[Play! The Etude] Da’ Black & Gold

dablack-gold-mclennx-poster

Da’ Black & Gold

lineveur’s

Im Yoona | Cho Kyuhyun

Romance, Angst | Vignette | PG-13

Based on Black – GD ft Jennie Kim

I didn’t suggest you to read this because this is failed as f

***

Aku menemuinya. Cho Kyuhyun. Kekasihku sejak beberapa bulan yang lalu. Ia tengah duduk di ruang tengah seraya menonton film. Gore movie again. Sudah berkali-kali aku mendapatinya menonton film ber-genre gore. Berbanding terbalik dengan kepribadiannya.

Aku mengalungkan lenganku di lehernya. Kyuhyun berjengit sesaat. Hal itu membuatku terkikik. Tanpa melepaskan rangkulanku, aku berjalan memutari sofa. Lalu menghempaskan tubuhku di sebelah Kyuhyun. Bergerumul di atas sofa yang kuakui terlalu kecil untuk menampung kami berdua.

Tapi kami berdua terlalu merindukan satu sama lain hingga tidak memedulikan hal itu. Aku melingkarkan tanganku di pinggang Kyuhyun sementara ia merangkul bahuku. Tangannya memainkan suraiku.

Miss you so badly,” Kyuhyun berbisik di telingaku. Oh betapa aku merindukan suara berat itu.

Me too,” aku mengecup pipinya sekilas.

Ia terkekeh. “Kau tidak mau ke luar?”

“Aku sudah ke luar tadi,” elakku.

“Bagaimana kalau jalan-jalan ke luar bersamaku? Kau belum melihat pantainya, Yoong,” Kyuhyun bangkit dan mengulurkan tangannya padaku. Aku tertawa, lalu menyambut uluran tangannya.

“Pantai disini bagus sekali Yoong, masih bersih. Kau juga bisa melihat sunset disini,” ujar Kyuhyun, tangannya masih menarik tanganku. Aku mengangguk-angguk, mengakui bahwa pantai ini memang bagus.

Kyuhyun mengajakku duduk di atas pasir. Ia merangkul bahuku dan tanganku menggamit tangan kirinya. Aku menyandarkan kepalaku di bahunya. Memejamkan mataku, membiarkan angin sepoi-sepoi membuat suraiku melambai-lambai.

“Aku mencintaimu,” bisikku lirih di telinga Kyuhyun.

Love ya more,” balas Kyuhyun.

Bibir kami pun bertemu.

***

Musim panas yang kami jalani bersama sudah berlalu beberapa minggu yang lalu. Liburan musim panas sudah berakhir, dan ini saatnya bagiku untuk kembali bekerja. Berkali-kali aku menghela napas, mengingat jabatanku yang hanya sebagai staf biasa membuatku harus lembur untuk mendapatkan gaji ekstra. Aku butuh uang lebih untuk membiayai kehidupanku dan teman masa kecil yang sudah kuanggap adik, Yoonji.

Aku memasuki apartemenku. Seperti biasa, sepi. Bila sudah malam, Yoonji akan berdiam diri di kamarnya. Entah apa yang dilakukannya.  Yoonji yang sudah tumbuh menjadi seorang mahasiswi cantik itu lebih suka menyendiri daripada berinteraksi denganku. Kulihat akhir-akhir ini gaya hidupnya mulai berubah, ia menjadi lebih liar. Seringkali ia membawa teman-temannya ke apartemen, dan esoknya mereka terkapar di kamar Yoonji karena semalam mabuk berat.

Aku tidak habis pikir dengan Yoonji. Dahulu ia adalah gadis manis yang patuh, dengan nilai akademik yang cemerlang. Namun entah mengapa semenjak orang tua kami tiada ia tak ada bedanya dengan teman-teman berandalannya. Terkadang Yoonji juga membawa teman laki-lakinya ke rumah. Ia tidak menjawab ketika aku menanyakan siapa teman laki-laki yang dibawanya.

Aku menghela napas. Kurajut langkah menuju dapur. Aku berjinjit, mengambil satu cup mie instan dan membuka kemasannya. Kutuangkan air hangat di dalam cup tersebut. Mie instan cup hangat memang selalu menjadi temanku di kala kelelahan pasca lembur. Aku mengaduk-aduk mie instan, dan pikiranku melayang-layang.

