[Play! The Etude] Remorse

SNSD-Yoona-im-yoona-37246059-500-668

Remorse

Inspired by : Black (G-Dragon ft Jennie Kim)

HyukGumsmile

Cho kyu hyun │Im Yoona

Romance

PG-17

 

Tubuh yoona terdiam kaku ketika menemukan lelaki itu berdiri tepat didepan halaman rumahnya. Dengan siku yang terlihat runcing karena gulungan lengan kemeja yang cukup tinggi. Yoona menaikkan salah satu alisnya, menatap lelaki itu dengan pandangan memuji.

Dia cukup bernyali besar. Bahkan setelah yoona memilih untuk berlindung dibalik nama besar Lee hyuk jae, sahabat sejatinya. Yoona tak menoleh kebelakang, kapanpun itu, ketika pada akhirnya hyuk jae sadar jika ia sudah terlalu lama berdiri menyambut ‘tamu’ mereka malam ini, lelaki itu akan keluar dan seketika menghabisinya detik itu juga.

“ini bukan lagi jam kantor, cho kyu hyun.”

Kedua tangan yoona menyilang didepan dada. Ia bersandar pada pintu rumah. Tak berniat mendekat ataupun mempersilahkan kyu hyun untuk masuk. Sudah terlalu banyak resiko yang ia ambil semenjak ia memutuskan untuk pulang dari birmingham dua bulan lalu. dan yoona rasa hidupnya masih aman-aman saja sebelum kyu hyun kembali menemukannya dan terus mengganggu hidupnya hingga detik ini.

“aku tidak perlu jam kantor untuk menemuimu”

Senyum tipis terkembang dalam bibir manisnya. Namun itu tak sedikitpun membuat yoona pangling dari amarah yang menguar hebat didalam bola mata kyu hyun. Yoona tak merasa melakukan apapun. Dan, meskipun ia memang melakukannya, yoona rasa tak perlu lagi ada amarah yang melingkupi mereka kini.

Kisah mereka telah berlalu lama, dan kini semua yang terjadi dalam hidupnya bukan lagi menjadi hal yang harus kyu hyun tanggung.

“kau tau betul dimana kau menginjakkan kakimu, tuan. Jangan terlalu angkuh dengan melemparkan dirimu kedalam lubang kematian”

Kyu hyun melangkah maju. Tak urung membuat yoona ikut melangkah mundur. Lelaki itu kemudian berhenti dan memasukkan salah satu tangannya kedalam saku celana. Aura penuh arogansi tidak pernah berhenti mengelilinginnya. Seolah kyu hyun memang dilahirkan dengan segudang sifat arogan yang memuakkan dan tak akan pernah habis.

Lelaki itu selalu bertindak semaunya. Melakukan apapun demi keinginannya. Baru-baru ini setelah menemukan yoona, ia kemudian bergerak cepat dengan meminta kerjasama dengan perusahaan konstruksi yang menaungi yoona. Meminta wanita itu memegang kendali langsung atas pembangunan gedung baru perusahaan mereka.

Disanalah yoona dan kyu hyun bertemu kembali. Di luasnya puing bangunan yang masih belum rampung. Bahkan terhitung baru saja dibangun. Yoona tak pernah tau jika kyu hyun menjebaknya sejauh ini. pun ia tak pernah berfikir jika lelaki itu akan kembali menemukannya setelah lima tahun berlalu.

Semenjak itu, kyu hyun terus mengusiknya. Yoona dipindahkan ke firma milik lelaki itu selama empat bulan kedepan hanya untuk memantau langsung perkembangan pembangunan awal. Kyu hyun selalu punya cara untuk mendatangi ruangannya. Ia selalu mengganggu, mengancam, mengecam , and shit! Menggoda yoona.

“aku tidak takut pada apapun”

Jawaban itu menyadarkan yoona dari lamunannya. Ia pun tak terkejut. Ia tau, pemberani adalah sifat yang terus keturunan cho banggakan.

“apa maumu? Kenapa kau harus terus menggangguku?!”

Yoona masih bertahan disana. Menyembunyikan gememtar yang datang menyambangi seluruh tubuhnya ketika seringaian kyu hyun berubah menjadi mata yang hitam pekat. Penuh bara api yang besar. Rahangnya mengatup dengan tegas, lalu ia berbicara dengan suara yang teramat rendah.

