Unexpected : That Man

unexpected

Unexpected : That Man

HyukGumsmile

Cho kyu hyun Im Yoona

Romance

PG-17

Usai hari itu yoona tak lagi menemukan sosok kyu hyun dimanapun. Lelaki itu kembali menghilang ditengah kesibukan kantor dan tak dapat ditemukan meski malam menjelang. Yoona pernah menungguinya hingga larut dan kenyataan jika lelaki itu urung untuk pulang membuat batinnya semakin bergetar ciut.

“dia sudah tau?”

Yoona mengangguk dalam tegukan kecilnya pada frapuccino mocca hangat sore itu. Belum berani menatap wajah donghae yang kini menatapnya lekat-lekat. Mendengar nada pertanyaannya, yoona tau donghae agaknya cukup terkejut mendengar fakta baru mengenai kyu hyun.

Karena meski bagaimanapun, kumpulan manusia yang tidak mengenali lelaki itu hanyalah kaum minoritas. Donghae juga telah mengetahui bagaimana kyu hyun hidup dan apa yang telah ia lakukan meski itu tak semena-mena dapat melunturkan perasaannya pada yoona.

“bagaimana bisa?”

Yoona menarik bibirnya untuk tersenyum miris. Pertanyaan itu sederhana. Namun makna yang tersimpan didalamnya benar-benar luar biasa. Seolah donghae tak paham saja dengan kuasa cho kyu hyun yang maha segalanya itu.

Kyu hyun memang bukan tuhan. Jelas, itu jelas bukan fakta. Namun setiap tindak dan langkahnya selalu menyiratkan aura dan kekuatan besar yang ia miliki. Ia selalu mampu mendapatkan apapun yang ia inginkan dan itu sudah lebih dari cukup sebagai jawaban dari pertanyaan konyol donghae.

“dia bisa melakukan apapun yang ia inginkan, oppa. Tapi aku tidak pernah berpikir jika dia akan terus mengawasiku”

Dan yoona membuang nafas gusarnya usai menjawab. Mereka bernafas keras-keras. Sama-sama berpikir mengenai apa yang harus dan tak harus mereka lakukan kini. Bukannya donghae tak tau apa dan apa saja yang bisa dan tak bisa kyu hyun lakukan. Ia kenal betul bagaimana cara kyu hyun bertindak. Tapi kini berbeda, ada yoona diantara mereka dan donghae tidak bisa membalas pria itu semaunya.

“apa dia menyakitimu?”

Dan yoona kembali tersenyum. Yang benar saja. Kyu hyun, menyakitinya? “sekejam apapun sosok dirinya dimata umum, dia bukanlah lelaki yang akan menyakitiku. Aku mengenalnya cukup lama, dan selama itu pula ia tak pernah bertindak diluar batas, oppa”

Remuk itu menyerang donghae meski masih dapat ia sembunyikan. Perpisahan mereka selama tujuh tahun tentu tidak menyisakan kenangan manis apapun kecuali bayang hitam yang menyakitkan. Dan kemudian pertemuan yoona dengan kyu hyun merubah bayang hitam mereka menjadi pias terang mentari ketika wanita itu jatuh cinta dan kini berhasil mendapatkan kyu hyun.

Seharusnya, donghae bukanlah sosok yang pantas untuk merasakan sakit hati itu. Namun perasaannya yang belum juga berhenti tumbuh untuk yoona membuat ulu hantinya mengejang kuat ketika wanita itu secara terang-terangan memuji lelaki yang selama keabsenannya berada disamping yoona telah mampu menggeser posisi pentingnya itu.

“baguslah. Tak perlu ada yang kuhawatirkan jika memang begitu”

Donghae tersenyum tipis. Sekedar berbasa-basi pada yoona yang kini tampak murung, menunduk dengan helaan nafas yang sesekali memberat. Entah apa yang membuatnya begitu takut pada sosok cho kyu hyun. Entah apa yang membuat sosoknya terlihat begitu kalut tanpa kyu hyun.

Donghae tak pernah tau. Meski yoona bersikap senormal mungkin, ia tak dapat membaca apa yang wanita itu rasakan terhadapnya, maupun kyu hyun. Ada semacam penghalang yang kini dong hae tau sebagai waktu, diantara kisah mereka.

Yoona menyembunyikan keresahannya rapat-rapat. Ketidakhadiran kyu hyun dalam jarak pandang matanya beserta fakta jika lelaki itu sudah terlanjur tau mengenai pertemuan rutinnya bersama donghae membuatnya tak dapat berpikir jernih. Ada bayang yang kini terus menghantuinya dan yoona tak tau itu apa.

Rasa bersalahkah?

__

“tidak dapat dihubungi”

So yeon meletakkan ponsel yang sudah memanas itu keatas meja. Menatap yoona lirih lalu menghela nafasnya ragu. “jadi, apa lagi masalahmu kali ini?” serang so yeon dengan tegas.

Yoona seketika merasa tersudutkan. Banyak hal apa yang membuatnya merasa begitu ketakutan kini. Selain pertanyaan so yeon yang sulit untuk dijawab, tidak dapat dihubunginya pihak kyu hyun tiba-tiba membuat fungsi otaknya melemah.

Lelaki itu sudah tidak pulang selama delapan hari. Dan ketika yoona ingin menghubunginya melalui sora, asisten kepercayaan kyu hyun itu justru juga tidak dapat dihubungi. Entah apa yang membuat seluruh informasi mengenai keberadaan kyu hyun terputus darinya. Tapi kini yoona sadari ia memang harus benar-benar bergerak. Tidak ada banyak jalan untuk melepaskan rasa khawatirnya selain menemui kyu hyun. Tapi pertanyaan terbesarnya, bagaimana ia bisa menemui lelaki itu kini?

“tidak ada”

So yeon hanya menggeleng tak percaya. Kali ini, hanya untuk kali ini saja, yoona benar-benar terlihat luar biasa tertutup. Biasannya, wanita itu tak akan menyembunyikan apapun darinya. Yoona adalah sosok hangat yang selalu dapat dibaca. Masalah yang ia pikul akan selalu menjadi masalah bersama mereka karena semenjak so yeon ditugaskan untuk menjadi asisten pribadinya, ia dan yoona sudah seperti tak terpisahkan.

Bukan hanya mengenai kyu hyun, bahkan, dulu, ketika bibir yoona masih selancang dan sekeparat wanita-wanita bebas diluaran sana, ia akan mengumbar semua hal tanpa batasan. So yeon adalah tempat pembuangan rasa resahnya. Melalui so yeon, yoona mendapat banyak perhatian dan nasihat.

So yeon adalah satu-satunya sahabat yang yoona miliki. Dan perubahan yoona tentu bukanlah hal yang terlalu rumit untuk dibaca olehnya.

“aku dengar kau tidak tidur dirumah belakangan ini”

So yeon memutar sendok yang terasa hangat. Didalam cangkir putih yang menemani diskusi tertutup mereka terdapat teh hijau yang kini sudah mengepulkan asap kecil-kecil. Pertanda jika diskusi pagi itu telah berjalan cukup lama.

Sementara yoona terlihat enggan untuk menanggapinya. Entah bagaimana lagi ia harus menutupi kenyataan jika ia tengah mencemaskan kyu hyun. Pria itu hanya manusia biasa, dan dia menghilang satu hari usai ia beristirahat total.

Padahal, malam itu yoona dengan jelas mendengar penuturan dokter bahwa kyu hyun harus berhenti menyentuh dokumennya barang empat hari. Tapi kini, jangankan melarang pria itu untuk menyentuh dokumennya, sekedar bertatap muka dengannya saja detik-detik ini terasa begitu sulit.

