Unexpected : Erlebnisse

unexpected

Unexpected : Erlebnisse

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

PS: arti judulnya, cari sendiri ya:) btw ada adegan yang sedikit nggak pantes untuk anak dibawah umur. NO NC. But surely, sebaiknya gak usah terlalu dihayati okey kkk~

“appa! Appa!”

Suara itu kembali menyambangi pendengaran kyu hyun. Matanya yang kembali tertutup dan angin semilir yang terus berhembus membuat rasa kantuk menyerangnya dengan brutal. Kyu hyun mengernyit ketika tangan tangan kecil itu kembali menyentuh wajahnya.

Ketika ia memutuskan untuk membuka mata, wajah itu kembali hadir. Dia tersenyum lebar seperti yang sudah-sudah. Lalu jemarinya bergerak mencari jari-jemari kyu hyun. Menarik lelaki itu untuk duduk meski tenaganya tak berarti apa apa.

“kau.. lagi?!” tanya kyu hyun dengan nada terkejut yang kentara.

Wajah mungil itu masih tersenyum. Ia kemudian mengangguk manis dan kembali menarik kyu hyun untuk duduk. “appa, ayo main!”

Kyu hyun mengernyit, merasa pernah mendengar kalimat itu sebelumnya. “siapa namanu?” kyu hyun bergerak duduk, menatap dua mata coklat itu dengan serius. Lalu ia melihatnya menggeleng dengan lucu.

“aku belum punya nama” jawabnya.

Ini membingungkan. Kyu hyun membatin.

“appa, ayo main!”

Tungkai kecil itu kemudian berdiri cepat. Berlari menuju taman bunga yang besar bahkan sebelum kyu hyun sempat untuk berdiri. “hei! Tunggu! Jangan berlari” kyu hyun memanggilnya, namun bocah kecil itu seperti tak mendengar.

Diujung jalan ia kemudian berbalik tetap dengan senyum lembutnya. Lalu tangannya melambai merdu.”appa! ayo, ada omma!” pekiknya.

Kyu hyun terpaku ketika menatap yoona berjongkok menatap pemilik kaki-kaki mungil itu dengan sayang. Parasnya yang semakin indah dan gaun putih yang yoona gunakan menambah kecantikannya dalam lambaian angin yang sejuk.

Kyu hyun melihat mereka berpelukan, lalu dalam gerakan lambat yoona melihat kearahnya. Sesuatu sedingin es tiba-tiba menyerang jantung kyu hyun. Senyum bahagianya seketika mengembang ketika tatapan mereka bertemu dalam satu garis lurus.

Lalu tak lama, gelap menerpa.

Kyu hyun berkeliling mencari keberadaan yoona yang tiba-tiba menghilang. Disekitarnya kini hanya ada ruang hampa cahaya. Kyu hyun tak menemukan apa-apa sejauh apapun ia berlari.

“yoon!!” teriaknya memanggil.”Im yoona!!”

Cahaya putih itu kembali terlihat. Kyu hyun berusaha untuk menjauh ketika sesuatu seperti menariknya untuk masuk dalam cahaya. Tidak. ia masih harus menemukan yoona dan bertanya apa wanita itu baik-baik saja.

Tapi seluruh kekuatannya seolah lenyap. Dalam sekejap kyu hyun merasa tersedot kuat dalam usaha terakhirnya untuk terus memanggil yoona.

“yoon?!”

 

“IM YOONA!!”

BIP!

BIP!

Kyu hyun menoleh kearah samping ranjang ketika suara itu begitu mengganggu pendegarannya. Nafasnya yang memburu dan belum dapat ia normalkan membuatnya harus bertahan dalam diam sebelum ia mulai memikirkan dimana ia sekarang.

Matanya bergerak menyapu setiap sudut ruangan. Kamar besar bernuansa putih itu dengan cepat membuat kyu hyun tau jika ia kembali berada dalam bangsal rumah sakit. Kyu hyun tak menemukan siapapun disana. Tidak sora ataupun yoona.

Yoona?

Kedua bola matanya menutup tak percaya. Jantung kyu hyun berdegup lebih kecang ketika mimpi-mimpi itu dengan jelas berputar dalam kepalanya. Ia segera melepaskan diri dari empat alat medis yang kembali tertempel didadanya. Mengabaikan bunyi panjang yang terjadi karena alat medis tak lagi dapat mendeteksi detak jantungnya lalu berjalan menuju pintu.

Didepannya kyu hyun menemukan sora yang terkejut bukan main. Tubuhnya segera berdiri tegap lalu tanpa aba aba menghela nafas berat. “im yoona sudah dipindahkan ke kamar inapnya, tuan. Dia belum sadarkan diri jadi—“

Ucapan wanita itu kemudian terhenti ketika seseorang datang dan menginterupsi percakapan mereka. sora tau ia tak mungkin lagi menahan kyu hyun untuk tetap berada diatas ranjangnya ketika kemudian kabar mengejutkan itu sora terima.

“maaf tuan, im yoona baru saja sadarkan diri.”

Kyu hyun tak menahan langkah besarnya untuk mendatangi ruangan rawat inap yoona. Ketika kyu hyun sampai, ia masih melihat so yeon berdiri didepan pintu kamar dengan kepala yang terus melihat kedalam, menembus kaca bulat yang terletak dipintu masuk dengan tangan terjalin dan wajah lega bercampur khawatir.

Untuk pertama kalinya setelah memutuskan untuk pindah ke apartemennya, kyu hyun kembali bersiborok dengan mata so yeon. Wanita itu hanya menatapnya sekilas sebelum terkejut dengan pintu yang terbuka dan tim dokter yang berjalan keluar.

“bagaimana keadaannya, dok?!”

Kyu hyun ikut melangkah maju, mendekati so yeon yang masih bertatapan dengan dokter yang satu persatu mulai meninggalkan lorong.

“dia sadar jauh lebih cepat dari yang kami perkirakan, namun keadaannya sudah stabil dan baik-baik saja. Pasien tidak ingin diberikan obat penenang karena tidak ingin terlelap. Nona Im yoona berkata dia mengalami mimpi buruk, mungkin anda atau keluarganya bisa mengajaknya berbicara asalkan tidak membuatnya terlalu lelah. Ada kemungkinan pasien akan mengalami depresi ringan karena kami tidak berhasil menyelamatkan bayinya—”

Kyu hyun tersentak, tak kuasa menahan rasa perih yang datang sepersekian detik usai otaknya berhasil mencerna setiap bait kata yang dokter tuturkan. Jadi, dia telah kehilangan anaknya?! Buah cintanya bersama yoona, kini telah tiada?!

“tapi selain itu, semuanya sudah baik-baik saja”

Kehangatan seketika menghujani dada kyu hyun meski perih yang ia rasa tak pernah membuatnya lebih sakit lagi dari ini. Ia kemudian mencuri perhatian dokter dengan berkata, “apa aku bisa mengunjunginya?”

Dokter yang sudah paruh baya itu tersenyum dan mengangguk. “kami akan terus memantau kondisi pasien agar proses pemulihannya berjalan lancar. Saya permisi dulu”

Tak butuh waktu lama bagi kyu hyun untuk menyerbu masuk mendahului so yeon dan sora. Ketika pintu terbuka, tatapannya segera terpaku pada mata yoona yang berpaling menatapnya berdiri didepan pintu.

Bibir tipis wanita itu segera terangkat sedikit, menunjukkan kesan baik-baik saja dibalik tangis yang pecah dalam matanya.

