IM YOONA

CBynZefWMAA4P9T

IM YOONA | De_Pus19

Oh Sehun | Im Yoona | Xi Luhan | Krystal Jung

Oneshoot | Angst – Psycho – Romance | PG-17

Note

Perhatikan tanggalnya

Summary

 Mereka berdua berbeda, tapi kau menganggap mereka berdua sama hanya karna mereka mirip. Wanita jalang itu telah membuatmu hampir gila dan kau masih mencintainya. Wanita yang baru kau temui sangat mencintaimu, tapi kau tak perduli. Jadi, apa mau mu?

.

.

.

January, 08 2015

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan?”

Krystal meletakkan cangkir kopinya, matanya menatapa serius ke arah Kai. Ada hal yang sangat penting yang ingin ia bicarakan dan wanita itu merasa Kai adalah orang yang tepat. “Siapa Im Yoona?”

Terlihat jelas, pria itu tidak suka mendengarnya. Wajahnya terlihat kesal dan ia ingin sekali marah, tapi Krystal bukanlah orang yang tepat untuk menjadi pelampiasannya. “Ada apa?” Krystal merasa harus bertanya pada Kai, ketika ia melihat pria itu seperti ingin menghancurkan apapun yang ada didepannya.

“Dia adalah dalang dari semua ini!”

.

.

.

October, 29 1998

“Sehun, ada apa?”

Seorang wanita cantik berjalan menghampiri anaknya yang tengah termenung menatap keluar jendela. Tangan wanita itu menghusap pelan pucuk kepala anaknya, Oh Sehun nama anak itu. Sehun sama seperti anak sesusianya yang berumur 8 tahun, dia suka bermain, mempunyai banyak teman, dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan anak sepantarannya, dia normal. Tapi, kebelakangan bulan ini sikapnya menjadi berubah. Dingin dan wajahnya memancarkan kebencian.

“Kenapa kau tak turun dan bermain bersama Luhan dan Yoona?”

Ibunda Sehun, Nyonya Oh sepertinya bisa membaca apa yang Sehun tengah perhatikan kini. Mata anak itu menatap kebawah, tepatnya melihat kesal kearah Luhan dan Yoona yang tengah bermain kejar-kejaran. Dia terlihat membenci pemandangan itu.

“Kenapa kau memungut dia?” Nyonya Oh tersentak mendengar pertanyaan Sehun. Apa maksudnya? “Kenapa kau memungut gadis itu? Semenjak ada dia di rumah ini, ada banyak masalah yang muncul!”

“Kau tidak menyukainya?”

Sehun menatap Nyonya Oh. “Aku membencinya!”

.

.

.

December, 20 2000

“Luhan, kau jaga.”

Luhan memutar bola matanya malas, wajahnya dikekuk nampak kesal dan muak dengan semua ini. “Kau curang, mengapa yang aku selalu jaga?”

“Karna kau kalah, bodoh.”

Bibir Luhan berkerucut. “Kita sudahi saja permainan ini, aku lelah.”

“Hey, kau ingin kabur.” Pekik Yoona kesal.

Luhan mehelakan napas panjang. “Baiklah, aku jaga. Akan ku hitung 1 samapai 10.” Luhan berbalik menghadap tembok, tangannya terlipat keatas dengan mata tertutup. “Satu.” teriak Luhan.

Kaki kecil gadis itu berlari menyusuri lorong. Lantai marmer yang mengkilap dan perabotan rumah yang mahal sudah menjadi pemandangan yang tak asing lagi selama beberapa bulan ini. Yoona bukanlah anak dari pasangan Tuan dan Nyonya Oh ataupun anak dari Kepala Pelayan seperti Xi Luhan. Dia hanya menumpang, tanpa tahu alasannya berada disini.

Langkahnya berhenti dididepan sebuah lemari kayu. Dibukannya lemari itu, dia terdiam untuk ukuran sebuah lemari kayu yang sangat bagus ini, lemari ini kosong tak ada isinya. Ah, tapi Yoona juga tidak begitu perduli dengan semua itu, karna gadis kecil ini berpikir lemari ini cukup bagus untuk tempatnya bersembunyi.

Suara langkah terdengar kencang, tanpa pikir panjang Yoona segera memasuki lemari itu. Apa itu Luhan? Pikirnya cemas. Dia tak akan menemukanku dimanapun, Luhan bodoh.

“Selama masih ada pelayan sialan itu disini, kita tidak bisa bertindak bebas.” Nyonya Oh, Yoona mengenal suara ini, ya tidak salah lagi. “Pelayan sialan itu, aku tidak menyangka dia akan memeras kita seperti ini.” Dan itu Tuan Oh.

Siapa yang mereka bicarakan?

“Dia mempunyai buktinya, kalau bukti itu tersebar ke media masa, perusahaan akan bangkrut. Sial harusnya kita bunuh saja dia!”

“Jangan gegabah, pelayan sialan itu hanya meminta sedikit dari apa yang kita miliki. Kita ikuti saja apa yang dia mau.”

“Lalu bagaimana dengan gadis itu? Im Yoona, dia akan tinggal selamanya disini?”

“Aku tidak keberatan dengan hal itu.”

