WHAT EVER

what_ever_for_clora

WHAT EVER

by

Clora Darlene

Im Yoona | Kim Joonmyun as known as Suho

Poster credit; cloverqua @ Art Fantasy

[Requested by tatayoong on another site]

            Yoona meraih sebuah kertas lalu dipandanginya sejenak kertas tersebut. Kemudian iris madunya beralih pada seseorang yang duduk di hadapannya─seorang laki-laki berpenampilan berantakan. “Jadi, kau Kim Joonmyun?”

“Kau sedang memegang berkasku dan masih bertanya?”

Kedua ujung bibir Yoona tampak terangkat. Membentuk sebuah lengkungan bulan sabit sederhana. “Im Yoona imnida. Senang bertemu denganmu, Kim Joonmyun-ssi.” Yoona mengulurkan tangannya. Laki-laki itu─Kim Joonmyun─bahkan tidak meliriknya.

“Apa pertemuan kita sudah selesai? Aku ingin pulang.”

“Oh, tentu saja. Kau pasti merindukan rumah.” Gumam Yoona dan membuat Joonmyun memandangnya tajam. Kening Yoona mengerut tak mengerti. Apa ada yang salah? Sedetik kemudian, laki-laki itu menghilang bersama sang supir. Setelah kepergian laki-laki itu, Yoona kembali membaca selembar kertas yang sebelumnya telah ia baca. Sebuah data mengenai seorang Kim Joonmyeon─laki-laki yang baru saja dibebaskan dari penjara setelah delapan tahun menekam di dalamnya akibat sebuah kasus pembunuhan.

Yoona menelan salivanya dengan susah payah dan ia mulai bergidik ngeri. Ini adalah kali pertama pasiennya merupakan seorang…pembunuh. Oh, sialan. Jika keluarganya tidak terjerat hutang─atau setidaknya jika ayahnya tidak sibuk berjudi─ia tidak akan menerima seorang Kim Joonmyun menjadi pasiennya. Bisa saja ia menjadi korban─

Oh, astaga, Yoong. Apa yang kaupikirkan?! Berpikir jernihlah!

            Mata Yoona tiba-tiba terbuka lebar karena ponselnya berdering tepat di telinganya. Ia meraihnya dengan mudah dan membaca sebuah nama yang tertera pada layar ponsel. Nyonya Kim. Yoona menghela nafas kasar dan akhirnya menempelkan ponselnya pada telinganya. “Yoboseyo, Nyonya  Kim?”

Yoona! Kau dimana?! Apa kau bisa datJOONMYUN-AH!!

Yoona terkesiap dari tidurnya. Ia dapat mendengar suara pecahan benda kaca di ujung sana.

            Semuanya berantakan.

Laki-laki itu menghancurkan apa saja yang berada di dekatnya. Memecahkan apa saja yang bisa ia pecahkan. Yoona menatap sekeliling dan pandangannya akhirnya bertemu dengan mata Nyonya Kim. “Dimana Joonmyun?” Tanya Yoona yang baru saja sampai.

“Di kamarnya. Di atas.” Telunjuk Nyonya Kim mengacung ke atas memberikan isyarat lantai dua. Rumah bak istana ini terlalu sepi, hanya menyisakan Joonmyun dan ibunya. Yoona tersenyum kecil dan akhirnya melangkahkan kakinya mencari kamar Joonmyun. Ingin melihat kondisi laki-laki itu─well, itu sudah menjadi tugasnya saat ini. Rumah tersebut dikelilingi oleh lampu-lampu terang nan mewah, namun Yoona masih merasa gelap.

Yoona mengeluarkan sebuah suntikan dari dalam tasnya. Di hadapannya ada sebuah pintu yang tertutup rapat─yang lebih baik tidak dibukanya. Ia mencoba meredam getaran pada tangannya dengan menggenggam suntikan tersebut dengan erat. Ia menelan salivanya dengan susah payah dan menarik nafas panjang. Knop pintu itupun akhirnya diputarnya dan ia mengintip melihat keadaan di dalam.

Tenang.

Hampir tidak ada suara selain heater.

Yoona dapat melihat laki-laki itu duduk di seberang sana. Memunggunginya dengan memeluk kedua kakinya. Yoona memberanikan dirinya melangkah mendekati Kim Joonmyun dengan tangan yang terulur menyentuh punggung laki-laki itu. “Joonmyun-ah?” Yoona mengarahkan suntikannya pada leher belakang Joonmyun dan dengan cepat menyuntikannya. Membuat Joonmyun berbalik dan refleks meninju rahangnya dengan keras.

“Apa yang kau─” Dan beberapa saat kemudian, laki-laki itu jatuh tak sadarkan diri pada pelukan Yoona.

            Ia terlihat layaknya orang biasa jika tertidur.

