[Play! The Etude] Who Are You

who are you

Tittle : Who are You?

Cast : Im Yoona, Lee Donghae and other

Genre : romance, mistery

Author : Yuna21

Rating : PG-13

Length : oneshoot/

Terinspirasi oleh : Lagu It’s ok, that’s love by daivichi

Author’s Note : FF ini murni hasil pemikiran author sendiri tidak ada maksud bash atau menjelek – jelekan. Happy reading!! Don’t forget RCL.

 

Yoona terduduk di sebuah cafe seorang diri, seperti sedang menunggu kehadiran seseorang. Kedua tangannya sibuk memainkan ponselnya, entah apa itu yang sedang ia lakukan.

Tiba – tiba matanya terhenti begitu melihat sebuah aplikasi dalam gadgetnya yang sangat asing baginya. Ia tidak pernah tau ada aplikasi aneh ini dalam ponselnya. Mungkin karena ponselnya terbilang masih baru.

Tangannya ragu sejenak. Hatinya bimbang untuk membukanya. Tapi, ada sedikit rasa penasaran dalam lubuk hatinya. Pelan – pelan tangannya membuka aplikasi itu. Matanya menatap tak ada apapun di sana selain perintah bertuliskan ‘Give me a name’.

Yoona menelan ludahnya. Ia tidak mengerti dan sekaligus penasaran dengan aplikasi ini. Kepalanya mulai bekerja. Kini ia merasaka dirinya yang sudah dipenuhi akan rasa penasarannya yang tinggi. Ditekannya satu demi satu huruf yang ada di layar ponselnya.

Ia menunggu sejenak hingga proses loadingnya berakhir. Detik demi detik bisa ia rasakan. Ini terasa begitu lama baginya. Sedetik rasanya sejam. Matanya terus terfokus menatap layar. Suara berisik di sekitarnya seolah membisu. Ia tenggelam dalam ponselnya.

“Yoong,” Sebuah sapaan membuat dirinya tersentak. Seketika ia tersadar. Kepalanya mendongak dengan cepat. Mata rusanya mendapati sosok yang ditunggunya sejak tadi. “Aku memanggilmu dari tadi, apa kau tidak dengar?”tanya gadis di hadapannya.

“Jinjjayo?”tanya Yoona tak percaya. Gadisbermarga Jung ini hanya mampu memutar bola matanya. “Kau sudah pesan makanan?”tanyanya. Yoona hanya menggelengkan kepalanya. Tangan Jessica terangkat ke atas, memanggil seorang pelayan untuk mendekat.

Yoona memperhatikan menu yang terdaftar. Ia bingung ingin memesan apa. Selera makannya tiba – tiba hilang saat ini. Ia tidak mengerti mengapa itu bisa terjadi padanya.

DRT!

Ponselnya bergetar. Satu pesan masuk, tapi bukanlah pesan tesk biasa. Yoona mengerutkan alisnya begitu membaca nama yang tertera di sana. Tangannya membuka pesan yang masuk tanpa ada perasaan ragu sedikit pun.

‘Anyeong Im Yoona!’

Begitulah isi pesan untuknya. Yoona terdiam menatap tulisan itu cukup lama. Ia tidak mengenal siapa pengirim pesan ini, tapi kenapa dia bisa mengetahui namanya?

DRT!

Kembali ponselnya bergetar. Yoona menatap pesan di bawahnya. ‘Jangan takut. Ini aku.’ Yoona menelan ludahnya. Rasanya ia sedikit takut sekarang. Berbagai macam asumsi muncul dalam pikirannya. Sesegera mungkin ia singkirkan. Dimasukannya kembali ponselnya. Ia tidak akan menghiraukan pesan aneh tadi lagi.

“Yoong, kenapa kau tidak pernah bermain ke butikku lagi?”tanya Jessica. Gadis yang duduk di hadapannya ini adalah sepupunya. Hingga saat ini mereka masih akrab, tapi beberapa bulan ini Yoona jarang bertemu Jessica. Mungkin karena ia sudah mulai sibuk dengan dunianya sendiri.

Eonnie tau’kan jadwalku akhir – akhir ini padat sekali. Bahkan selesai pemotretan aku harus pergi lagi.”keluhnya. “Arraseo,”jawab Jessica pasrah. Kembali seorang pelayan menghampiri meja mereka, namun kini lengkap dengan makanan yang telah mereka pesan.

“Bagaimana hubunganmu?”tanya Jessica. Yoona yang hendak menyantap makanannya terhenti seketika. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud Jessica saat ini. “Hubungan apa?”tanya Yoona bingung.

Jessica menghembuskan napasnya kesal. “Aku dengar kau dekat dengan artis pendatang baru itu.”ujarnya. Sebuah tawa tiba – tiba meledak. “Heh, kenapa tertawa?”tanya Jessica bingung. Yoona menggelengkan kepalanya sambil berusaha menahan perutnya yang terasa geli mendengar perkataan Jessica.

“Aku baru sadar ternya Eonnie percaya dengan gosip murahan itu.”

“Jadi maksudmu kau tidak berpacaran dengan Cho Kyuhyun?” Yoona menganggukan kepalanya. “Lalu jika bukan pacaran, foto itu apa?”tanya Jessica sedikit menuntut. “Itu foto saat aku ada photoshoot bersama dengannya. Aku suka menjadinya wallpaper. Kami hanya sebatas teman, tidak lebih. Ya semacam sahabat.”jelasnya.

“Oh… begitu, sahabat atau sahabat, hem?”

Yak! Eonnie kau ini sudah kubilang kami hanya sahabat.”

DRT!

Ponsel Yoona kembali bergetar. Kepalanya sedikit menunduk untuk melihat pesan yang masuk. ‘Kenapa kau tidak membalas? Apa kau lupa padaku?’ Lagi – lagi pesan misterius yang ia tidak tau asal usulnya dengan jelas. Yoona menimbang – nimbang sejenak. Hatinya terasa takut bercampur rasa penasaran yang besar.

‘Kau ini siapa? Darimana kau tau aku? Apa aku mengenalmu?’ balasnya.

‘Bukankah kau yang memberikan aku nama.’

Memberikan nama? Apa maksudnya? Yoona memutar otaknya kembali, mencoba menggali ingatannya. Apa yang sudah dilakukannya?

‘Namaku Lee. Kau hanya memberikan marga padaku.’ Satu pesan lagi darinya. Mata Yoona membulat seketika begitu membaca pesan terakhir. Ia ingat satu hal, dimana ia memberikan nama marga itu di satu aplikasi dalam ponselnya.

‘Ini bukan pesan teks biasa. Apakah ini pesan dalam aplikasi itu?’ ketik Yoona cepat.

‘Ya.’

            ‘Tapi kenapa aku merasa bahwa kau bukanlah sebuah aplikasi.’

            ‘Kenapa?’

            ‘Tidak lupakan.’ Balas Yoona. Dalam benaknya ia merasakan ada yang aneh. Tapi disisi lain ia merasa takjub. Ini pertama kalinya ia menemukan aplikasi seperti ini. Maksudnya jika diajak berbicara mereka searah. Tidak seperti aplikasi lainnya yang terkadang jawabannya melantur kemana – mana.

“Yoona, Yoona,”panggil Jessica. Gadis yang dipanggilnya ini tersentak. “Nde?”tanyanya. “Kelihatannya kau sibuk sekali dengan ponselmu. Chat dengan siapa?”tanya Jessica penasaran. Yoona hanya melantunkan senyumnya sambil menggeleng. “Aniyo.”jawabnya.

Jessica mengangguk – anggukkan kepalanya. “Ehm, Cho Kyuhyun mengirimi pesan sampai kau melupakan aku.”gerutunya. Mata Yoona membulat mendengar pernyataan Jessica. Astaga kenapa gadis ini percaya sekali dengan gosip murahan yang beredar?

DRT!

