0888-6969-0666 [2]

0888-6969-0666

0888-6969-0666 | De_Pus19 | Twoshoot | PG-17

Angst | Romance | Mistery | Horror

Im Yoona | Park Chanyeol

Choi Sooyoung | Lee Donghae | Cho Kyuhyun | Jessica Jung

Disclaimer | This story is mine, cast are belong god

Warning | Garing, typo, bad story, and other

Poster by Montaseok at Café Poster

Note :

Terinspirasi dari film One Missed Call dan Final Destination.

Happy reading | Hope you like it

Sudah berminggu-minggu berlalu, semenjak kejadian pembunuhan yang menimpa Jessica dan Donghae, tidak ada kabar dari si pelaku pembunuhan berantai itu, berarti tidak ada lagi korban selanjutnya. Apa mungkin Xi Luhan adalah korban terakhir si pelaku? Mungkin saja. Namun, si pelaku belum tertangkap, jadi bisa saja masih akan ada korban selanjutnya. Keadaan Yoona juga semakin membaik tiap harinya. Wanita itu sudah merelakan kepergian Donghae. Sekarang, dia sudah menjalani hidupnya seperti tidak pernah terjadi apapun, seperti seseorang telah mengambil semua ingatannya.

Hingga sebuah fakta yang baru saja didapatinya, membuatnya bungkam. Teror itu masih berlanjut dan Sooyoung adalah korban selanjutnya. Awalnya dia tidak percaya saat pagi-pagi buta, sahabatnya menelponnya dengan suara serak. Sooyoung mengatakan bahwa baru saja dia diteror, Yoona hanya bisa tertawa mendengar penuturan Sooyoung. Namun sekarang, setelah dia berhadapan langsung dengan sahabatnya. Dia terdiam seribu bahasa.

Yoona membelakkan mata saat melihat ponsel sahabatnya. Ada 3 panggilan dari nomor yang sama yang meneror Jessica dan Donghae. Mungkin, sedikit berbeda dari kasus sebelumnya. Harusnya setelah 3 kali panggilan, Sooyoung mendapatkan pesan yang bertulis 24 jam. Tapi, wanita itu tidak mendapatkannya dan hal itulah yang membuat Yoona kebingungan. Apa si pelaku hanya ingin mengerjai Sooyoung? Agar wanita itu semakin ketakutan sebelum ajal menjemputnya. Tapi, mengapa?

“Bagaimana ini, Yoong?” Sooyoung duduk sambil memeluk kedua lututnya dipojok ruangan. Ekspresi ketakutan sangat kentara diwajahnya. “Aku akan mati, Yoong! Dia akan membunuhku!” jerit Sooyoung yang semakin ketakutan.

Yoona berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Sooyoung. “Ssstt… itu tidak mungkin terjadi Soo. Kau akan baik-baik saja, aku dan Chanyeol Oppa akan melindungimu. Lagi pula, kau tidak mendapatkan pesan dari dia bukan? Dan kau tidak akan pernah mendapatkannya. Lihat ini!”

Yoona meraih ponsel Sooyoung, dia mencabut batu batrai dan mematahkan kartu simnya lalu membuangnya kesembarang arah. “Lihat! Dia tidak akan pernah menganggumu lagi!” Yoona tahu hal itu tidak akan pernah membuat Sooyoung terlindungi. Tapi setidaknya, Yoona dapat membuat Sooyoung merasa jauh lebih baik. Dan hal itu membuahkan hasil, senyuman kecil mengembang diwajah sahabatnya. Namun, senyum itu tak bertahan lama, tepat didetik berikutnya, ponsel Sooyoung bergetar, pertanda bahwa ada pesan masuk.

Mengapa itu bisa terjadi? Bukankah Yoona telah mematikan bahkan mematahkan kartu sim milik Sooyoung? Kenapa ponsel itu masih menyala? Yoona menyambar ponsel milik Sooyoung, matanya membelak saat melihat pesan yang baru saja masuk. Si peneror yang mengirimnya dan isinya bertulis ‘24 jam’.

“Tidak mungkin! Ini tidak masuk akal, Yoong!” Sooyoung kembali menjerit. Wanita itu sangat ketakutan, tubuhnya bergetar hebat dan tangisnya pun pecah. Dia bahkan tak mampu membayangkan bagaimana adegan kematian yang akan menimpanya nanti. Dia bahkan terlalu takut hanya untuk membayangkannya. “Ini kesalahan, Soo. Mungkin saja, ponselmu sudah rusak.” guam Yoona frustasi sambil tertawa kecil, mengejek dirinya sendiri.

Sahutan Yoona tak dapat memenangkan Sooyoung. Akhirnya wanita itu meraih ponselnya dan mengetik beberapa nomor lalu menempelkan ponsel tipis itu ditelinganya. “Lihat! Aku akan menelponnya,” Yoona tersenyum memenangkan. “Aku akan memaki orang yang sudah berani mengerjai sahabatku.”

