MONSTER

poster ff monster

MONSTER

a fanfiction from astriadhima

special for my debut in imyoonafiction!

Happy reading yap😀

Cast : Lee Jongsuk x Im Yoona ♣ Length : Oneshoot ♣ Genre : Romance, Fantasy, Family, Mystery ♣ Rating : PG-15

Seperti fanfiction pada umumnya. Semua yang ada di tulisan ini hanya rekaan gila penulis. Nggak ada yang bisa dipercaya.

 

♣♣♣

                Setiap orang yang singgah atau bertemu selalu menanyakan bagaimana status hubungan antara Yoona dan Jongsuk. Apakah Cuma berteman? Kekasih? Atau saudara?. Tidak ada yang tahu pasti kapan mereka mulai tinggal bersama. Sejak peristiwa besar itu, Yoona lebih memilih mengundurkan diri dari kehidupan sosialnya. Berdiam diri disebuah rumah dengan Jongsuk –pria dengan IQ setingkat anak kecil itu.

Tinggal dengan seorang pria yang berkebutuhan khusus sedikit membuat Yoona kewalahan. Bagaimana bisa seorang laki-laki berusia 27 tahun masih memakan roti selali sambil buang air. Mencorat-coret tembok yang membuat Yoona berteriak setiap akhir pekan. Setidaknya saat mereka duduk untuk menonton TV bersama, Yoona sempat merasa beruntung pernah mengenal pria itu.

Suatu hari ketika Yoona sedang membeli roti dan madu disebuah minimarket, seorang tetangga baru bertanya padanya. “Halo aku Miss Park, tetangga barumu. Ehm, aku dengar kau tinggal dengan seorang laki-laki.” Yoona tak jadi membeli sebuah sampo, ia meletakkan barang itu kembali di raknya. Menelusuri langkah, memperjauh jarak antara mereka. “Apa kau tak tinggal dengan seorang laki-laki? Ku kira kau sudah menikah.” Seu Yoona kemudian. Tetangga itu sedikit tercengang. “Maaf kurasa ini bukan perkenalan yang cocok. Lain kali aku akan mengantarkan kue beras padamu. Aku akan membawa anakku untuk makan bersama.” Tetangga baru itu menggaruk tengkuknya, lalu dengan canggung pergi dari hadapan Yoona. “Apa salahnya jika aku tinggal dengan seorang monster sekalipun?”

Salju mulai meraung-raung diluar rumah. Pertengahan Desember mulai disibukkan dengan badai-badai salju. Seluruh saluran televisi sibuk memberitakan badai yang terjadi dibeberapa tempat. Jongsuk dengan keripik kentang ditangannya mengamati seorang pembaca berita wanita yang sedang melaporkan situasi. Wanita itu menunjuk tempat dibelakangnya, menunjukkan jika badai sedang berkecamuk. Yoona tahu Jongsuk bahkan tak tertarik dengan berita, toh pria itu akan lupa sepuluh menit lagi. “Lihat, dia memakai noda di mata sama sepertimu.” Teriak Jongsuk bersamaan dengan jarinya yang masuk ke dalam mulut. Yoona mendekati pria itu. Membuang tangannya agar menjauh dari mulut. “Itu sangat menjijikkan. Apa dia cantik?” Yoona bertanya. Gadis itu mencoba memasukkan tangannya ke dalam kemasan plastik yang langsung ditampik oleh Jongsuk. “Cantik. Tapi dia lebih cerewet darimu.” Yoona merebahkan kepalanya di bahu Jongsuk. Meskipun perilakunya sama dengan murid sekolah dasar, tetapi bahunya tetap hangat seperti pria dewasa pada umumnya. Juga seleranya sebagai seorang lelaki tak pernah telat tumbuh. Tak ada salahnya jika ia tinggal dengan seorang pria idiot.

