semua ditendang olehnya dari perusahaan?”

“Tenanglah Presiden Go, jika kita tergesa-gesa bukankah semuanya akan menjadi berantakkan?”

“Bukan begitu tuan, hanya saja harus dengan cara apa untuk menghancurkan kedua bersaudara itu dan mengusir mereka dari perusahaan? Mengingat keduanya memiliki potensi dan prestasi yang sangat bagus. Terutama Yoona, berkat kecerdikannya dengan cepat harga saham menjadi naik dengan pesat.”

“Presiden Jang, bagaimanapun dia hanyalah keponakan kecilku yang rapuh. Jika kita tak bisa menghancurkannya, mungkin orang lain bisa. mungkin dirinya sendirilah yang akan menghancurkannya.”

“Maksud anda tuan..”

“Sekarang kita harus memberikan kejutan untuk mereka semua, termasuk untuk Tuan Choi Seung Jae yang terhormat itu.”

“Apa maksud abeoji?”

“Giliran dirimu yang beraksi, anakku. Mungkin ulang tahun perusahaan adalah waktu yang tepat. Dan setelah itu, kita bisa hancurkan Yoona. Jika Yoona hancur bukankah Siwon juga akan ikut hancur?”

“Abeoji…”

“Cinta dapat menghancurkan segalanya? Dan orang akan tersiksa bahkan bisa gila karena cinta. Seperti yang kau katakan padaku. Kita bisa memanfaatkan cinta yang tulus itu untuk menghancurkan Yoona dan menghancurkan seluruh keluarga Choi sampai ke akar-akarnya lalu aku bisa kembali merebut apa yang seharusnya menjadi milikku.”

 

TBC

 

Halo para readerssssss. Gimana nih kelanjutannya? Hehehe. Maaf revenge chapter 3 baru bisa muncul. kemarin sibuk banget kuliah sama lagi ujian juga.  Maaf ya kalau ceritanya nggak memuaskan. Semoga para readers suka sama ceritaku yang gak jelas ini hehe. Maklum masih amatir hehehe. Maaf juga kalau ada typo terus ada bahasa korea yang salah. Kalau masih ada yang nggak ngerti maaf. Mungkin masih pada bertanya-tanya siapa sih orang dalem yang berniat buat bales dendam sama keluarga Choi? Dan kejutan apa yang bakal terjadi? Tenang aja, aku bakal ngungkap berbagai rahasia dan misteri perlahan-lahan hehehe.  Jangan lupa RCL yaaaa. Komen yang positif dan kritik yang membangun dari kalian sangat berarti buat aku. Semakin banyak komennya semakin bikin aku semangat nulis dan nyelesein chapter selanjutnya lhoo. Thankssss

22 thoughts on “Revenge (Chapter 3)

  1. ap yoona mencintai jongsuk.. andweeee, jgn smpy deh.. bkin yoona jtuh cinta sma kyu dong…. bykin lgi moment kyuna nya ….. msih pnsrn siapa musuh dlm selimut itu, kok aq curiga sma jongsuk ya cz dy gencar bgt deketin yoona, ya wlpn dy pengawal ny yoona, tpi lncang bgt ya…. dtggu nextnya

  2. hah akhrnya updet jg hehehe…wah yoona q pkr akn trs sdh…..yoona bner2 brni jd sooyong udah tau tntng perasaan joongsuk….pamannya sndr yg mmbnc kpnknnya tp knp??q brharap kyuna bersatu…..bkn ma jongsuk….siapa anak paman yoona??q curiga itu jongsuk jonghyun minho soo atau kyu heheheh

  3. sbnernya penasaran bnget sma yg pnggil aboeji ke musuh nya keluarga choi itu , haduhh kira2 siapa iya dia ….. bnykin momen kyuna dong author , semangat buat author supaya cpet lanjutin cerita nya lagi

  4. AAA akgirnyaa update! suka banget yoona jongsuk moment jarang2 ada ffnya huhu. kira kira siapa ya orang dalem yang jahat? bukan jongsuk kan? tp rada aneh pas tau jongsuk ngerti banget bisnis. udah yoona sama jongsuk aja yaa gak ada feel kalau sama kyu hihi. dan semakin menarik ajaa ffnyaa hehe next chap jangan lama lama ya eonnie aku tunggu^^

  5. kenapa banyak yang mau kyuna ya:( aku malah mau sama jongsuk kasian jongsuk gak pernah bersatu sama yoona setiap di ff yg ada jongsuk nyaa aigooo~~ jeball walaupun aku fans kyuna cuman hanya di ff ini aku malah milih jongsuk soalnya jalurnya ceritanya nyambungnya kaya gitu huhu

  6. Wow makin bagus aja gk nyangka yoona yg tdi nya manja menjadi gadis yg tangguh,wow jangan” penghianat yg mau ngancurin yoona itu jongsuk gk nyangka klw memang jongsuk

  7. Sepertinya yoona mulai suka ama jongsuk bukan sama kyuhyun..
    Waaah yoona keren dia mulai tangguh penghadapi orang orang yg ada diperusahaan
    Penasaran siapa orang yg pengen balas dendam ke yoona dan keluarganya

  8. cinta segitiga nich…
    siapa yg nanti akan d pilih yoona oenni?kyupa kah sang tunangan ato jungsuk oppa yg sepertinya mulai disukai yoona oenni.
    ternyata yg berkhianat tuh pamanx yoona oenni, siapa ya yg panggil abojie?…
    next ….dtunggu chap selanjutnya..

  9. Penasaran banget sama anak pamannya yoona…siapa ya??? Kyuna moment seneng banget… Yoona suka sama jongsuk ya??? Jgn…lebih pas kyuna…bikin yoona perlahan2 jatuh cinta pada kyu…

  10. Pnsran siapa kira2 cwo yg mnggil pmnnya yoona dg sbutn abojie,, curga jg ma jongsuk m minho..
    Tp koq aku mlah lng baik yoona m jongsuk yaaa biar nglir ja gto jln crta’y..
    Ditunggu jaa klnjtnya

  11. ternyata yoona udh jatuh cinta sm jongsuk.
    gmn nasib kyuppa. sebenarnya lebih penasaran sm sang pengkhianat tu.
    kok feeling aq ke jongsuk ya krn kok bwa2 kata2 cinta yg menghancurkan diri sendri.

  12. Waah telat benget bacanya nih…
    Annyeong saya reader baru thor…. izin baca ya 😆
    Kyuna dong thor 😢…. Kyuna sekarang sudah jarang sih 😢..
    Karena itu berharap kyuna.#kok ngerasa seperti gak tahu diri ya? Padahal reader baru #

  13. Yoona pleeasa stay with kyuhyun 😭😭😭
    Jgn mpe dya jd ma jongsuk
    kesian kyu bertepuk sblah tngan 😭😭😭
    Mksd sooyong gk bkl pnh bersatu yoona ma jongsuk apa yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s