Orpheus of Love (Chapter 3 [END])

PicsArt_10-14-01.55.46

Author: Isaac Jacobs
Judul:Orpheus of love. Chapter 3 (end)
Genre:romance, drama.
Ratting:PG-15.
cast:Benjamin whishaw, im yoon ah, jeremy irvine.
Support cast: dakota fanning, kaya scodelario, collin farrel, and others.
Inspired by jendela orpheus by ryoko ikeda and john keats.

.

Musim demi musim berganti, sudah hampir dua tahun sudah yoona dirawat keluarga Irvine. Siang hari di kediaman bangsawan Irvine, terdengar suara musik klasik dari piringan hitam oleh Dakota. Ada reaksi aneh pada yoona ketika mendengar musik tersebut. Dakota keheranan melihat yoona, seperti mengingat sesuatu. Yoona berlari menuju ruang di mana piano berada. Dakota mengikutinya dari belakang.

Yoona membuka piano tersebut dan memainkannya. Dia tahu lagu itu, karya Beethoven berjudul Appasionata. Yoona memainkan dengan lancar, padahal selama dia amnesia dia tak pernah menyentuh piano sama sekali. Dakota memperhatikannya.

“Aku ingat sekarang!” Kata yoona. “Dakota…!!” Seru yoona dengan wajah tersenyum, “Dakota sekarang aku ingat! Aku ini murid sekolah musik! Aku suka main piano.” Ungkap yoona, “aku punya ibu yang baik, juga sekolah musik yang menaranya sudah tua…dan aku punya teman-teman baik, banyak sekali!”

“Ya, syukurlah…dan keluargamu tiba-tiba saja dibunuh, oleh karena itu kau hendak pulang ke korea namun kecelakaan  membuatmu amnesia.” Kata Dakota.

“Apa katamu barusan…?” Tanya yoona.

“Dengar, keluargamu memegang kunci harta simpanan kerajaan inggris. Oleh karena itu keluargamu dibunuh dan mereka mengincarmu. Oleh karena itu kakakku diperintah raja untuk menjagamu.” Jelas Dakota.

Jeremy datang.

“Kakak…! Kita tak bisa menyembunyikan terus-menerus…” kata Dakota melihat tampang jeremy menahan marah.

“Aku tak mau tahu alasannya, pergi!” Jeremy kesal.

“Dia berhak untuk tahu!” Protes dakota.

“Pergi, kataku! ” seru jeremy. Dakota menurut, “kakak tidak jantan! Yang kakak bohongi bukan hanya dia! Tapi diri dan perasaan kakak pun ingkari!” Dakota pergi meninggalkan keduanya.

Yoona memandang jeremy dengan kecewa.

“Kau membohongiku…kau tahu semuanya…tapi kau…” kata yoona sedih. Jeremy terdiam.

“Kenapa!?” Tanya yoona namun jeremy hanya membisu dan pergi menghindar.

“Jeremy!?” Panggil yoona namun tak dihiraukan jeremy.

___

__

_

Di sudut jalan di kota London. Ben dan Mr. Farrel berjalan menyusuri jalanan menuju rumah Mr. Farrel.

“Farrel, kenapa kau bawa-bawa bunga?” Tanya Ben heran melihat temannya agak aneh.

“Eh? Oh…barusan aku beli dari penjual bunga.” Jawab Mr. Farrel.

“Aku tahu kau beli!” Kata Ben heran.

“Aku ini…boleh saja kan, bersikap romantis pada istriku. Sudah berhari-hari aku sibuk tak sempat pulang.” Terang Mr. Farrel.

Mereka sampai di rumah Mr. Farrel.

“Masuklah.” Mr. Farrel mempersilahkan Ben masuk. Kemudian Mrs. Farrel datang menyambut keduanya. Pasangan suami istri tersebut berpelukan mengacuhkan kehadiran Ben di situ, membuat Ben agak risih melihatnya. Ben mengambil buket bunga di atas meja, dia teringat gadis yang terus mengisi hatinya. Gadis yang terus dia cintai, yoona.

___

__

_

Di kediaman bangsawan Irvine.

“Bernard, coba minta dakota untuk menyuruh yoona kemari.” Kata jeremy menyuruh bawahannya.

“Siap.” Bernard pergi melaksanakan perintah atasannya tersebut.

Beberapa saat kemudian, terdengar pintu di ketuk.

“Masuk.” Kata jeremy mempersilahkan yoona masuk.

“Ada perlu apa denganku?” Tanya yoona.

“Diam dan duduklah…” jeremy mengeluarkan buku kecil dan kartu.

“Apa ini…? Pasport dan KTPku?!” Kata yoona.

“Memalsukannya susah juga! Bawalah ini dan pulanglah ke korea. Supaya kau selamat, aku menjaminnya dengan namaku. Kau akan diantar pengawal sampai bandara.” Kata jeremy.

“Tapi…aku belum ingat sepenuhnya siapa aku!?” Kata yoona.

“Namamu im yoona, kau keturunan ke 19 dari keluarga Im di Seoul, kau juga yang memiliki kunci harta yang disembunyikan raja di korea. Dua tahun lalu orangtua angkatmu meninggal dibunuh oleh orang anti kerajaan, dan kau hendak pulang ke korea namun di tengah perjalanan terjadi kecelakaan yang membuatmu amnesia.” Terang jeremy, “aku ditugaskan untuk menjaga rahasia harta raja, oleh karena itulah aku menahanmu di sini.”

“Lalu siapa itu Benjamin Whishaw…? Ada hubungan apa aku dengannya?” Tanya yoona.

“Aku juga tak tahu. Aku tak tahu ada hubungan apa di antara kalian…tapi…yang kutahu dia pernah menjadi ketua grup musik di Royal academy ida music tempat kau sekolah dulu. Dan sekarang Dia menjadi anggota oposisi di parlemen.” Kata jeremy. Yoona beranjak dari kursinya.

“Karena kepentinganmu sudah usai…kau katakan semua itu padaku, lalu menyuruhku pulang…karena aku sudah tak ada gunanya lagi.” Kata yoona.

“Bukan…begitu…” timpal jeremy tak ingin yoona salah paham.

“Baik, aku pergi…kau telah mempersiapkan segalanya untukku, terima kasih…” sambil memegang pasport dan KTPnya, Dia mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan Jeremy. Namun Jeremy tak menanggapinya dan memalingkan wajahnya dari yoona. Yoona berjalan menuju pintu keluar.

“Kau…salah paham…” kata jeremy tiba-tiba. Membuat langkah yoona terhenti.

“Yoona!” Seru jeremy, yang kemudian menarik yoona ke pelukannya. Yoona kaget, dan merasakan sensasi yang pernah dirasakan sebelumnya. Dia merasa ada pria yang memeluknya begitu erat di masa lalunya.

“Aku lelaki bodoh…sebelum dikatakan Dakota, aku tak menyadarinya.” Kata jeremy sambil memeluk yoona, “…aku memang bodoh…”

Jeremy kemudian melepas pelukannya.

“Yoona…pada manusia itu ada suatu jalan nasib yang perlu ditantangnya, meskipun dia tahu itu sia-sia. Walaupun menurut teori semua itu tak mungkin dan hasilnya akan kosong.” Jeremy memandang wajah yoona, “dan bila dengan jalan itu kita jadi tak puas dengan jalan hidup kita, kita harus tetap maju…”

Keduanya saling berpandangan.

