Smothering (Chapter 2)

richzeela-smothering

Author _ Richzeela

GENRE | RATING | LENGTH
Romance/Angst/Family | PG-15 | Chaptered

CAST
Im Yoona | Xi Luhan | Oh Sehun | Seo Jo Hyun

(Poster by LAYKIM @ Beautiful Healer)

Happy reading | Hope you like it
*

*

*

Brengsek! Apa-apaan ini?

Aku sudah berusaha keras menyelesaikan semua dokumen-dokumen gila yang selalu menguras pikiran ini. Semua orang harusnya tahu aku sudah mengerahkan seluruh kemampuanku untuk mencapai suatu peluang. Tapi para klien sok perfeksionis itu malah mencomplain dengan alasan tidak puas.

Apa? Tidak puas? Oh, yang benar saja..

Memangnya ide cemerlang seperti apa lagi yang mereka butuhkan? Selama ini, aku yang paling pintar dalam memberikan solusi. Dan semuanya berujung pada keberhasilan. Tapi sekarang, mereka menolak ideku mentah-mentah?

“Sepertinya kita harus memikirkan cara lain, Yoong. Jika tidak, mereka mengancam akan membatalkan kontrak kerja sama.”

Ucapan Hyeri yang tiba-tiba itu sontak membuatku tertohok. Aku terdiam kaku, terlalu kaget sampai tak mampu berkata-kata. Baru kali ini aku ditolak dengan sedemikian rupanya. Mereka bahkan megancam akan membatalkan kontrak kerja sama jika aku tak menemukan solusi yang lebih bagus.

Ya, Tuhan.. Apa lagi ini?Asal mereka tahu saja, aku sudah berusaha terlalu keras untuk proyek ini. Aku sampai tidak tidur demi memuaskan keinginan mereka. Kenapa seenaknya saja menyatakan complain? Pakai megancam pembatalan kontrak segala lagi. Benar-benar menjengkelkan.

“Jadi bagaimana, Yoong? Apa kita harus mengadakan meeting lagi?” Aku menengadah, menatap Hyeri dengan aksen lelah yang berdiri tepat di sampingku.

Mengadakan meeting lagi? Haruskah? Apa ide ini tidak cukup bagus untuk dilakukan? Sejujurnya otakku sudah benar-benar buntu sekarang. Aku tidak tahu harus melakukan cara apa lagi. Aku sudah berusaha. Dan sampai di sinilah batas kemampuanku.

“Entahlah, Hyeri. Aku benar-benar pusing. Kau urus saja sendiri, atau biarkan mereka melakukan apapun yang mereka mau,” jawabku seadanya, lalu merebahkan tubuhku pada tumpuan kursi.

“Jadi kau sudah menyerah?” tanya Hyeri. Aku hanya diam, terlalu malas untuk menjawab.

“Sebenarnya kau ini orang seperti apa, Yoong? Kenapa menyerah begitu saja? Sajangnim bisa marah besar jika melihatmu tidak bisa profesional seperti ini!” komentarnya.

Aku kembali meliriknya. Terlalu kesal mendengar kalimatnya yang asal ceplos itu. Tidak profesional?

“Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak punya ide yang lain lagi. Kau kan bisa minta bantuan yang lain, mana boleh membebankan semuanya padaku.” aku kesal sekali. Kenapa gadis ini selalu saja menyalahkanku? Aku juga sudah berusaha semampuku.

“Mwo? Membebankannya padamu? Kau lupa? Aku lah yang selalu kau bebankan, Im Yoona! Walaupun aku sekretarismu, namun yang menentukan segalanya adalah direktur. Tapi kau tidak, segalanya kau limpahkan padaku!”

“Jadi kau keberatan?”

“Jelas! Kau tidak bisa membedakan yang mana masalah pribadi dengan masalah pekerjaan!”

“Kau bilang apa? Tidak bisa me..”

“NE! Kau itu terlalu naif, Im Yoona!”

“Ingat! Kau bukan anak kecil lagi sekarang! Berhenti mengeluh dan lakukan sesuatu jika kau tidak bisa lagi menangani masalahmu! Bukannya sok-sok kuat dan malah mengorbankan orang lain! Gadis dengan sifat seperti ini, bagaimana bisa menjabat sebagai direktur?”

“Yak, Jung Hyeri!” bentakku marah.

Ia kembali terdiam, begitupun denganku yang hanya menghela nafas kasar. Cukup lama kami bersikukuh dengan pikiran masing-masing. Sampai detik berikutnya aku bangkit, lalu meraih tasku yang tergeletak di atas sofa.

“Aku lelah. Aku akan pulang lebih awal hari ini,” tandasku dingin, lalu keluar dari ruangan.

