Unexpected : Sufferings

unexpected

Unexpected : Sufferings

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

 

 

Yoona mundur satu langkah ketika sesuatu bergumul berputar-putar didalam perutnya. Kedua bola matanya membesar sempurna dan secara begitu saja salah satu jemari lentiknya datang menyambangi bibirnya yang terbuka tak percaya.

Setiap detik yang pernah ia lewati bersama appa tiba-tiba melintas begitu saja didalam kepalanya. Senyum menawan lelaki paruh baya itu hingga perjuangannya untuk menghidupi yoona tanpa sandaran hidup setelah omma pergi meninggalkan mereka.

Hari-hari penuh tawa bersama setelah appa pulang berlayar, membawa begitu banyak ikan. Sosoknya yang menggantikan posisi omma ketika yoona mendapatkan tamu bulanan pertamanya. Bahkan, lelaki itu berada tepat didepannya ketika ia menyaksikan donghae yang meminta izin pada appa untuk hubungan mereka.

Yoona tak mampu berbicara. Tidak sedikitpun.

Kelu dan beku mewarnai detik-detik yang berlalu ketika kyu hyun menampakkan wajah bersalah yang kentara dan dua bola mata donghae yang terbuka tak kalah besar dibandingkan dirinya.

Yoona tak berniat untuk percaya. Walau bagaimanapun, lelaki itu cukup dekat dengan appa. Bahkan sosoknya yang tak lagi memiliki sosok seorang ayah membuat donghae telah menganggap superhero kebanggaan yoona itu seperti ayahnya sendiri.

Setau yoona, lelaki itu menyayangi appa.

Ia tak mungkin terlibat dalam pembunuhan appa.

Namun ekspresi tak menjanjikan dari donghae menampar-nampar logikanya. Lelaki itu tak mungkin berekspresi semengerikan itu jika ia memang tak bersalah. Lee donghae tak mungkin terdiam kaku jika saja ia mampu membela diri. Lelaki itu.. benarkah ia yang melakukannya?

Gemuruh itu menghantam yoona dengan keras. Waktu seakan membeku ketika seluruh makhluk bernyawa disana menahan nafas untuk waktu yang cukup lama. Hingga akhirnya yoona merasa begitu limbung dan hampir terjatuh.

Berikutnya, ia melihat dengan jelas tangan hangat donghae yang menopangnya dengan raut wajah tak terbaca. Tatapan lelaki itu masih teduh ketika yoona mengusap pipinya lembut dan bertanya tanpa dapat berpikir lebih jauh. “b-benarkah?”

Donghae tampak tak mampu menjawab hingga melarikan tatapannya dari bola mata yoona yang menjadi sedih. Air matanya yang perlahan menggenang membuat donghae tak dapat berpikir dengan benar.

Ia tak menjawab, pun tak mampu menjelaskan.

“benarkah oppa? Kau—k kau..”

Genangan itu mengalir lembut dipipi gambil yoona. Ketika air matanya tak lagi mampu tertahan. Bibir yoona bergetar menahan diri untuk tak percaya. Namun ketika donghae menutup matanya, mengeluarkan desahan berat sarat akan rasa kecewa dan memalingkan wajahnya seketika.

Saat itulah yoona tau jika ini memang nyata.

Yoona memukul keras bahu donghae, berusaha melepaskan diri dari lelaki itu ketika lengan kyu hyun mengambutnya. Masih menatap donghae kemudian ia menyeka pipinya kasar.

“jadi,, benar?! Kau terlibat pembunuhan appa?!!” yoona berbisik kecil. Tenaganya seperti terkuras habis ketika kenyataan mengerikan ini membunuhnya. Membuat selutuh tubuhnya mati rasa.

“karena itukah kau pergi saat itu?! Kau—k KAU BAHKAN TAK DATANG DIPEMAKAMAN APPA DAN MENINGGALKANKU SETELAHNYA!!” yoona maju dengan wajah memerah padam. Tangannya yang terkepal erat menghentak dada donghae berkali kali.

“aku tidak membunuh appa demi meninggalkanmu, yoong!”

Yoona berhenti, kedua pergelangan tangannya digenggam kuat oleh donghae. Wajah lelaki itu kini mendongak menatap wajah yoona dengan tatapan yang tak dapat diartikan.

Great.

Secepat inikah donghae mengaku?

Tubuh yoona tak bergerak sama sekali ketika bola mata coklat donghae menatapnya dalam. Nafas mereka sama-sama memburu, menahan gemuruh kuat yang kini hampir meletup-letup didalam dada.

“are you fucking idiot, lee donghae?! Kau benar-benar mengaku jika kau telah membunuh appaku?!” yoona mengumpat setelah terdiam lama. Membuat donghae terkejut setengah mati dengan tutur kata yoona yang telah berubah sangat jauh. Namun yoona tak berhenti, bola matanya memerah menahan amarah ketika ia melihat keterkejutan donghae dengan cepat.

“no! Aku bukan pembunuh. Aku tidak benar-benar melakukannya, yoong. Aku—tidak,, tidak,, dengarkan aku!!”

Donghae memajukan dirinya ketika yoona mencoba untuk melepaskan cengkramannya. Kedua bola matanya mulai berair. Donghae juga tak mengerti mengapa ia melakukan ini semua. Kedua lututnya tiba-tiba saja menyentuh pualam apartemen kyu hyun ketika ia merebut jari-jemari yoona dan manatapnya dengan iba.

“Aku bersumpah tidak melakukanya, yoong. Tapi semua terjadi begitu saja. Aku—kau tau betul seperti apa aku. Kau mengenalku melebihi siapapun! Kumohon percaya padaku.“

Yoona melarikan matanya dari wajah pias donghae. Lelaki itu menangis dengan kedua kaki yang tengah berlutut padanya. Bibir yoona masih bergetar hebat. Ia bahkan belum mampu menyerap suara-suara lain yang kini hadir diantara mereka.

Baginya, pengakuan donghae sudah seperti speaker yang kini berdengung-dengung dalam gendang telinganya. Air mata yoona belum sempat berhenti ketika donghae memohonnya untuk percaya.

“kenapa kau melakukannya?” pada akhirnya ia berbisik. Bertanya pada donghae yang kini masih bertahan dengan permohonannya. Bibir yoona kelu ketika mempertanyakan hal yang ia tau samasekali tak ingin ia dengar.

Yoona telah melupakan kejadian ini sejak lama. Bukannya ia tak tau dengan percobaan pembunuhan yang dilakukan pihak tertentu pada appanya. Seluruh desa tau, maka dari itulah mereka meminta yoona untuk memberi kesaksian akan tuntutan mereka.

Namun luka membutakannya. Itulah alasan yoona pergi meninggalkan busan. Hanya demi menutup luka lama yang masih terus mencarinya.

