Orpheus of Love (Chapter 2)

PicsArt_10-14-09.45.13

Author by isaac jacobs
Judul: Orpheus of love. Chapter 2
Genre: romance. Drama.
Ratting: PG-15
Cast: Benjamin whishaw, im yoon ah, jeremy irvine.
Support cast: dakota fanning, collin farrel, kaya scodelario, and other.
Inspired by “jendela orpheus” by ryoko ikeda and john keats. Maaf jika jelek dan gak jelas.

.

Sudah dua bulan ben dan yoona bermain kucing-kucingan tidak ada yang tahu tentang hubungan mereka kecuali sedikit, terutama Mr. Farrel. Di awal desember ini Mr. Severn telah kembali mengajar. Ben akan mengakhiri tugasnya dan segera pergi namun belum memberitahu yoona.

Ben berpapasan dengan Mr. Farrel di koridor kampus. “Ben, bisakah kau kemari.” Ajak Mr. Farrel. “Tapi, aku mau ke ruang latihan.” Namun Mr. Farrel terlihat begitu mendesak Ben terus. “Sekarang, tolonglah ini penting.”

“Baiklah.” Ben mengikuti Mr. Farrel dari belakang.

Di sebuah ruang latihan piano kosong, keduanya membicarakan suatu masalah serius. Yoona menuruni anak tangga dan berhenti, dia bisa mendengar Ben dan Mr. Farrel mengobrol. Yoona membuka pintu dengan pelan. Ben menengok dan melihat ke arah yoona. Mr. Farrel menghentikan pembicaraanya dan melihat kepada Ben dengan jengkel.

“Apa?” Tanya Ben kepada Mr. Farrel.

“Sudahkah kau memberitahu nona im tentang liburan musim dingin kita, atau aku yang harus memberitahunya?” Kata Mr. Farrel. “Belum.” Jawab ben. Yoona melihat ke Ben dengan penasaran.

“Tugas kami sudah berakhir, dan kami berdua harus pergi.” Kata ben.

“Kami ada pertemuan di chichester untuk suatu urusan penting.” Jelas ben kepada yoona. Yoona kecewa, dia beranjak dari tempatnya dan pergi. Ben keluar ruangan mengikuti yoona. “Yoona aku ingin bicara!”

“Tidak! Aku tidak mau bicara denganmu. Kau mempermainkanku! Apa kau puas?!” Kata yoona sedih dan jengkel.

“Aku tidak punya pilihan lain, aku punya pilihan yang harus aku tanggung resikonya. Jika aku gagal, aku benci memikirkannya. Aku harus membuat jalan untuk keduanya, dan menyukaimu adalah menjadi keinginanku.” Kata Ben.

“Aku tidak akan menyukaimu lagi, atau yang lain! Aku membencimu!” Yoona mengusap air matanya.

Ben terdiam, gelisah tak berdaya melihat yoona berlalu pergi. Mr. Farrel mendatanginya dan hanya bisa mengangkat alisnya.

***

Musim dingin ini musim terdingin bagi yoona, semenjak ben pergi dan hanya memberinya surat yang berisi untuk meminta gadis itu melupakannya. Malam natal yang sedih untuk kedua anak manusia yang terikat oleh takdir.

Yoona kecewa. Duduk di kursi dengan seekor kucing di pangkuannya. “Hidupku tidak lebih dari seekor kucing, aku tidur, aku mandi, aku berputar-putar ruangan seperti aku tidak pernah hidup di rumah ini.” Air mata yoona mulai mengalir.

Music terdengar dari kejauhan. Dan suara orang-orang tertawa di sebelah dari kejauhan.

Di dalam kamar, yoona berbaring malas di kasur. Nyonya Hunt masuk ke kamar dengan membawa sarapan dan secangkir teh. Yoona mendongak.

“Ada denganmu, sayang?” Tanya nyonya Hunt kepada putri angkatnya.

Yoona berbaring lagi di kasur, meringkuk dan sedih.

“Sedang jatuh cintakah aku? Beginikah rasanya cinta? Ini benar-benar sesuatu yang menjengkelkan. Aku seharusnya tidak pernah mencobanya, ini sangat sulit. Aku harus memusnahkannya.”