“aku dengar dia pergi menangani anak perusahaannya”

So yeon berusaha menyampaikan yang sekiranya ia tau. Bukan hal sulit baginya untuk mengerti jika yoona tengah mencari-cari keberadaan kyu hyun. Wanita keras kepala itu terlalu mudah untuk dibaca dan so yeon sudah terlalu hapal setiap gerak-geriknya.

Dan benar saja, ketika so yeon menoleh, ia menangkap manik coklat almond yoona yang kini mengulitinya bagai bara. Wanita itu mengerutkan kedua alis matanya hingga bersatu lalu desisan itu keluar begitu saja.

“bagaimana kau bisa tau?”

So yeon hanya berdehem sekali. Sudah terlalu antisipatif dengan pertanyaan yang seperti itu. Seolah seluruh berita mengenai kyu hyun hanya yoonalah yang boleh tau terlebih dahulu. Padahal, hell! Sora lebih mempercayai so yeon meski dipihak lain kyu hyun memang tak mengijinkannya untuk memberitau yoona.

So yeon meneguk teh hijau hangat miliknya dan mengedikkan bahu sekali. “sora” jawabnya mantap. “wanita itu mendatangi gallery dan berkata akan menghilang tiga atau empat hari kedepan.”

Kedua bola mata yoona membesar tak percaya. “shit! Kapan?” tuntutnya cepat. Seharusnya sora tau, ia harus menemui yoona, bukan so yeon. Kekasih cho kyu hyun itu dirinya, bukan so yeon. Lalu kenapa seolah hanya ia yang tidak mendapatkan informasi mengenai lelaki keparat itu kini?

Ubun-ubun yoona sudah hampir dijilati bara. Tiba-tiba ia merasa begitu marah akan kenyataan bahwa kyu hyun tak lagi mempercayai sora untuk langsung menghadapinya. Sialan!

“bukankah seharusnya dia menemuiku?! Dan, apa-apaan ini. Kau baru memberitaukan ini padaku sekarang, so?!”

Kemarahan itu bergumul-gumul dalam perut yoona. Ia ingin muntah. Memuntahkan rasa khawatir yang ia simpan berhari-hari untuk hal yang terlalu sia-sia. Sial! Untuk apa ia mencemaskan kyu hyun jika lelaki itu saja tak ingin yoona mengetahui keberadaannya?

Anehnya, so yeon tetap terlihat tenang. Ia hanya menatap yoona sekilas sebelum kembali meneguk minumannya.

“so, aku bertanya padamu. Jawab aku!”

Lalu so yeon menatap yoona lekat-lekat. Sudah terlalu biasa dengan sikap tempramental yoona yang hampir menyamai kyu hyun. Benar-benar. Ia tak dapat membayangkan jika dua anak manusia ini bersatu, akan seperti apa pertengkaran mereka.

Perang dunia ketiga-kah?

So yeon menghela nafasnya gusar lalu menoleh dengan malas. “siang itu kau meninggalkan gallery untuk menemui pria masa lalumu. Dan, jika kau belum lupa, kau selalu mengadu padanya beberapa hari terakhir.” So yeon mendesah, bersamaan dengan kulit punggungnya yang bersentuhan dengan sandaran kursi. “maksudku, adakah kau menyediakanku waktu untuk menjelaskan ini padamu? Kau, bahkan disaat begitu mencemaskan kekasihmu, pesona masa lalumu itu ternyata memang jauh lebih kuat.”

Bunyi denting cangkir kosong yang kini bersentuhan dengan marmer meja mengisi keheningan diantara mereka. “jadi, haruskah aku percaya jika kau benar-benar mencemaskan cho kyu hyun? Disaat kau bahkan menikmati masa-masamu yang kini tak lagi berada dibawah pengawasannya?”

So yeon mengemasi ponsel dan ipad miliknya sejenak.

“mungkin kau harus berpikir ulang, yoon. Siapa yang kini benar-benar kau inginkan. Jangan serakah. Dan jangan gegabah. Cho kyu hyun sudah mengetahui hubunganmu bersama donghae, anggaplah itu sebagai tolak ukur kemana pilihanmu akan jatuh. Aku, sudah memperingatkanmu untuk tidak bermain-main dengan masa lalu. Dan kini, katakanlah aku lelah. Jadi, selamat berjalan sendiri, yoon.”so yeon mengentak penglihatan yoona ketika ia berdiri dengan tiba-tiba. “dan sebaiknya kau pulang.” Tukasnya tegas. “Kerumahmu.”

Bagai ditampar dengan keras. So yeon kemudian berlalu usai berkata jika ia akan menunggunya didalam mobil. Kini dihadapan sebuah kaca tebal, marmer meja yang mengkilap dan frappucino dingin yang tersisa, batin yoona tiba-tiba merasa begitu hampa.

Kemarahan yang semula memenuhi ubun-ubunnya menguap begitu saja. Rasa menggelitik bernamakan penyesalan perlahan masuk dalam diam. Lalu kini, yoona benar-benar merasa begitu bodoh ditengah keramaian dunia.

Benarkah, kini, ia terjebak dalam keputusannya sendiri?

__

“aku dengar dia kembali”

Kyu hyun terpaksa membuka bola matanya. Lalu hantaman cahaya terang itu menusuk-nusuk kornea matanya dengan kejam. Desiran pantai masih melantun indah melewati gendang telinganya. Lalu hamparan pasir putih itu menyapa kyu hyun usai silau bayang-banyang cahaya menghilang dari penglihatannya.

“benarkah? Dia kembali?”

Seolah pertanyaan spencer yang semula menghentak pendengarannya belum cukup, kini lelaki blasteran jerman-korea itu kembali mempertegas pertanyaannya. Menumbuk-numbuk pendengaran kyu hyun dengan hantaman yang lebih keras.

Kepalanya terasa berdenyut nyeri. Ada yang kini datang dan menghantam rasa nyaman dalam dirinya lalu kini dunia kembali terasa gelap. Sialan. Spencer akan membayar ini cepat atau lambat. Pria bermulut besar itu terkadang terlalu lancang hingga merusak ketenangannya.

“lee—“

“diamlah.”

Spencer diam dengan segera. Bola matanya masih menatap pantai yang terhampar luas didepan. Ada dua bocah kecil yang kini berlarian dipinggiran pantai. Diawasi oleh seorang wanita mungil yang kini terlihat tertawa ceria.

Itu park ji yeonnya. Bersama saneul dan eunjo. Seorang jagoan dan seorang putri kecil yang mewarnai hidupnya. Belakangan ini, setelah kesalahan tak termaafkan yang sempat menjadi momok dalam rumah tangganya selesai, spencer merasa perlu untuk membawa keluarga kecilnya untuk menjauh dari seoul.

Berada dalam keadaan yang baru akan menyegarkan kembali suasana keluarga kecilnya yang sempat muram. Spencer membawa rombongan kecilnya untuk berlibur menuju maldives. Namun sialnya, tiba-tiba saja kyu hyun datang. Beberapa hari yang lalu. Dan kini berada ditengah-tengah mereka.

Beruntung, lelaki itu adalah sahabatnya hingga ji yeon tak perlu protes karena keberadaan kyu hyun sudah sangat diterima dalam hangatnya keluarga kecil spencer.

Namun kini, ada hal lain yang perlahan mengusik batin spencer, menjadi tanda tanya besar dalam kepalanya dan belum sempat terjawab bahkan setelah hampir empat hari kyu hyun bersamanya disana.

Haruskah lelaki itu datang dan bergabung? Kyu hyun bukan tipe lelaki pengganggu jika ia tak memiliki masalah yang harus ia lupakan. Tibanya kyu hyun disana, sendiri, tanpa yoona tentu menimbulkan pertanyaan besar dalam benak spencer.

