After Life [1st]

tumblr_mqejrqeyhD1s1u05wo1_500

⌊ PG 15 • Fantasy/Romance/Friendship/Supernatural • Chaptered ⌋

Jika kalian menemukan buku ini, artinya kalian telah menemukan harta karun yang berharga. Dimohon untuk menjaga kerahasiaan buku ini. Buku ini berbahaya. Karena, di dalam buku ini terdapat sebuah rahasia terkelam tentang kehidupan setelah kematian.

Salam manisku

Im Yoona

 

Chapter 1

Sebagian besar orang mengira kematian adalah akhir.

Akhir kehidupan – berakhirnya saat-saat menyenangkan – berakhirnya bertemu orang-orang yang kita kasihi – akhir dari, ya, bisa dibilang segalanya.

Namun, semua orang keliru akan hal itu.

Benar-benar keliru.

Maksudku, lihatlah aku, ya, aku tahu persis tentang kematian. Karena, aku sudah meninggal sejak setahun lalu.


Yang paling aneh tentang kematian adalah sesungguhnya tidak ada yang berubah.

Aku bertaruh, pasti lagi-lagi kalian bingung. Maksudku, kalian pasti mau kan jika setelah kalian meninggal semuanya berubah. Yatuhan, aku yakin kalian masih belum mengerti. Aku ulang kembali, kita tentunya mengharapkan perubahan besar-besaran setelah kita meninggal bukan? Soalnya kematian itu—ya, kita aku saja, memang sebuah perkara yang dramatis. Selain itu, kematian ialah sebuah peristiwa penting bukan? Lihat saja, ada lagu-lagu tentang kematian. Ada buku tentang kematian, bahkan ada film tentang itu. Seakan kematian sebuah perkara penting, ya memang sih—tapi, yasudahlah. Dahulu, saat aku masih dalam tanda kutip hidup. Setiap minggu pagi, pasti channel di TV menayangkan kartun-kartun yang bertema kematian. Namun, kenyataannya kematian sama sekali tidak seperti yang ada di TV. Mungkin di awal.

Tapi, sama saja. Sama sekali tidak mirip.

Contohnya aku. Jika kau penasaran siapa yang sedang bercerita sekarang. Namaku Im Yoona. bisa dibilang, aku ini bukti hidup, eh, maksudku bukti mati bahwa ajal sesungguhnya tidak benar-benar berbeda. Setidaknya tidak jelek barangkali di awal. Tapi, mungkin jika kau membaca ceritaku dari awal ini pasti kau kira kematian itu buruk bukan? Sungguh, tidak seburuk yang kau kira.

Justru, setelah meninggal aku merasa lebih hidup. Aku bisa melompat lebih tinggi—aku bisa berlari lebih cepat bahkan jika dibandingkan dengan Bolt si pelari tercepat itu, aku bisa lebih cepat darinya, malah aku bisa lebih cepat dari mobil yang dikendarai Vettel saat ia berlaga di Formula 1 – aku bahkan bisa berjalan menembus dinding kalau aku mau – terkadang jika situasi darurat aku bisa terbang – tapi, satu yang tidak kubisa. Walaupun aku sudah mati. Impianku untuk bertelepotasi belum juga terwujud. Tetapi, yasudahlah setidaknya keuntungan kematian itu menyadariku.

Kemampuan berjalan menembus dinding.

Karena tak bisa melakukan hal semacam itu sebelumnya. Terkadang hal itu membuat aku linglung. Tahulah aku bahwa ini pasti ada apa-apanya.

Ini serius.

Namun, sebelum saat itu rasanya seperti petualangan kecil yang sangat asyik. Seolah ayahku, tanpa diduga-duga, memutuskan untuk berbelok tiba-tiba.