“Pergilah. Maaf, aku sudah menghentikannya…” jeremy memalingkan wajahnya, dan memunggungi yoona. Yoona memandangi punggung pria tersebut dari belakang. Kehangatan tadi yang dia rasakan mendadak sirna. Kemudian yoona pergi diantar dengan mobil. Dari balik jendela Dakota memperhatikan yoona pergi.

“Dia…sudah pergi…” kata dakota memberitahu jeremy. Yang di sahut dingin oleh jeremy.

“Dakota…aku…” kata jeremy mencoba menjelaskan.

“Sudahlah, jangan berkata apapun. Aku mengerti apa yang sedang kakak pikirkan.” Ujar Dakota.

Di tengah perjalanan, mobil yoona tiba-tiba berhenti.

“Ada apa…?” Tanya yoona. Tiba-tiba si sopir membungkam yoona hingga pingsan. Datang gerombolan orang-orang bersenjata. Para pengawal yang mengiringi yoona berhasil dihabisi oleh gerombolan tersebut. Dan yoona di bawa mereka.

____

__

_

Dari dalam sebuah kamar yoona setengah tersadar dari pingsannya. Dia mendengar suara lelaki lebih dari satu.

“Untunglah ada villa Mr. Reynolds di sekitar sini. Kami membawa seorang gadis asing, sedang bingung mau dibawa kemana.” Kata seorang pria bersuara agak berat.

“Pojoknya kita tidak bisa berhenti di sini…karena kalau informasi Reynolds benar, kita harus secepatnya melibatkan Irvine dalam hal ini.” Kata seorang lagi. Membuat yoona bangkit dari tempat tidur menuju dekat pintu agar terdengar jelas olehnya.

“Tapi…apa betul Irvine bisa dipercaya? Jangan-jangan Dia nanti malah melaporkan kita, gagal semuanya!” Kata seorang pria bersuara besar.

“Kalau soal itu 90% beres. Soal ayahnya dan soal penyingkiran dirinya. Dan sekarang orang yang paling dibenci Franklin itu di istana adalah Jendral Irvine. Pasti Dia mau menerima rencana ini.” Kata Mr. Reynolds. “Tentu begitu juga dengan mereka sesama borjuis.”

“Kalau begitu apa gunanya kami jauh-jauh datang dari London, dan di istana Buckingham sudah…” kalimat pria tersebut terhenti mendadak ketika terdengar suara dari arah kamar yoona berada, ternyata yoona tak sengaja menyenggol sebuah kursi.

“Siapa itu!?” Teriak seorang lelaki berambut gelap berkulit pucat. Dia bergegas menuju arah suara tersebut. Kemudian mendapati yoona, memperhatikan yoona.

“Tak apa Nick. Dia orang korea.” Kata seorang pria berkumis.

“Hh…karena Dia, kita jadi terganggu. Pasti ada apa-apanya!” Kata pria bernama Nick Robin tersebut.

Kemudinya datang seorang gadis berambut keriting coklat.

“Lho…kamu ini!” Kata gadis tersebut memandu yoona. “Sudah sadar, pantas kulihat tempat tidurmu kosong. Aku kaget, seharusnya kau jangan bangun dulu. Kakinya masih lemas.”

Yoona masih memikirkan obrolan para pria tersebut tadi.

“Beberapa lama tidak melihat Kaya, tiba-tiba sudah jadi gadis cantik. Sayang kalau terus sendirian.” Ucap seorang pria kepada Mr. Reynolds.

“Itulah…kalian ingat Benjamin wishaw…rupanya Dia tak bisa melupakannya. Setiap lamaran yang datang tidak pernah dijawabnya.” Kata Mr. Reynolds. Yoona kaget mendengar nama pria tersebut disebut.

“Benjamin wishaw…Dia masuk ke buruh kan…” kata seorang pria berkumis.

“Padahal Dia bangsawan…” kata pria yang lainnya.

Seorang pria bernama Nick Robin memperhatikan yoona.

“Tunggu, kau gadis korea!” Serunya sambil mengisyaratkan kepada temannya untuk menangkap yoona.

“Aku dalam perjalanan pulang ke negeriku, aku tak akan mengganggu kalian!! Lepaskan! Kenapa aku ditangkap!?” Yoona meronta, berusaha melepaskan diri.

“Huhuhu…bukan urusan mengganggu…tapi kami ingin kau melakukan sesuatu untuk membantu kami.” Kata Nick Robin. “Kamu akan kami jadikan mata-mata korea.”

Yoona tak punya kekuatan untuk berontak.

Di dalam kamar. Kaya meletakan secangkir teh hangat di atas meja. Yoona duduk diam di atas kasur memperhatikan Kaya.

“Kau…ada hubungan apa dengan Benjamin wishaw?” Tanya yoona, membuat Kaya menoleh kepadanya.

“Kau kenal dia!? Jadi Ben…dan kau ini…” kata Kaya heran.

“Tidak…sejujurnya aku tak tahu ada hubungan apa dengannya. Aku hanya ingat nama itu samar-samar” Yoona menunduk sedih. “Tolonglah, aku ingin pulang ke negeriku! Bisakah kau melepaskan aku!?” Pinta yoona.

“Aku ingin melepaskanmu, tapi aku tak bisa. Ini perintah ayah dan Mr. Robin…” jelas Kaya.

“Robin…siapa sebenarnya lelaki itu!? Apa haknya mengurungku di sini!?” Kata yoona sambil menggoncang bahu Kaya. “Apa uang sedang mereka rencanakan!?”

“A…aku tidak tahu…aku hanya diperintahkan untuk merawatmu,itu saja…tak ada hubunganku dengan perkumpulan penolong rakyat itu…” kata Kaya keceplosan.

“Perkumpulan penolong rakyat…!?” Tanya yoona, Kaya menutup mulutnya dengan tangannya kemudian keluar meninggalkan kamar. Yoona masih bertanya-tanya dalam pikirannya. Melihat keluar jendela, melihat beberapa penjaga.

Sore hari di tengah jalan kota London. Sedang diadakan Demonstrasi. Kebetulan Kaya sedang di kota. Tiba-tiba terjadi bentrok antara polisi dan para demonstran. Kaya terjebak, di tengah kerumunan. Namun seorang pria memegang tangannya dan menyelamatkannya dari kerumunan masa.

“Ben…?” Kaya terkejut melihat pria di hadapannya.

“Cepat pergi dari jalan ini, kamu seharusnya tidak boleh keluar sendirian, bisa bahaya.” Kata Ben mengingatkan Kaya.

“Tu…tunggu!! Tolonglah, bawa aku bersamamu…aku akan tinggalkan ayah, kehidupanku, dan segalanya…” Kaya memeluk Ben.

“Kaya…!” Lirih Ben.

“Aku tak akan melepaskan lagi! Aku ingin mengerti kamu, karena aku ingin berjalan terus di sampingmu.” Kata Kaya, “tolong…terimalah aku! Aku mencintaimu! ”

“Kaya, aku bahagia mendengarnya…tapi…” kata Ben tiba-tiba terpotong.

“Kau punya kekasih…? Ma…makanya kau menolakku…” kata Kaya.

“Bukan, Kaya…!” Jawab Ben.

