Unexpected : Retrouvaille [end]

unexpected

Unexpected : Retrouvaille [end]

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-19

WARNING: CONTAIN BAD WORDS AND BED SCENE

Seoul, two years after

Kyu hyun berdiam diri dari balik kaca tebal itu. Pikirannya terus berputar disekitaran ponsel yang kini ia genggam erat. Kursi-kursi merah dengan dinding ruangan bercat putih dan bau obat-obatan yang bercampur disana tak membuat kyuhyun terusik.

Sejatinya, ia tak lagi mudah terusik semenjak, well, mungkin beberapa waktu belakangan ini. kyu hyun merasakan sendiri bagaimana tubuhnya menjadi begitu resisten terhadap bau rumah sakit yang dulu begitu tak ia sukai.

Mungkin, karena beberapa kejadian di masa lalu atau bisa jadi karena kini ia memiliki tanggung jawab terhadap segala kejadian yang telah berlalu. Entahlah, kyu hyun fikir itu tak jauh berbeda. Dengan masa lalu, ia mencoba berdamai dengan suasana rumah sakit. Dengan masa lalu pula lah kini kyu hyun belajar, betapa beratnya nilai sebuah tanggung jawab untuk ia abaikan begitu saja.

Denting panjang itu berbunyi, menyadarkan kyu hyun yang sempat kalap ditelan masa lalu. kyu hyun terbatuk sebentar sebelum menoleh kedepan. Dari depan kaca kyu hyun melihat orang berlalu lalang entah untuk melakukan apa. Disana, tepat di tempat tidur mesin besar bersinarkan X-ray itu, duduk seorang lelaki dengan wajah serius mendengarkan manusia berjubah putih yang berdiri kaku dengan papan jalan yang terus ia pantau.

Sebersit tanya merasuki perasaan kyu hyun. Sudah berapa abad semenjak bencana itu terjadi? Lelaki didalam bilik kaca itu mengangguk, dengan bibir polos terbuka persis seperti anak berusia bawah. Rambutnya yang kini tak lagi menutupi dahi serta baju rawat lengkap yang membalutnya dengan ringan membuat perasaan kyu hyun berdesir hangat.

Dua tahun.

Semua sudah berlalu lama. Atau mungkin, tidak begitu bagi kyu hyun yang merasa tak mampu melangkah sekalipun semenjak ia merasa waktu berhenti berputar disekitarnya. Meski kyu hyun tau, rotasi hidupnya sangat amat kacau kini, setidaknya ia masih percaya bahwa ada cerita dibalik segala duka.

Kyu hyun masih memperhatikannya, ketika lelaki itu menoleh dan manik coklat mereka bertemu. Tatapan teduhnya membuat perasaan kyu hyun menghangat. Lalu ia tersenyum dan membiarkan ibu jarinya menggantung diudara. Membuat kyu hyun kemudian sadar jika tugasnya siang itu sudah usai.

__

“dia pasti datang”

Kyu hyun meneruskan goresan bolpoin pada dokumen terakhirnya hari ini. Ini tepat pukul tiga dan ia sudah menyelesaikan segala hal yang harus ia tangani hanya untuk hari ini saja. Kyu hyun berhenti lalu meletakkan bolpoin dengan tenang. Bibirnya mendesis lelah lalu jemari kokohnya berjalan menyisir rambut tebal yang tumbuh dengan begitu lebatnya.

Kyu hyun terlihat baik-baik saja meski kepergian yoona yang sudah menyentuh jangka waktu dua tahun tak pernah bisa ia lupakan. Bayangan wajahnya yang terus menghantui malam-malam kyu hyun yang sebelumnnya selalu terbiasa dengan kehadirannya.

Bau pinus yang selalu yoona udarakan lewat feromon tubuhnya yang begitu menggoda. Serta segala hal kecil yang dulu selalu menjadi masalah untuk mereka berdua. Setelah kepergian yoona kyu hyun tak lagi memiliki teman berdebat yang sepadan. Tidak ada wanita yang memiliki keberanian sepertinya dalam berargumen bersama kyu hyun.

Mungkin karena mereka tau betul bahwa tak ada satupun wanita yang mampu menjadi tempat untuk pulang baginya. Sehingga mereka lebih memilih cara aman dengan menurut tanpa ingin membantah.

Kyu hyun tak pernah menyalahkan waktu akan segala hal yang terjadi kini. Keberadaannya dan yoona yang sama-sama berada dalam posisi sulit membuat kyu hyun merelakan wanita itu untuk pergi menjauh.

Memberikan kesempatan pada hati mereka untuk sama-sama beristirahat.

Menyambung kembali satu persatu serpihan yang sempat hilang ketika mereka bersama.

Semua kejadian ini sedikit banyak mengajarkan kyu hyun bahwa dalam hidup selalu ada pelangi dibalik gencarnya hujan badai yang menerpa. Pun dengan kehidupannya yang kini terlihat lebih baik meski tak ada yang benar-benar tau bagaimana kyu hyun menyimpan dalam-dalam perasaannya pada dunia.

Ia bekerja dengan begitu keras. Mengembangkan bisnis yang untungnya mampu mendapatkan fokus penuh darinya. Pun tabungan kyu hyun yang tak lagi terkuras karena yoona telah meninggalkan unlimited gold kredit card miliknya hari itu.

Meski ia tak berubah banyak dalam ekspresi dan pola hidup. Kyu hyun memang tak lagi menyentuh bar semenjak bertahun tahun lalu. semenjak ia sadar jika alkohol hanya akan merusak banyak hal. Seingat kyu hyun, yoona berkata demikian padanya saat itu.

Lain dari itu, tentang bagaimana kyu hyun mampu melewati setiap malam tanpa memeluk hangatnya tubuh yoona, hanya ia dan tuhanlah yang tau. Jangan tanya berapa kali ia mencoba untuk terus terjaga dengan bercangkir-cangkir kopi hitam hanya karena tak ingin semakin tenggelam dalam rindu jika ia harus tertidur dan kembali memimpikan yoona. Atau dilain hari ketika bibirnya meracau meminta disiapkan air hangat dihari-hari beratnya setelah pulang dari kantor.

Kyu hyun mungkin tidak bisa merubah kebiasaan sederhana yang yoona tanam dalam dirinya. Pun ia selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi gallery yang kini telah diurus penuh oleh so yeon. Wanita itu berhenti bekerja padanya tepat ketika yoona meninggalkan korea. Dan saat itulah kyu hyun tak lagi mempermasalahkan kepemilikan gallery yang tentu saja berdiri dari hasil kerja kerasnya.

“kau seyakin itu?”

Kyu hyun menatap sora yang mengangguk tegas. Dalam tangannya menggantung setelah suit formal berwarna hitam. Dengan satu kotak yang berisikan sepatu dan segala macam keperluan yang akan kyu hyun butuhkan untuk acaranya sore menjelang malam ini.

Anggukan kyu hyun membuat sora yakin jika lelaki itu mendengarnya. Hanya kyu hyun tak ingin merespon informasi yang baru-baru ini sora dapatkan mengenai kepulangan im yoona dari new orleands demi menghadiri pernikahan sahabat karibnya, so yeon.

“bagaimana dengan perkembangan cabang perusahaan di gangnam?”

Kyu hyun menutup dokumen berisikan map dan menatap sora dengan pandangan berbeda. Ia tidak bisa terus berkecimpung dalam berita mengenai kepulangan yoona dengan berdiskusi bersama sora. Itu bukan pilihan yang tepat.

Sora menjelaskan segala hal yang kyu hyun ingin dengar bersamaan dengan ia melangkah menuju sofa dan meletakkan setelan suit formal dan barang-barang lainnya disana. “ah, ya! Besok sore Dr. Park ingin bertemu dengan anda. Ini mengenai perkembangan kesehatan tuan donghae”

Kyu hyun mengangguk. Lalu sora permisi dan menghilang. Dari meja kerjanya kyu hyun menatap segala hal yang sora bawa padanya. Lalu jemarinya menggenggam sebuah undangan bernuansa putih gading dengan nama so yeon didalamnya.

Haruskah ia datang?!

Dan bertemu dengan yoona?

Kyu hyun mendesah berat. Kerinduan yang membuncah dalam dadanya membuat kyu hyun memiliki keinginan begitu keras untuk datang. Namun dilain sisi ia juga tidak ingin bertemu yoona dan harus membuka luka lama diantara mereka. Toh, tak perlu berbohong untuk tau jika cintanya pada wanita itu tak sedikitpun berkurang. Namun kyu hyun mencoba untuk tegar meski tak bertemu yoona selama dua tahun membuatnya berfikir jika ia hampir saja mati kehilangan nafas terakhirnya.

Keberhasilannya untuk hidup hingga saat ini benar-benar sebuah keajaiban mengingat sakit yang menderanya begitu perih dan tak tertahankan.

Kyu hyun meraih selembar kertas putih dan membuka labelnya dengan cepat. Lalu hasil rontgen dengan gambar dada dan sebuah tengkorak kepala menusuk penglihatan kyu hyun kemudian. Donghae memang berhasil selamat dan memperjuangkan kesadarannya hampir tujuh bulan setelah ia tak sadarkan diri.

Namun ketika lelaki itu terbangun, ia tak mengingat apapun bahkan namanya sendiri. Kyu hyun ingin sekali meremukkan bola mata donghae yang begitu teduh saat itu. Namun kebencian dan rasa kecewa serta amarahnya seketika menguap saat donghae kemudian mengingat namanya dan memanggilnya dengan panggilan yang semestinya.

Ia menangis. Hanya tak menunjukkannya dihadapan donghae. Lalu saudara lelakinya itu mulai mendapatkan perawatan medis untuk cedera tulang rusuk dan benturan keras dikepala yang membutnya harus kehilangan memori secara permanen.

Kenangan akan kejadian dua tahun yang lalu membayang cepat dalam kepala kyu hyun. Lalu kerinduan menyerbu hatinya dengan semerbak aroma hitam bercampur merah yang kentara. Kyu hyun kembali menatap undangan yang sora berikan padanya satu bulan yang lalu demi mengantisipasi jadwal padatnya. Dan pias wajah yoona tergambar jelas dalam bayangannya ketika ia memutuskan untuk tetap pergi dan menjemput pertemuan pertama mereka malam itu.

__

“jangan menangis!! Kau bisa merusak make up mu!!”

So yeon mendengus jengkel mendengar teriakan yang menggema diruang bernuansa putih tulang itu. Ruangan yang tak seberapa besar namun mampu membuatnya begitu bahagia. So yeon mendelik malas lalu kembali menatap dirinya yang terbalut gaun putih gading yang anggun, menunggu detik-detik pengucapan janji sehidup sematinya bersama sosok lelaki sempurna yang ia temukan bertahun tahun lalu. Hari bahagia ini bukan lagi hal yang mampu ia bendung. So yeon terlalu bahagia dan ia rasa yoona tak mengerti perasaannya.

“aku bilang jangan—“

“iya aku tau!!” so yeon mendelik dengan dengusan kecil. “aku tidak akan menangis. Maksudku, mungkin belum. Tapi aku menyewa make up professional dan kurasa semua akan baik-baik saja, dasar cerewet!!”

Yoona terkekeh mendengar omelan so yeon. Sudah hampir dua tahun mereka tak bertemu. Lalu lewat sambungan telepon yang seringkali yoona lakukan bersama wanita itu, yoona mendapat kabar gembira bahwa so yeon sudah dilamar. Dan mereka akan segera menikah.

