Taica

TAICA by Park Nukyeon

Singkat cerita, aku tidak pernah berani berbicara “I Love You” pada mamaku sendiri. Hingga saat keberanian itu datang semuanya sudah terlambat.

Hari ini tepat tanggal 22 December. Dimana biasanya seluruh manusia di dunia ini menganggap hari ini hari ibu.

Yoona mengetuk-ngetuk bolpoinnya di meja. Hari ibu bagi Yoona hanya hari biasa. Dari ia masih di bangku sekolah dasar hingga menengah ke atas ini, tidak pernah sekalipun ia berucap “Selamat Hari Ibu” pada ibunya. Ia malu. Malu. Sangat malu untuk mengucapkan kata itu.

“Yoona, kau menyiapkan apa untuk mamamu hari ini?” tanya seorang lelaki di sampingnya.

“Tidak menyiapkan apa-apa Hun,” jawab Yoona datar.

“Bagaimana bisa?” ujar lelaki yang bernama Sehun itu kebingungan.

“Aku tidak tahu harus menyiapkan apa,” ucap Yoona sambil mengangkat bahunya.

“Ugh Im Yoona. Ayolah, kau ini perempuan. Lihat aku, aku yang jelas-jelas berkelamin lelaki saja menyiapkan ini,” kata Sehun bangga. Ia menunjukan sebuah kapal kertas miliknya.

“Yatuhan, itu hanya kapal kertas Oh Sehun. Anak kecil juga bisa membuat seperti itu,” ujar Yoona.

“Ini kapal kertas yang kubuat dengan penuh cinta. Aku menulis sebuah surat di dalam kapal ini. Setidaknya, sekecil  apapun hadiah itu. Itu dipenuhi dengan rasa cinta yang mendalam,” senyum Sehun.

“Baiklah kalau begitu. Bagaimana jika aku hanya bisa mengucapkan ‘I Love You’ padanya?” gumam Yoona.

“Aku sudah bilang. Sekecil apapun hadiahnya. Jika itu dipenuhi dengan rasa cinta yang mendalam.” Sehun memasukkan kapal kertas itu kedalam lacinya, tepat saat seorang guru memasuki ruang kelas itu.

Guru itu menatap Yoona, “Yoona, ada telepon untukkmu di kantor.”

Yoona hanya mengangguk dan mengikuti guru itu. Jarang sekali ia mendapatkan telepon. Karena, kedua orang tuanya terlalu sibuk mengurusi pekerjaan mereka. Yoona bingung, apa benar jika ia hanya mengucap ‘I Love You’ itu sudah berguna?. Ia terus berpikir selagi menuju kantor guru. Ia memikirkan ibunya, bahkan tadi pagi saja ia belum sempat mengucapkan; hati-hati dijalan pada ibunya.

Yoona memasuki ruang kantor guru dengan mengundang sejuta padangan dari semua guru disana. Mereka memandang Yoona dengan penuh iba entah kenapa. Tepat saat Yoona menghampiri telepon yang sedang digunakan oleh wali kelasnya, telepon itu malah ditutup oleh wali kelasnya itu.

Wali kelas itu memandang Yoona, “Yoona kau disuruh pulang oleh ayahmu. Ia berkata, kakakmu sudah menunggumu di lapangan parkir,”

“Kenapa?” tanya Yoona.

“Ada urusan keluarga,” senyum guru itu.

Yoona hanya mengangguk lalu meninggalkan ruang itu.

“Kenapa kau tidak bilang langsung pada Yoona?” tanya seorang guru pada wali kelas Yoona.

“Tidak bisa, itu memang urusan keluarganya. Kasihan sekali ia,” haru guru itu.

Yoona merapihkan tasnya dan langsung membuat Sehun bertanya padanya.

“Kau mau kemana?” tanyanya.

“Pulang,” jawab Yoona.

“Kenapa?” ucap Sehun.

“Aku sendiri tidak tahu,” ucap Yoona.