“Aku sangat keberatan. Sehun tidak menyukai Yoona dan aku ibunya. Aku harus memikirkan bagaimana perasaan anakku. Aku ingin mengusirnya dari rumah ini.”

“Sudahlah, dia hanya anak kecil. Kita harus bersikap baik padanya, sebelum pelayan sialan itu membeberkan semuanya.”

Sunyi. Nyonya dan Tuan Oh pasti sudah pergi. Yoona masih terdiam memikirkan semua ini. Dia masih terlalu kecil untuk memikirkan hal yang tidak-tidak. Bagaimana begini? Bagaimana begitu? Yang bisa ia cerna hanyalah Sehun dan Nyonya Oh tidak menyukainya dan Tuan Oh, nampaknya ia mempunyai rencana lain yang lebih jahat lagi.

Brak!

Pintu lemari terbuka lebar. Bukan Luhan yang ada dihadapannya ataupun Nyonya dan Tuan Oh, tapi Oh Sehun. Anak dengan wajah dingin itu menatap lurus tepat dibola mata Yoona. “Kau menguping pembicaraan orang lain.”

Eh?! Yoona terkejut, bukan dia menguping hanya saja Tuan dan Nyonya Oh berbicara tanpa mengetahui keberadaannya. “Tidak, aku tidak melakukan itu.”

“Kalau begitu, apa yang kau dengar?”

Yoona tertunduk. “Kau membenciku dan Ibumu akan mengusirku.”

“Dari mana kau mendengar itu?”

“Orang tuamu yang berbicara.”

Sehun menarik tangan Yoona, keluar dari persembunyiannya. “Kalau begitu jangan dengarkan. Lupakanlah.”

“Bagaimana mungkin, orang tuamu sendiri yang berbicara seperti itu. Kalau ibumu mengusirku, kita tidak bisa bertemu lagi.”

“Itu tidak akan terjadi,” Sehun menatap Yoona serius. “Karna, aku yang akan mencegahnya. Aku akan melindungimu.”

.

.

.

January, 12 2007

“Hey, Oh Sehun. Sebenarnya siapa Oh Yoona?”

Sehun memandang Kai sekilas. “Bukan siapa-siapa.”

“Lalu, mengapa ia tinggal dirumahmu?” kini Byun Baekhyun yang bertanya. “Dia bukan simpanan Ayahmukan?” lanjutnya.

Sehun terlihat tidak senang mendengarnya, apalagi melihat teman-temannya yang tertawa mengejek. “Tentu saja bukan. Dia itu bukan siapa-siapa, dia hanya anak yang dipungut dari jalanan oleh Ibuku.”

“Berarti orang tuamu menyukai Oh Yoona, apa kalian akan segera menikah?” Kai dan Baekhyun terus menggoda Sehun. Sedangkan pemuda itu terlihat kesal dan muak. Apa kedua orang tuanya menyukai Yoona? Bahkan dulu Yoona sempat ingin ditendang ke jalanan hanya karna sebuah guci yang harganya tidak terlalu mahal.

“Benarkan? Oh Yoona adalah calon isterimu. Lalu bagaimana dengan Suzy, kau akan mencampakkannya seperti pacarmu yang sebelumnya?”

Brak!

Sehun bangkit sambil memukul meja itu kencang, membuat kedua sahabatnya terlonjak kaget. Hey, untung saja hanya ada mereka bertiga di kelas. “Jangan bandingkan Suzy dengan Yoona. Suzy adalah gadis cantik, pintar, dan dari keluarga yang terhormat. Sedangkan Yoona, dia hanyalah anak jalanan yang bahkan tidak ingat kedua orang tuanya.” Hey, hey, kalau itu Kai dan Baekhyun juga tahu, tapi mereka merasa ucapan Sehun sudah keterlaluan. Okey, mereka hanya bercanda.

“Oh Yoona. Aku sangat membencinya.”

Hening. Mereka berdua diam, bukan karna mendengar ucapan Sehun yang sudah melewati batas itu. Tapi karna, seseorang yang sedang menjadi topik pembicaraan mereka sedang berdiri disana. Diambang pintu itu. Sehun terhenyak, malu sendiri dengan ucapannnya. Merasa bersalah, tentu saja, lihat reaksi Yoona, gadis itu hanya terdiam dengan wajah yang terlihat terkejut.

“Ah, sepertinya aku menganggu pembicaraan kalian. Maaf.” Yoona berbalik dan pergi. Meninggalkan Sehun yang masih menatap ambang pintu itu kaget. “Sial!”

Sehun panik. Dia berlari mengejar Yoona. Bukan, bukan itu maksudnya. Dia tidak bermaksud seperti itu. “Yoona! Tunggu!” Sehun menarik pergelangan tangan Yoona. “Dengarkan aku dulu! Ini tidak seperti yang kau kira!”

Yoona menangis. Sehun membuat Yoona menangis dan Sehun merasa menyesal. “Lalu apa yang sebenarnya yang terjadi? Aku salah dengar?” Suara Yoona bergetar. “Jelaskan padaku, Oh Sehun.”

“Aku tidak membencimu, percayalah Yoona.”

Yoona mengusap air matanya kasar. “Apa yang kau katakan tadi dengan apa yang kau katakan sekarang sangat berlainan.”

“Kau tidak perlu mendengarkan apa yang kukatakan tadi. Kau hanya perlu mempercayaiku.”