“Kau sudah bangun?” Tanya Yoona saat menyadari kelopak mata Joonmyun sudah terangkat dan terbuka. “Ibumu baru saja pergi bekerja. Dia sudah membuatkanmu sarapan. Kau lapar? Katanya Sup Asparagus adalah makananan kesukaanmu. Benarkah?”

Yoona dapat merasakan sesuatu yang aneh dari cara pandang Joonmyun kepadanya. Laki-laki itu terduduk di atas ranjangnya sedangkan Yoona berdiri di hadapannya dengan wajah polos. “Jadi, kau ingin memakan sarapanmu? Aku bisa mengambilkannya untukmu, jika kau mau.”

“Ya.” Hanya sepatah kata itu yang diucapkan Joonmyun.

Yoona mengangguk kikuk. “Baiklah.” Yoona bergegas kembali ke ruang makan. Menyiapkan Sup Asparagus dan segelas susu lalu kembali ke kamar Joonmyun dan tidak menemukan laki-laki itu di atas ranjangnya.

Oh, Tuhan.

Yoona mengedarkan pandangannya pada penjuru kamar. Berputar seperti orang bodoh dan terkejut saat mendapatkan Joonmyun telah berdiri di hadapannya saat ia berbalik. “Apa itu bekas luka semalam?” Tanya Joonmyun menatap ujung bibir Yoona dengan lekat. Memang ada sebuah luka di ujung bibirnya.

Kening Yoona mengerut. “Pardon?”

Joonmyun merasa kesal dengan psikiaternya ini. Perempuan ini lambat, pikir Joonmyun. Joonmyun menyentuh ujung bibir Yoona dengan jemarinya yang sedingin es dan membuat perempuan itu terkesiap. “Apa ini bekas luka karena aku meninjumu semalam?”

Yoona tersenyum kikuk. “Ah, ya. Tidak apa-apa. Kau pasti terkejut semalam.”

“Ya, aku terkejut dan refleks,” Joonmyun membenarkan lalu mengambil penampan yang berada pada tangan Yoona. “Maafkan aku karena insiden semalam dan terimakasih atas sarapannya.” Joonmyun melangkah menuju pinggir ranjang dan duduk di atas ranjang.

“Ibumu yang membuatkan sarapan. Jadi berterimakasihlah kepadanya.” Gumam Yoona.

Later,” Sanggah Joonmyun lalu mulai menyesap Sup Asparagus hangatnya. “Apa kau bisa mematikan heater dan menyalakan AC? Aku benci udara panas. Itu mengingatkanku pada udara penjara.”

Yoona membeku sejenak di tempatnya saat Joonmyun menyebutkan tempat yang paling ia benci itu. “Bukankah udara saat ini sudah cukup dingin?”

Joonmyun melirik Yoona. Tunggu, apa itu bisa disebut ‘lirikan’? Yoona bahkan merasa ingin mati setiap Kim Joonmyun melihatnya. “Tidak cukup dingin untukku, Nona.”

“Baiklah, jika itu yang kauinginkan.” Yoona melangkah pelan menuju heater lalu mematikan benda tersebut. Mencari-cari remote AC dan akhirnya menemukan benda putih tersebut lalu menyalakan AC─persis melakukan seperti apa yang diinginkan Joonmyun. “Aku bertanya-tanya bagaimana kau akan menghabiskan liburan musim panasmu?”

“Musim panas adalah musim terbaik yang pernah ada,” Gumam Joonmyun masih sibuk menyesap supnya dan Yoona memutuskan untuk duduk di pinggir ranjang. “Tapi tidak setelah aku dipenjara.”

“Bagaimana perasaanmu saat keluar dari penjara?”

“Bagaimana perasaanmu saat keluar dari neraka?” Tanya Joonmyun balik. Laki-laki menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diterjemahkan oleh Im Yoona yang notabene adalah seorang psikiater handal. “Orang yang tidak pernah menekam di penjara sebelumnya bahkan tahu jawabannya.”

Yoona mendesah pelan. “Lalu, bagaimana dengan perasaanmu pagi ini?”

“Tidak buruk. Obat tidur yang kau suntikkan semalam membantuku tidur dengan nyenyak dan Sup Asparagus ini enak sekali,” Jawab Joonmyun ringan. “Apa kau juga seorang dokter? Karena setahuku penggunaan obat bius tanpa resep dokter adalah tindakan ilegal.”

“Apa kau belajar hukum selama di penjara?” Tanya balik Yoona.

“Hanya sedikit.” Joonmyun menaikkan kedua bahunya ringan.

“Ya, aku juga seorang dokter,” Yoona tersenyum kecil. “Aku kembali bertanya-tanya, apa yang terjadi semalam?” Yoona membasahi bibir bawahnya.

Sejenak, tidak ada yang membuka suara. Yoona telah selesai menanyakan pertanyaannya, dan sepertinya Joonmyun masih enggan menjawab pertanyaan Yoona. Hingga akhirnya keduanya kembali beradu pandang dan─lagi─Yoona mendapatkan Joonmyun menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan oleh Yoona. “Aku bermimpi buruk semalam.”

