[Freelance] Meet Mr. Perfect

redo-mmp

Title  : Meet Mr. Perfect

Author : Choi Mins

SosMed : fb (gema annisa)

twitter (@annisa_gema27)

instagram (@gema_annisa27)

Cast : Im Yoona a.k.a her self

Choi Siwon a.k.a his self

Other Cast : find by yourself

Genre : Romance, Friendship, and you will see by yourself

Type : Oneshoot

Rating : PG-15

Note : cerita hanya fiktif belaka, nama pemain hanya pinjam untuk memudahkan ide cerita, semuanya milik tuhan, cerita murni dari diri sendiri tanpa maksud memplagiat.

 

special Poster by babyglam @ IFA

( https://indofanfictionsarts.wordpress.com/open-order-poster/order-to-babyglam/ )

 

Meet Mr. Perfect

 

Kuperjapkan mataku perlahan, sinar matahari terasa menembus pandanganku. Sayup-sayup kudengar suara cempreng yang terus meneriakan namaku berkali-kali mendekat, oh astaga apakah suara cempreng itu tidak bisa lebih menyebalkan, demi tuhan aku masih sangat mengantuk. Sial,sial,sial.

“Yoona-yaaa, Yoona-yaaaa, Yoona-yaaa IREONA!!!”

teriakan itu semakin menjadi-jadi, kututup wajahku dengan selimut pink yang tadinya sudah tak berbentuk karena gaya tidurku, berusaha menghilangkan suara yang memekang telinga,tapi sepertinya si pemilik suara ini tak bisa meninggalkanku sebentar saja, karena kini kurasakan si pemilik suara cempreng ini tengah menarik-narik selimut yang menutupi seluruh badanku dengan masih meneriakan kata-kata yang sangat menyebalkan.

“Yoona-ya palli ireona, tidurmu sudah seperti sapi saja, sudah siang tahu!”

kugerakan kaki untuk menendang apa saja yang berada di kasur queen size ini, menghalau orang yang terus mengganguku tanpa kenal lelah, jebalyo,,,, aku hanya ingin tidur, apa susahnya sih?

“Yak, Yoona-ya , jangan menendang-nendang, sudah numpang tidur di rumah orang, malah masih asik-asikan tiduran, kau bahkan mengacak kamarku”

kini kudengar umpatan kekesalan dari yeoja di hadapanku ini. Yah, mau tidak mau aku harus mengakui bahwa ini adalah rumah si yeoja cempereng dan kamar dengan nuansa pink ini adalah kamarnya, tapi kan dia juga sering numpang tidur di rumahku dan bahkan lebih parah lagi dalam menghancurkan kamarku, jadi sah-sah saja kalau aku melakukan hal yang sama pada kamarnya kan?

“Fany-ya kecilkan suaramu itu, menggangu saja. Aku masih ngatuk”

tak kupedulikan tatapan kesal si yeoja cempreng yang mau tidak mau aku harus mengakuinya lagi sebagai sahabat terbaikku, Tiffany Hwang. Tetapi kalau dia sudah menunjukan sikap aslinya, sepertinya aku harus meralat bahwa dia adalah sahabatku karena sikapnya betul-betul menyebalkan.

“aigoo, yeoja secantik ini dibilang penggangu, masih mending aku masih mau jadi sahabatmu. Sudah tidur kaya sapi, jorok lagi, iuhhh”

Kalau dia bukan temanku sudah kusumpal mulutnya dengan kos kakiku, kepercayaan dirinya sudah setinggi langit, dia bahkan tidurnya melebihi kesapianku(?), dan joroknya hanya berbeda setipis sehelai rambut denganku. Tapi tunggu dulu,  Tiffany sudah bangun? Biasanya tidur dia jauh lebih lama dariku, tapi sekarang dia bahkan sudah sangat rapi.