“kau tau, kyu? Maldives itu tempat untuk bersenang-senang” spencer menatap kedepan. Ada tawa ceria keluarganya disana. Lalu menatap kyu hyun prihatin. “seperti yang pernah kau katakan sebelumnya” tandasnya kemudian.

Kyu hyun tak berpaling. Kedua matanya yang kembali ditutupi kacamata hitam itu belum terpejam andai spencer bisa lebih jeli. Tapi spencer tak memperdulikan itu. Yang jelas, ia tau jika kyu hyun belum terlelap. Itulah mengapa ia terus berbicara tanpa berhenti.

Sesungguhnya, spencer tak pernah takut pada ancaman lelaki itu. Kyu hyun hanya akan mengancamnya ketika ia kalut.  Karena persahabatan mereka memang seperti itu dari dahulu kala.

“haruskah kau menyimpan kekesalanmu sendiri?”

“spence..”

“haruskah kau berlari sejauh ini demi menjauhinya?”

“spencer lee, aku—“

“kau lelaki dewasa. Kau tau betul cara seperti ini tak akan pernah menyelesaikan masalah”

“bisakah kau diam, spence?!”

Spencer diam. Suara kyu hyun tiba-tiba menjadi dua kali lipat lebih besar. Naik satu oktaf dan terdengar sangat dalam. Spencer tau, ia tidak mungkin buta akan rasa kesal kyu hyun yang menggunung-gunung padanya kini. Namun bukan itu inti pembicaraan mereka.

Bukan.

“kau tau, terkadang lari dari masalah hanya akan menimbulkan masalah baru” spencer menghela nafasnya malas. Ia tau, terkadang menasehati kyu hyun tak akan berdampak pada apapun.

Kyu hyun adalah manusia yang tak akan pernah menyerap setiap nasihat orang lain. Karena tidak boleh ada yang lebih benar darinya. Ialah yang berkuasa.

Namun mereka telah saling mengenal lama. Spencer tau apa yang harus dan tak harus ia lakukan demi menghadapi namja keparat yang keras kepala seperti cho kyu hyun.

Spencer membenarkan letak kaca mata hitam miliknya. Lelaki itu hanya menggunakan tshirt abu-abu pas body dan celana pencek yang tak menutupi lututnya membuat kaki jenjang spencer terlihat begitu menggoda.

Ia duduk dengan tegap, tak lagi menatap kyu hyun yang masih berkeras diri untuk diam lalu tersenyum tipis. “apa kau bisa menjamin apa yang terjadi disana? Apa ketidakhadiranmu akan menyadarkannya atau bahkan akan berbalik membuat cinta lamanya tumbuh?” spencer tersenyum pias. “ingatlah, kyu. Cinta tak semudah itu untuk kau atur. Selama kau terus melepaskannya dan tak berusaha, maka akan semakin besar kesempatanmu untuk kehilangannya”

Spencer berdiri. Berniat akan ikut bergabung bersama istri dan anak-anaknya sebelum pertanyaan kyu hyun itu menyentaknya sejenak.

“bukankah ia bebas pergi dengan siapapun? Aku tak mengikatnya, dan selama ini, semua terasa bebas-bebas saja diantara kami, spence.”

__

Yoona menyentakkan tubuhnya dengan keras. Sofa besar maroon yang senada dengan marmer mengkilap itu kini menjadi temannya dalam kesendirian. Yoona telah berulangkali menghubungi sora dan hingga kini, berita baiknya, ia tidak mendapatkan apapun.

Yoona hanya mendengar jika kyu hyun pergi, entah kemana, bersama siapa atau untuk jangka waktu yang berapa lama pun kini ia tak tau.

Tiba-tiba yoona merasa berbeda. Aneh. Dulu hubungan mereka tak pernah serumit ini. Kyu hyun, meskipun lelaki itu penuh dengan tempramen yang tinggi, namun toleran lelaki itu terhadap sikapnya sejauh ini baik-baik saja.

Entah apa yang kini tengah lelaki itu pikirkan dengan menghilang berhari-hari tanpa kabar.

Semenjak pertama memulai semua kegilaan ini, mereka telah sepakat untuk beberapa hal. Termasuk dengan siapa yoona akan berkencan dan.. yah, semacam itulah.

Ia tak pernah sekalipun menghalangi kyu hyun. Karena bagi yoona, dengan alasan apapun ia adalah pihak yang tak pantas untuk berpendapat. Karena kegilaan ini telah membawa mereka pada kebebasan. Karena hidup mereka, memang seliar ini.

Baik ia ataupun kyu hyun mengerti itu hampir tiga tahun terakhir. Lelaki keparat itu berkencan dengan siapapun, atau yoona yang bertemu pria manapun tak pernah menjadi masalah pelik dalam kehidupan mereka.

“nyonya, makan malam sudah siap”

Yoona mengerjap. Gelap malam tak membawanya pada jalan keluar yang tepat. Entah berapa malam lagi harus ia habiskan hanya untuk memikirkan cho kyu hyun keparat itu. Lelaki menjengkelkan yang terkadang, mau tak mau, membuatnya rindu.

“aku sedang tidak lapar, bi”

Yoona tersenyum tipis. Sekedar menghargai usaha orang-orang yang masih peduli terhadapnya.

“tapi, nyonya belum makan—“

“aku sudah—“

“letakkan saja disana bi, dia akan makan jika lapar” lalu suara so yeon yang terdengar begitu tegas memotong percakapan mereka. wanita itu kemudian maju dan duduk di sofa yang sama lalu menyandarkan kepalanya cepat.

“aku tidak lapar. Jadi aku tidak akan makan”

So yeon membuka mata, sekedar untuk melirik yoona malas lalu menghela nafasnya panjang-panjang. “terserahlah. Kau ingin makan, atau tidak. atau apapun yang kau mau, lakukan sesukamu.” So yeon kemudian meraih ponselnya, menggerakkan jemarinya sebentar lalu kembali menatap yoona. “kemana saja kau seharian ini?”

Pertanyaan itu menohok yoona. Mengabaikan tatapan so yeon, buru-buru ia menatap meja kristal didepannya lalu ikut menyandarkan diri pada punggung sofa. “kau datang dengan wajah tertekukmu lalu membuat ubun-ubunku hampir mendidih dan sekarang bertanya kemana saja aku seharian? Apa menurutmu—“

Bibir yoona terkatup. Jemari so yeon begitu cepat mengapit kedua bibir tipis itu. Membuat yoona terkejut dan membesarkan kedua bola matanya tak percaya. “YAA?!!” pekik yoona cepat.

“entah apa yang belakangan ini terjadi. Kau, dan kekasih keparatmu itu tiba-tiba saja menjadi berbeda.” So yeon meletakkan telunjuknya didepan kening yoona “kau jadi cerewet” so yeon mendorong jemarinya pelan, “kekanakan” kembali mendorong jemarinya “dan pemalas”.

“yya! Berhenti!! Kau pikir kau siapa berani melakukan itu padaku?!”

“aku?!” so yeon menatap yoona lelah. Bukan hanya yoona, so yeon juga kelelahan mengurusi sikap yoona yang semakin hari semakin menjadi-jadi itu. Bukan hal yang mudah bagi so yeon karena yoona bukanlah sosok yang menyusahkan selama ini. Jadi, perubahannya yang tiba-tia tentu mengejutkan so yeon. “aku adalah sekretaris malang yang harus bekerja sendiri agar gallerymu tidak perlu tutup buku, tuan putri”

“aku sudah—“

“aku datang untuk mengurusi design baru dan beberapa lukisan yang kau pesan dua minggu lalu. Dan disaat-saat yang melelahkan seperti ini, bukankah terlalu mengesalkan mengetahui jika kau, kembali bersenang-senang dengan lee donghae?!”

