Unexpected : Dirty Little Secret [3]

unexpected

Unexpected : Dirty Little Secret [3]

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

“kau akan pergi?”

“hmm..”

“pukul berapa?”

Donghae menarik ujung bajunya untuk turun lalu melirik jam sederhana diatas nakas tempat tidurnya. “pukul satu” jawabnya yang kemudian berjalan menuju ujung kamar dan meraih salah satu sepatu olahraga miliknya.

“aku tau kim sosaengnim sedikit tidak waras, tapi membiarkan kalian berlatih pada jam-jam panas seperti ini membuatku berpikir jika mungkin dia memang gila”

Yoona mendengar tawa donghae dari dalam kamar mandinya. Lelaki itu kemudian keluar dengan wajah basah dan handuk ditangannya. Ia mendekat, membiarkan bau mint dari sabun pembersih wajahnya menyapa yoona dengan lancang lalu tersenyum hangat dan menarik pipi yoona geram.

“dia guruku. Bagaimana bisa kau mengatakannya gila” donghae kemudian menunduk. Meraih botol minum bening dari genggaman yoona lalu menaruhnya didalam tas.

“maaf harus meninggalkanmu pada saat jam makan siang. Tapi omma pasti sangat kerepotan jika tidak dibantu. Aku bisa mengandalkanmu, kan?!”

Yoona mengangguk dan menepuk bahu donghae pelan. “cepat pulang. Atau perlu aku mengantarkanmu bekal?”

“tidak perlu.” Lelaki itu memperbaiki bajunya lalu bersiap menggunakan hoodie. “tapi jika kau memaksa, baiklah aku ijinkan” candanya kemudian.

Pertengahan masa remaja itu terasa begitu menyenangkan. Tidak seperti pahit yang kemudian menyerbu hidupnya ketika ia mulai mengerti betapa keras dunia yang sebenarnya.

Yoona ingat dulu ketika pertama bertemu lelaki itu. Mata teduh dengan kulit seputih susu miliknya secara tidak langsung pernah menghipnotis yoona untuk percaya. Bibir lembut donghae yang kemerahan dengan gaya berbicaranya yang lembut seperti kapas membuat yoona yang kala itu masih terlalu belia tak ragu untuk memeluknya.

Melampiaskan rindunya akan kehadiran omma yang sia-sia. Meraung, membiarkan donghae tau jika ternyata ia bukanlah gadis yang kuat.

Namun lelaki itu menerimanya dengan luar biasa terbuka. Dulu. Melihat betapa lelaki itu mau berkorban demi keinginannya. Berkali-kali atau mungkin bahkan ribuan kali mengalah demi permintaannya. Tak terhitung berapa kali ia menyelamatkan yoona dari bahaya. Atau mungkin dari amukan appa, atau dari tugas sekolah yang luar biasa menyiksa.

Lee donghae-nya, dulu hanya milik yoona. Meski kerap kali orang-orang berkata jika mereka akan selamanya menjadi saudara. Kenyataan umur mereka yang terpaut tiga tahun terkadang membuat yoona harus percaya jika lee donghae memang akan selalu seperti itu.

Menatapnya sebagai seorang gadis kecil yang lemah.

Bodohnya, demi terus dapat bersama lelaki itu, yoona melupakan perasaannya dalam diam. Tak berani berbicara. Atau bahkan sekedar bercerita entah pada siapa jika rasa itu sudah ia pendam sejak lama.

Untuk donghae.

Dengan segala macam kesempurnaan dalam dirinya.

Mereka tinggal dikota kecil pinggiran pantai. Donghae yang begitu mencintai buih ombak dan yoona yang begitu menyukai hujan membuat mereka sadar, jika perbedaan akan membuat segalanya terasa lebih indah jika diiringi rasa saling mengerti.

Dalam tahun-tahun kelam yang membuatnya harus berpuas diri di bilik kecil bernama penantian, ujung cerah itu kemudian datang. Ketika yoona menginjakkan kakinya di sekolah menengah, tempat ia mulai membenahi dirinya sebagai seorang gadis dewasa.

Sore itu ketika gerimis kecil menyapa kampung mereka, donghae kemudian datang tanpa perlindungan. Bahu dan sebagian dadanya basah. Rambutnya yang lembut memutih karena bulir air seindah kristal.

Lelaki itu tersenyum begitu tulus, tak memperdulikan tatapan tak percaya bercampur rasa khawatir yoona padanya. Lalu ia mengeluarkan selembar kertas. Bukti slip gaji pertamanya usai diterima dikantor desa satu bulan yang lalu.

Yoona tak percaya ketika lelaki itu berkata jika ia begitu bahagia dengan gaji yang tak seberapa. Dan lebih tak percaya lagi ketika ia mengeluarkan sebuah cincin perak. Berbandulkan permata kecil disana.

Hasil kerja kerasnya.

Donghae masih sempat berlutut ketika gerimis berubah haluan menjadi deras. Lalu dengan suara sedikit berteriak ia membuat yoona percaya jika bahagia itu memang sederhana.

‘aku mencintaimu dengan segala kesederhanaan ini. maafkan aku yang terlalu lancang memintamu untuk maju beribu-ribu langkah, melewati zona aman  yang terus mengukung kita untuk bahagia. Aku ingin jadi lebih dari sekedar seorang kakak bagimu, yoong. Aku ingin jadi sosok pelindung yang menjagamu karena cinta, bukan sekedar tanggung jawab saja. Jadi, disore yang luar biasa sederhana ini, kuajukan lamaran untukmu. Sekedar agar appa dan orang-orang tau bahwa kau kini milikku. Kita bisa menunggumu lulus, atau mungkin kau bisa melanjutkan pendidikanmu, nanti. Lalu selama itu pula, akan kuhabiskan tenaga yang tersisia demi menumpuk kebahagiaan kita.’

Yoona tak pernah jauh lebih hilang akal daripada hari itu. Setelah bertahun-tahun merasa berjuang sendiri, saat itu ia mulai menaruh kepercayaannya pada takdir. Ternyata, tak hanya dirinya yang merasa tersiksa. Jauh diluar bayangannya, ia bahkan medapatkan lamaran pertama, dari sosok lelaki pertama yang bahkan tak mengijinkannya untuk menyecap rasa memiliki kekasih untuk yang kedua kalinya, kala itu.

Hubungan mereka berjalan semakin luar biasa. Seperti kebanyakan kisah romansa yang menceritakan kisah yang membara, yoona tak menyangkalnya. Ia memang sebodoh itu untuk terus saja percaya pada janji yang mengikatnya dalam bentuk lingkaran perak permata itu.

Donghae memang menjaganya dengan baik. tak ayal terkadang memanjakannya dengan hal-hal baru yang lelaki itu dapatkan usai kenaikan pangkatnya hanya berselang satu tahun usai ia bekerja. Lalu lelaki itu menjadi berkuasa penuh. Ia bergerak tepat dibawah kepemimpinan kepala desa. Sosoknya yang kemudian berubah menjadi dipuja-puja membuat yoona semakin buta.

Rasa bangga akan kepemilikannya atas lelaki dewasanya itu menutup segala kemungkinan yang kemudian meruntuhkannya dengan sengaja.

Lalu kisah mereka berakhir tepat dilangkah pertama donghae menunjukkan punggung tegapnya pada yoona. Berjalan sendiri tanpa pernah lagi menuntunnya untuk bersama. Perak itu kemudian usang termakan waktu meski belati dalam kisahnya seringkali masih menusuk-nusuk nurani yoona dalam diam yang terus ia pertahankan.