“Kaya, dengar. Seumur hidup mungkin aku tak kan pernah menikah, sejak aku bersumpah untuk menyerahkan diriku pada negeriku…kukuatkan hati untuk meninggalkan gadis yang amat kucintai.” Jelas Ben. Kaya mengerti gadis yang dimaskud Ben. Kaya terdiam melepaskan pelukannya.

“Hati-hati, jangan sampai terlibat keributan lagi, aku pergi dulu…” kata Ben berpamitan meninggalkan Kaya.

Kaya masih terdiam, merenungkan ucapan Ben tadi. Sekarang dia tahu gadis yang di cintai Ben adalah yoona. Dia merencanakan sesuatu pada yoona.

Tengah malam, di villa Mr. Reynolds. Pintu kamar terbuka. Yoona terbangun.

“Sstt! Ayo siap-siap, aku akan membebaskanmu.” Bisik Kaya. “Sudah kusediakan sepeda, kau bisa sampai bandara. Penjaga sudah kubuat mabuk dan tertidur.”

Yoona mendengarkan.

“Untuk menghilangkan kecurigaan Mr. Robin, aku akan memporak-porandakan kamar ini. Kau harus menuruni seprei ini ke bawah…” jelas Kaya.

“Kenapa tiba-tiba…” tanya yoona.

“Cepat! Kau tak mau pulang ke negerimu!?” Kata Kaya ketus. Membuat yoona agak tak enak.

Akhirnya yoona kabur dengan sepeda.

Di tempat lain, sebuah mobil melaju di kegelapan malam. Jalanan tersebut sepi. Ben dan Mr. Farrel orang yang di dalam mobil tersebut.

“Aaouh…aku ingin pulang dan tidur…” kata Mr. Farrel.

“Awas, hati-hati di depan.” Ben meningatkan temannya.

Tapi, tiba-tiba…

Dbbruukk…!!!

Mobil menabrak seseorang, hingga jatuh. Mr. Farrel dan Ben shock. Seorang gadis terlihat dari jendela depan.

“Aku tak apa-apa…” kata gadis itu, yang tak lain dan tak bukan adalah yoona.

Ben terkejut apa uang dilihatnya barusan, Dia segera keluar. Terlihat gadis berambut hitam panjang sedang memungut tasnya ke punggungnya. Dan memegang sepedanya. Ben mendekatinya.

“Kau tak apa-apa?” Tanya Ben khawatir. Begitu dekat, Dia bisa melihat jelas wajah gadis tersebut.

“Yoona!!” Kata Ben. Yoona heran dengan pria tersebut mengetahui namanya.

“Kau…siapa kau? Apa kau mengenalku?” Tanya yoona. Ben terkejut yoona tak bisa mengenalinya. Yoona memandangi Ben, seperti tak kenal.

“Yoona…ya tuhan, yoona…kau kenapa? Aku ini…” Ben memegang wajah yoona, menarik tubuh gadis itu ke pelukannya.

“Kenapa jadi begini…?!” Ben memeluk erat yoona. Yoona terasa bisa menebak pria yang memeluknya tersebut. Dia dapat merasakan detak jantung pria itu dan dirinya. Ya, pria itulah yang selalu di hatinya.

Dari kejauhan Mr. Farrel memperhatikan mereka berdua. Terharu.

Di kediaman Mr. Farrel. Siang hari.

“Nick Robin…!?” Kata Ben. Setelah mendengarkan yoona bercerita tentang orang tersebut dan peristiwa yang dialaminya selama ini.

“Kau kenal Dia? Dia memang dipanggil begitu.” Kata yoona duduk di kursi.

“Robin dan kawan-kawan datang ke London dan bergabung dengan Konsevatif…?” Kata Ben. Sambil berpikir.

“Makanya aku ingin segera memberitahu Jendral Irvine, tapi HPku hilang.” Kata yoona.

“Hhmmm, aku mulai mengerti.” Kata Mr. Farrel sambil memegang dagunya. “Rupanya mereka berencana menumbangkan pemerintah melalui kudeta. Dengan begitu mereka bisa menguasai politik negeri kita.”

“Dan secara perlahan menghabisi kita…” ujar Ben.

“Tolong beritahu Jeremy soal ini! Jendral Jeremy itu…” kata-kata yoona membuat Ben melirik kesal ke yoona.

“Jeremy! Jeremy! Jeremy! Mengapa hanya Dia yang kau khawatirkan!? Apa kau tak mengerti kami juga sedang berjuang…?!” Kata Ben dengan nada agak keras. “Baik, aku mengerti. Kalau kau memang begitu mengkhawatirkannya, akan kukembalikan kau ke sana! Tapi ingat, jangan sekali-kali kau temui aku lagi!”

Yoona terdiam, melihat Ben mengomel padanya. Ben kemudian keluar ruangan.

“Sudah…kenapa kau marah begitu? Gadis itu tak bersalah sedikitpun, tenanglah…” kata Mr. Farrel mencoba membujuk Ben yang sedang kesal.

Di luar, Ben menenangkan pikirannya. Dia marah pada keegoisannya sendiri. Dia cemburu jika yoona menyukai lelaki lain.

Mr. Farrel menghampirinya.

“Aku ingin segera memulihkan kembali ingatannya, lalu mengantarkannya pulang ke korea.” Kata Ben kepada Mr. Farrel. “Maaf, sampai saat itu tiba…tolong beri dia tumpangan, Farrel…”

“Wah, wah…” ucap Mr. Farrel. Ben bersiap-siap pergi ke kantor dewan.

“Besok, saat rapat. Aku akan melaporkan soal Nick Robin. Mungkin saja keadaan ini bisa kita atasi.” Kata Ben.

“Hati-hati, mungkin akan terjadi kerusuhan lagi.” Kata Mr. Farrel mengingatkan Ben. Ben pergi.

Salju turun. Di kediaman Mr. Farrel. Yoona duduk memperhatikan Ben memainkan Biola milik Mr. Farrel. Ada perasaan aneh pada yoona jika melihat Ben.

Tiba-tiba Ben menghentikan permainannya. Yoona mendongak heran.

“Cukup, jariku kaku sudah tak bisa bergerak sebebas dulu.” Kata Ben sambil membereskan biola tersebut, “aku bahkan tak tahu di mana biolaku sekarang.”

Ben mendekati yoona.

“Kau ingat nama Tom? Adikku? Coba pikir baik-baik…tentang Royal academy of music juga, atau apa saja…ada yang kau ingat?” Kata Ben membantu memancing ingatan yoona. Yoona menunduk dan menggelengkan kepalanya. Terdengar suara angin bertiup kencang dari luar. Yoona menuju ke arah jendela dan membukanya.

“Kalau tak ingin mati beku, tutuplah jendelanya.” Kata Ben. Wajah yoona mendadak pucat, ketakutan jika memikirkan peristiwa disaat malam bersalju di masa lalu. Dia teringat  perkataan Jeremy.

“Kata jeremy…sebaiknya aku melupakan hal itu…” gumam yoona, sambil memegang tangan Ben. Ben melepaskan tangan yoona.

“Ben? Sudah mau pergi?” Tanya yoona.

“Besok aku datang lagi.” Jawab Ben, agak kecewa.

“Ben…apakah aku telah menyinggung perasaanmu? Aku akan berusaha keras…mengingat semuanya…” kata yoona, melihat kekecewaan di wajah Ben. Ben pergi meninggalkan yoona.