Satu jam kemudian Yoona harus disibukkan dengan memindahkan Jongsuk ke kamarnya. Berat pria itu lebih dari 70 kg dan Yoona harus membopongnya setiap hari, cukup melelahkan sebenarnya. Namun saat Yoona menatap kelopak matanya, terasa teduh bagaikan menyesap aroma musim semi. Bahkan ia tak kuasa memandang pria itu lebih dari lima menit. Ruang-ruang dirumahnya terasa temaram dan sepi. Ia mengamati segala aktifitas dirumah itu yang mulai lenyap. Suara ibunya yang selalu menyuruhnya makan dan mandi teratur, juga suara bising ayahnya menggunakan mesin-mesin aneh. Kini perlahan rumah itu kehilangan nyawanya. Ditengah angin yang menyusup melalui celah jendela, kalender di ruang televisi itu tersingkap. Melihatkan sebuah hari dimana mimpi buruk akan dimulai.

Matahari belum sampai mengintip cakrawala tetapi Jongsuk menghilang bahkan sebelum Yoona bangun. Tanpa memakai alas kaki, gadis itu berlari menelusuri jalan sambil meneriakkan nama Jongsuk. Air mata mulai meleleh dipelupuk matanya, Jongsuk tak kunjung ditemukan.

Yoona mengikat rambutnya keatas kuat-kuat. Ia membolak-balikkan buku telepon, mencari nomor darurat atau nomor polisi. Sebenarnya ia tak yakin, menyuruh polisi mencari orang berkebutuhan khusus seperti Jongsuk. Ia hanya tak ingin kalau-kalau Jongsuk tengah ditemukan di taman bermain kanak-kanak, atau lebih parahnya saat mencuri es krim. Gagang telepon sudah bertengger dibawah dagunya, tapi jarinya tak kunjung menekan serangkaian nomor. Pikiran-pikiran mengerikan mulai melintas di otaknya. Yoona memutuskan untuk membuang gagang telepon dan melempar sekaligus buku teleponnya. Ia berniat menunggu.

Roti dengan olesan krim coklat masih tersaji di meja makan. Jongsuk dan dirinya belum melahap apapun. Saat Jongsuk pergi, lelaki itu turut mengambil selera makan Yoona. Gadis itu mengetukkan jarinya ke meja dengan gelisah. Menarik napas yang lama ia tahan, ia mulai menangis.

Terdengar suara benda menabrak pintu. Yoona tersadar dari tidurnya. Tidur dengan menunduk diatas meja membuat sekujur tubuhnya pegal. Ia teringat akan Jongsuk dan seketika berlari kearah pintu. Seseorang mencoba membuka pintu dengan menumbukkan badannya ke pintu. Yoona segera meraih kunci dan membuka pintu. Jongsuk terjatuh dengan sedikit luka lebam disudut bibirnya. Ia tersenyum kearah Yoona. “Aku lapar.”

Esok paginya, Yoona bangun sebelum Jongsuk. Memastikan seluruh akses keluar rumah telah terkunci dengan baik. Setelah memakan roti selai tadi malam, Jongsuk segera tertidur tanpa bercerita apa-apa. Yoona pun enggan untuk bertanya padanya. “Yoona?” gadis itu berjingkat. Jongsuk keluar kamar dengan membawa selimut. “Ada apa jagoan?” sergap Yoona. Jongsuk melempar selimutnya ke lantai. “Aku mimpi buruk. Tak sengaja.” Pria itu tak berkata lagi. Seringai matanya masih terlihat suram. Saat Yoona memasuki kamarnya, iamemanjat jendela. Ia mengamati salju yang perlahan mulai turun. Hembusan napasnya yang kecil menciptakan bercak embun di ujung kaca. Pria itu sedang merenung rupanya. Yoona tahu apa maksud Jongsuk dengan ‘Tidak sengaja’, ia memungut selimut serta mengganti seprei Jongsuk. Pria itu masih mengamati keadaan luar rumah dengan gelisah. “Jongsuk bukan orang jahat kan?”

“Hmm..”

“Jongsuk tak sengaja membuat orang terjatuh.” Seketika tubuh Yoona meremang. Jongsuk masih tak merubah posisinya. Lututnya tertekuk dengan tangan diatasnya. Jongsuk menangis. Yoona mempercepat saat melucuti sprei Jongsuk. “Apa kau mau ikut denganku? Aku ingin membeli daging dan baju hangat.” Jongsuk dengan tegas menggelengkan kepalanya. Ia meloncat turun dan meninggalkan kamar. Ia berteriak “Aku tak mau makan daging lagi.”

