Love is Crazy (Chapter 5)

love is crazy

Tittle : Love is Crazy (Chapter 5)

Cast :

  • Im Yoona
  • Lee Donghae
  • Cho Kyuhyun
  • Oh Sehun as Im Sehun
  • Kang Seulgi
  • Lee Jonghyun as Presdir Lee
  • Kim Taeyeon as Nyonya Lee
  • Im Siwon as Presdir Im
  • Choi Sooyoung as Nyonya Im

Genre : romance, schoollife, little bit comedy

Length : Chapter

Author : Yuna21

Rating : PG-13

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari drama “Naughty Kiss”

Author’s Note : Apa ada penggemar FF OBSESI disini? Jika ada aku mau memberitahukan sesuatu. Chapter 12nya seharusnya aku publish sekarang tapi karena ada sedikit masalah dengan laptopku. Terus ini? Ya ini karena udah duluan dibikin sebelum kejadian.. mungkin akan kupublish besok.. Happy Reading!!

 

Siwon menatap kaku sepasang suami istri di hadapannya setelah mendengarkan apa yang mereka tuturkan. “Bagaimana? Kau setuju?”tanya Taeyeon menuntut jawaban. Siwon terdiam sejenak. Ia berpikir untuk menjernihkan kepalanya. Aku tak menyangka dua orang ini mau menjodohkan anak mereka yang memiliki otak jauh berbanding terbalik dengan otak Yoona, apa mereka sudah sakit?

“Presdir Im,”panggil Jonghyun. Siwon mengangkat kepalanya. “Ah, aku tau kita berteman lama. Yoona masih terlalu muda.”jawab Siwon sebagai alasan. Sebuah senyum nampak di wajah Taeyeon. “Presdir, lagipula aku mendengar Yoona cinta mati pada Donghae.”bujuknya.

“Walau begitu apa kalian tidak salah? Yoona bukanlah orang yang bisa diandalkan.”jawabnya. “Hei, Im Siwon. Aku tidak perlu itu. Lagi pula bukankah kau akan senang jika dua perusahaan besar akan bergabung. Dulu kau membujukku untuk bekerjasama. Aku juga banyak membantu perusahaanmu.” Sedikit gertakan sebagai sebuah ancaman dilontarkan Jonghyun. “Kau pikirkan saja dulu. Jangan terburu – buru.”lanjutnya.

“Ya mungkin aku harus membicarakannya dulu dengan Sooyoung.”katanya tegas. Sungguh Siwon tak habis pikir. Bukannya dia tidak ingin Yoona mendapatkan yang terbaik, bukannya dia juga tidak mau memiliki menantu yang sederajat dengannya. Tapi ada alasan tersendiri yaitu ia tak mau menikahkan anaknya hanya karena sebuah hutang budi dan atas dasar perjodohan. Ia tak ingin seperti itu, seperti rumah tangga mendiang ayahnya yang sudah berantakan.

 

oOo

 

Akibat kejadian semalam. Rasanya Yoona masih sedikit demam. Kepalanya juga terasa sedikit berdenyut, hingga ia tidak bisa konsenterasi belajar saat ini. Kyuhyun yang sedang menjelaskan di depan menoleh ke arah Yoona. “Yoona,”tegurnya.

Seluruh kelas melihat ke arahnya termasuk Donghae. Laki – laki ini sepertinya yang merasa sangat bersalah saat ini. “Gwaenchanhayo?”tanya Kyuhyun. Yoona menganggukan kepalanya lemah sambil memegangi kepalanya. “Gi Young, tolong antarkan Yoona ke UKS. Dia sepertinya tidak enak badan hari ini.”kata Kyuhyun penuh perhatian.

Sahabat Yoona ini menganggukan kepalanya. Segera ia melaksanakan perintah Kyuhyun untuk membawa Yoona pergi. Donghae menatap Yoona penuh rasa bersalah.

DRT!

Ponsel Donghae bergetar. Matanya beralih sejenak. ‘Donghae-ah, istirahat nanti kita makan bersama, ne? Seulgi’ begitu serikanya isi pesannya. Mungkin Seulgi tidak tau apa yang terjadi pada Yoona hari ini karena kelas mereka berbeda. Dengan cepat Donghae mengetikan sesuatu sebagai balasan.

 

oOo

 

Yoona terduduk di salah satu kasur ruang UKS. Ia masih mengingat kejadian tadi pagi.

 

Perlahan mata Yoona terbuka walau kepalanya masih terasa berdenyut. Matanya menatap langit – langi rumah ruangan yang sangat asing baginya. Pelan – pelan matanya mengedar. Ia sepertinya sedang berada di kamar, tapi ini bukanlah kamarnya. Lalu kamar siapa?

            Matanya terhenti di satu titik di sisinya. Donghae tertidur sambil terduduk di sebelahnya. Tangannya menggenggam tangan Yoona. Seingatnya semalam Donghae meninggalkannya yang lemas tak berdaya. Lalu kenapa ia bisa ada di kamar pria ini sekarang? Apa dia yang menolongnya?