Kembali suara ponsel itu mengalihkan pandangannya. ‘Siapa gadis yang ada di hadapanmu itu?’ Yoona terdiam cukup lama begitu membaca tulisan dari ‘Lee’. Kepalanya seketika berputar ke belakang. Lalu ke kiri dan kanan. Tidak ada siapapun yang bisa ia temukan dan curigai disini. Ketakutan dalam hatinya terasa semakin nyata. Rasanya seperti ada yang mengganjal dalam benaknya tentang aplikasi yang sedang dimainkannya ini.

‘Kau mencari siapa?’

            ‘Mencarimu.’ketik Yoona cepat.

‘Kenapa mencariku?’

            ‘Kenapa kau tau aku sedang bersama seseorang sekarang?’

            ‘Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.’

            ‘Cukup! Jangan hubungi aku lagi!’putus Yoona.

Terlihat sebuah amarah dari raut wajah Yoona. Kedua alis Jessica berkerut. “Yoong kau kenapa?”tanya Jessica pelan. Gadis dihadapannya ini mengangkat wajahnya. “Eonnie, apa kau pernah memakai aplikasi ini? Apa kau tau bagaimana cara menghapusnya?”tanya Yoona langsung pada intinya. Tangannya menyodorkan ponsel miliknya ke arah Jessica.

Jessica mengambil alih ponselnya. Menatap sebuah aplikasi yang ditunjukan Yoona. Tidak ada hal lain yang ia lihat disana, hanya sebuah percakapan seperti dilakukan di sosial media lain. “Siapa Lee?”tanya Jessica.

“Aku tidak tau. Eonnie kau bisa menghapus aplikasi itu’kan?”tanya Yoona mulai gelisah. Tangan Jessica mulai mengutak – atik ponselnya. Mencoba untuk menghapus. “Aku belum pernah melihat aplikasi ini dan kurasa ini tidak ada di playstore atau pun google. Kau mendapatkannya dari mana?”tanya Jessica masih terfokus menatap ponsel adiknya.

“Aplikasi itu memang sudah ada di dalam ponselku. Awalnya aku penasaran, jadi aku mencoba untuk membukanya. Ada perintah yang menyuruhku memberikan nama. Dan… ya, aku menuliskan marga ‘Lee’ itu.”jelasnya. Jessica terhenti menatap Yoona sejenak. “Aku juga merasa seperti diteror.”lanjutnya.

“Kau tau, aplikasi ini tidak bisa dihapus.”tutur Jessica pelan tanpa ekspresi. “Kau tenang saja. Ini hanyalah sebuah aplikasi. Mungkin saja sistemnya terlalu canggih hingga bisa mengetahui keberadaanmu. Atau mungkin karena kau menyalakan GPSmu.”

Yoona mengambil kembali ponselnya. Seharusnya ia tidak perlu setakut ini. Lagipula yang dikatakan Jessica benar. Gadis ini menghembuskan napasnya pelan.

 

oOo

 

Yoona menghempaskan tubuhnya ke atas kasur empuknya. Hari ini begitu melelahkan baginya. Ia sangat sibuk. Bahkan rasanya untuk memegang ponsel ia tidak memiliki waktu. Segera tangannya merogoh tas tangannya. Sebuah ponsel berwarna hitam diambilnya.

Tidak ada notifikasi apapun. Matanya menatap lama aplikasi yang sempat membuatnya takut tadi pagi. Ragu, itu yang dirasakannya saat ini. Tapi bukankah ia termasuk beruntung memiliki aplikasi secanggih ini? Bisa diajak bicara layaknya ia sedang berbicara dengan manusia.

Ia memutuskan untuk membukanya. Hanya satu kata yang ia kirim. ‘Hai’ Matanya masih menatap layar ponselnya. Menunggu reaksi balasan yang diberikan. Satu menit. Dua menit. Sepuluh menit. Masih belum ada balasan. Mungkin aplikasi ini sudah tidak berfungsi lagi.

Yoona meletakan kembali ponselnya.

DRT!

‘….’ Alisnyaberkerut menatap pesan yang dikirim untuknya. ‘Maaf, mungkin aku sudah bersikap kasar tadi.’ketiknya. ‘Ne, tidak masalah.’balasnya. Yoona merasakan seperti dirinya benar – benar sedang berkomunikasi dengan orang, bukan dengan komputer.

‘Boleh aku bertanya padamu?’

            ‘Tentu saja.’

            ‘Kau tau siapa aku?’

            ‘Im Yoon Ah. Gadis berumur 25 tahun. Lahir pada tanggal 30 Mei 1990. Bergolongan darah B. Tinggal di perumahan mewah Apgujeong. Kau hanya tinggal sendiri. Kau adalah aktris sekaligus model terkenal. Kau sangat menyukai mawar merah. Tidak suka dengan anjing. Setiap akhir bulan kau selalu mengusahakan untuk pergi ke Amerika mengunjungi orang tuamu. Ayahnya adalah pemilik perusahaan elektronik terkenal. Ibumu adalah seorang penulis. Kau tidak memiliki saudara dan tadi pagi kau baru saja bertemu dengan sepupumu bernama Jessica Jung di Bob cafe.’

Yoona membaca setiap kalimat yang tertulis di layar ponselnya dengan seksama. Memperhatikannya sedemikian mungkin. Menatapnya berjam – jam bahkan membacanya ulang berkali – kali. Informasi yang begitu detail tentang dirinya. Bagaimana ini bisa terjadi? Tentu saja, dia adalah artis tidak ada orang yang tidak tau tentang dirinya.

‘Apa kau hanya memakai nama yang kuberikan? Kau tidak memiliki nama?’

            ‘Marga yang kau berikan adalah margaku. Namaku Lee Donghae.’

            ‘Apa kau komputer?’

            ‘Bukan.’

            ‘Lalu?’

Tidak ada balasan. Ini semakin menambah kecurigaan Yoona. Bisa saja orang ini ternyata adalah fans fanatiknya. ‘Apa kau fansku?’ketik Yoona. ‘Bukan. Aku hanya tau wajahmu.’jawabnya. ‘Apa kau bisa mengirimkan foto wajahmu? Aku sangat penasaran.’

DRT!

Sebuah pesan berisi gambar. Yoona tidak melihat wajah pria seseorang disana. Ia hanya melihat sebuah pemandangan dimana foto ini diambil di sebuah jalan yang tidak asing lagi baginya. Jalan di depan rumahnya.

Dibawah foto itu tertulis keterangan, ‘Aku sedang berada di tempat ini sekarang.’ucapnya. Seketika Yoona meloncat dari kasurnya begitu membacanya. Kakinya berjalan dengan cepat menerobos pintu rumahnya. Ia melangkah keluar tanpa sebuah alas kaki.

Tepat di tengah jalan itu ia berdiri. Ia menatap jauh ke ujung sana. Tidak ada seorang pun disana. Badannya berputar ke kanan. Tidak ada siapapun. Hanya jalanan sepi tak bernyawa. Ada rasa kecewa sedikit dalam hatinya. Bisa saja komputer itu mengambil gambar jalan itu diinternet.

Yoona berjalan dengan lemas masuk ke dalam rumahnya. Matanya menatapponsel di tangannya. Sambil berjalan ia membuka pesan yang masuk untuknya. Lagi – lagi sebuah gambar. Namun kini gambar itu adalah gambar dirinya yang diambil dari belakang. Berdiri di tengah jalan. ‘Aku melihatmu tadi.’katanya.

‘Siapa kau sebenarnya?’balas Yoona.

‘Ini sudah malam. Sebaiknya kau tidur. Selamat malam. Semoga mimpimu indah.’

Yoona menatap pesan yang menyatakan percakapan mereka hari ini berakhir dan mungkin akan berlanjut besok. Sebelah tangannya memegang kepalanya. Ia bisa merasakan kepalanya mulai berdenyut. Mungkin ia memang harus mengambil sisi positifnya. Mungkin ini akibat dari ponselnya yang terlalu canggih dan yang tidak sembarang orang memiliki ponsel sepertinya. Seharusnya ia bersyukur.

