Unexpected : How its begin..

unexpected

Unexpected : How its begin..

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

Dia seorang lelaki yang luar biasa. Paras tampan dengan tulang rahang tegas dan kedua mata teduhnya yang menawan. Dalam binar senyumnya yang menyejukkan, kutemukan mimpi akan masa depan yang cemerlang. Merajut kasih hingga maut datang memisahkan.

 

Kejadian itu sudah berlalu lama. Saat awan masih berirama mewarnai birunnya langit. Yoona masih menunduk, menatap gundukan tanah kering yang perlahan mulai ditumbuhi banyak rerumputan.

Jemari kecilnya kemudian berinisiatif untuk membersihkannya seorang diri. Menyingkirkan kelopak bunga warna warni yang enam puluh menit lalu baru saja ditebar appa,, ditengah makan omma.

Bibir kecilnya mengerucut pilu. Sudah tahun ketiga dan perlahan yoona mengerti mengapa appa pernah meraung sepi, dulu.

Ternyata, omma memang tak akan pernah kembali.

Saat itu ia masih empat tahun. Omma harus melewati hari-harinya yang panjang dalam pesakitan karena luka dalam serviks miliknya menimbulkan bakteri dan berkembang menjadi tonjolan yang akhirnya, meski terlambat, didiagnosa sebagai tumor.

Anehnya, tumor ganas itu sudah menjalar menuju usus dan lambung omma. Tidak ada jalan untuk kesembuhan. Jika omma harus melewati operasi dengan biaya ratusan juta, maka kesempatan hidupnya akan semakin tipis. Karena dokter berencana membuang seluruh usus dan sebagian lambungnya.

Disaat seperti itu, yoona hanya dapat duduk diam. Menggenggam tangan omma yang dingin dan terus tersenyum padanya. Bibir tebal omma yang pucat pasi dan rambut coklat pekatnya yang mulai kusut tak menjelaskan apapun.

Appa bilang omma harus tidur di rumah sakit desa yang seadanya itu karena omma harus melewati masa pengobatan sebelum benar-benar sembuh. Anehnya, yoona terpaksa harus percaya dan terus tersenyum, menghibur omma, berkata jika wanita itu akan segera pulang ketika,, perkiraan umurnya bahkan tak menginjak tiga puluh hari.

Dua minggu setelah itu, omma pergi.

Kini, setelah tiga tahun berlalu. Saat kemudian appa berani bercerita bahwa omma tak akan lagi kembali, yoona merasa dunia akan menelannya bulat-bulat. Bahwa appa pernah berkata omma tidak harus tinggal bersama mereka agar ia bisa sembuh dan secantik dulu. Bahwa appa pernah berkata jika omma akan kembali nanti ketika ia memasuki sekolah pertamanya. Bahwa ternyata, appa hanya membohonginya.

Miris ketika akhirnya ia mengerti bahwa meninggal berarti tak dapat lagi tertawa, tersenyum, berbicara dan memeluknya dengan hangat.

Ketika hari itu yoona mengerti jika setelah ini ia akan mulai mengikis harapannya jika omma akan kembali dan tetap datang meski ia telah lama menginjak sekolah pertamanya.

Yoona terus mengerucutkan bibirnya kuat-kuat. Appa bilang ia tak boleh menangis atau omma akan bersedih. Omma akan mendengar ratapannya dan tak akan merasa tenang disana. Jadi, demi menghindari itu semua, bibir yoona bergetar hebat, menahan panas air mata yang kini sudah berada diujung bola matanya.

“kau belum pulang?”

Yoona kemudian tersadar saat suara itu mengembalikan dunianya. Bibirnya yang bergetar kemudian memerah. Angin musim semi menyapanya dengan ramah. Dua sepatu boot coklat yang kini menapak tanah didepan yoona kemudian bergerak. Memaksanya mendongak ditengah pekat cahaya matahari yang berpendar.

“aku datang saat appamu pergi, dan saat aku ingin pulang, kau juga belum beranjak” sambung lelaki itu ramah.

Yoona melihat merah muda sebagai bias dari putih susu yang melindungi rangka rahang tegas namja itu. Bibirnya yang jauh lebih tebal dari milik yoona sedikit mendesis saat angin menggoda mereka dalam diam.

Saat itu, kedua mata teduhnya begitu menawan. Membuat bibir yoona yang masih mengerucut menjadi begitu kelu. Namja itu kemudian mendekat. Berjongkok tepat didepannya dan tersenyum ketika yoona mundur satu langkah.

“aku lee donghae. Dan disana,,” ia kemudian berbalik, menunjuk satu lagi tempat peristirahatan terakhir manusia yang baru saja ditaburi bunga segar. “itu makam appa” sambungnya tenang.

