MOVIE

10818352_866736723350601_5488191766523994409_o (3)

by
Clora Darlene

Main Casts
Im Yoona | Kim Jongdae

Supporting Casts
Lee Sunkyu | Choi Sooyoung | Others

Length | Genre | Rating
Oneshot  (3142 words) | Romance | PG-15

Inspired by D.O's 'Tell Me What Is Love'
Before Story; The Mysterious Ways

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)            Sejak malam itu, Yoona mencoba untuk tidak mendengar namanya saat semua orang menyebutkannya.

Sejak malam it―

“Bisakah kau mengganti lagunya atau menggunakan headset?” Tanya Yoona pada seorang perempuan yang duduk di hadapannya dan menemaninya menikmati secangkir kopi hangat di Café de Flore, Paris.

Wae? Lagu ini sangat bagus.” Perempuan itu―Lee Sunkyu as known as Sunny―berucap heran.

Ya, aku tahu lagu itu sangat bagus.

Please?” Yoona memelas.

Dengan berat hati Sunny mengalah dan mengganti playlist-nya, well atau Yoona akan mengamuk. “Padahal Thinking Out Loud adalah lagu yang bagus.” Sunny berkomentar lalu mengganti lagu yang lainnya.

Yoona lebih memilih melingkarkan jarinya pada pegangan cangkir lalu menyeruput kopinya. Ia tidak ingin ikut berkomentar tentang ‘betapa bagusnya Thinking Out Loud’―karena ia sudah tahu bagaimana bagusnya lagu itu dengan seluruh memori yang memenuhi setiap bait liriknya.

Iris madunya melirik ponselnya yang berada di atas meja. Kembali sederet nomor yang tidak ia kenal menghubunginya. Oh, astaga, ini sudah kali kedelapan nomor itu menerornya.

“Kau tidak mengangkatnya?” Tanya Sunny juga ikut melirik ponselnya Yoona. “Dia telah menelponmu banyak kali. Mungkin saja ada hal penting.”

Yoona memandang Sunny sejenak lalu akhirnya ia memutuskan untuk meraih ponselnya dan menempelkannya pada telinga kirinya. “Hello?”

Oh, Tuhan! Im Yoona-ssi, akhirnya kau mengangkat telponku!” Kening Yoona mengerut reflex saat mendapati―ternyata―orang yang mencoba menghubunginya selama ini adalah seorang perempuan berbahasa Korea.

Nuguseyo?” Tanya Yoona.

Maafkan aku sebelumnya karena tidak mengirimkanmu pesan untuk memperkenalkan diriku karena aku terlalu excited untuk mendengar suaramu langsung dan berbicara kepadamu! Aku Choi Sooyoung.”

“Choi Sooyoung?” Alis kiri Yoona terangkat dan iris madunya langsung mendapati Sunny yang hampir menyemburkan kopi yang berada di dalam mulutnya kepadanya. Mata sahabatnya itu melebar maksimal dan―jika bisa―bolamata perempuan itu hampir saja jatuh.

Ne, Choi Sooyoung. Apa kau mengenalku?” Tanya Sooyoung di ujung sana.

I don’t have any idea.” Jawab Yoona jujur. Well, ia benar-benar tidak pernah berkenalan dengan seorang perempuan bernama Choi Sooyoung.

Baiklah. Perkenalkan, aku Choi Sooyoung. Aku seorang sutradara.” Sooyoung memperkenalkan dirinya singkat.

“Su…tradara?” Sutradara sedang menelponnya? Pikir Yoona.

Ne. Aku akan segera menggarap sebuah film baru dan aku berharap kau bersedia di-casting untuk pemeran utama perempuan.” Sooyoung berkata dengan sangat ramah dan lembut sekali.

“Apa?” Mulut Yoona menganga dan benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan Sooyoung.

Aku ingin bertemu denganmu karena aku ingin kau menjadi pemeran utama perempuan dalam filmku selanjutnya.” Lagi, Sooyoung menjelaskan dengan pelan.

“K-Kau bercanda? Aku bahkan bukan aktris dan tidak bisa berakting.” Yoona tak sadar bahwa kepalanya menggeleng.

Aku tahu kau bisa. Jadi, apa kita bisa bertemu?

“Aku sedang di Paris saat ini. Aku akan kembali ke Korea besok.” Jawab Yoona.