Ia tak ingin kematian appa dijadikan alasan demi menggulingkan pihak lain. Pun luka itu akan terus tergores kembali jika ia setuju untuk memberikan kesaksiannya atas appa. Yoona merasa ia hanya perlu menyimpan setiap detik yang ia lalui bersama appa untuk dirinya sendiri.

Karena itulah ia menolak memberi kesaksian dan menutup semua kesempatan warga desa untuk terus mengorek kenangannya bersama appa.

“a-aku—“ donghae menggigit bibirnya kuat. Ia bersumpah tak pernah berniat melakukan hal bodoh seperti ini. fakta bahwa ia ada dibalik meninggalnya pria paruh baya yang sudah ia anggap seperti ayahnya sendiri juga membuatnya frustasi.

Donghae tak benar-benar merencanakan untuk melakukannya. Hanya saat itu ia masih terlalu belia untuk mengambil sebuah keputusan. Maka kini inilah yang harus ia pertanggung jawabkan atas sikap cerobohnya kala itu. “a-aku—kepala desa—“

Yoona kembali melotot tak percaya. “kau melakukannya demi jabatan?!” tandas yoona cepat.

Kedua bola mata donghae ikut membesar. Menatap yoona yang kini menghempaskan tangannya kuat-kuat, menatapnya garang. “kau mengorbankan appa demi jabatanmu?!” yoona melangkah mundur ketika bibirnya kembali terbuka tak percaya. “kau bahkan menghianatiku ketika aku berusaha menolak argumen orang-orang tetangmu saat itu!” bisiknya kecil seolah tak percaya.

Donghae berdiri, hampir melangkahkan kakinya maju ketika yoona berteriak keras, mengacungkan lima jemarinya dengan nafas memburu.

“JANGAN MENDEKATIKU!!” pekiknya tak tertahankan. “seharusnya tak kubiarkan diriku melarikan diri saat itu” mata yoona meliar, melihat apapun demi menenangkan dirinya yang semakin tersulut emosi. “seharusnya aku menyetujui mereka untuk memberikan keterangan pada kepolisian demi menuntaskan kasus pembunuhan appa!” lanjutnya histeris.

“seharusnya aku tau, kenapa kau memilih pergi ketika aku bahkan membutuhkan pundak untuk bersandar” yoona maju satu langkah, mendekati donghae yang menatapnya memohon dalam iba. Jari telunjuknya dengan tak sopan menusuk bahu kiri donghae, mendorong lelaki itu kebelakang dengan keras.

“Kau pergi karena rasa bersalahmu!! Apa aku salah?!” pekiknya semakin tak terbendung. “you’re crazy!! Aku tak percaya aku masih mencintaimu bahkan setelah kau membunuh satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas kelahiranku!!”

Yoona kembali maju. Kedua bola matanya memerah, mengalirkan air mata yang semakin tak terkira. “kau pembunuh!! Ini menjijikkan. AKU TAK SEHARUSNYA MENGENALMU!!”

“YOONG!!” donghae menjerit keras dengan air mata yang semakin tak terbendung. Kedua tangannya menutup kedua telinga yang kini rasanya tak lagi bernyawa hanya karena mendengar kata-kata tak manusiawi dari wanita yang begitu ia puja.

Donghae terjatuh lemah. Seolah tak lagi mampu bernafas meski hanya untuk sekedar menatap yoona.

“aku hanya ingin hidup lebih baik yoong! Mereka bilang kinerjaku bagus ketika krisis bahan bakar itu melanda negara. Bukan aku yang menginginkan posisi hina itu ketika masalah datang. Kumpulan nelayan-nelayan itu terus menuntut kami, dan appa adalah pemimpinnya!!” terang donghae dengan rasa bersalah yang besar.

“aku sudah mencoba untuk berunding dengannya, tapi appa menolak dan semua pihak menuntutku! Aku tersudut oleh keadaan, yoong. Aku tak pernah berniat melakukannya.”

“tapi kau telah melakukannya” potong yoona datar. Nada yang kering itu membuat donghae mendongak dan menatap yoona semakin mengiba.

“a-aku hanya ingin hidup lebih baik. mereka menjanjikan akan memberikanku dinas diluar kota dan menaikkan pangkatku, yoong. Dan, aku pikir kita bisa pindah kekota lalu aku akan menanggung biaya kuliahmu. Masa depanmu masih panjang denganku! Karena itu aku melakukannya. Aku ingin memb—“

“membahagiakanku?” sambung yoona cepat. Keterkejutan yoona masih menggumpal ketika kenyataan lain kembali menampar rasa percayanya. “kau—membunuh appa dan berharap dapat membahagiakanku?!”

Yoona melangkah mundur, menjauhkan dirinya dari donghae. Gerakan yang seketika membuat donghae percaya jika kini ia benar-benar tak akan termaafkan.

“KAU GILA!! OBSESIMU BERLEBIHAN, LEE DONGHAE!!” yoona memekik kencang setelahnya. “SEBAIKNYA KAU PERGI, AKU TIDAK INGIN MELIHAT PEMBUNUH SEPERTI MU DISINI!! KAU—“

“IM YOONA!!”

Teriakan itu menghentak yoona. Kedua bahunya dicengkram dengan kuat oleh jemari kyu hyun. lelaki itu berdiri didepannya, menahannya untuk mundur lebih jauh. Wajah cemas kyu hyun membuat yoona tak mampu bertanya apa-apa.

Lalu lelaki itu maju, memagari wajah yoona dengan kedua telapak tangannya dan mencium keningnya lembut. ”kau tak harus berteriak seperti itu, yoon. Kau tidak boleh lupa jika kau sedang mengandung.”

Namun tiba-tiba, air mata yoona kembali berjatuhan begitu saja. Dalam hitungan detik tubuh kyu hyun terdorong menjauh. Mata yoona yang penuh kemarahan kini juga menyambanginya tanpa ragu.

Kyu hyun menahan diri untuk tak terlalu mencemaskan keadaan bayi mereka. ia tau cepat atau lambat ini akan terjadi. Yoona yang begitu cerdas tak mungkin hanya menumpukan kemarahannya pada donghae.

Karena walau bagaimanapun, ia telah ikut menyembunyikan rahasia keparat ini bahkan melindungi donghae dari tindakan brengseknya tahunan lalu. Kyu hyun menatap yoona tenang ketika jemari yoona menunjuk wajahnya tak percaya.

“MENJAUH DARIKU!” yoona menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tak percaya jika kini ia hidup diantara dua brengsek yang benar-benar berarti untuknya.

Isakannya kemudian terdengar. Dimulai dengan suara selembut salju hingga yoona sendiri tak menyadari jika ia telah meraung kencang disana. Dua lelaki itu masih diam tak mengganggu pergolakan batinnya.

Yoona tak percaya, jika kenyataan yang tersembunyi dibalik kematian appa akan semenyakitkan ini. tubuh yoona jatuh terduduk. Ia merasakan dirinya tak bertulang dengan banyak fakta tak terduga dan menyakitkan ini.