***

Setahun berlalu yoona memnyelesaikan kuliahnya, hingga suatu ketika kejadian terjadi. HP berdering, yoona mengangkat. “Hallo dengan nona Hunt atau nona Im?” Tanya seorang dari hp yoona. “Ya, saya sendiri. Ada apa?” Jawab yoona

“Begini nona, dengan sangat menyesal kami harus mengabarkan kepada anda bahwasanya kami turut berduka cita atas meninggalnya orangtua angkat anda dan adik perempuan angkat anda, mereka memilik meninggal dalam kecelakaan.. .” Suara si penelepon terasa petir di siang bolong bagi yoona, kaki yoona lemas serasa bumi runtuh. Dulu orangtua kandungnya sekarang orangtua angkatnya berakhir dengan kecelakaan.

“Hallo. ..hallo…nona…” yoona shock, mengacuhkan si penelepon.

Malam hari, yoona ke rumah sakit melihat jenazah orang tua angkat dan adik angkatnya. Air mata yoona tak terbendung lagi. Beberapa saat kemudian, seorang laki-laki agak tua beruban menghampirinya. “Permisi nona, perkenalkan saya Alexander Smith, saya adalah pengacara keluarga Hunt. Saya ingin menyampaikan pesan tuan Hunt kepadamu.”

Yoona memandangi lelaki itu dengan mata sedihnya. “Apa yang akan anda sampaikan kepadaku?”

“Begini nona, sebagai anak angkat tuan Hunt anda harus mengetahui  rahasia yang selama ini disimpan oleh ayah angkat anda, tuan Hunt menyuruhku memberikan surat ini kepada anda.” Mr. Smith sembari memberikan sepucuk surat kepada yoona. Yoona mengambilnya, dan membacanya.

Yoona sayang.

Maafkan paman, kunci yang kuberikan padamu. Simpanlah baik-baik karena itu adalah kepercayaan raja kepada keluargamu, sesungguhnya orangtuamu yang menyimpan harta kerajaan inggris.  Aku harap kau pulang ke korea, karena orang-orang dari gerakan bawah tanah mengincarnya. Kuharap kau selamat.

“Maaf, kau harus tahu bahwa ada fakta tidak menyenangkan polisi yang memeriksa kecelakaan mengatakan bahwa ada faktor kesengajaan, dugaanku ada yang sengaja membunuh mereka.” Kata Mr. Smith.

Yoona mendongak. “Maksud anda mereka dibunuh?” Mr. Smith mengangguk.

“Untuk apa mereka membunuh orangtua angkatku?” Tanya yoona.

“Kau tahu Mr. Hunt dekat dengan kerajaan, dan orangtua kandungmu juga dekat dengan kerjaan inggris. Sayangnya mereka bernasib sama.” Kata Mr. Smith.

“Ya, aku ingat kecelakaan yang merenggut orangtua kandungku.” Yoona mengingat kembali.

“Orangtua kandungmu dan angkatmu mereka dibunuh oleh orang yang sama, dan kondisi inggris sekarang sedang kacau. Ada sekelompok orang-orang menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginan mereka. Dan aku khawatir hal itu terjadi padamu.” Kata Mr. Hunt. “Aku sudah mempersiapkan semua ha.”

Yoona terdiam sejenak melihat untuk terakhir kalinya orangtua angkatnya. “Tak bisakah menunggu sampai pemakaman, aku ingin menyertai mereka untuk terakhir kalinya.” Yoona menatap dengan sedih.

Di pemakaman umum, yoona melihat tuan Hunt kemudian nyonya Hunt dimasukan ke dalam liang lahat dan juga si kecil rebeca. Awan mendung menghiasi langit. Yoona berbaju hitam ditemani Mr. Smith bermantel hitam.

Keesokan harinya yoona telah bersiap berangkat ke bandara. Mr. Smith telah menunggunya di bandara. Taksi yoona tiba-tiba berhenti.

“Berhenti! Berhenti! Polisi kosongkan jalan!” Seru seorang polisi. Di depan sudah banyak orang-orang berkumpul.