 

oOo

 

Sinar mentari masuk ke dalam ruangan bercat putih ini. Di atas sebuah tempat tidur, tertidur seorang gadis cantik yang masih tenggelam dalam mimpinya.

DRT!

Ponselnya bergetar. Berhasil membangunkan dirinya. Mata rusanya membuka pelan. Yoona terduduk sejenak. Memulihkan kesadarannya beberapa saat. Kemudian tangannya segera mengambil ponsel yang bergetar tadi.

Bisa dilihatnya dengan jelas ada sekitar seratus notifikasi yang masuk dalam semalam. Diantara begitu banyak, hanya ada satu yang menarik perhatiannya. Tangannya mencoba membukanya. ‘Ini sudah siang, apa kau tidak pergi bekerja?’

Yoona mencoba mengabaikan pesan itu. Ia segera pergi ke kamar mandinya untuk membersihkan dirinya.

 

Kakinya melangkah menuruni tangga, dengan tubuh yang sudah bersih serta wangi. “Ahjuma!”serunya. Tidak ada jawaban sama sekali. Yoona terdiam beberapa saat. Ia baru sadar, pelayan di rumahnya sedang mengambil cuti beberapa bulan.

Kembali ia melangkah mendekati dapur. Ia terhenti tepat di depan kulkasnya. Tangannya membuka pintu itu pelan. Matanya menatap setiap sudut di dalamnya. Tidak ada apapun di sana. Kosong.

“Aish,”desahnya. Sial, ia lupa untuk membeli kebutuhan dapur semalam. Biasanya yang mengisi kulkasnya adalah pelayannya. Ia cukup memeberinya uang belanja kebutuhan rumah untuk sebulan.

DRT!

‘Kau tidak sarapan?’tanya Donghae.

‘Tidak.’

‘Kenapa?’

Yoona terdiam. Ia pikir komputer bernama Lee Donghae ini akan mengetahui bahwa pembantunya sedang libur hari ini. Dugaannya salah. Ini artinya, yang sedang di ajaknya bicara ini benar – benar seorang komputer. ‘Pembantuku sedang cuti.’

TOK! TOK! TOK!

Suara pintu membuatnya mengalihkan pandangan. Segera kakinya melangkah ke pintu depan. “Nde, sebentar.”teriaknya. Tangannya membuka pintunya. Di hadapannya berdiri seorang pengantar makanan delivery.

“Apa benar ini rumah Im Yoon Ah?”tanyanya. Yoona hanya menganggukan kepalanya kaku. “Ini pesanan Anda nona.”ucap pria ini lagi sambil menyodorkan makanan untuknya. Yoona yang menerimanya terlihat bingung. “Maaf, tapi aku tidak pernah memesan makanan.”terangnya.

“Saya hanya bertugas untuk mengantarkannya.”jawab pria ini sopan. “Berapa totalnya?”tanya Yoona. Ia memutuskan untuk membayarnya, toh siapa tau fansnya yang memesankan ini untuknya. “Ini sudah dibayar. Baiklah kalau begitu saya permisi.”

“Sebentar, apa saya boleh tau siapa yang memesankan ini?”tanya Yoona mencegah.

“Maaf, dia menitipkan pesan untuk tidak memberi tau identitasnya.”

Yoona hanya mampu mengangguk – anggukan kepalanya mengerti. Mungkin saja ini ulah penggemar beratnya. Ya, itu bisa saja terjadi. Segera ia masuk kembali ke dalam rumahnya.

 

Yoona membuka makanan dihadapannya. Terdapat satu porsi pancake dengan toping madu ditemani segelas cokelat panas. Sarapan favoritenya. Ia begitu beruntung memiliki banyak fans.

DRT!

‘Apa kau sedang sarapan?’

            ‘Ya. Kau sendiri?’

            ‘Aku juga sedang sarapan.’

            ‘Kau menyukai sarapanmu?’

            ‘Setidaknya ini cukup untuk mengganjal perutku. Apa aku boleh tau kau sarapan apa pagi ini?’tanyaYoona iseng. Semakin lama ia merasakan dirinya sudah mulai terbawa ke dalam permainan yang tidak ia mengerti.

Sebuah gambar masuk. Yoona menatapnya lekat. Disana terdapat menu sarapan yang sama dengannya. Namun latarnya seperti di sebuah cafe. Yoona mengerutkan keningnya sejenak. Matanya mencoba membaca tulisan kecil yang tertempel di dekeat pintu masuknya. Sepertinya orang ini sedang duduk di bagian luar cafe.

Matanya membulat seketika begitu mulutnya yang bergerak berhasil membaca tulisan itu. Tangannya menarik kembali kotak yang membungkus sarapannya ini. Ia membaca tulisan yang ada di cover atasnya.

Nama toko yang sama dengan yang ada dalam foto orang itu. Apa dia yang membelikan ini untuknya? Tidak mungkin. Bisa saja fansnya yang tidak sengaja atau mungkin aplikasi ini mencari gambar itu di internet.

‘Siapa kau sebenarnya?’tanya Yoona. Lagi – lagi ia merasa penasaran. ‘Aku seorang pria bernama Lee Donghae. Apa itu belum cukup?’jawabnya. Yoona meletakan kembali ponselnya. Kini ia menatap makanan yang ada di hadapannya, yang belum sama sekali tersentuh olehnya. Apa ia harus memakannya? Bagaimana jika ternyata ada racun dan sejenisnya?

DRT!

‘Kenapa hanya dilihat? Kau tidak suka? Atau kau takut ada racun dalam makanan itu?’ Yoona tertegun. Orang ini bisa membaca pikirannya dan anehnya ia tau bahwa Yoona tidak menyentuh makanannya juga. Gadis ini melihat ke sekitar rumahnya sekali lagi. Apa jangan – jangan orang itu ada di sini?

‘Dimana kau?’tanya Yoona.

‘Bukankah aku sudah mengirimkan foto tempat aku berada sekarang?’

Yoona menghela napasnya. Ia merasa bimbang. Perutnya berbunyi. Tidak ada pilihan lain lagi baginya. Ia hanya bisa berharap pada Tuhan tidak akan ada hal aneh yang akan terjadi setelah ia memakan sarapannya.

 

oOo

 

Yoona bisa merasakannya. Jelas sekali. Tentu inilah yang ia rasakan. Semakin lama ia semakin larut dalam permainan dunia maya yang ia tidak mengerti ini. Tertawa seorang diri setiap kali menatap ponselnya. Siapa lagi yang ia ajak mengobrol kalau bukan teman khayalan dari ponselnya. Ia bahkan tidak tau apakah itu sejenis manusia atau komputer.

Hari ini ia tidak pergi bekerja. Berbeda dengan beberapa hari yang lalu. Kini kondisinya juga berbeda. Ia tak lagi takut dengan berbagai macam pesan yang dikirim orang bernama Donghae itu.

Yoona terduduk bersila di atas sofa ruang tengahnya. Tubuhnya hanya berbalut kaos. Udara terasa begitu dingin hari ini. Bagaimana tidak? Ini sudah memasuki musim dingin dan itu sudah berjalan selama tiga hari.

Kedua tangannya saling bergesekan untuk menghasilkan panas. Sesekali ia meniupnya. “Huft, aku tidak menyangka musim dingin tahun ini lebih dingin dari biasanya.”gerutunya.

DRT!

‘Hari ini udara dingin sekali, apa kau juga kedinginan?’

‘Tidak.’balas Yoona berbohong. Tangannya menarik sebuah selimut untuk menutupi kakinya yang berbalut kaos kaki. ‘Kau tidak bisa membohongiku.’jawab Donghae. ‘Kau juga tidak tau aku berbohong atau tidak,’ketik Yoona.