Aku tidak mau beradu argumen lebih dengan Hyeri. Aku takut mood-ku yang sedang buruk akan menghancurkan segalanya. Aku tahu aku tidak profesional. Namun tabiat egoisku menyangkalnya terlalu jauh. Karena itulah, sebelum hubunganku memburuk dengan Hyeri, lebih baik aku mengindari cekcok macam apapun dengannya.

Maafkan aku, Hyeri-ah. Lagi-lagi aku harus melimpahkan semuanya padamu.

***

Aku melajukan jaguar metalik kesayanganku dengan kecepatan sedang. Saat ini masih pukul 5 sore, rasanya terlalu malas pulang ke rumah. Terlebih ada Jinri. Anak itu pasti langsung mengajakku bermain boneka. Aku lelah sekali, mood-ku juga buruk, dan aku sedang tidak ingin mendengar rengekannya.

Lalu, aku harus kemana?

Aku pasti sudah gila sekarang. Benar, aku pasti sudah gila. Bukankah pikiranku kacau hingga tidak bisa menyelesaikan perkerjaan, karena Xi Luhan? Karena pernikahanku yang dipercepat aku menjadi tidak karuan.

Tapi kenapa aku malah menemuinya? Ini bukan seperti diriku. Apa lagi baru kali ini aku datang langsung ke kantornya. Ada apa denganku? Mengapa aku malah menemuinya?

“Jadi, nona Im sedang merindukanku?” tanyanya menggoda.

“Apa?”

“Huh, percaya diri sekali,” sungutku berusaha menyangkal.

Luhan tersenyum manis, lalu berjalan menghampiriku yang kini terduduk kaku di atas sofa marronnya. Aku hanya diam. Pandangan mataku menelusuri ruangan yang baru pertama kali aku masuki ini. Rapih, dan desain interior khas negeri tirai bambunya sangat terasa. Tidak mengherankan, mengingat Luhan berasal dari China. Jadi sudah sewajarnya jika dia lebih suka desain ala tanah kelahirannya ketimbang yang lain.

Sementara pria itu sendiri, aku tahu dia sedang memandangiku. Entah apa maksudnya, yang jelas aku mulai merasa risih. Aku beralih menatapnya.

“Kenapa melihatku seperti itu?” tanyaku membuka obrolan. Aku tidak tahan suasana canggung seperti ini.

“Tidak ada, aku hanya merasa sangat beruntung,” jawabnya.

Alisku naik sebelah, tidak mengerti apa maksudnya, “Beruntung kenapa? Apa saham perusahaanmu baru saja naik?” tebakku asal.

“Tidak.”

“Lantas?”

“Aku sangat beruntung memiliki tunangan secantik ini,” ungkapnya.

“OMG.”

Aku terkekeh palan mendengar jawabannya. Jadi pria china ini sedang berusaha menggombaliku? Cih, kekanak-kanakan sekali.

“Kenapa tertawa? Kau tidak percaya?” tanyanya sambil mendekat ke arahku.

“Aku percaya,” jawabku yang juga mendekat ke arahnya.

“Lalu apanya yang lucu?”

“Tidak ada yang lucu. Aku hanya baru sadar jika ternyata Im Yoona ini sangat mengagumkan,” jawabku percaya diri. Kini giliran Luhan yang tertawa lepas.

Aku hanya tersenyum kecil. Melihat tawanya yang seperti ini membuatku merasa lebih baik. Aku memang belum bisa mencintainya, tapi aku tidak bisa menyangkal jika Luhan adalah pria terhangat yang pernah aku temui.

“Jangan tertawa terlalu keras, tuan Xi. Pegawaimu bisa beranggapan kau sudah gila,” ucapku bermaksud mengingatkan jika tawa Luhan sudah sedikit berlebihan. Padahal menurutku tidak lucu sama sekali.

“Baiklah.. Baiklah.. kalau begitu ayo katakan, apa alasan Im Yoona datang kemari?” tanyanya mulai bersikap normal kembali.

Aku terdiam. Memangnya apa alasanku datang kemari? Dari sekian banyak tempat yang bisa aku kunjungi, kenapa aku malah memilih kantor Luhan?

Aku tidak tahu. Tiba-tiba saja kakiku melangkah ke tempat ini. Jadi sekarang, ayo pikirkan alasan yang tepat, Im Yoona. Jangan sampai membuatmu malu.

“Kenapa diam saja? Jangan-jangan benar kau merindukanku?” sekali lagi dia mencoba menggodaku.

“Mwoya? Sudah kukatakan jangan terlalu percaya diri” protesku.

“Lalu apa? Ada keperluan apa, hmm..?”

“Ahh.. itu.. aku.. aku..”

“Lihatlah, kau datang kemari tanpa alasan, bukan? Itu artinya kau merindukanku.”