“siapa lelaki itu?”

Yoona memutar bola matanya tak percaya. “lelaki yang mana?”

Kyu hyun menatap yoona kesal. Ia tau yoona tidak sebodoh itu untuk mengerti pertanyaan singkatnya. Kyu hyun menerima laporan bahwa yoona telah dijemput seseorang yang bahkan menyempatkan diri untuk mengacak rambutnya sore ini. dan sedetik usai menerima kabar itu, kyu hyun melajukan mobil sport miliknya menuju satu destinasi.

“kau tidak berkencan dengan ratusan pria, kan, Im yoona?!” pertanyaan itu begitu menyayat hati. Yoona membesarkan bola matanya tak percaya pada tuduhan yang tersirat dari kalimat singkat yang kyu hyun ajukan.

“kau pikir aku ini jalang?!” kemarahan seketika membakar dada yoona. Ia berdesis tak suka pada nada bicara tamu tak diundangnya malam ini. yoona balas menatap kyu hyun tajam. Berdiri tegak, menjauhkan tubuhnya dari sandaran dan melipat tangannya tanpa ragu.

Yoona jelas tau amarahnya tak terlalu berpengaruh pada kyu hyun. Lelaki itu semakin mengeratkan rahangnya, berjalan maju dalam detik-detik yang tak yoona perhitungkan dan seketika menyambar lengan yoona dengan kecepatan tak terduga.

“kau tau betul jawabanku, yoon. Sekarang katakan, siapa lelaki itu?!” kyu hyun menatap dua bola mata yoona. That honey-like eyes. Yoona terkunci disana meski ia telah berteriak keras untuk memalingkan diri dari pesona kyu hyun yang tak sedikitpun pernah meluntur. “diakah yong dae?”

Tubuh yoona membeku seketika. Mendengar nama yong dae yang tak sedikitpun ia perkirakan akan muncul dari bibir kyu hyun. Rahang kyu hyun semakin mengeras mengetahui keterkejutan yoona. Tubuh yoona bahkan belum pulih dari rasa kaku ketika kyu hyun kembali bertanya dengan tegas.

“diakah lelaki yang kau hubungi beberapa hari yang lalu? yang kau nyatakan cinta padanya?! Katakan!!”

Bola mata yoona semakin membesar tak percaya. Dengan sisa kekuatan dan amarah yang terus bergumul dalam dirinya, yoona mendorong kyu hyun dengan keras. Air matanya tak sekalipun ingin menampakkan diri meskipun kini hatinya tengah meledak-ledak histeris. Yoona melayangkan telapak tangannya tepat di pipi kiri kyu hyun. Menatapnya penuh dengan kebencian.

“kau sungguh tak bermoral! Kau mengawasiku?! Karena itu kau memintaku untuk memantau langsung proyek itu dari kantormu? Agar kau bisa melakukan apapun yang kau mau sesuka hatimu?!!”

Yoona tak memperdulikan kyu hyun yang masih diam. Pun kyu hyun tak sedikitpun berniat membalas ucapan yoona karena pun ia tak salah dengan argumennya. Kyu hyun memang memintanya langsung pada perusahaan konstruksi yoona agar ia bisa terus melihat wanita itu lewat cctv yang terpasang disudut manapun yang tak pernah yoona tau.

Kyu hyun menghela nafasnya berat. Kisah mereka terlalu rumit. Ia kemudian maju satu langkah namun urung karena kemarahan yoona semakin berkibar kencang.

“jangan mendekat!! Kita sudah selesai bertahun-tahun yang lalu, cho kyu hyun! Kau tidak mungkin lupa bahwa kau yang mencampakkanku! Sekarang hiduplah dengan kesenangan yang sudah kau dapatkan dan jangan ganggu hidupku!”

Lidah kyu hyun seketika kelu. Ia tau betul bagian cerita mana yang kini tengah yoona ungkit. Seketika luka lama itu kembali terasa. Kyu hyun tak membela diri untuk itu. Ia sadar sepenuhnya kini ia hanyalah lelaki brengsek dengan segudang penyesalan karena melepaskan satu-satunya cinta yang pernah diciptakan tulus untuknya.