Pesakitan itu menderanya dalam idiot yang ia ciptakan sendiri.

Semejak itu yoona tak percaya pada takdir. Atau hal-hal semacam cinta abadi yang sempurna. Baginya, setiap cinta akan terus menjatuhkan air mata. Ia mulai membenci lelaki bertahun-tahun sesudahnya. Menganggap ciptaan tuhan dengan hati tak lebih besar dari ujung kuku itu hina.

Hingga pada akhirnya, sosok lelaki itu datang.

__

Terik mentari menyinggahi lapangan olahraga mereka sore itu. Latihan yang sudah dimulai semenjak satu jam yang lalu kini terhenti karena jam istirahat yang menjadi penyekat waktu. Dalam kediaman menanggapi kelelahannya disertai titik-titik keringat yang sudah lebih dari cukup untuk membasahi seluruh tubuh itu, donghae menghela nafasnya lega.

Dua lengan yang ia bebankan kebelakang demi menopang tubuhnya mengkilat-kilat bercahaya. Kontras dengan kulit putih susunya yang perlahan bergradasi menjadi merah kecoklatan.

Yeah, menjadi kapten tim basket kebanggaan sekolah tak pernah membuatnya tak mengorbankan sesuatu. Pada akhirnya, wajah kusam dan warna kulit yang perlahan menggelap harus donghae hadapi demi meneruskan hoby yang begitu mendarah daging padanya.

Jauh dari jalan setapak berdebu diujung sana kemudian muncullah sosok tinggi besar itu. Tubuhnya yang tegap dan porsi tulang keringnya yang panjang kemudian menutupi sinar matahari yang terus memancar ganas ketika ia berdiri tepat didepan donghae.

“kau baru datang?”

Seulas senyum terpancar dari bibir tipis donghae. Sosok itu mengangguk malas. Masih memegang benda persegi tipis dalam genggamannya sebelum ia buru-buru memasukkannya dalam jaket denim biru tua dan ikut duduk disamping donghae.

“kenapa duduk? Kau seharusnya mengganti bajumu dan segera ikut latihan”

Susunan gigi putih bersih itu terlihat dengan cepat. Kekehan ringan mereka kemudian mewarnai terik panas yang membuat wajah keduanya semakin bercahaya. “aku tidak pernah setuju untuk ikut tim basketmu, lee donghae”

Suara bergetar yang mulai memberat itu menyapa donghae. Tak lama disusul oleh kepalan tangannya yang kemudian bersarang dilengan kiri donghae.

“kenapa tidak? kau dan segala kepintaranmu cukup untuk membantu tim kami!”

“iya! Bahkan kim seosaengnim memuji bakatmu!”

Dua suara itu membuat mereka harus berbalik, menemukan shin dan daehyun yang menyelipkan aspirasi mereka dalam percakapan siang itu. Selanjutnya, kekehan donghae kembali terdengar renyah. “dia ini pemalas!” ucapnya lantang.

“aku hanya tidak ingin mengecewakan kalian” lalu dua tangan putih bersih itu ikut bersandar kebelakang, menopang tubuh besarnya dengan benar. “aku akan mengurus kepindahanku secepat mungkin. mungkin dua, atau tiga bulan lagi” sambungnya tanpa dosa.

BUK!

Tangan donghae kemudian lancang untuk singgah dibelakang kepalanya. Membuat tawa anak-anak sekitar menjadi lebih besar. “jangan konyol! Kau bahkan baru masuk kelas tiga kali, cho kyu hyun!”

“disini tidak ada internet. Kampung kalian terlalu terbelakang—ya!”

Kyu hyun mengusap pelipisnya singkat.

“setidaknya, kau bisa mencari rasa tenang disini. Untuk apa kembali ke kota yang pengap dan padat.” Donghae lalu berdiri, panggilan kim seosaengnim menghentikan percakapan mereka siang itu. Para lelaki kemudian melingkar, bergerombol siap untuk mendengarkan ocehan singkat guru pendamping mereka.

Dengan cepat kemudian kyu hyun berdiri. Meletakkan sekotak sereal disamping donghae dan berbalik pergi. “akan kupikirkan lagi nanti” teriaknya ketika tau jika seluruh mata tengah menatap punggung tegapnya yang berjalan menjauh.

Kyu hyun belum lupa perkenalan singkat mereka pagi itu. Ketika akhirnya usai berdebat panjang bersama keluarga besarnya, ia sepakat untuk disekolahkan sementara waktu di sekolah besar yang terisolir.

Busan.

Cho ahra bilang saat itu ia tak akan mau lagi melihat wajah kyu hyun ketika kembali.

“kau akan menghitam dan kulitmu akan kusam berjerawat. Demi tuhan, kau akan mengerikan setelah kembali!!”

Kyu hyun masih ingat dengan jelas rengekan dan ancaman ahra pada waktu itu. Entah ketika itu ia begitu senang mengetahui hampir satu tahun kedepan hidupnya akan aman tanpa kyu hyun atau justru kakak cerewetnya itu tengah berusaha untuk menahannya agar tidak pergi.

Untuk saat itu, kyu hyun tak bisa menyimpulkannya sendiri. ahra terkadang marah dan kesal, lalu dilain sisi gadis itu akan menangis. Meminta kyu hyun agar baik-baik saja disana sementara semenjak awal keputusan keparat itu diambil, nyonya besar pemilik kekuasaan dirumah itu sudah mewanti-wanti akan memenuhi semua kebutuhannya selama disana.

Jadilah kyu hyun berangkat usai nilai akhirnya baru saja terbit.

Sepanjang perjalanan ia meyakinkan diri jika busan bukanlah kota kecil amis yang dipenuhi ikan-ikan busuk yang bergelimpangan. Ia juga percaya jika para lelaki ataupun wanita disana cukup layak untuk dijadikan teman tanpa batasan.

Selama berpikir itu, kyu hyun masih percaya jika mimpi buruk yang ahra ceritakan ada benarnya, namun ternyata busan tak seburuk itu. Selain penataan kota yang indah dan demaga tersendirinya yang membuat para nelayan tak meletakkan ikan amis mereka disembarang tempat. Busan memang kota kecil yang luar biasa.

Segalanya berjalan baik-baik saja dihari pertama perkenalan sekolah. Saat itu, ketika pertama kali memasuki kelas, ia tau, mata donghae sudah terpaku nyalang padanya.

“aku lee donghae, dan kau?!”

Lalu begitulah kata pertama yang keluar dari bibir donghae pagi itu. Mereka kemudian sepakat untuk berteman. Berjalan bersisihan kemanapun disepanjang sekolah dengan donghae dan bau ombaknya yang memukau.

Saat itu, kyu hyun percaya, jika sahabat itu datang dengan cara yang sederhana. Karena selain koneksi internet yang tak menjangkau busan, tak ada lagi yang perlu ia keluhkan selama tinggal disana.

Semua berubah begitu saja ketika sosok itu datang. Tubuh mungilnya yang terlapis kulit putih susu dengan rambut coklat terang yang berkilauan. Pertama kali menemukannya disudut kota siang itu, kyu hyun percaya jika ia akan jatuh cinta lagi.

