Missing You (Three of Three)

IYAF

Tittle : Missing You (Three of Three)

Cast : Im YoonA, Lee Donghae, Jessica Jung, Cho Kyuhyun, Lee Soo Man, other

Genre : sad, romance, hurt

Length : Three shoot

Author : Yuna21

Rating : PG

Author’s Note : Halo! Wah, wah, wah. Nggak nyangka banget nih, ternyata FF ini udah nyampek di part end. Jujur saja, ini FF pertama yang kubuat hany dengan panjang threeshoot. Moga, moga aja bisa memuaskan ya.. aku masih nggak yakin ini bakalan sedih *hehe* RCLnya jangan lupa! Sedih endaknya ada di tangan reader.. Happy Reading!!

 

“ I’m here stuck in the dark that no one knows.

I missed you were always there when I am in pain.”

Kaki kecil Yoona melangkah di tengah deburan angin yang begitu kencang. Ia tak peduli dengan sekitarnya, bahkan ia tak peduli dengan apa yang ia kenakan kini. Hanya kaos dan celana pendek yang digunakanya untuk menutupi tubuhnya, padahal udara saat ini begitu dingin. Jujur, Yoona hanya merasakan satu hal dalam benaknya. Sakit. Itu yang berhasil membuatnya seperti orang tak bernyawa. Betapa perih hatinya kini. Penderitaan yang ditanggungnya begitu besar. Apakah dosanya selama ini? Kenapa Tuhan memberikan cobaan yang begitu berat padanya?

Entahlah. Hanya takdir yang tau. Mungkin beginilah kisah hidupnya. Mungkin Tuhan ingin menguji kesabarannya saat ini. Langkah demi langkah ia jalani dengan penuh rasa sakit. Yoona masih mengingat jelas bagaimana sikap Donghae selama beberapa bulan ini. Pria itu sangat memperhatikannya. Bahkan dia melebihi perhatian Kyuhyun padanya. Donghae selalu tau apa yang dirasakan Yoona, apa yang diinginkan, apa yang disukai, apa yang tidak ia sukai dan bahkan bagaimana perasaan Yoona pada Jessica. Begitu juga sebaliknya.

Selama ini pria itulah satu – satunya orang yang mengerti dirinya. Ia sangat berharap tidak mendapat rasa kecewa. Tapi apa? Inikah yang ia harus dapatkan? Ini sangat menusuk hatinya. Bahkan jauh lebih sakit dari apa yang pernah ia rasakan.

Sebuah napas dihembuskannya berat. Sebelah tangannya menggenggam gagang pintu dengan cat warna putih ini. Dengan pelan tangannya membuka pintu rumahnya. Mungkin ia merasa masih belum siap dengan semua ini. Apa daya, ia harus siap dengan semua kenyataan yang begitu pahit.

“Yoona, kenapa kau baru pulang? Aku sangat mengkhawatirkanmu.”sebuah suara membuat wajahnya terangkat. Terdengar suara berisik kaki Jessica yang menuruni tangga. “Kau dari mana saja, heng?”tanya Jessica dengan raut wajah sedikit khawatir.

Seolah tak peduli apapun. Seolah tak peduli dengan apa yang dikatakan orang yang paling ia sayangi ini, Yoona melangkahkan kakinya dengan cepat menaiki tangga. “Yak! Im Yoona! Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku? Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Langkah Yoona terhenti di tengah tangga. Badannya sedikit berbalik ke arah Jessica. Raut wajahnya tak seperti biasa. Dingin dan datar. Sorot matanya menatap Jessica dengan tatapan yang tak biasa pula.

Perlahan mulutnya terbuka. “Peduli apa eonnie padaku?” Kalimat sederhana yang dilontarkannya begitu menusuk mengenai dada Jessica. Jelas ini membuatnya heran. Tak biasanya adiknya bersikap seperti ini. “Tentu saja aku peduli. Kau itu adikku!”balasnya.

“Oh ya? Kupikir selama ini aku budakmu.”

“Yoona-ya! Kau ini bicara apa, heng?”

“Huh,”dengus Yoona kesal. “Eonnie, sudahlah jangan banyak berbasa – basi. Ini sangat membuang waktuku.”jawab Yoona penuh penekanan. Tak dihiraukannya lagi panggilan dari sang kakak. Kakinya terus melangkah. Menaiki tangga menuju kamarnya. Dengan begitu kerasnya tangan Yoona menghempaskan pintu.

Tubuhnya bersandar dibalik pintu. Matanya melihat ke sekeliling. Ia sadar ini salah. Tapi ia sudah tak bisa menahan rasa sakit ini. Bahkan ia merasa bertambah sakit saat mengatakan hal itu pada Jessica. Tanpa sengaja, setetes air mata bergulir di pipinya. Tuhan, kuatkanlah aku….

oOo

Other side….

Jessica menatap jejak Yoona. Sebuah senyum kekesalan nampak di wajahnya. Matanya menatap lurus ke depan. Sebuah dengusan keluar darinya. “Kau sudah menyadarinya? Itu lebih bagus, karena akan lebih mudah untukku menyingkirkanmu.”ucapnya terlebih pada dirinya sendiri.