“oppa, aku—“

Kyu hyun berjalan cepat mendekatinya. Menahan yoona untuk duduk tepat ketika wanita itu meringis kesakitan. Matanya yang penuh kesedihan tiba-tiba menggoreskan seberkas luka dalam dada kyu hyun.

“aku—kita kehilangan” yoona berkata lirih. Menggigit bibirnya yang masih kelu ketika bola matanya mengabur tanpa aba-aba. Bibir tipisnya bergetar halus saat tangannya mengambangi perutnya yang sudah datar. Menutup matanya erat ketika sakit itu kembali mendera batinnya.

“kau butuh istirahat, yoon.” Kyu hyun tak mampu mengatakan apapun. Bibir dan lidahnya pun kelu karena air mata yang tiba-tiba membanjiri pipi yoona dalam sekejap mata. Mata beningnya yang penuh rasa sakit membuat kyu hyun tak mampu untuk mengeluarkan entah kata penghibur semacam apapun.

“oppa—aku,, tidak bisa menjaganya. Maaf”

Tangis yoona semakin pecah ketika kyu hyun bergerak maju dan menenggelamkan dirinya dalam pelukan hangat. Yoona tak mampu menahannya lagi, bahunya berguncang hebat didepan dada kyu hyun. Lalu kini ada rasa sakit yang semakin menggerogoti perasaannya.

Yoona tak menyangka akan kehilangan dengan begitu cepat. Ia bahkan baru menerima kabar bahagia itu tak lama sebelum ia sadar jika tuhan tak membiarkannya mengecap kebahagiaan itu untuk waktu yang lama.

Sakit bekas jahitan operasi ini bahkan tak seberapa jika dibandingkan dengan pecahnya perasaan yoona menjadi berkeping-keping ketika melihat tak ada lagi nyawa yang berlindung dalam dirinya.

“aku bahkan baru tau jika dia ada disana, oppa”

Yoona terus terisak dalam pelukan kyu hyun. Nafasnya yang putus putus tak langsung membuatnya berhenti mengadu. Ia tak sekuat ini untuk menanggung semua luka. Bahkan jika ia harus mati, yoona memilih untuk tak lagi bernyawa daripada harus menerima luka menganga yang sakitnya tak terkira.

Tangisnya tak berhenti. Yoona terus mengadu betapa hancurnya perasaannya ketika kaki-kaki lucu itu kini tak akan pernah lagi terlahir dari rahimnya. Rasa bersalah menggerogoti hatinya dengan kejam. Lalu mereka larut dalam lara yang sama-sama mereka punya hingga yoona jatuh tertidur diatas ranjangnya.

Kyu hyun mengepalkan tangannya erat ketika ia menyeka air mata yang masih tersisa disalah satu pipi yoona. Wajah lelah, kantung matanya yang menghitam dan matanya yang sembab menjadi duri tersendiri bagi perasaannya.

Kyu hyun tak pernah menyaksikan betapa yoona begitu semenderita ini. bahkan bertahun-tahun mencintainya, kyu hyun tak pernah tau jika ternyata ikut merasakan sakit bersama wanita itu adalah hal terberat dalam hidupnya. Menyaksikan air mata yoona jatuh demi segumpal daging calon anak mereka yang ia tau kini tak lagi ada.

Tubuh tegap itu kemudian berdiri, menutup pintu ketika ia meninggalkan yoona. Meminta so yeon untuk menjaganya sementara waktu dan pergi masih dengan tangan terkepal penuh amarah.

Disinilah kyu hyun sekarang. Berdiri diantara angin yang terus berhembus ketika malam mulai menampakkan diri. Hawa dingin tak membuatnya kalah. Kyu hyun membanting keras pintu rooftop lalu berbalik, menjatuhkan kepalan tangannya dengan keras pada dinding yang diam membisu.

Tubuhnya seketika bergetar hebat. Amarah itu masih bergumul dalam benaknnya ketika ia kemudian terjatuh, berjongkok lemah dengan kepala yang bersandar pada lipatan tangannya.

Bahu kyu hyun kemudian bergetar hebat. Air matanya mengalir tanpa ia sadari. Terjun begitu saja mengikuti emosi tak tersalurkan miliknya.

Kyu hyun tak pernah tau menjadi brengsek di masa lalu membuatnya harus mengorbankan yoona dan buah cinta mereka. Karma yang menurut kyu hyun tak setimpal karena yang tuhan ambil begitu berharga, begitu mahal hanya untuk perbuatan nistanya di masa lalu.

Tak ada yang mampu menghentikan air mata itu hingga malam menjelang. Air mata yang kembali hadir jauh setelah pemakaman appa, belasan tahun lalu. menimbulkan luka yang kini jauh lebih besar daripada apa yang pernah kyu hyun rasakan sebelumnya.

 

 

__

Kyu hyun meletakkan sebuah mangkuk besar berisikan makanan keatas meja. Asap yang masih sedikit mengepul menyisakan uap yang kemudian hilang termakan angin itu teronggok disana tanpa tersentuh.

Helaan nafas ringan kyu hyun kemudian terdengar. “kenapa? Kau ingin makan yang lain?”

Ia melihat yoona menggeleng pelan. Bibirnya yang masih pucat pasi tidak mengurangi magnet yang ada disana untuk terus menarik-narik kyu hyun untuk mencicipinya. Namun ia menahan diri, bukan karena kondisi yoona yang masih belum sehat.

Ini lebih kepada harga diri.

Kyu hyun tak tau dimana ia harus meletakkan martabatnya sebagai lelaki jika masih berani menyentuh yoona bahkan saat semilir angin kehilangan masih bertiup diantara mereka.

Semalam, setelah yoona sadarkan diri seorang dokter kandungan membawa gumpalan darah yang selama ini tumbuh dirahimnya dalam sebuah botol kecil. Ia sudah berbentuk. Dan itulah yang semakin menyakiti kyu hyun.

Setidaknya, jika ia mampu untuk menahan sifat bajingannya semua mungkin tak akan berakhir seperti ini. malaikat kecil itu akan tetap berada disekitar mereka. tumbuh dan bernyawa bahkan akan mulai bergerak.

Namun semua tinggal sisa-sisa abu tak berguna. Masa lalu itu membakar hangus semua asa yang telah kyu hyun impikan dimasa depan. Kini, menangispun tak akan merubah apapun. Mereka semua tau, kini mereka bersedih untuk nyawa yang tak akan lagi ada.

“aku tidak ingin makan”

Suara itu bergetar halus. Membuat kyu hyun menutup matanya kecewa. Ia mengerti, bukan hanya dirinya yang dilanda luka. Bagaimanapun, sebagai wanita yang merasakan rahimnya bernyawa, yoona tentu menjadi pihak yang jauh lebih terluka.

Namun seharusnya itu tak menjadi alasan untuk semakin memperburuk keadaan. Tubuh yang belum pulih pun sisa-sisa operasi yang masih terus menyakiti fisiknya kyu hyun rasa sudah cukup untuk yoona rasakan. Dia tak harus berhenti makan hanya karena lara yang begitu dalam.

“kau harus makan. Kondisi tubuhmu belum pulih.”

Yoona menoleh pelan lalu menatap kyu hyun dari atas hingga bawah. Matanya kemudian bersiborok dengan mata coklat kyu hyun yang begitu tegas. “kau sendiri bagaimana? Tidak memikirkan keadaanmu?”