Kurva senyum Yoona menghilang seketika, wajahnya yang tadi ceria-karna ingin memenangkan Sooyoung-kini berubah menjadi datar, terlalu datar hingga Sooyoung terkejut melihat ekspresi sahabatnya. Seketika, kulit tubuh Yoona berubah menjadi pucat pasi. Dia tercengang, terkejut, marah, takut atau apalah itu sebangsanya. Apa dia tidak salah dengar? Bukan suara seseorang yang dia ingin dengar, namun, suara operatorlah yang menyapa gendang telinganya.

‘Nomor yang anda tuju, tidak terdaftar.’

Bang!

Pandangan Yoona buyar, tubuhnya terasa sangat ringan. Dia terjatuh duduk diikuti dengan ponselnya yang ikut terjatuh kelantai kamar Sooyoung. Otaknya serasa pecah! Tidak! Ini tidak mungkin! Ini tidak masuk akal! Harusnya bukan suara operator yang terdengar! Bukan! Harusnya bukan! Harusnya nomor itu terdaftar!

“Ada apa, Yoong?”

Yoona menggeleng pelan. “Ini tidak mungkin,” guamnya. “Soo, aku akan memberitahu Chanyeol Oppa.”

“Ada apa, Yoong?” tanya Sooyoung sekali lagi dengan suara serak. “Nomor itu,” Yoona memandang ponselnya. “Tidak terdaftar!”

Terkejut adalah hal yang paling mudah ditebak saat Sooyoung sudah mengetahui hal yang sebenarnya. Itu adalah hal yang wajar. Tetapi hal yang tak wajar adalah saat Sooyoung melarang Yoona untuk menelpon Chanyeol. “Aku akan memberitahu Chanyeol Oppa. Dia pasti akan melindungimu, Soo.”

“Tidak perlu Yoong,” Sooyoung menghembuskan nafasnya panjang. “Untuk apa kau memberitahu Chanyeol Oppa. Bukankah 24 jam lagi aku akan mati?” Sooyoung melirik kearah jam dinding. “Besok, tepat pukul 7 pagi.”

.

.

.

Yoona tersenyum manis sambil menuruni satu persatu anak tangga. Ada perasaan lega didalam sana saat menatap jam dinding, jarum jam sudah menunjuk kearah pukul tujuh lewat lima menit dan lihat sekarang! Sooyoung baik-baik saja, tidak terjadi hal buruk yang menimpanya. Jadi, menurut Yoona semua itu hanyalah kebetulan. Mungkin, kematian Jessica dan Donghae adalah sebuah kebetulan. Dan si peneror itu hanya orang iseng.

Wanita itu berjalan kearah sahabatnya yang tengah berada didapur sambil memotong beberapa sayuran segar. “Ada yang bisa aku bantu?” Sooyoung segera menoleh saat suara Yoona menggema didalam telinganya. Ia tersenyum lalu berpikir sebentar sebelum akhirnya berkata “Memang apa yang bisa kau bantu? Bukankah kau tidak bisa memasak!”

Yoona mengerucutkan bibirnya sebelum akhirnya mereka tertawa bersama. Yeah memang benar, Yoona sama sekali tidak bisa memasak. Dia sangat buruk dalam segala sesuatu yang menyangkut tentang dapur. Bukan membantu Sooyoung yang ada Yoona malah mengacaukan segalanya. Yoona merasa lega saat melihat senyuman Sooyoung, nampaknya wanita itu sudah tidak percaya dengan teror yang menimpanya kemarin. Yoona ingin sekali bertanya mengenai teror itu, tapi rasanya kurang etis jika Yoona mengungkitnya lagi.

“Yoong,” panggil Sooyoung. “Bisakah kau menolongku? Dipersimpangan jalan ada sebuah toko swalayan. Bisakah kau membelikanku kentang? Sup ini tidak akan enak jika tidak memakai kentang.”

“Baiklah.” guam Yoona sambil melangkah menuju pintu, namun sesuatu yang menurutnya ganjil menghalangi niatnya. Yoona menoleh kearah Sooyoung “Soo, apa jam rumahmu rusak?” tanya Yoona sambil menunjuk kearah jam dinding. Sooyoung mengikuti arah tangan Yoona. “Tidak, jam itu tidak rusak.”

“Benarkah?” tanya Yoona tidak yakin. Sangat tidak yakin tepatnya. Seingatnya, tadi dia melihat jam dinding menunjukkan pukul tujuh lewat lima menit dan dia telah mengobrol sebentar bersama Sooyoung selama lima menit, harusnya sekarang sudah pukul tujuh lewat sepuluh menit. Tapi mengapa, jam itu menunjukkan pukul tujuh pagi. Harusnya jarum jam itu berjalan maju tapi mengapa jam itu berjalan mundur?

“Yoong, ada apa?” tanya Sooyoung yang khawatir melihat ekspresi terkejut Yoona. Memang, apa yang salah dengan jam dinding itu?, pikirnya kemudian.

