Orpheus of Love (Chapter 1)

CYMERA_20150923_172323

 

 

 

ORPHEUS OF LOVE

Chapter 1

Author: isaac jacobs

Genre: romance,sad

Main cast:benjamin whishaw, im yoon ah/sara Hunt.

Support cast:

collin farrel, jeremy irvine,dakota fanning as dakota irvine, kaya scodelario, marly streep as ibu ben whishaw.

PG-15

Terinspirasi manga “JENDELA ORPHEUS” by ryoko ikeda dan john keats.

.

A thing of beauty is a joy for ever its loveliness increases it will never pass into nothingness”  Endymion by john keats.

.

Siang hari di musim semi, di dalam sebuah ruangan Royal Academy of music,marylebone, central london, England.

Benjamin whishaw 28 th, sedang melihat-lihat dengan mata biru kehijauannya kertas formulir peserta audisi piano. Pria berambut coklat ikal tersebut sedang mencari pemain piano untuk grup orkestra pimpinannya.lebih tepatnya dia menggantikan posisi mr.severn untuk sementara.

“Harus berapa orang lagi yang harus di audisi? ” kata mr.farrel kepada ben.

” lima orang lagi mungkin, dan sudah tiga kali aku belum menemukannya! ” jawab ben kesal.

“Tenang ben,sikap aroganmu tidak akan membantumu apapun…” mr.farrel mengambil kertas dari meja kerja farrel ikut melihat-lihat. “Kau sendiri yang menolak mereka semua, aku ingat si Patel dia lumayan bagus.”

“Yang benar saja, dia terlalu bermain ngotot tidak natural…” kata ben sinis “andai mr.severn tidak menyuruhku aku sudah di wina sekarang.”

Mr.farrel meletakan kertas di atas meja kembali.”sudah jangan mengeluh. ..lakukan saja tugasmu…” Mr.farrel berjalan menuju pintu ” kupikir kau butuh udara segar ben, udara di musim semi sangat bagus untuk seorang yang sedang kacau.” Mr.farrel meraih pegangan pintu.

“Kau mau kemana farrel?” Tanya ben.

“Aku pergi dulu,sampai jumpa di audisi sore nanti. ” mr.farrel keluar dari ruangan tersebut meninggalkan ben dengan pikiran kacaunya.

“Udara musim semi?” Gumam ben sambil beranjak dari kursi kerjanya,berjalan ke arah jendela. Dia membuka jendela, angin musim semi menerpa wajahnya. Dia melihat ke sekelilingnya, dari jendela yang berada di ruang latihan sebelah dia melihat seorang gadis asia sedang latihan. Saat gadis tersebut memainkan piano ada perasaan aneh yang ben rasakan, dia terus memperhatikannya hingga gadis tersebut berhenti dan pandangannya menatap keluar jendela, seperti tak menyadari ada seseorang sedang mengawasinya dari jauh.gadis tersebut tersenyum kepada burung kecil yang bertengger di dahan pohon. Ben terpesona sejenak dengan gadis berambut hitam panjang tersebut. Tiba-tiba datang seorang gadis lain datang mengajaknya keluar dari ruang latihan itu.

“Drrtt. …drrrrt. ..” HP milik ben bergetar di atas meja kerjanya. Ben berjalan ke arah meja kerjanya dan mengambilnya. ” Mr.Reynolds. ..” katanya lirih membaca nama si penelepon sebelum dia menekan tombol hijau di HPnya.

“Hallo, Mr.Reynolds…bagaimana? Anda ingin pertemuan di restoran manchester? …. baiklah malam ini, sampai jumpa.” Setelah menutup HPnya pandangannya melihat keluar jendela melihat ruang latihan yang telah kosong tak ada seorangpun di sana.

Sore harinya, di Royal academy of music. Ada lima orang menunggu di luar ruang aula, untuk audisi terakhir. Im yoon ah atau biasa dipanggil yoona, gadis 20 th. Yoona berasal dari korea selatan sudah 6 th dia tinggal di United Kingdom bersama orangtua angkatnya, semenjak orangtuanya meninggal dunia yoona di adopsi oleh sahabat orangtuanya. Mr.Hunt dan Mrs.Hunt mereka sangat menyayangi yoona seperti anak kandung mereka sendiri. Yoona terkena giliran terakhir. Setelah seorang gadis kulit hitam telah keluar dari ruang audisi terlihat murung, membuat yoona gugup. Tibalah gilirannya, yoona menenangkan dirinya dan kemudian masuk ke dalam ruangan. Di dalam ruang audisi telah ada juri, Mr.Farrel, Mrs.Smith, Mr.brown, dan tentu saja Mr.whishaw.

