[Play! The Etude] Barbie

Poster Phynz20 Barbie by Phynz20

[BARBIE]

.

©Phynz20

Starring: Im Yoona – Huang Zitao – Xiao Lu as Im Luhan || Rated: PG-15+ || Genre: Sci-Fi, Psychology || Length: 2000 word(s) || Disclaimer: All cast is belong to God. But, this story is mine a. k. a. Phynz20.

.

 

Semua orang punya mimpi, benar? Namun, jangan kecewa jika mimpimu tak menjadi kenyataan. Jangan melampiaskan kekecewaanmu kepada orang lain dan merugikan semuanya. Kisah Im Yoona dan Huang Zitao dapat kalian jadikan referensi.

 . 

Sial, apa yang ia lakukan sih?

Im Yoona mendengus kesal selagi kaki jenjangnya melangkah terlalu cepat. Tangannya yang berkeringat memegang erat tasnya. Hampir-hampir ia berniat mencopot sepatu haknya dan berlari secepat cheetah.

Yah, walaupun ia tahu ia harus mengenyahkan keinginan itu disaat sekelilingnya masih penuh dengan orang-orang tak dikenalnya.

Awas saja kalau nanti aku bisa sampai rumah….

Bunyi gemerincing dari tas hitam bermode trendi semakin riang terdengar. Im Yoona memang tak berlari–tak berani tentu saja— namun hanya dengan langkah panjang sekaligus cepat saja sudah layaknya orang kerasukan.

“Tak tahu malu… hhh… tak berpikir… ia pikir….”

Grep

“AAAAAAA!”

Im Yoona berlari secepat ia bisa. Refleksnya tak memedulikan lagi gengsinya, lelahnya, bahkan sepatu haknya. Yang ia pikirkan saat ini lari, lari, dan lari.

Kecepatannya bukan lagi dianggap normal. Sentuhan pada pundaknya tadi membuat tenaganya terpacu seketika, bahkan tenaga dalamnya ikut andil. Ia tak ingat lagi sejauh mana, berapa kilometer tadi kakinya memacu untuk berlari. Yang ia tahu, kini kakinya sudah menuntunnya ke arah yang benar. Rumah bercat merah jambu sakura terpampang nyata dihadapannya. Dengan kalap ia membuka gerbang dan segera masuk ke dalam.

“Gila! Bisa saja tadi aku lempar sepatu ke kepalanya dan….” Ocehan itu berhenti seketika saat terasa seluruh pasang mata disana terarah pada gadis itu. Mulut itu terkatup lagi, tangan yang sudah terangkat dengan jari-jari yang siap mencakar sudah turun lagi. Dengan wajah malu Im Yoona balik menatap pasang-pasang mata itu.

“Baiklah Bu, Yah, tak akan kuulangi,” sesalnya walau tanpa kesan menyesal sama sekali. Dilepasnya tas dan sepatunya dengan santai, merapikan rambut dan kemaja pun dengan santai. Padahal ia tahu ada dua pasang mata yang menatapnya dengan tatapan berbeda.

“Jangan salahkan aku, Bu, Yah. Luhan yang tak memberi tahuku bahwa ada orang gila disekitar sini.”

Merasa terbawa, seorang pemuda dengan rambut yang senada dengan dinding rumahnya menyahut, “Sejak kapan disekeliling rumah ini ada orang gila. Jangan ngawur!”

Im Yoona mendengus, “Tadi aku dikejar orang gila, bodoh. Makanya aku berlari dari bandara hingga kesini!”

Sekarang balik Im Luhan terkekeh. Memandang rendah ia berkata, “Kau yang bodoh. Tahu begitu kenapa tidak naik taksi saja? Kau kan punya banyak uang dari foto-fotomu itu.”

Dan lucunya, Im Yoona sekarang terhenyak. Mengapa tak terpikir di benaknya bahwa perkataan Im Luhan benar.

Namun, bukan Im Yoona namanya kalau tak bisa mengelak.