Di dalam lubuk hatinya ia merasa ingin tertawa. Lucu rasanya berkomunikasi dengan orang yang ia tak tau. “Ha! Jika seperti ini, aku bisa gila.”gerutunya.

DRT!

Satu pesan masuk dari Donghae. Tangan Yoona membukanya dengan cepat. Matanya sedikit melebar begitu melihat gambar yang tertera. Disana ada dirinya dengan posisi bersila mengenakan kaos. Sebuah selimut ada di atas kakinya dan ia terduduk di atas sofa ruang tengah.

Kepala Yoona dengan cepat menoleh. Tidak ada apapun yang ia lihat. Seingatnya ia juga tidak pernah memasang cctv ataupun menyewa seorang satpam untuk menjaga rumahnya. Ia hanya ingat ia memiliki dua orang pembantu, salah satu dari mereka sedang mengambil cuti dan yang lain hanya datang di malam hari saja untuk menjaga rumah.

“Tenang Yoona, tidak ada apa – apa.”

‘Kau yakin sudah hangat hanya dengan kaos? Tidak menggunaka sweter?’

            ‘Aku malas menaiki tangga menuju kamarku. Memangnya kenapa?’

            ‘Kau malas atau tidak punya sweter, hem? Atau jangan – jangan isi lemarimu hanya kaos tipis dan celana pendek.’

            ‘Yakk! Aku tidak begitu juga.’

            ‘Jinjjayo? Aku tidak yakin. Atau mungkin kau tidak punya uang untuk membeli sweter?’ Yoona terlihat mulai terbawa suasana. Amarahnya memuncak akibat gangguan Donghae. ‘Aku ini artis. Jika aku mau aku bisa beli seratus sweter sekaligus.’jawabnya menyombongkan diri. ‘Oh begitu rupanya, yah! Baru saja aku ingin membelikanmu sweter.’

‘Hahaha… lucu,’jawabnya datar. Tidak ada jawaban masuk dari Donghae. Yoona meletakan kembali ponselnya. “Dasar orang aneh, dia pikir mengirim sweter seperti mengirim gambar. Komputer bisa saja berbicara seenaknya.”ucapnya pada diri sendiri.

TOK! TOK! TOK!

Telinga Yoona mendengar ketukan pintu beberapa kali. Segera ia bangkit dari duduknya. Kakinya bergeges melangkah menuju pintu. Pelan – pelan ia membuka pintunya. Tidak ada orang. Kepalanya tertunduk sedikit. Tepat di bawah kakinya. Ia bisa melihat sebuah kotak berwarna pink. Tangannya mengambilnya dengan sigap.

Sambil berjalan Yoona membuka kotaknya. Matanya menatap sebuah baju. Sweter. Sweter tebal untuknya. Siapa yang mengirimkan ini? Apa fansnya lagi?

DRT!

‘Kurasa kau sudah mengambil swetermu. Kau tidak memakainya?’

            ‘Tunggu dulu, apa ini kau yang mengirimnya?’

            ‘Kau pikir begitu? Haha, kau pikir aku rela menghamburkan uangku untuk membelikanmu sweter?’

            ‘Aku serius.’

            ‘Kalau aku tidak mau serius?’

            ‘Ah! Sudah lupakan!’

            ‘Tidak mau.’

            ‘Wae?’

            ‘Tidak ada. Kau terlalu sulit untuk dilupakan.’

            ‘Terserah kau saja.’

Yoona mengenakan sweternya dengan segera sebelum ia beku akibat kedinginan. Ia merasakan sebuah perhatian yang tak pernah ia dapatkan. Lama – lama hatinya mulai terpenuhi akan rasa penasaran siapa sosok yang ia ajak berbicara melalui ponselnya ini.

 

“CUT!”seru seseorang. Segala aktivitas mengambil gambar di hentikan. Yoona menghembuskan napasnya lega. Kakinya melangkah mencari tempat untuk dirinya bersantai. “Nona Im!”teriakan untuknya seketika membuat langkahnya terhenti.

“Nde?”tanyanya.

“Ini ada kiriman bunga untukmu.”ujarnya. Yoona mengangkat sebelah alisnya. “Dari siapa?”tanyanya. Kepala gadis ini hanya menggeleng. Yoona meresponnya dengan anggukan dan berlalu. Satu – satunya jawaban baginya saat ini adalah, pasti si komputer bernama ‘Lee Donghae’ itu yang memberikan ini untuknya.

DRT!

‘Aku harap kau menyukainya.’ Membaca kalimat itu membuat senyum di wajah Yoona mengembang. Entah kenapa ia juga tidak tau. Tangannya membuka surat kecil yang terselip di bunganya. ‘Kau dan aku, dekat tapi kau tidak pernah menyadarinya.’

Sebelah alis Yoona terangkat. Apa maksudnya? Apaah ini teka – teki untuknya? Atau jangan – jangan orang ini sebenarnya adalah orang dekatnya dan ia tidak menyadari hal itu?

BRUK!

Tanpa sengaja Yoona menabrak seseorang. Bunga yang berada dalam gendongannya tadi kini berserak di bawah. Hatinya terasa sedikit hancur. Secepat kilat ia berjongkok untuk mengumpulkan bagian buket bunga yang bisa ia selamatkan.

Dihadapannya seorang pria membantunya. Mereka berdiri. Tangan pria itu memberikan sebatang mawar untuknya – yang dirasa bunga milik Yoona – yang terjatuh. “Jeosonghamnida.”gumamnya. Tangannya mengambil bunga yang diberikan untuknya dengan cepat. Kakinya berjalan dengan terburu – buru.

DRT!

‘Kalau berjalan hati – hati, jangan hanya memperhatikan ponselmu.’

            ‘Ha?’

            ‘Kau menabrak orang tadi. Untung saja dia tidak marah padamu.’

            ‘Dia yang salah, kenapa tidak menghindar jika tau aku tidak berhati – hati.’

            ‘Hei! Dimana – mana yang salah orang yang tidak memperhatikan jalan.’

            ‘Kenapa kau menjadi membelanya.’

            ‘Aku selalu ada di pihak yang benar.’

            ‘O’

            ‘….’

 

Yoona menyandarkan punggungnya di kursi. Matanya menatap buket bunga mawar yang sempat hancur tadi. Hatinya terasa sedikit kecewa. Ini salahnya yang tidak berhati – hati. Jika saja ia meperhatikan jalan tadi, mungkin bunganya tidak akan menjadi hancur seperti ini.

Matanya kini beralih pada sebatang bunga yang ada di tangan kanannya. Jenis bunganya sama, tapi warnanya berbeda – putih. Kenapa bisa terselip mawar putih di sini? Bukankah tadi seingatnya tidak ada mawar putih?

DRT!

‘Kau sedang apa?’

            ‘Memperhatikan bunga yang aku yakin kau yang mengirimnya.’

            ‘Kau takut bunga itu mengandung racun?’

            ‘Tidak. Tapi ada yang aneh.’

            ‘Mwoya?’

            ‘Terselip satu bunga mawar berwarna putih di sini.’

            ‘Jinjjayo? Ha! Itu bukan yang ku kirim.’

            ‘Lalu siapa?’

            ‘Mana aku tau.’

            ‘Jangan berbohong. Kau pikir kau bisa membodohiku karena aku tidak tau dirimu.’

            ‘Coba kau ingat apa yang terakhir kali terjadi.’

Yoona berpikir sejenak. Ia kembali mengingat – ingat. Benar! ‘Aku menabrak seseorang.’jawabnya. ‘Mungkin saja itu milik orang yang kau tabrak tadi.’

            ‘Ya, itu bisa saja.’

            ‘Apa kau masih ingat wajahnya?’

            ‘Aku tidak sempat melihat wajahnya.’