“Silahkan nona im” kata Mrs.smith mempersilahkan yoona untuk mempertunjukan permainan pianonya. Yoona kemudian duduk dan mulai memainkan grand piano di depannya. Yoona memainkan piano in Eb ’les adiuex’,op.81 milik Beethoven. Semua juri memperhatikan sambil mencatat penilaian mereka, terkecuali benjamin whishaw. Raut mukanya dipenuhi kekecewaan, padahal di awal wajahnya agak cerah melihat yoona.

Yoona selesai memainkan piano. Semua juri berunding. ” nona im aku suka permainanmu walaupun belum sempurna menurutku… tap…” Mr.Brown berhenti tiba-tiba ketika ben memotongnyan bicara, ” permisi Mr. Brown, aku tak setuju dengan anda menurutku dia hanya meniru orang lain. ” kata ben sinis.

“Aku rasa nona im cukup bagus dan dia punya gaya sendiri Mr. Whishaw.” Kata Mrs. Smith membantah ben. “Aku setuju dengan Mrs. Smith dan Mr. Brown ben, kita sudah melihat penampilan semua peserta hanya nona im yang cocok mengisi pemain piano.” Kata Mr. Farrel. Ben hanya melirik panjang ke arah yoona, “baiklah jika ini keputusan kalian, aku tak bisa berbuat apa-apa.” Kata ben membuat Mrs. Smith tersenyum lega. “Selamat nona im.” Ucap Mr. Brown membuat yoona bernafas lega. “Dan nona im jangan kau kecewakan kami, mengerti! ” seru ben memperingatkan yoona. “Baik! Terima kasih semuanya saya akan berusaha dengan baik.” Kemudian yoona pamit keluar ruangan. Sekeluarnya dari ruang audisi yoona melompat-lompat senang. Yoona mengeluarkan HP dari tasnya dan mengirim sms ke orangtua angkatnya Mr. Hunt dan Mrs. Hunt.

Sementara di dalam ruang kerja Mr. Farrel. “Ben, kau ingat malam ini kita ada pertemuan dengan Mr. Reynolds? ” tanya Mr. Farrel kepada Ben yang sedang membaca koran. “Tentu, aku tidak lupa” jawab ben sambil melipat koran yang telah dibacanya. “Aku rasa kita akan membahas tentang penangkapan aktivis partai buruh.”kata Mr. Farrel. “Ya, kurasa begitu dengan kondisi pemerintahan sekarang yang kacau dan lemahnya kerajaan.kita butuh revolusi Farrel?! Kurasa orang-orang licik tidak akan menyukainya. ”

“Aku setuju, bukankah itu tujuan kita masuk ke dalam ranah politik ini?” Kata Mr. Farrel sambil mengambil jaketnya. “Ayo kita pergi sekarang, jangan biarkan kawan-kawan kita menunggu! ” ajak ben beranjak keluar dari ruangan yang diikuti Mr. Farrel dibelakangnya.

Sudah hampir sebulan berlalu, jalanan di london selalu ramai dengan aksi demonstrasi protes kepada pemerintah, kerajaan yang semakin lemah penculikan para aktivis oleh aparat pemerintah yang terjadi hampir tiap hari dan juga keterlibatan inggris atas perang dengan beberapa negara menjadikan kondisi kacau.

Yoona mengalami hari-hari latihan yang berat, rupanya ben menuntutnya. Maka jadilah tiap sore Mrs.Smith menjadi mentornya dan ben mengawasinya. Hari itu ben memperhatikan yoona latihan piano, ben duduk memperhatikan yoona dari kejauhan. Ben diam, memperhatikannya. Dia takut mengkhianati hatinya yang mulai tumbuh rasa sayang kepada yoona.

