Unexpected : Dirty Little Secret [2]

unexpected

Unexpected : Dirty Little Secret [2]

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

“kau tau, mengapa daun momiji itu merah?”

Kyu hyun menoleh malas pada ahra, lalu bersidekap sok jantan dengan sebuah buku tebal yang kini menghiasi salah satu genggamannya. Mengacuhkan ahra yang masih tersenyum dengan selembar daun momiji lima jari yang terus ia putar-putar tak tentu arah.

“karna kalau hitam pasti akan jelek sekali untuk warna sebuah daun”

BAM!

“NUNA!!”

Buku besar itu kemudian jatuh, kini kedua tangan kyuhyun justru tengah sibuk mengusap bekas tamparan tangan ahra yang masih terasa panas dibelakang kepalanya. Dari bentuk usapannya, ahra tau bekas merah itu masih akan bertengger manis di kulit kepala belakang adiknya untuk beberapa jam kemudian.

Tapi ia agaknya tak perduli. Terkadang, adik kurang ajar seperti kyu hyun memang perlu ditindas dalam kekerasan yang kejam. Lihat saja bocah kecil itu, merasa benar-benar paling hebat hanya dengan membaca sebuah buku sains?

Ahra juga bisa!

Hanya ia tak mau.

“aku akan melaporkanmu pada appa!!”

Ahra menutup mulutnya dengan salah satu tangan. Tertawa kecil yang kemudian membuat adik lelakinya berhenti bergerak dan menatapnya lebih garang. “kau pikir ini lucu?!”

BAM!

Pukulan itu kembali mendarat. Tepat diujung kepala kyu hyun meski dengan kekerasa yang jauh dapat ditolerir. “kau? Ingin mengadukan apa pada appa?!”

Lalu ahra menaikkan salah satu alis tebalnya tinggi-tinggi. Seringaian turun temurun itu keluar dengan dua tanduk yang kyu hyun yakin akan menusuknya secepat mungkin. Kyu hyun tau, dan ia pun sebenarnya tak berniat melaporkan apapun karena segala yang terjadi diantara mereka selalu menjadi rahasia kecil yang tak selalu diketahui omma dan appa.

“Tidak ada”

Dan tawa ahra meledak. Menghancurkan pertahanan terakhir kyu hyun untuk menerjang kakak sialannya dalam gelitikan canda yang belum berhenti. Alas piknik yang terbentang besar dibawah pohon momiji yang menguning itu beraktakan, lalu mereka berakhir dengan tarikan ditelinga masing masing ketika appa dan omma kembali.

Kyu hyun tersenyum. Bayangan tawa ahra yang meledak-ledak itu masih terekam dalam ingatannya. Liburan di tokyo yang terjadi belasan tahun lalu itu kini kembali berputar dalam benaknya. Betapa dulu, kebahagiaan itu benar-benar milik mereka tanpa tersentuh meski hanya diluarnya saja.

Angin malam itu menenggelamkan kyu hyun dalam pilu. Sebuah rotan besar yang tergantung dibalkon apartemen besarnya membawa kyu hyun duduk dalam belaian angin yang mulai menggila.

Pukul empat pagi. Dan ia belum bisa sama sekali menutup mata meski hanya untuk sepersekian detik yang singkat. Dulu, kyu hyun sempat berpikir jika berada dalam kenyamanan pelukan yoona adalah hal yang paling ia butuhkan untuk membuatnya terlelap.

Nyatanya, kini bahkan semua tak lagi sama.

Wanita itu mungkin masih sama, yoona memang tak pernah berubah dengan segala kehangatannya. Hanya terkadang manusia memang tak dapat memikul gunung. Layaknya sebuah beban yang kini tak lagi mampu kyu hyun lupakan hanya karena berada disamping wanitanya.

Lembar ringan itu berganti halaman. Putih bersih mewarnai akhir dari buku tebal itu dengan cepat. Angin seolah telah memerintahkannya untuk berhenti dan mulai berbagi. Memikul beban sendiri memang tak pernah menyenangkan.

Kyu hyun menutup kedua bola matanya erat-erat. Akhir itu kini seperti memburunya dalam pencarian kebenaran yang telah lama tertutup debu. Awan kelabu kini diterpa mentari yang mulai menampakkan diri dalam malu yang masih ia pendam pada bulan. Lalu terang datang, dalam rasa hampa yang perlahan-lahan mengalir tanpa henti.

__

“tidak ingin sarapan yang lain, tuan?”

Samar-samar itu terdengar ketika yoona memutuskan untuk menelusuri rumah setelah tak menemukan kyu hyun disampingnya. Dan dari balik tembok putih menuju ruang makan itu kemudian ia menemukan kyu hyun yang sudah duduk manis dengan air mineral dalam cup yang masih ia genggam erat.

Yoona kemudian terkesiap. Terpaku cukup lama ketika senyum tipis kyu hyun tercipta untuk bibi park. Lalu ia mulai mengingat ingat terakhir kali ia menemukan sebuah senyuman tulus itu dari seorang cho kyu hyun.

Lelaki itu kemudian menggeleng singkat. “tidak. aku sedang ingin makan omelet. Dan tolong berikan aku kopi hangat”

Usai lelaki itu berbicara, yoona melangkah mendekat. Rahang tegasnya bergerak kaku ketika kyu hyun menyesap air mineral dari cup birunya. Hening kemudian terisi dengan setapak langkah yoona yang berjalan semakin menipiskan jarak.

“oppa—“

Dalam sekejap, jemari yoona mengusap salah satu pipi kyu hyun. Mengabaikan tatapan tak mengerti kyu hyun yang cukup terkejut akan kedatangannya. Wanita itu kemudian mendesah, lega bercampur kesal yang menguap begitu saja.

Ia kemudian menarik kursi tepat berhadapan dengan kyu hyun, lalu merebut gelas kaca itu dengan cepat.

“aku pikir kau akan hilang lagi” ucapnya tanpa rasa bersalah.