Mrs. Farrel menghampiri Ben di koridor.

“Ben, kami tak keberatan yoona tinggal bersama kami, tapi…” kata Mrs. Farrel kepada Ben. “Kenapa kau tak menikah saja dengannya…? Bukankah itu lebih baik bagi yoona…”

Ben mendongak, “menikah?” Kata Ben sinis. “Dengan wanita yang ingatannya tentang diriku hanya samar-samar…hanya tahu bahwa dia pernah mencintaiku…”

“Dia…sekarang sudah mulai mencintaimu lagi. Kalau kau perhatikan, kau akan tahu itu.” Ujar Mrs. Farrel.

Ben pamit. Di dalam perjalanan di terus memikirkan yoona. Apakah yoona mempunyai trauma di masa lalunya dan Jeremy Irvine mengapa harus pria itu yang menolongnya.

Salju di awal  maret terlihat sudah mulai mencair. Dari balik jendela rumah Mr. Farrel, yoona memandang keluar. Wajahnya agak gelisah, sudah lama Ben tidak menengoknya. Dia khawatir pria itu sedang marah padanya. Yoona merasa tak enak. Ada perasaan aneh dalam dirinya jika melihat pria itu. Membuatnya terus memikirkannya.

“Ben, tidak datang lagi hari ini…?” Tanya yoona kepada Mrs. Farrel.

“Kurasa Dia sedang sibuk sekarang di partai, apalagi tahun depan akan diadakan pemilu.” Kata Mrs. Farrel sambil merajut. Mrs. Farrel wanita tegar, walaupun  sudah lama menikah dengan Mr. Farrel. Mereka belum dikaruniai seorang anak, tapi tetap bahagia.

“Kau jangan khawatir…” hibur Mrs. Farrel.

Di kantor dewan partai buruh.

“Kalau ada perang, bisa dipastikan negara kita akan terlibat di dalamnya dan akan terjadi perang besar.” Kata Mr. Bree pada Ben, “perang ini tentu akan membawa pengaruh ke dalam negeri.”

“Kita harus menentang perang! Itu hanya akan mengorbankan rakyat dan buruh, juga prajurit di garis depan.” Ungkap Ben. Keduanya berjalan menuju ruang tengah, di sana telah berkumpul para anggota.

“Hai, Ben. Kami sudah menunggumu, kau pasti sudah tahu nama teman baru kita, James Bernard.” Kata Mr. Joseph seraya mengenalkan keduanya. “Dia ini wakil ketua dewan partai namanya Benjamin wishaw.”

“Hallo Mr. Whishaw, senang berkenalan dengan anda.” Kata Bernard sambil berjabat tangan dengan Ben. “Senang berkenalan denganmu juga.” Balas Ben, memandang tajam pada lelaki itu.

“Kau kenapa? Air mukamu aneh sekali.” Tanya Mr. Joseph pada Ben. “Ah, tidak tampaknya perang hampir meletus. Aku jadi agak was-was…” jawab Ben. Ben mempunyai firasat aneh pada pria bernama belakang Bernard itu.

Di ruang kerja kantor.

“Ben, aku akan pulang dulu. Apakah kau butuh sesuatu?” Kata Mr. Farrel sambil menggenakan mantel coklat tuanya. Ben sibuk membaca kertas dokumen di meja kerjanya.

“Tidak, terima kasih.” Kata Ben matanya masih sibuk dengan dokumen-dokumen tersebut.

“Akhir-akhir ini kau tidak mampir ke rumahku, aku tahu kau sibuk. Apa kau sedang marah kepada yoona…?” Kata Mr. Farrel, membuat Ben terhenti. Matanya melirik Mr. Farrel. “Ben…bodoh sekali kau, sebaiknya kau belajar untuk tahu bahwa cinta bisa memperkuat semangat kita. Tak usah terlalu keras pada diri sendiri.” Mr. Farrel pamit, kemudian pergi.

Setibanya di rumah, Mr. Farrel disambut oleh istrinya. Yoona melihat kepada Mr. Farrel seperti sedang menunggu kabar.

“Mr. Whishaw, Dia tidak bisa datang. Dia masih sibuk untuk beberapa urusan di London. Dia pesan kepadaku agar kau menjaga barang-barangnya yang ada di sini.” Kata Mr. Farrel seraya memberikan sebuah kunci lemari peti kepada yoona.

_____

____

___

__

Di luar rumah Mr. Farrel. Ben berjalan masuk ke dalam. Mrs. Membukakan pintu untuknya. Mrs. Menghampiri yoona di kamar.

“Mr. Whishaw datang, kau tidak mau turun menyambutnya? Dia butuh kunci untuk mengambil beberapa barangnya.” Kata Mrs. Farrel.

Yoona berjalan mengikuti Mrs. Farrel dari belakang. Ke tempat di mana Ben menunggu dengan lemarinya.

“Hello Mr. Whishaw.” Sapa yoona.

“Hello miss Im.” Balas Ben.

Ada kecanggungan di antara keduannya. Moment setelah keduanya telah lama tak bertemu. Yoona mengulurkan kunci di tangannya kepada Ben. Ben mengambil kunci tersebut dari tangan yoona. Mrs. Farrel meninggalkan mereka berdua.

Ben membuka telapak tangannya yang sedang memegang kunci, mengulurkannya kepada yoona. Yoona mengambilnya dari Ben, dan membuka lemari peti dengan pelan.

“Apa yang kau butuhkan?” Tanya yoona.

Ben melewati di belakang yoona. Berpindah posisi ke samping yoona dan duduk di sebuah kursi. Dia terus memandangi, dan memperhatikan yoona mengeluarkan beberapa pakaian.

“Mantelmu?” Lanjut yoona. Dia sedikit mengibaskannya. “Tapi sepertinya tidak terlalu hangat untuk dipakai.”

Mata Ben terus memperhatikan yoona.

“Atau jas hitammu. Ohhh, agak sedikit berdebu. Aku akan membersihkannya.” Lanjut yoona.

Ben diam tanpa kata-kata melihat yoona. Keduanya dalam suasana mendalam. Memperbaiki semua kesalahpahaman.

***

Di taman rumah Mrs. Farrel, yang luas. Yoona dan Ben berjalan pelan bersama. Awal musim demi pucuk daun muda bermunculan. Ben menggandeng tangan yoona, kemudian memberikan yoona sebuah cincin. Ben memakaikan cincin tersebut ke jari manis yoona, lalu mencium bibir yoona dengan lembut.

Keduanya mengawali musim semi, dengan lagu pernikahan.

______

____

__

Malam hari, Ben berjalan pulang menuju rumahnya. Dia merasa ada yang mengikutinya dari belakang.

“Ayo, Bernard…keluarlah jangan sembunyi-sembunyi seperti itu!” Ucapnya kepada seseorang yang mengikutinya. Tak lama kemudian orang tersebut menampakkan diri.

“Kalau kau mau tahu rumahku, jangan memata-matai aku seperti itu, langsung saja kau tanyakan.” Kata Ben.

“Ma…maaf, bukan…” kata Bernard kikuk.

“Rumahku di ujung sana, kapan saja kau mampir. Aku senang.” Lanjut Ben.

Kemudian keduanya berpisah.

Dari balik pintu yoona menyambut Ben.

“Ben! Kau terlambat. Kupikir hari ini tak akan pulang.” Kata yoona.