“Tidak! Baiklah, aku pergi dulu.”

Sepeninggalan Yoona, Sooyoung kembali melanjutkan aktivitasnya. Dia memotong sebuah lobak yang cukup besar, namun sebuah insiden kecil membuat jarinya teriris. Sooyoung meringis saat melihat darah yang mengucur dari jari manisnya. Dia segera membilas tangannya dengan air lalu membersihkannya dengan sapu tangan. Dia meletakkan sapu tangannya didekat kompor lalu berlari kecil menuju kamarnya, mengobati lukanya yang cukup parah itu. Tanpa Sooyoung sadari, sapu tangannya terbakar api kompor.

Mata Sooyoung melebar sempurna saat melihat api besar yang telah melalap habis sebagian dapur rumahnya. Api itu telah merembet kebarang-barang yang mudah terbakar. Sooyoung berniat memadamkan api itu, namun sebuah ledakkan kecil terjadi, mengenai wajahnya dan membuat matanya tak bisa terbuka. Dia meringis merasakan betapa perih matanya kini. Wanita itu berjalan mundur, tangannya menyenggol pisau dapur yang sempat digunakannya tadi, menyebabkan piasu itu terjatuh dan tertancap mengenai kakinya.

“Aaaa…!!!” jeritnya.

Sooyoung terus menjerit, menahan rasa sakit yang tengah dialaminya kini. Dia mencium bau anyir yang menyeruak kedalam indera penciuman. Sooyoung memang tidak dapat memastikan seberapa banyak darah yang mengalir dari kakinya, namun yang dapat diketahuinya bau anyir itu pastilah darahnya. Sooyoung terus berjalan sambil meraba-raba daerah sekitarnya, menjauhi api yang mungkin saja sudah membakar seluruh dapurnya. Sooyoung menjerit saat merasa tangannya terbakar dan yang dapat ia pastikan kini sudah tidak ada jalan keluar lagi.

Dia terjebak!

.

.

.

Yoona menyodorkan dua lembar uang sepuluh ribu won kepada sang kasir lalu meraih sekilo kentang yang berada didepannya. “Aku baru pertama kali melihatmu. Apa kau baru pindah kesini?” tanya seorang wanita tua yang tak lain adalah pemilik sekaligus kasir di toko ini.

“Tidak, aku tidak tinggal disini. Aku sedang berkunjung kerumah temanku?” jelas Yoona.

Wanita tua itu tekekeh, merasa sedikit malu atas ucapannya “Maaf, aku tidak tahu. Kalau boleh aku tahu, siapa temanmu?”

“Sooyoung. Choi Sooyoung.”

“Oh, Choi Sooyoung. Aku mengenalnya, dia gadis yang baik.” Yoona tersenyum mendengarnya. “Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu.”

Yoona melangkah keluar dari toko itu lalu berjalan menuju rumah Sooyoung yang berada tak jauh dari toko. Sepanjang jalan Yoona merasa ada hal yang ganjil, dia merasa seperti ada yang mengawasinya. Namun, ketika Yoona menyebarkan pandangannya tidak ada orang yang mencurigakan. Tapi, ada hal yang jauh lebih ganjil. Mengapa semua orang keluar dari rumahnya? Dan, kenapa ada mobil pemadam kebakaran?

Mata Yoona membulat, dia melihat ada asap tebal berwarna hitam yang berasal dari rumah Sooyoung. Walaupun, Yoona tidak ingin percaya bahwa asap itu benar-benar berasal dari rumah sahabatnya. Kalau begitu, rumah Sooyoung kebakaran. Yoona berlari kencang menuju rumah sahabatnya, dia tidak memperdulikan kerumunan orang yang ditabraknya, apalagi dengan sekilo kentang yang tadi digenggamnya.

Kaki Yoona terasa tak bertulang lagi. Ia jatuh terduduk, melihat rumah sahabatnya telah dilahap si jago merah. Ia mengeraskan hatinya, Sooyoung pasti masih hidup. Sooyoung pasti sudah keluar dari dalam rumahnya. Ya, Sooyoung tidak mungkin mati. Tapi, sejauh mata memandang, Yoona tidak mememukan batang hidung Sooyoung, apalagi sekarang sudah ada banya orang yang bergelombol datang untuk melihat kebakaran ini. Dan seorang Im Yoona, begitu frustasi saat ini.

“CHOI SOOYOUNG!” jeritnya.

Yoona meraih ponselnya, dia menekan beberapa tombol. Chanyeol, Chanyeol, hanya Chanyeol yang dibutuhkannya saat ini. Tapi, pergerakkan tangannya berhenti, ketika manik mata coklat itu melihat jam di ponselnya. Yoona tertawa kecil, dia pasti sudah gila. Ya, Yoona pasti gila. Atau mungkin, ponselnya rusak. Bagaimana bisa, jam di ponselnya menunjukkan pukul tujuh pagi?