Yoona tidak habis pikir dengan apa yang Sehun katakan barusan. Mempercayainya? Bagaimana bisa? Mengapa pemuda ini sangat egois? Apa maunya? “Aku mempercayaimu, sangat memperpercayaimu. Hingga aku masih mengingat janjimu yang dulu. Tapi, kau tak pernah menepatinya. Kau melindungiku? Kau menyikasaku.”

Sehun tak bisa berkata apapun. Dia sadar dia salah, tapi tolong dengarkan dulu penjelasannya. Sehun tak pernah merasa menganggap Yoona orang yang menumpang dirumahnya, dia menerima gadis itu. Hanya saja, dia merasa ada yang tak adil. Ada perasaan rumit yang terjalin didalam detak jantungnya.

“Yoona,” Suara Luhan. “Yoona, kau menangis? Kenapa?” Luhan menatap Sehun tajam. “Apa yang kau lakukan Oh Sehun? Apa maumu? Kau selalu membuat Yoona menangis.”

Benar, Sehun hanya bisa menyiksa Yoona.

Sehun membuang muka. “Aku tidak melakukan apapun, dia saja yang terlalu serius menanggapi ucapanku.”

“Apa?”

“Kau tidak perlu ikut campur, Xi Luhan,” Sehun menatap Luhan tajam. “Yoona, dia adalah mainanku.”

.

.

.

February, 02 2007

“Nona Yoona, bisa kau bangunkan Tuan muda Sehun?”

Yoona menoleh kearah Bibi Xi, Ibu Luhan. “Aku sangat sibuk, jadi tak sempat membangunkannya.” Yoona meneguk susu yang baru saja dia tuang. Jujur saja, sejak kejadian itu Yoona tidak ingin terlibat apapun yang bersangkutan dengan Sehun dan sekarang dia disuruh memasuki kamar pemuda itu. Oh, astaga! Bunuh saja dia!

Yoona mengangguk. “Baiklah, aku akan membangunkan Sehun.”

Yoona berjalan ke kamar Sehun. Ada perasaan gugup yang hinggap dihatinya, dia belum pernah memasuki kamar lelaki manapun. Jadi wajar saja, Yoona merasa gugup. Apalagi kamar yang akan dimasukinya ini adalah kamar seorang pemuda yang sangat membencinya. Yoona menekan gagang pintu lalu mendorongnya. Kamar Sehun sangat gelap, Yoona rasa dia harus menyibak tirai tebal itu.

Sinar matahari pagi memasuki kamar Sehun dengan leluasa. Kamar yang tadinya gelap gulita kini telah terang.  Sehun menggeliat diatas ranjang, merasa terganggu dengan sinar matahari yang menusuk tepat dimatanya.

“Oh Sehun, bangun!” Yoona mengguncang-guncangkan tubuh Sehun. Tak perduli dengan sangat empunya yang merasa terganggu. “Sehun! Bangun!” teriak Yoona kencang.

“Aish… kau sangat berisik, Yoona. Sekarang hari minggu, jadi tolong biarkan aku istirahat.” Ucap Sehun dengan suara parau khas orang baru bangun tidur.

“Aku ke sini bukan untuk mendengarkan keluh kesalmu. Jadi, bangunlah.” Yoona menarik tangan Sehun, membuat selimut itu terlepas dari tubuhnya. Oh Tuhan! Sehun tak mengenakan pakaian, dia hanya memakai celana pendek. Segera Yoona melepaskan tangan Sehun, membuat pemuda itu terhempas jatuh keatas ranjang.

“Ada apa denganmu?” tanya Sehun kesal. Kepalanya terbentur salah satu ujung ranjang. “Bodoh!” teriak Yoona. “Kenakan dulu pakaianmu.”

“Hah?!”

Sehun memperhatikan tubuhnya. Oh ya, dia hanya mengenakan celana pendek. Senyuman jahil muncul diwajahnya. Yoona tak begitu meningat kejadiannya, yang pasti sekarang tubuhnya telah terbaring diatas ranjang dengan  Sehun yang berada diatasnya. Dia ditiban.

“Apa yang kau lakukan, Oh Sehun? Lepaskan aku.” Ucap Yoona sambil mendorong-dorong tubuh Sehun. Tapi, tenaganya tak sebanding. Tangan kekar Sehun terlalu kuat untuk legannya yang lemah.

“Kalau aku tidak mau? Apa yang mau kau lakukan?”

“Aku akan berteriak.”

“Lakukan saja. Siapa yang akan mendengarmu? Ruangan ini kedap suara.”

Mata Yoona membulat. Oh Tuhan, benar juga apa kata Sehun. Yoona menoleh kearah pintu, sial dia lupa, dia menutup pintu itu. “Memangnya apa yang kau ingin lakukan? Cepat lepaskan.”

“Mengambil milikmu yang paling berharga.”

Okey, jangan tanya apa yang Yoona pikirnya. Pikirannya sudah melayang kemana-mana. Melihat ekspresi Yoona membuat Sehun ingin tertawa. Tapi dia menahannya. Oh Tuhan, liat ekspresi itu Yoona terlihat seperti orang bodoh. Sehun sudah tidak kuat. “Kenapa tertawa?”

