FRIENDS [Find The Truth]

Poster Phynz20 Friends [Find the Truth] by Cloverqua

FRIENDS

[Find the Truth]

.

©Phynz20

Starring: Im Yoona [GG] – Kwon Yuri [GG] – Seo Joohyun [GG] || Rated: PG-17 || Genre: Friendship, Slice of Life, Drama, Hurt/Comfort || Length: 4100 word(s) || Disclaimer: All cast is belong to God. But, this story is mine a. k. a. Phynz20.

.

Special thanks to  cloverqua @ Art Fantasy for the awesome poster!

.

"Teman, adalah hal yang paling berarti ketika kamu remaja."

.

Kala itu, siang hari pertengahan musim gugur. Hari pertama ketika ia mulai menampakkan tanda-tanda tak wajar selama tiga tahun terakhir. Mungkin juga hari dimana kami bertiga tak akan bisa lagi punya suasana seperti biasanya.

Mendung menyelimuti angkasa, tapi itu bukan berarti apa-apa. Di musim gugur seperti ini, mendung bukan berarti hujan dan hujan tak juga diawali dengan mendung. Semua bisa datang tiba-tiba seperti kisah kami.

Seperti rahasia kami.

Kebenaran yang memenjara kami.

“Kau sudah membaca buku yang kuberikan?”

Kulihat dengan jelas Yuri mendengus disana. Ia tampak tak begitu suka dengan pertanyaan Joohyun. Harus kuakui, mereka itu hebat. Bisa saling berteman padahal sifat bertolak belakang.

“Bisa tidak kau berhenti mencekokiku dengan buku-buku tak masuk akal itu?”

Aku akan menceritakan sedikit tentang kisah kami sebelum kamu mulai bertanya-tanya apa yang terjadi. Kami bukan geng populer, tapi kami juga bukan geng anak-anak culun. Kami tidak jelek, pun kami tidak cantik—walau harus kuakui sesungguhnya beberapa orang diluar sana mengagumi paras kami. Kami bukan geng anak nakal, bukan juga geng anak pintar—meski harus kuakui lagi, dua diantara kami adalah salah satu yang kusebutkan tadi.

Aku, Yuri dan Joohyun sudah berteman sejak kami di semester pertama kuliah. Tidak ada yang tahu mengapa kami bisa sebegini dekatnya. Kalau orang lain mungkin berteman karena memiliki banyak kesamaan, justru kami mempunyai banyak perbedaan.

Sudah kukatakan tadi, diantara kami ada anak nakal. Tak bisa kubilang nakal sesungguhnya, Yuri hanya sedang mencari jati diri dan dirinya menemui titik nyaman pada sekelompok anak berandal. Pun Joohyun berbeda, ia masuk dalam kategori anak terpintar, bahkan beberapa kali mendapat angka 4,00 pada IP-nya.

Bagaimana denganku? Apakah aku mengikuti jejak Yuri atau Joohyun? Sejujurnya sudah aku nyatakan di kalimat sebelumnya. Kami berbeda. Jelas aku tak dapat disamakan dengan mereka berdua, karena aku tidak istimewa. Aku masih belum bisa menempatkan diriku pada kubu sebelah mana. Rasanya, berada ditengah-tengah adalah sesuatu yang menenangkan. Tanpa kau harus sibuk membela atau menjatuhkan kubu lain.

Yah, intinya kami semua bertolak belakang.

“Buku tak masuk akal katamu? Yuri-ya, sampai kapan kau mau berada di peringkat terakhir seperti ini? Apa kau mau tidak lulus?”

Ah, terjadi lagi. Pertengakaran karena hal sepele.

Yuri melepas headphone-nya—sebenarnya tak terhubung pada ponselnya. Berdiri, memandang Joohyun dengan tajam. Tangannya dilipat, seakan benar-benar ingin melahap Joohyun saat itu juga.

“Aku bisa lulus kapan pun aku mau, Seo Joohyun, jadi berhenti menasihatiku. Kau tidak lebih baik dariku!”

“Ba-baik… aku tidak akan menasihatimu lagi…. Kau benar, aku memang bukan orang baik.” Dan dia pergi.

Iya, Seo Joohyun pergi dengan pipi memerah menahan malu dan mata berkaca-kaca. Ah, entah sudah keberapa kali Joohyun dan Yuri seperti ini.

Aku menghela napas dan mengalihkan fokusku dari layar laptop di depanku menjadi ke arah Yuri. Aku tahu kalau Yuri memang tak suka kalau Joohyun sudah bertindak sok tahu dan sejenisnya. Tapi tadi sudah kelewatan, Joohyun tak pernah dihadiahi kata-kata kasar.

“Yuri, kata-katamu terlalu kasar.” Aku tak peduli kalau Yuri akan ganti membentakku atau apa. Aku hanya mencoba memperingatinya. Kami ini teman kan?

Yuri masih mematung melihat kepergian Joohyun. Mungkin ia tak berpikir dampaknya akan seperti ini. Tapi aku tahu, ia tak menyesal, sebab rahangnya kini mengeras.

“Sudahlah,” ucapku berusaha mencairkan suasana, “Joohyun memang seperti itu, kan? Kau taruh dimana bukunya? Biar aku yang mengembalikan.”

“JANGAN!”

Tanganku sudah hampir meraih tasnya, kalau saja teriakan itu tak menginterupsiku. Entah sejak kapan Yuri tak suka jika aku menyentuh tasnya. Seingatku, aku masih bisa menggeledah tasnya, pun disana ada pakaian dalamnya.

Gerakannya cepat sekali. Kini tas itu sudah ia selempangkan. Aku hanya bisa menaikkan alis, kebingungan dengan sikapnya yang aneh.

“Aku akan pergi, ada kelas.”

Keningku makin kukerutkan, kenapa juga Yuri jadi serajin ini masuk kelas?