“Yoona-ya, aku punya berita baru, something special!”

kini Fany sudah duduk di atas ranjang bersamaku, wajahnya kini tengah menunjukan antusiatisme, pancaran matanya berbinar-binar. Pasti something special ini sangat membuatnya dalam mood yang bahagia untuk melakukan segala sesuatunya dengan cepat, apalagi ini hari Minggu, seharusnya kini dia masih tidur dan mungkin bangun di sore hari, aku hanya memandangnya dengan malas, terkadang Fany ini adalah ratunya lebay, kalau bahasa kerennya biar ngak terlalu malu-maluin adalah drama queen.

“kemarinkan aku sudah bilang kalau hari ini akan ada tetangga baru di kompleks ini, dan tadi pagi aku sudah ketemu sama tetangga baru itu”

ucapan menggebu-gebu Fany benar-benar sangat over, apanya yang something special, ada tetangga baru terus dia ketemu sama tetangga baru itu, terus apanya coba yang spesial?

“aku tahu pikiranmu, pasti bilang apanya sih yang spesial? Tapi kali ini betul-betul spesial, so, kamu harus dengar baik-baik”

dengan gaya yang dilebih-lebihkan Fany menghembuskan nafasnya perlahan seolah akan mengatakan rahasia terbesar suatu negara, tangannya digerakan untuk memperbaiki untaian rambut dark brownya dengan gaya slow motion. Oh astaga, drama queen Fany betul-betul deh.

“Im Yoona, tadi aku baru saja ketemu sama member Super junior!!!”

kututup telingaku dengan cepat mendengar pekikan melengking suara Fany, member Suju? Yang benar saja, mana ada member Suju jauh-jauh datang ke daerah pinggiran kota Seoul, terus tiba-tiba ada di sini dan kenalan sama Fany, satu lagi apa hubungannya sama tetangga baru coba?

“bukan member suju beneran,tapi astaga dia sangat mirip sama salah satu anggota suju. Kalau kamu melihatnya sendiri kamu tak akan memandangku seperti itu!”

aku mengerinyit, maksudnya Fany yang mirip member suju itu adalah tetangga baru yang dia temui? Masa sih? Kalau memang benar, Fany sangat beruntung bisa tetanggaan sama member suju, walaupun cuma imitasinya saja. Dilihat dari pandangan Fany yang antusias sepertinya benar.

“jinjjayo? kau tak bercandakan? Semirip apa?”

kucecar Fany dengan berbagai pertanyaan, maklum lah aku kan juga suka sama super junior, walaupun tak sefanatik Fany, tapi tetap sajakan penasaran.

“jinjjayo, aku tak berbohong, dia sangat mirip dengan member suju. neomu kyeoptayaaaa”

Aku memandang Fany dengan penasaran, semirip apa sih?

“Yoona-ya, kalau kau penasaran, cepatlah pergi mandi dan kita bertemu  dengan tetangga baruku, palli, palli!!”

Fany menyeretku ke dalam kamar mandi memaksaku dengan cepat untuk masuk ke dalam kamar mandi di ruangan ini. Oke, mari kita buktikan perkataan Fany, apakah semua yang dikatakan Fany benar atau hanya sekedar gaya drama queennya.

 

000

 

Dan di sinilah aku bersama Fany, berdiri seperti seorang pengguntit, bayangkan saja kami berdua tengah berdiri di atas sebuah papan, berjinjit berusaha menghalau pagar pembatas antara rumah Fany dan rumah tetangga baru, tadinya Fany menyuruhku untuk berkenalan secara langsung saja, akan tetapi, akan sangat memalukan jika tiba-tiba saja aku mengajak si tetangga baru berkenalan layaknya orang yang SKSD (sok kenal sok dekat). Kakiku sudah pegal terus berjinjit , tapi si tetangga baru belum juga kelihatan. Sangat melelahkan.

“Fany-ya, aku capek menunggunya, di sini sangat panas”

kuucapkan protesku pada Fany, tapi dia sepertinya tak menggubris ucapanku dia malah dengan bersemangat berjinjit ingin melihat si tetangga baru, sebigitu miripkah tetangga baru itu sampai Fany terlihat lebih drama queen dari sebelumnya.