Alasan yang begitu mendasar bagi yoona untuk kembali menginjakkan kakinya di tanah kelahiran yang penuh duka.

“aigoo.. lihat! Kau adalah seorang pengantin hari ini, tapi perkataanmu masih begitu luar biasa”

So yeon menampilkan senyum culas. “time changes, peoples not!” sambungnya ketus.

Yoona hanya mampu mencibir tak mau tau. Sesungguhnya, dibalik segala tawa dan cibirannya tersimpan rasa penasaran luar biasa. Dan rindu yang terbirit-birit kecil mengintip disudut hati yang sengaja ia sembunyikan.

Yoona begitu penasaran, akan seperti apakah kyu hyun setelah dua tahun berlalu. Meski ia tak berharap banyak pada pertemuan mereka kali ini. Itu juga jika seandainya kyu hyun menerima undangan so yeon dan berbesar hati untuk datang.

Dua tahun sudah semua berlalu, namun kini romansa itu masih terus menatap sebelah mata dari balik tembok. Malu-malu menampakkan diri agar yoona tak frustasi. Nyatanya, kyu hyun masih mengisi penuh perasaannya.

Hal lain yang membuat yoona begitu dilanda antusiasme bercampur rasa gugup dan awkward yang ia sendiri tak begitu pahami.

Seringkali yoona merasa begitu lelah dan ingin menyerah untuk pulang dan kembali pada kyu hyun ditengah keputusannya, namun perlahan yoona percaya jika ia cukup kuat untuk melakukan semua fase penyembuhan luka ini sendiri.

Yoona melirik kecil pada kerumunan tamu yang berkumpul diluar. Dari balik ruang pengantin wanita yang ia tempati untuk menemani so yeon, yoona bisa menebak sebanyak apa undangan yang so yeon sebar untuk pesta pernikahannya hari ini.

Sebenarnya tidak begitu menjadi masalah. Toh yoona tak pernah memiliki trauma akan keramaian. Namun kabar bahwa so yeon juga mengundang mantan atasannya itu untuk datang membuat yoona tak sedikitpun bisa membuat perasaannya tenang.

Pengucapan janji sakral itu berlangsung cepat tanpa halangan. So yeon tampak begitu bahagia dengan senyum begitu lebar menatap lelaki miliknya didepan altar pernikahan. Sepasang cincin kemudian membalut jari manis mereka satu-sama lain. Hal indah yang justru membuat ulu hati yoona meringis nyeri.

Pandangan yoona beralih pada ruangan sekitar. Mencoba mencari tau apa mungkin kyu hyun hadir dan melihatnya ketika mendampingi so yeon menuju altar tadi? Namun semua seolah pupus ketika mata bulat yoona tak menemukan apapun. Mungkin, kyu hyun tau jika ia akan datang. Dan dengan kenyataan bahwa perpisahan mereka tercetus dari keputusannya, yoona fikir kyu hyun memiliki hak untuk marah padanya.

Yoona mendampingi so yeon hingga pesta resepsi yang ia lanjutkan sepanjang malam menjelang. Ia memilih untuk mengadakan pesta kebun. Dan bekeliling menyapa satu persatu tamu yang hadir. Yoona berjalan menuju meja saji, mencoba mencari minuman tak beralkohol atau setidaknya yang mampu so yeon minum malam ini.

Salah satu jemarinya sudah menggenggam lemontea dingin. Lalu yoona berbalik dan ketika itulah ia menemukan kyu hyun tengah berdiri dingin, menatapnya dari kejauhan. Tubuhnya bergetar penuh rasa rindu. Namun keterkejutan memaksa yoona untuk tersedak akan air liurnya sendiri.

Dengan terbatuk ia berbalik, mengambil satu gelas yang berisikan cairan merah pekat dan meneguknya dalam satu detik yang singkat.

“mulai terbiasa dengan alkohol?”

Bola mata yoona membesar tak percaya. Ia hampir mengeluarkan seluruh minuman yang ia teguk tanpa ragu ketika suara rendah kyu hyun menyapanya dengan begitu dingin. Aura ketegangan kemudian menghiasi detik-detik yang berlalu diantara mereka tanpa suara. Seolah hiruk pikuk seluruh tamu undangan bukan lagi menjadi hal yang penting untuk didengarkan.

Yoona meletakkan gelas dan menegakkan tubuhnya dengan cepat. Bibirnya kelu hanya untuk bertanya atau sekedar menjawab pertanyaan yang kyu hyun berikan padanya.

“kau—a apa kabar?”

Stupid!

Yoona menggeram, mengumpati dirinya sendiri dengan pertanyaan konyol yang ia tau dengan pasti jawabannya. Mata kyu hyun penuh dengan luka lama meski ia tak menunjukkannya lewat ekspresi yang kentara. Lelaki itu berdehem kecil sebelum salah satu tangannya yang bebas memasuki kantung celana formalnya.

“never better than right now” jawab lelaki itu setelah lama ikut terdiam. “kau? Bagaimana denganmu?”

Apa? Bagaimana dengannya?! Kini yoona merutuki kyu hyun yang konyol. Tentu saja tidak baik, bodoh!! bagaimana bisa lelaki itu bersikap biasa saja ketika mereka berpisah tanpa alasan yang jelas dan kini kembali bertemu namun bersikap seolah mereka adalah teman lama yang tengah mengadakan reuni akbar.

Shit!

Bukankah hubungan mereka lebih dari itu? Lebih dari sekedar teman. Yoona fikir bahkan mereka lebih dari sekedar partner seks, dulu. Kehadiran kyu hyun adalah segalanya bagi yoona. Tapi apakah lelaki itu tak berpikir sama dengannya? Jadi, perpisahan mereka kyu hyun anggap biasa saja, begitu?

Ulu hati yoona terasa semakin perih. Apa hanya dirinya saja yang merasakan cinta? Atau, sebenarnya kyu hyun bukanlah pria yang selama ini ada dalam bayangannya? Tatapan cinta dan setiap perlakuan lelaki itu, meski terkadang terlalu kasar, yoona tau ia menyimpan cinta didalamnya.

Mungkin tak mudah bagi kyu hyun untuk sekedar mengungkapkan perasaannya. Namun menjadi begitu brengsek dengan bersikap biasa biasa saja seperti ini jelas bukan keinginan yoona. Ia ingin lebih dari ini. bukan hal seperti ini yang yoona bayangkan saat bertemu dengan kyu hyun ketika ia memutuskan untuk pulang.

“kyu, aku—“

“oppa—“

Yoona pikir ada baiknya untuk berbicara. Mengingat hubungan mereka memang dipenuhi dengan tutur kata terbuka yang menyenangkan. Namun kehadiran seorang wanita yang jika yoona tak salah dengar memanggil kyu hyun dengan sebutan ‘oppa’ menginterupsi segalanya.

Kyu hyun menoleh padanya dan tersenyum tipis. Membuat jantung yoona tiba-tiba hilang fungsi dengan detak yang tak lagi terasa. Kyu hyun meraih gelas yang diberikannya lalu merangkul pinggul wanita itu dengan manis.

“seo, ini yoona. My old friend. Dan yoona, ini seohyun.”

Yoona membeku dalam sakit yang menderanya tanpa ampun. Keterkejutan ini bukanlah sesuatu yang ia antisipasi sebelum pulang. Yoona memang pernah melapangkan dadanya untuk menerima banyak hal termasuk jika kyu hyun mungkin saja memiliki wanita lain mengingat lelaki itu tak pernah tahan hidup tanpa wanita. Namun semua ini ternyata jauh lebih menyakitkan dari yang pernah yoona bayangkan. Terlebih ketika mata coklat kyu hyun kini menatapnya dengan aura dingin penuh kebencian.

“dia im yoona?” kyu hyun mengangguk dengan senyum tipis pada seohyun yang menatapnya dengan mata polos yang kini mulai yoona benci. Lalu wanita itu berbalik, menatap yoona penuh minat. “aku seohyun. Oppa seringkali bercerita tentangmu. Kau jauh lebih cantik dari apa yang kubayangkan”

Setiap kata yang seohyun keluarkan terus menampar yoona tanpa ragu. Kini kyu hyun pun telah menceritakan yoona padanya. Dengan tittle teman lama yang benar-benar membuat tubuh yoona hampir limbung karena deraan fakta menyakitkan yang datang bertubi-tubi padanya.

Yoona tak menyangka kyu hyun akan berubah secepat ini. ia pikir dengan terus menjadi tempat untuk pulang bagi lelaki brengsek itu selama tiga tahun, yoona bisa memiliki jaminan bahwa ketika ia pulang nanti kyu hyun akan tetap menjadi miliknya.

Tapi mungkin yoona terlalu percaya diri.

Atau kyu hyun terlalu keparat.

“kau ingin bicara apa tadi?”

Yoona menatap bola mata kyu hyun yang membesar. Anehnya, yoona menangkap aura getir dalam pandangannya. Namun tak berlangsung lama ketika lelaki itu mulai kembali mengalungkan tangannya pada pinggul seohyun. Membuat yoona gemetar akan rasa takut yang kini bercokol tepat didepan matanya.

Yoona mundur.

“tidak, lupakan saja. Aku pikir aku harus segera memberikan minuman ini pada so yeon. Permisi”

Yoona berlalu dengan cepat. Meninggalkan kyu hyun yang meremas pinggul seohyun dengan keras. Lalu wanita itu protes, menepis jemari kyu hyun dan menatapnya dengan rasa bersalah. “kau tidak berpikir ini terlalu keras? Dia terlihat akan menangis dan pingsan karenamu!?”

Kyu hyun tak menjawab. Hanya meneguk menumannya tanpa perasaan dan berlalu meninggalkan seohyun yang menatapnya penuh kebingungan.

__

Yoona memandang bangunan tinggi didepannya. Masih sama semenjak terakhir kali ia mencoba untuk melarikan diri. Gedung pencakar langit itu masih kokoh. Masih menampakkan identitasnya sebagai bangunan mewah diantara banyak gedung lainnya.

Gemetar jemari yoona memegangi sebuah kartu yang tak sempat ia tinggalkan dulu. Pun ia masih harus mengambil beberapa barang yang tersisa didalam apartemen mereka. tempat terakhir kali ia menatap kyu hyun dua tahun lalu.

Dari so yeon, yoona mendengar bahwa kyu hyun memilih untuk tidak lagi tinggal di apartemen mereka. yoona mendesah kecewa, mungkin memang terlalu banyak kenangan buruk yang mereka torehkan hingga kyu hyun lebih memilih untuk pindah dan membiarkan apartemen kosong tanpa penghuni.

Yoona melangkah masuk. Tak ada yang menghalanginya saat itu. Entah mungkin karena hampir seluruh pelayan disana masih mengenalinya atau mungkin mereka memang tidak perduli. Maka disinilah yoona, berdiri didepan pintu yang dari luar saja sudah menguarkan hawa kerinduan yang begitu kental.

Yoona mengusap daun pintu dengan perlahan. Tak pudar termakan usia meski yoona tak lagi melihatnya untuk waktu yang cukup lama. Segala kenangan tentang apartemen segera saja menghujam memori yoona.

Momen dimana ia menyerahkan dirinya pada kyu hyun. Ketika lelaki itu merebut mahkota terindah yang ia miliki. Tempat dimana donghae pernah mengamuk benci membabi buta pada kyu hyun. Tempat paling hangat ketika melewati malam-malam panjang dalam dekapan satu sama lainnya.

