Red Lipstick (Chapter 2)

IMG_20160105_191246

Author : Erly C-hana

Title : Red Lipstick

Genre : Romance

Rated : PG-17

Cast : Im YoonA , Lee DongHae

Other Cast : Find by Yourself

Lenght : Chapter

Disclaimer : This Story is Mine

And!! this story hanyalah fiktif belaka. Untuk nama cast, saya sebagai author hanya meminjamnya, tanpa ada sedikit pun niatan buruk terhadap pemilik nama

Warning : Typo bertebaran dimana-mana. Don’t like, don’t read. Don’t be silent reader and plagiator. Ok

Happy Reading ^^
*
*
*
*
*
*
*
——– Red Lipstick (Chapter 02) ——–

Donghae melihat Yoona terdiam cukup lama, tapi wanita itu tidak berusaha mengalihkan tatapan mata darinya, seolah-olah wanita itu masih akan melawan kata-katanya.
Jadi Donghae ikut terdiam, untuk menunggu kata pedas apa lagi yang akan dilontarkan oleh wanita berpendidikan tinggi itu.

“Ada apa ini?”

bukan jawaban dari Yoona yang Donghae dapat, tetapi suara lain yang berasal dari belakangnya. Ia menoleh dan menemukan seorang pria tua berjalan mendekat pada mereka

“Haraboji!”

Donghae melirik Yoona, ketika wanita itu menggumamkan kata panggilan tersebut. Mengerti siapa yang saat ini berdiri didepannya, Donghae beserta yang lainnya membungkukkan badan mereka untuk memberi hormat, yang dibalas dengan senyuman oleh Tn Im.

“Kau membuat masalah lagi Im Yoona?”

tn Im yang berniat melihat pemotretan yang dilakukan sang cucu, sekaligus ingin melihat secara langsung seorang Lee Donghae, disuguhkan tampang tegang dalam raut wajah penghuni ruang pemotretan, saat ia baru tiba diruangan tersebut. Tn Im berpikir, hal ini pasti tidak jauh-jauh karena sifat sang cucu. Karena itu, tn Im melontarkan pertanyaan, yang rupanya semakin membuat Yoona kesal.

“Bukan aku yang membuat masalah haraboji! tapi dia” bantah Yoona dengan menunjuk Donghae yang berdiri disampingnya. Tn Im hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya pasrah dengan tingkah laku sang cucu itu.
Sedangkan Lee Donghae, pria itu mengabaikan tuduhan tersebut, dan lebih tertarik untuk memperhatikan tingkah manja wanita dewasa itu pada sang kakek

“Kau kah yang bernama Lee Donghae?” Donghae mengalihkan perhatiannya pada tn Im dan mengangguk,

“Benar, itu saya”
.
.
.
.
.
.
.
Dilain ruangan, tn Im menduduki sofa yang menghadap pada Donghae dan Yoona, yang juga terlihat duduk berhadapan. Mereka, terutama Yoona, penasaran dengan apa yang akan tn Im bicarakan sehingga mereka perlu berada diruangan sang kakek seperti ini.
Selanjutnya yang Yoona lihat, sang kakek mengulurkan tangan pada Donghae untuk berjabatan tangan, dan diterima oleh pria itu dengan senyuman

“Senang bekerja sama denganmu anak muda”

“Sama-sama preadir”

“Ah! jangan terlalu formal padaku,” kemudian tn Im tersenyum. “Cukup panggil aku tuan, atau lebih bagus lagi, panggil pria tua ini haraboji Donghae” Yoona membelalakkan mata mendengar ucapan sang kakek tersebut. Ada apa dengan sang kakek?
Haraboji?

“Baiklah tuan. Memanggil anda dengan sebutan haraboji, itu akan terlihat tidak sopan” Donghae melihat Yoona “Lagi pula, saya tidak ingin wakil presdir marah karena tersinggung, jika saya memanggil anda dengan sebutan haraboji. Karena pastinya dia tidak ingin ada orang lain yang memanggil anda dengan sebutan itu” Yoona melotot pada Donghae, seolah bertanya ‘apa yang sedang berusaha kau katakan?’

“Oh! itu mana mungkin. Iya kan Yoona?” Yoona terdiam, tidak menanggapi pertanyaan sang kakek. Tn Im mempertanyakan pertanyaan yang tentu saja sudah ia ketahui jawabannya, karena itu, “Ehhem tapi..meskipun seandainya dia marah, aku harap kau tidak akan terpengaruh dengan kemarahannya itu Donghae!” Donghae mengalihkan tatapannya pada tn Im,

‘Dasar, pria cabul’ ‘Apakah..kau memiliki lima ekor anjing yang masih harus kau urusi, sehingga kau selalu datang terlambat untuk pekerjaanmu..Lee Donghae?’

“Tentu saja tuan. Saya tidak akan pernah terpengaruh dengan kemarahannya.” Tn Im mengangguk dan lagi-lagi tersenyum.

Donghae tidak tau, dari mana asal sifat wanita yang masih terlihat betah melotot padanya itu. Yang jelas, sifat itu bukan berasal dari sang kakek. Karena yang Donghae lihat dari pertama kali pertemuannya dengan tn Im, pria tua itu lebih banyak menampilkan senyum pada siapapun, termasuk dirinya. Sangat berbeda dengan sang cucu.