“chogiyo, apa yang sedang kalian lakukan?”

ucapan itu sontak membuat Aku dan Fany berbalik, dan karena Fany kehilangan keseimbangannya berdiri di papan kecil ini, otomatis aku juga hilang keseimbangan dan terjatuh begitu saja. Kupejamkan mataku pasrah menerima kesakitan tanah berkerikil, tapi tunggu dulu, kenapa rasanya bahkan tidak ada rasanya, aku tak merasa sakit? Kubuka mataku perlahan, aku memang terjatuh dan sekarang kini terduduk di atas tanah tapi anehnya aku bahkan tak mersakan apa-apa, sebelum aku sempat berpikir tentang keanehan ini Fany sudah mencecarku dengan gaya berlebihan

“aigoo Yoona-ya, gwenchana? apasso(sakitkah)? haruskah kita ke rumah sakit?”

astaga, Fany kamu memang adalah drama queen. Kualihkan pandanganku pada pemilik suara yang menyebabkan hal yang memalukan ini dan itu cukup membuatku terpanah, Fany tidak main-main mengatakan bahwa tetangga baru itu mirip member suju, wajahnya betul-betul perpaduan sempurna, mata yang tajam, rahang yang tegas, dan senyum itu, mengapa namja yang lebih tepat menjadi visual suju ini berada di sini? neomu kyeopta!.

“gwenchanaseo?”

suaranya bahkan sangat manly dan terdengar merdu, mengapa namja ini bisa terdampar di sini?

“nde, gwenchasumnida”

bahkan suaraku terdengar aneh karena gugup, dengan cepat aku bangkit merapikan rok polkadot selututku, aku harus jaga imej di depan namja setampan ini. Tapi sepertinya hal itu sia-sia karena kini Fany tidak terlihat menjaga imejnya, dengan terang-terangan memandang dengan sangat berlebihan ke arah tetangga baru itu seolah si tetangga adalah makanan dan Fany adalah orang kelaparannya, betul-betul memalukan. micheso Fany!!!

“mianhamnida, Choi Siwon imnida, kamu bisa memanggilku Siwon”

ucapan ramah dengan senyum menawan menambah nilai plus lagi bagi tetangga baru ini, Choi Siwon. Dengan perlahan kuterima jabatan tangannya.

“Im Yoona imnida, kamu bisa panggil aku Yoona”

dengan senyum seanggun mungkin aku memperkenalkan diriku. Deheman Fany membuatku sadar dari keterpanahan dan sontak melepaskan jabatan tanganku dengan Siwon, Fany betul-betul penggangu.

“jeongmal mianhae karena mengngagetkan kalian, kalian terlihat sangat serius memperhatikan halaman rumahku, apa yang kalian lihat?”

perkataan dari Siwon sontak membuatku dan Fany jadi salah tingkah, gawat kalau Siwon tahu kalau kami berdua lagi  menguntit dia, kusenggol pinggang Fany, berharap dia bisa memberikan jawaban yang tepat terhadap pertanyaan Siwon.

“ah nde, kami melihat kucing yang begitu cantik, warnanya kuning dan abu-abu, neomu kyeoni”

apa deh Fany bikin alasannya sangat tak bermutu, untungnya tetangga baru, eh Siwon terlihat mempercayai perkataan Fany.

“Siwon-ah mengapa tadi kamu berjalan berlawanan arah?, sedang jalan-jalan?”

pertanyaan SKSD Fany memecah keheningan yang sempat terjadi,  Siwon tersenyum lebar dan memamerkan lesung pipinya, neomu kyeoptayaaa.

“hehehe, iya tadi aku jalan-jalan lihat suasana di kompleks ini. Tak ada orang di rumah, jadi daripada bosan aku berjalan-jalan”

aku dan Fany hanya mengganguk mengerti, tanpa sadar aku terus memperhatikan Siwon, untuk ukuran manusia ketampanannya melebih kadarnya dan pembawaan easy goingnya begitu hebat, aku melirik sekilas ke arah Fany, beruntungnya dia bisa tetanggan sama namja seperfect Siwon, Fany pasti akan terus mencari kesempatan bersama Siwon.