“yoon, aku—“

“jangan berekspresi seolah kau menyesal!! Im done with you! Siapapun yang sekarang menjadi kekasihku seharusnya tak menjadi urusanmu lagi.”

Kyu hyun mendapati api besar dalam kata-kata yoona. Ia tau wanita itu mungkin membencinya. Atau memang membencinya. Tak ada kata mungkin dalam pengkhianatan dan kekejaman yang telah merenggut sucinya cinta yoona dulu. Kyu hyun memang menghancurkan segalanya. Ia tau dengan jelas seluruh kesalahannya. Namun untuk melupakan yoona, ia merasa butuh waktu yang tak terhingga.

“aku mencintaimu, yoon” aku kyu hyun penuh penyesalan.

“jangan katakan itu padaku!!”

“aku—“

“aku sudah memupuk kebencianku selama bertahun-tahun untukmu! Berhentilah, kehadiranmu hanya terus membuatku merasa jijik pada diriku sendiri, brengsek!!”

Kyu hyun tak butuh waktu lama untuk maju dan memeluk yoona erat. Kali pertama ia memberanikan diri untuk menyentuh yoona setelah satu bulan penuh berada didekatnya. Kyu hyun merasakan tubuh yoona yang bergetar hebat. Ia meronta tak tau arah. Menerjang dan memukul kyu hyun dengan tangan mungilnya yang tak berarti apa-apa untuk tubuh besar kyu hyun.

Lama yoona bergerak sebelum pada akhirnya ia memilih untuk diam perlahan-lahan. Tenaganya tidak berguna untuk kyu hyun yang jelas-jelas bukan tandingannya. Akhirnya mereka sama-sama terdiam, nafas kyu hyun terasa begitu berat dipuncak kepala yoona. Lalu lelaki itu melonggarkan pelukannya.

Jemari kyu hyun meraih dagu yoona dengan lembut. Memaksanya untuk saling bertatapan. Bola mata mereka saling bersiborok sendu. Kelemahan yang selalu yoona terima ketika manik coklat madu kyu hyun menatapnya dengan aura penuh cinta dan penyesalan.

Yoona kembali bergerak kecil, hanya untuk menutupi kegugupan yang kini melanda seluruh tubuhnya. Tangan kyu hyun yang kini bertengger manis dibelahan pinggul kanan yoona sedikit banyak mengganggu konsentrasinya. Lelaki itu menyentuhnya ditempat yang tak pernah yoona bayangkan.

“dont you miss this hands? Me?”

Lalu bayang-bayang lima tahun silam melintas begitu saja dalam benak yoona. Jeritannya, permintaan tolongnya. Nafas tersengalnya yang terus mengudarakan nama kyu hyun dengan kesedihan yang dibalas lelaki itu dengan tawa mengerikan. Penderitaannya, kehancuran seluruh hidupnya.

Yoona kemudian refleks mendorong kyu hyun, membuatnya berjengit kaget menatap yoona yang sebelumnya terasa jinak-jinak saja. Tubuh yoona dengan kehangatan yang telah hilang lama kini terasa begitu menjadi candu baginya.

“NEVER!”

Kyu hyun kembali berusaha maju sebelum kata-kata yoona menamparnya dengan sengaja.

“kau dan segala tentangmu. Aku membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk menghilangkannya. Aku sudah lupa setiap rasa yang pernah kita cecap ditengah kebencian yang kau tanam didalamnya. Aku sudah lupa setiap trauma dan mimpi buruk yang terus kau datangi. Aku sudah berhenti meneriakkan namamu. Aku berhasil melakukannya. Dan kupikir setelah aku menghilangkan semua tentangmu dalam benakku, sudah saatnya kau tak lagi berharap apapun akan diriku dalam hidupmu!”

Kyu hyun terdiam. Bukan ini yang ingin ia dengar. Kyu hyun tau dengan jelas cinta yang masih yoona miliki untuknya. Terpancar jelas dari mata indahnya. Dari sikapnya yang terus menjauh dan tak perduli. Ia berharap masih bisa diterima. Masih adakah kesempatan untuknya. Ia menyesal. Kyu hyun tau ia menyesali segalanya.