“Seburuk apa?” Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut mungil Yoona tanpa bisa ditahan.

“Aku bertemu dengan seseorang yang seharusnya berada di posisiku.” Jawab Joonmyun terdengar tegas.

Kening Yoona mengerut. “Apa maksudmu?”

“Aku bahkan masih menimbang-nimbang apakah semalam aku bermimpi atau aku memang bertemu dengannya. Karena kau seorang psikiater, kurasa setelah ini kau akan mengiraku gila.” Joonmyun terkekeh hambar. Ayolah, apa ada yang lucu? Di sini hanya Yoona-lah yang seperti orang bodoh.

“Itu mengapa aku di sini, karena aku seorang psikiater.”

“Untuk mencapku sebagai orang gila?” Joonmyun tertawa kecil.

Ujung bibir Yoona terangkat dan ia tersenyum memamerkan gigi putihnya. “Aku tidak akan melakukannya. I’m a good listener, believe me.”

“Aku tidak tahu apa kau akan suka mendengar cerita dengan genre seperti ini atau tidak.”

“Aku akan tetap mendengarkan.” Yoona meyakinkan. Inilah pekerjaannya─meyakinkan pasiennya untuk menceritakan cerita mereka kepada Yoona dan setelah itu Yoona baru bisa memberikan nasihat yang tepat.

Joonmyun melepaskan sendoknya. Ia menatap Yoona dengan lekat. Sejenak mereka beradu pandang dan akhirnya Joonmyun membuka suaranya. “Aku tidak pernah membunuh siapapun,” Joonmyun mengakui. Ia tahu Yoona terkesiap. Bahu perempuan itu terlihat terangkat─kaget mendengar pengakuan Joonmyun yang terdengar tidak masuk akal. “Saat itu aku melihatnya membunuh Jessica. Dengan mata kepalaku sendiri. Dan dia tahu bahwa aku ada di sana. Dia tahu bahwa aku akan menolong Jessica bagaimanapun caranya. Saat dia pergi dan aku menghampiri Jessica, tepat saat itu polisi datang. Mereka menyergapku seakan-akan akulah pembunuhnya, seakan-akan akulah yang membuat Jessica terkapar tak bernyawa di sana. Aku dibawa ke pengadilan dengan status tersangka dan mendapat hukuman penjara delapan tahun.”

Yoona masih belum menghela nafas saat Joonmyun telah selesai bercerita singkat. Nafasnya masih tertahan di dada. “B-Bagaimana bisa? M-Maksudku…” Yoona tidak menemukan kata-kata yang tepat untuk menjelaskan kebingungannya. “Bagaimana dengan pembunuh aslinya?”

Joonmyun tersenyum kecil. “Aku bertemu dengannya semalam. Aku tidak sengaja melihatnya di persimpangan jalan Gangnam. Berjalan ringan tanpa beban. Bukankah hidup ini sungguh tidak adil?”

Yoona masih belum bisa menelan salivanya. Nafasnya masih tertahan di dadanya dan mencoba mencerna cerita Joonmyun. Ia tidak pernah menangani kasus seperti ini sebelumnya. Pembunuh yang tidak membunuh? Ayolah, ini terlalu membingungkan untuk Yoona. Ia berada di ambang antara percaya atau tidak. Joonmyun adalah pasiennya. Laki-laki itu baru saja menceritakan kisah pedihnya dengan versinya sendiri. Tapi tidak menutup kemungkinan bahwa Joonmyun…mengarang, bukan?

Yoona tidak tahu harus mempercayai siapa.

Cerita Joonmyun atau fakta yang mengatakan bahwa Joonmyun adalah tersangka.

“Ku─”

“Joonmyun-ah─”

“Jangan memanggilku dengan nama itu.” Potong Joonmyun.

Kening Yoona mengerut. “Wae?”

“Hanya ibuku yang memanggilku dengan nama itu dan kau persis terdengar seperti ibuku.” Joonmyun terkekeh pelan. Bibirnya membuat sebuah lengkungan indah.

Yoona terdiam sejenak lalu ikut tertawa. Ia masih tidak bisa mencerna kenyataan dan berusaha untuk tetap rileks. “Jadi aku harus memanggilmu apa, Tuan Muda?”

“Suho. Just Suho, please.” Jawab Joonmyun─atau yang meminta dipanggil ‘Suho’─dengan cepat, tanpa berpikir panjang.

“Suho?” Alis kiri Yoona terangkat. “Tidak buruk, Suho-ya.”

“Oh, itu sangat kasar sekali, Nona Muda.”

“Apa ada yang salah?” Well, Yoona sungguh tidak tahu letak kesalahannya.

“Berapa umurmu?”

“30.” Jawab Yoona singkat.

Suho tampak kaget lalu diikuti dengan keningnya yang mengerut tak percaya. “Benarkah? 30?”

“Apa ada gunanya jika aku berbohong?” Tanya balik Yoona lalu iris madunya berputar kesal.