Perih mendatangi ulu hati kyu hyun. Yoona berucap begitu ringan seolah mereka tengah membicarakan menu sarapan pagi mereka hari itu. Padahal, ia tau betapa mareka sama-sama saling menyakiti dengan sikap egoisnya yang menghilang hampir dua minggu tanpa membiarkan yoona tau satu pun berita mengenai dirinya.

Kyu hyun berdehem kecil mengatasi rasa bersalah yang tiba-tiba mendatanginya. “untuk sementara kita perlu tinggal di apartemen ini. Sora akan mengurus rumah untuk sementara waktu” lalu percakapan tak penting itu mengalir. Kyu hyun tak tau lagi harus berbicara seperti apa demi menutupi kecanggungan yang kini sepertinya telah berhasil membangun tembok pemisah diantara mereka diam-diam.

Tak lama omelet pesanan kyu hyun datang bersama satu porsi lainnya. Bibi park kemudian meninggalkan ruang makan usai menyelesaikan tugasnya. “memangnya apa yang harus dilakukan dengan rumah kita?”

Kyu hyun berhenti menggunakan sendoknya. Tersedak untuk alasan yang tak begitu jelas. Tiba-tiba saja ia merasa begitu tertekan dengan kata ‘kita’ yang yoona gunakan. Namun yoona tak menyadarinya dengan benar. Lelaki itu berhasil membenarkan ekspresinya sebelum yoona menangkap gelagat aneh dari sana.

“tidak ada. Hanya ada beberapa hal yang membuat rumah itu tidak bisa ditinggali dalam waktu dekat” kyu hyun melanjutkan potongannya lalu kembali berhenti sebelum memakannya. “apa kau keberatan untuk tinggal diapartemen ini?” tanyanya kemudian.

Yoona menatap lelaki itu sedikit tidak mengerti. “apa aku terlihat seperti itu?” kedua bahu yoona naik bersamaan ketika pandangan kyu hyun tak berubah, pun lelaki itu tak bersuara. “aku tidak pernah berkata seperti itu. Dimanapun, asalkan ada kau semuanya terasa sama saja”

Seharusnya, kyu hyun tertawa sinis. Sikap yoona yang mulai berani merayunya dengan kata-kata sederhana itu kembali lagi. Seolah sebelum ini mereka tak sedikitpun berselisih paham. Namun agaknya yoona pandai dalam menetralkan suasana meski kini kyu hyun tak merasa itu berpengaruh pada dirinya.

“apa kau makan dengan baik satu minggu ini, oppa?”

Kyu hyun hanya mengangguk singkat ketika yoona menatapnya ragu. Tak bersuara menjadi pilihannya untuk sementara waktu. Walau bagaimanapun, terkadang kyu hyun menyadari kelemahannya dalam mengendalikan keadaan jika sudah bersama yoona.

Berbeda dengan yoona yang terkadang berhasil tersenyum menggemaskan usai mereka mengalami cekcok hebat sekalipun. Bagi kyu hyun, mengembalikan keadaan setelah terjadi malapetaka besar adalah tantangan yang cukup sulit.

Yoona menghembuskan nafasnya pelan. Hampir lima belas menit berada dalam satu meja makan yang sempit, tak ada satupun hasil yang mereka peroleh. Terkadang sifat keras kepala kyu hyun memang menjengkelkan. Yoona bukannya tidak tau jika lelaki itu tengah menormalkan perasaannya usai pertengkaran besar mereka. namun terkadang yang membuatnya muak adalah sikap kyu hyun yang menahan diri untuk terpancing pada keramahannya dalam mencairkan suasana.

“kau tidak ingin menanyakanku?”

Pertanyaan itu membuat kyu hyun menghentikan gerakan tangannya. Yoona dapat melihat lelaki itu menghela nafasnya lalu berucap seperti yang yoona mau. “apa kau makan dengan baik satu minggu ini yoon?”

Yoona meringis kesal pada nada biasa-biasa saja milik kyu hyun. “tidak”  jawabnya singkat. “aku tidak makan dengan baik. jadi berhentilah bepergian seperti itu lebih lama atau kau akan menemukanku mati membusuk karena kelaparan, arraseo?!” ada nada manja disana, namun yoona tak menekankannya dengan jelas.

Kyu hyun kemudian menghentak sendok yang ia genggam lalu menatap yoona sedikit jengkel. “apa kau tengah mencoba untuk menyudutkanku, yoon?”

Yoona menggeleng pelan. “aku tau kau tidak tulus bertanya, tapi baiklah, aku rasa itu tidak cukup baik untuk dikatakan menjebak. Kau sendiri tau aku tengah berusaha mengingatkanmu.”

“im yoona!!”

Yoona mengedik sedikit lalu menyeruput coklat hangat dalam cup ditangannya. “terkadang menjengkelkan mendengar oppa terus berteriak seperti itu” ia kemudian mendelik, menatap kyu hyun sedikit lebih tajam dan manja dengan binar mata anak-anaknya. “aku mulai lupa kapan terakhir kali kita bersenang-senang. Seingatku, meski menyenangkan, belakangan kebersamaan kita selalu terisi oleh pertengkaran”

Kyu hyun membuang muka, benar-benar membanting sendok dalam genggamannya hingga terlepas. Yoona tau, lelaki itu tak lagi memiliki nafsu makan semenjak percakapan pagi ini dimulai. Yeah, memang cho kyu hyun sekali.

“aku tidak pernah membatasi kebersamaan kita dengan hal-hal konyol. Kau yang membuatku seringkali mengobarkan api di ubun-ubun.”

“oppa bilang ini hidup bebas semenjak kita bersama. Lalu, untuk apa membatasi pergaulanku? Jika memang oppa merasa perlu memiliki hak untuk itu, berarti sudah saatnya kita menikah!”

Kyu hyun mendengus malas. “pernikahan lagi. Tidak bisakah kau berhenti membahasnya, im yoona? Kita sudah tutup buku dengan wacana kolot seperti itu. Kau sendiri yang ingin bersamaku tanpa pernikahan, ingat? Jadi jangan menuntutku dengan hal-hal yang seperti itu.”