“Aishh.. Aku datang kemari hanya karena penasaran saja!” teriakku. Aku tak mau semakin dibuat malu oleh laki-laki ini.

Luhan menautkan alisnya bingung. Sepertinya dia tak mengerti dengan apa yang kukatakan.

“Aku penasaran seperti apa ruangan kerjamu. Makanya aku datang kemari,” sambungku. Dia masih tak menjawab, dan malah diam memandangiku. Aku jadi merasa risih kembali.

“Aishh.. Memangnya salah jika aku ingin menemui tunanganku, eoh?!”

“Mwo?”

Astaga! Apa yang barusan aku katakan?

Tunanganmu? Jadi kau mengakui Xi Luhan adalah tunanganmu, Im Yoona? Katanya kau tidak mencintai pria itu. Kenapa kau malah bersikap berlebihan sampai membuat telinganya naik?

Aishh..babo! babo! Babo!

Lihatlah, akibatnya Xi Luhan jadi mendekat ke arahku. Laki-laki itu pasti sudah tersanjung sekarang.

“Jadi, aku tunaganmu?”

“M-memangnya siapa lagi?” tanyaku terbata.

Luhan terkekeh, lalu mengacak rambutku pelan ,“Benar. Aku adalah tunanganmmu,” ucapnya di sertai senyuman manis. Beberapa detik kemudian ia menggenggam jemariku erat.

“Aku sangat mencintaimu, Yoong.. benar-benar mencintaimu,” ungkap Luhan sambil mencium jemariku.

Lagi. Hatiku sakit lagi ketika dia mengatakan perasaannya. Rasa bersalah itu seolah menyelimuti setiap kali ia bilang cinta padaku. Padahal, aku menganggap pernikahan kami sebagai jurang kehancuranku.

Kenapa kau harus seperti ini, Xi Luhan? Kenapa kau selalu saja membuatku sulit bernafas?

“Berjanjilah untuk setia padaku, Yoong,” pintanya dengan mata memohon.

Aku harus bilang apa? Bagaimana aku bisa setia, jika aku sendiri tidak yakin dengan perasaanku, Xi Luhan?

“Luhan-ah.. Aku…”

Luhan mendekatkan wajahnya padaku. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Jantungku rasanya hampir copot dan aku tidak bisa berpikiran jernih. Kubiarkan apapun yang ingin ia lakukan. Kini aku sudah terpejam. Jarak kami tinggal beberapa centi saja. Aku hanya berusaha agar tidak terlalu gugup sehingga bisa bernafas dengan tenang. Lalu kemudian…

Tok, Tok, Tok..

Ketukan pintu itu berhasil mengacaukan segalanya. Aku mundur dan bersikap tak karuan karena saking malunya. Begitupun dengan Luhan. Pria itu berdehem pelan, berusaha mengembalikan ketenangannya. Sementara aku hanya melirik-lirik canggung kesekitar ruangan.

“Masuk!”

Begitu suara tegas Luhan menggema, seseorang di balik pintu itu sudah muncul kepermukaan.
Laki-laki itu?

“Permisi, Sajangnim. Maaf mengganggu, ada berkas penting yang harus anda tanda tangani,” ucap pria itu setelah mengangguk sopan.

Jadi, selain teman Luhan dia juga bekerja di sini?

Luhan ternesenyum tipis padanya. “Taruhlah di meja, kau bisa mengambilnya kembali nanti,” sahut Luhan.

“Baiklah, kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih atas waktunya, Sajangnim.” setelah itu wajah datarnya sudah menghilang dari ruangan ini.

Aku melirik Luhan kebingungan, “Jadi, Oh Sehun juga bekerja di sini?” tanyaku tak percaya. Mengingat gayanya sangat kuno tempo hari itu. Berbeda sekali dengan sekarang. Lebih berwibawa, kurasa.

“Ne, dia salah satu karyawan yang cukup dekat denganku. Karena itu aku mengundangnya ke pertunangan kita.”

“Jadi… dia bukan teman akrabmu?” aku benar-benar masih penasaran dengan sosok Oh Sehun yang dingin itu.

Luhan menghela nafas, kemudian mulai menjawab, “Sudah ku bilang kami cukup dekat. Aku sering membantunya, termasuk mempekerjakannya di sini.”

“Dia sudah menikah, kan?” tanyaku lagi.

“Tidak.”

Aku terkejut mendengar jawaban Luhan. Kalau pria itu tidak menikah, lalu..

“Aku pernah melihatnya membawa seorang anak kecil, ku pikir itu anaknya.”

“Kau pernah bertemu dengannya?” Luhan balik bertanya.

Aku mengangguk, “Ne. Pernah beberapa kali, dan dia selalu membawa anak kecil itu.”

“Itu memang anaknya.”

