Love is Crazy (Chapter 2)

love is crazy

Tittle : Love is Crazy (Chapter 2)

Cast :

  • Im Yoona
  • Lee Donghae
  • Kang Seulgi
  • Oh Sehun

Genre : romance,little bit comedy, schoollife

Author : Yuna21

Rating : PG-13

Disclaimer : FF ini terinspirasi drama kore “Naugthy Kiss”

Author’s Note : Halo!! Akhirnya mulai detik ini aku bener – bener aktif dan akan lebih sering ngepost ff. Yuhu!! Ada yang kangen sama aku nggak ya?? Huh, nggak ada ya? Ya udah deh.. Happy Reading aja..

 

Yoona menatap dirinya di cermin, sementara tangannya sedang sibuk bermain di air. Sebuah senyum simpul terpampang di wajahnya saat mengingat kejadian beberapa menit yang lalu. BRUK! Sebuah pintu yang di hempaskan begitu kasar. Kepalanya dengan cepat berputar ke arah pintu.

Sorot mata Yoona sedikit menjam, lalu kembali menatap dirinya di cermin. “Masih saja bermimpi.”ucap Seulgi di ambang pintu. Aktivitas Yoona terhenti seketika. Matanya tak melirik sedikitpun ke arah Kang Seulgi. “Hei bodoh! Seharusnya kau itu sadar siapa dirimu!”

Gelombang suara itu terasa begitu cepat masuk ke dalam telingannya. Yoona menatap dirinya tajam ke cermin. Matanya mulai bergelincir ke arah Seulgi yang menatapnya rendah. “Apa? Bodoh?”tanyanya. Sebuah dengusan ia hembuskan dengan kasar.

Langkah Yoona menyenggol bahu Seulgi yang menghalang pintu. “Huh..”desah Seulgi sedikit tercengang. Matanya menatap Yoona.

 

oOo

 

TET!

Bel Pulang telah berbunyi. Dengan segera Yoona mengambil langkah, mendekat ke arah Donghae. Laki – laki itu sudah berjalan mendahuluinya jauh di sana. Yoona mempercepat langkahnya. Wajahnya berseri hendak mengatakan satu kata. “Donghae!” Seketika Yoona terhenti. Suara itu bukan miliknya. Matanya menatap Seulgi yang mendahuluinya. Dengan cepat Yoona menutup mulutnya kembali.

“Kau mau pulang?”tanya Seulgi. Donghae hanya menganggukan kepalanya. Perlahan mata Seulgi melirik ke arah Yoona, menandakan sebuah kemenangan ada di tangannya. “Bagaimana jika kita pulang bersama. Kurasa kita searah.”tawarnya.

“Searah? Kau kan tinggal di Sinsa.”sahut Donghae. Seketika raut wajah Seulgi berubah salah tingkah. “Ka-kau juga tingal di daerah sana, kan?”tanyanya kikuk. Sebuah tawa keci menghiasi wajah Donghae. “Kang Seulgi, aku tinggal di Apgujeong.”jawabnya. Donghae berlalu melewati Seulgi seorang diri.

Mendengar hal itu membuat sebuah harapan terbit di hati Yoona. Dengan cepat ia berlari menyusul Donghae. Sedikit lidahnya ia keluarkan saat melewati Seulgi. Ini memanglah hari keberuntungan baginya.

 

oOo

 

Yoona memang tak berniat ingin berjalan di dekat Donghae. Ia hanya ingin tau di mana rumah pria ini. Itulah sebabnya ia megikuti Donghae secara diam – diam sejak tadi. Pintu bus hendak tertutup. Segera ia masuk dengan cepat. Matanya berusaha mencari sebuah tempat kosong. Donghae duduk di hadapannya. Hanya berjarak dua bangku.

Yoona memperhatikan laki – laki ini. Donghae hanya terdiam menatap keluar jendela. Masing – masing telinganya tertutup earphone. Ya, dia sedang mendengarkan sebuah lagu. Jika dilihat dari samping seperti ini. Donghae terlihat sangat tampan.