“kalau boring bagaimana kalau kita jalan-jalan lagi?, kamu pasti belum ke area taman kompleks di sana tempatnya begitu bagus”

benar saja Fany mulai mencari-cari kesempatan, dengan gayanya yang dianggunkan, cih dasar Fany!

“nde aku belum ke area sana, kalau kalian tak keberatan, kita bisa jalan ke sana bersama”

bahkan Siwon masih menayakan kesediaaan kami untuk jalan sama dia, walaupun Fany yang mengajukan saran, gayanya begitu sopan.

“tentu saja kita tak keberatan, iyakan Yoona-ya?”

mana mau aku nolak kesempatan  bersama Siwon, tapi imej harus tetap dijaga. Jadi aku berpura-pura berpikir supaya kesannya ngak terlalu murahan, satu lagi mana bisa aku menolak kalau Siwon kini memandangku dengan tatapan penuh harapnya, aku yang terlalu percaya diri atau memang Siwon pandangannya seperti itu?

“eothokhe Yoona-ya, kamu maukan ikut jalan-jalan?”

itu kan Siwon mandangnya dan gaya bicaranya penuh harap, bagaimana tak percaya diri kalau dianya sangat perhatian.

“nde, gwenchanayo. Aku akan ikut”

senyum cerah langsung menghiasi wajah tampan Siwon ketika mendengar perkataanku, tenang saja Siwon, aku tak akan menyianyiakan kesempatan emas ini.

“kalau begitu kajja kita jalan-jalan!”

dengan bersemangat Fany mengucapkan perkataan itu.

 

  000

 

Kini kami bertiga telah berada di kawasan taman kompleks rumah Fany dan juga Siwon, taman ini memang begitu nyaman untuk dijadikan tempat bersantai ria, pohon-pohon dan tanaman membuat taman ini begitu sejuk dan asri sehingga tidak heran jika banyak orang juga menghabiskan sore hari sekedar untuk bersantai. Begitu pula dengan kami bertiga, memilih duduk di bangku taman dengan lindungan pohon rindang dan pemandangan air mancur di depan kami, walaupun sedikit aneh dengan kondisi kami, duduk bertiga seperti ini dengan aku berada di antara Fany dan Siwon betul-betul membingungkan.

“eh tau tidak buah apa yang bikin bingung?”

Siwon tiba-tiba memberikan pertanyaan atau lebih tepatnya sebuah tebak-tebakan, sepertinya Siwon mengetahui keanehan posisi kami sehingga berniat mencairkan susana, aku berpikir buah apa yang bingungin? apa ya?

“buah yang tak bisa dimakan”

jawaban dari Fany membuatku terkekeh geli, Fanykan tak bisa jauh-jauh dari makanan, tapi sepertinya jawabannya salah karena Siwon menggelengkan kepala terlihat menahan senyum.

“nyerah?”

Siwon kini bertanya kembali yang membuatku dan Fany menggangukkan kepala serempak, cukup penasaran dengan tebak-tebakan Siwon.

“jawabannya apel”

“apel? kok bisa”

kusuarakan pemikiranku terhadap Siwon, masa jawabannya apel.

“itukan kalian berdua bingung”

sontak aku dan Fany tertawa dan mencairlah suasana yang tadinya begitu aneh. Siwon adalah pria yang sangat humoris, dengan gayanya yang easy going dan candaannya membuatku merasa sangat nyaman, aku bahkan tak bisa menemukan satu kekuarangan pun darinya, masih ada saja orang perfect di dunia ini dan parahnya lagi dia kini sedang bersamaku, astaga rasanya kaya mimpi saja.