Luar biasanya, tiga detik pertama justru ia habiskan untuk mematut bayangan indah itu dalam ingatannya. Tshirt longgar dan celana jeans yang hanya melindunginya hingga sebatas paha membuat kaki-kaki mungil itu terlihat lebih indah.

Lalu sebuah senyum mereka begitu saja ketika perahu besar bercorak biru menepi. Kyu hyun melihatnya dengan jelas. Saat kemudian gadis itu berlari dan memeluk sosok tinggi jangkung yang masih basah didepannya.

Ketika itu, ditengah rasa sakit dan kebekuan hati yang dipendamnya akan luka yang terus menerus menghantam, kyu hyun mulai memutuskan untuk jatuh cinta.

“oppa!!”

Percakapan singkat mereka terhenti begitu saja. Suara melengkin khas remaja yang kemudian menginterupsi rahasia lelaki yang mereka coba bicarakan siang itu kemudian datang, membawa rantang besar dan berdiri manis bersisihan pohon ek.

Donghae tersenyum manis ketika ia berjalan menjauh dari kerumunan. Mendekati yoona dengan perlahan dan kemudian semua terjadi begitu saja. Kerumunan mereka lalu mulai berjalan santai membiarkan donghae tertinggal bersama dunianya yang lain.

Saat itu, tak ada yang bersuara. Canda tawa mereka tetap terlontar seperti yang seharusnya. Lalu semua benar-benar berbeda ketika sosok pemimpin itu datang. Rantang besar disalah satu genggamannya membuat kyu hyun yakin jika gadis kecil itu tak mungkin ikut bergabung berbagi canda bersama mereka.

Donghae memang lelaki luar biasa yang beruntung. Dengan segala rupa dan kemampuan hebatnya, pun ia tak pernah kekurangan karena sosok cantik yang kemudian kyu hyun tau sebagai gadis pantainya nyatanya juga milik donghae.

Tak pernah ada penyesalan dalam benaknya. Hanya kemudian kyu hyun menyadari hal-hal lain seperti ia harus membiasakan diri dengan mundur teratur jika tidak lagi ingin kehilangan sosok sahabat seperti donghae.

Lalu semua kesabaran itu mendidik kyu hyun menjadi sosok dewasa yang menyayangi donghae sebagai seorang sahabat. Penarikan kembali dirinya menuju seoul ditengah semester keempat ia bersekolah dibusan membuatnya harus meninggalkan desa kecil itu dalam sakit yang makin mendalam.

Hampir dua tahun berlalu semenjak cinta itu hadir. Lalu kemudian semua harus terkubur samar dalam kediaman kyu hyun yang tak pernah membiarkan dirinya dikenali oleh gadis pemilik senyuman sempurna itu.

Kyu hyun tersenyum ragu. Ia pernah begitu mencintai banyak wanita, dan kemudian membenci mereka dalam sekejap mata. Hanya karena alasan sederhana berupa sakit yang tak terkira.

Kepergian ahra dan perselingkuhan omma yang tak termaafkan mengajarkannya banyak lara. Kyu hyun tak percaya akan bahagia menjelang pertemuan singkat mereka yang tak berarti apa-apa bagi yoona.

Kyu hyun bukannya tak mengenal wanita itu ketika ia menyambangi kedai sederhana donghae saat itu. Sepenuhnya kyu hyun sadar jika ia hanya ingin lebih mengenal yoona meski dengan cara-cara licik yang kuno.

Namun kemudian ia melangkah mundur. Diumur yang tak seharusnya kyu hyun merasakan debaran itu benar-benar tak tertahankan. Wajah lugu yoona membuatnya tak mampu mencari alasan yang tepat untuk undur diri karena menyadari bahwa ada bagian dari dalam dirinya yang belum benar-benar siap dengan pertemuan pertama mereka.

“but you only have one chance, idiot!!”

Remang-remang malam itu menyudutkan kyu hyun dipojokannya. Dua botol kecil berisikan air tanpa warna itu menemani malam penuh kenangan masa lalu mereka.

Kyu hyun tersenyum tipis.

Nyatanya, ia memang tak lagi memiliki kesempatan usai pertemuan terakhirnya bersama yoona kala itu. Bahkan hingga ia harus kembali dan meninggalkan busan, kyu hyun bertaruh untuk seluruh hidupnya jika gadis kecil itu tak pernah mengenal namanya. Karena satu-satunya nama yang kyu hyun bawa dari desa kecil itu hanyalah dia.

Lee donghae.

“ada kabar baik yang harus aku dengar?”

Empat tahun usai dan persahabatan itu terjalin hanya melalui suara. Kyu hyun tersenyum saat sabtu sore itu, usai menyelesaikan tugas lapangannya bersama asisten baru perusahaan, donghae menghubunginya.

“aku diterima dikantor desa, dude!”

Kyu hyun terkekeh dengan cepat. Luar biasa pintar memang lee donghae, hingga sapaan yang semula kyu hyun gunakan padanya kini bisa ia lafaskan dengan lancar. Kyu hyun hanya memberikannya selamat saat itu.

Lalu seperti yang sudah-sudah, cerita mengenai gadis istimewa lelaki itu muncul begitu saja. Seolah donghae tak pernah tau jika lelaki itu hanya semakin menambah garam pada luka yang kyu hyun miliki karena tak pernah lagi memiliki kesempatan untuk mengenalnya.

Itu tahun terkahir mereka bersama. Sebelum menjelang liburan musim panas kyu hyun berusaha memperkenalkan omma dan ahra pada keluarga kecilnya di desa kecil bernama busan. Dan semua terjadi begitu saja. Ketika wajah merah padam omma menghias pertemuan singkat mereka di sebuah toko kecil. Caci maki mewarnai sore itu dengan tangis ahra yang kemudian menggema dan fakta bahwa hubungannya dan lee donghae tak akan lagi sama.

“halo?”

Simfoni singkat itu meluncur begitu saja, menampar-nampar pendengaran kyu hyun dengan keras saat lelaki itu masih terdiam. Membisu ditengah kelam malam yang sunyi.

“sesuatu yang salah terjadi padamu?”

Suara itu kembali terdengar ragu. Membuat kyu hyun mengerutkan keningnya, menahan gejolak yang kini menggumpal tegang diantara tenggorokan dan pangkal lidahnya. Suara kyu hyun belum pulih dari rasa bersalah ketika kemudian panggilan menjadi hening tanpa suara.

“dude—“

Sapaan itu terdengar meragu, tapi kyu hyun yakin jika donghae masih mendengarnya. Lelaki itu tak mungkin membiarkan panggilan mereka mengambang tanpa kejelasan samasekali. Jadi, setelah kata pertama itu meluncur, kyu hyun melanjutkannya dengan suara tercekat seolah ribuan duri tengah berkumpul ditenggorokannya.

“aku—dia sudah tau”

Secepat itu kyu hyun menyadari ada ketegangan tak kasat mata yang tercipta dari suasana mencekam yang kini menguasai sambungan telepon itu. Kyu hyun merasa hampir tercekik hingga ia berusaha untuk menjelaskan maksudnya menghubungi donghae malam itu sebelum sambungan mereka terputus begitu saja.

Mengenal lelaki itu tahunan, baru kali ini kyu hyun merasa tak mampu membaca emosi donghae dengan benar.

Marahkan lelaki satu darah itu padanya?

__

Ketika terjaga, yoona kembali tak menemukan kyu hyun berada disisinya. Seperti yang sudah-sudah. Mengingat hari ini adalah hari kerja, maka kemungkinan besar lelaki itu sudah terlalu sibuk dengan urusan kantornya.

