Love is Crazy (Chapter 4)

love is crazy

Tittle : Love is Crazy (Chapter 4)

Cast :

  • Yoona
  • Donghae
  • Kyuhyun
  • Sehun
  • Seulgi

Genre : Romance, schoollife, little bit comedy

Length : Chapter

Author : Yuna21

Rating : PG-13

Disclaimer : FF ini terinspirasi dari drama korea berjudul “Naughty Kiss”

Author’s Note : Anyeonghasseyo! Wuiih,, kayaknya udah pada nungguin banget nih yee… Kalo aku lama post jangan salahkan aku ya, kalian aja yang masih jadi sider! /akugilakomen/akutauitu/ Akhir kata, Happy Reading!!!

 

KREK!

Perlahan Yoona membuka pintu perpustakaan. Kakinya melangkah masuk menghampiri Kyuhyun yang telah menunggunya. “Hari ini kau terlambat.”ucap Kyuhyun mendongak menatap Yoona. Gadis ini mengambil tempat di sebelah gurunya. “Kau tidak menjawabku.”

“Em?” Yoona tersadar dari pikirannya yang sedikit kacau akan hal yang baru terjadi beberapa menit yang lalu. “Mianhaeyo.”lanjut Yoona. Tangannya mengeluarkan buku catatanya. Sementara Kyuhyun bersiap untuk memberikan beberapa soal untuk Yoona.

Yoona terdiam sejenak selama menunggu Kyuhyun yang membuatkan soal untuknya. Kepalanya mengedar ke sekeliling. Mengingat kejadian tadi membuatnya masih sedikit melayang hingga saat ini. “Yoona, coba kau kerjakan.”ucap Kyuhyun yang membuat Yoona tersentak. “Ne songsaengnim.”jawabnya sekeika dan mulai mengerjakan.

Kyuhyun menatap Yoona yang sedang berpikir keras untuk menemukan jawaban dari soal yang ia berikan. Aneh sekali, seperti ada sesuatu yang sedang mengganggu konsenterasi Yoona hingga membuatnya terlihat sedikit melamun. “Yoona?”panggilnya.

Yoona mendongak menatap Kyuhyun. “Mungkin soalnya terlalu susah. Akan aku jelaskan.”tutur Kyuhyun dan mengambil alih. Yoona memperhatikan penjelasan yang diberikan Kyuhyun sesaat. Kepalanya benar – benar kacau hari ini. Semua penjelasan Kyuhyun terasa kosong dan membuatnya bosan.

Sekali lagi mata Yoona mengedar. Matanya terhenti di satu tempat. Ia menatap Donghae yang terduduk membaca buku di seberang. Bukankah dia harusnya membaca di aula? “Yoona kau sudah mengerti?”tanya Kyuhyun mengakhiri penjelasannya. “Ya aku mengerti sekarang. Kau membuntutiku kan?”gumamnya.

Kyuhyun mengangkat sebelah alisnya. Matanya mengikuti arah pandang Yoona, lalu kembali menatap Yoona. “Kau mengamati Lee Donghae untuk apa?”tanya Kyhyun pelan. “Entahlah. Aku tidak bisa tidak melihatnya untuk sedetik.”jawab Yoona tanpa mengalihkan pandangannya.

“Kau suka padanya?”

“Ku rasa begitu. Tapi tidak mudah untuk mendapatkan hatinya.” Jeda. “Dia tidak suka orang bodoh sepertiku.”jawab Yoona tanpa sadar. “Ah.. itulah, harusnya kau mengerjakan soal bukan mengamati Donghae yang sedang membaca.”kata Kyuhyun. Yoona memutar kepalanya. Matanya menajam terarah pada Kyuhyun. “Begitukah?”tanyanya. “Tentu saja!”sahut Kyuhyun.

Yoona mulai mengerjakan soal yang di berikan Kyuhyun. Sesekali matanya bergelincir ke arah Donghae, jelas saja Kyuhyun menyadari hal itu. Segera ia mengubah posisi duduknya hingga menutupi Donghae. Ia tak mau konsenterasi siswinya.

Yoona mendongak hendak menatap Donghae, namun terhalang Kyuhyun. “Sudah kerjakan!”perintah Kyuhyun. Yoona hanya mampu tertunduk sambil menggigit bibirnya.

 

oOo

 

Perlahan Donghae menurunkan buku yang menutupi wajahnya. Ia menatap punggung Kyuhyun. “Donghae-ah! Kau sedang apa di sini?”tanya Seulgi yang muncul secara tiba – tiba. Donghae mendongak menatapnya. “Membaca buku. Kau sendiri? Ah, duduklah.”katanya.