Dengan berbagai bujukan akhirnya Jongsuk bersedia ikut. Mengenakan sweater berwarna biru, pria itu terlihat sama dengan pria pada umumnya. Saat ia berpapasan dengan security, bahkan Jongsuk terlihat lebih gagah darinya. Kedua orang itu berjalan seperti biasa sebelum Miss Park –tetangga baru− menyerobotnya. “Nona Yoona?” Jongsuk yang sedang memperhatikan sebuah merk sabun teralihkan perhatiannya. “Ya?” Yoona menatap Miss Park dan Jongsuk bergantian. “Aku ingin meminta maaf atas pertemuan kita kemarin. Ehm, apa anda punya waktu nanti malam?” Yoona mengamati Jongsuk dan Miss Park lagi. Jongsuk sudah tak tertarik dengan pembicaraan mereka. Ia terus mengomel tentang bau sabun. “Kami selalu punya waktu luang setiap hari.” Yoona mengulas senyum yang sedikit dipaksakan. Miss Park terlihat sedikit malu kemudian ia menatap Jongsuk dengan seksama. “Apa dia laki-laki yang tinggal bersamamu?”

Jongsuk berlari kearah barisan makanan. Pantulan di matanya penuh dengan bungkus-bungkus snack. Yoona menyarankan untuk mengambil beberapa, ia sendiri pergi untuk melihat-lihat daging. Perhatiannya tertuju pada sederetan stroberi diujung ruangan. Seorang pegawai menawarkan potongan harga pada seuruh pengunjung. Senyum terlihat dalam wajahnya. Ia berteriak dengan kencang dan gembira. Saat Yoona lebih dekat, pegawai cantik itu mengulurkan sebuah stoberi pada Yoona. Dengan senang hati Yoona menerimanya dan makan. Rasa asam sekaligus manis yang lembut merambati lidahnya. “Apa masih ada potongan harga untuk hari ini?” tanya Yoona. Pegawai itu tersenyum sambil menunjuk papan harga disampingnya. “Diskon tinggal hari ini. Setiap pembelian satu pack berisi 500gr, kami memberi gratis 500gr.”

Warna merah telah membutakan matanya. Yoona merogoh sakunya dan terdapat beberapa lembar uang disana. Ia serahkan uang itu pada pegawai dan ia mendapat 1 kilo stroberi segar. “Terima kasih. Selamat natal.” Ucapnya. Yoona berniat kembali ke persediaan daging, tetapi suara keributan membuatnya takut. Terdengar beberapa teriakan dan kaleng-kaleng yang terjatuh. Yoona berlari tunggang langgang kearah keributan itu. Berharap jika Jongsuk tak ada dalam situasi itu. Puluhan wanita menjerit. Seorang petugas keamanan menodongkan pistolnbya kearah pria paruh baya berpakaian hitam. Tubuhnya lusuh dan ia tampak berantakan. Mata Yoona menjalar mencari sosok pria bersweater biru. Yoona bersyukur, pria yang sedang ditodongkan pistol itu bukan Jongsuk

Pria paruh baya itu dapat diringkuk dengan mudah. Ia menjerit dan mencakar petugas keamanan. Selayaknya pencuri, ia meraung untuk kabur tetapi petugas keamanan menikamnya dengan kuat. “Kau telah banyak menimbulkan keributan.” Teriak seorang petugas. Pria itu mengerang, mengarang berbagai alasan. Tetapi satu kata yang membuat Yoona terhenti langkahnya. “Tapi aku tak menimbulkan suara menggeram.”

Jongsuk ditemukan tengah memakan lollipop. Seorang pegawai wanita memberinya. Saat Yoona mendekat, pegawai itu tersenyum. “Dia terus menerus menatap permen. Beberapa kali aku menawarinya. Dan aku baru menyadarinya, maaf, dia sedikit seperti anak-anak.” Jelasnya. Yoona tak serta merta marah. Ia menepuk bahu Jongsuk. Ia mengelus pipinya. “Kau baik-baik saja jagoan?” Jongsuk mengangguk.