Satu saat ayahku mengendarai mobil di jalan tol yang menikung, sedangkan aku menyanyi seirama dengan iPod-ku, ditemani anjiku Squishy yang selalu menggelung di pangkuanku. Ohiya, jika kau penasaran dengan anjingku. Namanya yang Squishy pasti telah menipumu. Pasti kau berpikir anjing itu kecil, berwarna putih, berbulu lebat. Sesungguhnya itu sangat jauh dari wujud asli Squishy. Anjingku ini berbadan besar. Siberian Husky. Seperti itulah orang-orang menyebutnya. Nenek-ku memberikan anjing ini saat ia masih berumur 1 tahun dan menggemaskan. Maka dari itu aku memutuskan menamakannya Squishy. Tapi, saat ia sudah besar ia berbeda sangat berbeda. Tetapi, tetap saja aku dan kakakku tidak berniat mengganti namanya. Ohiya, berbicara tentang kakakku. Nama singkatnya Roxy. Aku tidak berniat untuk menyebutkan nama panjangnya, karena itu sangatlah panjang (aku bersumpah!). Saat itu, aku sedang berusaha tidak mengacuhkannya. Mengacuhkan kakakku yang hidupnya praktis untuk menyiksaku. Tetapi, semua itu berubah. Saat aku sadar bahwa kami berada di tempat lain.

Tidak lagi di jalan tol, tidak lagi berada di Pennsylvania. Tidak ada lagi timbunan salju. Aku malah entah bagaimana telah mendarat di tengah-tengah padang yang penuh dengan hamparan bunga berwarna-warni. Tentu saja aku tidak sendirian, ada Roxy, Squishy dan kedua orang tuaku. Aku mencoba berdiri saat melihat Squishy dan orang tuaku pergi ke satu arah dan Roxy pergi ke arah lain.  Dan, justru itulah yang membuat aku pusing tujuh keliling. Aku semata-mata hanya terdiam disana. Tidak tahu harus mengikuti siapa.

Sebagian dari diriku mendesak, “Sebrangi saja jembatan itu. Jika orang tuamu pergi kesana pasti tempat itu lebih nyaman. Mereka tahu yang terbaik!”.

Sementara itu, bagianku yang lain bersikeras, “Jangan jadi sok anak baik—pasti Roxy melihat sesuatu yang hebat dank au melewatkannya, kau bakal menyesal selamanya dan Roxy akan sedih jika ia harus berbahagia sendirian.”

Kuputuskan untuk mengejar Roxy, tapi sudah terlambat. Ia menghilang entah kemana.

Menghilang—begitu saja.

Menembus kabut yang berdenyar.

Kembali ke alam fana.

Nah, begitulah ceritaku. Ceritaku yang terjebak di antara dua dunia.

Sampai aku menemukan jalan ke Sini.

Ya, begitulah orang menyebut tempat ini; Sini.

Kalau ada yang bodoh menanyakan tentang waktu disini. Mereka akan menjawab “Kini

Barangkali karena di Sini tidak ada waktu. Artinya, semua terjadi tepat saat ini, yaitu Kini.

Jadi, bisa disimpulkan. Aku tinggal di Sini dengan waktu yang senantiasa Kini.

Membingunkan bukan? Sejujurnya diriku juga bingung. Awalnya. Tapi, sekarang aku sudah mengerti sepenuhnya tentang lika-liku Sini. Jika kau ingin tahu, kehidupan di Sini tidak terlalu berbeda dengan dulu, waktu aku tinggal Busan lalu di Alaska. Sungguh tidak ada bedanya.

Hanya saja tak ada waktu. Dan tentu saja, aku jadi bisa berjalan menembus dinding dan sebagainya.

Namun, selain itu dan fakta bahwa aku bisa memunculkan apapun yang kuinginkan—seperti mobil, buku, pakaian, bahkan hewan dan pantai saja dengan membayangkannya saja bisa muncul. Tapi, tetap saja aku tidak bisa teleportasi. Itu membuatku sedikit geram. Tetapi, semuanya kurang lebih sama saja.