Sedikit percakapan Donghae dan Seulgi menarik perhatian Yoona. Matanya menatap Donghae yang sedang terduduk bersama Seulgi. “Aish, jinjja!”gerutunya. Matanya sedikit melirik Kyuhyun yang sedang memeriksa hasil kerjanya berharap pria ini tak mendengarnya.

“Oh ya, ini untukmu. Ku harap kau bisa datang ke pesta ulang tahunku.”ucap Seulgi sambil memberikan undangan pada Donghae. “Kau mengundang satu sekolah atau hanya aku?”tanya Donghae sedikit curiga. Seulgi tertawa. “Kalau aku menjawab hanya kau, kau pasti tidak akan datang.”jawabnya.

Seulgi mengalihkan pandangannya sejenak dan menatap Yoona yang sedang menatapnya bersama Donghae. Matanya memicing sejenak. “Donghae-ah, kau datang kan?”tanya Seulgi sambil menggenggam tangan laki – laki ini di atas meja. “Tentu, jika tidak ada halangan.”sahut Donghae santai tanpa menghiraukan apa yang dilakukan Seulgi.

Yoona dibuatnya semakin memanas ketika Seulgi mengeluarkan sebuah permen dari sakunya. “Ini untukmu.” Donghae menatapnya sejenak. “Gomawo.”gumamnya.

“Oh ya, Yoona sedang apa bersama guru Cho? Akhir – akhir ini aku sering melihat mereka bersama.”

“Entahlah. Mungkin pelajaran tambahan.”

“Menurutku mereka serasi. Lagi pula umur Cho saem tidak terlalu jauh.”

“Jinjjayo? Haha.. kuharap begitu…”sahut Donghae dengan sedikit tawa.

“Ah, kau mau membantuku?”tanya Seulgi.

 

Yoona menatap Seulgi yang membisikan sesuatu di telinga Donghae hingga membuat laki – laki itu tertawa. Rasa cemburu mulai membakarnya. “Psh!”ujarnya. “Donghae lagi?”tanya Kyuhyun sedikit melirik. Yoona menatap Kyuhyun masih dengan kekesalannya pada Donghae. “Ini bukan urusamu! Jadi songsaengnim berhentilah menceramahiku.”sahutnya ketus.

Kyuhyun menghembuskan napasnya. “Kau memang payah.”ujarnya.

“Nde?!”

“Buktikan jika kau berani mendekati mereka.”

Yoona melembek. “Ah, aniyo.”

“Waeyo?”

“Aku sudah berjanji tidak akan bertemu atau berbicara padanya.”

“Kalau begitu berhentilah menatapnya.”

“Psh!”dengus Yoona.

Seulgi melangkah menghampiri Yoona. “Anyeong songsaengnim. Maaf aku mengganggu sebentar.”ucap Seulgi. “Yoona ini untukmu. Aku harap kau datang.” Sebuah undangan yang sama disodorkan Seulgi untuk Yoona. Mata Yoona menatap Seulgi, tangannya menerima undangan untuknya. “Gomawo songsaengnim.”ucap Seulgi dan berlalu. Kyuhyun hanya membalasnya dengan senyum.

Yoona menatap undangan di tangannya dengan remeh. Mungkin ini kesempatan untuknya bisa pergi bersama Donghae, tapi… ah! Itu tidak mungkin. “Dia baik padamu. Kenapa kau membencinya?”tanya Kyuhyun. “Sonsaengnim tidak tau. Dari SD dia selalu merebut apa yang ku miliki.”jawab Yoona sebal. “Datanglah. Kau harus menghargai undangannya.”

“Oh.. baiklah.”jawab Yoona pasrah. Entah kenapa walau baru beberapa hari bertemu rasanya Kyuhyun mulai menyukai obrolannya bersama Yoona. Entahlah itu obrolan atau apa. Sangat sulit untuk dijelaskan saat ini. “Rumahmu dimana?”tanya Kyuhyun tiba – tiba.

Yoona tertawa. “Apgujeong.”jawabnya. “Mau pulang bersama?”tawar Kyuhyun. Yoona berpikir sejenak. “Kita lihat saja nanti.”kata Yoona. Bel berbunyi, segera Yoona bangkit dari duduknya. “Sudah bel pulang. Aku harus pergi sekarang. Sampai jumpa di luar nanti songsaengnim!”serunya. Kyuhyun tersenyum sambil mengangkat sebelah tangannya.

