Love is Crazy (Chapter 6)

love is crazy

Tittle : Love is Crazy (Chapter 5)

Cast :

  • Im Yoona
  • Lee Donghae
  • Cho Kyuhyun
  • Oh Sehun as Im Sehun
  • Kang Seulgi
  • Lee Jonghyun as Presdir Lee
  • Kim Taeyeon as Nyonya Lee
  • Choi Siwon as Presdir Im Siwon
  • Choi Sooyoung as Nyonya Im

Genre : romance, schoollife, little bit comedy

Length : Chapter

Author : Yuna21

Rating : PG-13

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari drama “Naughty Kiss”

Author’s Note : Anyeong! Wuih wuih… makin lama aku makin lambat update.. Yappss karena aku ada project baru buat akhir bulan. Ditunggu aja ya.. Haha, aku mah suka rahasia – rahasian orangnya. Selain itu aku lagi kena Writer’s Block! Ampun dah! Sepertinya ini bakalan jadi chapter ff terpanjang sepanjang sejarah ffku :v Nih Chapter aku banyakin Yoonhae moment kok.. Caw! Happy Reading!!!

Donghae menatap Yoona yang menghabiskan makanannya dengan konsenterasi penuh. Yoona memang tidak sedang main – main. Ketika makan ia tak pernah berbicara sedikitpun. “Kau tidak minum?”tanya Donghae yang membuat Yoona terhenti sejenak.

“Jika yang kau maksud adalah air putih, aku tidak bisa meminumnya sebelum menyelesaikan makananku.”jawabnya. “Wae?”tanya Donghae butuh penjelasan. “Karena aku akan meresa mual dan tidak nafsu makan. Ya, itu kadang – kadang.”jawab Yoona yang hampir saja membuat Donghae sedikit kebingungan.

Donghae mulai mengunyah makanannya pelan sambil menatap Yoona yang kini matanya terpaku ke arah televisi di restoran ini. “Omo! EXO!”ucap Yoona. Donghae mengikuti arah pandangnya. Lalu kembali menatap makannya tak peduli. “Donghae, kau mau menemaniku setelah ini?”tanya Yoona. Donghae hanya menganggukan kepalanya.

 

oOo

 

Seperti janjinya tadi, Donghae mengajak Yoona berjalan – jalan sebentar di COEX Mall. Mata Yoona terlihat berbinar ketika berjalan di sini. Lain halnya dengan Donghae yang hanya terlihat biasa – biasa saja. Tangan Yoona dengan sendirinya tergerak menarik Donghae menuju sebuah toko buku.

“Kau yakin akan ke sini?”tanya Donghae ragu. Senyum Yoona yang mengembang perlahan memudar. “Aigoo! Aku pikir tadi ini.. em.. anu..”jawab Yoona mencoba mencari alasan. Kepala Donghae sedikir dimiringkan. Matanya menatap menyelidik ke arah Yoona, seperti ada yang salah dengan gadis ini. “Ah.. kita ke sana saja.”lanjutnya dan memutar arahnya menarik Donghae.

Donghae menghentikan langkah Yoona. Matanya masih mencurigai keganjalan dalam kepalanya. “Tidak.”jawab Donghae cepat. “Aku ingin mencari buku.”lanjutnya dan menarik Yoona masuk ke dalam.

Ketegangan di wajah Yoona perlahan memudar. Kini mungkin ia bisa bernapas sedikit lega. Kakinya melangkah mengikuti Donghae. Ya, dia tentu saja tidak menyia – nyiakan kesempatan ini. Tangannya terlepas dari genggaman Donghae. Langkahnya pergi ke satu bilik deretan buku yang sangat ia hapal.

“Yoona, kau suka EXO? Kenapa EXO? Kenapa bukan Super Junior?”tanya Donghae yang berjalan. Ia tak mendengar sedikit respon. Perlahan kepalanya berputar ke belakang. Orang yang ia ajak berbicara menghilang dari pandanganya. Donghae menghembuskan napasnya pasrah. Kakinya berjalan mencari buku yang ia inginkan.

Seperti dugaannya Yoona tentu saja sudah berdiri sambil memegang sebuah buku yang berisi kumpulan cerita tentang artis idolanya. Donghae hanya menghembuskan napasnya. Matanya kembali tertuju pada deretan buku di hadapannya.

Sedikit senyum tertarik di wajahnya ketika menatap sebuah judul buku. Tangannya mengambil buku itu dan berjalan hendak ke tempat Yoona.

Ia tak menemukan Yoona di sini. Seingatnya tadi ia melihat gadis itu berputar – putar disini. Donghae menolehkan kepalanya kekiri dan ke kanan, berjalan ke sana ke mari seperti orang kebingungan.

 

Yoona terjongkok mengambil buku di hadapannya. Tentu ia sangat senang berhasil menemukan buku yang selama ini ia cari. Tangannya membalikan buku, ia membaca sedikit tulisan di bagian belakang. “Akhirnya aku menemukannya.”gumamnya.

Dari kejauhan Donghae menatap Yoona. Langkahnya menghampiri Yoona. “Di sini kau rupanya. Akuu mencarimu kemana – mana.”keluh Donghae. Tepat saat itu matanya terhenti menatap buku yang berada di tangan Yoona. “Kau… membaca buku itu?”tanya Donghae heran.

“Tentu saja. Buku ini sangat bagus. Mereka menceritakan tentang ilmu – ilmu fisika. Aku sudah sejak lama menantikannya.”ucap Yoona tanpa sadar. “Jin-jja?”tanya Donghae tak begitu yakin. “Ck! Aku sudah sering membaca buku seperti ini!”kata Yoona dengan nada sedikit tinggi. Kali ini kepalanya mendongak.

Mata Yoona terhenti. Ia begitu terkejut akan kehadiran Donghae. Secepat mungkin ia meletakan buku itu kembali. “Ah, jinjja! Sepertinya otakku sedang bermasalah hari ini.”katanya sambil berdiri. “Aku ingin mencari apa ya tadi? Ah ya, buku resep.”kilah Yoona dan bergegas pergi.

Donghae menatap punggung Yoona dan buku tadi bergantian. Apa ada yang disembunyikannya? Donghae menggelengkan kepalanya dan menyusul Yoona. Ia melihat gadis itu mondar – mandir seperti orang tak tau arah pulang. “Ini.”ucap Donghae sambil menyodorkan komik untuk Yoona.

Mata Yoona menatap komik, lalu beralih ke Donghae. “Mianhae, aku tidak suka membaca komik.”tolaknya. “Aku pikir orang sepertimu suka membaca komik.”kata Donghae remeh. “Buku apa itu?”tanya Yoona penasaran. Donghae menatap buku yang baru saja ia temukan dan membuatnya tersenyum.