“Yah, tadi kan aku panik dan tak dapat berpikir cepat. Lagipula lelaki itu menyeramkan, tahu! Mata hitamnya menyorotku seperti elang dan kaki besarnya terus mengejarku. Apalagi ada kantung mata sebesar panda yang malah menambah….”

“Kau membicarakan Huang Zitao? Yah! Dia tidak gila!” Sekarang giliran Im Luhan yang sewot tak jelas. Im Yoona menatap sepele Im Luhan.

“Yah, siapa pun namanya, ia bertindak-tanduk seperti orang gila. Menyeramkan!”

Dan tanpa memedulikan raut wajah kesal Im Luhan dan raut bingung kedua orang tuanya, Im Yoona bergegas meninggalkan ruangan itu dan menuju ke kamarnya.

Tampaknya ia tak akan bertahan lama liburan di Cina tahun ini.

***

Mata hitam itu menyorot penasaran rumah bercat sakura di hadapannya. Tak pernah ia segembira ini–tentu saja—selama bertahun-tahun ia hidup di Beijing. Dan senyum lebar yang membuatnya terkesan manis menjawab itu semua.

Lima menit, sepuluh menit, tiga puluh menit, satu jam, ia masih berdiri dengan senyum manisnya itu. Entah menunggu atau hanya sekadar iseng belaka. Dan tepat menit keenampuluh, tiba-tiba pintu putih itu berderik, segera saja ia menunjukkan mata berbinarnya pada sosok pembuka pintu.

“Luhan ge!”

Im Luhan refleks menengok. Ia melihat sesosok lelaki dengan mata berbinar melambai ke arahnya. Senyum manis itu membuatnya segera menaruh cangkir tehnya di meja terdekat dan segera membuka gerbang mempersilahkan lelaki itu masuk.

Yah! untuk apa kau berdiri disini Zitao?”

Lelaki itu hanya merespon pertanyaan Im Luhan dengan cengiran khas yang kemudian disambut dengan jitakan canda oleh Im Luhan.

Setidaknya Im Luhan mengenal Huang Zitao.

“Aku membawakan game wushu terbaru untuk Luhan ge!”

Sambil melangkah memasuki rumah, Huang Zitao dan Im Luhan membuka percakapan seputar kesenangan Im Luhan.

“Benarkah? Apa itu benar-benar baru? Benar-benar game wushu yang kau ceritakan waktu itu?”

Dengan kilat keemasan, mata hitamnya menyorot mata hitam berbinar itu. Ia tahu Im Luhan pasti senang mendapatkannya. Dan ia merasa beruntung telah mengenal Im Luhan.

“Iya Luhan ge, kan aku sudah berjanji membawakan game ini padamu. Seorang pria tak akan mengingkari janjinya kan?”

Huang Zitao terkekeh. Begitu pula Im Luhan.

“Mari masuk dan kukenalkan kau pada saudara kembarku. Kurasa kau sudah menemuinya, tapi tentu saja itu bukan pertemuan yang bagus. Aku pribadi….”

“Aaaaa!”

Im Yoona terlihat. Memang bukan dengan posisi yang bagus, bahkan Huang Zitao mengakuinya. Dengan mata dan mulut terbuka lebar, wajah kaget bukan mainnya terpancar, dan membuat Huang Zitao hampir saja kelepasan terkekeh geli.

Ia semakin mengagumi Im Yoona.

“Untuk apa kau kesini heh?! Luhan, usir orang gila ini….” Perkataan itu terputus oleh dekapan kencang Im Luhan. Tangannya langsung membekap kencang mulut Im Yoona dan terkekeh miris terhadap Huang Zitao.

“Maafkan tentang sikap tidak sopan adikku ini,” sesaat Im Yoona membelalak lebih galak dari pada seekor singa mengamuk ketika kata adikku terucapkan, “Dia tak tahu kalau kau….”

“Huang Zitao, mahasiswa fakultas sains di Beijing Jiaotong University. Senang berkenalan denganmu, nona Im.” Begitulah kira-kira yang diucapkan Huang Zitao menyambut Im Yoona dengan tangan terangkat untuk sekadar bersalaman. Namun, tak diindahkan oleh Im Yonna yang malah berjengit ngeri.