Kakinya mulai melangkah menaiki tangga, berusaha menyusul Yoona. Tepat di depan pintu kamar Yoona langkahnya terhenti. Tangannya berusaha mengetuk pintu beberapa kali. “Yoona, mianhae. Eonnie tidak bermaksud untuk menyakitimu..” Tak ada balasan sama sekali yang terdengar. Sekali lagi Jessica mencobanya, dan kini dengan nada yang sangat bersalah. “Yoona, eonnie benar – benar minta maaf. Eonnie tau kau pasti merasa dikhianati. Tapi sungguh, eonnie tak pernah berpikir untuk menyakitimu sebelumnya.”

Masih tak ada respon dari dalam. “Baiklah, mungkin kau belum bisa memaafkan eonnie-mu ini.”ucap Jessica dengan pasrah. Dengan raut bersalahnya ia membalikkan badannya. KREK! Suara pintu terbuka menghentikan langkahnya. Sebuah senyum licik penuh kemenangan terlukis indah di wajahnya.

Dengan cepat badannya berbalik. Penuh rasa penyesalan sengaja di pajangnya. “Yoona, maafkan eonnie. Jebal.” Yoona hanya berdeham. Pandangannya menatap ke arah lain. Ia tak bisa melihat Jessica yang seperti ini. Tapi ini harus dilakukannya. Tangannya menghempaskan Jessica dari hadapannya.

Otomatis ini membuat Jessica lemah. Dengan sengaja dijatuhkannya dirinya di atas lantai yang begitu dingin. “Yak! Sica!” Sebuah seruan membuat kepala dua orang ini menatap ke bawah. Nampak Donghae yang hendak menaiki tangga. Dengan cepat laki – laki itu menaiki tangga. Matanya menatap tajam ke arah Yoona sejenak, lalu membantu Jessica untuk berdiri. “Gwaenchanhayo?”tanyanya. “Ne.”balas Jessica lemah.

Kini pandangan pria itu tertuju pada Yoona yang hendak menuruni tangga. “Yoona, apa yang kau lakukan? Apa kau tidak tau jika kakakmu ini sedang sakit? Apa yang sebenarnya ada dalam pikiranmu?!”ucap pria berparas tampan ini.

Perlahan badan Yoona berbalik. Matanya menatap dengan dingin dua orang di hadapannya. Posisinya memang sedang tersudut kini. Tapi ia tetap tak boleh memperlihatkan sisi lemahnya. “Sakit?”tanyanya dengan nada sedikit meninggi. “Eonnie sakit? Oh ya aku baru tau…”jawabnya dengan nada yang jelas mengandung kepalsuan. “Sekarang aku bertanya. Siapa yang sesungguhnya lebih sakit di sini?”lanjutnya penuh keangkuhan. Bersama egonya gadis ini menjauh. Ada sebuah tangis yang ditahannya. Sungguh, kenapa ia merasa seolah menjadi orang yang paling bersalah.

Donghae menatap gadis ini tak percaya. Im Yoona yang ia tau bukanlah yang seperti ini. Rasa kecewa dan tidak terimanya mencuat. Kakinya hendak melangkah mengejar Yoona untuk mendengarkan apa yang sebenarnya ada di dalam pikiran gadis itu.

TAP! Sebuah tangan menghentikan langkahnya. Matanya melirik Jessica yang mencegahnya. Perlahan kepala gadis ini menggeleng dengan raut memelas. Donghae tak mengerti mengapa dirinya tak mampu menolak raut itu. Ini membuatnya melemah dan menggagalkan niatnya.

oOo

Back to Yoona…..

Sunggu ia tak mengerti kenapa semua orang tak bisa memahami perasaannya. Tak ada yang bisa ia rasakan selain sakit. Setetes air mata kembali mengalir. Sebelah tangannya memegang perutnya. Apa yang harus dilakukannya dengan kondisi seperti ini? Siapa yang akan menanggung ini? Hanya dirinyalah yang bisa. Ini adalah resiko yang harus ia tanggung. Beban yang begitu berat.

Punggung tangan Yoona menghapus air matanya. “Aku akan menanggung ini. Aku berjanji akan menjagamu.”ucapnya dengan tegar. Rasanya ini sungguh tak adil. Tapi ia tak akan bisa menggugurkan bayi dalam rahimnya. Ia tak tega untuk melakukannya. Jika ia lakukan, maka penyesalan yang teramat dalam akan ia alami, bahkan lebih dari ini.

“Yoona.”sebuah suara yang begitu dihafal gadis ini membuat kepalanya mendongak dengan cepat. Matanya menangkap sosok Kyuhyun yang berdiri di hadapannya. Sebuah senyum dipaksa mengembang di tengah rasa perih yang masih ia rasakan. Pria itu berjalan dan terduduk di sampingnya. Matanya menatap ke arah Yoona lekat – lekat. “Apa kau menangis? Apa yang mereka lakukan padamu? Cepat katakan, aku tidak bisa tinggal diam.”tanya Kyuhyun cepat.