Pipi Yoona terasa memerah. Ia tak sadar jika ia memperhatikan Donghae sambil tersenyum. Bahkan bus yang terhenti tak ia sadari, hingga laki – laki itu bangkit dari duduknya. “Uh, sudah sampai rupanya.”ucapnya.

Buru – buru ia turun dan bersiap menguntit pria ini. Kakinya melangkah pelan. Donghae terhenti. Ia merasakan ada sesuatu yang mengikutinya. Dengan cepat Yoona bersembunyi.

Donghae memutar kepalanya. Tak ada seorangpun. Mungkin ini hanya perasaannya saja. Kembali ia melanjutkan langkahnya. Perasaanya tidak salah. Ada orang yang kini berjalan di belakangnya. Ia bisa merasakannya. Badannya berputar. Tak seorang pun ia temukan.

Donghae memiringkan kepalanya sejenak. Kakinya dengan cepat berjalan. Begit cepatnya, hingga Yoona harus sedikit berlari menyusulnya. Suara hentakan sepatu yang berada di belakangnya tentu sangat jelas Donghae dengar kini. Badannya sekali lagi berputar. Namun kini berputar lebih seperti kilat, sangat cepat. Hening. Tak ada siapapun di belakangnya.

 

oOo

 

Yoona mengatur napasnya yang tersengal sejenak. Laki – laki tiu ternyata ingin mengerjainya. “Untung saja ada semak – semak ini. Jadi aku bisa bersembunyi.”gerutunya. “Apa dia masih terdiam disana?”tanyanya pada diri sendiri.

Perlahan Yoona mengintip dari balik semak. “Sial! Dia sudah pergi!”gerutunya. langkahnya keluar dengan cepat dari persembunyiannya. Badannya berbalik arah.

DEG!

Jantungnya terasa copot. Tidak. Jantungnya sudah tak ada di tempatnya kini. Matanya membelalak lebar. Kakinya terasa kaku untuk bergerak saat ini. Sekuat tenaga Yoona memaksakan mulutnya menguluarkan suara. “Ha..i..”sapanya.

Bukannya membalas tersenyum. Donghae hanya mentapnya dingin. “Sedang apa kau disini?”tanyanya. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan seperti sedang menyelidiki sesuatu. Hal ini membuat Yoona semakin tak bisa mengendalikan dirinya. Jantungnya terasa berdebar bahkan melayang di udara. “Kau mengikutiku?”lanjut pria ini, sambil menarik tubuhnya.

Setidaknya sekarang Yoona bisa mengontrol dirinya. “A-aniya!”bantahnya.

“Lalu apa namanya? Menguntit?”

“A-aku tidak menguntit!”

“Lalu?”tanya Donghae mendesak.

“I-ini rumahku. Ya. Ini rumahku.”jawabnya sambil menunjuk rumah di besar di belakang mereka. “Oh… jadi ini rumahmu..”ucap Donghae santai. Kakinya melangkah. Tangannya membuka pagar rumah di belakang mereka. “Yakk! Kau mau apa? Ke-kenapa kau masuk rumah orang tanpa izin?”ucap Yoona sedikit berteriak.

Donghae terhenti sejenak. Langkahnya kembali ke depan pagar. “Kau bilang tadi ini rumahmu. Kenapa kau tidak masuk?”tanyanya polos. “A-aku.. ah, ya aku lupa harus membeli sayur lebih dulu.”jawabnya tidak ada pilihan. Kaki Yoona dengan cepat melangkah pergi. Donghae menatapnya. “Dasar bodoh..”gerutunya.

 

oOo

 

“Aku pulang!”

Sehun melirik ke arah pintu sejenak, lalu kembali terfokus pada ponselnya. Ya, dia hafal suara itu. Tidak lain dan tidak bukan. Dia adalah kakak perempuannya. “Noona, apa kau sudah membelikan apa yang kupesan?”tanyanya tanpa menoleh.

Yoona terhenti seketika. Kepalanya berpikir kembali. “Ah.. Jinjja!” Tangannya menepuk dahinya. “Sehunie.. mianhae, aku lupa.”jawabnya sambil memberikan sebuah cengiran. Sehun menatap Yoona sejenak. “Sudahlah..”keluhnya.