“Ah…hari ini anjing-anjing pemerintah itu datang lagi menangkapi orang.” Ujar si sopir taksi.

Di seberang terdengar tembakan. “Mundur! Kawan-kawan mereka sembunyi di atas dan mempunyai senjata!” Teriak seorang polisi. Suasana menjadi ricuh. Yoona penasaran memperhatikan dari jendela mobil. “Nona sebaiknya anda jangan turun, kalau terlibat masalah ini, saat membuka mata kembali,pasti sudah di dalam penjara.” Kata si sopir mengingatkan yoona. Namun yoona seperti tak mendengar ketika matanya melihat sesosok laki-laki yang mirip Ben dan Mr. Farrel. Begitu yoona melangkah keluar dari mobil seketika gerombolan demonstran berlarian menghindar dari kejaran polisi, yoona terhimpit di tengah-tengah orang-orang. Polisi melepaskan tembakannya. Dan yoona tertembak membuatnya jatuh, di tengah jalan yang di penuhi para demonstran.

***

Yoona terbangun dengan kepala terasa pusing. Dia melihat dirinya berada di sebuah kamar bergaya klasik eropa yang indah. Dia berusaha bangun namun kepalanya masih sakit. Dia bertanya-tanya dalam dirinya dimana dirinya sekarang. Yoona melangkah dengan sempoyongan dari kamar tiba-tiba seorang pelayan dengan ekspresi kaget memanggil majikannya yang kebetulan lewat ke ruang tengah. Seorang lelaki tinggi tegap berbaju tentara melihat yoona. Namun tiba-tiba yoona pingsan.

Yoona gelisah setengah sadar. “Kuatkan dirimu! Ayo, buka matamu!” Kata seorang gadis berambut pirang sebaya dengan yoona dengan ditemani pelayan di sampingnya.

Yoona membuka matanya.

“Dia sadar, syukurlah” kata si pelayan. “Tenang ya…” ucap si gadis pirang menenangkan yoona. Yoona sadar dengan wajah pucat memandang gadis pirang yang di hadapannnya.

“Siapa kau?” Tanya yoona.

“Namaku dakota irvine.” Jawab gadis tersebut.

“Ini…dimana…?kenapa…? Siapa aku…” yoona gelisah. Dia tidak bisa mengingat apapun.

“Namaku siapa? Namaku siapa? Kenapa aku di sini?” Yoona panik.

“Aku ini siapa?! Waaaa!!!” Yoona memegangi kepalanya, dakota berusaha menenangkan yoona.

“Pelayan panggilkan kakakku! Cepat!” Seru dakota.

Beberapa saat kemudian lelaki yang bernama jeremy irvine 27 tahun datang.

“Hilang ingatan?” Tanyanya.

“Sstt…aku sudah menenangkannya.” Kata dakota. “Namanya sendiri dia lupa, menurut cerita para tentara, dia tertembak dan jatuh dengan keras.”

Jeremy memperhatikan yoona yang sedang tertidur dengan kasihan.

Jendral jeremy irvine tentara dan bangsawan yang dekat dengan kerajaan inggris. Dia memeriksa identitas yoona, dan mengorek data pribadi yoona. Tidak sulit bagi pejabat seperti jeremy.

Yoona bangun dengan perasaan stabil dari sebelumnya. Dokter telah memeriksanya. Dakota menjaganya.

“Kata dokter kau hilang ingatan tapi tidak permanen, kau ingat namaku dakota irvine, ini di london kamu ingat? Kamu tertembak karena ada di tengah massa saat ada demonstrasi di jalan…” kata dakota menjelaskan kepada yoona. “Kamu pingsan selama tiga hari, panas tinggi dan mengiggau kami jadi khawatir.”

Jeremy masuk ke kamar di mana yoona dan dakota berada.

“Dia sudah sadar? Perkenalkan namaku jendral jeremy irvine kau sekarang berada di bawah perlindungan keluarga irvine, yang membawamu kemari bawahanku.” Kata jeremy.

“Namamu adalah im yoon ah, kau berasal dari korea selatan, sudahlah kalau kamu sudah sembuh benar pemeriksaan akan di lakukan atas dirimu lebih seksama.” Kata jeremy.