 

oOo

 

DEG!

Hampir saja jantung Yoona terasa copot begitu ia selesai menutup pintu perpus kembali. Matanya sedikit membulat menatap Donghae yang tiba – tiba ada di hadapannya. “Ba-bagaimana?”tanya Yoona terbata. Donghae menatap dengan sorotan tajam. “Kau lupa? Jangan berbicara padaku.”sahutnya dan bergegas pergi menuju kelas.

Dengan cepat Yoona berjalan menyusulnya. Berjalan beriringan. “Kau masih lupa? Apa harus kuingatkan sekali lagi?”tanya Donghae yang merasa dirinya diikuti. Yoona tak menjawab. Gadis ini hanya meneruskan langkahnya. “Yakk! Im Yoona!”seru Donghae kesal. Langkahnya terhenti begitu pula dengan Yoona.

“Kau tidak mendengar apa yang ku katakan, huh?!”tanya Donghae. Yoona tak menjawab. Matanya hanya menatap Donghae. “Yakk! Kenapa kau diam saja?!”tanya Donghae kesal.

Yoona tak kalah kesalnya dengan Donghae, akhirnya ia membuka mulutnya untuk berbicara. “Kau sendiri yang melarangku berbicara padamu!”katanya kesal. Donghae mengingat kembali ucapannya. Benar rupanya apa yang dikatakan Yoona. Mungkin otak Donghae saat ini sedang mengalami gangguan.

“Lee Donghae, kau pergi ke ulang tahun Seulgi malam ini?”tanya Yoona. Donghae menatapnya sedikit tajam. “Kau mau apa? Ikut bersamaku?”tanyanya menebak. Yoona hanya menganggukan kepalanya. “Pergi saja sendiri.”sahut Donghae acuh dan berjalan pergi. “Yakk! Tunggu aku!”teriak Yoona

Langkah Yoona sedikit terburu menyusulnya menuruni tangga. Tepat setelah melewati parkiran Kyuhyun telah menunggu. “Im Yoona.”panggil Kyuhyun. Langkah Yoona terhenti.

Tak jauh beberapa langkah Donghae terhenti. Matanya menatap Yoona dan Kyuhyun. “Mau kuantar?”tawar Kyuhyun. Sebuah senyum tertampak di wajah Yoona. Melihat itu Donghae mengerti apa artinya. Langkahnya kembali menghampiri Yoona dan Kyuhyun.

“Yoona, kau bilang ingin mencari hadiah untuk Seulgi bersama.”ucap Donghae memotong. Kepala Yoona menoleh sedikit bingung ke arah Donghae. “Jadi atau atau tidak? Kalau tidak aku akan pergi sendiri.”lanjut Donghae.

Yoona tak menyangka apa yang dikatakan Donghae. Seingatnya tadi ia tidak pernah mengatakan hal yang dikatakan Donghae. Matanya berbinar dengan penuh senyum. Sementara Kyuhyun, matanya sedikit menatap tajam ke arah Donghae. “Mianhae songsaengnim. Mungkin lain kali.”tolaknya halus.

Kyuhyun hanya bisa mengangguk mengerti dan segera meluncurkan motornya. Yoona menatap Donghae. “Kau mengajakku pergi?”tanya Yoona sekali lagi tak percaya. “Tidak. Aku tidak bilang begitu tadi.”kilah Donghae dan berjalan mendahului. Perasaan senang di hati Yoona pecah seketika. “Mwoya?!”ucapnya kesal. “Jika aku tau seperti ini, seharusnya aku memilih Cho saem.”ujarnya dan berjalan menyusul.

 

oOo

 

Yoona membalap Donghae untuk menaiki bus, tapi sayang ia selalu kalah cepat dengan laki – laki ini. Kakinya melangkah masuk bus dengan kesal. Matanya melihat sekeliling. Semua kursi telah penuh. Pilihan satu – satunya hanyalah di sebelah Donghae. Padahal kali ini Yoona ingin menghindar agar pria itu tau rasa kesalnya.

Mengetahui Yoona yang mendekat ke arah kursinya, dengan cepat Donghae meletakan tasnya di kursi kosong sebelahnya. “Maaf, di sini penuh.”kata Donghae. Yoona menatap Donghae kesal. “Yakk! Kau tidak lihat, tidak ada tempat lain lagi.”jawab Yoona.