Yoona terperanjat, meski tak terkejut lagi dengan fakta so yeon yang juga mulai membuntutinya kemanapun kini. Pertemumannya dengan donghae memang terjadi siang ini, tapi itu bukan apa-apa dan so yeon memang sudah tertular sikap berlebihan kyu hyun belakangan ini.

“ada hal yang harus kulakukan bersamanya, so”

“oh ya? Melepas rindu, maksudmu?”

Yoona melirik so yeon geram. Entah apa yang wanita itu kesalkan dari kehadiran donghae. Sikapnya yang seolah-olah kini berada dipihak kyu hyun membuat yoona tak habis pikir apa saja yang sudah kyu hyun berikan pada so yeon.

“jangan terlalu mendramatisir, so. Aku lelah berdebat denganmu” yoona merasa mulai lelah dengan pemberontakan so yeon yang luarbiasa mengesalkan. “berhentilah bicara dan bantu aku temukan cho kyu hyun. Itu tugasmu, selebihnya aku sendiri yang akan menyelesaikannya”

Yoona berdiri, berniat meninggalkan so yeon yang masih berdiam diri disofa. Kakinya bergerak cepat, membawa yoona pada pijakan pertama anak tangga rumah mereka.

“berhentilah mencari kyu hyun jika bersama lee donghae sudah sangat menyenangkan. Jangan terlalu serakah, yoon”

Teriakan itu menggema kencang. Membuat buku jemari lentik yoona semakin memutih mencengkram pegangan tangga. Perkataan so yeon belakangan ini memang begitu menghentaknya berulang kali. Namun yang terakhir benar-benar berhasil meledakkan sesuatu dalam diri yoona.

Amarah bergumul dalam perutnya. Berputar-putar hingga rasanya yoona hampir muntah. Tidakkah semua orang tau jika berhenti mencari kyu hyun bukanlah pilihan baginya? Yoona, meski ia juga bukan wanita baik-baik, namun kehadiran kyu hyun sangat penting baginya.

Bukan karena harta dan materi. Tapi karena mereka sudah sejauh ini. Hidup seperti layaknya pasangan suami istri, tanpa pernikahan atau bahkan sebuah ikatan. Lalu, memangnya apa yang harus yoona harapkan dari tiga tahun menyandang gelar sebagai wanita murahan karena terus bertahan disampingnya?

Dada yoona bergemuruh hebat. Tidak mungkin baginya untuk melampiaskan semua ini pada so yeon. Memangnya apa yang salah dengan kehadiran donghae? Rasa nyaman yang ia terima secara tidak langsung merupakan dampak hilangnya kyu hyun beberapa hari ini.

Apa dalam setiap masalah, ia adalah pihak yang harus selalu salah? Mengapa kini, bahkan so yeon seperti membela kyu hyun secara terang-terangan?

Yoona menghempaskan tangannya kuat kuat lalu berjalan cepat meniti anak tangga. Kekesalannya belum sedikitpun berkurang ketika ia mendobrak pintu kamar lalu tersentak kuat.

Bau mint dan aroma musk yang selalu kyu hyun gunakan kini menamparnya dalam diam. Tiba-tiba ia begitu merindukan kyu hyun. Kemana lelaki itu kini. Apa yang harus yoona lakukan jika ia benar-benar pergi?

Mendapatkan kyu hyun, dan hidup bersamanya selama ini adalah tujuan hidupnya. Yoona sadar itu. Karena apapun yang terjadi diantara mereka selama ini akan selalu berujung dengan kata maaf. Kyu hyun akan kembali, begitupun yoona.

Namun ketidakhadiran lelaki itu belakangan ini membuatnya merasa begitu tertekan. Ada yang kemudian menghilang dan terasa hampa. Yoona tidak mengerti, ia ingin membenci kyu hyun kini, namun merindukannya terasa begitu menyesakkan.

Yoona berjalan masuk, menatap ranjang yang sudah terlalu lama kyu hyun tinggalkan. Lelaki keparat itu membuatnya bingung. Ia bahkan pergi tanpa membiarkan yoona menjelaskan keadaan mereka saat ini.

Dan kini, yoona benar-benar tak mengerti mengapa sikap keras kepala kyu hyun membawa mereka pada titik seperti ini. Yang jelas, masalah kecil ini tentu tak pantas dijadikan inti permasalahan dalam hubungan mereka. kehadiran lee donghae,, bagi yoona bukanlah hal besar.

Kecuali jika kyu hyun mengartikannya berbeda.

Atau bersama donghae, sejujurnya yoona memang merasa begitu berbeda?

__

“tuan, ada telepon”

Kyu hyun tak menatap sora saat wanita itu datang dan menyodorkannya sebuah smartphone sederhana dengan layar gelap. Empat hari melarikan diri, suara sora adalah satu-satunya pertanda jika ia harus berhenti sejenak dari renungannya.

Meski mencari ketenangan dengan melarikan diri seperti ini memang bukan jalan keluar yang baik, namun hanya dengan ini kyu hyun bisa bertahan tanpa mengorbankan nyawa seseorang. Atau, jika terdengar terlalu berlebihan, setidaknya dengan berada jauh dari inti permasalahan yang terus membawa awan hitam diatas kepalannya adalah jalan terbaik untuk menenangkan diri.

Tanpa ia perlu berteriak kencang, dunia akan tau seberapa bahayanya sikap tempramental kyu hyun.

Lelaki itu menatap buih ombak yang datang dan kemudian kembali hilang dipinggiran pantai. Dari jarak sepuluh meter dari garis tepian ombak, lelaki itu mengulurkan tangannya menerima ponsel itu tanpa banyak bertanya.

Hanya ada dua kemungkinan yang terjadi kini. Akan terdengar suara sekretaris kim yang melaporkan email kirimannya pagi ini, atau suara keras so yeon yang belakangan menjadi penelepon rutinnya.

“ya?” sapa lelaki itu singkat.

“ya? Hanya ‘ya?’ saja, cho kyu hyun?!”

Kyu hyun tersenyum ketika suara so yeon terdengar begitu menjengkelkan. Bukan. Bukan karena ia terlalu pembangkang atau sikap menjengkelkannya telah membuat kyu hyun tertarik. Bukan alasan konyol seperti itu.

So yeon sudah terlalu lama menyimpan ketidak sukaan terhadapnya. Dan kaum minoritas diluaran sana kyu hyun rasa juga begitu. Jadi, terhadap suara so yeon, ia sudah dapat mengantisipasi diri. Hanya satu fakta yang mampu membuat bibir tebalnya tersenyum samar ditengah terik matahari maldives sore itu.

Berita tentang yoona.

“apa yang kau dapatkan?”

So yeon terdengar mendengus kesal diseberang sana. Kebiasaan lama yang belum bisa hilang darinya. “seharusnya aku tak menerima pekerjaan ini” umpatnya kecil meski masih terdengar jelas.

So yeon kemudian berdehem kecil, lalu menarik nafasnya lama. “tidak bisakah kau pulang saja dan bicarakan ini baik-baik dengannya?”

Wanita itu bersuara dengan lebih lembut. Ada permohonan dan rasa lelah disana. Kyu hyun tau itu, ia juga merasakan hal yang sama. Bahkan rasa lelah so yeon mungkin hanya sepersekian kecil dari bagian perasaannya.