Yoona tak perlu melirik jam untuk mengetahui pukul berapa ia terbangun pagi ini. yang jelas, usai pernyataan panjang kyu hyun dan kunjungan makam yang begitu mengguncangnya yoona tak lagi memiliki kesempatan untuk tidur dengan nyaman.

Benarkah seperti itu?

Bertahun-tahun hidup bersama, hanya secuil kisah hidup kyu hyun kah yang ia tau?

Yoona bahkan tak pernah sekalipun menduga jika lelaki itu memiliki sosok wanita lain yang begitu ia cintai. Ia tertunduk malu didepan pusara ahra ketika kyu hyun menjelaskan betapa ia begitu mencintai wanita yang terlahir dari satu rahim dengannya itu.

Yoona fikir, lelaki itu terbiasa hidup sendiri memang karena ia ditakdirkan untuk menjadi anak tunggal. Atau fakta lainnya jika ternyata ibu kandung kyu hyun masih hidup? Dan tinggal jauh dibumi bagian eropa sana?

Berbagai pemikiran itu menghantuinya dengan cepat. Yoona merasa tak sesanggup itu untuk terus memikirkan entah sebanyak apa ia pernah menuntut kyu hyun untuk mengenalnya sementara ia hanya berpasrah diri untuk tak mengenali lelaki itu.

Atau, inikah yang dulu ia sebut cinta?

Yoona menggeleng tak mau tau. Semakin memikirkannya, maka seluruh kepalanya terasa akan meledak. Yoona tak menyadari jika hidup selama puluhan tahun tak membuatnya mampu melakukan banyak hal dengan baik. sudah benarkah hidupnya kini?!

Ia berjalan lamban, menuruni ranjang. Sinar matahari sudah terlalu terik untuk membuatnya sadar jika siang sudah akan menjelang. Yoona harus segera membersihkan diri, hanya demi memenuhi kebutuhan perutnya yang kini meronta ngeri.

BUGH!

Lalu suara gedebum benda berjatuhan mengalihkan pandangannya. Yoona baru akan menyentuh handle pintu dan terdiam ketika gedebum lainnya menyusul. Ia berlari kencang, lalu tatapan piasnya menyapa suasana pagi yang mencekam disana.

“PUASKAH KAU DENGAN SEMUA INI?!!”

Yoona membesarkan bola matanya ketika menemukan wajah merah padam donghae bersamaan dengan deru nafasnya yang berat. Dihadapannya, sosok mengejutkan itu kembali membuat yoona tak mampu bernafas.

Entah apa yang terjadi diantara mereka hingga kini ia menatap kyu hyun dan sebercak darah segar diujung bibir tipisnya.

Bukankah lelaki itu tak pernah membiarkan tubuhnya terluka? Sifat otoriter kyu hyun sudah mendarah daging. Bahkan dalam sebuah pertarungan sekalipun. Ia akan membuat siapapun tak mampu membalas perbuatannya, membuat setiap sosok bernyawa menjadi ngeri. Dan kyu hyun selalu melakukannya tanpa terluka.

Begitulah sosoknya selama ini.

Namun ketika tiba-tiba yoona menemukan donghae yang bisa masuk begitu saja kedalam apartemen mewah milik kyu hyun, dengan buku jari yang memerah dan kyu hyun yang tengah tergeletak diam diatas pualam dingin itu membuat yoona semakin sadar jika ada yang salah diantara mereka.

“pantaskah kau mempertanyakan itu, lee donghae?!”

Yoona mengernyit, memejamkan matanya ketika mendengar suara dingin dan tak bernada milik kyu hyun. Lalu kakinya maju selangkah, kerah kemeja hitam yang kyu hyun gunakan tiba-tiba dicengkram erat.

Donghae mendekat, menyatukan nafas berat mereka dengan mata saling berpandangan garang. “lalu untuk apa kau lakukan ini, keparat?!” dan suara seringan kapas itu meluncur begitu saja. Yoona masih merekam dengan jelas bagaimana bara api menyala-nyala dalam kedua mata donghae.

Lalu tangan kyu hyun ikut menarik donghae, memberikannya tatapan tak kalah menyeramkan. “karena semua ini sudah terlalu jauh, lee donghae!!” lelaki itu kemudian mendorong donghae dengan keras. Membuatnya terjungkal hingga harus menopang diri dengan tangan terulur kebelakang.

Lalu kyu hyun menegakkan diri, menghapus sisa darah yang masih ada diujung bibirnya, kemudian menatap donghae tajam. “aku berikan kau waktu untuk menjelaskan segalanya. Lalu ayo selesaikan masalah ini secepatnya.”

Dan ia berjalan maju, meninggalkan apartemen sebelum melirik bola mata yoona secepat kilat. Membuat yoona sadar jika kehadirannya telah diketahui lelaki itu sejak lama. Lalu gedebum pintu berbunyi. Meninggalkan ia dan donghae dengan sebuah tanda tanya besar.

Inikah kesempatan yang diberikan kyu hyun padanya?!

__

Yoona menggenggam jemarinya erat ketika deru nafasnya belum terlalu pulih dari rasa penasaran. Buru-buru ia menyeruput teh hijau kental yang sengaja ia sajikan tepat diantara mereka. ditengah meja bundar yang kini menyisakannya dalam suasana mencekam.

Dari tempatnya duduk, yoona yakin jika ia dapat melihat sosok donghae dengan jelas disana. Bersamaan dengan nafasnya yang tenang. Tak seperti ketika ia menemukan kyu hyun yang terjungkal pasrah di lantai marmer apartemen mereka.

Detik-detik pertama berlalu begitu saja. Kedua bola mata donghae melebar sempurna ketika ia menemukan yoona berdiri tak jauh dari tempatnya berpijak. Tak menyangka usai pertemuan terakhir mereka yang tak menyenangkan, kini ia harus menemui pujaan hatinya dalam keadaan yang jauh lebih menggenaskan.

Pun yoona tak bergerak. Membiarkan tubuhnya kaku dalam coklat mata donghae yang menguncinya dalam diam. Lelaki itu masih melebarkan kedua bola matanya tak percaya. Seingat yoona sudah cukup lama semenjak pertemuan terakhir mereka dan kini ia kembali berada dalam posisi yang sama.

Donghae dan kyuhyun mungkin tak akan berhenti untuk beradu kepalan tangan. Pun kini permasalahan pelik mereka telah diketahui yoona dan jelas, posisi mereka tak lagi dapat sesederhana semula.

Bibir donghae seketika kelu, tak mampu mencegah keheningan yang mencekik kehadirannya dihadapan yoona. Bagaimana ia harus menjelaskan pada wanita itu jika ia telah membohongi yoona untuk beberapa tahun yang donghae yakin juga menyakitinya dengan kejam?

Lalu keheningan mereka terpecah begitu saja. Kyu hyun menghela nafas beratnya dengan kasar. Membiarkan ego yang ia miliki perlahan mengalah. Entah mengapa, semenjak ia berani membuka diri pada yoona, ia percaya jika apapun yang wanita itu pilih kini adalah jalan yang terbaik demi keberlangsungan hubungan rumit diantara mereka.