“Baiklah Donghae! aku ingin sekali berbincang lebih lama denganmu, tapi aku rasa tidak bisa, karena rupanya kau sedang sibuk hari ini. Bagaimana kalau lain kali kita makan bersama?”
.
.
.
.
.
.
.
“Lee Donghae tunggu! Lee Donghae!”

Yoona kesal, sedari tadi ia memanggil dan mendadak menjadi ekor pria itu, agar pria itu mau menghentikan langkah lebarnya, tapi rupanya panggilannya tersebut hanya diabaikan begitu saja, karena pria itu malah terlihat asik menelfon. Pria itu memang tidak henti-hentinya membuatnya kesal.

“LEE DONGHAEEEEE”

“Aku akan kesana setelah menyelesaikan syutingku” Donghae mematikan ponselnya dan menghentikan langkahnya. Ia pun mengitari pandangannya pada sekitar. Donghae pikir, terikan Yoona benar-benar bisa membuatnya menjadi seorang pecundang didepan banyak orang. Karena itu ia berbalik dan menghampiri Yoona

“Sebenarnya apa yang kau lakukan, apa kau tidak melihat tatapan mereka terhadapku? mungkin mereka mengira aku telah menyakiti calon presdir mereka dengan teriakanmu itu!”

“Itu tidak akan terjadi jika kau mendengarku. Apa kau tidak tau? sebelumnya tidak ada yang berani mengabaikan keberadaanku. Dan sebelumnya juga tidak ada yang berani membuatku menunggu. Tapi, dalam satu minggu ini, semuanya terjadi karenamu Lee Donghae. Sialan”

Donghae memberikan tatapan tajamnya pada Yoona dengan rahang yang mengeras “Apa ada alasan, aku harus menjadi sama dengan orang-orang itu Im Yoona?”

Yoona terdiam. Lebih tepatnya ia tertegun dengan raut wajah menyeramkan yang tiba-tiba saja Lee Donghae berikan untuknya

“Baiklah. Dua kali itu memang kesalahanku, membuatmu menunggu lama, membuatmu kesal, aku minta maaf. Tapi sekarang?
sebenarnya kau menganggapku apa? pesuruhmu yang harus selalu siap siaga jika kau butuhkan?”

Yoona mengalihkan tatapannya dari Donghae. Karena entah kenapa, ia sangat merasa tidak nyaman dengan tatapan Donghae yang seperti itu.

“Bukan! aku bukan pesuruhmu. Aku hanyalah rekan kerjamu, yang kebetulan sedang tertarik denganmu, sehingga membiarkanmu dengan seenaknya menyebutku dengan berbagai kata-kata kotor. Tapi meskipun begitu, aku tidak akan suka jika kau bertingkah seolah-olah kau sedang mengaturku, Im Yoona”

Yoona masih terdiam hingga Donghae berlalu dari hadapannya. Ia masih berusaha untuk mencerna rentetan kata-kata Donghae agar bisa dimengertinya. Apa ia salah bicara?
.
.
.
.
.
.
.
Yoona terlihat kerepotan dengan berbagai macam benda ditangannya. Ada tas tangan, ada laptop, ada secangkir kopi.
Ya. Ia baru saja akan meninggalkan kantin perusahaan untuk kembali menuju ruangannya, ketika semua benda itu terjatuh karena ia yang tidak sengaja menabrak seseorang.

Semua berserakan dilantai. Beruntung isi dari cangkir kopinya tidak mengenai dokumen-dokumen pentingnya.
Dan saking banyaknya benda itu, Yoona tidak menyadari salah satu benda kecil miliknya bergelinding, mengenai sepatu salah satu pengunjung kantin.

“Astaga! dimana Lipstick ku?” Yoona terus saja mencari Lipsticknya, berharap benda kecil itu ia temukan ditumpukan benda-benda yang lainnya. Tapi nihil, lipsticknya tidak ia temukan.

Melihat raut bingung yang ditampilkan wanita itu, Donghae meraih benda yang berada didekat kakinya dan memperhatikan benda itu ‘Lipstick?’. Donghae mendekat

“Permisi!” Donghae menemukan wanita itu mendongak. Alangkah terpesonanya ia, ketika melihat kecantikan yang dipancarkan oleh wanita dewasa itu. Rambut blondenya berkilauan indah. Mata beningnya memancarkan mata seorang pebisnis. Hidungnya mancung. Bibir merahnya begitu menggoda.