“Aku bawa tamu, tapi Dia menghilang di jalan.” Kata Ben. Keduanya menutup pintu dan masuk ke dalam. Dari kejauhan Bernard mengawasi keduanya. Dia terkejut melihat yoona masih berada di Inggris. Dia bergegas memberitahu Jeremy.

***

Ben pulang larut malam. Dia membuka pintu pelan-pelan dan masuk. Dia dapati istrinya tertidur di meja kerjanya, dengan beberapa tumpukan buku di atas meja. Ben memandangi wajah istrinya, memahami betapa keras yoona untuk mengingat semua memorinya kembali. Dia kemudian menggendong tubuh yoona ke kamar. Yoona terbangun.

“Ben…kau sudah pulang, kau agak kurus. Kamu lapar? Di dapur ada sup buatanku.” Kata yoona.

“Aku lebih suka bersamamu, aku mau tidur saja! Sudah lama aku kurang istirahat.” Kata Ben sambil menggendong yoona menuju kamar.

“Turunkan aku, aku tak akan kemana-mana.uh…dagumu kasar.” Lanjut yoona.

Suatu hari, yoona sedang berbelanja kebutuhan pokok. Dia tanpa sengaja melihat sosok Bernard, bawahan Jeremy yang selalu menyertainya. Terkini terlintas di benak yoona untuk mencari sosok  Jeremy di sekitar gang, tak jauh dari dia melihat Bernard. Setibanya Dia di sudut sebuah gang, terdengar suara yang tak asing bagi yoona.

“Sudah…dari sini biar aku sendirian.” Kata seorang pria. Yoona berhenti, Dia melihat Jeremy berjalan di depan. Tiba-tiba Jeremy menoleh ke arah yoona, menghampirinya. Dia memegang kedua bahu yoona mendorongnya ke tembok.

“Yoona kau…” kata Jeremy.

“A…apa kabar…? Sapa yoona, sembari melepaskan diri dari Jeremy.

“Kenapa kau tak pergi dari negeri ini? Apa kau tak mengerti maksudku?” Lanjut Jeremy.

“A…aku sekarang…” kalimat yoona terputus, Jeremy mengetahui kelanjutannya.

“Ya…sekarang kau tinggal dengan Ben, kan?” Kata Jeremy, membuat yoona heran darimana pria itu tahu jika Dia dan Ben sudah menikah. Adakah orang yang memberitahunya, pikir yoona.

“Ada yang ingin aku sampaikan padamu.” Kata yoona, “kau tahu orang yang bernama Nick Robin? Dia bersama rekan-rekannya sedang merencanakan sesuatu padamu, hati-hati Jeremy.”

“Aku sudah bertemu dan bicara dengannya. Jangan khawatir, aku sudah tahu semua maksud liciknya.” Kata Jeremy, membuat yoona kelihatan sedikit lega. Jeremy mendekat ke yoona dan menatapnya.

“Kau senang…?” Tanya Jeremy. Yoona menghindar. “Katakan pada Ben! Batasnya bulan febuari!”lanjut Jeremy, yoona mendongak. Namun Jeremy cepat-cepat pergi meninggalkan yoona.

“Jeremy! Tinggi!” Seru yoona memanggil Jeremy. “Apa maksud kata-katamu!? Kenapa harus begitu, Jeremy?!” Yoona bingung. Jeremy sudah jauh meninggalkannya.

___

_

Yoona tidak bisa tidur malam itu. Dia masih memikirkan ucapan Jeremy. Dia bangun, menghampiri Ben yang masih mengerjakan pekerjaannya.

“Kenapa yoona? Kau tak bisa tidur…?” Kata Ben, ketika melihat yoona. “Nanti kau masuk angin…pakailah mantelmu.”

“A…anu Ben…” kata yoona bimbang.

“Ada apa? Takut suara angin?” Tanya Ben khawatir.

“Ti…tidak. ah, sudahlah…maaf, sudah mengganggumu.” Lanjut yoona, mengurungkan niatnya memberitahu.

Ben meletakan penanya di atas meja. Beranjak dari kursinya, berjalan ke arah yoona berdiri. Mengambil mantel dan memakaikannya kepada istrinya itu. Ben memeluk yoona dari belakang.

Siang hari, kebetulan Ben libur. Tersiar kabar berita di tv, mentri Franklin telah di tangkap oleh tentara pimpinan Jendral Irvine.

Yoona memandang Ben.

“Yoona…?” Kata ben.

“A…aku tak bercerita kalau aku sudah bertemu Jeremy…katanya kita harus pergi dari Inggris…batasnya febuari tahun depan…aku disuruh menyampaikannya padamu!” Kata yoona.

Ben terkejut, mendengar ucapan yoona.

“Ben! Apa maksudnya itu!? Dia telah menangkap Mr. Franklin. Dia pasti masih merencanakan sesuatu lagi.” Lanjut yoona, Ben terdiam memalingkan wajahnya dari yoona.

“Kau tak akan membiarkan aku pergi sendirian, kan?” Tanya yoona. Ben terdiam, berpikir bisa saja ini kesempatan melarikan yoona ke luar negeri. “Ben! Kau bilang…” Kalimat yoona terputus ketika Ben tiba-tiba menariknya ke pelukannya.

“Maaf…” lirih Ben. Sambil memeluk istrinya itu. Dia berpikir Jeremy begitu mencintai yoona makanya Dia menyuruh mereka untuk pergi, untuk melindungi yoona. Dengan sepenuh hatinya. Tapi Ben rupanya juga mempunyai rencana lain.

Musim dingin, di sudut jalan. Yoona berjalan membawa barang belanjaan kebutuhan sehari-hari. Tiba-tiba Dia berpapasan dengan Bernard, bawahan Jeremy. Sedang di jalan utama sedang ramai demo menolak perang.

“Bernard…kenapa…?” Yoona bertanya. “Kenapa kau bersama Mr. Farrel…? Bukankah kau bawahan Jeremy yang setia…?”

“Nona! Anda tidak tahu!? Aku ini berkhianat pada Jendral Irvine…” jawab Bernard. Pengakuan yang membuat yoona terkejut. “Tolong jangan katakan dulu pada suamimu, jika dulu aku ajudan Jendral Irvine. Tolong jangan katakan apa-apa sampai mereka percaya padaku!” Lanjut Bernard memohon.

“Mr. Bernard…terima kasih, aku menaruh hormat pada keputusanmu dan aku berjanji untuk tidak mengatakan hal itu pada siapapun.” Kata yoona membuat Bernard lega. Kemudian keduanya berpisah.

Sudah berhari-hari jalan di kota, selalu ramai dengan demo menentang terjadinya perang. Yoona berhati-hati, agar tak terseret dalam keributan. Tapi hati itu mendadak tubuhnya lemas, serasa mau pingsan dia bersandar ke tembok di suatu gang. Dia tak bisa lagi menopang tubuhnya. Lalu Dia pingsan.

Tiba-tiba Bernard yang kebetulan lewat melihat yoona tak sadarkan diri di jalan.

“Nyonya Whishaw!” Bernard menghampiri yoona, menolongnya. “Badan anda panas sekali! Kenapa di sini?” Bernard menggendong yoona pulang.