Orang tuaku disini. Nenek-kakekku juga. Bahkan, Squishyku yang lucu, anjing Siberian Husky-ku yang berbulu abu-abu keperakan dan putih seputih salju inipun berrhasil sampai di Sini. Walaupun kami bisa tinggal dimana saja yang kami inginkan, di rumah jenis apa saja yang kami dambakan, lucunya lingkungan baruku ini merupakan replica dari lingkungan rumahku yang di Alaska. Sejujurnya, aku lebih suka lingkungan di Busan. Karena, disana memang tempat kelahiranku. Sedangkan Alaska, ini tempat kelahiran Roxy. Dan tentu saja ini mengingatkanku akan Roxy yang hidup sendirian di dunia fana sana.

Omong-omong, segalanya identik, sampai ke pakaian yang digantung di lemariku, kaus kaki yang di jejalkan di laciku, dan poster yang berjejer, yang dulu kutempelkan di dinding kamarku. Satu-satunya yang berbeda dan mengusikku ialah semua rumah di sekitarku kosong. Tentunya, karena semua tetangga dan teman lamaku masih hidup dan sehat walafiat di alam fana  (paling tidak untuk saat ini!). Serta yang tadi kubicarakan, tidak ada kakakku yang selalu mengangguku. Namun, tetap saja, selain itu semuanya persis seperti yang kuingat.

Kuulangi persi seperti yang kuingat.

Coba Roxy dan teman-temanku ada untuk menemaniku menikmatinya bersama.


Waktu aku bangun pagi ini—tunggu,satu lagi—kalian mungkin mengira aku tidak butuh tidur, kan? Ya, pada mulanya, aku juga berpikir seperti itu. Sungguh kalian tidak sendirian. Namun, seperti yang dijelaskan orangtuaku, kami ini justru lebih hidup dari sebelumnya, tersusun oleh energi dalam wujudnya yang paling murni. Setelah seharian mencipta dan memunculkan macam-macam serta, ya, entah apa saja yang orang pilih untuk kerjakan di Sini, energi  tersebut perlu rihat, mengaso, supaya bisa beristirahat, memulihkan diri, dan beregenerasi—ini lagi-lagi tak ada bedanya dengan kehidupan di alam fana.

Sudahlah, intinya waktu aku bangun pagi ini, wajahku basah. Dilumuri air liur dari Squishy yang membangunkanku dengan cara menjilat wajahku. Meskipun terkadang enak-enak saja dibangunkan seperti itu, tetapi tetap saja aku mendorong Squishy menjauh dariku dan menarik selimutku menutupi wajahku yang basah. Sungguh menjijikan. Tapi apa boleh buat—aku membelakangi anjingku ini. Kelopak mataku terpejam rapat-rapat dan aku berusaha untuk bermimpi kembali (jangan kalian kira aku tidak bermimpi), sementara Squishy terus mendengking dan merengek serta mencakar-cakar aku.

Tepat saat aku hendak mendorong kembali anjingku itu. teringatlah aku :

Squishy sedang menyemangatiku.

Semua orang menyemangatiku.

Sejak tiba di Sini, aku sibuk membiasakan diri dengan kehidupan baru ini. Setelah aku sudah terbiasa, sudah waktunya untuk hari pertamaku bersekolah (ya, di Sini ada sekolah – bukan cuman tidur-tiduran di awan—di mainkan harpa lalu di kelilingi pelayan bidadari, asal kau tahu), dan karena semua orang antusias soal itu, sudah tugasku untuk berlagak antusias juga.

Cukup antusias, sehingga harus rela bangun dari tempat tidur, bersiap-siap, dan meluangkan waktu untuk memunculkan pakaian yang keren supaya aku bisa, ya, setidaknya menurut orangtuaku, berangkat untuk:

“Bertemu teman-teman baru, belajar hal-hal baru, dan tidak lama kemudian merasa nyaman lagi seperti saat di rumah lama!”

Meskipun aku sedikit meragukan hal itu. Dan aku berani bertaruh hal itu tidak mungkin terjadi, aku semata-mata tersenyum dan menurut saja. Ingin agar mereka mengira aku sama bergairahnya seperti mereka untuk menyambut momen tersebut.