Pintu terbuka ketika yoona memasukkan pin terakhir yang ia ingat. Mengejutkan karena tanggal kelahiran yoona tetap menjadi kode rahasia diantara mereka. kyu hyun tak sama sekali merubah apapun tentang apartemen ini. terlebih ketika yoona menemukan segala hal didalamnya masih konstan tanpa perubahan.

Derap langkahnya berjalan cepat menuju kamar. Ia harus segera menuntaskan semua ini sebelum kyu hyun berkemungkinan untuk datang. Yoona hanya berniat mengambil beberapa benda yang menurutnya begitu ia rindukan.

Maka sebuah laci putih didekat nakas yang bersambungan dengan ranjang terbuka begitu saja. Seloroh air mata yang ia coba tahan kemudian menyeruak tanpa permisi ketika dua sepatu kecil yang pernah ia tinggalkan masih berada disana.

Yoona mengusap sayang benda pemberian so yeon. Mendadak rasa rindu menyerbu batinnya yang masih pilu. Segala carut-marut kehidupannya yang seperti benang kusut melintas tanpa aba-aba dalam benak yoona.

Ia merindukannya.

Merindukan calon anak mereka.

Merindukan kyu hyun.

Kini yoona hanya mampu menangis. Menyesal akan perbuatan kekanakannya saat itu. Menyesali tindakan yang membuatnya harus kehilangan buah hatinya, dan kyu hyun. Dua malaikat yang kini tak lagi yoona rasakan ada disekitarnya.

Ribuan kata seandainya melintas dalam benak yoona. Apa yang kini terjadi jika ia dan calon anak mereka baik-baik saja? Mungkin, yoona akan bahagia bersama keluarga kecil mereka. mengingat kyu hyun begitu mencintai calon anaknya.

Yoona meringis pilu. Menyesali mengapa ia harus segegabah itu untuk memutuskan menyusul appa dan omma tanpa pernah memikirkan nyawa yang bahkan baru saja berjuang untuk tumbuh dalam dirinya.

Tetes demi tetes air mata berjatuhan tanpa terbendung. Mengingat segala hal tentang calon bayi mereka, ia dan kyu hyun, membuat pertahanan yoona tak mampu bertahan barang sejenak.

Ia rindu.

Yoona merindukan segalanya.

Derit pintu membuat yoona terkejut. Buru-buru ia menutup laci dan mengusap bekas air mata yang menganak sungai sebelum derit pintu kamar ikut terdengar dan kyu hyun berdiri disana. Tatapan matanya yang memancarkan rona biasa-biasa saja membuat yoona pun tak dapat berekspresi dengan benar.

Ia berdehem kecil, lalu  menatap kyu hyun dengan sebuah senyuman miris. “aku harus mengambil beberapa barang. Setelah itu aku akan pergi”

Kyu hyun mengangguk dan segera berjalan menuju lemari tanpa memperdulikan yoona. Lelaki itu mengeluarkan sebuah tas dan mulai memasukkan beberapa helai bajunya tanpa ragu.

“Aku pikir kau belum akan datang pagi ini” kyu hyun bergumam.

“aku dengar kau sudah pindah.” Yoona spontan hampir menampar bibir lancangnya. Namun kemudian ia tersadar bahwa mereka tak bisa terus berdiam diri seperti ini. karena walau bagaimanapun, ia dan kyu hyun pernah lebih dari sekedar dua manusia canggung dalam apartemen ini. yoona memutuskan untuk tergelak kecil. “tentu saja kau pindah. Maaf, itu pertanyaan yang bodoh” seloroh yoona seolah semua ini terlihat lucu. “aku ingin melihat pantri”

Langkah kakinya memburu tanpa terhalang apapun. Yoona sudah lenyap dari kamar ketika kyu hyun ikut menghentikan aktivitasnya memasukkan baju kedalam tas. Kyu hyun melirik laci yang yoona sempat buka lalu berdiri dan menatapnya lama.

Ketika memutuskan untuk membuka alasan kyu hyun melihat bekas air mata di pipi wanita itu, kyu hyun menutup matanya perih. Dadanya bergetar penuh gemuruh tak tertahankan. Dua sepatu mungil menghiasi laci kamar mereka dan kyu hyun tak pernah tau semenjak yoona pergi karena ia memang tak lagi menyentuh apapun setelah memutuskan untuk pindah.

Luka lama itu akhirnya kembali terbuka. Kyu hyun menyesali rasa sakit yang kini yoona alami karena tak mampu berhenti mengenang masa lalu dimana mereka bahkan pernah hampir menjadi sepasang orang tua dari sosok malaikat yang nyatanya tak lagi pernah hadir.

Kyu hyun berjalan dengan langkah tegas. Ribuan jenis emosi tertanam jelas dalam wajahnya ketika ia menemukan yoona duduk diam di pantri apartemen. Pandangannya kosong, tanpa arah dan tujuan.

“kau benar-benar datang untuk mengambil sesuatu?”

Pertanyaan itu menghentak kesadaran yoona seketika. “tentu saja. Aku tidak punya alasan lain untuk datang selain itu”

Kyu hyun berjalan maju ketika tawa palsu yoona membuatnya begitu gerah. “tentu kau punya. Kau tak mungkin lupa jika apartemen ini milikmu”

“tapi yang kutau semua finansialku berasal dari kerja kerasmu. Jadi, meskipun apartemen ini berdiri atas namaku, aku tidak mungkin tinggal disini.”

Kyu hyun tersenyum culas akan jawabannya. Yoona tidak datang untuk itu. Kyu hyun yakin ada ribuan alasan lain dibalik kedatangannya dan kyu hyun berharap masih ada rindu dibalik alasan yoona untuk berkunjung pagi ini. “wah, lihat siapa yang berbicara. Bukankah kau wanita yang dulu menjadi penghisap pundi-pundiku? Kemana perginya sifat itu? Ini bahkan tak sepadan dengan semua barang limited yang kau kejar hingga daratan eropa. Atau, itukah yang ingin kau ambil dari apartemen ini?”

Yoona berdiri tak percaya akan kata-kata sarkasme yang kyu hyun udarakan. Ia tak pernah sekalipun berniat untuk mengungkit hal lama dalam pertemuan mereka hari ini. pun sesungguhnya yoona sudah memilih milih hari untuk datang agar tak perlu ada pertemuan semacam ini dengan lelaki itu. “this is too much. Aku akan pergi”

Langkah yoona menghentak lantai apartemen dengan keras. Emosi yang bercokol akan kata-kata kejam yang kyu hyun udarakan membuat batinnya hampir menangis pilu. Ternyata, sebatas itu saja kyu hyun menganggapnya selama ini.

Yoona melewati kyu hyun begitu saja. Namun kemudian lengannya tertahan dan yoona sudah mengerti bahwa hari ini akan ada drama panjang diantara mereka.

“kau menangis” kyu hyun tak bertanya. Namun yoona mengerti maksud kalimat singkatnya.

“aku baik-baik saja”

“kenapa?”

Yoona berbalik menatap sisi berbeda kyu hyun dari samping. Bibirnya mendesis kesal. “aku bilang aku baik-baik saja. Aku hanya terlalu rindu dengan apartemen dan—“

“kau? Merindukan apartemen ini?” kyu hyun mencengkram bahu yoona, membawa mereka untuk saling bertatap muka. “kau bukan wanita sentimentil yang akan menangis hanya karena hal konyol tak berguna, im yoona.”

Yoona tak berniat menjawab. Memberikan respon pada dusta yang telah ia ucapkan hanya akan menambah kebohongan lainnya. Jadi yoona memutuskan untuk diam dan membuang tatapannya pada apapun kecuali bola mata kyu hyun.

Kekehan lelaki itu terdengar begitu merdu. Begitu membuat batin yoona bergelegar rindu. Namun kyu hyun jelas bukan lagi lelaki yang sama dengan dia yang yoona tinggalkan dua tahun lalu. aura kebencian menguar begitu besar darinya untuk yoona. Dan yoona yakin ia tak lagi memiliki kesempatan untuk memperbaiki segalanya.

“stupid. Kau tak pernah berubah. Berusaha membodohiku dengan lelucon murahan seperti itu?! Kau pikir aku akan melupakan kebiasaan berbohongmu yang begitu buruk padaku?”

“lepaskan aku, cho kyu hyun!”

Kyu hyun kembali tertawa. “aku ragu ada hal yang berubah darimu. Bahkan wangi pinusmu masih sama. Masih semenggairahkan dulu, mungkin? let me know—“

“Lepaskan!”

Yoona segera mendorong tubuh kyu hyun ketika lelaki itu mendekat. Hinaan gamblangnya akan tubuh yoona membuat harga diri yoona sebagai seorang wanita seolah tak lagi ada. Yoona tau dulu ia memang wanita keparat yang bisa melakukan seks bebas bersama kyu hyun tanpa ikatan yang jelas. Namun itu tak berarti membuat kyu hyun berhak menghina harga dirinya dengan cara seperti ini.

“Kenapa harus setakut ini?” kyu hyun mendekat dengan genggaman yang tak pernah lepas dari lengan yoona. “bukankah dulu, kau jelas-jelas milikku sepenuhnya? Jadi dulu ataupun sekarang tak akan berbeda. Karena kau tetap punya noda dariku”

PLAK!

Sebuah tamparan keras menyapa kyu hyun. Membuat keheningan berkuasa dalam hitungan detik yang tak terkira. Dan seperti yang yoona duga, amarah dengan cepat meluap dalam bola mata kyu hyun.

“APA YANG KAU LAKUKAN?!”

Yoona memberontak dengan keras. “Berhenti, kyu! Kita bisa berhenti untuk saling menyakiti seperti ini.”

“see? Lihat dirimu! Kau bilang apa? Saling menyakiti? Kita berdua sama-sama tau bagian cerita dimana kau pergi begitu saja tanpa meninggalkan alasan dan kau berkata aku ikut menyakitimu?!”

“TAPI KAU MENYEMBUNYIKAN PEMBUNUH APPAKU!!”

“aku tidak pernah tau jika itu appamu!! Aku juga akan membunuh lelaki itu jika tau bahwa yang ia korbankan adalah satu-satunya keluarga yang kau miliki, yoon!!” kyu hyun mendesak semakin mendekat. Menempelkan tubuh mereka dengan kasar.

“aku salah! Aku mengaku padamu saat itu!! Tapi masa lalu kau dan donghae tidak pernah sekalipun menjadi urusanku!! Aku melakukan kewajibanku sebagai saudaranya, diluar pengetahuanku tentang apa dan pada siapa ia menjadi pendosa!!”

Yoona menundukkan kepalanya. Menahan tangis karena pertengkaran mendasar yang seharusnya mampu mereka selesaikan dengan tenang. Kyu hyun memang tak sepenuhnya bersalah atas tindakannya menyembunyikan donghae. Namun luka itu masih menganga. Kenyataan jika donghae adalah dalang dari perginya appa dan kyu hyun adalah otak besar dari lolosnya donghae dari jerat hukum terus menyakiti yoona tanpa sengaja.

“percuma. Kau tidak mencintaiku. Kau tidak punya alasan yang kuat untukku, kyu”

“shit!! I LOVE YOU!! Aku tidak punya tempat kembali selain dirimu, yoon!!”

“tapi itu tidak cukup membuatmu yakin untuk berkomitmen denganku! Kita tetap akan menjadi pasangan dengan hubungan menjijikkan yang tak akan pernah lagi kuulangi hingga kapanpun!”