“A…aku ini bukan mata-mata!” Kata yoona.

“Yang memutuskannya bukan kamu tapi aku!” Jeremy kemudian keluar kamar dan menutup pintu.

Yoona dengan wajah pucatnya berbaring.

“Jangan terlalu menggapi kakakku, dia seorang tentara. Terlalu pandai…jadi kadang-kadang sikapnya dingin padahal dia orang baik. Kamu boleh istirahat sampai luka dan ingatanmu sembuh. Oh ya, mungkin umur kita sama.” Kata dakota menghibur yoona.

Jeremy membaca dokumen pribadi yoona yang dikirim bawahannya, dan membaca surat pribadi dari ayah angkat yoona. Dia harus memberitahukan raja, sebelum orang lain tahu.

Hari-hari berlalu luka yoona telah sembuh, untuk mengembalikan ingatannya keluarga irvine memanggil psikolog yang akan memberinya trapi. Yoona membaca kartu identitasnya dan buku catatannya berulang-ulang. Namun ingatannya masih asmar-samar terkecuali sebuah coretan nama di kertas partitur miliknya yang membuat otaknya berkerja keras untuk mengingatnya.

“Selamat datang tuan, wajah anda tidak secerah biasanya.” Kata ketua pelayan menyambut kedatangan jeremy.

“Tidak usah khawatir.” Kata jeremy.

“Bagaimana keadaan di westminster?! Ayah kita tentunya berada di posisi yang kurang menguntungkan, ya.” Kata dakota. “Perang melawan rakyat ternyata berlangsung lama, tentara di sana sudah kepayahan.” Jawab jeremy.

“Jadi…harus ada bantuan…!?” Tanya dakota khawatir.

“Aku belum tahu, tapi tentara bantuan memang harus dikirim.” Wajah jeremy kemudian mendongak kepada dakota. “Bagaimana keadaan yoona…?”

“Sekali-kali tengoklah dia oleh kakak sendiri.” Jawab dakota.

Di luar salju turun dengan lebat. Yoona membuka pintu, terasa mengingat sesuatu. Wajah yoona berubah pucat dia berusaha mengingat sesuatu.

“Sedang apa kau!? Saljunya jadi tertiup ke dalam! Kau mau mati beku!” Jeremy khawatir. Yoona lemas dan hampir roboh. Jeremy membaringkannya di sofa.

Yoona tersadar.

“Waktu aku melihat salju, rasanya. Aku bisa mengingat sesuatu. Akhir-akhir ini kepalaku selalu sakit bagaikan pecah…” yoona menceritakan perasaannya, jeremy mendengarkannya.

“Aku merasa pasti di masa laluku ada kejadian yang mengerikan di malam bersalju…”

“Mungkin hal itu sebaiknya kau lupakan saja…” ujar jeremy.

“Jeremy …kamu baik sekali.” Ungkap yoona. Membuat jeremy agak canggung. Kemudian beranjak dari kursi.

“Maaf, apa aku menyinggungmu?” Tanya yoona yang merasa tak enak.

“Ti…tidak, baru kau yang mengatakan aku orang baik.” Jawab jeremy.

“Kalau ingatanku sudah kembali, aku pasti akan membalas semua budi baikmu padaku. Tapi sementara ini semoga kau selalu masih mau  membantuku, jeremy.”kata yoona.

Pagi-pagi di kediaman keluarga irvine terjadi keributan.

“Polisi katamu?!” Dakota kaget mendengar seorang pelayan memberitahunya sekelompok polisi mencoba masuk rumah.

“Ada keperluan apa? Kakakku sedang bertugas. Tidak sopan sekali…tiba-tiba masuk rumah orang…” kata dakota.

“Kami datang kemari untuk membawa seorang gadis korea yang bersembunyi di sini” kata seorang tentara, “ini perintah dari pemimpin kami, izinkan kami menggeledah rumah.”

Dakota shock, tidak tahu harus berbuat apa.

“Apa…apa kata anda? Kalian mau membawa anak itu?” Dakota cemas.

