Smothering (Chapter 1)

smotheringg

Author _ Richzeela

GENRE | RATING | LENGTH
Romance/Angst/Family | PG-15 | Chaptered

CAST
Im Yoona | Xi Luhan | Oh Sehun | Seo Jo Hyun

Happy reading | Hope you like it
*
*
*

Ku lirik beberapa tamu undangan yang berlalu-lalang di sekitar rumahku. Senyuman tipis terpaksa ku lontarkan saat tak sengaja beradu tatapan dengan mereka. Bagaimanapun, sebagai tuan rumah aku harus bersikap ramah, meski pada kenyataanya, pesta malam ini membuatku sangat muak.

Bagaimana tidak? Malam ini status lajangku telah resmi digantikan dengan status bertunangan. Dan sialnya, pria yang bertunangan denganku bukanlah orang yang kucintai. Melainkan pria pilihan orang tuaku, yang tentu saja bersangkut-paut dengan tujuan bisnis.

Aku kesal, aku marah, aku kecewa, tentu saja. Dan aku benci dengan diriku sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa untuk melawan mereka. Aku harus menerima apapun keputusan yang mereka ambil tanpa bisa menolak atau sekedar membantah. Karena begitulah aku dididik.

Dari semenjak aku masih kecil, aku tidak berhak menentukan kebahagiaanku, aku tidak perlu memikirkan cinta untuk hidupku. Yang perlu aku pikirkan adalah statusku sebagai putri bungsu dari keluarga Im. Itu yang mereka tanamkan padaku, tanpa pernah mengetahui bagaimana tertekannya aku dengan semua kenyataan ini.

Terkadang aku berpikir untuk lepas. Aku ingin lari ke sebuah tempat dimana mereka tidak bisa menemukanku. Namun lagi, karena aku terlalu pengecut, aku tidak bisa pergi kemana-mana. Aku hanya bisa diam menjadi boneka yang mereka perlakukan sesuka hatinya. Sekalipun katanya semua itu untuk kebaikanku, namun nyatanya sampai hari ini aku tak merasakan kebaikkan apapun selain ketertekanan yang tiada tara.

“Yoong!” Aku menoleh, kala suara itu memanggil namaku.

Xi Luhan, dialah pria yang telah menautkan cincin berliannya di jari manisku semenjak 1 jam yang lalu. Dialah pria pilihan orang tuaku yang dalam waktu dekat akan menjadi suamiku.

Luhan pria yang baik, perhatian dan cukup romantis kurasa, mengingat bagaimana caranya memperlakukanku selama 2 bulan terakhir. Namun tetap saja, rasa cinta itu tak pernah tumbuh untuknya. Entah bagaimana dengannya, yang jelas Xi Luhan tidak bisa menggoyahkan hatiku.

Aku bangkit menghampirinya. Dia tersenyum manis menyambutku di bawah kerlap-kerlip cahaya pesta. Pasti dia akan mengenalkanku dengan teman-temannya. Bersiaplah Im Yoona, actingmu semakin meningkat akhir-akhir ini.

“Annyeonghaseyo..Im Yoona imnida..” sapaku seramah mungkin pada teman-teman Luhan, yang semuanya laki-laki.

“Park Chanyeol Imnida, senang bertemu denganmu Yoona-ssi” Ucap salah satu pria yang paling jangkung di antara mereka. Aku langsung tersenyum tipis menanggapinya.

“Zhang Yixing Imnida, aku adalah teman Luhan dari Beijing”

“Kim Suho imnida..kau sangat cantik Yoona-ssi, Luhan beruntung mendapatkanmu”

“Oh Sehun Imnida”

Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum ramah sambil berlaku sesopan mungkin, menunjukkan kesan yang baik sebagai tunangan dari sahabat mereka, Xi Luhan.

***

Aku menatap malas tumpukan kertas yang berserakan di atas meja kerjaku. Sudah berjam-jam aku duduk disini, namun tiada satu berkaspun yang berhasil aku selesaikan. Pikiranku sendiri masih bertumpu pada satu hal yang membuyarkan konsentrasiku akhir-akhir ini. Menghilangkan titik fokusku hingga aku tidak bisa berpikiran jernih.