Tentang Kyuhyun.

Pada masa-masa awal kami menjalan hubungan khusus, semuanya baik-baik saja. Kyuhyun begitu hangat dan penuh perhatian padaku. Seperti kepribadiannya, memang sejak dulu Kyuhyun adalah pria yang ramah. Tak jarang ia memberiku kejutan-kejutan kecil, barang-barang yang memang ingin kumiliki dan semua itu tanpa kuminta.

Karena tidak enak dengan barang-barang yang ia berikan padaku, aku dengan mudahnya memberikan ia akses untuk menggunakan kartu kreditku. Beberapa kali ia memang berbelanja menggunakan kartu kreditku. Kupikir itu setimpal, biarpun memang barang-barang yang ia beli nilainya lebih tinggi dibandingkan barang-barang yang diberikan padaku.

Tapi sekarang Kyuhyun tampak berbeda. Terutama sejak kami mengakhiri liburan musim panas kami di pantai. Kyuhyun menjadi lebih cuek dan dingin padaku. Sudah tidak ada lagi messages penuh kata-kata manis yang ia kirimkan padaku tiap hari. Beberapa kali aku mencoba menghubunginya, namun sejauh ini tidak pernah direspon.

Time changes. People changes. And that sucks.

Lagi-lagi aku menghela napas. Entah mengapa tiba-tiba seleraku menghabiskan mie instan hilang. Aku hanya memakan sesuap, dan langsung kusingkirkan dari hadapanku. Aku menenggak segelas air mineral. Mataku meneliti sekeliling dapur dan ruang makan.

Aku beranjak dari dudukku di kursi makan. Kakiku hendak berjalan menuju kamarku, yang berada tepat di sebelah kamar Yoonji. Aku berhenti sejenak di kamar Yoonji. Tertutup rapat. Biasanya jika sedang sendiri Yoonji tidak akan menutup rapat pintu kamarnya. Tapi setahuku tidak ada sepasangpun sepatu di depan apartemen. Rasa penasaranku membuncah. Kuputar knop pintu dan kubuka perlahan.

Kyuhyun.

Kissed Yoonji.

I shouldn’t have seen this. But fortunately they didn’t see me.

***

Aku berlari keluar apartemen secepat mungkin sebelum Kyuhyun dan Yoonji sanggup mengejarku. Tidak memedulikan penampilanku yang acak-acakan, orang-orang sesama penghuni apartemenpun melihatku berlari kesetanan dengan tatapan penasaran yang intens.

Eat that you bastard.

Aku sudah berjalan cukup jauh dari apartemen. Setelah membeli seporsi tteokbokki pinggir jalan, aku kembali melanjutkan langkahku. Sampai akhirnya kakiku sampai di depan sebuah toko buku tua yang mungil. Ada Bibi Jung disana.

Bibi Jung, wanita paruh baya dengan senyum hangat pemilik toko buku tersebut. Aku melangkahkan kaki ke dalamnya dan aroma chamomile tea harum semerbak. Suasananya hangat dan nyaman. Bibi Jung tengah mengaduk-aduk chamomile tea di cangkirnya, tersenyum ke arahku.

Aku berjalan mendekati Bibi Jung yang sudah berumur senja. Duduk di sebelahnya, mengulas senyum. Mengangguk sopan ketika Bibi Jung menawariku chamomile tea andalannya.

“Kau hanya sendirian kemari? Dimana kekasihmu itu?” tanya Bibi Jung.

“Kami sudah bukan sepasang kekasih lagi, Bibi,” jawabku.

Memang benar, aku sudah tidak menganggap Kyuhyun sebagai kekasihku.

“Ah. Padahal kalian tampak sangat cocok bersama,” ucapan Bibi Jung membuatku tertawa kecil.

“Takdir berkata lain, kita tidak dapat bersatu, Bibi,” aku mengulas senyum getir. Jujur saja, perasaan khususku kepada Kyuhyun memang belum pudar sepenuhnya.

Bibi Jung mengangguk paham. “Kau tidak ingin memilih buku untuk dibeli, Yoong?”