“Novel, untuk Seulgi.”kata Donghae sedikit pamer. Mata Yoona membulat. “Mwoya?”tanya Yoona sedikit syok. “Ani, ani. Ah, tentu! Ini buku yang kucari.”lanjut Yoona berbohong. Ia tak ingin melihat Donghae memberikan sesuatu apapun itu pada Kang Seulgi. “Kajja!”ajak Yoona ke kasir.

Tepat saat gilirannya dan Donghae membayar, Yoona meletakan buku – bukunya. Matanya terhenti menatap salah satu buku yang di beli Donghae. Buku itu… “Mianhae,”ucap si penjaga kasir dan membuat Yoona tersentak. Donghae mengeluarkan uangnya untuk membayar. “Aniya Donghae-ah. Aku bisa membayarnya sendiri.”cegah Yoona.

Sebuah tatapan tajam terlempar ke arahnya. “Siapa yang ingin membayar milikmu? Aku memberi uang bayaran bukuku.”jawab Donghae. Yoona tertunduk malu dan segera mengeluarkan uangnya. Ia menatap Donghae yang sudah meninggalkannya. Setelah membayar, secepat mungkin ia menyusul Donghae.

“Donghae tunggu!”serunya. Laki – laki ini tak terhenti sedikit pun. “Yakk!”panggil Yoona yang berusaha mengejar dengan susah payah. Tanpa sengaja kaki Yoona menginjak tali sepatunya yang terlepas.

TAP!

Hampir saja ia terjatuh. Tangannya berhasil digenggam seseorang. Mata Yoona berpaling dengan cepat. Sebuah senyum yang khas membuatnya ikut tersenyum. “Gomawo oppa,”gumam Yoona. Kyuhyun tertawa kecil dan melepaskan tangannya perlahan. Ia kembali tersenyum.

 

Donghae menghentikan langkahnya. Badannya berputar, sorot matanya menajam menatap dua orang di belakangnya. Yoona seperti sedang berbicara sesuatu dengan Kyuhyun, matanya berbinar. Sinar mata yang tak pernah ia lihat sebelumnya. Begitu juga dengan Kyuhyun yang menatap Yoona.

Donghae menghembuskan napasnya. Wajahnya yang sedikit mendatar membuatnya berjalan menghampiri dua orang itu. “Ayo pulang. Sehun sudah menunggumu di rumah.”ajak Donghae. Tangannya menarik Yoona tanpa meminta izin terlebih dahulu.

Yoona menatap Donghae bingung. Ia tak mengerti dengan sikap laki – laki ini. “Donghae, Sehun tidak menungguku.”kata Yoona. “Tau apa kau? Sudah diam.”sahut Donghae mendingin. Seketika Yoona menutup mulutnya dan tak mengatakan sepatah katapun.

“Hyung! Ah, noona!”sebuah seruan menghentikan langkah dua orang ini. Donghae berbalik menatap tempat Kyuhyun berdiri. Matanya terbelalak menatap Sehun yang berdiri bersama Kyuhyun. “Kenapa kau tidak memberitahuku?”tanya Donghae sedikit kesal pada Yoona. “Aku sudah mengatakannya, kau saja yang tidak ingin mendengarkan!”jawab Yoona.

“Rupanya aku tidak salah. Kalian ada di sini.”kata Sehun senang. Langkahnya bersama Kyuhyun menghampiri Donghae dan Yoona. “Kau pergi bersama Kyuhyun oppa?”tanya Yoona. Sehun mengangguk senang. “Berhubung semua berkumpul disini, bagaimana jika kita menghabiskan waktu bersama sebentar?”tawar Sehun.

Dengan raut masam Donghae menyetujuinya. Kakinya dengan terpaksa melangkah mengikuti orang – orang di hadapannya ini. “Ayolah hyung kita bersenang – senang.”hibur Sehun.

 

oOo

 

Yoona melangkah beriringan dengan Kyuhyun. Matanya melihat ke sana kemari dan sesekali tertawa bersama gurunya ini. “Ah oppa, lihat!”tunjuk Yoona. Kyuhyun tertawa. Sesekali Sehun dipanggilnya untuk mengmbil foto mereka di aquarium terbesar di mall ini.

Donghae menatap mereka malas. Ia hanya melemparkan tatapan tajamnya. Langkahnya dengan sengaja melewati depan kamera dengan modus ingin melihat ikan. “Yakk!”seru Yoona kesal.

Kyuhyun menariknya untuk bergeser. Kembali Donghae diam – diam menyelinap di tengah – tengah mereka. Dua orang ini menghembuskan napasnya pasrah dan mencari tempat lain. Kini mereka telah bersiap berfoto, Sehun sudah mengangkat kameranya hendak mengambil gambar. Lagi – lagi digagalkan oleh Donghae yang sedang menelpon di depan kamera.

“Yakk! Hyung, kalau kau ingin berfotoan ikutlah. Kalau tidak lebih baik kau geser.”tegur Sehun pasrah. Ia telah kesal dengan kelakuan Donghae. “Baik, aku akan ikut berfoto.”ucap Donghae semangat.

Langkahnya mengambil tempat di sebelah Yoona. Kyuhyun yang berada di situ menatapnya tajam. Segera ia berpindah ke sisi sebelahnya. “Bersiaplah, satu, dua,”aba – aba Sehun.

Tangan Kyuhyun yang hendak merangkul Yoona dibuat gagal oleh Donghae. Pria ini menarik Yoona hingga kini dia yang berada di tengah. Sebisa mungkin Kyuhyun menahan amarahnya. Donghae menatapnya tajam. “Yoona, sini..”ajak Kyuhyun.

Dengan cepat Yoona berjalan menghampiri Kyuhyun. Tangannya merangkul lengan Kyuhyun. Mata Donghae terlihat berapi – api begitu melihatnya. “Sekali lagi.”kata Sehun. Secepat mungkin tangannya menarik Yoona ke dalam pelukannya. Tentu saja Kyuhyun tak mau kalah dan menarik Yoona kembali.

Sementara gadis yang mereka perebutkan merasa tidak nyaman dengan kondisi ini. “Yakk! Lee Donghae, apa maumu?”tanya Kyuhyun tak sabar. Tangannya menarik Yoona kesisinya. “Tentu saja berfoto.”jawab Donghae dan menarik Yoona. “Ayo kita berfoto lagi.”ajak Donghae pada Yoona.

“Dari tadi kau selalu menghalang saat aku berfoto.”

“Oh ya? Kau saja yang merasa seperti itu.”