“yoon, aku—“

BUGH!!

Satu kepalan tangan mendarat tepat di pipi kiri kyu hyun. Ia terjungkal kebelakang dengan rahang hampir remuk. Lalu seorang lelaki segera datang dan kembali memberikannya pekulan keras. Kyu hyun tak mendengar jerit yoona persis enam tahun silam. Wanita itu hanya terdiam menunduk dengan kedua tangan menutupi mata dan bahunya yang bergetar.

Kyu hyun memejamkan matanya erat.

Lagi.

Ia membuat yoona menangis.

“its okay. Im here, yoon” kyu hyun melihat lelaki itu mendekat dan memeluk yoona erat. Bahu yoona semakin bergetar kencang dalam dekapannya. Mata lelaki itu tampak begitu penuh amarah yang mengerikan, lalu ia berteriak kencang, dengan yoona tetap dalam dekapannya.

“DAEHYUN!! SHIT! KENAPA KAU BIARKAN ORANG INI MASUK?!!”

Segerombolan penjaga berbaju hitam datang tak lama kemudian.

“Bawa dia keluar dari rumahku dan pastikan dia tak pernah lagi menginjakkan kakinya disini!!”

Kyu hyun tak memperhatikan apapun selain genggaman erat yoona pada tshirt biru dongker polos yang lelaki itu gunakan. Isakan yoona terdengar semakin memilukan dan tak berhenti barang sejenak.

“hyuk—“

Suara yoona terdengar bergetar dan penuh ketakutan menjelang kyu hyun melihat dengan mata kepalanya sendiri lelaki yang yoona panggil dengan nama hyuk itu meraih tungkainya dan menggendong yoona dengan segera.

“its okay. Aku disini, yoon. Kenapa kau tidak memanggilku dengan segera?” lelaki itu menggeram kecil namun sarat akan amarah. Ia menatap kyu hyun yang mulai ditarik paksa untuk meninggalkan halaman besar rumahnya sebelum kembali menenangkan yoona dengan penuh kasih. “akan kupastikan dia tak akan pernah kembali” janjinya ketika malam itu berakhir tepat didetik pertama pintu rumah besar itu tertutup dengan keras.

 

 

__

“sudah siap menjadi pacarku?”

Yoona menatap lelaki itu dengan pandangan bingung dan mengejek. Ada binar geli dalam setiap gerak pelan yang kyu hyun ciptakan di siang terik itu. Ketika kemudian salah satu tangannya yang memegang bola mulai memainkannya dengan santai.

“mungkin maksudmu, sudah siap jadi budakku, ahjusshi?”

Yoona terkekeh geli ketika raut kesal kyu hyun mengudara. Lalu bibir tipisnya kembali tersenyum ketika melihat gelak tawa yoona yang berdiri tak begitu jauh. Mereka saling berhadapan. Perang bola basket siang itu dimulai dengan yoona memimpin empat skor didepan.

Kyu hyun tak terlihat takut. Perjanjian kecil yang mereka sepakati telah membuat semangat berkobar dengan begitu besar didalam dirinya. Keringat yang bercucuran turun melintasi pipi gambil yoona membuat kyu hyun sadar jika ia harus menang.

Rambut ekor kuda yang terikat longgar dan tshirt kebesaran ala remaja yang yoona gunakan selalu membuat kyu hyun penasaran fashion seperti apa yang bisa membuat gadis mungil itu tampak buruk?

Mungkin tidak ada.

Atau tidak akan pernah ada.

“jangan panggil aku ahjusshi, bocah!” Seringaian kecil tercipta di bibir kyu hyun ketika yoona juga melakukan hal yang sama.

“kau tidak mungkin meminta seperti itu jika tau bahwa umurmu sudah—“

DUK!

Bola memantul tepat didepan kening yoona. Membuatnya terlihat kemerahan dan perih. Yoona belum pernah memperkirakan bahwa hal seperti itu akan terjadi. Kyu hyun memang tipe lelaki yang bertindak semaunya. Namun bercanda seperti itu sudah keterlaluan, menurut yoona.

Ia berpaling, melihat bola terpantul dalam genggaman kyu hyun yang telah berdiri didepan ring. Sebentar setelah menyadari kebodohannya, yoona kalah satu langkah saat bola melewati lingkar ring dan skor kyu hyun bertambah.