Aku tertawa kecil, mengangguk kemudian berjalan menyusuri rak-rak buku. Pandanganku tertuju pada sebuah buku dengan cover hitam polos. Titelnya ditulis dengan huruf-huruf berwarna putih berukuran kecil. Noir. Hitam, dalam bahasa Prancis. Aku menggapainya, kemudian membalik buku tersebut untuk membaca deskripsinya. Lagi-lagi, hanya huruf-huruf putih berukuran kecil.

Find out what you really are. Temukan seperti apa dirimu yang sebenarnya. Hanya kalimat tersebut yang menjadi deskripsi buku ini. Buku ini menarik perhatianku, dan langsung saja aku membayarnya. Sudah terlalu malam untuk berkeliaran, dan biarpun Seoul tidak pernah tidur tetap saja aku merasa tidak nyaman berkeliaran di malam hari. Aku memutuskan untuk pulang, dan berharap Kyuhyun sudah tidak ada di apartemenku.

Benar saja, apartemenku kosong. Tidak ada keberadaan Yoonji dan Kyuhyun. Aku memasuki kamar Yoonji. Kosong. Kubuka lemari pakaiannya kosong. Ponselnya juga tidak ada. Sepatu kesayangannya raib. Tapi ada secarik kertas di night stand sebelah tempat tidur Yoonji.

Aku pergi. Bersama Kyuhyun.

Jangan berani-berani mencariku.

Yoonji

Aku menangis semalaman. Tidak tahu sudah seberapa bengkak mataku di esok hari.

***

Warna Kyuhyun adalah emas. Aku hitam.

Hitam. Identik dengan sesuatu yang buruk rupa. Atau kesialan. Warna yang malang. Melambangkan kesedihan dan duka. Kelam, gelap, sendu. Mistis. Tidak ada yang begitu istimewa. Tapi untukku hitam memiliki nilai estetika yang mendalam. Cruelly beautiful. Hitam apa adanya, tanpa ada manipulasi.

Beda dengan emas.

Emas melambangkan kejayaan. Kemakmuran, kesejahteraan. Keindahan, keeksotisan. Masih banyak hal-hal muluk yang dilambangkan warna emas. Terlalu indah, hingga tampak sebagai salah satu karya manipulasi.

Persis seperti Kyuhyun. Kyuhyun begitu baik dan hangat di luar, tapi diam-diam ia menusuk.

Exactly, gold is a beautiful lie while black is an ugly truth.

***

Yoonji meninggal.

Diduga overdosis obat tidur. Jika melihat dari botol berisi obat tidur yang ada di sebelahnya dan gelas berisi air putih. Tapi entah mengapa aku tidak memercayai apa yang polisi katakan. Sesuatu terasa janggal.

Aku memang sudah mengikhlaskan kepergian Yoonji. Biarpun dia adalah salah satu orang terdekatku. Jelas saja, kami tumbuh besar bersama. Aku tahu persis Yoonji yang biarpun sekarang ini pergaulannya tidak terkontrol, ia tidak akan memilih bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya.

Tapi aku bisa apa.

Aku tidak memiliki bukti sama sekali. Jelas para polisi tidak akan memercayaiku yang hanya bicara tanpa bukti. Lagipula sudah jelas sidik jari Yoonji tertempel di botol obat tidurnya. Terkadang aku heran pada diriku sendiri.

Aku berjalan memasuki kamarku. Merebahkan tubuhku di ranjang. Menatap langit-langit pasrah. Kamarku bernuansa suram. Gaun hitam yang kukenakan sewaktu pemakaman Yoonji masih menempel di tubuhku. Pandanganku menangkap sesuatu di meja kamar.

Buku hitam tersebut. Aku beranjak dari tidurku. Meraih buku tersebut. Membacanya hingga tuntas.

Aku mendapati diriku tersenyum setelah kata terakhir buku tersebut selesai kubaca. Bukan, bukan senyum manis.

Psychopatic smile.

***

[Third Person POV]

Kyuhyun baru saja pulang bekerja. Tubuhnya terasa lelah dan penat. Ia memencet kode kombinasi pintu apartemennya. Menguap, merasa sedikit mengantuk setelah hari yang berat di kantor. Baru saja ketika ia mau memasuki apartemennya, sesuatu menarik perhatiannya.

Sebuah kotak kardus. Tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Merasa penasaran, terlebih lagi mengapa kotak tersebut ada di depan pintu apartemennya. Ia memungut kotak tersebut. Dibukanya perlahan.