“Berdiri saja.”sahut Donghae cuek. Tangannya memasang earphone di telinganya. Dengan pasrah Yoona berdiri. Tangannya membawa tasnya ke depan. Menurutnya sangat berbahaya jika membiarkan tasnya di bopong di tengah keramaian.

Rasa pegal mulai menjalari kaki Yoona. Ia sudah tak kuat untuk berdiri lagi. “Donghae, geserlah tasmu. Aku ingin duduk.”ucapnya. Donghae mendongak menatap Yoona. Sebelah tangannya melepaskan earphonenya. “Mwoya?”tanyanya.

“Huh, sudahlah.”kata Yoona pasrah. Donghae perlahan menggeser tasnya. Matanya menunjuk bangku sebelahnya. Yoona terduduk dengan lega. Akhirnya ia tidak perlu berdiri sampai pegal lagi.

Yoona melirik Donghae sejenak. “Kau mendengar apa?”tanya Yoona sedikit penasaran. Donghae meliriknya tajam. “Kau mau apa?”tanyanya. “Boleh aku ikut mendengar, aku bosan.”

“Pakai saja ponselmu sendiri.”kata Donghae ketus. Yoona hanya menatapnya cemberut. Dengan terpaksa ia hanya menatap lurus ke depan hingga bus ini terhenti.

Sebuah napas dihembuskan Donghae. Sebelah tangannya memakaikan sebelah earphone miliknya di telinga Yoona. Perlahan Yoona memutar kepalanya sedikit terkejut. “Jangan banyak tanya, dengarkan saja.”ujar Donghae.

Lagu yang di dengarnya terasa tidak asing. Memang itu karena Donghae sengaja memutar lagu favorite Yoona. Sebenarnya ia malas untuk melakukannya. “Loe song?”tanya Yoona. Donghae tak menjawab, ia hanya mengangguk. “Em, aku bosan. Coba aku lihat lagumu.”ucap Yoona dan merebut ponsel Donghae tanpa izin.

Donghae terlonjak. Dengan cepat tangannya berusaha merebut ponselnya kembali. Ia tidak ingin Yoona membongkar isi ponselnya. “Omo! Nuguya?”tanya Yoona seketika. Secepat kilat Donghae menarik ponselnya.

Mata Yoona sedikit menajam ke arah Donghae seperti menyelidik. Donghae terdiam layaknya seorang tersangka dalam pengadilan. “Ah.. aku tau siapa itu.. dari punggung dan rambutnya. Kau…”

Rasanya jantung Donghae sedikit berdegup takut akan rahasianya selama ini terbongkar. “Kau… kau suka Yuri Girls Generation?”tebak Yoona. Sedikit napas lega Donghae hembuskan. Ternyata gadis ini begitu bodoh hingga tidak bisa menebak foto itu.     “Tentu.”jawab Donghae. Yoona terdiam sejenak seperti memikirkan sesuatu. Tidak itu jelas tidak mungkin Yuri Girls Generation. Mana mungkin Kwon Yuri memakai seragam sekolahku. “Tunggu..”kata Yoona mencurigai. Donghae kembali dilanda ketakutan. “Bukankah itu..”

“Ah, sudah sampai.”ucap Donghae memotong. Yoona baru saja ingin mengatakan hal yang ada di kepalanya, dengan cepat ia berjalan keluar. “Donghae-ah!”panggil Yoona. Donghae menoleh sejenak. “Waeyo?”tanya Donghae berharap Yoona tak membahas hal di bus tadi. “Kau mau pergi bersama?”tanya Yoona. “Ah, ne. Ne. Kau tunggu saja di rumahmu.”ucapnya dan berjalan meninggalkan Yoona.

Donghae berjalan tanpa menoleh lagi. Ia mengingat kata- katanya lagi. Kenapa ia mengiyakan ajakannya? Entahlah. Yang jelas Yoona tak membahas hal itu lagi.

 

oOo

 

Pukul 7.00

Donghae membaca pesan yang diberikan Yoona yang berisi alamat rumahnya. Sekali lagi Donghae membacanya ulang. Ia tahu tempatnya tidak jauh dari sini, tapi sepertinya ia mengenal alamat rumah ini.

Tanpa berpikir lagi Donghae menancapkan gas mobilnya. Perlahan ia menurunkan kecepatannya. Mobilnya terhenti di depan sebuah rumah. Rumah besar bercat putih. Kepalanya kembali mengingat. Bukankah ini rumah Sehun? Mungkin saja hanya mirip, lagi pula aku tidak pernah masuk ke dalam rumah Sehun.