“nde eomma, aku akan segera ke sana”

perkataan Fany menyadarkan aku dari khayalanku, kini kulihat dia tengah berbicara dengan seseorang dari smartphonenya dan kini memandangku setelah sambungan telephonenya terputus.

“Mianheyo, Yoona-ya, Siwon-ah eommaku tadi nelphone ingin di jemput jadi aku harus segera pergi”

kini kulihat tatapan menyesal dan sedih dari Fany, pastilah dia sedih kesempatannya tak bisa digunakan lebih lama lagi, kasihannya Fany.

“gwenchanayo, aku yang merepotkan, kamu mau aku antar?”

Siwon begitu baik, dia bahkan masih bertanya, walaupun kulihat pandangan Fany terlihat berbinar tapi sedetik kemudian kulihat pandangannya kini terlihat berpikir dan memandangiku.

“gwenchanayo aku bisa pergi sendiri, nanti Yoona siapa yang menemani? lebih baik kamu sama Yoona saja”

‘Yoona-ya kamu harus gunakan kesempatan ini sebaik mungkin’

seolah memiliki hubungan batin dapat kulihat dari tatapan Fany dia berusaha mengatakan hal itu.

“ya sudah aku pergi dulu, bye”

Fany melambaikan tangannya, kemudian dengan gerakan yang disembunyikan dia mengepalkan tangannya ke arahku, aku hanya tersenyum kaku, berdua dengan Siwon? eothoke?

“bye, Fany-ah”

ucapku dan Siwon serempak, menambah gugupku. Untuk beberapa saat kami saling terdiam, aku yang gugup dan mungkin Siwon yang tak tahu harus memulai percakapan dari mana.

“Yoona-ya?”

ucapan entah mengapa terdengar lembut dari Siwon membuatku semakin gugup, aku hanya bisa memandangnya dengan pandangan bertanya, bahkan untuk mengeluarkan kata rasanya sulit sekali.

“apa kamu bahagia sekarang?”

kenapa Siwon tiba-tiba bertanya seperti itu? bahagia? tentu saja sekarang aku bahagia tapi kok pertanyaan Siwon begitu penuh makna.

“aku rasa aku bahagia”

jawabku pada akhirnya, Siwon kini tersenyum, senyuman yang sangat manis dan dia kini bangkit dari duduknya mengulurkan tangannya kepadaku.

“aku senang kalau kamu bahagia, kalau begitu kajja kita jalan-jalan lagi”

dengan ragu aku menerima uluran tangannya, seandainya Siwon tahu kalau aku bahagia karena ada dia.

“aku akan buat kamu bahagia”

sebelum aku mencerna perkataan Siwon, dia kini sudah menarik tanganku untuk bangkit.

 

  000

 

Sepanjang hari kuhabiskan dengan tawa bahagia bersama Siwon, kami mengelilingi area taman ini, bermain di taman mulai dari jungkit-jungkit hingga ayunan kami mainkan, Siwon seolah tahu apa yang kupikirkan setiap aku ingin melakukan sesuatu Siwon lebih dulu menanyakan jika aku ingin melakukan itu, seperti saat ini kami tengah menikmati es krim di bangku taman di bawah pepohonan rindang, aku memikirkan jika aku ingin makan es krim tetapi bahkan Siwon lebih dulu menanyakan apa aku ingin makan es krim, apa ekspresiku seterbuka itu? ataukah Siwon yang memang memiliki kemampuan membaca pikiran? sepertinya pilihan pertama jauh lebih masuk akal, tapi bagaimana jika Siwon memang bisa membaca pikiran? oke lupakan pikiran konyolku ini, yang pasti saat ini aku tengah bahagia, kapan lagi bisa menikmati waktu seperti ini, kencan ala drama Korea, tapi apa ini bisa dibilang kencan?

“ini kencan Yoona-ya kalau kamu mungkin menyebutnya kencan ala drama Korea?”

oke sekarang aku merasa bahwa Siwon betul-betul bisa baca pikiran? aku rasa pikiranku tidak seterbuka itu, atau jangan-jangan tanpa sadar aku mengucapkan pemikiranku? aduh kok jadi bingung sih.