Sebuah pisau. Pisau berlumuran darah.

Disertai secarik kertas kecil. Diketik, bertuliskan ‘Mati kau!’ berwarna merah besar-besar. Kyuhyun terpaku melihatnya. Diam, tidak berkutik. Kemudian tanpa pikir panjang ia membawa kotak itu masuk dan langsung menutup pintu apartemennya kuat-kuat.

Beberapa hari berlalu.

Kyuhyun pikir hidupnya akan kembali tenang. Ia masih berpikir bahwa mungkin kotak itu salah kirim. Atau mungkin saja itu hanya main-main. Biarpun Kyuhyun merasa sedikit ragu dengan pilihan kedua. Kyuhyun salah besar.

Terdapat kotak yang sama di depan apartemennya.

Kyuhyun tidak dapat membendung rasa penasarannya lagi. Ia membuka kotak tersebut. Sebuah botol. Botol berisi obat tidur. Disertai kertas yang bertuliskan ‘Masih ingat ini, Cho Kyuhyun?’ masih sama ditulis dengan huruf merah besar-besar. Kyuhyun buru-buru masuk, tanpa pikir panjang. Jujur ia ketakutan.

Teror tidak berhenti sampai di situ. Di hari lainnya Kyuhyun dikirimi sebuah boneka anak perempuan yang dicabik-cabik. Penuh dengan noda darah. Esoknya lagi ia menerima botol berisi kalium sianida. Ia tahu, kalium sianida bukan sembarang racun. Biasa digunakan untuk pembunuhan.

Sayangnya, Kyuhyun tidak pernah tahu bahwa ada sosok yang mengamatinya ketika ia menerima teror-teror tersebut.

***

Months later

Poliklinik kejiwaan rumah sakit ini terasa lengang. Hanya ada beberapa suster yang berlalu lalang. Koridor-koridornya remang-remang. Hawanya dingin nan sunyi. Terkadang beberapa pasien melewati koridor-koridor poliklinik, namun itu dapat dibilang jarang. Beberapa pengunjung memang datang, namun jumlah pengunjung yang datang tiap minggu pun dapat dihitung dengan jari.

Seorang gadis berjalan melewati koridor utama. Menghampiri meja resepsionis sejenak, lalu ia melanjutkan langkahnya. Meniti anak tangga, melewati koridor-koridor kamar yang sunyi senyap. Tidak mengherankan karena kamar-kamar memang kedap suara. Gadis tersebut masih terus meniti anak tangga hingga dirinya sampai di lantai teratas poliklinik.

Sebuah kafetaria. Terbuka untuk umum sebenarnya, namun pengunjung di kafetaria ini kebanyakan adalah para pasien. Dengan santainya gadis itu membuka pintu kafetaria, mengacuhkan pandangan para pasien yang menatapnya asing. Memang baru sekali ini gadis tersebut mampir ke kafetaria poliklinik.

Gadis itu menghampiri sesosok pria di ujung. Pria yang masih mengenakan baju pengaman agar tantrum-nya dapat diatasi, masih pula duduk di kursi roda. Menatap kosong, sesekali tertawa pahit entah apa yang ditertawakan. Gadis itu duduk di hadapan sang pria. Menatap sang pria sejenak. Kelihatannya sang pria belum mengenali siapa gadis itu.

Gadis itu. Bersurai cokelat. Bermata rusa.

Sang pria. Berkulit pucat. Kontras dengan rambut gelapnya. Mata hitam pekat.

Ya, mereka adalah Yoona dan Kyuhyun.

***

[Yoona POV]

Aku Im Yoona. Tidak peduli dengan kenyataan bahwa namaku bermakna anak kecil yang tidak berdosa. Nyatanya aku jauh dari itu. Aku munafik. Aku berlagak seperti aku adalah salah satu makhluk Tuhan paling suci. Aku berlagak aku mampu melewati ambang batas kemampuanku. Nyatanya tidak.

Aku penuh dosa. Aku lemah.

Ya, aku yang meneror Kyuhyun dengan kotak-kotak tersebut. Membuatnya gila hingga harus dirawat secara intensif di rumah sakit. Aku lemah, aku tidak dapat menerima fakta bahwa Yoonji sudah tiada. Aku masih menganggapnya ada.