“Kau bilang dia belum menikah?” aku semakin bingung dengan penjelasan Luhan.

“Mempunyai anak tidak harus menikah, kan?”

“Lalu?”

“Aku kurang tahu masalah pribadi Oh Sehun. Tapi yang jelas, dia tidak mempunyai seorang istri saat ini. Tapi anak itu memang putri kandungnya,” jelas Luhan.

“Berarti anak itu lahir tanpa pernikahan?” aku menyimpulan.

“Uhm, kurasa begitu. Tapi entahlah, dia orang yang tertutup.”

***

“Imo.. ayolah.. Kau harus menolongku, aku tidak mau pulang ke londen,” rengek Jinri sambil mengayun-ayunkan tanganku.

Aku mengehal nafas panjang. Lalu membelai kepalanya sayang. “Tidak bisa Jinri-ah.. Kau harus sekolah, kau harus ikut Eomma dan Appa, ya?”

“Tidak Mau!”

“Tapi, Jinri…”

“Pokoknya Jinri tidak mau pulang! Jinri mau di sini! Hueee….”

Oh Tuhan, apa yang harus dilakukan sekarang? Seluruh keluarga sedang kebingungan karena Jinri tidak mau pulang ke inggris. Sepertinya anak ini sudah keasyikan liburan di sini. Dari kemarin malam dia terus merengek tidak mau pulang. Padahal sebentar lagi pesawat akan berangkat. Dulu juga pernah seperti ini, ia tidak mau pulang tapi di paksa, dan akhirnya ia jatuh sakit setelah itu.

Sekarang harus bagaimana?

“Jinri-ya.. Kau kan bisa datang lagi.. Sekarang kau harus pulang, sayang. Nanti kami akan mengunjungimu, eoh?” untuk kesekian kalinya ibuku membujuk cucu kesayangannya itu.

“Tidak mau! Hhuuuu… Jinri tidak mau pulang, Halmeoni.. Imo, ayo beritahu mereka jika Jinri mau disini…”

“Sayang..”

“Imooo..” Jinri memasang wajah lesuhnya sambil menarik-narik bajuku.

Astaga.. memang tidak ada cara yang lain lagi. Terpaksa akupun menyerah. Aku memang paling tidak bisa jika anak ini sudah merengek padaku. Sepertinya ia sangat ingin tinggal bersama kami.

“Oppa, aku rasa tidak masalah untuk beberapa waktu Jinri tinggal sini, atau sampai dia mau kembali ke londen. Setidaknya sampai acara pernikahanku. Kau ingat kan kejadian waktu itu? Kita semua panik karena dia jatuh sakit..”
Aku mencoba meyakinkan kakakku, kalau percuma saja memaksa Jinri pulang. Jika pada akhirnya akan membahayakan nyawanya.

“Tapi, Jinri masih terlalu kecil, Na-ya..” bantah kakakku.

“Oppa ragu aku bisa merawatnya?”

“Bukan begitu, tapi..”

“Oppa dan Eonni tenang saja, aku akan menjaga Jinri dengan baik. Kalian tahu kan, bagaimana dekatnya aku dengan Jinri? Percayalah, aku bisa meluangkan waktuku untuk anak nakal ini,” jawabku sambil mencubit pipi Jinri.

“Jinri janji tidak akan nakal lagi Appa, Eomma.. Jinri bisa menjaga diri.. Jinri tidak akan merepotkan Halmeoni, Harabeoji dan juga Imo..” lagi-lagi Jinri memohon.

Mendengar permohonan putrinya yang tetap tidak mau pulang, kakakku berpikir sejenak. Lalu kemudian berunding dengan istrinya.

Setelah beberapa saat kemudian ia kembali menghampiri kami.

“Baiklah.. Appa akan mengijinkan Jinri tinggal disini. Tapi kau harus mengingat janjimu, Arra?!”

“Hore!! Jinri boleh tinggal disini! Gomawo Appa! Jinri berjanji!” jawab Jinri semangat. Kami semua semua tersenyum senang melihat kebahagian kecil gadis kesayangan keluarga im itu.

“Ya sudah, kalau begitu kami harus pergi dulu. Pesawat akan berangkat sebentar lagi.” Pamit kakak iparku.

“Kami berangkat Ayah, Ibu, dan kau, Yoona! Jaga anakku dengan baik, eoh? Awas kalau kau sampai menelantarkannya!”

“Hehehe.. siap, Sajangnim!” seruku memberi hormat.

“Berhati-hatilah, Seulong-ah.. jika sudah sampai, jangan lupa beritahu kami.” Ibuku memperingatkan.

“Ne.”

“Hati-hati Appa! Eomma!” teriak Jinri.

“Uhm. Jaga kesehatan, sayang!” seru kakak iparku.

“Bye-Bye!”