Yoona terkejut bukan main. Donghae masih bisa tersenyum ketika kelopak mawar yang menghiasi pemakaman appanya baru saja bertebaran diusir angin. “hari ini juga peringatan kematian appa” sambung donghae.

Ia seperti tak memerlukan jawaban dari bibir yoona. Lelaki itu hanya terus menatapnya dengan senyuman tipis, lalu kemudian melirik batu nisan omma yang masih menyisakan lembabnya air siraman appa.

“dan,, han ga hee ini adalah..”

Ia kemudian menatap yoona meminta jawaban. Untuk pertama kalinya memberikan ekspresi dalam percakapan mereka selain senyuman, lalu memiringkan kepalanya seolah tak sabaran.

Yoona mengusap ujung hidungnya yang mulai basah. Angin musim semi sepertinya tak ingin main-main lagi dengan tubuh kecilnya. Yoona hanya melirik nisan itu lama lalu menjawab tanpa menatap donghae.

“ini, omma” tuturnya pelan.

Suara bergetar yoona menarik perhatian donghae. Perlahan tapi pasti sebutir air mata yang sempat yoona tahan akhirnya keluar. membuat bola mata donghae melebar cepat namun kembali meredup dan tersenyum miris setelahnya.

Ia melangkah maju, menatap yoona yang mulai menunduk ragu lalu membiarkan jemarinya terulur diudara. Menghapus jejak air mata yoona yang tak lagi keluar usai satu tetes itu pergi dan menarik pipinya lembut.

Yoona membesarkan kedua bola matanya ketika manik mereka bertemu. Namja itu adalah orang asing. Tapi yoona tak merasa risih ketika senyumannya menyambut satu tetes air mata yoona yang pada akhirnya datang berjatuhan.

“sudah berlalu tiga tahun. Seharusnya, kau tersenyum dan membiarkan omma-mu tenang disana.”

Bibir merah yoona kemudian kembali mengerucut. Tanpa aba-aba gadis kecil itu maju, memeluk tubuh donghae erat-erat lalu meraung kencang.

“tapi aku rindu omma!!” pekiknya tertahan dibahu donghae.

Donghae hanya tersenyum. Tangan kanannya bergerak menepuk bahu yoona, menenangkan gadis kecil itu dari tangis pilunya sebelum sore menjelang.

Donghae tau bagaimana rasanya menjadi pihak yang ditinggalkan. Kematian appa ketika ia masih kecil juga sempat memukul kesadarannya saat itu. Tapi hidup dalam masa lalu bukanlah hal yang baik. omma bilang, appa akan senang jika ia dapat menjalani hidupnya dengan baik.

Karena itulah donghae tak lagi menangis.

Gundukan tanah coklat berlapiskan rerumputan hijau milik appa adalah tempatnya mengadu dan berjanji. Donghae tak pernah lupa itu. Ia sudah berjanji untuk sukses dan membahagiakan omma.

Jadi, semenjak beberapa tahun lalu. Air matanya telah membeku untuk appa.

“hiks,, ottokhae, aku rindu omma..”

Tangis yoona belum berhenti. Matahari sudah tergelincir dan berpindah posisi dari atas kepala mereka. merah muda cherry blossom kemudian berguguran diakhir musim semi yang semakin menusukkan dingin pada tulang mereka.

Lalu donghae tersenyum dan menunduk membalas pelukan erat yoona. “gwenchana. Kau masih punya oppa”

Dan ditengah gundukan tanah yang berjejeran rapi serta angin musim semi yang mempermainkan mereka dengan ganas, mereka dipertemukan. Donghae lebih senang menyebutnya sebagai ulah takdir. Kesamaan peringatan kematian appanya dan omma yoona kemudian membuatnya mengenal gadis itu. Gadis kecil yang kemudian tumbuh menjadi sosok luar biasa dalam hidupnya.

 

__

“gangnam? Apa itu?”

Yoona mendesis kesal saat wajah tampan donghae terlihat begitu menggemaskan. Tinggal dipedesaan kecil dipinggiran laut tak membuat hidup mereka kekurangan, namun pengetahuan didesa memang sungguh minim. Dan donghae sepertinya adalah salah satu korban dari tak meratanya penyebaran ilmu pengetahuan dimuka bumi ini.

“ya phabo-ya!” yoona meraih helaian buku yang masih kosong dari tangan donghae lalu memukulkannya pada rambut coklat tebal namja itu. Bibirnya mengerucut lucu, membuat donghae semakin merasa bersalah dan senang dalam satu waktu entah untuk alasan apa. “aku bertanya padamu. Kenapa kau manjawabnya dengan pertanyaan baru?!”

“aku benar-benar tidak tau, yoong. Memangnya aku harus melakukan apa? Kau ingin  aku mengarangkanmu cerita mengenai gangnam?”

“OPPA!”

Yoona kembali melepaskan helaian kertas tepat diatas kepala donghae. “kau, kan, lebih tua! Mana mungkin tidak tau!” tuntutnya semakin kesal.