Permainan berakhir dengan yoona tergeletak pasrah ditengah lapangan.

“bangaimana? Mulai menyesal?” kyu hyun terkekeh dan ikut duduk disamping yoona. Keterkejutan membuat gadis remaja itu ikut duduk dan menatap kyu hyun dengan tatapan super kesal.

“NEVER!” balasnya ketus. “aku mau mandi!”

Yoona hampir berdiri ketika tangan kyu hyun menyambut jemarinya dengan cepat. Memaksanya untuk duduk dipangkuan pria itu lalu bibir mereka bertemu sejenak. Hanya sebentar saja. Lalu seulas senyuman cerah terpancar dari wajah berbinar kyu hyun.

“welcome to my world, babe. You are mine. Forever!”

 

“NO!!”

Yoona terlonjak duduk dari tempat tidurnya. Deru nafas beratnya menghiasi malam yang masih hening tak bersuara kala itu. Semilir angin dan rasa sejuk yang datang dari pendingin ruangan tak membuat keringat yoona menghilang.

Bayangan enam tahun silam tiba-tiba datang menjadi buah tidur yang tak pernah sedikitpun ia inginkan. Yoona mendesah tak percaya. Hampir tiga tahun menjalani terapi dengan keras, yoona pikir ia sudah menutup rapat bayang kelam masa lalunya bersama kyu hyun.

Nyatanya, yoona tak melupakan apapun.

Yoona berpaling pada tangan yang terjatuh dari perutnya. Wajah polos lelaki yang tuhan berikan demi menyembuhkan luka menganga yang terus berdarah dalam hidupnya terpampang dengan seketika. Lelaki yang kemudian yoona jadikan sandaran untuk hidup. Semangat terbesarnya.

Kedua bola mata yoona menutup erat. Bayang-bayang senyuman kyu hyun kemudian hadir dalam deru nafas yang ia coba netralkan.

Ini benar-benar buruk. Yoona tak berpikir akan kembali bertemu kyu hyun hanya dalam waktu kurang dari setengah tahun. Ia pikir sudah korea cukup besar untuk terus memisahkannya dengan lelaki brengsek yang telah menghancurkan dirinya menjadi serpihan itu.

Namun nyatanya yoona salah. Mata coklat madu itu kembali datang dan menumbuk kesadarannya. Meruntuhkan tembok pertahanan yang telah susah payah yoona bangun dengan tekat sebulat matahari.

Gedebum langkah mewarnai lorong diluar. Lalu gebrakan pintu membuat yoona sadar jika ia kini akan terjaga hingga pagi.

“perbuatannya tak termaafkan” gumam yoona pelan.

Ia berdiri di balkon kamar dengan jendela terbuka lebar. Kerlap-kerlip lampu yang bersinar cantik dalam keheningan membuat segalanya semakin menyakitkan. Yoona melipat kedua tangannya didepan dada. Menyambut semilir angin yang malam itu menemani gundah hantinya yang tertutupi awan kelabu.

“i know.” Suara berat itu terdengar begitu tegas. “tapi kau tidak bisa terus berlari seperti ini” sambungnya.

Yoona tak membalas argumen itu seketika. Ia diam. Menikmati belaian angin pada pipi dinginnya. Yoona tak berpaling ketika bayangan tinggi itu kini berdiri tepat disampingnya. Keheningan mewarnai obrolan mereka di tiga perempat malam menjelang pagi. Lalu hembusan nafas berat membuat yoona menutup mata.

“setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan, yoon”

“tapi aku bukan pemberi kesempatan kedua. Aku  tidak akan pernah terjatuh dalam luabng yang sama. Bahkan setelah aku membangun begitu banyak pertahanan untuk diriku dan keluargaku.”