Sehun menggeleng. Tapi, pemuda itu tetap tertawa, dia bodoh, Oh Sehun bodoh. “Berhentilah mempermainkanku, aku bukan bonekamu. Aku bukan anak kecil lagi. Bukannya kau membenciku?”

Sehun berhenti tertawa. “Kenapa kau berbicara seperti itu?”

Yoona membuang mukanya kearah samping, tatapan pemuda itu terlalu menusuk kedalam matanya. “Kau bilang kau membenciku, kau selalu bersikap kasar padaku didepan orang lain. Tapi disaat kita berdua seperti itu, kau bersikap baik. Itu membuatku salah paham dan berpikir yang tidak-tidak.”

“Memanggnya apa yang kau pikirkan?”

Yoona terlihat ragu untuk menjawab. Wajahnya memerah, dia malu. “Kupikir kau menyukaiku.”

“Kau terlalu percaya diri.”

Wajah Yoona semakin memerah. “Kalau perkiraanku salah. Maaf. Yasudah lepaskan.”

“Tidak mau.” Tubuh Sehun lama-kelamaan menurun dan sekarang dia benar-benar menindih tubuh Yoona. Dengan kepala yang terbaring diatas dada gadis itu. “Hey, bangunlah. Ini pelecehan seksual.”

“Benarkah? Kalau begitu aku akan menikahimu.”

“Hah? Jangan biacara sebarangan. Kalau kau ingin menikahiku kau harus mencintaiku dulu.”

“Aku sudah mencintaimu. Jadi, bolehkan aku langsung menikahimu?”

Yoona terlonjak kaget. Apa dia tidak salah dengar? “Apa? Bukannya kau membenciku. Jangan mempermainkanku lagi.”

“Aku serius, aku memang mencintaimu. Sudah kubilang, aku tidak membencimu.”

“Tapi, kau bilang ka-”

Sehun memotong ucapan Yoona. “Aku kan sudah bilang jangan dengarkan ucapanku, tapi percayalah padaku.”

“Bagaimana bisa? Kau selalu bersikap kasar padaku apalagi kalau aku sedang bersama dengan Luhan. Kau terlihat seperti selalu mempermainkanku. Kau terlihat jahat.”

Sehun memendamkan kepalanya dalam dada Yoona, membuat wajah gadis itu semakin memerah. “Aku hanya cemburu,” Hah?! “Aku tidak suka melihatmu bersama Luhan. Kau selalu tersenyum bersamanya, tapi denganku kau selalu menangis. Semua orang menanggap kalian berpacaran, padahal kalian tak ada hubungan apapun. Ya, kan? Kalian tidak berpacaran, kan?”

Sehun menatap Yoona serius. “Tidak, aku hanya menganggapnya sebagai kakak kandungku sendiri.” Ada perasaan lega yang tertangkap diwajah Sehun. Mereka tersenyum. “Aku hanya ingin kau menatapku, jangan pernah menatap pria lain selain aku. Janji?”

“Kenapa aku harus berjanji? Memangnya kau siapaku?”

“Kita kan sudah berpacaran.”

“Kapan aku menerimamu menjadi kekasihku?”

Sehun tersenyum jahil. Yoona mempermainkan dirinya dan Sehun terlihat tak keberatan dengan hal itu. “Baiklah Oh Yoona, maukah kau menjadi kekasihku?”

“Akan kupikirkan.”

“Apa-apaan itu.” Sehun menggelitiki tubuh Yoona. Gadis itu terlihat senang, dia tertawa kencang. “Jawab yang benar.”

“Baiklah, aku mau.”

.

.

.

June, 15 2008

Sebuah keluarga terlihat sangat bahagia sedang mengendarai sebuah mobil. Mereka tertawa dan tersenyum bersama. Alunan musik terdengar beriringan dengan nyanyian gadis kecil yang duduk dibangku belakang. Keluarga yang benar-benar harmonis.

“Appa, kapan kita sampai?” pekik gadis kecil itu girang.

“Sebentar lagi, Yoong. Bersabarlah.”

Dari arah berlainan sebuah mobil melaju dengan kecepatan kencang dan tak terkendali. Mobil itu memasuki jalur yang berlawanan, jalur yang kini dilalui keluarga harmonis itu. Ayah dari gadis kecil itu terlonjak kaget, dia sudah membunyikan klakson beberapa kali, tapi tak dihiraukan oleh mobil itu. Dengan terpaksa Ayah dari gadis itu membanting stir ke arah samping, membuat mobil itu terjun bebas ke arah jurang.

“Eomma!” jerit gadis kecil itu.

“Yoona! Im Yoona!”

Tangan kurus itu bergerak pelan, menandakan kesadarannya sedikit demi sedikit pulih. Dari banyak arah samar-samar ia mendengar suara orang berteriak memanggil dokter. Hidung itu menarik napas pelan, bau alcohol bercambur bau obat antibiotik menghajar indera penciumannya. Sinar lampu sedikit menusuk matanya, awalnya semuanya buram tapi lama kelamaan semua terlihat jelas. Sangat jelas, dia telah sadar total.

Seorang pria yang gadis itu yakini seorang Dokter memeriksa keadaannya. Pancaran kebahagiaan dan khawatiran memancar dari wajah pria yang berdiri disamping tempat tidurnya, Oh Sehun. Dokter itu menggerak-gerakkan tangannya didepan wajah Yoona sambil memanggil manggil namanya.