Ah, sayang sekali. Padahal aku sangat ingin bertemu denganmu secepatnya. Lalu, bagaimana dengan Sabtu?” Sooyoung menawarkan.

Well, hari ini adalah Hari Selasa. Besok―Hari Rabu―ia akan terbang ke Korea. Kamis, ia telah sampai di Seoul. Jum’at beristirahat, dan Sabtu sepertinya ia free. Yoona menimbang-nimbang jadwalnya. “Baiklah. Sabtu.”

Homestead Café jam sembilan pagi?

“Baiklah.”

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)            Jam segera menunjukkan pukul sembilan malam―menandakan pesawat yang akan membawanya kembali ke tanah kelahiran akan segera take-off. Yoona menyodorkan passport dan flight ticket-nya pada petugas imigrasi, menunggu sejenak dengan kantuk yang sangat berat lalu berucap, “Merci.” Well, dua minggu di Paris―terpaksa―membuatnya mempelajari bahasa nasional negara tersebut. Setelah ia menerima kembali passport beserta flight ticket-nya, Yoona yang menenteng sebuah tas soft pink berukuran medium segera melangkahkan kakinya memasuki badan pesawat. Ia disambut dengan ramah oleh seorang pramugari berparas cantik dan menolak untuk dibantu menemukan kursinya.

Iris madu Yoona sibuk memperhatikan setiap kode kursi yang tertera di bawah penutup overhead luggage compartment di Kelas Bisnis. Dan ia menemukannya―Thanks, God, batinnya. Ada di seberang sana. Seseorang telah mengisi kursi di sebelah jendela dan sedang menatap keluar sana. Yoona segera melangkah dan laki-laki itu menyadari ‘teman duduknya’ telah datang.

Laki-laki itu menoleh. “Yoong?”

Yoona terdiam membeku. Raut wajahnya berubah dan waktu mendadak berhenti saat iris madunya kembali menatap wajah itu. “Aku baru tahu kau berada di Paris,” Jongdae tersenyum.

Oh, Demi Tuhan, jangan tersenyum seperti itu!

“Sudah lama kita tidak bertemu, Yoong. Bagaimana kabarmu?” Tanya Jongdae masih belum bisa membuat mata Yoona mengedip. Yoona belum menghela nafasnya. Paru-parunya mendadak berhenti bekerja sejenak.

Sebelum mengedipkan matanya, Yoona memutuskan untuk berbalik dan ingin melangkah pergi namun terlalu lambat untuk tangan Jongdae. Laki-laki itu langsung meraih tangannya dan Yoona reflex membalikkan badannya. “Kau mau pergi kemana?” Tanya Jongdae lagi namun bibir tipis pink Yoona masih tidak dapat bergerak untuk menjawab.

“Duduklah. Aku akan menampilkan special performance malam ini hanya untukmu.”

“Sekarang sudah pukul sembilan lebih dan kau ingin naik taxi? Bagaimana jika kau bertemu orang jahat dan mereka menghipnotismu?”

“Bisakah kita istirahat sebentar saja? Rasanya aku ingin mati.”

Sekelebat memori itu menghujani Yoona tanpa belas kasih. Terus-menerus dan tanpa henti. Membuatnya kembali mengingat betapa menyedihkan dan sakit hatinya ia saat malam itu. Saat seorang laki-laki memecahkan hatinya menjadi ribuan keping. Saat seorang laki-laki hanya dalam waktu kurang dari satu detik mampu membuatnya menangis berhari-hari, berminggu-minggu―sangat kejam.

Saat iris madunya bertemu dengan iris gelap itu sekarang―ia merasakan sakit itu lagi. Dengan jumlah yang berlipat ganda.

“Ini adalah kursimu, duduklah,” Iris gelap Jongdae melirik kursi yang seharusnya ia duduki lalu kembali memandang Yoona. “Bersamaku.”

Jangan pernah berbicara seperti itu!

“Jangan berkata seperti itu. Bisa saja ada penggemarmu di dalam pesawat ini dan mereka mendengarnya.” Ucap Yoona akhirnya.

“Maka, duduklah.” Perintah Jongdae.

Yoona ingin sekali melangkahkan kakinya dan pindah ke Kelas Ekonomi―atau keluar dari pesawat ini dan mengikuti penerbangan dua hari lagi bersama Sunny―tapi Jongdae menariknya dengan mudah. Laki-laki yang mengenakan sweater berwarna Biru Tua itu mengambil tas soft pink yang berada di tangan Yoona dan memasukkannya ke dalam overhead luggage compartment.