Donghae mengetuk pintu rumah Yoona. Terdengar sebuah seruan dari dalam. “Nuguya?”tanya seseorang yang membuka pintu. Mata Donghae membulat menatap Sehun yang membukakan pintu untuknya. “Sehun? Kau?”tanya Donghae heran.

“Hyung, ada apa datang malam – malam begini?”tanya Sehun tak kalah heran. “Aku ingin menjemput temanku.”jawab Donghae. “Mungkin kau salah alamat. Masuklah hyung,”ajak Sehun. Donghae melangkah masuk mengikuti Sehun. “Aku tidak salah. Sudah dua kali aku membaca alamatnya. Ini.”jelas Donghae sambil menyodorkan ponselnya.

Sehun membaca si nama si pengirim pesan. Ternyata dugaannya selama ini tidak salah. Rupanya Lee Donghae yang sering disebuat Yoona adalah temannya. Sebuah tawa keluar dari Sehun. “Hyung, ini memang rumahku dan temanmu itu kakakku.”ucap Sehun penuh gelak tawa.

Walaupun mereka telah berteman sejak kecil, tapi Donghae tak pernah melihat Yoona mungkin itu karena Yoona tak pernah keluar rumah dan Donghae hanya berkunjung hingga di depan rumah saja. “Mwoya?”tanya Donghae syok. Sepertinya ia tak percaya. Tentu saja ia tak percaya. Sehun jauh berbeda dengan Yoona jika dilihat dari tingkat kecerdasan. Sehun anak yang cerdas dan Sehun adalah tipe pria yang sangat ramah dan sedikit ‘playboy’. Sementara Yoona dia memang ramah, tapi dia cereboh.

“Tunggulah sebentar. Aku akan memanggilkan noona.”ucapnya. Donghae hanya bisa menganggukan kepalanya masih tak percaya.

 

oOo

 

Sehun membuka pintu kamar kakaknya tanpa mengetuk lebih dahulu. Inilah kebiasaannya sejak kecil yang sangat dibenci Yoona. “Noona- woa! Kau cantik sekali! Ah, aku tau sekarang. Kau mau kencan, kan?”goda Sehun. Yoona bangkit dari duduknya. “Enak saja! Aku hanya akan ke pesta ulang tahun temanku.”jawabnya. “Apa dia sudah datang?”lanjut Yoona.

“Dia siapa?”

“Lee Donghae.”

“Oh, ya dia sudah menunggumu sejak tadi. Dia sepertinya terkejut saat tau kau adalah kakakku.”jelas Sehun. Yoona tertawa sejenak. Sehun menatap Yoona sejenak. Ia baru sadar ternyata kakaknya sangat cantik. “Waeyo?”tanya Yoona yang merasa diperhatikan. “Tidak ada.”jawab Sehun cepat dan mengalihkan pandangannya. “Aku cantik bukan?”goda Yoona.

Sehun tersenyum kecut. “Em, jika kau bukan kakakku mungkin aku sudah menjadikanmu pacar sejak dulu.”gumamnya. Yoona tertawa. “Dasar playboy!”serunya. Yoona keluar kamar mengikuti Sehun dan menuruni tangga.

“Mianhae telah membuatmu lama menunggu.”ucap Yoona. Mendengar suaranya membuat Donghae mendongak. Matanya menatap Yoona dari atas hingga bawah terpesona akan kecantikan Yoona. Dia seperti seorang bidadari yang baru saja jatuh dari langit. “Yakk! Jangan melihat Noona seperti itu!”tegur Sehun.

Donghae mengalihkan pandangannya, menyadari Sehun berdiri di belakang Yoona. “Hyung, aku titip Noona. Jika kau berani macam – macam, aku akan menghabisimu!”kata Sehun. Donghae tertawa. “Kau pikir seleraku seperti kakakmu ini?”tanyanya meremehkan. “Aku hanya berjaga – jaga. Aku juga tidak setuju.”sahut Sehun sambil mengtar hingga depan pintu.

Yoona mengecup pipi Sehun dan berkata, “Aku pergi!” Sehun melambaikan tangannya. Donghae menatap kejadian kecil tadi. Apa ini yang selalu mereka lakukan? Apa saudara harus begitu?

Sepanjang perjalanan tak ada kata – kata yang mereka ucapkan. Hanya keheningan yang melanda. “Kau sudah berhenti membenciku?”tanya Yoona memcahkan keheningan. Kepala Donghae berputar ke arahnya. “Eoh, tentu saja masih.”sahutnya ketus. Yoona terdiam kembali. Ia tak merespon apapun.

