[Play! The Etude] Love Doesn’t Hurt

lovedoesnthurt

Judul FF :
Love Doesn’t Hurt

Author :
Felicia Rena

Cast :
Im Yoona | Lee Jonghyun
Special appearance by Kwon Yuri

Genre :
Not so sure by what genre, so just put in general

Rating :
PG 15

Terinspirasi dari lagu “It’s Alright, It’s Love” by Davichi, walaupun hasilnya mungkin berbeda jauh dari lagunya

Love Doesn’t Hurt

Do you see my heart? Why is it love?
I was never gonna fall in love again
But I’m such a fool
(It’s Alright It’s Love – Davichi)

.

“Aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi.”

Yoona masih mengingat dengan jelas ucapannya tiga tahun yang lalu. Ia bersumpah untuk tidak akan pernah jatuh cinta lagi. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak lagi bersinggungan dengan sesuatu bernama cinta.

Bukan tanpa alasan Yoona memutuskan seperti itu. Semuanya berawal dari tiga tahun yang lalu, saat laki-laki yang begitu ia cintai dengan segenap hatinya memilih untuk meninggalkannya. Saat Kris Wu, kekasihnya, memilih untuk kembali ke negara asalnya, China, dan menikah dengan gadis pilihan orangtuanya, meninggalkannya dengan hati yang hancur dan berurai airmata.

Sejak saat itu, Im Yoona bersumpah untuk tidak akan pernah lagi berurusan dengan cinta. Ia benci menjadi begitu lemah dan hanya bisa menangis seperti tiga tahun yang lalu. Baginya, cinta adalah hal yang konyol dan membuang-buang waktu.

Tetapi, itu sebelum Lee Jonghyun muncul dalam hidupnya.

Yoona pertama kali bertemu dengan Jonghyun sebagai rekan kerja. Perusahaan masing-masing mengirimkan mereka untuk bekerja sama mengerjakan suatu proyek. Awalnya, Yoona bersikap tak acuh pada Jonghyun, namun entah apa yang dimiliki oleh lelaki itu hingga Yoona tak mampu menghilangkan bayangan wajahnya dalam pikirannya.

“Im Yoona, kau benar-benar bodoh.” Yoona bergumam pada dirinya sendiri ketika ia mendapati dirinya kembali memikirkan Jonghyun.

“Kau memang bodoh, Nona Im. Apa kau baru menyadarinya sekarang?”

Yoona menoleh sambil mencebikkan bibirnya kesal. Lee Jonghyun menatap Yoona dengan kedua alis terangkat dan mulut terbuka seolah heran.

“Bisakah kau berhenti menggangguku?” ucap Yoona, mencoba mengabaikan detak jantungnya yang mulai berdetak cepat.

Yoona mengumpat pelan dalam hatinya. Belakangan ini, jantungnya selalu berdegup dengan berlebihan setiap kali Jonghyun berada dalam jarak pandangnya. Ia juga membenci lompatan yang muncul dalam dirinya setiap kali Jonghyun berbicara padanya. Perasaan ini terasa asing namun juga familiar bagi Yoona dan ia tidak ingin mengakuinya.

“Kalau begitu, bisakah kau berhenti melamun, Nona Im? Apa yang sebenarnya sedang kau pikirkan? Aku?” tanya Jonghyun sambil tersenyum jahil.

“Dalam mimpimu, Tuan Lee!” balas Yoona.

Sejak Jonghyun mengetahui bahwa ia dan Yoona seumuran, segera saja ia menanggalkan bahasa formal di antara mereka dan menggantinya dengan bahasa informal. Ia juga mulai menggoda Yoona dengan santainya seolah mereka berdua adalah teman lama. Yoona awalnya menganggap Jonghyun sok dekat dengannya, tetapi lama kelamaan, ia tidak bisa memungkiri bahwa ia mulai menikmati setiap waktu yang mereka habiskan bersama.

Jonghyun tertawa dan duduk di samping Yoona. Selama beberapa saat, mereka membiarkan keheningan meresap di antara mereka. Pandangan Jonghyun terpaku pada satu titik di depannya, sementara Yoona memilih untuk mengamati sepatunya.

“Kita hanya memiliki satu minggu tersisa untuk proyek ini,” ucap Jonghyun tiba-tiba.