Dalam langkahnya, ia sejenak menengok kembali ke arahku dan berkata secepat angin, “Sebaiknya kau lebih dekat pada Joohyun dibandingkan aku.”

.

Masih di musim yang sama, beberapa hari setelahnya. Kelas sudah usai beberapa menit yang lalu. Hanya tinggal segelintir orang, dan kebetulan aku, Yuri dan Joohyun termasuk didalamnya.

“Kau tidak pergi?” tanyaku pada Yuri sembari memasukkan binder dan alat-alat tulis lain. Telinganya masih tersumpal headphone dan matanya terkatup. Akhir-akhir ini Yuri semakin aneh. Ia tak pernah betah berlama-lama di kelas barang satu menit saja.

Yuri tak  menjawab, malah ganti Joohyun menginterupsi, “Yoona, aku duluan. Yonghwa Oppa sudah menunggu.”

Anggukan singkat kuciptakan. Selain Yuri, Joohyun juga bertingkah aneh. Seakan terbalik, Joohyun tak pernah menginggalkan kelas secepat ini. Setidak-tidaknya, ia pasti tinggal selama 30 menit untuk mengkaji ulang materi.

Secara tiba-tiba, Yuri melepas headphone-nya dan menatapku. Tepat ketika Joohyun sudah menghilang dibalik dinding kelas, “Bisakah kau menjaga suatu rahasia?”

Aku hanya bisa mengerutkan kening. Tak pernah seserius ini dalam pembicaraan berdua dengan Yuri. Apa ini benar-benar rahasia atau apa?

Gelisah menyelimuti wajahnya, membuat mendung diluar seakan menghampiri kelas ini. Apa yang bisa kulakukan sebagai teman? Bukankah menjaga suatu rahasia adalah guna teman?

“Itukan gunanya teman? Menyimpan rahasia, berbagi rahasia, membantu memecahkan masalah?”

Sepasang mata itu menatapku layaknya tak pernah melihat sejernih ini. Entah sudah melewati ambang batas detak jantungku ini. Apa yang ingin Yuri ceritakan begitu berat? Apa ini mempengaruhi pertemanan kami?

“Aku tak bisa menceritakan ini pada Joohyun. Ia tak akan mengerti. Ia pasti tak bisa mengerti.”

“Aku mungkin tak bisa mengerti, tapi aku mencoba mendengarkan dan berusaha membantumu semampuku. Jangan menyimpan semuanya sendirian Yuri,” ucapku tulus. Tak ada kata-kata yang bisa kuucapkan selain itu.

Yuri menghela napas panjang dan menatapku seakan memohon pengampunan, “Tapi jangan sampai ketahuan siapa pun, kau juga tak boleh terkejut mendengarnya,” aku menganggukan kepala lagi, “Aku pecandu narkoba.”

Tak bisa kupungkiri, aku merasa jantungku jatuh ke dasar perut dan itu membuat perutku mulas seketika. Aku tak percaya, sungguh. Sebagaimanapun berandalnya Yuri, tapi aku masih percaya ia tak akan terjerumus sedalam itu.

“Kau bercanda.” Hanya itu yang bisa kutanggapi dari pengakuannya. Ia menggeleng dan kuyakin matanya telah berkaca-kaca saat itu juga. Kwon Yuri, kalau kau memang bercanda hentikan sekarang juga. Ini tidak lucu.

Air matanya sudah meleleh, “Aku tidak bercanda Yoona. Teman-temanku disana… mereka… menawariku dan berkata aku tak akan bisa bergabung bersama mereka jika aku… tak mencicipinya. Aku… aku tak punya pilihan dan barang itu terus menyeretku lebih dalam.” Ia sudah terisak dan aku tak tahan melihatnya seperti ini. Jadi, kurengkuh tubuhnya kedalam pelukanku. Kutenangkan dirinya. Aku tidak berharap ini sungguh terjadi.

Tuhan, kalau saja waktu bisa diputar, bisakah kau menyuruhku untuk melindungi Yuri agar tidak terjerumus?

“A-aku… harus apa… Yoona?”

Aku mengelus punggungnya, berharap cara ini bisa menenangkannya, “Bisakah… bisakah kau menghentikannya? Maksudku, jangan pergi bersama mereka lagi. Jangan sentuh barang haram itu lagi. Kau masih punya kami, aku dan Joohyun. Kami tak akan memaksamu untuk terjun ke dasar jurang, Yuri-ya.”

Isak itu masih terdengar, pundak itu masih tak stabil, bahuku masih basah.

“Tapi Joohyun tak akan bisa menerima ini.”

“Aku yang akan bicara padanya. Sekarang yang kuminta hanya satu hal, jangan dekat-dekat jurang lagi.”

Dan kutahu sejak saat itu kami tak akan pernah sama lagi.

.

Keheningan malam memekakkan telingaku. Mengganggu dan membuatku tak fokus pada tugas yang kukerjakan. Isakan Yuri masih terngiang-ngiang.

Aku masih ingat ratap tangisnya, masih ingat wajah sendunya, masih ingat suara permohonannya. Rasa-rasanya seluruh badanku ngilu memerhatikannya. Aku merasakan kepedihan seorang Yuri.

Aku tahu aku tak mengerti rasanya jadi dia, tapi melihat reaksinya kala itu membuatku terenyuh dan tersentuh. Kwon Yuri, temanku yang pemberontak itu, bahkan untuk menolak barang haram saja tak mampu.

Bulir-bulir itu turun dari mataku.

.

“Yoon… Yoona…. Bisakah kau membeli… membeli barang itu? A-aku kehabisan stok disini.”

Seakan ada petir menyambar, aku tersentak luar biasa. Aku baru saja menempelkan ponsel pada telingaku dan kalimat itu sudah menerjang.

“Yuri, kau dimana?”

“Dirumah….”