            Memang ia merasa kesal. Donghae begitu membencinya. Ia tak mengira laki – laki ini akan setega itu padanya. Membiarkannya tergeletak lemas tak bersaya di tengah jalan. Haruskah ia membenci Donghae?

 

“Anyeong!”sebuah sapaan membuat Yoona tersadar dari lamunannya. Matanya menatap Kyuhyun yang menghampirinya. “Songsaengnim, bukannya kau mengajar sekarang?”tanya Yoona. “Ini sudah isirahat.”

Yoona terdiam sejenak. Gara – gara lamunan itu ia tidak mendengar bel istirahat. “Ini untukmu. Kau harus makan.”kata Kyuhyun sambil menyodorkan sekotak nasi. “Gomawo.”gumam Yoona. Kyuhyun menatap Yoona khawatir. Ia tak tau ada apa dengannya saat ini hingga begitu khawatir.

“Jangan memanggilku songsaengnim.”ucap Kyuhyun. Yoona mendongakan kepalanya. “Lalu aku harus memanggilmu apa? Appa? Harabeoji? Ajusshi?” Jeda. “Mungkin harabeoji lebih cocok.”canda Yoona. Kedua orang ini tertawa. Ditengah – tengah kondisinya yang seperti ini Yoona masih saja mampu membuat lelucon.

 

Langkah Donghae terhenti. Dari jendela UKS ia bisa melihat tawa Yoona bersama Kyuhyun. Yoona terlihat begitu bahagia sekali. Mungkin kini akan berganti, mungkin Yoona nanti yang akan membencinya.

Donghae menatap koak bekal yang ada di genggamannya. Ia mengingat kembali. Tentu saja ia masih ingat bagaimana ia menolak pemberian Yoona saat itu. “Apa ini?”tanyanya. “Bekal untukmu, sebagai permintaan maafku.”jawabnya penuh harapan. Yoona sangat berharap Donghae mau menerima permintaan maafnya ini.

            “Aku sudah kenyang. Kau makan saja sendiri.”ucapnya dingin.

            “Ta-tapi.. kau kan belum makan..”

            “Ah… aku lupa memberitahumu. Kau telat satu detik, payah. Kang Seulgi telah memberikan bekalnya untukku. Kalau kau tidak mau, kau bisa memberinya pada orang lain.”tegas Donghae dan berjalan melaluinya.

Mungkin inikah yang dinamakan sebuah karma. Mata Donghae kembali menatap Yoona, namun saat ini pandangan mereka bertemu. Secepat mungkin Donghae mengalihkannya. Badannya berputar dan melangkah pergi.

 

Yoona menatap Donghae. Ia yakin Donghae juga memperhatikannya. Tidak ada orang lain di dalam sini selain dia dan Kyuhyun. Pria itu membalikan badannya dan menghilang begitu saja. “Yoona,”sapa Kyuhyun.

Yoona mengalihkan pandangannya. “Wah! Sepertinya ini enak. Apa songsaengnim membuatnya sendiri?”tanya Yoona. Matanya menatap tempat bekas Donghae berdiri tadi. Ia berharap pria itu ada, sayangnya harapan itu sia – sia. “Ah.. aku makan ya,”katanya dengan senyum yang dipaksakan.

 

oOo

 

“Lee Donghae!”sebuah panggilan membuat kepala Donghae menoleh. Matanya menatap Seulgi yang berlarian ke arahnya sambil menenteng tas. “Kali ini kau pasti mau pulang bersama. Sudah tidak ada pengganggu lagi.”kata Seulgi.

“Aku sangat bersyukur Yoona sakit. Haha.. “tawanya. Donghae menatap Seulgi sejenak. “Haha… aku juga bersyukur,”tawa Donghae. “Karena kau aku harus mengantarnya pulang semalam!”lanjutnya dengan sorot dan nada tajamnya. Langkahnya terburu meninggalkan Seulgi. “Yakk! Lee Donghae kau mau kemana?”tanya Seulgi.

Donghae tak menjawab. Kakinya terus saja melangkah. Di tengah – tengah langkah kakinya, ia mendengar suara mesin motor. Langkahnya terhenti. Kepalanya tak menoleh. Ia menunggu, menunggu kendaraan itu berlalu.

Sebuah motor berwarna merah dengan dua orang di atasnya, laki – laki dan perempuan. Perlahan kepala perempuan itu menoleh ke arahnya, menatap Donghae. Sorot matanya begitu dalam seperti menggumamkan kata ‘Maafkan aku, sepertinya aku lebih memilihnya yang peduli padaku’.

 

Donghae menghembuskan napasnya. Matanya masih saja menatapnya hingga ujung hingga sudah tak nampak lagi oleh matanya. Langkahnya kembali berjalan menunggu bus.

 

Seperti biasa di dalam bus Donghae akan terduduk menggunakan earphonenya dan mendengarkan sebuah lagu. Tentu saja lagu yang diputarnya tidak lain adalah lagu kesayangnya. Ya, lagu itu juga disukai Yoona. Mungkin gadis itu yang mengikutinya.