Lalu lelaki itu keluar, meninggalkan yoona dengan seribu tanda tanya. Donghae tak bodoh untuk mengetahui kesempatan yang diberikan kyu hyun padanya. Untuk itulah ia berada disana, berhadapan dengan wajah pias yoona yang masih terdiam kaku semenjak kebersamaan mereka hampir lima belas menitan yang lalu.

Donghae sempat berdehem, memecah keheningan yang ada diantara mereka dengan mempertanyakan kabar diri yang hanya dijawab dengan anggukan pelan dari yoona. Wanita itu kembali menunduk tanpa berniat menatap dua mata berwarna coklat milik donghae berlama-lama.

Dan keheningan kembali tercipta.

Yoona tak mampu menemukan alasan yang tepat dibalik kediamannya. Yang ia tau ia hanya tak mampu menatap lelaki yang pernah dicintainya itu lebih lama. Yoona hanya tak mampu menampik rasa kecewa yang perlahan datang menghampirinya usai ia tau jika donghae adalah sosok yang ikut andil dalam membodohinya tahunan belakangan.

“apa kau sudah tau semuanya?”

Pertanyaan singkat itu membuat yoona mengedik ngeri. Kini, suara lembut donghae tak lagi dapat mempengaruhi debaran jantungnya. Entah ini benar atau salah, yoona hanya tak ingin lama-lama berkubang dalam suasa sunyi yang dengan sempurna membunuh rasa percaya dirinya itu.

Ia lalu mengangguk, dan mendongak menatap kedua bola mata donghae. Didalamnya dengan jelas yoona temukan rasa cemas yang kental dan kesedihan disana. Bola mata jernih dengan warna kecoklatan yang indah itu kembali terlihat sayu. Dan ternyata benar, memang tak ada yang berubah dari kehangatan yang diberikan donghae meski waktu telah memisahkan mereka.

“ada yang ingin oppa katakan?” dan pertanyaan itu meluncur begitu saja. Wajah donghae seketika kaku sebelum mampu ia kendalikan. Lalu alih alih menjawab pertanyaan yoona, ia kemudian memajukan tubuhnya, menatap yoona lebih dalam.

“sebatas itu saja?”

“adakah rahasia lain yang harus aku tau?”

Kening yoona berkerut kasar. Pertanyaan donghae terlalu sederhana namun bermakna sangat dalam. Adakah yang harus yoona tau selain jalinan persaudaraan yang ternyata mengikat ia dan kyu hyun?!

Donghae menunduk, lalu tergagap seketika. Kedua bola matanya berlarian menatap apapun selain tatapan meminta penjelasan milik yoona.

“a-aku hanya bertanya, yoong. Mungkin saja kau mendengar cerita yang berlebihan.”

Yoona mengernyit tak setuju. “kyu hyun bukan lelaki seperti itu, oppa. Jika maksudmu ia telah melebihkan banyak cerita padaku, dengan tegas kukatakan, tidak.” yoona kemudian menipiskan pandangannya, ada sesuatu yang kini kiranya mengganggu yoona semenjak sikap ramah tamah dan gentlemen donghae semenjak pertemuan pertama mereka dua bulan lalu kini berubah menjadi begitu pemalu.

“kecuali jika oppa berfikir ada rahasia lain yang tak sepantasnya untuk aku tau”

Donghae terkejut. Sarkasme yang keluar dari nada berbau sinis milik yoona menghentak rasa percaya dirinya. Sekiranya kini ia tau jika yoona mungkin telah mulai tak mempercayainya seperti dulu.

“aku sudah ingin memberitaukan ini padamu, yoong”

Kedua alis yoona kemudian menyatu, “bukankah kau punya hampir dua-puluh-empat jam selama dua kali tigapuluh hari, oppa?” bibirnya berdesis tak suka. “dan kau baru akan memberitaukan berita ini padaku?!”

Donghae semakin tak bergeming. Yoona bukan pribadi yang akan mengeluarkan emosinya dalam masalah-masalah kecil yang tak begitu penting. Namun kini pias merah dikedua pipi tembamnya kiranya menjelaskan banyak hal pada donghae.

“yoong, aku—“

“oppa membohongiku bertahun-tahun! Lalu kembali dan bersikap seolah kini tak terjadi apapun diantara kita sementara kau begitu mengenal aku yang hidup bersama cho kyu hyun! Saudara laki-lakimu. Adilkah ini untukku, oppa?! Mengapa aku seolah tidak boleh tau?!”

“kita hampir berpisah ketika aku juga baru mengetahuinya, yoong!”

Lalu yoona terdiam, mematung dengan jemari saling berjalin erat. Kedua bola matanya yang tegas kemudian berair, membuatnya harus menunduk dalam, menyembunyikan luka lama yang kini terkuak tepat didepan bola matanya.

“kita tidak pernah berpisah, setauku seperti itu.” Bahu yoona bergetar, menahan isakannya untuk menggema. Masih dengan kepala menunduk ia bergumam dengan suara semakin kecil. “kau yang meninggalkanku, oppa. Kau yang pergi tanpa kembali! Kau yang tak pernah mengatakan padaku apa yang salah diantara kita!!”

Yoona memekik keras, membuat donghae tak paham harus menjelaskannya dengan cara seperti apa. Namun tepat ketika ia akan bersuara, kedua manik yoona menatapnya penuh tanda tanya.

“atau—inikah alasanmu meninggalkanku?!”

“yoong, aku—“

BUGH

Dan seluruhnya menggelap. Yoona merasakan tubuhnya begitu ringan dan hitam pekat menelannya bulat-bulat. Mungkin, ia memang memerlukan waktu untuk beristirahat.

__

“jangan membuatnya memikirkan hal-hal yang tidak perlu. Trisemester pertama terlalu rawan untuk kehamilan pertama. Kau bisa menghubungiku jika terjadi sesuatu lagi”

Donghae memperhatikan kyu hyun yang masih berdiri didepan seorang berambut putih pucat tepat didepan pintu kamar apartemen. Kepalan tangan yang ia tahan menjelang percakapan itu berakhir masih tertutup rapat disela kaki yang ia tekuk ketika duduk diujung sofa.

Donghae berusaha untuk tidak kembali membuat keributan besar. Ada hal yang jauh lebih penting daripada sekedar berbaku hantam dengan kyu hyun kini.

Ketika pintu bergedebum kecil, lalu saat tanda double lock pintu terdengar donghae segera mengalihkan kepalanya pada kyu hyun. Tatapan dingin mereka beradu dalam detik-detik yang mencekam menjelang dengan tenangnya kyu hyun ikut duduk tepat diujung sofa lainnya.

“lepaskan kepalan tanganmu, aku sedang tidak ingin membuat keributan”

Suara datar itu menyapa donghae. Membuat gelegar yang meletup-letup dalam ubun-ubunnya kini mulai meluap keluar. “jadi, dia hamil?!” tanyanya dengan nada tak jauh berbeda.

Dari ujung matanya donghae dapat melihat kyu hyun yang menghela nafasnya pelan lalu menyentuhkan jemarinya ke pelipis. Lalu tak lama tatapan kyu hyun berubah lebih lembut meski hanya sedikit saja. “iya” jawabnya singkat.

Donghae menutup bola matanya rapat-rapat ketika berita itu menghantam pendengarannya. Benar-benar tidak bisa dipercaya. Bagaimana mungkin kenyataan seperti ini menamparnya dengan cepat? Donghae bahkan baru akan berusaha merebut kembali cintanya pada yoona menjelang berita mencengangkan ini ia dengar.