.

.

.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Yoong?”

Yoona menggeleng pelan. Dia bukan tidak tahu dengan jawaban apa yang akan dilontarkannya untuk Chanyeol. Hanya saja, saat ini dia masih enggan untuk menceritakan semuanya. Menceritakan kejadia aneh yang menimpanya, dia- astaga! Kenapa bisa waktu berputar mundur? Itu tidak mungkin! Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa seperti ini? Ia harus mengetahui kebenaran yang sesungguhnya sebelum ia menceritakan semua kejadian yang menimpa Sooyoung. Yoona tidak ingin di cap gila oleh suaminya sendiri. Tapi, ini tidak masuk akal. Dia belum bisa mendapatkan jawaban dari pertannyaan yang tengah berputar-putar didalam otaknya.

“Oppa, bisakah kau mengambilkanku minum?”

Chanyeol mengangguk lalu berjalan ke dapur, meninggalkan Yoona seorang diri didalam kamarnya. Wanita itu meyenderkan tubuhnya ke tembok lalu menarik selimutnya, dia merasa kedinginan dan takut. Cahaya lampu yang remang-remang membuatnya semakin takut apalagi saat ini diluar sedang hujan lebat.

Pikirannya masih tertumpu pada kejadian tadi pagi yang menimpa Sooyoung. Chanyeol bilang semua itu hanyalah kecelakaan bukan pembunuhan, kalau memang teror itu berlanjut dan Sooyoung dibunuh oleh peneror itu, pasti ada sesuatu yang ganjil. Tapi, semua terlihat begitu mulus, semua seakan-akan hanyalah sebuah kecerobohan kecil, namun berdampak besar. Semua terlihat seperti kecelakaan.

Tunggu! Ada yang mengganjal dalam pikirannya. Dari kasus pertama, semua terlihat seperti sebuah kecelakaan. Tidak ada hal yang ganjil dan barang bukti yang dapat menguatkan kalau itu pembunuhan. Seperti seorang pembunuh yang sudah berpengalaman. Tapi bukan itu yang mengganjal pikiran Yoona. Yang mengganjal pikiran wanita itu adalah semua ini adalah sebuah kecelakaan. Sebuah kecelakaan yang secara kebetulan disegaja oleh sang pelaku. Tapi, bagaimana caranya? Bagaimana caranya pembunuh itu bisa membunuh korbannya tepat waktu? Dan bagaimana pembunuh itu bisa membuat waktu berputar terbalik?

Seakan-akan semua ini adalah sebuah kutukan!

Deg!

“SIAPA? SIAPA DISANA?” jerit Yoona dengan suara tersenggal-senggal.

Dia memeras ujung selimut yang dikenakannya sambil menatap kaget bayangan yang tergambar jelas dibalik jendela. Ada seseorang disana, ada seseorang yang tengah berdiri dibalkon kamarnya. Seorang pria bertubuh tinggi tegap dengan sebuah pisau ditangannya. Jangan bilang kalau! Dialah pembunuhnya!

“Hey, Yoong! Ada apa?” Chanyeol panik saat melihat Yoona ketakutan. Dia segara menenangkan isterinya. “Ada seseorang. Ada seseorang disana!” Jari tangan Yoona terulur lurus kearah jendela.

Chanyeol meraih pistol yang berada didalam laci. Dia berjalan pelan kearah jendela dengan hati-hati. Dia mengacungkan pistolnya didepan sambil membuka pintu kaca. Namun, tidak ada orang disana. Tidak ada, hanya ada angin malam yang bertiup kencang disertai dengan hujan lebat. Chanyeol menghembuskan napasnya panjang, ada rasa lega didalam sana. Mungkin Yoona salah lihat, mungkin yang dia lihat hanyalah dahan dan ranting pohon atau mungkin wanita itu masih terlalu tertekan dengan kematian kakak dan sahabatnya, sehingga ia berhalusinasi.

Pria itu segera menutup pintu dan berjalan pelan menuju Yoona yang masih ketakutan diatas ranjang. Dia menenggelamkan tubuh isterinya didalam pelukkannya yang hangat. Setidaknya semua yang dilakukannya saat ini bisa membuat isterinya menjadi lebih tenang. “Sudahlah, Yoong. Tidak ada orang disana. Mungkin, kau salah lihat.”

“Ani, Oppa,” Yoona menggeleng, bertanda dia tidak setuju dengan ucapan suaminya. “Aku tidak salah lihat. Ada seseorang disana, seorang pria dengan pisau ditangannya. Aku tidak mungkin salah lihat, Oppa.”

“Mungkin yang kau lihat hanya dahan dan ranting pohon. Atau mungkin, kau sedang berhalusinasi.”