“nah!” yoona menaikkan sendok kecil yang ia gunakan untuk mengaduk coklatnya, lalu memasukkannya kedalam mulut, menjilatnya sebentar. “itu dia maksudku, oppa. Maka biarkan saja jiwa kita benar-benar bebas. Jika kau seperti ini, aku merasa menjadi pihak yang terkekang satu arah.”

BRAK!

Yoona terkejut ketika kyu hyun berdiri dengan cepat. Ia yakin, lelaki itu tak akan semarah sebelumnya karena diskusi mereka kali ini tak melibatkan nada-nada beroktaf tinggi. Namun agaknya kyu hyun mulai menuai asap dari kebakaran yang terjadi diujung kepalanya. Yoona memilih untuk diam. Apapun itu, ia hanya yakin jika ia lebih baik tak berbicara untuk sementara waktu pada lelaki itu menjelang amarahnya turun.

Kyu hyun menggenggam pergelangan tangannya kuat. Ia tak ingin jauh lebih marah lagi. Pertengkarannya bersama yoona, pelariannya, pertengkarannya bersama donghae, dan semua aktivitas bullshit ini membuatnya hampir meledak-ledak.

Ia menahan diri untuk tak seotoriter sebelumnya. Karena walau bagaimanapun terkadang apa yang yoona katakan ada benarnya. Wanita itu bukan sukses tanpa alasan. Yoona selalu punya alibi demi membenarkan apa yang ia lakukan dan terkadang itu mengganggu kyu hyun.

“ini bukan soal bebas atau terikatnya hidupmu padaku, yoon”

Yoona menoleh, punggung kyu hyun menjadi satu-satunya hal yang dapat ia lihat dengan jelas. Dari pergerakannya, yoona tau jika lelaki itu sudah berhasil dalam mengatur diri. Lalu kemudian kyu hyun berbalik, menopang tubuhnya dengan dua tangan dan mendekat, memupus jarak sebanyak mungkin antara ia dan yoona.

“ini tentang apa yang harus dan tak harus kau lakukan. Seperti yang selalu kukatakan, yoon. Aku tak melarangmu dengan sembarang alasan. Jika ada sesuatu yang harus kau jauhi maka aku punya ribuan alasan agar kau melakukannya.”

Yoona terdiam. Tersihir nafas berbau mint lelaki itu dan mata coklat almondnya yang luar biasa indah.

“kau hanya harus menjauhinya dan itu cukup untuk membuatmu tak lagi terluka”

Kyu hyun menjauh dengan cepat. Membuat yoona tersadar akan kata-kata yang lalu menjadi tanda tanya besar baginya. Yoona tau, semua pertengkaran ini akan kembali pada fokus yang sama.

Lee donghae.

Namun kemudian ia merasa ada satu hal yang belum ia mengerti dengan jelas. Yoona kemudian berbalik, menemukan pundak kyu hyun yang semakin menjauh. Lalu tiba-tiba saja ia ingin bertanya. “tapi kenapa harus lee donghae?!”

Ketika pertanyaan itu terlontar, yoona tau ia akan kembali menabuh genderang perang. Bersama kyu hyun, belakangan ini hal sekecil apapun berbau donghae bisa saja menjadi bahan perang hebat diantara mereka.

Heran, lelaki itu terlihat begitu senditif dengan donghae. Padahal semua tidak seperti itu. Jika kembalinya yoona pada donghae adalah yang  kyu hyun takutkan. Atau, terdengar lucu jika memang ternyata kyu hyun memiliki rasa takut untuk kehilangannya.

Yoona sudah siap ketika kyu hyun berbalik dan menatapnya. Mata lelaki itu setajam pisau dua sisi. “kenapa? Kau berharap aku membebaskanmu dengannya seperti aku membebaskanmu dengan lelaki lain?”

Pertanyaan itu mengusik yoona. Ya, itu memang menjadi perbedaan besar yang ketara dari sikap kyu hyun padanya. Lalu samar-samar yoona mengangguk. Membiarkan seringaian kyu hyun tercipta tipis lalu ia mendengus malas.

“kau tau apa yang membuatmu berbeda?”

Lalu yoona tergagap saat perubahan topik itu muncul.

“kau keras kepala. Dan wanita lain tidak melakukannya padaku”

Kalimat singkat itu menyentak harga diri yoona. Emosnya tersulut tipis saat kyu hyun belum berhenti menatapnya dengan tajam. “lalu apa menurutmu itu buruk? Mengapa kau begitu sentimentil dengan sikap keras kepalaku setelah selama ini kita hidup bersama?!”

“nah! Itu dia.” Kyu hyun mendekat lalu mengusap pipi kiri yoona dengan lembut. Bau mint dan kopi hitam yang baru ia sesap pagi ini menghantam penciuman yoona dengan kejam. Lelaki itu memang memabukkan. Hal lain yang baru yoona sadari setiap mereka memiliki pasangan sendiri disuatu waktu. “kau belum lupa, kan, bagaimana kau mengemis padaku hampir tiga tahun lalu? Kau pikir ini lucu ketika kita berpisah dan kau kembali menjadi gadis menyebalkan yang hanya bisa menangis?”

Yoona melepaskan tubuhnya dari usapan lebut kyu hyun. Ada tanda tanya besar dalam kedua manik almond miliknya ketika lelaki itu kembali membahas masa lalu mereka. sekira yoona, kyu hyun adalah sosok yang tak ingin ambil pusing dengan masa lalu. Maka sekarang, bagian dari ingatan mana yang yoona lupakan tentangnya.

Atau, sebenarnya ia memang tak mengenal kyu hyun sedalam itu.

“kupikir itu bukan hal yang pantas kita bicarakan saat ini. Kau mengalihkan topik pembicaraan kita, oppa”

Yoona menatap lelaki itu tegas. Ada banyak hal yang kini kiranya menjawab tanda tanya dalam kepala yoona. Kyu hyun memang tak seterbuka itu padanya. Banyak hal yang tak ia ketahui meski telah hidup bersama selama hampir tiga tahun lamanya.

“apa itu penting?” kyu hyun tersenyum sebentar lalu dan kembali menghantam yoona dengan bau kopi pekatnya. “kau terlihat sangat menggebu jika kita tengah membahas lelaki itu. Sebegitu besarnya cintamu padanya?”