Kyu hyun ikut memperhatikan tubuhnya. Hanya luka dibagian kepala dan bahu yang masih terbelit benang jahitan. Selebihnya, kyu hyun rasa tubuhnya tak bermasalah. Kecuali selang infus yang harus terus ia bawa ketika ia mengunjungi kamar inap yoona.

Selain itu mereka sama. Sama-sama menggunakan baju pasien dan harus rawat inap. Tapi kyu hyun merasa sudah mampu untuk berjalan dan melakukan aktifitas lain. Come on! Dia seorang lelaki.

“aku baik-baik saja. Berhenti keras kepala, yoon. Aku tau seberapa sanggup tubuhku melakukan ini”

Kyu hyun kemudian kembali mengambil mangkuk besar yang masih terisi penuh lalu memberikan sesndok besar bubur pada yoona. Ketika wanita itu kembali menolak, pada akhirnya kyu hyun tau jika ini semua akan sia-sia.

“kau ingin aku berhenti mengunjungimu?” tanyanya kemudian. Wajah datar tanpa ekspresi yang terus menghiasi wajah tampannya tak berubah. Kyu hyun tak ingin terlalu banyak menebar senyum ketika luka itu masih menganga lebar diantara mereka.

Pun sepertinya ia butuh waktu, bukan untuk dirinya. Tapi untuk perasaannya yang kembali tak ingin tersentuh belakangan ini.

“baiklah, aku pergi” kyu hyun berdiri, lalu mendekati yoona. Mengecup keningnya singkat. Tak ingin lebih banyak bertanya. “kau harus banyak makan” ucapnya sebelum berbalik.

“untuk apa? Aku tidak lagi harus memberi nutrisi untuk siapapun, kan?”

Perkataan itu menghentikan langkahnya. Kyu hyun tak berbalik. Tak ingin menatap yoona yang ia yakin kini telah menatapnya dengan mata berkaca-kaca sarat akan luka. “kita sudah sepakat untuk tidak membicarakan ini, yoon”

“kenapa?! Karena dengannya, aku bisa menuntutmu untuk menikah?!” kyu hyun mengepalkan tangannya erat. Pembicaraan ini mulai tidak sehat, ini menyakiti mereka berdua. Namun yoona seolah tak mengerti, dengan tangisnya kemudian ia berkata, “atau karena anak itu tidak penting untukmu?!”

Kyu hyun berbalik, lalu menatap bola mata yoona dalam-dalam. “jangan pernah berkata bahwa malaikat itu tidak penting untukku!” Suara rendah bergetar milik kyu hyun kemudian membuat yoona sadar betapa saling bertemu hanya akan membuat mereka saling menyakiti.

Nafas berat kyu hyun kemudian kembali menyapa yoona. “kau ingin anak? Fine. Katakan padaku kapanpun kau mau. Even i can fuck you here, now!” bisiknya semakin terluka.

Setelah itu kyu hyun pergi tanpa mengatakan apapun. Meninggalkan yoona yang masih membeku. Kata-kata itu begitu sederhana, namun terdengar sangat tidak pantas. Bahkan, bertahun-tahun tinggal bersama, kyu hyun tak pernah menyakitinya seolah ia adalah pelacur.

Sedalam itulah ia menyakiti kyu hyun? Atau mungkin ialah yang menaruh garam diatas luka mereka?

Tangisannya terhenti ketika pintu terbuka. Sesaat yoona sadar jika berharap bahwa kyu hyun akan kembali dan meminta maaf adalah hal yang mustahil. Ia memaksakan sebuah senyuman kecil ketika so yeon bergerak masuk, lalu duduk dipinggiran ranjangnya.

Tanpa aba-aba wanita itu segera memeluk yoona, membiarkan tangis yang sebelumnya tertahan kini tumpan dalam pelukan so yeon. Yoona menggigit bibirnya tak percaya. Ternyata, selama ini bukan hanya kyu hyun yang keparat. Ia pun telah jahat karena bersikap egois seolah kehilangan ini hanya menyakitinya seorang.

Padahal, sungguh. Sebelum ini pun sebenarnya ia mampu membaca lara yang kyu hyun punya.

 

 

__

“kau melihatnya?”

Yoona meraih sepotong apel yang so yeon berikan padanya. Melihat sahabat sekaligus asisten pribadinya itu mengangguk antusias lalu kemabali memotongkan apel untuknya.

“dia ada dipuncak. Ditempat yang paling tinggi.” So yeon kembali memberikan sepotong apel. “mungkin kyu hyun sengaja meletakkannya disana agar lebih dekat dengan surga.”

So yeon masih sempat tertawa kecil memikirkan alasan konyolnya disaat yoona tak lagi mampu menelan gumpalan apel yang masih bersarang didalam mulutnya.  Bayangan makam kecil yang kini ada ditempat paling tinggi itu mengelilingi benaknya.

So yeon bilang, kyu hyun yang memilihkan tempat itu untuk calon anak mereka. kenyataan yang membuat batin yoona meringis nyeri. Lelaki itu menolak tempat yang disediakan pengurus lahan dan memilih tempat paling tinggi. Alasan yang so yeon ajukan pun bisa jadi benar.

Mengingat bara api yang menyelimuti bola mata kyu hyun ketika yoona berkata jika anak itu tidak penting banginya sudah menjelaskan segalanya. Kyu hyun begitu mencintai malaikat kecil itu. Salahnya lah yang membuat kyu hyun marah dengan terus mempertanyakan perasaan lelaki itu terhadap nyawa lain yang muncul dalam rahimnya.

Rasa bersalah menggerogoti perasaan yoona. Ia meletakkan potongan apel yang belum sama sekali ia sentuh keatas piring lalu mendesah berat. Mungkin ia sudah terlalu egois. Karena walau bagaimanapun ada darah dirinya dan kyu hyun dalam malaikat kecil mereka yang kini telah tiada, bukan hanya darahnya saja.

So yeon berhenti memberikannya apel. Wajah muram yoona membuatnya menyingkirkan piring yang semula terletak dipinggiran ranjang lalu duduk disana.

“sesuatu mengganggumu? Apa kata-kataku menyakitimu, yoon?”

So yeon memegangi jemarinya. Menggenggam bahkan terkesan meremasnya untuk sesaat. Yoona tak bisa menyalahkan so yeon, walau bagaimanapun ialah yang bertanya mengenai pemakaman kecil itu semalam. Jadi, bukan salah so yeon jika wanita itu mengatakan hal yang pada akhirnya justru membuat yoona meringis perih.

Yoona menggeleng pelan. “aku tidak apa-apa.” Ia tersenyum, lalu menoleh kebelakang. Kearah meja tamu yang kini diduduki sebuah kotak kecil. “kau membawakanku sesuatu?” alih yoona kemudian.

Mata so yeon seketika terlihat panik, berkeliaran tak berniat melihat mata yoona. “so,, kau membawakanku sesuatu?” tanya yoona semakin tegas.

Mengalah, so yeon melemaskan bahunya tak percaya. Seharusnya ia sempat untuk membuang kotak itu sebelum datang berkunjung pagi ini. so yeon menghela nafasnya ragu sebelum bercerita.

“saat kau pingsan semalam, kyu hyun menghubungiku.” So yeon kemudian berdiri, meraih kotak kecil itu ketika mata yoona tak berhenti menatap hadiah kecilnya. Mungkin, yoona memang perlu tau. “jadi, aku membelikanmu hadiah kecil. Tapi kemudian aku mendengar kabar bahwa kau ada disini, ditengah operasi besarmu. Jadi, aku belum sempat membuangnya.”