Yoona hanya mampu menggelengkan kepalanya lemah sambil tersenyum. “Aniya.. aku tidak menangis. Ini tidak sama sekali ada hubungannya dengan mereka, oppa..”ucapnya lemah lembut. Kyuhyun menatap tajam ke arah Yoona sejenak. “Kau jangan pernah berbohong. Katakan saja padaku. Oh ya, apa kau merasa ingin memakan sesuatu atau apa?”

“Kenapa oppa bertanya seperti itu?”

“Hei, wajar saja. Dimana – mana orang hamil pasti ada sesuatu yang mereka inginkan.”

“Kalau itu aku tau. Maksudku untuk apa oppa bertanya seperti itu?”

“Aku ini dokter.”

“Tapi kau bukan doter kandungan.”

“Itu tidak masalah.”

“Tetap saja. Dokter kandungan dengan dokter umum itu berbeda.”

“Kalau begitu, aku bertanya sebagai ayah dari anak itu.”

DEG!

Sontak kalimat itu membuat dada Yoona berhenti berdetak. Senyumnya yang mulai mengembang, memudar seketika. Matanya hanya bisa terhenti. “Hahaha…. aku bercanda.”ucap Kyuhyun memecah ketegangan. Hampir saja Yoona beku di tempat atas ucapannya. “Yak! Oppa!”seru Yoona sambil memukul pria ini. “Tapi jika dia menginjinkan, aku dengan suka rela melaksanakannya. Betul tidak, hem?”tanya Kyuhyun pada perut Yoona yang mulai membuncit.

oOo

Other side…..

Sebuah mobil bercat hitam terparkir di seberang jalan. Di balik kacanya yang begitu pekat, nampak dua orang terduduk manis. Pria yang terduduk dibalik kemudi ini, tak pernah melepaskan pandangannya dari luar jendela. Matanya terus menatap Yoona dan Kyuhyun yang sedang bercengkerama.

Sesungguhnya ia merasa sakit menatap pemandangan ini. Bagaimana tidak? Kyuhyun adalah sahabatnya sendiri dan kini dia sedang bercanda ria dengan orang yang ia cintai. Tapi, ia tau posisinya kini, yang tak mengizinkannya kembali kemasa indahnya. “Aku pernah bercerit’ kan bahwa Yoona hamil.”sebuah suara memecah keheningan.

Kepala Donghae tak melihat sedikitpun ke arah Jessica. Ia terhenti sejenak, memikirkan sebuah kemungkinan. Apa jangan – jangan bayi itu adalah anakku?. “Dia memang licik. Setelah dia melakukan itu denganmu, dia melakukannya dengan Kyuhyun.”lanjut Jessica. Sontak kepala Donghae berputar menatap Jessica tak percaya. “Jinjja? Aku tidak yakin. Dia gadis yang baik.”ucap Donghae.

“Kau tidak percaya? Aku adalah kakaknya. Mana mungkin aku tidak mengetahuinya.”ucap Jessica penuh keyakinan. Mata Donghae kembali menatap Yoona. Ada perasaan menjanggal dalam benaknya. Ia masih tak yakin Yoona seperti yang dikatakan Jessica. Apa benar begitu?

oOo

Back to Yoona…..

Hari – harinya kini berubah. Ia tak lagi mempedulikan orang – orang yang sudah mengkhianatinya. Ia hanya bisa bersikap tegas pada mereka. Yoona bukanlah Yoona yang dulu. Kini dia menjadi pribadi yang baru. Pribadi yang bersikap dingin dan angkuh pada orang – orang yang tega menyakiti hatinya.

Walau ia bisa tersenyum bersama Kyuhyun, tapi tetap saja rasa sakit itu menghantuinya. Apalagi disaat ia melihat dua orang pengkhianat itu bermesraan di hadapannya. Langkahnya terhenti menatap dua orang yang sedang tertawa di ruang tamu.

Rasa cemburu yang membara mulai menyelimuti hatinya. Sebisa mungkin kakinya melangkah menjauh. Walau ia tak menatap mereka, tapi ia bisa merasakan senyum mereka yang memudar. Ia bisa merasakan tatapan Donghae yang selalu terarah padanya di saat ia tak ingin membalasnya.

“Yoona.. udiga?”tanya Jessica, berusaha mengajaknya berkomunikasi. Langkah Yoona terhenti. Perlahan badannya berbalik dan menatap Jessica dengan dingin. “Nuguya? Aku rasa aku tidak pernah memiliki seorang kakak.”jawabnya dingin. Pertanyaannya begitu menusuk. Pertanyaannya ini membangkitkan emosi Donghae yang melihat sikapnya. “Yoona.. mianhae, aku…”raut wajah bersalah Jessica kini bermunculan. Sebuah tangis keluar darinya.

Sebuah dengusan dikeluarkan Yoona. Matanya tak menatap dua orang ini. “Jika semua masalah selesai dengan tangisan.” Matanya melirik ke arah Jessica. “Mungkin aku sudah melakukan, seperti apa yang kau lakukan kini.”lanjutnya penuh penekanan.