Xi Luhan. Pria itu yang memenuhi pikiranku. 2 hari semenjak pesta pertunangan kami, dia menyatakan perasaanya padaku. Padahal selama 2 bulan kami berhubungan, tidak sekalipun dia mengatakan jika dia mencintaiku. Dia hanya bersikap romantis dengan caranya mengajak makan malam, berkencan atau caranya menciumku.

Tapi hari itu, dia benar-benar mengatakan semuanya. Dan itu membuatku bingung setengah mati.

Sebagai seorang direktur utama, aku memang di tutut untuk berlaku profesional. Dengan tidak mencampur adukkan masalah perkerjaan dengan masalah pribadi. Namun pria itu, benar-benar menguras pikiranku terlalu banyak, hingga aku kehilangan kendali atas pekerjaan yang seharusnya menjadi prioritas utamaku.

Dan pada akhirnya aku hanya bisa melimpahkan seluruhnya pada Jung Hyeri selaku sahabat dan sekretarisku. Terkadang gadis itu suka mengomel karena aku selalu melibatkannya.

Huh, semua ini membuatku pusing.

Tok tok tok

Pandanganku beralih dari berkas gila menuju pintu ruangan kerjaku. Segera saja kusuruh masuk orang itu meski tidak tahu siapa gerangan, dan ternyata…Xi Luhan?

“Annyeong Yoona-ya..” sapanya dengan senyuman manis yang biasa dia tunjukkan padaku. Segera aku bangkit dari kursi, seraya mendekatinya yang sudah merebahkan diri di atas sofa.

“Tumben kau kemari jam segini, tidak bekerja?” tanyaku keheranan ketika melirik arlojiku masih menunjukkan pukul 3 sore. Bukankah jam kantor belum selesai?

“Aku merindukanmu” jawabnya santai. Aku terkekeh pelan mendengarnya. Sejak kapan namja ini pintar menggombal?

“Mau kuajak kesuatu tempat?” katanya lagi. Kali ini berhasil menciptakan kerutan-kerutan kecil di keningku.

“Kau tidak lihat aku masih bekerja Luhan-ah? Berkas-berkas itu masih minta di perhatikan” jawabku seadanya.

“Alihkan saja pada Hyeri”

“Mwo?”

“Aku mungkin hanya punya waktu hari ini. Kajja, kau harus ikut denganku” serunya sambil menarik tanganku. Aku terkejut, kenapa pria ini main tarik-tarik sembarangan? bikin kaget saja.

“Yak, aku sibuk Xi Luhan”

“Aku juga sibuk”

“Ya, tapi..”

“Sudahlah..Abeonim tidak akan marah jika tahu aku yang mengajakmu keluar, lagi pula sekali-sekali membangkang kan tidak apa-apa”

“Mwoya?” pria ini bicara apa sih? Pantaskah seorang direktur di perusahaan besar berkata seperti itu?

“Kajja”

“Yak, tunggu dulu!”

“Apa lagi?”

“Kau bahkan tidak memberiku kesempatan untuk mengambil tas Luhan-ah..”

“Aishh..”

***

Aku tidak menyangka Luhan akan membawaku kemari. Selama ini dia tidak pernah menunjukkan makam ibunya padaku. Dan hari ini, dia memperkenalkan aku pada ibunya?

“Eomma pasti bahagia sekali mendapatkan calon menantu sepertimu, Yoong..” Lirihnya. Dapat kutangkap tatapan sedihnya ketika menatap foto wanita yang masih tampak cantik itu.

“Aku juga bahagia mendapatkan calon ibu mertua secantik, Ibumu” jawabku. Luhan kemudian menatapku dalam, lalu meraih jemariku.

“Maaf aku baru membawamu kemari, selama ini aku belum yakin Yoong..” ucapnya, membuat hatiku teriris-iris karena merasa bersalah. Apa yang akan kau lakukan jika tahu perasaanku yang sebenarnya Xi Luhan? Aku bahkan merasa tidak pantas berada disini.

“Tak apa, yang terpenting kau sudah mengenalkannya padaku” Bohong. Kau sangat pintar berbohong Im Yoona, kenapa tak jadi aktris saja sekalian dari pada menyakiti tunanganmu seperti ini.

“Yoong..kau sudah tahu kan, aku mencintaimu?”