Yoona tersentak mendengar ucapan Chanyeol. Apa? Berhalusinasi? Jelas-jelas dia melihat ada seseorang disana. Tidak mungkin dia berhalusinasi. Yoona belum buta, okey. Jadi dia tidak mungkin salah lihat atau sedang berhalusinasi. Yoona mendorong tubuh Chanyeol lalu menatap tak percaya pada suaminya. “Kau tidak mempercayaiku?”

“Tidak, bukan begitu, Yoong. Mungkin, kau tertekan dan berhalusinasi.”

Telinga Yoona terasa tuli saat mendengar kata-kata itu. Berhalusinasi? Sudah dia katakan, Yoona benar-benar melihat dengan mata dan kepalanya sendiri bahwa ada seseorang disana. Okey, mungkin benar ucapan Chanyeol, dia tertekan karna kepergian kakak dan sahabat yang sangat ia sayangi. Apalagi mereka meninggal karna diteror, dan walaupun Yoona belum tahu apakah itu pembunuhan atau bukan, tapi mereka mati secara tidak wajar. Dan benar, Yoona benar-benar merasa tertekan dan hampir gila karna hal itu.

“Kau berpikir, aku gila?”

.

.

.

“Choi Sooyoung sudah meninggal, Cho Kyuhyun. Choi Sooyoung, tunanganmu. Dan kau bersikap seakan-akan tidak terjadi apapun. Apa yang kau pikirkan?”

Yoona sudah tak bisa menahan emosinya lagi. Dia sudah naik pitam melihat tingkah temannya yang menurutnya sudah sinting ini. Astaga! Bahkan tanah kuburan Sooyoung belum kering dan lihat, Cho Kyuhyun sudah mencari wanita lain sebagai pengganti tunangannya.

“Kau benar-benar berisik, Im Yoona. Sebenarnya, apa yang ingin kau katakan.”

Yoona memutar bola matanya malas. “Aku ingin berbicara berdua denganmu saja, dan tolong, bisakah kau usir wanita jalang itu?”

Kyuhyun mengisyaratkan kepada wanita yang tengah duduk didalam pangkuannya untuk meninggalkan mereka berdua. Wanita itu menurut dan melenggang pergi keluar dari ruangan Kyuhyun. “Jadi,” ucap Kyuhyun to the poin. “Apa yang ingin kau bicarakan?”

“Kau bilang padaku bahwa kau mendapatkan tiga kali panggilan tak terjawab dan pesan dari nomor yang sama yang meneror Sooyoung.”

“Ya, itu benar. Aku mendapatkannya. Lalu?”

“Berarti kau yang selanjutnya, Kyuhyun. Sebentar lagi, kau akan mati.”

Kyuhyun tertawa kecil menanggapi ucapan Yoona yang menurutnya benar-benar tidak masuk akal. Mati? Cih, memangnya kematian semudah membaca pesan? Kyuhyun benar-benar muak mendengar ucapan Yoona. Yoona dan Sooyoung sama saja, mereka selalu mengingatkan pria itu bahwa mungkin saja dia korban selanjutnya.

“Jangan bercanda, Im Yoona. Kau pikir, aku percaya dengan ucapanmu?”

“Kau harus percaya, Kyuhyun. Ini kenyataan, sepertianya teror itu akan benar-benar berlanjut dan kau selanjutnya.”

Kyuhyun bangkit dari kursinya. “Kalau begitu, buktikanlah. Kalau memang teror itu benar, aku hanya akan mati, bukan?” Setelah mengucapkan kalimat angkuh itu, Kyuhyun melangkah menuju mobilnya diikuti dengan Yoona yang mengekor dibelakangnya. Pria itu masuk kedalam mobilnya begitu pula dengan Yoona. “Ayo, kita buktikan ucapanmu.”

Sepanjang perjalanan mereka hanya terdiam. Kyuhyun yang masih berdiri teguh dengan pendiriannya, sedangkan Yoona yang sedang ketakutan setengah mati. Yoona tidak tahu Kyuhyun akan membawa mereka kemana, tapi jalur yang mereka tempuh sangat jauh. Hingga mobil itu berhenti entah dimana, tapi yang Yoona tahu mobil itu berhenti ditengah-tengah jalaur kereta api.

“Kalau memang, teror itu benar. Kita berdua akan mati.”

“Kau sudah gila.” Dengan cepat Yoona keluar dari mobil dan berlari ketempat yang menurutnya jauh lebih aman sambil menatap tak percaya pria yang masih dengan santainya duduk didalam mobil di tengah-tengah jalur kereta api. “Kau terlihat sangat ketakutan, Im Yoona.”

“Sinting. Kau sudah gila, Cho Kyuhyun.” Mata Yoona membulat sempurna, dia melihat sebuah kereta api tengah berjalan dijalur tempat mobil Kyuhyun berada, walaupun keteta itu masih jauh, tapi kecepan kereta dua kali lipat lebih cepat dari mobil. “Kyuhyun, ada kereta.”