Yoona pun tidak kalah terpesonanya pada pria yang saat ini sedang memegang lipsticknya itu. Pria tampan dengan mata teduh yang mampu membuat Yoona merasakan degup jantung dua kali lipat lebih cepat,

“Apakah Lipstick ini milikmu?” Yoona maupun Donghae, memperhatikan Lipstick itu dengan seksama

CUT ok

Suara tepuk tangan memeriahkan kantin perusahaan yang dijadikan sebagai tempat lokasi syuting itu,

“Bagus. Tidak ada yang perlu diulang, karena akting masing-masing dari kalian semuanya ok”
Yoona maupun Donghae sama sekali tidak menikmati pujian yang dilontarkan oleh setradara tersebut. Karena mereka, sedang ada pada pemikiran masing-masing.
Sekertaris Kim dan asisten Jung mendekati Yoona

“Kau memang berbakat dalam bidang akting wakil presdir!” puji sekertaris Kim

“Benar. Jika anda menjadi aktris, anda pasti akan menjadi aktis hebat.” Timpal maneger Kang

“Maneger Kang! bisakah kita kembali sekarang?”

Yoona menoleh cepat pada Donghae. Pria itu sama sekali tidak membalas tatapannya, membuat Yoona bingung sendiri, kenapa ia harus merasa tidak nyaman berada dalam suasana seperti itu dengan Donghae?

“Ada apa denganmu hae! bukankah kita masih ada waktu beberapa jam untuk merayakan semua kesuksesan ini?”

“Baik, rayakanlah. Aku harus pulang.”

Donghae benar-benar berlalu. Membuat manager Kang merasa tidak enak hati pada Yoona, karena Donghae berlalu begitu saja tanpa pamit pada wanita itu.

“Hmm..dia sedang terburu-buru wakil presdir! itu karena, sebelum syuting berlangsung, dia mendapat kabar bahwa ny Lee kembali masuk rumah sakit.”

Yoona menoleh cepat pada maneger Kang. Jujur, ia tidak bisa mengabaikan rasa terkejutnya didepan pria itu termasuk bawahannya sendiri, mendengar kabar tersebut

“Kalau begitu saya permisi.”

‘Aku akan kesana setelah menyelesaikan syutingku’

“Karena itukah dia sangat marah padaku? tapi kenapa aku yang harus menjadi pelampiasan kemarahannya?” Tanya Yoona pada diri sendiri. Yang membuat sekertaris Kim maupun asisten Jung mengernyitkan dahi tidak mengerti

“Apa maksud anda, wakil presdir?”

Yoona menoleh pada dua wanita itu, ia lupa masih ada kedua bawahannya yang selalu ingin tahu itu. “Tidak ada.” Jawab Yoona. Lalu ia pun berlalu pergi
.
.
.
.
.
.
.
“Donghae! ada apa denganmu? kenapa kau pergi begitu saja? dan kenapa kau menolak rencana kami untuk merayakan kesuksesan syutingmu bersama wakil presdir?” Donghae membatalkan niatnya untuk membuka pintu mobilnya,

“Hyung! kau yang ada apa? biasanya kau yang selalu membujukku untuk cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku, agar aku bisa dengan cepat pula menyelesaikan pekerjaanku selanjutnya!”

“Ini berbeda hae!”

“Apanya yang kau bilang berbeda hyung?”

“Itu..Ah! kapan lagi kita bisa menikmati pemandangan seorang Im Yoona dari dekat?” teriak maneger Kang. Ia kesal dengan tingkah mendadak yang diberikan Donghae untuk Yoona, yang ternyata berimbas tidak baik pada rencananya bersama sekertaris Kim beserta asisten Jung untuk makan-makan. Bukan ia tidak tau pembicaraan mereka yang berakhir dengan kemarahan Donghae, karena mengira Yoona sedang mengaturnya hanya karena teriakan dari wanita itu. Ia yang saat itu berniat menjemput Donghae diruangan presdir Im, dikejutkan dengan keberadaan Donghae bersama Yoona ditengah jalan dengan kemarahan yang begitu jelas terpancar dari mata Donghae. Tapi bukankah pria itu sedang tertarik dengan Yoona? seharusnya pria itu tidak tersinggung dengan hal itu, seperti saat Yoona menyebutnya sebagai pria cabul. Ia kira, semuanya pengecualian untuk Im Yoona. Tapi rupanya! ia salah. Donghae masih sangat sensitif dengan kata-kata bernadakan perintah, meskipun Im Yoona lah yang melontarkannya.
Sudah lebih dua tahun dari semenjak terakhir kali maneger Kang melihat kemarahan Donghae karena hal semacam itu.
Saat itu untuk pertama kalinya maneger Kang melihat mata mengerikan seorang Lee Donghae, mata mengerikan yang kembali dilihatnya beberapa jam yang lalu

“Kau tidak berniat masuk kedalam mobil hyung?” Donghae melihat sang maneger masih mematung. Karena itu, ia menyalakan mesin mobilnya. Dan saat itu pula maneger Kang tersadar dari pemikirannya sendiri dan menemukan Donghae telah berada didalam mobil “Hyung! aku tinggal”

“Apa maksudmu meninggalkanku? kau akan kebingungan mencari seorang maneger sepertiku!” gerutu maneger Kang seraya memasuki mobil. Lalu mobil pun melaju, dengan Donghae yang menjadi pengemudinya.

“Donghae!”

“Hmm!”

“Aku mendengar pembicaraanmu dengan Im Yoona.” Donghae menghentikan mobilnya secara mendadak. Maneger Kang yang panik karena itu, menoleh kebelakang, dan betapa beruntungnya ia, karena rupanya jalanan kota Seoul sedang sepi.