 

Dari kejauhan Jessica yang tidak sengaja berkunjung ke lokasi menatap Yoona. Matanya menyipit sedikit memperhatikan adiknya itu. Ada yang aneh. Ia terlihat begitu serius dengan ponselnya. “Eomma, ayo kita menghampiri ahjuma!”ajak Krystal.

Jessica tersadar. Ia mengangguk dengan mantap dan berjalan menghampiri Yoona. “Bibi!”seru Krystal gembira. Tidak ada jawaban dari Yoona. Gadis itu sibuk tertawa sambil menatap ponselnya. Kepala Krystal mendongak menatap ibunya.

“Yoona,”panggi Jessica. Tidak ada respon. Kini wajah gadis itu terlihat pucat. Ketegangan jelas terlihat di sana. “Eomma, ada apa dengan ahjuma?”tanya Krystal bingung.

Tangan Jessica terangkat menyentuh bahu gadis ini pelan. Yoona memutar tubuhnya cepat layaknya orang ketakutan setengah mati. “Huft… eonnie, kau membuatku takut saja.”ucapnya lega. “Duduklah.”perintahnya.

Ahjuma! Aku datang!”seru Krystal. Senyum manis mengembang di wajah Yoona. Kedua tangannya mengangkat Krystal, mendudukannya di atas pangkuannya. “Kenapa kau ke sini?”tanya Yoona. “Itu karena ahjuma tidak pernah mengunjungiku, ahjuma selalu saja sibuk!”celoteh Krystal.

Mianhae, ahjuma…”

Ahjuma mu terlalu sibuk untuk berkencan dengan Kyuhyun.”potong Jessica. Sontak bola mata Yoona berputar ke arah Jessica dengan tajam. “Oppa!”teriak Krystal kegirangan sambil melambai.

Jauh di sana Kyuhyun berdiri sambil tersenyum lebar. Gadis kecil itu seperti sedang memanggilnya. Kakinya mencoba menghampiri. “Mwo?! Kau memanggilnya ‘oppa’ tapi kenapa kau memanggilku ‘ahjuma’ ?”protes Yoona.

Krystal hanya mengabaikannya. “Anyeong noona,”sapa Kyuhyun ramah pada Jessica. “Oppa, mana boneka yang oppa janjikan?”tuntut Krystal. Kyuhyun mengangkat tangannya , memberi isyarat untuk menunggu.

“Tara! Ini dia boneka teddy bear Krystal!”serunya. “Aigoo Kyu, kau tidak perlu repot seperti ini. Krystal kau juga, kasian Kyu oppa harus membelikanmu boneka.”kata Jessica. “Aniyo noona, Krystal tidak merepotkan.”

Jessica melirik Yoona yang mulai sibuk dengan ponselnya. “Ekhm, baiklah. Krystal sepertinya kita harus kembali ke rumah. Besok lagi kita akan berkunjung.”ajaknya. “Tapi eomma..”rengek Krystal. Jessica tak menggubrisnya. Tangannya dengan cepat menarik Krystal.

Yoona merasakan keponakannya itu bangkit dari duduknya. Kepalanya mendongak menatap sang kakak. “Eonnie kenapa buru – buru sekali?”tanyanya. “Aku lupa memberi makan chica!”teriaknya sambil berjalan menjauh. Yoona menatap kepergian kakaknya, lalu beralih pada Kyuhyun yang berdiri di hadapannya.

Tanpa suara Yoona bangkit dari duduknya. Kakinya baru berjalan dua langkah. Tangan Kyuhyun dengan cepat menahannya. Kepala Yoona terangkat. Matanya melirik pria ini. “Tidak bisakah kau memikirkan hal itu sekali lagi?”tanya Kyuhyun.

Kepala pria ini menoleh dengan pelan ke arahnya. Tangannya melepaskan cengkraman di lengan Yoona. Kalian pasti bertanya apa sesungguh yang terjadi diantara mereka. Perlu di ketahui, Kyuhyun adalah mantan kekasih Yoona. Hubungannya kandas disaat mereka baru di gosipkan telah dekat.

“Aku…”

“Kau tidak perlu menjawab sekarang.”potongnya.

 

oOo

 

Yoona terduduk melamun di pinggir kolam renang rumahnya. Matanya kini hanya mampu menatap lurus. Bayang – bayang dari kejadian beberapa minggu yang lalu kini terulang kembali. Ia masih ingat jelas bagaimana Kyuhyun berselingkuh di belakangnya. Hatinya terasa begitu sakit.. sangat sakit…

DRT!

‘Siapa itu Kyuhyun?’

            ‘Temanku.’

            ‘Kau yakin hanya teman?’

            ‘Tentu saja.’

‘Lalu kenapa kau menangis? Aku akan membunuh siapa saja yang membuatmu menangis, bahkan jika itu aku sendiri.’tanya Donghae. Yoona terdiam. Secepat kilat ia menghapus titikan air mata yang tanpa sengaja terjatuh. Jantungnya serasa berdetak cepat. Kini begitu banyak asumsi buruk bermunculan di kepalanya. ‘Yoona, boleh aku bertanya sesuatu padamu?’kata Donghae.

‘Tentu saja.’

            ‘Apa kau mau menjadi pacarku?’

DEG!

Yoona terdiam. Ia tidak tau apa yang harus ia jawab. Hatinya ingin sekali mengatakan ‘ya’. Tapi disisi lain ia juga merasa takut. Ia takut dirinya kembali tersakiti. Apa kalian pernah membayangkan berpacaran dengan orang yang kalian tidak tau wajah dan asal usulnya dan bahkan yang lebih parah lagi kalian tidak tau dia itu makhluk apa.

Yoona menarik napas. Mungkin lebih baik ia mengabaikan ini untuk sementara waktu. Ia tidak mungkin akan langsung menerimanya.

 

Yoona berjalan pelan menyusuri koridor sebuah gedung. Disini dan di hari ini adalah jadwal syutingnya bersama Kyuhyun. Sejak tadi seluruh anggota cru dan para pemain telah berkumpul kecuali satu orang. Kyuhyun. Pria itu memang sering terlambat, tapi tidak pernah hingga membuat kami menunggu lebih dari tiga puluh menit seperti sekarang.

Dari kejauhan Yoona menatap salah seorang staf yang berjalan tergopoh ke arah sang sutradara. Apa terjadi sesuatu? Kakinya pelan – pelan berjalan mendekat. “Apa terjadi sesuatu?”tanyanya penasaran. “Kyuhyun, dia mengalami kecelakaan.”ujarnya.

“Mwoya?!”pekik Yoona syok. Otaknya kembali memutar. Ada sederet kalimat yang jelas dalam ingatannya. Jantungnya mulai berdegup ketakutan. Apakah dia yang melakukan ini?

 

Kakinya mulai berlari dengan cepat. Tak peduli akan hal apapun. Bahkan ia rela meninggalkan jadwal syutingnya. Ia hanya ingin memastikan bahwa yang dikatakan orang tadi adalah salah.

Yoona berjalan cepat di sepanjang rumah sakit. Di depan tadi ia sempat bertanya ruangan tempat Kyuhyun dirawat. Tepat di depan sebuah pintu berwarna cokelat ia terhenti. Tangannya membuka dengan cepat pintu tersebut.

DEG!

Ia merasakan kakinya yang lemah. Seolah tak mampu lagi menopang tubuhnya. Air matanya mentes satu demi satu dan semakin menderas. Matanya masih saja tak percaya menatap apa yang kini ada di hadapannya.

Yoona melangkah pelan ke arah ranjang dimana Kyuhyun berbaring lemas. Kepalanya menggeleng. Sebelah tangannya menutup mulutnya yang terbuka. Betapa sakit hatinya terasa. Ia tidak bisa menjelaskan ini semua.

Dihadapannya saat ini berbaring pria yang pernah mengisi hatinya. Nyawa pria ini berada diantara hidup dan mati.