Suho kembali tertawa. “Tidak, bukan itu maksudku. Kau tidak terlihat seperti perempuan berumur 30 tahun.”

“Apa aku terlihat seperti perempuan berumur 17 tahun?”

“Aku baru ingin mengatakan 37.”

“YA!” Tepat saat itu juga tinjuan Yoona jatuh di kepala Suho dan membuat laki-laki itu meringis. “Yang benar saja.”

Suho tertawa keras melihat reaksi Yoona. Tawanya menggelegar memenuhi ruang kamarnya dan ia tidak bisa mengendalikan gelak tawanya. Percayalah, melihat Suho yang asik tertawa seperti ini membuat emosi Yoona meningkat. “Aku hanya bercanda.” Suho membela dirinya.

“Kau harus membayar mahal jika ingin bercanda denganku.” Bantah Yoona.

“Seberapa mahal?”

Chicken and Beer.”

Suho terlihat berpikir. Ia memandang wajah Yoona sejenak lalu memiringkan kepalanya. “Aku tahu sesuatu yang lebih enak dari your favorite chicken and beer.”

            “Ini bahkan tidak bisa dimakan, Suho-ssi!” Suara Yoona meninggi satu oktaf. Oh, ia sudah tidak peduli lagi dengan para penjaga toko di sebuah pusat perbelanjaan yang sedari tadi memandanginya dan Suho dengan pandangan aneh.

“Diamlah, Yoona,” Suho terlihat kesal namun tetap mengolesi ujung bibir Yoona dengan sebuah obat salep. Suho terlihat begitu hati-hati tetapi Yoona tampak tak bisa diam. “Yoona, diamlah. Kumohon.”

“Ini sangat perih, Suho-ya! Yang benar saja!”

“Apa sangat perih?” Kening Suho mengerut. Well, ia memang sudah diperingatkan oleh sang panjaga toko mengenai efek samping obat salep tersebut. Tapi, apakah separah itu?

Yoona mendengus kasar dan mulai bereaksi berlebihan. “Oh, astaga!” Rasanya seperti bibirnya ditusuk ratusan jarum yang dipanaskan. Namun rasa perih tersebut tidak dapat mengalahkan rasa kesalnya kepada Suho─laki-laki yang memaksanya mengobati luka pada ujung bibirnya dengan alasan ‘Aku akan bertanggung jawab atas luka yang telah kubuat.’

I got you, Yoong,” Suho meraih kedua lengan Yoona dan mencengkramnya. Suho dapat melihat air mata Yoona yang siap jatuh kapan saja. Suho merengkuh wajah Yoona dengan satu tangannya lalu meniup ujung bibir Yoona. Aroma nafas mint yang selalu menjadi khasnya menerpa wajah Yoona dan meninggalkan kesan dingin pada permukaan kulitnya. “Oh, dasar cengeng.” Suho langsung menghapus air mata Yoona yang tiba-tiba jatuh.

Yoona masih membeku di tempatnya─masih dengan Suho yang mencengkram lengannya dan merengkuh wajahnya─namun bibirnya tergerak kaku. “A-Aku masih mau chicken and beer.”

Suho lalu tertawa di hadapannya. Dekat sekali dengan wajahnya hingga ia kembali dapat mencium aroma mint nafas laki-laki itu. “Baiklah. Kit─” Suho tidak melanjutkan ucapannya. Matanya menuju ke sebuah arah yang tidak dapat digapai Yoona. Laki-laki itu menatap lurus sesuatu di belakang Yoona dan membuat cengkramannya di lengan Yoona menguat.

“Ada apa?” Tanya Yoona.

Laki-laki itu tidak langsung menjawab, tetapi Yoona dapat mendengar suara rahang Suho menggertak. “Kita pulang sekarang.”

            Suho terduduk santai di bawah sebuah pohon rindang. Di kejauhan sana Yoona sedang membeli soft drink. Mereka baru saja pergi jogging bersama dan berakhir di sebuah taman kota. Well, Suho senang memiliki seorang psikiater yang mampu mengerti dirinya. Yoona adalah psikiater yang tepat untuknya. Tidak hanya mendengarkan ceritanya atau memberikannya nasihat─Suho menyebutnya dengan ‘omong kosong’─tetapi perempuan itu juga tidak keberatan─atau Suho yang sedikit memaksa─menemaninya kemana saja. Ia butuh udara segar, dan Yoona selalu berada di sisinya untuk menemaninya mencari kesegaran.

Tapi ada yang membuat Suho akan berpikir dua kali mengajak Yoona berjalan-jalan keluar akhir-akhir ini.

Suho menyipitkan matanya saat mendapati seseorang mengenakan topi menghampiri Yoona dan berbicara dengan perempuan itu. Yoona tampak menyunggingkan sebuah senyuman. Lalu matanya melebar dan tanpa berpikir panjang Suho memacu kakinya. Laki-laki asing itu segera pergi dan Yoona membalikkan badannya, menemukan Suho yang terengah-engah berdiri di hadapannya. “Waeyo?” Tanya Yoona polos.