Yoona hendak melangkah, namun ia teringat satu hal. Ia ingat Donghae masih berada di rumah itu menunggunya. “Noona kau mau kemana?”tanya Sehun yang melihat Yoona terburu – buru pergi lagi. Yoona tak menjawab. “Noona!”teriaknya.

 

oOo

 

Seperti yang ia duga. Donghae masih setia menunggunya. “Hei! Kau kenapa ma-masih disini?”tanya Yoona kikuk. “Menunggumu.”jawabnya santai. “Kenapa masih disana? Kau tidak mempersilahkan tamumu masuk?”tanyanya kembali membuat Yoona harus memutar otak.

“Kenapa kau tidak pulang saja sana. Kau tidak kasihan orang tua mu khawatir?”

Donghae menatap jam tangannya. “Ini masih siang. Lagi pula aku bukan anak kecil berumur tujuh tahun.”

“Pulanglah. Aku sedang sibuk hari ini.”

“Oh ya sayurmu mana?”

“Em… itu..” Jeda. “Kau pulang saja ya.. aku tidak bisa menerima tamu hari ini.”

Donghae masih terdiam di tempatnya. “Kenapa masih diam disana? Ayo cepat pulang!”suruh Yoona.

“Kalau aku tidak mau?”

“Kau harus mau.”

“Kenapa?” Yoona tak menjawab. “Baiklah aku pulang.”lanjutnya. Pria itu tidak bergerak. “Kenapa tidak jadi pulang?”tanya Yoona heran. “Karena ini rumahku. Payah,”jawabnya. Mata Yoona terhenti. Sementara Donghae, pria ini berjalan dengan cepat memasuki rumahnya. Jadi apakah aku tidak salah dengar?

 

oOo

 

Sebuah handuk tergantung di leher Sehun. Sebelah tangannya menggesok kepalanya yang basah. Matanya menatap sosok yang terduduk di sofa ruang tengah. Kakinya dengan segera mendekat. “Yakk, Sehun!”bentak Yoona yang merasa Sehun mengambil remote TV dari tangannya.

“Tadi kau kemana?”tanya Sehun tanpa menoleh. “Berkunjung ke rumah teman.”sahut Yoona dengan sedikit senyum. Sehun hanya mengangguk – anggukan kepalanya sebagai respon. Yoona menatap adiknya sebentar. “Sehun!”panggilnya. Kepala Sehun berputar ke arah Yoona. “Noona, bisakah kau tidak berteriak di telingaku?”

“Mianhae…” Jeda. “Apa kau mengenal pemilik rumah besar?”tanyanya.

“Noona, kau ini bagaimana? Rumah besar disini banyak. Rumah kita juga besar.”jawabnya ketus. “Ah.. Sehun, bukan itu maksudku!”

“Lalu?”

“Rumah besar bercat putih di dekat belokan.” Yoona menggaruk – garuk kepalanya bingung harus mengatakan apalagi untuk menjelaskan. “Ah! Sudahlah! Kau juga tidak akan tau.”ucapnya dan beranjak pergi.

 

 

Suara seseorang di bawah membuatnya segera bangkit dari duduknya. Yoona berjalan perlahan menuju jendela kamarnya. Tangannya membuka gorden yang menghalangi pandangan.

Sosok yang sedang berdiri di bawah, seperti ia mengenalnya. Tak berapa lama Sehun keluar dari rumah dan menghapiri laki – laki itu. “Donghae?”tanya Yoona pada dirinya sendiri. Matanya terus menatap gerak gerik dua pria di bawah.

Menatap Donghae yang bergegas pergi, matanya melebar. Dengan segera Yoona berlari keluar kamarnya. Langkahnya terburu – buru menuruni tangga rumahnya. Tepat saat ia akan membuka pintu depan, Sehun berada di hadapannya. “Uh, noona menganggetkanku saja.”kata Sehun.

Yoona menatap keluar sebentar, lalu menyusul Sehun. “Hei, tadi itu siapa? Apa dia temanmu? Kau kenal dengannya? Kenapa kau tidak pernah bercerita denganku? Kau mengenalnya dimana?”