“Apa aku bisa duduk di dekat jendela?” Tanya Yoona. “Aku tidak biasa duduk di pinggir.”

As you wish,” Jongdae mempersilakan Yoona duduk terlebih dahulu. Yoona menatap keluar jendela dan menggigit bibir bawahnya. Ia menahan untuk tidak memandang wajah itu lagi. “Ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Yoona memperbaiki raut wajahnya, mencoba terlihat senormal mungkin. “Apa?”

Jongdae terdiam sejenak. Laki-laki itu membasahi bibirnya sebelum membuka mulutnya. “Kenapa saat malam ulang tahunku kau tiba-tiba pergi?”

Bibir tipis Yoona melengkung indah. “Kau sendiri yang mengatakan padaku bahwa alkohol tidak baik untuk penari sepertiku,” Yoona menghela nafas. “Aku tiba-tiba pusing dan mual, itu mengapa aku pulang. Dan setelah kejadian itu, aku jatuh sakit beberapa hari.” Oh, alasannya buruk sekali. Sejak kapan tubuhnya mulai menolak alkohol? Tidak pernah. Semua orang mencintai minuman-minuman tersebut, termasuk Yoona.

“Maafkan aku.”

Yoona terlihat tersentak karena terkejut. “Maaf? Untuk apa?”

“Karena membuatmu jatuh sakit,” Jawab Jongdae singkat dengan iris gelap yang menatap dalam iris madu Yoona dengan penuh rasa bersalah. Lalu, akhirnya Jongdae mengalihkan pandangannya. “Mungkin aku harus merayakan ulang tahunku di tempat lain.”

“Itu terdengar lebih baik.” Timpal Yoona.

“Hey, ponimu kembali.” Jongdae memerhatikan dan baru tersadar bahwa Yoona kembali menggunakan poni.

“Ya, aku memotongnya.” Yoona melirik poninya.

Jongdae tersenyum. “Aku menyukainya.”

Ladies and gentlemen, welcome onboard Flight AF262 with service from Paris to Seoul. We are currently third in line for take-off and are expected to be in the air in approximately seven minutes time. We ask that you please fasten your seatbelts at this time and secure all baggage underneath your seat or in the overhead compartments. We also ask that your seats and table trays are in the upright position for take-off. Please turn off all personal electronic devices, including laptops and cell phones. Smoking is prohibited for the duration of the flight. Thank you for choosing Air France. Enjoy your flight.”

“Ini akan menjadi delapan belas jam yang menyenangkan.” Gumam Jongdae selagi mengenakan seatbelt-nya.

Wae?” Tanya Yoona.

“Hanya di pesawat aku bisa beristirahat dengan tenang. Terkadang aku masih dapat mendengar teriakan-teriakan penggemarku dari apartemenku, atau terkadang mereka akan mengikutiku kemanapun aku pergi. Beberapa dari mereka juga sangat…menyeramkan.”

Sasaeng fans.” Yoona dengan cepat mengerti maksud Jongdae.

Jongdae menjentikkan jarinya―mengisyaratkan bahwa Yoona benar. “Kau tidak sebodoh yang kubayangkan.”

Oh, astaga, kalimat rendahan macam apa itu? Yoona mendengus. “Aku bahkan tidak sebodoh dirimu saat menari.”

Jongdae menahan tawanya dan mendekatkan wajahnya pada wajah Yoona. “Dan aku bahkan tidak sebodoh dirimu saat memainkan gitar dan bernyanyi.” Jongdae tersenyum lebar, hampir mirip seperti anak kecil dengan wajah yang menawan dan mata yang indah. Yoona kembali merasakannya―saat waktu di dunianya berhenti dan seakan hanya ada dia dan Jongdae di tempat ini.

“Bukankah kau si tukang lip-sync?” Yoona menyandarkan punggungnya dengan cepat pada sandaran kursi saat badan pesawat mulai menukik ke atas―time to fly, batin Yoona. Beberapa detik setelah take-off, Yoona menoleh pada jendela pesawat di sebelahnya.