Kepalanya menatap ke arah luar jendela. Tangannya mengetikan sesuatu. Sebuah pesan yang ia kirimkan pada Sehun. ‘Sehun, mianhae aku tidak bisa menjaga noonamu semalam’

DRT!

‘Aniyo, tidak apa. Ini bukanlah sepenuhnya salahmu hyung.’

Donghae menghembuskan napasnya. Haruskah ia menemui Yoona dan meminta maaf? Tidak mungkin. Itu tidak akan mungkin ia lakukan.

 

oOo

 

“Gomawo songsaengnim.”ucap Yoona di depan pintu. Kyuhyun tersenyum manis. “Istirahatlah yang cukup. Aku pulang dulu. Salam pada ayah dan ibumu.”katanya dan meluncur pergi.

Sebelah tangan Yoona membuka gerbang rumahnya hendak masuk. “Yoona,”langkahnya terhenti mendengar suara itu. Perlahan badannya berputar. Matanya terhenti. Napasnya terasa sesak sesaat ketika menatap pria yang berdiri di hadapannya kini.

Secepat kilat ia kembali memutar badannya hingga memunggungi Donghae. Rasanya jantung Yoona berdegup kencang. Ini pertama kalinya ia mendengar Donghae menyebut namanya lebih dulu. “Mian Lee Donghae, Yoona tidak ada.” Kata – kata itu tiba – tiba saja meluncur dari mulutnya.

Donghae mengangkat sebelah alisnya. “Kau ini lucu sekali. Jelas – jelas kau berdiri di hadapanku saat ini.”

“Ani-ah bukan begitu maksudku-aku sibuk. Tidak ada waktu untukku berbicara padamu.”jawab Yoona. Tak ada jawaban yang ia dengar dari Donghae. Sepertinya Donghae sudah pergi karena kata – katanya. Perlahan badan Yoona membalik.

“Hyung! Maaf membuatmu menunggu.”sapa Sehun yang baru saja pulang dari sekolahnya. Donghae tersenyum dan membalas sapaannya. “Ayo, yang lain sudah menunggu di taman.”kata Donghae. Sehun melemparkan tasnya ke arah Yoona. “Noona tolong bawakan tasku ke dalam. Aku mau pergi dulu.”perintah Sehun.

Yoona tercengang menatap kedua pria ini. Ia sungguh tak menyangka. Ia pikir Donghae ke sini untuk meminta maaf padanya. Padahal ia sudah menyiapkan akting tadi dengan susah payah. “Yakk!”seru Yoona sebal. Tangannya dengan terpaksa menenteng tas Sehun ke dalam. Jarak umurnya Sehun tidak terlalu jauh, hanya berbeda setahun. Tapi sayangnya Sehun tak mau masuk di SMA yang sama dengannya. Sehun juga sangat beruntung karena ia bisa loncat kelas hingga kini sejajar dengan Yoona.

 

“Aku pulang!”seru Yoona begitu memasuki ruang depan. Matanya sedikit membulat menatap wanita yang tengah terduduk di ruang tamu. Matanya bersinar terang. Sebuah senyum kecerian tergambar di wajahnya. Langkahnya sedikit berlari.

“Eomma!!”teriaknya. Kedua tangannya memeluk sang ibu. “Eomma kapan datang? Sejak kemaren aku merindukan eomma.”tanya Yoona bersemangat. “Barusan saja. Kau ini baru saja eomma tinggal dua hari. Bagaimana nanti jika eomma tinggal sebulan, hem?”

Yoona hanya memberikan cengiran. “Siapa yang mengantarmu pulang tadi. Pacarmu?”selidik eommanya. “Aniyo. Dia guruku. Ya, umurnya masih muda. Mungkin karena dia terlalu pintar.”sahut Yoona.

“Oh, eomma pikir dia pacarmu. Banyak sekali pria tampan dan pintar yang mendekatimu.” Jeda. “Lalu Donghae?”lanjut Sooyoung. Yoona memang selalu bercerita entang ini itu pada Sooyoung. Hanya ibunya itulah orang yang mengerti dirinya. Dia jugalah yang satu – satu orang yang percaya Yoona adalah anak yang pandai.

“Aku tidak mau membahasnya sekarang.”jawab Yoona.

“Apa ada masalah lagi?”

“Tidak.. hanya saja…” Yoona merasakan perutnya berbunyi. “Aku lapar.”

 

oOo

 

Donghae berbaring di kasurnya. Matanya menatap langit – langit rumahnya. Ia masih bisa merasakan bekas dimana Yoona tertidur di atas kasurnya. Dengan kesal ia menggaruk kepalanya untuk menghilangkan pikiran anehnya itu. Ia sungguh tak mengerti, kenapa ia menjadi merasa bersalah seperti ini. Apalagi jika mengingat wajah Yoona yang membiru kemarin malam.

DRT!

Ponselnya bergetar. Donghae menatap nama yang muncul di layar. Tangannya menekan tombol ‘jawab’. “Yeobboseo.”sapanya. Terdengar suara sedikit nyaring dari seberang sana. “Lee Donghae, ini aku Yoona.”sahutnya. Donghae menghembuskan napasnya.

