That Person

image

Im Yoona | Drabble | Maybe, Sad | Semua Umur

Waktu itu hampir tengah malam ketika aku menaiki subway menuju apartemen. Kakiku terasa kebas hingga kakiku hanya berjalan beberapa langkah setiap setengah menit. Setelah mendapat tempat duduk yang pas dan dekat dengan pintu, aku memijit bagian depan kakiku. Yang sedari tadi berkedut nyeri. Beberapa orang, yang sebagian besar berusia sama denganku, terlihat sibuk dengan urusannya masing-masing. Memainkan ponsel, membaca buku atau mendengarkan musik dari gadget mereka. Bahkan mereka tak akan peduli jika aku pingsan saat itu juga.
Malam yang berkabut sedang menggantung di luar sana. Udara yang dingin bahkan bisa merasuk ke dalam kereta. Atau mungkin hanya perasaanku saja, karena memang kereta ini menggunakan pendingin udara. Mantelku terasa melingkari badanku dengan sempurna. Melekat di dekat hatiku sehingga terasa lebih hangat.
Entah mengapa pandanganku teralih pada seorang nenek yang duduk rak jauh dari dekatku. Tangannya membawa keranjang belanjaan yang belum penuh. Mungkin hanya beberapa bungkus roti dan mi instan. Sangat aneh kenapa nenek itu memilih belanja pada malam hari bukan pada siangnya. Kepalanya bersandar pada jendela kereta dan matanya terpejam. Aku yakin ia tak merasa kedinginan karena ia memakai topi hangat dan jaket. Hanya saja aku merasa kasihan mengapa orang setua dia berkeliaran sendirian ditengah malam. Bagaimana dengan anak atau cucunya. Atau bahkan lebih parah lagi, ia tak memiliki anak atau cucu dan tinggal sendiri.Aku menggeleng dengan spontan lalu menarik ujung kakiku hingga lebih rapat. Subway berhenti di pemberhentian pertama dan nenek itu terbangun. Lalu aku mencoba membantunya berdiri. “Anda turun disini bibi?”tanyaku.
Nenek itu tersenyum lalu mengangguk. Aku membantunya menuju pintu untuk keluar dan dia memegang tanganku. Genggaman tangannya bahkan lebih hangat dari yang ku bayangkan. Ia lalu menuruni kereta dan melambai padaku. Tanpa sengaja aku membalasnya dan aku tersenyum. Kereta kembali melaju dan aku kembali ke tempat dudukku semula. Aku menengok ke arah jendela untuk memastikan apakah nenek itu masih baik-baik saja. Entah nenek itu berjalan terlalu cepat atau apa. Aku bersumpah nenek itu sudah tidak ada di stasiun itu lagi. Aku terkejut. Setelah melihat bagaimana ciri-ciri nenek itu aku merasa bahwa ia mirip dengan nenekku yang meninggal satu tahun lalu. Lalu aku hanya bergumam. “Tolong makanlah dengan benar,aku merindukanmu.”

End…

Halo? haha. Semoga masih inget sama aku. Aku belim bisa ngasih cerita yang berat berat alias chaptered soalnya lagi gak ada waktu buat nulis. Jadi ya muncul tiga paragraf kayak gini yang bahkan gak bisa dimengerti. Terserah buat readers mau nganggep ini horror atau malah sad. Yang jelas ini dic terinspirasi dari pengalamanku yang nemuin seseorang mirip nenek aku pas lagi di angkot, helaah. Dia udah meninggal dan aku sangat merindukannya. Makanya aku bikin kayak gini. Pas liat orang itu bawaannya pengen peluk dia, nangis atau gimana. Tapi yang jelas itu cuma angan karena emang itu di dalem angkot dan mustahil kayak gitu. Ya semoga readers terhibut dan mendapat sedikit nightmare malam minggu hahahahahahahahahahaha #tawakenceng

7 thoughts on “That Person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s