Yoona mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Jonghyun. Ia mengerjapkan kedua mata rusanya selagi menunggu Jonghyun melanjutkan kata-katanya. Akan tetapi tidak ada kata-kata yang keluar lagi dari mulut lelaki itu.

Benar, waktu mereka untuk mengerjakan proyek hanya tinggal satu minggu lagi. Setelah itu, mereka akan kembali bekerja di perusahaan masing-masing dan tidak akan bertemu sesering sekarang, atau bahkan tidak akan pernah bertemu lagi. Itu adalah hal yang paling ditunggu oleh Yoona sejak ia mulai merasakan perasaan aneh setiap kali berada di dekat Jonghyun. Laki-laki itu berbahaya, begitulah pikir Yoona saat itu. Tetapi sekarang Yoona justru tidak ingin waktu mereka bersama cepat berakhir, dan ia begitu benci untuk mengakuinya.

“Kurasa kita bahkan bisa menyelesaikan proyek ini dalam waktu kurang dari satu minggu,” kata Yoona sambil mengangkat bahunya.

Kini giliran Jonghyun yang menoleh ke arah Yoona. Ekspresi wajahnya sulit ditebak, dan Yoona selalu merasa sebal setiap kali Jonghyun memasang ekspresi seperti itu karena ia tidak bisa membaca apa yang sekiranya sedang dipikirkan oleh lelaki bermarga Lee itu.

“Kau benar.” Jonghyun tersenyum lembut. “Kita bisa menyelesaikannya dalam waktu kurang dari seminggu jika sekarang kita mulai bekerja lagi.”

“Jadi, Nona Im, berhentilah melamun dan kembalilah bekerja!” Jonghyun melompat berdiri dan mengulurkan tangannya pada Yoona. Senyum lelaki itu perlahan berubah menjadi tawa yang entah sejak kapan berhasil membuat Yoona turut tersenyum setiap kali melihatnya.

“Aku tidak sedang melamun!” Yoona menyambut uluran tangan Jonghyun yang kemudian menariknya untuk berdiri.

“Yeah, apa katamu saja. Ayo kita lanjutkan pekerjaan kita,” sahut Jonghyun sambil mendorong pelan punggung Yoona, menyuruh gadis itu untuk berjalan lebih dulu di depannya.

. love  . doesn’t . hurt .

“Sepertinya kau semakin dekat saja dengan lelaki bernama Lee Jonghyun itu.”

Yoona menoleh ke arah Yuri, teman satu apartemen-nya. Yuri menatap Yoona dengan tatapan jahil sekaligus penasaran.

“Kami hanya rekan kerja yang kebetulan terlibat dalam satu proyek, Yul. Tidak lebih,” jawab Yoona. Ia kembali mengalihkan perhatiannya pada layar televisi yang sedang menampilkan acara musik.

“Well, selama ini kau tidak pernah di antar pulang oleh rekan kerjamu, Yoong,” ujar Yuri lagi.

Yoona menghela napasnya panjang. Yuri memang benar. Jonghyun memang bukan pertama kali ini mengantar pulang Yoona, tetapi laki-laki itu adalah laki-laki pertama yang terlihat mengantarnya pulang selama tiga tahun terakhir. Selama ini Yoona selalu berusaha menjaga jarak dengan lelaki siapapun meskipun begitu banyak lelaki yang berusaha mendekatinya. Ia juga tidak mengerti apa yang membuat Jonghyun berbeda. Apa yang membuat dirinya merubuhkan tembok yang selama ini memagari dirinya di hadapan Jonghyun.

“Aku tahu kemana arah pembicaraanmu, Yul. Kukatakan sekali lagi, hubungan kami tidak seperti yang kau pikirkan,” sahut Yoona.

“Memangnya kenapa kalau hubungan kalian tidak seperti yang kupikirkan?”

Yoona memutar kedua bola matanya. Ia tahu bahwa sebentar lagi Yuri akan memulai ceramah panjang lebarnya. Sahabatnya itu terkadang memang menyebalkan.

“Yang ingin kukatakan, Yoong,” Yuri memasang wajah serius, “bahwa aku sangat senang melihatmu akhirnya bisa menerima keberadaan pria lain di dekatmu lagi. Aku akan sangat senang jika kau mau mencoba dan membuka hatimu lagi, Yoong. Kau berhak untuk bahagia bersama orang lain. Kenapa kau membiarkan apa yang laki-laki itu lakukan padamu dulu menjadi mempengaruhimu selama ini? Aku hanya berharap kau akan menemukan orang lain dan bahagia, Yoong.”