Pandangan menyelidik itu kemudian membuat yoona terhakimi. “aku—tidak. bukankah sudah kukatakan padamu bahwa—“

“kalian hanya berteman. Ya, itu gagasan yang bagus. Tapi pertemanan kalian menggangguku dan aku tidak ingin hal itu terjadi. Puas?”

Yoona mendelik tajam. “dan inikah hidup bebas yang selalu kau elu-elukan?”

Kyu hyun mendengus besar. Yoona tau ini akan menjadi perdebatan panjang. Namun harga dirinya kemudian merasa terusik. Dan pernyataan pernyataan konyol kyu hyun membuatnya merasa dipermainkan.

Lelaki itu belum beranjak sedikitpun. Namun matanya terlihat mulai memerah. Entah efek ia tidak tidur semalaman atau amarahnya yang sebentar lagi akan meledak-ledak. Yoona cukup paham bagian tempramental yang satu itu.

“aku tidak tau meninggalkanmu beberapa hari membuatmu menjadi lamban. Kau, aku punya hak atas dirimu, im yoona. Terlepas dari pernikahan konyol yang membuat hakku menjadi lebih penuh. Kau wanitaku! Bukan salahku jika aku melarangmu untuk menemui lelaki lain. Salahkan sikapmu yang bertindak seolah-olah kau tengah berselingkuh dibelakangku!”

Yoona tertegun sejenak. Rentetan kalimat panjang dengan nafas memburu itu menyulut amarah yoona seketika.

“pardon me?! Aku tidak—bahkan berpikir untuk melakukannya pun tidak pernah! Dan jika disini ada yang harus dituntut atas nama perselingkuhan adalah kau! Kau yang memiliki banyak wanita dan aku biasa-biasa saja.”

“itulah yang membuat kita berbeda. Aku memiliki wanita lain atas izinmu. Dan kau tidak melakukannya padaku!”

Suara rendah itu menghakimi yoona dalam diam. Akibat pertemuan diam-diamnya bersama donghae kah? “aku tidak tau kau begitu sentimetil dengan pertemuanku bersama donghae. Aku pikir—“

“kau bisa berhenti memikirkan hal yang tidak penting mulai saat ini. Dan aku bukan pria sentimentil, im yoona. Aku tidak akan membatasimu jika kau tidak menemuinya dengan cara seperti itu—seolah kau dan dia harus menyembunyikan hubungan kalian dibelakangku. Bukankah itu picik sekali?”

Yoona melangkah mundur. Seketika batu besar menghantam belakang kepalanya dengan hebat. Pertengkaran mereka memang selalu dibumbui kata-kata tajam dan sengit. Namun rasanya belakangan ini semua hal menjadi menyakitkan jika seluruh kata-kata tak pantas itu justru datang dari kyu hyun.

Bukan yoona tak menyadari sikap sensitifnya terhadap lingkungan sekitar. Terakhir ia merasa begitu melankolis hanya karena kedatangan kyu hyun kembali. Hal konyol yang baru saja yoona sadari. Demi neptunus! Ia tak akan melakukan itu jika kembalinya kyu hyun hanya akan membuatnya merasa lebih buruk.

“aku tidak tau apa yang terjadi denganmu. Kau bersikap seolah tak ingin lagi ada pertengkaran diantara kita, disisi lain kau menyembunyikan banyak hal yang kutebak akan membuat perdebatan diantara kita justru semakin membesar.”

Kyu hyun mendengus geli lalu menatap yoona. Tatapan yang sejak dulu selalu lelaki itu berikan ketika ia tak memiliki jawaban atas pernyataan logis yoona.

“kau hanya perlu mengatakannya. Kau takut aku kembali pada donghae?!”

Kyu hyun tak menjawab. Yoona takin lelaki itu tak akan bersuara mengingat seberapa besar ego-nya. Kyu hyun hidup dalam ego tak terkalahkan dan yoona paham akan hal itu. Dulu.

Kini semua ego itu seolah membuatnya bungkam. Dan perlahan memuakkan. Namun kemudian kedua bola mata kyu hyun menggelap. Tatapannya penuh emosi, kedua bola matanya sibuk mencari sosok pandang lain selain yoona lalu ia mendengus besar berkali-kali.

Lelaki itu terlihat begitu gelisah. Entah dengan kata-kata yang yoona berikan atau justru dengan kata-kata yang akan keluar dari bibirnya. Lalu lamunan yoona tersentak ketika kyu hyun menariknya lembut kedalam dekapan hangatnya. Lalu dada itu bergetar tanda pita suaranya tengah bekerja.

“bukan. lebih dari sekedar rasa takut. Apa kau pernah tau jika lee donghae adalah saudara lelakiku?”

__

Jemari lembut itu mengusap surai coklat tua milik kyu hyun. Sepoi angin sore yang kala itu menemani mereka dalam ketenangan perlahan berbisik. Meminta mereka untuk berbagi cerita. Dalam diam, resah itu menghilang. Pandangan liar kyu hyun pada rerumputan kecil yang termakan pijakan manusia pun kini mulai garang. Pipinya memanas, kedua bibirnya terkatup erat.

“appa benar-benar tidak akan datang?!”

Kyu hyun tau ia masih terlalu kecil untuk bertanya hal selancang itu pada lelaki berahang penuh rambut hitam legam disampingnya. Didepan mereka tenang pelampung pancingan yang bergerak perlahan memutuskan percakapan singkat itu dalam sekejap mata.

Seekor ikan besar lalu terdampar, menggelepar kehilangan nafas yang menjadi tumpuan hidupnya. Kyu hyun tak bergerak, memperhatikan proses kematian hewan air itu tak mengikis pertanyaannya yang semula belum terjawab.

Sungjin berbalik ketika mata kelam kyu hyun tak menunjukkan cahaya. Lalu dalam diam ia menghela nafasnya ragu. Kyu hyun memang selalu seperti itu,  pergi dan pulang semau yang ia kehendaki adalah hak veto bagi hidupnya. Dan kini, meski dua jam sebelum mereka mulai memancing wajah bocah kecil itu masih tampak biasa-biasa saja, kini sungjin mulai sangsi jika ia akan selamat lagi dari pertanyaan sadis bocah cerdas itu.