 

oOo

 

Yoona dan Donghae memasuki rumah Seulgi, tepatnya di halaman belakang tempat pesta berlangsung. Seulgi menatap mereka dari kejauhan. Tentu saja ada sedikit rasa terkejut melihat hal ini. “Selamat ulang tahun,”ucap Yoona sambil menyodorkan kadonya. Seulgi menatap Yoona sejenak. “Ah, gomawo.”jawabnya.

Tak perlu waktu lama untuk menunggu, acara tiup lilin dan memotong kue pun dimulai. Sebuah rencana terlintas di kepala Seulgi. Tangannya meletakan potongan kue pertama di sebuah piring yang akan ia berikan pada seseorang.

Yoona menatap Seulgi. Seulgi berjalan ke arah Donghae. Yoona berharap, sangat sangat berharap Donghae tidak akan menerima kue pemberian Seulgi. “Ini untukmu Donghae-ah.” Donghae menatap pemberian itu sejenak. “Gomawo.”gumamnya sambil menerima.

DAR!

Hati Yoona terasa pecah melihatnya. Sungguh, apakah ini sebuah pertanda baginya? Sepanjang pesta Yoona tak banyak berbicara. Ia hanya terduduk. Langkahnya hendak membawa minuman di tangannya ke tempat lain.

Rasanya ia menjadi tak karuan hari ini. Bahkan berjalan pun rasanya ia tak menatap apapun. Ini sangat berat baginya. Sungguh sangat berat.

 

Seulgi menatap Yoona yang berjalan uring – uringan. Sebuah senyum kepuasan muncul di wajahnya. Ia berjalan. BRUK! “Ah,,”desahnya melihat gaunnya ditumpahkan minuman oleh Yoona. “Mianhae Seulgi.”ucap Yoona sambil mencoba membersihkan gaun Seulgi. “Yakk! Beginikah caramu? Kau menumpahkan minuman karena kau marah padaku? Karena Donghae memilihku?”kata Seulgi.

Nadanya yang tinggi mengundang banyak perhatian. Yoona mengangkat wajahnya sedikit kesal. Tangannya melempar tisue dengan kasar. “Yakk! Aku sudah minta maaf padamu apa itu belum cukup?”tanya Yoona kesal.

Langkahnya terburu hendak melewati Seulgi. Dengan penuh kesengajaan Seulgi sedikit merentangkan kakinya hingga membuat Yoona tersandung.

PAK!

Sebuah tangan menarik lengan Yoona mencegahnya untuk terjatuh ke kolam. Matanya bertemu pandang dengan Donghae yang berhasil menangkapnya. Kepala Seulgi berputar ke arah Donghae. “Donghae,”sapanya. Mendengar sapaan itu membuat Donghae menoleh.

BRUSH!

Tangannya melepas genggamannya hingga membuat Yoona jatuh ke kolam. “Hahahaaha..”tawa Seulgi. Yoona menatap Donghae kesal, ia pikir Donghae akan menyelamatkannya. Donghae melihat ke arah Yoona yang kini berada di tengah kolam. Semua orang menatap Yoona penuh tawa.

“Eum, mianhae Yoona.. tanganku licin..”ucapnya lembut penuh dengan senyum mengejek. Donghae terjongkok di pinggir kolam menatap Yoona, sementara gadis itu hanya memicingkan matanya. “Kau butuh bantuan?”tawar Donghae masih dengan senyum dan nada mengejek.

Yoona menatap Seulgi dan Donghae bergantian penuh dengan emosi. “Aku tidak butuh bantuanmu!”ucapnya kesal dan segera naik ke atas. Sedikit percikan air sengaja ia timbulkan agar mengenai Donghae. Yoona menatap Seulgi tajam. “Terimakasih telah mengundangku!”katanya dan menyenggol sedikit bahu Seulgi.

“Ouh,”ucap Seulgi meremehkan. “Aku pasti akan mengundangmu lagi.”katanya yang disusul tawa. Seulgi menatap Yoona yang sudah menghilang, lalu beralih pada Donghae. “Gomawo atas bantuanmu.”ucapnya.

“Sama – sama.”sahut Donghae mengingat rencana yang mereka buat saat di perpus tadi pagi. “Ah, sepertinya aku harus pulang sekarang.”lanjutnya dan terburu pergi. Seulgi menatap Donghae. Ia padahal baru saja ingin mengatakan sesuatu pada pria ini, “Menyebalkan!”gerutunya.