“dan haruskah aku menghancurkan hunianku? Kau tau bertengkar dengannya selalu menghabiskan banyak biaya”

Kyu hyun mendengar sora mendengus, seperti sedang menahan kesal. “jangan bersikap seolah kau pria miskin, cho kyu hyun. Sekalipun kau tak bekerja tahunan, semua orang tau kau masih akan hidup layak.”

Dan kyu hyun, terpaksa mendengus geli.

“aku masih harus menjaga jarak darinya. Pertemuan kami tak akan menghasilkan apapun.” Riak desiran air laut menghujani pendengaran kyu hyun. Ia terdiam lama, terkadang, merindukan yoona membuatnya menderita. Tapi, dibandingkan dengan membuat wanita itu terluka, kyu hyun membiarkan dirinya sakit. Hanya untuk sementara waktu.

Dua tahun bersama hanya melatihnya untuk mengalah, bukan untuk mengontrol emosi. Meski terkadang, yoona mampu membantunya meredakan api yang berkobar diubun-ubun, namun kali ini kyu hyun yakin akan sulit baginya untuk bertatap muka tanpa amarah.

“apa dia,,” kyu hyun terdiam cukup lama lalu menghela nafasnya ragu. Detak jantungnya kini mulai berkhianat. Terkadang, ada rasa yang tak ia mengerti setiap kali harus menyebutkan nama wanita itu. Dua tahun, bukan waktu yang singkat baginya untuk terus kembali pada dekapan yoona. Namun ego itu terus mencarikannya jalan untuk lari dari hubungan keparat bernama pernikahan. “apa dia masih mencariku?”

Dan kini adrenalinnya jatuh. Setelah kalimat itu terlontar, perasaan kyu hyun terasa perlahan lahan menjadi hampa. Entah selama ini beban seperti apa yang ia pikul. Pertanyaannya terdengar seperti permohonan dan kyu hyun benci memohon pada orang lain.

So yeon tak menjawab meski kyu hyun masih menanti suara kerasnya dengan tenang. Pemandangan spencer yang tengah menggendong putri kesayangannya dalam balutan tawa membuat dada kyu hyun yang terasa hampa menjadi semakin menyakitkan.

“apa kau mencintainya, cho kyu hyun?”

Lalu bom itu meledak secara tiba-tiba. So yeon menjawabnya dengan sebuah pertanyaan baru yang anehnya, membuat kyu hyun terdiam cukup lama. Wanita garang itu, tak pernah sekalipun mencampuri urusan dalam hubungannya bersama yoona. Lebih dari dua tahun bersama, wanita itu hanya akan diam terhadap apapun yang ia dan yoona lakukan.

Pertanyaan itu kemudian menjadi tamparan keras bagi kyu hyun. So yeon bertanya dengan tegas. Tanpa ragu dan kini diam. Dengan jelas menerangkan jika ia ingin mendengar jawaban kyu hyun tanpa perlu berkata kata.

“cho kyu hyun—“

Kyu hyun menutup manik almond yang bersembunyi dibalik kacamata hitamnya. “aku rasa itu bukan masalahmu”

“aku bertanya apa kau mencintainya, cho kyu hyun” dan so yeon menjawab cepat. Tak terintimidasi dengan alibi yang lelaki itu coba bangun demi mengalihkan arah pembicaraan mereka.

“kau mencintainya, kan?” tuntut so yeon kemudian. “im yoona. Wanita yang kau perlakukan istimewa itu. Kau mencintainya, kan?”

So yeon mendesak dengan buru-buru. Pertanyaannya tegas. Dan hanya butuh satu jawaban. Ya, atau tidak. namun diamnya kyu hyun membuat wanita itu muak. Entah semenjak kapan, so yeon tak begitu tau apa alasan kyu hyun terus mempertahankan yoona dan kehidupan liar mereka tanpa ikatan. Padahal, ia bisa saja mendapatkan wanita yang lebih sempurna dan melepaskan yoona sesegera mungkin.

Namun ini sudah terhitung tahunan, dan lelaki itu tetap memilih berakhir pada yoona. Jadi, so yeon ingin tau, seperti alasan apa yang kyu hyun miliki dibalik pertahanannya terhadap yoona. Benarkah,, lelaki itu mencintai sahabatnya?

“aku membutuhkannya” aku kyu hyun ditengah keheningan sambungan telekomunikasi mereka. “aku membutuhkannya. Puas?” sambungnya lebih mantap.

So yeon tak terdengar puas dengan jawabannya. Dan, jika boleh jujur, kyu hyun pun begitu. Benarkah ia hanya membutuhkan yoona? Tidakkah alasan seperti itu terdengar terlalu sederhana?

“aku bertanya, apa kau mencintainya. Dan kau hanya perlu menjawab ya, atau tidak. alasanmu terlalu kuno. Kau membutuhkannya? Atas dasar apa? Sementara kau bisa memenuhi kebutuhan biologismu dengan wanita manapun”

So yeon terdengar berapi-api. Seperti gemruh yang kini berada didalam dadanya tak dapat ia tahan lagi. Wanita itu menaikkan suaranya satu oktaf,  menusuk-nusuk pendengaran kyu hyun dengan jelas.

“terserahlah. Aku tak pernah mengerti apa yang kau rasakan padanya. Tapi jika memang kau membutuhkannya, pilihanmu hanya kembali. Yoona bukan lagi wanita yang tak memiliki pilihan. Karena siang ini, ia kembali menemui lee donghae.”

Kyu hyun diam. Pernyataan itu mengusik egonya sebagai lelaki. Dan rasa kepemilikannya terhadap yoona. Entah dengan alasan apapun, kemudian amarah merasuki ulu hatinya dalam diam. Ia terbakar, dan hampir benar-benar meledak sebelum kemudian so yeon melanjutkan.

“jadi kau harus kembali, dan buat wanita yang kau butuhkan itu memilihmu. Atau kau tetap ingin melarikan diri dan membuatnya kembali terbiasa dengan masalalu.” So yeon diam sejenak, lalu melanjutkan pernyataanya dalamsatu helaan nafas. “Dan dengan siapa ia akan berakhir, hanya bergantung pada apa yang akan kau lakukan. Itu pilihanmu, cho kyu hyun.”

Lalu gelap menerjang senja dengan kejam. Awan-awan hitam bergelantungan pada biru cahaya langit yang perlahan terkikis oranye yang menyala-nyala. Detak jantung kyu hyun kini jauh lebih parah. Ada keributan besar yang terjadi didalam dadanya.

Hampa yang semula sempat mendatanginya kini datang menyerbu. Mengelilingi gumpalan daging tak berdarah bernama hati dalam tubuhnya. So yeon memutuskan mengakhiri sambungan telepon secara sepihak. Seolah menegaskan jika setelah ini, ia tak lagi ingin berhubungan dengan kyu hyun. Kekesalan wanita itu cukup beralasan. Dan sepertinya, cukup mengusik kyu hyun yang perlahan redup dan hilang ditengah keheningan malam.

__

Yoona terbangun malam itu. Ditengah gelap yang hanya menyisakan ruang-ruang kecil yang berhasil ditembus cahaya bulan. Balkon kamar yang masih terbuka dengan angin malam yang terus melambai-lambaikan gorden tipis kamarnya secara tak sopan manyambutnya dalam diam.

Perlahan, ketika kesadarannya pulih, yoona beranjak untuk duduk. Membiarkan baju putih kebesaran itu mempertontonkan bahu dan tali bra yang ia gunakan. Tanpa benar-benar sadar, kemudian ia meringkuk. Memeluk boneka beruang besar yang diberikan kyu hyun padanya sebagai hadiah natal tahun lalu.