“kau bisa mencoba untuk memaafkan. Pelan-pelan saja. Kau harus mulai belajar bahwa tidak ada yang kekal didunia ini”

“maksudmu, kebencianku tidak akan menemukan kekekalan untuknya?” yoona berbalik, menatap bola mata hyuk jae dengan tegas. “you wrong! Aku tidak memiliki hati jika itu hanya berfungsi untuk menemukan secercah maaf demi masa lalu kami. Aku sudah buta! Perasaanku tidak mengizinkanku untuk kembali menatapnya sebagai manusia, hyuk. Dia itu iblis! Dia menghancurkanku! Dia—dia.. Aku—“

“dengar, yoon..” yoona membungkam suaranya ketika hyuk jae mencengkram lembut bahunya seketika. Menyadarkannya dari kuasa ego dan rasa benci yang kini telah mendarah daging untuknya. “aku tidak mencemaskan apapun tentangmu! Satu-satunya yang menurutku tidak kekal adalah diriku, yoon! Bisakan kau mengerti? Aku tidak akan selamanya disisimu untuk melindungimu dari dirinya! Aku—“

“STOP!!”

Yoona mendesak maju dengan kecepatan tak terduga. Wajahnya segera bertubrukan dengan dada hyuk jae dan tangisnya pecah dengan keras. Bahu yoona kembali bergetar hebat, hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, ia telah menangis untuk hal yang sia-sia.

“jangan katakan itu, hyuk. Aku tidak bisa mendengarnya. Teruslah disini untuk mendukungku, i have no one but you!“ yoona terdiam, ditatapnya hyukjae yang menunduk memberikannya sebuah senyuman tipis yang menenangkan. Lelaki itu selalu ada disana, memberikannya dukungan dan masukan yang selama ini selalu mampu membuat yoona maju.

Yoona tak sekalipun menyalahkan hyuk jae atas usul gilanya. Ia pun tau memaafkan adalah sifat mulia yang seharusnya yoona miliki. Namun bara hitam bekas hangusan itu masih teronggok perih disudut batin yoona.

Mungkinkah ia harus mulai memaafkan?

Menyelesaikan seluruh kisah ini dan meninggalkannya dibelakang?

 

 

__

“tidak! tidak! kau gila, cho kyu hyun!!”

Kyu hyun tersenyum licik. Seringaian penuh amarah terpampang jelas dari raut wajahnya. Ia kemudian berjalan. Mendorong sebuah kursi roda. Tempat seorang wanita tua yang lumpuh menggantungkan hidup.

Mata yoona seketika terbuka lebar. Semakin tak percaya pada kenyataan yang kyu hyun lakukan padanya. Bibirnya bergetar mengetahui pandangan penuh kekhawatiran omma untuknya.

Omma menggeleng tak terima. Bibirnya ikut bergetar bahkan jauh lebih hebat. Ia kemudian menggenggam jemari kyu hyun menempelkannya pada wajah. “jangan sakiti dia. Anakku tidak bersalah, cho kyu hyun! Ini tidak adil!!”

Hempasan tangan kyu hyun membuat omma hampir terjungkal kebelakang.

“OMMA!!”

Yoona menjerit histeris. Berusaha untuk bangun namun terhalang simpul keras yang tersambung pada ranjang. Yoona menggeleng semakin ketakutan. Ada raut yang tak bisa sedikitpun ia terjemahkan dari hitam kelam mata kyu hyun.

Ranjang beriak ketika kyu hyun mendekat. Tubuh yoona spontan beringsut mundur. Namun lelaki itu lebih cepat. Ia segera menahan yoona dan mengunci pergelangan tangannya. Tubuh kyu hyun yang besar kemudian menunduk. Menyentuh tubuh yoona yang kini hanya dilapisi pakaian dalam.

Kesadaran membuat yoona yakin jika yang akan terjadi selanjutnya adalah hal keji yang tak sedikitpun ia inginkan. Yoona menggeleng ketika kyu hyun mencium ceruk lehernya. Lalu menahan isakan, ia bertanya dengan nada tertekan.

“kenapa kau melakukan ini, kyu?!”

“kau tidak perlu tau!!”

Bola mata kyu hyun menghitam. Ada kepedihan yang yoona tangkap didalamnya. Yoona ingin menyentuh kedua pipi lelaki itu, namun urung melihat respon yang kyu hyun berikan padanya semenjak beberapa waktu yang lalu.