“ya! Ya! Ya! Siapa bilang aku tua!!”

“aku benci padamu! Lee donghae bodoh!!”

Yoona berhenti memukul. Kaki-kaki kecilnya perlahan berdiri menumpu tubuh mungil itu untuk kemudian berjalan cepat. Meninggalkan donghae yang masih tersenyum tak percaya pada yoona yang kala itu merajuk hanya demi pertanyaan yang sungguh tak donghae ketahui jawabannya.

Yoona menghentak tanah dengan kesal saat petir pertama menggelegar. Kemudian rintik perlahan turun dan kemudian berubah menjadi deras secara perlahan.

Rumah coklat yang yoona tinggali berjarak tak lebih dari dua ratus meter dari rumah donghae. Ada persimpangan dan tikungan arah kiri akan membawanya menuju rumah paling ujung.

Disanalah, yoona habiskan sepuluh tahun hidupnya bersama appa.

Yoona menggerutu semakin kesal ketika hujan membasahi lengannya yang tertarik keatas demi membiarkan kertas tugas miliknya basah. Tak apalah, hanya agar ia tak perlu sakit dan terpaksa menelan butir obat sebesar ibu jari, yoona tak masalah dengan menyalin ulang tugas-tugas sekolahnya.

Ia berlari kecil. Gosh! Bahkan ia belum menyentuh persimpangan setelah berlari cukup lama. Yoona tak menyangka bertubuh pendek membuatnya begitu kesulitan. Melihat hitam awan yang mengerikan seolah hampir menelannya bulat-bulat, yoona yakin ia akan basah sesampainya dihalaman rumah nanti.

Tapi, ternyata dugaannya salah.

Yoona terdiam ketika kemudian donghae datang, menutupi kepala mereka dengan hoodie tebalnya lalu tersenyum. “tadi aku memanggilmu. Hujan hampir turun, jadi omma memintaku untuk membawakanmu payung”

Donghae kemudian mendekatkan tubuh mereka. merangkul bahu yoona kecil yang masih menatapnya bingung lalu menuntun gadis kecil itu untuk berjalan lebih cepat.

“tapi payungnya rusak. Jadi, kuantarkan kau pulang seperti ini saja.” Donghae kemudian memilihkannya jalan agar mereka tak perlu menyentuh genangan air. Membuat lelaki itu kehilangan perlindungan hoodie-nya karena yoona harus berjalan terlebih dahulu.

Dingin kemudian menyergap yoona ketika lengan donghae yang basah kembali menyentuh bahu ringkihnya. Lalu tanpa beban lelaki itu tersenyum, menariknya untuk berjalan semakin cepat. Seakan hujan bisa saja melunturkan tubuh mereka. melindunginya hingga halaman rumah dan kemudian membantunya meraih handuk dari appa.

Donghae kemudian menggunakan baju yang memang sudah tersedia khusus disana. Terlalu sering bermain bersama membuat donghae tak ragu untuk menganggap rumah mereka sama. Lelaki itu bersikap seolah appa adalah ayah kandungnya. Dan ia, diterima begitu baik disana.

Lelaki itu meraih teh hijau yang disediakan khusus oleh appa lalu bersandar manis pada dinding kamar yoona dan menatap pinggiran pantai dengan tenang. Kedua bola matanya berbinar terang ketika angin menyeret ombak menuju tepian.

Buih putih itu adalah kesukaannya.

Sementara yoona harus tersenyum, karena hujan adalah kebahagiaannya.

“kau bisa sakit”

Donghae melirik yoona ketika ia menggerutu sengit ditengah keheningan mereka. ia kemudian tersenyum lalu kembali menatap bibir pantai dengan tenang. “kalau begitu ayo sakit bersama” jawabnya singkat.

Anehnya, yoona tak merasa puas dengan itu. “aku tidak sedang bercanda, oppa”

“apa aku terlihat sedang melucu, yoong?”

“oppa!!”

“anggap saja aku harus meminta maaf karena tidak bisa menjawab pertanyaanmu. Aku benar-benar tidak tau. Jadi, aku minta maaf” donghae kemudian berbalik dan menatap yoona lembut. Kedua bola mata yang yoona yakin sudah meluluh lantakkan konsentrasinya untuk terus merajuk pada donghae. “lagipula, omma  pasti akan marah jika tau kau pulang dengan membawa pakaian basah hasil permainanmu dengan air hujan.” Donghae melirik gelas teh miliknya lalu tersenyum kecil.

“aku suka hujan”

“tapi tubuhmu tidak”

“tubuhku juga suka hujan!”

Donghae tertawa saat perdebatan sengit yoona justru membuatnya terlihat begitu lucu. Gadis kecil itu masih pencemburu. Perajuk ulung dan anehnya donghae tak mampu melawan meski hanya untuk sepersekian kesempatan.