Kata ‘indah’ saja tidak cukup untuk mendeskripsikan gemerlapnya Paris saat malam hari. Hamparan lampu-lampu itu menerangi kota dengan Menara Eiffel tersebut seperti kilauan emas. Yoona menyukai pemandangan tersebut. “We’re above the city lights,” Ucap Jongdae yang juga ikut memerhatikan hamparan Kota Paris di bawah sana. Yoona menoleh dan Jongdae kembali melanjutkan ucapannya. “Aku bukan ‘si tukang lip-sync’ yang kau maksud. Mungkin maksudmu adalah another Kim Jongdae.”

“Aku hanya mengenal satu Kim Jongdae―kau.” Bantah Yoona, mengacungkan telunjuknya lalu menunjuk Jongdae.

Iris gelap Jongdae terputar kesal. Berpikiran bahwa percuma saja berbicara dengan Yoona dan akhirnya mengganti topik pembicaraan. “Kau ingin meminum sesuatu?”

“Martini tidaklah buruk.” Gumam Yoona.

“Aku tidak ingin kau muntah di sini dan membuatku malu.” Bantah Jongdae lalu memanggil seorang pramugari.

Yoona mendesis. Oh, astaga, ia tidak akan muntah―well, setelah ia mengatakan cerita palsu itu. Dan tidak akan membuatnya malu. Laki-laki ini berpikir dengan cara yang berlebihan. “A glass of Martini and milk.” Beritahu Jongdae pada seorang pramugari dengan rambut pirang. Perempuan tersebut tersenyum dan menyanggupkan permintaan Jongdae.

Yoona tersenyum mendengar ‘a glass of Martini’. Ia tidak menghiraukan Jongdae yang masih meminum susu. Ia tersihir dengan kata ‘Martini’ dan tidak sabar menunggu gelas bertiang itu datang menghampirinya. Yoona memperhatikan pramugari pirang itu membawa penampan dengan dua gelas di atasnya. “Thanks.” Ucap Jongdae saat menerima kedua gelas tersebut dan membiarkan pramugari pirang tersebut berlalu.

Jongdae menoleh dan menyodorkan segelas susu vanilla pada Yoona. Kening Yoona langsung membentuk lipatan berlapis. “Aku tidak memesan susu.”

“Dan kau juga tidak memesan Martini.” Bantah Jongdae ringan seraya kedua bahunya naik.

“Aku ingin Martini.” Yoona melirik segelas Martini yang berada di tangan Jongdae yang lainnya.

“Apa kau tahu susu lebih baik dari Martini untuk seorang penari sepertimu?”

Iris madu Yoona terputar. “Oh, astaga. Kau berlagak sok pintar.”

Jongdae tertawa ringan mendengarnya. “Tapi, aku benar, bukan?”

Yoona mendengus dan terpaksa meraih segelas susu yang disodorkan oleh Jongdae. “Aku tidak suka susu vanilla.”

Strawberry?” Tebak Jongdae lalu meneguk Martini-nya sedikit.

Yoona terkejut mendengar tebakan Jongdae. “Bagaimana kau tahu?”

Shampoo-mu beraroma strawberry. Kau pasti sangat menyukai buah itu,” Jongdae tiba-tiba mendekatkan wajahnya dan mencium aroma rambut Yoona. Begitu dekat dengan wajah Yoona yang tiba-tiba membeku dan gugup. “Aromanya masih sama.”

Yoona menggunakan kesempatan tersebut untuk meraih gelas bertiang di tangan Jongdae lalu menukarnya dengan gelas susu miliknya. Ia tersenyum penuh kemenangan dan kepuasan. “Aku lebih suka ini.” Yoona langsung menghabiskan Martini milik Jongdae dengan sekali tegukan.

Jongdae hanya dapat tersenyum simpul melihat tingkah laku Yoona lalu meminum susu vanilla yang berada di tangannya. Setelah menyelesaikan tegukan terakhir, Jongdae kembali memanggil seorang pramugari dan memberikan dua gelas kosong tersebut. Ia menoleh memandang Yoona. “Kau tidak tidur?”

Otak Yoona berpikir lebih cepat sebelum suaranya keluar. Ia baru ingat seberapa mengantuknya ia saat naik ke dalam pesawat tadi. Seberapa kesalnya ia saat menunggu di airport tadi karena mati bosan dan lelah. Namun, semuanya musnah dalam waktu satu detik saat ia bertemu dengan sosok di sebelahnya ini.

“Kau terlihat kelelahan.” Lanjut Jongdae lagi mengamati wajah Yoona dan berakhir pada iris madu Yoona.