Ben menghampiri yoona dan Mrs. Smith. “Mr. Whishaw, nona im telah mengalami kemajuan yang pesat aku bangga dengannya. ” kata Mrs. Smith, yoona tersenyum malu. ” kurasa Mrs. Smith sangat keras mendidik saya, sehingga saya harus berlatih lebih giat.” Kata yoona.

“Aku harap penampilan nanti tidak akan mengecewakan nona im.” Kata ben. Kemudian ketiganya keluar dari ruangan.

Malam hari, ketika yoona hendak pulang dia berpapasan dengan ben. “Ah, nona im kau mau mampir bertemu Tom, dia menyukai hadiahmu? ” tanya ben. “Iya Mr. Whishaw, tentu aku ingin menjenguknya”  yoona berjalan beriringan dengan ben.”aku telah menjelajahi semua jalan ini lebih banyak dari bulu matamu.” Canda ben untuk mencairakan suasana. “Bulu mataku?” Yoona mengedipkan bulu. Matanya dan tertawa. Dia berjalan di samping Ben.

“Anda membuat saya kagum Mr. Whishaw, anda selalu bersama dengan Mr. Farrel setiap hari. Dan saya tidak pernah mendengar dia mengatakan satu hal yang cerdas, tidak satupun.” Kata yoona. “Kau menilai kecerdasan?” Tanya ben. “Saya menempatkan hal tersebut paling tinggi.”

“Kau suka piano?” Tanya ben, ” tentu, saya telah memainkan piano dari kecil.” Jawab yoona. “Siapa pria yang mengatakan hal-hal yang membuat kau mulai tanpa kau sadari? ” tanya ben lagi. “Tidak ada, mereka selalu mengatakan hal-hal lucu.” Jawab yoona.

“Aku tahu, mereka memiliki perangai yang banyak makan dan minum.” Kata ben. “Apa anda sedang menyindir? ” yoona mengernyitkan dahinya. “Tidak, aku hanya sedang membela kebaikan Mr. Farrel.”

“Dengan menyerangku?!” Tanya yoona dengan nada sinis. Ben membalikan badannya menghadap yoona, “maafkan aku, mungkin aku terlalu lama di tempat tidur adikku yang sakit.” Kata Ben menyesal.

“Bisakah kita tidak hanya menghargai humor cerdas?” Kata yoona melanjutkan langkahnya.

“Apa hal cerdas yang bisa dikatakan seorang berusia 20 tahun yang tenggelam dalam darahnya sendiri.”

Yoona bisa merasakan keseriusan penyakit yang di derita adik Mr. Whishaw.

Di rumah sakit, ben memandu yoona masuk ke dalam kamar Tom adik Mr. Whishaw dirawat.

“Oh terima kasih tuhan, adikmu memanggilmu terus.” Kata suster yang merawat Tom. “Permisi” kata ben. Di dekat pintu yoona bisa melihat ben memeluk adiknya, dan mengelus sang adik yang sulit bernafas. Tom sangat kurus dan menderita.

Ben mendatangi yoona dengan wajah tampak pucat dan sedih. “Dia demam dan tidak dapat bicara.”

“Haruskah aku memanggil perawat?” Tawar yoona yang ikut sedih. “Adikku sudah lama sakit, dan di sini tidak ada yang harus dilakukan.”

Air mata yoona menetes, dia melihat Tom dengan sedih.

Keesokan harinya semua sedang mempersiapkan diri untuk pertunjukan yang diadakan hari itu.

“Aku tidak melihat partiturmu? Aku harap kau tidak lupa.” Kata Mr. Farrel. “Tentu saja tidak, ada di saku jasku.”

Yoona memperhatikan kedatangan Ben.

“Apa kabar,Mr. Whishaw?” Sapa yoona. “Hallo nona im.” Balas ben.

“Bagaimana keadaan Tom?” Tanya yoona. Ben mengalihkan pandangannya dari yoona. “Tom bagaimana.. .” Tanya yoona. “Tolong jangan tanya tentang Tom, nona im.yang bisa aku katakan hanyalah betapa aku sangat menyayanginya.permisi kita harus siap-siap.” Jelas ben.

Di panggung pertunjukan telah siap. Dan di kursi penonton telah penuh. Yoona menunjukan permainan terbaiknya, selaras dengan ben. Symphoni no. 3 in Eb Eroica , op.55 mengalun dengan sukses. Penonton berdiri memberikan tepuk tangan dengan meriah.