Yoona berhenti sedetik. Ia teringat kembali. Segera ia merogoh ponsel di sakunya. ‘YAK! APA YANG KAU LAKUKAN?! BEGINIKAH CARAMU?!’teriaknya. Tidak ada jawaban sama sekali. ‘YAK Pengecut! Jika kau manusia, datanglah dan temui aku! Berhentilah bersembunyi! Apa salahnya hingga kau tega membuatnya seperti ini?!’ketiknya lagi. Masih sama tidak ada respon. ‘Kurasa aku tau jawabannya. Kau! Aku muak dengan semua permainan gilamu, jangan pernah hubungi aku lagi!’marahnya.

Air matanya semakin deras mengalir. Ingin rasanya ia berteriak saat ini.

DRT!

Kau, percaya padaku?’balas Donghae. ‘Apa kau percaya jika aku melakukannya karena aku jatuh cinta padamu?’lanjutnya.

‘Aku membencimu!’

Yoona melemparkan ponselnya ke lantai. Dengan haknya ia menginjak – injak ponselnya. Hatinya sungguh merasa bersalah pada Kyuhyun. Karena dirinya pria itu kini harus menanggung beban. “Aplikasi sialan! Terkutuk kau!”rutuknya.

 

Setelah kejadian itu, Yoona sudah tak pernah lagi sudi membalas segala macam bentuk pesan apapun yang di kirimkan pria bermarga Lee itu. Pria itu memang sudah berhenti menghubuginya lagi.

Yoona menghembuskan napasnya. Tangannya mengaduk – aduk minuman di hadapannya. Ia masih ingat jelas tempat ini. Tempat dimana pria itu membelikan sarapan untuknya. “Permisi nona, ada yang menitipkan ini untukmu.”ucap seorang pelayan.

Kepala Yoona mendongak menatapnya sejenak. Ia mengangguk sambil tersenyum. Kemudian pelan itu pergi. Kini di hadapannya bertambah satu benda lagi, yaitu sebuah surat. Tangannya membuka pelan.

Temui aku di namsan.

Yoona mengerutkan alisnya. Ia tidak mengerti ini. Ia juga tidak tau siapa si pengirim surat ini. DRT! Sebuah panggilan masuk. Tidak ada nama yang tertera, hanya sederetan angka yang tak dikenalinya.

“Yeobbseo, nuguya?”sapa Yoona. Tidak ada jawaban. Gadis ini menatap ponselnya sejenak. Panggilannya sudah diputuskan. DRT! Kembali ponselnya bergetar.

‘N454M 70W3R’

Sebuah pesan misterius dari si penelpon tadi. Apa maksudnya? Ia tidak mengerti. Pelan – pelan ia mencoba mengejanya. Yoona mengambil surat untuknya tadi, lalu ia mencocokan tulisan di kertas dengan yang ada di ponselnya. “Apa maksudnya? Apa aku harus ke namsan?”tanyanya pada diri sendiri.

 

Yoona turun dari mobilnya. Ia berdiri sebentar. Memperhatikan sekelilingnya. Segera ia berjalan. Keadaan sangat sepi. Tentu saja. Ini sudah di atas jam sepuluh malam. Ia tidak habis pikir kenapa dia mau memenuhi permintaan aneh ini.

Kakinya melangkah pelan di sepanjang deretan gembok di pinggir jembatan. Matanya menatap tulisan – tulisan di setiap gembok yang ia lalui. Betapa menyenangkannya ini.

DRT!

“Yeobbseo,”sapa Yoona.

“Anyeong Yoona-ah.”sapa seseorang di seberang sana. Suara terdengar sedikit berat. Jantung Yoona berdegup kencang. Bulu kuduknya mulai merinding. Matanya seolah kaku untuk sekedar melirik. Ini sudah diatas jam sepuluh. Bahaya untuk berjalan seorang diri.

“Nuguya?”tanyanya.

“Apa kau masih percaya bahwa aku yang mencelakai Kyuhyun?”

DEG!

Orang itu. Yoona menelan ludahnya. Tubuhnya terasa kaku untuk bergerak sekarang. Ia takut orang itu ternyata akan membunuhnya sekarang. “Ka-kau, apa maksudmu?”tanyanya bergetar. “Kau belum menjawab pertanyaanku.” Suara pria ini terdengar menyeramkan di telinganya.

Sekali lagi Yoona menelan ludahnya. Meyakinkan dirinya bahwa tidak ada yang akan terjadi. “Ya.”jawabnya. “Sekarang apa maumu? Apa kau juga ingin membunuhku? Huh, lucu sekali!”dengusnya kemudian.

“Kau percaya jika aku mengatakan aku melakukannya karena aku mencintaimu?”

“Yak! Jika kau ingin membunuhku datanglah! Aku tidak takut!”tantang Yoona. Sejujurnya hatinya berkata berlawanan. Ia sangat takut saat ini. “Bagaimana jika aku bilang bahwa aku adalah orang yang menyelamatkan Kyuhyun?”tanyanya.

“Kau pikir aku bodoh?”

“Sekarang angkat kepalamu, lihat ke depan.”perintah Donghae. Yoona terdiam. Ia hanya menuruti perintah pria itu. Kepalanya terangkat. Di hadapannya terdapat sebuah televisi raksasa yang biasa di pajang di jalanan. Matanya menatap seorang reporter yang sedang meliput berita.

Matanya seolah tak percaya. Disana menampakan seorang pria yang terkapar lemah di atas jalanan akibat tertabrak. Di sebelahnya terduduk seorang pria bertopi yang mencoba membantu mengangkatnya menuju ambulan. Yoona yakin pria bertopi itu adalah orang yang bernama Lee Donghae.

“Apa kau percaya padaku?” Terdengar suara di telepon lagi. Yoona tersadar. “Bisa saja kau yang menabraknya lalu kau bertanggung jawab dengan membantunya.”jawabnya. “Terserah kau saja.” Jeda. “Malam ini kau cantik sekali dengan dress pendek berwarna krem-mu.”lanjutnya.

Yoona terhenti. Jantungnya berdegup semakin kencang, was – was. Tak ada sepatah kata yang ia ucapkan. “Maafkan aku selama ini telah mengganggumu. Hari ini aku akan menjawab semua pertanyaan yang pernah kau ajukan. Dan aku berjanji, setelah ini aku akan menghilang dari kehidupanmu selamanya.” Sebuah nafas ditariknya. “Aku bukan komputer, tapi aku adalah manusia. Aku tau tentang dirimu dan segala sesuatu yang kau lakukan, karena aku selalu mengikutimu kemana pun kau pergi. Itu karena aku tidak ingin terjadi sesuatu padamu. Aku adalah fansmu. Aku selalu ada di dekatmu, tapi kau tidak pernah menyadarinya. Bahkan mungkin kau sendiri tidak pernah melihat ke arahku. Aku tau kau mungkin selalu bertanya siapa aku sebenarnya, apakah kau mengenalku. Jawabannya ya. Tapi kau tidak pernah menyadarinya.”

Yoona hanya terdiam mendengarkan setiap kalimat yang diucapkan. “Ponselmu, akulah yang merancangnya. Aplikasi yang menghubungkan kita. Aku yang membuatnya dan itu hanya ada di ponselmu dan ponselku. Kau juga pasti bertanya kenapa itu bisa terjadi? Apa kau ingat saat kau ulang tahun? Apa kau ingat hadiah dari seseorang dengan kotak bersampul biru. Itulah aku yang memberikannya.”

“Yoona, bahkan sebelum aku memberimu ponsel kau seringkali mendapatkan hadiah dariku tanpa kau sadari. Kau hanya yakin fansmu yang memberikan dan bahkan kau mengabaikan nama mereka.” Jeda. “Aku tau setelah ini mungkin kau akan langsung membuang ponselmu. Sebelum kau melakukannya aku ingin mengatakan ini padamu.”

