Destiny (chapter 6)

img1436533894072

Destiny
Chapter 6

By : Park Hee Young
PG-15
Romance, Sad
Main Cast : Im Yoon Ah, Cho Kyuhyun, Lee Donghae
Support Cast : Choi Minho, Seohyun, Choi Sulli, Kwon Yuri, Yesung, etc.

 

 

Author POV

 

            “Hae, aku sudah menemukan semua yang kau cari. Dimana kita bisa bertemu?”

“Kau datang ke kantorku saja, kebetulan sekarang aku sedang tidak sibuk.”

“Baiklah…”

 

Sekitar 1 jam setelah percakapan mereka lewat telepon, Eunhyuk datang ke kantor sahabatnya itu dengan map tebal yang dibawanya.

“Ini, semuanya lengkap seperti yang kau minta.”kata Eunhyuk sambil memberikan map itu pada Donghae.

Donghae membuka map itu sekilas. Lembaran-lembaran dokumen yang berisi tentang Choi Kyuhyun sepupu tirinya.

“Gomawo, kau memang dapat diandalkan, Lee Hyukjae.”ungkapnya sambil menepuk pundak Eunhyuk.

“Lalu, mana imbalanku?”tanyanya sambil terkekeh.

“Kau ini selalu saja minta imbalan. Ini..”balas Donghae sambil memberikan secarik kertas yang bertuliskan sebuah nomer telepon. Tepatnya, nomer ponsel Jessica Jung. Sejak dulu, Eunhyuk memang menyukai Jessica. Namun, sifat Jessica yang sangat dingin dan jual mahal menurutnya membuat dirinya sulit mendapat bahkan mendekati yeoja itu.

“Nah itu baru sahabatku. Kau yakin kau tidak tertarik dengannya? Kau tau kan dia begitu menyukaimu sampai-sampai dia selalu menghiraukanku.”tanya Eunhyuk dengan girang.

“Ambil saja, lagipula aku sudah menetapkan hatiku pada satu yeoja.”ucapnya sambil melihat foto Kyuhyun dan Yoona lekat-lekat.

Foto itu cukup mengejutkan Donghae. Ternyata dulu mereka begitu dekat. Donghae pun membaca dokumen itu dengan teliti. Dia tak ingin ada satupun yang terlewat.

“Memangnya ada apa dengan sepupumu itu, Hae? Ku lihat dia tak pernah melakukan tindakan kriminal dan tindakan mencurigakan lainnya.”ujar Eunhyuk penasaran.

“Aku hanya ingin mengenal sepupuku lebih dalam lagi.”jawabnya sambil membaca dokumen itu.

“Oh ya, ku lihat dia sangat dekat dengan Yoona, adik Kwon Yuri. Aku mendapat info dari teman-teman mereka saat SMA, mereka berdua sangat dekat.”lanjutnya.

“Hyukjae, aku akan pergi. Kau akan tetap disini atau bagaimana?”tanya Donghae sambil merapikan map itu lalu menyimpan di brangkas miliknya, tempat dia menyimpan dokumen-dokumen penting.

“Aku tentu akan pergi ke ruangan Sica untuk menunggunya dan mengajaknya makan siang nanti. Kau mau pergi kemana?”tanya Eunhyuk yang sibuk menyimpan nomer ponsel Jessica.

“Aku akan pergi kesuatu tempat.”

 

***

 

Kedatang Kyuhyun yang secara tiba-tiba itu tentu membuat Yoona kaget. Terlebih dengan bunga matahari yang dia bawa untuknya. Keberadaan bunga matahari itu membuat Yoona seketika tau siapa orang yang mengirim bunga tersebut dan mengunjungi rumahnya. Tidak ada yang pernah memanggilnya bunga matahari selain Kyuhyun.

Pertanyaannya adalah, untuk apa namja itu kemari? Setelah dia memeluknya tiba-tiba lalu belakangan ini menghilang bagai ditelan bumi kini kembali mengejutkannya dengan muncul seperti ini.

Pertanyaan Yoona akhirnya terjawab ketika namja itu memintanya untuk kembali seperti dulu. Sungguh, Yoona sangat menginginkan hal itu. Dia lelah jika harus menghadapi dilema seperti ini. Lelah menghadapi seluruh perdebatan antara otak dan hatinya. Otaknya yang selalu melarangnya untuk kembali pada Kyuhyun dan tetap pada pendiriannya, juga hatinya yang selalu memaafkan Kyuhyun, merindukan sosok itu dan selalu ingin kembali padanya.

Yoona tau, rumah bagi hatinya adalah Kyuhyun.

Tapi semua tak semudah membalikkan telapak tangan. Luka yang Kyuhyun buat begitu sempurna sehingga tak mudah baginya untuk kembali seperti semula. Andai dia bisa, andai semuanya begitu mudah.

Yang membuat Yoona tak habis pikir adalah untuk pertama kalinya dia melihat namja itu menangis. Menitikkan air mata dan merintih karenanya. Bagaimana hatinya tak teriris? Membuat dirinya merasa bersalah meskipun dia tau Kyuhyunlah yang salah. Dia yang memulai ini semua sedangkan dirinya hanya melanjutkan apa yang telah Kyuhyun lakukan padanya.

Ucapan Kyuhyun membuat dia meluapkan seluruh isi hatinya. Yoona yang sudah lelah akhirnya harus terkapar lemah. Yeoja itu tak sadarkan diri dan jatuh dipangkuan Kyuhyun.

Kyuhyun tentu terkejut dan panik bukan main melihat Yoona pingsan seperti itu. Bukan hanya itu, kehadiran Yuri yang secara tiba-tiba membuat dia tak tau harus berbuat apa. Sedangkan Yuri, melihat namja yang selama ini selalu dia benci sedang meneriakkan nama adiknya. Emosi Yuri meluap-luap seketika.