 

oOo

 

Yoona keluar dari rumah Seulgi dengan pakaiannya yang basah kuyup. Angin malam begitu dingin membuat tubuhnya semakin menggigil. Lengkap sudah penderitaannya hari ini. Melihat Donghae menerima kue Seulgi, tercebur di kolam, ditertawai satu sekolah dan udara dingin yang membuatnya semakin mengigil.

Yoona menggosok – gosok kedua tangannya. Sebuah tisue ia usapkan untuk membantu mengeringkan tubuhnya. Rasanya hidungnya mulai terserang pilek seketika. Udara semakin malam semakin dingin. Ia sudah tahan lagi. Rasanya ia ingin membeku saat ini. Kepalanya terasa sedikit pusing.

DEP!

Sebuah kehangatan ia rasakan. Ada sesuatu yang kini membungkus tubuhnya. Kepalanya menengok ke belakang. Matanya mendapati Donghae yang baru saja meletakan jaketnya di tubuh Yoona. Seketika tatapan Yoona berubah kesal. Ia masih ingat bagaimana pria ini mengerjainya tadi.

“Apa yang kau lakukan? Jangan mengikutiku! Ini jaketmu ambil saja!”kata Yoona ketus. Walau berat rasanya melepaskan jaket Donghae, tapi ini harus ia lakukan. Tangannya melemparkan jaket itu ke wajah Donghae.

Mendapat perlakuan ini membuat Donghae merasa sedikit kesal. Bukannya berterimakasih Yoona malah membentak dan melemparinya. “Ya sudah kalau kau tidak mau.”sahut Donghae sebal. “Kenapa kau mengikutiku?”tanya Yoona sekali lagi. “Yakk! Mobilku terparkir di sana.”jawab Donghae.

Yoona terdiam menyadari. Kakinya kembali berjalan. Sungguh penyesalan datang terlambat. Kenapa dia menolak pemberian Donghae? Kini ia harus menerima resikonya. Tubuhnya semakin menggigil kedinginan. Tidak mungkin lebih tepatnya bibirnya kini telah membiru. Rasanya kakinya mulai keram. “Aw..”rintih Yoona terjatuh. Tangannya menggenggam kakinya yang sudah terlalu dingin dan keram.

Donghae yang berjalan di belakangnya seolah tak peduli. Kakinya terus saja melangkah melewati Yoona. “Lee… Donghae…”panggil Yoona bergetar. Donghae menghentikan langkahnya. Badannya berputar menatap bibir Yoona yang mulai membiru.

“Yoona!!”teriaknya dan berlari ke arah Yoona. Gadis itu sepertinya sudah tak kuat menahan dingin. Badannya terkapar di atas aspal lemah tak berdaya. Donghae berjongkok. Kedua tangannya memegang pipi Yoona. Dingin. Sangat dingin, bahkan sedingin es.

Dengan cepat Donghae melepaskan jaketnya dan menyelimuti tubuh Yoona. Kedua tangannya dengan khawatir membopong Yoona menuju mobilnya. “Bertahanlah.”gumamnya. Sementara Yoona, dia sepertinya sudah tak sadarkan diri.

Donghae mendudukan Yoona di sebelahnya, lalu ia menancapkan gasnya dengan kekuatan penuh. Laju mobilnya sangat cepat, berharap ia bisa tepat waktu hingga sampai di rumah. Sepanjang perjalanan dalam hatinya Donghae merutuki dirinya. Ini semua salahnya. Kenapa ia membiarkan Yoona hingga begini.

Tidak ada pilihan lain untuk Donghae selain membawa Yoona ke rumahnya. Tangannya membopong Yoona memasuki rumahnya. “Eomma!! Eomma!!”teriaknya. Nyonya Lee berjalan pelan ke arah Donghae, kepalanya mendongak dan sedikit terkejut melihatnya. “Ada apa ini? Kenapa temanmu bisa begini?”tanyanya khawatir. “Nanti aku jelaskan. Eomma gantikan bajunya. Aku akan membuatkan kompres untuknya.

 

oOo

 

Donghae mengompres Yoona. Ia berharap tidak ada hal buruk yang akan terjadi. “Donghae, jelaskan pada eomma apa yang terjadi.”perintah ibunya. Donghae menatap Eommanya sejenak. “Ini semua salahku. Aku mendorongnya ke kolam dan membiarkannya pulang dengan basah kuyup.”jelasnya.

“Mwoya?!”tanya Nyonya Lee syok. “Lee Donghae, kau tau jika sampai terjadi hal buruk padanya… Aish jinjja.. Huh, eomma akan menelpon Presdir Im.”