“Aku juga tau itu kau. Darimana kau tau nomorku?”

“Sehun yang memberitahuku. Kau sendiri?”

Donghae terdiam sejenak. Yoona memang tak pernah memberi nomor ponselnya pada Donghae. “Ka-kau, ada apa menelponku?”kilahnya sedikit terbata.

Sementara diseberang sana Yoona bangkit dari kasurnya. Ia melangkahkan kakinya ke arah jendela. Senyumnya mengembang. Ya, biasanya Donghae akan selalu memutuskan telepon jika tau bahwa dia yang menelpon dan itulah sebabnya Yoona sering mengganti kartunya. Tetap saja pria itu tau nomornya.

“Kalau tidak ada yang ingin kau katakan akan kututup.”kata Donghae ketus. Secepat mungkin Yoona menghentikannya. “Yakk! Tunggu dulu. Aku ingin meminjam catatanmu tadi pagi.”

Donghae terdiam sejenak. Di lepaskannya ponselnya dari telinganya ia menatap ponselnya sejenak, terkejut akan apa yang Yoona katakan. “Haha.. hei, apa karena pingsan kemaren kau berubah rajin begini?”tawanya.

Mendengar ucapan Donghae dari seberang membuat Yoona sedikit menekukan wajahnya. “Aniyo. Bolehkan? Aku akan menyuruh Sehun ke rumahmu.”bujuk Yoona.

“Kenapa tidak kau saja yang kesini?”

“Ah.. tapi aku harus mengajak Sehun. Appa tidak akan mengijinkanku keluar malam – malam begini sendirian. Mungkin karena ia khawatir aku akan pingsan lagi.”

“Kalau kau tidak mau, yasudah aku juga tidak akan meminjamkanmu.”

“Jangan ditutup dulu!”seru Yoona.

Donghae memang tidak berencana ingin menutup telepon. Ia hanya terdiam. Ujung bibirnya sedikit tertarik membuat senyuman. “Siapa bilang aku ingin menutup telepon.”jawabnya.

“Ayolah Donghae.. yaya..”paksa Yoona. Donghae terdiam sejenak untuk berpikir. Samar – samar ia mendengar suara di telepon.

 

“Yoona!”sebuah panggilan membuat Yoona melepaskan ponselnya sejenak. “Ne, eomma?”jawab Yoona. “Gurumu datang. Dia bilang ingin memberikan catatan untukmu agar kau tidak ketinggalan pelajaran.”jelas ibu Yoona.

 

Donghae terpaku mendengar kalimat yang barusan ia dengar. “Donghae?”sapa Yoona di telepon. “Sepertinya aku tidak perlu meminjam buku. Akan kututup teleponnya.” Donghae tak menjawab. Ia masih disana hingga nada putus terdengar.

 

oOo

 

Taeyeon terdiam sejenak melihat anaknya yang terburu – buru menuruni tangga. “Donghae, udiga?”tanyanya. “Aku ingin membeli obat sebentar.”ucap Donghae. Taeyeon menatapnya dengan sebelah alis terangkat. “Kau sakit?”tanyanya khawatir.

Donghae mendatarkan wajahnya. “Aku sakit hati.”jawabnya. Taeyeon berdengus kesal. Hampir saja ia dibuat jantungan oleh anaknya. “Kau hampir saja membuat eomma jantunga.”gerutunya. “Tidaklah eomma, aku hanya ingin membeli cemilan.” Taeyeon menganggukan kepalanya dan berlalu pergi.

 

oOo

 

“Songsaengnim.”sapa Yoona. Kyuhyun mengangkat wajahnya dan tersenyum manis. “Maafkan aku membuatmu repot.”lanjutnya. “Tidak. Ini karena inisiatifku sendiri.”jawab Kyuhyun. Lalu Yoona mengiringnya ke halaman depan.

Di taman rumahnya terdapat sebuah bilik kecil berisi empat kursi dan satu meja. Biliknya tak berdinding namun memiliki beberapa pilar sebagai atapnya. Kyuhyun dan Yoona terduduk bersiap memulai pelajaran mereka.

Dari lantai dua, tepatnya di kamar eomma dan appanya Sehun menatap keluar jendela yang langsung menghadap ke bilik tersebut. “Sepertinya noona sudah mulai belajar bersama gurunya.”lapornya.

Sehun memutar badannya kebelakang dan menatap kedua orang tuanya yang mendengarkan laporan darinya. “Baiklah kita mulai diskusinya.”ucap Siwon selaku kepala keluarga.

Ketiga orang ini terduduk dengan serius layaknya sedang berada di sebuah rapat penting. “Lee Donghae itu, apakah dia anak Presdir Lee?”tanya Siwon serius. Sehun menganggukan kepalanya. “Siwon, kelihatannya guru Yoona itu anak yang baik. Umurnya juga masih sangat muda.”tutur Sooyoung.

“Aniya. Aku tidak setuju. Lee Donghae lebih baik. Lagi pula Noona sudah menyukainya sejak lama.”

“Sehun, apa kau tidak kasihan dengan kakakmu?”tanya Sooyoung.