Yoona menatap kotak kecil yang so yeon letakkan diatas pangkuannya. Jemarinya bergerak, mengusap kotak itu hingga kepinggirannya lalu membukanya dengan hati-hati. Sepasang sepatu kecil beralaskan baju mungil berwarna biru muda terletak disana.

Untuk satu dan lain alasan batin yoona menjerit keras. Bibirnya tak mampu mengatakan apapun ketika jemarinya mulai mengusap sepatu kecil itu sayang. Mungkin jika semua ini tak terjadi, akan ada kaki-kaki kecil yang menghiasi sepatu indah hadiah so yeon. Tapi kini ia telah tiada, tidak akan ada lagi kaki yang menendang lucu ketika popoknya digantikan.

Yoona menahan diri untuk menangis. Kini ia sadar ada banyak luka yang menggerayangi hati orang-orang disekitarnya. Ia kemudian menutup kotak itu pelan lalu menatap so yeon yang sudah memandanginya dengan linangan air mata.

Sebuah garis senyuman tipis kemudian tercipta. Yoona mengusap pipi so yeon lembut. “jangan menangis, so. Terimakasih, ini indah. Aku akan menyimpannya.”

Mungkin, satu-satunya cara untuk menutup semua luka adalah dengan berpura pura kuat dan bahagia. Yoona tak ingin mengorbankan lebih banyak hati setelah ia mengerti jika kini semua perasaan tengah diliputi banyak lara.

 

 

__

Empat bulan berlalu usai tragedi besar itu. Tak ada yang benar-benar berubah. Mereka masih dua manusia egois yang tinggal dalam satu apartemen. Yoona tetap harus tinggal bersama kyu hyun, karena walau bagaimanapun ia tak lagi memiliki tempat untuk pulang.

Baru kali ini yoona sadari jika ternyata ia sudah begitu ketergantungan dengan segala fasilitas yang kyu hyun berikan padanya. Bahkan, untuk sekedar makan kini uang dalam tabungannya pun tak pernah berkurang. Kyu hyun berusaha menutupi kesedihan diantara mereka dengan melimpahinya materi.

Disatu sisi, yoona benar-benar merasa bahwa ia hidup memang hanya untuk uang. Dan dilain sisi ia merasa jika luka mereka belumlah sembuh samasekali.

“kau akan pergi lusa?”

Kyu hyun mengangguk kecil dalam diam. Masih asik menikmati waffle krim karamel yang sengaja yoona hidangkan pagi itu. Yoona menimbang sekali-dua kali untuk mulai berbicara, lalu dengan tekat sebesar biji jagung, ia berdehem sebentar.

“semalam, aku mengunjungi donghae oppa” cicitnya kecil.

Yoona tak melihat kyu hyun berhenti makan. Lelaki itu terus terfokus pada makanannya, lalu setelah piring besar itu bersih ia kemudian menatap yoona. Ada segaris kecil senyuman disana. Kyu hyun merogoh minumannya sebentar.

“aku tau” ucapnya singkat. “aku juga berencana mengunjunginya semalam. Tapi setelah menemukanmu, kupikir itu tidak perlu lagi” jelasnya kemudian.

Kyu hyun bangkit, menghindari pandangan terkejut yang yoona arahkan padanya. Ia berputar jalan, menuju yoona, lalu mengecup keningnya ragu. Sebuah tas kerja sudah bertengger manis dalam genggamannya. Lalu kyu hyun kembali tersenyum. Senyuman penuh luka yang sengaja ia sembunyikan.

“aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik”

Dan pagi itu berlalu seperti yang sudah-sudah. Kyu hyun terus bersikap manis didalam kesakitan yang terus menusuk-nusuk dada mereka. Lelaki itu bersikap seolah sebelum ini tak terjadi apapun dan yoona fikir kyu hyun sudah gagal. Bahkan semenjak pertamakali ia mencoba.

 

 

__

Yoona mengusap handuk hangat itu pada buku jemari donghae. Bunyi keras dari alat pendeteksi jantung terus berkumandang didalam ruangan besar itu. Kedua bola mata donghae tertutup rapat, dan sebuah selang oksigen penyambung nyawa terpasang diwajahnya.

Empat bulan berlalu, dan tak ada yang berubah. Donghae tetap tak mampu untuk bangun meski seluruh peralatan canggih telah kyu hyun kerahkan untuknya. Benturan keras dikepala membuatnya tak sadarkan diri entah sampai kapan.

Kecelakaan itu merubah segalanya. Semua jiwa merasakan lukanya masing-masing. Yoona yang harus kehilangan bayinya, donghae yang harus kehilangan kesadarannya. Dan kyu hyun yang berpotensi besar kehilangan mereka berdua.

Entah apa yang saat itu donghae pikirkan. Dalam khayalan terliarnya, yoona pikir ia akan menemukan kyu hyun bersimbah darah karena menyelamatkannya. Meski memang benar, kyu hyun pun mendapat luka yang luar biasa, namun pengorbanan donghae seolah tak memiliki penjelasan.

Seharunya jika ia benar-benar menginginkan yoona, mengapa ia harus ikut terjun dalam penyelamatan itu? Bukankah sudah jelas saat itu kyu hyun merelakan dirinya untuk yoona? Dengan itu, seharusnya ada kemungkinan bahwa kyu hyun dan donghae kini berada ditempat yang salah.

Bisa saja kyu hyun yang tergeletak tak sadarkan diri, saat ini. dan donghae bebas, mendekati yoona. Menjalankan obsesinya meski semua orang tau jika ia tak akan mungkin lagi diterima.

“kau pikir dengan tak sadarkan diri seperti ini akan menyelesaikan masalah?” yoona bergumam. Terus mengusap tangan donghae dengan handuk. Wajah piasnya tersenyum tipis entah untuk alasan seperti apa.

“aku harus menjelaskan apa pada omma? Kau hilang bertahun-tahun lalu kembali tanpa kesadaran yang penuh.”

Bukan karena cinta. Yoona rasa karena donghae pun tau meski rasa bencinya telah sebesar gunung, walau bagaimanapun mereka pernah hidup belasan tahun bersama. Dan yoona pikir, meski ia mencoba untuk meyakinkan hatinya bahwa memang tak lagi ada cinta untuk donghae, ia tetaplah menyayangi lelaki itu seperti yang ia lakukan sebelumnya.

Yoona tau ia tak akan pernah bisa lepas dari rasa tanggung jawabnya terhadap lelaki itu. Pun terhadap kyu hyun. Dua lelaki keji yang kini tak lagi mampu ia campakkan.

“siapa lagi yang harus menjagamu setelah ini?” yoona berdiri, mengusap kening donghae dengan lembut. Ia telah memantapkan diri, entah itu benar ataupun salah. Sebuah keputusan tetap harus diambil.

Yoona tau ia sudah cukup dewasa untuk menentukan kemana ia harus melangkah. Berada disekitar kyu hyun dan donghae tak sedikitpun mengobati luka yang ia miliki. Jadi, dengan berat hati yoona merasa jika ia harus pergi. Bukan untuk menghindar, tapi ia tak lagi ingin memiliki luka menganga.

Mungkin, menjauhi kyu hyun dan donghae adalah satu-satunya cara, agar luka mereka kering sebelum takdir kembali mempertemukan.