Kedua bola mata tajam kyu hyun menangkap pandangan sungjin dalam diam. Membuat lelaki itu tak berkutik setelahnya.

“kau belum menjawabku, paman” tutur anak lelaki tujuh tahunan itu singkat. Sederhana dan begitu dalam.

Sungjin kemudian menghela nafasnya gusar. Mengacak rambutnya yang sudah hampir menyentuh kerah baju hitam yang ia gunakan lalu menggeram kecil. “tidak bisakan kau berhenti menatapku seperti itu, cho kyu hyun? Kau mengulitiku, astaga!”

Jawaban singkat itu menjawab segalanya. Sungjin mungkin berpikir jika ia adalah pengecoh yang handal, namun membohongi kyu hyun adalah hal yang belum pernah berhasil ia lakukan hingga kini.

Kyu hyun menahan ragunya sejenak sebelum kemudian berdiri dan pergi. Meninggalkan sungjin yang kemudian mengadu pada omma yang masih sibuk merajut dipinggiran kolam. Panggilan itu tak lagi ia hiraukan ketika omma mulai mengejarnya, lalu tanpa berbicara membiarkannya pulang lewat supir pribadi mereka.

Lelaki itu memang pecundang. Tak pernah hadir ketika ia dibutuhkan.

 

__

BRAK!!

“aku harus menemuinya.”

Kalimat singkat itu menggema dari ujung pintu ruang kerja kyu hyun. Hampir empat jam mereka saling berdiam diri. Pernyataan singkat lelaki itu diujung pertengkaran mereka nyatanya menghantam yoona lebih keras.

Wanita itu mengurung dirinya didalam kamar. Tidak ingin diganggu bahkan ia melewatkan sarapan paginya hanya untuk terisak ringan didalam kamar.

Kyu hyun tau ini terlalu kejam. Namun cepat atau lambat yoona pasti akan tau, maka dengan berbagai pertimbangan besar ia memutuskan untuk berbagi. Sudah saatnya yoona mengerti mengapa mereka selalu seperti ini. Mengapa momok pernikahan itu terus menghantui jalinan hubungan mereka.

Sudah saatnya kyu hyun paham jika tiga tahun mungkin sudah terlalu cukup untuk mengumpulkan keberanian yang ia cari selama ini. Hubungan mereka sudah terjalin lama, diluar ekspektasi kyu hyun yang semula tak beranggapan jika yoona akan bertahan selama ini padanya.

Gamophobia itu,, memang mengganggu. Namun bukan berarti ia tidak memiliki hati. Kyu hyun tau setinggi apa ego yang ia miliki, namun berpikir lebih logis, ia seharusnya lebih dapat mengatur hidupnya dan tak selalu menatap ego yang tertawa mengoloknya dari sisi kelam.

Ia mencintai yoona sedalam yang tak seorangpun tau. Dan kenyataan jika,, wanita keras kepala itu kini tengah mengandung buah hatinya perlahan membuat pintu hati kyu hyun terketuk.

Ia bukannya tidak tau perubahan yang terjadi pada yoona. Jauh diluar pandangan orang-orang, tak ada satupun manusia yang akan percaya jika ia adalah sosok yang paling mengerti yoona sejauh ini.

Lalu kedatangan donghae mengusiknya pelan-pelan. Jika ia tak memiliki ego yang terus bercokol dalam pikirannya, mungkin, kyu hyun akan menjawab pertanyaan yoona dengan lantang.

Bukan tanpa alasan ia selalu kembali pada yoona. Kyu hyun tentu punya ratusan wanita yang jauh lebih tinggi, putih atau bahkan cantik dibandingkan dengan yoona. Namun bukan itu, jelas bukan itu masalah hidupnya kini.

Mencintai yoona tak semudah yang dibayangkan orang-orang. Karena itulah ia selalu membentengi diri dengan menulikan pendengarannya terhadap cacian pedas masyarakat. Hubungan tak berlandaskan pernikahan yang terjadi diantara mereka memang sudah keterlaluan.

Namun setiap kali memikirkan pernikahan bayangan itu kemudian berkelebat hebat dalam benaknya. Membuat kyu hyun mau tak mau harus mengurungkan niatnya untuk sementara waktu hingga ia menemukan keberanian itu didentang jam yang tepat.

“tidak perlu”

Kyu hyun menghela nafasnya singkat. Ia sudah pernah bersikap terlalu kalap bahkan hingga menyakiti yoona. Hidup bersama wanita itu sesungguhnya mengajarkan kyu hyun untuk lebih bersadar dan membenahi diri dalam bersikap.

Namun sekali lagi, ia tak membiarkan orang lain tau dan terus mempermasalahkan hidupnya yang berbeda. Biarlah, toh memang orang lain tak perlu tau. Baik buruk dalam diri seseorang akan terus jadi perdebatan dan mereka tak akan pernah mau mengerti meski kau menjelaskannya ribuan kali.

Naluriah manusia.

“tapi aku harus mendengarkan ini darinya. Sulit dipercaya” yoona menghela nafasnya gusar “kau dan lelaki itu—“

“aku bilang tidak perlu.” Kyu hyun memotong omongan gusar yoona dengan cepat. “pergilah beristirahat. Akan ada waktunya kau tau dan itu bukan saat ini” lantangnya kemudian.

“aku tidak mungkin bisa beristirahat ketika kenyataan keparat ini menggangguku!”

Derap langkah kaki kemudian menghantam pendengaran kyu hyun. Ia menutup matanya malas, sikap keras kepala yoona memang terkadang merepotkan. Dan dilain sisi membuatnya hampir meledak-ledak.

Kyu hyun berdiri, melangkah cepat hingga mendapatkan pergelangan tangan yoona lalu menatapnya sedikit jengkel.

“sudah kukatakan tidak perlu. Bisakah kau mendengarkanku sekali saja?!”