Sungguh. Kata – katanya yang begitu menusuk ini membuatnya juga merasakan perih. Dengan cepat badannya berbalik. Ia tak mau lagi merasakan perih yang semakin mendalam. “Yak!”sebuah tangan mengcengkramnya. Matanya mendapati sorot mata Donghae yang begitu tajam. Tatapan ini tak pernah ia dapatkan sebelum. Sakit. Ia merasa sakit setiap kali pria ini menatapnya begini. “Jangan menyentuhku!”teriak Yoona. “Bisakah kau bersikap baik. Aku merasa seperti tidak mengenalmu. Apa Yoona yang sekarang adalah Yoona yang tidak memiliki hati?”lanjut Donghae.

“Hati? Apa aku punya hati?”tanyanya menahan tangis sebisanya. “Ya.. aku tentun tidak punya hati… ya..”ucapnya dengan tawa yang mengandung rasa sakit. “Aku memang tidak memiliki hati, hingga aku tidak bisa melihat kebusukan yang kalian lagikukan!”ucap Yoona penuh emosi.

Tatapan Donghae tiba – tiba berubah. Matanya menatap mata Yoona yang mulai berkaca- kaca. Kata – kata gadis ini, membuatnya tersadar. Apa yang dilakukannya ini salah. “Yoona…”panggil Donghae melemah.

Yoona menatap Donghae dan Jessica bergiliran. Matanya sudah tidak bisa menahan air yang mengepul. Kakinya melangkah mundur. “Aku, tidak punya hati…”ucap Yoona semakin melemah. Dengan cepat di balikkannya badannya. Air matanya mulai bergulir. “Yoona..”panggil Donghae semakin merasa bersalah. “Cukup. Aku sudah muak melihat kalian, aku sudah muak melihatmu Lee Donghae!”ucapnya penuh rasa sakit. Kakinya melangkah dengan cepat.

oOo

Taman. Kakinya menggiringnya ke taman yang tak jauh dari rumahnya. Disinilah biasa ia menenagkan diri dan menunggu kedatangan Kyuhyun. Ia tau Kyuhyun sibuk dan dia tidak bisa datang menemuinya hari ini. Jadilah Yoona memutuskan hanya untuk sekedar melihat – lihat.

“Apa aku mengganggu?”sebuah suara masuk ke dalam telinganya. Suara yang sangat ia rindukan. Suara yang sangat ingin ia dengar. Kepalanya berputar. Jantungnya serasa berhenti berdetak menatap pria yang sudah terduduk di sampingnya. Apakah ini mimpi? Tidak. Ini bukan mimpi.

Yoona menatapnya dingin. Ia harus bisa melewatinya. Tanpa mengeluarkan suara sedikit pun, Yoona hendak bangkit dari duduknya. “Tolong. Jangan pergi.”ucap Donghae penuh harap. Ingin sekali Yoona meghempaskan tangan pria yang mencegahnya ini. Apa daya, perutnya merasa sedikit nyeri, membuatnya memegang perutnya menahan perih. Sontak pria ini bangkit dari duduknya. Raut wajah khawatir terpampang jelas di wajahnya. “Yoona, kau tidak apa – apa?”tanyanya.

Sebelah tangan Yoona yang masih berada dalam genggaman pria ini, dengan kuat menggenggamnya untuk menahan sakitnya. Kepalanya sedikit mengangguk dengan lemah. “Aku tidak apa – apa.”ucapnya. “Bagaimana bisa kau mengatakannya? Kita ke dokter sekarang.”jawab Donghae cepat. “Tidak usah.”

“Lihat-“

“Aku bilang tidak usah.”

“Kalau begitu, duduklah sebentar.”

Yoona akhirnya menuruti kata – kata Donghae untuk terduduk. Ia tak sadar, bahwa laki – laki ini masih menggenggamnya. Ia bisa merasakan kehangatan dalam genggaman pria ini. Sungguh ini membuatnya semakin merasa hancur. “Yoona, ada apa denganmu?” Gadis ini tak menjawab. Ia hanya bisa memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan Donghae. “Yoona, apa kau marah padaku?”

Tentu saja. Sangat. Aku bahkan membencimu. Donghae menatap Yoona yang masih tak sudi melihatnya. “Aku sangat merindukanmu. Aku merindukan dirimu yang dulu.”ucapnya. “Yoona yang kau inginkan sudah tidak ada di dunia ini lagi.”balas Yoona dengan ketus. Gadis itu masih tak mau menatap Donghae. Dengan cepat tangannya memutar tubuh gadis itu agar menatapnya. Ini membuat Yoona sedikit terkejut. Matanya bertemu pandang dengan pria ini. “Mianhae Yoona – ah. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Sungguh.”raut wajah pria ini yang begitu tulus membuat hatinya luluh. “Kenapa kau harus minta maaf? Bukankah tidak ada yang pernah terjadi?”balas Yoona dengan sangat dingin. “Lupakan semuanya. Anggap saja kita tidak pernah mengenal.” Jeda. “Hingga sekarang.”lanjutnya.

Perkataanya begitu menyakitnya. Tepat menusuk di hati Donghae. “Berhentilah bersikap seperti bukan dirimu. Yoona, ku mohon. Jelaskan padaku dimana salahku.”

“Kau sungguh ingin tau?” Jeda. “Ha! Lebih baik kau tanyakan itu pada dirimu!”balas Yoona penuh emosi. “Aku tau aku tidak pantas untuk dimaafkan, tapi kumohon jangan membenciku.”