“aniyo Yoona-ya aku tak bisa baca pikiran kamu, kamu juga tak seterbuka itu dan kamu juga tak mengucapkan apa yang kamu pikirkan, tapi satu hal yang harus kamu tahu kalau aku tahu kamu”

ucapan panjang lebar dari Siwon membuatku terdiam untuk beberapa saat, Siwon tahu aku? apa coba maksudnya, ini semakin membingungkan. Dan tawa dari Siwon kembali menyadarkanku, dia kini tengah tertawa dia bahkan memegangi perutnya terlihat menahan gejolak untuk tertawa lagi, setelah tawanya reda dia memandangiku dan tersenyum manis memperlihatkan lesung pipinya.

“sorry Yoona-ya, aku tak bisa tahan tawa aku, soalnya tadi ekspresi bingung kamu sangat lucu jadi semakin cantik, tenang Yoona-ya, aku tak punya kemampuan untuk baca pikiran tadi asal tebak saja, soal kencan ala drama Korea itu tadikan kamu yang bilang suka sama drama, iya kan?”

penjelasan dari Siwon cukup membuatku kembali berpikir normal, tadi pikiranku sudah mengelana jauh, aku hanya bisa tersenyum malu, tapi tunggu dulu tadi Siwon bilang aku cantik, oh my god aku dibilang cantik sama Siwon. eomma anakmu sangat bahagia!!!

“kamu cantik apa lagi kalau lagi tersenyum”

pikiran ngelanturku mulai lagi, Yoona buang jauh-jauh pikiran ngelantur itu, tapi tadi Siwon bilang aku cantik lagi, aku mau teriak, sepertinya sikap drama queen Fany mulai meracuniku, slow down Yoona, aku tersenyum malu mendengar perkataan Siwon, ingat Yoona jaga imej.

“cih gombal”

padahal dalam hati mau juga digombalin, kamu munafik Yoona.

“menurut kamu itu gombal? padahal aku mengatakan hal yang sebenarnya”

Siwon kamu membuatku terbang *eyaaa*, rasanya seperti jadi tokoh utama di dalam sebuah drama tak disangka bisa juga merasakannya, tadinya aku sering berpikir gimana rasanya jadi tokoh utama dalam sebuah drama yang disukain sama cowok perfect, dan ternyata seorang Im Yoona bisa juga rasainnya

“kamu tahu Yoona-ya, aku harap setelah ini kamu harus lebih bahagia lagi”

entah mengapa perkataan Siwon terdengar sebagai ucapan perpisahan di telingaku, aku hanya memandangnya bingung, tapi sedetik kemudian Siwon kembali tersenyum manis, dan rasanya aku akan merindukan senyum itu.

“ini sudah mau malam, kajja kita pulang”

kini Siwon kembali mengulurkan tangannya dan dengan perlahan aku menerima uluran tangannya, meninggalkan taman ini yang entah mengapa terasa hanya akan menjadi sebuah kenagan.

 

  000

 

Kini aku dan Siwon telah sampai di depan rumah Fany, hanya ada keheningan panjang yang terjadi, canda tawa yang tadi terjadi hilang begitu saja, aku tak tahu apa yang ingin kukatakan dan sepertinya Siwon juga tak ingin mengatakan sesuatu, entah mengapa rasanya sungguh sangat tak nyaman, seolah  kebahagiaan yang tadi terjadi lenyap begitu saja.

“Yoona-ya?”

kali ini suara Siwon tak lagi membuatku senang, hanya ada kesedihan yang kurasakan, oh, apa yang terjadi denganku?

“sepertinya sekarang kamu tak terlihat senang”

aku ingin mengganguk ketika mendengar perkataan Siwon, mengapa sekarang rasanya begitu sesak seolah kesedihan akan segera merenggut semuanya, astaga aku tak menyukai perubahan suasana yang begitu cepat ini.