“arraseo. Kau dan seluruh sel-sel dalam tubuhmu menyukai hujan”

Dan ia mengalah. Kemudian merasa begitu bahagia ketika senyum polos kecil yoona tercipta. Sesederhana itu saja. Ia terkekeh lalu mengacak rambut yoona gemas, “tapi kau tidak suka obat-obatan. Jadi, jangan memberikan mereka celah dengan bermain hujan saat udara begitu dingin seperti ini. Arra?!”

Ia menatap yoona menunggu persetujuan. Lalu ketika helaan nafas yoona terdengar, donghae tersenyum lebar-lebar. “gadis pintar” sambungnya cepat.

Ketika percakapan mereka usai, rintik hujan mereda dan surya kembali berjaya. Matahari mengambil aliih kelabu langit dengan sinarnya dan donghae tau itulah saat ia harus pulang. Donghae meraih payung kecil bermotif bunga milik yoona lalu mengacak rambutnya yang sedikit lembab. “sebaiknya oppa pulang. Jangan lupa minum teh hangatmu” bisiknya sebelum berdiri.

Kemudian payung kecil itu terbuka lebar-lebar. Donghae lalu berdiri dan hampir melangkah ketika ujung tshirt abu-abu miliknya tertahan.

“oppa mianhae”

Yoona berdiri, menanggapi mimik wajah donghae yang seperti tak paham. Ia kemudian menepuk kedua belah pipi donghae dengan lembut lalu tersenyum tipis.

“kau juga basah. Kau juga tidak suka pil-pil obat sebesar ibu jari itu. Tubuhmu juga tidak suka hujan. Tapi..” yoona menghela nafasnya sesaat “tapi kau melakukannya. Maaf karena menjadi beban untukmu. Dan,, terimakasih karena malindungiku”

Donghae tersenyum saat kalimat terakhir tercipta. Ditepisnya tangan yoona yang kemudian berubah menghangat lalu menunduk menyamakan tingginya dengan gadis berumur sepuluh tahunan itu.

“kalau kau belum lupa, kau tanggung jawabku. Aku oppa-mu, yoong. Dan itu tugasku”

Jemari donghae kemudian kembali mengacak rambut legam yoona sebelum berpamitan pergi dan menghilang dibalik dinding pembatas kamar yoona. Dari balik bilik rumahnya, yoona melihat donghae berjalan cepat melewati pagar tanaman yang hanya menutupinya hingga sebatas pinggang. Ia tersenyum, melambaikan tangannya dengan mata teduh lalu menghilang dipersimpangan.

Dan sore itu, saat kelabu masih mewarnai detik yang berlalu, yoona menatap kertas tugasnya yang mulai luntur lalu tersenyum. Ketika kemudian petir kedua menggelegar dan seketika ia tau, jika hangat itu telah lama hadir dari sosok lee donghae.

 

 

__

“kau akan pergi?”

“hmm..”

“pukul berapa?”

Donghae menarik ujung bajunya untuk turun lalu melirik jam sederhana diatas nakas tempat tidurnya. “pukul satu” jawabnya yang kemudian berjalan menuju ujung kamar dan meraih salah satu sepatu olahraga miliknya.

“aku tau kim sosaengnim sedikit tidak waras, tapi membiarkan kalian berlatih pada jam-jam panas seperti ini membuatku berpikir jika mungkin dia memang gila”

Yoona mendengar tawa donghae dari dalam kamar mandinya. Lelaki itu kemudian keluar dengan wajah basah dan handuk ditangannya. Ia mendekat, membiarkan bau mint dari sabun permbersih wajahnya menyapa yoona dengan lancang lalu tersenyum hangat dan menarik pipi yoona geram.

“dia guruku. Bagaimana bisa kau mengatakannya gila” donghae kemudian menunduk. Meraih botol minum bening dari genggaman yoona lalu menaruhnya didalam tas.

“maaf harus meninggalkanmu pada saat jam makan siang. Tapi omma pasti sangat kerepotan jika tidak dibantu. Aku bisa mengandalkanmu, kan?!”

Yoona mengangguk dan menepuk bahu donghae pelan. “cepat pulang. Atau perlu aku mengantarkanmu bekal?”

“tidak perlu.” Lelaki itu memperbaiki bajunya lalu bersiap menggunakan hoodie. “tapi jika kau memaksa, baiklah aku ijinkan” candanya kemudian.

Yoona menahan tawanya dengan tersenyum tipis. Melihat donghae yang berkeliaran disekeliling kamarnya membuat lelaki itu semakin bersinar. Ia baru saja terpilih sebagai ketua tim basket tahun ini. Melanjutkan jabatannya tahun lalu dan itu membuatnya merasa begitu senang.