“Ne” jawabku ragu-ragu. Entah apa yang akan dia katakan selanjutnya, yang jelas kini tatapannya benar-benar tulus kurasakan.

“Dan..aku juga berharap kau mencintaiku layaknya aku mencintaimu Yoong…maukah kau berjanji di depan ibuku untuk meberiku harapan?”

“Luhan-ah..”

“Aku tahu rencana pernikahan kita di dasari perjodohhan pada awalnya. Tapi aku benar-benar berharap ada cinta di dalamnya Yoong…Antara kau dan aku, kita berdua..”

“Luhan, aku…”

Ahh.. Entahlah, mendengar ucapan Luhan membuatku terasa sesak. Bagaimana bisa aku menyakiti hati pria setulus Luhan? Kau benar-benar gadis jahat Im Yoona.

Dan kau Xi Luhan, harusnya kau sadar jika kau terlalu sempurna untuk mencintai wanita sepertiku. Wanita yang bahkan tidak bisa tegas menentukan hidupnya, bagaimana bisa kau berharap pada wanita lemah sepertiku?

“Aku akan berusaha Luhan, dengan segala kekuatanku aku akan berusaha mencintaimu” lihatlah, hanya itu yang bisa ku katakan walau aku tidak yakin bisa melakukannya. Bukankah kau terlalu pengecut Im Yoona?

Luhan tak langsung mengantarku pulang setelah mengajakku ke makam ibunya beberapa jam yang lalu. Kini kami berada di sebuah kedai pinggir jalan menikmati beberapa jenis makanan yang semuanya menggugah seleraku.

Jujur saja, aku merasa lebih senang Luhan mebawaku ketempat seperti ini dari pada ke kafe2 besar tertutup yang hanya ada kami berdua disana. Terasa sunyi sekali.

Disini aku merasa lebih hidup. Aku merasa lebih bahagia melihat pasangan berkencan lainnya, dan anak kecil yang berlari-lari di sekitar. Aku ingin seperti mereka, bisa bebas dari segala tuntutan, bisa menentukan apapun yang kita mau. Akankah..Tuhan mengabulkannya suatu hari nanti?

“Yoong, kau sudah selesai?”

“Eoh?” ucapan Luhan membuyarkan lamunanku. Aku belum selesai makan, ada apa Luhan bertanya seperti itu? Apa dia ingin mengajakku ketempat lain lagi?

“Kita harus pulang sepertinya, ada sedikit masalah di kantor” katanya.

“Tapi..aku masih ingin disini, Lu..” ucapku tidak rela. Jujur aku menikmati saat ini.

“Kalau begitu, bisa kau pulang sendiri saja? ini benar-benar mendadak Yoong” ucapnya memohon dan tergesa-gesa. Sepertinya benar-benar penting..

“Arraseo..aku bisa pulang naik taksi” ungkap akhirnya. Dia mengerti, kemudian mengacak rambutku sejenak, sebelum akhirnya berlalu.

“Gomawo Yoong, nanti aku akan menelponmu!” Teriaknya. Aku hanya mengangguk sembari tersenyum tipis, lalu melanjutkan acara makanku.

Tapi tak sengaja aku melihat seorang anak di jahili oleh temannya. Gadis kecil itu sampai menangis sementara semua teman-temanya menertawakannya. Aku segera menghampirinya, bukan mau ikut campur atau sok menjadi pahlawan kesiangan, hanya saja..aku tidak tahan melihatnya.

Begitu aku mendekat, segerombolan anak-anak nakal itu langsung kabur semua. Dasar anak zaman sekarang, beraninya main keroyokan.

“Hey, kenapa kau menangis?” tanyaku pada gadis kecil itu yang terduduk di aspal. Dia seperti ketakutan melihatku. Tubuhnya sampai bergetar sendiri.

“Tenang saja, Ajjuma bukan orang yang jahat..” ucapku.

“Ayo bangunlah” lanjutku lagi sambil membantunya berdiri. dia menurut tanpa berkata apa-apa.

“Jadi sekarag katakan pada Ajjuma, apa teman-temanmu tadi mejahilimu?” tanyaku lembut, tapi dia menggeleng.

“Lalu kenapa kau menangis?”