Beberapa bangku bus terlihat kosong. Yoona tanpa berbicara apapun tetap memandang jalan. Jongsuk belum menghabiskan permen ketiganya. Di dalam dekapannya terdapat satu pack daging segar. “Yoona, petugas tadi baik sekali. Aku ingin menemuinya lagi.” Pandangan Yoona teralih dari tanah pertanian kearah Jongsuk yang rupanya lebih menenangkan. “Apa kau ingin permennya?” balas Yoona. Jongsuk menggeleng. “Bukan, hanya saja aku ingin bertemu dengan orang-orang baik.” Yoona mengangguk. “Kalau begitu kau harus menjadi orang baik untuk bertemu dengan orang baik.” Jongsuk mengedipkan matanya berkali-kali, terlihat mencerna kata-kata Yoona. “Apa kau mau makan stroberi?” tawar Yoona. Tangannya menyibak bungkusan dan mencari bungkusan stroberi. Ia menyerahkan satu pada Jongsuk. “Terkadang rasa asam mengingatkanmu pada masa lalu.” Ujar Yoona.

Tengah malam Yoona terbangun karena sakit perut. Semalaman ia mengunyah stroberi sambil menunggui Jongsuk menggambar. Baru ketika Jongsuk benar-benar terlelap, ia berhenti makan. Badai di luar cukup hebat hingga kelambu jendela berkibar-kibar. Yoona mengikat kelambu itu hingga tak berkibar lagi. Ia menatap keluar jendela.”Mimpi buruk akan tiba besok.” Setelah Yoona memastikan kamar Jongsuk yang gelap, ia berniat kembali ke kamarnya. Lalu seperti disergap senapan, sebuah lolongan dan geraman entah dekat atau jauh merambati sekujur tubuhnya. Dan jika benar, diujung kamar Jongsuk masih terlihat temaram.

Yoona kembali menyesal. Pasti ia tak mengunci rumah dengan baik. Jongsuk kembali kabur, ia bahkan tak membuka pintu dengan kuci. Ia mendobrak pintu hingga engselnya rusak. Yoona tak menelpon polisi lagi. Ia terus menunggu dan mondar-mandir. Satu keputusan yang akan ia ambil saat ini adalah menunggu seperti tempo hari. Toh Jongsuk akan pulang, meski terdapat lebam dibeberapa bagian tubuhnya. Mungkin akan lebih banyak malam ini.

Selera makannya kembali hilang. Sakit perut semalam sudah menguras isi lambungnya. Sepanjang waktu perutnya berbunyi, tapi ia tak kunjung makan. Dalam otaknya hanya penuh dengan Jongsuk dan Jongsuk. Apa yang ia lakukan diluar sana dan apa yang ia makan. Ia menggelengkan kepala kuat-kuat.

Seperti yang diduganya, Jongsuk pulang. Dengan sweater yang ia pakai kemarin ia terlihat baik-baik saja. Saat memasuki rumah ia terlihat normal. Membuka pintu yang ia rusak dan berjalan kearah Yoona. “Maaf, aku tak tahu dimana Yoona menaruh kunci.” Yoona memeluknya. “Apa yang kau lakukan diluar?” tanya Yoona. Air matanya meleleh.

Jongsuk merasa sangat bersalah. Ia bersimpuh didepan Yoona, mencoba minta maaf. Ia tak tahu harus berbuat apa, Yoona masih menangis. “Kau mau makan stroberi?” tanyanya. Yoona malah menggeleng. “Tidak.”

“Padahal Jongsuk mencarikan stroberi untuk Yoona. Tadinya kupikir aku bisa melihat masa laluku dengan stroberi. Sepertinya mimpi itu telah merenggut masa laluku.” Kata-kata Jongsuk terdengar dewasa. Mustahil mendengar kata-kata sepert itu bahkan dari mulut seorang anak kecil sekalipun. “Kau ingin melihat masa lalumu?” lalu Jongsuk mengangguk.”Kenapa?” serobot Yoona. “Aku ingin melihat seseorang.”