Kyu hyun baru saja akan mendekat ketika yoona tiba-tiba berdiri. Dengan wajah penuh air  mata yoona melangkah menuju pintu apartemen dengan langkah panjangnya. “yoon, kau mau kemana?!” teriak kyu hyun ketika ia meraih pergelangan tangan wanita itu. “jangan macam-macam, yoon. Kau perlu beristirahat. Kau tidak boleh keluar malam-malam seperti ini.”

“kenapa?! Karena aku mengandung anakmu?!” yoona menantang bola mata kyu hyun dengan sengit. “apa menurutmu aku masih bisa beristirahat setelah semua kenyataan keparat ini menghujani kepalaku?!!”

Yoona menghentakkan tangannya, melanjutkan langkahnya menuju tangga darurat ketika lift tak terbuka. Sahut-menyahut langkah mereka mewarnai ruang tangga darurat itu dengan kencang.

Kyu hyun yang berusaha untuk terus mengejar yoona yang menghilang dengan cepat. Berteriak memanggil namanya, meminta wanita itu untuk berhenti.

“yoon!!”

Yoona terus berlari, meninggalkan pintu darurat dilantai pertama lalu melangkah menjauhi pintu lobby apartemen. Langkahnya hamipr menyentuh bibir jalan ketika jemari kyu hyun kembali menahannya.

“lepaskan! Lepaskan aku!!” yoona bergerak semakin liar, tubuhnya tak ingin samasekali disentuh oleh siapapun saat ini. ia ingin sendiri. “jangan sentuh aku!!” pekiknya semakin keras.

“im yoona, sadarlah!!” dan kyu hyun membalasnya dengan tak kalah keras. “KAU BOLEH MARAH PADAKU, ATAU PADA SIAPAPUN. AKU  TAU AKU SALAH!!” pekikan itu menghentikan gerakan yoona. “aku memang menyembunyikannya karena tak ingin donghae menyentuh jeruji besi, walau bagaimanapun dia saudaraku, yoon!”

Mata kyu hyun meliar, menatap bola mata yoona bergantian. “tapi aku tidak tau jika yang ia korbankan adalah appamu. Aku benar-benar tidak tau! Aku hanya berpikir untuk menyelamatkannya saat itu, tidak lebih.”

Kyu hyun menyentak, menarik yoona dalam pelukannya. Mengukung wanita itu dalam dekapan dadanya. “kau boleh marah! Terserahlah! Tapi bertindak konyol seperti ini tidak akan merubah apapun! Appamu tetap akan berada disurga, dia tidak akan kembali! Dan kau tidak boleh mengorbankan dirimu demi semua ini!!”

Isakan yoona terdengar semakin kencang. “aku tidak tau harus kemana, ini semua menyakitiku, oppa” ucapnya terbata.

Kyu hyun menariknya semakin dalam. Menenggelamkan yoona yang semakin hilang arah. “kau punya aku, yoon” tuturnya tanpa ragu.

Lalu tepat setelah itu, kyu hyun merasakan yoona yang memisahkan diri darinya. Wanita itu menatapnya dalam luka akan rasa kecewa yang begitu dalam. Lalu bibir tipisnya yang selallu menggiurkan bergerak.

“aku ingin sendiri”

Tiga kata itu membekukan tubuh kyu hyun. Semua ini memang terlalu menyakitkan. Jadi jika yoona butuh waktu untuk sendiri, maka kyu hyun akan memberikannya. Ia mengerti dan tak akan memaksa.

Yoona melangkah dengan rasa kecewa yang masih meluap-luap. Tak menyadari ketika ia mulai menyentuh bibir jalan, terang lampu sorot menyilaukan jalannya. Yoona menoleh, mencoba mencari tau. Lalu saat itulah ia melihat sebuah ferrari merah tengah melaju kencang, menuju kearahnya.

Setiap detik yang berlalu membuat yoona sadar jika ia masih mematung, tak mampu menyadari keterkejutan yang membuatnya justru terlihat menunggu kedatangan lampu sorot yang semakin mendekat itu.

Haruskah ia menyusul appa?!

Mengadukan semua luka ini pada kedua orang tuanya yang tak lagi ada?

Yoona menutup kedua bola matanya dengan lambat. Menyerah dengan hidup ketika ia mendengar teriakan kyu hyun dengan jelas. Itukah hal terakhir yang harus ia dengar diakhir hidupnya?

“yoona! Apa yang kau lakukan?!”

Dan tubuhnya terpelanting keras usai teriakan itu berakhir. Yoona merasakan tubuhnya melayang hingga membentur bibir jalan dengan keras. Seseorang telah mendorongnya untuk menjauh. Lalu seketika ia merasakan kram hebat pada perutnya.

Yoona mendesis kesakitan ketika tulang punggungnya juga mulai mengalirkan rasa sakit. Ketika ia membuka mata, ia menemukan seluruh tungkainya tengah terbalut darah segar yang masih mengalir dari sana.

Dan ketika ia mencoba mencari tau keadaan,

BAM!

Semua terjadi begitu saja. Tatapan yoona mengabur, ia merasa begitu ringan karena kehilangan darah begitu banyak. Sayup-sayup teriakan orang-orang terdengar disekelilingnya.

Dan disisa kesadarannya, yoona melihat dua lelaki itu tergeletak tak berdaya. Berlumuran  darah yang semakin menganak sungai, membanjiri jalan. Beberapa suara terdengar terisak ketakutan.

Lalu semua menggelap secara perlahan. Yoona tertelan dalam ruang tak bercahaya sepersekian detik usai ia sadar, jika kini mereka bertiga akan meregang nyawa.

 

 

__

Pintu besar berornamen perak itu terbuka, dibaliknya muncullah sosok arogan yang kemudian berjalan dingin menuju satu-satunya kursi disana. Ruangan kyu hyun tidak di desain untuk menerima tamu. Maka ketika sekertaris kim mengatakan padanya bahwa keluarga song telah menanti, ia segera meletakkan berkas hasil rapat direksi dan berjalan menuju ruang khusus tamu miliknya.

Di meja panjang itu ia bertemu dengan tuan dan nyonya song, serta anak gadis mereka yang terus menunduk malu dibawah senyum asimetris yang kyu hyun berikan. Lalu pertemuan bisnis itu berjalan seperti yang sudah-sudah.

Hampir dua jam berlalu. Bukannya kyu hyun tak tau maksud tersembunyi dibalik peletakan anak sematawayang pengusaha transportasi barang itu sebagai sekertarisnya. Kyu hyun paham betul maksud tuan song, namun ia tak tertarik meski ia menawarkan dua atau tiga anak gadisnya sekalipun.

“jadi, apa kau bisa mengaturnya, tuan cho?”

Senyum manis lelaki paruh baya itu menyambangi perasaan kyu hyun. Ia tau tuan song bukan lelaki licik sebelum ia menemukan lelaki itu didepannya, tengah memohon dan menawarkan putrinya sebagai imbalan.