Kedua kakakku sudah naik ke dalam pesawat. Kami semuapun bergegas untuk pulang.

“Imo!” panggil Jinri.

“Hmm?”

“Ayo kita beli es krim!”

“Mwo? Es krim lagi?” tanyaku tak percaya, “Hmm.. Baiklah.. Kajja!” ucapku akhirnya.

***

“Jadi Jinri benar-benar tidak ingin pulang, Yoong?” tanya Seohyun setelah mendengar ceritaku barusan. Gadis itu tampak sedang sibuk menata model pakaian hasil rancangannya.

“Ne, katanya dia mau tinggal bersamaku,” jawabku sambil menyeruput minuman yang di hidangkan asisten Seohyun.

Gadis itu tertawa pelan, kemudian berjalan dan langsung duduk di sebelahku. “Makanya, kau jangan terlalu dekat dengan anak-anak. Sekarang kau jadi kerepotan, kan?” serunya.

“Iya juga sih, aku sedikit kerepotan mengurusnya,” jawabku setuju.

“Bagaimana dengan pernikahanmu?”

Aku mendesah malas setalah mendengar pertanyaan Seohyun. Setiap kali mengingat tentang pernikahan rasanya bebanku seolah bertumpu kembali.

Oh, Ayolah… apa tidak ada topik lain yang bisa dibahas selain pernikahan?

“Entahlah, aku malas memikirkannya. Kita bicarakan yang lain saja,” aku berusaha mengelak dari pertanyaan Seohyun.

Gadis itu hanya tersenyum kecil, lalu mengambil majalah di atas meja. “Memangnya apa lagi yang bisa kita bicarakan?” tanyanya, sambil membolak-balik isi majalah itu.

“Banyak. Tentang anakmu, mungkin.”

“Kau tahu akau belum menemukannya, Yoong” bantahnya tanpa melirikku.

“Kalau begitu, bagaimana jika kau ceritakan tentang mantan pacarmu? Kau belum pernah mengenakannya padaku, kan?” seruku seperti mendapat lotre.

Aku sengaja mengingatkannya tentang pria masalalunya itu. Toh, aku memang belum pernah bertemu dengannya. Bagaiman rupa dan tabiatnya, aku tidak tahu sama sekali. Aku hanya tahu Seohyun pernah lari dengannya.

“Aku tidak ingin mengingatnya lagi,” lirih Seohyun.

“Kenapa?”

“Karena itu menyakitkan,” jawabnya singkat.

Aku semakin penasaran ingin tahu lebih lanjut, “Apa kau masih mencintainya?”

“Haruskah kau mengetahui hal itu?”

“Tentu saja. Aku sahabatmu.”

Seohyun tersenyum muram sambil meletakkan majalahnya kembali di atas meja. Gadis itu terdiam seperti sedang membayangkan sesuatu.

“Benar kau masih mencintainya?” ulangku lagi.

Seohyun beralih menatapku. Wajahnya terlihat sangat sedih. Sepertinya dia memang masih mencintai laki-laki itu.

“Tidak sedetikpun aku bisa melupakannya, Im Yoona. Kau pikir karena apa aku melajang sampai hari ini?”

“Tapi kau bilang, kau tidak akan bisa kembali padanya lagi?” tanyaku meyakinkan pernyataanya tempo hari itu.

“Tentu saja. Dia pasti sangat membenciku sekarang, aku meninggalkannya dan anak kami begitu saja.” Lagi-lagi Seohyun terlihat sangat rapuh.

Kini giliranku yang terdiam. Aku tidak ingin bertanya lebih banyak lagi. Sepertinya kenangan itu benar-benar menyakitkan Seohyun. Bayangkan saja bagaimana sakitnya, ia terpaksa meninggalkan pria dan putrinya demi keselamatan kedua orang itu sendiri.

5 tahun yang lalu, prianya mengalami kecelakaan sehingga harus di operasi dan mereka tidak punya uang untuk membiayai rumah sakit. Apalagi saat itu ia baru melahirkan, dan keadaan putrinya benar-benar kritis. Seohyun tidak bisa berbuat apa-apa selain memohon pada ayahnya. Tentu saja sebagai orang tua, ayahnya mengabulkan.
Dengan syarat, Seohyun harus kembali dan meninggalkan kehidupannya dengan anak dan pria itu. Atas segala pertimbangan, akhirnya Seohyun merelakan kebahagiaannya demi nyawa 2 orang yang di cintainya itu. Begitulah yang kudengar dari Seohyun.

“Yoong..”

“Hmm..”

“Jika seandainya Tuhan mengizinkan, maukah kau membantuku menemukan mereka? Aku benar-benar ingin bisa kembali pada mereka Yoong.. Hanya itu harapanku,” lirih Seohyun sedih.