“Kita pulang sekarang.”

“Ada ap─”

“Yoong, bisakah untuk kali ini saja kau tidak perlu bertanya?” Tukas Suho tajam dan membuat Yoona mengatupkan mulutnya rapat. Sebelum meninggalkan taman kota, Suho menolehkan kepalanya. Laki-laki itu berdiri di sana. Di balik pohon. Tersenyum kepadanya.

Dan Suho yakin. Tidak salah lagi.

Laki-laki itu meraih tangan Yoona, membiarkan soft drink di tangan Yoona terjatuh dan menyeret perempuan itu pulang.

            “Kau berhutang penjelasan kepadaku, Kim Joonmyun-ssi.”

“Benarkah?” Tanya Suho balik. Ia meraih segelas air mineral dan menghabiskannya dalam sekali tegukan.

“Ini adalah, entah keberapa kalinya aku melupakan hitunganku, kau menyeretku pulang tanpa alasan yang jelas. Kau hanya mengatakan, ‘Kita pulang sekarang’. Oh, ayolah, Suho-ya.” Yoona terdengar seperti merengek ketimbang meminta penjelasan dengan tegas.

Suho menaikkan kedua bahunya. “Tidak ada yang terjadi. Semuanya baik-baik saja.” Ia lalu berbalik namun Yoona dengan cepat meraih pergelangan tangan laki-laki itu dan membuatnya kembali membalikkan badannya.

“Kau mencoba membohongi seorang psikiater?” Tanya Yoona dengan suara rendah. Ada sorot cemas yang dipancarkan matanya saat memandang Suho. Raut wajah laki-laki itu mendadak berubah.

Ada kegelisahan.

Yoona tahu itu.

“Sungguh, semuanya baik-baik saja.”

“Suaramu bergetar,” Ucap Yoona cepat. Suho memalingkan wajahnya, menolak membalas tatapan mata Yoona yang menurutnya mengintimidasi dirinya. Lagi, Yoona mendengar suara rahang Suho bergertak. Garis rahangnya menegas. “Suho-ya?”

Suho menghela nafas. “Kau ingat laki-laki yang mengajakmu mengobrol di taman tadi?”

“Laki-laki bertopi?” Tanya Yoona balik, namun Suho tidak menjawab. “Ya, aku mengingatnya. Ada apa? Kau mengenalnya?”

“Dia yang membunuh Jessica.” Jawab Suho singkat.

Mulut Yoona menganga kecil. Matanya tak berkedip dan refleks nafasnya tercekat. Ia tidak bisa berkata apapun dalam beberapa detik, hingga tersadar bahwa ia butuh oksigen untuk bernafas. “B-Benar…kah? Kau…bercanda?”

“Selera humorku bukan seperti ini.” Bantah Suho.

Yoona tidak lagi menanggapi ucapan Suho. Ia masih berpikir bahwa ia begitu dekat dengan seorang pembunuh. Bahkan menyempatkan mengobrol lalu tersenyum kepada laki-laki itu. “Apa setiap kau mengatakan ‘Kita pulang sekarangdia sedang bersama kita?”

“Ya. Kurasa dia mengikutiku, bukan kita.” Suho membenarkan.

“Kau harus melaporkannya ke polisi!” Suara Yoona tiba-tiba melengking, membuat Suho terlonjak kaget.

“Aku bahkan tidak memiliki bukti apapun yang bisa memenjarakannya.”

“Setidaklah laporlah ke polisi, Suho-ya! Jika dia bisa membunuh Jessica…bukankah─”

“Dia bisa membunuhku?” Potong Suho. “Aku juga pernah berpikir seperti itu.”

“Dia psikopat, aku yakin.” Yoona seakan-akan berbicara kepada dirinya sendiri.

Suho tertawa hambar. “Kurasa kau butuh sarapan. Kau belum sarapan, bukan?”

Yoona mendongak memandang Suho. Oh, astaga. Laki-laki ini sedang berhadapan─lagi─dengan pembunuh yang sama seperti delapan tahun lalu, dan masih dapat memikirkan sarapan untuknya? Yoona menghela nafas. “Aku ingin omelette.”

“Siap laksanakan, Tuan Putri.” Ucap Suho dan berhasil membuat senyum Yoona mengembang indah.

            “Suho-ya…k-kau dimana? Apa kau bisa menjemputku di apartemenku? Aku merasa ada seseorang yang mengikutiku. S-Suho-ya?”

Suho berdiri di dekat jendela kamarnya. Perempuan itu sedang tertidur di atas ranjangnya. Empat jam lalu perempan itu menelponnya dan memintanya menjemputnya di apartemen─dengan alasan ia merasakan ada seseorang yang mengikutinya.

Dan inilah ketakutan terbesar Suho.