Yoona menepis tangannya cepat. Kantung mata wanita itu membesar. Sembab mewarnai pink pucat yang kini bertengger dibawah matanya. Kyu hyun tau ia tentu terpukul dengan kenyataan pelik ini. Namun menemui donghae dalam keadaan seperti saat ini bukanlah pilihan yang tepat.

“aku sudah lama mendengarkanmu, tuan! Dan kini kau menghadiahiku rahasia besaar yang aku ingin tau kelanjutannya. Jadi, biarkan aku pergi.” Yoona buru-buru melangkah menghindari kyu hyun. Namun detik berikutnya ia kembali tercekal pergelangan tangan kyu hyun yang besar.

“kau akan tau nanti! Berhentilah untuk keras kepala. Ini buruk untukmu!”

“INI MEMANG BURUK UNTUKKU!!”

Kyu hyun tertegun ketika air mata itu mengalir begitu saja dari pelupuk mata yoona. Wanita itu kemudian melemas lalu tubuhnya hampir oleng. Yoona kemudian berjongkok, menyembunyikan wajahnya dalam lututnya yang terbuka.

Isakah itu kemudian terdengar, samar-samar lalu mulai kencang. Bahu yoona bergetar. Ia tak mengatakan apapun. Wanita itu jelas tengah hancur berkeping. Ia berantakan. Terluka dan kini tertekan karena tidak mengetahui apapun.

“katakan padaku ini tidak benar, bisakah kau mengatakannya?” yoona kemudian terduduk. Tak sanggup menopang tubuhnya yang terlalu letih. Lalu tak lama setelah itu ia merasakan pelukan kyu hyun disekitar tubuhnya.

Yoona meronta kecil. Memukul dada bidang lelaki itu ketika ia tak dapat berkata apapun. Kenyataan jika kyu hyun dan lee donghae adalah saudara membuatnya merasa dipermainkan.

“kau keparat!!” umpat yoona keras.

Dan kyu hyun tak membalasnya dengan kata-kata. Ia menarik yoona lebih dekat, lalu membiarkan berat tubuh wanita itu mengganggunya. Kyu hyun meletakkan yoona pada pangkuannya ketika isak tangisnya belum mereda.

“sejak awal kau tau aku memang seorang keparat.” Bisiknya lembut. “maaf” lanjutnya kemudian.

“untuk membiarkanmu tak tau kenyataan seperti ini. Tapi kau tak pernah sendiri, aku jauh lebih terpukul bahkan terluka darimu”

Yoona mendengar itu. Pahit kemudian merambat dari ulu hatinya. Ia tidak mengerti. Dilain sisi merasa begitu terkhianati dan simpati yang kemudian menyadarkannya jika ini semua menyakiti banyak pihak.

“aku ingin tidak percaya” cicit yoona kecil.

Lalu kyu hyun menimpalinya datar. “aku juga.”

__

Kyu hyun menatap dirinya dari pantulan cermin. Baju hitam pekat yang membalutnya membuat kyu hyun terlihat lebih manusiawi. Kimono yang kemudian menjadi pertanda jika ini adalah salah satu hari penting itu membuat kyu hyun gusar.

“mulailah berekspresi, cho kyu hyun!”

Kyu hyun mendengar suara melengking itu dari belakang. Disana, cho ahra yang juga menggunakan pakaian serupa menghampirinya perlahan. Senyum kecut gadis yang mulai beranjak dewasa itu menegur kyu hyun yang masih berekspresi biasa-biasa saja.

“kau terlihat tidak senang” lanjut ahra pelan.

“apa kau senang?”

Ahra kembali tersenyum. Ia berdiri tepat dibelakang lelaki berumur empat belas tahun itu dengan gemulai. Mengusap surai kyu hyun yang mulai panjang akibat homeschooling yang tidak membatasinya dengan aturan aturan yang aneh.

“seharunya aku bersedih, tapi, itu sepertinya tidak perlu” jawab ahra berbisik. Masih sama pelannya dengan nada-nada yang ia ucapkan sebelum ini.

“datang dan menggunakan pakaian seperti  ini juga kurasa tidak perlu. Nuna, bisakah kau berhenti bersikap konyol? Jangan tersenyum jika kau ingin menangis. Kau tau, kau terlihat mengerikan sekarang”

Kyu hyun kemudian berbalik, mengusap pipi saudara perempuannya itu lembut lalu memeluknya singkat.

“omma dan paman sungjin akan datang sebentar lagi.bisakah kau menjaga sikapmu demi aku?”

Kyu hyun menggeram ketika pertanyaan itu mengusiknya. Namun kemudian ia mengangguk. Menyanggupi permintaan ahra tanpa ingin lagi membantah. Gadis yang terpaut labih tua tiga tahun darinya itu sudah terlalu menderita. Jadi ia hanya perlu meringankan beban ahra tanpa perlu mengoreksi apapun.

 

Rintik hujan menegur kyu hyun ketika ia berdiri jauh dari nisan lengkung itu. Payung hitam yang bertengger mengelilingi gundukan tanah itu membuat keheningan terasa semakin mencekam. Dalam diam kyu hyun bertanya mengapa ia harus berdiri disana. Namun ahra meyakinkannya ia hanya perlu diam untuk sementara waktu. Menjadi lelaki penurut dan ahra akan menjemputnya usai acara pemakaman itu selesai.

Hampir dua jam, lalu ahra kembali dengan bola mata yang sembab memerah. Memegangi sebuah payung yang kini melindungi baju kyu hyun dari rintik yang mulai menerjang. Payung kecil itu tak benar-benar melindungi mereka. bahu kyu hyun yang basah dan lengan ahra yang perlahan mendingin mejelaskan semuanya.

Mereka berjalan tanpa kata-kata. Seperti angin yang masih belum percaya pada fakta jika kini semua tak lagi sama. Disana, kyu hyun melihatnya bahagia. Tengah bergandengan mesra dengan bahu yang mulai bergerak tenang mengatur nafas damai.

“omma dan paman sungjin akan ke birmingham selama dua bulan”

Itu percakapan terakhir yang kyu hyun dengar. Lalu semua benar-benar menjadi kelam dan bungkam.