Baru saja melangkahkan kaki kembali kerumah, Sehun telah dihujani banyak pertanyaan bodoh oleh kakaknya. “Ini bukan urusanmu.”ucapnya dingin dan bergegas pergi.

“STOP!”cegah Yoona sambil merentangkan sebelah tangannya ke depan. “Jawab dulu pertanyaanku!”perintahnya. Sehun menatapnya sambil mengerutkan alisnya. “Kau ini wartawan atau apa? Selalu ingin tau urusan orang.”jawabnya.

“Hei, aku bukan bertanya soal wartawan! Aku bertanya soal temanmu!”

“Baiklah, aku akan memberitahunya. Tapi kau jawab dulu pertanyaanku.”

“Baik.”jawab Yoona tegas. Sehun baru saja membuka mulutnya hendak mengatakan sesuatu. Dengan cepat Yoona memotonya. “Jangan bertanya soal matematika. Aku tau kau pintar.”

“Tidak.. noona tenang saja.” Jeda. “Tahun berapakah Albert Eistein lahir?” Yoona berpikir sejenak. “Em… 1990..”jawabnya. “Hahaha…”sebuah tawa tersembur dari Sehun. “Hei, dia lahir tahun itu..”bantah Yoona. “Sudah minggir.. kau benar – benar lucu noona. Itu tahun lahir Albert Einstein atau Luhan EXO?”remeh Sehun sambil berjalan pergi.

Yoona memutar badannya menatap Sehun yang menaiki tangga. “Me-memangnya kau tau kapan Einstein lahir?”ucapnya. Sehun menatap Yoona sejenak. Sebuah cengiran ia berikan. “Tidak.”jawabnya dan bersiap lari. “Awas kau ya, Im Sehun!”teriak Yoona dan berlari mengejarnya.

 

oOo

 

Dalam keheningan. Suara pisau memotong terdengar begitu jelas. “Eoh, Yoona?”suara berat membuat kepala Yoona terangkat. Sebuah senyum simpul ia berikan. “Appa, mianhae, aku sudah membangunkanmu.”ucapnya. Direktur Im terduduk di sebuah bar kecil. “Kau buat apa?”

“Bekal, untuk temanku.” Direktur Im hanya menganggukan kepalanya. “Appa, biasanya anak laki suka makan apa?”tanyanya seketika. “Em? Haha… kau ingin membuatkannya untuk pacarmu, hem?”tanyanya menyelidik. “A-ani..”jawab Yoona memerah.

“Sudahlah, kau itu tidak pandai berbohong.” Jeda. “Appa mendapat laporan dari sekolahmu.” Mendengar kalimatnya yang satu ini membuat Yoona sedikit menegang. Rasanya ia tak berani menatap ayahnya sekarang. “Padahal saat kau di SMP, kau tidak begini. Kenapa kau berubah, Yoona? Kau membuat ayah malu.. sejak SMA hingga sekarang tidak peningkatan nilaimu. Selalu hancur. Ayah kecewa padamu.”keluh Direktur Im.

Yoona menghentikan aktifitasnya. Sebuah napas ia ambil. Matanya menatap sang ayah dengan senyum. “Mianhae ayah. Aku tidak bisa menjadi kebanggaan ayah.”jawabnya. Ditahannya sebuah air mata dipipinya. “Sudahlah, hanya maaf maaf dan maaf yang selalu kau katakan. Kau tidak seperti Sehun. Kau memang tidak bisa diharapkan.” Rasa sakit kembali menerjangnya. Kata – kata yang sungguh tak ingin ia dengar lagi.

Sehun mendengarkan hal itu dari kejauhan. Ia bisa merasakan kecangguan yang ada di antara mereka kini. Dengan cepat ia menghampiri. Tangannya mengambil kue di tangan Yoona, lalu terduduk di sebelah ayahnya. “Kau ingin membuat makanan untuk siapa?”tanyanya berusaha mencairkan ketegangan.

Sebuah senyum simpul kembali muncul di wajah Yoona. “Temanku.”ucapnya. Sementara raut wajah ayahnya sama sekali tak berubah. Yoona menatap ayahnya takut. “Appa, mau kemana?”tanya Sehun yang menatap kepergian sang ayah. Wajahnya kembali menatap Yoona. “Noona tidak apa – apa?” Yoona hanya menggeleng kecil.