“Meraka menertawaiku karena aku terjatuh..” jawabnya polos. Imut sekali, sepertinya gadis kecil ini masih berumur 4-5 tahun.

“Baiklah..kau jangan menagis lagi eoh? orang yang sering terjatuh biasanya cepat besar. Kajja, Ajjuma akan megantarkanmu pulang” ucapku sambil meraih tangannya, tapi dia langsung menggeleng lagi. Kenapa? Apa anak ini masih mau bermain?

“Aku mau mencari Appa” ucapnya tiba-tiba.

“Mencari Appa?”

“Ne, Appa pulang terlambat hari ini, Ajjuma..”

“Mungkin se..”

“Sena-ya..!!”

“Appa!”

Aku langsung menoleh begitu seseorang muncul dari belakang punggungku. Pria ini? Bukankah..

“Kau dari mana saja eoh? Appa sibuk mencarimu” tandasnya. Aku ingat! Bukankah pria ini temannya Xi Luhan? Jadi pria ini sudah menikah dan mempunyai anak?

“Aku juga mencari Appa, kenapa Appa pulang terlambat?”

“Mianhae..Appa ada pekerjaan penting sayang” ucapnya sambil mensejajarkan tingginya dengan gadis kecil itu.

“Kajja, kita pulang” dia menggendong anaknya, dan bersiap akan langsung pergi. Aku terngaga, aku bahkan di anggap seperti patung disini.

“Oh Sehun-ssi!” panggilku.

Dia menoleh. Keningnya tampak berkerut, meski di tutupi sebagian kepala putrinya. “Nde? Kau mengenalku?” tanyanya terlihat bingung. Aku mendengus, secepat inikah dia melupakanku?

Memang nya dia ini teman Luhan yang seperi apa sih? Waktu di pesta juga dia tidak banyak berbicara. Tapaknya namja ini arogan sekali.

“Kau tidak mengingatku? Aku Im Yoona, tunangannya Xi Luhan” jawabku sedikit kesal. Kenapa aku harus mengingatnya, sementara dia tidak?

“Ohh..” jawabanya pelan, kemudian berlalu lagi.

Astaga..apa dia itu manusia? Aku kesal sekali, baru kali ini aku di perlakukan dengan tidak sopan seperti itu. Jangan-jangan anaknya di ajarkan seperti dia juga lagi..

Entah mendapat dorongan dari mana. Tiba-tiba aku mengikutinya dari belakang. Di saat dia menoleh, aku langsung mengganti arah pandangku.

Aku tahu, aku bertindak gila sekarang. Tapi entah kenapa aku begitu penasaran dengan pria itu. Melihat dari penampailannya sekarang sepertinya dia bukan pria kaya. Lalu kenapa berbeda sekali dengan penampilannya waktu itu? Apa istrinya sengaja mendandaninya?

Aku berniat mengikutinya lagi. Tapi, suara ponselku berdering. Kulihat nama Hyeri sudah terpampang di depan layar.

“ Ya, halo” Jawabku.

“Yoong, kau dimana? Cepat kekantor sekarang! Sajangnim sedang marah besar padamu”

“Mwo??”

***

“Dasar tidak berguna! Sebenarnya apa yang bisa kau lakukan Im Yoona?! Percuma aku memberimu posisi tinggi-tinggi tapi ternyata otakmu isinya kosong!”

“Kalau kau memang tidak sanggup menjalankan tugasmu sebagai direktur, berhenti saja! dari pada kau membuat perusahaan ini rugi, lebih baik kau mundur dari awal!”

Aku menelan ludah getir ketika menyaksikan amarah Ayahku. Dia begitu naik pitam, ketika mengetahui berkas-berkasku tidak ada yang beres satupun dan malah melimpahkan semuanya pada Hyeri, aku terkesan tidak peduli akan perusahaan.

Ruanganku berantakan akibat amukannya, saat mengetahui aku tidak ada di kantor dan menyuruh Hyeri menggantikanku.

Aku tidak berniat menjawab atau membantah sedikitpun. Aku akui aku salah, dan tak seharusnya mengabaikan tugasku hanya karena memikirkan perasaanku yang tak karuan akhir-akhir ini.