Mata kyu hyun terpejam erat ketika perkataan yoona menamparnya dengan keras. Kyu hyun bergetar, menghadapi ketakutan ini bukanlah hal yang mudah untuknya. “aku gamophobia. Aku benci pernikahan. Tidakkah itu membuatmu paham? Bukan aku yang tidak menginginkan pernikahan bersamamu. Bagaimanapun aku juga ingin memiliki kehidupan normal, just like other people. But i cant..”

Yoona menahan diri untuk tidak terisak. Mereka pernah ribuan kali berdebat. Namun tak pernah menimbulkan rasa semenyakitkan ini. yoona mengerti ketakutan yang kyu hyun rasakan. Ia pun merasa begitu bersalah karena mengungkit pernikahan ketika tak seharusnya ia gunakan kelemahan kyu hyun dalam perdebatan mereka.

Bahu yoona melemas, membuat genggaman kyu hyun ikut melemas perlahan. Lalu yoona meloloskan diri tanpa perlawanan. Sudah bukan lagi saatnya bagi mereka untuk melakukan ini. yoona merasa tak berhak menuntut apapun dari kyu hyun setelah ia menghilang tanpa kabar, dulu.

“Thats enough. Kita sudah selesai dengan semua ini. jangan lagi mengungkit masa lalu jika hanya untuk saling menyakiti”

Yoona berbalik dan melangkah pergi. Menahan segala kepedihan yang ia pendam dalam kebisuannya akan rasa rindu pada masa-masa menyenangkan yang pernah terjadi dahulu. Ada banyak kenangan yang mungkin perlu puluhan tahun untuk yoona lupakan. Namun segala hal tentang ia dan kyu hyun adalah sosok yang abadi yang yoona yakin akan selalu kekal baginya.

“Tidakkah kau menginginkanku? Dua tahun lalu kau pergi tanpa permisi, meninggalkanku yang begitu membutuhkanmu lalu saat ini kau pun melangkah pergi, memberikanku punggungmu untuk kutatap dalam sendu. Pernahkah kau menginginkanku? Kenapa kau bersikap seolah hubungan kita tidak lagi penting bagimu?!”

Yoona terdiam. Mendesis perih akan suara parau kyu hyun untuknya. Namun tangannya terkepal erat. Yoona tak lagi punya pilihan. “Hubungan apa yang kita miliki setelah kau memperkenalkan kekasih barumu padaku, cho kyu hyun?!”

“tapi sebelum ini pun kau tak pernah bermasalah dengan wanita manapun.”

Yoona menutup matanya erat. Mereka berdua tau, siapapun yang berada disamping kyu hyun saat ini tak akan pernah mampu menggeser posisi yoona yang menurut banyak manusia adalah kekasih abadi kyu hyun. Yoona tau, ia sendiri pun tak pernah menyangkal bahwa ia tak pernah bermasalah dengan wanita manapun yang kyu hyun jadikan partner entah dalam hal apapun karena yoona sadar dimana posisinya kala itu.

Namun saat ini mereka membahas masalah yang berbeda. Yoona jelas telah melepaskan posisinya ketika pergi tanpa kabar, dulu. Ia bukan lagi tempat kyu hyun untuk pulang. Yoona meringis, rasa sakit itu kembali datang. Rasa kepemilikannya atas kyu hyun tiba-tiba saja berkuasa tanpa aba-aba.

“see? You know exactly your position!” terka kyu hyun dengan suara menggelegar jengah.

“Lalu kau ingin aku melakukan apa? Menggodamu dan menyeretmu menuju ranjang hingga aku bisa menyakiti seohyun dan merebutmu kembali?!”

Kyu hyun menggeram. “kenapa tidak?! kau sering melakukannya dulu. Menggodaku dan menyeretku keatas ranjang. Apa yang salah dengan itu?”

“FUCK! BERHENTI MENGHINA HARGA DIRIKU, BRENGSEK!”

Yoona hampir menyerang kyu hyun ketika genggaman tangannya justru tertahan dengan kekuatan kyu hyun yang tak main-main. Lelaki itu kemudian menarik yoona mendekat. Mengepungnya dibalik dinding yang memisahkan mereka dengan ruang tamu. Kyu hyun menyatukan bibir mereka tanpa ragu. Menggigit bibir yoona kasar ketika ia berusaha untuk berontak dengan keras.

Salah satu tangan kyu hyun menggenggam pinggulnya. Lalu tanpa sadar yoona yakin jika telapak tangan kyu hyun yang dingin telah menyentuh kulit perutnya yang menegang.

“pelase, no—“ yoona terisak akan rasa jijik yang menggerayangi tubuhnya.

Namun kyu hyun terlihat semakin buta. Kancing kemeja yoona berjatuhan ketika kyu hyun memaksanya lepas tanpa belas kasih. “im the only man who can touch you! Apa bedanya dulu dan sekarang? Tubuhmu pun selalu merespon sentuhanku dengan cepat. Kau menginginkanku yoon!”

Yoona menggeleng keras. Kepalanya melemas hingga menyentuh dada kyu hyun. Hal yang membuat kyu hyun seketika berhenti dari tindakan brutalnya dan perlahan mendengar isakan yoona dengan jelas.

Lengan wanita itu melingkar pada tubuhnya. Lalu bahu yoona bergetar dengan nada pilu yang tertahan. “setidaknya dulu kau melakukan ini karena kau mencintaiku” bisiknya parau. “setidaknya dulu aku tau kau menginginkanku” yoona semakin menangis sendu. Tak ia biarkan pelukannya terlepas meski kyu hyun berusaha memisahkan tubuh mereka.

“sekarangpun aku masih menginginkanmu, yoon”

Yoona kembali menggeleng tak terima. “tapi kau memiliki kekasih dan aku tidak ingin menyakiti wanita lain”

“who cares?! Kau tau kita sama-sama saling menginginkan! Kenapa harus memikirkan orang lain?”

Yoona tak mampu menahan air matanya ketika kyu hyun mulai mengecup pelipisnya dengan gerakan yang ratusan kali lebih lembut dari yang pernah yoona rasakan. Lewat setiap jengkal bibirnya, kyu hyun utarakan rasa cinta yang membuat yoona semakin terlena.

Bibir mereka bertemu tak beberapa lama kemudian. Membuat gumpalan rasa rindu yang yoona tahan kuat tiba-tiba pecah begitu saja. Seluruh sel dalam tubuhnya seolah begitu merindukan kyu hyun dan segala kehangatan yang lelaki itu pancarkan.

Kyu hyun menahan tubuh yoona ketika lengan wanita itu berkelit mengalungi lehernya. Membuat gairah kyu hyun memuncak pada ketinggian melebihi batas maksimal. Kyu hyun mencengkram lengan yoona ketika jemari wanita itu menyisir rambutnya dengan halus.

Satu persatu air mata yang luruh kemudian berganti dengan sentuhan ringan. Isakan yang tercipta berganti menjadi nafas berat yang mulai kentara. Jeritan mereka berganti rupa menjadi desis tak terarah.

Gairah membakar tubuh mereka pagi itu. Yoona tak menahan desahannya ketika kyu hyun mulai bergerak menuju leher jenjangnya. Memaksa yoona untuk mendongak saat perlahan ciuman menggairahkan itu turun menuju dada.

Yoona tak menyadarinya saat perlahan kemeja yang ia gunakan terjatuh. Lalu udara dingin berganti dengan hangat bibir kyu hyun yang tak berhenti barang sedetikpun untuk menggerayanginya.

Terakhir yoona tau, kyu hyun sudah sukses dengan meloloskan celana jenas yoona tanpa kesulitan yang berarti. Lalu dalam seketika yoona merasa melayang. Derap langkah kyu hyun membawa mereka menuju satu-satunya tempat terakhir ketika yoona putuskan untuk menikmati manisnya cinta kyu hyun, dulu.p

__

“FUCK!!”

“what did you say?!”

Yoona tak menjawab. Ia justru memalingkan wajahnya dari tatapan kyu hyun yang terus membuatnya merasa semakin panas. Pergumulan mereka tak berhenti begitu saja ketika rasa rindu membuat yoona sadar jika seluruh tubuh hingga sel dalam dirinya terus menginginkan kyu hyun.

Yoona bahkan merasa takjub ketika ia sendiri tak menerjang kyu hyun di pesta pernikahan so yeon semalam. Kyu hyun bukan lagi sekedar lelaki dewasa dengan gairah super luar biasa. Dua tahun tanpa tersentuh, ia berubah menjadi pria dengan tubuh sempurna yang terus melintas dalam imajinasi para wanita.

Yoona baru menyadari jika lengan yang kini melingkari perutnya terasa begitu keras. Kyu hyun memperbesar bisep miliknya. Membuat bahu lelaki itu semakin terlihat hangat untuk dijadikan tempat bersandar.

Belum lagi setiap kotak yang kini menghiasi perutnya. Yoona tak pernah tau jika lelaki itu menggemari olah raga. Yang yoona ingat, kyu hyun bahkan benci melakukan kegiatan semacam itu. Satu satunya alasan kyu hyun terus berolahraga hanyalah demi menjaga tubuhnya agar tak terlalu berlebihan karena ia sendiri begitu membenci sayuran yang berfungsi sebagai serat baginya.

Selain itu, yoona tak ingat jika kyu hyun memiliki motivasi untuk berolahraga dalam hidupnya.

“you smells good”

Yoona mencengkram tangan kyu hyun dengar keras ketika hangat nafas lelaki itu menyambangi punggungnya. Kecupan singkat namun membakar miliknya terus menyambangi punggung yoona tanpa ampun. Yoona mencengkram pinggiran ranjang dengan asal.

“kau merubah wewangianmu?”

Suara kyu hyun yang begitu parau membuat yoona semakin hilang arah. Tubuhnya terus terguncang tanpa ampun. Satu satunya hal yang yoona ingat hanyalah lengan kyu hyun yang masih mencengkramnya kuat namun kerasan akan kelembutan tanpa pernah menyakitinya.

“kau tidak ingin menjawabku?!”

“JUST STOP TALKING! YOU—AW! SHIT!!”

Pukulan keras mendarat pada lengan kyu hyun yang melingkari tubuh yoona. Membuat senyum kecil terpatri dari wajah penuh keringat milik kyu hyun ketika yoona terlihat begitu lemah didalam kuasa dirinya saat kyu hyun menghentak dengan keras dan menyatukan tubuh mereka setelah sekian lama terpisah begitu jauh.

“kosa katamu sungguh berkembang”

Yoona tetap tak menjawab. Ia kembali menutup erat bola matanya saat kyu hyun kembali mengecup bahu dan tengkuknya tanpa ampun. Gelegar terbakar lalu dingin terus berputar bergantian dalam tubuh yoona.

Ia harus mengingatkan kyu hyun akan ini. seingat yoona lelaki itu tak sekasar ini ketika mereka masih bersama. Meski memang kyu hyun selalu terkesan mendominasi, namun ia tak pernah menerapkan ‘hard fuck’ pada yoona.

Ini sungguh tidak adil. Yoona tak pernah terbiasa dengan kebiasaan nista ini semenjak terakhir kali ia serahkan tubuhnya pada kyu hyun. Dua tahun tanpa lelaki, yoona pikir semua sudah lebih dari cukup. Namun tubuhnya tak pernah bisa berbohong. Karena sejauh apapun ia berusaha, yoona tetap akan kalah dibawah aura panas yang terus kyu hyun pancarkan hanya padanya.