Hembusan nafas kasar mewarnai kediaman mereka. sunyi sepi menjadi satu-satunya saksi ketika donghae kemudian menatap kasar kyu hyun dengan bola matanya yang teduh namun mengibarkan bara api.

“bagaimana bisa?!” tanyanya dengan nada rendah.

Kyu hyun menaikkan salah satu alisnya tinggi. “itu pertanyaan konyol, lee donghae. Kami hidup—“

“AKU TAU KAU HIDUP SEPERTI KEPARAT. TAPI KAU SEHARUSNYA BISA LEBIH BERHATI-HATI!!”

“JAGA BICARAMU!!” hempasan tangan kyu hyun pada lengan sofa menegaskan perkataannya. “apapun yang terjadi padaku dan dirinya bukan lagi menjadi masalahmu, lee donghae. Kau tau bagaimana kami hidup selama ini. Jadi, jangan terlalu munafik untuk berpura-pura terkejut dengan berita seperti ini”

“Brengsek!” donghae maju, menggenggam kerah baju kyu hyun dengan tatapan membara. “aku menjaganya hampir separuh hidupku, cho kyu hyun. Tidak cukupkah bagimu untuk merebut segalanya?! Mengapa sekarang harus ada bayi diantara kalian?!”

Kyu hyun tersenyum kecil ketika nafas donghae menampar-nampar wajahnya. Amarah lelaki itu benar-benar sudah hampir diambang batas. Dan kemarahan donghae semakin menjadi-jadi setelah ia mendengar berita kehamilan yoona.

Kyu hyun tak bisa menyalahkan dirinya yang menghamili yoona, tak juga dapat menyalahkan yoona yang kini mengandung darah dagingnya, ataupun donghae yang terlihat cukup terluka. Bagi kyuhyun, tak ada yang salah dengan kehamilah yoona. Kecuali jika donghae masih memendam rasa kecewa yang begitu besar padanya.

“aku? Merebut segalanya?!”

Lengkung manis dibibir kyu hyun secara cepat mempengaruhi emosi donghae. Jemarinyna mengait kerah kyu hyun semakin kuat. Semakin tak terkendali. “jangan bertindak bodoh! bukankah aku memintamu untuk menjaganya?!!”

“bukan salahku jika dia jatuh cinta padaku.”

“kau bisa—“

“dan kau tau betul akupun mencintainya sejak lama!” kyu hyun menyentuh genggaman tangan donghae. Tak berniat membalas kemarahan lelaki itu dengan emosi yang sama pula. Bibirnya masih terkatup usai berbicara. Dan kedua mata coklat mereka bertemu dalam hawa dingin yang menggerogoti tengkuk. “kau tau aku mencintainya, mengapa kau harus menyiksaku dengan membiarkanku menjaganya? Sekarang katakan, siapa yang terlalu bodoh untuk bertindak?!”

Kedua bola mata donghae melemah dengan buih-buih penyesalan. Entah karena telah menitipkan yoona pada kyu hyun atau karena ia baru saja menyadari jika ia telah menyiksa cho kyu hyun dengan sikap kekanakannya.

Cengkraman tangan donghae ikut melemah, lalu pria itu menunduk lemah. Menyesali banyak hal yang kini justru berbalik menyiksanya. “tapi aku masih mencintainya” keluhnya pelan. Tanpa beban. Tanpa perduli perdebatan panjang mereka sebelum ini. “bagaimana mungkin kau menghancurkan mimpiku dengan kehadiran sesosok bayi diantara kalian?” lanjutnya mengeluh dengan nada iba yang kentara.

Bukannya kyu hyun tidak tau betapa donghae masih mencintai yoona. Namun ia pun tak lagi mampu menahan diri untuk melepaskan kembali apa yang telah menjadi miliknya tahunan belakangan ini kepada donghae.

Kyu hyun tak sekuat itu untuk kembali mengalah pada kenyataan yang membela donghae. Ia telah lama merasakan dunia berpaling dan tak memihak padanya. Dan kini kyu hyun merasa harus terus mempertahankan miliknya, hanya demi merasakan sedikit kebahagiaan yang sebelumnya pernah hilang.

“maafkan aku” bisiknya pelan. “tapi hidup dengannya pun adalah mimpiku. Jadi,  maaf karena memiliki mimpi yang sama, dan harus menyakitimu dengan menutup jalanmu untuk bahagia” tukas kyu hyun panjang.

Kehehingan kembali tercipta. Jemari donghae mengendur dan lepas. mereka terpisah akan jarak yang kini menegaskan posisi mereka masing-masing. Lalu lama berdiam dalam keheningan, donghae tiba-tiba memecah suara dengan gumaman kecilnya.

“kau tidak akan mampu membahagiakannya. Hanya aku yang dapat menjanjikannya pernikahan, dan kuharap itu belum terlambat”

Kyu hyun menoleh tak suka, dalam manik coklatnya terdapat banyak duri-duri tajam yang jika saja tatapan mampu membunuh seseorang, maka mungkin donghae tak akan lagi pernah ada.

“dia mengandung anakku, lee donghae!” kyu hyun mendesisi kesal. Sudah terlalu banyak sabar yang ia gunakan demi menghadapi lelaki keras kepala seperti donghae. Hingga bahkan kenyataan seperti inipun tak menyurutkannya.

Donghae tertawa tipis “aku bisa mengalihkannya menjadi anakku. Bukan masalah yang besar” sambungnya dingin.

Perkataan itu mengulas sekelebat memori pahit kyu hyun dalam sekejap mata. Bagaimana appa berselingkuh hingga meninggalkannya, lalu meninggal. Membiarkan dirinya dan ahra kehilangan sosok pahlawan itu terlalu cepat. Membiarkan omma pada akhirnya bebas. Membuat ibu kandung lee donghae kehilangan masa depan, membuat lelaki bertanggungjawab yang meletakkan marganya pada donghae pun pergi begitu cepat.

Semua berjalan seperti untaian film yang kini menghiasi kepalanya. Kyu hyun menutup matanya erat, lalu emosi seketika menjalari ubun-ubunnya.

Tidak.

Jika yoona mengandung anaknya, maka ialah yang harus bertanggung jawab untuk itu. Tidakkah donghae sadar bahwa masa lalu yang suram itu telah menyakiti banyak dari mereka bahkan hingga selama ini?

Dan itukah yang ia ingin ulangi?

“tidak. aku akan bertanggung jawab terhadap anakku!” tegas kyu hyun menatap donghae tanpa berkedip.

Tawa donghae semakin menyulut rasa sakit yang masih menganga dalam hati kyu hyun. Lalu lelaki itu berdiri, berniat meninggalkannya. “kau takut pada pernikahan, jika kau sempat lupa. Kau hanya lelaki tangguh yang sayangnya pengecut demi membahagiakan dirimu dan mengorbankan wanitaku!”

Donghae sudah akan berlalu sebelum kyu hyun mencengkram pergelangan tangannya erat. Keras jemari kyu hyun membuat donghae sadar kini diskusi mereka akan terasa lebih menyakitkan.

“aku tidak pernah mengorbankannya. Dia yang hadir dan ingin menerimaku yang seperti ini. dan berhenti berargumen jika aku telah merebut segalanya darimu. Sudahkah kau lupa apa yang masa lalu lakukan pada hidupku?!”