“Jangan kemana-mana! Aku segera kesana.” Aku panik luar biasa. Yuri tak bisa begini. Ia sudah janji. Sungguh… aku mempercayainya. Mengapa sekarang ia bisa memintaku membeli barang yang bahkan melihatnya saja aku jijik?!

Hoodiehoodie….” Aku hanya sempat memakai hoodie dan mengambil kunci motor. Ponsel masih digenggamanku, berjaga kalau-kalau Yuri meneleponku lagi.

Berlari secepat kubisa dan meminta izin ala kadarnya, “Eomma, aku pergi dulu! Yesung Oppa aku pinjam motornya!”

Bahkan tanpa mengenakan helm, motor langsung kuhidupkan dan sedetik kemudian aku sudah terbang menuju rumah Yuri.

Tak banyak yang bisa kupikirkan. Sepanjang perjalanan aku hanya fokus untuk cepat sampai dan menyelamatkan Yuri. Bahkan lampu merah, mobil-mobil, orang menyeberang saja aku terobos. Aku….

Aku tak ingin Yuri dalam bahaya. Itu saja.

Begitu sampai di depan rumahnya, aku memarkir motor asal. Membuka gerbang dan pintu—yang bahkan tidak dikunci— dengan kasar. Lagi-lagi aku berlari demi mencapai kamar Yuri lebih cepat beberapa sekon.

Anggap saja kekuatan manusia yang tak ingin kehilangan temannya, aku mendobraknya. Tak peduli itu terlalu kencang, yang kupedulikan hanya sosok yang kini tengah menahan sakit.

Benar-benar sedang sakau.

“Yoona-ya….”

Aku tak pernah tertarik pada penggunaan narkoba atau bahkan, efek sampingnya. Aku tak mengerti bagaimana caranya menghentikan kesakitan Yuri karena tak menerima pasokan barang haram itu. Satu-satunya yang terlintas di kepalaku hanya satu.

Telepon 119.

“Yoona-ya… kau membawa obat itu?”

Kurogoh saku hoodie-ku dan segera kuhubungi nomor itu, “Seoul-si… Gangdong-gu Cheonho 4-dong 631-7. Sakau. Tolong cepat.”

“Yoona-ya…. Aku butuh, sungguh….”

Saat ini adalah waktu yang benar-benar ingin kubunuh. Aku tak bisa melihat temanku seperti ini, menangis terisak dan mencakar-cakar setiap bagian tubuhnya. Sempat terlintas untuk kuhantam saja kepalanya dengan guci disebelah sana.

Tapi ternyata aku masih sadar.

Jadi, hanya ini yang bisa kulakukan. Aku mengambil air dari dapur dan membawanya kekamar Yuri. Kuguncang-guncangkan bahunya, berharap ia bisa sadar hanya karena polah kecil itu. Dengan paksa dan elakan keras dari Yuri, aku menuangkan air itu ke mulutnya.

Terdengar suara orang berlari, kuyakin itu tim paramedis. Aku tak tahu seberapa besar kadar kegembiraanku saat ini juga. Yuri bisa selamat.

Petugas itu segera memasang beberapa alat yang tak kutahu. Jangan bertanya itu apa karena aku tak tahu. Aku sudah hampir menangis bahkan sebelum mereka datang.

Satu-satunya kalimat yang kudengar darinya adalah, “Temanmu harus dibawa ke rumah sakit nona.”

Hal yang terjadi berikutnya adalah aku dan Yuri sudah berada di mobil dengan air mata meluruh deras diwajahku.

.

“Aku pulang….”

Tanpa teriakan, tanpa senyum, tanpa kegembiraan. Aku pulang. Ya, dengan kehampaan.

Seperti yang kalian tebak, baru saja pulang dari rumah sakit. Yuri sedang tak sadarkan diri, dirawat oleh dokter. Ketika aku meningggalkannya tadi, wajahnya damai layaknya tak terjadi apa-apa.

Aku mengusap wajahku dengan telapak tangan kiri. Aku cemas, aku kalut, tapi semua itu terbayar dengan wajah damai Yuri.

Masih tak bisa kubayangkan jika keluarga Yuri tahu apa yang telah dilakukan gadis belia itu. Mereka tak mungkin mengusirnya, kan? Hal itu hanya akan memperburuk keadaan jiwanya.

Langkah-langkah kakiku menyusuri tangga, menuju kamarku. Yang kubutuhkan kini hanyalah berbaring di kasur yang empuk, pergi tidur dan terbangun esok hari dengan perasaan lebih baik. Kemudian mengunjungi Yuri dan memberinya kekuatan.

Namun, takdir tak berpihak padaku.

“Yoona-ya, Joohyun ada di kamar.”

Langkahku terhenti begitu rupa. Apa yang membuat Joohyun ingin bertemu denganku? Bukankah dia bisa meneleponku terlebih dahulu? Apa lagi dia menungguku sampai selarut ini.

Kuhampiri suara Eomma yang terdengar dari dapur. Kudapati dirinya tengah memasak sup jagung.

“Sejak kapan Joohyun disini?”

Eomma mematikan kompor dan segera membalikkan badannya, menatapku, “Dia datang tepat setelah kamu pergi. Yesung sudah bilang kamu ada urusan, tapi dia tetap bersikeras untuk menunggu. Apa kalian ada masalah? Yesung tadi mengucapkan tentang kamu panik dan ada sangkut pautnya dengan Yuri.”

Hanya gelengan yang mampu kucipkatan. Aku bahkan tak tahu masalah Joohyun akhir-akhir ini. Masalah Yuri sudah menyita pikiranku.

“Mungkin aku harus memeriksanya sendiri,” bisikku pelan dan segera kembali ke kamar.

Tangan Eomma mencekalku, “Nah, bawa sup ini untukmu dan Joohyun. Dia menangis tadi. Kalau kalian ada masalah, jangan menekannya. Eomma tahu teman adalah segalanya bagi remaja seperti kalian.”