Donghae bukan tipe lelaki pintar. Tapi tanpa itu, ia masih dapat berbaur, memiliki banyak teman dan prestasi. Karena lebih dari itu, sesungguhnya ia adalah lelaki cerdas. Tahun ini  lelaki itu sudah menginjak tahun ketiga sekolah menengah pertama. Dan yoona juga sudah berada diambang sekolah dasarnya.

Biasanya, sepulang sekolah, mereka akan membantu omma untuk melayani pembeli yang datang ke restoran keluarga donghae. Dan ketika sore harinya yoona akan pulang dengan masakan yang ia bawa untuk appa.

Begitulah jalinan pertemuan yang mereka rajut dulu.

Kini, selain appa, yoona memiliki donghae sebagai sandarannya. Ia juga memiliki omma dan banyak hal baru  yang donghae tunjukkan padanya. Lelaki itu tumbuh dengan cepat, begitupun yoona.

Dan perasaan mereka.

“aku akan datang pukul dua, setelah restoran mulai sepi pengunjung. Oppa ingin dibawakan apa?”

Donghae sudah siap dengan tas miliknya. Ia kemudian berjalan mendekat, membuat yoona yang tengah duduk diatas speaker besar yang terletak didekat pintu keluar ikut berdiri. Ia kembali tersenyum hangat, menggenggam jemari yoona lalu mengecupnya cepat.

“apapun hasil dari jemari lentikmu pasti terasa luar biasa.” Ia kemudian mengacak rambut yoona gemas ketika panggilan bung so, salah satu temannya menggema dari lantai bawah. “oppa kka. Saranghae” lanjutnya ringan lalu segera berlari mengejar bung so yang sudah menggerutu diujung anak tangga.

Yoona ikut berjalan turun. Dibawah, restoran keluarga donghae sudah mulai dipadati pengunjung. Ia melihat lelaki itu mengeluarkan sepeda miliknya lalu kembali menatap yoona dan melambaikan tangannya sebelum menghilang ditelan jarak.

Donghae selalu seperti itu. Cinta dan kasih sayangnya yang selalu berlimpah, membuat lelaki itu terus mengucacpkan janji jika ia mencintai yoona tanpa kenal waktu. Dan meski tak benar-benar mengerti, hangat itu memang selalu menghampiri mereka meski dalam diam sekalipun.

 

 

“kau akan pergi?”

Yoona menatap omma dari meja pantri restoran, tersenyum kecil mengingat pertannyaan itu seperti tak asing lagi baginya. “eum,, mungkin sudah terlambat tapi aku ingin mengantarkannya makanan, omma”

Yoona kemudian menyelesaikan bekal bawannya ketika omma tersenyum dan membiarkannya untuk pergi. Restoran sudah tidak sepadat sebelumnya. Jadi, setidaknya ia punya waktu untuk menemui donghae meski yoona yakin kurang dari satu jam lagi lelaki itu akan menyelesaikan latihannya.

“eoh, selamat datang!!”

Yoona kemudian menunduk ketika derit pintu terdengar. Setelah itu, hal yang pertama ia lakukan adalah mengerutkan dahinya tak percaya.

“ada yang bisa saya bantu?” yoona kemudian berjalan mendekat, meninggalkan bekal bawaannya sejenak demi lelaki tinggi yang sepertinya tengah kebingungan itu. Ditangannya ada benda kotak yang jika yoona tak salah terka bernama notebook. “sepertinya kau pendatang baru” tutur yoona melanjutkan.

Lelaki itu kemudian tersenyum canggung. “aku baru datang tiga hari yang lalu dan sekarang sedang mencari wifi. Apa restoran ini menyediakan wifi?”

Yoona merengut seketika. Wifi? Seperti tidak pernah mendengar kata asing itu, yoona kemudian menggeleng pelan. “wifi itu apa?” tanyanya polos.

Lelaki tinggi itu kemudian menggaruk tengkuknya. Entah dia tengah malas menjelaskan atau segan dalam artian yang baik. namun asumsi yoona membuatnya menarik kesimpulan jika lekaki itu juga tidak tau harus menjelaskan apa.

“wifi itu..” ia kemudian melirik langit-langit restoran sebentar. “hotspot! Ah, iya. Wifi itu hotspot!” jelasnya bersemangat.

Yoona kemudian mengangguk mengerti. “ah,, aku paham. Tapi kami tidak menyediakan hotpot. Kau bisa mencari restoran lain jika—“

“bukan, bukan! Hotspot. Bukan hotpot” yoona kemudian mundur ketika lelaki itu kemudian mengacak rambutnya kesal. “untuk menghubungkanmu dengan internet. Apa kau juga tidak tau internet?”

Belum sempat menjawab, ia sudah berbalik dan menghentak ponselnya keras keras. Yoona mengangkat bahunya acuh lalu kembali mengemasi bekal miliknya. Samar-samar ia mendengar suara keluhan dari arah luar lalu mendesah geram.