“Kau ingin kita mati bersama hae?”

“Keluar, jika kau hanya ingin membicarakan tentang hal itu.”

“Lee Donghae!”

“Keluar hyung”

“Jangan selalu berpikiran bahwa semua orang sama dengan ayahmu Lee Donghae!”

“Hyung!”

“Baiklah!” Mengalah lebih baik. Lagi pula, kalau dipikir-pikir dirinya termasuk Im Yoona memang bersalah pada Donghae hingga memicu kemarahan pada diri Donghae.
Dulu sekali, dirinya sebagai maneger Lee Donghae, memaksa aktor baru itu melakukan ini itu tanpa menanyakan sang aktor bersedia atau tidak, tanpa memperdulikan akan kah sang aktor akan merasa kelelahan dan kewalahan atau tidak. Baginya ketenaran Donghae sangat penting saat itu. Hingga ia berpikir, semuanya harus Donghae lakukan untuk mencapainya. Tanpa menyadari bahwa Donghae bukanlah robot. Donghae hanyalah manusia biasa.

Pada suatu hari, Donghae yang sedang mendapat masalah dalam keluarganya, kembali menerima beban berat darinya, hingga berakhir dengan kemarahan pria itu padanya. Itu memang salahnya. Ia mengakui itu. Dan hari ini, kemarahan itu kembali Donghae keluarkan. Hanya saja kali ini untuk seorang Im Yoona.

Maneger Kang pikir, wanita itu mengeluh pada waktu yang kurang tepat. Yaitu saat Donghae sedang kebingungan dan khawatir dengan keadaan sang ibu dirumah sakit.

Dan kalau dipikir-pikir lagi, sekian lama bersama Donghae, ia jarang sekali melihat Donghae marah. Pria itu kebanyakan bersikap menyebalkan. Tapi sekali pria itu marah, akibatnya akan seperti tadi. Donghae sama sekali tidak akan menegur sapa pada orang yang telah membuatnya marah tersebuy.

“Tapi meskipun begitu, seharusnya kau menerima wawancara itu! kau sangat tidak sopan”

Donghae melirik sang maneger, membuat pria yang mendapat lirikan itu berdehem gugup

“Aku sudah mendapat izin dari pihak Im’s Queen. Dan mereka menyetujuinya saat mengetahui alasanku menolak wawancara itu”

“Karena ibumu sakit?”

“Itu kenyataan”

Maneger Kang mengangguk-anggukkan kepala. Satu hal yang ia sukai dari Lee Donghae, meski pria itu terlihat suka mempermainkan hati wanita, tapi pria itu tidak lupa untuk melindungi dan menghormati wanita yang telah melahirkannya.

“Lalu sekarang! apakah keadaan ny Lee sudah membaik?”

“Kau akan mengetahuinya setelah kita tiba dirumah sakit”
.
.
.
.
.
.
.
Donghae memasuki ruang yang menjadi tempat sang ibu dirawat. Disampingnya berdiri sang asisten, yang sebelumnya sempat ia berikan tugas untuk menjaga sang ibu di apartementnya, sementara ia melakukan syuting di Im’s Queen.

“Bagaimana keadaannya?” tanya Donghae pada asistent Hwang

“Donghae!” Donghae menoleh pada sang ibu dan menemukan beliau berniat untuk bangun

“Eomma!” Donghae mendekat, dan menggenggam tangan sang ibu dengan lembut. “Eomma sudah sadar? aku begitu khawatir dengan keadaan eomma”

“Jangan berlebihan hae! eomma hanya kelelahan sedikit” ny Lee menyesal, telah membuat sang putra khawatir seperti ini karenanya

“Sebenarnya apa yang terjadi pada eomma eoh?” Donghae melihat sang eomma hanya menggelengkan kepalanya, membuat Donghae merasa tidak yakin dengan jawaban tersebut. Karena itu dia menoleh pada “Asisten Hwang?”

“Ny Lee jatuh pingsan setelah beliau ngotot untuk melakukan aktifitas rumah diapartementmu Donghae! aku sudah melarangnya, tapi ny Lee menolak segala laranganku”

“Tapi kenapa eomma harus melakukannya?” tanya Donghae dengan mengalihkan perhatiannya pada sang eomma

“Apartementmu berantakan! lagi pula eomma tidak nyaman harus berdiam diri dikamar”

“Jangan lakukan itu lagi eomma! apalagi keadaan eomma saat itu memang kurang baik”

Donghae menghabiskan sisa beberapa jam sebelum keberangkatannya ke negeri paman sam dengan menemani sang ibu. Menasehati sang ibu untuk tidak terlalu lelah, dan menjaga kesehatannya dengan baik.
.
.
.
.
.
.
.
“Lihatlah tatapan matanya untukmu wakil presdir!”

“Seorang aktor, sekelas Lee Donghae tertarik padamu wakil presdir!”

“Sudah saatnya anda mempertimbangkannya wakil presdir!”