Baru saja terjadi.

Laki-laki itu menoleh dan memandang Yoona yang tengah tertidur pulas.

“Joonmyun-ah! Kau dimana?! Kumohon, jemput aku di apartemenku sekarang. Kumohon, Joonmyun-ah!”

            “Kau baik-baik saja, Sica-ya? Aku akan menjemputmu sekarang.”

            “Ada seseorang yang mengikutiku dan menyusup masuk ke dalam apartemenku. A-Aku…ketakutan…Kumohon…”

Suho menelan salivanya dengan susah payah. Rasanya seperti menelan kenyataan yang sama seperti delapan tahun lalu. Susah sekaligus menyakitkan.

“Suho-ya? Kau tidak tidur?” Yoona mengerang tetapi tidak membuka matanya.

I will,” Jawab Suho pelan. “Kembalilah tidur, Yoong. Aku tetap di sini.”

Menjagamu.

            Matahari masih belum terbangun saat Yoona sudah memandangi Suho yang tengah tertidur. Oh, lihat wajah itu. Bak anak kecil. Tentram dan damai. Yoona memberanikan dirinya menyentuh wajah Suho. Dimulai dari kening lalu turun ke mata yang terpejam itu, mengelus pipi mulusnya dan berakhir di bibir mungil milik laki-laki itu. Oh, astaga. Bahkan hanya menyentuh wajah laki-laki ini saja sudah membuat jantung Yoona ingin melompat keluar─dan fakta itu membuat Yoona tersenyum simpul. Apa ia gila?

Ia hanyalah orang biasa. Tertidur ataupun terbangun, ia hanyalah orang biasa.

Yoona melirik arlojinya. Ia harus segera kembali ke apartemennya dan mengurus berkas-berkas pasiennya yang lain.

            Suho terbangun dan tidak menemukan Yoona di seluruh penjuru rumahnya. Perempuan itu tidak meninggalkan pesan apapun saat ia pergi. Suho masih sibuk memegangi ponselnya dan menunggu Yoona menjawab telponnya. Ada perasaan tak tenang menyelimutinya─dan itu menyadarkan bahwa ketakutannya berlipat ganda.

Yob

“Kau dimana?” Potong Suho. “Kenapa kau pergi begitu saja? Kenapa kau tidak membangunkanku dan memintaku mengantarmu atau setidaknya pamit kepadaku?”

Aku ingin membangunkanmu tapi kau terlihat kelelahan. Jam berapa kau tidur semalam?” Tanya balik Yoona. Oh, sempurna sekali. Malah kini Yoona yang mengintrogasinya.

Suho mendesah, tidak ingin menjawab pertanyaan Yoona dan mengalihkan topik pembicaraan. “Kau dimana?

Apartemen. Waeyo?

Sejenak, Suho terdiam. Ia tidak bergeming. “Kau baik-baik saja?

Sangat baik.

Suho menghela nafas pelan. “Telpon aku jika terjadi sesuatu, kau mengerti?”

Arasseo.”

            Suho memacu mobilnya sekencang mungkin di jalanan Seoul. Batinnya tidak berhenti mengumpat sedari tadi. Seharusnya ia tidak membiarkan perempuan itu kembali ke apartemennya, atau meninggalkan perempuan itu sendirian. Ya, seharusnya tidak. Sial.

From: Unknown Sender

            Dia terlihat sangat cantik saat tertidur. Tidak beda jauh dengan Jessica.

Dengan sekali sentakan pintu mobil Suho terbuka dan ia  langsung berlari menaiki anak tangga, masuk ke dalam gedung apartemen Yoona. Tidak dihiraukannya resepsionis yang menyapanya atau mata yang memandangnya aneh dengan kening mengerut.

Yoona memenuhi pikirannya.

Ia menekan tombol elevator dengan tidak sabaran, mengumpat mengapa elevator di gedung apartemen ini berjalan sangat lamban.

Ting!

Dengan satu langkah lebar, Suho keluar dari elevator dan berlari menuju pintu apartemen yang terletak diujung koridor.

Apartemen 530.

Suho tahu pasti bahwa apartemen ini dilengkapi dengan fasilitas electronic card untuk mengakses pintu masuk dengan penjagaan yang ketat─keningnya mengerut saat menyadari pintu apartemen Yoona tidak terkunci dengan otomatis. Ia mendorong pintu tersebut dengan sangat pelan. Memasuki apartemen Yoona tanpa suara langkah kaki yang bisa mengagetkan siapapun yang berada di dalam sana.

“Yoona!”

“Su─”

“Ouch. Pangeranmu sudah datang, Tuan Putri.” Laki-laki itu tersenyum kecil sembari menodong leher Yoona dengan pisau. Perempuan itu duduk terikat di tengah ruangan, terlihat berantakan dengan air mata yang membasahi wajahnya dan ketakutan yang terpancar dari matanya.

“Lepaskan dia.” Ucap Suho tenang─walaupun diikuti dengan suara gertakan saat ia berbicara.