 

 

__

Kyu hyun berdiri kaku. Baru saja memasuki pintu kamar dengan tas kerja yang sudah terlempar manis diujung sofa dan kemeja kusut yang telah terbuka di dua kancing atasnya, kyu hyun justru menemukan kejutannya malam itu.

“apa ini terlihat aneh?”

Yoona berputar tepat didepan mata kyu hyun. Membuat jumbai tipis setipis jaring disekitar pinggulnya ikut berputar manis. Bibir manis yoona melengkungkan senyuman yang tak terduga sebelumnya.

Kyu hyun pikir mereka masih harus melewati beberapa bulan menjelang semua kembali normal. Entah itu untuk kebiasaan yoona yang semena-mena atau sifatnya yang suka sekali menghilang hanya demi kesenangan atau mungkin tagihan kartu kredit yang membengkak karena hoby shoppingnya yang mencengangkan.

Empat bulan berlalu dan kyu hyun pikir jika yoona selalu seperti ini maka ia bisa saja menjadi lelaki paling kaya dengan pengeluaran tak seberapa. Toh memang yoona-lah satu-satunya lintah penghisap pundi-pundi uangnya. Namun kyu hyun tak pernah menyesal akan hal itu.

“aku pikir kau tidak punya baju itu”

Kyu hyun meneguk liurnya dengan berat. Tarikan magnet yang terus yoona pancarkan membuat gairah kelelakiannya memuncak tanpa batas. Kyu hyun tidak lagi pernah menyentuh siapapun. Bukan setelah ia menemukan yoona tergeletak dalam bangsal rumah sakit. Namun semenjak kehadiran malaikat kecil yang sejenak sempat hadir diantara mereka membuatnya hampir berubah drastis.

Ia hanya menginginkan yoona. Meski pada kenyataannya tak ia lakukan semenjak enam bulan lalu hanya karena terlalu takut menyakiti calon bayi mereka. kini, setelah berpuasa selama setengah tahun, kyu hyun rasa yoona benar-benar membuka kembali kotak pandora yang sudah kyu hyun coba kubur dalam-dalam.

“aku membelinya sore ini” yoona mengacungkan unlimited gold credit card milik kyu hyun dan kembali tertawa girang. Kyu hyun mungkin lupa melihat tumpukan tas di sudut walk in closet mereka. mungkin yoona belum sempat menata seluruh belanjaannya sore ini.

Tapi semua bergerak normal. Kyu hyun tersenyum lalu mengeluarkan ponselnya dan berjalan menuju sofa untuk duduk. “good. Kau jadi shoppaholic lagi?” tanyanya santai.

Yoona mengangguk terlalu antusias. Kyu hyun rasa yoona akan mematahkan lehernya jika sedikit lagi saja ia menambah kecepatan anggukannya.

“aku sudah mencoba beberapa pakaian. Aku pikir ini yang paling bagus. Kau mau lihat yang lain?”

Tawaran yoona mendapat gelengan tegas dari kyu hyun. Senyum tipisnya mengembang dengan makna yang siapapun tau maksudnya. Mata kyu hyun membesar ketika yoona terkekeh kecil mengerti maksud lelaki dewasa itu.

Langkah kaki jenjang yoona membelah karpet berbulu merah yang menambah kesan erotic dalam malam pertama mereka usai sebuah bencana besar berlalu. Ujung mata yoona yang menajam dan langkahnya yang teramat pelan membuat kyu hyun kalap dan menariknya segera untuk duduk.

Diatas pangkuan lelaki itu, yoona terkekeh geli. Kyu hyun tak pernah tak sesabaran ini meskipun itu untuknya. Setidaknya, sebelum ini kyu hyun selalu mampu menahan diri, membuat yoona meminta terlebih dahulu dengan segala taktik licik dan kemampuan supernya.

Yoona mengalungkan tangannya pada leher kyu hyun. Membuat salah satu alis kyu hyun naik tinggi-tinggi. Lengan yoona yang mengecil setelah sempat terlihat padat karena pertambahan berat badannya kini terasa begitu menggiurkan.

Kening mereka beradu sempurna. Kaki-kaki yoona yang hanya dibatasi jumbai kecil jaring tanpa fungsi itu menggelitik paha kyu hyun meski masih dalam balutan suit yang lengkap.

Kekehan mereka mewarnai kedalaman malam.

“kau mewarnai rambutmu” Kyu hyun mengeluarkan pernyataan singkat. Namun tangannya mulai bertempat di punggul yoona agar wanita itu tak terjatuh.

“kau menyadarinya?”

Kyu hyun terkekeh kecil. Shit! Kyu hyun bahkan tau jika yoona memiliki luka diujung jari telunjuknya karena tersayat pisau demi menyiapkan kyu hyun sarapan minggu lalu. jadi yoona mungkin hanya bergurau mengenai kyu hyun yang tidak mengetahui perubahan rambut yang terlihat sangat kontras dengan wajah putih susunya.

“bagian mana dari dirimu yang tak aku tau? Coba sebutkan!”

Yoona menjauh dan menunjuk hatinya degan ekspresi menggemaskan. Namun semua itu membuat kyu hyun tersentak. Yoona mungkin terlihat bercanda, namun makna dari tingkahnya jelas mencoba untuk mencari celah agar kyu hyun menjawab rasa ingin tau nya dengan segera.

Kyu hyun meraih jemari yoona dan menggenggamnya erat. Jemari itu bersarang tepat di dada kiri kyu hyun. Detik ketika jantungnya bertalu ribuan kali lebih keras dari yang siapapun pernah rasakan. Berada disekitar yoona selalu membuat kyu hyun kehilangan arah dan tujuan. Seharusnya ia mengatakan itu semenjak dahulu, namun ego masih menahan dirinya untuk bertindak lebih jauh.

Yoona tersipu malu dan menunduk. Kesempatan yang kyu hyun gunakan untuk menyelipkan helaian lembut rambut yoona kebelakang telinganya dan memberikan kecupan lembut disana. “aku bahkan tau kau menindik ulang telingamu dan menggunakan anting baru. Nice” ucapnya begitu manis.

Jemarinya menggenggam tangan mungil yoona dan bibirnya menyunggingkan senyum yang begitu indah. “red nail art. You gonna be the sexiest woman ever” bibir kyu hyun tak membatasi apapun yang ingin ia katakan.

Salah satu tangan kyu hyun menjalar. Menyusuri tubuh bagian depan yoona. Berhenti di titik dimana rasa dingin begitu menusuk jemarinya meski tubuh yoona masih dilapisi sehelai kain. Jemari telunjuknya mengitari pusar yoona dengan gerakan sensual.

“dan tindik dengan model baru?” tanyanya seolah tau segala hal yang yoona tambahkan dan kurangi pada dirinya hari itu.

“wow! Kau benar-benar jadi penguntit hari ini!”

Yoona berdiri, menjauh dari jangkauan kyu hyun dan berjalan menuju walk in closet. Ia hanya bergurau dan tertawa kecil ketika cengkraman kyu hyun menyambar lengannya dan memutar tubuhnya dengan cepat.

Pintu putih tinggi berisikan ratusan pakaian mereka menjadi saksi bagaimana kyu hyun menubrukkan tubuhnya pada yoona dan menguncinya disana. Mata lelaki itu menggelap, segelap malam yang tak pernah yoona temukan sebelum ini.