“Aku tidak butuh orang lain untuk membuatku bahagia, Yul,” jawab Yoona dingin. “Aku bahagia saat ini dan aku tidak butuh orang lain. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah jatuh cinta lagi, Yul. Kau pun tahu apa sebabnya. Aku tidak ingin tersakiti lagi seperti dulu. Untuk apa aku jatuh cinta jika pada akhirnya cinta itu hanya menyakitiku?”

Love doesn’t hurt, dear. Loving the wrong person does,” ucap Yuri.

Yoona terdiam mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Yuri. Maybe she’s right! Pikir Yoona.

“Pada kenyataannya, cinta adalah satu-satunya hal di dunia yang dapat menutupi rasa sakit dan membuat kita merasa sempurna lagi.” Yuri menggunakan kesempatan diamnya Yoona untuk melanjutkan kuliahnya pada sahabat yang sudah dianggapnya sebagai saudara itu.

“Ketika kau sudah menemukan orang yang tepat, cinta yang akan menyembuhkan semua rasa sakit yang sedang kau rasakan sekarang.”

“Bagaimana aku bisa tahu bahwa dia adalah orang yang tepat?” tanya Yoona.

“Kau tidak akan pernah menemukan orang yang tepat jika kau tidak pernah melepaskan orang yang salah,” jawab Yuri. “Berdamailah dengan masa lalumu, Yoong. Jangan biarkan masa lalu menghalangimu untuk menemukan kebahagiaan yang lain.”

Yoona merenung memikirkan ucapan Yuri. Mungkin Yuri benar. Selama ini, Yoona masih belum bisa melepaskan masa lalunya. Bayangan Kris dan apa yang telah pria itu lakukan padanya masih membayangi hati dan pikirannya dengan begitu jelas. Bayangan itu yang membuatnya membangun tembok di sekitarnya, mendorong semua orang yang mencoba mendekatinya.

Kemudian bayangan Jonghyun tiba-tiba muncul dalam pikiran Yoona. Laki-laki itu tersenyum padanya, menampakkan lesung pipi yang entah sejak kapan telah memikat hati Yoona. Jonghyun adalah satu-satunya lelaki yang bisa membuat Yoona tanpa sadar meruntuhkan tembok  yang selama ini ia gunakan untuk melindungi dirinya sendiri.

Yoona tidak tahu perasaan apa yang ia rasakan pada Jonghyun. Yang ia tahu hanyalah, ia merasa senang saat berada di dekat laki-laki itu dan ia tidak ingin waktu yang mereka lewati bersama berakhir.

“Aku takut, Yul,” bisik Yoona pelan. “Aku takut pada perasaanku saat ini. Aku takut jika pada akhirnya aku akan tersakiti lagi.”

“Tapi—“ lanjut Yoona, “aku juga takut aku akan kehilangan dia.”

Yuri tersenyum. Ia senang akhirnya Yoona berhenti menyangkal dan mau mengakui perasaannya.

Gwaenchanha, Yoong. Gwaenchanha, it’s love. Tidak ada yang perlu kau takutkan. Kau hanya jatuh cinta,” ucap Yuri.

. love . doesn’t . hurt .

Hari ini adalah hari terakhir Yoona dan Jonghyun akan berkerja bersama. Pekerjaan mereka selesai dua hari lebih cepat daripada target awal. Yoona sedikit menyesali dirinya yang bekerja terlalu giat hingga proyek ini bisa selesai sebelum waktunya.

“Im Yoona, neo baboya. Kau benar-benar bodoh.” Yoona menggumam pelan sambil memejamkan kedua matanya.

“Bicara dengan dirimu sendiri lagi, eh, Nona Im?”

Yoona mengangkat kepalanya dengan cepat dan melihat Jonghyun tersenyum menatapnya.

“Ayo kita pergi.” Jonghyun mengulurkan tangannya dan menarik tangan Yoona, mengabaikan tatapan bingung dari gadis itu.

“Kita mau pergi kemana?” Yoona bertanya bingung saat Jonghyun membukakan pintu mobil untuknya.

“Makan malam,” jawab Jonghyun setelah ia masuk ke dalam mobil dan menyalakan mesin mobilnya. “Kita harus merayakan keberhasilan proyek kita.”