“Benci? Tentu saja! Aku bahkan tidak ingin melihatmu lagi. Sudah cukup bagiku merasa sakit.”balas Yoona penuh rasa emosinya.

“Yoon-Ah, maafkan aku telah membuatmu menderita…”

“Untuk apa kau meminta maaf?”tanya Yoona dengan senyum licik. “Bukankah aku tidak punya hati?”

“Yoona…”

DEP! Donghae tak bisa melihat gadis ini yang penuh penderitaan. Tangannya menarik Yoona ke dalam dekapannya. Ia akan jauh merasa tersakiti, jika gadis ini masih tak mau menuangkan rasa sakitnya.

Seisak tangis yang ditahan Yoona pecah dalam dekapan pria ini. Ia sudah tak bisa menahan sakitnya ini. Sungguh ini begitu sakit baginya. Ia begitu merasa lemah dalam dekapan pria ini.

Tangan Donghae perlahan tergerak. Mengelus rambutnya. Ia bisa merasakan sakit yang dirasakan gadis ini. Ia tau, ia salah karena membuat keputusan seperti ini. “Yoona, mianhae.”ucapnya sekali lagi. Perlahan kepala Yoona mendongak menatapnya. “Tak ada yang perlu dimaafkan, semuanya sudah jelas. Kumohon, oppa menjauhlah dariku. Lupakan apapun yang pernah terjadi. Biarkan aku hidup dengan tenang bersama anak ini.”

Dada Donghae terasa sesak mendengarnya. Sakit. Ia tidak bisa mendengar kata – kata Yoona yang menyuruhnya menjauh. Donghae tidak bisa hidup tanpa gadis ini. Rasanya ini sungguh sakit. “Mungkin ini keputusanmu, sebelum aku pergi bolehkah aku bertanya sesuatu?”tangan Donghae lebih mengeratkan pelukannya. “Apa benar yang dikatakan Jessica, bahwa itu anak Kyuhyun?”tanya Donghae yang masih tak mau melepaskan pelukannya. “Apa jawaban itu penting? Jika oppa percaya padaku, percayalah. Aku tak perlu memberikan jawaban lagi, pada akhirnya semua akan terjawab dengan sendirinya.”

Donghae tak mengerti apa yang dimaksud gadis ini. Kata – katanya begitu banyak kata kiasan. Ia hanya tak ingin melepas gadis itu. Ia masih tak merleakannya. Perlahan Yoona melepaskan dirinya. “Mungkin ini saat terakhir kita mengenal. Aku ingin membuka lemaran baru. Oppa, berbahagialah. Jangan pernah mengkhawatirkanku lagi.”lanjutnya. Yoona bangkit dari duduknya. Melangkah dengan perlahan, penuh rasa sakit dan perih.

oOo

Beberapa hari berikutnya……

Perlahan kaki Yoona melangkah masuk. “Kau sudah pulang?” Sebuah suara membuatnya mengangkat kepalanya. Matanya mendapati Jessica yang belakang ini bersikap dingin, sama seperti sikapnya pada gadis ini. “Untuk apa eonnie peduli?”tanya Yoona. Jessica bangkit dari duduknya dan berjalan mendekat ke arah Yoona. Matanya menatap Yoona dari atas hingga bawah.

“Semakin lama, aku semakin tidak tahan lagi denganmu.” Tangannya yang memegang remote TV menyalakannya. Mata Yoona otomatis melihat layar kaca. Sebuah gambar menampakkan dirinya yang sedang berpelukan bersama Donghae di taman. “Kau melakukan ini di belakangku? Lihat! Berita yang tertera. Apa kau senang menghancurkan namaku, heng?!”tanya Jessica penuh kekesalan.

Sebuah dengusan dikeluarkan Yoona. “Sekarang aku ingin bertanya pada eonnie. Apa eonnie malu memiliki adik sepertiku? Apa eonnie malu mengakuiku sebagai adikmu? Setelah semuanya terungkap disaat kondisiku yang seperti ini, apa eonnie malu dengan kondisiku?”tanya Yoona yang mengeluarkan emosinya.

Jessica masih bungkam. Matanya menatap tajam ke arah Yoona. “Aku jelas sangat malu!”ucapnya yang tak kalah emosi. “Aku sangat malu. Bahkan aku malu, karena mereka tau kau adikku!”

Eonnie. Apa kau pernah memikirkan perasaanku?”

“Seharusnya aku yang bertanya itu padamu! Asal kau tau, aku bukanlah kakakmu! Aku hanyalah seorang anak yang diadopsi oleh keluarga Im. Kupikir memiliki adik menyenangkan, ternyata tidak sama sekali. Saat kau lahir, semua perhatian tertuju padamu. Kasih sayang eomma dan appa hanya untukmu. Aku merasa sangat tersisihkan. Kau selalu dimanja. Semenatar aku? Ya, aku mengerti posisiku. Tapi ini sakit. Bahkan setelah mereka meninggal, aku harus menjagamu! Aku rela membanting tulang diusiaku yang masih sangat muda, aku tau perkejaannya menyenangkan. Tapi aku tak rela melakukannya untukmu. Aku, aku hanyalah sebuah cadangan bagi mereka. Perusahan YG yang diwariskan, itu bukan untukku. Tapi untukmu! Aku sengaja melarangmu bekerja dibidang yang sama denganku, atau memberitahu identitasmu.”