Tidak ingin orang tuaku tahu bahwa aku benar-benar merindukan kehidupan lamaku. Merindukannya sedemikian rupa sampai-sampai ulu hatiku terus-menerus terasa nyeri. Juga,bahwa aku yakin seyakin-yakinnya sehebat apa pun sekolah itu, tidak mungkin sama seperti sekolah dulu.

Hari ini, aku berencana untuk menggunakan pakaian tipikal seragam sekolah swasta yang terdiri dari blus putih, rok berpelipit, blazer biru, kaus kaki putih, dan sepatu keren, sebab dari dulu aku ingin masuk sekolah yang berseragam (karena sejak aku di taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas tidak memakai seragam), tapi kemudian aku berubah pikiran dan menggantinya dengan jeans pas badan, sepatu balet teplek, dan cardigan biru berbulu yang kukenakan di atas tanktop putih.

Serius, memunculkan apapun sangatlah mudah di Sini. Dengan hanya berpikir kau bisa mendapatkan segalanya. Maju selangkah aku menjadi murid sekolah swasta, dan maju selangkah lagi aku menjadi gadis berumur 18 tahun yang luar biasa modis. Kuputuskan untuk menggunakan pilihan bajuku yang terakhir tadi, toh aku bisa menggantinya kapanpun.

Namun, saat aku dalam perjalanan, aku melihatnya.

Ruang Tinjau.

Orang tuaku selalu berpesan agar tidak terlalu obsesi dengan kehidupan fana. Karena, aku memang di takdirkan untuk di Sini. Ayahku berpikir, aku terlalu lama berluntang-lantung di alam fana. Nyatanya, aku memang menginginkan kehidupan fana. Terkadang, ibuku juga mengingatkan bahwa Roxy mempunyai takdir sendiri. Tidak selayaknya aku mencampuri urusannya.

Namun, meskipun niat kedua orang tuaku itu baik. Walaupun mereka yang dalam tanda kutip membuat Roxy. Tetapi, mereka tidak mengenal Roxy sebaik aku. Tidak menyadari bahwa Roxy membutuhkanku daripada apa yang mereka bayangkan. Lagipula, jika di Sini tidak ada waktu. Aku tidak akan terlambat.

Aku memutar dan memasuki gedung itu. mengambil nomor antrian dari wadah di dinding sebelum menempatkan posisiku di antrean yang sangat panjang. Di kelilingi rombongan ubanan yang mengoceh terus mengenai cucunya yang tidak sabar ingin dilihat oleh mereka. Sampai nomorku muncul di layar, aku pun langsung berderap ke bilik yang baru saja lowong, menutup tirai di belakangku, duduk di bangku logam keras, dan menekan lokasi yang kuinginkan sambil menelaah layar dengan hati-hati hingga aku menemukan dirinya.

Roxy.

Kakakku.

Kakak perempuanku yang berambut pirang, bermata biru. Yang aku iri adalah hidungnya yang mancung sempurna. Sungguh mujur nasibnya mendapatkan hidung ibu kami—sedangkan aku mendapat hidung ayahku yang, anu, lebih pesek. Walaupun ayahku selalu menghiburku bahwa hal itu sangatlah langka dan hanya akan ditemukan di wajahku. Sambil mengembang-kempiskan hidungnya. Tingkah yang tak pernah gagal membuatku tertawa.

Namun, meskipun sudah lama aku memerhatikan Roxy, tak bisa kukatakan aku melihat banyak hal. Atau setidaknya, tidak ada yang penting. Tak ada yang membuat jantungku berdetak, berdebar-debar kencang (memang, jantungku tidak berdenyut lagi, itu cuma metafora). Pada dasarnya, yang kulihat ialah gadis yang mencoba untuk memulai kehidupannya lagi dari nol. Mengira dirinya normal. Padahal aku tahu, dia tidak normal. Maksudku, dia bukan orang biasa.

Walau begitu, aku tidak kuasa berhenti memerhatikan. Tidak kuasa menghentikan perasaan lama itu melandaku lagi.