 

“Choi Kyuhyun?”tanyanya. Lama tak bertemu membuat dia sedikit ragu dengan namja dihadapannya. Meskipun penampilannya berbeda jauh dengan dulu, mata namja itu tetap mata Choi Kyuhyun yang dia kenal. Namja yang membuat hidup keluarganya hancur dan membuat adik kesayangannya terluka.

“Noona..”

Kyuhyun tak tau harus berbuat apa. Jika Yoona begitu membencinya, Yuri pasti lebih membencinya.

 

“Ya Tuhan, Yoona!”ujar Donghae yang ternyata ada juga disamping Yesung. Donghae yang sama terkejutnya dengan Yuri, Yesung, juga Kyuhyun segera melepas Yoona dari dekapan Kyuhyun dan menggendong yeoja itu ke kamarnya. Yuri menyusul Donghae begitupun dengan Yesung yang mengikuti yeoja chingunya. Sedangkan Kyuhyun, dia mematung untuk beberapa saat hingga akhirnya dia memutuskan untuk ikut ke kamar Yoona.

“Biar aku hubungi dokter.”kata Yesung lalu keluar dari kamar Yoona menyingkir dari Yuri dan Donghae.

“Yoona-ya, ireona.”

Yuri begitu cemas dia tidak menyangka adiknya jatuh pingsan seperti tadi.

“Tenanglah, Yul.”kata Donghae yang mencoba menenangkan sahabatnya itu. Yoona sudah cukup lama terlelap dalam tidurnya. Dia belum juga siuman.

Kyuhyun menatap pemandangan itu dengan nanar. Melihat Yoona terbaring lemah seperti itu membuat dirinya terluka. Disatu sisi, kamar Yoona dan seluruh isi rumah ini begitu menyimpan banyak kenangan untuknya. Lama tak kemari membuat semua kenangan masa lalu berputar acak dalam benaknya. Lagi-lagi menyadarkan betapa dia merindukan masa-masa itu.

“Dokter Kim sebentar lagi datang. Kau tak usah cemas, chagi.” Yesung masuk kembali ke kamar Yoona lalu mengelus kepala Yuri dengan lembut.

 

“Noona…”panggil Kyuhyun pelan. “Mianhae. Jeongmal mianhae.”

Mendengar suara Kyuhyun Yuri kini menghampiri namja itu yang berdiri di dekat pintu kamar Yoona.

“Apa yang kau lakukan padanya?”tanya Yuri dengan tatapan yang tajam. “APA TAK CUKUP KAU MENYAKITINYA??!!! APA TAK CUKUP KAU MENYAKITI ADIKKU SEPERTI INI?!!”bentak Yuri dengan meneteskan air mata.

Kyuhyun hanya diam. Kepalanya tertunduk karena dia merasa bersalah.

“Setelah kau menyakiti Yoona dengan kejamnya, berani sekali kau datang kemari untuk menemui Yoona!”pekik Yuri.

“Aku hanya ingin memperbaiki semuanya, noona.”

“Cih, memperbaiki katamu? Kenapa baru sekarang? Kemana saja kau 10 tahun ini Kyu?? Kemana kau ketika Yoona begitu membutuhkanmu??!!”bentaknya lagi.

“Noona aku…”

“Sudah lebih baik kau pergi sekarang dan jangan lagi muncul dihadapanku ataupun Yoona. Kau sudah pergi dari kehidupan kami 10 tahun yang lalu dan akan selalu begitu hingga kapanpun.”

“Noona…”

“PERGI!! Pergi Choi Kyuhyun pergi!!!!!”isak Yuri yang semakin menjadi-jadi.

“Hentikan Yuri, hentikan.”ungkap Yesung mencoba menenangkan Yuri sebisa mungkin. Amarah terlalu menguasainya saat ini.

“Dengar, kau sudah menyakiti adikku. Dan aku tak akan membiarkanmu menyakiti Yoona lagi. Pergilah dan jangan kembali lagi, seperti yang sudah kau lakukan dulu pada Yoona. PERGI!!!”

Yesung mengisyaratkan pada Kyuhyun untuk mengikuti kemauan Yuri. Dengan berat hati namja itu pergi meninggalkan Yoona yang masih belum siuman.

Dia sadar, apa yang dikatakan Yuri padanya benar. Sangat benar. Apa yang dilakukannya tak bisa dimaafkan. Kehadirannya hanya akan melukai Yoona. Jika Yoona mendengar alasan mengapa Kyuhyun pergi meninggalkannya, yeoja itu akan terluka. Yoona akan terluka lagi.

 

            “Jangan pergi…jangan pergi. Jangan tinggalkan aku, eoma, appa..Kyu.”isak Yoona dalam tidurnya. Mendengar igauan Yoona, Yuri semakin khawatir sedangkan Dokter Kim mengamati Yoona yang mengingau.

“Eomma…appa…Kyuhyun… Andwae, andwae, andwae!!!!!”teriak Yoona hingga akhirnya dia tersadar.

            Perlahan kedua mata Yoona terbuka. Yeoja itu terlihat bingung. Kepalanya terasa begitu berat. Yoona mencoba memutar kembali ingatannya sebelum terbaring lemah di tempat tidurnya.. Kyuhyun. Nama itu yang langsung muncul dalam ingatan Yoona. Namja itu datang dan mereka…bertengkar. Hingga akhirnya Yoona jatuh pingsan dan semuanya begitu gelap. Dia tak sadarkan diri.

“Yoona!”panggil Yuri dengan tatapan khawatirnya.

“Eonni…”balas Yoona lemas. Yoona mencoba untuk bangun namun kepalanya yang terasa sangat sakit membuat dia sulit untuk bergerak. Donghae dengan sigap membantu Yoona untuk berbaring kembali di tempat tidur.

“Yoona, lebih kau jangan banyak bergerak dulu. Kau harus istirahat. Yuri, ada yang ingin aku sampaikan. Bisa kita bicara?”pinta Dokter Kim.