Hampir bertahun tahun menjadi kolega bisnis, baru kali ini kyu hyun melihat langsung satu-satunya orang yang masih ia anggap jujur dan bijaksana pun ternyata bertindak diluar ekspektasinya.

“aku tidak bisa menjanjikan apapun, tuan song. Walau bagaimanapun permintaanmu cukup sulit, aku tidak bisa memberikanmu izin sebesar itu.”

Kyu hyun mendengar tawa bersahabat dari seberang. “kau memang berbakat. Sangat hebat dan tegas dalam mengambil keputusan. Itukan rahasia suksesmu?” lalu lelaki paruh baya itu berusaha untuk mencairkan suasana dengan lelucon kaku.

Kyu hyun baru akan mulai membalas leluconnya ketika sekertaris kim datang menginterupsi, memberikannya informasi mengejutkan yang membuatnya harus mengakhiri pertemuan mereka siang itu.

“temui aku diruanganku” sahutnya, lalu kyu hyun menatap tuan song. “maaf, aku berubah pikiran. Kurasa aku harus menolak permintaanmu, tuan. Kita sama-sama tau jika bukan kau saja yang kesulitan karena krisis bahan bakar ini. tapi memberikanmu izin untuk membeli bahan bakar lebih banyak dari kuota yang sudah ditentukan akan membuat potret kehidupan lain tidak seimbang.”

Kyu hyun berdiri, mengancingkan jas yang semula terbuka lalu memberikan senyum hormat. “dan, tidak.” sambungnya menjelang pergi, “aku tidak akan mengizinkan rakyat kecil semakin menderita karena ulah pengusaha licik sepertimu”

Jalan lelaki itu menjadi semakin lebar. Seolah lantai berkarpet merah yang membentang sepanjang jarak antara ruang khusus tamu yang ia sediakan dan ruang pribadinya tak begitu berarti.

Ketika membuka pintu, kyu hyun menemukan sekertaris kim tengah berdiri didepan mejanya. Lelaki tua yang telah menjadi tangan kanannya itu membungkuk hormat menjelang kyu hyun datang dan menghempaskan tubuhnya diatas singgasana mewah miliknya.

“jadi, bisa jelaskan padaku apa yang terjadi?”

Wajah gusar kyu hyun terlihat amat kentara ketika ia meminta penjelasan pada sekertaris kim. Tak lama, ia menerima sebuah dokumen dalam amplop coklat yang tak tertuliskan apapun.

Kyu hyun menerima tanpa berniat membacanya. Tatapan matanya lurus menatap sekertaris kim, meminta penjelasan menjelang ia membaca dokumen pemberian sekertarisnya itu dan mencoba memahami situasi.

“beberapa jam lalu kim gong jun memberikan laporan mengenai,, emm, saudara tirimu, tuan” sekertaris kim memulai.

Kyu hyun mengangguk pelan. “sesuatu terjadi? Bukankah aku sudah memintamu untuk menaikkan pangkatnya?”

Sekertaris kim balas mengangguk. “kami meletakkannya dibawah pemimpin utama, tuan. Agar tuan donghae bisa belajar sebelum dia menjabat. Tapi menurutku, dengan riwayat kerjanya yang baru beberapa tahun belakangan, akan sulit baginya untuk naik jabatan dalam waktu dekat”

Kyu hyun menghela nafasnya mengerti. “i got it. Jadi, apa masalahnya sekarang?”

Kyu hyun menangkap gelagat tak menyenangkan dari gerak mata sekertaris kim. Bola matanya yang meliar pertanda rasa bersalah bercampur sedih membuat kyuhyun merasakan firasat buruk dalam seketika.

“apa sesuatu terjadi padanya?” tanyanya langsung tanpa basa-basi. Raut wajah lelaki itu semakin gusar ketika sekertaris kim mengangguk lemah.

“tuan donghae,, terancam masuk penjara, tuan.”

Kyu hyun mengernyit tak suka.”penjara? apa yang kau coba katakan sebenarnya?!”

“semuanya ada didalam amplop itu, tuan. Gong jun baru saja melihat kumpulan warga desa mengepung kantor tuan donghae pagi ini. mereka menuntut bahkan sudah melaporkannya pada pihak yang berwajib.”

Kyu hyun menutup bola matanya erat-erat. Mencoba membasahi kerongkongan yang sepertinya mulai mengering. Ia tak mungkin datang dan bernegosiasi dengan warga desa saat ini. masalahnya dengan donghae bahkan baru berlalu dua bulan. Ia tak mungkin menampakkan dirinya pada lelaki itu saat ini.

Kyu hyun berdehem keras. Mungkin ia harus membiarkan masalah ini bergulir. Untuk sementara waktu ia hanya perlu memantau. Kyu hyun tak mungkin turun tangan disaat ia bahkan belum mencoba berbicara langsung pada donghae usai mereka sama-sama mengetahui kenyataan terburuk dalam hidup mereka beberapa bulan yang lalu.

“biarkan saja. Biarkan dia menyelesaikannya sendiri. setelah warga desa tenang, bebaskan dia dengan uang jaminan. Jangan lupa katakan pada gong jun untuk menghilangkan berkas penangkapannya agar tak menyulitkannya nanti. Walau bagaimanapun mantan narapidana tidak selalu diterima masyarakat.”

Kyu hyun merasa sudah selesai ketika sekertaris kim tak kunjung pergi. “there’s another things?!”

“kita.. tidak bisa membebaskannya dengan uang jaminan tuan. Karena, saudara tiri anda dilaporkan atas tuduhan pembunuhan.”

Sesuatu berputar-putar dalam kepala kyu hyun. Membuat keseimbangan dalam tubuhnya seolah tak ada, membuatnya merasa hampir muntah. Petir disiang bolong itu nyatanya memang ada, karena kyu hyun baru saja merasakannya. Dan kini ia tak percaya jika dirinya akan baik-baik saja.

Kyu hyun mundur, melepaskan simpul dasinya lalu menggenggam ponsel dengan kuat. Tak berapa lama hubungan ponsel tersambung, membuat amarah kyu hyun semakin tersulut karenanya.

“what the hell was that, lee donghae?!”

Sambungan ponsel hening untuk beberapa saat usai umpatan kasarnya.

“kau tidak melakukannya, kan?!” lanjut kyu hyun tak ingin membuang-buang waktu. “siapa yang menjebakmu? Katakan padaku.” Tuntutnya.

Kyu hyun tau satu detik setelah ia bertanya jika jawaban itu akan menyakitinya. Namun ia hanya ingin memastikan bahwa setidaknya, jika donghae berkelit, ia masih bisa berdiri dibelakang lelaki satu darah dengannya itu.

Namun kemudian suara parau terdengar dari seberang. Membuat kyu hyun yakin ini semua adalah malapetaka.

“aku—mereka menyerangku, dude..” hanya itu jawaban yang kyu hyun terima.