“Yoona, Oh Yoona. Kau bisa mendengarku?”

Yoona mengalihkan pandangannya kearah Dokter itu. Bibirnya bergerak, dia berusaha untuk berbicara. Kering bibir Yoona kering, tapi dengan sekuat tenaga dia berusaha untuk berbicara walau hanya sepatah.

“Namaku, Im Yoona.”

.

.

.

January, 09 2015

Krystal menutup matanya sejenak. Lelah melihat layar monitor yang terus ia pandangi sejak pagi tadi. Waktu telah menunjukkan pukul 8 malam, namun tak ada satupun pekerjaannya yang ia selesaikan hari ini. Ucapan Kai terus teriang-iang diotaknya, walaupun Krystal yakin pria itu belum benar-benar menyelesaikan ceritanya. Tapi Krystal telah mengambil garis besar dari jalan cerita ini, Im Yoona adalah mantan kekasih Sehun. Hanya itu. Ponselnya bergetar, melirik sebelum akhirnya tersenyum manis.

‘Kau dimana?’

Krystal sudah mengenal Sehun sejak lama, ya mungkin tidak selama Im Yoona. Tapi setidaknya, ia mengenal Sehun cukup baik. Walaupun ucapan dan tatapan pria itu terlihat dingin, tapi ada sebuah kekhawatiran yang terselip didalamnya.

‘Aku ada di apartemen. Kau ingin datang?’

‘Mungkin, aku akan mampir kesana sebentar.’

‘Kau sudah makan? Aku akan menyiapkan makanan.’

‘Baiklah.’

Krystal berlari kecil kearah dapur. Dia menyiapkan beberapa makanan. Sehun tak pernah memberi tahu apa makanan kesukaannya, tidak pernah, bahkan jika Krystal bertanyanya sendiri. Bahkan sampai saat ini, Sehun masih menjadi sebuah teka-teki rumit bagi Krystal. Telalu tertutup, Krystal rasa Sehun memang tidak ingin wanita itu mengenal dirinya lebih dari ini.

Krystal marah? Hey, tentu saja. Mereka telah berpacaran selama 2 tahun dan baru kemarin Krystal mengetahui siapa Im Yoona setelah ia kebingungan selama beberapa bulan terakhir. Dari mana ia tahu Im Yoona? Oh ya, Krystal sama sekali tidak berpikir bahwasannya dulu keluarga Oh pernah mengadopsi seorang gadis kecil yang ternyata adalah kekasih Sehun. Yeah, Krystal tak mempunyai khayalan sehebat itu.

Jadi, dari mana ia tahu Im Yoona? Dari seorang pria tampan yang beberapa bulan yang lalu bertemu dengannya distasiun bawah tanah. Demi apapun, Krystal sangat ketakutan saat itu. Pria itu terlihat normal dengan stelan jas dan sepatu hitam yang mengkilap. Tapi, bagaimana persaanmu jika dikejar oleh seseorang yang tak kau kenal hingga ke statiun selanjutnya dan pria itu terus memanggilmu dengan sebutan Im Yoona? Siapa yang tahan diperlakukan seperti itu? Krytal rasa tidak ada. Dan yang mungkin bisa Krystal simpulkan setelah kemarin mendengar cerita Kai. Pria yang mengejarnya beberapa bulan yang lalu adalah Xi Luhan, teman masa kecil Yoona dan Sehun.

Wanita itu meletakkan mangkuk terakhir diatas meja makan. Semua sudah siap, tinggal menunggu Sehun datang. Krystal berlari pelan kearah pintu, ketika ia mendengar suara bel berbunyi. Sehun, pria itu telah berdiri dibalik pintu sambil tersenyum manis. “Kau telah lama menungguku?” Krystal menggeleng. “Wah, aku mencium bau masakan. Kau masak apa hari ini?”

Sehun melangkah masuk kedalam rumah kekasihnya. “Sup tofu.” Pria itu berbalik dan menatap Krystal dengan pandangan terkejut. “Sungguh? Ah, aku sangat membenci tofu.”

Heh?! “Benarkah?” tanya Krystal setengah terkejut.

“Tidak, aku hanya bercanda.” Menyebalkan, pikir Krystla.

Suasana menjadi hening. Mereka menikmati makanan yang tersaji diatas meja. Tapi, ada sesuatu yang mengganjal, Sehun terlihat sangat menikmati masakannya. Apa Sehun menyukai tofu? Ya Sehun menyukai tofu, tapi bukan berarti tofu adalah makanan kesukaannya. Apa Im Yoona mengetahui makanan kesukaan Sehun?

Entah kenapa, Krystal merasa kalah dari Yoona. Krytal belum pernah bertemu Yoona ataupun melihat fotonya. Ia merasa kalah dari seseorang yang bahkan belum pernah menunjukkan batang hidungnya lagi. Yoona menghilang, itulah yang Luhan sampaikan.

“Sehun, kau tidak ingin memperkenalkanku ke dua orang tuamu?”

Sehun menatap Krystal. “Orang tuaku sudah meninggal.” Krystal terkejut, ia tak pernah mendengar ini sebelumnya. “Oh, kau tak tahu, ya? Aku tak pernah memberi tahumu? Orang tuaku meninggal karna kebakaran yang terjadi dirumahku, saat aku berumur 18 tahun.”