Yoona tau ia tinggal di desa terpencil. Seharusnya, jika memang ingin koneksi lebih cepat tidak perlu mendatangi desanya yang memang masih kekurangan banyak fasilitas ini. “omma, aku berangkat!”

Yoona kemudian mengeluarkan sepeda miliknya. Membiarkan lelaki itu menggerutu lalu memacunya menuju lapangan basket tak jauh dari bangunan sekolah donghae.

Ketika ia sampai, lelaki itu masih sibuk dengan bola dan permainannya. Yoona memilih duduk dipinggiran lapangan, didekat tas hitam donghae yang memang tersisihkan lalu tersenyum menatap lelaki itu kagum.

Donghae itu mataharinya. Semenjak ia datang, kelam yang datang dari fakta kematian omma perlahan menjadi terang bahagia. Ia mampu membawa yoona dalam tawa yang tak disangka-sangka. Dan sadar atau tidak, yoona menyukainya.

 

__

Lalu mereka tumbuh seperti yang seharusnya terjadi. Pergolakan cinta yang tak mungkin lagi disembunyikan membuat donghae harus menyatakan perasannya tepat ketika yoona baru saja menyelesaikan sekolah menengahnya.

“bisakah,, aku lebih dari sekedar kakak bagimu?”

Pertanyaan itu mengejutkan yoona di musim dingin pertama tahun itu. Ketika salju turun dimalam donghae membawanya untuk berjalan menyusuri tepian pantai yang perlahan mulai membeku.

Bibir lelaki itu bergetar diterpa angin yang melayang ringan menuju arah yoona. Tubuh tingginya melindungi yoona yang berdiri diantara hangatnya donghae dan tingginya pohon kelapa yang masih sibuk melambaikan dedaunannya.

Kedua mata teduh donghae menatapnya lembut. Setiap kali bernafas, lelaki itu akan menelan liurnya sendiri, berhenti untuk bersikap seperti pecundang dengan menunjukkan kelemahannya akan rasa dingin dengan cara yang salah.

“a—aku..”

“nan saranghanikka” donghae menunduk, menatap tanah demi mengumpulkan keberaniannnya, memejamkan matanya erat lalu perlahan memberanikan diri mengayunkan jemarinya. Membiarkan hangat itu terbagi dalam genggaman tangan mereka yang sontak membuat yoona semakin tak dapat berkata-kata.

Dalam kediamannya, yoona tersipu malu. Merah muda itu menghiasi pias pipinya yang membeku dipermainkan dingin.

“oppa,, mencintaimu yoong” lanjut donghae seakan pernyataan yang ia lontarkan sebelum ini tak cukup untuk meyakinkan yoona. “tidak ada lelaki sempurna didunia ini. Oppa mungkin akan menyakitimu dalam pertengkaran kecil kita. Tapi, kita bisa melewatinya bersama. Asalkan bersamamu, oppa yakin hidup dengan sederhana pun akan terasa luar biasa”

“aku juga bukan wanita sempurna”

Kerutan itu kemudian menghiasi wajah donghae dalam sekejap. Jawaban yoona tak menegaskan apapun. Wanita itu tidak menjawab atau bahkan menolaknya. Maka kemudian donghae mempererat genggaman tangannya, meminta penjelasan yang lebih dapat ia mengerti.

“maksudku,,” yoona kemudian diam, merasa sedikit jengkel pada sikap donghae yang terlalu kuno. Ia memang tak pernah mendekati wanita manapun selain yoona. Anehnya, disaat hampir semua wanita mengejar pesonanya, donghae justru tak mengerti cara memperlakukan wanita dengan benar.

Atau mungkin saja yoona adalah pengecualian.

“aku juga menyukaimu sejak lama, oppa”

Dan kemudian sesederhana itu saja.

Kedua tungkai yoona seakan melemah ketika senyum bahagia donghae tercipta. Lelaki itu kemudian menghembuskan nafas besarnya lalu memeluk yoona tanpa aba-aba. Membuat tubuhnya seolah-olah seperti garam yang disirami air. Luruh. Lemah tak berdaya.

Donghae melingkarkan kedua tangannya tepat dibelakang tubuhnya. Menarik yoona masuk lebih dalam pada hangat tubuh donghae yang selama ini terasa begitu sempurna. Lalu malam itu semua terasa berbeda. Bahagia itu benar-benar tak terlihat. Namun ketika ia dapat menyergapmu dalam diam, maka bahagia seluar biasa itulah yang kau dapat.

“i get you!” donghae bergumam, bertermakasih. Lalu ditengah deburan ombak yang mengganas dan putih salju yang perlahan rutun lelaki itu mulai menatapnya dengan cara yang berbeda. Ada semburat merah yang kini menjalar diseluruh pipi yoona ketika cinta yang meluap-luap itu hadir dari kelam mata donghae.