Hampir pukul sepuluh Yoona masih mengamati kelakuan Jongsuk. Pria itu beberapa kali memutar tubuhnya Mencari angle yang tepat untuk menggambar sebuah meja. Gadis itu sangat berterima kasih karena hari akan semakin berlalu. Sehari sebelum natal dan mimpi buruk belum terjadi. Ia kembali menatap salju di luar. Mulai sedikit lebat. Yoona membenarkan jaketnya dan secara tenang menyeruput kopi. Ia berharap tak tertidur malam ini. Tetapi ia salah, sepuluh menit kemudian ia tidur sambil duduk.

Tengah malam baru ia menyadari Jongsuk tak ada. Mencari di segala penjuru rumah tetapi pria itu tak ada. Yoona juga memastikan apakah Jongsuk berada di garasi atau dapur. Tetapi nihil, Jongsuk meninggalkan rumah. Yoona mengenakan beberapa jaket tambahan, ia keluar rumah berusaha mencari Jongsuk.

Awalnya ia mencari-cari di beberapa taman bermain dan rental game. Tak ada sosok Jongsuk disana. Salju masih turun secara jarang, membelah aktifitas kota yang tak pernah mati. Sayangnya ditengah-tengah orang itu tak ada sosok Jongsuk yang selama ini ia cari dan khawatirkan. Mimpi buruk benar-benar akan terjadi malam ini.

Hanya satu tempat yang belum Yoona kunjungi. Meski hanya beberapa persen kemungkinan Jongsuk kesana, setidaknya tempat itu dikenal Jongsuk. Supermarket. Mungkin jika Jongsuk mampir kesana untuk melihat-lihat. Atau mencari pegawai cantik yang memberinya permen. Saat tiba disana, tempat itu sedang tidak baik dan kacau. Asap membumbung di beberapa titik seperti gunung berapi. Beberapa rak jungkir balik dan semua produk makanan dan keperluan sehari-hari berantakan. Ini lebih dari peristiwa pencurian kemarin. Siapapun yang melakukan ini pasi sangatlah kuat dan brutal. Yoona berlari untuk mendekat kearah gedung, tetapi seorang petugas pemadam mencegahnya. “Jangan Nona, terlalu berbahaya.”

Teriakan demi teriakan bertubu-tubi dari dalam gedung. Dentuman kaleng dan botol malah memperburuk suasana. Dari luar hanya terlihat puluhan orang panik dan wanita-wanita yang menjerit. Suara mereka bersahutan sehingga tak terdengar jelas. Beberapa ambulans mendekati gedung dan membawa beberapa orang yang terluka. “Ada apa?” Yoona bertanya pada petugas pemadam yang menahannya. Petugas itu menggeleng. “Seseorang mengacaukan supermarket.”

Kaca lantai dua pecah dan seseorang terjatuh. Puluhan orang berteriak termasuk Yoona. Semua petugas pemadam dan polisi mendekati tempat kejadian. Yoona pun ikut. Seseorang dengan jas hitam dan dasi biru. Terjatuh dari lantai dua dengan kepala terbentur lebih dahulu. Terlihat sangat mengerikan. Yoona ingin muntah tetapi ia memberanikan mendekati gedung. Seorang polisi kembali menahannya. Ini terlalu berbahaya, katanya. “Bisa anda jelaskan padaku apa yang terjadi?” pinta Yoona. Polisi itu sibuk berkomunikasi dengan walkie-talkie sehingga mengacuhkan Yoona. “Cepat kosongkan gedung. Kita akan menembak pemuda itu segera.”

Yoona tercekat. Puluhan petugas berseragam hitam mendekati gedung dengan formasi rapat. Semua dari mereka memegang semacam tameng dan pistol untuk pembelaan. Puluhan orang keluar dari gedung dengan pengawasan polisi dan pemadam kebakaran. Bagian belakang gedung mulai terbakar, asapnya membumbung ditengah salju. Mata Yoona seakan kebas. Ia berusaha sekuat tenaga mencapai gedung itu. Polisi tadi melepaskannya namun polisi lain menahannya. Yoona beringas. Di sudut matanya air mata mulai mengalir. Ia ingin menjerit tetapi ludahnya kering bahkan hanya untuk memanggil Jongsuk sekalipun.