“Eomma, laki – laki memang begitu. Aku sudah mengenal Donghae hyung sejak lama. Eomma dan appa juga berteman dengan ayah Donghae hyung kan?”

Siwon berpikir keras. “Ya Sehun benar. Kita juga belum tau asal usul, siapa namanya? Ah, Kyuhyun.”ucap Siwon. “Ini bukan soal bisnis. Ini soal kebahagian Yoona, Siwon… Aku lebih setuju Yoona dengan Kyuhyun.”tegas Sooyoung. “Tidak! Aku tidak suka punya kakak ipar seperti dia. Noona harus bersama Donghae hyung.”kata Sehun tak mau kalah. “Stop! Biarkan Yoona yang memilih.”relai Siwon sebelum terjadi perkelahian. “Omo! Lihat!”seru Siwon ke arah jendela.

 

oOo

 

Kyuhyun tengah asyik tertawa bersam Yoona di tengah – tengah belajar mereka. “Anyeong songsaengnim!”sebuah sapaan menghentikan tawa mereka. Dua orang ini terpaku melihat siapa yang hadir saat ini. “Lee Donghae? Kau sedang apa disini?”tanya Kyuhyun syok.

Donghae melirik Kyuhyun sejenak kemudian melemparkan pandangannya ke arah lain. “Rumahku tidak jauh dari sini. Aku hanya membawakan catatan untuk Yoona.”katanya sambil meletakan catatannya. “Yoona, Sehun ada di dalam?”tanya Donghae.

“Ada. Tapi sepertinya dia tidak bisa bertemu sekarang.” Donghae hanya mengangguk – anggukan kepalanya. “Baiklah aku permisi dulu.”kata Donghae hendak melangkah pergi. “Donghae-ah, mungkin dia tidak akan lama. Tunggulah sebentar.”cegah Yoona.

Donghae mengangguk setuju. Ia mengambil tempat duduk kosong di sebelah Yoona. Kyuhyun menatap Donghae sejenak. Entah kenapa rasanya ia tidak suka melihat muridnya yang satu ini. Kyuhyun kembali menjelaskan. Yoona memperhatikan Kyuhyun.

“Yoona, lihat! Bagus sekali.”bisik Donghae. Dengan cepat Yoona mengalihkan pandangannya. “Wah! Aku baru tau ternyata ada kunang – kunang di rumahku.”kata Yoona. “Kau tak pernah keluar rumah.”jawab Donghae. “Donghae, coba kau tangkap yang itu.”suruh Yoona. Donghae mula tergerak untuk menangkap kunang – kunang.

Kyuhyun mendapati dirinya tak diperhatikan. Ia menatap tajam ke arah Donghae yang sepertinya mencuri perhatian Yoona. “Lee Donghae,”panggil Kyuhyun. Donghae menoleh sambil tersenyum sombong. “Kau mau kunang – kunang juga?”tawarnya mengejek. Tentu saja ini membuat Kyuhyun semakin membara.

“Ups, mian aku tidak memanggilmu songsaengnim. Kupikir karena ini diluar sekolah.”ejek Donghae. Yoona menoleh ke arah Kyuhyun. “Ah, songsaengnim apa aku juga boleh memanggilmu begitu?”tanya Yoona.

Kyuhyun tersenyum kaku. “Ah, tentu. Panggil saja aku oppa.”suruh Kyuhyun. “Oh, ne oppa.”ulang Yoona. Mendengar sebutan itu membuat Donghae merasa sedikit kesal sekarang. Yoona kembali menatap Kyuhyun memperhatikannya yang muai menjelaskan kembali.

Penuh kejailan Donghae menarik ujung rambut Yoona dengan sedikit kekehan. Yoona merasa terganggu. Matanya menatap tajam ke arah Donghae, tapi pria ini terlihat sedang memperhatikan Kyuhyun menjelaskan dengan konsenterasi. “Oppa, yang ini bagaimana?”tanya Yoona pada Kyuhyun tak mengerti.

“Begitu saja kau tidak tau.”gerutu Donghae. “Kau harus mengalikannya dulu setelah itu yang variabelnya sama kau letakan di ruas kiri.”jelas Donghae mengabil alih buku Yoona. Yoona memperhatikan Donghae yang menjelaskan sambil menganggukan kepalanya. Sementara Kyuhyun yang hendak menjenlaskan dibuat kesal. “Lee Donghae, guru disini kau atau aku?”tegur Kyuhyun.

“Ne? Aku hanya membantunya. Kau bilang jika ada teman yang tidak mengerti kita harus membantunya.”jawab Donghae sambil memasang wajah polosnya. “Oh, sepertinya ada yang tidak menerima kehadiranku. Baiklah Yoona aku pulang.”lanjutnya dan bangkit dari duduknya. “Titipkan salamku pada Sehun. Lain kali jika kalian hendak belajar jangan lupa mengundangku ya!”teriaknya dengan puas.

Yoona menatap langkah Donghae yang menjauh. Sedikit rasa kecewa akan kepulangan Donghae yang lebih cepat membuat Yoona bangkit. “Oppa tunggu sebentar.”ucapnya dan menyusul Donghae yang menuju gerbang.