__

Yoona terbangun saat bahunya bergetar. Telapak tangan besar kyu hyun kemudian mengusap pipinya lembut. Ketika kedua bola matanya mulai berteman dengan cahaya, yoona mendapati diri masih meringkuk manja dalam pangkuan kyu hyun.

“kau belum makan siang”

Hanya itu yang yoona dengar. Usai itu tubuhnya terangkat, sofa yang mereka tinggali kemudian mengecil dan yoona tersadar jika kini mereka sudah berada didalam kamar pribadi. Pintu terbuka dan bibi park membawakannya satu nampan makanan.

Wanita paruh baya itu kemudian berbicara pelan pada kyu hyun sebelum permisi untuk undur diri.

“habiskan makananmu. Setelah itu bersiaplah, aku akan membawamu padanya”

Kalimat singkat itu kemudian berlalu tanpa ada keberlanjutan yang pasti. Kyu hyun ikut menikmati makan siang mereka yang hening dari balkon apartemen kyu hyun. Angin membelai mereka dalam diam, namun suara suara itu agaknya memang tak akan lagi terdengar hingga menit-menit mendatang.

Kyu hyun membawanya pada sebuah pusara tua. Batu yang mulai terlihat kusam itu kini menjadi satu-satunya hal yang tidak yoona mengerti.

Kyu hyun masih menggenggam jemarinya erat saat yoona kini ikut berhenti diujung langkah yang kyu hyun torehkan. Lalu dalam sekejap mata yoona liar mencari siapa sosok dibalik pusara tua itu.

Sebelum saling mengenal yoona tau betul kyu hyun tak lagi memiliki seorang ayah. Satu kenyataan yang membuat mereka terlihat sama. Yoona mengerti usai membaca marga yang tertera disana. Lalu ia seperti tak ingin berbicara demi menjaga perasaan kyu hyun yang tiba-tiba bersikap begitu dewasa.

“dia juga ayah lee donghae”

Kalimat menyakitkan itu meluncur begitu saja. Yoona terpana dengan kedua bola mata melebar sempurna lalu menatap nisan itu tak percaya.

“tapi,, donghae tidak lagi memiliki ayah. Makamnya bahkan berdekatan dengan milik omma. Bagaimana mungkin—“

“ayahku—adalah ayah biologisnya”

Yoona terdiam lama. Ia masih ingat ketika dulu seringkali mendatangi makam omma dan donghae juga berada disana. Membersihkan makan seorang lelaki bermarga lee yang ia sebut sebagai appa. Lalu bagaimana mungkin dengan konyolnya kyu hyun berkata jika ini adalah ayah donghae?

“sudah saatnya kau tau jika aku—menderita gamophobia. Aku takut pada sebuah pernikahan dan itu membuatmu harus menjalani hari-hari keparat seperti saat ini”

Yoona tak terlihat terlalu terkejut. Ia sudah lama mempersiapkan diri untuk tau alasan besar kyu hyun menghindari sebuah pernikahan. Dan kini agaknya ia mulai paham kemana cerita panjang ini akan dimulai.

“aku benci melihat seseorang yang saling bersumpah setia dihadapan tuhan kemudian berkhianat, mencari cinta lain dan berbagi tanpa pernah berpikir betapa menyakitkannya ditinggalkan”

Kyu hyun menghela nafasnya berat. Genggaman tangannya pada yoona semakin erat. Lalu bibirnya terkatup, seolah bercerita adalah hal paling berat yang pernah ia lakukan.

“appa mengkhianati omma ketika ia mendapat tugas keluar kota saat itu. Didesa kecil tempatmu tumbuh. Disana, ia menemukan seorang wanita yang mampu membuatnya melupakan janji pernikahannya pada omma.”

“dia.. sang eun bi. Ibu kandung donghae”

Kedua bola mata yoona berkaca. Ia tertegun saat suara kyu hyun semakin mengecil. Lelaki itu tampak berusaha untuk menguatkan dirinya dengan terus mengeratkan genggaman tangannya pada yoona.

“saat itu, aku masih didalam kandungan omma. Dan aku terlahir hanya tujuh bulan lebih cepat dari-nya. Donghae lahir saat appa masih berada ditokyo, meninggalkan wanita itu dalam ketidakpastian.” Kyu hyun lalu berdehem kecil. “Lelaki yang memberikan marganya pada donghae, adalah lelaki sejati yang kemudian bertanggung jawab atas kesalahan besar appa”

Yoona menatap kyu hyun tak percaya. “k-kau—“

“aku kemudian tumbuh dalam keluarga yang tidak utuh. Appa mulai menyibukkan diri karena kecewa akan pernikahan eun bi, dan juga omma yang kemudian meminta perceraian usai menemukan lelaki lain yang dapat memberikannya rasa nyaman melebihi appa”

Rahang kyu hyun mengeras seketika. “aku masih bisa tersenyum saat itu. Karena aku tidak sama sekali mengerti apa yang terjadi diantara mereka. appa kemudian meninggal dunia saat aku berumur sepuluh tahun, setelah ia berhasil menyingkirkan tuan Lee dan menyelesaikan perceraiannya dengan omma. Sayang sekali, eun bi tidak berniat menerimanya kembali. Jadi ia memutuskan untuk pergi tanpa pernah menyadari pesakitan seperti apa yang ia tinggalkan pada kami—bocah kecil yang saat itu hanya tau jika kehilangannya adalah hal paling buruk yang pernah terjadi.”

“Aku benci pernikahan bahkan nyaris tak percaya pada cinta. Hanya cho ahra yang saat itu aku punya. Dan dia juga menghilang karena pernikahan keparatnya”

Yoona tak menahan rasa terkejutnya melihat nisan lainnya disana. Nama cho ahra terpampang jelas ketika kemudian kyu hyun mendengus dan mengukir sebuah senyuman kecil penuh rasa sakit.