Yoona tak menangis. Pekerjaan sia-sia yang menghabiskan tenaga itu sudah lama tak ia lakukan. Kyu hyun benci ketika ia menangis. Lelaki itu benar-benar mendidiknya dengan keras hingga atitude kalangan atas itu benar-benar melekat kuat dalam benak yoona.

Bagi mereka, menangis berarti  lemah.

Dan yoonaa tidak begitu.

Ia hanya diam. Mengusik malam panjang yang baru terlewati seperempatnya. Masih ada setengah jam menuju pertengahan malam. Dan kini, kedua bola matanya benar-benar tak dapat berkompromi.

Dingin angin malam menerpa kulit putih bersihnya tanpa malu. Membiarkan yoona yang hanya terbalut kemeja hingga setengah paha itu menggigil kedinginan. Aroma kyu hyun masih jelas mendominasi ruangan mereka. lalu tiba-tiba kelam mendesak batin yoona yang semula sudah tenang.

Lelaki itu tetap belum kembali. Dan bodohnya, kini yoona mulai merindukannya. Ada yang perlahan hilang dari kesehariannya. Ada yang tak lagi bisa ia perdebatkan lalu kemudian menggerutu dan merebut bibirnya secepat cahaya. Ada yang kini tak lagi membutuhkan dekapannya setiap malam menjelang.

Dan semua itu membuatnya kehilangan kewarasan.

Yoona sudah menghubungi seluruh sahabat kyu hyun. Kerabat dan beberapa hunian yang ia miliki ditempat lainnya. Namun semua itu tak menghasilkan apapun. Lelaki itu seperti lenyap ditelan bumi. Tak ditemukan dimanapun. Menghilang bersama jejak-jejaknya.

‘tidak bisa tidur?’

Yoona kemudian menatap ponselnya. Cahaya terang itu mewarnai wajah piasnya yang terlihat mulai pucat. Ia tak benar-benar baik tanpa kyu hyun. Meski harus ada ribuan terimakasih atas kenyamanan dan perhatian yang kini beralih datang dari seorang lee donghae.

Tipis garis senyuman itu mewarnai bibir yoona.

‘sesuatu mengusikku, oppa.’

Dan mengadu pada lelaki itu kini membuatnya lebih tenang. Sosok pria idaman yang dulu selalu yoona impikan dalam setiap cuplikan masa depannya. Pernah bersama donghae adalah hal yang belum sempat ia lupakan hingga kini. Hingga lelaki itu kembali dan membawa rasa yang tak pernah berubah.

Donghae adalah pribadi tenang dan lembut. Setiap tatapannya mampu membuat wanita manapun membutuhkan pasokan oksigen lebih banyak. Lelaki itu bukan titisan malaikat, tapi parasnya tak membuat donghae pantas dianggap sebagai manusia.

Dan,, seberuntung itulah yoona dulu.

‘aku? Apakah rinduku mengusikmu?’

Candaannya selalu membuat hari-hari yoona menjadi seringan kapas. Balutan tangannya masih sehangat dulu. Dan setiap komunikasi yang terjalin diantara mereka selalu berbuah tawa. Hal yang sudah lama sekali tak yoona rasakan.

‘mwoya. Simpan kata-katamu dan pergilah tidur’

Detik berikutnya, ponsel yoona bergetar. Sebuah panggilan yang tiba-tiba membuatnya terdiam. Ada nomer tanpa nama disana, dan sekuat firasat yoona sebelum-sebelumnya, ia yakin jika cerah itu kini datang padanya.

“halo?”

Yoona diam. Tak ada jawaban dari seberang. Hening kemudian menemani mereka dalam menit-menit awal yang menegangkan.

“kau belum tidur?”

Lalu suara itu, membuat dada yoona terasa nyeri. Kini jantungnya telah turun menuju perut. Kencangnya debaran itu membuat yoona merasa tak sanggup dan hampir mati dalam kelam.

“apa oppa akan pulang?”

Dan pertanyaan yang sudah lama terpendam itu akhirnya harus yoona keluarkan. Lelaki itu baru menghubunginya setelah lama menghilang. Seharusnya, bersikap selembut itu bukanlah hal wajar yang harus yoona lakukan. Namun ia memilih untuk mengalah. Kali ini saja, ia ingin lelaki itu tau jika bukan hanya kyu hyun saja yang merindukannya.

“aku,, belum berencana untuk pulang”

Lelaki itu bersuara datar. Namun dari sana yoona tau jika kyu hyun juga merindukannya. Getar suara kyu hyun yang kemudian terdengar meski sehalus salju membuat yoona yakin, lelaki itu hanya tengah menahan diri darinya.

“kau sudah pergi berhari-hari. Jadi, segeralah selesaikan urusanmu dan pulang. Apa oppa tidak mengerti? Aku yang memintamu pulang. Jadi, pulanglah”

Suara yoona terdengar kecil. Dipeluknya kedua kaki demi menahan dingin yang semakin menusuk. Pertengahan malam sudah menjelang dan kemeja milik kyu hyun yang ia gunakan sudah semakin kusut tak beraturan.

“apa kau masih berhubungan dengannya?”

“apa aku terlihat sedang berselingkuh, kini?”

Yoona menaikkan suaranya menjadi lebih keras. Membiarkan kyu hyun tau jika bukan ia saja yang mampu berargumen. Lelaki itu menahan diri untuk tetap menjunjung tinggi egonya yang tak terbantahkan. Lalu, haruskah kini yoona juga menjunjung tinggi egonya sebagai wanita?

“aku memintamu untuk meninggalkannya, yoon.”

“apa aku pernah memintamu untuk meninggalkan jalangmu diluaran sana, oppa?!”

Yoona mendengarnya menggeram. “ini masalah yang berbeda!”

“ini masalah yang sama!!” yoona terdiam ketika dengan tiba-tiba amarah itu membuatnya harus berteriak kencang. “apa aku pernah memintamu meninggalkan lucia?! Apa aku pernah keberatan atas perlakuan bekas wanitamu padaku, oppa?”

“apa kau sedang mengeluh padaku, im yoona?”

Yoona mengepalkan jemarinya. Meremas boneka beruang yang kini menjadi sandarannya. “anggaplah begitu. Dan jawaban dari semua pertanyaanku, tidak, bukan? Lalu mengapa kau harus seperti ini?”

“itu tugasmu”

“itu bukan tugasku! Aku tak diciptakan untuk menerima setiap umpatan dan makian dari wanita yang kau tinggalkan setelah kau merasa bosan! Tapi aku melakukannya karenamu. Apa alasan itu tak cukup untuk membuatmu kembali?”

“apa kau mencoba mengatakan bahwa hidup denganku membuatmu menyesal?!”

“OPPA!!”

Yoona memekik keras. Perkataan kyu hyun perlahan melukai harga dirinya. Hampir tiga kali tigaratus enam puluh lima hari, dan baru kali ini saja rasanya pertengkaran mereka benar-benar diluar batas toleransinya.

Menyesal bukan kata yang pantas untuk kehiduapan mereka. meski perlakuan kyu hyun dan setiap prinsip lelaki itu memang melukainya diawal kebersamaan mereka, tapi, yoona tak pernah menyesal.

Tidakkah kyu hyun tau itu?

Bersamanya, membuat yoona merasa cukup. Tidak perlu komitmen, dan ia mengalah. Tidak perlu menutupi hubungan keparat mereka dan menyebarkan aib, yoona mengalah. Tidak perlu label kesetiaan, ia tetap mengalah. Lalu hal seperti apa lagi yang kyu hyun butuhkan darinya?

“tidak bisakah kau pulang saja?” lalu kristal itu muncul. Bulir bening mengalir ditengah merah pipi yoona yang bersih. Tangisnya menganak sungai, membiarkan yoona tau jika ia tak sekuat itu selama ini. Ia terisak. Kesakitan ditengah kelam yang menggerogoti rasa percaya dirinya.