“Lepaskan?” Alis kiri laki-laki itu terangkat. “Untuk apa?”

Suho menelan salivanya dengan susah payah. Ia dan laki-laki itu saling beradu pandang. “Kita bisa berbicara berdua.”

“Maksudmu, tanpanya?” Laki-laki itu menunjuk Yoona. “Ah, aku mengerti maksudmu. Sayang, dia ingin berbicara tanpamu. Haruskah aku membunuhmu sekarang agar dia bisa berbicara denganku?” Tanya laki-laki itu pelan kepada Yoona.

“Tidak!” Suho langsung menyorak. “Lepaskan saja dia…Aku akan berikan semua yang kauinginkan.”

“Aku menginginkannya,” Laki-laki itu membungkuk dan mencium pipi Yoona. “Kau bisa memberikannya kepadaku?”

Tangan Suho mengepal di sisi tubuhnya. Sarafnya menegang seiring meluapnya emosinya. “Lepaskan dia!” Suho langsung berlari kencang dan menyerang laki-laki itu. Membuat keduanya tersungkur dan dengan cepat Suho melayangkan tinjuannya. “Ini dari Jessica untukmu!” Satu tinjuan mendarat di rahang kiri laki-laki itu. Laki-laki itu mendorong Suho yang mendudukinya, membuat badan Suho terbentur dengan lantai apartemen dan meninjunya.

“Oh, Jessica Jung? Ah, ya. Aku masih mengingatnya.”

Bugh!

“Suho-ya!” Yoona berteriak histeris saat satu tinjuan keras berhasil menghantam wajah mulus Suho.

“Bagaimana keadaan Jessica di Neraka sana? Apa aku harus mengirimmu ke sana juga agar kau tahu keadaannya?”

Bugh!

Dengan cepat wajah Suho sudah dipenuhi aliran darah. Di pelipisnya terdapat luka, di ujung bibir serta hidungnya tampak patah.

“Jangan pernah menyentuhnya!” Yoona tiba-tiba menyerang laki-laki itu dan membuatnya terjatuh dari badan Suho.

“Yoona!”

“Su─” Perempuan itu tercekat. Laki-laki itu dengan tenaga penuh mencekiknya dan membenturkan kepalanya ke dinding apartemen.

Suho bangkit lalu meraih baju laki-laki itu dan menariknya, kembali meninjunya dan Yoona jatuh tersungkur kehabisan nafas. “Yoong, larilah!”

Untuk beberapa detik Yoona mengembalikan keseimbangannya. Ia mencoba berdiri dan memacu kakinya. Namun tiba-tiba laki-laki itu menarik pergelangan kakinya dan membuatnya terjatuh. “Lepaskan aku, bodoh!” Dengan sekali tendangan keras yang tepat mengenai wajah laki-laki itu, Yoona langsung melarikan dirinya. Keadaannya benar-benar berantakan. Dadanya terasa sakit sekali dan matanya memburam tidak dapat melihat dengan jelas akibat air mata.

“Nona Yoona, kau baik-baik saja?!” Seorang pelayan gedung apartemennya kaget melihat dirinya.

Yoona menggerakkan bibirnya namun tidak terdengar suaranya. Oh, astaga. Suaranya tidak keluar. Ia tercekat! “T─” Dadanya benar-benar terasa sakit. Ia tidak bisa berbicara. Badannya ia sandarkan pada dinding, mencegahnya untuk tidak tersungkur ke lantai lagi. Tangannya mulai bergetar dan giginya bergemelatuk menimbulkan suara ngilu.

“I got you, Yoong.”

            “Oh, dasar cengeng.”

            “Kembalilah tidur, Yoong. Aku tetap di sini.”

“SEGERA TELPON POLISI! ADA SEORANG PEMBUNUH DI APARTEMENKU! SEKARANG!”

“A-Apa, Non─”

“TELPON SEKARANG! APA KAU TIDAK DENGAR?! SEKARANG!” Teriak Yoona histeris. Pelayan tersebut mengangguk cepat dan berlari mencari-cari gagang telpon. Kakinya yang ikut bergetar dipaksanya berlari kembali ke kamarnya.

Tidak, ia tidak peduli lagi dengan ketakutannya terhadap pembunuh yang hampir memenggal kepalanya itu.

Suho ada di dalam sana.

Suho memenuhi pikirannya.

“Suho-ya─OH, ASTAGA, TUHAN!” Yoona menutup mulutnya saat mendapati Suho terduduk di sebelah laki-laki pembunuh itu─laki-laki yang terbaring dengan pisau yang tertancap tepat di dada kirinya, di jantungnya. “A─ K─ Wae─ A─Apa yang terjadi padanya?!”

Suho terdiam. Kepalanya tertunduk dalam tidak berani memandang Yoona. Perempuan itu berdiri di dekat pintu dengan kaki yang bergetar hebat lalu diikuti tubuhnya. “SUHO-YA!”