Perasaan yang seolah mengembangkan hatiku sedemikian besar sampai-sampai rasanya mau meledak dan menghasilkan lubang menganga di dadaku.

Perasaan yang menyebabkan tenggorokanku panas dan tercekat, yang menyebabkan mataku perih, dan aku dipenuhi kerinduan teramat sangat, hasrat yang sedemikian dahsyat, sampai-sampai aku bersedia melakukan apa saja supaya bisa kembali.

Kembali ke alam fana.

Kembali ketempat seharusnya aku berada.

Karena sejujurnya, meskipun aku sudah berusaha keras berlagak tegar dan membuat semua orang emngira aku sudah sukses menyesuaikan diri. Semuanya nihil. Bukan itu perasaanku.

Aku tidak bisa.

Menyesuaikan diri

Ataupun

Belajar mencintai apa pun.

Tidak. Sama. Sekali.

Malahan, andai kata diberi kesempatan, aku rela melakukan apa saja demi mendapatkan loaksi jembatan itu. Berjalan lurus ke alam fana tanpa menoleh kebelakang.

Aku rela melakukan apapun yang bisa membuatku kembali lagi ke rumah asliku, hidup di samping kakakku lagi.

Tidak butuh waktu lama di depan layar untuk aku menyadari bahwa Roxy membutuhkanku.

Tidak butuh.

Lagipula, hanya itu yang perlu kuketahui agar meyakini bahwa perbuatanku benar.

Hanya itu yang perlu kusaksikan agar tak merasa bersalah karena menentang kedua orang tuaku dan masuk tanpa izin ke Ruang Tinjau.

Karena sejujurnya, aku merasa alasanku patut di benarkan.

Terkadang kita semata-mata harus bertindak atas dasar pertimbangan kita sendiri.

Terkadang kita harus melakukan hal yang kita yakini kebenarannya dari lubuk hati.


Setelah cukup lama menonton kakakku di layar, kuserahkan bilik itu pada lelaki paruh baya berkumis lengkung, lalu aku meninggalkan gedung itu, dan tiba di sekolah dengan seragam swastaku untuk mencegah bencana besar memalukan gara-gara busan yang tidak cocok.

Untungnya, bukan aku satu-satunya yang menggunakan seragam. Banyak anak lain. Meskipun juga ada anak-anak yang mengenakan sari dan kimono serta segala macam baju internasional yang keren. Intinya, segala etnis ada di sekolah ini. Setelah itu aku tersadar betapa luasnya lingkup Sini.

Aku akhirnya menjadi murid pindahan. Dari dulu aku ingin menjadi murid pindahan.

Ketika bunyi lembut lonceng angin berdentang di udara, semua orang mulai menuju ke arah yang sama. Karena aku tidak tahu harus berbuat apa atau harus ke mana, aku mengikuti mereka.

Menapaki jalan setapak yang indah yang tepat berada di tengah-tengah lahan yang ditanami bunga, pohon eksotis dan segala macamnya. Yang memandu aku ke sebuah bangunan seperti Parthenon Yunani. Aku memasuki gedung itu lalu duduk. Duduk di sebalah gadis yang berseragam pemandu sorak ini. Baru saja aku duduk, tiba-tiba sekelilingku terbangun karena ada seorang lelaki tua yang berambut panjang keemasan yang gemerlap (sumpah aku tidak bohong). Mungkin yang lain berdiri, kecuali aku.

Soalnya—waktu aku melihat lelaki itu aku agak terperanjat.

Belum lagi tersedak.

Sang gadis pemandu sorak itu berbicara dalam pikiranku, “Kau ini ngapain, sih? Berdiri dong, biar Perseus bisa menghitungmu.”

“Perseus?” tanyaku.

Tapi ia membalas pertanyaanku dengan melalui pikiran pula, “Sttt.”

Akhirnya, akupun memutuskan untuk berdiri dan menutup mulutku rapat-rapat. Aku merasa seaakan si Perseus menatapku. Ya, sepertinya memang benar menatapku. Atau. Ia menatap semua orang. Ia seperti mengabsen semua orang secara mental. Barangkali, mungkin itulah yang membuat semua murid bersikap sepatuh mungkin.