Aku mengangguk singkat sembari mengambil baki yang disodorkan Eomma dan segera menuju kamarku.

Tidak lama, kini aku telah berdiri di depan pintu putih dengan hiasan kata Im Yoona dimana-mana. Aku membuka pintu itu, menyiapkan hati untuk mendengar cerita Joohyun. Apa Yonghwa Oppa memutuskannya?

“Aku bawakan sup jagung, Joohyun-ah!”

“Kau sudah pulang?” ucapnya pelan. Suara seraknya tertangkap di indera pendengaranku. Tubuh itu terduduk dan surai kecokelatan panjang menutupi wajah itu. Satu-satunya yang ingin kupastikan eskpresinya.

Baki sup jagung kuletakkan asal di meja belajar. Kuhampiri Joohyun dan melipirkan surai cokelatnya. Aku terkejut mendapati netra yang biasanya berkilat-kilat kini sembab dan bengkak.

“Joohyun-ah… kamu kenapa? Ayo cerita….”

“Kurasa hidupku akan berakhir, Yoona-ya…. Aku bodoh hahaha….” Ia terkekeh namun kutangkap suara mendayu pada getaran itu. Jemarinya dengan sigap menyusut bulir-bulir itu.

“Orang gila mana yang bisa berkata bahwa Seo Joohyun bodoh? Kau beberapa kali mendapat IP 4, Joohyun-ah….”

“Kau tak bisa memungkiri itu Yoona-ya. Aku memang bodoh…. Sebegitu bodohnya hingga memberikan apa yang paling berharga bagi hidupku.”

“Joohyun-ah… aku tak mengerti. Coba jelaskan lebih rinci kepadaku agar aku….”

“Aku hamil Yoona-ya.”

Seakan tersambar petir untuk kedua kalinya, hatiku mati rasa. Tanganku yang sedari tadi mengelus surainya jatuh terkulai tak berdaya. Inikah arti dari sudah jatuh tertimpa tangga pula?

“Yoona-ya… bukankah sekarang kau mengakui kalau aku orang paling bodoh di seluruh dunia?”

Aku tak bisa membantah, pun menghiburnya. Bibirku terkatup rapat-rapat. Aku sudah menerima pelan-pelan kisah Yuri yang memang nyata. Namun mengapa Joohyun yang menurutku paling sempurna diantara kami bertiga, pun merasakan kisah yang tak kalah pelik?

Mengapa pula aku baru tahu kisah kelam mereka berdua sekarang?

Seandainya kutahu akar dari cerita mereka lebih awal, mungkin bisa kucegah. Mungkin mereka tak akan seperti ini. Mungkin aku bisa melindungi teman-temanku yang berharga.

Mereka tak pantas mendapatkan siksaan ini.

Bulir-bulir itu kembali meluruh.

“Kau bohong… kan? Joohyun yang kukenal tak mungkin bisa melakukan hal ini.”

Lagi-lagi Joohyun terkekeh, aku tahu kalimatku itu menyakitinya. Tapi aku tak mau percaya. Aku tak mau Joohyun mengalami hal serupa dengan Yuri, terperangkap di jurang yang terlalu dalam itu.

“Maafkan aku mengecewakanmu Yoona-ya. Kutahu kamu dan Yuri pasti malu punya teman sepertiku.”

Aku berdiri dengan sisa-sisa kekuatanku, “Siapa yang melakukan ini semua Joohyun?! Aku… aku harus membunuhnya. Harus!” Kuteriakkan kegusaranku padanya. Aku tak mau lagi menjadi orang yang harus menonton kisah temannya. Aku harus menghukum orang yang membuat Joohyun seperti ini, pun harus membunuhnya.

Namun lengan-lengan itu merengkuhku. Jemari itu mengusap punggungku begitu rupa. Bulirnya terjatuh semakin deras pada pundakku.

“Aku tahu kamu marah. Tapi ini murni kesalahanku Yoona. Dia… dia tak mungkin melakukan itu jika aku bisa saja melawan.”

“Tapi dia membuatmu seperti ini!”

“Maafkan aku….”

Aku tertohok. Dia sudah menderita, namun masih meminta maaf kepadaku?! Bukan dia yang salah, bukan. Lelaki itu yang salah. Aku juga turut salah karena tak disampingnya.

“Joohyun-ah….” Aku melepaskan tautannya demi melihat kejatuhannya. Bulir-bulir itu masih deras turun ke wajahku, tapi tak kuhiraukan. Sosok dihadapanku inilah yang terpenting.

“Kau tidak boleh menyalahkannya Yoona….”

Jeda sejenak. Kutatap dalam-dalam matanya yang menerawang. Netra itu saja sudah membuktikan kejatuhan yang teramat dalam. Bagaimana mungkin dia masih bisa menghiburku dan membela lelaki brengsek itu? Bagaimana bisa….

“Kamu tak perlu berpura-pura tegar dihadapanku, Joohyun….”

Dan kali itu emosinya yang telah ditimbunnya meledak begitu rupa.

“Kau benar…. Aku kecewa Yoona-ya! Kecewa padanya, kecewa padamu dan Yuri, tapi aku lebih kecewa pada diriku sendiri…. Aku… aku tahu itu salah tapi aku tetap melakukannya. Aku orang bodoh Yoona-ya! Aku tak pantas hidup! Aku mau mati! Tapi aku tak sanggup membiarkan bayi ini juga mati. Ia tak salah Yoona-ya. Ia tak berdosa…. Kami yang berdosa! Memikirkan semua ini membuatku hampir gila. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan! Aku… aku marah!”

Derai air mata kembali mewarnai wajah sembabnya. Kini giliran aku merengkuhnya. Mengurung segala emosi yang telah menguar dan terkuras. Aku merasa bersalah. Sungguh. Aku tak bisa bersikap terbaik untuk teman-temanku. Mereka jatuh tanpa sepengetahuanku.