Ledakan yang cukup besar terdengar dari belakang gedung. Semua perhatian terpusat pada area tersebut. Puluhan orang menjerit. Memanfaatkan kelalaian polisi itu Yoona menggigit jarinya kemudian lari mendekati gedung. Jongsuk keluar dari sana.

“Jong….?”

Jongsuk terlihat sangat aneh. Segala bajunya telah robek dan terbakar. Luka bakar didahinya serta lebam dimana-mana. Ia terlihat sangat menyedihkan. Pun sorot matanya yang berbeda. Ia tampak lebih dewasa dan liar. Lutut Yoona serasa lumpuh ia, ia terduduk di tanah sampil menangis. Puluhan orang berseragam hitam mulai membentuk formasi. Barisan depan membentuk serangkaian benteng dengan barisan kedua memegang pistol. “Nona, mundur kami akan menembaknya.”

Yoona menjerit. Ia mencoba bangkit dan menjelaskan semuanya. “Tidak.. Jangan. Dia tidak berbahaya. Dia hanya mencari sesuatu, aku yakin dia tak ingin menyakiti seseorang.” Jerit Yoona pada seluruh kerumunan yang menatapnya. Kini ia berada antara Jongsuk dan puluhan orang. Menangis dan menjerit tanpa ada pertolongan dari siapapun. “Aku bisa bicara padanya. Tapi tolong jangan sakiti dia.” Jelas Yoona lagi. Beberapa polisi mendekat dan mencoba menyelamatkan Yoona. Tetapi ia menampik. “Tidak. Aku tinggal bersamanya. Aku akan bicara padanya.”

“Jangan Nona. Cepat menyingkir.” Yoona kembali menjerit dan semua orang diam. “Tidakkah kalian bisa mendengarkanku. Aku akan bicara padanya. Dia tidak berbahaya.” Serunya. “Jangan dekati monster itu.” Beberapa dari kerumunan berteriak bersama. Mereka meneriaki Jongsuk dengan kata ‘monster’ kata yang sangat dijaga oleh Yoona. Tetapi mimpi buruk sudah terjadi. Satu dari sekian ribu hari dalam 14 tahun telah terjadi. Yoona mencoba mendekati Jongsuk dengan sisa tenaganya. “Apa yang kau cari?” katanya lirih. Jongsuk menundukkan kepalanya. Rambut hitamnya terpantul sinar bulan yang suram. Beberapa bulir salju bersarang di rambutnya. Ada cairan yang menetes dari wajahnya, entah keringat atau air mata. Semakin Yoona mendekati Jongsuk, jeritan dari mereka semakin tak bisa dibendung. Kemudian ia berlari, memeluknya.

“Jangan pergi lagi. Mereka terlalu jahat terhadapmu.” Jerit Yoona dalam dekapan Jongsuk. Lelaki itu tak membalas pelukan Yoona seperti biasanya. Ia mematung tampak memikirkan sesuatu. Tubuhnya begitu dingin dan keras. Sangat berbeda dengan Jongsuk yang ia kenal. “Mereka terus meneriakiku monster.” Seru Jongsuk lirih. Ada penyesalan dalam nada suaranya, melamun. “Tidak. Kau bukan monster, kau jagoanku.”

Jongsuk melepaskan pelukan Yoona. Lelaki itu mencoba berlari lagi ke dalam gedung yang mulai terbakar separuhnya. Yoona menarik tangannya. Dengan sekuat tenaga Jongsuk melepasnya. Yoona tetap mempertahankan pegangannya hingga Jongsuk berbalik dan menggigit pergelangan tangan Yoona. Teriakannya menarik seorang polisi mendekat. Pistol yang ia bawa ia acungkan tepat di pelipis Jongsuk. Yoona menjerit “Jangan. Aku masih mencoba membujuknya” “Tidak. Terlalu berbahaya.” Polisi itu hampir menarik pelatuknya sebelum Yoona menjerit. Ia mencengkeram lengan polisi itu kuat. “Apa kau tega menodongkan pisau pada saudaraku? Bahkan ia tak memiliki IQ separuh darimu.” Yoona berlari kearah Jongsuk dan memeluknya dari belakang. “Apa yang kau cari?”