Sehun menatap dua orang itu heran. Tangannya dengan jail memotret kejadian yang begitu unik ini. “Yoona tidak akan berfoto denganmu!”seru Kyuhyun. “Kau saja yang terlalu percaya diri!”cibir Donghae. Kedua pria ini menarik Yoona kesana ke mari dan membuat gadis ini sedikit pusing.

“STOP!”bentak Yoona. Matanya menatap Donghae dan Kyuhyun bergantian. “Aku tidak memilih siapapun.”jawabnya. “Yoona!”panggil dua orang ini berbarengan.

TAK!

Bergiliran Yoona menginjak kaki Donghae dan Kyuhyun. Kedua orang ini merintih kesakitan. “Ini karena kau!”bentak Kyuhyun. “Aish.. kau yang membuatnya pergi.”sahut Donghae. Sebuah cahaya blitz yang memapar wajah mereka membuat keduanya menoleh bersamaan.

“Yakk! Sedang apa kau?!”bentak Donghae yang menghentikan Sehun memotret. “Kau mengambil gambar tanpa ijin, hentikan!”sambung Kyuhyun. Pria itu berjalan pergi. Dengan tawa mengejek Sehun menatap Donghae. “Kau harus berhati – hati hyung.”ejek Sehun dan kembali memotret Donghae.

“Maksudmu?” Jeda. “Hei! Hentikan!”

“Kau menyukai Noona kan?”

“Aniya!”jawab Donghae disertai tatapan tajamnya. Kakinya bergegas menyusul Yoona dan Kyuhyun. Sementara Sehun dia masih berdiri disana sambil melihat hail – hasilnya. “Noona,”dengusnya.

 

“Yoona kau pulang denganku, kan?”kata Donghae dan Kyuhyun berbarengan. Yoona terlihat masih kesal. “Aku akan pulang dengan Sehun.”ucapnya ketus. Donghae melirik ke arah Sehun, begitu juga dengan Kyuhyun. “Wae?”tanya Sehun.

“Jika tidak setuju, kalian pulang saja berdua!”sahut Yoona. Tangannya menarik Sehun dengan cepat. Seperti biasa Sehun akan mengeluarkan cengiran khasnya yang mengejek pada Donghae dan Kyuhyun.

 

oOo

 

KREK!

Yoona membuka pintu kamar Sehun dengan pelan. Malam – malam seperti ini, ia lebih suka berada di kamar Sehun, entah untuk apa itu. “Kau melihat apa?”tanya Yoona penasaran akan yang tengah membuat Sehun tersenyum di depan laptopnya.

Mata Yoona sedikit mengitip. Sehun buru – buru menutup laptopnya. “Ah, Sehun yeoja-chingu?”goda Yoona. Terlihat wajah Sehun sedikit memerah. “Aniya!”kilahnya. “Eum… ah! Kau, kau menonton film porno..”tebak Yoona. “Noona kau ini, aish, sudah sana pergi belikan aku makanan. Eomma dan appa tidak di rumah.”

Yoona tertawa geli yang melihat wajah Sehun yang memerah. “Arraseo.”ucap Yoona dan bergegas pergi.

 

Tangan Yoona perlahan membuka pintu gerbangnya. Tepat saat itu matanya terhenti. Ia menatap Donghae yang sudah berdiri di sana. “Yoona,”panggil Donghae. Yoona berputar dengan cepat ia masih ingat kata – kata Donghae. Tadi siang hanyalah karena Donghae yang mengajaknya berbicara dan pergi makan. Ia tak boleh menemui pri itu kali ini, sesuai janjinya.

“Kau mau kemana?”tanya Donghae mencegah. “Oh ya kesitu.”kata Yoona pada dirinya sendiri dan bergegas melewati Donghae. Tangan Donghae menariknya, hingga ia tidak bisa melangkah kemana – mana lagi. “Nae eomma memberikan ini padamu. Kau dan Sehun pasti belum makan.”kata Donghae sambil menyodorkan rantang makanan.

“Gomawo.”gumam Yoona. Langkahnya hendak berjalan masuk. Donghae mengikutinya. “Kau mau apa?”tanya Yoona menghentikan. “Masuk.”jawab Donghae. “Andwae! Kau pulang saja, besok aku kembalikan tempatnya.” Jeda. “Jeongmal gomawo Donghae.”kata Yoona cepat dan menutup gerbang rumahnya.

Donghae menatap pintu yang tertutup ini sejenak. Ia merasa aneh pada dirinya sendiri. Kenapa aku bertingkah seperti orang bodoh akhir – akhir ini?

DRT!

Ponsel Donghae bergetar. Sebuah senyum tertarik di wajahnya. “Yeobbseo,”sapanya. “Aniya, em. Aku sudah di rumah.”jawab Donghae. Tangannya mematikan sambungan. Ia masih berdiri di depan pintu. Perlahan gerbangnya terbuka. Yoona menatapnya dengan tersenyum lebar. “Ekhm, sepertinya aku harus pulang.”deham Donghae dan memutar badannya.

Yoona menatap Donghae sebal. “Psh, kau berbohong. Yakk! Pulanglah! Dan jangan kembali!”serunya. Donghae meliriknya tajam. “Ne, tentu.”jawabnya ketus. Donghae berjalan pergi. “Yakk! Hei! Aku hanya bercanda!”panggil Yoona. “Aish jinjja!”gerutunya. “Yakk! Lee Donghae!”panggilnya sekali lagi.

Kali ini Donghae memutar badannya. “Mwo?”tanyanya dingin. Yoona berjalan menghampirinya. “Ini, tempatnya kau melupakan.” Donghae menerima rantangnya. “Makanannya enak sekali.”puji Yoona.

“Memangnya kau sudah memakannya?”

“Belum,”jawab Yoona polos dan tersenyum. “Oh ya sampaikan terimakasihku pada ibumu.”lanjutnya. Donghae hanya menatapnya tajam seperti biasa dan mengangguk. “Sudah malam, besok ujian. Cepatlah tidur!”perintah Donghae.

Yoona terdiam sejenak. Jantungnya berdebar mendengar ucapan Donghae. Ia tau itu sebuah bentakan, tapi baginya itu adalah sebuah perhatian Donghae. “Ne.”jawab Yoona sambil tersenyum.

PAK!

Sebuah buku dilempar Donghae ke wajahnya. Sontak senyumnya memudar. Kini telah berganti sebuah amarah. “Aku sengaja membelikannya untukmu.”kata Donghae tanpa menoleh. Yoona menatap buku itu. Tentu saja dia sangat senang. Itu adalah buku yang tadinya ingin ia beli. “Gomawo.”gumam Yoona.