 

oOo

 

Donghae terduduk di bangku taman sekolah. “Hai!”sebuah sapaan membuat kepalanya menoleh. Ia hanya menampakan senyum manisnya. “Ini untukmu.” Donghae menatap sebuah bekal yang di berikan untuknya. Kemudian ia menatap Seulgi. “Terimakasih.”ucapnya.

“Kau sibuk hari ini?”tanyanya.

“Tidak.”

“Aku punya tiket nonton. Kau mau kan menemaniku?” Donghae menganggukan kepalanya. “Aku tunggu jam empat sore ini.”serunya dan bergegas pergi. Donghae menatap kepergian Seulgi.

Tangannya baru hendak membuka bekalnya. Matanya menatap Yoona yang kini berlari ke arahnya. Dengan cepat Donghae menyembunyikan bekal pemberian Seulgi.

 

Yoona menatap Donghae yang berdiri menatapnya. Kakinya dengan cepat berlari penuh semangat. BRUK! Tiba – tiba saja ia terjatuh. Kakinya tersandung. Donghae menatapnya dengan sedikit tawa. Dengan segera Yoona bangkit dari jatuhnya sambil membersihkan diri. “Anyeong, Lee Donghae.”ucapnya penuh senyum. Donghae tak menjawab, hanya menatapnya. “Maaf soal kemaren. Ini untukmu.”

Donghae menatap bekal yang disodorkan untunya. “Apa ini?”tanyanya. “Bekal untukmu, sebagai permintaan maafku.”jawabnya penuh harapan. Yoona sangat berharap Donghae mau menerima permintaan maafnya ini.

“Aku sudah kenyang. Kau makan saja sendiri.”ucapnya dingin.

“Ta-tapi.. kau kan belum makan..”

“Ah… aku lupa memberitahumu. Kau telat satu detik, payah. Kang Seulgi telah memberikan bekalnya untukku. Kalau kau tidak mau, kau bisa memberinya pada orang lain.”tegas Donghae dan berjalan melaluinya.

Rasa kecewa kini menyelimuti hati Yoona. Matanya menatap bekal ini sejenak. Dengan rasa kecewa ia berjalan pergi.

 

oOo

 

“Yoona, sore ini kau mau tidak menemaniku?”ucap Shin Gi Young. Orang yang di ajaknya bicara ini tak ada semangatnya seperti biasanya, membuat Gi Young merasa aneh. “Kau kenapa?”tanyanya yang memperhatikan Yoona tertidur di mejanya.

“Aku tidak apa – apa.”

“Kalau tidak apa – apa kau tidak mungkin begini.”

“Seulgi lebih dulu dariku.”

“Aish… perempuan itu!”gerutu Gi Young. Tangannya mengelus pelan rambut Yoona. “Sudah jangan hiraukan dia. Tetaplah semangat. Yoona yang kukenal tak pernah menyerah. Aku yakin Donghae sebenarnya ingin mencicipi makananmu.”

“Benarkah begitu?”tanya Yoona penuh semangat.

 

oOo

 

Yoona menatap Kang Seulgi yang berada di ambang pintu seperti kemaren. “Kasihan, bekalmu ditolak Donghae? Hahaha..”tawanya mengejek. Yoona mendengus. “Pssh.. Aku baru tau kau adalah penjaga toilet baru.”ucap Yoona polos.

Seulgi menghentikan tawanya. Matanya membulat menatap Yoona. “Maksudmu?”tanyanya tak mengerti. “Kau selalu menghalangi pintu toilet.”jawab Yoona. Kakinya melangkah mendekati Seulgi. Selembar uang ia keluarkan dari sakunya. “Ini. Aku bayar hari ini dan kemaren. Kembaliannya kau ambil saja.”

Selembar uang di tempelkan pada Seulgi. Seulgi menatap Yoona sedikit menganga. Raut amarah kini memuncak di kepalanya. “Memangnya dia pikir siapa aku?”gerutunya. Kakinya melangkah cepat menyusul Yoona.