Semuanya tidak akan menjadi seperti ini bila aku tidak menemukannya. Robekan jaket kesayangan Kyuhyun. Ada tak jauh dari tempat mayat Yoonji ditemukan. Hatiku makin yakin ketika aku menyusup ke apartemen Kyuhyun dan menemukan catatan-catatan hariannya. Memang Kyuhyun. Memang ia pembunuhnya.

Kyuhyun cukup cerdik. Ia menggunakan sarung tangan ketika memaksa Yoonji menelan obat tidur dalam dosis banyak. Kyuhyun juga mengganti nomor plat mobilnya. Aku menemukan nomor plat yang sama dengan apa yang tertangkap kamera cctv jalan di depan bangunan bekas hotel dimana Yoonji meninggal. Nomor plat itu tersimpan di laci meja kerjanya.

Aku berhak balas dendam. Tidak, aku tidak sekeji itu untuk menerapkan prinsip nyawa ganti nyawa. Aku justru merasakan kepuasan yang jauh lebih banyak ketika melihat Kyuhyun hidup tersiksa. Daripada melihatnya mengakhiri hidup dan melupakan semua masalahnya di dunia. Benar saja, euforiaku membuncah.

Aku tidak akan rela jika Kyuhyun tiada. Tidak akan mampu. Biarlah Kyuhyun tidak mengenaliku, sepanjang ia masih hidup sehat jasmani. Setidaknya aku masih bisa berada di dekatnya. Menyuapinya makanan. Menemaninya sepanjang hari. Tanpa ada Kyuhyun yang mengkhianatiku.

Tapi aku tahu, itu semua tidak permanen.

Bila nanti kejiwaan Kyuhyun telah pulih, semuanya akan kembali seperti semula. Kami yang berjauhan. Atau lebih tepatnya Kyuhyun yang menjauh. Sementara aku setengah mati mengejarnya. Mendambakan pelukannya, seperti dulu kala.

Kau tahu, alasan lain mengapa aku memilih untuk meneror Kyuhyun hingga ia gila?

Aku terlalu mencintainya. Biarpun ia sudah bukan milikku.

Pada hakikatnya, cinta tidak harus memiliki.

Aku mengapresiasi hal itu.

-end-

Jadi setelah aku nerima banyak comment tentang kenapa Kyuhyun berubah, kenapa Kyuhyun selingkuh, kenapa Kyuhyun ngebunuh Yoonji, kenapa Kyuhyun & Yoonji ga bereaksi apa-apa waktu Yoona nge-gap mereka (yang bagian itu sebenernya udah ditulis, jadi Kyuhyun & Yoonji nggak tau kalo Yoona nge-gap but some of you dont realize it), aku bakal buat thriller ver dari ff ini. Lebih panjang, lebih banyak adegan gore-nya, semua yang belum dijelasin di ff ini bakal dijelasin panjang lebar di thriller ver-nya. So keep calm darling you’ll know everything behind the mysteries soon!

 PS: Feel free to tell me whats the things that I should explain more in the comment box. I’ve edited some mistakes just so you know.


53 thoughts on “[Play! The Etude] Da’ Black & Gold

  1. Keren ceritanya.. Tapi emank kurang jelas d ceritain ttg mrka..
    Tapi berhubung Akan ad versi panjang nya jadi ak tunggu
    Gomawo buat ff nya^^

  2. ok aq pasti bklan nunggu behind storynya dgn gk sabar..
    ini ceritanya bener” 4jempol buat auhtor..
    penasaran knp kyu brubah n knp kyu bisa bnuh yoonji..
    dan ckup seneng yoonji mati krna berani”nya dia nusuk yoona dr belakang #evilSmile

  3. daebak chingu..
    walau aga ga rela yoona punya sifat kaya gtu, but this is a story dan chingu yg bikinnya.. 😀
    d tunggu kelanjutannya chingu..
    keep writing

  4. Kereeeennn pake bgt. Ternyata yoona tak sebaik yg terlihat. Dia penuh obsesi jg ternyata …
    Hoohoo …
    Penasaran sama cerita detailnya .. kenapa kyuhyun selingkuh dgn yoonji namun pada akhirnya malah membunuhnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s