Tiba-tiba Mrs.Smith mendatangi ben membisiki sesuatu yang membuat wajah ben menjadi sedih. Yoona melihatnya dengan khawatir dan perasaan tak enak, begitu ben pergi meninggalkan panggung. Yoona mendatangi Mrs. Smith. “Apa itu Tom? Dia meninggal? ” tanyanya kepada Mrs. Smith yang terlihat sedih, dan hanya bisa mengangguk. Yoona pergi keluar dia sedih dengan Tom, bagaimana juga Tom adalah temannya walaupun yoona pernah menolak cintanya. Tapi Tom dan yoona terus berteman.

Beberapa hari kemudian setelah kematian Tom. Yoona di dalam ruang latihan dengan Ben. Yoona begitu pendiam hari itu.

“Yoona? Apa kau sakit? Aku belum pernah melihatmu sediam ini.” Tanya ben. “Saya sedih dengan kematian Tom. Dia teman yang baik Mr. Whishaw.”

“Dia pasti sangat senang kau begitu memikirkannya.” Hibur ben.

“A thing of beauty is joy for ever its loveliness increases it will never pass into nothingness. ” ucap yoona.

“Endymion, John keats.” Kata ben.

“Kau tahu puisi John keats, Mr. Whishaw? “Tanya yoona. “Aku mengaguminya.” Jawab ben.

“Seorang penyair tidak semuanya puitis, dia adalah yang paling tidak puitis dari apapun yang ada. Ia memiliki identitas, ia mengisi beberapa bagian lainnya, matahari, bulan.” Kata ben menerangkan.

“Aku telah membuat kesalahan. Aku tidak yakin bisa mengajarimu.” Kata ben sambil menunduk.

“Maafkan saya, apakah saya membuat kesalahn Mr. Whishaw? ” tanya yoona bingung.

“Aku tidak berpikir memiliki hak perasaan terhadap perempuan, aku khawatir dengan perasaanku.” Ungkap ben.

“Aku tidak mengerti.” Yoona bingung.

“Jika kau tahu apa yang meluluhkan rasa sayangku. Aku takut pada diriku, dan kemarahan itu membawa diriku ke dalam. Kau mungkin mengerti.” Jelas ben. Membuat gadis di hadapannya salah tanggap.

“Anda tidak menyukai saya? ” tanya yoona membuat ben terkekeh.

“Aku tertarik tanpa tahu kenapa, semua wanita membuatku bingung, sampai ibuku. Rasa rinduku yang hancur dan diselamatkan oleh malaikat dan pada kenyataannya aku hanya pernah mencintai adik perempuan kecilku.” Jelas ben.

“Aku sering terganggu oleh adik tiriku sesering aku mencintainya. Dan aku masih tidak tahu bagaimana musik bekerja dengan baik.” Kata yoona.

“Memahami musik perlu indra, mereka mengembangkan kemampuan negatifmu bukan kemampuan rasionalmu.” Kata ben mencoba menjelaskan kepada yoona. “Apa itu kemampuan negatif?” Tanya yoona.

“Kapasitasmu untuk berada di ketidakpastian, misteri, keraguan, setelah mencapai fakta dan alasan tanpa iritasi.” Jelas ben. Yoona mendengarkan dan sedikit mulai mengerti.

Di rumah kediaman Mr. Hunt. Yoona sedang melihat partitur di ruang piano sedangkan Mrs. Hunt sedang menata bunga di vas, bersama si kecil rebeca.

“Bibi, Mr. Whishaw sungguh briliant. Tapi dia tidak menyukaiku.” Kata yoona kepada ibu angkatnya.

“Mr. Whishaw tahu dia tidak bisa menyukaimu, bukan berarti dia tidak menyukaimu,Sweethart.” Mrs. Hunt mencoba memahami putri angkatnya tersebut.

Musim gugur telah tiba, Mr. Whishaw sudah sebulan pergi ke skotlandia.

Yoona belajar dengan giat, Mrs. Smith begitu senang dengan kemampuannya.

Sampai suatu hari, Mr. Whishaw yang telah kembali, mendatangi yoona di ruang latihan piano. Tanpa Mrs. Smith. Benjamin whishaw duduk di tempat duduk piano di sebelah yoona. Sambil membawa partitur. Yoona tersenyum kepada ben.