Aku tersenyum kecut, lalu berlaih memelukknya. “Tentu saja. Aku akan lakukan apapun jika seandainya kesempatan itu ada, Seo..,” jawabku. Kini Seohyun sudah terisak di bahuku.

***

“Wah.. Sekolahnya bagus sekali, Imo. Aku benar-benar tidak sabar ingin sekolah disini!” Jinri berseru girang saat aku membawanya ke sebuah taman kanak-kanak.

Kami terpaksa menginzinkan Jinri sekolah disini karena anak itu terus merengek 2 hari terakhir. Katanya ia sangat suntuk saat aku sedang pergi bekerja dan dia ingin punya banyak teman. Terpaksa kami pun menuruti keinginan anak manja ini. Biarlah untuk sementara waktu.

“Imo, bukankah itu Sena?” tanya Jinri mengejutkanku.

Benar itu Sena. Jadi anak Oh Sehun itu juga sekolah di sini? Wahh..kebetulan sekali.

“Benar. Itu memang Sena. Jinri-ya, ayo kita temui dia,” ajakku. Jinri mengangguk, detik berikutnya kami sudah bergegas menghampiri anak yang sedang duduk di taman itu.

“Annyeong, Sena-ya..” sapaku ramah sambil duduk di sampingnya.

“Ahjumma!” serunya semangat, “Wah.. Jinri juga ada. Apa Jinri akan sekolah di sini juga?” tanyanya.

“Ne. Aku akan sekolah disini!” jawab Jinri sumringah, ” Kata Imo, dia akan selalu mengantar Jinri pergi sekolah,” pamernya. Aku tersenyum, lalu mengacak rambutnya gemas.

“Jinri enak ya.. Bisa di antar Imo-nya.. Sena tidak diantar siapa-siapa.. Appa selalu sibuk” adu Sena. Wajahnya terlihat sangat sedih.

Aku terdiam mendengar penuturan gadis kecil ini. Aku sangat mengerti perasaanya. Apa lagi setelah mendengar cerita Luhan yang mengatakan jika Sehun tidak mempunya istri, otomatis Sena juga pasti tidak mempunyai ibu. Jadi mungkin tidak ada yang mengurusnya selain laki-laki itu.

Tapi bukankah si Oh Sehun itu sudah keterlaluan? Masa untuk sekedar mengantar purtinya sekolah saja dia tidak punya waktu. Ayah macam apa itu?

Memangnya sesibuk apa sih? Aku saja yang seorang direktur bisa meluangkan waktuku untuk keponakanku. Kenapa dia tidak? Keterlaluan sekali. Bagaimana jika sesuatu terjadi pada putrinya?

“Tidak apa-apa, Sena-ya. Mungkin ayahmu memang benar-benar sibuk,” akhirnya hanya ucapan itulah yang dapat aku katakan untuk mnghibur gadis kecil ini.

Bagaimanapun, jika bertemu aku harus mengatakan ini pada Oh Sehun. Jika tidak sanggup mengurus anak, kenapa tidak dititipkan saja pada panti asuhan. Huh, kenapa jadi malah aku yang emosi sekarang.

Author POV

Hari itu Seohyun tampak sedang sibuk membersihkan apartemenya. Gadis itu memang lebih memilih melakukan pekerjaan rumah seorang diri dari pada melibatkan orang asing masuk dalam kediamannya. Apa lagi ia sudah terbiasa hidup mandiri. Jadi bukan suatu hal yang sulit lagi bagi seorang wanita karir yang begitu sukses sepertinya melakukan pekerjaan itu. Malah ia senang bisa mengerjakannya sendiri.

Di saat Seohyun sedang membongkar sebuah kardus besar yang berisi barang-barang lamanya. Ia menemukan sebuah foto kusam yang begitu berarti untuknya. Foto itu tampak sudah lusuh walaupun gambarnya masih terlihat jelas. Foto dirinya dan laki-laki itu.

“Ternyata masih ada yang tersisa,” gumam Seohyun dengan senyuman cantiknya. Namun detik berikutnya senyuman itu pudar digantikan dengan raut wajah muram yang memancarkan luka yang sangat dalam. Luka karena kerinduannya yang teramat besar pada sosok itu.

“Aku sangat merindukanmu dan anak kita, Sehun-ah..”

“Aku berharap bisa menemukan kalian lagi..”

***

“Sedang apa sayang?”

Yoona terperanjat saat sebuah tangan melingkar erat di pinganggnya. Gadis yang sedang asyik menyiram tanaman itu menoleh ke belakang dan langsung cemberut begitu mengetahui siapa pelakunya.

“Kau mengagetkanku!” seru Yoona berpura-pura sebal.