Ia menunduk malu, dan tepat setelahnya bibir donghae menyecap kening yoona lembut. Penuh kemesraan yang hadir hanya melalui hening dan dingin yang ada.

Donghae menahannya lama dan terus menghembuskan nafas bahagia. Mencuri ciuman kening pertama yoona lewat keseriusan yang ia janjikan lewat berdebatan batin mereka. membuat yoona tersentak, dan bahagia dalam waktu yang bersamaan.

Dan malam itu, donghae melakukan hal mengejutkan pertama usai delapan tahun kebersamaan mereka.

 

 

Lalu semua berjalan begitu cepat ketika akhirnya donghae memberanikan diri untuk mendatangi appa. Menjelaskan pada lelaki ringkih yang belakangan terlihat sedikit kurus itu mengenai hubungan mereka dan niatannya untuk melamar yoona.

Lelaki tua itu kemudian tersenyum usai donghae bercerita panjang. Jelas, donghae tak pernah sekalipun ditolak dalam keluarga mereka. kedekatan donghae yang terus membayangi yoona membuat lelaki itu sadar cepat atau lambat ia akan melepas putri kecilnya yang perlahan beranjak dewasa itu pada donghae.

Esoknya, dihari ulang tahun donghae, sebuah cincin perak menghiasi jemari yoona dengan anggun. Ia kemudian berubah menjadi lelaki dewasa ketika mendapatkan pekerjaan di kantor desa setempat lalu berencana akan manikahi yoona ketika ia telah berhasil mengumpulkan dana demi acara mereka.

Umur belia yang masih membelenggu yoona tak membuat donghae jenuh. Seluruh kehormatan wanita itu menjadi tanggung jawabnya.

Donghae tak pernah menyentuh yoona lebih dari sekedar pelukan. Atau ciuman hangat yang romantis dikening wanita dengan tinggi yang kini telah mencapai dagunya itu. Ia menghargai yoona yang tumbuh sebagai wanita yang nanti akan mendampinginya di masa depan.

Bagi donghae, memiliki yoona secara utuh dalam ikatan suci adalah impian tertingginya.

Namun kemudian semua berubah ketika yoona kehilangan appanya. Lelaki yang pergi melaut itu menghilang dan ditemukan empat hari setelahnya dengan tubuh membusuk diatas kapalnya yang terseret arus laut.

Appa meninggal karena kekurangan bahan makanan ditengah kapalnya yang berhenti. Kekosongan bahan bakar mendasari kematian appa dan tiga anggota kapal lainnya.

Yoona terpukul.

Semua orang kini menatapnya dengan tatapan iba.

Makam appa tepat berada disamping omma dan kini dua gundukan tanah itu mencemooh yoona. Meninggalkannya sendiri didunia kejam yang luas ini. Membiarkan air mata dan tenaganya habis demi menjalani kehidupan ganas seorang diri.

Lalu seolah segala kesedihan itu belum cukup untuk menghancurkannya, kemudian yoona kehilangan donghae.

Pria itu pergi, tepat dihari kelulusannya dari sekolah menengah akhirnya. Ia berjalan menjauh, menyeret koper besar tanpa ingin mendengar raungan menyedihkan yoona yang memanggilnya untuk tetap disana.

‘apa keadaanku membuatmu malu?’

Seberkas pertanyaan konyol itu kemudian terlontar begitu saja. Seolah keadaannya yang kini hidup tanpa kedua orang tua ataupun sanak keluarga telah membebani moral dan harga diri donghae dihadapan masyarakat luas.

Lalu jawabannya sungguh mencengangkan.

‘aku hidup untuk bahagia, yoon. Maka jika aku pergi, hanya ada dua hal yang salah. Kau atau keadaan’

Konyolnya, kalimat singkat yang sederhana itu menjawab segalanya. Donghae benar-benar pergi dan tak lagi kembali. Lelaki lembut yang penuh kasih sayang itu mengeras dan tak ingin lagi mendengar.

Dan kelam itu menyelimuti yoona dalam serpihan harga diri dan pesakitan yang mematikan hidupnya. Tangis kencang yoona tak berdampak apapun pada hidupnya. Kebodohan dan kepolosan menuntunnya untuk terlalu percaya jika cinta donghae memang sempurna.

Lalu setelah bulanan berlalu yoona mulai percaya, jika sebenarnya ia memang harus terus maju. Berjalan. Meninggalkan masalalu kelamnya bersama siapapun yang perlahan terkubur oleh ruang dan waktu.

Dan hari itu, tepat setelah rumah peninggalan appa laku terjual. Ia memberanikan diri untuk mengenal dunia luar. Membuka lembar baru demi meninggalkan luka gores menganga dalam hati kecilnya.

Lalu disanalah, yoona menemukannya.

Cinta baru bernama cho kyu hyun.