“Im Yoona, dimana sopan santunmu?” bisik Im Luhan geram melihat sikap Im Yoona yang seperti itu. Seakan sadar akan ketidaksopansantunannya, Im Yoona dengan gemetar menyambut jabatan tangan Huang Zitao.

Dan seperti mimpi buruk atau apa, Im Yoona melihat senyum mengerikan dari mahasiswa sains itu.

“Temani Zitao dulu, aku ingin mencoba game terbaru ini!”

Mata Im Yoona membelalak. Ucapan riang dari seorang Im Luhan seakan jadi genderang perang bagi dirinya. Menemani Huang Zitao yang entah mengapa mempunyai hal yang tidak mengenakkan bagi Im Yoona adalah siksaan menurut Im Yoona.

“Errr, silahkan duduk.” Dengan kikuk, Im Yoona mempersilahkan Huang Zitao untuk duduk. Sedangkan Im Luhan sudah asyik saja bermain game tanpa memedulikan atmosfir di belakangnya.

Huang Zitao duduk, dan sekali lagi dikeluarkan senyum terbaik yang malah membuat Im Yoona bergidik ngeri.

Dan tiba-tiba saja suara itu keluar dari mulut di hadapan Im Yoona.

“Kau Barbie, darimana saja?”

Dan gadis itu hanya bisa menjatuhkan rahangnya mendengar itu.

***

Im Yoona hampir-hampir terkena migrain sore tadi. Ia pikir, Im Luhan menyuruhnya ini itu, dandan cantik, pakai baju bagus, dan segala tetek bengeknya untuk pemotretan. Memang pintar sekali pemuda Im satu itu mengelabuinya. Bilang pemotretan tapi malah datang kesini.

Im Yoona mendengus kasar. Ia melihat rumah megah di salah satu sisi jalan. Dengan berpenerangan lampion dan berhiaskan ornamen-ornamen Cina, rumah itu tampak lebih tradisional daripada yang sebenarnya.

Kaki jenjang itu melangkah ragu memasuki rumah tersebut. Memang, kehangatan terpancar dari rumah itu, namun Im Yoona masih saja paranoid terhadap pemilik rumah.

Angin berhembus, menggoyangkan lentera-lentera dan gantungan-gantungan yang berhubungan dengan wushu. Ajaibnya, tepat setelah angin berhenti berhembus, Nyonya Huang menampakkan dirinya tepat di hadapan Im Yoona dan Im Luhan. Im Luhan memang menyambutnya dengan senang hati. Namun berbeda dengan Im Yoona, ia bahkan merasa ngeri pada Nyonya Huang.

“Ayo Luhan berkeliling, tahun ini Zitao sendiri yang mendekorasi rumah ini. Anak itu memang gila wushu. Lagipula ia sekarang sedang membuat projek….” Kalimat itu terputus ketika mata Nyonya Huang melihat sosok Im Yoona yang berdiri agak di belakang Im Luhan. Matanya menatap awas Im Yoona dan tiba-tiba berseru, “Huang Zitao! Yang kau cari telah datang!”

Tersontaklah Im Yoona mendengar seruan itu. Tanpa tahu apa-apa ia dipandang awas seperti itu dan tiba-tiba saja ia dipaksa bertemu oleh orang yang benar-benar tak ingin ia temui. Takut-takut ia menatap Im Luhan dengan tatapan memelas.

“Yoona, kurasa tuan Huang memerlukan bantuanku. Kau mengobrolah dengan Zitao.”

Penjelasan itu membuat Yoona bergidik ngeri. Mengobrol, berdua pula, dengan orang yang jelas-jelas mengejarnya saat ia baru saja sampai di tanah Beijing itu rasanya….

“Hai Im Yoona.”