“aku—tapi aku ingin tau”

Tawa dengan nada rendah itu membuat yoona yakin jika lelaki yang kini bersamanya bukanlah cho kyu hyun. “aku hanya ingin tau bagaimana ketakutanmu jika aku melakukan ini. dan setelah aku tau, aku mulai berpikir apa ahra juga setakut dirimu dulu?”

Tangis yoona pecah kecil-kecil. Ia mengerti kini kebencian apa yang selalu ia temukan dalam tatapan kyu hyun yang diam-diam menatapnya dari kejauhan. Yoona kemudian menggeleng tak percaya. “kau tidak akan melakukan ini, kan? Aku yoona, ahjusshi. Aku—“

“DIAM!”

Ruangan menjadi hening seketika. Yoona tak percaya dalam diri kyu hyun masih ada banyak hal yang tak ia ketahui. Lelaki itu menatapnya murka. Penuh dengan kebencian yang selama ini hanya terselip lewat tatapan kecil. Kyu hyun kembali tersenyum. Senyuman tak tulus yang selalu terpancar darinya sepanjang hari ini.

“mengejutkan. Justru karena kau im yoona, aku akan melakukan ini dengan lebih keras”

Yoona tak dapat merasakan apapun ketika tangis dan jeritnya bersatu dalam pesakitan tiada tara. Jeritan omma yang bertalu talu dengan suaranya yang mengudara tak menghenetikan apapun malam itu.

Tangis yoona pecah begitupun tangis omma. Wanita berumur senja itu menggapai-gapai. Yoona terus menatapnya yang kemudian terjatuh dan tak lagi bisa bangkit. Omma menyapu lantai dengan gerak pelannya yang tak membuahkan apa-apa.

Dan malam itu berlalu dengan kelam.

Kejam.

Keji.

Menjijikkan.

Dan penuh kebencian.

“kenapa kau lakukan ini?” yoona menatap bola mata kyu hyun.”aku mencintaimu dengan tulus, ahjusshi.” Dalam tenaganya yang tersisa ia menangkap kilas tak berdaya dalam bola mata coklat madu milik kyu hyun. Ada penyesalan dan binar sendu disana. Namun itu tak berlalu lama. Api kembali menghanguskan segalanya dan kyu hyun menuntaskan siksaan terkejamnya hingga yoona tak lagi menemukan cahaya.

 

“Bukan—bukan!!”

Kyu hyun terjaga di tiga perempat malam. Dalam sedetik berlalu ia segera menunduk, penyapu rambut tebalnya dengan tangan sebelum menyembunyikan kepalanya dalam penyesalan yang tak terhapuskan.

Nafasnya masih saling memburu ketika kyu hyun tak menemukan siapapun didalam kamarnya malam itu. Kegelapan dan keheningan yang menjadikan malam-malam sebelum hari itu pun menjadi saksi bisu mimpi-mimpi buruknya akan kepergian yoona membuat kyu hyun tak berdaya.

Bahunya bergetar hebat. Ia sudah melewati banyak cara hanya demi mengubur rasa penyesalan yang timbul setelah ia tak lagi menemukan tawa yoona dalam hidupnya. Namun seolah menolak usulannya, tuhan berkehendak lain dengan terus menghadirkan jeritan yoona dalam malamnya.

Kyu hyun meringis memegangi ujung bibirnya. Bercak kebiruan yang ada disekitar wajah dan robekan kecil yang diciptakan lelaki yang memeluk yoona malam ini membuat kyu hyun sadar bahwa apapun yang kini membutanya terluka tak pernah sebanding dengan sakit yang ia tinggalkan dalam hidup yoona.

Kyu hyun tak menyadari betapa besar kesalahan yang ia ciptakan. Dalam sekejap usai kehilangan yoona ia bahkan tak menyadari jika tawa lepas yang pernah ada selama ia bersama yoona telah hilang tanpa jejak.

Semenjak kejadian mengerikan itu, lalu yoona menghilang, kyu hyun tak lagi pernah tau bagaimana rasanya menyecap tawa yang tulus dan bahagia.

Lalu ia sadar jika satu-satunya wanita yang pernah mati-matian ingin ia hancurkan, wanita yang ia siksa bahkan hampir ia hilangkan nyawannya, wanita yang jeritan dan tangis penuh ratapannya tak pernah kyu hyun dengar itu adalah satu-satunya wanita yang mampu mengukir tawa dalam hidupnya.