Suho memperlihatkan kedua telapak tangannya. Berlumuran dengan darah merah segar. Lagi, Suho tidak memandang Yoona. Ia lebih memilih menunduk menyembunyikan wajahnya.

“K─Kau membunuhnya…?” Suara Yoona merendah.

Akhirnya Suho mendongak. Membalas tatapan iris madu yang akan selalu menjadi kesukaannya. “Pergilah.” Ucapnya pelan─lirih.

“Polisi sedang menuju ke sini sekarang.” Bantah Yoona.

“Itu mengapa aku menyuruhmu pergi, Yoong. Sekarang. Pergilah.”

“Tidak! Tidak akan!” Bentak Yoona. “Aku akan tetap diam di si─”

“Jangan gila, Yoong!” Potong Suho tak kalah keras. “KUKATAKAN PERGI SEKARANG!”

Yoona menggeleng pelan. “Aku akan tetap di sini.”

Suho bangkit dan melangkah mendekati Yoona, mencengkram kedua lengan Yoona erat dan menatapnya tajam. “Pergilah. Kumohon.”

“Tidak tanpamu.” Sergah Yoona.

“Aku membunuhnya,” Ucap Suho. “Aku membunuhnya, Yoong,” Suara Suho terdengar tercekat. Yoona tahu pasti bahwa laki-laki ini terguncang hebat. Tangannya baru saja menusukkan sebilah pisau ke jantung orang lain dan membuatnya meregang nyawa. Dan rasanya Yoona juga ikut meregang nyawa melihat kenyataan ini. “Barbaliklah dan pergi. Kumohon kepadamu, Im Yonna-ssi.”

Yoona tidak dapat berkata apa-apa. Ia tidak membantah saat Suho memutar badannya dan membiarkannya berjalan sendiri keluar dari apartemennya.

            “Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya sebelum laki-laki itu kembali dibawa ke balik jeruji besi setelah diadili.

“Lebih baik saat melihatmu sekarang.” Senyumnya berkembang cerah. “Bagaimana denganmu?”

Perempuan itu tidak menjawab sejenak dan akhirnya memilih untuk memeluk laki-laki itu. “Sangat baik setelah memelukmu.”

Laki-laki itu tertawa kecil tepat di telinga Yoona. Membuat perempuan itu kegelian dan ikut tertawa. “Kau harus sering memelukku jika ingin merasa sangat baik.”

Yoona mengeratkan pelukannya. “Akan kulakukan.”

Yoona dapat mendengar Suho menghela nafas. “Kau tahu, tidak masalah bagiku menjadi seorang pembunuh agar kau tetap selamat, Yoong.”

Aku juga begitu. Terserah siapapun identitasmuKim Joonmyun, Suho, ataupun seorang pembunuhaku akan selalu menunggumu. Terserah apapun.

Yoona melepaskan pelukannya dan menatap wajah Suho. “Gomawo.”

Suho tersenyum kecil lalu mengecup pipi Yoona. “See you in eight years.”

END

22 thoughts on “WHAT EVER

  1. Eonniiee.. Suka ceritanya.. Serem tpii sweet gitu.. Suho’nya rela ngorbanin diri demi yoona awww so sweett.. Bkin sequel donkk eon, 8 thn stelah suho kluar dri penjara gitu.. Hehehh.. Ttep smangat yah eon buat nulis ff lainnyaa..

  2. Ah kasihan suho nya harus masuk penjara lagi padahal baru aja keluar.
    Ngomong2 yang pembunuh jessica itu spa ya?? Kok ngga dikasih tau namanya.
    Butuh sequel nih… hehehe

    • Iya sengaja gak aku jelasin, mau bikin readers kepo😛
      Gak kuat kalau buat sequelnya, karena belum tau juga nanti alurnya mesti kemana hehe
      thank you commentnya❤

  3. Waduuuh … Jdi suho baru bnr” d bilang pembunuh setelah ngbunuh org yg harusnya d tangkep 8th lalu krn bunuh sica ounni ?dan syp pembunuhnya? Knp ga d jelasiiin ??

  4. It’s okay that’s love kah? Bukan? Oke, abaikan *malahapa
    Hidupnya Suho, ya ampun, ngenes banget😄
    Menurut saya alurnya rada cepet Thor, atau emang mau dibuat begitu?
    Untuk author terima kasih dan semangat nulis ^^

  5. hwaaa pas diawal agak g suka sama sikap suho… tp pas kesinisini ny jadi sweet bgtt …. penasaran sm yg ngebunuh sica, kira kira siapa yaa ??
    kasian suhony harus masuk penjara lagi … ada kelanjutannya kah ??? pas suho udah keluar dr penjara hehhe

  6. apaaaaaa….. 8 thn lg….hiks… ksian yoona nunggu lama… trus msa suho hrs msk pnjara lg … uhhh. ..
    bkin sequelx ya yg ad yoona dan suho momentx ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s