Puas sudah hati Donghae kini telah merusak acara belajar Yoona. Entahlah ia sungguh tidak tau apa yang di lakukannya. “Lee Donghae!”panggil Yoona di depan gerbang rumahnya. Donghae terhenti. Perlahan ia berputar menatap Yoona yang berlari ke arahnya.

“Gomawo.”ucap Yoona. “Besok pagi kau mau kan berangkat sekolah bersama?”ajak Yoona. Donghae menghembuskan napasnya. Wajahnya kembali berubah dingin dan datar. “Kau pikir aku ini supir pribadimu?”tanya Donghae sedikit kesal.

“Maksudku, kita pergi naik bus bersama.”

“Aniya! Aku akan bawa motor besok.”

“Kalau begitu aku menumpang.”bujuk Yoona.

“Tidak! Jika aku bilang tidak ya tidak! Apa kau masih tidak mengerti?”

“Kali ini saja.”mohon Yoona. Tangannya meraih tangan Donghae.

“Ya..”jawab Donghae. Mata Yoona berbinar senang. Sebuah senyum terlukis di wajahnya. “Ya, di dalam mimpi!”lanjut Donghae dan melepaskan tangannya. “Ah, aku lupa. Aku masih membencimu. Jadi peringatan untuk menemuiku itu masih berlaku.”

“Tapi-tapi-tadi kau?”

“Kalau aku boleh menemuimu. Yang harus menghindar itu kau! Atau aku tidak akan memaafkanmu dan menghilang selamanya.”

Yoona mendengus sebal. Ini sungguh tidak adil. Dimana – mana perjanjian tidak ada yang seperti itu. “Kapan ini bisa berakhir?”tanya Yoona. “Jika sudah waktunya. Kuharap kau mulai menghilang dari hadapanku besok.”

Yoona masih menatap Donghae kecewa. Haruskah ia benar – benar melakukannya-maksudnya haruskah ia harus membenci pria ini balik? “Lee Donghae di ujian tengah semester nanti akan kubuktikan bahwa aku tidak sebodoh yang kau pikir. Jika itu memang bisa membuatmu sedikit tidak membenciku.”

Sebuah senyum terlukis di wajah Donghae. “Mungkin bisa. Jika nilaimu naik sedikit saja, kau bisa bertemu denganku. Tapi tetap kau masih tidak boleh berbicara padaku lebih dulu.” Yoona mengulurkan tangannya. “Setuju!”ucapnya. Donghae tidak menjawab tangannya. “Kau setuju tidak?”tanya Yoona. “Yayaya.”jawab Donghae malas.

“Selamat malam nona manis. Aku harap kau tidak menyerah sebelum ujian.”ejek Donghae. “Haha.. beberapa menit lagi saja kau pasti akan berubah pikiran dan menyerah.”lanjutnya semakin mengejek.

Kepala Yoona sedikit mendidih mendengar ejekan Donghae. Bagaimana pun ia bukanlah tipe orang yang mudah menyerah, apalagi untuk mendapatkan Donghae. Langkahnya terburu menyusul Donghae. “Yakk!”panggilnya. Donghae tak menghiraukannya.

 

oOo

 

Sepertinya Yoona benar – benar melaksanakan keinginannya. Ia tidak pernah menemui Donghae. Setiap kali mereka berpapasan Yoona pasti akan selalu menghindar. Mungkin inilah caranya agar ia bisa berkonsenterasi belajar demi Donghae mau bertemu dengannya.

“Hyung, kau ini ada ada saja.”ujar Sehun yang kebetulan mampir ke sekolah Yoona di jam istirahatnya. Memang Sehun tipe murid yang sedikit nakal. “Sepertinya semakin lama Noona akan menjauh, apa kau tidak khawatir dia akan berpaling darimu?”goda Sehun. Donghae hanya terkekeh. “Aku tidak peduli.”sahutnya.

“Donghae!”sapa Seulgi. Ia terhenti sejenak. Matanya terpaku menatap Sehun. Seragam yang Sehun kenakan adalah seragam sekolah yang menjadi musuh bebyutan sekolah mereka. “Ah, Seulgi kenalkan ini Sehun adik Yoona.”kenal Donghae.

Seulgi menatap Sehun dari atas hingga bawah hingga kembali lagi ke wajahnya. Wajahnya mengekspresikan ketidak percayaan akan kalimat Donghae. “Kau bercanda?”tanya Seulgi dengan sedikit tawa. “Oh aku tau, pasti kau sama sepertinya..”ejek Seulgi.

Sorot mata Sehun menajam mengisyaratkan sebuah perang. Disaatt marah raut wajahnya sama seperti Yoona. “Ekhm, hyung mungkin kau harus mengulang perkenalanku.”deham Sehun. Donghae menatap Seulgi dan Sehun bergantian dengan kikuk.