Dan kini pun, ia kembali terjatuh.

Pada lelaki yang sama.

“kemana kau selama ini?”

Tubuh yoona kembali terguncang. Kyu hyun berhenti lalu segera menggendongnya menuju meja rias. Lelaki itu memposisikan yoona tepat didepan kaca, lalu kembali pada rutinitas bertanya yang mungkin menurut kyu hyun ia perlukan.

“im asking you, baby. Kemana saja kau dua tahun ini?”

Yoona mencengkram pinggiran meja rias. Tempat bertumpu yang menurutnya tidak jauh lebih baik daripada ranjang. Sial. “new orleands” jawab yoona singkat.

Kyu hyun menggeram. Tangannya segera bergerilya sesuka hatinya, menjamah yoona tanpa ampun. “jadi kau senang setelah berpisah denganku sejauh itu?”

Yoona menggeleng keras. Ia sadar betul akan jawabannya.

“lalu untuk apa kau pergi?!”

Tubuh yoona hampir merosot sebelum lengan kyu hyun kembali menahannya. “aku melanjutkan kuliahku disana, kyu” lalu ia mencengkram lengan kyu hyun keras. Sesuatu seperti hampir meledak dalam perut yoona. Dua tahun ternyata lebih dari cukup untuk membuat kyu hyun menjadi luar biasa.

“kau bisa mengatakannya padaku dan aku akan menemanimu disana.”

Yoona menggeleng. “i have no choise”

Kyu hyun menghentak dengan keras. Membuat jeritan tertahan yoona menggema diseluruh kamar  apartemen yang semakin panas. “you have alot of choises!! Aku, bisa melakukan apapun untukmu. Tapi kau tidak memilih untuk bersamaku saat itu.” Kyu hyun mencengkram pinggul yoona, bukti gairahnya yang belum akan berhenti dalam waktu dekat. “jadi kenapa kau harus pergi?” lanjutnya.

Yoona kembali menggeleng. “aku tidak punya pilihan, kyu. Aku memilih jalan yang menurut analisaku harus kulakukan!”

“dengan meninggalkanku?!! You have another man? Again?!”

PLAK!

Kyu hyun meringis dengan pukulan yoona pada lengannya. Wajah wanita itu sedikit menguarkan aura kesal karena pertanyaan gegabahnya. “i have no one but you, keparat!” lanjut yoona kasar.

Senyum tipis kembali menghiasi bingkai wajah kyu hyun. Ia menunduk, mencium bahu yoona dengan lembut. Kyu hyun begitu merindukan wanita ini. wanita yang hanya demi dirinya kyu hyun tinggalkan ratusan wanita lainnya. Tempat kyu hyun untuk pulang. Satu satunya sosok yang sangat lancang dalam berdebat dan berkata-kata padanya.

Ia begitu merindukan bola mata indah yoona. Dan bau pinusnya yang begitu menenangkan. Atau mungkin cengkraman hangatnya yang membuat kyu hyun selalu merasa tidak pernah sendiri. yoona mengajarkannya banyak hal meski harus kyu hyun akui ia cukup brengsek karena tidak pernah menyadari itu lebih awal.

Lalu yoona pergi, tanpa memberi kabar dan justru meninggalkan duka besar karena kalimat cintanya yang membuat kyu hyun bertanya-tanya mengapa ia harus pergi dengan rasa yang kyu hyun yakin juga sama persis seperti yang ia miliki.

Setelah itu, ia belajar untuk menganalisa. Dan kyu hyun mulai percaya jika ia bukan satu-satunya pihak yang begitu terluka akan perpisahan mereka. ia dan yoona pernah melewati banyak hari bersama. Kyu hyun pun yakin ia dan yoona memiliki rasa yang tak jauh berbeda.

Hanya saat itu, ia dan yoona tak berada dalam waktu yang tepat untuk bahagia. Jadi kyu hyun memutuskan untuk menunggu waktu itu datang dengan meninggalkan banyak hal negatif yang dulu sering membuatnya mendapatkan omelan panjang dari yoona, dan belajar melakukan hal yang lebih berguna bagi dirinya sendiri.

“did you missed me?”

Yoona mengangguk dengan cepat, kyu hyun dapat melihat senyum tipis dan rona kemerahan pada wajah wanita itu dari balik kaca.

Lalu kyu hyun menghentak semakin keras. “lalu kenapa kau tidak menghubungiku?”

Pertanyaan itu membuat raut wajah yoona berubah seketika. Ia menutup matanya erat, bertepatan dengan gelombang besar yang kyu hyun rasakan ketika tubuhnya bergerak semakin liar, semakin tak terduga.

Yoona mencengkram lengannya kuat. Lalu ketika badai besar itu melanda tubuh mereka, yoona segera limbung dengan tubuh yang sepenuhnya bertumpu pada kyu hyun.

“aku takut” suara yoona bercicit pelan diantara desah nafas keras mereka yang masih belum beraturan. Jemari yoona kembali mencengkram pinggiran meja rias, seolah mencari pegangan. “aku takut kau menolakku” sambungnya. Wajah yoona tersembunyi dibalik kepala yang ia tundukkan pada meja rias.

“jangan konyol. Kau bisa mencari alasan lain yang lebih masuk akal, nanti.”

Kyu hyun menjauh, memisahkan tubuh mereka. lalu dalam sekejap yoona telah berada dalam gendongannya. Ia melingkarkan lengannya pada leher kyu hyun dengan kepala yang tersembunyi disana. Bahu yoona bergetar halus.

Ia begitu merindukan kyu hyun dan segala kehidupan mereka selama berada di new orleans, namun yoona masih merasa memiliki luka yang tak pernah berkurang sedikitpun hingga ia memutuskan untuk menetap lebih lama disana sebelum memilih untuk pulang, seminggu yang lalu.

“aku serius” suara yoona tenggelam dalam bahu kyu hyun. Membuat lelaki itu menyadari luka yang kembali secepat kilat setelah mereka menuntaskan rasa rindu bersama. Kyu hyun mengepalkan jemarinya.

“apa yang kau takutkan?”

Bahu yoona bergetar semakin kentara. Ia seharusnya membicarakan ini pada kyu hyun sebelum memutuskan untuk pergi, dulu. Namun yoona tak memiliki kekuatan hingga ia merasa mengambil keputusan yang agaknya sedikit sia-sia.

“aku takut saat aku menghubungimu kau sudah memiliki wanita lain yang bisa menerima dirimu lebih baik dariku”

Kyu hyun tertawa sumbang. “look who’s talking! Kemana rasa percaya dirimu yang dulu?”

Yoona mendesak semakin menyembunyikan dirinya. Tak sekalipun berniat untuk menjawab. Saat itulah kyu hyun sadar ada yang salah dengan perbincangan mereka. kyu hyun seharusnya bertanya akan keadaan yoona sebelum ia membawa wanita itu pada kebiasaan mereka berbicara tanpa tata krama seperti dulu.

Seharusnya, kyu hyun sadar ada sisi wanita yang yoona tunjukkan semenjak mereka bertemu di pesta pernikahan so yeon, semalam. Sisi lemah yang dengan bodohnya kyu hyun abaikan tanpa ingin tau penyebab dibalik raut sendu yang terus menghiasi bola mata indah yoona.

Kyu hyun menjatuhkan tubuhnya pada ranjang, membawa yoona untuk bersandar pada dirinya yang duduk bertopangkan kepala ranjang. “ingin bercerita padaku?” kyu hyun berdehem kecil, mencoba menghilangkan kegugupannya.

Yoona menunduk, lalu matanya bertemu manik coklat kyu hyun saat lelaki itu menarik dagunya untuk mendongak. Membuat kontak mata diantara mereka melelehkan semua perkara.

“Tell me. Beritau aku masalah yang membuat sisi lemah dalam dirimu menampakkan rupanya.”

Yoona mengepalkan jemarinya kuat-kuat. Wajahnya tampak pias seketika setelah pertanyaan kyu hyun yang bagi yoona merupakan gerbang penting demi kelanjutan hubungan mereka nanti. Tatapan mata teduh kyu hyun membuat yoona malu. Ia malu pada dirinya yang masih berkecimpung pada luka lama yang ternyata belum mampu ia atasi sendiri.

“aku merindukannya, kyu..”

Tak berapa detik berselang, yoona merasakan kecupan hangat kyu hyun pada keningnya. Tangan kyu hyun mengusap punggungnya dengan perlahan. Keheningan tercipta begitu saja. Senyap yang yoona yakin mengudarakan luka yang sama.

“aku—tidak sesiap itu ketika harus kehilangan hanya beberapa saat setelah aku tau jika aku memiliki sebagian dari dirimu dalam diriku saat itu”

Tangis yoona mulai terurai. Amarah akan kilasan masa lalu membakar bola matanya dengan cepat. Yoona merasakan aliran air matanya yang hangat dan tidak berhenti meski kyu hyun telah menyekanya puluhan kali.

“aku juga terluka, yoon. Aku—“

“i know.” Yoona memotong dengan cepat. “aku tau. Karena itulah aku pergi” sambungnya.

Kyu hyun menatap yoona dengan mata sendu yang tak terkira. Telunjuknya mengangkat dagu wanita itu lalu menatap bola matanya yang berlinangan air mata. “dan menurutmu itu pilihan yang tepat?” tanyanya sarat akan kesedihan.

Yoona menggeleng.

“aku pikir, karena kita sama-sama terluka, kita bisa saling mengobati satu sama lainnya. Tapi aku menemukan kau mendaftarkan dirimu pada universitas di new orleands dan memesan tiket penerbangan tanpa merundingkannya denganku”

Kyu hyun menangkap raut keterkejutan yoona padanya. “aku tidak buta untuk tau apa yang kau lakukan sebelum kau pergi. I know it was my last day”

Yoona menatap bola mata kyu hyun, ada hal yang belum selesai diantara mereka, dulu. Hal yang membuat yoona begitu yakin untuk pergi. “did you love me?”

“apa aku memiliki alasan lain untuk menunggumu?”

Kyu hyun memberikan yoona bukti yang jelas. Ia masih lelaki yang sama meski yoona meninggalkannya tanpa alasan untuk waktu yang cukup lama. Tapi tak sekedar itu saja, yoona merasa ada yang tidak mampu ia jelaskan pada kyu hyun. Tentang mereka, tentang luka yang pernah mereka rasakan bersama-sama.

“aku pikir, karena saar itu aku mengecewakanmu dengan bertindak gegabah dan menghilangkan nyawa calon anak kita kau—“

“hei—“ kyu hyun menarik yoona mendekat. “kau tidak bisa menyimpulkan perasaanku semaumu. Aku tidak pernah merasa kecewa.”

“tapi kau berhenti berbicara padaku saat itu. Bahkan setelah kita tinggal dibawah atap yang sama. Kau memelukku namun tanganmu terkepal. Kau menciumku tapi bola matamu penuh luka dan amarah. Aku pikir kau mulai membenciku karena kebodohanku. Aku—aku tidak bisa melihat kekecewaanmu. Jadi, kupikir lebih baik aku pergi, karena aku tidak ingin mendengar kalimat perpisahan itu mengudara dari bibirmu terlebih dahulu”

Penuturan yoona membuat kyu hyun terkejut. Bukan main bagaimana kusutnya isi pikiran lelaki itu ketika yoona mengatakan kalimat yang seharusnya ia katakan terlebih dahulu. Kyu hyun menatap yoona penuh rasa bersalah. “maaf” ucapnya singkat.