Badan Jongsuk bergetar hebat. Kepalanya menggeleng beberapa kali. Ia menjerit kesakitan saat memegang kepalanya. “Sakit. Aku ingin bertemu dengannya.” Jongsuk berlari ke dalam gedung tetapi ditahan Yoona. “Siapa yang kau cari?” erang Yoona. Jongsuk tetap berontak sambil memegangi kepalanya. “Ibuku… Ibuku.. ia datang dalam mimpiku.” Jongsuk berteriak yang malah mirip erangan kesakitan. Yoona tak tega melihat Jongsuk seperti ini. “Kenapa harus disini?” Percobaan Jongsuk untuk lari semakin kuat. “Aku perlu makan banyak stroberi. Aku harus mengingat sesuatu. Aku harus bertemu ibuku. Lepaskan aku.” Jongsuk menggeliat, muakanya memerah dan ototnya mulai menegang. Dengan perasaan tidak yakin, Yoona menamparnya.

Jongsuk terpaku. Kepalanya serasa berdenyut-denyut. Ia melihat Yoona yang hapir sama buruknya dengan dirinya. “Dia.. dia sudah tidak ada. Dia sudah mati” Dengan berat hati Yoona mengatakannya Ia menatap kedua bol mata Jongsuk yang memerah dan berkaca-kaca. “Apa kau mengerti definisi mati?” tanya Yoona lagi. Jongsuk semakin bergetar. Ia mendekati Yoona dan mencoba meraba rambutya. “Ibu sudah pergi?” katanya. Yoona mengangguk.

Jongsuk berkata-kata seperti orang gila. Ia meminta Yoona untuk menyingkir dan mendekati kerumunan orang. Puluhan pistol mengarah padanya. “Bunuh aku.. Bunuh aku…” jeritnya. Yoona berlari kearahnya. Berdiri tepat didepannya. “Jangan. Aku masih membujuknya.” Erang Yoona. “Tidak aku harus mati. Aku ingin bertemu dengan ibuku. Biarkan aku, Yoona.” Jongsuk merosot dibelakangnya. Menjerit dengan tangis yang sangat keras melebihi apapun.

“Yoona bilang, untuk bertemu dengan orang baik aku harus menjadi baik. Maka jika aku ingin bertemu dengan orang mati maka aku harus mati.” Kata-kata Jongsuk tak terdengar jelas. Wajahnya masih menunduk dan meneteskan air mata. “Maafkan aku. Maafkan aku.” Yoona tak bisa menahan air matanya. Ia memeluk Jongsuk dengan erat. “Jongsuk akan menjadi laki-laki baik.”

 

 

            Akhir tahun 2000, sehari sebelum natal bulan desember. Aku berencana menggelar pesta kecil bersama keluarga. Ibu sudah menyetujui tentang rencana ini, hanya Ayah yang perlu diberi sedikit kejutan. Aku mencuci puluhan stroberi dan menatanya disebuah piring besar. Dengan saus coklat ditengahnya juga lilin natal. Setelah siap aku segera berlari menuju bengkel kerja Ayah disamping rumah. Ledakan ringan terjadi sebelum aku memasuki bengkel. Kurasa Ayah tak sendiri malam itu, ia ditemani beberapa orang yang mungkin sama maniak nya dengan Ayahku. Bau-bau besi dan kabel memenuhi rongga hidungku hingga aku masuk kedalam bengkel. Mereka sedang bertengkar. Aku sempat mendengar “Kau menghancurkan eksperimenku.Apa ia bisa hidup seperti ini selama 14 tahun.” Sebelum menjatuhkan piring stroberiku. Lelucon Ayah itu memang benar, seorang anak telah diganggu otaknya.