Yoona merasakan sesuatu menarik rambutnya. “Aw,”rintihnya. “Yakk! Kau pikir aku tidak mampu, huh?! Ini ku kembalikan uangmu!”tangannya melepas rambut Yoona dengan kasar. “Asal kau tau saja. Aku ini anak orang kaya, mana mungkin aku tidak punya uang. Bahkan aku bisa mentraktir satu sekolah.”lanjut Seulgi menyombongkan dirinya.

“Begitukah?”tanya Yoona dengan polos. “Tentu saja.”jawab Seulgi angkuh. “HEI! KALIAN SEMUA! SEULGI BILANG DIA AKAN MENTRAKTIR KITA. KALIAN BISA MAKAN SEPUASNYA!!!!”teriak Yoona.

“Wah, ayo kita ambil.”

“Seulgi kau baik sekali.”

“Ayo makan,”

Ucap seluruh siswa yang berada di kantin. Seulgi melebarkan matanya. Mulutnya terbuka lebar tak menyangka apa yang akan di katakan gadis ini. “Seulgi terimakasih karena kau mau mentraktirku.”ucap Yoona.

Tangan Seulgi kembali menarik rambut Yoona. “Kau mau kemana? Bu-bukan begini maksudku.”bantah Seulgi, mengingat kata – katanya tadi. “Kau bilang tadi kau bisa mentraktir satu sekolah. Jadi itu berarti kau juga mentraktirku.”jawab Yoona. “Seulgi, apa kau benar mentraktir satu sekolah?”tanya Guru Kang. Dengan segera Yoona melepaskan tangan Seulgi yang mencengkram rambutnya.

“Heh..”jawab Seulgi dengan senyum yang dipaksakan. Matanya menatap Yoona yang telah menghilang dari hadapannya. “Awas kau Im Yoona!”gerutunya.

 

oOo

 

TET!

Bel pulang sekolah berbunyi. Donghae berjalan menuju pintu gerbang. Matanya menatap beberapa siswa berbondong bondong kembali masuk ke dalam sekolah. Langkahnya terhenti. Matanya mengikuti arus siswa yang berjalan masuk.

“Mian, ada apa?”tanyanya enghentikan salah seorang siswi. “Im Yoona dan Kang Seulgi, mereka berkelahi di lapangan.”kata gadis itu dan bergegas pergi. Segera Donghae memutar arah kembali ke dalam.

 

Matanya menatap seluruh siswa yang melingkari Yoona dan Seulgi. Tidak ada yang berani merelai mereka. Satu per satu orang di gesernya untuk melihatnya lebih dekat.

“Yakk! Apa maksudmu tadi, huh?!”bentak Seulgi.

“Aku tidak melakukan apapun! Kau sendiri yang mengatakan bahwa kau akan mentraktir kami!” Tangan Seulgi mulai menjambak rambut Yoona. “Lepaskan!”

“Kau iri karena Donghae tidak melirikmu? Tentu saja!! Mana mau dia dengan orang bodoh sepertimu!” Kini giliran Yoona yang menjambaknya. “Donghae juga tidak menyukaimu!”lawannya.

BRUK!

Kini Seulgi mulai bermain kasar. Tangannya mendorong Yoona hingga tersungkur ke belakang. “Hei bodoh jaga ucapanmu! Sudah terbukti Donghae memilihku. Lebih baik kau menyingkir dan jangan mengganggu kami!” Yoona bangkit. Tangannya terangkat hendak menampar Seulgi, namun sesuatu seperti menahannya. Matanya menatap guru Kang yang berusaha melerai. “Songsengnim menyingkirlah ini urusanku!”bentaknya.

“Kau itu perebut pacar orang!”bentak Seulgi.

“Tunggu, kau saja belum berpacaran dengan Donghae.”

“Kami akan berpacaran!”

“Donghae tidak menyukaimu.”

“Kau!”

“Seulgi, Yoona cukup. Apa yang kalian bertengkarkan tidak penting.”ucap guru Kang Sementara dua gadis ini masih terus saling mencabik satu sama lain. “Yoona! Seulgi!”

“DIAM!”bentak mereka berbarengan.