Yuri menganggukkan kepala lalu bersama Dokter Kim menjauh dari kamar Yoona. Perasaan Yuri mendadak tidak enak. Jika Dokter Kim sampai mengajaknya bicara seperti ini, pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Dokter Kim adalah Dokter pribadi keluarga Im. Dokter ini adalah salah satu sahabat Tuan Im, ayah keduanya. Dokter Kim juga merupakan guru Siwon saat di sekolah kedokteran dulu dan menjadi direktur rumah sakit tempat dimana Siwon bekerja.

“Ada apa, dokter?”tanya Yuri cemas.

“Kyuhyun, sudah kembali?”tanya Dokter Kim.

“Nee, dia orang terakhir yang bersama Yoona sebelum dia pingsan.”

Dokter Kim membetulkan posisi kacamatanya. “Begini, apakah belakangan ini Yoona sering mengeluh sakit kepala dan dia sering mengigau? Apakah dia jarang makan dan minum?”tanyanya lagi.

“Jika mengeluh sakit kepala, saya baru mendengar kemarin dan tadi pagi. Tapi belakangan ini memang Yoona selalu mengingau seperti tadi. Dan soal makanan, dia memang jarang makan dan minum. Belakangan ini makanan yang dimasak untuk Yoona selalu tak habis. Apakah itu wajar dokter?”

“Wajar, Yoona sedang berada dibawah tekanan yang luar biasa. Kondisi mentalnya benar-benar kacau. Yoona harus bisa mengendalikan emosi dan perasaannya. Jika tidak, saya khawatir kejadian 10 tahun yang lalu akan terulang lagi.”

“Maksud dokter…”

“Kasarnya Yoona bisa kembali mengalami depresi. Dia bisa mencoba bunuh diri lagi seperti dulu jika ini terus dibiarkan.”jelas Dokter Kim.

 

Lutut Yuri seketika lemas mendengar pernyataan Dokter Kim. Dia tentu masih ingat ketika Yoona begitu depresi. Tak ada satupun makanan dan minuman yang masuk ke dalam tubuh Yoona. Yoona selalu menangis hingga matanya sakit untuk mengeluarkan air mata. Yoona selalu menangis dan berteriak hingga tenggorokkannya kering dan suara yeoja itu nyaris hilang. Beberapa kali Yoona pingsan dam mengalami dehidrasi yang parah. Hingga pada akhirnya Yoona merasa tidak mempunyai gairah hidup memutuskan untuk bunuh diri. Hal itu merupakan mimpi buruk bagi Yuri. Dia tentu tak ingin kejadian itu terulang lagi. Cukup kehilangan eomma dan appa, Yuri tak ingin kehilangan Yoona. Satu-satunya keluarga yang dia miliki.

“Separah itu kah, dokter?”

“Memang terlihat kurang masuk akal. Kejadian 10 tahun yang lalu membuat keadaan psikis Yoona menjadi buruk. Kejadian 10 tahun lalu semuanya nyaris dibawah kesadaran Yoona. Seperti tadi, ketika dia mengigau dia sama sekali tidak akan ingat. Yoona juga tidak akan pernah sadar dengan keadaan psikologisnya. Meskipun Yoona mencoba untuk kuat. Sebenarnya adikmu itu sangat rapuh dan perlu dijaga agar emosi dan perasaannya tidak bergejolak seperti sekarang ini.”terang Dokter Kim.

Yuri mengusap wajahnya frustasi. Dia benar-benar tak menyangka kehadiran Kyuhyun membuat semua menjadi separah ini.

“Lalu apa yang harus saya lakukan?”

“Jangan sampai Yoona tertekan. Jaga emosi dan perasaannya.”

“Nee, saya mengerti.”

 

Setelah memeriksa keadaan Yoona lagi, Dokter Kim pergi hingga tersisa Yuri, Yesung, Yoona, serta Donghae.

Donghae tidak menyangka dengan apa yang dia lihat. Dia kira semuanya tidak serumit ini. Namun dia salah. Masa lalu antara Kyuhyun dan Yoona tidak seperti yang dia bayangkan sebelumnya.

“Kau harus makan lalu minum obat, arraseo?”ucap Yuri sambil membawa makanan untuk adiknya.

Awalnya Yoona menggeleng. Dia tak ingin makan maupun minum. Nafsu makannya benar-benar hilang sejak kembalinya ‘Choi Kyuhyun’ dalam hidupnya. Namun Yuri terus membujuk Yoona hingga akhirnya Donghae ikut membujuk Yoona. Namja itu bersikeras untuk menyuapi Yoona.

“Ini perintah, Na-ya. Kau tak boleh mengabaikan perintah atasanmu.”ucap Donghae terlihat serius.

Yoona pun mengangguk. Dia tak bisa mengabaikan perintah atasannya. Meskipun dia tau, Donghae tidak serius dengan ucapannya. Tapi entahlah, hatinya mengatakan bahwa dia harus menuruti kemauan Donghae.

Yuri tersenyum melihat Yoona dan Donghae. Dari dulu, sejak pertama kali mengenalkan adiknya dengan sahabatnya itu, Yuri melihat bahwa keduanya cocok. Yuri ingin sekali Yoona bersanding dengan namja baik seperti Donghae. Apalagi Donghae berkata bahwa dia menyukai adiknya. Namun sayang, Yoona lebih membuka hatinya untuk Siwon dan pada akhirnya dia harus terluka karena kehilangan Siwon.

Menurut Yuri, hanya Donghae lah yang pantas untuk Yoona. Dia sudah tidak percaya lagi pada seluruh namja di keluarga Choi. Choi Kyuhyun dan Choi Siwon. Keduanya dengan kompak menyakiti perasaan adiknya.

Mungkin, inilah saat yang tepat bagi Yoona dan Donghae untuk bersatu. Itulah yang terlintas dalam benak Yuri kini.

 

“Baiklah, asal oppa menaikkan gajiku dan memberikanku hari libur dalam setiap minggunya.”ujar Yoona sambil terseyum.