“Hallo Mr. Whishaw.” Sapa yoona.

“Hallo nona im.” Balas ben kemudian dia melihat buku yang sedang di pegang yoona. “Oh buku apa yang sedang kau pegang? “Tanya ben penasaran.

“John keats.” Jawab yoona sambil memperlihatkan sampulnya.

“Hmm, bisakah kau membacakannya untukku? ” pinta ben. Yoona mulai membuka bukunya. Ben diam, dia terus memperhatikan yoona.

“When i have fears that i may cease to be Before my pen has glean’d my teeming brain, Before high-piled books in  charactery, Hold like rich garners the full ripen’d grain; when i behold, upon the night’s starr’d face, huge cloudy symbols of a high romance.” Yoona mendongak, dia dan ben saling berpandangan. Ben melanjutkan puisi tersebut.

“…huge cloudy syimbols of a high romance, and think that i may never live to trace their shadows, with the magic hand of chance: and when i feel, fair creature of an hour, that i shall never look upon thee more , never have relish in the faery power of an unreflecting love; – then on the shore of wide world i stand alone, and think till love and fame to nothingness do sink.” Ucap ben. Mereka tidak beranjak, akhirnya dengan apa yang tampaknya menjadi besar. Ben bersandar ke arah yoona, ada penangguhan waktu dan nafas di ruang. Ben memandang yoona, pada kedekatan yang tak tertahankan. Ben mencium bibir yoona dengan lembut. Tiba-tiba yoona tersadar, dia segera melepaskan diri dan bangkit.

“Maaf, aku harus pergi.” Yoona mengambil tasnya dengan tergesa, namun sebelum dia beranjak keluar Ben tiba-tiba menarik yoona mendekatkan tubuhnya hingga tidak ada jarak di antara keduannya. Ben mencium yoona dengan bergairah. Mereka terhanyut bersama.

Pale were the lips i kiss’d” kata ben kemudian dia menciumnya lagi.

“-and fair the form. I floated with about that melancholy storm.” Sambung ben.

” kurasa, aku jatuh cinta denganmu.” Kata ben sambil melihat mata yoona, sedangkan yoona tidak bisa melepaskan pandangannya kepada ben. Yoona tidak bisa mengingkari hatinya yang mulai menyukai pria yang sedang di hadapannya.

Malam itu di jalan, ben dan yoona berjalan menyusuri jalanan sambil bergandengan tangan. Ada kecanggungan di antara keduanya.

“Mr. Severn akan kembali minggu depan, dan tugasku selesai.” Kata ben. Yoona memandang penuh pertanyaan kepada ben. “Apa kau akan berhenti?” Tanya yoona.

“Kenapa? Apa kau akan merindukanku jika aku pergi?” Kata ben setengah bercanda, membuat gadis di hadapannya cemberut.

“Untuk apa aku merindukanmu?” Gumam yoona. “Aku akan pergi, aku tak akan berhenti sepenuhnya dari musik tapi aku ada dunia yang aku cintai seperti aku mencintai musik.” Jelas ben. “Dunia apa itu?” Tanya yoona penasaran. “Aku akan bergabung dalam perubahan negeri ini.” Ucap ben menghantarkan Keduanya berhenti di stasiun kereta mereka berpisah. Ben dapat melihat yoona memandangnya dari jendela kereta. Ada perasaan yang mengganjal pada diri ben ketika melihat yoona, dia merasa bersalah mencintai gadis itu. Sedangkan hujan membasahi kota london malam itu.

Bersambung…

9 thoughts on “Orpheus of Love (Chapter 1)

  1. Weeh baru pertama gw baca Ff Yoona yg dipairingin ma orang asing (menurut gw) kkkk
    Ini FF remake pa gimanya ya thor koq bhasanya masih sulit banget (buat gw)😀

    Aq dikit kurang ngerti ma bahasanya masih rancu dn ini alurnya kcepetan jg sh,tp jujur ni FE keren lho sbenernya..
    Jadi lbih baik bahasanya dikit dperbaiki aja pasti nanti tambah lebih keren lagi ^^

    Ok semangat buat authornya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s