“berjanjilah untuk berhenti menemuinya”

Nafas yoona tercekat, air mata membekukan pita suaranya. Perlahan, suara bergetarnya menghiasi kamar mereka. “aku tidak melakukan apapun dengannya. Dia hanya—“

“dia masalalumu, im yoona.”

“tapi aku—“

“dan dia tengah berusaha merebutmu dariku”

Ditengah isakannya, suara kyu hyun terdengar penuh amarah. Lelaki itu ikut menggeram mendengar isak tangis yang tak bisa yoona hentikan.

“aku—bukankah kita hidup bebas? Tidak bisakah aku berteman dengannya?”

Yoona menyimpan air matanya dalam diam. Hening menyelimuti percakapan mereka dalam menit yang berlalu. Hanya deru nafas kyu hyun yang masih dapat yoona tangkap kini. Ia tak berani memanggil. Membiarkan kyu hyun tau bahwa ia sempat menangis hanya akan membuatnya merasa semakin lemah.

Lama berlalu, penggilan itu belum terputus. Masih ada harapan disana. Lalu yoona mendengarnya berdehem keras.

“tidakkah itu terdengar seperti kau lebih memilihnya?”

Yoona tersentak. Suara dingin dan rendah kyu hyun membuat tubuhnya meremang. Kedua bola mata yoona membesar maksimal. Dengan hidung memerah dan kedua mata yang mulai sembab ia menggeleng kuat. Namun, belum sempat berkata-kata, sambungan itu terputus.

Lalu sunyi senyap menusuk nusuk batin yoona yang masih berdiam diri ditengah ranjang kusut mereka.

Kyu hyun marah.

Dan malapetaka itu akan segera datang.

__

Yoona buru-buru menarik gesper dan membenarkan letak kemejanya sebelum merapikan rambut berantakannya yang terurai indah lalu berlari menuju halaman depan. Sebuah mobil porce merah miliknya menyambut yoona dengan anggun.

Saat itu masih pukul satu dini hari. Ada perasaan buruk yang menerpanya ketika ia kemudian melajukan roda mobil menuju kawasan gangnam. Ada sebuah bangunan pencakar langit yang menyambut yoona dua puluh menit setelahnya.

Dalam lobby yang masih sepi, yoona menekan tombol delapan. Jemarinya bergetar halus saat menunggu pintu lift terbuka dan langkah panjangnnya membawa yoona didepan sebuah kamar bertuliskan 86.

Apartemen donghae.

Sembab matanya tak membuat yoona malu. Ia menekan bel beberapa kali sebelum akhirnya pintu terbuka.

Masih dini hari. Dengan dandanan asal-asalan miliknya, yoona menemukan donghae yang menggunakan training abu-abu bebas dan sleveless putih yang membentuk tubuhnya dengan baik. lelaki itu terlihat cukup terkejut dengan kedatangan yoona yang tiba-tiba.

Tapi yoona tak membiarkannya berpikir. Belum genap lima menit bertatap muka, air mata yoona jatuh tanpa ia sadari. Memastikan donghae masih baik baik saja membuatnya ingin menangis kencang.

“apa yang terjadi? Ada apa?!”

Donghae kemudian menarik yoona kedalam dekapannya. Menuntun yoona untuk masuk dan membiarkan wanita itu memeluknya kencang-kencang. Tangis yoona pecah saat kehangatan donghae menyerbunya tanpa ampun. Tangan donghae yang menepuk bahunya sabar membuat yoona kalang kabut.

Kenapa ia bisa merindukan donghae disaat seperti ini? Mengapa lelaki sempurna itu tak berubah?! Dan mengapa rasa nyaman yang ia berikan selalu membuat yoona tak bisa berhenti memikirkannya?!

Yoona menyalahkan dirinya dalam dekapan donghae. Tangisnya belum berhenti ketika ia kemudian tertarik dengan kencang. Rasa sakit itu kini menyerbu lengan yoona yang digenggam secara paksa.

Lalu ditengah kabur pandangannya, yoona menangkap wajah kyu hyun yang memerah menahan amarah.

“kau benar-benar memilih bersamanya?”

Suara lelaki itu rendah dan dingin. Dalam keheningan malam, kyu hyun menusukkan pisau tepat dijantung yoona saat kedua matanya meruncing tajam sementara isak tangis membuat yoona tak dapat berkata-kata.

“APA KAU MEMILIHNYA, IM YOONA?!” Pekik kyu hyun tanpa sadar.

Yoona menggeleng takut. Tubuhnya bergetar. Lelaki itu tak pernah berteriak didepannya. Kyu hyun tak pernah semarah itu. Ia,, menyeramkan.

“JAWAB AKU! APA KAU—“

Belum sempat menyelesaikan perkataannya, cengkraman keras kyu hyun terlepas. Yoona terhuyung hebat dan kini berada tepat dibelakang donghae. Lelaki itu maju, menggenggam jemarinnya yang masih menggigil ketakutan.

“tak sepantasnya kau melakukan itu pada seorang wanita, cho kyu hyun!”

Bola mata donghae yang semula lembut berubah menjadi penuh amarah. Keduanya bertatapan sengit tanpa mau mengalah. Dan yoona memperhatikan seperti ada yang salah diantara mereka kini.

“minggir, lee donghae!!”

Yoona tersentak ketika kyu hyun memanggil nama donghae dengan jelas, lantang dan tegas. Ada tanda tanya yang kini mengusik pikirannya.

“jangan bermimpi. Sudah cukup aku memberikanmu kesempatan. Jadi berhentilah berharap setelah kini aku kembali”

“begitukah?!” seringaian kyu hyun menaikkan bulu tengkuk yoona. Lelaki itu bukan sosok yang ingin bermain-main dengan masalah yang ia anggap tak perlu. Kyu hyun bukan tipe orang yang suka mengulur waktu. “lepaskan tanganmu darinya!” pekiknya tertahan.

“dari awal dia milikku, cho kyu hyun!”

Kyu hyun menggeram keras. Dadanya naik turun dengan gemuruh yang hampir membuatnya membunuh donghae saat itu juga. “dia milikku, lee donghae! Lepaskan tanganmu atau aku yang akan melepaskannya!!”

Donghae tak gentar. Jemarinya dengan lembut mencengkram yoona semakin erat. “kau menyakitinya! Jadi berhentilah menekannya dan lepaskan yoona padaku.”

“BRENGSEK!”

BUGH!

Yoona memekik ketakutan saat kyu hyun menarik donghae kencang dan mendaratkan pukulan kerasnya pada rahang donghae. Membuatnya terpelanting disisi sofa sebelum kyu hyun menyusul, dan memberikannya pukulan kedua.

“kau lupa kau hidup karena siapa?!” teriak kyu hyun penuh amarah.

“aku bisa hidup sederhana bersamanya dikota asal kami.”

BUGH!

“kau bahkan tak akan hidup lagi, keparat!”

Donghae tertawa renyah ditengah asin darah yang kini menghiasi wajahnya. “berhentilah bermain-main, cho kyu hyun. Dia mencintaiku.”

“dia mencintaiku!! Kau lupa mengapa kami hidup bersama selama ini?!”

Kyu hyun mencengkram kerah kemeja donghae kuat-kuat. Jika melenyapkan manusia tak terhitung dalam dosa, mungkin kini donghae telah tiada. Kedatangannya yang mengusik dan kini kelancangannya menyentuh yoona membuat kyu hyun benar-benar muak.