Sampai saat itu, tak pernah kulihat murid sebanyak itu yang bersikap sangat patuh. Aku sungguh berharap mereka semua tidak selalu seperti itu. Aku bisa gila jika tidak mendapatkan teman yang memahami betapa pentingnya bercanda.

Saking asyiknya aku berpikir, aku sampai tidak sadar bahwa sudah waktunya duduk. Terimakasih pada gadis pemandu sorak itu. Jika tanpa dia. Mungkin aku akan berdiri di tengah lautan manusia.

“Lama sekali. Aku berani sumpah, dia hanya mengulur-ulur waktu sampai Mick dan Keith muncul, lalu kita tidak bakal melihatnya lagi,” senyum gadis itu. senyumannya sangat cerah hingga sekujur tubuhnya memancarkan pendar kehijauan yang memukau.

“Bagaimana kau bisa melakukan itu?” tanyaku. Aku tidak peduli apa yang Perseus telepatikan. Aku hanya peduli pada penampilan gadis ini. Ia cantik. Lalu entahlah bagaimana caranya, aku juga bisa melakukan telepati, “Maksudku, berpendar seperti itu.”

Gadis itu hendak menjawab tetapi, perhatiannya teralihkan ke Perseus hingga akhirnya ia menoleh padaku lagi, “Kau anak baru ya?”

Aku mengangguk meski sebenarnya tidak perlu kerena dia hanya terdiam sedetik sebelum berbicara lagi.

“Aku tahu. Tapi, jangan khawatir. Pada akhirnya semua pertanyaanmu akan terjawab. Pasti terjawab. Saat kau sudah siap. Pasti, ada orang yang tepat yang menemukanmu dan menunjukkan jalan,” ucap gadis itu lalu ia berpendar kehijauan dan menghilang.

Aku menoleh ke sana kemari, berpikir siapakah orang yang tepat itu? apakah ia di panggung? Atau duduk?

Semua orang sepertinya tahu persis dengan apa yang terjadi.

Semua orang punya tujuan.

Semua orang selain aku.

“Jadi sekarang kemana?” seruku.

Aku berharap ada yang menjawab. Karena aku berpikir. Sejauh ini tidak ada yang meneyerupai sekolah sedikitpun.

“Kita pergi ke tempat kita ditugaskan begitu pula kau,” balas seorang lelaki.

Aku memandangnya heran. Ini semua tidak seperti yang kubayangkan. Hari yang kunanti-nantikan dengan ngeri, hari yang menurut orang tuaku akan membuka dunia yang menggairahkan, menyediakan semua hal yang kugemari. Dan lainnya.

Hari ini payah.

Sama sekali berbeda dengan perkataan orang tuaku. Aku tersadar.

Aku takkan pernah cocok.

Takkan pernah cocok di Sini.

Pasti ada tempat lain yang cocok buatku.

Aku bukan saja meyakininya, melainkan juga bertekad akan melakukan apa saja dalam menemukan tempat itu.

 

TO BE CONTINUED


 

12 thoughts on “After Life [1st]

  1. Hy thor, . .aku dah bca ff kamu seru sih tpi ada be2rapa yang harus diperbaiki kosakatanya kurang baku di dialog percakapan,dialog perckpannya juga dikit bnget. Trus perkenalan nya terlalu panjang. .mf aku bnyak kritik,hh ditnggu next nya kai juga blum muncul

  2. Great post. I was checking constantly this blog and I am inspired!
    Very helpful info specifically the remaining section🙂 I
    maintain such information a lot. I was looking for this certain info for a long time.
    Thank you and best of luck.

  3. Thor, maaf ya kalau aku salah. Tapi ini sebenernya bukan ff author kan, soalnya aku pernah nemu novel yang isinya mirip banget sm ff ini nama pengarangnya alson noel kalo g salah, bukunya terbitan M!ZAN

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s