“kamu tahu Yoona-ya, terkadang sebuah kebahagiaaan datang dengan begitu cepat tetapi dengan mudah kebahagiaan itu juga lenyap begitu saja”

entah apa maksud Siwon yang ingin disampaikan kepadaku, tak ada lagi ekspresi senang yang terlihat dari wajah rupawannya yang ada kini ada ekspresi dingin yang tak terbaca.

“Yoona-ya, kamu membuat semuanya begitu indah, aku senang bisa menghabiskan waktuku bersamamu”

Siwon tersenyum, walaupun aku tahu dibalik senyuman tulusnya tersimpan sebuah kesedihan yang juga kurasakan.

“gomawoyo”

ucapan itu terdengar begitu tulus dan tanpa sadar setetes air mata meluncur begitu saja dari mataku.

“untuk apa kamu berterima kasih? aku juga senang kok, kamu mengatakan hal yang membingungkan Siwon-ah”

walaupun sulit akhirnya aku bisa mengatakan sesuatu, aku tak mengerti apa yang terjadi, tadinya kami bersenang-senang dan sekarang aku bahkan tak bisa menjelaskan suasana yang sangat tidak nyaman ini.

“terima kasih karena membuatku menjadi begitu sempurna dengan pandanganmu, menjadikanku peran utama dalam kisahmu, menjadikanku orang yang bisa membuatmu tersenyum, menjadikanku berarti bagimu dan yang paling penting, terima kasih karena membuatku ada”

perkataan Siwon membuatku membeku untuk sesaat, kali ini air mataku terus mengalir tanpa kuperintah, apa yang sebenarnya terjadi?

“aku harap kamu menemukan pria sempurnamu Yoona-ya, seseorang yang mencintaimu dengan tulus, yang akan menjagamu, terus berada di sampingmu, melindungimu, tak akan membiarkanmu bersedih, selalu membuat harimu penuh dengan kebahagiaan. Walaupun itu bukan aku Choi Siwon, aku harap kamu bisa menemukan Choi Siwonmu seseorang yang sempurna untukmu”

air mataku berubah menjadi isakan yang tak dapat terbendung, kumohon apa yang sebenarnya terjadi denganku?

“untuk itu, hal pertama yang kamu harus lakukan untuk menemukan pria sempurnamu, kamu harus bangun Yoona-ya”

apa? aku harus bangun? tunggu apa sebenarnya yang terjadi

“Im Yoona bangunlah”

bangun, aku harus bangun.

Aku harus………………….

 

  000

  

Kuperjapkan mataku perlahan, sinar matahari terasa menembus pandanganku. Sayup-sayup kudengar suara cempreng yang terus meneriakan namaku berkali-kali mendekat, oh astaga apakah suara cempreng itu tidak bisa lebih menyebalkan, demi tuhan aku masih sangat mengantuk. Sial,sial,sial.

“Yoona-ya, Yoona-ya, Yoona-ya palli IREONA!!!”

tunggu, teriakan ini tak asing bagiku, Fany?

“Yoona-ya palli ireona, tidurmu sudah seperti sapi saja, sudah siang tahu!”

aku tengah berada di kamar Fany? perkataan Fany, bukan kah dia sudah mengatakan ini tadi pagi, tunggu tadi pagi? ini sudah malamkan? aku menendang bantal di ranjang ini, aku harus memastikan sesuatu

“Yak, Yoona-ya , jangan menendang-nendang, sudah numpang tidur di rumah orang, malah masih asik-asikan tiduran, kau bahkan mengacak kamarku”

oh astaga ini benar terjadi, kejadian itu.

“Fany-ah ini pagi?”

Fany memandangku dengan kerutan di dahinya, kejadian itu betul-betul hanya mimpi?

“bukan, ini sudah siang, kamu sih tidurnya kaya sapi jadi bangun tidurnya sudah siang”

aku hanya bisa memandang Fany dengan tatapan yang aku sendiri tak tahu artinya, oh tuhan ini betul-betul membingungkan, apa yang terjadi padaku?