“aku tak melarangnya untuk menikah meski saat itu aku sudah tak percaya akan janji konyol pernikahan. Karena saat itu ia terlihat begitu bahagia, dan aku mencintainya hingga membiarkannya menikah dengan begitu cepat. Namun pada akhirnya cinta memang selalu berbeda, ia menemukan lelaki keparat itu bersama wanita lain dan dengan bodohnya memutuskan untuk pergi, meninggalkanku sendiri.”

Kyu hyun bergerak, berbalik menatap yoona dengan wajah datarnya yang terlihat kaku. Mengamati kedua bola mata yoona yang mulai berkunang-kunang penuh butir air mata lalu mendesah lega.

“aku hanya ingin kau tau. Bukan tanpa alasan aku mengencani banyak wanita dan meninggalkan mereka ketika satu atau dua kata mengenai pernikahan atau hubungan yang terikat mulai terlontar. Aku benci ketika mereka berkata mereka mencintaiku namun lenyap jika aku tidak ada. Aku, tidak pernah bisa mempercayai siapapun semejak aku paham jika kedatanganku untuk bersekolah dibusan, tiga belas tahun yang lalu justru membawaku untuk bertemu denganmu”

Dan kedua bola mata yoona akhirnya melebar sempurna. Entah rahasia seperti apa lagi yang kini akan terungkap usai pergolakan batin yang kini menghiasi sudut-sudut kosong diantara mereka.

“kau membuatku jatuh cinta. Tapi seperti yang kita sama-sama ketahui, saat itu kau miliknya”

-kkeut-

Ini udah lamaaaa banget. Jadi yang pertama harus aku ucapkan adalah, maaf. Maaf karena sempat writterblock dengan cerita ini. Maaf sempat bosan dengan tuntutan kalian tentang “kapan dilanjutin?”. Maaf untuk ngegantungin kalian karena urusan duniawiku yang juga mendesak. Belakangan aku lagi suka banget hiking dan travelling, jadi aku suka lupa waktu dan sering ngeluangin waktu libur justru buat travelling. Jadi, sekali lagi maaf. Mungkin aku memang bukan author yang baik yang bakal selalu nyenengin kalian. Dan untuk itu, also mianhae.

Aku lagi usaha buat nulis lagi. Seperti janjiku yang sudah-sudah. Finally, part ini jadi. Dan akan aku lanjutin ke Dirty Little Secret 3 sebelum ending. Memang disini enggak ada kesan meledak-ledaknya. Aku sedang berusaha membangun hubungan yang dewasa diantara mereka. semoga rahasian kecil itu enggak mengejutkan kalian karena dulu sempat ada banyak reader yang bisa nebak hubungan antara donghae dan kyu hyun.

Yap. Mereka saudara satu bapak. Nah, untuk masalah kenapa donghae harus pergi, aku kupas di series selanjutnya. Jadi aku harap masih banyak yang mau bersabar. Kesabaran kalian semangat terbesarku.

Btw, chit-chat yuu? Ada yang punya twitter? Atau ask.fm? follow aku yaa, @dianyanput. Yuk bisa tanya apa aja kok disana asalkan masih logis yaa.

Terus juga, ada yang berniat bikinin poster ga? Huhu bosen nih sama poster yang itu itu mulu. Yuk, kalau ada coba kirim ke email aku yaa dianputri251110@yahoo.com .

Oh ya, yang terakhir. Siapapun yang dapet PW di series ini dan ngasih komentar aku bebasin buat PW series depan. As always, give and take ya readers kesayangan^^

Jadi, see ya di series depan. Jangan lupa untuk terus bersabar menghadapi author seperti saya. Dan tetep tunggu dua atau tiga part lagi sebelum ending yaa J

With love, Park jiyeon.

220 thoughts on “Unexpected : Dirty Little Secret [2]

  1. omo.. ternyata donghae itu saudaranya kyu hasil dr perselingkuhan appanya kyu ama ibunya donghae.. hmm pantasan aja kyuhyun ngidap gamophobia yg artinya tdk percaya ama suatu hub pernikahan..
    sungguh masa lalu yg miris. ..

  2. KyuHae berasudara? Whoaaa akhirnya ada klarifikasi dari Kyuhyun 😂 jadi tau alasan kenapa dia ngidap gamaphobia hiks..
    Please Yoona jangan ninggalin Kyuhyun. Dia butuh dukungan sama cinta kayaknya~ dan itu cuma Yoona yg bisa ngasih awwh :3
    Btw.. Kyuhyun tau Yoona lagi hamil dari siapa thor? Kok tbtb dia udah tau gitu aja…

  3. Omoooo kyu n donghae bersaudara….
    Apa benar yoona hamil ank kyuu, senangnyaaaaa..
    Ternyata kyu kena gamophobia tpi kyu mencintai yoona kan minnnn…
    Semoga aja iyaaaa…

  4. woahh ternyata kyu udah jatuh cinta sama yoona sejak lama..
    sumpahhh ff nya KEREN bgt (y)…. Aku suka sekali… coba deh dibikin buku eonn..
    #KyuNa_Jjang!!!

  5. jadi donghae dan kyuhyun adalh saudara dan ternyata kyuhyun tidak mau mengikat yoona dengan pernikahan kerena masalalunya .kasian juga dengan kyukyun tpi apkah benar yoona hamil ..?

  6. Gak nyangka banget thor kalo kyuhyun dan donghae itu ternyata saudara seayah. Kirainn mereka itu dulunya sahabatan atau apalah….
    Tuh, kan. Dari awal memaang aku udah curiga kalo yoona itu hamil.
    Over all. Ff ini kerennnn….

  7. Cukup mengejutkan tentang msa lalu kyu. Pantas kalau dia punya phobia. Dan untuk yoona pasti rasanya sakit saat dua orang pria yag mengisi hatinya ternyata sling brhubungan bahkan bersodara. Konfil yang memusingkan.

  8. What the hell??? Aku mulai ngerasa gak enak….inikah yg dimaksud judulnya ‘Dirty Little Secret’? Wah…cinta itu mengerikan ya… Dan ini juga dua duanya kapan ngomong lembut satu sama lain coba… *gelenggeleng. Wah..ada kejutan apalagi nantinya yah???? Hwaiting eon

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s