Yoona menatap Donghae yang menatap mereka. “Donghae,”ucapnya yang menghentikan aktivitasnya. Seulgi mendengarkan ucapannya, seketika matanya mengikuti arah pandang Yoona dan menghentikan aktifitasnya. “Donghae, katakan pada dia bahwa kau tidak menyukainya.”paksa Seulgi.

“Yakk! Kenapa kau mempengaruhinya. Biarkan dia yang memilih!”bentak Yoona.

“Dia sudah pasti memilihku!”

“Tidak! Dia pasti memilihku!”bentak Yoona tak mau kalah.

“Sudah cukup!!”bentak Donghae menghentikan perkelahian.

Langkahnya berjalan mendekati kedua gadis ini. Matanya menatap Yoona dan Seulgi bergantian. “Seulgi kau hanya teman bagiku.”ucapnya. Tangannya menarik paksa lengan Yoona menjauh. Menatap hal itu membuat Seulgi tercengang. Emosi di kepalanya semakin menjadi.

 

oOo

 

“Donghae kau memilihku?”tanya Yoona penuh senyum. Donghae terus saja menariknya hingga menjauhi keramaian. “Benarkah itu? Kau benar – benar memilihku?”tanya Yoona tak percaya.

Donghae menghentikan langkahnya. Badannya berputar menatap Yoona. “Ya, aku memilihmu.”ucapnya. “Jinjja?”tanya Yoona tak percaya. Matanya berbinar. “Aku memilihmu karena aku tidak ingin kau melakukan hal itu lagi.” Jeda. “Dengar. Aku sama sekali tidak menyukaimu. Bahkan aku membencimu. Berhentilah mengejarku. Aku tidak suka. Menjauhlah!”ucapnya.

Senyum yang mengembang perlahan memudar. Rasa sakit kini menerjang dada Yoona. Rasanya perih mendengar kalimat itu keluar dari mulut Donghae. “Kau…. membenciku?”tanya sambil menahan air mata.

“Ya, aku membencimu. Aku tidak suka kau muncul di hadapanku lagi!”

“Apa.. karena aku bodoh…?”tanya Yoona perih.

“Tentu saja!”

“Oh… aku mengerti…”ucap Yoona melemah. Perlahan tangannya melepaskan genggaman Donghae. Badannya berputar dengan lemah. Rasanya ia seperti tak menginjak bumi saat ini. Tangisnya pecah. Kakinya melangkah menjauh.

Donghae menatapnya. Menatap punggung gadis ini yang menjauh. Rasa bersalah kini mulai muncul di hatinya. Ia tak bisa melihat seorang gadis menangis. Apakah kata – katanya begitu kasar? “Yo-ona..”panggilnya.

“Aku mengerti. Aku ini gadis bodoh yang tidak pantas berharap memilikimu. Baiklah aku akan menjauh darimu.”ucap Yoona tanpa menoleh. Dengan segera kakinya berlari dengan air matanya.

 

Yoona menatap Seulgi yang mendengar pembicaraan mereka sorot matanya terlihat menandakan kemenangan. Dengan cepat ia kemabali berlari.

 

oOo

 

BRAK!

Yoona menutup pintunya dengan sekali hempasan. Di dudukan dirinya bersandar di pintunya. Air matanya tak henti hentinya bercucuran. Ini terlalu sakit untuknya. Ia tidak bisa menahan sakit ini seorang diri.

Begitu bencinyakah kau padaku?

 

 

To be Continue………

11 thoughts on “Love is Crazy (Chapter 2)

  1. Howaa semakin keren thor, di next kajja🙂
    Sudah penasaran, Dongek sedikit tidaknya sudah mulai care dengan Yoona. Yeeyy!😀
    Keep writing ^^
    Fighting!❤❤

  2. Aku mau nangis eh malah udah kelar yah author mah gitu.
    Next chapter lebih panjang lagi yah thor dan jangan lama lama
    Penasaran sama konfliknya
    Keep writing

  3. Ih sebel deh sma hae knpa dia bisa berkata sekasar itu sma yoona.
    Kasian khan yoona berharap hae menyesal sma ucapanya
    Dan kebalik jdi hae yg ngejar” yoona
    Next thor

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s