“Sehun perkenalkan ini Seulgi, dia adalah musuh Yoona.” Jeda. “Seulgi ini Sehun adik Yoona.”ucapnya. Jelas saja dua orang ini tidak menerima perkenalan Donghae. “Yakk! Bukan itu maksudku!”ucap mereka berbarengan. “Kalian perkenalkan saja diri kalian masing – masing, aku sibuk.”ucap Donghae acuh dan meninggalkan dua orang ini.

“Aku peringatkan padamu. Tolong suruh kakakmu itu menjauhi Donghae karena Donghae itu milikku. Dasar adik kecil!”

“Maaf, asal kau tau saja Donghae tidak menyukai gadis sepertimu. Kau memang populer cantik dan pintar. Tapi tetap saja kau masih di bawahku.”

“Yakk! Kalau berbicara hati – hati!”bentak Seulgi. “Seharusnya aku ini seangkatan denganmu, tapi karena ayahku menyekolahkan lebih dulu. Ya mungkin karena aku pintar.”

“Aku yakin itu bukan karena pintar tapi karena paksaan. Prestasimu saja biasa.”sanggah Sehun. Seulgi telah di skak mat olehnya. Ia tau segala hal yang menyangkut Seulgi yang selama ini Seulgi tutupi dengan kesombongan. “Hei! Kau itu jangan sok tau! Aku tau ini karena kau iri kan? Kau tidak sama bodohnya dengan kakakmu.”ejek Seulgi.

Sehun mengeluarkan sesuatu dari sakunya. Ia menunjukan ponselnya pada Seulgi. Terlihat sorot mata Seulgi kaku. Ia tak percaya apa yang ia lihat. Ternyata Sehun jauh berbanding terbalik dengan Yoona. “Kau sudah liat?”

“Aku percaya kau anak Presdir Im. Tapi aku masih tidak percaya kau saudara Yoona. Pasti Yoona adalah anak angkat.” Sehun menghembuskan napasnya. Sesungguhnya ia malas meladeni orang seperti Seulgi, tapi ini demi kakaknya. “Ini.”ucap Sehun sambil menunjukan sebuah foto dari kartu keluarga mereka. “Ba-bagaimana mungkin?” Seulgi sepertinya di syok.

 

oOo

 

Pukul 5.00 p.m. (KST)

 

Bel pulang telah berbunyi sejak beberapa jam yang lalu. Yoona masih betah berada di sekolah. Sebenarnya ia sedang menunggu seseorang.Ya tidak lain dan tidak bukan, Kyuhyun. Ia sengaja membelikan minum untuknya. Yoona yakin Kyuhyun pasti lelah mengajar seharian.

Yoona tak mengerti, belakangan ini ia terlihat lebih sering bersama Kyuhyun. Bahkan mungkin ia kerap kali menghindari Donghae dan berlari ke arah Kyuhyun. Yoona menunggu di depan ruang Guru. Tangannya sesekali menatap jam tangannya.

 

oOo

 

Donghae baru saja selesai membantu Jessica saem mengoreksi pekerjaan teman – temannya. Matanya mendapati Kyuhyun yang sedang sibuk di mejanya. “Guru Cho, Anda tidak pulang?”tanya Jessica Jung. Kyuhyun hanya tersenyum, “Aku lembur.”ucapnya. “Baiklah, kalau begitu saya duluan.” Jeda. “Donghae, jika sudah selesai tolong kunci lacinya.”perintah Jessica. Donghae hanya menganggukan kepalanya.

Beberapa detik kemudian Donghae bangkit dari duduknya. Langkahnya melalui Kyuhyun. “Donghae, tolong beritahu Yoona aku tidak bisa pulang bersamanya hari ini.”kata Kyuhyun yang menghentikan langkah Donghae.

Perlahan kepala Donghae berputar ke arah Kyuhyun. “Huh, jika kau mau lakukan saja sendiri! Kau yang telah membuatnya menunggu.”ucap Donghae sedikit tak sopan. Kyuhyun melemparkan tatapan tajamnya. “Huh, aku tau sebenarnya kau itu..”

“Maaf aku sibuk.”potong Donghae cepat dan berlalu. Kyuhyun menatap Donghae sebal. Hingga saat ini Donghae masihlah bertahan sebagai anak murid yang paling ia benci.

 

oOo

 

Yoona berjongkok sambil bersandar di dekat pintu. Ia masih saja menunggu Kyuhyun. DRT! Ponselnya bergetar. Matanya membaca pesan yang baru saja masuk. Kini rasa kecewa mulai hadir di hatinya. Ya, tapi ia juga harus mengerti kesibukan Kyuhyun.

Yoona bangkit dari duduknya. Mungkin memberikan ini dan bergegas pulang akan membuat Kyuhyun bersemangat mengerjakan pekerjaannya. Kakinya melangkah masuk. Tepat saat itu di hadapannya berdiri Donghae. Matanya sedikit membulat.

Mulut Donghae membuka hendak mengatakan sesuatu. Yoona yakin itu adalah sebuah bentakan. Dengan cepat ia memutar balik arah langkahnya.

BRUK!

Sebuah tawa kecil keluar dari Donghae. Yoona merasakan sakit diwajahnya akibat menabrak pintu kaca. Minuman di tangannya juga terjatuh mengenai bajunya. “Ah,”rintihnya. “Hati – hati kalau berjalan.”peringat Donghae dari belakang.