“Dengar Im Yoona, sekali lagi aku menemukanmu bertindak seperti ini. Aku tidak akan segan-segan mengumumkan pemecatanmu”

Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam. Kini ayahku sudah pergi, meninggalakn aku dan Hyeri yang masih bersitegang.

“Sudah kukatakan sejak awa bukan? Kau harusnya lebih bertindak tegas Yoong..gara-gara Luhan konsentrasimu hilang, karena kau tertekan akan menikah dengannya. Lebih baik kau katakan pada ayahmu jika..”

“Aku baik-baik saja Hyeri, kau tak perlu megkhawatirkanku” aku berjalan kecil mendekati mejaku, dan sebisa mungkin aku harus menyelesaikan semua ini.

“Kembalilah, masih banyak yan perlu kau kerjakan bukan?” tanyaku. Hyeri terdiam beberapa detik setelah akhirnya menghilang dari ruanganku. Aku menghela nafas berat, lalu melanjutkan pekerjaan yang sempat terbengkalai ini.

***

“Kemana sih gadis itu? Katanya ingin bertemu” gerutuku sebal, saat tak juga melihat batang hidung orang yang ingin kutemui.

Seo Jo Hyun – gadis yang khabarnya baru sampai dari U.S itu mengajakku bertemu di sebuah coffee shop. Aku sudah menunggunya selama 1 jam, tapi kemana gadis itu? Menyebalkan sekali, dia melupakan fakta jika aku tak kalah sibuk darinya.

“Yoong!” Akhirnya dia muncul juga. Setelah membuat orang hampir mati kebosanan barulah dia sampai.

“Dari mana saja kau eoh? Aku lama sekali menunggumu di sini” omelku memasang tampang sekusam mungkin. Dia hanya terkekeh pelan kemudian duduk dihadapanku.

“Mianhe Yoong, ada pekerjaan penting yang harus ku selesaikan dulu..” jawabnya.

“Aishh..semenjak kau sudah menjadi orang amerika, kau kelihatan super sibuk ya?” sindirku. Lagi-lagi dia hanya terkekeh.

“Kau seperti tidak tahu saja Yoong, menjadi pengusaha muda itu menyebalkan” serunya. Dan aku setuju untuk itu. Dia bekerja di bidang fashion, tapi tetap saja namanya pengusaha bukan? Walaupun statusnya sebagai designer.

Gadis ini sudah lama sekali menjadi sahabtku. Aku menyaksikan masa-masa senang dan pahit hidupnya, begitupun sebaliknya. 10 tahun bersahabat, bukan waktu yang singkat bukan? Dan selama itu pula kami tetap menjaga komunikasi, walaupun bertemu 1 tahun sekali kadang-kadang.

Dulu Seohyun pernah mengalami masa sulit dengan seorang pria yang di cintainya. Seperti aku, dia juga tidak berhak menentukan kehidupannya. Tapi aku tidak menyangka saja, gadis yang tampak polos, lemah lembut seperti Seohyun ternyata lebih membangkang dariku. Dia nekat pergi bersama laki-laki itu sampai pernah mengandung anaknya. Namun lagi, ketidak berdayaan gadis seperti kami harus pasrah pada nasip, hingga Seohyun akhirnya menyerah dan meninggalkan anak itu bersama laki-lakinya, yang sampai hari ini belum pernah ia temui lagi kurasa.

“Jadi bagaimana pernikahanmu Yoong? Maaf sekali aku tidak bisa datang kepertunanganmu kemarin..” ucapnya menyeka keheningan yang sempat mendominansi.

Aku tersenyum getir, terlalu malas membicarakan masalah pernikahan sebenarnya ”Ya begitulah, aku bahkan tak yakin bisa menikah dengannya” jawabku.

“Kenapa? Kau berniat melarikan diri seperti aku dulu?”

“Tidak juga sih, ini lebih keperasaan Seo..laki-laki itu mencintaiku, dan aku merasa bersalah karena tidak memiliki perasaan lebih padanya”

Aku terdiam kembali, begitupun dengan Seohyun. Kembali bergulat dengan pikiran masing-masing. Namun tak berlangsung lama, karena aku sudah memulai pembicaraan lagi.

“Kau sendiri bagaimana Seo? Apa sudah menemukan anakmu?”