Hancurlah sudah. Bumi terguncang, gunung meletus, badai berhembus. Entah apa saja yang melambangkan kesengsaraan begitulan Im Yoona sekarang berpikir. Firasatnya tak enak dan paranoidnya tak dapat dikendalikan.

“Errr… Zitao, maaf….”

“Im Yoona, ada yang ingin kutunjukkan padamu.” Dan senyum itu terkembang lagi, sinar itu terpancar lagi. Kalau saja Huang Zitao tak pernah menakutinya awal ia datang kesini, Im Yoona pasti sudah jatuh cinta pada pria tampan ini.

Huang Zitao dengan berani menggenggam tangan kurus Im Yoona. Menariknya ke dalam rumah, berniat menunjukkan projek besarnya pada Im Yoona.

Tangannya hangat, begitulah pikir Im Yoona. Pertama kalinya ia berpikir positif tentang Huang Zitao. Lagi pula sebenarnya ia tampan, ramah pula.

“Mungkin aku saja yang terlalu paranoid.”

“Kau bilang apa?”

Mulut itu terkatup lagi. Dengan segera ia menggelengkan kepalanya dan kembali menunduk. Tetapi, seberapa dalam ia menggali kelebihan Huang Zitao, ia tetap merasa tak nyaman. Ada sesuatu dari Huang Zitao yang Im Yoona rasa terobsesi pada dirinya. Dan ia menakuti hal itu.

Sepanjang langkah menuju kamar Huang Zitao keduanya tampak diam. Tak lagi berkata. Im Yoona menyibukkan diri dengan melihat ornamen-ornamen Cina dan hiasan wushu, sedangkan Huang Zitao menyibukkan diri dengan pikiran-pikiran yang tak akan terbayang oleh Im Yoona.

Dan senyumnya kembali merekah.

Dihadapan kedua orang itu sudah terpampang sebuah pintu. Huang Zitao membuka pintunya dan mengajak Im Yoona masuk.

Penglihatan Im Yoona langsung kabur. Ia benar-benar tak dapat melihat apa-apa disana. Terlalu gelap. Dan saat Im Yoona sudah memasuki ruangan itu, Huang Zitao dengan cepat menutup pintu dan menguncinya. Reflek Im Yoona menengok ke arah Huang Zitao, namun nihil. Im Yoona tak dapat melihat apa-apa. Hitam masiih mendominasi.

Huang Zitao berjalan disekeliling kamar. Menghidupkan sebuah lampu yang benar benar hanya mengeluarkan cahaya remang. Dan Im Yoona melihat, disana banyak sekali foto.

Ia tak tahu Huang Zitao ternyata juga seorang fotografer. Im Yoona berkeliling melihat foto-foto apa saja yang sudah Huang Zitao ambil.

Dan terkejutlah ia. Banyak sekali foto barbie disana, namun entah mengapa Im Yoona merasa, Huang Zitao bukan maniak barbie atau sejenisnya. Ada sesuatu yang ia rasa Huang Zitao lakukan.

Dan di suatu sudut, Im Yoona yakin sekali, ia melihat foto-fotonya bertebaran. Foto-fotonya ketika ia sedang peragaan busana atau sekadar untuk majalah. Ia bahkan tak tahu kalau Huang Zitao mengetahui bahwa profesinya ialah model. Namun, dengan mengetahui ada foto dirinya di suatu sudut ruangan orang yang tak dikenal membuatnya bergidik ngeri.

“Aku dan Profesor Wu sudah memikirkan projek ini sejak beberapa tahun silam.” Akhirnya suara itu keluar dari bibir tipis milik Huang Zitao. Tanpa melanjutkan perkataannya, ia mendekati Im Yoona dengan membawa sebuah buku.

“Kau mirip dengan barbie, Im Yoona,” ujar Huang Zitao sembari mengelus pipi mulus milik Im Yoona. Im Yoona bergidik ngeri, menepis tangan Huang Zitao yang tak akan dibiarkan bertengger lama di tubuhnya.