“Ini surat perintahnya, nona…” seorang polisi sembari menunjukan surat perintah kepada dakota.

“Tinggu! Tunggu sampai aku menghubungi kakakku!” Cegah dakota ketika melihat para polisi itu membawa yoona secara paksa.

___

__

_

“Apa…katamu!?” Jeremy panik.

“Apa boleh buat…mereka polisi. Aku tak sempat bertanya mau dibawa ke mana, dan apa tuduhannya. Setelah lewat setengah hari aku bisa berhubungan dengan kakak.” Jelas dakota yang bisa memahami kecemasan kakaknya.

“Aku pergi dulu.” Jeremy berpamitan.

“Ya…mantelmu di bawah. Hati-hati, ya.” Kata dakota mengerti kakaknya akan pergi ke mana.

Di sisi lain yoona berada di sebuah ruangan kecil. Dua orang polisi membawanya keluar.

“Aku mau dibawa ke mana?” Tanya yoona ketakutan. Kemudian yoona dibawa ke sebuah ruangan besar dan mewah yang dihiasi lampu kristal yang menggantung.

“Si…siapa kau!?” Tanya yoona begitu sesosok pria tua dengan berjas hitam menghampirinya. Seperti seorang pejabat.

“Apakah kau yang menyeretku dan menyekapku dalam kamar bobrok itu? Memangnya apa yang telah kulakukan?!” Yoona jengkel dengan orang jahat berbaju pendeta tersebut.

“Tenanglah, di sini tak berapa jauh dari istana utama raja. Ada sedikit yang ingin kutanyakan padamu…” pria tua itu mulai menghipnotis yoona. “Kamu cukup menjawab pertanyaanku dengan tenang. Sebentar lagi kamu akan merasakan kesulitan, lihatlah ujung jariku dari situlah mulainya bunga api neraka.”

Yoona mulai tak sadarkan diri. Pria tua itu berlari menuju ruangan berisi para pejabat.

“Aku ingin kalian memeriksa gadis korea bernama im yoona, dia bangsawan dari seoul. Keluarga im dari seoul…? Kalau kalian bisa membuktikan hal ini maka kedudukan Irvine akan goyah.” Kata si pendeta.

Seorang pejabat keluar memberitahukan kepada jeremy.

“Oh…jendral irvine! Kebetulan aku sedang mencarimu. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu.”

“Oh,anda…ada hal yang menyulitkanmu?” Kata jeremy.

“Gadis korea itu, anak keluarga im dari seoul. Kalau anak itu bicara pada si Franklin gilaFranklin itu, soal rahasia itu…bukan…bukan dia saja, kalau seluruh bangsawan dan rakyat di negeri ini sampai tahu hal itu maka…raja sudah sejak lama menyimpan hartanya secara diam-diam di luar negeri, di jerman, swiss, dan korea selatan. Semua itu untuk persiapan lari keluar negeri bila ada sesuatu di sini, atau bila terjadi sesuatu pada raja semua itu akan jadi milik ahli warisnya.”

“Dan yang menyimpankannya di korea adalah im jung su, karena dia sudah meninggal, pasti yang menyimpan kunci bank negara di sana adalah anaknya!”

Jeremy terkejut.

“Aku yakin gadis itu orangnya. Kita harus melakukan sesuatu negara kita dalam keadaan kacau kalau hal ini diketahui umum, mereka semua akan memberontak dan kerajaan ini akan hancur lebur.”

“Aku sahabat anda? ” jeremy bertanya, “anda ikut rapat rahasia membantu pendeta gila itu menjatuhkan aku, sahabat?” Sindir jeremy.

“A…duh…maafkan aku soal itu. Jendral Irvine, maafkan…sekarang bantulah aku melakukan sesuatu.” Si pejabat tersebut memohon.

Jeremy datang menghadap raja.

“Apa? Mentri Franklin melakukannnya?” Raja heran.

“Yang mulia, dia menyeret gadis itu dari rumahku tanpa izinku. Lalu dia mengatakan pada semua orang bahwa gadis itu bernama yoona im.” Kata jeremy.

“Im…” gumam raja.