Setibanya, Bernard membaringkan yoona di atas tempat tidur. Bernard lega, namun Dia berpikir kenapa menolongnya bukankah jika Dia membiarkan yoona tadi, lalu yoona mati rahasianya akan aman. Di rumah itu sepi, terlintas di benak Bernard untuk menghabisi nyawa Yoona. Tanpa di ketahui orang. Sebenarnya Dia tak tega juga, namun agar tugasnya berhasil Dia harus membunuh Yoona. Dia mulai mengambil sebuah pistol dari balik mantelnya.

Di lain tempat, Ben dalam perjalanan pulang.

Bernard mengarahkan pistolnya ke arah yoona. Namun tiba-tiba Dia teringat Jendral Irvine. Jendral Irvine tentunya Dia akan menyesali kematian yoona. Walaupun Dia tak pernah mengatakannya, Bernard tahu Dia begitu mencintai gadis ini. Bernard menyimpan kembali pistolnya. Beberapa saat kemudian, Ben datang.

“Yoona! Kenapa pintu depan tak dikun…” kalimat Ben terputus ketika melihat Bernard di dalam rahnya, tapi perhatiannya teralihkan ke yoona yang sedang sakit.

“Yoona!” Ben menghampiri istrinya.

“Istri anda…jatuh pingsan di jalan saya baru saja membawanya kemari, badannya panas sekali.” Kata Bernard.

“Bernard! Aku minta tolong gantikan aku. Para buruh di sana sedang merencanakan demonstrasi, katakan pada mereka untuk jangan melakukan apa-apa dulu sebelum aku datang! Aku akan menyusul.” Kata Ben.

“Si…siap.” Bernard segera pergi.

Ben terdiam, cemas dan berpikir. Kemudian Dia membawa yoona ke dalam mobil. Membawanya pergi ke tempat yang aman.

Di sisi lain, Bernard memberikan instruksi yang berlawanan kepada para demonstran.

Setibanya  di rumah bangsawan Whishaw, di westminster.

“Ben…!?” Kata nyonya rumah yang tidak muda lagi.

“Aku butuh pertolongan ibu…tolong panggilkan dokter…!!” Kata ben sambil menggendong yoona. “Ini istriku…”

Tak beberapa lama kemudian dokter datang memeriksa yoona.

“Demamnya sudah turun, nafasnya sudah teratur kembali. Anda tak perlu khawatir lagi, tinggal ditambah gizi dan cukup istirahat.” Kata dokter. “Maklum badannya bukan dalam kondisi biasa, kalau tak hati-hati…”

Ben heran. “Lho…anda belum tahu? Istri anda sedang hamil.” Terang Dokter. Ben terkejut. Sambil memandangi wajah cantik istrinya itu. Nyonya whishaw membelai rambut yoona.

“Gadis ini…akan melahirkan anakmu…!! Oh tuhanku…!” Kata Nyonya Whishaw.

Ben berpamitan pada ibunya.

“Tolong jaga istriku.” Kata Ben.

“Seringlah kau datang, biarkan Dia tinggal di sini bersamaku.” Kata Nyonya Whishaw.

“Aku akan datang sekali-kali. Terima kasih banyak, ibu.” Ben pamit dan pergi. Namun setibanya di lokasi. Jalanan telah penuh dengan para demonstran. Suasanapun menjadi kacau bentrokan massa dengan polisi. Parlemen mengadakan rapat dadakan.

__

_

Ben datang menemui istrinya.

“Tuan Ben!” Sapa pelayan.

“Mana Dia…?” Tanya Ben.

“Dia sudah sehat kembali, setiap hari keliling naik kuda…” jawab si ketua pelayan.

“Naik kuda!? Apa-apaan Dia itu! Kalau nanti celaka bagaimana!” Ben mengikuti pelayan menuju ke ruangan dimana yoona berada.

“Tenang tuan, itu cuman kuda yang pendiam dan sudah tua.” Kata si pelayan.

Nyonya Whishaw datang menyambut putranya. Mengantarkannya ke sebuah ruang tengah, terdapat perapian di sana. Yoona duduk di kursi dekat perapian dengan gaun terusan berwarna merah gelap. Dia mendongak ketika Ben datang masuk. Ben menghampirinya lalu memeluk istrinya tersebut.

“Kenapa kau lama sekali tak datang…?” Kata yoona.

“Maaf, london sekarang sudah jadi pusat kerusuhan. Makanya kami semua sibuk membahas masalah itu.” Jawab Ben. “Tak usah khawatir, kau harus menjaga bayi yang ada di rahimmu.”

Di ruang perpustakaan, di meja baca. Ben sedang mengetik di komputer. Yoona masuk membawakannya secangkir kopi. Dan meletakannya di atas meja. Ben menoleh ke yoona. Keduannya bertatapan saling tersenyum. Perhatian yoona terarah ke layar komputer.

“Sedang mengetik apa?” Tanya yoona. “Oh, aku sedang mengetik Email untuk Mr. Joseph.” Jawab Ben. Lalu memegang tangan yoona, menariknya untuk duduk di pangkuannya. Jarak keduanya sangat dekat.

Pillow’d upon my fair love’s ripening breast to feel forever it’s soft swell and fall, awake forever in a sweet unrest still, still to hear her taken breath.” Kata Ben.

“Kau baca puisi apa?” Tanya yoona penasaran. Sambil memandangi wajah Ben.

“Yours…, Bright star would i were stedfast as thou art not in lone splendour hung aloft the night.” Lanjut Ben.

“Kenapa kau bilang not? Not in lone splendour?” Tanya yoona lagi.

“Karena aku ingin dekat denganmu.” Ben mencium lembut bibir yoona. “Untuk mendengar setiap nafasmu…” lanjut Ben mencium lagi, “aku mengharapkan untuk kesetiaan abadi sebuah bintang.”

“Kau takut kalau aku takkan setia karena aku bertemu Jeremy?” Kata yoona.

“Jangan menggodaku, yoona.” Kata Ben. Keduanya tertawa.

Musim semi,Bunga-bunga bermekaran. Sejak perdana menteri mengundurkan diri dan ditangkap atas tuduhan suap.suasana agak sedikit tenang. Walaupun masih ada perang yang berlangsung. Pemilu parlemen telah dilaksanakan, partai konservatif memenangkan suara terbanyak, namun partai buruh menuntut mahkamah adanya kecurangan pemilu.Pria bernama Nick Robin sepertinya tak puas, namun Dia masih punya rencana lain.

Sidang di parlemen berakhir ricuh ketika kedua partai saling perang argumen.

Di wernworth house-Hempstead heath. Anggota partai konservatif berkumpul.

“Apa yang akan kalian lakukan? Kalau aku tak dipercaya lagi, mana mungkin bisa jadi PM!?” Kata Robin.

“Tenang dulu, robin…”kata pria tua berkumis.

“Kenapa mereka bisa tahu kalau kita para pemilik misal berkerja sama?” Tanya seorang pria perpenampilan seperti pengusaha. “Di situ persoalannya, perkumpulan itu sangat rahasia.” Lanjutnya.

Mr. Reynolds terdiam berpikir. “Jangan-jangan…” kata Mr. Reynolds.

“Reynolds, kau punya dugaan!?” Kata pria berkumis.

“Ti…tidak juga, cuma aku teringat gadis yang berhasil lari dari sini karena Kaya kurang waspada.” Mr. Reynolds menghampiri putrinya, yang duduk di ruangan tersebut.