“Ya! Sudah mulai berani rupanya..”

 

Lalu keduanya tertawa. Meskipun tawa yang keluar dari Yoona tidak sepenuh hati.

 

***

 

Yoona

 

            “Gomawo oppa, lagi-lagi aku merepotkanmu.”ucapku.

Pagi ini hari pertama aku kembali bekerja sejak aku jatuh sakit beberapa hari yang lalu. Donghae oppa dengan begitu baiknya menjagaku dan merawatku selama sakit. Yuri eonni yang pergi ke luar kota bersama Yesung oppa karena pekerjaan mereka membuat mereka tak bisa mengurusku. Aku yang bersikeras bisa merawat diriku sendiri malah mendapat amukan dari eonni. Dia mengancam akan membawaku ke rumah sakit untuk rawat inap. Akhirnya lagi-lagi Donghae oppa yang menawarkan diri untuk menjadi suster pribadiku.

“Kau jangan bekerja terlalu berat dulu untuk hari ini, arraseo?”balas Donghae oppa sambil mengelus kepalaku.

“Nee..”balasku mengangguk pasrah.

 

Donghae oppa turun dari mobil lalu membukakan pintu untukku. Memperlakukan aku bagai putri. Yeoja manapun pasti akan tersentuh dengan setiap perlakuan Donghae oppa. Begitupun denganku. Namun ini semua tak berarti apa-apa.

Oppa menggandeng tanganku dari basement sampai ke lobi kantor. Tentu pemandangan ini menjadi bahan gossip dan bahan obrolan seluruh pegawai kantor di pagi hari. Ku lihat mereka berbisik-bisik saat melihat kami berdua. Aku yang merasa sedikit risih berbeda jauh dengan Donghae oppa yang merasa cuek dan merasa nyaman dengan situasi ini.

Di dekat lobi pun kami berpapasan dengan Kyuhyun.

 

“Oh, Kyuhyun-ah!”sapa Donghae oppa.

Kyuhyun yang pada awalnya berusaha menghindari kami terpaksa mengurungkan niatnya dan mau tak mau menghampiri kami.

“Hyung.”balas Kyuhyun dengan senyumnya yang terasa terpaksa.

Aku membungkukkan sedikit badanku pada Kyuhyun. Sebagai bentuk penghormatan terhadap atasanku. Kyuhyun pun membalasnya dengan menganggukkan sedikit kepalanya.

“Bagaimana keadaanmu, Im Yoona-ssi?”tanya Kyuhyun yang begitu formalnya.

“Sejauh ini saya sudah membaik.”balasku yang sama-sama formalnya.

Kyuhyun hanya terseyum biasa lalu dia pamit untuk pergi ke ruangannya. Aku benar-benar tak mengerti dengan kami berdua. Terakhir kali bertemu dengannya, dia membentakku, memperlihatkan padaku bahwa dia benar-benar Choi Kyuhyun. Setelah aku sadarkan diri, namja itu tak ada dan tak pernah menampakkan lagi dirinya dihadapanku. Sekarang? Ketika bertemu denganku seolah-olah semuanya tak pernah terjadi. Apa yang sebenarnya terjadi?
“Na-ya, gwenchana?”tanya Donghae oppa membuayarkan lamunanku.

“Oppa, lebih baik aku pergi ke ruanganku sekarang. Banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan. Aku meninggalkan banyak pekerjaan, bukan?”

 

Aku pun pamit lalu berjalan menuju ruangan kerjaku. Ketika aku membuka pintu, Sulli sudah menyiapkan seluruh dokumen, rancangan pemotretan dan desain yang harus ku periksa serta ku koreksi.

“Nona, senang bisa melihat anda hari ini. Bagaimana keadaan anda?”tanyanya dengan memasang senyum ramah seperti biasa.

“Aku sudah membaik. Terima kasih kau sudah menghandle semuanya selagi aku tidak masuk kantor.”balasku.

“Baiklah nona, kalau ada apa-apa anda bisa menghubungiku.”ujar Sulli lalu meninggalkan ruanganku.

 

Setelah Sulli keluar dari ruanganku, aku segera memeriksa dan mengoreksi seluruh pekerjaanku. Tapi tetap, pikiranku masih tertuju pada Kyuhyun. Melihatnya di lobi tadi mengacaukan pikiranku. Wajahnya terlihat sedih dan kecewa ketika melihatku dengan Donghae oppa. Persis ketika dia melihatku dengan Siwon oppa.

Aku pergi ke kedai kopi kesukaanku lalu diam di taman kantor untuk menenangkan diri. Ani, kelihatannya aku sama sekali tidak menenangkan diri. Yang ada aku hanya memikirkan pertemuanku dan Kyuhyun tadi. Apa semua selesai sampai disini? Begini kah akhir dari kisah kami?

            “Ku dengar beberapa hari kemarin kau sakit. Bagaimana keadaanmu sekarang?”tanya Minho yang sungguh mengejutkanku. Tiba-tiba entah kapan aku sendiri tak sadar, namja itu sudah duduk disebelahku.

“Ya! Kau ini kemana saja, hah?! Temanmu sakit kau tak menjengukku. Tega sekali.”cibirku sambil menyeruput Cappuccino milikku.

Minho merebut Cappuccino itu lalu meminumnya sampai habis. Melihatnya tentu membuatku jengkel. Seperti biasa, Minho memberikan sebotol air mineral padaku. Tatapan Minho memaksaku untuk menerima air mineral darinya hingga mau tak mau aku menerima dan menerimanya dengan terpaksa.

“Kau ini baru sembuh malah minum kopi!”omel Minho.

“Kau belum jawab pertanyaanku malah berani mengomeliku. Kau kemana saja, hah?”balasku ketus.