“maafkan aku, yoon. Aku pikir kau membutuhkan waktu untuk menghadapi keedihanmu. Aku menemukan kau menangis dipertengahan malam dan aku pikir kau belum ingin berbagi denganku saat itu. Aku memang kecewa, tapi tidak padamu. Aku kecewa pada diriku sendiri. pada masalaluku yang membuat kita berkecimpung dalam luka menganga. Aku kecewa karena aku tak mampu untuk melindungimu, dan calon anak kita. Aku penuh dengan rasa kecewa, karena aku yang terlalu keparat ini telah melukaimu. Karena semua yang kulakukan hanya menyakitimu. Aku kecewa pada diriku sendiri. pada sifat brengsekku. Pada ketakutanku yang pada akhirnya membuat kita harus seperti ini.”

Nafas kyu hyun terputus. Dadanya terasa begitu ngilu dibalik tatapan tak percaya yang yoona perlihatkan padanya. Kyu hyun tau, ada ribuan penyesalan yang muncul dalam benaknya ketika ia melihat yoona dulu.

Wanita itu tidak pernah mengecewakannya.

Yoona-nya justru adalah pihak yang paling terluka karena kebrengsekan yang kyu hyun lakukan dahulu. Wanita itu justru menerima karma atas perbuatan yang sama sekali tak pernah ia lakukan. Yoona adalah sisi lemah kyu hyun yang saat itu lucia ketahui keberadaannya.

Kyu hyun tak pernah menyimpan rasa kecewa. Terlebih jika wanita itu mengaku bahwa ialah yang menghilangkan nyawa calon anak mereka.

Bullshit!

Bukan karena kyu hyun tak menyayangi calon malaikat kecil mereka, namun kepergiannya, bagi kyu hyun bukanlah atas kesalahan yoona. Wanita itu berhak atas segala hal yang ia lakukan. Terlebih setelah mengetahui kebohongan besar yang kyu hyun sembunyikan darinya. Yoona berhak marah. Namun tak seharusnya ia kecewa dengan luka yang terus menerpa.

Jika memang ada pihak yang harus disalahkan dalam kisah mereka, kyu hyun akan maju terlebih dahulu. Mengingat yoona adalah bayangan yang terus ada karena dirinya. Maka kyu hyun bertanggung jawab akan segala kerumitan yang saat itu mewarnai hari-hari mereka.

Yoona menunduk penuh rasa bersalah. Ia tak pernah berpikir jika kyu hyun akan memikirkan perasaannya sedemikian rupa. Yoona tak tau jika lelaki itu pun menyimpan masalah yang tak kalah berat dari dirinya.

Helaan nafas yoona menghiasi keheningan kamar. “lau kenapa kau tidak mencegahku pergi?”

Kyu hyun tersenyum miris. “aku tidak berpikir jika aku memiliki hak untuk itu.”

“impossible. Kau selalu mengaturku semaumu selama ini!” Kekehan kyu hyun membuat yoona menyadari jika suaranya sempat meninggi.

“aku tidak melakukannya tanpa alasan. It simply because i know you’re mine. Karena kau menyerahkan dirimu padaku, hingga aku merasa berhak untuk mengatur hidupmu. Maka ketika keputusan yang kau ambil adalah untuk pergi dariku, kuasa apa lagi yang aku miliki atas dirimu?”

Yoona terdiam. Ia tidak pernah berfikir seperti itu. Yang selalu melintas dalam benaknya hanya mungkin saja kyu hyun memiliki banyak wanita hingga ia tak perlu menahan yoona dalam hidupnya. Yoona menatap kyu hyun dengan rasa bersalah, ia tidak mengerti, kyu hyunlah yang tidak mengenal dirinya atau sebenarnya yoonalah yang tidak pernah mengenali sosok kyu hyun?

Wanita itu meringsek maju, memeluk kyu hyun dalam diam lalu mengutarakan maaf yang sesungguhnya sudah ingin ia lontarkan semenjak pertemuan pertama mereka. Pertemuan pertama? Yoona terlonjak lalu menatap kyu hyun dengan bola mata sendu yang sempurna.

“jadi, kau dan seohyun bagaimana?”

__

Espresso hangat itu menjalar disekitar telapak tangan yoona. Kepalanya menunduk malu ketika senyum seohyun memancar bak matahari yang menyinari teriknya seoul siang itu. Yoona menatap kyu hyun yang tertawa ringan, disusul bibirnya yang terus bergerak dengan mata coklatnya yang terus menatap seohyun.

Diteguknya espresso itu sejenak, menjelang suara halus seohyun terdengar menyapanya.  Yoona merasakan telapak tangan seohyun yang lembut menghangatkan jemari yoona. “onni, mianhae” ucapnya manja.

Dari ekspresi itu, yoona membalasnya dengan senyuman canggung. Ia belum mengenal seohyun begitu dalam. Bahkan pertemuan pertama mereka begitu singkat dan buruk. Yoona tidak mengerti harus memperlakukan seohyun seperti apa. Terlebih ia juga memiliki pikiran super licik persis seperti kyu hyun.

“aku sudah mengatakan padanya jangan keterlaluan tapi dia tidak mendengarkanku!”

Yoona memejamkan matanya menahan gelisah. Shit! Ternyata seohyun hanyalah sepupu kecil kyu hyun yang kebetulan berkunjung. Ia tinggal di netherland, tempat yang tak pernah kyu hyun sebutkan sebelumnya dihadapan yoona.

Melihat yoona belum berbicara, gadis itu meringsek maju, semakin mendekatkan dudukannya pada yoona. “jadi, sebenarnya bagaimana hubungan kalian?”

Meski tubuhnya menegang, yoona tetap memilih untuk diam. Dia dan kyu hyun belum menyepakati apapun pagi ini. entah akan bagaimana keberlanjutan hubungan ini belum samasekali mendapatkan titik temu.

Yoona tidak mungkin mengklaim hubungan mereka sudah baik-baik saja. Toh, sebaik apapun komunikasi mereka pagi ini, ia dan kyu hyun tetap pernah berpisah selama dua tahun. Yoona pikir mungkin ada baiknya kembali mengenal lelaki itu sebelum ia kembali kecewa di kemudian hari.

“apa sebaiknya kita adakan pesta pernikahan?”

“tidak mungkin!”

“tidak secepat itu!”

Tawa kecil seohyun menyadarkan mereka, bahwa memang ada yang perlu dibangun ulang sebelum semua bermuara pada hubungan yang lebih baik

__

Yoona menggenggam erat jemari kyu hyun. Rumah mewah dengan porselen mengkilap itu menyambut kedatangannya dalam diam. Jadi, dirumah inilah kyuhyun menghabiskan seluruh waktunya dua tahun terakhir.

Mengejutkan ketika yona tau jika ia memang tak pernah lagi mengunjungi apartemen mereka. kyu hyung mengaku jika ia tidak setegar itu untuk menatap semua hal yang pernah mereka sentuh bersama disana.

Dan jauh lebih mengejutkan lagi ketika kyu hyun mengaku jika ia menghabiskan dua tahunnya bersama donghae. Satu-satunya nama yang hampir membuat yoona membeku kelu. Tiba-tiba fakta mengenai kematian appa membuat perut yoona mual. Ada bayang-bayang menyakitkan masa lalu yang belum mampu untuk ia tutupi hingga detik ini.

“kau yakin aku harus menemuinya?”

“kau tak ingin menemuinya?”

Yoona menahan tangan kyu hyun beberapa langkah sebelum mereka bertemu pintu masuk. Malam ini, usai pertemuan panjang mereka bersama seohyun, kyu hyun memutuskan untuk membawanya pada donghae.

Pada satu-satunya lelaki yang yoona pikir tak akan ia temukan lagi dimuka bumi ini. berita mengenai sadarnya donghae memang mengejutkan. Tujuh bulan, yoona rasa bukanlah waktu yang singkat bagi donghae untuk berjuang mempertahankan hidupnya.

Yoona pikir donghae sudah akan berlalu setelah ia tinggalkan dulu. Namun ternyata kyu hyun tak membiarkan itu terjadi. Masih ada kesetaraan darah dalam diri mereka yang kemudian membuat lelaki itu mengalah pada egonya dan merawat donghae hingga saat ini.

“aku—tidak begitu yakin. Bagaimana jika—“

“dua tahun.” Kyu hyun memotong dengan segera. Jemarinya mengusap salah satu pipi gambil yoona sebelum bola mata mereka bersiborok dalam garis lurus yang manis. “banyak yang telah kau tinggalkan dua tahun ini yoon. Akan lebih baik jika kau menemuinya meski hanya satu kali, setelah itu aku tidak akan memaksamu.”

Yoona menatap kedua alis yang hampir menyatu pada dahi kyu hyun. Ekspresi lelaki itu seolah menjanjikan sesuatu padanya. Hingga kemudian yoona setuju dan memilih untuk maju. Melewati pintu pertama yoona merasa jika sesuatu benar-benar sedang berputar dalam tubuhnya. Ia merasa mual.

Hingga kemudian ia melewati ruang tamu dan bertemu dengan sinar televisi yang menyala dengan volume kecil. Sosok itu duduk didepannya. Diatas sofa panjang dengan baju casual yang begitu sederhana. Terkadang bibirnya tersenyum manis, dilain waktu ia diam. Detik berikutnya ia terpingkal.

Dari sisi yang berbeda kemudian yoona temukan tatapan teduh itu dalam matanya. Tak ada yang benar-benar berubah meski semua telah berlalu lama. Bahkan, rasa itu masih ada. Meski bukan lagi sebuah cinta.

Bibir yoona mengulas sebuah senyum. Donghae adalah bagian yang tak pernah bisa hilang dalam liku kehidupannya. Lelaki itu, yang mengajarkannya cinta pertama. Yang melindunginya. Yang kemudian pergi dan kembali dengan berita duka.

Lelaki itu mengajarkannya banyak hal. Tentang arti sebuah kesabaran. Atau tentang kenangan yang tak akan pernah bisa hilang. Donghae menyadarkan yoona dengan  tamparan keras bahwa bukan hanya dirinya yang terpuruk. Yoona tak pernah mengerti posisi donghae sebelumnya. Bahwa ia hanyalah lelaki desa yang tengah menggebu-gebu akan cinta. Andai yoona tak menemumkan kyu hyun, ia mungkin masih akan menerima donghae. Mengingat segala hal bodoh yang lelaki itu lakukan adalah karena dirinya.

Donghae tetaplah donghae. Tidak akan ada yang berubah darinya. Atau mungkin dari masa lalu mereka.

“aku pulang.”

Suara kyu hyun secara spontan membuat donghae menoleh. Wajah penuh tawanya kemudian berubah kelabu. Seketika mendung mewarnai sudut hati yoona. Adakah yang belum selesai diantara mereka?

Donghae memutuskan untuk berdiri. Dengan langkah tegas ia berjalan semakin mendekat. Menguji kinerja jantung yoona dengan tabuhan sekeras mungkin. wajahnya masih menunjukkan aura kelabu, membuat yoona bertanya-tanya akan berlalu seperti apa malam ini?

“yak! What the hell is this?! Kau menghilang seharian, meninggalkan berkasmu dikantor dan baru pulang selarut ini?!”

Kalimat panjang itu menyambar yoona dengan ketekejutan baru. Donghae tidak berjalan menuju dirinya. Ia mengabaikan yoona! Yoona melirik penuh pertanyaan pada kyu hyun, namun yang ia dapati justru seulas senyum tipis penuh tanda tanya.