Kyuhyun menoleh dan benar saja ada sebuah kereta yang sedang melaju kencang ke arahnya. “Baiklah.” Dengan santai Kyuhyun menyalakan mesin mobilnya, tapi mobil itu tidak menyala. Dengan gugup Kyuhyun membuka pintu mobil, tapi pintu itu juga tak kunjung terbuka, seperti ada seseorang yang menguncinya, padalah pria itu tidak menguncinya. “Yoona, aku tidak bisa keluar mobilnya terkunci.”

“Jangan bercanda!”

“Aku tidak bercanda, bodoh! Tolong aku, cepat!” teraik Kyuhyun yang tengah panik setengah mati.

Yoona menatap keadaan sekitarnya, dia menemukan sebuah balok kayu. Wanita itu menggunkan balok kayu untuk memecahkan kaca mobil Kyuhyun. Tapi, enatah kenapa kaca mobil itu sama sekali tidak pecah ataupun retak. Dia mencobanya sekali lagi, tapi hasilnya pun nihil. Kaca mobil itu tidak pecah sama sekali. Kyuhyun masih didalam dan sebuah kereta melesat kearahnya. Yoona bukanlah orang bodoh, dia tidak ingin mati. Tidak! Dia masih ingin hidup. Dengan rasa bersalah Yoona meninggalkan Kyuhyun yang terlihat sangat terkejut dengan apa yang dilakukan wanita itu.

“Mianhe.” Hanya kata itu yang mampu Yoona ucapkan dan didetik selanjutnya mobil itu telah remuk terseret kereta.

.

.

.

Yoona memeluk tubuhnya erat. Dua jam lagi, pikirnya. Dua jam lagi dia akan mati. Rasanya wanita itu masih belum siap dengan apa yang akan dihadapinya nanti. Teror itu berlanjut dan dia adalah korban selanjutnya setelah Chanyeol. Kemarin, saat Yoona pulang ke rumah dia mendapatkan tiga panggilan dan satu pesan yang menyatakan bahwa dia adalah korban selanjutnya. Tapi ada yang aneh, Chanyeol, pria itu juga mendapatkan tiga panggilan dan sebuah pesan, namun hanya berberbeda beberapa menit lebih awal dari pada Yoona.

Mereka akan mati bersama-sama. Tapi, kenapa? Kenapa mereka mendapatkan teror itu hanya berselang beberapa menit? Bukankah, teror itu hanya ditujukan untuk satu orang setiap kejadian. Apakah Chanyeol akan mati duluan kemudia Yoona? Atau, mereka akan meninggal bersamaan, ditempat yang sama dan diwaktu yang sama? Atau, bagaimana? Semua ini membuat kepala Yoona ingin pecah.

“Yoong, kau tidak perlu ketakutan seperti itu,” guam Chanyeol. Pria itu mendudukkan dirinya disamping Yoona. “Aku akan melindungimu. Tenang saja, peneror itu tidak mungkin berani mencelakaimu.”

Yoona menggeleng. “Bukan, Oppa,” Dia menatap Chanyeol. Sorot matanya menyatakan bahwa bahwa wanita itu benar-benar ketakutan setengah mati. “Tidak ada peneror, Oppa. Tidak ada orang yang meneror kita. Ini bukanlah pembunuhan, tapi takdir. Seakan-akan takdir sudah menentukan kapan dan dimana kita akan mati. Tiga panggilan dan sebuah pesan itu adalah pemberitahuan.”

“Kau bicara apa, Yoong. Aku tidak mengerti.”

“Kyuhyun. Dia mati didepan mataku.”

Chanyeol tersentak kaget. Bagaimana bisa? Bukankah Kyuhyun mati karna kecelakaan? “Apa?!” Yoona menarik lengan baju suaminya. “Maaf, aku tidak memberi tahumu sebelumnya. Minggu kemarin aku mendatangi Kyuhyun di kantornya. Karna dia mengatakan padaku bahwa, dia mendapatkan teror itu. Aku sudah memberi tahunya, bahwa dia adalah korban selanjutnya tapi dia tidak percaya dan menantangku. Kami pergi bersama ke rel kereta api dipinggir kota untuk membuktikan bahwa teror itu hanyalah bualan belakang.”

“Tunggu! Bukankah kau bilang, kau pergi ke makam Donghae? Jadi semua itu bohong?” Yoona mengangguk dan langsung mendapatkan tatapan tak percaya dari Chanyeol. “Kenapa kau tidak memberitahuku. Bisa saja kita menangkap pembunuh itu.”

“Tidak, Oppa. Itu bukanlah pembunuhan, Kyuhyun tidak dibunuh. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, bahwa tidak ada orang lain yang berada didekat kami. Semuanya seperti kecelakaan yang disengaja atau takdir.”

“Jadi maksudmu, ini sebuah takdir. Kita mati karna ada seseorang yang mentakdirkan kita untuk mati?”

“Ya, tapi bukan seseorang. Ini seperti sebuah kutukkan. Nomor yang mengirimkan kita pesan tidak bisa terlacak, karna nomor itu tidak terdaftar, karna nomor itu tidak pernah ada.” jelas Yoona.