Tangan lainnya mengcengkram pinggul yoona dengan mata coklat madu yang tak berpindah sedetikpun dari mata yoona. Nafasnya memberat.

“kau ingin mempermainkanku?!”

Yoona tau apa yang terjadi pada kyu hyun. Mereka sudah melewati banyak hari hanya untuk hubungan semacam ini. saling menggoda, menikmati satu sama lain, take advantage dan segala hal kecil yang membuat kyu hyun ataupun yoona tak lagi menyadari sudah sejauh apa mereka melangkah demi terus melanjutkan permainan konyol seperti ini.

Yoona hanya tersenyum ketika nafas hangat dan berat kyu hyun menerpa wajahnya. Hal yang akan terjadi berikutnya, adalah tak sesulit yang terlihat untuk diitebak. Kyu hyun dan segala naluri kelelakiannya yang sangat panas dan berkobar hebat dan yoona yang masih diam tanpa perlawanan.

“aku? Mempermainkanmu?” Yoona terkekeh kecil. Persis didepan wajah kyu hyun. Membuat senyum tipis lelaki itu muncul kepermukaan dan kemudian bibir dinginnya singgah tak begitu lama disudut bibir yoona.

“kau sengaja melakukan ini?”

Suara berat kyu hyun menggema dalam gendang telinga yoona. Juga dalam kamar besar dengan cahaya tak seberapa yang kini yoona sadari begitu membuatnya berkeringat panas. Aura sensualitas yang kyu hyun pancarkan memang tak pernah bisa terkalahkan. Segala hal tentang lelaki itu membakar yoona. Membuat perutnya bergejolak seolah kan meledak.

“apa menurutmu begitu?” kyu hyun mengangguk. Menggesekkan kening mereka dengan sengaja. Berbagi peluh yang hadir bahkan sebelum pemanasan awal dilakukan. Menyadarkan yoona betapa kebutuhan semacam itu kini seolah menjadi primer dalam dirinya. “kenapa aku harus melakukannya?” lanjut yoona bertanya.

Kyu hyun melewatkan detik-detik awal untuk mencicipi bibir manis yoona. Sudah tidak terlalu tahan dengan segala gairah yang kini bukan hanya membakarnya, namun dengan kejam bahkan menghanguskannya menjadi debu.

Ciuman penuh tuntutan itu terbalas dengan lenguhan sedang yang yoona hantarkan lewat suara tertahan yang menggema. Membuat bulu roma kyu hyun berdiri tanpa komando. Hingga jemarinya mencengkram pinggul yoona yang hanya terbalut helaian baju tipis lebih erat. Lebih sarat akan kebutuhan yang begitu mendesak.

“cause you need me” kyu hyun menjawab usai mereka membutuhkan udara untuk bisa terus melanjutkan segala aktifitas malam yang kini terus terbayang dalam benak kyu hyun. Lalu tangannya berpindah secepat yoona yang tak menyadarinya.

Kyu hyun meletakkan tangannya untuk menyanggah berat yoona yang tak seberapa. Membuat tubuh kecil itu melayang. Membawanya pada tempat mereka yang semestinya. disetiap langkahnya tak henti kyu hyun hadiahkan kecupan hangat untuk yoona. Ditengah lingkaran tangannya yang mengelilingi leher kokoh kyu hyun, yoona tersenyum lebih sayu.

Lalu kyu hyun menggeram.

Ini gairah terbesar yang pernah ia miliki. Menjadi lelaki berkebutuhan lebih membuat setiap pertahanan dirinya untuk tak lagi menyentuh siapapun seolah berbalas dengan segala respon positif yang yoona berikan padanya malam ini.

Kyu hyun telah lama menantikannya. Namun dalam mimpi terliarnya sekalipun, ia tak menyangka semua kan datang secepat yang tak pernah ia duga.

Tubuh yoona menyentuh bedcover dengan lembut. Lalu ranjang beriak dan kyu hyun sudah berada tepat diatasnya ketika lelaki itu menyeruakkan wajahnya pada ceruk leher yoona dengan nafas sepanas bara api dan suara rendah yang parau.

“just like me who needs you in everysecond”

 

 

__

Yoona menatap wajah kyu hyun yang masih tertidur pulas. Bibirnya perlahan megukir senyum tipis semanis madu ketika ia kemudian beranjak dan mulai memunguti satu persatu pakaian mereka yang berserakan tak tentu arah.

Sebuah tas kecil menemani yoona ketika ia berdiri masih dengan baju yang sama, dipinggiran ranjang hangat yang mereka bagi malam itu. Pagi telah menjelang dengan surya yang mulai menampakkan dirinya.

Helaian rambut kyu hyun beriak ketika yoona menyisirnya kebelakang. Membuat tidur lelaki itu terganggu sejenak sebelum bibir mereka bertemu singkat dan yoona yang mendekat, mengirup bau kesukaannya sepanjang waktu.

Yoona mungkin sudah tidak waras ketika memutuskan untuk mengambil keputusan sebesar ini. namun ia bukan wanita tegar yang tak mampu menunjukkan sisi lemahnya. Keberadaan kyu hyun dan dirinya yang terus bercokol dalam satu atap ditengah udara yang masih bercampur akan amisnya duka membuat yoona tak mampu memikirkan hal lain yang lebih baik dari ini.

Mereka saling mencintai. Bayang bayang tiga tahun lalu, ketika kyu hyun bahkan hampir megusirnya dulu kembali berkelebat dalam benak yoona. Ketika itu, mungkin untuk memimpikan dapat tidur bersama kyu hyun saja adalah hal yang begitu sulit untuknya.

Pertemuan mereka yang diawali tatapan saling sinis hingga ketika itu kyu hyun menciuminya garang didalam lift yang hanya menyisakan mereka berdua, diakhir musim salju, kemudian membuat yoona sadar jika ruang kosong dalam dirinya telah tertutupi lama.

Kyu hyun telah menyelusup jauh sebelum yoona merasakan debaran jatungnya yang memompa ratusan kali lebih cepat malam itu. Namun ia berusaha menolak. Mengingat diawal pertemuan mereka, yoona begitu membenci kyu hyun yang terus menerus terlihat menggandeng wanita berbeda.

Lalu cinta itu tumbuh semakin besar. Setelah yoona sadar jika kyu hyun pun terlihat seperti tak ingin melepaskannya dari mata setajam elang milik pria itu. Perjalanan panjang yang kemudian membuat yoona tertawa miris.

Kini, setelah menyadari posisinya yang justru menjadi tempat kyu hyun untuk pulang, yoona merasa telah berusaha begitu keras. Ia mengorbankan kebebasan bermoral yang dulu begitu ia junjung dengan melakukan hubungan tak wajar diluar ikatan pernikahan.

Yoona tersenyum sendu. Bayangan ketika kyu hyun pergi saat yoona bersikeras menemui donghae pun membuatnya terus merasa nyeri. Kyu hyun tak pernah mampu mengutarakan perasaannya lewat kata-kata. Lelaki itu hanya mampu bertindak dengan harapan yoona akan mengerti apa yang harus dan tak harus ia lakukan kedepannya.

Andai kyu hyun tau, bahkan semenjak pertemuan pertamanya bersama donghae, ketika salju turun didaratan paaris, yoona tak sempat memikirkan pria lain selain dirinya.

Yoona pernah terkekeh mengejek. Ia pun, sesungguhnya tak jauh berbeda dengan kyu hyun. Yoona juga bukan lagi wanita yang akan mengakui perasaannya dengan gamblang. Ia menjadi keras semenjak kyu hyun mengajarkannya cara untuk membangun harga diri.