***

Malam itu seluruh keluarga besarku sedang menikmati hidangan bersama di meja makan. Hari ini kakakku Im Seulong datang dari inggris bersama anak dan istrinya. Mereka memang menetap di sana. Sehingga aku lah yang menggantikan tugas Oppa menjadi pemimpin perusahaan.

“Imo..besok temamani Jinri belanja bisa?” ucap keponakanku begitu ia tiba dihadapanku. Aku mengelus rambutnya sayang, lalu mencubit pipinya gemas.

“Tentu saja sayang..Imo akan akan temani kemanapun kau mau” balasku dengan senyuman merekah. Aku memang sangat dekat dengan Jinri.

“Yoona-ya..ada yang ingin Ayah bicarakan padamu”

Aku menoleh menatap ayahku yang sudah berjalan ke ruang keluarga. Begitupun dengan yang lainnya.

“Jinri-ya..tunggu sebentar ya? Imo ada urusan dengan harabeoji, kau kembalilah dulu ke kamar nanti Imo menyusul” kataku. Jinri mengangguk paham, akupun langsung mengikuti langkah keluargaku.

“Apa di percepat? Tapi aku belum siap Ayah..” aduku ketika mendengar penuturannya beberapa menit yang lalu. Mereka ingin mempercepat pernikahanku dengan Luhan. Astaga..aku bahkan tidak yakin bisa merelakan kebahagianku demi mereka.

“Lebih cepat, lebih baik Yoona-ya..lagipula apa lagi yang kau tunggu? Kalian sudah sama-sama cocok, dan usiamu juga sudah cukup untuk berumah tangga, 26 tahun sudah bisa kurasa”

“Ya, tapi..”

“Tidak apa-apa Yoong..dulu Oppa menikah di usia 24 tahun, lebih muda darimu. Dan semuanya bik-baik saja” ucap kakaku. Kau tidak mengerti segalanya Im Seolong, aku berbeda darimu.

“Lagi pula kami sudah berbicara dengan keluarga Luhan, dan semuanya sudah sepakat” kini ibuku yang menambahkan.

Oh Tuhan..mereka benar-benar tidak mengerti perasaanku. Mereka tidak tahu bagaimana aku menyesuaikan diri ketika berada didekat Luhan. Mereka tidak tahu dengan ketertekanan yang mereka cekikkan padaku. Aku tidak ingin banyak…sekali saja, kumohon..beri aku kebebasan untuk memilih jalan hidupku.

Ingin aku berkata demikian. Tapi karena aku memang gadis paling pengecut di dunia, aku hanya bisa mengiyakan meski hatiku menjerit tidak mau.

“Arraseo..lakukan saja sesuai rencana kalian. Lagi pula, kapan aku berhak menentukan hidupku” ucapku dengan suara bergetar. Setelahnya aku langsung kembali ke kamar menumpahkan segala kekesalanku dengan air mata.

***

Seperti janjiku kemarin. Aku akan menemani Jinri berbelanja. Dan aku meluangkan waktuku untuk gadis kesayangan keluarga Im ini. Aku membawanya keliling Mall dan membelikan apapun yang dia mau. Kadang-kadang si penjual mengira Jinri adalah putriku, dan aku bahagia mendengarnya. Sejujurnya, aku juga berkeinginan memiliki seorang anak.

“Imo, ayo kita beli ice cream” rengek Jinri ketika melihat toko es krim di dekat parkiran mobilku. Lansung saja ku iyakan tanpa berpikir panjang.

Jinri menjilati es krim cokelatnya dengan lahap, sementara aku memilih es krim rasa strawberry kesukaanku.

“Imo, dia sepertinya ingin es krim juga” seru Jinri menunjuk seorang anak yang berdiri di dekat toko es krim.

Lho..bukankah itu gadis kecil yang kutemui tempo hari? Anak Oh Sehun, si arogan itu kan? Iya benar! Kasihan sekali..apa dia tak diberi jajan oleh ayahnya?

“Jinri-ya..tunggu sebentar ya..” kataku. Lalu mendekati gadis kecil itu.

“Annyeong Sena-ya..” sapaku ramah. Aku memang langsung mengingat namanya, ketika pria itu memanggilnya.

“Ajjuma!” serunya. Oh..jadi dia masih mengingatku.