Donghae terdiam tak mengatakan apapun. Ia merasakan dirinya sedang diperhatikan. Matanya bergelincir menatap Yoona. “Wae?”tanya Donghae. “Mianhae, aku sudah melanggar perjanjian.”kata Yoona sambil menunduk. Seketika itu mengingatkan Donghae pada ucapannya.

“Aigoo, pabbo-ya! Kalau begitu aku ambil ini lagi.”kata Donghae sambil menarik buku yang baru saja ia berikan. “Yakk! Barang yang sudah diberikan tidak boleh ditarik kembali.”sanggah Yoona yang berusaha mengambilnya kembali dari tangan Donghae. “Ambil saja jika kau bisa.”tantang Donghae.

Tangan Yoona berusaha meraihnya, namun Donghae meninggikan tangannya. Yoona melangkah maju untuk mengambil, pria ini menyembunyikannya di balik badannya. “Yakk!”seru Yoona. Donghae hanya terkekeh. Kembali ia berusaha mengambilnya dari tangan Donghae. Pria ini terus saja merecokinya.

CUP!

Tanpa sengaja bibir Yoona menyentuh pipi Donghae. Seketika semuanya terhenti. Tawa Donghae, raut wajah Yoona yang kesal. Semuanya terhenti seakan – akan waktu ikut terhenti. Mereka saling menatap untuk beberapa saat. Jantung Yoona berdebar dua kali lipat. Sungguh itu benar – benar tak sengaja. “Im Yoona,”panggil Donghae dingin.

Sorot matanya yang tajam dan lebih dingin dari biasanya membuat Yoona sedikit takut. Matanya tak menatap Donghae. Telinganya bersiap mendengar bentakan Donghae.

PAK!

“Aw!”rintih Yoona sambil mengusap kepalanya. Donghae memukul kepalanya pelan dengan buku. “Ini ambil, sudah malam. Aku harus pulang.”kata Donghae cepat. Ia baru saja hendak melangkahkan kakinya. “Donghae, mianhae.. aku tidak sengaja.”pinta Yoona.

“Lain kali akan ku balas.”kata Donghae dan berjalan pergi. Yoona menatap punggung Donghae yang menjauh. Tangannya memegang bibirnya. Sebuah senyum terlukis di wajahnya. Entahlah, terkadang ia tak mengerti sikap Donghae yang selalu berubah – ubah.

 

oOo

 

Yoona menatap kertas ujiannya. Kepalanya meutar otak sedang memikirkan jawaban atas pertanyaan – pertanyaannya, begitu juga dengan siswa yang lain. Tentu saja itu tidak berlaku pada Donghae. Pria itu terlihat santai, padahal lembar jawabannya masih kosong. Ia terlihat seperti menunggu waktu.

Kyuhyun yang berdiri mengawasi ujian tengah semester ini menatap Yoona. Tangannya mengepal, mulutnya bergerak seakan menyemangati Yoona. Gadis itu tersenyum. Melihat hal itu mebuat Donghae memicigkan matanya. Ia mendengus meremehkan. Kini tangannya mulai menulis.

Belum ada semenit Donghae telah menyelesaikan semua soalnya. Ia menyandarkan diri di kursi. Tangannya membuka buku untuk membaca. “Donghae, kau sudah selesai?”tegur Kyuhyun. Donghae tak mengindahkan tegurannya. “Baiklah waktu tinggal lima menit lagi.”lanjut Kyuhyun.

Dengan terburu – buru Yoona mengerjakannya. Mungkin tidak ada pilihan lagi. Ia tidak boleh terus menghindar seperti ini. Ia harus bisa menyelesaikannya.

 

oOo

 

Sehun menunggu di depan gerbang sekolah Yoona. Entah apa yang membuatnya kemari, padahal Yoona tidak memintanya untuk menjemputnya. Matanya menatap gelisah ke dalam. TET! Suara membuat Sehun sedikit lega.

Perlahan satu per satu siswa keluar. Dari kejauhan matanya menangkap Seulgi yang berjalan keluar. Dengan cepat Sehun membalikan badannya berusaha menyembunyikan wajahnya. Sebuah kaca mata hitam ia pasanga, berharap tak dikenali.

Seulgi melangkah perlahan. Matanya menatap aneh ke arah Sehun. “Kau?”tegur Seulgi sambil berusaha mengingat. “Kau adik Yoona, kan?”tanyanya. Perlahan Sehun memutar badannya dengan gayanya penuh percaya diri. Tangannya membuka kaca matanya sambil menebarkan pesonanya. “Oh, kau lagi.”ucap Sehun datar.

“Sombong sekali!”gerutu Seulgi.

“Sehun!”sebuah panggilan membuat Sehun mengalihkan pandangannya. Matanya menatap Yoona yang berlari ke arahnya. “Sedang apa kau di sini?”tanya Yoona sesampainya di sana. Matanya melirik Seulgi. “Kenapa kau bisa bersama Seulgi? Kajja!”tarik Yoona yang berusaha mengajak adiknya sejauh mungkin dari Seulgi.

“Songsaengnim, boleh aku ikut pulang denganmu? Kurasa ibuku tidak bisa menjemput hari ini.”bujuk Seulgi yang menghentikan Kyuhyun. Kyuhyun menatapnya. “Mianhae, aku..”

“Yoona akan pulang bersamaku hyung!”seru Sehun. Kyuhyun tersenyum dan melambai setuju. “Yoona, jangan lupa telepon!”perintah Kyuhyun dan berjalan pergi bersama Seulgi. Yoona hanya mampu tersenyum.

 

Sehun menatap Seulgi dan Kyuhyun sedikit kecewa. Ada penyesalan sedikit di hatinya. Sesungguhnya kedatangannya ke sini bukan karena kakaknya. Tapi ada urusan pribadi yang harus ia selesaikan. “Psh, Kang Seulgi. Aku tidak habis pikir apa yang dia inginkan! Dulu saat aku mengejar Donghae dia ingin merebut dan sekarang…”gerutu Yoona.

“Dia hanya ingin menghancurkanmu.”jelas Sehun. Mata Yoona menyorot tajam. “Kau sudah tidak menyukai Donghae?”tanya Sehun penasaran. “Maybe.”jawab Yoona sedikit bingung. Sehun terdiam sejenak. Ia seperti sedang memikirkan kemungkinan – kemungkinan buruk yang akan terjadi.

Tepat saat itu, orang yang mereka bicarakan kini berlalu di hadapan mereka. Kali ini Donghae membawa motornya. Entahlah belakangan ini dia sering membawa motor. “Hyung!”panggil Sehun. Donghae menghentikan laju motornya.