“Selama kau sakit aku pergi ke Jeju. Nenekku meninggal dunia jadi aku mengurus banyak hal disana. Aku tak sempat mengabarimu. Semuanya begitu mendadak dan keluargaku begitu kalut, terutama eomma. Ketika aku sampai kantor dan mencarimu aku bertemu Sulli. Dia bilang kau keluar untuk membeli kopi. Aku mencarimu di kedia kopi tapi kau tidak ada. Jika tidak ada disana, sudah bisa dipastikan kau ada di taman ini.”jelas Minho.

“Omo, aku turut berduka cita.”kataku sambil mengusap pundak sahabatku ini.

“ Jadi, bagaimana keadaanmu?”tanya Minho lagi.

“Sudah cukup membaik.”balasku sambil membuka pintu ruangan kerjaku.

“Ku dengar Donghae sunbaenim yang merawatmu ketika sakit?”tanya Minho. Pertanyaanya itu sukses membuatku terdiam. Minho menyikutku agar dia segera mendengarkan jawaban dariku.

“Ne, dia lah yang merawatku selama ini. Eonni dan Yesung oppa sedang dalam perjalanan bisnis mereka.”

“Lalu, ku dengar dia mengantarmu tadi pagi. Seisi kantor lagi-lagi dihebohkan dengan gossip kalian berdua.”ungkap Minho yang dari raut wajahnya menantikan pembenaran dariku.

“Aigoo, kau ini mata-mata atau apa?”

“Mata dan telingaku ada dimana-mana Im Yoona.”candanya dan sukses membuatku tertawa. “Sulli yang memberitauku. Selama aku di Jeju dia melaporkan semuanya padaku.”

“Ya! Kau ini memanfaatkan asistenku! Soal Sulli, ku lihat dia menyukaimu. Aku sudah menyadarinya sejak lama.”kataku sambil meminum air mineral yang Minho beri.

“Aku tau, aku sadar. Aku sedang mencoba membuka hatiku untuknya.”balas Minho dengan senyuman.

Mendengarnya tentu membuatku sangat terkejut. Aku bahagia mendengarnya. Aku bersyukur hubungan kami berdua masih baik-baik saja setelah kecanggungan luar biasa yang terjadi diantara kami. Dan aku lebih bahagia lagi ketika Minho mulai membuka hatinya untuk Sulli. Yeoja itu baik dan ku rasa dia pantas untuk Minho. Lalu bagaimana dengan diriku?

“Lalu bagaimana denganmu?”tanya Minho yang kini menatapku dengan serius. Apa namja ini bisa membaca pikiranku? Menyeramkan sekali.

“Bagaimana apanya?”tanyaku yang pura-pura tak maksud perkataan Minho.

Minho yang kesal menjitak kepalaku pelan. “Aish!”cibirnya. “Bagaimana antara kau dan Kyuhyun? Maafkan aku, aku bertindak diluar batas saat terakhir kali bertemu dengannya.”

Aku menghela nafas panjang. Terasa berat ketika membicarakan hubungan antara aku dan Kyuhyun. “Entahlah, lagi-lagi dia bertindak seolah tak terjadi apa-apa.”jawabku miris.

“Yasudahlah, kau tak perlu memikirkannya lagi. Takdir belum berpihak pada kalian berdua.”

Aku hanya mengangguk pasrah setuju dengan apa yang diungkapkan Minho. Takdir belum berpihak padaku dan Kyuhyun. Takdir begitu kejam terhadap kami.

“Lalu bagaimana dengan sunbae?”lanjutnya.

“Sunbae? Donghae sunbae?”tanyaku memastikan.

“Tentu saja. Kau kira sunbae mana lagi?”cibir Minho. Minho mengelus kepalaku lembut sambil tersenyum padaku. “Yoong, Donghae sunbae adalah namja yang baik. Dia mencintaimu dengan tulus. Aku bisa melihatnya.”

“Arra, aku tau. Aku sedang mencoba membukakan hatiku sama seperti kau yang membuka hatimu untuk Sulli.”jawabku dengan berat hati. Aku tak tau betapa beratnya mencoba membuka hatiku..lagi.

 

Kyuhyun

 

            Lagi-lagi aku bersalah terhadap Yoona. Aku terlalu menekannya hingga dia jatuh pingsan seperti itu. Reaksi Yuri noona ketika melihatku tak jauh dari apa yang aku perkirakan. Dia begitu marah padaku dan begitu membenciku. Dia memintaku untuk pergi saat itu. Dengan berat hati, aku meninggalkan Yoona dan tak pernah tau lagi bagaimana kabarnya. Aku tak memiliki keberanian menanyakan kabar Yoona pada noona. Pada Minho? Namja itu hampir membunuhku karena hantamannya yang begitu keras.

Berhari-hari aku tak melihat Yoona di kantor. Ketika aku bertanya pada asistennya, Sulli, dia bilang bahwa Yoona sedang sakit. Yoona masih sakit? Siapa yang tidak khawatir mendengar kabar itu? Separah apakah Yoona sampai berhari-hari dia tidak bekerja?

Yang mengejutkan bagiku adalah Yuri noona datang menemuiku di kantor lalu mengajakku untuk bicara. Aku mengiyakan ajakan noona dan kami memilih kedai kopi favorit Yoona sebagai tempat untuk berbicara.

 

“Maafkan aku jika aku begitu keras terhadapmu, Kyuhyun-ah.”ungkapnya membuka pembicaraan diantara kami.

“Noona tak salah. Aku pantas mendapatkannya setelah apa yang aku lakukan pada kalian, terutama Yoona.”jawabku.

“Aku ingin mendengar langsung darimu, apakah kau masih mencintai adikku?”

Aku tak tau harus menjawab apa. Apakah aku harus berbohong atau menjawab yang sebenarnya? Noona kembali bertanya padaku, mendesakku untuk menjawab.

“Nee, noona. Perasaanku terhadap Yoona tak pernah berubah.”jawabku.

Yuri noona mengusap wajahnya dan membuang nafasnya dengan berat setelah mendengar jawaban dariku. “Maukah kau melakukan sesuatu untuk Yoona? Untuk kebaikan dan kebahagiaannya.”