“he’s not me..”

Kyu hyun bergumam kecil.

Itu bukan dirinya.

Malam itu, segala sesuatu yang yoona lihat bukan dirinya. Kyu hyun bukannya tak menyadari bahwa terlahir dari keluarga cho akan membuatnya memelihara setan kecil didalam dirinya. Hanya waktu itu ia tak menyangka jika kebencian membuat ia dikuasi dengan mudah.

“itu bukan aku, yoon..”

Kyu hyun masih bergumam. Namun malam masih sunyi. Tak ada yang menyahuti selain angin yang terus membelai satu lagi malam panjangnya yang didatangi jeritan yoona.

Kyu hyun tau ia tak akan pernah bisa mendapatkan damai sebelum yoona memaafkannya. Namun kini semua terasa begitu sulit. Bukan untuk mendapatkan maaf dari yoona, hanya kini ia mulai merasa kalap dan terus memohon kesempatan kedua.

Kyu hyun menyesal.

Ia menyadari semua kepedihan yang terukir dalam hidup mereka adalah kesalahannya.

Tapi mampukan yoona memberikannya kesempatan?

Termaafkankah kekejian perbuatannya dahulu hingga esok mereka bisa bersama hanya untuk satu destinasi bahagia?

Kyu hyun menggeleng.

Lalu  menggeram.

Namun tetap tidak menemukan jawaban.

 

-kkeut-

Tidak semua salah mampu mendapatkan maaf.

Tidak semua kekejian mampu terlupakan.

Tidak semua luka mampu terobati.

Layaknya manusia yang secara naluriah tidak akan pernah sempurna. Kesempatan kedua pun memiliki jalan pada siapa ia harus tertuju. Tidak semua masa lalu mampu diperbaiki. Tidak selamanya cinta mampu memberikan kekuatan pada hati. Setiap detik yang terlewati adalah setapak yang akan menuntuk kita pada masa depan. Dan mereka pemilik kesempatan kedua adalah pribadi yang beruntung karena mampu mencecap penyesalan dibalik kekejian yang mereka ciptakan silam.

 

Hello fellow!!

Haha, sengaja aku gantung sih sebenarnya. Aku berniat bikin ini jadi part gitu. Tapi project blog mengharuskan aku mengirim oneshoot. Jadi, ya, ini dulu aja ya.

Lebih rinci tentang apa kesalahan kyu hyun, gimana hubungan mereka dimasalalu, siapa itu hyukjae, dan gimana akhirnya, aku lanjutkan setelah ini di posting. But of course, kalau kalian setuju ini dijadiin chapter. Aku tunggu responnya ya.

Maaf, enggak ada antiklimaks huhu~

With love, Park ji yeon.

 

 

94 thoughts on “[Play! The Etude] Remorse

  1. ini hrs dilanjut thor..msh byk tanda tanya dsni, gmn masalalu kyuna knp kyu bs memperlakukan yoona kek gtu, apa ada dendam dg kluarga yoona, trs ahra nya jg knp??penasaran bgt..
    ditunggu klanjutannya~

  2. penasaraaaannnn tingkat dewi diannn
    kerenn…mw dilanjut yak??
    setelah c unexpected kelar or akan dilaunch barengan??
    ditunggu banget next chapnya..
    thanks 4 share saengiii

  3. Omo ! Ini ceritanya daebak bgt thor… feelnya dpt bgt.
    Jd semua karena dendam masa lalu ? Emang perbuatan kyuppa tak termaafkan. Wajar klo yoona sangat marah.. kyuppa bnr2 iblis.
    Tp masih nggantung nihh . Huhuhu … gak ada sequel kah ?

  4. jadi di sini umurnya terpaut lumayan jauh ya? haha kyu jadi ahjussi😀 btw, aku suka peran hyukjae di sini. dan ada yong dae nyempil, tapi masih blm ngerti perannya dia. kayaknya cerita berat ni.. ditunggu kelanjutannya yaa author

  5. slam kenal eonni
    wih keren mendebarkan
    aku bru tau ada fiction kyuhyun sma yoona
    berhrap ada klanjutannya ya eonni
    jdi ska bca ff, ternyata kren jga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s