“Sedang apa kau disini?”tanya Donghae yang membuka helmnya. Sehun tertawa. Donghae hanya menganggukan kepalanya mengerti. Sedikit rasa curiga muncul di kepala Yoona. “Noona, kau pulang bersama hyung. Aku ada urusan.”ucap Sehun dan bergegas pergi.

Yoona menatapnya. Kini ia beralih menatap Donghae. Langkahnya mendekat hendak menaiki motor. “Maaf, aku sibuk.”kata Donghae yang kembali memasang helmnya. Tangan Yoona dengan cepat menghentikan sebelum pria ini pergi. “Kau tidak dengar apa kata Sehun tadi?”

“Mendadak aku lupa ingatan. Permisi.”jawab Donghae ketus dan menyalakan motornya. Lajunya sangat cepat hingga menghilang dari hadapan Yoona. “Aish, jinjja! Kenapa hari ini aku sial sekali?”gerutunya.

Yoona berjalan dengan pasrah. Ia tahu hari ini mungkin ia bisa menaiki bus. Ya, itulah pilihan satu – satunya saat ini. Kakinya terus berjalan. Memang jarak halte cukup jauh dari sekolahnya.

Langkahnya terhenti di pertangahan jalan. Matanya mendapati Donghae yang terduduk di atas motornya dengan santai. “Ah.. Yoona, kau mau tumpangan?”tawar Donghae. Dengan semangat Yoona mengangguk.

“Kemarilah.”suruh Donghae. Yoona bersiap menaiki motornya. “Bantu aku mendorong.”perintah Donghae. Mata Yoona terbelalak. “Mwoya?!”tanyanya. “Aniya! Lebih baik aku naik bus saja!”ucapnya dan hendak melangkah pergi.

Sebuah tarikan di rambutnya membuat Yoona tak bisa melangkah kembali. “Emm, ku rasa aku belum memaafkanmu soal semalam.”kata Donghae sambil menunjuk motornya. Yoona hanya bisa menghembuskan napasnya pasrah.

Tangannya mulai membantu Donghae mendorong motornya. Sungguh ia menyesal bertemu Donghae disini. Sepanjang jalan ia merutuki dirinya. Baru sebentar keringat Yoona sudah bercucuran. Bagaimana tidak? Motor yang di dorongnya adalah motor besar. “Donghae bisakah kita istirahat sebentar?”bujuk Yoona.

Donghae tak menjawab. Ia terus mendorong motornya. “Cobalah nyalakan motormu.”suruh Yoona. Kali ini mereka terhenti. Donghae memarkirkan motornya sejenak. Ia terduduk di atas motornya. Badannya berbalik menatap Yoona yang akan pingsan dalam hitungan beberapa detik lagi.

“Siapa bilang motorku mogok?” Yoona terdiam sejenak. “Lalu kenapa kau menyuruhku mendorong?”tanya Yoona. “Kau saja yang terlalu mudah untuk disuruh. Dasar Bodoh!”jawab Donghae dingin. “Jadi kau menipuku, huh?!”

Kekesalan jelas terlihat di wajah Yoona. Ia sudah dibuat berkeringat hingga rasanya ingin pingsan karena mendorong motor. “Yakk! Ini tidak lucu!”bentak Yoona kesal. Tangannya memukul Donghae dengan geram. “Hei! Kenapa kau memukulku?”tanya Donghae yang berusaha melindungi diri dengan tangannya. “Aku masih kesal padamu!”

Seketika sebuah tawa yang begitu cerah terpancar di wajah Donghae. Tawa dan senyum yang begitu ikhlas yang benar – benar keluar dari dalam dirinya. Tawa yang tak pernah dilihat Yoona. Mata Yoona terhenti begitu melihatnya. Seperti sebuah pesona yang menghipnotis hingga Yoona memutuskan tak memukulnya lagi. “Wae? Kenapa berhenti?”tanya Donghae yang masih terkekeh.

Yoona menatapnya. Telinganya tak menangkap suara apapun. Matanya hanya terfokus pada Donghae. Begitu tampan bagaikan pangeran yang jatuh kuda putih. Tidak. Jatuh dari langit. Ya begitulah… “Tampan…” Begitulah bunyi kaliamat yang berhasil lolos dari mulutnya.

“Wae?”tanya Donghae yang tawanya menghilang. Kini ia berubah menjadi dirinya lagi yang membuat Yoona tersadar seketika. “Ani. Yakk! Kenpa kau menertawaiku?!”tanya Yoona dengan nada tinggi.

“Kau lucu saat marah.”jawabnya sedikit terkekeh. Yoona menatapnya sebal. Langkahnya dengan cepat menaiki motor Donghae. “Kau mau apa?”tanya Donghae heran. “Turun sekarang! Atau aku yang akan menurunkanmu!”perintah Donghae.

Yoona memeletkan lidahnya mengejek. “Uekk, shireo!”jawabnya. Kini kekesalan itu mengaliri Donghae. “Dalam hitungan ketiga turun!” Jeda. “Satu,” Donghae mulai menghitung. Kepalanya menoleh ke belakang. Yoona tak mau bergerak.

“Dua,”lanjut Donghae menghitung. DEP! Tiba – tiba saja Yoona memeluknya dengan erat. Donghae mendengus kesal. “Lepaskan! Kau mau aku turunkan?!”tanya Donghae yang mulai kesal. Tangannya mencoba melepaskan tangan Yoona yang melingkari pinggangnya. “Tidak mau!”jawab Yoona yang semakin mengeratkan pelukannya.

“Aish Jinjja!”desahnya. Dengan terpaksa ia menyalakan motornya dan membiarkan Yoona berada di atas motor. Tunggu saja aku akan mengerjaimu…

Donghae melajukan motornya perlahan. Yoona merasa sedikit aman sekarang. Perlahan ia melepaskan pelukannya. “YAKK!!!”teriak Yoona yang begitu terkejut. Donghae tiba – tiba saja melajukan motornya dengan kecepatan penuh tanpa aba – aba. Ini membuat Yoona kembali mendekapnya. “DONGHAE! HENTIKAN SEKARANG!”perintah Yoona yang merasakan nyawanya melayang di udara. Tangannya tak berani sedikitpun dilepaskan. Matanya terpejam tak ingin melihat.

“Rasakan! Siapa suruh kau ingin bermain denganku.”jawab Donghae yang tak mau menghentikan laju motornya yang sangat cepat. Yoona merasakan rambutnya yang berkibar. Rasanya kakinya sangat lemas saat ini. Sungguh ini membuatnya sangat takut. Ia hanya bisa terus berpenggangan.