“Itu benar”

“DIAMLAH KALIAN. Dan matikan itu.” Bentak Yoona yang sudah tidak tahan dengan ocehan sekertaris Kim beserta asisten Jung disampingnya

“Tapi wakil presdir! bukankah anda sendiri yang menyetujui, kami ajak untuk menonton syuting yang anda lakukan bersama aktor Lee Donghae? kenapa sekarang anda meminta kami untuk mematikannya?”

“Itu masalahnya! ada apa denganku hari ini? aku merasa orang lain sedang menguasaiku hari ini.”

Ya. Yoona benar-benar merasa bukan dirinya hari ini. Setelah tadi ia hanya terdiam saat mendapatkan tatapan mengerikan dari Lee Donghae, sekarang ia pun baru tersadar telah menyetujui permintaan bawahannya untuk menonton syuting yang dilakukannya bersama Lee Donghae beberapa jam yang lalu. Hal yang tidak pernah ia lakukan meskipun sudah ratusan kali ia melakukan syuting bersama aktor-aktor terkenal lainnya.

Sekertaris Kim beserta asisten Jung tidak mampu menjawab pertanyaan yang menurut mereka sangat membingungkan itu. Menurut mereka, wakil presdir mereka lah yang sedari tadi mereka temani. Seperti biasa, wakil presdir mereka yang cantik, wakil presdir mereka yang mewah, wakil presdir mereka yang berbibir merah, wakil presdir mereka yang manja saat makan pagi bersama sang kakek, wakil presdir mereka yang akan marah hanya karena hal-hal kecil. Kecuali memang untuk yang terakhir, saat dengan mudahnya mereka mengajak sang atasan untuk nonton hasil syuting itu. Tapi itu masih belum wajar untuk dikatakan orang lain sedang menguasai sang atasan bukan?

“Wakil presdir! bisa kita mulai wawancaranya?” Seseorang menyela mereka

——– RL ——–

Beberapa minggu dilalui Yoona dengan berita scandalnya bersama Lee Donghae. Mereka menebak-nebak, bahwa tatapannya bersama Lee Donghae untuk iklan itu, bukan hanya untuk sekedar kepentingan syuting, melainkan murni keluar dari hati masing-masing. Ia tidak tau, dari segi apa mereka bisa menganggapnya demikian.

Yoona kesal, karena sepertinya pembuat berita ingin sekali menjatuhkan pamornya sebagai wanita anggun, dengan selalu mengeluarkan berita scandal-scandal itu. Kalau terus seperti ini, sang kakek bisa saja bangkrut.

Ya. Bangkrut. Karena setiap ada scandal dirinya bersama para pria, sang kakek harus selalu mengeluarkan banyak uang untuk meredakan scandal-scandal itu. Ampuni cucumu ini kakek

“Sayang!”

“Yoona!”

Tn Im semakin mendekat

“Yoona!”

Meresa seseorang tiba-tiba saja menyentuh bahunya, Yoona terkejut. Dan menemukan sang kakek telah berada disampingnya

“Haraboji! bisakah haraboji mengetuk pintu dulu sebelum masuk?” tn Im mengernyitkan dahinya, membuat Yoona bisa melihat kerutan-kerutan yang semakin bertambah itu didahi sang kakek.

“Haraboji semakin tua saja” ejek Yoona, yang sesungguhnya hal itu membuatnya khawatir. Sang kakek adalah keluarga satu-satunya setelah kepergian sang nenek dari pihak masing-masing kedua orang tuanya, kepergian sang kakek dari pihak sang ibu, dan kepergian kedua orang tuanya beberapa tahun yang lalu. Ia tidak memiliki saudara, karena masing-masing orang tuanya adalah anak tunggal. Kehidupannya berjalan hanya ditemani oleh sang kakek dari pihak sang ayah. Terhitung, dua puluh tahun sudah semenjak kepergian kedua orang tuanya. Ia berharap, sang kakek selalu sehat, dan selalu menemaninya seperti ini

“Tentu saja haraboji semakin tua sayang. Karena sekarang giliran Yoona untuk menikmati masa-masa muda yang indah ini.”

“Mungkin masa muda haraboji memang indah! Tapi tidak dengan masa muda Yoona!” Keluh wanita itu, membuat raut wajah tn Im seketika berubah sedih. Yoona yang melihatnya berusaha mengutuk dirinya sendiri dengan melontarkan keluhan itu. Ia lupa, bahwa bisa saja sang kakek menyalah artikan keluhannya tersebut.

Yoona tau, penyesalan sang kakek selama ini. Penyesalan karena membuat masa muda Yoona harus dililit dengan urusan bisnis. Tapi Yoona mengeluh bukan karena hal itu. Sungguh.
Ia mengeluh karena hidupnya yang selalu dipenuhi scandal.

“Maafkan haraboji nak!” sudah Yoona duga akan menjadi seperti ini. “Haraboji tidak berdaya! Appamu terlalu cep..”

“Haraboji! bukan seperti itu maksud Yoona, percayalah!” tn Im tersenyum kecut. Sang cucu berusaha menenangkannya. “Jangan menyesali apapun. Karena yang haraboji lakukan sudah benar. Itu semua juga demi Yoona bukan?”