“shit!” lelaki itu mengumpat kasar “kenapa kau melakukannya?! Kenapa kau bisa sebodoh ini dalam bertindak? Kau seorang pemimpin, lee donghae!! Apa yang kau lakukan pada rakyatmu?!!”

Kyu hyun merasa hampir meremukkan ponsel dengan genggamannya. Seluruh isi kepalanya hanya terfokus pada lelaki yang kini terjebak jerat hukum diseberang sambungan telepon mereka.

Setelah itu ia tak mendengar apapun, donghae terus diam tanpa memberikannya solusi. Bahkan lelaki itu tak sekalipun menolak tuduhan yang ditujukan padanya.

“kau punya waktu tiga hari untuk datang kekantorku. Jangan bawa apapun dan jangan beri tau siapapun”

“t-tapi—“

Kyu hyun memberikannya perintah, bukan untuk menunjukkan betapa besar kuasanya tapi hanya agar donghae tau jika ia sudah lelah untuk berdebat. Sambungan telepon mereka diputuskan sepihak. Kyu hyun harus mulai menyusun rencana, batinnya tak mungkin membiarkan lelaki itu terjebak dalam bayang hitam seperti ini.

Dua hari setelahnya, donghae datang tanpa membawa apapun. Lelaki itu duduk diatas sofa dalam ruang kantor pribadi kyu hyun. Wajahnya tampak gusar, pucat dan tak terurus. Membuat batin kyu hyun meringis karena donghae yang ia kenal tak sekalipun akan membiarkan dirinya menjadi begitu berantakan seperti ini.

“apa yang sebenarnya kau lakukan?”

Kyu hyun meletakkan satu kaleng minuman dingin disana. Tak berniat menawarkannya pada donghae karena jika donghae mau maka lelaki itu akan melakukannya sendiri. pun donghae terlihat tak ingin menyentuh apapun.

Lelaki itu justru menghela nafas berat, meremas rambutnya dengan jari-jemarinya kuat-kuat.

“aku mencuri persediaan makanan mereka, dan mengurangi bahan bakar mereka untuk berlayar. Aku—mereka tewas karena kehabisan bahan makanan dan tak menemukan daratan.”

Jawaban itu membuat dada kyu hyun sesak. “kau setega itu?” tanyanya tak bernada.

“aku tidak punya pilihan. Warga desa terus meminta kami untuk mengeluarkan seluruh persediaan bahan bakar, mereka tidak mengerti jika itu dilakukan maka dua bulan kedepan mereka bisa saja mati karena tidak memiliki bahan bakar lagi.”

“tapi kau bisa mencari solusi yang lebih baik. kau bisa mulai bernegosiasi, bukannya bertindak primitif dengan merencanakan pembunuhan ini, lee donghae!!”

Kyu hyun mendesah frustasi. Berbicara dengan donghae begitu menyulut emosinya. Ia tak mengerti harus membela atau justru melaporkan lelaki yang mengadu dengan gamblang padanya kini.

“aku—mereka menjanjikanku pangkat lebih tinggi dan dinas diluar kota. Aku pikir aku harus mengambil kesempatan ini. aku tidak ingin terus hidup didesa!”

“dan kau membunuh hanya untuk itu?!” kyu hyun menatap donghae garang. “kau bisa mengatakan semuanya padaku! Kau butuh uang? Jabatan? Apapun! Aku masih bisa menyisihkan harta appa untukmu, keparat!” bentaknya keras.

“aku tidak ingin bergantung padamu!”

“dan kau pikir jabatanmu saat ini adalah murni usahamu?!” kyu hyun tak mampu menahan emosinya. “aku yang terus memastikan agar kau baik-baik saja, lee donghae! Seharusnya kau bisa lebih berfikir logis sebelum mengambil keputusan untuk menghilangkan nyawa orang lain hanya karena sebuah jabatan!!”

BRAK!

Donghae menggebrak meja. “aku tidak punya pilihan! Aku butuh uang karena gadis pujaanku menunggu masa depan kami, cho kyu hyun! Dia punya masa depan bersamaku! Dan aku harus melakukan ini untuk membahagiakannya!!”

BUGH!

Lalu sebuah bogem mendarat tepat dipipi kanan donghae. Tidak terlalu keras, hanya untuk menyadarkannya yang tampak sudah semakin kalut. “sudah berapa kali kukatakan, kau bisa mengandalkanku! Aku bisa memenuhi segala kebutuhanmu dan kekasihmu itu, bodoh! tapi jika kau seperti ini, kau hanya akan menghancurkan segalanya!”

Kyu hyun menggeram tak suka, lalu menatap donghae marah. “pergilah ke apartemenku, kau harus jauh dari negara ini untuk sementara waktu. Aku akan mengurus kepindahanmu ke paris.”

Donghae terkejut. Tak percaya pada kata-kata kyu hyun. “tidak! aku tidak ingin pergi begitu saja. Aku bahkan belum memberitaukan yoona bahwa aku akan bertemu denganmu disini. Aku—“

“tinggalkan semua itu. Dia tetap akan membencimu ketika dia tau bahwa kau seorang pembunuh. Kau harus menghilang untuk meredam amarah semua orang, lalu gong jun akan mengurus berkasmu dikepolisian. Sekertarisku akan mengurus passport dan visamu. Kau bisa berangkat besok pagi. Kau bisa belajar disana, melanjutkan kuliahmu dan mulailah untuk menjadi lelaki dewasa.”

Donghae terduduk lemah, menumpukan kedua tangannya untuk menutupi wajah. Isakan kecilnya terdengar begitu saja. Bahunya bergetar halus. Donghae tau ia bertindak terlalu gegabah, tapi ia tidak pernah berpikir jika semua akan berdampak sejauh ini.

“apa yang telah aku lakukan..” bisiknya dalam isak tangisnya.

Kyu hyun menghela nafasnya gusar. Ia ingin marah, namun naluri seorang saudara memintanya untuk melindungi donghae. Kyu hyun berdiri lalu duduk disamping lelaki itu, menepuk bahunya pelan. “semua akan baik-baik saja” tuturnya menenangkan.

Donghae menggeleng tak percaya. Jemarinya kembali meremas rambutnya erat-erat. “aku tidak sesiap itu untuk meninggalkannya. Aku bahkan menjauhinya beberapa hari ini. aku—bagaimana mungkin aku sekeparat ini?!”

Kyu hyun tak mengeluarkan suara. Ia percaya donghae mampu mengatasi pergolakan batinnya sendiri. ia kemudian berdiri, berjalan menuju meja kerjanya.

“kau harus menjaganya, dude”

Berkas itu kini berada dalam genggaman tangan kyu hyun, lalu ia menatap donghae tegas. “aku akan memastikan dia berkecukupan”

“tidak. bukan itu maksudku. Kau harus benar-benar menjaganya. Bawa dia untuk berada disampingmu.”

Jari-jemari kyu hyun seketika menjadi kaku. Bibirnya kelu, ia menatap donghae tak percaya. “kau bercanda! Aku tidak mungkin melakukannya.”