“Ya…memang Dia bilang, Dia teman Ben.” Kata Kaya sambil menghindari tatapan ayahnya. “Tapi apapun yang dikatakannya, yang penting Dia waktu itu langsung pulang ke korea.”

“Itulah, kelihatannya Dia masih di Inggris. Dia berhasil bertemu Ben dan menceritakan tentang perkumpulan penolong rakyat.” Kata Mr. Reynolds.

“A…apa kata ayah!?” Kaya terkejut, “tak mungkin lagi! Kalau betul orang itu sudah bertemu Ben. Maka penantianku ini akan sia-dia saja…! Hik…” Kaya menangis.

“Kaya!?” Mr. Reynolds bingung melihat putrinya bertingkah seperti itu. Mengamuk.

“Sudah tamat! Sudah terlambat semua harapanku selama ini…kosong belaka!” Rengek Kaya, memukul lantai. “Hidupku kini tak berarti lagi!!”

“Begitu rupanya, baiklah kalau begitu sekarang keduanya pasti sudah bersatu. Aku harus menemukan wanita itu kembali.” Kata Robin.

“Dan bagiku,berarti sekali dayung dua pulau tetlampaui. Soalnya anakku sampai sekarang masih terus menangisi hal ini…” kata Mr. Reynolds.

Rencana Robin untuk menangkap yoona telah diketahui Bernard.

Hari cerah, Ben menuju ke kediaman orang tuanya, untuk menemui istrinya. Ben bisa melihat yoona berada di taman, menggenakan gaun terusan warna cerah membuatnya tampak manis. Mengetahui kehadiran suaminya yoona menghampiri Ben.

“Kenapa tak bilang dulu, kalau mau datang.” Kata yoona. Ben mencium kening yoona dan mengelus perut yoona yang semakin besar.

Keduanya duduk bersama di kursi taman.

“Karena kau bertemu denganku, kau jadi menderita begini.” Kata Ben. Kepala yoona bersandar di pundak lebar Ben.”waktu pertama kali bertemu denganmu, tak pernah kubayangkan bahwa kita akan jadi begini…” Ben memeluk yoona.

“Aku harus pergi…” kata Ben sambil melepas pelukannya. “Kamu sudah mau pergi!?” Tanya yoona.

“Aku masih ada pekerjaan, jaga dirimu baik-baik yoona.” Kata Ben.

“Tunggu!” Seru yoona dengan wajah cemasnya. Ben memandang yoona, memeluk yoona sekali lagi.

“Jangan berpikir yang bukan-bukan! Yang harus kau lakukan adalah menjaga dirimu. Dan mempersiapkan diri jadi ibu bagi bayi kita.” Kata Ben kemudian melepas pelukan.

“Kau akan datang lagi, kan? Sebelum anakmu lahir, kau harus pulang…” kata yoona mengantar suaminya itu ke halaman depan.

“Ya, tentu!” Jawab Ben, kemudian masuk ke dalam mobilnya. Pergi.

Yoona memandang dari kejauhan.

Setelah itu, tersiar isu di media massa. Sementara itu di kantor dewan.

“Keterlaluan tiba-tiba saja mereka ribut mengatakan Mr. Haslam adalah mata-mata korea. Hanya karena Dia keturunan korea.” Ujar Mr. Adam.

“Oh, kawan-kawan!? Coba lihat ini!” Seru pria yang agak tua di antar mereka. Sembari memikul ke sebuah artikel di layar laptop.

“Tulisan macam apa ini…!!” Ucap lelaki yang lebih muda. “Lalu ini juga…aku tak mau mengatakannya karena akan menyakiti hatimu, Ben…tentang…” kata lelaki yang lain.

“Coba kulihat!” Ben mencoba membaca artikel berita yang sudah tersebar itu. Di artikel tersebut tertulis tentang tuduhan mata-mata korea kepada yoona. Waktu itu korea sedang berperang dengan Inggris. Karena yoona orang korea maka Dia jadi pelampiasan kemarahan orang-orang.

Sementara itu di kediaman bangsawan Whishaw. Rombongan orang-orang berkumpul berjalan menuju rumah Nyonya Whishaw.

“A…ada apa, viktor!?” Tanya yoona, penasaran adanya suara ribut di luar rumah.

“Saya akan melihatnya, tolong jaga nyonya.” Viktor melihat keluar dari balik jendela. Di luar sudah banyak orang berkumpul menuntut yoona untuk keluar, mereka termakan oleh berita yang menuduh yoona adalah mata-mata korea.

“Ga…gawat! Cepat lari! Orang-orang dengan jumlah banyak dan bersenjata…” kata viktor panik.

“Bawalah ibu ke kamar yang paling aman! Lalu keluarkan semua senjata yang ada di rumah ini.” Kata yoona.

“Nyonya yoona?” Viktor cemas. “Ta…tapi keadaan anda…”

“Cepat kumpulkan semuanya dan bawa kemari!!” Arti yoona sambil mendorong sebuah meja ke ara jendela. “Kalau kita diam saja, kita akan mati konyol, aku akan bertempur! Sampai bantuan datang. Daripada mati konyol, lebih baik kita berjuang semampunya.”

Sementara itu di tempat lain. Di kediaman Mr. Reynolds. Seorang wanita muda menutup jendela.

“Kenapa Kaya? Kan panas, bukalah jendelanya!” kata Mr. Reynolds sambil mengusap keringatnya.

“Hahaha…rakyat itu bodoh sekali, amat mudah terhasut. Mudah mendengar gosip, tidak melihat kenyataan.” Kata Kaya. “Oh ya, ayah…aku sudah tidak mau menikah dengan Ben. Sekarang ini rumah keluarga Whishaw pasti sudah raya dengan tanah.”

Di sisi lain, di kediaman keluarga Whishaw. Orang-orang mulai memaksa masuk pagar.

“Bawa senjata ke jendela ini cepat! Mereka mulai masuk!” Kata yoona sambil mengawasi ke luar. Seorang laki-laki masuk. Yoona menoleh ke laki-laki itu, Bernard.

“Nyonya yoona…cepat kemari!” Bernard mengajak yoona. Menarik tangan yoona.

“Kau mau apa…!?” Tanya yoona.

“Sst! Cepatlah kita tidak punya banyak waktu!” Kata Bernard. “Ben memintaku diam-diam untuk membawa anda pergi! Cepat ikutilah!”

“Tunggu, Bernard kita harus membawa ibu mertuaku.” Kata yoona.

“Sudah terlambat!” Kata Bernard. Sementara orang-orang sudah mulai mencoba memaksa masuk.

“Apa…!? Kau menyuruhku lari sendiri enak saja!” Yoona berontak. Bernard mencoba membawanya.

Sudahlah, kalau aku tidak bisa menyelamatkan anda, kedatanganku ke sini akan sia -sia.” Desak Bernard.

“Aku…tak bisa begitu! Lepaskan!!” Yoona merintang. “Aku tak mau! Tolonglah ibu, Bernard!”

“Yoona…yoona cepat lari!! Cepat larilah kau…!” Kata Nyonya Whishaw panik.

Bernard berhasil membawa yoona pergi. Ketika orang-orang dengan paksa memasuki rumah tiba-tiba mobil bantuan datang, Ben dan orang-orang berseragam polisi datang menyelamatkan nyonya Whishaw.

“Oh tuhan, akhirnya kau datang juga.” Kata nyonya Whishaw.