Merasa tidak menemukan jawaban, yoona meoleh pada donghae. Tatapan mereka beradu lama, namun ekspresi donghae tidak sama sekali mampu yoona terka. Lelaki itu terdiam lama, lalu maju dan memukul bahu kyu hyun dengan keras.

“yaa~ good move!” sebuah senyum secerah mentari menghiasi wajah tampan donghae. Namja itu tak ragu untuk menatap yoona lalu menarik jemarinya tanpa aba-aba. “Aku lee donghae. Siapa namamu? Kau luar biasa! Kita harus bicara, baru kali ini ia membawa seorang wanita pulang. Aku harus tau apa yang kau lakukan pada ahjussi tua ini!”

Bola mata coklat yoona membesar penuh keterkejutan. Siapa lelaki ini? kemana perginya donghae yang dulu selalu tenang dan pemalu?

“jangan pulang dulu, kau bisa makan malam disini. Tunggu sebentar.”

Dan donghae berlalu, tanpa yoona mengeluarkan suara. Sosoknya menghilang dibalik tembok besar yang membatasi seetiap ruangan dirumah mewah ini. yoona masih terdiam kaku. Bukan ini yang ia bayangkan ketika bertemu donghae. Yoona pikir, masih banyak yang harus mereka bicarakan. Nyatanya, bukan itu yang kini terjadi.

Kyu hyun menyentak kesadaran yoona dengan pelukan ringan. Lalu tanpa beban lelaki itu mengucapkan kalimat sederhana yang membuat bulir air mata yoona tak mampu ia bendung. Donghae kehilangan ingatannya. Ia tak mengingat apapun. Itu berarti, lelaki itu pun tak mengenal yoona. Inikah alasan kyu hyun tetap memaksanya untuk bertemu donghae? Agar yoona tau jika lelaki itu bukan lagi sosok yang sama seperti dulu.

Makan malam mereka berlangsung dalam obrolan panjang. Donghae berubah menjadi begitu aktif dan ceria. Seolah ia baru saja bertemu peri yang mampu mencairkan hati beku kakak lelakinya.

Mata teduh donghae selalu menatap kyu hyun penuh kasih. Sisi lain yang kemudian membuat yoona ingin terisak diantara mereka. inilah dua lelaki yang dulu selalu mengusik kehidupannya. Dua lelaki yang menghancurkannyna berkeping-keping. Dua lelaki yang mengajarkannya banyak hal baru.

Merekalah yang membawa yoona pada hati setegar saat ini. seorang pembunuh appa yang sangat mencintainya dan seorang maniak yang juga sangat mencintainya. Yoona tak mampu menahan senyumannya ketika kyu hyun tertawa akibat guyonan singkat donghae.

Tak pernah terpikirkan oleh yoona jika dua lelaki itu, adalah saudara satu darah. Dua lelaki yang pada akhirnya memiliki ikatan yang tak akan pernah terpisah. Ada cahaya bahagia yang mendatangi yoona malam itu. Amnesia donghae membuatnya merasa lebih nyaman dengan keadaan. Setidaknya, ia bisa memulai semuanya dari awal, bersama donghae. Lelaki itu kini telah menjadi ekor baru bagi kyu hyun, sosok yang tak akan pernah menghilang dari hubungan yoona bersama kyu hyun.

Suara donghae yang memanggil kyu hyun dengan sapaan sopan yang semestinya. Kedekatan mereka. canda tawa yang tercipta. Segalanya terasa jauh lebih baik kini.

“apa kau berencana kembali ke new orleans?”

Yoona tersenyum, lengan kyu hyun melingkari tubuhnya. “memangnya aku berencana kembali?”

Kyu hyun tertawa ringan. “aku hanya bertanya. Tapi kuharap, tidak. jangan pergi terlalu jauh lagi”

“wae? Bagaimana jika aku benar-benar harus kembali?”

Kyu hyun terkekeh ringan. “kau sudah wisuda tahun lalu, untuk apa kembali? Aku sudah disini, tidak ada yang perlu kau kejar disana.” Jawaban itu cukup membawa yoona pada tawa gelinya. Ia tidak berpikir jika kyu hyun akan tau segala hal tentang dirinya selama ini.

Yoona memang tak berencana kembali. Untuk apa? Segala ketakutan dan bayang-bayang masalalu mereka sudah terlalu jelas kini. Pun tidak ada hal menakutkan yang harus yoona hindari lagi dari hubungannya bersama kyu hyun.

“kau bisa melamar pekerjaan ditempatku”

Yoona mengulas senyum. “terlalu beresiko” jawabnya singkat. “aku akan mencari pekerjaan ditempat lain.”

Hening menyergap malam mereka. kyu hyun tak lagi membantah. Segala yang ia butuhkan hanyalah yoona tetap tinggal disini, disisinya. Jika wanita itu tidak berencana kembali bekerja padanya, itu adalah pilihan yoona. Kyu hyun tak lagi ingin membatasi wanita itu dari dunianya sendiri.

Setidaknya, ada bongkahan batu besar yang tak lagi bersarang disela-sela kerongkongan kyu hyun. Ia bisa bernafas dengan semestinya. Tak seperti hari-hari yang lalu seolah dunia bisa hancur kapanpun ketika ia mencoba untuk bernafas.

Kehilangan yoona, adalah hal terburuk yang pernah ia alami. Segala hal menjadi abu-abu mendekati hitam. Seperti ketika appa dan ahra pergi begitu saja, dulu. Dunia kyu hyun tak lagi berwarna dan sempurna. Namun kemudian gadis itu hadir. Yoona adalah sinar yang memberikan warna baru dalam kesehariannya. Gadis dengan baju lusuh dan rambut coklat yang terpapar sinar mentari sore itu berhasil mengambil alih seluruh dunia kyu hyun.

Entah kyu hyun yang terlalu bodoh atau amarahlah yang terlalu menguasai perasaannya. Seharusnya, semenjak pertama kali yoona menyatakan perasaannya dulu, kyu hyun menyambutnya dengan suka cita. Alih-alih menjerumuskannya pada lubang hitam penuh penderitaan.

Namun masalalu tetaplah menjadi masalalu, apapun tak akan sanggup merubah kisah mereka. kini yang pelru ia lakukan hanyalah berusaha agar yoona tak lagi beranjak pergi. Sebisa mungkin, untuk selamanya.

“aku ingin tau sesuatu” yoona hanya bergumam, yang kemudian kyu hyun asumsikan sebagai jawaban. Ia kemudian berdehem sebentar, ini mungkin bukanlah waktu yang tepat. Tapi ia tak akan pernah tau sebelum benar-benar mencoba. “kau—dou you still want to marry me?”

Yoona terdiam, tak berani menjawab. “beri aku kesempatan, yoon. Beri aku waktu. Kita bisa mulai segalanya dari awal.”

__

1 tahun kemudian.

Jalanan seoul terhitung padat pagi ini. detak hells yang mewarnai trotoar sepanjang cafe disekitaran gangnam ikut meramaikan pagi. Perayaan tahun baru telah selesai semenjak dua hari yang lalu, namun euforia masyarakat terasa begitu kental bahkan hingga pagi ini.

Yoona menemukan gadis kecil yang masih meniup terompet mini miliknya di lorong apartemen pagi ini. belum lagi beberapa toko yang belum beroperasi dengan benar. Libur nasional memang selalu menimbulkan kesan tersendiri. Terlebih jika hari ini yoona harus tetap bekerja setelah menikmati waktu singkat libur natal dan tahun barunya dengan sempurna.

Titik-titik salju menambah indah pagi di keramaian. Suhu rendah tak lantas membuat banyak manusia mengurung diri didalam rumah. Meski seharusnya, memang seperti itulah kegiatan wajib yang harus dilakukan ditengah puncak musim salju tahun ini.

Yoona mengusap cup moccachino hangat yang baru saja ia beli diujung jalan. Tungkai yoona terus bekerja karena lima belas menit lagi ia harus segera tiba atau akan ada klient yang akan melaporkan kinerja buruknya pada kantor.

Akhirnya, lima menit berselang yoona memasuki pintu kantor. Suasana sudah terasa padat karena setiap orang berlalu lalang dengan tugasnya masing-masing. Yoona mengarah pada lobby, tempat seorang wanita menunggunya pagi itu.

Tangan mereka saling melambai, lalu yoona berjalan cepat, menyambut kedatangan klient-nya yang ternyata lebih dahulu tiba. “maaf aku terlambat”

Wanita itu tertawa ramah. “tidak, aku yang terlalu bersemangat untuk datang lebih cepat”

Yoona mamilih untuk duduk berhadapan, “jadi, bagaimana? Sudah menemukan konsep yang tepat?”

“hmm, aku pikir lebih baik tidak menggunakan panggung. Akan terkesan terlalu membatasi diri dari tamu yang datang. Menurutmu bagaimana?”

Yoona mengangguk paham. “aku mengerti. Tapi kau tetap harus memiliki ruanganmu sendiri, mungkin tenda kecil ditengah-tengah pesta? Tidak perlu lebih tinggi, hanya tenda dengan ornamen lebih rinci agar orang-orang tau dimana mereka harus menemukan kedua mempelai”

“tidak masalah. Kami juga berencana akan menyewa guesthouse disana, agar beberapa tamu penting tidak harus datang dan pergi hanya untuk melihat pernikahan. Mereka juga bisa beristirahat disana. Walau bagaimanapun pesta ini menyita waktu hingga malam, jadi bisakah kau atur?”

Yoona mengangguk paham. Membuat wanita itu tersenyum tipis. Yoona memutuskan untuk menjadi konsultan pernikahan. Mulanya ia hanya berencana untuk menjadi salah satu bagian dari perusahaan wedding organizer ternama di seoul. Namun perlahan segalanya berjalan begitu saja. Yoona tidak pernah merencanakan ini, namun ia begitu menyukai pekerjaannya.

“bagaimana kabar kyu hyun?”

Yoona terdiam. Ah, benar. Cho kyu hyun. Lelaki itu pergi, tidak lagi menemuinya hampir satu bulan belakangan. Yoona mendesah kesal, bagaimana bisa masalah cabang perusahaan mampu menahannya selama itu?

Kyu hyun memutuskan untuk mengatasi langsung masalah anak perusahaannya. Yang semula ia berencana untuk menetap satu minggu, hingga pada akhirnya tidak pernah kembali hingga hari ini. rencana libur natal dan tahun baru mereka gagal total. Hanya ada donghae dan so yeon lah yang kemudian berbesar hati menutupi kesedihan yoona.

“entahlah, mungkin dia tidak berencana untuk pulang”

Agaknya jawaban yoona cukup menghibur. Tawa ringan terdengar dari arah depan. Mungkin baginya kisah yoona adalah lelucon. “aku minta maaf, tidak bisa menemani kyu hyun selama di london sepertinya membuat kekasihmu sedikit kesulitan.”

Lalu yoona menatap bola mata hitam pekat milik sora. Ini dia masalahnya, sora akan menikah! Dan sekertaris kebanggan kyu hyun yang satu ini sudah mengambil izin cutinya sebelum masalah cabang perusahaan kyu hyun mencuat ke permukaan. Setelahnya, satu-satunya yang dapat kyu hyun lakukan hanyalah menyelesaikan segalanya tanpa sora.