Kalau ada yang bilang bodoh, maka itu sejujurnya aku.

“Kau tidak boleh berpikir seperti itu Joohyun-ah….”

“Aku mau mati saja rasanya….”

“Kau tidak boleh mati Joohyun. Aku berjanji untuk melindungimu dan Yuri. Aku tak akan mengabaikan kalian lagi.”

Kala itu musim gugur hampir berakhir. Hari dimana kami semua menguras emosi terlalu dalam. Dan kutahu kini, kami tak akan mungkin sama. Tak akan pernah bisa.

.

Aku sendiri. Meratapi nasib ketika mereka berdua telah tiada. Bahkan Jonghyun sekali pun, tak bisa menghentikan air mata ini. Mereka meluruh begitu rupa ketika kuingat kenangan bahagia bercampur lara bersama mereka.

Seo Joohyun, setelah bercerita tentang penderitaannya, dua hari kemudian terbang ke Amerika. Hanya meninggalkan sepucuk surat untukku yang berisi permintaan maaf telah mengecewakan. Setiap kali surat itu kubaca, tak henti derai air mata membasahi wajahku.

Kwon Yuri, pindah ke Busan. Mungkin untuk menenangkan pikiran. Seluruh keluarganya pun pindah demi dirinya. Kata-kata terakhir yang ia sampaikan padaku hanyalah, “Jangan berbuat bodoh seperti kami Yoona-ya, dan terimakasih untuk kekuatanmu dan kegentaranmu untuk menjadi temanku.”

Benar kata Eomma, teman adalah hal yang paling berarti ketika kamu menjadi remaja. Ketika temanmu terpuruk, kamu juga pasti akan merasakan luka yang menyayat. Teman adalah tempat berbagi duka dan suka, lara dan canda. Disaat kamu memilikinya, kamu akan merasa sempurna, namun kala kamu kehilangan, akan menjadi duri yang mendarah daging.

Aku mengenang mereka dan memberikan tempat mereka yang paling spesial di hati. Kukenang masa-masa ketika perbedaan menjadi bumerang namun tetap merangkul kami. Ketika pertengkaran mendominasi namun masih bisa merekatkan kami. Ketika masalah menerpa namun malah menjadi pengukuh pertemanan kami.

Akankah kita bisa bertemu kembali? Aku merindukan kalian.

.

Pertengahan musim gugur, 2017.

Im Yoona, gadis berparas cantik mempesona berjalan dengan wajah bersinar-sinar. Senyumnya melekat seakan direkatkan oleh perekat permanen.

“Ya, Lee Jonghyun! Kau mempermainkanku!”

Lee Jonghyun yang mendapat bentakan dari Im Yoona kontan menghentikan kegiatan minum kopinya. Mengangkat satu alis dan bertanya, “Apa maksudmu?”

Im Yoona mendengus, alih-alih menjelaskan secara terperinci, ia malah merebut gelas kopi yang yang dipegang Lee Jonghyun, meminumnya hingga tandas.

“YA!

“Itulah akibatnya membohongiku! Tidak ada orang yang mencariku. Bukan dua, satu pun tak ada! Kau mau mempermainkanku ya? Aku tahu sebentar lagi posisi manager terbaikmu akan kurebut, tapi bukan dengan cara seperti ini hingga aku mengabaikan beberapa pekerjaanku tadi!”

Lee Jonghyun, setelah bingung sejenak, kini tertawa hambar. Merebut kembali gelasnya, ia berkata datar, “Memang tadi ada dua orang mencarimu. Sepertinya sekarang ada di taman. Kalau tidak salah namanya Kwon Yuri dan Seo Joohyun. Dan satu hal, aku tak takut dikalahkan olehmu!”

Tubuh gadis itu seakan membeku. Apa ia tak salah dengar? Apa Lee Jonghyun bergurau lagi?

“Kau tidak bohong, kan?”

“Untuk apa aku berbohong?”

Satu kalimat itu membuat kaki jenjang Im Yoona berlari. Jantungnya berdegup kencang. Apa mereka benar-benar kembali? Apa mereka sudah hidup dengan baik?

“Ya, Im Yoona! Aku ini lebih tua darimu, panggil aku oppa!”

“Kau hanya lebih tua beberapa hari dariku dasar manager gila!”

Badannya terasa ringan. Senyumnya mengembang begitu rupa. Tak henti-henti otaknya memproyeksikan kejadian-kejadian saat dirinya di perkuliahan. Bersama kedua orang itu, hidupnya serasa sempurna.

Kaki itu terhenti. Netranya menelusur taman itu dengan seksama. Rasa-rasanya tubuhnya akan melambung saat itu juga ketika retinanya terhenti pada tiga sosok di bangku taman di sebelah sana. Mereka bercengkrama bahagia hingga tak sadar bahwa Im Yoona telah sampai dihadapannya.

“Kwon Yuri? Seo Joohyun?”

Ketiga pasang mata itu menatap gadis tinggi itu. Netra mereka masing-masing bersirobok. Hal yang selanjutnya terjadi adalah tubuh-tubuh yang tengah bertabrakan, lengan yang saling merangkul dan tawa bahagia. Mereka berpelukan.

“Mama, tante ini siapa?”

Cukup lama ketiga wanita itu dalam posisinya, hingga pertanyaan seorang bocah cilik menginterupsi. Lengan-lengan mereka terlepas. Mereka masih terkekeh.

Im Yoona berlutut agar tingginya sejajar dengan bocah lelaki yang menginterupsi tadi. Senyumnya lagi-lagi mengembang, “Aku Im Yoona, teman mamamu.”

“Ya, Joohyun-ah! Kau tak bilang kalau Hamyung anakmu!”

“Kau tidak bertanya!”