Itu sudah lama terjadi dan Krystal baru mengetahuinya sekarang. Lagi, Sehun tak ingin ia mengenal pria itu lebih dari ini. Krystal menunduk, ia merasa bodoh setelah bersama pria itu selama 2 tahun dan Krystal baru mengetahuinya.

Pandangan Krystal menerawang keluar jendela. Diluar sana gerlap-gerlip lampu yang seperti bintang bertebaran. Kaca jendela itu memantulkan bayang mereka yang tengah duduk didepan meja makan, saling berhadapan. Dan satu hal yang telah Krystal sadari, sekarang Sehun telah menjadi miliknya. Jadi, apa yang perlu ia takutkan? Im Yoona? Bahkan Kai bilang, Yoona adalah bencana. Jadi, tidak mungkin Sehun masih mencintai Im Yoona. Yeah, jika Krystal bisa berpikir seperti itu.

“Sehun. Boleh aku bertanya sesuatu?”

“Ya, tentu saja.”

“Kau masih mencintai Im Yoona?”

Kini Sehun benar-benar menghentikan aktivitas makannya. Ia meneguk segelas air sebelum akhirnya menatap Krystal dengan pandangan tak suka. “Dari mana kau mengetahui nama itu?”

Krystal takut. “Dari Xi Luhan.”

“Heh… jadi kalian sudah bertemu,” Sehun berubah menjadi dingin. “Apa yang ia katakan padamu?”

“Dia bilang, kami sangat mirip dan Luhan mengira bahwa aku adalah Im Yoona.”

Sehun bangkit, berjalan menuju ruang tamu dan menjatuhkan tubuhnya disana. “Kau belum menjawab pertannyaanku,” Krystal duduk tepat didepan Sehun. “Kau masih mencintai Im Yoona?”

“Aku membencinya. Lagi pula tidak baik membicarakan seseorang yang sudah meninggal.”

Krystal terdiam. Ternyata Yoona telah meninggal, Luhan bilang Yoona hanya menghilang, Kai bilang Yoona mungkin saja sudah pindah ke luar negri. Tapi, hanya Sehun yang berbicara Yoona telah meninggal. Apa masih ada kejutan yang belum terungkap selanjutnya?

“Kau ingin melihat foto Yoona?”

Krystal mendonggak. Dia tidak menjawab, tetapi Sehun langsung menyodorkan sebuah foto. Didalam foto itu ada seorang gadis cantik dengan rambut hitam yang diterbangkan angin. Cantik, gadis itu sangat cantik. Jadi, dia Im Yoona?

“Bukankah kalian terlihat sangat mirip?” Sehun tersenyum.

Bagi Oh Sehun, Krystal Jung hanyalah pengganti Im Yoona.

“Krystal, kau pasti bertanya pada Kai tentang Yoona dan ku yakin dia belum menceritakan semuanya padamu.”

Krystal terlonjak keget. Sehun bisa menebak sejauh ini. “Kau pasti ingin mendengar kelanjutannya kan? Akan kuceritakan.”

.

.

.

June, 26 2008

Ketika pintu bercat putih itu digeser, terlihat seorang gadis yang tengah terduduk diatas bed sambil menerawang keluar jendela yang terbuka. Tirai berwarna putih itu berterbangan terhembus angin, begitupula dengan rambut hitam legam miliknya.

“Yoona, bagaimana keadaanmu?”

Gadis itu menoleh dan tersenyum. “Kurasa lebih baik dari pada kemarin.”

“Syukurlah.”

Gadis itu menatap kearah belakang pemuda itu, seorang pria paru baya yang serdiri tegak diambang pintu mulai berjalan mendekat. “Bagaimana Oh Yoona, kau merasa lebih baik sekarang?”

Pria itu meletakkan sebuah parsel buah diatas meja. “Ya, terima kasih paman Xi.”

“Kau tidak berterima kasih padaku? Padahal aku telah menjagamu selama kau koma.”

“Baiklah, terima kasih Xi Luhan dan maaf telah membuat kalian khawatir.”

“Yeah, kau memang selalu membuat semua orang khawatir. Aku tidak habis pikir denganmu, bagaimana bisa kau tertabrak mobil ditengah malam. Apa yang kau lakukan malam-malam begitu, untung saja nyawamu bisa diselamatkan.”

Yoona tersenyum kecil. “Maaf, aku tidak ingat dengan kejadian malam itu. Tapi, aku mengingat kedua orang tuaku.”

“Heh?! Benarkah? Ingatanmu mulai membaik. Syukurlah. Jadi, siapa orang tuamu?”

Yoona menggeleng. “Aku tidak tahu, yang kutahu adalah namaku bukanlah Oh Yoona tapi Im Yoona.”

“Heh… jadi kau sudah mengingat kecelakaan itu?” tanya pelayan Xi.

.

.

.

“Sehun, kau pernah mendengar cerita Romeo and Julie?”

“Ya.”

“Kau tahu siapa Pangeran Escalus? Dia dibuang Romeo ketika dituduh melakukan pembunuhan.”

“Ah, dia pasti menuntut keadilan.”

“Yeah, itu juga akan terjadi dirumah ini.”