“Eomma mengenal ayahnya?”

“Tentu saja. Eomma mengenal baik, ayahnya teman eomma.”

Donghae mengangguk dan kembali mengompres dahi Yoona. Telinganya mendengar sedikit percakapan eommanya. “Ah, ne.. tidak apa – apa… seharusnya aku yang minta maaf.” Jeda. “Ne, selamat malam.”tutupnya. Eommanya menatap Donghae. “Biarkan dia menginap di sini. Besok pagi kau antar pulang.”suruh eomma.

“Eomma, rumahnya tidak jauh..”

“Tidak ada tapi tapian. Siapa suruh kau membuat masalah.” Jeda. “Jika ayahmu tau ini pasti dia akan senang.”lanjut Nyonya Lee dengan penuh semangat. Donghae menatap ibunya heran. Dimana – mana orang yang mengetahui anaknya membuat masalah pasti akan marah, tapi kedua orang tua Donghae sangat aneh.

KREK!

Pintu kamarnya kembali terbuka. Kini bukan hanya ibunya yang masuk tetapi ayahnya juga. “Dia Im Yoon Ah?”tanya ayahnya sedikit terkejut. Donghae menganggukan kepalanya pelan. “Kau jaga dia baik – baik.”perintah ayahnya. “Appa kenapa?”tanya Donghae heran. “Tidak… appa merestui jika kau bersamanya.”gumam Presdir Lee.

Donghae menatapnya tajam. “Eomma senang dia temanmu.”kata eommanya. “Eomma, appa, keluarlah. Dia perlu istirahat.”perintah Donghae. Kedua orang tuanya keluar segera. Dari celah pintu yang tidak tertutup rapat mereka mengintip.

“Kim Taeyeon,”panggil Lee Jonghyun. “Bagaimana jika aku berbicara pada Im Siwon dan Choi Sooyoung. Kita jodohkan mereka.” Taeyeon menganggukan kepalanya setuju.

 

Donghae menatap Yoona. Sebuah napas ia hembuskan. Sungguh ia merasa bersalah. “Sehun, Sehun.” Donghae menatap Yoona yang menyebut nama Sehun. Donghae terdiam sejenak. “Sehun tidak ada di sini. Berhentilah memanggil namanya.”sahut Donghae sebal.

Ia kembali menatap Yoona. Tangannya menyentuh dahi Yoona. Terasa sangat panas. Sepertinya gadis ini mengalami demam. Ia merasakan ada sesuatu yang sedang mengintipnya. Donghae menghembuskan napasnya. “Eomma, appa.. aku tau kalian disana.”ucapnya.

Donghae bangkit hendak menutup pintu. TAP! Tangan Yoona menariknya. Ia hanya bisa pasrah dan terduduk. “Kyuhyun, jangan pergi.”gumam Yoona. Donghae menatap Yoona dengan sebelah alis terangkat. “Tadi Sehun, sekarang Kyuhyun. Nanti siapa lagi?”keluhnya.

Donghae hanya bisa pasrah dan membiarkan tangannya di genggam. Ia menunggu Yoona tersadar walau hingga besok pagi. Matanya menatap Yoona yang masih tertidur tanpa menyebut nama – nama orang lagi. Sedikit kesal rasanya. “Yakk, kenapa kau berhenti memanggil. Kau tidak memanggilku?”tanya Donghae.

 

To be continue………

15 thoughts on “Love is Crazy (Chapter 4)

  1. Q seneng nich ff dh kluar.
    Ih donghae nyebelin,Q tau sebenar nya hae suka sma yoona mungkin gensi.
    Wah yoong nyebut kyu tuh
    Jdi penasaran next thor

  2. Yoong tangguh banget, kalo gw jd dia udah balik arah jd benci Hae.
    Si Dongek kelewatan ah jahatnya.. Ngaku aja udah kalo lu jg sebenarnya suka ama Yoong.
    Iri ama Ohse ya Hae, bisa cium Yoong sana sini xD

  3. Kasihan yoona 😭😭😭 tapi aku suka konfliknya thor aku harap sih kyuhyun yg nolong yoona jadinya biar donghae cemburu.
    next chapter jangan lama lama yah thor
    Keep writing

  4. saran boleh??
    tolong dong donghae nya jangan terlalu labil..sekali” buat yoona bener” stop dgn kegilaan dia tentang donghae.mf bukan bermaksud apa” cuma sedkit sebel ama donghaenya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s