“Fany-ah cubit aku, palli!”

kuulurkan lenganku meminta Fany untuk mencubit lenganku, walaupun bingung dapat kulihat Fany tetap mengerakan tangannya untuk mencubitku. Aku meringis, cubitan Fany terasa menyakitkan, ini seolah menjawab pertanyaanku, jadi kejadian tadi, Siwon, semuanya hanya mimpi?

“waeyo Yoona-ya, aneh sekali. Tapi btw aku punya-”

“berita baru?”

sebelum Fany melanjutkan perkataannya aku terlebih dahulu memotongnya dengan cepat.

“kok kamu tahu?”

detak jantungku berpacu dengan cepat, apakah ini semua akan terjadi lagi, ya tuhan kumohon.

“aku ada tetangg baru”

ini betul-betul terjadi? Siwon dia ada?

“dia mirip member suju, Choi Siwon, namanya Choi Siwon”

Fany menempelkan telapak tangannya di dahiku “tidak demam” dapat kudengar gumaman Fany, kini aku hanya bisa memandang Fany dengan penuh harap, jebalyo

“mirip member Suju? dari mananya coba mirip member Suju? sama-sama orang iya, Choi Siwon? Yoona-ya kamu mimpi apa coba, ngelanturnya sudah akut, tapi sangat menyebalkan sama  tetangga baru itu dia—”

tak kupedulikan lagi ucapan Fany, oh astaga apa yang kuharapkan dari mimpiku, bertemu Siwon? namja perfect itu? Mimpiku betul-betul ajaib. Aku terkekeh geli, mimpiku betul-betul hebat, aku cukup salut dengan imajinasiku, Choi Siwon? dari mana coba aku menemukan nama seperti itu. Aku tertawa, tak kupedulikan tatapan Fany yang terlihat bingung denganku. Taman, es krim, kata-kata gombal, senyum yang menawan, semuanya hanya khayalanku? aku betul-betul punya khayalan tingkat akut. Aku hanya bisa tersenyum, mimpi yang indah, perkataan Siwon begitu saja melintas di pikiranku.

“kamu harus menemukan pria sempurnamu”

pria sempurnaku? bagaimana bisa perkataan itu mengubah arti sempurna?, seperti yang dikatakan Siwon, seseorang yang mencintaiku dengan tulus, melindungiku, menjagaku, selalu berada di sampingku, membuatku selalu bahagia dan membutku tak bersedih, seseorang seperti itu yang akan menjadi pria sempurnaku? Entah kapan aku akan menemukan pria sempurnaku yang aku tahu suatu saat aku akan menemukanmu. Pria sempurnaku, Choi Siwonku.

 

“The best dream happens when you woke up”– Im Yoona

 

END

 

 

 

cerita pertama yg di post di blog ini^^ cerita.y masih abal-abal dan masih amatir😦 tapi mins harap para readers tetap memberi apresiasi.y terhadap ff saya. happy reading guys ^^

♡ Stay and Love YoonWon ♡

 

 

12 thoughts on “[Freelance] Meet Mr. Perfect

  1. Gokiiiil….uda serius2 baca, udah ikutan baper..eh malah mimpi?? Ya ampun..bnrn deh ne author satu…uda seneng2 siwon besuaan ma yoona ngabisin waktu jalan2 trus sedih gara2 omongan siwon…sampe pd akhir na siwon bilang pertama2 km harus bangun dlu yoona, eng..ing..eng…mimpi..lgsg ngakak…haha..cerita na simpel, alur na ngalir sampe ga ketauan klo yoona mimpi..haha..dtggu karya yw yang lain.
    fightiiing…

  2. ya ampun,, ternyata semua itu cuma mimpi,,,hoho itu tetangganya fany beneran siwon gak tuh? kalo enggak kan yoona jadinya kagok wkwkwk ceritanya bagus,, ditunggu karya ff nya yang lain😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s