“Ibu di mana yoona?” Tanya Ben.

“Bukankah Dia bersamamu!? Temanmu tadi membawanya ke tempat aman.” Jawab nyonya whishaw. Membuat Ben cemas.

Setelah itu, di sebuah hotel.  Yoona duduk termenung sendiri di sebuah kamar. Bernard masuk dengan  membawakan sebuah tas.

“Saya bawakan baju anda, dan ada beberapa baju hamil…” kata Bernard sambil meletakannya di atas meja. “Bila ada yang kurang, katakan wanita yang melayani anda. Saya tahu anda pasti sedikit takut, tapi jagalah diri anda baik-baik.”

“Kapan aku bisa bertemu dengan suamiku…kapan aku bisa menghubunginya!?” Tanya yoona sedih.

“Anda tak boleh bersikap egois begitu, saya bisa mengerti perasaan anda, tapi anda tak bisa begini terus. Kuatkan diri anda!” Kata Bernard mencoba menguatkan yoona. Yoona menutupi wajahnya yang sedang menangis.

Di kediaman keluarga Irvine.

“Mungkin berkat anak dalam kandungannya itulah Dia bisa bertahan.” Kata Bernard.

“Tak kusangka Dia hamil…” kata Jeremy beranjak dari kursinya.

“Kalau Dia tahu yang menyembunyikannya sekarang bukan suaminya…mungkin Dia akan melarikan diri…” ucap Bernard.

“Tolong jaga jangan sampai Dia tahu hal itu, setidak-tidaknya sampai bayinya lahir.” Kata Jeremy.

“Sesudah itu bagaimana?” Tanya Bernard.

“Entahlah…aku sudah berusaha menyembunyikannya dari orang-orang itu…” jawab Jeremy. Mata birunya menatap jauh ke langit.

Di sebuah hotel tua di sudut London. Yoona duduk sambil meminum segelas susu hangat, sambil memegangi perutnya yang membesar.

“Wah, ada apa ya?” Tanya si pelayan.

“Perutku…bayiku dulu sering bergerak. Sekarang tidak lagi…” kata yoona.

“Itu tandanya Dia hampir lahir. Jangan khawatir, besar lingkar perut anda normal.” Jelas si pelayan. “Kalau sudah sakit, kapan saja panggilan saya.”

“Terima kasih.” Yoona memegangi kening kepalanya. “Aduh…ah, perutku!” Keluh yoona sambil memegangi perutnya.

“Nyonya, kenapa!? Saya akan panggilkan dokter…” si pelayan berlari keluar, menghubungi dokter.

Dokter datang membantu persalinan yoona. Kemudian lahirnya seorang bayi laki-laki mungil merah. Si pelayan menggendongnya lalu memberikannya kepada yoona.

“Bayi yang tampan.” Kata dokter. Yoona memandang bayinya, menangis terjatuh.

Sementara itu, pengadilan tinggi Inggris menetapkan partai buruh sebagai pemenang yang sah, dan partai konservatif telah melakukan kecurangan. Dan beberapa orang yang terlibat akan diperiksa.

Beberapa hari setelahnya. Di kantor dewan. Ben membaca sepucuk surat dari Bernard. Memberitahukan keadaan yoona. Sementara itu di luar berita kemenangan partai buruh membuat jalanan penuh dengan orang-orang yang merayakannya. Ben mengendarai mobilnya menuju istrinya berada, namun karena jalan ditutup maka di berjalan kaki menuju hotel. Dia berjalan berlawanan arah dari orang-orang.

Di hotel tua di sudut kota London. Yoona menidurkan bayinya di tempat tidur bayi.

“Kalau tak salah hari ini, ya…Nick Robin pulang dari Amerika.” Kata yoona.

“Si ambisius itu! Aku benci lelaki itu! Kenapa orang seperti itu harus jadi PM kami.” Ujar si pelayan, sambil merapikan tumpukan baju. “Baik bangsawan ataupun tentara aku tak suka, bagiku Jendral Irvine lebih baik daripada mereka. Menurutku anda beruntung nyonya, Dia begitu baik mengurus anda.” Si pelayan keceplosan.

Yoona melirik kaget ke arah pelayan.

“Ba…barusan…kau…bilang apa!?” Tanya yoona shock.

“Oh…anu…tidak…” si pelayan ketakutan.

“Kau bilang apa!? Jendral Irvine, katamu!?” Yoona menarik kerah baju wanita pelayan tersebut.

“Ooh…aku tidak bilang apa-apa, tidak!!” Si pelayan ketakutan. “Aku tak tahu apa-apa, aku hanya diminta Mr. Bernard…”

Yoona melihat keluar jendela. Terlihat di tengah jalanan telah banyak orang. Kemudian yoona berlari keluar menuruni anak tangga.

“Nyonya!!” Si pelayan mengikuti yoona.

Di keramaian, Ben berjalan. Tiba-tiba seorang lelaki tak dikenal menembaknya hingga Dia terjatuh. Ben bisa melihat darah merembes keluar. Lelaki tersebut kabur di antara orang-orang. Namun Ben masih bisa bangkit. Sekuat tenaga Dia menuju tempat istrinya berada.

Di sisi lain yoona berlari menuruni anak tangga. Beberapa saat kemudian Ben telah dekat di depan hotel. Yoona telah berada di lantai bawah, melihat sosok suaminya di depan pintu masuk, sambil berpegangan pada daun pintu. Yoona menghampirinya, memeluk Ben. Yoona mendapati darah keluar dari tubuh Ben.

“Apa ini, darah…?” Yoona panik.

Karena tak kuat lagi Ben roboh. Bersandar ke yoona.

“Pelayan! Panggil dokter! Atau ambulans, cepat!” Seru yoona.

“Darling girl, i have been wondering where you were.” Kata Ben.

“I never did go to town, i have been waiting to be with you whole day.” Kata yoona. Membelai wajah suaminya tersebut.

“There was a great rush of blood, such that i thought i cannot survive, that i would suffocate…” kata Ben kesakitan. “I tell you this is unfortunate, and my thoughts were of you.” Lanjut Ben.

“Bertahanlah, kau belum bertemu putramu.” Kata yoona. Air matanya mengalir.

“Sampaikan salamku padanya, katakan ayahnya sangat mencintainya.” Kata Ben,”yoona…kasihan kau istriku…” nafas Ben berhenti, menutup matanya. Ben died imperceptibly…

Yoona menangis tersedu-sedu. Bagaikan mimpi baginya, Ben telah tiada.

____

___

__

Sudah beberapa hari, sejak kematian Ben. Yoona menjadi pemurung. Pintu dibuka seorang gadis berambut pirang masuk bersama seorang lelaki berseragam tentara.

“Yoona, ini aku Dakota. Masih ingat?” Kata Dakota. Yoona menoleh pada Dakota, Air matanya mengalir. Dakota memeluk yoona.

__

Sejak parlemen menurunkan Nick Robin dari kursi PM dan ditetapkan sebagai tersangka kecurangan pemilu, juga upaya rencana kudeta dan pembunuhan atas Benjamin. Dia di tahan. Sedangkan Jeremy Irvine masih dibayangi rasa bersalah pada yoona. Dia menyuruh Dakota mengantarkannya ke tempat nyonya Whishaw, di chichester.

Tamat.

Sorry jelek dan gak jelas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s