Perasaanku seketika menjadi tidak enak dan tidak karuan ketika mendengar permintaan noona. Noona menjelaskan tentang kondisi Yoona. Menjelaskan apa yang terjadi dengan Yoona saat dia kehilangan kedua orang tuanya dan ketika aku meninggalkannya. Aku benar-benar tidak menyangka semuanya seburuk itu. Kondisi psikis Yoona kini menjadi terganggu. Jika terus dibiarkan dia bisa bunuh diri.

Permintaan Yuri noona hanyalah satu. Aku pergi dari hidup Yoona dan tak pernah kembali. Tidak mudah bagiku melakukan itu semua. Aku begitu mencintai Yoona dan ingin bahagia bersamanya. Tapi, sepertinya semua itu tak lagi mungkin.

Aku…aku gagal mengubah takdir dengan tanganku sendiri. Aku dan Yoona tak mungkin bisa bersatu.

 

***

Demi kebahagiaan Yoona aku rela menjauh darinya. Aku rela menghilang dari hidupnya…selamanya. Kehadiranku hanya akan membuatnya menderita. Dan aku tak ingin itu semua terjadi.

Hari itu, dadaku terasa sakit ketika melihat Donghae hyung menggandeng Yoona seperti itu. Aku mencoba menghindar tapi sialnya hyung memanggilku sehingga mau tak mau aku harus menghampiri mereka. Ketika bertemu Yoona aku ingin sekali memeluknya, menanyakan keadaan dan memastikan kalau dia baik-baik saja. Tapi rasanya aku tak perlu melakukannya. Donghae hyung begitu menjaga Yoona dengan baik. Kurasa..

“Bagaimana keadaanmu, Im Yoona-ssi?”tanyaku yang begitu formalnya. Aku berusaha untuk berlaku seperti tak terjadi apa-apa diantara kami. Dengan begitu, aku harap Yoona semakin membenciku dan membuatku semakin mudah untuk pergi darinya. Meskipun aku tau itu tak mungkin.

Tak ada satupun perpisahan yang mudah bukan?

“Sejauh ini saya sudah membaik.”balas Yoona yang sama-sama formalnya.

Syukurlah. Ucapku dalam hati. Aku segera melarikan diri dari hadapan mereka berdua karena jujur saja, aku tak kuat. Aku tak kuat melihat Yoona dengan Donghae hyung seperti itu. Pemandangan itu menamparku dengan keras. Mengingatkanku bahwa Yoona memang tidak ditakdirkan Tuhan untukku.

 

“Kyuhyun-ah, ada yang ingin ku bicarakan denganmu. Bagaimana kalau kita makan siang bersama.”ajak Donghae hyung.

“Kedengarannya bagus. Kebetulan sekali.Ada yang ingin kukatakan pada hyung.”balasku.

 

Aku tau apa yang akan hyung bicarakan terhadapku. Pasti ini mengenai Yoona. Sangat mengejutkan ketika Yoona pingsan Donghae hyung datang bersamaan dengan Yuri noona dan Yesung hyung.

“Apa yang ingin hyung bicarakan?”tanyaku sambil menyantap makan siangku.

“Ya! Kita kan sedang makan. Habiskan dulu makanannya baru kita bicara. Kau ingin tersedak, huh?”cibir hyung dengan gaya bercandanya.

Setelah selesai makan akhirnya Donghae hyung membuka percakapan diantara kami. Percakapan yang sebenarnya menjadi menu utama di makan siang kami.

“Kyu, aku tau apa yang terjadi diantara kau dan Yoona dimasa lalu.”ucap Donghae hyung. Hal ini bukan hal yang baru. Orang yang berkuasa dan memiliki banyak relasi sepertiku dan hyung tentu dapat dengan mudah mendapatkan informasi yang mereka inginkan. Seperti apa yang aku lakukan untuk mendapat informasi tentang Yoona dan kini hyung mengobrak-abrik informasi tentangku untuk mengetahui tentang kehidupan masa laluku.
“Lalu?”tanyaku mencoba untuk tenang. Padahal aku tau, arah pembicaraan ini adalah tak lain hyungku ingin merebut Yoona dariku dan menyuruhku pergi seperti apa yang Yuri noona lakukan. “Kau memintaku untuk pergi dan menjauh dari Yoona bukan?”tembakku.

Donghae hyung terlihat terkejut mendengar ucapanku. Namun dia berusaha tetap tenang sama sepertiku.

“Kau tak perlu khawatir hyung, mulai besok aku akan kembali ke Amerika. Dan aku tak tau apakah aku akan kembali lagi atau tidak. Maka dari itu aku menyampaikan salam perpisahan serta permohonan maaf padamu.”ucapku yang sukses membuat Donghae hyung hampir memuntahkan minuman yang baru saja dia teguk.

“Ini yang ingin kau bicarakan padaku?”tanyanya.

Aku mengangguk. “Aku ingin meminta sesuatu padamu. Kau kini sudah tau apa yang terjadi diantara aku dan Yoona. Dia begitu terluka, hyung. Tolong jaga Yoona dan buatlah dia bahagia.”pintaku.

Ya Tuhan, dadaku rasanya sakit dan begitu sesak. Untuk kedua kalinya aku harus merelakan Yoona dan menyerahkannya pada orang lain, kepada hyungku.

“Keputusanku untuk kembali ke Seoul ternyata salah. Aku berusaha untuk memperbaiki semuanya namun yang ku lakukan adalah semakin menghancurkannya.”

“Kau tak perlu khawatir, Kyuhyun-ah. Aku akan menjaga dan mencintai Yoona sepenuh hatiku. Aku tak akan menyakiti dan meninggalkannya. Aku berjanji padamu.”balas Donghae hyung dengan mantap.

“Gamawo, hyung. Aku rasa aku harus pergi. Banyak yang harus aku urus sebelum aku pergi besok.”ucapku lalu pergi dari hadapan Donghae hyung.