Sementara di depan sana Donghae tertawa puas bisa mengerjai Yoona. Tanpa ia sadar pelukan Yoona yang begitu erat berhasil membuat jantungnya berdebar. Hatinya terasa sedikit aneh. Ia memelankan laju motornya perlahan.

“YAKK! DONGHAE!”bentak Yoona yang masih memejamkan matanya di belakang. Pelukannya pun masih sangat erat. “Lepaskan!”ucap Donghae. “Aku sudah memelankannya.”lanjutnya pelan. Yoona menyadari kondisi yang sudah kembali normal dan tidak seperti tadi yang rasanya ia ingin melayang. “Eoh,”katanya dan melepaskan pelukannya. “Kau hampir saja membunuhku!”lanjutnya.

“Huh, kau mau mencobanya lagi?”goda Donghae. “Haha.. dasar! begitu saja takut.”tawa Donghae. Berusaha mungkin ia menyingkirkan perasaan anehnya tadi. Sedikit rasa jailnya muncul. Sengaja ia menaikan sedikit kecepatan secara tiba – tiba.

Tentu saja ini berhasil membuat Yoona tersentak. “YAKK!”seru Yoona terlonjak. Donghae terkekeh di depan. Nyatanya ia tak melajukan motornya sekencang tadi. Perlahan Donghae mulai memperlambat laju motornya.

Yoona menyadari dirinya yang dibonceng hingga masuk ke rumah Donghae. “Donghae, berhenti! Ini bukan rumahku!”perintahnya. Motor Donghae terhenti. Bukannya berbalik dan mengantar Yoona pulang, ia malah memarkir motornya dan hendak memasuki rumah. “Hei! Antarkan aku pulang!”perintah Yoona sekali lagi. Ia berjalan menyusul Donghae.

Pria ini menatapnya dingin. “Aku tidak pernah menawarkan diri ingin mengantarmu pulang. Jika kau mau pulanglah sendiri. Lagipula rumahmu tidak jauh.”sahut Donghae datar. “Psh!” Yoona menghembuskan napasnya kesal. “Eomma aku pulang!”seru Donghae.

Perlahan seorang wanita keluar dari dalam. Matanya membulat menatap Yoona. Yoona hanya tersenyum sambil memberi salam. “Anyeonghasseyo, Ahjumma.”sapanya. “Kau bilang mau pulang kenapa masih di sini?”tegur Donghae.

“Hei, kau tidak boleh begitu. Suruh dia masuk.”kata Taeyeon. “Aniyo, apa yang dikatakan Donghae ada benarnya. Lagipula ibuku pasti sudah menunggu di rumah.”kata Yoona cepat. “Baguslah.”sahut Donghae datar. “Hei, tidak usaha buru – buru. Ayo masuk dulu.”ajak Taeyeon. Tangannya menarik Yoona dengan paksa sambil tersenyum. “Aniya,”tolak Yoona sopan. “Tidak apa – apa. Kau jangan dengarkan Donghae.”paksa Taeyeon.

Yoona terduduk diam. Sementara Taeyeon sedang menyiapkan sesuatu di dalam. Sesekali mata Yoona melirik Donghae yang dengan cueknya terduduk tak jauh darinya. “Ibumu baik sekali. Sangat ramah. Aku tak percaya dia memiliki anak sejahat kau.”celetuk Yoona. Donghae tak menoleh sedikitpun. “Kau mengatakannya karena orang tua kita berteman. Hebat sekali.”sahut Donghae. “Aniya! Aku berkata jujur.”sanggah Yoona.

Donghae bangkit dari duduknya. Ditariknya Yoona secara paksa. “Udiga?”tanya Yoona tergelagap. “Pulang.”sahut Donghae. “Yakk! Aku baru saja duduk.”cegah Yoona. Dari dapur Taeyeon keluar membawa minuman dan beberapa makanan ringan. Diletakannya di atas meja. “Eomma, aku mengantar Yoona pulang dulu.”ijinnya. “Heh? Kenapa terburu – buru sekali?”tanya Taeyeon.

Yoona membuka mulutnya hendak mengeluarkan beberapa deret kata. Donghae memotongnya dengan cepat. “Dia sakit perut.”potong Donghae. Sebuah tatapan langsung terarah padanya. Donghae tentu saja tak menghiraukannya. “Aku pergi!”kata Donghae. “Aku permisi ahjumma.”ucap Yoona terpaksa. Taeyeon mengangguk, “Lain kali main ke sini lagi, ne.”ajak Taeyeon. Yoona mengangguk sambil tersenyum. “Kajja!”tarik Donghae.

 

oOo

 

Perlahan motor Donghae terhenti di depan gerbang rumah Yoona. “Ganti bajumu, lalu kita pergi.”kata Donghae. Langkah Yoona terhenti. Badannya berbalik menatap Donghae. “Ne?”tanya Yoona. “Su-sudah. jangan banyak tanya.”jawab Donghae sedikit terbata. Yoona hanya menganggukan kepalanya hendak masuk.

TET!

Suara klakson mobil membuat dua orang ini menoleh bersamaan. Sebuah mobil audie berhenti tepat di samping mereka. Kacanya mulai turun pelan – pelan. “Yoona, kenapa temanmu tidak diajak masuk.”suruh Siwon. Yoona tersenyum. “Anyeonghasseyo ahjussi.”sapa Donghae sambil membukukan badannya. “Kau teman Sehun juga, kan?” Jeda. “Ah, aku ingat sekarang. Kau anak Lee Jonghyun, ne?”lanjut Siwon. “Ne.”jawab Donghae.

“Appa duluan ne, ajak Donghae masuk dulu.”perintah ayahnya. Yoona hanya mengangguk. Mereka menatap mobil Siwon yang masuk ke dalam, lalu kedua orang ini bertatapan sejenak. “Pulang sana!”perintah Yoona ketus. Donghae membulatkan matanya. “Mwoya? Kau tidak dengar, aku disuruh masuk dulu.”jawab Donghae. “Tadi kau mengusirku di rumahmu.”sindir Yoona. “Ah, aku hanya bercanda.”lanjutnya sambil tersenyum.

Donghae memasukan motornya dengan pelan. Kemudian memarkirkannya di tempat yang telah di sediakan. Kakinya melangkah masuk ke dalam mengikuti Yoona. “Wah, ada Donghae rupanya. Masuklah. Sudah lama kau tidak bermain ke sini.”sambut Sooyoung.

“Memangnya dulu Donghae sering ke sini?”tanya Yoona tak tahu.”

“Tentu saja. Dia teman adikmu juga.”jelas Sooyoung. Nyonya Im ini tersenyum ramah pada Donghae dan dibalas Donghae dengan sopan. “Kajja!”ajak Yoona. “Ibuku masak banyak hari ini.”