Jadilah mereka pasangan keras kepala yang menurut yoona justru membuat hubungan mereka terasa semakin normal.

Kini, setelah menyadari bahwa ada banyak hal yang harus diperbaiki diantara mereka, yoona tak mampu mencari jalan keluar yang lebih baik dari sekedar berlari. Walau sebenarnya, ia pun ingin tetap bersama kyu hyun, melanjutkan segala yang telah mereka bangun bersama.

Namun kesadaran menyentak yoona dengan keras. Bahwa mereka hanyalah dua orang saling mencinta yang tak berada diwaktu yang tepat. Yoona merasa tak mampu membangun kembali hubungannya bersama kyu hyun meski mereka telah bersikap biasa-biasa saja semenjak kehilangan itu melanda.

Ada banyak hal yang sesungguhnya tak benar-benar kyu hyun tau. Bahwa kesedihan itu telah larut dalam benak yoona ketika kyu hyun tersenyum dibalik rasa getir yang tak berhasil ia sembunyikan selama empat bulan ini.

Yoona merasa tertolak. Ketika lelaki itu menciumnya namun kemudian menampilkan raut kecewa. Atau ketika ia menggenggam tangan yoona namun tak berbagi kehangatan. Atau ketika ia memeluk yoona dengan tangan terkepal.

Mereka sama-sama menyimpan luka. Yoona tau hal itu dengan jelas. Hanya yoona tak menyangka jika tiga tahun bersama, kehilangan calon anak mereka adalah hal yang tak yoona temukan solusi dibaliknya.

Ia tak mengerti harus bertindak seperti apa. Yoona mengeluh pada sang pencipta karena hati kyu hyun yang perlahan menjadi kembali sulit untuk disentuh setelah semua ini berlalu.

Jadi, yoonakah yang lelaki itu benci? Karena telah menghilangkan calon anak mereka?

Jawabannya, mungkin sama.

Tidak.

Mereka tidak saling membenci. Hanya bagi yoona, belum saatnya mereka bersama saat luka yang mereka pendam belum sama sekali terobati. Kyu hyun menyimpan lukanya sebagai lelaki yang tak berhasil melindungi yoona dan calon bayi mereka. pun yoona menyimpan luka atas rasa bersalah karena tak mampu menjaga benih cinta mereka dari sergapan emosionalnya.

Mereka terluka.

Dan belum bisa berdamai dengan lara.

Maka yoona memutuskan untuk menghilang. Bukan untuk melarikan diri dari dunia. Hanya ia merasa, masing-masing dari mereka membutuhkan waktu untuk saling mengobati diri sendiri, sebelum kembali dan mengobati lara mereka secara bersama-sama.

Bunyi gesekan langkah yoona mengawali hari itu dengan duka. Yoona meninggalkan secarik bayang kebahagiaan disamping kyu hyun yang masih terlelap usai percintaan panjang mereka malam itu.

Yoona menutup matanya meragu. Tak sekalipun pernah terpikir olehnya untuk pergi tanpa memberitau kyu hyun terlebih dahulu. Meski jalan hidup yang mereka lalui bersama tak menyentuh angka puluhan tahun, setidaknya, selama tiga tahun belakangan pun yoona sadar ia tak pernah bisa hidup tanpa bergantung pada kyu hyun.

Lalu akhirnya pintu terbuka, dengan separuh nyawa yoona yang mulai melayang pergi entah kemana. Ditolehkannya kembali wajah sendu menahan tangis itu pada kyu hyun. Pada satu-satunya lelaki yang ia coba mengerti sisi gelapnya, sebelum decit bunyi pintu terdengar dan pagi itu berlalu begitu saja.

Tak lama setelah setelah dering lock pintu terdengar, kyu hyun bergerak gelisah, kemudian secara cepat membuka matanya dan menghela nafas dengan berat. Tubuhnya segera terduduk, membuat selimut yang menghangatkan tubuhnya melorot jatuh. Kyu hyun menyisir rambutnya penuh amarah, lalu menggeram kecil menjelang bangkit dan berjalan menuju kamar mandi tanpa memperdulikan kondisi tubuhnya yang tak berbusana.

Kyu hyun menatap pantulan kaca dengan jengah. Entah apa yang kini harus ia lakukan. Kyu hyun bukannya tidak mengerti dengan kepergian yoona yang mendadak. Baginya, yang dimanapun ia selipkan mata-mata demi mengawasi yoona, kepergian wanita itu bukan lagi menjadi rahasia. Namun alasan dibalik keputusannya membuat kyu hyun hampir gila.

Kyu hyun menutup erat bola matanya. Menahan perih yang kemudian silih berganti menghujam batinnya tanpa ragu. Mengingat kalimat terakhir yang yoona ucapkan usai bibir mereka bertemu dalam kebisuan pagi ini.

Kalimat singkat yang telah lama tak kyu hyun dengar. Bibir kyu hyun mengatup penuh rasa sesal. Ia ingin menarik yoona dan menahannya untuk pergi. Namun bencana besar yang telah mereka lalui membuatnya sadar jika sudah bukan lagi saatnya untuk memutuskan segala hal dalam hidup mereka seorang diri. Yoona pun berhak dalam jalan yang kemudian akan mereka lewati.

Tangannya menarik laci dibawah meja rias, mengeluarkan satu kotak beludru kecil yang siapapun mengerti apa maksudnya. Kyu hyun sudah memantapkan hati untuk menjadikan yoona sebagai pelabuhan terakhirnya. Namun logika kembali menahannya untuk terus menuntut. Yoona memiliki hak untuk pergi atau bahkan memilih untuk tetap disini.

Disisinya.

Kyu hyun menggeram. Nyatanya, kini yoona memutuskan untuk pergi. Kepalan tangannya menghancurkan kaca menjadi serpihan tak berguna. Lalu lelehan amis mewarnai kulit putih pucat kyu hyun dengan merah pekat yang menyala-nyala.

“maafkan aku harus menjadi sepengecut ini. aku mencintaimu”

Aku mencintaimu.

Kyu hyun mengulang kalimat itu dan tersenyum miris. Lantas mulai bertanya pada diri sendiri sejak kapan cinta harus sesakit ini?

 

 

Kkeut.

HYAHYAHYAHYAAAAA!!!

Gimana rasanya di PHP-in lagi?

Wkwk, firstly, aku mau minta maaf (lagi) (dan lagi). Buat yang merasa aku terlalu memberikan harapan palsu dan terus mengulur-ulur cerita. Tapi ya mau gimana yah, aku sendiri juga heran kok aku anteng banget nulisnya eh tau-tau udah hampir 40 halaman ms.word aja. Ya kan gak mungkin aku post dalam satu series. Bisa bosen juga kalian bacanya kan:) lagian endingnya masih panjang, mungkin bisa jadi 50/60 lembar ms.word. jadi, memang disini salahku yang gak bisa memprediksi alur yang ternyata butuh lembar demi lembar yang sangat amat panjang.