“Kau ingin Es krim?” tanyaku. Dia menganggul imut. Segera saja kuberikan Es krim strawberry di tanganku.

“Ini untumu”

“Untukku?” Tanyanya tidak yakin.

“Ne, untumu” jawabku. Ia menerimanya dengan ragu-ragu lalu menjilatinya perlahan. Kurasakan Jinri mendekat ke arah kami.

“Imo. Sipa dia?” Tanya keponakanku.

“ Dia teman Imo Jinri-ya..dan mulai sekarang akan menjadi temanmu juga, ayo berkenalkan”

“Annyeong…Aku Im Jinri”

“Aku Oh Sena”

Aku tersenyum melihat mereka berdua yang tertawa bersama. Andai kedua anak-anak imut ini adalah anakku, pasti aku akan bahagia sekali. Sepertinya mereka seumuran.

“Sena-ya! Oh Sena!”

“Appa!”

Oh Sehun. Laki-laki dingin yang juga teman Luhan itu berjalan menghampiri kami. Mukanya tampak datar lalu mendekat ke arah putrinya.

“Siapa yang memberimu Es krim ini? Sudah Appa bilang jangan menerima sesuatu dari seseorang yang tidak kau kenal”

“Ajjuma itu yang memberikannya” ucap Sena sambil menunjukku. Kini pandangan pria itu beralih menatapku garang.

“Kau lagi? Kenapa kau selalu menganggu anakku dimana-mana eoh?”

“Mwo?” Apa yang pria ini katakan? Mengganggu? siapa yang mengganggunya? Aku hanya..

“Dengar ya, aku tahu kau adalah tunangan Tuan Xi, tapi meski begitu kau tidak harus cari muka di depanku dan anakku”

“Astaga..Yak, kau ini bicara apa? aku tidak cari muka..aku hanya..”

“Sena-ya..ayo kita pulang! Lain kali jangan menerima sesuatu dari orang asing Arra?”

“Arraeso Appa..” keduanya langsung berlalu menjauhiku. Aku mendengus, dasar namja berlebihan.

“Imo, dia Ayah Sena? Kenapa kejam sekali?” Tanya Jinri menyadarkanku.

“Dia salah makan Jinri-ya..jangan dipikirkan, kajja kita pulang”

Tak lama setelahnya mobilku melaju meninggalkan parkiran.

To be continued

Annyeong Chingudeul…
Ini adalah FF pertama yang aku publish di sini. Mian kalau mengecewakan, juju aja aku gak berbakat dalam dunia tulis-menulis maupun perFFan (?)
Untuk typo harap di maklumi. Alur gaje? Jangan tanyakan karena otak saya emang bengak banget, jadi wajar ceritanya absurd. EYD? Hadeh..gak tahu apa-apa mah soal yang satu ini.
Tapi..(ada tapinya loh ini)…keinginan untuk belajar tentu ada dong..karena itu aku butuh kritik dan saran dari kalian untuk kelanjutan nih FF, gak ada tawar menawar, WAJIB beri komentar! oke? eoh? Arraseo?
Ya udahlah, berharap aja ada yang suka dengan FF super gak jelas ini, kalau begono Author undur diri..
sampai jumpa di next chapter chinguuuuu😀

37 thoughts on “Smothering (Chapter 1)

  1. menurutku sena itu anak seohyun. entah kenapa aku ngerasa kalo yoona bakal suka sama sehun. dan konfliknya ke arah situ.
    tapi aku lebih ngarepin pairing endingnya luhan-yoona. karena pasangan itu udah realistis aja menurutku, kalo sehun-yoona entah kenapa aku kurang ngena nantinya di ff ini *padahal aku yoonhun shipper* alasannya ya karna sehun udah punya anak, sehun sahabat luhan, ibunya sena itu seohyun, dan seohyun sahabatan sama yoona.

  2. daebak,ceritanya menarik.
    di sini yoona eonni bakalan suka yah ma sehun tapi bagaimana dgn luhan.
    di tunggu kelanjutanya.
    fighting…!!!