Jeremy bisa melihat kecemasan raja.”tapi itu hanya bohong belaka, sebab gadis itu mengalami hilang ingatan akibat jatuh di jalan.kami menolongnya dan merawatnya.”

“Hadapkan gadis itu padaku!” Seru raja.

Yoona diantarkan menghadap raja, semua pejabat melihat kepadanya. Yoona ketakutan.

“Kalau begitu aku tanya langsung, siapa namamu?” Tanya raja.

Yoona cemas, kepalanya tiba-tiba berat.

“Apakah namamu yoon ah im?” Tanya raja sekali lagi.

“Aku tak tahu nama siapa itu, yang pasti aku hanya mahasiswi asing biasa.” Yoona tak bisa menahan sakit kepalanya, sedangkan semua orang di dalam ruangan itu terkejut. Tiba-tiba mendadak semua menjadi kabur, kemudian yoona jatuh pingsan.

___

__

Di Wentworth house-Hampstead heath. Anggota partai konservatif berkumpul. Ben dan Mr. Farrel duduk bersama dengan anggota lain, mendengarkan Mr. Reynolds berbicara.

“Kalau parlemen memberi kekuatan bagi kaum borjuis, maka hidup berkecukupan tidak hanya dirasakan oleh kelompok borjuis…akan tiba saatnya hak kelompok borjuis dimiliki pula oleh kelompok proletar. Bila kelompok pemilik modal untung buruh pun harus mersakannya.” Ungkap Mr. Reynolds.

“Apa bisa begitu?” Kata Mr. Farrel menimpali.

“Sekarang ini para pekerja itu masih dikuasai anda, jadi bisa dipakai untuk meraih keuntungan anda. Tapi kalau mereka sudah punya hak penuhnya sebagai manusia. Anda akan dicap sebagai musuhnya, dan anda akan berubah pendapat.” Terang Mr. Farrel.

“Co…collin farrel!” Kata Mr. Reynolds shock.

“Aku sudah tahu kalau dunia kelompok bangsawan adalah dunia orang borjuis. Pendapatmu rak akan menolong rakyat! Mereka tetap saja diperas. Aku sudah muak dengan sandiwara begini!” Ungkap Mr. Farrel. Kemudian keluar meninggalkan rapat.

“Farrel! Tunggu!!” Seru Ben. “Sudah, biarkan. Dia sudah bukan anggota partai ini lagi…” ujar Mr. Richard sambil mencegat Ben.

Beberapa saat setelah rapat selesai. Mr. Reynolds dan Ben berdua di dalam ruang, berbincang.

“Aku tak menyukai kelompok bangsawan, tapi lain denganmu Ben…sebetulnya ada yang ingin kukatakan padamu begini…ini tentang putriku…” kata Mr. Reynolds. Ben meminum teh.

“Kalau rencana ini berhasil, aku bermaksud menikahkanmu dengan putriku. Bagaimana pendapatmu?”

Ben hampir menumpahkan cangkir tehnya,ketika mendengar perkataan Mr. Reynolds.

“Apa?!” Tanya Ben shock.

“Aku serius, kamu tidak menyukai Kaya? Kalau kau mau jadi suaminya dan tinggal di sini, kau kuangkat jadi pewaris seluruh hartaku. Pabrik, rumah besar ini, villa, pesawat, mobil.” Bujuk Mr. Reynolds.

“Kalau untuk mengelola pabrik banyak di antara anggota lainnya yang lebih pandai.” Jawab Ben.

“Tidak! Tidak bisa karena Kaya tidak menyukainya. Selain itu…sudah cita-citaku untuk menikahkan putriku dengan anak keluarga bangsawan berdarah biru.” Mendengar Mr. Reynolds berbicara, Ben akhirnya tahu maksud liciknya.

“Mr. Reynolds…! Itulah anda sebenarnya. Pura-pura membenci keluarga bangsawan, padahal…selain kekuatan harta, anda pun mendambakan gelar bangsawan! Iya kan!?” Kata Ben kesal.

“Ssstt…Ben…” sergah Mr. Reynolds.