“Karena mereka akan tau bahwa YG memiliki pewaris lain. Aku selalu merasa iri padamu. Kau selalu beruntung dariku. Bahkan kau masih diberikan kesempatan hidup. Kau lihat aku? Umurku tak begitu panjang. Penyakit jantung ini sungguh menyiksaku. Dan lagi – lagi kau beruntung, kau memiliki Donghae yang mencintaimu sepenuh hati. Kau memiliki Kyuhyun yang selalu ada untukmu. Sementara aku? Aku yang membawa mereka ke dalam dunia mu, tidak mendapatkan apapun. Aku hanya bisa menatap penuh penderitaan.”

“Kau mau tau, siapa yang membuatmu seperti ini? Itu aku! Aku yang menjebakmu dengan Donghae. Dan aku yang mengajukan diriku sebagai pewaris YG, agar ayah Donghae menyetujui rencana pernikahanku. Dimata Donghae aku tidak ada apa – apanya dibanding dirimu! Itu membuatku semakin ingin menyakitimu! Apa alasan aku melakukan ini? Aku hanya menginginkan kasih sayang yang tak pernah kudapatkan.”

Emosi Jessica meledak. Sebuah tangis mulai mengalir dalam dirinya. Semua rahasia yang ditutupinya rapat – rapat kini terungkap sudah. Napasnya tak bisa di atur lagi. Dadanya mulai terasa sesak. Sulit untuknya bernapas saat ini. Semenatara Yoona. Gadis ini begitu syok mendengar ungkapan Jessica. Rasa bersalah mulai muncul dalam hatinya. Selama ini ia tak sadar. Ia telah merebut kasih sayang yang kakaknya inginkan.

“Jessica!”sebuah suara terdengar dari balik pintu. Nampak Kyuhyun yang mulai melangkah mendekat. “Gadis licik! Bisa – bisanya kau bertindak seperti itu pada adikmu! Kau seharusnya bersyukur memiliki adik yang masih menyayangimu. Adik yang mau diperlakukan seperti seorang budak.”ucapnya tak kalah emosi. Sementara Jessica hanya berdiri menatap Kyuhyun sambil menahan rasa sakit di dadanya. “Oppa.. jangan membentak eonnie.. aku yang salah. Aku tak pernah mengerti perasaannya.”ucap Yoona.

“Tidak. Gadis ini yang salah. Dia tega membunhmu pelan – pelan.” Jari telunjuk Kyuhyun terarah tajam pada Jessica. Sorot matanya tajam dan mengisyaratkan kebencian. Sementara Jessica, gadis ini sudah mulai melemah. Ia tak bisa menahan sakitnya lagi. Tangannya memegang dadanya.

BRUK!

“Eonnie!”

oOo

Other side…..

Semua orang yang menunggu di sini mencemaskan Jessica. Donghae langsung tiba, begitu mendengar kondisi Jessica yang melemah. Sudah dua hari ini gadis itu tak sadarkan diri. Semua menatapnya dengan penuh kecemasan.

Perlahan tangannya tergerak. Matanya mulai membuka dan menatap orang – orang yang menungguinya. Sebuah senyum tersirat di wajah Jessica ketika menatap Donghae. Matanya kembali beredar dan mendapati Yoona yang terduduk tak jauh darinya. Perlahan senyumnya memudar. “Untuk apa kau disini? Aku sudah muak. Kau senang, kan melihatku seperti ini?”ucapnya di sela – sela kondisinya.

“Tidak eonnie. Aku sangat mengkhawatirkanmu…”

“Aku tidak ingin melihatnya lagi, pergi!”

“Eonnie..”

“Kubilang pergi!”

Kyuhyun tak ingin lagi ada perkelahian diantara keduanya. Dengan segera ia membawa Yoona menjauh dari tempat ini.

oOo

Back to Yoona……

Sudah Seminggu Jessica di rumah sakit. Yoona sangat mengkhawatirkan kakaknya itu. Bagaimanapun Jessica menyakitinya, Yoona tetap menyayangi kakaknya. Hanya dialah yang ia miliki saat ini.

Hari ini adalah hari kepulangan Jessica. Perut Yoona yang sebentar lagi genap sembilan bulan ini, harus di jaganya. Yoona telah mempersiapkan kejutan untuk kepulangan Jessica.

KREK!

“Eonnie!”seru Yoona yang menatap Jessica melangkah seorang diri. Ia tak mengerti mengapa Donghae tidak mengantar kakaknya. Mungkin saja pria itu sedang sibuk. Segera Yoona berjalan mendekat hendak membantu. “Jangan sentuh aku!”teriak Jessica. “Tapi eonnie…”

“Sudah kubilang jangan menyentuhku!”teriaknya sekali lagi.

BRUK!

Tangannya tanpa sengaja mendorong Yoona hingga tersungkur. Rasa nyeri dirasakan Yoona. Sebelah tangannya menahan rasa sakitnya. “Yo-yoona..”ucap Jessica sedikit tergagap. Sebuah darah mengalir menuruni kaki Yoona. Sebisa mungkin ia menahan sakitnya.