Luhan tersenyum manis melihat tingkah tunangannya itu. Dengan gemas ia mencubit kedua pipi Yoona. Kontan, gadis itu semakin kesal dibuatnya.

“Yak! Kenapa datang-datang langsung mengacau, eoh?” omel Yoona. Namun Luhan tak peduli ia malah kembali meraih pinggang gadis itu.

Yoona terkejut dan tak menyangka dengan tindakan Luhan yang tiba-tiba. Ia hanya bisa meneguk saliva pelan karena jaraknya sangat dekat dengan pria itu. Kenapa dia jadi gugup begini?

“Aku tidak bermaksud mengacau, sayang. Aku datang hanya untuk mengabiskan weekend bersama tunanganku.”

Suara lembut Luhan semakin menambah debaran jantung Yoona. Namun sebisa mungkin ia mengontrolnya. Ia tidak boleh terlihat lemah di hadapan pria ini.

“Yak.. yak, tuan Xi.. Apa yang kau lakukan? Semua orang melihat kita,” gumam Yoona terbata. Sejujurnya ia sangat malu, apa lagi orang-orang yang sedang Jogging tampak senyam-senyum sendiri ketika melihat mereka.

“Memangnya kenapa? Meraka juga pernah muda, kan?” bukannya berhenti, Luhan malah semakin melancarkan aksinya.

“Aku tidak menyangka, ternyata gadisku jauh lebih cantik saat tidak mengenakan make up. Katakan, sejak kapan kau secantik ini?”

“Mwo?.. Mwo..Mwoya..”

“Apa sejak kau lahir? Atau.. kau pernah melakukan operasi plastik?”

“Apa??” pekik Yoona tertahan.

“Yak, jadi kau meragukan kealamianku, eoh?!” kini Yoona berubah sebal. Kenapa pria china ini bicara sembarangan?

“Tentu saja tidak, sayang. Hanya saja, aku dengar gadis-gadis korea banyak yang melakukan operasi.”

“Itu kan mereka, bukan aku!” sungut Yoona jengkel.

Luhan terkekeh pelan mendengar gerutuan Yoona. Ternyata ibu direktur ini sangat manis jika sedang marah. Dan ia beruntung gadis manis itu adalah miliknya. Hanya miliknya.
Kini mata Luhan benar benar lekat memandang wajah cantik Yoona. Kedua tangannya semakin erat memeluk pinganggan tunangannya itu.

“Saranghae, Na-ya.. Neomu saranghae..” bisik Luhan lembut.

Yoona hanya terdiam mendengar ucapan pria itu. Ia biarkan debaran jantungnya membuncah hanya karena kalimat tulus yang diucapkan Luhan. Sampai akhirnya mata rusa itu terpejam merasakan bibir Luhan mengecup kening indahnya, kemudian turun pada kedua matanya, hidungnya, sampai terakhir ia sudah merasakan bibir Luhan bertaut lembut pada bibirnya.

Cukup lama kedua pasangan itu berbagi kemesraan sebelum rintikan sebuah air membasahi tubuh mereka, Luhan segera melepaskan tautannya.

Apa ini? Apa sedang hujan di hari cerah begini? Tidak mungkin.

“Imo?! Apa yang sedang kau lakukan?!”

Luhan dan Yoona langsung menoleh ke sumber suara.

“Omo!! Jinri-ya!” seru Yoona panik.

Anak itu ada di sini? Astaga! Bagaimana ini?

“Ji.. Jinri-ya..” Luhan juga ikut panik melihat sorotan tajam yang dilontarkan gadis kecil itu. Tangannya masih memegang selang air, walaupun tak lagi menyirami keduanya.

“Luhan Ajusshi! Apa yang kau lakukan pada Imo-ku!”

“Eoh…eoh.. igo..igo..”

“Ayo jawab!”

“Itu.. Jinri-ya.. anu… itu..”

“Jinri-ya! Ayo cepat habiskan sarapanmu! Jangan menganggu Imo!”

“Ne, Halmeoni!”

“Luhan Ahjusshi, urusan kita belum selesai!”

“Ne?”

Jinri tak menjawab. Gadis kecil yang sok dewasa itu langsung berlari meninggalkan taman. Yoona sendiri langsung melanjutkan pekerjaanya, sementara Luhan hanya cengar-cengir tidak jelas.

***

“Aku tidak mau makan!”

“Ayolah, sayang. Kau jangan seperti ini.. Masih banyak yang harus Appa kerjakan.”

“Tidak mau!”

Sehun yang sedang berusaha menyuapi putrinya, menghela nafas panjang saat Sena terus menolak untuk makan. Anak itu sedang merajuk karena tidak mau lagi dititipkan pada bibi tetangga selagi Sehun bekerja. Sehun tidak bisa menuruti keinginan gadis kecilnya itu, karena hanya pada merekalah Sehun bisa mempercayakan Sena.