“kau harus melakukannya jika ingin aku tetap pindah!”

“are u fuckin crazy, lee donghae?! Aku sudah berjanji untuk memastikan hidupnya berkecukupan! Bukankah itu cukup? Setidaknya ketika kau kembali kau tidak akan menemukannya mati kelaparan. Aku berjanji untuk itu!!”

Kyu hyun menatap donghae tak suka. Oh god! Cobaan seperti apa lagi ini?!

“aku ingin kau menjaganya. Dia satu-satunya yang terus mengganggu fikiranku, cho kyu hyun. Aku ingin tenang karena tau bahwa dia ada disekitarmu untuk tetap bisa pergi menjauhi negara ini!”

“shit!” kyu hyun mengumpat. “i love her, lee donghae!” mengabaikan tatapan tak percaya donghae, kyu hyun menghempaskan bolpoin yang ia gunakan dengan keras. “aku mencintainya semenjak pertama kali aku melihatnya. Bahkan hingga saat ini!” sambung kyu hyun frustasi.

“bagaimana kau—“

“kau satu-satunya alasan mengapa aku mengalah. Dan sekarang kau melemparkannya padaku?! Apa kau juga berniat membunuhku?!”

Sarkasme itu tentu menyakiti donghae. Kyu hyun sudah siap akan amarah atau perubahan keputusan donghae padanya. Ia tau ia sudah terlalu bodoh untuk mengakui perasaannya pada donghae. Namun diluar dugaan, lelaki itu justru tersenyum tipis ditengah rasa gusarnya.

Kyu hyun mencoba untuk mencari tau jika donghae hanya tengah bergurau saja. Namun ketika lelaki itu menatap mata coklat yang juga diturunkan appa kepada mereka berdua, kyu hyun tau, akan ada malapetaka lain yang menunggunya.

“aku percaya padamu, dude”

 

__

Kyu hyun mengernyit ketika cahaya matahari menembus kelopak matanya. Terik sinar siang itu mengusap kasar wajahnya yang kini mendongak dalam tidur. Kyu hyun pikir ini waktunya beristirahat. Dua puluh tujuh tahun telah berlalu, dan kyu hyun tak pernah merasa seringan ini sebelumnya.

“appa.. appa!”

Dua buah tangan kecil kemudian menyentuh pipi kyu hyun. Membuatnya mengerutkan dahinya terkejut lalu sontak segera duduk ketika melihat sosok mungil itu disana. Rambut panjangnya yang indah dan sebuah bibir tipis yang manis. Manik mata berwarna coklat dan hidung yang serupa miliknya.

Kyu hyun tak mampu berkata apa-apa ketika menyadari jika pemilik jemari kecil itu benar-benar menyerupai dirinya dan yoona. Yoona?! Seketika kyu hyun menyapu sekitar, berusaha menemukan yoona diantara rerumputan tinggi yang terhampar disepanjang savana.

Dimana dia sekarang?

“appa!” Wajah kecil itu kembali berada didekatnya. Mengusap pipinya lembut lalu memberengut manja. “appa, ayo kita main!” ajaknya kemudian. Kaki-kaki kecilnya kemudian bergerak menjauhi kyu hyun, menyerbu rerumputan tinggi yang kyu hyun tau akan menenggelamkan bocah itu dalam sekejap mata.

“kau mau kemana?” teriak kyu hyun padanya.

Lalu ia berbalik, menyunggingkan senyum seindah yoona dengan gigi gigi besar yang lucu. “manangkap kupu-kupu. Appa, ayo!!” teriaknya mengayunkan tangan, memanggil kyu hyun.

“jangan dekati semak! Aku segera datang!” kyu hyun segera berdiri dan menyusul bocah kecil yang tak mendengarkannya dan terus berjalan menuju semak belukar. “hei!!” panggil kyu hyun kembali. Ia kemudian berlari, mempercepat langkahnya ketika gelap kemudian datang lalu diujung jalan terdapat sebuah cahaya.

“hei! Kau kemana?!” kyu hyun berputar, tapi tak menemukan apapun. Lalu kemudian ia tersentak, hampir terpelanting kebelakang.

“200 joule. All clear?!”

“clear!!”

 

Kyu hyun kembali terpelanting hebat. Sesuatu menarik-narik dirinya mendekati setitik cahaya yang kini semakin mendekat. Tubuhnya terpental ke belakang ketika langkah bocah kecil itu melintasi matanya. Dia tertawa, berusaha untuk memberikan kyu hyun senyum yang begitu tulus didalamnya.

 

“Nope. 360 joule, all clear?!”

“Clear!!”

 

Kyu hyun kembali terpental hebat. Jemari kecil itu memegangi telunjuknya dengan erat sebelum kemudian ia mundur dan melepaskan genggamannya. Kyu hyun terjatuh dan berdiri didepan sebuah pintu besar. Lalu sepersekian detik setelahnya, sebuah kekuatan besar menyeretnya menuju cahaya.

 

BIP!

BIP!

“denyut jantung bergerak normal! Segera hentikan pendarahan dan bersihkan luka-lukanya!”

Cahaya kuning itu menampar retina matanya ketika kyu hyun berusaha untuk membuka mata. Hiruk pikuk orang yang terus berlalu lalang membuat rasa penasarannya menjadi semakin besar. Tak lama, empat buah alat medis menempel pada dadanya, lalu masker oksigen segera membelit kepalanya kuat dan kyu hyun merasakan udara kembali mengaliri paru-parunya.

Kumpulan orang-orang itu tak berhenti bergerak. Beberapa dari mereka berulang kali menyentuh pergelangan tangan kyu hyun yang mati rasa. Lalu cubitan-cubitan kecil disudut kepala dan bahunya membuat kyu hyun tak mampu bertahan dalam kesadarannya saat itu.

Dua jam setelahnya, kyu hyun terbangun dengan terduduk cepat dari tidurnya. Kedua matanya terbuka lebar dan berpaling menuju pintu ketika ia menatap sora yang juga menatapnya horor kala itu.

Dahi dan bahu kirinya yang telah berpenghuni benang jahitan dan perban yang masih meninggalkan bercak darah hingga baju berlumuran darah yang masih ia gunakan membuat sora terkejut bukan main.

Sekertaris pribanya itu segera berlarian maju, menekan berkali-kali tombol merah dibalik tempat tidur kyu hyun. Membuat lelaki itu tak dapat menanyakan apapun karena paramedis segera berhamburan datang, menyerbunya tanpa ampun.

“dimana yoona?”

Sora mendengar dengan jelas kalimat pertama yang hadir setelah medical check up yang dilakukan para dokter. Seingat sora mereka telah memberikan kyu hyun obat penenang dosis ringan. Namun mungkin itu tak bekerja padanya untuk saat ini.