Huang Zitao terkekeh geli ketika Im Yoona menepis tangannya. Ia memang tak memusingkan permasalahan itu. Dengan sikap manisnya, ia memberikan buku yang ia bawa tadi dan dengan isyarat menyuruh Im Yoona membacanya.

Im Yoona membacanya. Ia terkejut. Disana tertera projek Huang Zitao. Ia tak mengerti.

Disana tertera bahwa ada sebuah universitas gelap di Cina yang sudah berhasil membuat sebuah boneka yang benar-benar mirip manusia dan terprogram layaknya seorang manusia.  Namun, salah satu profesor yang mempunyai formula itu melarikan diri dan menyalahgunakan boneka-boneka itu untuk kepentingan pribadi. Dan beberapa tahun silam terdengar desas-desus bahwa boneka-boneka itu membuat sebuah perkumpulan untuk mengkudeta presiden Cina. Dan begitulah profesor Wu merekrut Huang Zitao untuk membasmi semua boneka-boneka itu dari muka bumi. Walaupun hingga kini, tak satu pun boneka yang dapat mereka basmi.

Namun, yang lebih mengejutkan Im Yoona bukan isi dari buku itu, melainkan sebuah foto yang berada di halaman paling belakang buku. Ia tahu dan ia hampir bersumpah bahwa foto itu adalah foto dirinya. Dan lebih mengejutkan lagi, dibagian bawah tertera catatan yang menyebutkan, “Roxanne, ketua kelompok boneka Cina, dalang dari rencana pengkudetaan Presiden Cina.”

“Kau tak bisa memungkiri lagi, Roxanne. Akan kubasmi kau dan pengikutmu!”

***

Para pengunjung kedai Zhang menatap penuh minat pada layar televisi. Berita tentang pembunuhan model Korea oleh mahasiswa Beijing Jiaotong University membuat geger warga Cina.

Jenazahnya ditemukan mengenaskan di kamar milik pelaku. Tubuhnya dikuliti dan dimutilasi tepa pada persendiannya. Polisi menduga bahwa motif pembunuhan dikarenakan obsesi pada boneka Barbie dan terguncangnya jiwa. Pelaku sudah diamankan di rumah sakit setempat.

“Kau bodoh Wu Yifan, boneka-boneka itu masih setia menjagaku.”

 

END

p.s.1.: Hellawwwww YoonAddicts! Makasih udah mau mampir di lapak aku ini. Dan maaf banget buat kegajelasan FF-nya. Yah, seperti biasa, yang sering baca karya aku pasti tau aku orangnya males banget bikin ending yang gamblang hahaha *ketawa jahat* Semoga menghibur ya!

p.s.2.: HAPPY ANNIVERSARY IYAF’s! SEMOGA MAKIN BERKEMBANG MENGHASILKAN FF DAN AUTHOR YANG LEGENDARIS!XD

26 thoughts on “[Play! The Etude] Barbie

  1. Model itu yoona kaah?
    Terus siapa yg bilang “kau bodoh wu yifan,boneka2 itu masih setia menjagaku” aku kok gag ngeh yaa??

    • Yoona emang model, tapi Roxanne itu bukan Yoona sebenernya cuma mirip aja mereka.
      Coba ditelaah lagi kak~ disitu aku udah ketik jelas heheheheXD
      Makasih ya kak dias udah nyempetin waktunya buat mampir dilapak aku!XD

  2. Model itu yoona kaah?
    Terus siapa yg bilang “kau bodoh wu yifan,boneka2 itu masih setia menjagaku” aku kok gag ngeh yaa??trs yg di tangkap polisi siapa??

  3. aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa
    awalnya lucu…
    giliran terakhir…
    huaaaaaaaaaaaaaaa
    mengerikan thooor…
    semangat denga cerita lainnya ya thoor…

  4. Pingback: [Remark Fic] Barbie | Agent Mystery's

  5. Kirain tao suka sma yoona soalnya ada kata yg nyebutin klo tao makin mengagumi yoona. Brati ny huang udh tau rencananya tao.
    Baguuus..banget ceritanya tp sayang ngegantung kayak blm selesai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s