“Tentu saja sayang! itu semua demi Yoona. Demi Yoona seorang. Cucu haraboji satu-satunya” Yoona mengangguk tersenyum. Yoona berpikir, mulai saat ini ia harus belajar berhati-hati dalam berbicara mengenai kehidupannya didepan sang kakek.

“Yoona menyayangi haraboji” Yoona memeluk erat sang kakek “Dan Yoona harap, kita bisa selalu bersama seperti ini”

“Haraboji juga menyayangi Yoona.”
.
.
.
.
.
.
.
“Sudah aku duga akan menjadi seperti ini hae!” keluh maneger Kang dengan tatapannya yang tidak teralihkan dari layar tabletnya,

“Korea gempar dengan berita yang berjudul ‘scandal terbaru pewaris Im’s Queen bersama aktor Lee Donghae’. Mereka berpikir bahwa tatapan kalian saat melakukan syuting itu, kalian melakukannya diluar naskah yang ada. Dan mereka memiliki bukti kuat atas dugaan mereka dengan membawa beberapa ahli, yang semuanya mengatakan, bahwa ada kekaguman dimata kalian masing-masing saat itu.
Tapi aku bingung! bukankah saat melakukan syuting itu kau sedang marah pada Im Yoona?”

“Atau..”

Tidak lagi mendengar ocehan panjang lebar sang maneger, Donghae menoleh pada pria itu, seolah bertanya, atau?

“Kau masih sempat-sempatnya mengagumi Im Yoona meski kau sedang marah padanya?” Donghae diam, tidak mampu menjawab pertanyaan itu. Karena selain tidak tau jawabannya, pikirannya saat ini juga terbagi dengan kejadian beberapa hari yang lalu saat ia berbicara dengan sang ayah.

Saat setelah melakukan pengambilan gambar untuk film terbarunya, sang maneger membawa ponselnya yang telah tersambung dengan sang ayah

“Bagaimana kabarmu nak?” suara sang ayah dari seberang. “Appa dengar kau berada di kota New York?”

“Ya. Aku berada di New York!”

“Kalau begitu, ini kebetulan yang menyenangkan hae! appa juga berada disini”

“Langsung saja, katakan ada apa kau menghubungiku?”

“Jangan kasar hae! biar bagaimanapun appa adalah appa kandungmu!”

“Aku tidak pernah memiliki seorang appa yang telah menyakiti eommaku”

“Itu pelajaran untuk eommamu hae! karena tidak becus mengurusmu.” sang ayah tidak tau, bahwa rahang Donghae telah mengeras saat mendengar ucapan sang ayah tersebut

“Andai saja kau mau menuruti permintaan appa, appa tidak akan berbuat sejauh itu”

Donghae mengacak rambutnya frustasi, membuat maneger Kang yang berada disambingnya mengernyit bingung, “hae! kau tidak mendengar pertanyaanku?”

“Pertanyaan apa?” maneger Kang menghela nafas pasrah

“Sudahlah” maneger Kang beranjak pergi. Dan kembali lagi setelah ia hampir saja mencapai ambang pintu

“Donghae!”

Donghae menoleh dan menemukan maneger Kang kembali berada disampingnya. Hanya saja pria itu sekarang terlihat berdiri. “Ada apa?”

“Apa semuanya baik-baik saja?”

“Maksud hyung?”

“Appamu! apakah beliau kembali memintamu untuk berhenti dari dunia hiburan dan fokus menjadi penerusnya?”

Beberapa saat kemudian Donghae mengangguk

“Appamu tidak akan menyerah”

“Begitupun denganku” jawab Donghae. Ya. Ia tidak akan pernah menyerah untuk menentang sang ayah yang menginginkannya untuk menjadi penerus Lee Groups. Pertentangannya yang memicu kemarahan sang ayah beberapa tahun silam.

Ia ingat dengan jelas, seperti apa kemarahan pria itu saat mengetahuinya menimba ilmu bukan mengambil jurusan bisnis, melainkan jurusan film dan teater.
Sang ayah murka, hingga berimbas pada sang ibu. Karena selain mendapat kemarahan dari sang ayah, sang ibu juga terluka lantaran sang ayah meninggalkan mereka, dan memilih menetap di China.

Sejak saat itu, Donghae bertekat untuk menjadi aktor yang bisa mematahkan anggapan sang ayah, yang begitu sangat meremehkan pekerjaannya. Setelah mengantar sang ibu ke Mokpo, Donghae kembali ke Seoul, dan bersiap berperang dengan dunia hiburan Korea. Dengan bekal, tidak akan membiarkan orang lain mengatur hidupnya.

Beberapa bulan kemudian Donghae bergabung dengan sebuah agensi, yang membuatnya bertemu dengan maneger Kang, yang sekarang lebih akrab ia panggil dengan sebutan hyung. Meskipun pria itu sempat membuatnya marah. Tapi ia bersyukur, karena seiring berjalannya waktu, sang meneger bisa mengerti dirinya. Dan yang selalu Donghae lihat pria itu lebih banyak mengalah padanya.

Apakah pria itu takut padanya?
dan apakah ia sudah sangat keterlaluan dengan selalu bersikap menyebalkan pada pria itu?
Pria itu, yang secara tidak langsung telah membesarkan namanya.