Jadi, untuk part depan.. yah, tunggu ajadeh. Tapi aku sih berharapnya bakalan ending. Aku usahakan. Dan WUZZ!! Siapa sangka bisa ngepost secepat ini kkk~

Kedua, maaf karena disini, mungkin belum saatnya ada yang berbahagia🙂

Ketiga, maaf juga buat kalian yang menahan getir karena yoona harus mengalami penderitaan yang seperti ini. but this is my story. Aku rasa untuk beberapa orang yang ngerasa aku terlalu mendzolimi yoona dalam cerita ini bisalah untuk gak perlu baca lagi. Karena aku juga gak akan ngerubah cerita Cuma karena itu. Kalian seharusnya bisa ngerti maksudku, bukan Cuma nyimpulin secara dangkal gimana aku bikin hidup yoona amat sangat menderita disini. Karena however, saat aku harus pakai POV kyu hyun atau donghae pun, kalian juga akan protes dengan hal yang sama. Intinya, semua cast yang ada dalam cerita ini menderita. Sakit. Tapi dari situ aku bisa nyuguhin cerita menurut versi dan imajinasiku sendiri. aku juga gak mungkin bersikap gak adil. Tapi presepsi adil kita ya beda-beda kan? Mungkin karena kalian yonaddict, kalian bisa menjudge aku seperti itu. But for me, yang especially an elf? Aku juga bisa membela kyu hyun dan donghae dengan caraku. Tapi nggak aku lakuin karena sekali lagi, aku ingin cerita ini berbobot dan adil. Toh, pada akhirnya setiap penderitaan punya alasan dan tujuan dibaliknya. Jadi, aku Cuma mohon cobalah buat jadi dewasa. Dalam ceritaku, aku selalu ingin kalian ngerti bahwa ada sisi positif disetiap jengkal jejak kehidupan. Meskipun itu pahit banget lah.

Jadi tolong ya, temen-temen semua. Aku Cuma mau ngasih saran kalau ngasih komentar biasakan yg membangun. Tentang aku yang terlalu terkesan jahat sama yoona, menurutku, itu memang jalan yang harus ada dalam cerita ini biar waktu ending gak ada lagi yang perlu dipertanyakan. Cerita ini clear, karena setiap castnya udah dapet balasan yang setimpal dari semua yang pernah mereka lakukan disetiap bagian series ini sebelumnya.

Last. Cuma mau ngasih tau kalau part end, sekali lagi aku tegaskan, akan aku protect permanen. Biasain untuk saling menghargai ya:) aku berharap nama komentar (id koment) kalian sudah ada semenjak “Dirty Little Secret 1,2,3, Suffering dan juga part ini”. kalau seandainya nanti kalian minta password tapi masih belum aku balas, berarti syarat kalian blm lengkap. Aku juga gak berniat menjawab pertanyaan seperti ‘emangnya syaratnya apa sih thor?’ atau ‘aku harus gimana biar dapet PWnya?’. Aku saranin, coba baca setiap notes seorang penulis disetiap akhir cerita mereka. mungkin, mereka mau lebih deket sama kamu? Who knows?

 

With love, Park ji yeon.

217 thoughts on “Unexpected : Erlebnisse

  1. donghae koma, kandungan yoona yg tak bisa diselamatkan… nyesek banget…
    disaat yoona baru tau klu ia hamil, eu disaat itu juga ia harus kehilangannya…
    sekali lagi hub mereka begitu, yoona pergi dan kyu malah membiarkannya…
    hoalah….

  2. Baru aja sempet bertanya-tanya. Kemana si dongdong? Wealaah dia koma 😥 tetep yaa sejahat apapun donghae KyuNa tetep gak bisa benci sama dia awwh :3
    Aah aku pikir Yoona bakalan marah sama Kyuhyun anaknya gak ada ternyata… iyajuga sih kalo aku jadi Yoona aku pasti juga bakalan minta maaf sama Kyuhyun dan merasa bersalah /tapi mudah-mudahan gak ada yg jadi kayak Yoona ya–kehilangan buah hatinya/
    Tuh kaaaaan ini aku udah duga nih.. pasti ada saat Yoona bener-bener ninggalin Kyuhyun dan terbukti kan..
    Tapi yg gai disangka-sanga, as always, Kyuhyun selalu tahu rencana Yoona! Whoaa daebak!
    Tapi tetep aja pengecut. Aiiih Kyuhyun bikin geregetan, kenapa gak langsung ungkapin aja sih >< disini akunya yg frustasi eeh~

  3. Gak bsa bayangin perasaan yoona skrg..
    Aku harap donghae cepat sembuh kyuhyun n yoona bersatu n yoona hamil lgi…
    Aku bingung mo komen apa thor susah buat ungkapin nya… tpi kamu emang daebak thor cerita nya pas bgt..

  4. Aduh kasian bgt yoona & kyuhyun mereka harus kehilangan calon buah hati mereka,.
    Aishhh kenapa kyuhyun gak nahan yoona untuk pergi kan dia bisa langsung ngungkapin perasaanya ke yoona….
    Tapi Kyu hebat dia bisa tau apa yg yoona lakukan ketika yoona tidak berada disisinya (y)
    Ff nya makin bikin penasaran, aku harap pas endingnya KyuNa bersatu..
    #KyuNa_Jjang!!!!

  5. sedih lihat yoona kehilangan anaknya .dan ternyata donghae koma kerena menyelamatkan yoona dan kyuhyun . tpi kenapa yoona harus pergi meninggalkan kyuhyun dan kenapa pula kyukyun yang sdah tau bhwa yoona akan pergi meninggalkanya malah di biarkan .semoga diakhir nanti mereka kembali bersama dan puny anak

  6. ternyata donghae tidak muncul karena sedang koma .sedih lihat kyuhyun dan yoona yang kehilangan anaknya. gara gara lucia yang benci lihat yoona bersama kyuhyun dan apalagi dia blang itu karma buat kyuhyun yang suka maini hati wanita tpi kenapa yoona dan bayinya yang kena sasaran .ksal dengan dengan lucia .kyuhyun jadi merasa bersalah dengan yoona tpi kenapa malah membiarkan yoona pergi . semoga mereka bersatu kembali .

  7. Aku dari awal udah ngikutin cerita Unexpected, kalo dipublish juga ngomen terus, tapi kenapa aku ga direspon buat permintaan pw yg part end-nya..
    Aku udah 2-3 kali sms kamu hlo thor dalam selang waktu ampir sebulan. Tapi knpa ga direspon?😖

  8. Okk,,, aku ngerti maksud author ini. Yah menurutku kalau hrus ada yg di salahin semuanya salah. Kyu, hae, maupun yoona. Mereka punya sisi yg yah mengecewakan. Itu mnurutku. Tpi justru dari kesalahan itu kita bljar. Bahkan msalah yng datang secara beruntun dan mnguras emosi tdk sia sia krna itu bsa membuat pikiran terbuka dan menyadari kesalahan msing msing. Sekarang aku mkin penasaran sma lanjutannya😀

  9. Mana oksigen? Mana oksigen? Butuh oksigen……😢 Iya…semuanya menderita bgt. Jadi kenapa Kyuhyun gak ngejar Yoona? Takutnya nnt Kyuhyun terlalu pasrah…padahal mereka berdua saling cinta. Kyuhun udah kaya googlenya Yoona ya? Tahu semuanya 😂 Ditunggu lanjutannya kak… Aku nunggu akhir yg memuaskan walaupun gak bahagia nantinya 😂

  10. Sebenernya ga kecewa sih kenapa yoona dibikin harus pergi thor😦 padahal kan mereka sama2 terluka dan harus nya saling menguatkan wlpun dengan cara masing2. aaah ga sabar baca next chp nya. good ff thor hehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s