 

Lampu di ruang sempit itu bergoyang-goyang. Menerangi sebagian wajah Yoona yang terlihat pucat. Seorang wanita dengan tuxedo hitam mengamati Yoona dengan curiga. “Bagaimana kau bertemu dengannya?” tanyanya. “Aku bertemu dengannya saat aku masih 10 tahun. Kurasa dia masih 13 tahun. Kami berbeda 3 tahun.” Wanita itu membenarkan kacamatnya. “Apa selama tinggal denganmu ia bersikap aneh? Ehm, atau mencurigakan?” Yoona menaikkan pandangnya. “Ia hidup layaknya seorang anak kecil selama 14tahun. Apa kau pikir tingkah laku seorang anak itu aneh?”

“Maksudmu dia idiot?” Pertanyaan itu langsung ditampik Yoona. “Tidak. Hanya ada kesalahan dengan otaknya. Aku yakin ia tak idiot.”

“Lalu kenapa kau mau merawatnya sedangkan kau punya pilihan untuk memasukkannya ke dalam rumah sakit?” Kalimat itu hanya menggantung beberapa saat. Lalu Yoona menarik napas berat. “Aku hanya ingin ia sembuh sebelum bertemu dengan ibunya.”

 

Author’s Note :

yep yep yip yep. maaf buat readers yang kurang puas dengan bahasa dan penggambaran yang kurang akurat. Ini aku buat pas kena writer’s block berat, lagi gak ada feel apa. Sebenernya aku pengen buat sebuah ff special buat Mother’s Day beberapa hari lalu. Kan udah biasa ff tema Mother’s Day yang ceritanya antara anak dan ibu. terus aku mikir, gak hanya dari sisi itu kan kita bisa munculin kisah yang mendalam tentang seorang ibu. Buat yang masih gak ngerti sama alur cerita ini biar aku jelasin dikit, disini aku gambari Jongsuk sebagai sosok lelaki dengan kecerdasan rendah atau bisa dibilang idiot. Tapi menurut Yoona si Jongsuk ini gak idiot, Ayahnya lah yang merubah Jongsuk menjadi seperti. Menjadi seorang Monster yang suatu hari akan mengamuk. Setelah Ayahnya meninggal, Jongsuk terbengkalai dan Yoona merawatnya. Yoona juga berfikir untuk mengembalikan Jongsuk ke ibunya, tetapi Yoona tak ingin ibunya kecewa hingga Yoona merawat Jongsuk hingga sembuh terlebih dahulu. Tapi apa mau dikata, ibu Jongsuk meninggal bahkan sebelum Yoona mengembalikan Jongsuk padanya.

Untuk Cast gak ada alasan lain buat nggak milih Jongsuk sama Yoona. Meski Jongsuk gak cocok baut jadi cowo idiot tetapi usaha aku buat ngeramain YoonSuk couple tetap membahana hahaha.

Ya semoga terhibur aja sih. Jangan lupa beri kritik. Saya akan mencoba yang terbaik😀

Happy Mother’s Day

 

 

27 thoughts on “MONSTER

    • waah makasih ya. Disini sebenernya aku pengen nyiptain sosok Yoona yang cuek, ehm lebih ke menghargai privasi sih. Buktinya dia gak nanya kenapa Jongsuk luka pas dia pulang. Ya gitu-gitu deh. Tapi maaf aku bukan tipe author yang suka bikin sequel. Karena itu hal tersulit di hidup aku, weh. Aku orangnya gampang bosen say. Makasih ya udah baca dan komentarnya😀

  1. crtanya keren min yoona eonni sbr bgt bt ngerwat jongsuk…nyesek bcanya pas jongsuk ngamuk n yoona ngeyakinin jongsuk lox dia org baik….tp slnjutnya gimn min tu jongsuk mau dngerin yoona eonni pa jd ditembak ma polisi?msh pnsran

  2. Aku pernah nonton drama pinocchio dan aku bayangin jongsuk nya sperti itu😂😂😂 tapi aku kurang puas thor butuh sequel plisss, semuga di kasih ya thor 😄😄😄

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s