Donghae diam, menunggu kata-kata yang nampaknya belum akan diselesaikan kyu hyun. Luka menganga yang juga bersarang dalam batinnya kembali meraung keras. Karena pada dasarnya, pertemuan mereka akan selalu membubuhkan garam diatas luka, mengungkit kisah lama yang terlalu hina bahkan untuk sekedar diingat.

“aku—kehilangan appa karena ibu kandungmu!”

BUGH!

“JANGAN BAWA-BAWA OMMA DALAM MASALAH INI!!!”

Donghae menatap nanar kyu hyun yang bersandar pada sofa. Kepalan tangannya masih sekeras batu, pun nafas beratnya yang tak ingin bersahabat. Donghae menatap kyu hyun murka. Bagaimana bisa lelaki itu membawa-bawa omma dalam masalah mereka.

Namun kyu hyun terlihat tak gentar. Bibir tipisnya yang kembali terbubuhkan luka sobekan kecil tak membuat amarahnya kontan menghilang begitu saja. Pertengkaran mereka akan selalu berakhir sama. Saling baku hantam hingga terluka, seperti yang sudah-sudah.

“pada akhirnya kau pun tau apa yang telah orang tuamu lakukan hingga sesulit ini bagiku untuk percaya pada pernikahan.”

Tangan donghae kembali mengepal keras. “ITU KARENA APPAMU TAK SANGGUP MENJAGA KESETIANNYA! JANGAN PERNAH SALAHKAN OMMA UNTUK ITU!”

Kyu hyun menyipitkan kedua bola matanya. Tak sekalipun berniat memberikan pembelaan terhadap argumen menyakitkan yang terlontar manis dari bibir donghae. “benar. Appa memang sebrengsek itu. Bahkan ia meninggalkan ommamu setelah kau tumbuh dalam rahimnya, bukan?! Membiarkan lelaki lain merebut hak atas dirimu, membiarkannya menyematkan marganya pada namamu. Seperti itulah bajingannya appa, aku tau itu” tuturnya panjang.

“karena itulah berhenti berharap untuk membubuhkan namamu pada anakku. Lelaki itu—lelaki yang pergi demi membahagiakan kau dan ommamu, mengorbankan kebahagiaan yang semula milik kami, meninggalkan seluruh trauma dan luka menganga yang masih perih hingga saat ini. Tidakkah menurutmu kau mewarisi sifat brengseknya?!”

Bola mata donghae melebar sempurna. Ada duri besar yang menusuk jantungnya ketika kyu hyun berkata tanpa jeda. Ada sebagian dirinya yang berhasil menolak segala argumen menjijikkan itu. Lalu sebagiannya lagi diam, tanpa memberi dukungan. Percayakah donghae pada argumen kyu hyun? Bahwa sifat brengsek appa mereka memang nyatanya ia turunkan secara adil?

Kyu hyun yang brengsek dan suka mempermainkan wanita dan donghae yang… licik?!

“masa lalumu bersama yoona telah lama usai. Tidakkah kau ingat? Kau sendiri yang menghancurkan segalanya dan menyerahkan yoona padaku. Kini, setelah semua berjalan dengan baik-baik saja, masih tersimpankah didalam benakmu rasa cinta yang nista itu?!”

Kyu hyun mendengar geraman kasar donghae. Nafas mereka kembali beradu dalam perang batin tiada henti. Saling menyiksa, menyadarkan dengan cara yang perih.

“Kau licik!!” pekik donghae murka. “kau yang mengatur semua ini!! kau yang memaksaku untuk pergi meninggalkannya! Kau yang menghancurkan hubungan kami, brengsek!!”

Kedua bola mata kyu hyun menyipit tak percaya. Lalu ia mendesis kecewa. “maka pergilah kedalam jeruji besi, lee donghae! Tidakkah aku menyelamatkan hidupmu dari tuntutan warga desa kala itu?!” kyu hyun maju, lalu menunjuk donghae tepat didepan dada kirinya. “Dan berhenti bersikap menjijikkan seperti ini!! AKU-MASIH-SAUDARAMU!!”

“kenapa kau harus menyelamatkannya dari jeruji besi?”

Bagai tersambar petir besar, suara lembut itu menghentikan perdebatan mereka seketika. Kyu hyun melihat yoona berdiri, dengan baju tidurnya yang masih rapi. Seingatnya, dokter pribadinya telah memberikan wanita itu obat penenang dosis ringan. Tidak bekerjakah obat itu padanya?

Sekelebat bayangan donghae yang berputar arah menyadarkan kyu hyun. Membuat tatapannya kembali terfokus pada yoona yang masih menatapnya meminta penjelasan.

Kyu hyun masih berdiam diri ketika donghae melangkah maju. Hanya satu langkah kecil karena usai itu tungkai kakinya seperti ditempeli lem perekat yang kuat. Donghae memposisikan tubuhnya untuk mendekati yoona, meski pada kenyataannya keterkejutan membatasi gerak lelaki itu hingga kini ia berdiri diantara kyu hyun dan yoona yang saling bertukar padang.

Kyu hyun memperhatikan donghae yang tiba-tiba berubah menjadi kaku. Lalu mengalihkan pandangannya pada yoona yang masih terlihat lelah namun menunutut. Haruskah ia melepaskan semua beban ini sekarang? Hidup menjadi sosok yang seharusnya semua orang juga jalani, tanpa rahasia besar yang terus menghantuinya?

Lelaki itu memejamkan kedua matanya ketika yoona kembali memanggil namanya. Lalu donghae ikut memanggil nama yoona demi mencegah wanita itu untuk tau. Namun ketika membuka mata, kyu hyun mendapati dirinya membatu dengan tatapan yoona yang tak lagi bisa ia hindari.

“bisakah salah satu diantar kalian menjelaskannya padaku?!”

“yoong, kau harus—“

“apa kesalahan yang kau lakukan hingga kyu hyun harus melindungimu dari jerat hukum, oppa?!” pekik yoona memotong kalimat ragu-ragu dari donghae. Lelaki itu tampak tak bereaksi banyak ketika yoona mengalihkan pandangannya pada kyu hyun.

Jantung mereka bertalu kencang saat kyu hyun kemudian membuka suara, membiarkan pita suaranya bekerja seperti sedia kala menjelang petaka besar itu datang.

“dia yang menjadi penyebab kematian appamu, yoon”

-kkeut-

Yeah, dan lagi. Selalu ada maaf karena setiap malas yang datang ditengah kewajiban. Bukan salah kalian buat menuntut. Menyelesaikan cerita ini memang udah janji aku dari awal. Jadi, ini dia. Satu series menjelang ending. Series selanjutnya akan berganti nama, bukan lagi dirty little secret karena semua rahasia udah dibongkar. Nah, penjelasannya baru kita lihat di series depan.

Aku berharap apapun kelanjutan hubungan yang terjadi diantara mereka, atau,, yah, apapun yang menjadi imajinasiku tidak samasekali membuat kalian kecewa. Series depan bakalan punya banyak hal untuk dijelaskan. Dan, as usual, aku tetap akan realistis. Cerita ini akan berakhir dengan sedikit pelajaran yang bisa diambil.

Last, semua yang bisa dapet PW buat series ini adalah kalian yang meninggalkan jejak di part sebelumnya. Jadi, peraturan yang sama akan aku terapkan di part ini. siapapun yang namanya tertera di kolom komentar, welcome to the next part.

So, see ya^^

With love, Park ji yeon.