“Maafkan aku, aku… aku.. aku tidak bisa membantu mu.”ucap Jessica gemetar. Raut ketakutan nampak diwajahnya. Gadis ini dengan cepat menaiki tangga menuju kamarnya untuk mengunci dirinya di sana.

Yoona menahan sakitnya seorang diri. Begitu banyak darah yang mulai mengalir. Sakit. Ini sangat sakit. Matanya berkaca – kaca menatap bekas kakaknya berdiri. Sungguh. Beginikah nasib yang harus diterimanya? Kakak yang diharapkan untuk membantunya, malah pergi meninggalkannya seorang diri. Tuhan kuatkanlah aku…

Perlahan mata Yoona mulai menutup. Tapi telinganya masih bisa mendengar sebuah jeritan yang memanggil namanya. “YOONA!!!!!” Samar – samar ia menatap wajah Donghae di hadapannya. Perlahan wajah itu memburam dan menjadi gelap.

oOo

Other side….

Donghae menatap Yoona yang tersungkur berlumuran darah. Rasa cemas. Takut. Semua bercampur aduk di dalam hatinya. Di lemparkannya tas Jessica yang ditentengnya. Kakinya dengan cepat berlari. “YOONA!!!”teriaknya. Tangannya memegang pipi gadis yang sudah tak sadarkan diri. “Yoona… yoona…”suaranya bergetar. Ia tak tau apa yang harus di lakukannya.

oOo

Donghae bersama dua orang perawat menggiring Yoona menuju ruang operasi. Rasa sedih. Taku dan cemas bercampur dalam hatinya. Kenapa ini bisa menimpa gadis yang ia cintai? Kenapa? “Maaf Tuan, mohon tunggu di sini.”ucap salah seorang perawat.

Kakinya tak bisa berhenti bergerak. Melangkah ke sana kemari, sambil menunggu hasilnya. Dari kejauhan ia bisa menatap Kyuhyun bersama jas putihnya yang berlari penuh rasa cemas ke arahnya. “Apa yang terjadi?”tanya pria ini penuh kekhawatiran.

oOo

Di dalam kamar yang begitu gelap Jessica mengurung dirinya. Kakinya tertekuk. Kedua tangannya memeluknya erat dengan ketakutan. Sebeuh selimut di remas – remas dengan ketakutan. Apa yang telah kulakukan? Apa dia meninggal? Tuhan, maafkan aku… Tolong, selamatkan dia… Aku telah berbuat jahat padanya. Aku bersungguh – sungguh tidak sengaja mendorongnya… Kumohon, selamatkan nae dongsaeng…

Air mata Jessica mulai mentes satu demi satu. Ditelunggupkannya kepalanya, sambil menangis tersedu – sedu. Ia tak bisa memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu. BRAK! Suara pintu terbuka membuatnya terlonjak. Matanya menatap Donghae yang menembus kamarnya. Pria itu mendekat ke arahnya. “Donghae…”panggilnya masih dengan air mata di pipinya.

Dengan gemetar Jessica memeluk pria itu.

FLASH BACK

“Kenapa ini bisa terjadi?”tanya Kyuhyun.

“Aku tidak tau. Aku tiba – tiba saja melihatnya sudah seperti itu.”

“Pasti ini perbuatan Jessica.”ucap Kyuhyun dingin.

“Kenapa kau menuduhnya? Dia adalah kakak Yoona, dia tidak mungkin melakukannya. Siapa kau berani – beraninya mengatakan hal itu?!”sahut Donghae tak terima. Spontan kepala Kyuhyun berputar ke arahnya raut wajah kekesalan dan emosi mulai nampak. Sebaiknya ia harus memberitahu ini, ia tau ini akan menyakitkan untuknya. Tapi, hidup Yoona lebih penting saat ini. “Aku? Aku adalah orang yang siap membunuh orang – orang yang menyakiti Yoona.”jawabnya dengan sorot mata tajam.

Api kemarahan mulai mencuat di hati Donghae. Sebuah pukul melayang dan berhasil mengenai sudut bibir pria itu. “Dasar pengkhianat! Kau itu sahabatku atau musuhku, hah?!”ucap Donghae. Sebuah senyum meremehkan nampak di wajah Kyuhyun. Tangannya membalas memukul Donghae tepat di pipinya. “Apa itu sakit? Itulah apa yang dirasakan Yoona sekarang.” Jeda. “Siapa sesungguhnya pengkhianat di sini?”lanjutnya.

Donghae terdiam. Tak sedikitpun ia tergerak membalas pukulan pria itu. Matanya menatap tajam ke arah Kyuhyun. Pria itu tak membalas tatapan. Raut wajahnya berubah kesal.

“Kau tau, Jessica itu sangat licik. Dia sangat iri pada Yoona. Dia bukanlah anak kandung. Dia hanya anak yang diadopsi. Dia juga yang menjebakmu dan Yoona. Lalu ia mendatangi ayahmu untuk melakukan kerjasama YG dan SM. Dia mengaku sebagai pewaris dan ayahmu menyetujui pernikahan kalian.”ucap Kyuhyun sedikit melirik ke arah Donghae.