.

Marah

.

Yoona menatap seorang pria yang kini telah bersujud dihadapannya. Darah keluar dari pelipisnya.

“Kau telah melakukan kesalahan paman Xi.”

“Orang tuamu meninggal bukan karna aku.”

“Aku tahu, tapi kau mengambil peran penting didalam kisah ini. Dan bahkan waktu itu kau berencana membunuhku.”

“Tidak, aku hanya diperintah oleh Nyonya Oh.”

“Aku tahu. Tapi setidaknya, kau harus merasakan sedikit apa yang kurasakan selama ini.”

Yoona melemparkan sebatang korek api kearah aliran bensin yang bocor. Semakin lama bensin itu terbakar dan menyelimuti tubuh pelayan Xi.

“Kau akan terbakar seperti apa yang orang tuaku rasakan.”

.

Keadilan

.

“Apa yang ingin kau lakukan? Cepat lepaskan aku.”

“Aku akan melakukan keadilan.”

“Apa?”

“Kau telah membunuh orang tuaku.”

“Itu hanyalah kecelakaan.”

“Kecelakaan itu tidak akan pernah terjadi, jika kau tidak memulai pertengkaran dengan suamimu itu.”

“Lepas.”

Yoona mencengkram kedua tangan Nyonya Oh. Dia mendorong Nyona Oh dari atas balkon lantai 2.

“Kau akan terjatuh, seperti apa yang kedua orang tuaku rasakan.”

.

Pembalasan

.

“Kau bahkan tak pantas menyebut dirimu seorang Ayah.”

“Tunggu, aku bisa menjelaskan semua ini.”

“Kalau waktu itu kau tidak bertengkar dengan isterimu, kalau waktu itu kau tidak menganggu pelayan Xi yang sedang menyetir, kalau waktu itu kau tidak mencoba mengambil alih stir mobil dan membuah mobil itu memasuki jalur yang salah. Orang tuaku tidak akan meninggal dan kau juga tidak akan mati ditanganku.”

“Itu hanya kecelakaan.”

“Aku tidak perduli, bahkan jika itu benar-benar murni kecelakaan. Kau penyebab semua ini, kau adalah dalangnya.”

Yoona memarik pisau dapur yang tergeletak diatas meja makan. Ia mengancungka pisau itu didepan Tuan Oh.

“Sebuah dahan pohon menancap tepat di jantung Ayahku. Kau tahu, aku ketakutan setengah mati saat itu. Mereka mati karna kau. Jadi, setidaknya kau harus merasakan apa yang mereka rasakan.”

Yoona melangkah maju, tangannya bergerak lurus. Tepat disana, dijantung Tuan Oh sebuah pisau bersarang disana.

“Kau akan tertusuk, seperti apa yang orang tuaku rasakan.”

.

.

.

December, 08 2008

Sehun terdiam, bibirnya terasa kering, tubuhnya kaku. Matanya menatap lurus kedepan tepat kearah seorang gadis yang baru saja menancapkan sebuah pisau tepat dijantung ayah kandungnya.  Dia, gadis itu, kekasihnya.

“Yoona.” panggil Sehun dengan suara bergetar.

Yoona menoleh, wajahnya dipenuhi bercak darah. Dia tersenyum lalu melangkah pelan mendekat kearah Sehun. Namun pemuda itu melangkah mundur, takut dengan kekasihnya saat ini. Yoona terkejut melihat reaksi Sehun.

“Kenapa?” tanyanya sedih. “Kenapa kau takut?” Sehun tak menjawab dan hal itu membuat Yoona sangat marah. “KENAPA OH SEHUN? KAU TAKUT?”

“Kenapa kau melakukan semua ini? Kenapa kau membunuh ayahku? Apa salahnya?” Sehun memberanikan diri bertanya seperti itu.

“Ah, aku tidak hanya membunuh ayahmu, tapi juga ibu dan kepala pelayan Xi. Kenapa? Karna mereka penyebab kedua orang tuaku meninggal.”

“Apa?” Sehun terkejut. Jadi mereka meninggal bukan karna kecelakaan tapi Yoona membunuh mereka. Kenapa? Kenapa Yoona tega melakukan semua ini. “Kau tidak perlu melakukan semua ini. Kau tidak perlu membunuh mereka.”

Yoona menengok ke arah Tuan Oh yang kini sudah menjadi bangkai. “Aku tidak membunuh mereka. Aku hanya membuat mereka merasakan apa yang kedua orang tuaku rasakan. Hanya itu.”

Yoona tersenyum. “Kau tidak perlu takut padaku. Karna aku tidak akan membunuhmu.”

“Bahkan, jika kau tidak membunuhku. Aku juga tidak ingin berada disisimu.”

“Kenapa?”

“Karna, kau pembunuh.”

Yoona memunduk menatap lantai dapur yang kini telah berwarna merah darah. Tatapan sedih yang tak mampu diartikan. Yoona hanya ingin mereka merasakan apa yang orang tua Yoona rasakan. Hanya itu, tidak Yoona tidak ingin Sehun marah padanya. Yoona hanya ingin bersama Sehun.

Gadis itu gila. Yeah, Sehun langsung menyadarinya ketika Yoona mencabut pisau dapur yang tadinya bersarang didalam dada Tuan Oh lalu megacungkan pisau itu tepat diperutnya sendiri. “Kau marah, Sehun? Maaf.”