197 thoughts on “Unexpected : Dirty Little Secret [3]

  1. Omona ! Apa lagi ini ? Begitu banyak rahasia antara mereka berdua.
    Dan lagi yoona hamil ? Gmn nasib anaknya klo ortunya gak nikah ?
    Haduhh … makin lama makin complicated. Gak tau siapa harus dikasihani. Smua menderita …

  2. Sebuah rahasia lagi yg akan terungkap, unexpected! untukku sebenernya semua emang unexpected banget, jadi khawatir banget buat chap chap yg selanjutnya
    Sebenernya pas baca chap ini aku udah nebak kalo donghae ada hubungan kematian sama ayah yoona..
    Hidup emang keras buat mereka, orang terdekatpun bisa menyakiti sampe sedalam itu
    Dan dunia emang sempit bagi mereka yg aaling berhubungan..
    Nice ff ^^ thanks

  3. bener” unexpected bngt
    ternyata donghae penyebab kematian appa yoona
    kyu yg bantu donghae biar ga d penjara
    bener” bikin penasaran dan degdegan pas bacanya

  4. ceritanya makin seru dan menegangkan,setelah diketahui yoona hamil masalah tambah parah dan kata2 terakhir kyu yg menambah garam dalam permasalahan mereka,aq jd melankolis gara terbawa suasana cerita ini..🙂

  5. Ceritanya makin seru, disini banyak diceritain flashbacknya jadi sedikit banyaknya tau gmana hubungan yoona donghae dulunya.
    dan dari situ menurut aku donghae egois banget gimanapun dia gak bisa nyalahin kyuhyun atas apa yang terjadi sekarang, jelas” donghae yang ninggalin yoona dulunya, walaupun ngak bisa juga nganggap kyuhyun bener,,makin rumit aja..
    btw kok bisa donghae ada hubungannya sama ayahnya yoona,,???

  6. Omggg
    Ternyata kenyataan dibalik kehidupan Kyu oppa emang bener2 menyedihkan
    Bahkan Kyu oppa mencintai noonanya sendiri
    Padahal di cerita sebelumnya nae kira cuma cinta sebagai saudara ternyata cinta antara lelaki dan wanita
    Untungnya ahra noona masih sadar kalau ga, mereka udah nikah kali ya
    Hehehe
    Oh ya ampunnn
    Yoong oenni hamil???
    Udah berapa bulan???
    Yoong oenni tahu kalau dia hamil???
    Dan astagaaa
    Ternyata sebenarnya donghae oppa dan Kyu oppa tahu kalau mereka saudaraan???
    Nae kira cuma Kyu oppa aja yg tahu
    Dan ternyata Kyu oppa ikut andil dalam kebohongan donghae oppa???
    Duh
    Ga tahu dah gimana reaksi Yoong oenni pas tahu semua kebenaran itu
    Semoga Yoong oenni ga melakukan hal2 yg membahayakan diri sendiri dan janinnya

  7. complicated banget! sesuai ama judul ya.. fakta2nya tuh unexpected. Haduh, ga kebayang deh kyu ada rasa ama noonanya sendiri.
    finally, yoona hamil! yeay!😀
    moga2 kyuhyun bisa ngerubah perspektifnya mengenai pernikahan.

  8. rahasia rahasia yg semakin lama memang harus terungkap ,
    dan semakin bikin ceritanya tambah seruu
    bagusss thor bikin emosi naik turun juga karena gregetan bacanya
    kereennn
    ijin lanjut baca

  9. its complicated…
    antara Kyuhyun – Yoona – Donghae, gak tega lhat donghae tapi gak mau kalo bukan Kyuna.. apalagi setelah apa yg terjadi d cerita seblm ny
    tunggu bukannya ff ini di protect ya sempet mau minta pw nya tpi lupa minta nya lewat mana(?)

    kata-kata dlm ff selalu membuat saya betah berlama-lama u/ membaca bhkan di ulang,
    gimana caranya y thor??

  10. eonnii😦 gimana ini?
    aku bener bener suka sama ff.mu
    ceritanya,pemilihan kata, alur,sudut pandang pokoknya seemuanya🙂
    kyunaa jjang . author daebakk🙂

  11. Yoona hamil😀 huaa, kabar baik.. Kyuhyun mau bertanggungjawab yg seperti apa? Donghae? Yg membunuh appanya yoona? Ahh, nextnya makin seruuu…

  12. Ga nyangka yoona onnie bner2 hamil,,,,tpi aq bner2 ksihan ma yoona onnie bru jdpet brita baik,,,mlah trungkap msa lalu yg menyakitkan,,,,,hix,,,hix,,,aq bner2 ga bsa ngmong pa,,,trlalu mnyedihkan,,,

  13. OMG! Makin banyak yg terkuak ya.. Trnyata ga sesimpel itu permasalahannya dan sama2 saling nutupin antara kyu & hae.
    Bener2 ga kebayang sampe situ..
    Semoga happy ending: “)

  14. hoalah. makin kesini konflik nya bikin gregetan…
    kan kan benar, ternyata yooona hamil..
    yah, walaupun kyu org yg benci dg status pernikahan, setidaknya ia masih bertanggungjawab pd bayi yg dikandung yoona..
    lah… donghae penyebab kematian appanya yoona, kok bisa ya??

  15. Donghae? Haaa OMG serius? Gak nyangka banget.
    Aku pikir disini Kyuhyun yg terbrengsek tapi ternyata Donghae… hyaaa ikan amis ><

    Terus berjuang Kyuhyun~ pertahanin Yoona sama janin yg dia kandung. Udahlah segerakan menikah! Duuh gregetan abis

  16. Daebaakkkkk daebakkkk… suka bgt sma alur cerita n penulisan kata2 nya.. aku greget sma konflik nya yg gk bsa ditebak dri awal.. dri kyu n donghae ternya sodara trus skrg keterlibatan donghae atas kmatian appa yoona.. trus kyuhyun yg duluan ternya jatuh cinta ama yoona.. sumpah thor kerennn bgt…

  17. WOW CERITANYA MAKIN SERU!!!
    TERNYATA BANYAK RAHASIA ANTARA KYU HAE….
    EONNI FF MU KEREN BGT (y)
    AKU JATUH CINTA SAMA FF INI😉

  18. ternyata kyuhyun menyukai yoona sejak lama .dan satu rahasia terbongkar lagi bahwa yang membunuh ayah yoona adalah donghae .apakh yoona masih peduki terhadap donghee setelah mengetahui rahasianya ..? semoga yoona tetap kuat krena sedang mengandung eh malah datang lagi masalah yang datang

  19. No, ohh tidak. Hubungan rumit macam apa ini ? Kyu sodara hae, dan dia nyelamatin hae dri jeruji bsi krna hae penyebab kematian ayah yoona ? Ohh kepalaku tdk bsa membayangkannya. Ini bnar bnar di luar dugaan. Bnar bnar rumit. Kuharap yoona tdk keguguran krna stress.

  20. Amazing…! Aku ngakak waktu baca yg Donghae tanya ‘Yoona hamil…bagaimana bisa?’ Gak tahu knp…otakku mikirnya kaya dia gak tahu caranya…ampun yadongnya gua 😂 Setakut takutnya Kyu ke wedding apa iya adanya bayi di antara mereka aturan itu masih berlaku. Berharap nikah deh…dan bagian akhir paling sial….aku surprize sm ceritanya. Mimpi yg sama….selalu ada di antara cinta segitiga beuhhhh lanjutt 😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s