“Yatuhan, baiklah kalau begitu. Hati-hati dijalan. Jangan lupa hadiahmu itu,” senyum Sehun.

Yoona membalas senyuman Sehun dengan manis, “Terima kasih Oh Sehun.”

Yoona meminta ijin pada guru yang sedang mengajar itu dan langsung bergegas keluar kelasnya. Menghampiri mobil Porsche hitam milik kakaknya.

Ia membuka pintu mobil itu.

“Kenapa kak?” tanya Yoona.

“Sudah masuk saja,” jawab sang kakak.

Yoona menuruti permintaan kakak satu-satunya itu. Ia menaiki mobil itu dengan hati-hati dan menutup pintunya pelan.

“Kencangkan sabuk pengamanmu,” ucap sang kakak.

Yoona menatap kakaknya kebingungan dan langsung melaksanakan perintah kakaknya itu.

Clek.

Saat Yoona memasukan mulut sabuk pengamannya itu. Kakaknya langsung menginjak gasnya dengan cepat. Membawa Yoona pergi entah kemana

“Kak, kenapa kita kerumah sakit?” tanya Yoona kebingungan.

“Yatuhan Im Yoona, kau sudah duduk di bangku SMA. Bisakah kau mengerti?” ucap sang kakak.

“Aku serius. Tadi, guruku hanya memberitahuku bahwa aku harus cepat pulang karena ada urusan keluarga. Aku kira, kita ingin pergi ke luar kota,” gumam Yoona.

“Guru yang baik,” senyum sang kakak.

“Kak, beritahu aku sebenarnya ada apa?” ujar Yoona.

“Ayo kita kesana,” ujar sang kakak mengalihkan pembicaraan dan menarik Yoona ke lift yang sedang terbuka itu.

Di dalam lift. Yoona terus mengoceh. Bertanya pada kakaknya tentang sebenarnya apa yang sedang terjadi. Kakaknya hanya menoleh. Tidak membuka mulutnya se-inchi pun. Sampai pintu lift itu terbuka. Yoona melangkahkan kakinya keluar lift. Mengikuti langkah sang kakak. Yoona bisa dibilang sedang terkena perpaduan antara perasaan marah dan sebuah penasaran. Ia marah pada kakaknya yang sedari tadi tidak menjawab. Tetapi, ia penasaran. Kenapa kakaknya yang begitu cerewet bisa menjadi sangat pendiam.

Caroline. Biasanya ia memanggil kakaknya dengan sebutan itu. Tapi, hari ini. Dengan penuh hormat ia memanggil Caroline “kakak”. Entah kenapa.

Kakanya berhenti tepat di depan ICU yang sontak membuat Yoona bingung.

“Kenapa kita berhenti?” tanya Yoona.

Tepat saat itu juga, seorang keluar. Ia menggunakan jubah hijau yang tentu saja Yoona tahu itu untuk menetralisirkan padangannya dari darah.

“Apakah kalian keluarga dari saudari Nicole?” tanya dokter itu.

Nicole. Itu nama ibunya. Kenapa nama ibunya di sebut-sebut?

“Iya, saya Caroline. Anaknya,” ucap Caroline.

“Sebelumnya saya minta maaf,” ucap sang dokter itu dan langsung membuat Caroline jatuh berlutut menitikkan air matanya. Caroline yang biasanya tidak pernah menangis. Kini menangis.

“Kenapa sih? Apa yang terjadik dengan ibu saya dok?” ucap Yoona.

“Kami minta maaf tidak bisa menyelamatkan ibu anda,” jelas sang dokter.

DEG

“Maksudnya apa?” tanya Yoona.

Matanya mulai berair. Ingin menjatuhkan bulir-bulir bening itu.

“Jika hanya terjadi benturan keras pada kepala itu bisa kami atasi. Tetapi, ibu anda mengidap penyakit jantung akut yang sudah bisa tertolong lagi,” jelas sang dokter.