Mata Donghae sedikit melebar. Tak percaya dengan apa yang telah dilakukan Jessica. “ Apa Yoona melakukannya denganmu setelah itu? Dan apa bayi yang di dalam kandungannya itu anakmu?”tanya Donghae masih tak percaya.

“Aku tidak mungkin melakukan hal semacam itu. Itu adalah anakmu, brengsek!”pekik Kyuhyun. Tangannya menarik kerah baju Donghae. Donghae masih terdiam tak membalas apapun. Sungguh penyesalan ini selalu datang terlambat.  

“Aku ingin mengatakan ini padamu. Tapi Yoona melarangku. Ia tak ingin hal ini merusak pernikahan kakaknya.”ucap Kyuhyun.

“Gadis sialan! Selama ini aku telah tertipu.”umpat Donghae.

 

FLASH BACK END

Dengan kasar dilepaskannya pelukan Jessica. “Jangan membohongiku. Kau sungguh licik!”ucap Donghae dengan kekesalannya. “Do – doghae, ini tak seperti yang kau pikirkan.”ucap Jessica bergetar. “Tega – teganya kau merencanakan itu. Lihat! Apa yang harus ia rasakan sekarang!” Jeda. “Aku muak padamu! Menjauhlah darinya, atau aku yang akan menghancurkanmu!”

Dengan kasar Donghae keluar dan membanting pintu. Kini tinggal tersisa Jessica yang meratapi dirinya dalam kesedihan. Tak ada satu orang pun lagi yang mempercayainya. Ia memang pantas mendapatkan ini semua. Ia memang pantas mendapatkan balasan dari kekejaman yang dilakukannya.

oOo

Sudah genap tiga hari Yoona tak sadarkan diri. Tangan Donghae menggenggam erat tangan Yoona yang lemah tak berdaya. Sebuah mesin bergerak naik dan turun, menandakan bahwa jantung Yoona masih berdetak. Dengan tangis yang masih mengalir Donghae menatap Yoona. Begitu banyak penyesalan yang ia rasakan.

Dari luar jendela, Kyuhyun menatap Donghae. Ada rasa sakit dalam hatinya saat melihat ini. Ada rasa cemburu yang membara dalam benaknya. Tapi ia tau, itu tidak mungkin. Cinta Yoona hanyalah untuk Donghae. Tak ada tempat yang tersisa untuknya. Gadis itu hanya menganggapnya sebagai seorang kakak.

Back to Yoona….

Yoona’s POV

Dengan cepat aku bangun dari tidurku. Mataku mendapati Donghae yang terduduk menggenggamku. Sebuah senyum kulantunkan untuknya. Tapi ia membalas dengan raut sedih. Tatapannya tak terarah padaku, tapi pada apa yang ada di belakangku. Kulihat perutku yang sudah tak membuncit. Apa sesuatu terjadi pada bayiku? Mataku dengan cepat mengikuti arah pandangnya.

DEG!

Kudapati diriku yang berbaring lemas tak berdaya di atas ranjang. Mataku tertutup seperti orang yang tidur panjang. Kakiku melangkah turun. Kesedihan mulai muncul dalam benakku. Kenapa ini bisa terjadi pada diriku?

“Yoona, mianhae.. Maafkan aku selama ini tidak mempercayaimu… kumohon jangan hanya terdiam. Yoona.. aku sungguh – sungguh minta maaf… bangunlah.” Jeda. “Lihat, bayi kita sudah lahir. Dia sangat cantik sepertimu. Yoona.. mian..hae…”tangisan Donghae pecah.

Mataku menatap ranjang bayi yang tersusun rapi di samping ranjangku. Rasanya aku ingin menangis. Aku tak bisa mempercayai apa yang kulihat kini. “I am here… Oppa… Beside you….”ucapku dengan air mata.

“Tuhan, apakah ini sudah waktunya untukku kembali? Jika boleh aku hanya ingin satu. Tuhan jagalah mereka.. jagalah eonnie untukku.”

THE END

35 thoughts on “Missing You (Three of Three)

  1. Ya kok gantung sih thor.
    Sequel dong, buat mereka sama-sama lagi.
    Kyuhyun oppa juga cinta sama yoona, kenapa ngga ada yang bahagia sih, semuanya tersakiti.

  2. Yaahhhh .. kok endnya gantung sihhh .. itu arwahnya yoona yaa ?? Jd yoona udh mninggal ?? Trus sicca sama hae statusnya apa ?? Udh nikah ??? Ttnyata kyu suka sama yoona ak kira kyu sukanya sama sicca …. sekuelll donggg ….

  3. Aduh aku baru baca part 3nya,ffnya bgus.
    Yoong-jesica bukan saudara kandung,di saat* masalahnya sudah hampir selesai kok sekarang yoong eonninya meninggal thor,sequel dong bikin YoonHae bersatu sama anak mereka,next di tunggu.YH jjang…!!

  4. Aah ending gantung thor,kpngn ny smua ny happy ending thor!
    Sequel ny doong..
    btw aq blom bca part 1 n 2 ny looh,
    sequel ny yaah thor..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s