“Yoona, apa yang ingin kau lakukan?” jerit Sehun.

Bukan ini maksud Sehun.

“Kau pasti sangat membenciku. Lalu untuk apa aku hidup jika kau tidak ingin berada disisiku?”

Sehun tidak ingin Yoona mati. Bukan ini, bukan ini.

“Maaf.”

Yoona menusukkan pisau itu kearah perutnya. Darah memuncrat membasahi lantai dan tubuh Sehun. Bukan ini, bukan ini.

“YOONA!!”

.

.

.

January, 09 2015

“Kau masih mengingat dia? Im Yoona, kau masih mencintainya? Dia sudah jahat padamu, dia telah membunuh kedua orang tuamu, dan telah meninggalkanmu sendirian. Wajar jika kau membencinya, kau tidak salah jika masih memiliki perasaan dendam padanya. Kau pasti ingin membalas dendam tapi tidak bisa karna Yoona sudah meninggal! Dia tidak disini lagi!”

Sehun menatap Krystal datar, wajar saja Krystal berbicara seperti itu. Yoona telah membunuh kedua orang tuanya dan wajar saja Krystal mengira Sehun sangat membenci Yoona. Tapi, Sehun tidak suka.

“Ayo, kita lupakan dia.”

Krystal mengaturnya.

“Aku telah melupakannya.”

“Bohong. Kau belum melupakannya. Katakan padaku Sehun, katakan yang sebenarnya.”

“Tidak ada.”

Krystal orang lain, dia tak ada hubungannya dengan semua ini.

“Jika ada Yoona disini, apa yang akan kau katakan?”

Hentikan! Jangan paksa Sehun berbicara lebih dari ini.

Sehun terdiam, pikirannya menerawang jauh. Jika Yoona disini, jika Yoona disini, jika Yoona disini. Apa yang Sehun akan katakan padanya? Sehun tidak tahu. Sehun bukan sehari dua hari mengenal Yoona. Bukan hanya kalimat kebencian yang ia ingin sampaikan. Bukan. Jika Yoona disini.

“Sehun.”

Sehun menutup wajahnya dengan kedua tangannya yang kekar. “Bagaimana bisa aku membenci wanita yang sangat kucintai?”

Air mata menuruni pipi tirus Sehun. Krystal tak mampu berkata apapun saat itu.

“Semuanya. Aku akan memaafkan semua kesalahannya. Jadi tolong, aku ingin Yoona kembali hidup.”

Krystal hanya bayangan Yoona.

“Kembalilah. Kumohon Yoong, kembalilah.”

Selamanya hanya ada Im Yoona. Sehun tak akan menjadi miliknya, selama pria itu masih mengingat Yoona.

“Aku membutuhkanmu.”

.

.

.

~END~

38 thoughts on “IM YOONA

  1. yg aku tangkap d cerita ini sehun itu tipikal org yg ga bisa mengutarakan hal yg sebenarnya ada d pikirannya ke orang lain. jadi dia selalu berbicara hal yg berbeda dgn apa yg d pikirkanya. bener ga sih ?
    ahh aku suka nie kalo ada cerita tentang sehun yg cinta mati sama yoona.
    walaupun d sini yoonanya meninggal, tapi perasaan sehun k dia ga berubah..
    ff nya bagus min

  2. Sumpah sereum amat cerita nya .
    Jdi yoona psikopat,,wow gk nyangka ternyata sehun masih mencintai yoong wlaupun orng tua nya meninggal di tangan yoona,,,sbner nya gk rela klw yoona meninggal,jdi sehun macarin kristal karna mirip sma yoona bkn karna cinta,keren thor

  3. keren thor… tp ending y bkn galau… pdhl ak berharap yoonhun bahagia…
    thor bkn ff yoonhun tp yg ending y happy…. hbs karyamu keren sh ak jd byk minta…

  4. wah q pkr knp kai blng yoona kyk gt…sehun slalu blng dia bnc yoona…mslhnya rumit bgt ya…sehun g berslh tp yoona lbh ksian lg…dia skt lp ingatan trs khlngn orang tuanya….

  5. Wah! Beneran deh! Kerennn!! Cuma yoona selamanya buat sehun.. Aku suka karakter sehun yg cinta banget sm yoong… Buat lg dong thor, sequel……

  6. Heran deh gue sama author yg satu ini. Kayaknya seneng banget bikin genre psycho yg castnya yoona sehun 😐 kasih yg romantis2 gitu lah thor ke mereka. Kasian nih gue sama yoona

    • Haha… abis aku suka banget paring yoonhun. Hehe… aku juga suka adegan bunuh2an. Jadi YoonHun deh, sehun karakternya gampang nggak kayak yg lain. Aku malah lagi buat ff pycho lagi yg tapi paringnya bukan YoonHun.

  7. Huaa, Yoona nya meninggal? Jinjja?
    Aish, sad bnget thor!
    In ff ad sequelnya nggak? Sequel d0ng thor!
    Buat yoona hdup lg dan brsatu dgn Sehun, please..

    Nih ff Daebak, neomu joha.. Feelnya dapet bnget menurutku.
    Keep writting thor^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s