Kyu hyun menatap sora penuh tuntutan tanpa berkedip. Menyadari sora yang tak kunjung menjawab, kyu hyun bergerak duduk, mencabuti empat alat medis yang masih menempel didadanya, merebut tabung infus dari tiang penyangganya lalu mulai mencari pintu keluar.

“tuan! Aissh, kau tidak bisa pergi, kau harus beristirahat!”

Kyu hyun tak berniat mendengarkannya. Setelah mencapai pintu dan keluar, ia memperhatikan lorong panjang dikiri dan kanan lalu memejamkan mata. “dimana ruangannya?” tanya kyu hyun seketika.

“eh—?!”

“dimana ruangannya, sora?!!” bentak kyu hyun kehabisan rasa sabar.

“im yoona masih berada dalam ruang operasi, tuan. Rahimnya mengalami benturan hebat dan,, bayinya—“

Kyu hyun tak mendengarkan sora berbicara. Ia segera berjalan menuju lorong disebelah kiri. Menghapus jarak yang terus membentang sepanjang jalan menuju ruang operasi. Ketika sampai disana, ia menemukan so yeon tengah duduk dan menunduk pada bangku berjejer didepan ruang operasi.

Bahunya bergetar hebat. So yeon menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan dan bibir wanita itu terus bergerak, melafaskan doa yang semua orang tau kini tertuju untuk siapa.

Kyu hyun masih berdiri diujung lorong. Tak ada yang menyadari keberadaannya karena semua nyawa tengah sibuk dengan pergolakan batin mereka sendiri.

“separah apa kondisinya?” kyu hyun mengepalkan jemarinya penuh amarah.

“Maaf tuan, rahim robek dan pendarahan terus terjadi. Im yoona, sudah berada dalam ruang operasi selama hampir tiga jam dan belum ada kabar sejauh ini dari tim dokter.”

Kyu hyun memejamkan matanya erat-erat mendengar penuturan sora. Dalam benaknya amarah itu kini meletup-letup dengan ganas.

“siapa yang melakukannya?!”

Sora menunduk, menjalin jari jemarinya dengan takut. “lucia, tuan.” Kyu hyun tak begitu terkejut mendengar nama itu. Lalu sora melanjutkan “Dia sudah ditangkap dan ditahan di distrik gangnam untuk—tuan!!”

Kyu hyun mencabut selang infus yang masih bersemayam dalam nadinya. Berjalan menuju arah yang berlawanan tanpa memikirkan panggilan sora yang tak sekalipun mampu mencapai gendang pendengarannya.

Lucia.

Nama itu kini membanjiri otaknya. Menyesakkan amarah yang semakin menjadi-jadi dalam dirinya. Meledakkan bom waktu yang sebenarnya tak pernah kyu hyun sadari keberadaannya.

 

 

__

Kyu hyun duduk berhadapan dengannya. Mata elangnya menatap hampa pada lucia yang masih berdiam diri tak terintimidasi sama sekali dengan tatapannya. Wanita itu masih terlihat cantik meski tanpa polesan make up samasekali. Namun bibirnya mengatup rapat, membiarkan kedua bola matanya menatap kyu hyun tak kalah berani.

“kenapa?” aura mencekam menghiasi ruangan itu seketika.

“karena dia kekasihmu”

Kyu hyun memejamkan matanya tak percaya. “aku punya banyak kekasih bahkan sebelum bersamanya, lucia”

Wanita itu kemudian tersenyum miris. “tapi semua berakhir sama denganku, bukan? Tidak ada yang perlu aku singkirkan kalau begitu.”

“apa kau sadar apa yang sedang kau lakukan?!” nada getir dalam suara dingin kyu hyun menjelaskan banyak hal. Lalu lucia kembali membalasnya hanya dengan sebuah senyuman tipis.

“ini menyenangkan, kyu. Tidak siapapun bisa memilikimu jika akupun tidak bisa melakukannya!”

“damn! Dia mengandung anakku, lucia! Darah dagingku!” kyu hyun menatap gadis itu garang.

“bukankah itu yang membuat alasanku semakin kuat? Sayang aku hanya berhasil melenyapkan anakmu, seharusnya wanita itu juga meregang nyawa tanpa sempat terselamatkan.”

BRAK!

“are u fuckin insane, lucia?! Dia dan anakku bahkan tak pernah memiliki urusan denganmu!” kyu hyun menghempaskan telapak tangannya dengan keras lalu berteriak tak percaya. Terlebih pada wajah tak bersalah milik lucia.

“Tapi dia pernah menjatuhkan harga diriku didepan banyak orang! Dan aku tidak akan pernah melupakannya!!”

“kau sendiri yang melemparkan dirimu padanya. Dia hanya membela diri karena pada kenyataannya aku memang akan selalu kembali padanya!”

BRAK!

Kini balas lucia yang menghentakkan jemarinya tak suka. Tatapannya yang semula tenang dan tanpa dosa kini berganti dengan dua bola mata yang hampir melotot penuh kebencian. “inilah yang terus menggangguku!! Apa yang sebenarnya ada pada dirinya dan tak kau temukan padaku hingga kau terus kembali padanya, kyu?! Katakan!!” pekik wanita itu kemudian.

Kyu hyun lalu terdiam. Jemarinya mengusap pelipisnya tak nyaman ketika ia kembali menatap lucia yang masih mengatur nafasnya yang memburu.

“kau terlalu banyak berharap, lucia. Jika kau berpikir aku akan menjalin komitmen karena sebuah sex atau one night stand denganmu, kau salah besar. Lagipula kau tau kau bukanlah satu-satunya wanita yang pernah berada diatas ranjang bersamaku.”

Sarkasme pedas itu membut lucia murka dan tak percaya “LALU KENAPA KAU BERKOMITMEN DENGANNYA?!”

“aku tidak berkomitmen dengannya, luc. Tidak, maksudku, belum. Aku memang baru akan berencana melamarnya dalam waktu dekat. And we are not having sex! We are in love, so we fuckin do making love”

Lucia menatap kyu hyun garang ketika bibirnya berdesis tak suka. “mengapa kau tinggal satu atap dengannya?! Ini tidak adil! Kenapa kau hanya memperlakukan hal seistimewa itu padanya?!”

“lucia—“

“aku yang mengenal dan mencintaimu semenjak pertama kau memulai semua ini. aku yang menjadi penyemangatmu ketika kau rapuh, dulu. Aku yang mengorbankan banyak hal, melakukan apapun demi tetap bisa bersamamu. Lalu setelah dia datang, dengan cepat kau berlalu dariku. Semudah itu saja?!”