Yoona membalikan tubuhnya menatap Donghae sebal. Pria ini tidak membantunya sedikitpun. Ia malah menertawai dirinya. “Sudah telat!”ucap Yoona sebal. Donghae melangkah melewatinya.

TAP!

Sebelah tangannya membuka pintu sementara sebelahnya lagi menari tangan Yoona untuk keluar dari ruangan ini. “Yakk! Apa – apaan ini?”tanya Yoona tak terima. “Aku ingin bertemu Kyuhyun oppa!”serunya. Donghae tak mengehentikan langkahnya. Bahkan ia tak menjawab Yoona.

Langkahnya terhenti tepat di tengah lapangan. “Kyuhyun lembur.”ucapnya. Yoona mengangkat wajahnya menatap Donghae. “Aku juga tau.”

“Lalu kenapa kau masih menunggunya?”

“Aku hanya ingin memberikan minuman tadi.”

“Minumannya sudah tumpah.”

“Aku juga tau.”jawabnya.

“Pulanglah.”perintah Donghae. Donghae tak melihat Yoona tergerak untuk melangkah. “Kenapa masih diam?”tanyanya. “Bagaimana aku bisa pergi jika kau masih menggenggam lenganku?”tanya Yoona polos.

Secepat mungkin Donghae melepaskan genggamannya. Kakinya melangkah. Dengan terburu – buru Yoona menyusulnya. “Lee Donghae, jika kau mau menggenggam tanganku. Tidak apa. Pegang saja.”kata Yoona polos dengan senyumnya yang cerah ceria. Ia menyodorkan tangannya.

Donghae hanya menatapnya tajam. Ia tak menghiraukan ucapan Yoona. Kakinya terus saja melangkah. Yoona merasa senang. Entah kenapa rasanya sudah lama ia tidak berbicara dan menatap Donghae.

Tangan Yoona diam – diam meraih tangan Donghae. Langkah Donghae terhenti. Matanya sedikit tajam menatap Yoona. “Lepaskan!”katanya dan melepaskan genggaman Yoona. Gadis ini bersi kokoh tak mau melepaskan. “Ayo kita pulang bersama!”ujar Yoona.

Donghae menghembuskan napasnya.. “Ku bilang lepaskan! Bagaimana aku bisa mengendarai motor jika kau masih menggenggam tanganku!” Yoona terdiam sejenak. “Kau bawa motor?”tanyanya heran.

Tangan Donghae kini telah terlepas. “Sudah dari beberapa hari yang lalu.”kata Donghae sambil menaiki motornya. Lalu tangannya memasang helm di kepalanya. “Eoh, hati – hati Donghae-ah!”seru Yoona.

“Kau mau kemana?”tanya Donghae heran. Yoona tersenyum paksa. “Aku-aku pulang naik bus.”sahutnya. Donghae menatap Yoona malas. “Dasar bodoh! Naiklah.”perintah Donghae. Yoona terpaku sejenak. “Kau mau atau tidak? Tidak ada bus di jam seperti ini.”kata Donghae berbohong.

“Ne.”sahut Yoona. Tangannya menerima helm yang disodorkan Donghae untuknya. Segera ia naik ke atas motor. “Kau yakin bisa mengendarai motor?”tanyanya tak yakin. “Sudah diam.”sahut Donghae ketus.

Donghae melajukan motornya dengan kecepatan penuh. Yoona yang tak siap merasa sedikit terkejut. Kedua tangannya dengan cepat berpegangan di pinggang Donghae. Yoona bisa merakasan jantungnya yang berdetak dua kali lipat saat ini. Aku tidak mengerti padamu Lee Donghae, kau sedang tidak sakitkan?

“Kau sudah makan?”tanya Donghae. “Belum.”sahut Yoona pelan. Donghae memutar arahnya. Sepertinya ia ingin mengajak Yoona pergi untuk makan.

 

To be Continue…..

14 thoughts on “Love is Crazy (Chapter 5)

  1. Kayaknya donghae udh suka sama yoona nih tpi masih jaim banget.
    Aku suka konflik percintaannya thor,
    Next chapter lebih panjang lagi ya hehehe dan jangan lama lama
    Keep writing

  2. Yeayyyy ngepostnya cepet..
    Dongek mah hitu orangnya.. Suka ama Yoona tapi gitu tingkahnya.,, lucu pas bagian Hae manggil Yoona eh Yoong sok2an gitu, malahan jadinya dia kaco LoL
    Kyu makin deket aja ama Yoona, Dongek suka jahil banget. Ehh tapi kalo dia udah balik jd sok cool, nyebelin banget tuh.
    Ditunggu lanjutannya~~

  3. Gk nyangka ternyata di balik sikap dingin nya hae suka sma yoona,
    Kya nya kyu mulai suka sma yoona jdi penasaran next thor

  4. ecieee, yoong tuh ikan padal udah cinta tuh tp dia gengsi, hmmmm, kalo bisa yoona lebh jual mahal lg deh ama hae

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s