“Sayang sekali! Kau sudah salah meminta itu padaku!!” Ben berjalan menghampiri pintu keluar. “Sekarang ini para anggota sedang memerlukanmu, jadi aku bisa melupakan hal ini. Tapi aku sudah tahu siapa dirimu!” Ben membuka pintu dan berpapasan dengan Kaya Reynolds, gadis yang menyukainya. Namun karena kesal Ben mengacuhkannya, dengan pergi begitu saja.

“A…yah…” rengek Kaya pada ayahnya.

“Sstt…tidak apa, jangan khawatir. Aku akan usahakan supaya dia menuruti kemaunku.” Hibur Mr. Reynolds.

Sejak Mr. Farrel bergabung ke partai buruh, Ben kehilangan teman seperjuangannya. Dia merasa tidak betah di Konservatif dan merasa ada banyak kepalsuan di dalamnya. Ben berniat menyusul Mr. Farrel ke london, bergabung dengan partai buruh.

***

Di sebuah tempat berlangsungnya konser musik orkestra di central london. Yoona dan jeremy menghadiri acara tersebut. Seorang perempuan agak tua datang menghampiri yoona dari belakang.

“Permisi, kau…” kata wanita tersebut. Yoona menoleh kepadanya.

“Tak kusangka kita bisa bertemu di gedung orkestra ini…kau masih ingat aku? Aku Mrs. Smith mentormu.” Kata mrs. Smith, membuat yoona mengernyitkan dahinya.

“Ya tuhan, kau masih ingatkan dulu kau bersama Mr. Whishaw bermain musik di sini.” Terang Mrs. Smith.

“Siapa itu Mr. Whishaw…? Dan anda sendiri siapa? Apakah aku kenal orang itu…?” Yoona keheranan dengan nama pria tersebut.

“A…apa katamu?! Kau tak ingat kau pernah menjalin hubungan dengan Mr. Whishaw… aku tahu itu walaupun kalian tidak pernah bilang.” Mrs. Smith shock melihat yoona tak ingat apapun. Jeremy menghampiri yoona.” Maaf nyonya” kata jeremy.

“Ayo,pertunjukan segera dimulai.” Ajak jeremy.

“Aku tahu jeremy.” Yoona dan jeremy pergi meninggalkan Mrs. Smith.

Di tengah pertunjukan, kata-kata wanita tadi terus mengusik pikiran yoona. Hubungannya dengan pria bernama belakang Whishaw, membuatnya bertanya-tanya.

“Kau pucat sekali…kenapa?” Tanya jeremy khawatir. “Jeremy, maaf…aku sedikit pusing. Aku mau keluar…” jawab yoona beranjak dari tempat duduknya kemudian keluar.

Tengah malam bersalju lebat. Angin kencang membuat jendela kamar terbuka. Yoona panik dan ketakutan berlari mencari jeremy.

“Jeremy! Kau di mana!?” Yoona menggedor pintu dan berusaha masuk. Terlihat jeremy sedang di meja kerjanya.

“…ada apa? ” tanya jeremy melihat yoona panik. Tiba-tiba yoona memeluk jeremy.

“Jendela terbuka kupikir seseorang melukai semua…” kata yoona ketakutan.

“Kamu aneh-aneh saja…!itu kan hanya angin. Ayo…jangan ganggu pekerjaanku…” kata jeremy.

“Jangan biarkan aku sendiri! Aku benci badai salju…!jika mendengar suara itu badanku jadi menggigil.” Yoona gemetaran memenggangi jeremy.”tidak…aku tak mau sendirian…!” Jeremy melepaskan yoona. Menyiapkan bantal membuat tempat berbaring di sofa ruang kerjanya. Yoona berbaring, sedang jeremy menemaninya. Air mata yoona mengalir, jeremy menggenggam tangan yoona dengan lembut. Hati jeremy yang dikenal dingin telah luluh oleh gadis malang tersebut.

***

Bersambung.

 

4 thoughts on “Orpheus of Love (Chapter 2)

  1. kasian banget yoona unnie harus hilang ingatan… siapapun intu diantara ben ata jeremy…i dont care as long as yoona happy
    ditunggu next çhapternya thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s