——– RL ——–

“Haraboji! kenapa orang itu lama sekali?”

“Sudah. Sebentar lagi juga akan datang! dia adalah orang sibuk”

“Ya tapi kita juga adalah orang sibuk haraboji!” Tn Im tersenyum. Sang cucu begitu tidak suka menunggu lama. Tapi harus bagaimana lagi, tidak mungkin ia membatalkan pertemuannya hanya karena keluhan sang cucu. Karena orang yang menginginkan pertemuan ini..orang yang mereka tunggu..termasuk orang penting di Im’s Queen.

“Tn Im!” Kedua Im tersebut mendongak setelah mendengar suara berat itu. Lalu selanjutnya yang Yoona lihat, pria setengah baya itu membungkuk sopan pada sang kakek

“Maaf anda harus menunggu lama tn Im!”

“Tidak masalah.” Ucap tn Im seraya melirik sang cucu yang terlihat menunjukkan raut wajah tidak sukanya mendengar kata-katanya. “Silahkan duduk tn Lee”

“Baik.” Tn menuruti saran tn Im dengan mendudukkan dirinya didepan tn Im dan Yoona. “Kau pasti Im Yoona?”

Yoona menunduk sekilas untuk memberi hormat “Ya. Saya Im Yoona”

“Anda pasti merasa bangga pada cucu anda tn Im! selain cantik, dia juga bisa diandalkan. Melihat semakin stabilnya harga saham setelah cucumu bergabung” ucap tn Lee, sesekali ia melirik wanita dewasa itu.

Yoona tidak tau siapa tn Lee sebenarnya. Tapi sepertinya tn Lee bukan orang sembarangan di Im’s Queen, melihat dengan mudahnya pria setengah baya itu membicarakan mengenai harga saham Im’s Queen.

“Tentu saja aku bangga memilikinya tn Lee!”

Yoona tersenyum. Dan mengalihkan pandangannya pada tn Lee “Terimakasih atas pujian anda tn Lee!”

“Lalu bagaimana dengan bisnismu?”

“Begitulah, semuanya berjalan normal. Hanya saja, saya kesulitan untuk membujuk putra saya agar mau melanjutkan bisnis saya. Anda tau sendiri tn Im! umur saya tidak muda lagi. Harus ada pengganti”

“Itu benar tn Lee”

“Apakah ada alasan putra anda menolak menjadi penerus anda tn Lee?” tanya Yoona penasaran

“Yoona!” Yoona menunduk. Apakah dia salah melontarkan pertanyaan ringan itu? kenapa sang kakek menegurnya?

“Putraku menginginkan menjadi seorang aktor Yoona! aku sudah berusaha dengan berbagai macam cara agar keinginannya itu pupus. Tapi rupanya putraku semakin kuat karena itu”

“Kalau begitu putramu pasti orang yang hebat tn Lee! biar bagaimanapun kau pasti merasa bangga padanya”

“Tentu tn Im! putraku orang yang hebat dengan keberhasilannya menjadi seorang aktor, meski selalu ada halangan untuknya. Hanya saja, saya akan lebih merasa bangga jika dia berperan sebagai penerus Lee Groups.”

“Aku mengerti apa maksudmu tn Lee! kau hanya ingin yang terbaik untuk putramu.”

“Dan bukankah baru-baru ini putraku menjadi model di Im’s Queen bersamamu Yoona?”

Mendengar pertanyaan yang sepertinya dilontarkan untuknya, Yoona kembali bersuara “Maksud anda?”

Tunggu.

Putraku? aktor? Lee?
Apa jangan-jangan aktor itu adalah

“Ya. Baru-baru ini aktor yang menjadi model di Im’s Queen adalah putraku. Lee Donghae”

Tn Im terkejut, dan menjadi sedikit pucat mengetahui kebenaran itu. Bagaimana tidak pucat? sang cucu telah melakukan kesalahan besar dengan selalu melontarkan kata-kata tidak sopan pada Lee Donghae, putra pemilik saham kedua setelahnya di Im’s Queen.

Tak berbeda dari sang kakek, Yoona pun merasa terkejut. Hanya saja wanita itu tidak sepucat sang kakek.
Jadi aktor itu adalah putra dari seorang pebisnis?

“Dan karena hal itu, muncul scandal antara kau dan putraku” lagi-lagi tn Lee mengejutkan tn Im dan Yoona atas perkataannya. Yoona pikir tn Lee sama dengan sang kakek, selalu mengikuti perkembangan berita tidak penting, selain bisnis.

“Tn Lee! sebenarnya berita itu tidaklah benar”

“Sangat disayangkan! padahal aku sangat berharap itu adalah sebuah kenyataan. Bahwa kau dan putraku sedang menjalin hubungan”

Tn Im berpaling dan berdehem pelan. Bukan ia tidak tau, maksud rekan bisnisnya berbicara demikian. Tn Lee menginginkan sesuatu dari pertemuan ini. Itu kesimpulan yang tn Im dapat.