“Tentu saja, aku akan tidur sekarang.” Yoona tersenyum kecil. Ia meraih selimut beserta bantal yang telah disiapkan oleh pihak penerbangan. Ia menurunkan sandaran kursinya dan menaruh bantal sejajar dengan kepalanya dan membaringkan tubuhnya.

Good night, Yoong.” Jongdae tersenyum kecil menatap Yoona.

Senyum Yoona masih menyungging untuk membalas senyuman Jongdae. Ia melebarkan selimutnya. “Good night.”

Yoona memutuskan untuk menutup matanya dan berpindah alam, sedangkan Jongdae memilih untuk membaca beberapa majalah. Ia menyalakan lampu yang berada tepat di atasnya dan mulai membolak-balik setiap lembar. Ia tidak terlihat begitu mengantuk dan menikmati bacaannya. “Kau tidak tidur?” Jongdae reflex menoleh saat mendengar suara Yoona bertanya kepadanya.

“Kau tidak tidur?” Tanya Jongdae balik.

“Kau tidak tidur?” Tanya Yoona lagi.

“Aku belum mengantuk,” Jawab Jongdae singkat. “Wae?”

“Aku tidak bisa tidur.” Gumam Yoona menyedihkan. Oh, Demi Tuhan, ia butuh tidur. Rasa lelahnya seakan-akan merasuk hingga tulang-tulangnya.

Jongdae menaruh kembali majalahnya dan menurunkan sandaran kursinya, sejajar dengan kursi milik Yoona. Ia memandang Yoona. “Apa kau tahu Do Kyungsoo?”

Yoona mengangguk. “Suaranya lebih bagus dari suaramu.”

“Aku tahu sebenarnya di dalam hatimu kau sedang memujiku tapi kau malu untuk mengatakannya. Aku mengerti, Yoong,” Timpal Jongdae pelan dan membuat iris madu Yoona terputar. “Kau tahu lagunya yang berjudul Tell Me What Is Love?”

Yoona kembali mengangguk.

“Kau ingin aku menyanyikannya untukmu?” Jongdae menawarkan.

“Kau membawa alat lip-sync-mu?” Tanya Yoona pelan.

Jongdae tersenyum kecil dan menahan tawanya. “Ya, aku membawanya.”

Yoona tertawa kecil mendengar jawaban Jongdae. “Baiklah.”

Jongdae menarik nafas panjang lalu menghelanya pelan―mencoba mengatur deru nafasnya. “Yeah Yeah Yeah Yeah. Play it on a slow jam. This is my property. Tell me what is love…

Nareul saranghaji anheun neoreul ijeun-chae. Hago sipeottdeon modeun-geol hago sarado. Moeritseog-e neon jeoldae jiwojijiga anha dodaeche. Wae neon nal jakku mireonaeyaman haettna? Geureolsurok dagaseon naega igijeogin maeumi-eottna? Ireon saeng-gakdeur-ro domangchijimot-hae. Iddange jeongmal sarangin-ge majeulkka?

Mata Yoona tak berkedip untuk beberapa detik. Ia tidak ingin melewatkan setengah detikpun untuk melihat Jongdae. Kantuk yang seharusnya menguasainya dan membuatnya terlelap tiba-tiba hilang―apa sebegitu terpukaunyakah Yoona? Entahlah, tapi Yoona selalu suka suara Jongdae. Ia selalu suka saat laki-laki ini bernyanyi, bermain gitar. Saat laki-laki ini berhasil membuatnya jatuh hati―Im Yoona menyukai segala hal tentang Kim Jongdae. Oh, astaga, cinta lebih memabukkannya ketimbang Martini.

He-eojil junbiga andwaesseo Wait a minute. Gidarimeun neomu gireunde Has no limit. Daedab eobtneun neol jakku bul-leodo me-ariman dorawa. Oh Oh Oh Oh Oh…

Neoreul ilhgodo saraganeun naega neomu shiljiman. ‘Eonjen-ganeun’-irago baraenda. Tell me what is love. Tell me what is love. Oh Oh…

Jongdae kembali mengatur nafasnya. Ia kembali memandang Yoona. “Kau menyukainya?”

Bahkan sebelum kau bernyanyi aku sudah menyukainya.

“Alat lip-sync-mu terdengar lebih bagus sekarang.” Jawab Yoona kemudian tertawa kecil.