“Malam ini kau sangat cantik. Aku beruntung bisa melihatmu, walau dari belakang…” Yoona terdiam sejenak. Telinganya seolah salah mendengar. Apa pria itu benar – benar ada di belakangnya saat ini? Siapa dia?

“Selamat tinggal…”lanjutnya.

TUT! TUT! TUT!

Sambungan terputus. Secepat kilat Yoona membalikan tubuhnya. Matanya menatap punggung seorang pria di sana. Berjalan dengan pelan menjauh darinya. Yoona berpikir sejenak. Jika ia tidak mengejarnya sekarang maka ia tidak akan tau siapa pria itu selamanya.

“Lee Donghae!!!!”teriaknya. Pria itu tak terhenti ataupun menoleh sedikitpun. Mungkin dia tidak mendengar, atau mungkin juga ia mengabaikan panggilannya. “Donghae!!!”teriaknya lagi.

Kini kakinya mulai berlari. Dilepaskannya sepatu haknya. Air matanya terasa menetes. Ia tidak mengerti kenapa ini terjadi. Rasanya dadanya terasa sesak. Seperti ada sesuatu yang hilang dalam dirinya.

Tangannya terentang kedepan mencoba untuk meraihnya. Sedikit lagi. Sedikit lagi. Sedikit… DEP! Kedua tangan Yoona memeluknya dari belakang. Pria ini berhenti seketika. “Jangan pergi…”ucap Yoona lirih.

Tangan pria ini menyentuh tangannya. “Kau mengatakannya hanya karena kau ingin melihat wajahku, lalu setelah itu kau akan meninggalkanku. Aku benar’kan?”tanya Donghae pelan. “Aniyo…”

Donghae masih tak ingin membalikan badannya. “Aku tau kau berbohong.”

“Tidak aku tidak berbohong.”

“Apa kau bisa memegang kata – katamu?”

“Tentu saja.”jawab Yoona mantap.

Perlahan pelukannya mengendur. Pria ini membalikan tubuhnya. Yoona masih tak bisa melihat wajahnya karena tertutup topi, kaca mata hitam dan sebuah masker. Tangan Donghae meraih tangannya, mengisyaratkannya untuk membuka benda yang menutupi wajahnya.

Pelan – pelan Yoona mulai membuka topi pria ini. Kini model rambutnya terlihat. Tangannya membuka kacam mata hitam yang bertengger di hidungnya. Mata teduh pria ini mulai nampak. Yoona masih belum bisa mengenali pria ini. Ragu – ragu tangannya membuka masker yang dikenakannya.

DEG!

Seluruh wajah pria itu kini terlihat. Wajah tampan dan sempurna. “A-apa kau benar – benar Lee Donghae?”tanya Yoona ragu. Pria dihadapannya menganggukan kepalanya. “Bukankah kau Aiden Lee?”tanya Yoona lagi.

Pria ini tersenyum manis. “Donghae adalah nama Koreaku.”jawabnya. Sebelah tangan Yoona menutup mulutnya tak percaya. Aiden Lee. Apa kalian tau siapa dia?

Yup!

Aiden Lee atau Lee Donghae ini adalah seorang pengusaha muda tersukses di Korea bahkan hingga Internasional. Perusahaannya bergelut di bidang elektronik. Selain itu ia juga dikenal oleh seluruh penduduk Korea, bahkan kepopularitasannya melebihi seorang aktris. Ya ini karena hartanya yang berlimpah diusia mudanya. Ayah dan Ibunya padahal hanyalah orang biasa tamatan SMA. Tidak ada seorang pun yang tau nama Korea pria ini. Itulah salah satu alasan Yoona terkejut saat ini.

“Apa sekarang kau tidak ingin pergi karena hartaku seperti gadis lain?”tanyanya. Yoona membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu. “Aku yakin kau akan menjawab ‘Tentu saja aku tidak seperti gadis lain, aku benar – benar mencintaimu’ Tapi nyatanya kau hanya mencintai hartaku. Apa aku benar?”potong Donghae.

Tatapan Yoona menajam. “Siapa juga yang menginginkan hartamu atau dirimu.”jawabnya ketus. “Lalu?”tanya Donghae datar. “Kau pikir kau siapa bisa membuatku stres berhari – hari karena terormu?! Ini ponselnya aku kembalikan! Dan satu lagi, menjadi kekasihku tidak semudah yang kau bayangkan!”kesalnya.

Donghae menatap ponsel di tangannya sejenak. Lalu menatap gadis yang berjalan menjauh itu. Sebuah tawa terlihat di wajahnya. “Oh begitu. Baiklah terimakasih ponselnya! Dengan ini aku bisa menyebarkan gosip tentang dirimu. Lihat! Wow! Pesan masuk dari Kyuhyun. ‘Yoona sayang, kau jangan marah lagi ya.’ Haha.”baca Donghae memanasi. “Oh, kekasihnya. Kurasa ini akan menjadi gosip baru.”

Yoona menghentikan langkahnya seketika. Ia menggigit bibir bawahnya sebal akibat kebodohannya. Bisa – bisa reputasinya hancur. “Omo lihat ada lagi dari Jessica. ‘Yoona, kau ini jorok sekali akibat kemaren kau kentut di depan tamuku, aku hampir saja kehilangan klien’ Wah dia jorok sekali rupanya.”ucap Donghae.

Yoona membalik badannya dengan cepat. “Yak! Kembalikan!”serunya. Tangannya mencoba mengambil ponselnya kembali, namun pria ini dengan cepat menjauhkannya. “Eitss, kau sudah mengembalikannya tidak bisa.”kata Donghae.

“Yak!”

“Em baiklah… tapi…. ada syaratnya.”

“Mwoya? Jadi pacarmu? Atau kau mau yang lebih parah, jadi istrimu?” Jeda. “Huh, kau pikir demi ponsel aku mau melakukannya? Yang benar saja!”gerutu Yoona. Donghae sedikit mendekatkan wajahnya kearahnya. “Kenapa menatapku seperti itu?”bentak Yoona.

“Baiklah jika kau tidak mau mendengar syarat dariku. Itu berarti ponselmu tetap ada bersamaku.”jawabnya santai. “Argh! Baiklah apa?”tanya Yoona tidak tahan.

“Tutup matamu.”

“Aniyo, aku tau… kau akan menciumku, basi! Itu sudah biasa di drama.”

“Ge-er, kau pikir aku akan melakukannya. Kau mau ponselmu kembali atau tidak?”

“Arraseo.”jawab Yoona pasrah.

Ditutupnya kedua matanya dengan cepat. Ia tidak merasakan ada sesuatu yang menyentuh pipi, kening ataupun bibirnya. Ia merasakan…. Dengan cepat ia membuka matanya. “Yakk! Turunkan aku!”teriaknya berontak.

Pria ini menggendongnya. “Hei! Apa yang kau lakukan?!” Donghae menunduk mentapa Yoona. “Diam.”ucapnya. “Turunkan atau aku akan berteriak sekarang!”

“Berisik sekali.”

Yoona terdiam seketika. Ia menatap wajah Donghae lekat. Betapa tampannya pria ini dari dekat. “Kau mau membawaku kemana?”tanya Yoona pelan. “Kau belum pernah ke Paris’kan?”tanya Donghae. Gadis ini hanya menggeleng pelan. “Untuk apa ke sana?”tanyanya kemudian. “Untuk mempertemukanmu dengan orang tuaku.”

“Maksudmu?”

Donghae menghentikan langkahnya. Ia menatap Yoona yang masih ada dalam gendongannya. “Kau mau menjadi milikku selamanya?”tanyanya. Yoona berpikir sejenak. “Aniyo, aku takut kau bangkrut-“

“Baiklah aku mengerti itu artinya tidak.”potong Donghae.

“Yak! Aku belum selesai berbicara.”

“Aku punya nama.”

“Terserah.”