“Tunggu! Tapi, kenapa kita? Kenapa orang-orang yang mendapatkan teror itu adalah orang-orang yang kita kenal, kecuali Xi Luhan. Kalau memang teror itu mengincar orang-orang yang kita kenal, tapi kenapa ada Xi Luhan? Harusnya pria itu tidak ada.”

“Entahlah,” Yoona terdiam sambil menatap keluar jendela. “Pasti ada sesuatu yang berkaitan. Ada sesuatu yang mengait kita dan ada sebuah urutan kematian kita. Tapi, kenapa kita akan mati disaat yang hampir sama, hanya berselisih beberapa menit?”

“Aku tidak tahu, Yoong.”

Chanyeol merih ponselnya sambil melangkah keluar kamar. “Yoboseyo.”

“Hyung, aku sudah menemukan sesuatu yang ganjil.”

“Apa itu, Sehun?”

“Urutan kematian, aku sudah mengetahuinya. Dan sekarang kau harus pindah dari rumahmu itu sekarang juga.”

“Sebenarnya, apa yang kau bicarakan?”

“Hexagram, simbol pemujaan setan. Jika dihubungkan, rumahmu, rumah Donghae Hyung, rumah Jessica Noona, rumah Kyuhyun Hyung, rumah Sooyoung Noona, rumah Xi Luhan, dan rumah Kim Taehyung akan menjadi sebuah simbol hexagram. Dan itu alasannya, kau dan Yoona Noona mendapatkan teror secara bersamaan, karna kalian tinggal bersama, sedangkan yang lain hanya sendiri.”

“Jadi, peneror itu akan datang ke rumahku?”

“Tidak, tidak ada peneror. Menurut kepercayaan Yunani kuno itu adalah sebuah kutukkan. Maka dari itu sampai sekarang kita tidak mendapatkan penjelasan bahwa semua kematian itu adalah pembunuhan. Karna semuanya adalah kecelakaan, kecelakaan yang sudah ditakdirkan.”

“Jadi, aku dan Yoona akan benar-benar mati dengan kutukan itu?”

“Jika kau bertanya padaku, iya itulah jawabanku.”

Chanyeol tertawa kecil lalu menatap jam tangannya. Beberapa menit lagi menjelang kematiannya. “Baiklah Oh Sehun. Kurasa kau sudah terlalu banyak menonton film horor.”

“Tunggu, Hyung. Kau harus percaya dengan apa yang ku katakan. Kau harus pin-”

Chanyeol langsung menutup sambungan telponnya. Tidak! Semua ini tidak masuk akal. Hanya karna rumah mereka terhubung dengan simbol hexagram, maka mereka akan mati. Astaga! Lelucon macam apa itu? Tidak mungkin seseorang bisa mati hanya karna sebuah kutukkan. Memangnya sekarang abad berapa?

Chanyeol menangkap sebuah bayangan yang melesat cepat menuju dapur. Yoona, ya itu pasti Yoona. Tidak ada orang lain yang tinggal dirumah ini kecuali mereka berdua. Chanyeol berjalan menuju dapur sambil memanggil-manggil nama Yoona. “Yoong.” Tak ada sahutan.

“Yoong, kau ada disini?”

Kening Chanyeol berkerut samar. Tidak ada Yoona atau orang lain di dapur. Jadi, siapa yang dilihatnya tadi? Hantu? Jangan bercanda? Dia membalikkan tubuhnya dan kemudian terkejut karna Yoona telah berdiri dibelakangnya. “Ada apa, Oppa? Kau memanggil-manggil namaku?”

“Ani.”

Yoona meraih tangan Chanyeol. “Oppa, lebih baik kita tidak berada disini.”

“Hah?!” kening Chanyeol berkerut samar. “Kenapa?”

“Kau tahukan, Sooyoung mati karna kebakaran di dapurnya.”

Astaga! Chanyeol kira, apa? Kebakaran di rumah Sooyoung disebabkan oleh kelalaian wanita itu. Lagi pula, bukankah Chanyeol dan Yoona tidak sedang memasak? Mana mungkin terjadi kebakaran, jika tidak ada penyebabnya. Hey, ini bukanlah sebuah film misteri.

“Itu tidak mungkin, Yoong. Tak akan terjadi apapun. Lihat!” Chanyeol melirik ke arah jam tangannya. “Seharusnya aku mati saat ini, tapi tidak terjadi apapun, kan?” Pria itu melangkah mudur dengan sebuah senyuman kemenangan diwajahnya. Seolah dia sudah membuktikan bahwa tidak akan pernah terjadi apapun. Namun, karna lantai dapur yang licin. Pria itu tergelincir dan jatuh terduduk.

“Oppa!” panggil Yoona yang hampir menjerit ketakutan.

“Aku tidak apa-apa, Yoong. Tenanglah.”