  3. Aku ngerasa, kalau Sena itu anak Sehun dengan Seohyun. Dan Sena, mungkin akan sering bertemu dengan Yoona secara tidak sengaja. Hal itu lama-kelamaan juga akan membuat Yoona-Sehun akrab. Aku mikir Sehun yang bakalan suka sama Yoona duluan? Haha sok tahu *lol😀
    Dan disini pihak yang akan tersakiti itu Luhan-Seohyun, karna mereka sama-sama cemburu😄

    Daripada nebak gak jelas, aku tunggu chapter selanjutnya~
    Good Job.
    Fighting!

  4. bingung ama luhan pas ngajak yoona pergi.kata dia ayah yoona gak bkalan marah knpa jdi marah2??dan sehun punya segudang misteri,knpa anaknya selalu ada di tiap tmpat??

  5. Makin penasaran nih thor sana kelanjutannya, buat sehun suka sama yoona yah
    Next chapter jangan lama lama ya thor
    Keep writing

  6. Kayaknya sena itu anak seo dan sehunnn dehhh, aduhhh gmna nnti kalau luhan tau yoona ga mncintaiinya kerenn kok thor ffnya ditunggu ya next partnya

  7. Wow, something!
    Critanya menarik. Sehun knp dngin gtu yah? Pasti sehun n sena adl suami n ank yg d’ktakn soehyun td!
    Brharapnya yoonghun sling suka tp kshn jg Luhannya.
    d’tnggu chap 2 nya. krn msh chap 1 chap awal crita, aku kyakx blum bnyak brkomentar. So, fighting! Keep writting!
    #pamitbarengTAO

  8. ini ending nya Luyoon kan thor?
    ayolah buat yoona cinta sama Luhan
    Sehun kan udah punya anak, trus kaya nya Sena itu anaknya Seo deh..

  9. Jangan2 sena anak seo ama sehun lg. . .aduh. . .ntar y0ona ama lulu apa sehun. . .kyaknya yo0na nanti suka ama sehun k0nflik nya ribet. . . pairingnya yo0na ama sehun aja dech. . .gak tau kenapa suka pairing yo0nhun

  10. Jangan bilang sena itu anknya seohyun sama sehun thor. Terus bakal ada konflik cinta antara luhan-yoona-sehun-seohyun gituuu? Oooh pasti bakal rumit bangettt. Aku bingung kalo disuruh milih antara luyoon sama yoonhun, tpi kalo di ff ini kayanya luyoon deh. Secara sehun udah punya anak terus kalo beneran sehun sama seohyun udah nikah. Aaa pokoknya ditunggu kelanjutannya deh thor…

  11. Jangan2 Sena anak Sehun sama Soehyun ya… knp ya Yoona ga bs mencintai Luhan n siapakah laki2 yg dicintai Yoona? Jadi penasaran. …

  12. Banyak tanda tanya nya niih …
    Jadi yoona pengen menikah ama syp ?
    Ibunya sena syp ?
    Anaknya seo itu cewe atw cowo ?
    Kok sehun semengerikan itu yaaa ???

  13. bukan shipper luhan yoona tapi krna ide cerita ini menarik jadi pengen baca…. pensaran gmana yoona akhirnya jatuh cinta sama luhan…. next thor…. hwaiting….

  14. hahahah sehun kenapa galak amat yak -,- sepertinya sena itu anak sehun sama seohyun__ ceritanya kerenn thor ehehe next part jebbal:)))

  15. semoga yoona ama luhan
    lagian pilihan ortu yoona emang bener. Luhan udah baik, kaya, cinta lagi ama dia =D
    Tentang Sena yang panggil Sehun appa n Seo yang ternyata udah punya anak? aku tunggu kejutan dari author =D
    Tapi, kenapa sehun panggil Luhan tuan Xi?

  16. Iyya yg jd pertanyaan anaknya seo itu anak sehun jg atw bukan?? Si sehun jutek amat sm yoona pdhl itu kn tunangannya sahabtnya sendiri si luhan,,apa sehun sm luhan ada sesuatu yaa..
    Masih penasaran,,luhan jg rada misteri niih urusan kantor ninggalin yoona gtu ajah..mending k next chapt aja deeh..

  17. Hanjerr,, sehunnya kjem amt,
    Wah kykny sena itu ankny seo ya?
    Ap yoona bklan ska sma sehun?
    Duh rmit jga ya..
    Nice ff ny thor ,,oh ya aku reader bru d sni
    Slm knal🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s