Yoona tertawa geli. Sebenarnya ini bukanlah salah sora. Gadis itu sudah begitu lama mengabdi pada kyu hyun. Maka libur panjang menjelang pernikahannya adalah hadiah yang kyu hyun berikan pada sora. Meski yoona tau lelaki itu akan menyesali keputusannya kini.

“jangan berlebihan, kau pantas mendapatkan ini sora. Sudah terlalu lama kau terus mengekorinya. Sekarang, selama masa cutimu, biarkan saja dia menyelesaikan segalanya sendiri. kau hanya perlu fokus pada hari istimewamu”

Sora tersenyum manis. Terlihat jelas binar kebahagiaan dari pancaran bola matanya. “terimakasih yoon” gadis itu maju, lalu memeluk yoona erat. “kehadiranmu tahun lalu cukup membuat bebanku menjadi lebih ringan. Semakin kau hadir, semakin banyak perubahan yang kyu hyun perlihatkan. Jangan ada lagi masalah diantara kalian, aku tidak yakin bisa ikut membantu setelah aku harus membagi hati dengan rumah tanggaku nanti”

Yoona ikut tertawa. Sora adalah gadis yang ramah. Sangat friendable. Segala tentangnya, kesabarannya menghadapi kyu hyun dan kredibilitasnya sebagai sekretaris utama sangat membantu segala masalah yang pernah terjadi diantara hubungan yoona dan kyu hyun.

“aku juga berharap seperti itu”

“aku harap kalian segera menikah. Kyu hyun sudah tidak muda lagi, so yeon pun sudah menikah tahun lalu. jangan terlalu membatasi dirimu, yoon. Kyu hyun tidak pernah terlihat jauh lebih baik dari ini. dia sudah menunggumu bertahun tahun.” Yoona hanya tersenyum, lalu sora meminta izin untuk pergi.

Satu tahun berlalu, terlalu banyak yang terjadi dalam kurun waktu itu. Kyu hyun sempat melamarnya dua kali, di dua bulan pertama mereka memutuskan untuk menjadi sepasang kekasih. Dan sebanyak itu pula lah yoona menolak. Bukan karena ia tak lagi mencintai kyuhyun. Hanya saja masih terselip ragu dalam benaknya saat itu.

Mereka memutuskan untuk tinggal terpisah, dengan romansa yang terjalin tidak melampaui batas. Yoona memilih tinggal di apartemen lama mereka dan kyu hyun tetap bersama donghae. Tidak pernah lagi ada kebebasan. Kyu hyun menghargainya, seperti yoona selalu menghargai usaha lelaki itu untuk berubah. Banyak yang tidak bisa yoona jelaskan. Kyuhyun-nya kini sudah menjadi jauh lebih baik.

Dan kini, setelah satu tahun berlalu, kyu hyun justru tak pernah lagi menyinggung pernikahan. Betapa lucu kehidupan mereka. yoona yang semula begitu ingin menikah dan kyu hyun yang begitu membenci pernikahan, kemudian yoona begitu antipati pada pernikahan disaat kyu hyun begitu ingin mengikatnya pada janji tuhan. Dan kini, yoona kembali merasa ingin tertawa.

Hubungan mereka terhitung baik-baik saja. Entah kyu hyun tak lagi membahas penikahan untuk menghargainya atau memang lelaki itu sudah lelah dengan perasaannya. Yang jelas, sora benar. Tak hanya kyu hyun, yoona pun sudah terlalu dewasa untuk terus sendiri. mereka bukan lagi ada disaat dimana romansa cinta masa muda begitu dominan. Sudah saatnya satu langkah lebih maju.

Yoona tersenyum.

Ia akan membicarakan ini pada kyu hyun nanti.

Yoona berdiri, ia harus keruangannya untuk merancang pernikahan sora yang menyisakan waktu satu bulan lagi.

“aa-yoon?” Yoona terdiam. Ia tidak sedelusional itu hingga membayangkan kyu hyun tengah memanggilnya kini. “kau bisa mendengarku?” namun kemudian bola mata yoona membesar, ia berbalik, menemukan televisi besar yang terpasang di lobby kantor kini menampilkan kyu hyun yang tengah berada di dalam kamarnya di london.

“hampir satu bulan tidak melihatmu, aku merasa hampir gila. Kau seharusnya meluangkan waktumu untuk datang berkunjung, yoon!” kyu hyun tertawa konyol sebelum melanjutkan kalimatnya dengan wajah lebih serius. “enam tahun aku mengenalmu, semenjak pertama kali kau memintaku untuk menjadikanmu kekasihku” dan yoona melotot tak percaya. Ya! Ini meruntuhkan martabatnya!

“ini begitu konyol, aku yang mencintamu harus terus menunggu kau untuk datang dan memohon padaku. Saat itu, aku yang terlalu pengecut, sementara kau hadir dengan jiwa pembangkang yang kemudian membuatku kehilangan arah. Tiga tahun bersama,, kuharap aku masih memiliki banyak waktu untuk menebus dosa-dosaku karena telah menjerumuskanmu pada lubang hitam yang kelam.” Yoona tersenyum, kyu hyun tak pernah berhenti mengatakan jika ia menyesal, dan bagi yoona, segalanya sudah lebih dari cukup.

“Kau, kekasihku, mungkin sudah terlalu bosan bagimu untuk mendengar betapa aku mencintaimu. Tapi yang tidak pernah kau tau, semenjak aku menderita penyakit keparat ini, kau adalah satu-satunya wanita yang mampu membuat senyumku kembali terulas. Baju usang dan rambutmu yang melambai-lambai dipinggiran pantai waktu itu merebut segalanya dari hatiku.” Yoona kembali tersenyum. Ia sudah mendengar semuanya, tentang pertemuan pertama mereka yang tak pernah sekalipun ia ingat hingga ternyata ia dan kyu hyun pernah bersekolah ditempat yang sama.

“For the rest of my life i cant believe there’s another girls who can makes me feel like i have my own home. Aku pernah menanyakan ini padamu beberapa kali, kuharap kali ini kau tidak lagi memiliki pilihan untuk menolak. Jadi, im yoona. Will you—“

Televisi mendadak menjadi hitam, membuat bola mata yoona melotot tak percaya. Apa apaan ini?! kyu hyun belum menyelesaikan kalimatnya! Dengan panik ia menoleh, berusaha mencari seseorang yang bisa kembali menyalakan televisinya dan pada saat itulah ia menemukan kyu hyun, membawa sebuket mawar merah dengan senyum tipisnya yang mempesona.

“marry me?” lanjutnya, tanpa merasa bersalah.

Sejak kapan dia ada disana? Dengan tubuh yang begitu mencolok dan yoona tak menyadarinya? Mendadak yoona merasa begitu lemas. Tungkainya menjadi seperti agar-agar jelly. Yoona dengan cepat berjongkok, menutupi wajahnya yang sudah dihiasi bulir air mata. Membuat kyu hyun merasa panik lalu mendekat, ikut berjongkok didepannya.

“heii~ kenapa—“

“yes! Yes i do!” pekik yoona memotong suara kyu hyun yang mengudara. Dengan ganas yoona menyeruak maju, memeluk kyu hyun yang kala itu harus bertahan dengan posisi tidak baik-baik saja. Kyu hyun tergelak, jemarinya mengusap punggung yoona pelan. Perjalanan cinta mereka masih sangatlah panjang. namun bersama yoona, kyu hyun yakin akan mampu melewati segala masalah dalam hubungan mereka dengan tenang.

“thankyou, i love you” bisiknya kemudian.

__

Banyak orang yang tidak mengerti jika untuk mendapatkan hasil yang maksimal, maka ada banyak proses yang harus dilalui. Kyu hyun, yoona dan donghae hanyalah segelintir kisah yang tercipta dari cinta remaja yang menggebu-gebu, unknowledge seseorang terhadap hidup dan tingginya ego yang tak mampu mereka lawan. Kesempatan kedua, pengampunan dosa dan tawa bahagia adalah segala ujung dari cinta. Selalu ingat jika selalu ada pelangi setelah hujan. Kau, dan kehidupanmu tidak akan pernah berhenti diakhir yang biasa-biasa saja. Segala hal selalu berakhir dengan bahagia, maka ketika bahagia belum mendatangimu, mungkin itu belumlah sebuah akhir.

-end-

What the hell is this?!  -__-

Aku merasa sudah meninggalkan blog ini bertahun-tahun yaampun. Maaf ya, ini series terakhir dari unexpected. Banyak sebenernya yang mau aku utarain, but first, terimakasih banyak udah mau nungguin series yang uploadnya selalu php ini-_- aku ngga nyangka ternyata unexpected udah jalan satu tahun. God! Selama itu waktu yang aku butuhin buat nyelesaian segelintir series ini?! aku cukup kaget, dan juga minta maaf. Aku juga punya kehidupan diluar imajinasiku tentang mereka. semester tiga ini aku sibuk banget. Bener-bener banget L aku baru aja dapet libur empat hari setelah tiga bulan ngga ngerasain rasanya tidur dengan tenang wkwk. Jadi mohon maaf banget ya, aku ngegantung cerita bahkan di sebuah ending. Ini aku kasih sampai acara lamar-lamaran. Berdoa aja aku masih punya waktu buat nulis acara nikah-nikahan mereka. aku juga berharap ada scene seperti itu. Tapi part ini udah terlalu overload. 40 lembar ms.word. semoga kalian ngga katarak baca cerita sepanjang itu. Aku akhiri disini aja yaa.

Btw follow ask.fm aku dong (@dianyanput) haha. Ntar bisa komunikasi sama aku disana (yaelah malah promosi). Part epilog(kalau ada) tetep bakalan aku protect ya. Jadi, ya bijak aja menanggapi peraturanku. Sekalian gimana sih perasaan kalian tentang series unexpected ini? pandangan kalian tentang karakter kyu hyun, donghae dan yoona? Alur ceritanya? Aku-nya gimana? Hmm, sebagai salam perpisahan, coba koment yang panjang ya^^ aku mau tau apa yang ada dalam pikiran kalian tentang imajinasiku.

Btw maaf juga rada nc-__- cerita ini sedikit sulit kalau ngga dikasih nc nya wkakak. Udah, segitu aja. Salam hangat dari aku (yang semester 3-nya masih setengah jalan dan ngga janji bakal comeback dalam waktu dekat). Aku sayang kalian semua, readers setiaku *muah! Sampai ketemu di ff lainnya *tebarpeluk*

With love, Park jiyeon.

Advertisements

166 thoughts on “Unexpected : Retrouvaille [end]

  1. Pingback: Unexpected – Im Yoona Fiction

  2. ~plup~ Waaaahhh seneng bngt jadinya, so sweet banget gitoh, kirain tdi sampek yoon eonni punya anak dan konfliknya dengan donghae blm selesai, eh gk nyangka moment kyunanya banyak#seneng bngt#, udah gk bisa ngomong keren entahlah pangkat tertinggi dri keren itu apa untuk muji author. Oke bgiku donghae itu karakternya ngeselin gk ska sama donghae, klau kyuppa arrogant, tegas dingin cuek suka bngtlah pokoknya, yoon eonni gk tau bingung deh tpi aku lebih ska kalau yoon eonni itu dlu gk materialistis, lbh ska dianya kalem, trs ceria, dan keras kepala itu selalu ada di setiap ceritanya. Yah… Cuma bsa ngasih itu deh#jahat bngt ni reders#. end ini bnr” pnjng bngt dah 1jam lebh bacanya#hah lelah# lanjutin sequelnya yah SEMANGAT ~bow~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s