 

Kkeut.

Kyaaa jangan bully aku :” aku udah berusaha buat fokus tapi mood nulis aku menghilang ketika kutemukan rumah dan segala kerinduanku didalamnya. Maaf banget ya,, kkk. Aku keasikan liburan sepertinya. Jadi, aku post ini sekarang. Dan belum bisa mastiin kapan lanjutannya.

Tapi janjiku belum kadaluarsa loh.

Aku bakal capai ending dengan cerita yang temannya mulai sulit menemukan jalan keluar ini. Jadi, yang masih mau nunggu, aaaa makasih bangeett!!

ini masih bannyak yang harus dibongkar. jadi sabar-sabar aja yaa. aku masih harus kasih pov donghae. gimana masalah kyuhyun dan yoona juga masalah yoona dan donghae juga masalah kyu hyun dan donghae. aku bakal perjelas di series depan. insyaallah aku usahain lebih cepat. dan doakan aja ya, alih-alih aku keasikan liburan lagi.

dan buat yang kemarin komen di ceritanya kak feb (redwinebluesky) hihi bikin aku ketawa aja. kalian lucu banget deh. aku sama kak feb itu susah akur, soalnya kak feb suka banget cerita angst -_- sementara aku kan lebih suka yang romance gimana gitcu kkk. tapi kita gak suka kelahi kok. kak feb kakak yang luar biasa dan masukannya selalu ngebangun aku.

say thanks to kak feb ya! dia yang bikin tulisan aku berkembang loh, hehe ^^

Last, Love you all.

ps : insyaallah, karna lagi lowong, aku bakal bales komen kalian. mau nanya sesuatu, boleh. aku mau kita lebih akrab lagi, arrachi?!

With love, Park ji yeon.

256 thoughts on “Unexpected : How its begin..

  1. apa yg nyari “HOTPOT” itu kyuppa ? liat lagaknya yg tengil selangit itu sih kayaknya dia banget . hahaha …😀
    masa lalu yoona and donghae kayaknya so sweet gitu . donghae begitu menghormati yoona , gak kaya seseorang . trus knp donghae hrs pergi ?

  2. masalalu yoonhae manis tp sedih juga
    donghae sgt menghormati yoona sbg wanita sayang jg sama yoona tp knp tiba” pergi gtu aja ga ada kaabar?

  3. duhh sweet juga YoonHae masa lalu nya
    tapi tetap itu masa lalu beda dgn skrng dan masa depan , apapun ntar tetap yg terbaik buat yoona
    makinn seru thorr
    ijin lanjut baca

  4. oke, donghae baik .. tapi terlanjur jatuh cinta sama kyuna 😦
    kangen moment mereka.. meskipun kyuhyun agak keras,tapi dia sebenernya baik sayang banget sama yoongie .. tapi memang caranya beda, plus emang egonya tinggi banget.. itu yang perlu di buang
    kenapa aku jd protes gini wkwk
    author sukses dech buat karakter kyuhyun jd badboy .. tapi ngangenin ..ehhh 😀

  5. Donghae dan kyuhyun baik kok… tpi klu aku liat dri cara donghae agak salah. Mending ama kyuhyun aja dia mencintai yoona dgn cara berbeda

  6. Msa lalu mereka aga mris jga tapi …plis onnie jgan trpengaruh ma msa lalu ,coz kyuhyun oppa mner2 syang bnget ma onnie…hehehe

  7. meskipun masa lalu yoona ma donghae mnis
    aku ttap dkung kyuhyun
    karna dia yg pergi akan terkalahkan dngan yg slalu ada
    tpi skarang kyuhyun jga lbih mlih menjauh dri yoona
    aku dkung kyuna eonni so aku hrap endignya kyuna

  8. ending kyuna please
    meskipun yoonhae udah banyak melewati kebersamaan dari kecil
    tapi benci saat donghae tiba2 ninggalin yoona waktu appa nya meninggal

  9. ternyata yoona dan donghee punya hubungan di msa lalu .dan mereka semakin dkt krena mempunyai latar blakang yang hampir sma .tpi apakah yang bertanya tentang hotspot sama yoona itu kyuhyun ..?

  10. Aku suka karakter donghae dsini yg benar2 menjaga kehormatan yoona. Beda banget dgn kyuhyun. Tp meskipun bgtu aku ttep ngedukung yoona sm” kyuhyun. Hahahaha

  11. Okk, jdi ini asal mula donghae sma yoona ? Hah hidup yoona memilukan, dia benar bnar ngerasain terpuruk. Dan untuk hae tentu aku gk bkal prasangka buruk dlu, krna dia pergi pasti ada alasannya, so, kita lnjut sma cerita selanjutnya

  12. Memilukan cerita hidup nya yoona di sini, aku penasaran laki laki yg cari wi fie tadi itu siapa , mungkinkah kyuhyun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s