“Kau menyuruhku tenang? Kau tahu, jantungku hampir saja copot.” bentak  Yoona yang terlihat begitu khawatir.

Chanyeol meraih salah satu ujung lemari sebagai tumpuannya untuk berdiri. Namun, tangannya tergores besi yang cukup tajam dan membuat lemari itu sedikit bergoyang. “Oppa, tanganmu berdarah. Tunggu disini, akan ku ambilkan obat merah.”

Yoona melesat pergi bersamaan dengan tawa kecil yang keluar dari mulut Chanyeol. Menurutnya, wanita itu terlalu berlebihan untuk hal kecil seperti luka gores ini.

Tuk!

Chanyeol merasakan sebuah benda kecil terjatuh mengenai kepalanya. Paku, pikirnya kemudian. Hm… dia baru ingat, seminggu yang lalu Chanyeol meletakkan kotak yang berisi paku diatas lemari ini. Untung hanya satu. Pria itu mendongak dan terkujut melihat kotak yang berisikan paku itu jatuh kebawah. Dan kali ini, tidak hanya ada satu paku yang jatuh, tapi ratusan.

“Aaaa…” jerit Chanyeol, merasakan betapa sakitnya ujung tajam paku itu tertancap dimata kanannya.

.

.

.

Deg!

Pergerakkan tangan Yoona terhenti. Dia mendengar sebuah jeritan, jeritan seseorang yang dikenalnya. Chanyeol! Wanita itu segera berlari kencang menuju dapur. Dia menahan napasnya saat melihat sebuah genangan darah yang sudah menyebar keseluruh lantai. “Aaaa…” Chanyeol, suaminya telah tewas dengan ratusan paku yang tertancap ditubuhnya.

“Oppa!!!”

Kaki Yoona bergetar hebat. Selang beberapa menit lagi, dia akan mati. Dia tidak ingin mati! Tidak, ini belum saatnya dia mati! Yoona berlari kencang keluar dari rumahnya. Dengan rasa takut yang tak dapat ia simpulnya. Wanita itu berlari seolah ada seseorang yang ingin menangkapnya. Tapi, dia tidak mengetahui siapa yang ingin menangkapnya. Perasaan ini, perasaan ini membuatnya semakin takut.

Yoona membuka gerbang rumahnya dengan tubuh gemetar. Sepi! Tidak ada orang diluar sana. Yoona menatap kesekitarnya dengan was-was. Perasaan itu masih ada, perasaan yang menyuruhnya untuk berlari, kabur, pergi, dan menghilang. Dengan tatapan kosong ia berjalan ke jalan raya. Dia sepenuhnya sadar, tapi rasanya seperti ada seseorang yang mengendalikannya. Wanita itu bahkan tak terkejut saat sebuah mobil angkut barang yang berisikan tongkat besi melesat didepannya dengan kecepatan tinggi.

Wanita itu tidak tertabrak. Wanita itu belum mati. Belum! Tapi tubuhnya, tubuhnya tak dapat digerakkan. Tidak mungkin, kakinya menempel dengan sendirinya diaspal. Yoona terus mencoba menggerakkan tubuhnya. Namun, hasilnya nihil. Hingga sebuah dentuman keras mengalihkan perhatiannya. Mobil angkut barang itu menabrak sebuah pohon besar. Menyebabkan ratusan tongkat besi itu terpental-pental kesana kemari. Dan itu bukanlah hal yang bagus.

Deg!

Jantung Yoona serasa copot. Tubuhnya masih tidak bisa digerakkan, itu artinya dia tidak bisa menghindar dari ratusan tongkat besi yang terpental ke arahnya. Mata Yoona membelak, sebuah tongkat besi melesat cepat kearahnya. Telalu cepat hingga Yoona baru menyadari, tongkat besi itu, sudah menembus kepalanya.

.

.

.

~END~

19 thoughts on “0888-6969-0666 [2]

  1. Sumpah ini ff yg bikin gue mrinding beneran
    Sad ending ceritanya -.-
    Ini ending enggak bisa ketebak sama sekali thor
    DAEBAK !!
    Aku tunggu ff yoona selanjutnya yah
    Keep Writing ^^

  2. Oh god, apah ini??
    jd bneran ini semua sebuah kutukan yg tdk bisa dihindari?? aigoo seramnya..
    nyesek bacanya, semuanya tewas. Eumm im so sad😥

  3. hmmm sseereeemm … eh gimana yah pokoknya terasa bgt aura kegelapannya😄 keren author penulisannya bikin ngeri sendiri tapi pas part yoona ituh gga berani baca >.< hais chanyeol kenapa lah gga mau pergi hiksss

  4. Anyeong,, aigoo serem thor ceritanya,sesak napas bacanya. tp sayang sad ending, tp tetap keren kok ..
    bikin fff chanyeol genre lagi ya thor,, seru bacanya.
    Keep Writing

    # oh ya author tahu dari mana ketukan sama lambang itu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s