“Pokoknya Sena tidak mau makan sebelum Appa bilang, iya. Sena tidak mau tinggal bersama mereka, Appa. Sena mau di rumah saja!”

“Tidak bisa, sayang. Appa tidak mungkin membiarkanmu tinggal sendiri. Yifan Ajusshi dan Sica Ahjumma kan orangnya baik, kau bisa dijaga dan selalu di antar jemput pergi sekolah oleh mereka.”

“Tidak mau! Pokonya Sena tetap tidak mau lagi tinggal bersama mereka! Titik!”

“Yak, Oh Sena!!”

Akhirnya kesabaran Sehun habis sudah. Ia tidak bisa terus-terusan melayani rengekan Sena sementara masih banyak perkejaan yang harus dilakukannya. Walaupun ia merasa bersalah setelah membentak putri kecilnya itu, tapi ia hanya bisa membiarkan Sena sesegukan di samping pintu.

Namun beberapa menit kemudian ia kembali melirik Sena yang masih larut dengan tangisnya.

“Sena-ya..” panggil Sehun akhirnya. Sena tak menjawab.

“Mianhae.. Appa tidak bermaksud membentakmu,” ungkap Sehun lembut.

“Appa jahat.. Hiks.. Hiks.. Sena ingin ikut Eomma saja.. Hiks..Hiks..”

Dan lagi, Sehun kembali emosi ketika Sena terus mengeluh tentang wanita itu. Ia sangat marah setiap kali Sena mengingatkannya pada seseorang yang sangat ia benci itu.

“Sudah Appa katakan jangan pernah menyebut Eomma. Kau tidak memilik Eomma, Oh Sena! Appa sudah bilang berapa kali? Kau tidak punya Eomma.. jadi berhenti menyebutnya!” pekik Sehun dengan amarah tertahan.

“Appa jahat! Aku benci Appa!” teriak Sena dengan tangis yang semakin manjadi-jadi.

Pada akhirnya Sehun hanya terus menyakiti putrinya. Tanpa sadar jika ia terus membuat Sena teramat merindukan sosok ibu yang tak pernah ia temui dalam hidupnya. Sena bangkit, gadis kecil itu berlari sebisanya dari dalam rumah. Sehun tak berusaha mengejar, ia biarkan kobaran api meguasainya saat bayangan wanita itu tergiang-giang lagi di pikirannya.

***

“Ya, nona Im..”

“…..”

“Ya, aku akan menamanimu.”

“…..”

“Apa? Hahaha… kau ini ada-ada saja!”

“Ya ya, baiklah.. Aku.. ASTAGA!!”

CKITTT..

Seohyun menginjak rem dengan cepat saat ia hampir saja menabrak seseorang. Gadis cantik itu menatap layar ponselnya dan masih tepampang jelas nama Yoona yang berteriak panik di seberang sana. Seohyun menelan salivanya getir kemudian mengalihkan ponsel pada telinganya.

“Yoong, sudah dulu, ya.. nanti aku telpon lagi,” ucap Seohyun, lalu memutuskan sambungan teleponnya dan segera keluar dari dalam mobil.

Seohyun tertegun saat melihat seorang anak kecil yang berdiri ketakutan dengan mata tertutup di depan mobilnya. Seohyun meneghembuas nafas lega setelah dilihatnya tidak ada luka di bagian manapun pada tubuh gadis kecil itu.

“Gwen…chana?” tanya Seohyun terbata dan hati-hati. Mendengar suara Seohyun, gadis kecil itu langsung membuka matanya kembali.

“Apa…. Sena ada di surga?” tanyanya.

“Ne?”

To be continued

Pertama, aku mau ngucapain maaf banget atas keterlambatan ff ini. Jujur aja aku ga tahu ini jalan cerita mau dibawa kemana. Absurd banget, hancur dan benar-benar.. ah entalah.. pokonya ini ff malu-maluin sebenarnya.

Kedua, aku mau minta pendapat kalian. Apa ff ini mau terus dilanjut atau stop sampai di sini aja. Sebenarnya ini juga aku paksain lanjutin part 2, padahal lagi miskin ide.

Karena itu aku ga PD mau terus lanjutin ini ff. Tapi kalau kalian masih mau baca, insya Allah akan aku usahakan. Jadi mohon kasih pendapatnya, Chingu..🙂

72 thoughts on “Smothering (Chapter 2)

  1. Wah greget bngt..
    Seohyun ny udh ktemu sma anakny tuh,, pnsaran reaksiny gmna,apa dia msih ngnalin ankny ya?
    Tpi kok sna bsa smpe d jlanan gtu,sehunya kok ngk jgain,,
    But ist nice daebak,,d lnjut ya thorr

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s