Donghae mengikuti Yoona berjalan ke ruang makan. Matanya sudah mendapati Sehun dan Presdir Im Siwon yang terduduk. Siwon mempersilahkannya duduk. Donghae tersenyum dan tentu saja duduk di sebelah Sehun. “Yoona, kau bilang Kyuhyun akan ke sini.”kata Sooyoung. “Ah, dia baru saja mengirim pesan. Aku ke depan dulu membukannya pintu.”sahut Yoona dan bergegas pergi.

Donghae sedikit melirik Sehun seperti bertanya. “Dia sering ke sini. Eomma dan appa sangat akrab dengannya. Kau harus berhati – hati hyung.”bisik Sehun.

 

Tak butuh waktu lama semuanya sudah berkumpul dan kini sedang memulai makan siang mereka. Donghae yang terduduk berhadapan dengan Kyuhyun menatapnya dengan sedikit tajam. Begitu juga Kyuhyun. “Em, Kyuhyun bagaimana belajar Yoona di sekolah? Apa ada peningkatan?” Siwon membuka pembicaraan.

“Ne… dia meningkat sangat pesat.”jawab Kyuhyun sopan. Donghae menatap makanannya sebal. Bisa – bisanya dia mencuri perhatian semua orang. “Donghae, makanlah yang banyak. Tambah lagi, ne?”tawar Sooyoung. Donghae mengangkat wajahnya. “Eoh,”gumamnya sambil mengangguk. Tangannya menyodorkan piringnya.

“Kyuhyun kau juga.”suruh Sooyoung. “Ah, aniyo… kurasa ini sudah cukup.”jawab Kyuhyun sopan. “Jinjja? Biasanya porsi makanmu banyak.”ejek Yoona. Kyuhyun menatapnya tersipu malu. “Sini biar aku ambilkan.”tawar Yoona. Tangannya mengambil piring Kyuhyun.

Donghae yang hendak melahap makanannya terhenti sejenak. Sungguh ini sangat membakar dirinya saat ini. “Hyung,”panggil Sehun. Donghae mengalihkan pandangannya. “Makanlah yang banyak…”ejek Sehun. “Haha..”tawanya masih mengejek.

Donghae menghembuskan napasnya menatap Sehun. Tangannya hendak mengambil lauk. TAK! Mata Donghae menatap Yoona yang juga hendak mengambil lauk yang sama. “Untukmu saja.”ucap Donghae dan melepaskan jepitan sumpitnya. Yoona tersenyum. “Oppa, ini.”kata Yoona yang memberikan lauk itu untuk Kyuhyun. Donghae sedikit berdeham. Ia menyesal telah memberikannya jika tau seperti ini.

Sehun hanya terkekeh sejak tadi yang melihat Donghae yang tak biasanya selalu kalah. Ya Sehun tahu Donghae tidak terlalu pintar dalam merebut hati perempuan. Bahkan mungkin Donghae bisa dikatakan belum pernah berpacaran. Mungkin.

 

oOo

 

Selepas dari makan tadi, kini Donghae terduduk di kamar Sehun sambil bermain game. Sementara Yoona sedang terduduk di taman bersama Kyuhyun. “Yakk! Sehun! Kau curang!”ucap Donghae. “Aniyo…”ejek Sehun.

Kedua orang ini bermain dengan senangnya. Sudah lama mereka tidak bermain bersama. “Hahaha…”terdengar suara dari taman. Kamar Sehun yang berada di lantai dasar dengan jendela menghadap taman ini membuatnya dengan mudah menangkap suara ataupun melihat ke arah taman.

Tangan Donghae terhenti. Sementara Sehun terus saja menekan – nekan PSPnya. “YEAY!!! Aku menang!”sorak Sehun senang. Ia terhenti. Matanya menatap Donghae yang menyibakan gorden.

Donghae menatap dua orang itu yang bercanda ria di sana. Begitu bahagia. Donghae tak mengerti kenapa dia begitu tidak suka melihat hal – hal semacam ini. “Berhentilah menyembunyikan perasaanmu.”ucap Sehun. “Mwo? Aku tidak menyembunyikan perasaan apapun.”kilah Donghae.

Yoona terkekeh. Ia tertawa akibat lelucon yang dibuat Kyuhyun. DRT! Ponsel Kyuhyun bergetar. Sebuah pesan masuk. Pria ini membacanya. “Mianhae, sepertinya aku harus pamit sekarang.”kata Kyuhyun bersalah. “Aniyo, tidak apa – apa.”sahut Yoona.

Kyuhyun bangkit dari duduknya. “Sampaikan salamku pada Presdir.”katanya sambil melambaikan tangannya. Dinyalakannya mobilnya dan bergegas pergi. Yoona menatap kepergian Kyuhyun. Kini ia kembali sendiri. Sehun sedang bermain dengan Donghae. Tidak mungkin jika dia mengganggu.

“Dia sudah pulang?”

“Ne.”jawab Yoona. Kepalanya mendongak menatap Donghae yang menghampirinya. Laki – laki ini terduduk di samping Yoona. “Kelihatannya kau tidak senang dia pergi. Kenapa tidak kau kejar?”tanya Donghae. Yoona menggeleng sambil tersenyum. “Aku tidak mau bersikap bodoh seperti dulu lagi, karena itu hanya akan sia – sia seperti dulu.”sahutnya mengingat dulu betapa ia sangat mengejar – ngejar Donghae.

Tidak ada yang di lupakan Donghae. Ia masih ingat. Bahkan rasanya sekarang sedikit sepi karena Yoona mulai menjauh dari kehidupannya. “Mau jalan – jalan?”tanya Donghae. “Ekhm. Tidak mau juga tidak apa – apa.”dehamnya. “Tidak buruk juga. Kajja.”sahut Yoona.

oOo

            Sebuah taman hiburan menjadi pilihan yang tepat bagi mereka untuk bermain. Sejak tadi Yoona sepertinya tak ada henti hentinya tersenyum dan tertawa, begitu juga Donghae. Sudah berapa banyak permainan yang mereka coba sejak tadi.

“Tunggu.”ucap Yoona. “Ya, diam seperti itu.”suruhnya lagi. CKREK! Satu gambar Donghae telah ia ambil. “Bergiliri. Aku akan mengambil gambarmu.”kata Donghae. Yoona pun berdiri di dekat gambar tempat Donghae berdiri tadi. “Coba aku lihat.”katanya setelah Donghae berhasil mengambil gambarnya. Kedua orang ini melihat hasil yang mereka telah ambil. “Hahaha..”tawa mereka.