Im Yoona tersenyum begitu rupa. Ia senang, ah bukan, bahagia lebih tepat. Melihat teman-teman semasa perkuliahannya kini terlihat lebih baik. Yuri tak terlihat seperti tujuh tahun silam, wajahnya berseri dan tubuhnya berisi. Begitu pula dengan Joohyun yang memancarkan sisi keibuannya.

“Tahu Hamyung anakmu, akan kujodohkan dia dengan Inha.”

“Siapa Inha?”

“Anakku, masih berumur tiga tahun hahaha.”

“Ya, jadi kalian meninggalkanku sendiri melajang?!”

Kwon Yuri dan Seo Joohyun saling menatap, detik kemudian sama-sama memandang Im Yoona dengan kebingungan.

“Kau yakin belum menikah?” Begitu pertanyaan Kwon Yuri

“Kau pikir? Aku sibuk. Pekerjaan banyak, proyek sana-sini, kalian tahulah.”

“Ketika muda dulu, kupikir malah Yoona-lah yang akan menikah terlebih dahulu. Masalahnya tak rumit seperti kita kan, Yuri?”

Wajah Im Yoona merah menahan malu, “Aku mungkin… akan menikah beberapa bulan lagi.”

“Yang benar?”

“Kau sedang berkencan rupanya?”

“Ah, bukan begitu… tapi kita bisa memberi deadline untuk umur pernikahan, kan? Masalah pasangan sepertinya aku belum tahu.”

“Ya!” omel Yuri saat itu juga, “Kau mau kukenalkan pada adik iparku? Minho menyuruhnya untuk cepat-cepat menikah agar tak merepotkan kami hahaha. Umurnya lebih muda daripada kita sih, tapi tak apa kan?”

“Kau gila Yuri-ya, bagaimana mungkin aku menikah dengan anak kecil!”

“Atau kamu mau kukenalkan pada kakak tingkat Yonghwa Oppa? Akhir-akhir ini orang itu sering kerumah kami untuk bertanya-tanya mengenai wanita.”

Entah sudah seperti apa wajah Im Yoona saat itu juga. Malu, kesal, harga dirinya terluka. Memang benar kini ia telah menginjak dua puluh tujuh tahun. Tapi apa harus ia dijodoh-jodohkan seperti ini?

“Lupakan. Aku terlihat rendah jika kalian seperti itu, tahu. Lagipula dua puluh tujuh tahun belum mengkhawatirkan.”

“Astaga Yoona-ya, saat-saat ini umur dua puluh saja sudah….”

Drrt…. Drrt….

Dering ponsel Im Yoona menginterupsi omelan Seo Joohyun, “Tunggu sebentar.” Kemudian ia menjauh diantara mereka, walau harusnya ia tahu bahwa taman itu hening, jadi percakapan Im Yoona pun masih bisa terdengar.

“Halo?”

Kedua orang itu menajamkan telinga secara seksama.

“Malam ini? Aku tak bisa, banyak kerjaan.”

Suara Im Yoona yang ketus membuat tingkat penasaran mereka semakin menjadi.

“Kau lupa aku masih marah karena tingkah konyolmu itu? Sudah ah, kau menggaguku.”

Yang mereka ingat, Im Yoona tak pernah marah-marah seperti ini kalau berbicara via telepon.

“Terserah. Aku membencimu Cho Kyuhyun.” Telepon itu diputus sepihak oleh Im Yoona. Tanpa menyadari atmosfer yang telah dibuatnya, ia menghempaskan bokongnya pada bangku taman itu.

“Siapa Cho Kyuhyun?”

“Dia pacarmu?”

Kwon Yuri dan Seo Joohyun benar-benar kompak. Pertanyaan mereka seakan menohok Im Yoona. Membuat gadis itu tak bisa berkutik lagi.

Kwon Yuri mengambil paksa ponsel Im Yoona dan segera mengecek panggilan terakhir. Ditunjukkannya pada Seo Joohyun apa yang tertera di ponsel itu. Seseorang berkontak Evil Oppa yang telah memanggil Im Yoona tadi.

Alih-alih menerima permintaan Im Yoona untuk mengembalikan ponselnya, Kwon Yuri malah memencet tombol panggil. Beberapa saat ketika bunyi panggil, telepon diangkat.

“Yoona sayang, maafkan aku. Hari ini bisa ya? Aku akan menunggumu sampai kau datang.”

“Ya! Kau siapa panggil-panggil Yoona sayang?!”

Entah mau ditaruh dimana muka Im Yoona saat itu juga. Ia menutup wajah merahnya, kendati telinganya masih dapat menangkap percakapan yang di-loudspeaker antara dua temannya bersama kekasihnya itu.

“Maaf ini siapa? Memangnya kenapa kalau aku panggil Yoona, sayang? Toh dia pacarku.”

Keduanya segera menghadap Im Yoona. Bukankah tadi gadis itu mengatakan bahwa ia belum yakin akan pasangannya? Oh, mungkinkah mereka sudah berkencan tapi belum membicarakan pernikahan.

“Ya, Cho Kyuhyun. Aku dan Joohyun tak tahu siapa kau, tapi kau harus segera melamar Im Yoona. Kau mau Yoona menikah di usia tua?! Kau pikir wanita yang menikah di usianya tak mendapat malu dan tekanan? Pikir!”

Cho Kyuhyun geming. Mungkin juga kaget ditodong sebegitu rupa oleh orang yang tak dikenalnya. Sesungguhnya bukannya ia tak mau menikahi Im Yoona, tapi gadis itulah yang masih menolak lamarannya lantaran pekerjaan dan proyeknya menyita waktu.

Padahal Cho Kyuhyun juga seorang wakil direktur di perusahaan tempat Im Yoona bekerja.

“Cho Kyuhyun, masih dengar aku?”

“Hmm….”

“Kalau sampai kau melukai shiksin Yoona kami, kau berurusan dengan Kwon Yuri dan Seo Joohyun! Ingat itu.”