“Namaku bukan ‘terserah’”

“Turunkan aku dulu.”perintah Yoona.

“Tidak sebelum kau menyebut namaku.”

“Lee Donghae yang tampan, kau mau kan menurunkanku?”tanya Yoona dengan suara dan nada bicara yang sengaja di haluskan. Kini Yoona berdiri menatap pria di hadapannya lekat – lekat. Donghae menunggu dengan tidak sabar.

“Ppali! Aku sibuk.”ujarnya. Yoona masih menatapnya tak mau menjawab apapun. “Yak! Cepat katakan apa yang ingin kau-“kalimatnya terpotong.

DEP!

Donghae merasakan gadis ini menyambar bibirnya. Sebuah ciuman yang tak berlangsung lama. Mereka saling menatap sejenak. Donghae mengalihkan pandangan. “Dimana – mana, pria lebih dulu yang mencium. Terlalu bersemangat.”gerutunya.

“Apa kau bilang?!”tanya Yoona yang berhasil menangkap suaranya.

“Aniyo. Ah jinjja! Sudah waktunya berpisah. Kau sudah menolakku, jadi-“

“Siapa bilang aku menolak?”

“Wah! Kau pura – pura amnesia rupanya!”

“Yak! Itu tadi.”

“Maaf tawaran sudah habis masa berlakunya.”

“Ya sudah terserah. Kau akan menyesal nanti!”ucap Yoona sebal. Ia membalikan badannya dengan cepat dan hendak berjalan.

“LEE DONGHAE!”teriaknya kencang akibat terkejut. Pria ini tiba – tiba menggendongnya. Kedua tangan Yoona memukul punggung pria ini. “Turunkan aku!”berontaknya. “Kau yakin ingin turun?”tanyanya.

“Em…”Yoona berpikir sejenak. “Tentu saja!” Donghae menurunkannya sejenak, namun tangannya tetap mencengkram lengan gadis ini. “Lepaskan!”ucapnya. “Kau akan kabur nanti, dan kau akan membuatku mengejarmu seperti di drama – drama. Basi.”katanya.

“Baiklah…”jawab Yoona. Sebuah senyum manis terukir di wajahnya. “Jadi apa tawarannya masih berlaku?”lanjutnya. Donghae nampak berpikir. “Aigoo, sudah habis.”ucapnya seolah menyesal dibuat – buat.

“Tidak peduli tawaranmu sudah habis. Aku yakin kau masih mencintaiku.”

“Kau berpikir begitu?” Yoona menganggu. “Ani.”jawab Donghae. Tak terlihat amarah di wajah Yoona. “Kenapa tidak marah?”tanyanya. “Karena aku yakin kau berbohong!”

Donghae mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Tangannya yang mencengkram lengan Yoona mengarahkan jarinya kepada dirinya. Ia memasukan cincin ke salah stu jari gadis itu. “Kau belum tau jawabanku.”ujar Yoona. “Tidak perlu. Aku sudah tau jawabannya.”ucapnya. “Ikutlah denganku.”ajak Donghae.

“Udiga?” Pria ini menarik Yoona dengan cepat. Tanpa mereka sadari waktu berjalan sangat cepat dan kini mentari sudah menampakan wajahnya. “Ikut saja.”

 

Donghae mengajaknya ke sebuah hotel. Disuruhnya Yoona masuk ke dalam salah satu kamar. Di sana sudah ada seorang wanita yang menunggunya. Yoona hanya mampu menuruti instruksinya. “Aku lelah sekali, boleh aku tidur sebentar?”tanyanya. “Tentu saja.”jawab wanita itu.

Beberapa menit kemudian. Yoona membuka matanya. Ia melihat dirinya yang sudah berdandan cantik saat ini. Bahkan ia juga tidak ingat kapan ia memakai gaun berwarna putih ini. “Mwoya? Apa yang dilakukan orang tadi?”

Kepala Yoona menoleh ke kiri dan kanan mencoba mencari wanita tadi, tapi nyatanya ia sudah menghilang. Tangannya mencoba mencari ponselnya. Namun tak bisa ia temukan. Ia baru sadar ponselnya ada pada Donghae. “Nona, cepatlah keluar acaranya akan segera dimulai.”ucap seseorang dari luar.

 

Kini Yoona berdiri berhadapan dengan Donghae. Mereka telah mengucapkan janji suci mereka. Orang tua dan keluarga dari kedua belah pihakpun telah hadir di disini. Mereka telah resmi menjadi pasangan suami istri.

“Apa yang kau lakukan? Kenapa mendadak dan aku tidak tau? Bahkan kau baru menembakan subuh tadi.”ucap Yoona. Donghae hanya terkekeh. “Jadi kau tidak suka? Mau bercerai, semasih awal. Hari ini kau mau bercerai aku bisa mengabulkannya.”jawab Donghae santai. “Tidak begitu juga. Aku hanya terkejut saja dengan ini semua.”jawab Yoona.

“Jadi kesimpulannya?”

“Jangan bercerai sampai akhir hayat. Bahkan sampai di surgapun kita harus tetap menjadi suami istri.”jawab Yoona berbisik. “Berlebihan.”repon Donghae datar. “Biarkan saja. Ngomong – ngomong bagaimana kau bisa mendapat persetujuan ayahku?”

“Kau lupa? Dulu kita pernah dijodohkan aku memakai nama Lee Donghae. Kau menolaknya. Lalu beberapa bulan kemudian, ayahmu menyuruhku melakukan ini. Jadi aksi teror meneror itu rencana ayahmu. Awalnya aku tidak suka dan tidak setuju dijodohkan denganmu.”jelasnya.

Tatapan mematikan Yoona langsung terarah pada Donghae. “Lalu untuk apa kau menikahiku sekarang?”tanyanya. “Awalnya aku hanya mempermainkanmu dengan aplikasi itu. Tapi setelah berhari – hari akhirnya aku sadar, bahwa aku mencintaimu.”

 

-The End-

62 thoughts on “[Play! The Etude] Who Are You

  1. Sumpah ceritanya keren aku kira pas kyuhyun kecelakaan itu ulah donghae , aku kira donghae disini mempunyai sifat arogan dan over tapi ternyata ohh sweetnya oppa ku yg satu ini ^^-^^
    Kalau bisa dibilin squel knpa ndag thor🙂

  2. Ini keren bangettttt
    Kek gak bisa tebak gitu ceritanya…
    Aku aja ampe senyum2 berlebihan sambil megang pipi gagara pas bagian penjelasan ttg Dongek. Dia memang tampan gilakkk *upss sorry ma Choialay kkkk
    Pokoknya suka sama nih cerita beda idenya beda gitu likelikelikelikelike

  3. hhaha ternyata donghae itu manusia, kirain aku hantu..
    keren nie ceritanya, ide nya juga bagus bgt ngejadiin aplikasi khusus buat pdkt-an..
    suka pokonya sama ini ff,ringan tapi sweet..

  4. Aaaaaa ceritnya keren banget, ko kepikiran sih alur yang keren gini.
    Authoor the best lah ceritanya, pokokmya suka banget sama ff ini!!!! Apalagi castnya donghae yoona pas banget jadinya.
    Keereen sampe speechless gini, pengen ff kaya gini lagi, kalo bisa lebih banyaaak.
    Makaasih banget ya authoor sukses dan sehat selalu yaa😙

  5. ya ampun so sweet bget ,,,,,
    beruntung y yoona dpt jdoh yg plus plus
    plus ganteng plus kaya
    mau dong yg kyak hae 1😀
    gk usah d hirUkan yg stu itu😀

  6. Omo! Keren ceritanya. Awalnya tak kirain donghae itu setan smartphone kaya di film2 indonesia. Wkwkwk…
    Big thumbs to author !😀

  7. huaaaaaaaaaaa ff nya seru banget gk nyangka deh donghae yang neror yoona dan ternyata mereka udh dijodohkan dari dulu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s