“Aku baru saja memperbaikinya.” Timpal Jongdae.

Gomawo,” Iris beda warna itu saling menatap untuk beberapa detik. Iris gelap itu melihat iris madu itu tersenyum kepadanya. “Untuk lagunya.”

“Baiklah, kau harus tidur. Kau berhutang segelas Martini kepadaku.”

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)            Yoona membuka kelopak matanya. Matanya menyipit karena baru saja terbangun dari tidurnya. Ia melirik jam tangannya―hampir menunjuk angka lima di pagi hari. Yoona menoleh dan mendapati Jongdae masih tertidur lelap. Tanpa Yoona sadari, iris madunya tak ingin lepas dari garis wajah Jongdae. Ia memperhatikan dengan seksama, ingin menikmati sejenak karya Tuhan di sebelahnya itu.

Karya Tuhan yang memiliki ruang tersendiri di dalam hatinya.

Yoona menghela nafas lalu beralih pada penutup jendela pesawat. Ia membukanya dan melihat keluar sana. Matahari akan segera tampak sebentar lagi―membuat Yoona excited untuk melihat sunrise dari atas pesawat. Ia mengguncangkan bahu Jongdae pelan. “Hey, bangunlah.”

Jongdae masih belum merespon dan kembali Yoona mengguncangkan bahunya. “Jongdae-ya.”

Jongdae mengerang. Dengan mata yang masih terpejam, ia bergumam tidak jelas. “Ada apa?”

Sunrise.” Jawab Yoona dengan senyum lebar.

Jongdae mengucek matanya lalu bangun dari sandaran kursinya. Yoona menoleh dan kembali memandang keluar sana―saat langit berubah menjadi gradasi biru dan oranye yang indah.

Tunggu. Indah?

Yoona melirik Jongdae yang berada di sebelahnya. Laki-laki itu juga ikut melihat sunrise dari jendela pesawat.

Yoona tidak lagi mengetahui definisi ‘indah’ yang sebenarnya. Semenjak Kim Jongdae masuk ke dalam kehidupannya dan setiap kali ia mendengar kata ‘indah’ yang terbesit di otaknya adalah ‘Kim Jongdae’. Kim Jongdae adalah keindahan? Entahlah, Kim Jongdae terlalu indah untuk didefinisikan.

“Mana yang lebih kau suka, sunrise atau sunset?” Tanya Jongdae memecahkan lamunan Yoona.

Yoona menoleh. “Sunrise, tapi aku tidak bisa bangun pagi,” Jawab Yoona menahan tawanya. “Kau?”

Sunset, itu mengapa aku jarang melihat sunrise,” Jawab Jongdae. “Ini adalah sunrise terindah yang pernah kulihat. Sungguh.”

“Aku bertanya-tanya, apa yang kau lakukan di Paris?” Tanya Yoona mengubah topik pembicaraan.

“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu kepadamu. Apa yang kau lakukan di Paris?” Tanya Jongdae balik.

“Liburan,” Jawab Yoona singkat. “Bersama temanku.”

Alis kiri Jongdae terangkat. “Temanmu?”

Yoona mengangguk. “Ne, temanku.”

Nugu?”

Wae?”

“Aku hanya bertanya tentang temanmu. Apa tidak boleh?”

“Sunny.” Jawab Yoona lagi.

Jongdae menghela nafas pelan. “Seorang pengusaha mengundangku untuk memeriahkan ulang tahun anak perempuannya. Private Party.”

“Anak perempuannya pasti sangat mengidolakanmu.” Yoona berkomentar.

“Ya, seperti dirimu,” Jongdae tersenyum jahil. Yoona mendengus mendengar ucapan Jongdae. “Jika aku menjadi dirimu, aku akan memperpanjang liburanku. Dua bulan, tiga bulan, atau jika perlu empat bulan.”

“Tidak jika seorang sutradara menelponmu.”

Kening Jongdae mengerut. “Kau ditelpon oleh seorang sutradara?”

Yoona mengangguk polos menatap Jongdae. “Choi Sooyoung.”

Mata Jongdae membulat. “Choi Sooyoung?” Suaranya meninggi.

“Ya. Kau mengenalnya?” Oh, astaga, Yoona terlalu polos kali ini.

“Dia memenangkan best film director award selama empat tahun berturut-turut,” Jelas Jongdae. “Apa yang dia katakan padamu?”