“Oh dan satu lagi,” tambah Joohyun yang sedari tadi tak berbicara, “Lamar saja Im Yoona malam ini juga.”

“Ya Seo Joohyun, Kwon Yuri!”

“Rencanaku memang melamarnya malam ini. Yah, jadi tak surprise lagi bagi Yoonaku.”

“Ya Cho Kyuhyun, Kwon Yuri, Seo Joohyun, kalian mau mati ya?!”

Detik kemudian ponsel itu direbut kembali oleh Im Yoona dan ia memutuskan lagi panggilan dengan Cho Kyuhyun.

Satu hal yang mereka bertiga lupakan adalah….

“Mama, pacar itu apa? Sejenis makanan kah?”

Dan mereka bertiga menahan malu karena tak ingat bahwa Hamyung masih ada disana.

.

It’s been a long day without you my friend

And I’ll tell you all about it when I see you again

We’ve come a long way from where we began

Oh I’ll tell you all about it when I see you again

When I see you again….

See You Again by Wiz Khalifa feat. Charlie Puth

SELESAI?

Eh? Kkeut! Belum selesai sampai sini. Terimakasih untuk kalian semua yang telah mencapai bagian ini. Aku hanya ingin mengatakan, kalau kau punya sahabat atau teman, jangan biarkan mereka terjerumus ke dalam lubang yang terlampau dalam. Jangan sepertiku yang terus-menerus menyesali perbuatanku yang tak cekatan selama tujuh tahun. Harus kuakui, kini aku bahagia mempunyai teman-teman yang seperti mereka.

Mereka kembali, dan kurasa aku harus membenarkan kata-kataku dulu.

Persahabatan kami memang pernah retak dan aku pernah menyerah pada mereka. Tapi bukan berarti kami tak bisa bersahabat seperti sedia kala. Kami mungkin tak lagi sama, tapi kami akan menjadi lebih baik lagi dalam persahabatan kami.

Bersyukurlah jika kalian punya teman untuk berbagi, dan terus support temanmu itu. Karena sebuah masalah tak akan pernah kita duga kedatangannya sebelumnya.

Im Yoona,

10 Juli 2017

-FINISH-

Hai yaaa! Ketemu lagi ya? Ehehehe ((Ketawa malu-malu)) Maaf ya, bukan bawa satu adegan malah bawa satu oneshoot yang bisa dikatakan lumayan gaje wahahaha ((ketawa lagi)). Tapi aku seneng banget bisa nyelesein oneshoot juga akhirnya. Setelah sekian lama nggak bisa menelurkan(?) fic yang terlampau panjang (Eh, terakhir kali aku bikin oneshoot di IYAF tuh…. Eh aku nggak pernah post Oneshoot ternyata! Hahaha, maafkan__)) Oiya, buat karakter dan cerita yang diatas, maafkan jika tidak berkenan ya. Itu semua bertujuan semata untuk mendukung lancarnya FF ini kok🙂 Semoga FF-nya menghibur dan dapet pelajaran hehehe.

Phynz20’s signing off~ 

54 thoughts on “FRIENDS [Find The Truth]

  1. Apaya, agak jengkel sih awalnya, masak temenan tapi gatau kalo temennya punya masalah:/ *ditimpuk* aaa tapi keren menguras emosi *alay* keep writing🙂

    • Hahaha, namanya juga Yoona, nggak pekaan. Jadi gitu. Masalah dia nggak tau situasi juga udah dijelasin dibelakang, dia nyesel banget hehehe
      Aduh terimakasih:)
      Sipsip! Masih bakal nulis kokXD
      Terimakasih udah mau baca dan komentar ya!XD

  2. Demi apapun bgs bgt ceritanya author👍👍
    Cast yg tpt sesuai dgn image mrk slm ini, yuri yg sdkt “nakal”, seohyun yg lemah lembut, n yoona yg complit (sorry gak nm kt yg tpt buat nggambarin sosok luar biasa ini😊)ceritanya pun runtut n feelnya dpt bgt, sedihnya dpt, happynya pun dpt.
    Dan saat aq pkr bkln end saat 3 sahabat ini ketemu lg stlh bertahun2 eeehhhhh….. si evil oppa muncul melengkapi semuanya daebak….daebak…..daebak…..

  3. Eh eh eh ga sengaja baca ff ini karena lagi craving ff kyuna tapi pas liat ini kayanya friendship jadi ok juga buat dibaca dan jeng jeng aaaaa ada kyuna omg kaget kirain yoona sama jonghyun tapi pas yoona marah-marah ke kyu langsung deh mikir jangan-jangan dia sama kyuhyun hahaha eh beneran kan :’) duh please please dibikin sequelnya dongg jadi kaya kejelasan gimana kehidupan seo sama yuri setelah mereka pindah soalnya yuri tiba-tiba udah punya anak terus ditambah juga mereka berdua jadi agent kyuna kayanya lucu ya hehee saran aku aja sih soalnya ini seru banget loh karena sebenernya aku sekarang susah dapet feel kalau ga baca ff kyuna tapi ff ini greget banget dari awal😀 fighting fighting

    • Yap, aku lagi buat sesuatu yang jarang hehehe
      Awalnya mau Jonghyun yang jadi pacarnya Yoona, cuma karakternya nggak cocok, jadilah Kyuhyun hahaha
      Jonghyun disini jadi sahabatnya Yoona setelah Yuri-Seohyun pindah kok hehehe
      Aduh, kalo buat sequel aku nggak kepikiran hehe maaf yah:(
      Sipsip! Makasih udah mau baca dan komentar juga!XD

  4. ff nya bagus banget, jadi inget sama sahabat sahabat aku, mereka semua juga punya karakter yg beda sama aku, pas endnya itu dapet banget feelnya, lagunya wiz khalifa ngena banget heheh