Aku kembali ke kantor sambil merutuki diriku sendiri. Sebagian hatiku benar-benar tak ingin melakukan ini. Ku kira, semuanya akan lebih mudah karena ini bukan yang pertama kali bagiku. Tapi sialnya, rasa sakit itu tak penah berubah malah semakin sakit terasa.

 

***

Author POV

 

            Kyuhyun mencoba menahan tangisnya namun dia tak bisa. Rasa sakit begitu menyelimuti dirinya hingga cairan bening itu menetes begitu saja. Percakapannya dengan Donghae dan Yuri membuatnya mau tak mau harus pergi, melarikan diri lagi.

Mungkin ini memang yang terbaik untukknya, ini yang terbaik bagi Yoona.

Ketika selesai membereskan semua urusannya di kantor, Kyuhyun berpamitan dengan beberapa pegawai disana. Dia mengucapkan terima kasih dan meminta maaf. Tak terkecuali Minho. Mereka berdua akhirnya berbicara layaknya teman lama.

“Terima kasih selama ini kau selalu menjaga Yoona dengan baik. Ku harap kau bisa terus melakukannya.”ucap Kyuhyun.

“Nee, kau tau Kyuhyun-ah? Yoona begitu mencintaimu. Ku yakin kau juga begitu. Jika kalian ditakdirkan untuk bersama, takdir akan menuntun kalian untuk bersatu. Percayalah.”ungkap Minho.

Kyuhyun hanya mengangguk. Percakapan singkatnya dengan Minho mengenai takdir begitu terngiang-ngiang dalam benaknya. Jelas, Tuhan tidak menghendaki dia dan Yoona untuk bersatu. Takdir tidak mempersatukan mereka sekeras apapun dia mencoba. Takdir begitu kejam terhadap keduanya.

Itu belum seberapa. Melihat Donghae membawa buket bunga ditangannya membuat dada Kyuhyun semakin sesak. Ditambah lagi dia melihat Yoona ada disana. Yoona tersenyum tersipu malu ketika Donghae memberikan buket bunga mawar itu.

Kyuhyun memutuskan untuk segera pulang ke apartemennya. Dia tak sanggup jika harus berlama-lama melihat adegan itu.

 

Baru saja ketika dia duduk di sofa apartemennya, suara bel apartemennya terdengar oleh telinga namja itu. Dengan tak ada tenaga dan gairah Kyuhyun bangkit lalu melihat siapa yang memijit bel apartemennya.

“Ahra noona?”tanyanya heran.

Kyuhyun membuka pintu apartemennya dan sesaat ketika Ahra masuk ke apartemennya, yeoja itu langsung memarahi Kyuhyun karena tak habis pikir dengan apa yang dilakukan adiknya itu.

“Ya! Kau ini gila? Apa kau ini bodoh?”pekiknya.

“Noona, aku tak mengerti apa maksudmu. Datang-datang kau langsung memarahiku seperti itu.”ujar Kyuhyun yang berbohong. Jelas dia tau, jika noonanya marah seperti ini tak lain dan tak bukan mengenai dirinya dan Yoona.

“Kau pikir aku tidak tau, hah?!!”bentaknya lagi. “Untung adik tirimu itu memberitauku. Dia bilang kau akan pergi ke Amerika besok dan kau menyerah untuk mendapatkan Yoona.”pekiknya.

“Seohyun?”tanya Kyuhyun bingung. Namja itu sama sekali belum memberitau adiknya mengenai Yoona.

“Dia tau semuanya, bodoh.”cibir Ahra yang benar-benar kesal. “Dia menemukan fotomu dan Yoona di laci. Seohyun penasaran dan bertanya sendiri padaku. Lalu dia mendengar kabar tentang kepergianmu ke Amerika dan alasan yang kau beri padanya sungguh tak masuk akal. Jadi dia mengasumsikan bahwa satu-satunya alasan mengapa kau kembali ke Amerika adalah Yoona.”jelas Ahra.

Barulah dia tersadar. Seohyun mengobrak-abir lacinya untuk mencari kotak obat. Dia pasti menemukan foto itu disana.

“Noona, kau harus mendengar penjelasanku.”

 

Kyuhyun pun menjelaskan semuanya pada Ahra. Tentamg kejadian saat dia datang ke rumah Yoona hingga yeoja itu pingsan, tentang pertemuannya dengan Yuri juga tentang pertemuannya dengan Donghae.

Meskipun begitu, Ahra sama sekali tidak setuju dengan keputusan Kyuhyun. Menurutnya melarikan diri tidak akan menyelesaikan masalah. Memang benar, Kyuhyun juga sempat berpikiran seperti itu. Tapi tetap saja, semakin dia mencoba memperbaiki semuanya malah semakin hancur.

Ahra tidak terima dengan keputusan Kyuhyun. Lagi-lagi dia harus pergi, mengalah, tanpa menjelaskan semuanya pada Yoona. Yoona harus tau kebenarannya bagaimanapun juga. Dia tidak hanya duduk diam melihat semua ini terjadi di depan matanya. Dia pernah melakukan kesalahan di masa lalu dengan menutup mulutnya dan mengunci dirinya rapat-rapat terhadap kenyataan yang terjadi. Namun tidak dengan sekarang.

 

***

“Terima kasih atas kerja sama dan bimbingannya. Aduh, mengapa jadi sedih seperti ini?”ucap Seohyun ketika dia berpamitan dengan seluruh kru di ruang pemotretan. Kembalinya Kyuhyun ke Amerika membuat tak ada alasan lagi bagi Seohyun untuk tetap di Korea. Maka dari itu, dia memutuskan untuk pergi mengikuti oppa-nya.

Yoona yang melihat pemandangan itu terheran-heran.

“Apa yang dilakukan Seohyun? Mengapa dia berpamitan seperti itu?”tanyanya.