Kyu hyun tak habis pikir dengan obsesi lucia yang tak pernah berhenti bahkan hingga detik ini. “dengarkan aku, lucia. Aku tidak melakukannya tanpa alasan. Hanya dia yang mampu meredam amarahku. Dia mampu melakukan banyak hal yang tak satupun dari kalian mampu lakukan sebelumnya. Dia—dia menyentuhku ditempat yang tak satupun orang bisa jangkau. Aku tidak pernah punya alasan untuk mencintainya, lucie. Aku tidak mencintai parasnya yang jelita atau intelegensinya yang tinggi. Aku sudah mencintainya semenjak dulu, semenjak aku bahkan belum mengenalmu jauh-jauh hari. Aku mencintainya yang hanya menggunakan kain kumuh yang melekat sederhana pada tubuhnya. Aku mencintainya semenjak aku bahkan baru saja memulai untuk tidak jatuh cinta lagi. Aku mencintainya tanpa alasan. Aku—”

“HENTIKAN!!” lucia kembali menggebrak meja dengan lebih keras. Memekik kencang hingga dengungnya bahkan masih terasa setelah detik detik berlalu. “hentikan omong kosong ini, cho kyu hyun!! Kau keparat!! Kau keparat tak berperasaan!!” jeritnya semakin membabi buta.

“aku tidak pernah berpura-pura baik didepan siapapun. Semenjak pertama kali mengenalmu pun, aku sudah menjelaskan padamu bahwa aku tidak bisa mencintaimu, lucia. Semua orang tau aku adalah pria brengsek. Just in case, aku tidak pernah menutupi kebusukanku dari publik. Benar, aku keparat, lalu apa?!”

“apa itu pembelaanmu terhadap perasaan setiap gadis yang telah kau sakiti?!”

Kyu hyun menampilkan wajah datar tak berniat menjawab. Tangannya terulur mendekati kaca yang membatasi mereka. seluruh sel dalam tubuhnya sudah mendidih seakan ingin segera mencekik lucia saat itu juga.

“BITCH!” maki lucia dalam amarahnya. “kau mempermainkan banyak wanita, melukai hati yang tak bersalah. Kau  keparat yang seharusnya tak kuhabiskan waktuku hanya untuk mencintai pria tak berguna sepertimu.” Lucia berdiri, menunjuk-nunjuk kaca dengan penuh amarah.

“kau pantas mendapatkan ini, cho kyu hyun! Ini karma bagimu! Kematian anakmu adalah buah dari setiap air mata yang kau torehkan luka didalamnya! Apa kau memang sekeparat itu? Berpikir jika setiap malam yang terlewat hanya one night stand tanpa ada rasa didalamnya?!”

Wajah lucia dipenuhi binar merah. Darahnya seperti sudah mendidih dan mencapai ubun ubun ketika makian itu keluar secara spontan dari dalam bibirnya. Ia menangis, hanya sebentar sebelum terduduk kembali pada kursi kecilnya dan tak berbicara apa apa.

Tak lama lucia tertawa penuh kesinisan. Wajah angkuhnya kembali bersamaan dengan tatapan beraninya yang memandang kyu hyun penuh rasa benci.

“baiklah. Jika kau menjadikan itu alasan untuk menyakitiku, aku pun akan melakukan hal serupa. Aku tidak pernah menyesal melakukan ini. aku tidak akan pernah sebahagia ini jika tetap membiarkan anak itu hidup. Aku bersumpah tidak akan meminta maaf! Tidak padamu ataupun pada wanita itu. Aku memang sedikit menyesal untuk yoona dan bayinya. Tapi bagiku ini cukup setimpal dengan seluruh omong kosong yang kau katakan padaku selama ini.”

Amarah kyu hyun menggelegar ketika lucia menatapnya tanpa rasa bersalah. Ucapan wanita itu seketika menampar ego kyu hyun sebagi seoranag pria. “kenapa kau lakukan ini, lucia?”

Lucia menjawabnya dengan sebuah senyuman simpul. “karena aku juga wanita keparat! just like you. Jadi aku bebas melakukan segala hal buruk meskipun itu harus mengorbankan nyawa kekasih dan anakmu!”

“LUCIA!!” pekik kyu hyun tak mampu menahan diri.

“jangan hakimi aku. Seharusnya kau sadar, kau memang pantas mendapatkannya, cho kyu hyun.” Lucia kemudian berlalu tanpa ada lagi kata kata. Meninggalkan kyu hyun yang masih membeku tak percaya dengan kata-kata lucia yang menampar batinnya seketika.

Kyu hyun berjalan gontai menuju parkiran. Tubuhnya bergetar menahan amarah pada dirinya sendiri ketika ia menyadari jika kini seluruh kesalahannya harus ia balas dengan hal yang jauh lebih berharga.

Ia tak pernah berasumsi jika ini setimpal karena yoona dan calon anak mereka yang telah tiada adalah segalanya bagi kyu hyun. Ia hanya tak menyangka harus membayar mahal untuk segala kebodohannya dimasa lalu dengan mengorbankan masa depan dirinya dan yoona.

Kyu hyun berjalan, meraih kunci mobil yang masih terletak manis dari dalam saku celananya menjelang ia limbung dan seketika tertelan gelap. Baju yang masih dipenuhi bercak darah yang tak sempat ia ganti menyisakan banyak kekhawatiran orang orang sekitar yang segera menolongnya.

Lalu hari itu berlalu, menyimpan harapan seolah semua ini tak pernah terjadi pada mereka.

 

-kkeut-

eaakk yang lagi kesel banget part nya digantung kkk~ nih, aku kasih updatean midnight menjelang pagi. semoga semakin terhibur dan gak melenceng jauh yaa. gimana? yang lagi seneng banget waktu yoona hamil, aku pupusin dulu ya harapannya. wkwk gak bermaksud apa-apa. simply because the tittle is unexpected. jadi aku mau bikin ending yang.. ya unexpected gitu.

Btw ini satu part menjelang akhir, part depan udah ending dan aku berencana bakal post minggu depan atau minggu depannya lagi. intinya sih, selagi ada waktu luang gitu. seharusnya sih ini ending, tapi ternyata panjang banget, so aku jadiin dua dan yang ini dengan berbaik hati enggak aku protect. nah, special buat part ending, aku bakal protect permanen. just like memorable. kalau dirty little secret 2 dan 3 aku buka, part ending ini gak akan pernah aku buka. jadi, ya, maafkan aku untuk syarat yang satu itu.

btw beberapa waktu belakangan aku udah mulai hafal uname yang sering bikin ngakak karena komentar panjangnya yang lucu. belum lagi yang sangat amat bersahabat. terimakasih banyak udah mau nerima cerita tak berujung dan update terlama serta author php seperti ini wkwk. beberapa dari kalian juga banyak yang kenalan lewat bbm dan twitter. how cute. yang responnya baik dan ngedukung banget. thanks alot deh pokoknya buat kalian semua.

see ya soon!

With love, Park ji yeon.

202 thoughts on “Unexpected : Sufferings

  1. Reblogged this on choimchan and commented:
    Kakak. Aku gak ngerti alur chapternya. Pas ngelik ini kok langsung berakhir padahal aku baru baca berapa capter. Yang secret dirty aku gak tau kalo ad tiga. Linknya pleaee kakak 😢😢😢🙏🙏🙏🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s