    • Hihihi makasih ya, ini masih butuh perbaikan sana sini kokXD
      Semoga FF-nya bisa jadi pemacu di real life ya!^^
      Iya! Aku ngetiknya sambil dengerin itu lagu jadi baper banget hahaha
      Makasih udah mau baca dan komentar ya!^^

    • Hihihi, makasih ya^^
      Sebenernya nggak cuma remaja doang sih, tapi emang pas jadi remaja temen tuh seakan segalanya hahahaXD
      Makasih udah baca dan komentar ya!^^

  5. aku suka ttg prsahabatan..
    jadi keinget tman2ku😥
    dulu juga prnah retak karna tmenku satu itu g mau dengerin nasehat dri shbatnya
    udah dinasehatin dilindungi biar g jatuh ke lubang yg sama ttep aja ngeyel
    ya udah dibiarin aja smpek dia jatuh beneran baru ngrasa klo sahabatnya tu bner n sayang ma dia..
    untung smpai skarang msih langgeng prsahabtan kita..
    jadi curhat thor..

  6. Hahahahahahahahaha luCuuuuuu … Daebakk .. Yaaah gada kejutan doong !! Klo udh d todong ama yuri ounni .. Hahahaha

    • Semoga bisa jadi pacuan di real life!
      Hehehe, masalah happy atau sad sebenernya nggak masalah selama readers bisa ngerti tujuan aku di fic iniXD
      Makasih udah mau baca dan berkomentar!^^

  7. Sukaaaaa, kereeen thor..
    Brharap ada sequelnya, kyuna nikah n persahabtan mreka sllu terjalin..suka suka sukaaa😀

  8. kyuna… pasangan yang kalo gak berantem gak rame….. saya pikir jonghyun pacar nyaa…. yoona yang di tengah-tengah, netral dan justru paling lurus tapi married nyaa blakangan….
    Puk…pukk… pala Yoong… sabar yaa ndok…

    • Yah namanya juga sama sama evil nggak ada yang mau ngalah hahahaXD
      Awalnya pengen bikin Jonghyun jadi pacarnya Yoona, cuma nggak masuk karakternya dia jadilah Kyuhyun yang ngambil alihXD Nah kalo disini Jonghyun itu sendiri jadi sahabat Yoona setelah ditinggal Yuri-Seohyun.
      Yapyap! Emang biasanya gitu kan? Yang baik baik malah dibelakang hahahaXD
      Okedeh, makasih udah baca dan komentar ya!^^

  9. Melihat yuri yang jujur pada yoona meski menyakitkan dan belum selesai masalah yuri, seohyun gadis dengan kesempurnaan nya juga mempunyai masalah yang bahkan tak diduga. Yoona dengan kesabarannya mendampingi kedua temannya itu untuk melalui semuanya meski ke duanya pada akhirnya memilih menenangkan dri. Cerita ini benar2 menceritakan teman, sahabat dalam arti sesungguhnya.

  10. Aku sangat sangat sangat suka sama ff ini.
    Dari segi story. Plot yg gak kecepetan. Dan endingnya Gagal bikin Move On.
    Keren banget! Dan banyak mengandung pesan sosial juga sih menurutku.

    Persahabtan YoonYulSeo bener2 mengharukan. Mereka memang sangat erbeda tp kadang perbedaan itu yg menyatukan. Dan saling melengkapi.

    Niatnya sih gak mau mampir baca karna liat Castnya dan genrenya. Tp semaki di baca malah aku kesengsem sama ceritanya.
    Endingnya juga ngejutin sih. Couplenya juga suka. MinYul, YongSeo dan KyuNa. Oh ini Hebat!

    Kapan2 bikin ff dengan couple2 di atas ya. Mksdx tetep Im Yoona sebagai Lead Castnya. Tp q sukaa couple2 lain itu juga buat jd cameonya. Ya Cast namjax si klo gak Kyuhyun ya Lee Donghae jg boleh sih. Kkk

    semangat!!

    • Makasih udah suka sama FFnya ya hehehe:)
      Gagal bikin move on gimana maksudnya?.___.
      Ah, emang udah aku duga kalo fic begini nggak ngundang minat readers banyak, cuma tetep aja aku bikinXD
      Ah masalah couple mah emang otp aku kakXD Kecuali KyuNa sih hahaha. Aku masih ngepairingin dia sama Jonghyun, cuma disini lebih cocok kalo Kyuhyun meranin jadi pacarnya Yoona ketimbang Jonghyun hahahaXD
      Okeokeeee makasih kakak udah baca dan komentar yang membangun iniXD

  11. Aaaaaaaaaaaaak
    Terharu, sedih bngt masa
    Aku juga orgnya klo sama teman itu sayang bngt pokoknya, baru tadi malam ketemu lagi sama teman sewaktu sma. Jadi feel nya itu lohh
    Keep writing !!

    • Wah kakak dong? Hehheehe
      Emang ya kalo temen udah bener bener deket (yang bahkan bisa dipanggil sahabat) kalo punya masalah pasti kita ngerasain juga wkwkwk
      Sipsip, nulis pasti nggak berenti kok hehehe. Terimakasih sudah membaca dan berkomentar kak!^^b

  12. Kereeeeeeennnn !!! Anjayyy sumpahh ini FF TOP bgtzz.. Ceritanya bener” kayak kisah kebanyakan pertemanan diDunia nyata,
    Suka pas bagian “Kau hanya lebih tua beberapa hari dariku dasar manager gila!” Ituu lucuuu ajaa, gk kebayang punya bawahan kayak Yoona..

    • Yaampun makasih banget……. Komentar kamu excited gitu aku jadi suka (eh) hahahaXD
      Emang tuh soksokan Jonghyun pengen dipanggil Oppa wkwkwkk
      Yabiasalah Yoona dimana mana imagenya emang tukang rusuh wkwkwkk (ga)
      Okay, makasih udah mau baca dan komentar ya!^^

  13. Pingback: [Remark Fic] FRIENDS (Find The Truth) | Agent Mystery's

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s