Tidak perduli dengan doker itu. Yoona langsung menubruknya membuat dokter itu kehilangan keseimbangannya dan terjatuh. Yoona langsung mendapati seseorang dengan balutan baju hijau. Sedang menutup matanya. Wajahnya putih sangatlah putih. Bukan putih yang indah. Melainkan putih pucat.

“Mama?” panggil Yoona sambil menatap ibunya yang sudah pergi ke tempat yang bisa dibilang lebih pantas.

“Mama?” panggil Yoona lagi. “Mama, kenapa mama masih tidur? Ini sudah waktunya mama kerja,” lanjutnya. Tetapi, kedua mata itu tetap tertutup. Tidak ada niatan untuk membuka. Yoona menangis. Menangis histeris. Mencakar-cakar tangan ibunya. Berharap ini hanya gurauan dokter.

“Mama, leluconmu yang ini tidak lucu aku bersumpah.” Yoona masih tidak percaya akan kepergian ibunya. Ia merosot dari tempat tidur itu, “Aku bahkan belum mengucapkan selamat hari ibu.”

“Aku turut berduka cita,” peluk Sehun.

Yoona terdiam di pelukannya. Dia tidak tahu harus bagaimana lagi. Kenapa saat ia berani, ibunya malah meninggalkannya bukannya itu hal yang jahat?

Yoona mendorong Sehun pelan. Dan melangkah ke sebuah makam yang dipenuhi dengan bunga di atasnya. Dihiasi batu nisan yang masih mengkilat-kilat.

“Mama, mungkin aku tidak selalu menyukaimu. Kita sering bertengkar. Kita sering berbeda pendapat. Aku sering melawan. Tapi, satu yang harus tahu. Aku selalu mencintaimu. Kenapa kau setega ini? Kenapa?” tangisan Yoona mengeras. Ia menundukkan kepalanya.

I know Heaven need you.

So many things of you that I miss—

Your  gently hug—your tender kiss.

I still feel you— feel your warm love.

And picture yet your loving face.

I know—your task never done.

And Heaven must have needed you.

For angels came and took your hand.

And lead you to God’s promise land.

I know you surely kept quite busy there.

While’s brushing little angels hair.

And making sure they’re dressed just right.

Not staying out too late at night.

Alright—there’s sadness. This I know—

You waiting there, your face aglow

I close my eyes and I can see—

Your arms still open wide for me


 

 

 

5 thoughts on “Taica

  1. mungkin ngelakuin hal2 sederhana untuk ibu adalah suatu cara kita menunjukkan bahwa kita sayang kepada kedua orang tua. but actually, kita bisa menunjukkan sayang kita setiap hari. nggak cuma terpaku saat hari ibu aja. dan kebanyakan anak pasti begitu, menunjukkannya saat hari ibu aja.
    dan disini yoona lebih tragis sih, sehari2nya mungkin gak akur sama ibunya. dan saat mau nunjukkin kasih sayangnya, ibunya malah pergi. dan mungkin kita bisa belajar dari pengalamannya yoona disini (?) bahwa gak perlu hari ibu untuk menunjukkan kasih sayang kita. jadikan tiap hari sebagai hari ibu🙂

  2. Semuanya tak ada yang terlambat. Walaupun tiap hari gak selalu akur pasti didalam hati Yoona yang paling dalam memiliki rasa sayang dan cinta terhadap ibunya. Tapi apa boleh buat, Yoona mungkin ingin menunjukkan itu semua disaat hari spesial datang ‘Hari Ibu’. Jadi, tak ada sesuatu hal yang terlambat untuk melakukannya, selama kita melakukannya dengan ikhlas dan tulus :))

  3. Aigoo.. Kasian bnget sih yoong😦
    gak ad yg trlambt kok, krn walau ibu ud tiada tp msh bnyak cra qta tnjukin ksh syang/cinta kita buat ibu..
    Keep writting Thor!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s