“Dia memiliki project film baru dan dia memintaku untuk ikut casting sebagai pemain utama perempuan. Aku tidak mengerti apa yang merasuki dirinya hingga dia menelpon seperti itu.” Yoona menaikkan kedua bahunya.

“Dan kau akan ikut?” Tanya Jongdae.

“Entahlah, aku tidak tahu. Aku bukan seorang aktris dan tidak bisa berakting.” Gumam Yoona memandang Jongdae.

“Jarang sekali Choi Sooyoung memilih orang yang salah untuk bermain di filmnya, hampir tidak pernah salah. Kurasa, sekarang dia juga tidak salah.” Jongdae tersenyum kecil.

Yoona menggigit bibir bawahnya. Ia memandang Jongdae ragu. “Apa menurutmu aku harus ikut casting itu?”

“Kesempatan emas tidak akan pernah datang dua kali. Aku sudah membuktikannya.”

tumblr_n1pdyfxSYo1rkh709o3_r1_1280 (2)            Homestead Café, 9:02 AM KST.

            Yoona duduk di salah satu meja di ruangan tersebut. Ia telah berada di tempat tersebut tiga puluh menit lebih awal dari yang dijadwalkan―apa itu berlebihan?

Yoona melirik arlojinya. Sudah lewat dua menit dan Choi Sooyoung masih belum menampakkan dirinya. Yoona membasahi bibirnya yang―sejak pagi tadi―tiba-tiba menadi mudah mengering. Jantungnya berpacu cepat. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia bertemu dengan seorang sutradara untuk casting. Ia biasa menari dan sekarang ia harus berakting?

“Im Yoona?”

Yoona menoleh dengan cepat lalu bangkit. Ada sosok perempuan tinggi dengan rambut yang digerai di hadapannya sekarang. “Choi Sooyoung-ssi?”

Perempuan itu tersenyum menampakkan gigi sempurnanya. “Ne. Annyeonghaseyo, Choi Sooyoung imnida.” Sooyoung membungkuk memberikan salam hormatnya.

Yoona ikut membungkuk. “Annyeonghaseyo, Im Yoona imnida.” Setelah berjabat tangan, keduanya duduk berhadapan.

“Maafkan aku karena terlambat, ada beberapa hal yang harus kuurus,” Sooyoung menjelaskan. “Kau terlihat lebih cantik dari yang kubayangkan.”

Gamsahmanida.” Yoona tersipu malu mendengarnya. Semburat merah tomat itu mewarnai pipinya.

“Aku melihatmu di music video milik Jongdae. Aku menyukai caramu memandang Jongdae di music video tersebut. Kau terlihat seakan benar-benar mencintainya. Harus kuakui, kau hebat dalam music video itu,”

Yoona tersenyum kecil. Seakan benar-benar mencintainya? Aku benar-benar mencintainya, entah bagaimana bisa.

“Kudengar, kau satu pesawat dengan Jongdae saat kembali dari Paris. Apa itu benar?” Tanya Sooyoung.

Yoona mengangguk. “Ne. Bagaimana kau tahu?”

“Jongdae menceritakannya padaku.”

Kening Yoona mengerut. “Kau sudah mengenalnya?”

Kini kening Sooyoung yang mengerut. “Apa dia tidak memberitahumu bahwa dia akan menjadi lawan mainmu sebagai pemeran utama laki-laki? Dia yang merekomendasikanmu kepadaku.”

the end

9 thoughts on “MOVIE

  1. Yak! Ini bagus thor.. Wee tapi kenapa endingnya gantungg?😦
    Jadi semua ini tak lepas dari akal bulus *plak* Jongdae?😮 kkk~
    Kalau baca fanfict ini jadi keinget Yoona main drama di China yg menimbulkan banyak kontroversi😥 *poorYoonaeonni*/curhat😀
    Buat sequel dongg thor🙂
    Fighting!

  2. Whoa, kukira Mysterious Way cuma fanfiksi tunggal, ternyata ada sequel-nya toh. Saya sebenernya -atau sepertinya- belum pernah denger lagunya D.O. yang ‘itu’, tapi kayaknya bagus deh. Buat fanfiksi-nya kayak sebelumnya, keren, bagus walaupun sebenernya beda jauh ama bayangan saya abis baca seri sebelumnya. Ending-nya ternyata dibuat sejenis :v Ini mau dibikin lanjutannya lagi atau cuma dua ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s