“Nona Seo akan kembali ke Amerika. Nona tidak tau?”jawab Sulli yang malah berbalik bertanya padanya. Jelas dia tidak tau mengenai hal itu. Kemarin dia meninggalkan kantor lebih awal karena Donghae mengajaknya pergi ke Namsan Tower dan makan malam disana.

“Aku tidak tau apa-apa.”jawab Yoona yang masih bingung.

“Tuan Choi maksudku Tuan Lee juga akan pergi ke Amerika.”ungkap Sulli.

Hal ini sukses membuat Yoona lebih terkejut lagi. Tuan Lee mana lagi yang dimaksud Sulli selain Kyuhyun? Kyuhyun akan kembali ke Amerika tanpa berpamitan padanya? Mengapa dia melakukan itu?

“Aku tidak tau. Dia tidak mengatakan apapun padaku.”jawab Yoona kecewa.

 

“Eonni..”panggil Seohyun sembari menghampiri Yoona.

“Kau akan kembali ke Amerika? Mendadak sekali.”ucap Yoona yang tak bisa menyembunyikan rasa sedih dan kecewanya.

“Nee, mianhae. Oppa membuat keputusan ini secara tiba-tiba.”jawab Seohyun.

Yoona hanya mengangguk. Dia benar-benar tak habis pikir. Beginilah akhir dari semua ini. Kyuhyun memilih untuk meningalkannya lagi. Tanpa mengucapkan selamat tinggal, tanpa meninggalkan penjelasan apapun padanya.

Yoona mencoba menguatkan dirinya meskipun dia tak bisa. Di ruangannya dia menangis sambil membekap mulutnya. Dia mengira perpisahannya dengan Kyuhyun kali ini tidak akan seberat ini. Tidak akan seberat ketika dulu Kyuhyun meninggalkannya. Namun dia salah. Rasa sakit yang dia rasakan tak ada bedanya.

Sulli yang mengetahui Yoona terisak diam berjaga di depan ruangan atasannya. Jika ada yang ingin menemui Yoona, yeoja itu menghalanginya dan mengalihkan semua urusan itu padanya, termasuk Donghae. Donghae mengerti. Dia kembali ke ruangannya karena dia tau, Yoona butuh waktu untuk sendiri. Ini memang tidak akan pernah mudah untuk Yoona.

 

“Maaf, Nona Im sedang tidak bisa diganggu.”ujar Sulli kepada seorang yeoja yang tiba-tiba datang dan ingin bertemu dengan Yoona. Yeoja itu terlihat begitu cemas dan dia harus bertemu dengan Yoona secepatnya. Sulli bersikeras untuk mengahalangi yeoja itu karena dia bukan pegawai kantor ini dan dia rasanya belum pernah melihat yeoja itu.

“Sebentar saja. Ini penting sekali!”pinta yeoja itu bersikeras agar dia bisa bertemu dengan Yoona.

“Tapi nona..”

Mendengar keributan di luar ruangannya, Yoona segera mengusap air mata dan memoleskan sedikit make up di wajahnya agar dia tidak terlihat pucat dan matanya tidak terlihat sembab. Setelah ituYoona membuka pintu ruangannya dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang ada disana.

“Eonni?”

“Yoona-ya, ada sesuatu yang ingin ku tunjukkan dan ku sampaikan padamu.”ungkap Ahra. Ya, yeoja itu adalah Ahra.

“Masuklah, eonni.”ajak Yoona lalu mereka berdua masuk ke dalam ruangan Yoona dan Yoona meminta Ahra untuk duduk.

“Ada apa, eonni?”tanya Yoona hati-hati. Dia tidak pernah melihat Ahra sepanik dan secemas ini. Dia juga bisa melihat keringat menetes di kening yeoja itu. Dia bisa menebak Ahra telah berlari karena napasnya juga terengah-engah.

“Ini..”ujar Ahra lalu menunjukkan sepucuk surat pada Yoona. Yoona semakin tak mengerti. Surat apa ini? Untuk apa Ahra memberikan surat ini padanya? Apakah ini ada kaitannya dengan kembalinya Kyuhyun ke Amerika?

Yoona menerima surat itu dengan tangan yang bergetar. Pertanyaan-pertaanyaan yang sebelumnya timbul dalam otak Yoona bukannya terjawab malah semakin bertambah. Ditambah lagi betapa terkejutnya dia ketika melihat untuk siapa surat itu ditujukkan dan siapa yang menulis surat itu.

“Andwae…”

 

Tangan Yoona semakin bergetar ketika membaca isi dari surat itu. Air matanya menetes begitu sama membasahi pipi yeoja itu. Yoona merasa seluruh tubuhnya begitu lemas. Saking lemasnya surat itu terjatuh begitu saja dan tubuhnya serasa ambruk.

Dia benar-benar tak percaya dengan semua kenyataan yang tersurat dalam tulisan itu. Sama sekali tak terlintas dalam pikiran dan benaknya. Sama sekali tidak.

 

TBC

 

              Hai para readers!! Destiny chapter 6 udah selesai nih huehehe. Rencananya udah ini bakalan ada 1 chapter terakhir hehehe. Tapi masih bingung antara dibagi jadi dua part atau satu part aja. Penasaran? Hehe tunggu yaaa. Semoga readers makin suka yaa sama ceritanya. Maaf kalau ceritanya makin nggak jelas, makin ngebingungin, atau nggak sesuai sama yang readers harepin huhuhu. Jangan lupa komentar sama masukannya yaa supaya aku bisa makin semanget nulis sama bisa makin baik lagi buat cerita kedepannya. Terima kasih udah baca ff ku. Enjoy the story.

41 thoughts on “Destiny (chapter 6)

  1. Lama bangeet gak lanjutin baca ff ini, jadi mulai baca lagi dari chapt 1, cuman gak komen satu persatu ya author. Di chapt 6 ini seru banget banget banget, alurnya itu kereeen. Narik ulur hati dan perasaan pembacaa pokoknya da best deh!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s