Namun ketika lelaki itu kembali tertawa kecil, rasa percaya diri kyu hyun tiba-tiba terkikis secara perlahan. Donghae tak telihat takut dan menatap kyu hyun dengan wibawanya yang tenang seolah-olah ia adalah pemenang pertarungan ini bahkan sebelum mereka sempat bertanding.

Donghae menatapnnya dari posisi terlentang, tanpa ego dan amarah yang kini membuat kyu hyun merasa begitu buruk. Pembawaannya yang tenang mengusik rasa percaya diri kyu hyun. Dan mata donghae yang lantang itu menamparnya tanpa wujud.

“tanpa ikatan? Dan kau masih seyakin itu bahwa dia mencintaimu setelah aku kembali?!”

Dan kalimat terakhir itu, meruntuhkan egonya yang tak pernah tersentuh. Senyuman yang donghae ukir dari wajahnya yang tak lagi setampan sebelumnya membuat mata kyu hyun berkunang-kunang. Genggamannya merenggang perlahan. Sesuatu berdengung kencang ditelinganya kini. Lalu tiba-tiba kyu hyun tak merasakan apa apa. Ia mati rasa.

Kalimat singkat yang kini ia kenali dengan nama ancaman itu berhasil menciptakan lubang kecil dalam hatinya. Kyu hyun tak mengerti harus bersikap seperti apa. Yoona yang tiba-tiba datang di apartemen donghae menjelaskan dengan baik betapa wanita itu tau jika kyu hyun akan mengusik mantan kekasihnya dan wajah penuh percaya diri donghae membuatnya merasakan gelap yang dulu pernah menghilang.

Tubuhnya kaku ketika coklat almond mata yoona menumbuk maniknya dalam air mata yang belum berhenti.

Benarkah yoona akan pergi?

Benarkah,, yoona akan kembali pada donghae?

Dan ribuan pertanyaan tak terjawab itu mengisi keheningan dalam malam panjang mereka sebelum fajar menjelang.

kkeut.

Pertama, aku minta maaf karna ingkar janji di post yang sebelumnya. ternyata, aku gak sesanggup itu buat nyentuh FF selama praktikum. tapi, btw sekarang aku lagi UAS. jadi, aku gak bisa pastiin dalam dua minggu ini kapan lanjutannya bakal di post. dan, tetep, aku bakal lanjutin FF ini sampai END. aku gak akan PHPin kalian. tenang aja.

kedua, ini udah panjang banget. gak tau deh kalian bakal bosen atau engak. tapi, ini sengaja sepanjang ini karna series yang menjelaskan siapa itu donghae secepatnya akan menyusul. buat konflik kyuna, kalian mungkin bisa lebih bersabar dan tawakal.

ketiga, makasih masih mau nungguin FF aku yang gak ada apa apanya plus aku yang php ini. kalian, yang masih setia ngasih dukungan sampai sekarang, aku cuma bisa ngucapin terimakasih banyak. sebenarnya aku hampir writterblock, tapi, aku kangen kalian T-T jadi, aku paksain ngetik dan hasilnya amburadul. berterimakasihlah sama author redwnebluesky atau yang biasa aku panggil kak feb. karna serita angst dia bikin aku semangat ngetik lagi.

terakhir, sampai ketemu diseries berikutnya. atau mungkin di cerita lain yang bukan unexpected.

With love,Park ji yeon.

272 thoughts on “Unexpected : That Man

  1. ternyata so yeon kerja sama sama kyuppa buat mata2in yoona ? seharusnya so yeon gak terlalu memojokkan yoona, harusnya dia lebih mendukung yoona sama donghae.
    kyuhyun gak bisa menjanjikan pernikahan, tapi donghae bisa…
    dan sekarang, setelah donghae kembali kyuppa baru bisa menyadari kan. klo kehidupan bebasnya itu jd bumerang buat dia sendiri.
    huhh … rasakan ! :p

  2. yoona ud sgt mengenal kyu
    buktinya dia tau kalo kyu bkal ngapa”in donghae
    d chap ini keliatan bgt kalo yoona bimbang sama perasaannya sendiri
    dan kyu ga mau yoona balik k donghae 😀

  3. ya ampun kyuhyun yoona ,
    ceritanya semakin bikin gregetan thor
    mana kyuhyun donghae yoona bertemu
    semakin bikin penasaran
    kereeen thor
    ijin lanjut baca🙂

  4. aaa kasian kyuhyun oppa ;(
    yoona unni cepet balik ke kyuhyun gih
    si donghae sama so yeon aja😛 (ngarang) wkwk
    btw si spencer muncul lagi hehe

  5. Yoona pasti balik ke Kyu, kan :’)
    Hadooh… ini gak berantakan Author. Masih bisa terbawa emosi pas bacanya. Writer’s block emang menyebalkan. Aku sering ngerasain. Pas di depan laptop niatnya ngetik malah main solitaire haha

  6. Yoona onnie plis jgn ma donghae,,,tlong blik ya,,,,plisss…ksian kyuhyun oppa…
    Pkok na chap slanjut na yoona hrus ma kyuhyun jebbal,,,,hehhee

  7. wah mkin ksini mkin jlas ya
    knapa donghae ninggalin yoona ya ?
    ada apa antara donghae sma kyuhyun ?
    wih kyaknya kyuhuyun sdar, kmungkinan yoona lbih mlih donghae

  8. please yoona jangan pilih donghae
    meskipun kyu itu egois tapi dia cinta sama yoona
    cuman karena ego nya yang tinggi aja
    jadi gak mau ngakuin itu

  9. yg jd pertanyaannya knapa yoona slalu nemui donghae. kan itu yg bikin kyu marah. dan jg kyu disini jg tdk tegas, mengklaim yoona miliknya tp tanpa status apapun..
    hmm 😒

  10. Huwaaah nyesek banget pas bagian Kyuhyun teleponan ama Yoona 😭
    Mereka saling cinta kan? Kenapa rumit sekali ngeruntuhin ego masing-masing? Kyuhyun juga… apa dia gak bisa baca perasaan Yoona? Aaah bikin gregetan ><
    Yoona dateng ke apartemen donghae karena dia khawatir kan? Bukan karena dia cinta sama donghae? Mudah-mudahan bukan…

  11. Wow daebak.. aku baru komen di part ini tpi aku bakal ulang baca dri awal n komen.. aku gk tw awal nya apa itu ff.. karna aku pnggemar nya yoona n kyuhyun..

  12. Woahh kyuhyun benar2 cemburu bgt… dia gak rela yoona kembali sama donghae..
    gue baca nya nyampe tegang… ceritanya semakin seru!!!!!
    #KyuNa_Jjang!!!

  13. akhirnya donghee dan kyuhyun ketemu .tegang banget baca ff nya diakhir .yoona juga hebat bisa tau sifat kyuhyun smapi tau dia mau mendatangkan donghee .ceritany menenggangkan .andai ada film nya pasti ak tonton

  14. kenapa kyuhyun gengsi kalo emang cinta sama yoona, yoona tetep sama kyu kan hae nya udah pergi ninggalin dulin keren baget thorr

  15. Semakin menarik, konflik semakin rumit dan memanas. Kdang aku merasa sedikit jengkel sma yoona, knapa malah datangin hae di saat tau kyu lgi marah. Tpi aku jga gk bisa ngelak kalau kyu bikin gereget sma pola pikirnya. Tpi ada untung jga hae ketemu yoona, krna dengan bgitu hae bsa nyadarin kyu dengan kta kta yang menohok. Krna kyu gk bsa selamanya mrthanin yoona dengan prinsip bebas tak terikat.

  16. Part ini bikin perasaan campur aduk apalagi hubungan hae sama yoon bikin bingung dan aku masih lebih berada di pihak kyu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s