“Mau gula kapas?”tawar Donghae. Yoona mengangguk dua buah gula mereka dapatkan. Dengan sangat jail Yoona meletakan sebuah bando mickey mouse di kepala Donghae. “Haha.. kau canti sekali.”ejeknya. “Yakk!”kata Donghae ingin melepaskan. “Kita berfoto dulu.”cegah Yoona.

 

Kali ini mereka berfoto bersama. Yoona memegang kameranya, sebelah tangannya memberikan gulanya pada Donghae. Sementara laki – laki itu mengekspresikan wajahnya seperti sedang melahap gula Yoona. Beberapa foto mereka ambil dengan ekspresi dan tempat yang berbeda – beda.

“Permisi, bisakah tolong ambilkan gambar kami?”tanya Donghae sopan. Orang yang dicegahnya mengangguk. Mereka berpose di dekat taman buatan. Donghae merangkul Yoona. Perlahan kepala Yoona mendongak mentapnya sedikit terkejut. “Lihat ke kamera.”perintah Donghae. Yoona mengangguk canggung dan tersenyum ke kamera.

Telah puas berfoto dan bermain, mereka memutuskan untuk mencoba satu permainan. Kincir raksasa. Tentu saja setiap orang sangat suka menaiki permainan ini. Yoona terduduk bersebelahan dengan Donghae. Sejak tadi mereka tertawa melihat hasil – hasil foto mereka yang begitu lucu.

Donghae menatap Yoona yang masih sibuk tertawa. Merasa diperhatikan Yoona terhenti dan melirik Donghae, lalu mengalihkan pandangannya. Mereka terlihat begitu canggung. “Ini kameramu. Jika sudah mencetaknya, berikan aku fotonya satu.”kata Yoona memalingkan wajahnya.

Donghae menerimanya. Keadaan seperti ini sungguh sangat canggung. Donghae bisa merasakan dinginnya, tak seperti dulu. Walau ia suka membentak Yoona setidaknya mereka tak secanggung ini. “Ekhm. Sepertinya Yoona sekarang sudah berbeda.”deham Donghae.

Yoona meliriknya. “Tidak. Aku masih Yoona yang dulu.”

“Jinjjayo?”

“Lihat! Aku masih suka tersenyum. Aku masih bodoh. Dan aku masih cantik!”jawabnya percaya diri seperti biasa. Ketegangan sedikit mereda di sini. “Memang kau masih bodoh. Tapi kau…”jawab Donghae menggantung.

“Tapi apa?”tanya Yoona penasaran.

“Kau tetap tidak cantik dari dulu.”sahut Donghae menajam.

“Yakk!” Tangan Yoona memukulnya.

“Em.. tidak terasa waktu cepat berjalan. Sudah gelap.” Jeda. “Sama sepertimu yang berubah seiring berjalannya waktu.”lanjutnya melihat keluar. Yoona menatap Donghae teduh. Ia tau apa maksud dari ucapan Donghae. “Kau marah?”tanya Yoona ragu.

Donghae menoleh. “Wae? Aku marah kenapa?”tanya Donghae. Yoona tertunduk menatap kakinya. “Mungkin saja kau marah karena aku tidak mengganggu hidupmu lagi.”katanya. Donghae terkekeh. Tangannya mengusap kepala Yoona. “Justru aku senang kau tidak mengganggu.”

Kepala Yoona masih menunduk. “Jinjjayo?”tanyanya.

“Yah, mungkin tidak. Memangnya kau masih mau mengejar – ngejarku seperti dulu?”

“Mungkin. Jika aku tidak menyukai orang lain.”

NYESH!

Hati Donghae mulai teriris. Ia tahu maksud Yoona disini. Dia sangat paham. Mungkin gadis ini telah berpaling hatinya pada orang lain. “Huh, Kyuhyun?”tanya Donghae mendengus. Yoona mendongakan kepalanya dan menatap Donghae. Mereka bertatapan beberapa saat. “Kuharap dia tidak menyakitimu, seperti aku.”lanjut Donghae.

TAP!

Tangan Yoona menyentuh tangan Donghae. “Kau tidak menyakitiku. Aku sendiri yag melakukannya.”sanggahnya. Donghae menatap Yoona. “Kita masih bisa berteman.”lanjutnya. Donghae tersenyum. “Mianhae,”kata Donghae.

Perlahan wajahnya mendekat. Bibirnya menyentuh pelan bibir Yoona. Yoona merasa sedikit terkejut. Jantungnya terasa berdebar dua kali lipat. Ia bisa merasakan seolah – olah waktu kini sedang terhenti.

 

To be Continue………….

43 thoughts on “Love is Crazy (Chapter 6)

  1. Wowww donghae jangan jangan udh mulai suka sama yoona thor.
    Next chapter jangan lama lama yah dan Keep Writing

  2. waaaa akhirnya :”
    tapi donghae kenapa ga jelas bangeeet…. knpa dia kadang nunjukin suka kadang enggak.. pdahal yoona ga begitu peka…. sediiiih kan yoona jadi kaya suka kyu

    lanjuuut thooor

  3. donghae masih aja gengsi buat nunjukin prasaannya.. huhh
    ntar keburu yoona suka sama yang lain..
    next thor…

  4. min leh minta PW ff love is crazy (chapter 7) gak?Q sering komen di blog satunya bkn disn..yg da di fanfiction of yoonhae dgn nm ina gomez..ktnya di fanfiction yoonhae lox mau dpetin PWnya tinggal krimi alamat email ja..ni alamt email Q Deerkuma90@gmail.com gomawo min

  5. Thor, mian sekalian aku comment untk part 1-6 ya🙂
    Mnrt aku Yoona unnie ga tegas sama perasaannya. Kadang” dia menghindar dari donghae kadang” msh ngejar.. trs donghae nya jg aneh.. perasaannya ga jls antara suka ato ga. Nyebelin banget donghae nya ._. Trs kyuhyun itu suka ya sama yoona unnie?? Udh yoong unnie sama kyu aja hehehehe *evil laugh*
    Mian thor kepanjangan komennya.. semangat tulis ff trs ya thor.. fighting😀

  6. Donghae sikapnya bener” nyebelin kan kasihan yoona nya, seulgi juga, suka sikap nya sehun hehe. Chingu kalau mau minta pw love is crazy chapter 7 gimana caranya? gumawo

  7. Aaaaaaa akhirnya sampe juga di chapter 6, kenapa baca chapt ini bikin aku sedih ya 😢 authoor keren deh bikin kata katanya bisa lucu serius tapi gak alay gitu. Pokoknya keren dan Pertahankan terus yaa!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s