“Tn Im!” panggil tn Lee, Tn Im pun mendongak, “Saya ingin membenarkan berita itu tn Im!”
.
.
.
.
.
.
.
Setelah pertemuan Itu, tn Im lebih banyak terdiam. Pikirannya sedang tertuju pada setiap perkataan tn Lee beberapa saat lalu. Ia bisa saja menentang keinginan tn Lee yang sedang berusaha untuk menjodohkan sang cucu dengan putranya. Tapi apa daya, ia sudah terlalu tua untuk menghadapi masalah yang akan timbul akibat tentangannya itu. Sedangkan sang cucu, masih terlalu muda untuk mengahadapi orang semacam tn Lee

“Haraboji!”

Tn Im menoleh dan mendapati sang cucu memberengut kesal disampingnya, mungkin karena sudah terlalu lama diabaikan olehnya

“Haraboji! apa yang sedang kau pikirkan?”

“Tidak ada sayang!”

“Oh iya! apa maksud dari perkataan terakhir yang dilontarkan oleh tn Lee?”

“Yoona!”
.
.
.
.
.
.
.
Sepulangnya dari negeri paman sam, Donghae disambut oleh para penggemarnya dibandara, dengan puluhan kali mereka meneriakkan namanya. Donghae hanya membalasnya dengan senyuman. Kilatan cahaya bersama pertanyaan terkait scandalnya bersama Im Yoona mengiringi langkahnya bersama maneger Kang dan beberapa pengawal yang berada disekelilingnya. Penjagaan ketat itu, semata-mata untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan terjadi.

Donghae baru bisa merasakan lega saat dirinya sudah berada didalam mobil. Maneger Kang yang bertugas menjadi supirpun merasakan hal yang sama.

Beberapa menit kemuduan, mereka tiba diapartement. Untuk itu, Donghae keluar dari mobil. Lalu Donghae menunduk saat maneger Kang menurunkan kaca pada pintu mobil itu

“Jangan sakiti mobilku! kau mengerti hyung?”

“Astaga! kau selalu mengingatkanku tentang hal itu hae! kenyataannya, aku tidak pernah sekalipun menyakiti mobilmu ini”

“Aku hanya mengingatkanmu hyung!”

“Sudahlah! aku pamit”

Setelah maneger Kang melajukan mobilnya, Donghae tersenyum mengingat raut kesal yang ditunjukkan sang maneger.

Donghae berbalik. Dan alangkah terkejutnya ia, saat menemukan sang ayah sedang berdiri angkuh didepannya

“Lama tidak bertemu nak!”
.
.
.
.
.
.
.
“Ada apa haraboji?”

“Sepertinya tn Lee menginginkanmu untuk menjadi pendamping hidup Lee Donghae!”

“A..apa maksud haraboji?”

“Yoona!”

Bukan jawaban yang sudah ia ketahui, yang ia ingin dengar dari sang kakek. Melainkan jawaban, bahwa beberapa saat yang lalu pendengarannya kurang berfungsi dengan sempurna, saat mendengar perkataan tn Lee.

——– To Be Continue ——–
*
*
*
*
*
*
*
Bagaimana? Sudah panjang bukan? Sudah puas belum?

Chapter ini spesial untuk readers yang tidak henti-hentinya menanyakan kapan Red Lipstick dilanjut..

Jangan lupa tinggalkan jejak kalian ya readers! meski aku tidak membalasnya, tapi aku selalu membaca satu persatu komentar kalian kok. Karna selain untuk melihat saran2 dari kalian, hal itu juga untuk mengetahui, siapa saja yang berhak mendapat password nantinya..

Jadi, yang menginginkan pw nantinya, tinggalkan jejak kalian disetiap chapter, lalu selanjutnya kalian bisa meminta pwnya, dengan cara menghubungiku lewat akun FB (Erly C-hana)

Yang tidak memiliki akun FB, kalian bisa menghubungiku lewat SMS, ini no.nya 082173173256.. mudah bukan?

Dan terimakasih untuk responnya di Chapter 01. Untuk penulis baru macam aku ini, jumlah komentar itu sudah cukup.
Terimakasih juga untuk admin yang bersedia untuk memposting FF jelek bin aneh ini.heehee

185 thoughts on “Red Lipstick (Chapter 2)

  1. lucuu nya moment yoonhae
    Semoga yoona bisa lebih lembut dengan orang lainn
    Penasarannn yoona memang arogan disini atau ada sesuatu thorrr
    Makin seru , makin penasaran sama hub yoonhae hehehee
    Ijin lanjut baca

  2. lucu bngt yoonhae kaya kucing sama anjing,tp gmna ya sama perjodohannya apa kira kira lee donghae mau nerima sedangkan hubungan sama ayahnya tdk rukun..,thanksya udh diksh ijin baca☺

  3. sepertinya memang benar aq belum baca ini ff.. soalnya ceritanya asing.. apa aq lupa ya? ah entahlah.. aq lanjut baca saja.. hehehe wah mereka akan tunangan?

  4. Yg d jodohkan siapa yg deg”An kok aku ya 😂
    Jujur pas Nemu ff ini yg pertama aku lihat itu genre nya..
    Soalnya klo yg sad pasti gk kebaca.. #gakkuattt
    Kayaknya bakalan obok” wordpress ini skrg 😃
    #maafcurhat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s