Yoona membiarkan Jonghyun membawanya ke sebuah restoran Italia. Setelah memesan makanan masing-masing, mereka berdua hanya duduk diam. Yoona menyesap air putih yang telah tersedia. Keheningan ini mulai membuatnya merasa gugup.

“Yoona-ya,” panggil Jonghyun.

Ne?”

Jonghyun terlihat ragu sebelum akhirnya melanjutkan, “Apakah kita tidak akan bertemu lagi setelah ini?”

Yoona merasakan sesuatu meremas hatinya ketika mendengar ucapan Jonghyun. Rasanya sakit dan menyesakkan. Sejujurnya, ia tidak ingin berpisah dengan lelaki itu. Ia berharap tetap dapat bertemu dengan Jonghyun setelah ini. Tapi bagaimana jika lelaki itu tidak mengharapkan untuk bertemu dengannya lagi?

“Entahlah,” jawab Yoona. “Aku—aku tidak tahu.”

Keheningan kembali menyelimuti mereka setelah percakapan singkat itu. Makanan mulai dihidangkan dan mereka memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu.

Setelah selesai makan, masih belum ada di antara mereka yang memecah keheningan. Jonghyun memainkan sendoknya sementara Yoona berkali-kali menyesap air putih-nya perlahan.

“Aku—“

Yoona menatap Jonghyun, menantikan kata-kata berikutnya yang akan keluar dari mulut lelaki di hadapannya. Jonghyun masih membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara yang keluar. Keraguan terlihat jelas di wajahnya.

“Aku berharap kita masih bisa bertemu setelah ini,” ucap Jonghyun akhirnya.

“Aku tidak ingin kita berpisah begitu saja seperti ini,” lanjutnya.

“Apakah—apa kau tidak keberatan jika aku menemuimu setelah ini?” Jonghyun mulai bertanya setelah tidak ada respon apapun dari Yoona.

Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Jonghyun. Ia sangat gugup menantikan respon dari Yoona. Sejak awal bertemu dengan Yoona, ia sudah tertarik padanya. Ada sesuatu dalam diri Yoona yang membuat Jonghyun tergerak untuk terus berada di sampingnya dan melindunginya. Yoona yang terlihat kuat tetapi entah mengapa terlihat rapuh di mata Jonghyun. Ia tidak ingin mengakhiri pertemuannya dengan Yoona begitu saja. Ia masih ingin mengenal gadis itu lebih dalam dan berada di dekatnya.

“Kau—“ Yoona berhenti sesaat, “—apa kau tertarik padaku?”

Yoona langsung ingin memukul dirinya sendiri begitu kalimat itu meluncur keluar dari mulutnya. Jonghyun sendiri mengerjap kaget, tetapi ia berhasil menguasai dirinya dengan cepat.

“Jika iya, apakah kau tidak keberatan?” balas Jonghyun.

Yoona mengerjapkan kedua matanya selama beberapa saat, berusaha mencerna maksud dari ucapan Jonghyun. Perlahan senyum mulai terukir di wajahnya.

“Aku sama sekali tidak keberatan,” kata Yoona dengan semburat merah muda samar muncul di kedua pipinya.

“Apakah itu artinya aku boleh menemuimu lagi setelah ini? Bukan sebagai rekan kerja, maksudku,” tambah Jonghyun.

Yoona menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis. Jonghyun balas tersenyum lebar padanya, membuat lekukan di pipinya terlihat jelas.

Yoona memutuskan untuk mencoba. Jika ia tidak mencoba, ia tidak akan pernah tahu. Siapa yang tahu, jika Jonghyun adalah orang yang tepat untuknya atau bukan. Siapa yang tahu, jika Jonghyun dapat mengobati luka hatinya atau tidak. Sekalipun rasa sakit akan tetap hadir di antara mereka, Yoona tidak lagi takut untuk menghadapinya. Ia percaya bahwa cinta yang akan mengobati luka itu. Seperti yang Yuri katakan, gwaenchanha sarangiya. It’s alright, it’s love.

. END .

25 thoughts on “[Play! The Etude] Love Doesn’t Hurt

  1. Keren juga euy..
    Gagara laver jd gk semangat gini aku bacanya #apahubungannya??? Lol
    Kkk.. Ditunggu ff yg lainnya ^_^

  2. Simple and sweet..
    Akhirnya Play! The Etude ada yg nyuguhin akhir yg manis. *efek dri kmrin sllu di suguhin cerita dn ending yg menggalau*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s